KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA (KDRT)
Kekerasan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah perbuatan seseorang atau kelompok orang yang menyebabkan cedera atau matinya orang lain atau menyebabkan kerusakan fisik atau barang orang lain. Kekerasan adalah pemakaian kekuatan yang tidak adil, dan tidak dapat dibenarkan, yang disertai dengan emosi yang hebat atau kemarahan yang tidak terkendali, tiba-tiba, bertenaga, kasar dan menghina. Dalam bahasa inggris, kekerasan disebut “violence” yang berasal dari dua kata bahasa latin yaitu vis yang berarti daya atau kekuatan dan latus yang berarti (telah) membawa. Maka secara harafiah, violence berarti membawa kekuatan, daya, dan paksaan.
Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) adalah masalah universal yang dihadapi oleh semua Negara di dunia karena bisa terjadi dalam rumah tangga tanpa memandang perbedaan budaya atau bangsa, termasuk di Indonesia. Korban dari kekerasan ini seringkali terjadi pada perempuan dan anak. Di Indonesia, kekerasan dalam rumah tangga seringkali terjadi dan banyak memakan korban jiwa dan setiap tahunnya angka kekerasan dalam rumah tangga semakin meningkat dan makin menjadi-jadi. Hampir setiap hari terjadi kasus kekerasan dalam sebuah rumah tangga, mulai dari pemukulan anak, pemukulan terhadap isteri, pembunuhan dalam keluarga dan masih banyak yang lainnya. Bentuk kekerasan yang sering terjadi di Indonesia adalah kekerasan seksual dan kekerasan psikis. Motif dari kasus KDRT ini berbeda-beda, mulai dari masalah ekonomi dalam keluarga sampai pada perselingkuhan yang memicu terjadinya kekerasan tersebut. Di Negara kita, kasus ini sudah sangat banyak terjadi dan bahkan sudah banyak korban jiwa yang berjatuhan dalam kasus ini. Ada banyak penyebab terjadinya KDRT di Indonesia. Secara garis besar, faktor-faktor tersebut dirumuskan kedalam dua bagian, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor eksternalnya lebih mengarah kepada kekuasaan kaum laki-laki, seperti:
2. Kesalahpahaman terhadap Ajaran Agama
3. Ketidaksamaan kekuatan (Power Imbalance) dalam Rumah Tangga walaupun perempuan di Indonesia memiliki kebebasan dan berperan dalam aktivasi keluarga,masyarakat,dan bernegara namun dalam realita kehidupan mayoritas perempuan berada dalam posisi yang lebih rendah dibandingkan laki-laki.
Faktor internal yang juga menimbulkan kekerasan terhadap istri adalah kondisi psikis dan dan kepribadian suami sebagai pelaku tindak kekersan tersebut, seperti sakit mental, pecandu alkohol, penerimaan masyarakat terhadap perilaku kekerasan, kurang komunikasi, penyelewengan seks, citra diri yang rendah, frustasi, perubahan situasi dan kondisi, hingga kekerasan yang merupakan suatu sumber daya untuk menyelesaikan masalah (pola kebiasaan keturunan dari keluarga atau orang tua).
Kekerasan terhadap perempuan merupakan suatu pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM). Pasal 28H ayat 2 UUD 1945 menyatakan bahwa “Setiap orang berhak mendapatkan kemudahan dan perlakuan khusus untuk memperoleh kesempatan dan manfaat yang sama guna mencapai dan keadilan”. Pihak konstitusi telah mengatur dengan jelas, seperti dalam UU No. 23 tahun 2004 tentang penghapusan KDRT yang merupakan jaminan yang diberikan oleh negara untuk mencegah terjadinya kekerasan dalam rumah tangga, dengan menindak pelaku kekerasan dalam rumah tangga, dan melindungi korban kekerasan dalam rumah tangga. Namun hal ini masih perlu disosialisasikan lagi kepada seluruh masyarakat dengan sedetailnya, karena walaupun sudah ada peraturan yang mengatur, pada kenyataannya masih saja terjadi kekerasan terhadap perempuan dan anak bahkan semakin menjadi-jadi.
melaporkan pelaku ke Pos Polisi terdekat. Berdasarkan proses penyelidikan yang dilakukan oleh pihak kepolisian didapati bahwa pelaku melakukan kekerasan dalam rumah tangga lantaran isterinya menolak berhubungan intim dengan dirinya, karena dirinya sedang dalam kondisi dipengaruhi narkoba jenis sabu. Karena penolakan itu, maka terjadilah percecokan antara kedua pasangan hingga berujung pada pemukulan, yang mengakibatkan korban harus dirawat di rumah sakit.
Kekerasan seperti ini adalah hal yang sangat memprihatinkan bagi bangsa kita. Laporan baru Komnas Perempuan menunjukkan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) mencapai hampir 96 persen kekerasan terhadap perempuan. Di Jawa Tengah Legal Resources Center untuk Keadilan Jender dan Hak Asasi Manusia (LRC-KJHAM) mencatat sepanjang 2015 korban kekerasan terhadap perempuan di Jawa Tengah mencapai 1.227 orang. Dari jumlah itu, 21 di antaranya meninggal dunia yang menjadi korban kekerasan seksual. Dan 201 kasus diantara kasus-kasus yang terjadi merupakan kasus KDRT. Melihat hal ini, pemerintah harusnya bertindak lebih tegas lagi dalam menegakan UU No. 23 tahun 2004 tentang penghapusan KDRT yang merupakan jaminan yang diberikan oleh negara untuk mencegah terjadinya kekerasan dalam rumah tangga, dengan menindak pelaku kekerasan dalam rumah tangga, dan melindungi korban kekerasan dalam rumah tangga sebagai salah satu solusi dalam mengurangi angka kekerasan yang terjadi di Indonesia. Karena menurut saya masalah ini menjadi suatu masalah yang dapat merusak citra Bangsa Indonesia di mata dunia. Karena dunia akan beranggapan bahwa masalah dalam rumah tangga seseorang saja tidak bisa diselesaikan sehingga harus melibatkan pihak kepolisian, nah bagaimana dengan penyelesaian masalah yang dihadapi bangsa ini, kalau masyarakatnya sendiri tidak mampu mengatasi masalah inrternal keluarganya.
Tuhan ingin kita hidup sebagai anak-anak yang saling mengasihi satu dengan yang lain, sebagaimana kita mengasihi diri kita sendiri. Dalam Efesus 5:25 Firman Tuhan yang berkata demikian : “Hai suami kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya. Ini menunjukan bahwa dalam membangun suatu hubungan dalam berumah tangga, diperlukan kasih yang besar sebagaimana kasih Yesus yang rela mati bagi umat-Nya, tetapi sang isteripun juga perlu tunduk kepada suami seperti kepada Tuhan dalam Efesus 5:22-24.Hal inilah yang sering hilang dari rumah tangga-rumah tangga yang ada saat ini, mereka sering beranggapan bahwa membina rumah tangga adalah suatu hal yang mudah, mereka sering mengambil keputusan untuk membangun rumah tangga tanpa berpikir lebih jauh kedepan. Orang-orang sering beranggapan bahwa intinya mereka sudah saling cinta, untuk apa ditunda-tunda lagi. Kekerasan dalam rumah tangga terjadi bukan karena kesalahan orang tua atau pihak luar, tetapi kekerasan dalam rumah tangga terjadi karena tidak adanya kasih yang mendasari berdirinya suatu rumah tangga.
REFERENSI
http://megapolitan.kompas.com/read/2015/11/16/23520091/Istri.Dipukul.karena.Men olak.Ajakan.Suami.untuk.Berhubungan.Intim. (Diakses pada tanggal 23 Januari 2016)
Kamus Besar Bahasa Indonesia
Mansyur, R.(2010). Mediasi Penal Terhadap Perkara KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga). Yayasan Gema Yustisia Indonesia.
Satiardja, G. A.(1993).Hak-Hak Asasi Manusia berdasarkan Ideologi Pancasila.Yogyakarta: Kanisius.