Pengelasan (welding) diartikan sebagai salah satu teknik penyambungan logam dengan cara mencairkan sebagian logam induk dan logam pengisi dengan atau tanpa tekanan dan dengan atau tanpa logam tambahan dan menghasilkan sambungan yang kontiniu (Sonawan, 2003). Menurut Deutsce Industrie Normen (DIN) dalam Daryanto (2013), las adalah ikatan metalurgi pada sambungan logam paduan yang dilaksanakan dalam keadaan lumer atau cair. Dari definisi tersebut dapat dijabarkan lebih lanjut bahwa las adalah sambungan setempat dari beberapa batang logam dengan menggunakan energi panas.
Temperatur busur las listrik sama tingginya dengan temperatur permukaan matahari, kira-kira 5000-6000 C, sedangkan temperatur nyala api gas asetilin adalah kira-kira 3100 C. Keduanya menimbulkan radiasi sinar yang berbahaya bagi mata ( Daryanto, 2013). Menurut Canadian Center For Occupational Health and Safety (2008), pada proses pengelasan dapat mengeluarkan radiasi dengan panjang gelombang antara 200-1400 nm. Ini termasuk radiasi ultraviolet (antara 200-400 nm), sinar tampak (400-700 nm), dan inframerah (antara 700-1400 nm).
2.1.1 Jenis Pengelasan
Menurut Sriwidharto (1996), di Indonesia ada 2 jenis pengelasan yang sering digunakan yaitu dengan mempergunakan busur nyala listrik (shielded metal arc welding/SMAW), dan las karbit (oxy acetylene welding/OAW). Di beberapa kegiatan industri yang mempergunakan tekhnologi canggih di Indonesia, telah pula
menggunakan pengelasan jenis T.I.G (tungsten inert gas welding/SAW), M.I.G (metal gas welding atau CO2 welding), las tahanan listrik ( electric resistance welding/ ERW), las busur terbenam (submerged arc welding/SAW), dan kemungkinan sinar laser untuk keperluan pengobatan.
a. Jenis las berdasarkan panas tenaga listrik 1. SMAW (Shielded Metal Arc Welding)
Las busur nyala listrik terlindung, adalah pegelasan dengan mempergunakan busur nyala listrik sebagai sumber panas pencair logam. Untuk keselamatan kerja, maka tegangan yang dipakai hanya 23-45 volt saja, sedang untuk pencairan pengelasan dipakai arus listrik hingga 500 amper. Secara umum berkisar antara 80-200 Am. Untuk mencegah oksidasi ( reaksi dengan zat asam O2), bahan penambah las (elektroda) dilindungi dengan selapis zat pelindung (flux atau slag) yang sewaktu pengelasan ikut mencair.
2. SAW (Submerged Arc Welding)
Las busur terbenam adalah pengelasan dengan busur nyala listrik. Untuk mencegah oksidasi cairan metal dan metal tambahan, dipergunakan butir-butir flux atau slag, sehingga busur nyala terpendam dalam urungan dalam butir tersebut. Karena panas busur nyala, butir-butir flux mencair dan melapisi cairan metal guna menghindari oksidasi. Jenis pengelasan ini dilaksanakan secara otomatis atau setengah otomatis dan digunakan untuk jalur las yang besar dan panjang.
3. ERW (Electric Resistence Weld)
Las tahanan listrik. Dengan tahanan yang besar, panas yang dihasilkan oleh aliran listrik menjadi sedemikian tingginya sehingga mencairkan logam yang akan dilas. Contohnya adalah pada pembuatan pipa ERW, pengelasan plat-plat dinding pesawat.
b. Jenis las berdasarkan panas dari kombinasi busur nyala listrik dan gas kekal (inert)
1. GMAW (Gas Metal Arc Welding)
Pengelasan dengan gas. Nyala dihasilkan berasal dari busur nyala listrik, yang dipakai sebagai pencair metal yang dilas dan metal penambah. Sebagai pelindung oksidasi dipakai gas pelindung yang berupa gas kekal inert atau CO2.
2. GTAW (Gas Tungsten Arc Welding)
Pengelasan dengan menggunakan busur nyala yang dihasilkan oleh elektroda tetap terbuat dari tungsten. Sedangkan sebagai bahan penambah terbuat dari bahan yang sama atau sejenis dengan bahan yang dilas dan terpisah dari pistol las (welding gun). Jenis las ini baik untuk penyambungan bahan metal dan bahan-bahan campuran yang tipis.
c. Las berdasarkan atas panas dari pembakaran campuran gas 1. OAW (Oxy Acetylene Welding)
Las karbit atau las autogen. Panas dapat dihasilkan dari pembakaran gas acetylene (C2H2) dengan zat asam (O2). Ada juga yang sejenis dengan las ini menggunakan gas propan sebagai pengganti acateylene, ada pula hydrogen (H2) dan
zat asam yang disebut oxy hydrogen welding. Karena panas yang dihasilkan hanya pas-pasan saja maka jenis las ini hanya baik untuk pengelasan plat-plat tipis. Mutu las karbit umumnya kurang baik ditinjau dari segi kekuatannya mengingat banyaknya bagian las yang teroksidasi karena dipakainya zat asam sebagai pemanasnya.
2.1.2 Bahaya Pengelasan
Menurut Wiryosumarto, dkk (1985) beberapa bahaya risiko paling utama dalam pengelasan adalah:
1. Radiasi
Selama proses pengelasan akan timbul radiasi yang dapat membahayakan pekerja las dan pekerja lain yang ada disekitar pengelasan. Radiasi tersebut bersumber dari cahaya yang dapat dilihat atau cahaya tampak, sinar ultraviolet dan sinar infra merah. 2. Debu dan gas uap dari pengelasan
Debu asap dengan ukuran 0,5 µm atau lebih bila terhirup akan tertahan oleh bulu hidung dan bulu pada saluran pernafasan, sedang debu asap yang lebih halus akan terbawa masuk keparu-paru. Debu asap yang tinggal akan melekat pada kantong udara di paru-paru dapat menimbulkan penyakit sesak nafas.Gas-gas berbahaya juga dapat muncul dalam pengelasan seperti gas karbon monoksida (CO), karbon dioksida ( ), dan gas nitrogen dioksida ( ).
3. Bahaya listrik
Listrik merupakan suatu bahaya yang ada pada proses pengelasan. Banyak sekali kecelakaan yang terjadi ditimbulkan oleh listrik dan akibatnya dapat sampai dengan kematian pekerja.
2.1.3 Keselamatan dan Kesehatan dalam Pengelasan 2.1.3.1 Keselamatan dalam Pengelasan
Menurut Sriwidharto, (1996) untuk dapat terjaminnya keselamatan kerja las, maka hal-hal ini yang perlu diperhatikan dan dilaksanakan :
1. Persiapan
a. Dalam persiapan pengelasan bukan hanya tukang las yang harus menyiapkan segala sesuatu tentang perlengkapan las tetapi yang lebih utama adalah persiapan lingkungan kerja yang diusahakan oleh pihak pengawas kerja ataupun pengawas instalasi, misalnya: meninjau apakah lokasi pengelasan layak untuk ditempati oleh tukang las selama melaksanakan pekerjaan pengelasan misalnya, apakah lokasi pengelasan panas sekali, bising sekali, letaknya cukup tinggi atau sangat tinggi, basah/lembab/becek atau diatas permukaan air yang bergelora, mengandung gas-gas yang mudah beracun, ditengah-tengah kerumnan/keramaian masa, didalam ruangan tertutup yang sempit/pengap dan selainnya. Dari semua kondisi tersebut tentukanlah langkah-langkah pengamanan yang dilakukan oleh pihak pengawas seperti: penyedian baju tahan panas oleh pekerja pengelasan, penyedian pelindung pendengaran, pelampung dan pelindung kedap air untuk tempat basah , pengujian pendahuluan akan kandungan gas-gas ditempat kerja,
rambu-rambu peringatan, ventilasi dan blower pesuplai udara segar dan alat-alat keselamatan kerja lain.
b. Peralatan yang akan dilas
Peralatan yang akan dilas harus dipersiapkan sedemikian rupa supaya layak dilas artinya: peralatan telah dibebaskan dari tugas operasinya, telah dikosongkan dan dibilas, diperiksa lebih dulu kandungan gasnya yang berbahaya, menyediakan sarana ventilasi serta lampu penerangan 24 volt (jika pengelasan dilaksanakan dalam ruangan). Melindungi daerah pengelasan dengan tabir air/kabut dan selubung pengelasan jika (jika pelaksaan pengelasan diluar peralatan) dan jika pengelasan mendapat izin oleh pihak instansi atau pengawas. Tanpa persiapan ini pekerja dapat menolak melakukan pengelasan demi keselamatan dirinya sendiri, orang-orang disekitarnya dan peralatan itu sendiri.
c. Peralatan pengelasan
1. Mesin las atau transformer las harus dalam keadaan baik dan dapat mensuplai arus dan tegangan yang tidak selalu berubah dengan sendirinya, serta tidak sebentar-bentar rusak.
2. Kabel las harus tidak boleh cacat yang menyebabkan kebocoran busur nyala yang akibatnya dapat membahayakan bagi keselamatan instalasi dan personal. 3. Terminal-terminal kabel serta kutub-kutup harus dalam keadaan baik dan
4. Tangkai las dan kelam las harus dalam keadaan baik dan terpelihara. Tangkai las yang terkelupas akan menjadi tak terpegang lagi karena isolasi panasnya telah hilang dan suhu las yang sangat tinggi dapat merambat ke tangkai. 5. Rambu-rambu peringatan dan lembar/selubung pelindung busur nyala listrik
dipersiapkan sesuai kebutuhan dan keadaan lingkungan.
6. Alat pengatur arus yang portable (dapat dijinjing) dan harus menujukkan arus yang sebenarnya.
d. Peralatan bantu
1. Botol-botol acetylene, propan, zat asam harus masih dalam masa berlakunya pemeriksaan dan uji tekan yang terakhir oleh departemen tenaga kerja.
2. Katup pengurang tekanan (reducing valve) harus masih berfungsi dengan baik.
3. Selang-selang gas dan zat asam tidak boleh cacat yang mengakibatkan kebocoran gas acetylene/propan.
4. Brander-brander/obor potong harus dala keadaan baik dan terawat.
5. Gerinda las harus masih baik. Mata gerinda harus sesuai dengan pemakaian serta dipasang pada mesin pemutar dengan putaran yang sesuai dengan spesifikasi batu gerinda.
e. Peralatan keselamatan perorangan
1. Baju lengan panjang dan celana panjang yang terbuat dari katun. Bahan-bahan seperti tetoron, dacron, nylon, dan polyester lainnya tidak tepat untuk dipakai pekerja panas, karena percikan las dapat membakar kain tersebut secara cepat. 2. Topi pet katun yang dapat diputar kebelakang untuk pemasangan topeng las. 3. Topeng las (pelindung mata dan muka) yang baik dan tepat guna. Untuk
pengelasan titik dapat dipakai topeng yang bertangkai, sedang untuk pengelasan biasa dapat menggunakan topeng yang dilekatkan di kepala.Pada topi las harus diperlengkapi dengan 2 macam kaca pelindung yang masing-masing hitam dan bening. Pelindung mata yang bening dimaksudkan untuk melindungi mata dan sekaligus melihat selagi pelakasana melakukan penggerindaan, sedang yang hitam dimaksudkan untuk melindungi mata dari radiasi panas busur nyala juga radiasi yang cukup intensif dari sinar-sinar ultraviolet dan infra merah. Bahan dari kacamata las (goggles) dapat terbuat dari plastik yang transparan dengan lensa yang dilapisi kobalt untuk melindungi bahaya radiasi gelombang elektromagnetik non ionisasi dan kesilauan atau lensa yang terbuat dari kaca yang dilapisi timah hitam untuk melindungi dari radiasi gelombang elektromagnetik dan mengion.
4. Sarung tangan kulit (untuk melindungi tangan dan jari-jari tangan). 5. Selongsong kaki (sleeve) yang terbuat dari kulit.
6. Sepatu las.
2. Pelaksanaan
Pelaksanaan pengelasan harus sesuai dengan prosedur pengelasan (WPS/welding procedure specification) yang telah disetujui. Percikan api pengelasan dapat membahayakan lingkungan sekitar lokasi pengelasan, maka sekitar lokasi harus dilindungi dengan tabir air atau kabut serta lantai dibasahi untuk mematikan percikan las yang berjatuhan dan masih membara.
Pengelasan tidak boleh dimulai sebelum ada lampu hijau dari pengawas instalasi (dalam halnya pengelasan untuk perbaikan/pemeliharaan), mengingat persiapan-persiapan pengamanan perlu dilakukan sebelum pengelasan. Persiapan tersebut meliputi, kandungan gas (testening), purging atau pembilasan, pengucilan (isolation) peralatan yang akan dilas dan lain-lain.
Jangan mengelas langsung pada permukaan yang berlapiskan cat, karena disamping hasilnya buruk akibat cat tersebut juga berbahaya bagi pekerja akibat terhirup gas yang berasal dari terbakarnya cat tersebut.
2.1.3.2 Kesehatan dalam Pengelasan
Yang terpenting harus dilindungi dalam pengelasan adalah keselamatan indera penglihat/mata, alat pernafasan/paru-paru dan kulit. Pandangan langsung tanpa kaca mata las dapat dilakukan pada jarak 15,24 m atau 50 kaki dari sumber busur nyala. Walaupun memakai kaca mata las, namun jika nomornya tidak memadai maka pekerja akan akan mengalami kepedihan yang hebat (seperti biji mata penuh dengan pasir-pasir yang tajam)(Sriwidharto, 1996).
Selanjutnya yang tidak kalah pentingnya adalah alat pernafasan. Pengelasan selain menghasilkan gas pelindung (shielding gas) yang berasal dari lapisan luar elektroda (coating), juga gas-gas hydrogen, ozon dan lain-lain yang jika terhirup dalam waktu panjang akan merusak kesehatan bahkan dapat meracuni darah. Jika pelaksanaan las dilaksanakan diruang tertutup, maka guna melidungi pernafasan pelaksana, pada ruangan tersebut disediakan lubang ventilasi dan diperlengkapi dengan blower pensuplai udara segar dari luar (Sriwidharto, 1996).
Selanjutnya kulit muka, lengan dan kaki harus pula dilindungi dari panas radiasi ultra ungu yang mengakibatkan kulit terbakar. Rasa kulit terbakar radiasi suhu panas dan ultraviolet adalah pedih dan panas.
2.2 Sinar Ultraviolet
Sinar ultraviolet merupakan radiasi elektromagnetik yang terletak diantara sinar tampak (Visible Light) dan x-ray. Spektrum sinar ultraviolet dibagi menjadi tiga bagian yaitu bagian sinar terdekat sekitar 400-300 nm, bagian 300-200 nm, dan bagian kosong 200-4 nm (Olishfski, 1985)
Radiasi sinar ultra ungu adalah radiasi elektromagnetis dengan panjang gelombang 180-400 nm. Sebagai arus energi elektromagnetis dapat dinyatakan dalam satuan mikrowatt/cm2. Pada mata sinar tersebut dapat mengakibatkan konjungtivitis fotoelektrika. Menurut Canadian Centere for Occupational Heath & Safety, (2008) sinar radiasi ultraviolet dibagi menjadi tiga jenis panjang gelombang yaitu :
1. Sinar ultraviolet-A
2. Sinar ultraviolet-B
Sinar ultraviolet-B mempunyai panjang gelombang 280-320 nm. Menurut CCOH (Canadian Centere For Occupational Health & Safety) sinar yang paling memberikan dampak nyata bagi pekerja adalah sinar UV-B. Menurut Alatas Dkk,(2003) Energi sinar UV dengan panjang gelombang 280-315 nm sebagian besar diserap kornea dan dapat mencapai lensa.
3. Sinar ultraviolet-C
Sinar ultraviolet-C mempunyai panjang gelombang 200-280 nm. Menurut Alatas, dkk, (2003) energi ultraviolet-C dapat diserap seluruhnya oleh kornea mata.
2.2.1 Efek dari Radiasi Ultraviolet pada Mata
Mata merupakan organ tubuh yang paling peka terhadap radiasi elektromagnetik non ionisasi. Radiasi ultraviolet tidak dapat dideteksi oleh reseptor-reseptor alat penglihatan manusia sehingga kelainan dan kerusakan sering terjadi sebelum seseorang menyadari dirinya telah terpapar oleh radiasi tersebut.
Radiasi ultraviolet pada pekerjaan pengelasan dapat menyebabkan kerusakan mata. Kerusakan mata paling umum terjadi akibat pemaparan bunga api pengelasan, tetapi dapat juga terjadi melaui pemaparan langsung atau pantulan radiasi lampu ultraviolet seperti yang digunakan di laboraturium sebagai germisida yang dapat menyebabkan konjungtivis atau keratitis ( inflasi kornea).
Di mata,energi radiasi < 280 nm (UV-C) dapat diserap seluruhnya oleh kornea Energi radiasi UV-B (280-315 nm) sebagian diserap oleh kornea dan dapat pula
mencapai lensa. Sedangkan energi UV-A (315- 400 nm) diserap dalam lensa secara kuat, hanya sebagian kecil energi bisa (> 1%) yang dapat mencapai retina (Anies, 2009). Dalam studi terakhir ditunjukkan bahwa paparan radiasi UV dapat merusak kornea mata lebih parah daripada perkiraan sebelumnya. Spesialis mata yang bekerja di Amerika Serikat telah menunjukkan bahwa lapisan endotel dalam kornea primate juga mengalami kerusakan (khususnya oleh UV-B dalam panjang gelombang 300 nm) dan ini tidak seperti kerusakan epitel, permanen (Pitts et al., 1987).
Sinar ultraviolet dapat merusak epitel kornea, kerusakan ini akan segera baik kembali setelah beberapa saat dan tidak akan memberikan gangguan yang menetap. Efek fototoksik akut radiasi uv pada mata adalah photokeratitis (dikenal juga sebagai welder flash atau snow blindness) yaitu reaksi peradangan akut pada kornea dan konjungtiva mata. Ini merupakan kerusakan akibat reaksi fotokimia pada kornea (photokeratitis) dan konjungtiva (fotokonjungtiva) yang muncul setelah pajanan 200-400 nm dan umumnya hanya berlansung antara 24-48 jam (Alatas, 2004).
Gejala photokeratitis berupa memerahnya bola mata yang disertai rasa sakit yang parah, photopobia, mata terasa berpasir, dan air mata bertambah. Efek ini bersifat sementara karena kerusakan yang terjadi sangat ringan (bagian permukaannya saja) dan penggantian sel epitel permukaan kornea berlangsung dengan cepat (satu siklus 48 jam) (Alatas, 2004). Keratitis terutama terdapat pada fisura palpebra. Pupil akan terlihat miosis. Tajam penglihatan akan terganggu. Keratitis ini dapat sembuh tanpa cacat, akan tetapi bila radiasi berjalan lama kerusakan akan dapat permanen sehingga akan memberikan kekeruhan pada kornea.
Keratitis dapat bersifat akibat efek kumulatif sinar ultraviolet sehinggga gambaran keratitisnya akan menjadi berat (Ilyas, 1997).
Sedangkan pajanan kronik radiasi UV pada mata dapat menimbulkan pterygium atau penebalan konjungtiva dan katarakogenesis atau proses pembentukan katarak. Pterygium sebagai hasil dari pertumbuhan jaringan lemak diatas kornea. Pajanan radiasi panjang gelombang 290-320 nm dapat menyebabkan katarak. Terdapat hubungan yang jelas antara katarak dengan pajanan UV-B sepanjang hidup (Alatas dkk, 2003).
2.2.2 Sumber sinar ultraviolet
Sumber sinar UV pada pekerjaan pengelasan berasal dari sinar UV alami dan sumber sinar UV buatan. Sumber sinar UV alami yang memajan pekerja pengelasan adalah sinar matahari sebagai sumber utama yang memancarkan sinar UV (Olishifski, 1985). Pada pekerjaan pengelasan sendiri memiliki potensi keterpajanan yang tinggi terhadap sinar matahari terutama pada pekerja yang bekerja diluar ruangan (WHO, 2003).
Sedangkan sumber sinar ultraviolet buatan bersal dari peralatan pengelasannya sendiri. Hal ini disebabkan karena peralatan pengelasan merupakan salah satu peralatan kerja yang merupakan sumber sinar ultraviolet buatan dan dalam pengoperasiannya terjadi pelelehan sehingga dari pelelehan tersebut akan timbul percikan api/ bunga api yang memancarkan beberapa sinar antara lain sinar ultraviolet yang membahayakan (Saroso, 1980).
2.2.3 Nilai Ambang Batas Radiasi Sinar Ultra Ungu (Sinar Ultraviolet)
Menurut keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia No. PER.13/MEN/X/2011 Tentang Nilai Ambang Batas Faktor Fisika dan Kimia di Tempat Kerja. Nilai ambang batas (NAB) untuk sinar ultraviolet ditetapkan sebesar 0,0001 milliWatt per sentimeter persegi (Mw/cm2).
Table.2.1Nilai ambang batas radiasi sinar ultra ungu yang diperkenankan. Masa Paparan Per Jam Waktu paparan per hari
8 0,0001 4 0,0002 2 0,0004 1 0,0008 Menit 30 0,0017 15 0,0033 10 0,005 5 0,01 1 0,05 Detik 30 0,1 10 0,3 1 3 0,5 6 0,1 30
(Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor Per.13/Men/X/2011) Radiasi sinar UV dapat diukur dengan alat radiometer sinar UV yang dengan intensitas sinar UV dapat dibaca secara langsung. Alat tersebut portabel, kisaran panjang gelombang yang dapat diukurnya antara 180-400 nm, dan mampu mengukur energi radiasi dari 0 sampai 19.990 mikroWatt/ dengan resolusi 0,1 mikroWatt/ (Suma’mur, 2009).
2.3 Anatomi dan Fisiologi Kornea Mata 2.3.1 Anatomi Kornea Mata
Kornea (latin cornum= seperti tanduk) adalah selaput bening mata bagian selaput mata yang tembus cahaya, merupakan lapis jaringan yang menutup bola mata sebelah depan. Kornea merupakan 1/6 bagian pembungkus bola mata yang bening dan berbentuk kaca arloji terletak didataran bola mata. Akibat kejernihan bola mata maka dapat diteruskan atau dibiaskan kedalam bola mata. Kornea merupakan komponen utama sistem optik mata dimana 70% pembiasan sinar dilakukan. Sinar yang masuk kedalam bola mata dibiaskan oleh kornea untuk difokuskan pada macula lutea. Turunnya tajam penglihatan depan terjadi akibat edema kornea, infiltrasi sel radang kedalam kornea, vaskularisasi dan terbentukanya jaringan parut pada kornea (Ilyas, 2003).
Tebal kornea pada bagian sentral 0,5 mm yang terdiri atas 5 lapis yaitu : epitel, terdiri atas 5 lapis sel dengan 3 tipe sel, yaitu :
1. Sel epitel gepeng, sel epitel sayap, dan sel basal atau sel kuboid. Sel basal melekat erat dengan membrane basal kornea. Sel basal dan membrane basal epitel kornea memilki daya regenerasi.
2. Membran Bowman, yang merupakan bagian stroma kornea dan membentuk membrane tipis yang homogeny. Membrane bowman tidak memiliki daya regenerasi
3. Stroma, merupakan bagian kornea yang paling tebal atau 90% dari tebalnya kornea. Stroma terdiri atas sel stroma atau keratosit dan serat kalogen yang tersusun sangat teratur.
4. Stroma kornea tidak mempunyai daya regenerasi, bila terjadi kerusakan stroma, maka akan membentuk jaringan parut yang keruh pada kornea .
5. Membran Descemet, lapisan elastik kornea yang bersifat transparan. 6. Endotel, terdiri atas atas satu lapis sel gepeng heksagonal.
Kornea tidak memiliki pembuluh darah, akan tetapi kaya akan serabut sensorik. Saraf sensorik ini berasal dari saraf siliar longus, saraf nasosiliar, saraf ke V saraf siliar longus berjalan suprakoroid, masuk kedalam stroma kornea, menembus membrane Bowman melepaskan selubung Schwannya. Seluruh lapis epitel dipersarafi sampai pada kedua terdepan tanpa ada akhir saraf. Bulbus Krause untuk sensasi dingin ditemukan didaerah limbus terjadi dalam waktu 3 bulan (Ilyas, 1997).
Kornea merupakan bagaian mata yang tembus cahaya dan menutup bola mata disebelah depan. Pembiasan sinar terkuat dilakukan oleh kornea, dimana 40 dioptri dari 50 dioptri pembiasan sinar masuk kornea dilakukan oleh kornea (Ilyas, 1997). 2.3.2 Fisiologi Kornea Mata
Kornea berfungsi sebagai membrane pelindung dan jendela yang dilalui berkas cahaya menuju retina. Sifat tembus cahayanya disebabkan strukturnya yang uniform, avaskuler, dan degurtene atau keadaan dehidrasi relatif jaringan korena yang dipertahankan oleh pompa bikarbonat aktif pada endotel dan oleh fungsi sawar epitel dan endotel. Endotel lebih penting daripada epitel dalam mekanisme dehidrasi dan
kerusakan pada endotel jauh lebih serius dibandingkan kerusakan pada epitel.Kerusakan sel-sel endotel menyebabkan edema kornea dan hilangnya sifat transparan.
Sebaliknya cedera pada epitel hanya menyebabkan edema lokal sesaat pada stroma kornea yang akan menghilang dengan regenerasi sel-sel epitel yang cepat. Penguapan air dari film airmata prakornea akan mengakibatkan film airmata menjadi hipertonik; proses tersebut dan penguapan langsung adalah faktor-faktor yang menarik air mata dari stroma kornea superfisialis untuk mempertahankan keadaan dehidrasi (Riordan.P dkk, 2009) Penetrasi kornea utuh oleh obat bersifat bifasik. Substansi larut lemak dapat melalui epitel utuh, dan substansi larut air dapat melalui stoma yang utuh. Karenanya agar dapat melalui kornea, obat harus larut lemak dan larut air sekaligus (Riordan.P dkk, 2009).
2.4 Photokeratitis
Photokeratitis disebut juga flash burn, welder’s flash, or welder’s eye yang lebih sering terjadi dipekerja pengelasan (E. Peterson, 1985).Respon utama kornea untuk paparan UV adalah kondisi yang disebut photooptalmia atau photokeratitis diperkirakan akan terjadi pada gelombang di antara 210 nm dan 315 nm (Kumah D.B. et.al., 2011).
Photokeratitis disebabkan mata terpapar oleh sinar ultraviolet. Photokeratitis adalah inflamasi pada kornea akibat cahaya, yang telah banyak diketahui akibat matahari atau sumber sinar UV lainnya. Sinar UV ditangkap oleh mata dan diserap oleh lapisan jaringan terluar, kornea dan konjungtiva, dengan menjangkau sedikit ke
lensa atau bagian dalam mata. Karena tidak adanya sensasi akibat keberadaan pajanan cahaya (perasaan sakit) pajanan yang berlebih dari sinar UV matahari atau sumber pajanan lainnya bisa tidak diketahui. Setelah periode laten dari beberapa menit ke beberapa jam, berdasarkan lamanya pajanan, konjungtiva akan terinflamasi, disertai dengan rasa sakit seperti mata terasa berpasir (Wahyuni, 2013).
Gejala photokeratitis ini akan timbul setelah 6-12 jam terpapar oleh sinar ultraviolet. Menurut Ilyas (2003), keluhan yang akan dirasakan penderita phokeratitis adalah : mata akan sangat sakit (nyeri), mata seperti kelilipan atau kemasukan pasir, photofobia, blefarosfasme, konjungtiva kemotik, gangguan ketajaman penglihatan.
Gejala photokeratitis menurut Hollwich (1993), yaitu mata terasa nyeri, mata terasa berpasir, fotofobia, blefarospasme dan mata banyak mengeluarkan air mata. Berdasarkan The college of optometrists (2011), gejala photokeratitis yang dirasakan mata terasa seperti berpasir, rasa nyeri pada mata, mata kemerahan, mata berair (lakrimasi), blefarosfasme (mata berkedut), fotofobia (silau) dan penurunan ketajaman penglihatan.
Pada panjang gelombang 320-280 nm (UV-B) bisa menembus erithemal. Radiasi UV pada gelombang di daerah ini akan diserap oleh kornea mata, tempat bereaksinya sinar UV pertama kali dengan jaringan keras mata dan secara tidak langsung menimbulkan efek. Selanjutnya setelah beberapa jam ketidaknyamanan timbul dan mengakibatkan mata terasa berpasir. Inflamasi kornea dan lesi kecil yang biasa disebut keratitis (Olisfihski, 1985).
2.5 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Terjadinya Photokeratitis
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya photokeratitis pada pekerja las yaitu :
2.5.1 Karakteristik Individu 1. Usia
Dengan bertambahnya usia akan terjadi penurunan sensitivitas dan fragilitas pada kornea karena ransangan mekanis. Sampai usia 40 tahun fragilita kornea masih sama, namun setelah itu akan meningkat (R.S Maryam, dkk, 2008). Umumnya kapasistas fisik manusia, seperti kemampuan penglihatan dan pendengaran dan kecepatan bereaksi akan menurun sesudah usia 30 tahun atau lebih. Oleh karena itu pekerja yang yang ada diusia ini harus hati-hati dalam melakukan pekerjaannya sehingga terhindar dari kecelakaan di tempat kerja ( Suma’mur, 2009).
2. Masa kerja
Semakin lama pekerja bekerja di suatu perusahaan maka makin sering pekerja tersebut terpapar. Masa kerja seseorang pada suatu tempat kerja dapat mempengaruhi efek akumulatif terhadap berbagai faktor resiko seperti biologi, fisika, dan kimia. Semakin lama mereka telah bekerja maka semakin besar pula efek negatif yang dapat diterima dari faktor resiko tersebut (Susanto, 2015).
3. Lama paparan
Dalam Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan yakni pada pasal 77 ayat 1 yang menyebutkan bahwa pekerja boleh bekerja sesuai
a. Tujuh jam dalam sehari dan empat puluh jam dalam seminggu untuk enam hari kerja.
b. Delapan jam dalam sehari dan empat puluh jam dalam seminggu untuk lima hari kerja
Lama paparan sinar ultraviolet berkaitan dengan iradiasi efektif yaitu besarnya radiasi yang diterima pekerja (Iyan Dharmawan, 1977). Semakin lama paparan maka efek yang diterima semakin banyak maka kerusakan jaringan semakin berat (Daniel Vaughan, 1996).
Dari sebuah penelitian yang dilakukan di taiwan dapat membuktikan bahwa rata-rata periode laten (awal paparan timbulnya rasa sakit) setelah paparan 389,1 menit pada paparan yang disebabkan proses pengelasan sekitar 5,8 jam (Yuan Lung, yen, et al, 2004). Semakin lama seseorang terpapar sinar UV maka akan semakin memperparah terjadinya photokeratitis atau welders flash (Olifhfski, 1985).
2.5.2 Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD)
Alat Pelindung Diri (APD) adalah alat yang digunakan seseorang dalam melakukan pekerjaannya untuk melindungi dirinya dari sumber bahaya tertentu baik yang berasal dari pekerja maupun lingkungan kerja. Alat ini berguna dalam uasaha mencegah atau mengurangi kemungkinan sakit atau cidera (Suma’mur P.K., 1996:87). Perlindungan keselamatan kerja meliputi upaya teknis pengamanan tempat, mesin, peralatan adan lingkungan kerja wajib diutamakan.
Ketentuan penggunaan alat pelindung diri diatur oleh peraturan pelaksanan UU No. 1 tahun 1970 pada pasal 13 yaitu bahwa barang siapa yang memasuki suatu
tempat kerja diwajibkan mentaati semua petunjuk keselamatan kerja dan memakai alat pelindung diri yang diwajibkan. Jenis APD menurut ketentuan tentang pengesahan, pengawasan dan penggunaannya meliputi alat pelindung kepala, alat pelindung telinga, alat pelindung muka dan mata, alat pelindung pernafasan, pakaian kerja, sarung tangan, alat pelindung kaki sabuk pengaman dan lain-lain (Suma’mur, 2009).
Faktor yang mempengaruhi paparan radiasi UV adalah penggunaan alat pelindung diri. Sebab resiko kesehatan yang dipengaruhi oleh paparan radiasi UV baik yang berasal dari alam maupun buatan dapat dikurangi dengan menggunakan pelindung dan metode kontrol yang layak. Sebagai contoh paparan terhadap tubuh dapat dikurangi dengan menggunakan pakaian pelindung (apron untuk pengelas), paparan radiasi UV pada mata dikurangi dengan menggunakan pelindung mata (goggles dan welding helmets untuk pengelas) (Tenkate, T.D, 1998).
Pernyataan Tenkate, T.D,tahun 1998, didukung oleh sebuah survei pada sebuah sekolah alam National Outdoor Leadership School (NOLS) yang menyatakan bahwa 87% kasus photokeratitis terjadi pada peserta yang tidak menggunakan kacamata dan 13% kasus photokeratitis terjadi pada peserta yang menggunakan kacamata tanpa penghalang pada bagian samping kacamata (McIntosh, et al, 2011). Selain itu, terdapat juga penelitian yang menyatakan bahwa terdapat hubungan yang erat antara penggunaan alat pelindung diri dengan kejadian photokeratokonjungtivitis (Yuan, et.al,2004).
Perlindungan terhadap mata dari bahaya radiasi ultraviolet sangat diperlukan. Berdasarkan hasil penelitian Angelina dan Oginawati (2009), menunjukkan pemakaian kacamata hitam ternyata dapat mengurangi intensitas radiasi UV-B dengan rata-rata 40,47 μW/cm2 tanpa penggunaan kacamata menjadi 13,013 μW/cm2. Penurunan intensitas radiasi ini cukup tinggi kira-kira menjadi sepertiga tanpa penggunaan kacamata.
2.5.3 Intensitas Paparan Radiasi
Sampai saat ini belum ada ketentuan yang pasti mengenai intensitas dan dosis radiasi sinar UV terhadap tenaga kerja las, tetapi tingginya intensitas radiasi sinar UV dapat mempengaruhi terjadinya photokeratitis (Tentake, T.D, 1998).
2.5.4 Lokasi Pengelasan
Lokasi pengelasan ini juga dapat mempengaruhi meningkatnya intensitas radiasi yang akan memapar pekerja. Lokasi pengelasan terkait dengan besarnya sinar matahari secara langsung yang memajan tukang las serta refleksi sinar matahari tersebut dari permukaan bumi (misalnya, salju, tanah, air ) (Diffey, B.L., 1985; Holman, C.D.J., et.al dan Tenkate, T.D, 1998). Menurut WHO 2003, Pada pekerjaan pengelasan sendiri memiliki potensi keterpajanan yang tinggi terhadap sinar matahari terutama pada pekerja yang bekerja diluar ruangan.
2.6 Kerangka Konsep
Variabel Independen Variabel Dependen
Karakteristik Individu 1. Usia
2. Lama paparan 3. Masa kerja
Alat Pelindung Diri
GEJALA PHOTOKERATITIS