• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. konsumen dengan provider (penyedia pelayanan). Pemanfaatan pelayanan kesehatan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. konsumen dengan provider (penyedia pelayanan). Pemanfaatan pelayanan kesehatan"

Copied!
36
0
0

Teks penuh

(1)

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan

Donabedian (2005), pemanfaatan pelayanan kesehatan adalah interaksi antara konsumen dengan provider (penyedia pelayanan). Pemanfaatan pelayanan kesehatan erat hubungannya dengan kapan seseorang memerlukan pelayanan kesehatan dan seberapa jauh efektifitas pelayanan tersebut. Menurut Donabedian 2005, ada beberapa faktor yang dapat memengaruhi pemanfaatan pelayanan kesehatan, yaitu:

1. Faktor Sosiokultural a. Teknologi

Kemajuan teknologi dapat memengaruhi pemanfaatan pelayanan kesehatan, dimana kemajuan dibidang teknologi disatu sisi dapat meningkatkan pemanfaatan pelayanan kesehatan seperti transplantasi organ, penemuan organ-organ artifisial, serta kemajuan dibidang radiologi. Sedangkan disisi lain kemajuan teknologi dapat menurunkan pemanfaatan pelayanan kesehatan, sebagai contoh dengan ditemukannya berbagai vaksin untuk pencegahan penyakit menular akan mengurangi pemanfaatan pelayanan kesehatan (Donabedian, 2005).

b. Norma dan Nilai yang Ada di Masyarakat

Norma, nilai sosial dan keyakinan yang ada dimasyarakat akan memengaruhi seseorang dalam bertindak, termasuk dalam memanfaatkan pelayanan kesehatan.

(2)

2. Faktor Organisasional a. Ketersediaan Sumber Daya

Suatu sumber daya tersedia apabila sumber daya itu ada atau bisa didapat, tanpa mempertimbangkan sulit ataupun mudahnya penggunaannya. Suatu pelayanan hanya bisa digunakan apabila jasa tersebut tersedia.

b. Akses Geografis

Akses geografis dimaksudkan pada faktor-faktor yang berhubungan dengan tempat yang memfasilitasinya atau menghambat pemanfaatan, ini ada hubungan antara lokasi suplai dan lokasi klien, yang dapat diukur dengan jarak waktu tempuh, atau biaya tempuh. Hubungan antara akses geografis dan volume dari pelayanan tergantung dari jenis pelayanan dan jenis sumber daya yang ada. Peningkatan akses yang dipengaruhi oleh berkurangnya jarak, waktu tempuh ataupun biaya tempuh mungkin mengakibatkan peningkatan pelayanan yang berhubungan dengan keluhan-keluhan ringan. Dengan kata lain, pemakaian pelayanan preventif lebih banyak dihubungkan dengan akses geografis dari pada pemakaian pelayanan kuratif sebagai mana pemanfaatan pelayanan umum bila dibandingkan dengan pelayanan spesialis. Semakin hebat suatu penyakit atau keluhan, dan semakin canggih atau semakin khusus sumber daya dari pelayanan, semakin berkurang pentingnya atau berkurang kuatnya hubungan antara akses geografis dan volume pemanfaatan pelayanan.

c. Akses Sosial

Akses sosial terdiri atas dua dimensi, yaitu dapat diterima dan terjangkau. Dapat diterima mengarah kepada faktor psikologis, sosial, dan faktor budaya,

(3)

sedangkan terjangkau mengarah kepada faktor ekonomi. Konsumen memperhitungkan sikap dan karakteristik yang ada pada provider seperti etnis, jenis kelamin, umur, ras, dan hubungan keagamaan.

d. Karakteristik dari Stuktur Perawatan dan Proses

Praktek pelayanan kesehatan seperti rumah sakit, praktek dokter tunggal, praktek dokter bersama, grup praktek dokter spesialis atau yang lainnya membuat pola pemanfaatan yang berbeda (Donabedian, 2005).

3. Faktor yang Berhubungan dengan Konsumen

Pemanfaatan pelayanan kesehatan adalah interaksi antara konsumen dengan

provider (penyedia pelayanan). Tingkat kesakitan atau kebutuhan yang dirasakan

oleh konsumen berhubungan langsung dengan pengunaan atau permintaan terhadap pelayanan kesehatan (Donabedian, 2005).

Kebutuhan, terdiri atas kebutuhan yang dirasakan (perceived need) dan diagnosa klinis (evaluated need). Kebutuhan yang dirasakan (perceived need) ini dipengaruhi oleh:

a. Faktor sosiodemografis yang terdiri dari umur, jenis kelamin, ras, suku bangsa, status perkawinan, jumlah keluarga, dan status sosial ekonomi (pendidikan, pekerjaan, penghasilan).

b. Faktor sosial psikologis terdiri dari persepsi, sikap dan kepercayaan terhadap pelayanan kesehatan (Donabedian, 2005).

4. Faktor yang Berhubungan dengan Produsen

Faktor yang berhubungan dengan produsen, yaitu faktor ekonomi konsumen tidak sepenuhnya memiliki referensi yang cukup akan pelayanan yang diterima,

(4)

sehingga mereka menyerahkan hal ini sepenuhnya ketangan provider. Karakteristik

provider, yaitu tipe pelayanan kesehatan, sikap petugas, serta fasilitas yang dimiliki

oleh pelayanan kesehatan yang bersangkutan (Donabedian, 2005).

2.2. Faktor-Faktor yang Memengaruhi Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan

Konsumen akan memutuskan menggunakan atau memanfaatkan sarana pelayanan kesehatan berdasarkan perilaku dan faktor-faktor yang memengaruhinya. 2.2.1. Model Pemanfaatan Anderson

Model pemanfaatan sarana kesehatan oleh masyarakat atau konsumen menurut Anderson (1974) dalam Notoatmodjo (2010) Pada prinsipnya ada dua kategori pelayanan kesehatan: (1) kategori yang berorientasi kepada publik (masyarakat) dan (2) kategori yang berorientasi pada perorangan (pribadi).

Pelayanan kesehatan yang termasuk dalam kategori publik terdiri dari sanitasi, imunisasi, kebersihan air, dan perlindungan kualitas udara. Pelayanan kesehatan masyarakat lebih diarahkan langsung kearah publik dari pada kearah individu-individu yang khusus. Di lain pihak pelayanan kesehatan pribadi adalah langsung kearah individu.

Pelayanan kesehatan ditujukan langsung kepada pemakai pribadi (individual

costumer). Studi tentang penggunaan pelayanan kesehatan dikaitkan dengan

penggunaan pelayanan kesehatan pribadi. Karena itu, kita akan mengatasi bahasan kita mengenai penggukuran pelayanan kesehatan ke kategori pelayanan kesehatan pribadi (Anderson dalam Notoatmodjo, 2010).

(5)

Anderson dan Newman dalam Notoatmodjo (2010) membuat suatu kerangka kerja teoritis untuk pengukuran pemanfaatan pelayanan kesehatan pribadi. Suatu hal yang sangat penting dari artikel mereka adalah diterimanya secara luas definisi dari dimensi-dimensi penggunaan atau pemanfaatan pelayanan kesehatan. Anderson dan Newman dalam Notoatmodjo (2010) menyamakan 3 dimensi dari kepentingan utama dalam pengukuran dan penentuan pelayanan kesehatan, yaitu tipe, tujuan atau maksud, dan unit analisis.

a. Tipe Pelayanan Kesehatan

Tipe pelayanan kesehatan digunakan untuk memisahkan berbagai pelayanan kesehatan antara satu dengan yang lainnya. Anderson dan Newman dalam Notoatmodjo (2010) menunjukkan bahwa ada perbedaan jangka waktu (panjang dan pendek) untuk masing-masing tipe pelayanan kesehatan (seperti pelayanan rumah sakit, pelayanan dokter, perawatan di rumah dan lain-lain).

Faktor-faktor penentu (determinan) pada individu bervariasi dalam hal tipe penggunaan pelayanan kesehatan. Karena perbedaan faktor penentu tersebut maka komponen utama dalam pengaturan pelayanan kesehatan harus memehartikan tipe pelayanan kesehatan yang digunakan.

b.Tujuan Pelayanan Kesehatan

Tingkatan pelayanan kesehatan berdasarkan perawatan yang dilakukan dibedakan menjadi: pelayanan tingkat I (primary), pelayanan tingkat II (secondary), pelayanan tingkat III (tertiary), pelayanan tingkat dan IV (custodial). Perawatan I dikaitkan dengan perawatan pencegahan (preventive care). Perawatan II dikaitkan

(6)

dengan perawatan perbaikan (pengembalian individu ke tingkat semula dari fungsionalnya). Perawatan III dikaitkan dengan stabilitas dari kondisi yang memehartikan penyakit jangka panjang. Perawatan IV dikaitkan semata-mata dengan kebutuhan pribadi dari pasien dan tidak dihubungkan dengan perawatan penyakit (Anderson dan Newman dalam Notoatmodjo, 2010).

c. Unit Analisis Pelayanan Kesehatan

Unit analisis pelayanan kesehatan merupakan dimensi ketiga (3) dalam kerangka kerja Anderson dan Newman dalam Notoatmodjo (2010) yang mendukung 3 perbedaan diantara unit-unit analisis, yaitu: kontak dengan pelayanan, volume pelayanan, frekuensi penyakit.

Alasan utama bagi perbedaan ini adalah bahwa ciri-ciri khas individu mungkin terkait dengan sejumlah penyakit yang diderita setiap individu, sedangkan ciri-ciri khas dari sistem pelayanan (khususnya pada dokter) mungkin menjadi tanggung jawab utama bagi sejumlah akibat dari kontak kunjungan sebagai akibat dari setiap frekuensi penyakit. Karena jumlah kontak, frekuensi dan volume pelayanan yang digunakan ditentukan oleh faktor-faktor yang berbeda, maka pengukuran penggunaan pelayanan kesehatan akan membuat suatu perbedaan di antara unit-unit pelayanan kesehatan yang berbeda.

Sebagai contoh kita ingin mengukur pelayanan rumah sakit per 100 orang dalam 1 tahun, jumlah kunjungan dokter dalam tahun tertentu atau presentasi orang yang mengunjungi seorang ahli gigi dalam 1 tahun. Ketiga indikator ini telah dipakai di Amerika dalam menguji kecenderungan penggunaan pelayanan kesehatan. Untuk

(7)

itu kita perlu menaruh perhatian pada pengertian sifat umum pengaturan pelayanan kesehatan sebagaimana yang di cerminkan dalam konsep Anderson dan Newman dalam Notoatmodjo (2010).

2.2.2. Tipe Umum dari Model Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan

Sejumlah riset telah dilakukan ke dalam faktor-faktor penentu (determinan) pemanfaatan pelayanan kesehatan. Kebanyakan dari riset inilah model-model adanya penggunaan pelayanan kesehatan dikembangkan dan dilengkapi.

1. Tujuan Model Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan

Anderson dan Newman dalam Notoatmodjo (2010) menjelaskan bahwa model pemanfaatan pelayanan kesehatan ini dapat membantu atau memenuhi satu atau lebih dari 5 tujuan sebagai berikut :

a. Untuk melukiskan hubungan kedua belah pihak antara faktor penentu dari pemanfaatan pelayanan kesehatan.

b. Untuk meringankan peramalan kebutuhan masa depan pelayanan kesehatan. c. Untuk menentukan ada atau tidak adanya pelayanan dari pemakaian pelayanan

kesehatan yang berat sebelah.

d. Untuk menyarankan cara-cara memanipulasi kebijaksanaan yang berhubungan dengan variabel-variabel agar memberikan perubahan-perubahan yang diinginkan.

e. Untuk menilai pengaruh pembentukan program atau proyek-proyek pemeliharaan atau perawatan kesehatan yang baru.

(8)

2. Kategori Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan

Menurut Anderson dan Newman dalam Notoatmodjo (2010), kategori dari model-model pemanfaatan pelayanan kesehatan adalah kependudukan, struktur sosial, psikologi sosial, sumber keluarga, sumber daya masyarakat, organisasi, dan model-model sistem kesehatan.

a. Model Demografi (Kependudukan)

Anderson dan Newman dalam Notoatmodjo (2010) menyatakan model demografi dalam pemanfaatan pelayanan kesehatan terkait dengan variabel-variabel : umur, seks, status perkawinan, dan besarnya keluarga. Variabel-variabel yang digunakan sebagai ukuran mutlak atau indikator fisiologis yang berbeda (umur, seks) dan siklus hidup (status perkawinan, besarnya keluarga) dengan asumsi bahwa perbedaan derajat kesehatan, derajat kesakitan, dan penggunaan pelayanan kesehatan sedikit banyak akan berhubungan dengan variabel diatas.

Karakteristik demografi juga mencerminkan atau berhubungan dengan karateristik sosial (perbedaan sosial dari jenis kelamin memengaruhi berbagai tipe dan ciri-ciri sosial).

b. Model-model Struktur Sosial (Social Structur Models)

Pemanfaatan pelayanan kesehatan berdasarkan model-model struktur sosial menurut Anderson dan Newman dalam Notoatmodjo (2010) melalui variabel : pendidikan, pekerjaan, dan kebangsaan. Variabel-variabel ini mencerminkan keadaan sosial dari individu atau keluarga di dalam masyarakat.

(9)

Pemanfaatan pelayanan kesehatan adalah salah satu aspek dari gaya hidup ini, yang ditentukan oleh lingkungan sosial, fisik, dan psikologis. Masalah utama dari model struktur sosial dari pemanfaatan pelayanan kesehatan adalah bahwa kita tidak mengetahui mengapa variabel ini menyebabkan penggunaan pelayanan kesehatan.

c. Model-model Sosial Psikologis (Psychological Models)

Dalam model ini, Anderson dan Newman dalam Notoatmodjo (2010) menyatakan variabel yang dipakai adalah ukuran dari sikap dan keyakinan individu. Variabel-variabel sosio-psikologis pada umumnya terdiri dari 4 kategori:

(1). Pengertian kerentanan terhadap penyakit (2). Pengertian keseluruhan dari penyakit

(3). Keuntungan yang diharapkan dari pengambilan tindakan, dalam menghadapi penyakit

(4). Kesiapan tindakan individu

Masalah utama dengan model ini adalah menganggap suatu mata rantai penyebab langsung antara sikap dan prilaku yang belum dapat dijelaskan.

d. Model Sumber Keluarga (Family Resource Models)

Dalam model ini variabel yang dipakai adalah pendapat keluarga, cakupan asuransi keluarga atau sebagai anggota suatu asuransi kesehatan dan pihak yang membiayai pelayanan kesehatan keluarga dan sebagainya. Karakteristik ini untuk menggukur kesanggupan dari individu atau keluarga untuk memperoleh pelayanan kesehatan mereka (Notoatmodjo, 2010).

(10)

e. Model Sumber Daya Masyarakat (Community Resource Models)

Pada model ini tipe model yang digunakan adalah penyediaan pelayanan kesehatan dan sumber-sumber di dalam masyarakat, dan ketercapaian dari pelayanan kesehatan yang tersedia dan sumber-sumber di dalam masyarakat. Model sumber daya masyarakat selanjutnya adalah suplai ekonomis yang berfokus pada ketersediaan sumber-sumber kesehatan pada masyarakat setempat (Notoatmodjo, 2010).

f. Model-model Organisasi (Organization Models)

Dalam model ini variabel yang dipakai adalah pencerminan perbedaan bentuk-bentuk sistem pelayanan kesehatan (Notoatmodjo, 2010). Biasanya variabel yang digunakan adalah:

1). Gaya (style) praktik pengobatan (sendiri, rekanan, atau grup)

2). Sifat (nature) dari pelayanan tersebut (membayar langsung atau tidak) 3). Letak dari pelayanan (tempat pribadi, rumah sakit, atau klinik)

4). Petugas kesehatan yang pertama kali kontak dengan pasien (dokter, perawat asisten dokter).

g. Model Sistem Kesehatan

Keenam kategori model pemanfaatan fasilitas kesehatan tersebut tidak begitu terpisah, meskipun ada perbedaan dalam sifat (nature). Model sistem kesehatan mengintegrasikan keenam model terdahulu ke dalam model yang lebih sempurna. Untuk itu maka demografi, ciri-ciri struktur sosial, sikap, dan keyakinan individu atau keluarga, sumber-sumber di dalam masyarakat dan organisasi pelayanan kesehatan yang ada, digunakan bersama dengan faktor-faktor yang berhubungan

(11)

seperti kebijaksanaan dan struktur ekonomi pada masyarakat yang lebih luas (negara). Dengan demikian apabila dilakukan analisis terhadap penyediaan dan penggunaan pelayanan kesehatan oleh masyarakat maka harus diperhitungkan juga faktor-faktor yang terlibat didalamnya (Notoatmodjo, 2010).

h. Model Kepercayaan Kesehatan (The Health Belief Models)

Model kepercayaan adalah suatu bentuk penjabaran dari model sosiopsikologis seperti disebutkan di atas. Munculnya model ini didasarkan pada kenyataan bahwa problem-problem kesehatan ditandai oleh kegagalan-kegagalan orang atau masyarakat untuk menerima usaha-usaha pencegahan dan penyembuhan penyakit yang diselenggarakan oleh provider (Notoatmodjo, 2010).

Kegagalan ini akhirnya memunculkan teori yang menjelaskan perilaku pencegahan penyakit (preventive health behavior), yang dikembangkan dari teori lapangan oleh Lewin dalam Notoatmodjo (2010) menjadi model kepercayaan kesehatan (health

belief model).

Teori Lewin menganut konsep bahwa individu hidup pada lingkup kehidupan sosial (masyarakat). Dalam kehidupan ini individu akan bernilai, baik positif maupun negatif di suatu daerah atau wilayah tertentu. Apabila keadaan individu dalam keadaan sehat maka individu tersebut dianalogikan dalam kondisi positif atau berada pada daerah positif, artinya individu tersebut bebas dari suatu penyakit atau rasa sakit yang dianalogikan sebagai daerah negatif (Notoatmodjo, 2010).

Apabila individu bertindak untuk melawan atau mengobati penyakitnya, ada empat variabel kunci yang terlibat di dalam tindakan tersebut, yakni kerentanan yang

(12)

dirasakan, manfaat yang diterima dan rintangan yang di alami dalam tindakannya melawan penyakitnya, dan hal-hal yang memotivasi tindakan tersebut (Notoatmodjo, 2010).

1). Kerentanan yang dirasakan (Perceived susceptibility)

Agar seorang bertindak untuk mengobati atau mencegah penyakitnya, ia harus merasakan bahwa ia rentan (susceptibility) terhadap penyakit tersebut. Dengan kata lain, suatu tindakan pencegahan terhadap suatu penyakit akan timbul bila seseorang telah merasakan bahwa ia atau keluarga rentan terhadap penyakit tersebut (Notoatmodjo, 2010).

2). Keseriusan yang dirasakan (Perceived serioussness)

Tindakan individu untuk mencari pengobatan dan pencegahan terhadap suatu penyakit akan didorong pula oleh keseriusan penyakit tersebut terhadap individu atau masyarakat. Penyakit demam berdarah, misalnya, akan dirasakan lebih serius dibandingkan dengan demam biasa. Oleh karena itu, tindakan pencegahan demam berdarah akan lebih banyak dilakukan bila dibandingkan dengan pencegahan (pengobatan) demam biasa (Notoatmodjo, 2010).

3). Manfaat dan rintangan-rintangan yang dirasakan (Perceived benefit and barriers) Apabila individu merasa dirinya rentan untuk pentakit-penyakit yang dianggap gawat (serius), ia akan melakukan suatu tindakan tertentu. Tindakan ini tergantung pada manfaat yang dirasakan dan rintangan-rintangan yang ditemukan dalam mengambil tindakan tersebut. Pada umumnya manfaat tindakan lebih menentukan dari pada rintangan-rintangan yang mungkin ditemukan di dalam melakukan tindakan tersebut (Notoatmodjo, 2010).

(13)

4). Isyarat atau tanda-tanda (cues)

Untuk mendapatkan tingkat penerimaan yang benar tentang kerantanan, kegawatan dan keuntungan tindakan, maka diperlukan isyarat-isyarat yang berupa faktor-faktor eksternal seperti : pesan-pesan dari media massa, nasihat atau anjuran kawan-kawan atau anggota keluarga (Notoatmodjo, 2010).

i. Model Sistem Kesehatan (Health System Model)

Anderson dalam Notoatmodjo (2010) menggambarkan model sistem kesehatan (health system model) kedalam 3 (tiga) kategori utama pelayanan kesehatan, yakni karakteristik predisposisi, karakteristik pendukung, dan karekteristik kebutuhan seperti pada Gambar 2.1.

Gambar 2.1 Model Perilaku Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan Sumber: Anderson dalam Notoatmodjo (2010)

Predisposing Enabling Need

Demografic (Age, Sex) Social Structure (Etnicity, Education, Occupation of Head Family) Health Belief Family Resourch (Income, Health Assurance) Community Resource (Health facility and personal) Perceived (Symptoms diagnose) Evaluated (Symptons diagnose) Health Services

(14)

a. Karakteristik Predisposisi (Predisposing Characteristic)

Masing-masing individu memiliki kecenderungan yang berbeda dalam memanfaatkan pelayanan kesehatan. Hal ini dapat diramalkan dengan karakteristik pasien yang telah ada sebelum timbulnya episode sakit. Karakteristik ini meliputi : ciri demografi, struktur sosial dan kepercayaan tentang kesehatan (Anderson, dalam Notoatmodjo, 2010).

b. Karakteristik Pendukung (Enabling Characteristic)

Faktor predisposisi harus didukung pula oleh hal-hal lain agar individu memanfaatkan pelayanan kesehatan. Karakteristik pendukung ini antara lain, pendapatan, asuransi kesehatan dan ketercapaian sumber pelayanan kesehatan yang ada. Bila faktor ini terpenuhi maka individu cenderung menggunakan fasilitas pelayanan kesehatan yang ada pada saat sakit. Penderita penyakit yang tergolong berat (misalnya harus operasi atau rawat inap di rumah sakit), maka kondisi ekonomi merupakan penentu akhir bagi individu dalam memanfaatkan pelayanan kesehatan (Anderson dalam Notoatmodjo, 2010).

c. Karakteristik Kebutuhan (Need Factor)

Faktor ini lebih menitikberatkan pada masalah apakah individu beserta keluarganya merasakan adanya penyakit, atau kemungkinan untuk terjadinya sakit. Kebutuhan diukur dengan “perceived need” dan “evaluated need” melalui : jumlah hari individu tidak bisa bekerja, gejala yang dialaminya, penilaian individu tentang status kesehatannya (Anderson dalam Notoatmodjo, 2010).

(15)

Salah satu faktor dalam predisposisi individu (predisposing factor) yang menentukan perilaku dalam pemanfaatan pelayanan kesehatan adalah kepercayaan tentang kesehatan (health belief). Kepercayaan tentang kesehatan terkait dengan aspek persepsi, sikap dan pengetahuan tentang penyakit dan pelayanan kesehatan (Anderson dalam Notoatmodjo, 2010).

2.2.3. Model Pemanfaatan Green

Keputusan pasien untuk memanfaatkan fasilitas kesehatan tidak terlepas dari faktor perilaku yang dimiliki oleh masing-masing individu. Adapun Model perilaku masyarakat dalam pemanfaatan pelayanan kesehatan dapat dijelaskan dengan Teori Green dalam Notoatmodjo (2010), yang dibedakan dalam tiga faktor yaitu :

a) Faktor Predisposisi (Predisposing Factors)

Faktor ini merupakan faktor anteseden, yaitu merupakan adanya sebuah peristiwa yang dapat menjadikan seseorang berperilaku. Termasuk dalam faktor ini adalah pengetahuan, sikap, keyakinan, nilai dan persepsi yang berkenaan dengan motivasi seseorang atau kelompok untuk bertindak.

b) Faktor Pemungkin (Enabling Factors)

Faktor pemungkin adalah faktor anteseden terhadap perilaku yang memungkinkan suatu motivasi atau aspirasi terlaksana. Termasuk dalam faktor pemungkin adalah ketrampilan, sumber daya pribadi dan komunitas. Seperti tersedianya pelayanan kesehatan termasuk alat-alat kontrasepsi, keterjangkauan, kebijakan, peraturan dan perundangan.

(16)

c) Faktor penguat (Reinforcing Factors)

Faktor penguat adalah faktor yang menentukan apakah tindakan kesehatan memperoleh dukungan atau tidak. Sumber penguat tentu saja tergantung pada tujuan dan jenis program. Faktor ini terwujud dalam sikap dan perilaku petugas kesehatan atau petugas lain yang merupakan kelompok referensi dari perilaku masyarakat.

2.3. Persepsi

Persepsi adalah suatu proses seorang individu memilih, mengorganisasi, dan menafsirkan informasi untuk menciptakan suatu gambaran yang bermakna. Persepsi seorang dapat berbeda satu sama lainnya, meskipun dihadapkan pada suatu situasi dan kondisi yang sama. Hal ini dipandang dari suatu gagasan bahwa seseorang menerima suatu objek rangsangan melalui penginderaan, penglihatan, pendengaran, pembauan, dan perasaan (Robbins, 2006).

Robbins (2006) menyatakan terdapat tiga faktor yang memengaruhi persepsi, yakni pelaku persepsi, target yang dipersepsikan dan situasi. Ketika individu memandang kepada objek tertentu dan mencoba menafsirkan apa yang dilihatnya, penafsiran itu sangat dipengaruhi oleh karakteristik pribadi individu pelaku persepsi itu. Karakteristik pribadi yang memengaruhi persepsi adalah sikap, kepribadian, motif, kepentingan atau minat, pengalaman masa lalu, dan harapan.

Faktor-faktor yang memengaruhi persepsi terdiri atas dua faktor, yaitu faktor eksternal atau dari luar yakni concreteness, yaitu gagasan yang abstrak yang sulit dibandingkan dengan yang objektif, novelty atau hal baru, biasanya lebih menarik

(17)

untuk dipersepsikan daripada hal-hal lama, velocity atau percepatan, misalnya pemikiran atau gerakan yang lebih cepat dalam menstimulasi munculnya persepsi lebih efektif dibanding yang lambat, conditioned stimuli yakni stimulus yang dikondisikan. Sedangkan faktor internal adalah motivasi, yaitu dorongan untuk merespon sesuatu interest dimana hal-hal yang menarik lebih diperhatikan daripada yang tidak menarik, need adalah kebutuhan akan hal-hal tertentu dan terakhir

asumptions yakni persepsi seseorang dipengaruhi dari pengalaman melihat,

merasakan dan lain-lain (Robbins, 2006).

Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia (2006) persepsi diartikan sebagai: (a) tangapan (penerimaan) langsung dari sesuatu dan (b) proses seseorang mengetahui beberapa hal melalui panca inderanya. Menurut Komarudin (2006), secara

etimologis, persepsi berasal dari bahasa Latin percipere yang mempuyai pengertian: (a) kesadaran intuitif (berdasarkan firasat) terhadap kebenaran atau kepercayaan

langsung terhadap sesuatu, (b) proses dalam mengetahui objek-objek dan peristiwa-peristiwa obyektif, (c) sesuatu proses psikologis yang memproduksi bayangan sehingga dapat mengenal obyek melalui berfikir asosiatif dengan cara inderawi sehingga kehadiran bayangan itu dapat disadari yang disebut juga dengan wawasan.

Persepsi seseorang dipengaruhi oleh : (a) frame of reference yaitu kerangka pengetahuan yang dimiliki yang diperoleh dari pendidikan, pengamatan, atau bacaan ; (b) field of experience, yaitu pengalaman yang telah dialami yang tidak terlepas dari lingkungan sekitarnya. Pembentukan persepsi sangat dipengaruhi oleh informasi atau rangsangan yang pertama kali diperolehnya. Pengalaman pertama yang tidak

(18)

menyenangkan pada pelayanan rumah sakit atau informasi yang tidak benar mengenai rumah sakit akan berpengaruh terhadap pembentukan persepsi seorang terhadap kebutuhan untuk memanfaatkan pelayanan kesehatan di rumah sakit.

Menurut Zastrow et al. (2004) persepsi merupakan suatu proses yang timbul akibat adanya aktifitas (pelayanan yang diterima) yang dapat dirasakan oleh suatu objek. Mengingat bahwa persepsi setiap orang terhadap suatu objek (pelayanan) akan berbeda-beda. Oleh karena itu persepsi memiliki sifat subjektif yang merupakan suatu rasa puas atau tidak oleh adanya pelayanan.

Dari beberapa pengertian yang telah dikemukakan diatas terdapat perbedaan namun dapat disimpulkan bahwa pengertian atau pendapat satu sama lain saling menguatkan, yaitu bahwa yang dimaksud dengan persepsi adalah suatu proses yang muncul lewat panca indera, baik indera penglihat, pendengar, peraba, perasa, dan pencium, kemudian terus-menerus berproses sehingga mencapai sebuah kesimpulan yang berhubungan erat dengan informasi yang diterima dan belum sampai kepada kenyataan yang sebenarnya, proses ini yang dimaksud dengan persepsi.

2.4. Perilaku

2.4.1. Definisi Perilaku

Perilaku merupakan respon atau reaksi seseorang terhadap stimulus (rangsangan dari luar). Perilaku juga dapat dikatakan sebagai totalitas penghayatan dan aktivitas seseorang yang merupakan hasil bersama antara beberapa faktor. Sebagian besar perilaku manusia adalah operant response yang berarti respons yang

(19)

timbul dan berkembang kemudian diikuti oleh stimulus tertentu yang disebut

reinforcing stimulation atau dengan adanya stimulasi akan memperkuat respons. Oleh

karena itu untuk membentuk perilaku perlu adanya suatu kondisi tertentu yang dapat memperkuat pembentukan perilaku.

Dari segi biologis, perilaku adalah suatu kegiatan atau aktivitas organisme (makhluk hidup) yang bersangkutan. Oleh sebab itu, dari sudut pandang biologis semua makhluk hidup mulai dari tumbuh-tumbuhan, binatang sampai dengan manusia itu berperilaku, karena mempunyai aktivitas masing-masing. Sehingga yang dimaksud dengan perilaku manusia, pada hakikatnya adalah tindakan atau aktivitas dari manusia itu sendiri yang mempunyai bentangan yang sangat luas, antara lain: berjalan, berbicara, menangis, tertawa, bekerja, kuliah, menulis, membaca, dan sebagainya. Dari uraian ini dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud perilaku (manusia) adalah semua kegiatan atau aktivitas manusia, baik yang dapat diamati langsung, maupun yang tidak dapat diamati oleh pihak luar (Notoatmodjo, 2010).

Menurut Skiner dalam Notoatmodjo (2010), bahwa perilaku merupakan respon atau reaksi seseorang terhadap stimulus atau rangsangan. Dilihat dari bentuk respon terhadap stimulus ini maka perilaku dapat dibedakan menjadi 2 (dua) :

1. Perilaku Tertutup (Covert Behavior)

Respon atau reaksi terhadap stimulus ini terbatas pada perhatian, persepsi, pengetahuan atau kesadaran, dan sikap yang terjadi pada orang yang menerima stimulus tersebut, dan belum dapat diamati secara jelas oleh orang lain.

(20)

2. Perilaku Terbuka (Overt Behavior)

Respons terhadap stimulus ini sudah jelas dalam bentuk tindakan atau praktek (practice), yang dengan mudah dapat diamati atau dilihat oleh orang lain (Notoatmodjo, 2010).

2.4.2 Aspek-aspek Perilaku

Aspek-aspek perilaku terdiri dari tiga bagian, sebagai berikut:

a. Pengetahuan, adalah aspek perilaku yang merupakan hasil tahu, dimana ini terjadi bila seseorang melakukan penginderaan terhadap objek tertentu.

b. Sikap, merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup dari seseorang terhadap stimulus atau objek. Sikap belum merupakan tindakan atau aktivitas, tetapi merupakan predisposisi tindakan suatu perilaku. Sikap ini terdiri dari berbagai tingkatan seperti menerima, merespon, menghargai dan bertanggungjawab.

c. Tindakan, adalah sesuatu yang dilakukan. Suatu sikap belum terwujud dalam tindakan. Untuk terwujudnya sikap agar menjadi perbuatan yang nyata diperlukan faktor pendukung dari pihak lain.

Perilaku manusia merupakan refleksi dari berbagai gejala kejiwaan, seperti keinginan, minat, kehendak, pengetahuan, emosi, berpikir, sifat, motivasi, reaksi dan sebagainya, namun demikian sulit dibedakan refleksi dan gejala kejiwaan yang mana seseorang itu berperilaku tertentu. Apabila kita telusuri lebih lanjut, gejala kejiwaan yang tercermin dalam perilaku manusia itu adalah pengalaman, keyakinan, sarana fisik, sosio masyarakat dan sebagainya (Notoatmodjo, 2012).

(21)

2.4.3 Faktor-faktor yang Memengaruhi Perilaku

Notoatmodjo (2010), menyatakan bahwa faktor-faktor yang membedakan respons terhadap stimulus yang berbeda disebut juga determinan perilaku, yang dapat dibedakan menjadi dua yakni :

a) Determinan atau faktor internal, yakni karakteristik individu yang bersangkutan yang bersifat bawaan, misalnya : tingkat kecerdasan, tingkat emosional, jenis kelamin, dan lain-lain.

b) Determinan atau faktor eksternal, yakni lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi, politik. Faktor lingkungan ini sering merupakan faktor yang dominan yang mewarnai perilaku seseorang.

Menurut WHO (World Health Organization) dalam Notoatmodjo (2012), alasan seseorang berperilaku tertentu adalah karena pengetahuan, persepsi, sikap, kepercayaan-kepercayaan, dan penilaian seseorang terhadap objek.

Gambar 2.2 Determinan Perilaku Manusia 2.4.4. Pengetahuan

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2006) kata “tahu” berarti mengerti sesudah melihat (menyaksikan, mengalami atau diajar). Sedangkan arti dari

Pengalaman Keyakinan Fasilitas Sosial Budaya Pengetahuan Persepsi Sikap Keinginan Kehendak Motivasi Niat PERILAKU

(22)

pemahaman adalah hal mengetahui sesuatu, segala apa yang diketahui serta kepandaian. Dalam hal ini, dapat dikatakan efektif bila penerima pesan dapat memperoleh pengetahuan yang didapatnya dari pesan yang disampaikan oleh sumber pengetahuan dan berkenaan dengan sesuatu hal (disiplin ilmu).

Pengetahuan merupakan hasil dari tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia yakni indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa. Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang (Notoatmodjo, 2010).

Perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng dari pada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan. Rogers (1974) dalam Notoatmodjo (2010), dari hasil penelitiannya mengungkapkan bahwa sebelum orang mengadopsi perilaku baru, dalam dirinya orang tersebut terjadi proses berurutan, yaitu:

a. Awareness (kesadaran), dimana orang tersebut menyadari dalam arti mengetahui terlebih dahulu terhadap stimulus (obyek).

b. Interest, dimana orang mulai tertarik kepada stimulus.

c. Evaluation, orang sudah mulai menimbang-nimbang terhadap baik tidaknya stimulus tersebut bagi dirinya.

d. Trial, dimana orang telah mulai mencoba perilaku baru.

e. Adoption, dimana subyek telah berperilaku baru sesuai dengan pengetahuan, kesadaran dan sikapnya terhadap stimulus.

(23)

2.4.5 Sikap

Thurstone dalam Azwar (2007), mendefinisikan sikap sebagai derajat afek positif atau afek negatif terhadap suatu objek psikologis. Sikap atau Attitude senantiasa diarahkan pada suatu hal, suatu objek. LaPierre dalam Azwar (2007) mendefinisikan sikap sebagai suatu pola perilaku, tendensi, atau kesiapan antisipatif, predisposisi untuk menyesuaikan diri dalam situasi sosial, atau secara sederhana, sikap adalah respon terhadap stimuli sosial yang telah terkondisikan. Definisi Petty & Cacioppo dalam Azwar (2007), menyatakan sikap adalah evaluasi umum yang dibuat manusia terhadap dirinya sendiri, orang lain, objek atau isu-isu.

Menurut Fishbein dan Ajzen dalam Dayakisni dan Hudaniah (2003), sikap sebagai predisposisi yang dipelajari untuk merespon secara konsisten dalam cara tertentu berkenaan dengan objek tertentu. Sherif & Sherif dalam Dayakisni & Hudaniah (2003) menyatakan bahwa sikap menentukan keajegan dan kekhasan perilaku seseorang dalam hubungannya dengan stimulus manusia atau kejadian-kejadian tertentu. Sikap merupakan suatu keadaan yang memungkinkan timbulnya suatu perbuatan atau tingkah laku.

Azwar (2007), menggolongkan definisi sikap dalam tiga kerangka pemikiran: a. Kerangka pemikiran yang diwakili oleh para ahli psikologi seperti Louis

Thurstone, Rensis Likert dan Charles Osgood dalam Azwar (2007). Menurut mereka sikap adalah suatu bentuk evaluasi atau reaksi perasaan. Sikap seseorang terhadap suatu objek adalah perasaan mendukung atau memihak (favorable)

(24)

maupun perasaan tidak mendukung atau tidak memihak (unfavorable) pada objek tersebut.

b. Kerangka pemikiran ini diwakili oleh ahli seperti Chave, Bogardus, LaPierre, Mead dan Gordon Allport dalam Azwar (2007),. Menurut kelompok pemikiran ini sikap merupakan semacam kesiapan untuk bereaksi terhadap suatu objek dengan cara-cara tertentu. Kesiapan yang dimaksud merupakan kecenderungan yang potensial untuk bereaksi dengan cara tertentu apabila individu dihadapkan pada suatu stimulus yang menghendaki adanya respon.

c. Kelompok pemikiran ini adalah kelompok yang berorientasi pada skema triadik (triadic schema). Menurut pemikiran ini suatu sikap merupakan konstelasi komponen kognitif, afektif dan konatif yang saling berinteraksi di dalam memahami, merasakan dan berperilaku terhadap suatu objek.

Berdasarkan definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa sikap adalah kecenderungan individu untuk memahami, merasakan, bereaksi dan berperilaku terhadap suatu objek yang merupakan hasil dari interaksi komponen kognitif, afektif dan konatif.

Definisi sikap adalah mekanisme mental yang mengevaluasi, membentuk pandangan, mewarnai perasaan dan akan ikut menentukan kecenderungan perilaku individu terhadap manusia lainnya atau sesuatu yang sedang dihadapi oleh individu, bahkan terhadap diri individu itu sendiri disebut fenomena sikap. Fenomena sikap yang timbul tidak saja ditentukan oleh keadaan objek yang sedang dihadapi tetapi juga dengan kaitannya dengan pengalaman-pengalaman masa lalu, oleh situasi di saat sekarang, dan oleh harapan-harapan untuk masa yang akan datang (Azwar, 2007).

(25)

Sikap dapat bersifat positif dan dapat pula bersifat negatif, (1) sikap positif adalah apabila timbul persepsi yang positif terhadap stimulus yang diberikan dapat berkembang sebaik-baiknya karena orang tersebut memiliki pandangan yang positif terhadap stimulus yang telah diberikan. (2) sikap negatif apabila terbentuk persepsi negatif terhadap stimulus yang telah diberikan. Struktur sikap menurut Kothandapani (dalam Azwar, 2007) dibagi menjadi 3 komponen yang saling menunjang. Ketiga komponen tersebut pembentukan sikap, yaitu sebagai komponen kognitif (kepercayaan), emosional (perasaan) dan komponen konatif (tindakan).

2.5. TB MDR (Multidrugs Resistant Tuberculosis) 2.5.1. Definisi TB MDR

Resistensi kuman M.tuberculosis terhadap OAT adalah keadaan dimana kuman sudah tidak dapat lagi dibunuh dengan OAT. TB resisten OAT pada dasarnya adalah suatu fenomena buatan manusia, sebagai akibat dari pengobatan pasien TB yang tidak adekuat dan penularan dari pasien TB resisten OAT. Resisten OAT minimal terhadap rifampisin dan INH (Isoniazid) dengan atau tanpa OAT lainnya. Rifampisin dan INH merupakan 2 obat yang sangat penting pada pengobatan TB yang diterapkan pada strategi DOTS (Kemenkes RI, 2013).

Secara umum resitensi terhadap obat anti tuberkulosis dibagi menjadi :

a. Resisten primer ialah apabila pasien sebelumnya tidak pernah mendapat pengobatan OAT atau telah mendapat pengobatan OAT kurang dari 1 bulan b. Resisten initial ialah apabila tidak tahu pasti apakah pasien sudah ada riwayat

(26)

c. Resisten sekunder ialah apabila pasien telah mempunyai riwayat pengobatan OAT minimal 1 bulan (Kemenkes RI, 2013).

2.5.2. Kategori TB MDR

Terdapat empat jenis kategori resistensi terhadap obat TB : a. Mono-resistance: kekebalan terhadap salah satu OAT

b. Poly-resistance: kekebalan terhadap lebih dari satu OAT, selain kombinasi isoniazid dan rifampisin

b. Multidrug-resistance (MDR): kekebalan terhadap sekurang-kurangnya isoniazid dan rifampicin

c. Extensive drug-resistance (XDR) : TB MDR ditambah kekebalan terhadap salah salah satu obat golongan fluorokuinolon, dan sedikitnya salah satu dari OAT injeksi lini kedua (kapreomisin, kanamisin, dan amikasin) (Kemenkes RI, 2013).

2.5.3. Klasifikasi Kasus TB

Sesuai dengan pedoman penanggulangan TB Nasional dibagi menjadi a.Kasus Kronik

Pasien TB dengan hasil pemeriksaan masih BTA positif setelah selesai pengobatan ulang (kategori 2). Hal ini ditunjang dengan rekam medis sebelumnya dan atau riwayat penyakit dahulu.

b.Kasus Gagal Pengobatan

Pasien TB yang hasil pemeriksaan dahaknya positif atau kembali positif pada bulan kelima atau lebih selama pengobatan.

(27)

c.Kasus Kambuh (Relaps)

Pasien TB yang sebelumnya pernah mendapatkan pengobatan TB dan telah dinyatakan sembuh atau pengobatan lengkap, didiagnosis kembali dengan BTA positif (dahak atau kultur) (Kemenkes RI, 2013).

2.5.4. Suspek TB MDR

Pasien yang dicurigai kemungkinan TB MDR adalah : 1. Kasus TB paru kronik

2. Pasien TB paru gagal pengobatan kategori 2

3. Pasien TB yang pernah diobati TB termasuk OAT lini kedua seperti kuinolon dan kanamisin

4. Pasien TB paru yang gagal pengobatan kategori 1

5. Pasien TB paru dengan hasil pemeriksaan dahak tetap positif setelah sisipan dengan kategori 1

6. TB paru kasus kambuh

7. Pasien TB yang kembali setelah lalai/default pada pengobatan kategori 1 dan atau kategori 2

8. Suspek TB dengan keluhan, yang tinggal dekat dengan pasien TB MDR konfirmasi, termasuk petugas kesehatan yang bertugas dibangsal TB MDR Pasien yang memenuhi ‘kriteria suspek’ harus dirujuk ke laboratorium dengan jaminan mutu eksternal yang ditunjuk untuk pemeriksaan biakan dan uji kepekaan obat (Kemenkes RI, 2013).

(28)

2.5.5. Penyebab Terjadinya TB MDR (Spigots)

Ada 5 (lima) aspek penyebab terjadinya TB MDR, yaitu;

1. Pemberian terapi TB yang tidak adekuat akan menyebabkan mutants resisten. Hal ini amat ditakuti karena dapat terjadi resisten terhadap OAT lini pertama

2. Masa infeksius yang terlalu panjang akibat keterlambatan diagnosis akan menyebabkan penyebaran galur resitensi obat. Penyebaran ini tidak hanya pada pasien di rumah sakit tetapi juga pada petugas rumah sakit, asrama, penjara dan keluarga pasien.

3. Pasien dengan TB MDR diterapi dengan OAT jangka pendek akan tidak sembuh dan akan menyebarkan kuman. Pengobatan TB MDR sulit diobati serta memerlukan pengobatan jangka panjang dengan biaya mahal.

4. Pasien dengan OAT yang resisten terhadap kuman tuberkulosis yang mendapat pengobatan jangka pendek dengan monoterapi akan menyebabkan bertambah banyak OAT yang resisten (The amplifier effect). Hal ini menyebabkan seleksi mutasi resisten karena penambahan obat yang tidak multipel dan tidak efektif 5. HIV akan mempercepat terjadinya terinfeksi TB mejadi sakit TB dan akan

memperpanjang periode infeksius (Kemenkes, RI, 2013). 2.5.6. Fasilitas Pelayanan Kesehatan (Fasyankes) TB-MDR a. Satelit TB MDR

Fasyankes yang melaksanakan Manajemen Terpadu Pengendalian TB Resisten obat, yang kegiatannya meliputi penjaringan suspek, melanjutkan pengobatan, pengelolaan logistik dan pencatatan.

(29)

b. Sub Rujukan TB MDR

Sub Rujukan TB MDR merupakan Fasyankes yang melaksanakan Manajemen Terpadu Pengendalian TB Resisten obat yang kegiatannya mulai dari penjaringan suspek, penegakan diagnosis, pengobatan baik rawat inap maupun rawat jalan, penatalaksanaan efek samping, pengelolaan logistik dan pencatatannya. Dalam pelaksanaannya fasyankes ini memerlukan koordinasi dan pendampingan fasyankes pusat rujukan, karena ada beberapa persyaratan yang belum bisa dipenuhi.

c. Pusat Rujukan TB MDR

Pusat Rujukan TB merupakan Fasyankes yang melaksanakan Manajemen Terpadu Pengendalian TB Resistan Obat mulai dari penjaringan suspek, penegakan diagnosis, pengobatan baik rawat inap maupun rawat jalan, penatalaksanaan efek samping, evaluasi keberhasilan pengobatan, manajemen logistik dan pencatatan serta pelaporannya.

2.5.7. Faktor yang Memengaruhi Terjadinya Tuberkulosis Resisten Obat Faktor utama penyebab terjadinya resistansi kuman terhadap OAT adalah ulah manusia sebagai akibat tata laksana pengobatan pasien TB yang tidak dilaksanakan dengan baik. Penatalaksanaan pasien TB yang tidak adekuat tersebut dapat ditinjau dari sisi: (Kemenkes RI, 2013)

(1). Pemberi jasa/petugas kesehatan, yaitu karena : a Diagnosis tidak tepat,

b.Pengobatan tidak menggunakan paduan yang tepat,

(30)

d.Penyuluhan kepada pasien yang tidak adekuat (2). Pasien, yaitu karena :

a. Tidak mematuhi anjuran dokter/ petugas kesehatan, b. Tidak teratur menelan paduan OAT,

c. Menghentikan pengobatan secara sepihak sebelum waktunya, d. Gangguan penyerapan obat

(3). Program Pengendalian TB , yaitu karena : a. Persediaan OAT yang kurang

b. Kualitas OAT yang disediakan rendah (Pharmaco-vigillance).

Salah satu upaya yang dilakukan pemerintah adalah menerbitkan Manajemen Penatalaksanaan pasien TB MDR. Manajemen Penatalaksanaan pasien TB MDR telah dimulai pada pertengahan tahun 2009 dengan suatu kegiatan uji pendahuluan di 2 (dua) wilayah, yaitu Kota Jakarta Timur dan Kota Surabaya pada pertengahan tahun 2009. Uji pendahuluan tersebut bertujuan untuk menguji sistem yang digunakan dalam pelaksanaan manajemen penatalaksanaan pasien TB MDR, diantaranya adalah untuk menilai jejaring internal maupun eksternal, aspek manajemen klinis serta manajemen program yang terkait dengan pelaksanaannya serta hal-hal yang lainnya.

Uji pendahuluan untuk pengobatan 100 pasien telah dilalui dengan hasil cukup baik, hal ini menggambarkan prediksi awal untuk keberhasilan pengobatan. Berdasarkan hasil tersebut, maka pengobatan TB Resistan Obat ditetapkan menjadi bagian dari program Pengendalian TB nasional dengan terbitnya Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor 565/MENKES/PER/III/2011 perihal Strategi

(31)

Nasional Pengendalian TB tahun 2011-2014. Kegiatan ini pada awalnya dikenal sebagai Programmatic Management of Drug Resistant TB (PMDT), untuk selanjutnya, kegiatan ini disebut sebagai Manajemen Terpadu Pengendalian Tuberkulosis Resistan Obat (Kemenkes RI, 2013).

2.6. Rumah Sakit

2.6.1. Definisi Rumah Sakit

Menurut Undang-undang No. 36 tahun 2009, rumah sakit merupakan salah satu sarana kesehatan dan tempat penyelenggaraan upaya kesehatan serta suatu organisasi dengan sistem terbuka dan selalu berinteraksi dengan lingkungannya untuk mencapai suatu keseimbangan yang dinamis dan mempunyai fungsi utama melayani masyarakat yang membutuhkan pelayanan kesehatan. Upaya kesehatan adalah setiap kegiatan untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan yang optimal bagi masyarakat. Upaya kesehatan diselenggarakan dengan pendekatan peningkatan kesehatan (promotif), pencegahan penyakit (preventif), penyembuhan penyakit (kuratif) dan pemulihan (rehabilitatif) yang dilaksanakan secara menyeluruh, terpadu dan berkesinambungan. Sedangkan dalam Permenkes No.340 tahun 2010 Tentang Klasifikasi Rumah Sakit, dinyatakan bahwa Rumah Sakit adalah institusi pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna yang menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan, dan gawat darurat.

(32)

2.6.2 Fungsi Rumah Sakit

Menurut Undang-undang RI No. 44 tahun 2009, rumah sakit mempunyai fungsi :

1. Penyelenggaraan pelayanan pengobatan dan pemulihan kesehatan sesuai dengan standar pelayanan rumah sakit.

2. Pemeliharaan dan peningkatan kesehatan perorangan melalui pelayanan kesehatan yang paripurna tingkat kedua dan ketiga sesuai kebutuhan medis.

3. Penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan sumber daya manusia dalam rangka peningkatan kemampuan dalam pemberian pelayanan kesehatan.

4. Penyelenggaraan penelitian dan pengembangan serta penapisan teknologi bidang kesehatan dalam rangka peningkatan pelayanan kesehatan dengan memperhatikan etika ilmu pengetahuan bidang kesehatan.

Medan.

2.6.3 Alur Pelayanan Pasien di Poli TB MDR

Alur pelayanan pasien di Poli TB MDR RSUP HAM Medan disajikan pada Gambar 2.3.

(33)

Gambar 2.3 Alur Pelayanan Pasien di Poli TB MDR 2.6.4 Poli TB MDR

Poli TB MDR merupakan poli rujukan pasien suspek TB MDR yang dirujuk dari poli paru RSUP HAM Medan dan dari fasilitas pelayanan kesehatan seluruh kabupaten/kota berdasarkan sembilan kriteria. Pasien suspek TB MDR dahaknya diperiksa terlebih dahulu dilaboratorium mikrobiologi RSUP HAM Medan. Waktu pemeriksaan ini diperlukan selama 2 hari. Setelah didiagnose TB MDR maka penderita akan menjalani pemeriksaan laboratorium dasar untuk memulai persiapan pengobatan. Pengobatan TB MDR mencapai waktu 18–24 bulan, sehingga

Pasien Pasien Lama Pendaftaran Kasir Poli Paru Poli MDR Puskesmas Medical Record Pulang Laboratorium Puskesmas Pasien Baru Rujukan Puskesmas Asuransi Unit Pelayanan Pasien mengeluarkan SPJP Puskesmas

(34)

dikhawatirkan ada efek samping pemakaian obat jangka panjang. Pasien yang mulai masa pengobatan menjalani rawat inap selama 3 hari di RSUP HAM Medan untuk mengetahui efek samping obat. Setelah menjalani rawat inap selama 3 hari kemudian pasien dipulangkan. Sebelum pasien dipulangkan kerumah petugas Poli TB MDR berkoordinasi dengan dinas kesehatan untuk meneruskan pengobatan di puskesmas terdekat dengan tempat tinggal penderita TB MDR.

Petugas puskesmas dan Dinas Kesehatan setempat akan menjemput pasien yang dipulangkan dan diberikan obat selama 1 bulan (desentralisasi) kemudian meneruskan pengobatan di puskesmas tersebut. Selanjutnya penderita TB MDR akan melakukan kontrol setiap bulan ke Poli TB MDR RSUP HAM Medan, jika 2 hari setelah tanggal yang ditentukan pasien tidak datang maka petugas Poli TB MDR akan menghubungi pasien tersebut untuk datang ke Poli TB MDR. Ada petugas khusus yang akan mendatangi pasien, jika pasien tidak datang maka wawancara akan dibantu oleh petugas Poli TB MDR yang sebelumnya sudah diberikan penjelasan tentang teknis wawancara menggunakan kuesioner. Populasi dalam penelian ini adalah pasien suspek TB MDR yang berdomisili di Kota Medan.

2.7. Landasan Teori

RSUP H.Adam Malik Medan sebagai sarana kesehatan milik pemerintah dan sebagai rumah sakit rujukan di Kota Medan ditujukan untuk melayani

masyarakat. Penanganan pasien TB di Poli TB MDR RSUP HAM Medan dipengaruhi oleh berbagai faktor baik pasien sebagai pengguna maupun dari petugas kesehatan yang memberikan pelayanan kesehatan. Mengacu kepada konsep pemanfaatan pelayanan kesehatan yang dikemukakan oleh Donabedian (2005), Green

(35)

(1980) dan Anderson (1974) dalam Notoatmodjo (2010) dirangkum dalam suatu landasan teori seperti pada Gambar 2.4.

Gambar 2.4. Landasan Teori

Sumber: Donabedian (2005), Green (1980) dan Anderson (1974) dalam Notoatmodjo (2010)

Organizational factors

a. Ketersediaan Sumber Daya b.Akses Geografis

c.Akses Sosial

d.Karakteristik Struktur Perawatan dan Proses

Consumer factors

Tingkat kesakitan dan Kebutuhan yang dirasakan (Perceived need)

a. Faktor sosiodemografis b. Faktor sosial psikologis c. Diagnosa klinis (evaluated

need) Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan Sociocultural factors a. Teknologi

b.Norma dan nilai Keyakinan

Provider factors a. Sikap petugas

b. Keahlian petugas, serta c. Fasilitas yang dimiliki

Faktor Predisposisi a. Pengetahuan b. Sikap c. Kepercayaan d. Persepsi e. Nila-nilai Karakteristik Predisposisi a. Jenis kelamin b. Umur c. Pendidikan d. Pekerjaan e. Suku/ ras f. Manfaat-manfaat Faktor Pendorong a.Lingkungan fisik b.Fasilitas/ sarana pelayanan kesehatan Faktor Penguat a. Sikap dan perilaku

petugas kesehatan atau petugas lain b. Dukungan

keluarga

Karakteristik Pendukung

a.Sumber daya keluarga b.Sumber daya masyarakat

Karakteristik Kebutuhan

Kebutuhan yang dirasakan individu terhadap pelayanan kesehatan

(36)

2.8. Kerangka Konsep

Berdasarkan landasan teori maka dapat digabungkan menjadi suatu pemikiran yang terintegrasi. Pemikiran yang terintegrasi tersebut merupakan kerangka konsep dalam penelitian ini dengan model sebagai berikut :

Variabel Independen Variabel Dependen

Gambar 2.5 Kerangka Konsep Penelitian

Pemanfaatan Rujukan Poli TB MDR RSUP Haji Adam

Malik Medan Faktor Provider

a. Sikap Petugas Medis (a) Dokter

(b) Perawat (c) Konseling

b. Penjelasan tentang pengobatan c. Penyuluhan

Faktor Consumer a. Pengetahuan tentang TB MDR b. Persepsi tentang Penyakit TB MDR c. Persepsi tentang Pelayanan TB MDR d. Diagnosa Klinis TB MDR

Gambar

Gambar 2.1 Model Perilaku Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan
Gambar 2.2 Determinan Perilaku Manusia  2.4.4.  Pengetahuan
Gambar 2.3 Alur Pelayanan Pasien di Poli TB MDR  2.6.4  Poli TB MDR
Gambar 2.4. Landasan Teori
+2

Referensi

Dokumen terkait

Hubungan Prilaku Lansia Dan Dukungan Keluarga Terhadap Pemanfaatan Posyandu Lansia Di Wilayah Kerja Puskesmas Darussalam.. Analisis Permintan Jasa Pelayaan Kesehatan Pada Rumah Sakit

Keluarga sejarah 3 (KS III)yaitu keluarga – keluarga yang telah dapat memenuhi kebutuhan dasar, sosial psikologi dan pengembangan keluarganya, tetapi belum dapat

Pada konteks pemanfaatan posyandu, faktor yang berperan pada ibu yang mempunyai balita adalah pengetahuan dan sikap terhadap posyandu sebagai sarana pelayanan kesehatan, hal

Struktur kategori risiko I, II, atau III yang berlokasi dimana parameter respons spektral percepatan terpetakan pada perioda 1 detik, S 1, lebih besar dari atau sama

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Alfiyah (2010), ditemukan bahwa riwayat keluarga menderita DM tipe 2 memang memiliki hubungan dengan terjadinya DM tipe 2.. Individu

Beberapa macam teori tentang perilaku, antara lain (1) perilaku merupakan hasil dari segala macam pengalaman serta interaksi manusia dengan lingkungannya yang terwujud dalam bentuk

Berdasarkan batasan perilaku dari Skinner di dalam (Notoatmodjo, 2010), perilaku kesehatan adalah suatu respon seseorang terhadap stimulus atau objek- objek yang berkaitan dengan

Caplan (2010) menjelaskan problematic internet use atau PIU dengan beberapa dimensi, yaitu (1) lebih memilih untuk berinteraksi sosial secara online (preference