BAB I PENDAHULUAN BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kondisi bangsa Indonesia pada masa awal kemerdekaan masih sangat buruk. Proses pergantian pemerintahan dari kolonial ke republik menimbulkan gejolak di semua aspek kehidupan bernegara. Atmosfer politik pada saat itu juga masih tidak menentu. Ancaman baik dari luar ataupun dari dalam sewaktu-waktu dapat menggulingkan pemerintahan yang sah. Hal tersebut semakin memperparah kondisi bangsa Indonesia secara keseluruhan. Secara umum, pada waktu itu kemerdekaan belum memiliki dampak apapun terhadap kemakmuran bangsa.1
Keadaan ekonomi Indonesia pada awal kemerdekaanpun juga masih sangat memprihatinkan. Pemerintahan waktu itu belum mampu mengendalikan perekonomian negara. Sektor industri perkebunan yang menjadi andalan utama ekspor pada masa Hindia Belanda mengalami kemunduran drastis. Sektor pertanian rakyat yang bertumpu pada tanaman padi yang sempat mengalami swasembada pada tahun 1940 menurun tajam. Proses pemulihan ekonomi yang berjalan sangat lambat, memicu terjadinya inflasi di Indonesia serta terjadinya bencana kekurangan pangan.2
1M. C. Ricklefs., Sejarah Indonesia Modern 1200-2004, (Jakarta: Serambi
Ilmu Semesta, 2007), hlm. 470.
2R.Z. Leirissa, et.al., Sejarah Perekonomian Indonesia, (Yogyakarta:
Inflasi pada massa awal kemerdekaan tahun 1946 juga dipicu oleh beredarnya lebih dari satu mata uang. Pada waktu itu, pemerintah menyatakan tiga mata uang yang berlaku di wilayah RI yaitu mata uang De Javasche Bank, mata uang pemerintah Hindia Belanda, dan mata uang pendudukan Jepang. Pada saat yang bersamaan, sekutu yang telah menguasai kembali beberapa kota di Indonesia juga mengeluarkan uang NICA. Pada Tanggal 6 Maret 1946, Panglima AFNEI Letnan Jenderal Sir Montagu Stopford mengumumkan berlakunya uang NICA di daerah-daerah yang diduduki Sekutu.3
Keputusan Sekutu dalam memberlakukan mata uang NICA mendapat kecaman dari Pemerintah RI pada saat itu. Hal tersebut dikarenakan Sekutu telah melanggar persetujuan yang telah disepakati, yaitu selama belum ada penyelesaian politik mengenai status Indonesia, tidak akan ada mata uang baru. Sebagai bentuk protes terhadap sekutu, pada Bulan Oktober 1946 Pemerintah RI juga mengeluarkan mata uang baru yaitu Oeang Republik Indonesia (ORI). Pengaturan nilai tukar ORI dengan valuta asing diserahkan kepada Lembaga Perbankan.
Untuk mempercepat proses pemulihan ekonomi, Pemerintah RI mulai memberdayakan peran perbankan. Lembaga perbankan pada waktu itu bertugas untuk melaksanakan koordinasi dalam pengurusan bidang ekonomi dan keuangan. Oleh karena itu, pada Tanggal 22 Februari 1946 Pemerintah membentuk Bank Rakyat Indonesia (BRI). Pembentukan BRI berdasarkan Peraturan Pemerintah
3Kurniawan A.W., Perkembangan Bank Rakyat (Syiomin Ginko) Tahun
1942-1946, Skripsi Fakutas Sastra dan Seni Rupa UNS: Tidak Dipublikasikan, 2003), hlm. 6.
Nomor 1 Tahun 1946. BRI mempunyai tugas memberi pinjaman kepada rakyat, menerima tabungan, menjalankan perkreditan seperti bank pada umumnya, dan usaha-usaha lain yang diserahkan oleh Pemerintah.4
Ditengah-tengah kondisi politik waktu itu yang belum stabil, BRI juga belum begitu signifikan dalam mendukung perekonomian negara. Kegiatan BRI bahkan sempat terhenti karena agresi militer Belanda pertama dan kedua pada Tahun 1947 dan 1948. Kondisi politik Indonesia semakin diperparah dengan adannya pemberontakan PKI Madiun pada Tahun 1948. BRI baru mulai aktif kembali menjalankan kegiatannya setelah perjanjian Roem Royen pada Tahun 1949 dengan berubah nama menjadi Bank Rakyat Indonesia Serikat.5
Kondisi politik di Indonesia mulai membaik setelah pengakuan kedaulatan oleh Pemerintah Hindia Belanda pada Tahun 1949. Penyerahan kedaulatan RI dari Pemerintah Hindia Belanda dilakukan pada Tanggal 27 Desember 1949. Pada waktu itu, Pemerintah Hindia Belanda mengakui kedaulatan Negara Republik Indonesia Serikat (RIS). Akan tetapi pada Tanggal 17 Agustus 1950 RIS dibubarkan dan Indonesia kembali ke bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Perolehan kedaulatan serta pengakuan kemerdekaan bukan berarti permasalahan yang dihadapi Indonesia selesai, terutama dalam bidang ekonomi. Sejumlah persoalan antara lain kesejahteraan, perbaikan keadaan dan penciptaan struktur ekonomi nasional kembali muncul dalam bentuk yang lebih nyata untuk
4Roeshardjo B., Pengerahan Dana-dana dan Usaha Bank Lain-lain,
(Koleksi Museum BRI Purwokerto, 1992), hlm. 3.
5Bank Rakyat Indonesia (BRI), Seratus Tahun Bank Rakyat Indonesia
dapat segera diatasi. Pemikiran membangun suatu perkonomian nasional muncul kembali dan menempati agenda utama kabinet pemerintahan.6
Sejak tahun 1950, sektor perbankan mulai menjalankan fungsinya secara normal. Meskipun kondisi politik sudah mulai konduksif, akan tetapi kondisi perekonomian negara masih memprihatinkan. Permasalahan komplek yang dihadapi oleh pemerintah yang baru berdiri membuat pekerjaan perbankan pada saat itu menjadi sangat berat. Pada waktu itu, perekonomian ditopang oleh beberapa lembaga keuangan negara seperti BRI.
Peran BRI dalam mendukung pemerintah sejak awal kemerdekaan sampai dengan akhir masa orde lama memiliki dinamika yang sangat menarik untuk diteliti. Pada massa itu, peranan BRI sangat tergantung dari kebijakan moneter dan ekonomi pemerintah. Perubahan kebijakan pemerintah di sektor perekonomian memaksa BRI beberapa kali mengalami perubahan nama dan peran. Pada penelitian ini, dilakukan kajian tentang dinamika BRI sebagai lembaga perbankan sejak awal kemerdekaan tahun 1946 sampai dengan akhir masa orde lama tahun 1965.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana sejarah berdirinya BRI di Purwokerto?
2. Bagaimana dinamika BRI di Purwokerto pada tahun 1946-1965?
3. Bagaimana peran BRI tahun 1946 -1965 bagi pelayanan kredit di Purwokerto?
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan latar belakang dan permasalahan di atas, maka penelitian ini bertujuan untuk:
1. Mengetahui sejarah berdirinya BRI di Purwokerto.
2. Mengetahui dinamika BRI di Purwokerto pada tahun 1946-1965.
3. Mengetahui peran BRI tahun 1946-1965 terhadap pelayanan kredit di Purwokerto.
D. Manfaat Penelitian
Penelitian Dinamika BRI tahun 1946 – 1965 (kajian tentang sejarah lembaga perkreditan rakyat di Purwokerto diharapkan mampu memberikan manfaat sebagai berikut ini.
1. Memperkaya tema-tema penulisan sejarah terutama dalam aspek sejarah sosial ekonomi, serta dapat memberikan informasi dan melengkapi kajian pengetahuan dalam ilmu sejarah terutama kajian mengenai sejarah sosial ekonomi.
2. Dapat dipakai sebagai bahan pertimbangan bagi lembaga perkreditan lainnya dalam meningkatkan pelayanan terhadap masyarakat umum, terutama kalangan masyarakat menengah ke bawah.
E. Tinjauan Pustaka
Buku Seratus Tahun Bank Rakyat Indonesia 1895-1995 (1995), menguraikan tentang awal sejarah Bank Rakyat Indonesia yang didirikan oleh Patih Wirjaatmadja yang semula bernama Bank Priyayi. Seiring berjalannya
waktu serta kebijakan yang ditetapkan pemerintah mempengaruhi perubahan nama serta fungsi Bank. Pada massa kolonial Belanda bernama Algemeene Volkscredietbank (AVB), pada massa pendudukan Jepang berubah nama menjadi Syiomin Ginko, hingga pada massa awal kemerdekaan tepatnya pada tahun 1946 berubah nama menjadi BRI. Perkembangan nama serta fungsi BRI tidak berhenti sampai di situ, beberapa Peraturan Presiden menjadikan BRI mengalami perubahan nama dan fungsinya sampai pada awal massa orde baru.
Buku karya J. Soedradjad Djiwandono yang berjudul Sejarah Bank Indonesia periode I: 1945-1959 bank Indonesia Pada masa Perjuangan kemerdekaan Indonesia menguraikan tentang keadaan ekonomi Indonesia pada masa perjuangan kemerdekaan Indonesia. Pada massa itu perekonomian Indonesia mengalami masa masa sulit dan didalamnya memuat tentang peran Bank dalam memperbaiki ekonomi Negara.
Buku 100 Tahun BPR Di Indonesia 1895-1995 (1996), karya Pandu Suharto didalamnya menjelaskan latar belakang pendirian Bank Perkreditan Rakyat, sampai terbentuknya Bank Perkreditan Rakyat yang pertama yaitu di Purwokerto yang didirikan oleh Patih Bupati Purwokerto yaitu Raden Bei Wirjaatmadja. Terbentuknya Bank Perkreditan rakyat tersebut diikuti oleh penjelasan kondisi sosial masyarakat Jawa khususnya sebelum berdirinya Bank Perkreditan Rakyat dan sesudah berdirinya Bank Perkreditan rakyat. Pembahasan selanjutnya dijelaskan pula perkembangan Bank-bank rakyat di pulau Jawa maupun di luar pulau Jawa dari massa kolonial sampai sekarang.
Buku Lembaga-lembaga Keuangan dan Bank Perkembangan Teori dan Kebijaksanaan,(1980) karya Soetatwo Hadiwigeno dan Farid Wijaya disebutkan bahwa Perkembangan bank-bank menjelang abad 20, sudah merupakan bank umum yang tidak memiliki perusahaan-perusahaan. Bank-bank pada prinsipnya tidak memiliki, mengatur, ataupun menjalankan perusahaan, tetapi hanya memperdagangkan kredit. Perkembangan lembaga bank dan perkembangan ekonomi pada umumnya membutuhkan spesialisasi agar supaya lebih efisien. Untuk itu sekitar awal abad 20, didirikanlah Algemene Volkscredietbank (AVB) yang dalam perkembangannya nanti menjadi Bank Rakyat Indonesia, yang bertujuan membantu dan memajukan kegiatan usaha rakyat kecil yang produktif hingga pendapatan serta kesejahteraan hidup meningkat. Hal ini membuktikan bahwa program kerja AVB yang merupakan rintisan dari Bank Rakyat Indonesia salah satunya adalah pemberian kredit dan simpanan usaha kepada masyarakat kecil.
Buku Peran, Masalah dan Prospek Bank Perkreditan Rakyat karya Pandu Suharto dituliskan bahwa sejak Bank Rakyat menjadi AVB maka tidak dapat disebut sebagai Bank Perkreditan Rakyat (BPR) lagi. Bahkan telah menjadi pengawasan dan Pembina BPR yang dalam hal ini bertindak sebegai Badan Kredit Desa (BKD). Pada waktu pendudukan Jepang di Indonesia, telah didirikan Syomin Ginko (Bank Rakyat) yang meneruskan usaha AVB. Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, tepatnya pada bulan Februari 1946 Pemerintah Indonesia mengeluarkan Peraturan Pemerintah No.1 tahun 1946 yang menegaskan bahwa AVB dan Syomin Ginko diganti namanya menjadi Bank Rakyat Indonesia.
Setelah pemulihan, Pemerintah Republik Indonesia Serikat menginginkan untuk menjadikan Bank Rakyat Indonesia sebagai satu-satunya bank kredit rakyat yang resmi. Buku ini begitu penting dijadikan bahan acuan karena untuk melihat gambaran perkembangan dan perubahan nama Bank Rakyat dalam massa Perang Dunia kedua sampai dinasionalisasikan menjadi Bank Rakyat Indonesia.
Buku Sejarah Pendirian Bank Perkreditan Rakyat, karya Pandu Suharto (1988) menguraikan sejarah berdirinya bank-bank perkreditan rakyat yang tumbuh dan berkembang pada zaman kolonial Belanda. Pertumbuhan bank-bank kredit rakyat sangat dipengaruhi oleh keadaan Indonesia serta kebijakan pemerintahan Hindia Belanda pada waktu itu. Buku ini mengulas bahwa tujuan pendirian bank-bank perkreditan rakyat adalah untuk membantu masyarakat golongan lemah terutama yang tinggal di daerah pedesaan. Banyaknya para pelepas uang atau renternir yang kebanyakan dilakukan oleh pedagang Arab dan Cina serta bank-bank komersial yang sebagian besar milik Belanda tidak memperluas jaringan pelayanan sampai wilayah pedesaan menjadi dorongan kuat untuk mendirikan bank perkreditan rakyat.
Buku Sejarah Nasional Jilid VI, karya Sartono Kartodirdjo, Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto (1975) menjelaskan bahwa pada akhir pendudukan Jepang di Indonesia dan awal pemerintahan republik Indonesia, kondisi perekonomian sangat kacau, inflasi besar-besaran menimpa negara Indonesia yang baru saja merdeka. Salah satu penyebab inflasi adalah beredarnya mata uang Jepang secara tidak terkendali.
Skripsi karya Elin Nurmi Murahhati (1996) yang berjudul Bank Rakyat Indonesia Tahun 1895-1951 menjadi acuan karena didalamnya menjelaskan dari sisi historis Bank Rakyat Indonesia tentang awal terbentuk dari sebuah bank milik pribumi yang bernama bank priyayi, masa kolonial Belanda yaitu bernama Algemene Volskcrediebank (AVB), masa Jepang yang bernama Syiomin Ginko, dan massa kemerdekaan Indonesia atau setelah dinasionalisasi menjadi Bank Rakyat Indonesia.
Skripsi karya Kurniawan Adi Wijayanto (2003) Perkembangan bank rakyat (syiomin Ginko) tahun 1942-1946 menjadi acuan karena didalamnya menjelaskan peranan dan kinerja Bank Rakyat Indonesia (BRI) sebagai suatu bank perkreditan yang pada masa penjajahan Jepang bernama Syomin Ginko dalam perekonomian dan perbankan nasional. Peredaran mata uang asing yang tak terkontrol pasca pendudukan Jepang dan awal Kemerdekaan mengakibatkan goncangnya perekonomian nasional. Perkembangan BRI (Syomin Ginko) sampai pengambilalihan, pemunculan dan peredaran mata uang pada awal Kemerdekaan serta peranan BRI sehubungan dengan pemberlakuan Oeang Republik Indonesia (ORI).
F. Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode sejarah, suatu metode yang digunakan untuk menguji dan menganalisa secara
kritis rekaman dan peninggalan masa lalu lisan maupun tulisan dan merekontruksi secara imajinatif masa lalu berdasarkan data yang diperoleh.7
Metode sejarah yang digunakan mencakup empat langkah, yaitu : 1. Heuristik (Pengumpulan Data)
Heuristik yaitu langkah dalam mengumpulkan segala macam jenis data-data yang berkaitan dengan sejarah berdirinya Bank Rakyat Indonesia di Purwokerto, dinamika Bank Rakyat Indonesia di Purwokerto pada masa Orde Lama, pengaruh dari dinamika BRI bagi pelayanan kredit untuk masyarakat Purwokerto pada khusunya. Ketiga tema besar ini akan membantu menguraikan sub-sub judul yang akan diteliti dalam tulisan ini.
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini antara lain : a. Studi Dokumen
Dalam studi ini fokus penelitian adalah peristiwa yang sudah lampau, maka salah satu sumber yang digunakan adalah sumber dokumen. Menurut Sartono Kartodirjo dokumen dalam arti sempit adalah kumpulan data verbal dalam bentuk tulisan seperti surat kabar, catatan harian, laporan dan lain-lain.8 Dokumen yang digunakan dalam penelitian ini berasal dari Museum Bank Rakyat Indonesia, Arsip Nasional Republik Indonesia, Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, dan Monumen Pers.
Adapun arsip yang digunakan antara lain : Peraturan Pemerintah No. 1 Tahun 1946 tentang penetapan Bank Rakyat Indonesia sebagai Bank Pemerintah,
7Sartono Kartodirdjo., Pendekataan Ilmu Sosial dalam Metodologi Sejarah,
(Jakarta: PT. Gramedia, 1992), hlm. 2.
Peraturan Pemerintah No. 41 Tahun 1960 tentang peleburan Bank Rakyat Indonesia dan diintegrasikan menjadi Bank Koperasi Tani dan Nelayan, Penetapan Presiden Nomor 8 Tahun 1965 peleburan bank-bank pemerintah termasuk BKTN ke dalam Bank Indonesia, Penetapan Presiden No. 17 Tahun 1965 tentang pembentukan Bank Tunggal dengan nama BNI dan bank-bank pemerintah lainnya diintegrasikan ke dalamnya, Tabel Distribusi kredit di Purwokerto pada tahun 1950an yang memuat jumlah pendistribusian kredit BRI di Purwokerto, tabel perangkaan peminjaman BRI diseluruh Jawa Tengah termasuk di Purwokerto tahun 1957 sampai tahun 1960 yang memuat jumlah kredit BRI yang diterima masyarakat di tiap-tiap daerah di seluruh Jawa Tengah, Koran sejaman yaitu Pedoman dan Abadi yang telah digitalisasi dan membahas tentang penghapusan badan hukum AVB atau nasionalisasi Bank Rakyat Indonesia.
b. Wawancara
Wawancara dilakukan untuk dapat melengkapi data informasi yang kurang jelas dari suatu dokumen dan sekaligus menjadi alat uji kebenaran dan keabsahan data. Para informan adalah mereka penduduk Purwokerto yang memiliki memori sejaman pada massa awal kemerdekaan dan massa orde lama. Dua informan pangkal yaitu Suharso dan Karso. Suharso pada masa Orde lama yaitu tahun 1960-an merupakan pegawai di Kecamatan Purwokerto mengetahui segala kegiatan BRI dan dampaknya terhadap kehidupan para petani di wilayah Purwokerto. Informan kedua yaitu Karso, beliau pada massa orde lama yaitu tahun 1960-an merupakan seorang petani yang saat itu merupakan nasabah BRI
dan merasakan kredit yang diterima dari BRI serta manfaatnyaa untuk kebutuhan menggarap sawah.
c. Studi Pustaka
Studi pustaka dilakukan sebagai bahan pelengkap dalam sebuah penelitian. Tujuan dari studi pustaka adalah untuk menambahkan pemahaman teori akan konsep yang diperlukan dalam penelitian. Sumber pustaka yang digunakan antara lain : Buku-buku, skripsi, majalah, surat kabar, artikel, dan sumber lain yang memberikan informasi tentang tema yang diteliti. Studi pustaka dilakukan di Museum Bank Rakyat Indonesia, Perpustakaan Universitas Sebelas Maret, Perpustakaa Universitas Gadjah Mada, dan Perpustakaan Monumen Pers Nasional.
2. Kritik Sumber
Bagian ini merupakan bagian pemindaian data-data yang telah terkumpul (dari heuristic). Kritik sumber bertujuan untuk mencari otentitas atau keaslian data-data yang diperoleh melalui kritik intern dan kritik ekstern.9 Kritik intern bertujuan untuk mencari keaslian isi sumber atau data, sedangkan kritik ekstern bertujuan untuk mencari keaslian sumber. Dalam penelitian ini perlu menyeleksi data – data yang berhubungan dengan peran Bank Rakyat Indonesia di Purwokerto pada tahun 1946 sampai tahun 1965.
Dimulai dengan arsip dari Besluit Netherlandsch 17 April 1897 yang memuat tentang pembentukan Bank Priyayi atau bank yang merupakan cikal bakal BRI yang didirikan di Purwokerto. Arsip Peraturan Pemerintah No. 1 Tahun
9 Dudung Abdurrahman, Metode Penelitian Sejarah, (Jakarta: Logos
1946 tentang penetapan Bank Rakyat Indonesia sebagai bank pemerintah. Dalam Arsip tentang penetapan Bank Rakyat Indonesia sebagai bank pemerintah tersebut, digunakan untuk mengetahui bahwa BRI merupakan Bank pertama milik Pemerintah Indonesia setelah kemerdekaan. Arsip Warta Bank Rakyat Indonesia yang memuat tabel perangkaan peminjaman BRI tahun 1957 . Dari tabel tersebut dapat diketahui jumlah peminjam uang dan uang yang dipinjamkan BRI kepada masyarakat di seluruh Cabang BRI Jawa tengah. Arsip dari Warta Bank Rakyat Indonesia yang memuat tabel perangkaan peminjaman BRI tahun 1959. Dari tabel tersebut dapat diketahui jumlah uang yang dipinjamkan BRI kepada masyarakat di seluruh Cabang BRI Jawa Tengah. Arsip dari Warta Bank Rakyat Indonesia memuat tabel perangkaan peminaman BRI tahun 1960. Dari tabel tersebut dapat diketahui jumlah uang yang dipinjamkan BRI kepada masyarakat di seluruh Cabang BRI Jawa Tengah pada tahun 1960.
3. Interpretasi
Tahap interpretasi yaitu suatu metode yang menentukan sejauh mana objektivitas, kebenaran, dan kesahihan sebuah data yang telah terseleksi. Tujuan dari interpetrasi adalah menyatukan sejumlah fakta yang diperoleh dari sumber atau data sejarah dan bersama teori disusunlah fakta tersebut kedalam interpretasi secara menyeluruh. Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskripsi analisis. Deskripsi analisis artinya menggambarkan suatu fenomena beserta ciri-cirinya yang terdapat dalam fenomena tersebut berdasarkan fakta fakta yang tersedia.
4. Historiografi
Merupakan langkah terakhir dalam metode sejarah yaitu menyusun laporan yang menyajikan hasil penelitian berupa penyusunan fakta-fakta dalam suatu sintesa kisah yang bulat sehingga harus disusun secara kronologis menurut teknik penulisan sejarah.
G. Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan dimaksudkan untuk lebih memudahkan memahami dan mempelajari penelitian ini yang akan diuraikan dalam bab-bab yang berurutan. Dalam penelitian ini adapun sistematikanya terbagi menjadi lima bab, yaitu :
Bab I merupakan pendahuluan berisi latar belakang, perumusan masalah, tujuan paenelitian, tinjauan pustaka, metode penelitian, dan sistematika penulisan.
Bab II menguraikan tentang latar belakang berdirinya BRI, peran dan fungsi Bank Priyayi pada awal berdiri dan struktur organisasi Bank Priyayi pada awal pendirian. Bab ini juga menceritakan tentang penghimpunan modal Bank Priyayi pada awal berdiri.
Bab III dalam bab ini memaparkan dinamika BRI pada tahun 1946-1965, kondisi BRI di Purwokerto pada masa awal kemerdekaan sampai tahun 1965 yang disertai dengan data jumlah nasabah, sistem kredit dan tujuan dari Pemerintah dalam setiap perubahan nama BRI.
Bab IV menjelaskan peran BRI pada masa orde lama terhadap pelayanan kredit bagi masyarakat di Purwokerto. Bab ini juga menjelaskan kondisi keuangan
dan analisa dari tabel perangkaan peminjaman kredit BRI Cabang Purwokerto pada masa Orde Lama.
Bab V dalam bab ini merupakan penutup yang berisi kesimpulan sekaligus menjawab permasalahan.