Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Republik Finlandia selanjutnya disebut sebagai "Para Pihak";

Teks penuh

(1)

.

REPUBLIK INDONESIA

MEMORANDUM SALING PENGERTIAN

PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA

DAN

PEMERINTAH REPUBLIK FINLANDIA

TENT ANG

KERJASAMA DI BIDANG ENERGI BERKELANJUTAN, BERSIH DAN TERBARUKAN SERTA EFISIENSI ENERGI

Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Republik Finlandia selanjutnya disebut sebagai "Para Pihak";

MENGAKUI adanya minat bersama Para Pihak untuk mengurangi penggunaan bahan bakar fosil melalui perencanaan energi jangka panjang dan pengembangan sumber energi yang terjangkau, bersih dan berkelanjutan serta meningkatkan efisiensi dan keberlanjutan sumber daya alam dan energi;

MENGAKUI akan kepentingan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia (ESDM) untuk menjamin keamanan energi bagi negara, meningkatkan akses terhadap energi yang terjangkau bagi penduduk untuk mendorong pembangunan sosial dan ekonomi, memaksimalkan nilai tambah lokal bagi produksi energi, mengatur pasar agar efisien, kompetitif, berkelanjutan dan ramah lingkungan;

(2)

MENGAKUI kebijakan dan sasaran yang ditetapkan oleh Pemerintah Republik Indonesia di sektor energi secara umum, dan secara khusus untuk meningkatkan tingkat elektrifikasi, pangsa energi terbarukan, untuk meningkatkan efisiensi energi, dan mengurangi emisi gas rumah kaca;

MERUJUK pada Perjanjian antara Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Republik Finlandia tentang Ekonomi, lndustri dan Kerjasama Teknologi, yang ditandatangani di Jakarta, Indonesia pada tanggal 15 Oktober

1987;

MERUJUK pada Memorandum Saling Pengertian antara Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Republik Finlandia tentang Sains, Teknologi, lnovasi dan Kerjasama Pendidikan Tinggi, yang ditandatangani di Helsinki, Finlandia pada tanggal 26 April 2015;

BERKEINGINAN untuk mempromosikan kerjasama yang saling menguntungkan di bidang produksi dan penggunaan energi terbarukan dan bersih, efisiensi energi dan pengembangan teknologi dan solusi terkait;

SESUAI dengan hukum dan peraturan masing-masing negara yang berlaku;

TELAH MENCAPAI PENGERTIAN - PENGERTIAN sebagai berikut:

Paragraf I TUJUAN

Tujuan Memorandum Saling Pengertian ini adalah untuk menetapkan dasar bagi hubungan kerja sama guna mendorong dan meningkatkan kerjasama bilateral dalam energi bersih, berkelanjutan dan terbarukan atas dasar saling menguntungkan, kesetaraan dan timbal balik.

(3)

Paragraf II

BIDANG KERJASAMA

Bidang kerjasama di dalam Memorandum Saling Pengertian ini termasuk pada

bidang-bidang berikut yang diminati bersama:

1. Mengembangkan penggunaan energi bersih dan energi terbarukan; 2. Meningkatkan efisiensi sistem dan sumber daya secara menyeluruh; 3. Mempromosikan penggunaan energi bersih di pembangkit listrik; 4. Mengembangkan infrastruktur energi cerdas dan berkelanjutan;

5 Memfasilitasi penyebarluasan teknologi dan jasa dari energi terbarukan dan efisiensi energi yang memadai pada pembangkit listrik yang ada dan yang baru dan instalas1 industri;

6. Mempromosikan siklus lengkap manajemen dan pemanfaatan sumber daya energi terbarukan;

7. Meningkatkan efisiensi dan keberlanjutan dalam pemanfaatan sumber daya a lam;

8. Mengembangkan penggunaan biomassa hutan;

9. Mengembangkan rantai pasokan yang berkelanjutan dari semua bahan baku yang digunakan untuk bahan bakar nabati (biofuel);

10. Mengembangkan aliran logistik yang modern dan efisien dari sumber energi dan infrastruktur energi

11. Bidang lain yang disepakati oleh Para Pihak.

Paragraf Ill

BIDANG DAN BENTUK KERJASAMA

1. Para Pihak wajib bekerja sama dalam bidang teknologi energi bersih dan terbarukan seperti tetapi tidak terbatas pada Tenaga Surya, Tenaga Air, Angin, Biomassa, Pembangkit Listrik yang Efisien dan Fleksibel, Jaringan Cerdas, Transmisi dan Oistribusi Energi yang Effisien, serta teknologi energi bersih dan terbarukan dan teknologi sumber daya yang efisien lainnya.

(4)

2. Bentuk-bentuk kerjasama dalam rangka Memorandum Saling Pengertian ini dapat mencakup bidang-bidang berikut ini yang menjadi minat bersama: a. Berbagi pengetahuan, keahlian dan pembelajaran;

b. Berbagi pengalaman dalam pembuatan kebijakan. regulasi, dan standar dalam perencanaan, pelaksanaan dan pengembangan teknologi di sektor energi;

c. Jaringan mitra potensial di negara masing-masing untuk kemungkinan kerjasama dengan negara lain;

d. Memfasilitasi identifikasi proyek bersama atau kemitraan antara perusahaan dan organisasi Finlandia dan Indonesia melalui kunjungan, lokakarya dan seminar;

e. Memfasilitasi konsultasi dan petunjuk;

f. Memfasilitasi pelatihan teknis dan kejuruan dan pendidikan eksekutif; g. Mendorong pengembangan kemitraan dalam konteks program

pembangunan multilateral dan proyek Lembaga-Lembaga Keuangan lnternasional, yang menjadi minat bersama kedua belah Pihak;

h. Bentuk kerja sama lainnya yang dapat disepakati oleh Para Pihak.

Paragraf IV IMPLEMENTASI

Ketentuan rinci yang berkaitan dengan bentuk, metode, kewajiban keuangan dan kondisi bidang yang disepakati kerjasama ditetapkan dalam pengaturan pelaksanaan yang terpisah yang dibuat oleh Para Pihak, dengan prinsip bahwa masing-masing Pihak menanggung sendiri biaya-biaya yang dikeluarkan dalam pelaksanaan Memorandum Saling Pengertian.

(5)

Paragraf V

LEMBAGA PELAKSANA

Lembaga-lembaga pelaksana dari kerja sama ini adalah:

1. Untuk Pemerintah Republik Indonesia: Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral; dan

2. Untuk Pemerintah Republik Finlandia: Kementerian Ketenagakerjaan dan Ekonomi.

Paragraf VI KELOMPOK KERJA

1. Untuk tujuan diskusi dan pelaksanaan berbagai isu yang berkaitan dengan Memorandum Saling Pengertian ini, Para Pihak akan membentuk Kelompok Kerja Bersama. Kelompok Kerja Bersama tersebut akan menguraikan keqasama dalam rangka Memorandum Saling Pengertian ini. 2. Kelompok Kerja Bersama, yang terdiri dari wakil-wakil Para Pihak, dapat

bertemu secara berkala pada tanggal yang ditentukan bersama oleh Pihak secara bergantian di Indonesia dan Finlandia. Setiap Pihak akan menanggung biaya yang berkaitan dengan partisipasinya dalam pertemuan Kelompok Kerja Bersama.

3. Para Pihak dapat mengundang lembaga-lembaga ilmiah, pusat-pusat penelitian, universitas, lembaga pelatihan kejuruan, perusahaan publik dan swasta atau badan lainnya untuk berpartisipasi dalam pertemuan bersama dan kegiatan lainnya. apabila dianggap perlu.

4. Selain itu untuk Kelompok Kerja Bersama, para pihak dapat membentuk kelompok sub sektoral dikoordinir oleh para ahli di bidang yang sama pentingnya.

(6)

Paragraf VII KERAHASIAAN

1. Setiap Pihak harus tunduk pada prinsip kerahasiaan dan sifat rahasia dokumen, informasi dan data lainnya yang diterima atau diberikan langsung atau tidak langsung kepada pihak lain berdasarkan Memorandum Saling Pengertian ini.

2. Jika salah satu Pihak berkeinginan untuk mengungkapkan kegiatan rahasia berdasarkan Memorandum Saling Pengertian ini kepada pihak ketiga, Pihak pangungkap harus memperoleh persetujuan terlebih dahulu dari Pihak lain sebelum pengungkapan dilakukan.

3. Ketentuan-ketentuan dalam Paragraf ini tidak akan bertentangan dengan hukum dan peraturan perundang-undangan Para Pihak yang berlaku.

4. Para Pihak sepakat bahwa ketentuan-ketentuan di Paragraf ini tetap mengikat antara Para Pihak walaupun Memorandum Saling Pengertian ini telah berakhir.

Paragraf VIII

PERTUKARAN INFORMASI

1. Setiap pihak wajib mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk melindungi semua informasi yang memiliki aspek komersial, bisnis atau kepemilikan lainnya dan dikomunikasikan kepada Pihak lain sebagaimana yang diatur berdasarkan hukum dan aturan nasional.

2. Setiap Pihak wajib memberitahu hukum yang berlaku dan perubahan pada hukum-hukum dan aturan-aturan tersebut pada Pihak lainnya.

(7)

Paragraf VIII

PERLINDUNGAN HAK KEKAYAAN INTELEKTUAL

1. Pengaturan/protokol terpisah dapat digunakan oleh mitra Finlandia dan Indonesia yang berpartisipasi dalam kegiatan kolaborasi di bawah Memorandum Saling Pengertian yang memiliki aspek komersial, bisnis, atau aspek kepemilikan lain, untuk menjaga hak atas kekayaan intelektual mereka yang terlibat dalam aktivitas dan diseminasi tersebut.

2. Perlindungan hak kekayaan intelektual harus sesuai dengan peraturan nasional dan peraturan perundang-undangan masing masing, maupun kesepakatan internasional yang relevan, dimana Finlandia dan Indonesia sebagai Para Pihak terkait.

Paragraf IX

PENYELESAIAN PERBEDAAN

Setiap perbedaan yang timbul dari penerapan atau interpretasi atas Memorandum Saling Pengertian ini dapat diselesaikan secara damai melalui konsultasi bersama atau negosiasi antara Para Pihak, melalui saluran diplomatik.

Paragraf X AMANDEMEN

Memorandum Saling Pengertian ini dapat diubah setiap saat dengan persetujuan tertulis Para Pihak. Perubahan lain bisa mulai berlaku pada tanggal yang disepakati oleh para pihak. Perubahan akan membentuk sebagai bagian integral dari Memorandum Saling Pengertian ini.

(8)

Paragraf XI

MULAI BERLAKU, JANGKA WAKTU DAN PENGAKHIRAN

1. Memorandum Saling Pengertian ini mulai berlaku pada tanggal penandatanganan.

2. Memorandum Saling Pengertian akan tetap berlaku untuk jangka waktu 5 (lima) tahun.

3. Tiap Pihak dapat mengakhiri Memorandum Saling Pengertian ini setiap saat dengan memberikan pemberitahuan tertulis kepada Pihak lainnya mengenai niatnya untuk mengakhiri Memorandum Saling Pengertian ini selambat-lambatnya 90 (sembilan puluh) hari sebelum tanggal pengakhiran dimaksud.

4. Pengakhiran tidak akan mempengaruhi validitas dan durasi dari penyelesaian program yang sedang dilaksanakan berdasarkan Memorandum Saling Pengertian ini hingga selesainya program tersebut, kecuali disetujui lain oleh Para Pihak.

SEBAGAI BUKTI, yang bertandatangan di bawah, telah menandatangani Memorandum Saling Pengertian ini.

DITANDATANGANI di Jakarta pada tanggal 3 November 2015 dalam bahasa lnggris dan Indonesia, semua naskah memiliki kekuatan hukum yang sama. Dalam hal terjadi perbedaan penafsiran, naskah bahasa lnggris yang berlaku.

UNTUK KEMENTERIAN KETENAGAKERJAAN DAN

EKONOMI PEMERINTAH REPUBLIK FINLANDIA

<l(

~

Menteri Luar Negeri

UNTUK KEMENTERIAN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL

PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA

SUDIRMAN SAID

(9)

REPUBLIK INDONESIA

MEMORANDUM OF UNDERSTANDING BETWEEN

THE GOVERNMENT OF THE REPUBLIC OF INDONESIA AND

THE GOVERNMENT OF THE REPUBLIC OF FINLAND CONCERNING

COOPERATION IN THE FIELD OF SUSTAINABLE, CLEAN AND RENEWABLE ENERGY AND ENERGY EFFICIENCY

The Government of the Republic of Indonesia and the Government of the Republic of Finland hereinafter referred to as "the Parties";

RECOGNIZING the common interests shared by the Parties towards reducing the use of fossil fuels through long term energy planning and the development

of affordable, clean and sustainable energy sources as well as enhanced efficiency and sustainability in natural resources and energy;

RECOGNISING the interest of the Ministry of Energy and Mineral Resources of the Republic of Indonesia (ESOM) of ensuring energy security for the country, increasing access to affordable energy to the population to foster social and

economic development, maximize local value addition on energy production, regulate markets in order to make them efficient, competitive, sustainable and

(10)

ACKNOWLEDGING the policies and targets set forth by the Government of the Republic of Indonesia within the energy sector in general, and in particular to

increase the rate of electrification, the share of renewable energy, to improve

energy efficiency and to reduce greenhouse gas emissions;

REFERRING to the Agreement between the Government of the Republic of

Indonesia and the Government of the Republic of Finland on Economic,

Industrial and Technological Cooperation, signed in Jakarta, Indonesia on 15 October 1987;

REFERRING to the Memorandum of Understanding between the Government

of the Republic of Indonesia and the Government of the Republic of Finland on

Science, Technology, Innovation and Higher Education Cooperation, signed in

Helsinki, Finland on 26 April 2015;

WISHING to promote mutually beneficial cooperation in the field of production and use of renewable and clean energy, in energy efficiency and in development of related technology and solutions;

PURSUANT to the prevailing laws and regulations of their respective countries;

HAVE REACHED the following understanding:

Paragraph I OBJECTIVE

The objective of this Memorandum of Understanding is to establish the basis for

a cooperative relationship to encourage and promote bilateral cooperation on

clean. sustainable and renewable energy on the basis of mutual benefit,

(11)

Paragraph II

AREAS OF COOPERATION

The areas of cooperation under this Memorandum of Understanding may include the following subjects of mutual interests:

a. To develop the use of clean energy and renewable energy; b. To increase overall system and resource efficiency;

c. To promote use of clean energy in power generation; d. To develop smart and sustainable energy infrastructure;

e. To facilitate the overall deployment of adequate renewable energy and energy efficiency technologies and services in existing and new power generation and industrial installations;

f. To promote complete cycle of renewable energy resources management and utilization;

g. To promote efficiency and sustainability in natural resources utilization; h. To develop use of forest biomass;

i. To develop sustainable supply chain of all raw materials used for biofuels; J. To develop modern and efficient logistics flow of energy sources and

energy infrastructure;

k. Other areas as may be agreed upon by the Parties.

Paragraph Ill

FIELDS AND FORMS OF COOPERATION

1. The Parties shall cooperate in the fields of clean and renewable energy technologies such as but not restricted to Solar, Hydro, Wind, Biomass, Efficient and Flexible Power Generation, Smart Grids, Efficient Energy Transmission and Distribution, as well as other clean and renewable energy and resource efficient technologies.

2. The forms of cooperation under this Memorandum of Understanding may include the following subjects of mutual ;nterests:

(12)

a. Sharing knowledge, expertise and lesson learned;

b. Sharing experiences in making policies, regulation, and standards in planning, implementation and development of technologies in the energy sector;

c. Networking potential partners in their respective countries to

possibilities for cooperation with the other country.

d. Facilitating the identification of joint projects or partnerships between Finnish and Indonesian companies and organisations through visits, workshops and seminars;

e. Facilitating consultancy and advisory;

f. Facilitating technical and vocational training and executive education;

g. Encouraging development of partnerships in the context of multilateral development programs and projects of International Finance Institutions, in which both Parties have common interests;

h. Other forms as may be agreed upon by the Parties.

Paragraph IV

IMPLEMENTATION

The detailed provisions relating to forms, methods, financial obligations and the

condition of the agreed areas of cooperation shall be set forth in separate implementing arrangements to be concluded between the Parties, with the principle that each Party shall bear their respective costs of the implementation

of this Memorandum of Understanding.

Paragraph V

EXECUTING INSTITUTIONS

The Executing Institutions for this cooperation shall be:

1. For the Government of the Republic of Indonesia: the Ministry of Energy and Mineral Resources; and

(13)

2. For the Government of the Rop1.1blio of Finlond; Miniotry of Employmont "1nd the Economy.

Paragraph

V

I

WORKING GROUP

1. For the purpose of discussion and implementation of various issues pertaining of this Memorandum of Understanding, the Parties will set up a Joint Working Group. The Joint Working Group will elaborate cooperation under this Memorandum of Understanding.

2. The Joint Working Group, consisting of the representatives of the Parties, may meet periodically on mutually determined dates by the Parties alternately in Indonesia and Finland. Each Parties will cover its expenses relating to participation in the meetings of a Joint Working Group.

3. The Parties may invite scientific institutions, research centers, universities, vocational training institutions, public and private companies or any other entities to participate in the joint meetings and other activities, as and when considered essential.

4. In addition to Joint Working Group, the Parties may establish sectoral sub groups coordinated by experts in mutually important fields.

Paragraph VII

CONFIDENTIALITY

1. Each Party shall undertake to observe the confidentiality and secrecy of confidential documents, information and other data received or supplied directly or indirectly to the other Party under this Memorandum of Understanding.

(14)

2. If either of the Party wishes to disclose confidential activities under this Memorandum of Understanding to any third party, the disclosing Party must obtain prior consent from the other Party before any disclosure can be made.

3. The provisions of this Paragraph shall not prejudice the prevailing laws and regulations of the Parties.

4. The Parties agree that the provision of this Paragraph shall continue to be binding between the Parties notwithstanding the termination of this Memorandum of Understanding.

Paragraph VIII

EXCHANGE OF INFORMATION

1 Each Party shall take all appropriate measures to protect all information bearing commercial, business or other proprietary aspects and communicated to the other Party as provided for under their national laws and regulations.

2 Each Party shall notify their applicable laws and amendments to such laws and regulations for each other.

Paragraph IX

INTELLECTUAL PROPERTY RIGHTS

1. Separate protocols/arrangements may be worked out by Finnish and

Indonesian Partners participating in a collaborating activity under this Memorandum of Understanding which bears commercial, business or other proprietary aspects, for safeguarding their intellectual property rights involved in such activity and the dissemination thereof.

2. The protection of intellectual property rights shall be in accordance with the respective national laws and regulations, as well as the relevant international agreements to which Finland and Indonesia are parties.

(15)

Paragraph X

SETTLEMENT OF DIFFERENCES

Any differences arising from the application or interpretation of this

Memorandum of Understanding will be settled amicably by mutual consultation

or negotiation between the Parties, through diplomatic channels.

Paragraph XI AMENDMENT

This Memorandum of Understanding can be amended at any time by mutual

written consent of the Parties. Any amendments may come into force on the

date agreed by the Parties. The amendments shall form an integral part of this

Memorandum of Understanding.

Paragraph XII

ENTRY INTO FORCE, DURATION AND TERMINATION

1. This Memorandum of Understanding shall enter into force on the date of its

signature.

2. This Memorandum of Understanding shall remain in force for a period of 5

(five) years.

3. Either Parties may terminate this Memorandum of Understanding at any

time by giving written notification to the other Parties regarding its intention

to terminate this Memorandum of Understanding at least 90 (ninety) days

prior to the intended date of termination.

4. Termination of this Memorandum of Understanding will not affect the validity

and duration of any ongoing programs or projects undertaken under this

Memorandum of Understanding until the completion of such programs or

(16)

IN WITNESS WHEREOF, the undersigned, have signed this Memorandum of

Understanding.

DONE in duplicate in Jakarta, on 3 November 2015, in English and Indonesian,

all texts being equally authentic. In case of any divergence in interpretation, the

English text shall prevail.

FOR THE MINISTRY OF

EMPLOYMENT AND THE ECONOMY

OF THE GOVERNMENT OF THE

REPUBLIC OF FINLAND

~

Minister for Foreign Affairs

FOR THE MINISTRY OF ENERGY

AND MINERAL RESOURCES OF

THE GOVERNMENT OF THE

REPUBLIC OF INDONESIA

v

-

-

-

~

-

-SUDIRMAN SAID

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :