• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II LANDASAN TEORI"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

16 A. Corporate Social Responsibility (CSR)

1. Pengertian Corporate Social Responsibility (CSR) atau Pertanggungjawaban Sosial Perusahaan

Pertanggungjawaban sosial perusahaan atau Corporate Social Responsibility (CSR) adalah mekanisme bagi suatu organisasi untuk secara sukarela mengintegrasikan perhatian terhadap lingkungan dan sosial ke dalam operasinya dan interaksinya dengan stakeholders, yang melebihi tanggungjawab organisasi dibidang hukum (Darwin, (2004), dalam Anggraini, (2006)).

Menurut The World Business Council for Sustainable Development (WBCSD), Corporate Social Responsibility (CSR) atau tanggung jawab sosial perusahaan didefinisikan sebagai berikut :

Komitmen bisnis untuk memberikan kontribusi bagi pembangunan ekonomi berkelanjutan, melalui kerja sama dengan para karyawan serta perwakilan mereka, keluarga mereka, komunitas setempat maupun masyarakat umum untuk meningkatkan kualitas kehidupan dengan cara yang bermanfaat baik bagi bisnis sendiri maupun untuk pembangunan.

Pertanggungjawaban sosial perusahaan diungkapkan di dalam laporan yang disebut sustainability reporting. Sustainability reporting adalah pelaporan mengenai kebijakan ekonomi, lingkungan, sosial, kinerja organisasi, kemasyarakatan, dan produknya di dalam konteks pembangunan berkelanjutan

(2)

(sustainable development). Sustainability reporting meliputi pelaporan mengenai ekonomi, lingkungan dan pengaruh sosial terhadap kinerja organisasi (ACCA, (2004), dalam Anggraini, 2006)). Sustainability reporting harus menjadi dokumen strategik yang berlevel tinggi yang menempatkan isu, tantangan dan peluang sustainability development yang membawanya menuju kepada core business dan sektor industrinya.

Perusahaan semakin menyadari bahwa kelangsungan hidup perusahaan juga tergantung dari hubungan perusahaan dengan masyarakat dan lingkungan tempat perusahaan beroperasi. Hal ini sejalan dengan legitimacy theory yang menyatakan bahwa perusahaan memiliki kontrak dengan masyarakat untuk melakukan kegiatannya berdasarkan nilai-nilai justice, dan bagaimana perusahaan menanggapi berbagai kelompok kepentingan untuk melegitimasi tindakan perusahaan (Tilt, (1994), dalam Haniffa et. al., (2005)).

Konsep Corporate Social Responsibility (CSR) melibatkan tanggung jawab kemitraan antara pemerintah, lembaga sumber daya masyarakat, serta komunitas setempat (lokal). Kemitraan ini tidaklah bersifat pasif dan statis. Kemitraan ini merupakan tanggung jawab bersama secara sosial antara stakeholders.

Menurut Gray et. al., (1995) ada dua pendekatan yang secara signifikan berbeda dalam melakukan penelitian tentang pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan (corporate social responsibility disclosure). Pertama, pengungkapan CSR (CSR disclosure) mungkin diperlakukan sebagai suatu

(3)

suplemen dari aktivitas akuntansi konvensional. Pendekatan ini secara umum akan menganggap masyarakat keuangan sebagai pemakai utama pengungkapan CSR (CSR disclosure) dan cenderung membatasi persepsi tentang tanggung jawab sosial yang dilaporkan.

Pendekatan alternatif kedua dengan meletakkan pengungkapan CSR (CSR disclosure) pada suatu pengujian peran informasi dalam hubungan masyarakat dan organisasi. Pandangan yang lebih luas ini telah menjadi sumber utama kemajuan dalam pemahaman tentang pengungkapan CSR (CSR disclosure) dan sekaligus merupakan sumber kritik yang utama terhadap pengungkapan CSR (CSR disclosure).

2. Model Corporate Social Responsibility (CSR)

Model atau pola CSR yang umum diterapkan oleh perusahaan-perusahaan di Indonesia (Said dan Abidin, 2004) sebagai berikut :

1. Keterlibatan langsung, perusahaan menjalankan program CSR secara langsung dengan menyelenggarakan sendiri kegiatan sosial atau menyerahkan sumbangan ke masyarakat tanpa perantara. Untuk menjalankan tugas ini, perusahaan biasanya menugaskan salah satu pejabat seniornya, seperti corporate secretary atau public affair manager atau menjadi bagian dari tugas pejabat public relation.

2. Melalui yayasan atau organisasi sosial milik perusahaan, perusahaan mendirikan yayasan sendiri di bawah perusahaan atau groupnya. Model ini merupakan adopsi yang lazim dilakukan di negara maju. Di

(4)

sini perusahaan menyediakan dana awal, dana rutin atau dana abadi yang dapat digunakan untuk operasional yayasan.

3. Bermitra dengan pihak lain, perusahaan menyelenggarakan CSR melalui kerja sama dengan lembaga / organisasi non-pemerintah, instansi pemerintah, universitas atau media massa, baik dalam mengelola dana maupun dalam melaksanakan kegiatan sosialnya.

4. Mendukung atau bergabung dalam suatu konsorsium, perusahaan turut mendirikan, menjadi anggota atau mendukung suatu lembaga sosial yang didirikan untuk tujuan sosial tertentu. Pihak konsorsium yang dipercaya oleh perusahaan-perusahaan yang mendukungnya akan secara proaktif menjalin kerjasama dari berbagai kalangan dan kemudian mengembangkan program yang telah disepakati.

Pada awal perkembangannya, bentuk CSR yang paling umum adalah pemberian bantuan terhadap organisasi-organisasi lokal dan masyarakat miskin di negara-negara berkembang. Pendekatan CSR yang berdasarkan motivasi kariatif dan kemanusiaan ini pada umumnya dilakukan secara adhoc, partial, dan tidak melembaga. CSR pada tataran ini hanya sekedar do good dan to look good, berbuat baik agar terlihat baik. Perusahaan yang melakukannya termasuk dalam kategori "perusahaan impresif", yang lebih mementingkan "tebar pesona" (promosi) ketimbang "tebar karya" (Suharto, 2007).

Tetapi sekarang ini semakin banyak perusahaan yang kurang menyukai pendekatan kariatif, karena tidak mampu meningkatkan keberdayaan atau

(5)

kapasitas masyarakat lokal. Pendekatan community development kemudian semakin banyak diterapkan karena lebih mendekati konsep empowerment dan sustainability development. Prinsip-prinsip good corporate governance, seperti fairness, transparency, accountability, dan responsibility kemudian menjadi pijakan untuk mengukur keberhasilan program CSR.

3. Tujuan Corporate Social Responsibility (CSR)

Menurut Darwin (2005) dalam Hardina (2007) tujuan pengungkapan CSR (CSR disclosure) diantaranya adalah :

a. Untuk meningkatkan citra perusahaan dan mempertahankan, biasanya secara implisit, asumsi bahwa perilaku perusahaan secara fundamental adalah baik.

b. Untuk membebaskan akuntabilitas organisasi atas dasar asumsi kontrak sosial diantara organisasi dan masyarakat. Keberadaan kontrak sosial ini menuntut dibebaskannya akuntabilitas sosial.

c. Sebagai perpanjangan dari pelaporan keuangan tradisional dan tujuannya adalah untuk memberikan informasi pada pengguna.

4. Manfaat Corporate Social Responsibility (CSR)

Menurut Suhandri (2007) manfaat CSR bagi perusahaan adalah :

a. Mempertahankan dan mendongkrak reputasi serta citra merek perusahaan.

b. Mendapatkan lisensi untuk beroperasi secara sosial. c. Mereduksi resiko bisnis perusahaan.

d. Melebarkan akses sumber daya bagi operasional usaha. e. Membuka peluang pasar yang lebih luas.

f. Mereduksi biaya, misalnya terkait dampak pembuangan limbah. g. Memperbaiki hubungan dengan stakeholders.

(6)

i. Meningkatkan semangat dan produktivitas karyawan. j. Peluang mendapatkan penghargaan.

5. Faktor yang Mempengaruhi Pengungkapan Tanggung Jawab Sosial

Aktivitas sosial perusahaan merupakan salah satu komponen yang digunakan dalam laporan tahunan. Belum adanya standar buku yang mengatur tentang pelaporan aktivitas sosial perusahaan menyebabkan adanya keanekaragaman bentuk pengungkapan sosial yang dilakukan oleh perusahaan.

Setiap perusahaan mempunyai kebijakan yang berbeda-beda mengenai pengungkapan sosial yang sesuai dengan karakteristik perusahaan. Karakteristik perusahaan dapat digunakan sebagai penunjuk prediktor kualitas pengungkapan. Hal ini dilatarbelakangi oleh sejauh mana perusahaan melakukan pengungkapan sosial akan sangat tergantung pada karakteristik-karakteristik dari perusahaan yang bersangkutan. Menurut Yuliansyah dan Megawati (2007 : 12), hubungan antara karakteristik perusahaan dengan pengungkapan sosial akan memberikan gambaran tentang tipe dan jumlah informasi sosial yang disediakan oleh perusahaan.

B. Pengungkapan Sosial dalam Laporan Tahunan

Pengungkapan ada yang bersifat wajib (mandatory), yaitu pengungkapan informasi wajib dilakukan oleh perusahaan yang didasarkan pada peraturan atau standar tertentu, dan ada yang bersifat sukarela (voluntary). Pengungkapan sosial

(7)

yang dilakukan oleh perusahaan umumnya bersifat voluntary (sukarela), unaudit (belum diaudit), dan unregulated (tidak dipengaruhi oleh peraturan tertentu). Darwin (2004) dalam Anggraini (2006) mengatakan bahwa Corporate Social Responsibility terbagi menjadi 3 kategori, yaitu : kinerja ekonomi, kinerja lingkungan dan kinerja sosial. Sedangkan dalam penelitian ini mengidentifikasi hal-hal yang berkaitan dengan pelaporan sosial perusahaan berdasarkan standar GRI (Global Reporting Initiative). Global Reporting Initiative (GRI) adalah sebuah jaringan berbasis organisasi yang telah mempelopori perkembangan dunia, paling banyak menggunakan kerangka laporan keberlanjutan dan berkomitmen untuk terus-menerus melakukan perbaikan dan penerapan di seluruh dunia (www.globalreporting.org). Daftar pengungkapan sosial yang berdasarkan standar GRI juga pernah digunakan oleh Dahlia dan Siregar (2008), peneliti ini menggunakan 6 indikator pengungkapan, yaitu : ekonomi, lingkungan, tenaga kerja, hak asasi manusia, sosial dan produk. Indikator-indikator yang terdapat di dalam GRI yang digunakan dalam penelitian yaitu :

1. Indikator Kinerja Ekonomi (Economic Performance Indicator)

2. Indikator Kinerja Lingkungan (Environment Performance Indicator)

3. Indikator Kinerja Tenaga Kerja (Labor Practices Performance Indicator)

4. Indikator Kinerja Hak Asasi Manusia (Human Rights Performance Indicator)

5. Indikator Kinerja Sosial (Social Performance Indicator)

(8)

Setiap unit / pelaku ekonomi selain berusaha untuk kepentingan pemegang saham dan mengkonsentrasikan diri pada pencapaian laba juga mempunyai tanggung jawab sosial, dan hal itu perlu diungkapkan dalam laporan tahunan, sebagaimana dinyatakan oleh Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No.1 (Revisi 2009) paragraf kesembilan :

Perusahaan dapat pula menyajikan laporan tambahan seperti laporan mengenai lingkungan hidup dan laporan nilai tambah (value added statement), khususnya bagi industri dimana faktor-faktor lingkungan hidup memegang peranan penting dan bagi industri yang menganggap pegawai sebagai kelompok pengguna laporan yang memegang peranan penting.

Menurut Glouter dalam Utomo (2000) menyebutkan tema-tema yang termasuk dalam wacana Akuntansi Pertanggungjawaban Sosial adalah :

1. Kemasyarakatan

Tema ini mencakup aktivitas kemasyarakatan yang diikuti oleh perusahaan, misalnya aktivitas yang terkait dengan kesehatan, pendidikan dan seni serta pengungkapan aktivitas kemasyarakatan lainnya.

2. Ketenagakerjaan

Tema ini meliputi dampak aktivitas perusahaan pada orang-orang dalam perusahaan tersebut. Aktivitas tersebut meliputi : rekruitmen, program pelatihan, gaji dan tuntutan, mutasi dan promosi dan lainnya.

(9)

3. Produk dan Konsumen

Tema ini melibatkan aspek kualitatif suatu produk atau jasa, antara lain kegunaan (durability), pelayanan, kepuasan pelanggan, kejujuran dalam iklan, kejelasan / kelengkapan isi pada kemasan, dan lainnya.

4. Lingkungan Hidup

Tema ini meliputi aspek lingkungan dari proses produksi, yang meliputi : pengendalian polusi dalam menjalankan operasi bisnis, pencegahan dan perbaikan kerusakan lingkungan akibat pemrosesan sumber daya alam dan konversi sumber daya alam.

C. Kinerja Perusahaan

Pengukuran kinerja didefinisikan sebagai “performing measurement“ (pengukuran kinerja) adalah kualifikasi dan efisiensi perusahaan atau segmen atau keefektifan dalam pengoperasian bisnis selama periode akuntansi. Dengan demikian, pengertian kinerja adalah suatu usaha formal yang dilaksanakan perusahaan untuk mengevaluasi efisien dan efektivitas dari aktivitas perusahaan yang telah dilaksanakan pada periode waktu tertentu (Hanafi, 2003 : 69).

Kinerja perusahaan merupakan suatu tampilan perusahaan dalam periode tertentu. Penilaian kinerja perusahaan adalah penentuan secara periodik efektifitas operasional suatu organisasi, bagian organisasi, dan karyawannya

(10)

berdasarkan sasaran, standar, dan kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya (Mulyadi, 2001 : 415).

Berikut ini ukuran kinerja perusahaan yang digunakan dalam melakukan penelitian :

1. Leverage

Rasio Leverage dalam hal ini merupakan sebuah ukuran untuk menilai kemampuan perusahaan untuk melunasi semua hutang-hutangnya. Jika dalam struktur permodalannya perusahaan mempunyai tingkat hutang lebih banyak, maka perusahaan tersebut juga akan mempunyai biaya keagenan yang lebih besar. Finansial Leverage perusahaan yang lebih tinggi memiliki kewajiban untuk melakukan pengungkapan yang lebih luas daripada perusahaan dengan rasio Leverage yang lebih rendah. Pendapat lain mengatakan bahwa semakin tinggi Leverage, kemungkinan besar perusahaan akan mengalami pelanggaran terhadap kontrak utang, maka manajer akan berusaha untuk melaporkan laba sekarang lebih tinggi. Hal tersebut dilakukan agar mengurangi kemungkinan perusahaan melanggar perjanjian utang. Kontrak utang biasanya berisi tentang ketentuan bahwa perusahaan harus menjaga tingkat Leverage tertentu (rasio utang / ekuitas), modal kerja, dan ekuitas pemegang saham. Semakin tinggi tingkat Leverage, semakin besar kemungkinan perusahaan akan melanggar perjanjian kredit, sehingga perusahaan akan berusaha untuk melaporkan laba sekarang lebih tinggi. Untuk menghasilkan laba yang tinggi, maka manajer harus mengurangi biaya-biaya (termasuk biaya-biaya untuk pengungkapan informasi sosial). Hal ini

(11)

menunjukkan bahwa perusahaan dengan tingkat Leverage yang tinggi dapat menyebabkan perusahaan menjadi kurang profitable, sehingga biaya tetap yang harus ditanggung perusahaan lebih besar dari operating income yang dihasilkan dari hutang tersebut. Hasil penelitian ini sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Wiyani (2003), yang menemukan bahwa Leverage berpengaruh negatif terhadap ROE perusahaan. Adapun rumus Leverage adalah :

Leverage = Total Kewajiban Total Aktiva

2. Size Perusahaan

Size perusahaan merupakan variabel penduga yang banyak digunakan untuk menjelaskan variasi pengungkapan dalam laporan tahunan perusahaan. Secara umum perusahaan besar akan mengungkapkan informasi lebih banyak daripada perusahaan kecil. Hal ini karena perusahaan besar akan menghadapi resiko politis yang lebih besar dibanding perusahaan kecil. Secara teoritis perusahaan besar tidak akan lepas dari tekanan politis, yaitu tekanan untuk melakukan pertanggungjawaban sosial. Pengungkapan sosial yang lebih besar merupakan pengurangan biaya politis bagi perusahaan. Dengan mengungkapkan kepedulian pada lingkungan melalui pelaporan keuangan, maka perusahaan dalam jangka waktu panjang bisa terhindar dari biaya yang sangat besar akibat dari tuntutan masyarakat. Ada dugaan bahwa perusahaan yang kecil akan mengungkapkan lebih rendah kualitasnya dibanding perusahaan besar. Hal ini karena ketiadaan sumber daya dan dana membuat pertanggungjawaban sosialnya.

(12)

Disamping itu, perusahaan yang berukuran lebih besar cenderung memiliki public demand akan informasi yang lebih tinggi dibanding perusahaan yang berukuran lebih kecil. Alasan lain adalah perusahaan besar dan memiliki biaya keagenan yang lebih besar tentunya akan mengungkapkan informasi yang lebih luas, hal ini dilakukan untuk mengurangi biaya keagenan yang dikeluarkan. Lebih banyak pemegang saham berarti memerlukan lebih banyak juga pengungkapan, hal ini dikarenakan tuntutan dari para pemegang saham dan para analis pasar modal. Sembiring (2005) menyatakan bahwa perusahaan yang lebih besar mungkin akan memiliki pemegang saham yang memperhatikan program sosial yang dibuat perusahaan dalam laporan tahunan, yang merupakan media untuk menyebarkan informasi tentang tanggung jawab sosial keuangan perusahaan. Hal ini dapat dijelaskan bahwa larger firm biasanya lebih terdiversifikasi dalam hal jenis bidang usaha, sehingga resiko kegagalan lebih kecil dibandingkan small firm. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Balabanis, Phillips, dan Lyall (1998), yang menyatakan bahwa Size perusahaan mempengaruhi kinerja keuangan perusahaan.

3. Profitabilitas

Pengungkapan mengenai pertanggungjawaban sosial perusahaan mencerminkan suatu pendekatan perusahaan dalam melakukan adaptasi dengan lingkungan yang dinamis dan bersifat multidimensi. Hubungan antara pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan dan profitabilitas perusahaan

(13)

telah diyakini mencerminkan pandangan bahwa reaksi sosial memerlukan gaya manajerial yang sama dengan gaya manajerial yang dilakukan pihak manajemen untuk membuat suatu perusahaan memperoleh keuntungan (Sembiring, 2005). Pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan merupakan cerminan suatu pendekatan manajemen dalam menghadapi lingkungan yang dinamis dan multidimensional serta kemampuan untuk mempertemukan tekanan sosial dengan reaksi kebutuhan masyarakat. Dengan demikian, keterampilan manajemen perlu dipertimbangkan untuk survive dalam lingkungan perusahaan masa kini.

Profitabilitas merupakan faktor yang memberikan kebebasan dan fleksibilitas kepada manajemen untuk mengungkapkan pertanggungjawaban sosial kepada pemegang saham. Hal ini berarti semakin tinggi profitabilitas perusahaan, maka semakin besar pengungkapan informasi sosial. Profitabilitas itu sendiri merupakan rasio yang digunakan untuk menghitung sejauh mana kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba dari seluruh tingkat aktiva, penjualan, dan modal yang dimiliki perusahaan. Dalam penelitian ini, profitabilitas diukur dengan menggunakan Return On Equity (ROE).

ROE = Laba Bersih Total Ekuitas 4. Growth

Growth merupakan salah satu indikator kemampuan perusahaan dalam peningkatan kinerja penciptaan pendapatan perusahaan. Dengan besarnya nilai growth yang dihitung dapat disimpulkan bahwa perusahaan dapat meningkatkan pendapatan dari tahun sebelumnya.

(14)

Perhitungan growth perusahaan dalam penelitian ini menggunakan rumus sebagai berikut :

Growth t+1 = Penjualan t+1 – Penjualan t Penjualan t

(15)

D. Kerangka Pemikiran

Gambar 2.1

Kerangka Konseptual Hubungan Antar Variabel

Corporate Social Responsibility Leverage Growth Size Perusahaan ROE Perusahaan

(16)

E. Penelitian Terdahulu

No. Nama Peneliti Judul Penelitian

Hasil Penelitian 1. Lely Dahlia dan

Silvia Veronica Siregar (2008) Pengaruh Corporate Social Responsibility Terhadap Kinerja Perusahaan (Studi Empiris Pada Perusahaan Yang Tercatat Di Bursa Efek Indonesia Pada Tahun 2005 dan 2006) Corporate social responsibility berpengaruh terhadap kinerja (ROE dan CAR) 2. Indira Januarti dan Dini Apriyanti (2005) Pengaruh Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Terhadap Kinerja keuangan 1. Biaya kesejahteraan karyawan (ension) berpengaruh signifikan terhadap Total Assets Turnover (ATO) 2. Biayakesejahteraan

karyawan (ension) tidak berpengaruh signifikan terhadap Return On Assets (ROA)

3. biaya untuk komunitas (sumbangan)

berpengaruh terhadap Total AssetsTurnover (ATO)

4. biaya untuk komunitas (sumbangan) tidak berpengaruh terhadap Return On Assets (ROA)

5. Secara simultan biaya kesejahteraan karyawan (ension) dan biaya untuk komunitas (sumbangan) tidak berpengaruh terhadap Total AssetsTurnover (ATO)

(17)

3. Rika Nurlela dan Islahuddin (2008) Pengaruh Corporate Social Responsibility Terhadap Nilai Perusahaan Dengan Prosentase Kepemilikan Manajemen Sebagai Variabel Moderating (Studi Empiris Pada Perusahaan Yang Terdaftar di Bursa Efek Jakarta)

Corporate social responsibility prosentanse kepemilikan manajemen, serta interaksi antara corporate social responsibility dengan prosentase kepemilikan manajemen secara simultan berpengaruh terhadap nilai perusahaan. Secara parsial hanya prosentase kepemilikan manajemen dan interaksi antara corporate social responsibility dengan prosentase kepemilikan manajemen yang berpengaruh terhadap nilai perusahaan sedangkan variabel lainnya tidak berpengaruh terhadap nilai perusahaan. 4. Fr. Reni Retno Anggraini (2006) Pengungkapan Informasi Sosial dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pengungkapan Informasi Sosial Dalam Laporan Keuangan Tahunan (Studi Empiris pada Perusahaan- Perusahaan yang Terdaftar Bursa Efek Jakarta) 1. Prosentase kepemilikan manajemen dan tipe industri berpengaruh terhadap kebijakan perusahaan dalam mengungkapkan informasi sosial. 2. Ukuran perusahaan, leverage, dan profitabilitas tidak terbukti berpengaruh atau tidak berpengaruh terhadap kebijakan pengungkapan informasi sosial oleh perusahaan 5. Eddy Rismanda Sembiring (2006) Karakteristik Perusahaan dan Pengungkapan Tanggung Jawab Sosial: Study Empiris Pada

Size, profitabilitas, profile, ukuran dewan komisaris dan leverage mampu

mempengaruhi tingkat

pengungkapan tanggung jawab sosial tetapi hanya berpengaruh

(18)

Perusahaan Yang Tercatat Di Bursa Efek Jakarta

kecil. Sedangkan secara parsial, size, profile, dan ukuran dewan komisaris berpengaruh terhadap

pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan. 6. Ignatius Bondan Suratno, Darsono, dan Siti Mutmainah (2006) Pengaruh Environmental Performance terhadap Environmental Disclosure dan Economic Performance (Studi Empiris Pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Jakarta Periode 2001-2004) 1. Environmental performance berpengaruh secara positif signifikan terhadap environmental disclosure. 2. environmental performance berpengaruh positif signifikan terhadap economic performance.

F. Pengaruh Corporate Social Responsibilty Terhadap Kinerja Keuangan Perusahaan (ROE)

Dalam menjalankan kegiatan operasinya, perusahaan berhadapan dengan banyak stakeholders seperti karyawan, pemasok, investor, pemerintah, konsumen, serta masyarakat. Untuk mempertahankan eksistensinya perusahaan memerlukan dukungan stakeholders sehingga aktivitas perusahaan harus mempertimbangkan persetujuan dari stakeholders. Semakin kuat stakeholders, maka perusahaan harus semakin beradaptasi dengan stakeholders. Berdasarkan teori stakeholders, perusahaan memilih untuk menanggapi banyak tuntutan yang dibuat oleh para pihak yang berkepentingan (stakeholders), yaitu setiap kelompok dalam lingkungan luar organisasi yang terkena tindakan dan keputusan organisasi.

(19)

Diharapkan dengan memenuhi tuntutan para stakeholders dapat meningkatkan penghasilan perusahaan. Penelitian yang mendukung adanya hubungan antara CSR dengan kinerja perusahaan adalah penelitian Dahlia dan Siregar (2008) yang menunjukkan bahwa aktivitas CSR berpengaruh positif terhadap ROE. Penelitian lain yang mendukung adalah penelitian yang dilakukan oleh Heal dan Garret (2004) menunjukkan bahwa aktivitas CSR dapat menjadi elemen yang menguntungkan sebagai strategi perusahaan, memberikan kontribusi kepada manajemen risiko dan memelihara hubungan yang dapat memberikan keuntungan jangka panjang perusahaan. Sedangkan penelitian Siegel dan Paul (2006) menyatakan bahwa aktivitas CSR memiliki dampak produktif yang signifikan terhadap efisiensi, perubahan teknikal, dan skala ekonomi perusahaan. Hal ini didukung oleh Mick dalam Jalal (2007) yang menyatakan bahwa CSR sangat berpengaruh terhadap kinerja bisnis, yaitu eco-efficiency, yang berkaitan erat dengan enam kinerja: shareholder value, operational efficiency, access to capital, brand value and reputation, risk management, dan innovation. Aktivitas CSR yang dilakukan oleh perusahaan akan berdampak terhadap kinerja perusahaan sesuai dengan penelitian Dahlia dan Siregar (2008). Penelitian ini meneliti pengaruh aktivitas CSR terhadap ROE 1 tahun ke depan karena aktivitas CSR berdampak secara tidak langsung terhadap kinerja perusahaan. Hal ini karena di duga aktivitas CSR dapat menjadi elemen yang menguntungkan sebagai strategi perusahaan, memberikan kontribusi kepada manajemen risiko dan memelihara hubungan yang dapat memberikan keuntungan jangka panjang bagi perusahaan sesuai dengan penelitian Heal dan Garret (2004).

Referensi

Dokumen terkait

Kegiatan pembelajaran berikutnya yaitu membaca teks mengenai anggota tubuh hewan dan fungsinya. Salah satu siswa membacakan teks di buku pegangan siswa yang ditunjuk oleh guru

Kuadran ini merupakan prestasi Divisi Jasa Layanan Laboratorium LT- IPB Bogor dalam memberikan pelayanan dan karenanya atribut-atribut kualitas jasa yang mempengaruhi

Baik dalam bidang pendidikan, bidang ketakmiran dan bidang umum.Yayasan Kiai Haji Mas Mansyur berdiri sejak tahun 1979 yang dipegang oleh pak Abdul Qadir, 68

Sekarang kita akan membuat kode yang akan berjalan jika user menekan tombol mouse pada Form1, lalu menggerakkannya... - Baris 7: menggambar shape titik sesuai warna, koordinat,

Jika layanan publik dapat terpenuhi dengan baik diharapkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) juga dapat meningkat. 2) Pengaruh Belanja Modal terhadap Indeks Pembangunan Manusia

Kombinasi kedua obat tersebut, Secara kualitatif pada kondisi intoksikasi menunjukkan ranitidin dan dexametason, juga menunjukkan kadar gambaran pelepasan sitokrom C

Tombol reset dapat bekerja sesuai dengan yang diharapkan [√] diterima [ ] ditolak Klik gambar pensil Menampilkan data debitur untuk dapat diedit pada bagian yang

Penutup  Melaksanakan penilaian dan refleksi dengan mengajukan pertanyaan atau tanggapan siswa dari kegiatan yang telah dilaksanakan sebagai bahan masukan untuk perbaikan langkah