TINJAUAN PUSTAKA
Vertikultur
Istilah vertikultur diserap dari bahasa Inggris yang berasal dari kata
vertical
dan
culture
yang artinya teknik budidaya tanaman secara vertikal sehingga penanamannya menggunakan
sistem bertingkat. Teknik ini berawal dari gagasan
vertical garden
yang dilontarkan sebuah
perusahaan benih di Swiss sekitar tahun 1945 yang lalu. Teknik vertikultur merupakan teknik
budidaya tanaman secara vertikultur, sehingga penanaman menggunakan sistem vertikultur
memungkinkan untuk bertanam di lahan yang sempit bahkan tidak ada lahan sekalipun. Teknik
vertikultur memungkinkan produksi dalam jumlah yang banyak pada lahan sempit, waktu cepat,
mudah untuk dipindahkan serta tingkat keberhasilan yang tinggi (Mulatsih dkk, 2005). Dengan
dasar pemikiran bahwa teknik vertikultur dapat melipatgandakan jumlah tanaman dan produksi
maka teknik vertikultur ini secara ekonomis dapat dipertanggungjawabkan untuk tujuan
komersial (Andoko, 2004).
Kelebihan teknik pertanian vertikultur: (1) efisiensi dalam penggunaan lahan, (2)
penghematan pemakaian pupuk dan pestisida, (3) kemungkinan tumbuhnya rumput dan gulma
lebih kecil, (4) dapat dipindahkan dengan mudah, (5) mempermudah monitoring/ pemeliharaan
tanaman. Sementara kekurangannya adalah (1) rawan terhadap serangan jamur karena
kelembaban udara yang tinggi akibat tingginya populasi tanaman, (2) investasi awal cukup
tinggi, (3) sistem penyiraman yang harus kontinu dan diperlukan beberapa peralatan tambahan
(Damastuti, 1996).
Pada prinsipnya budidaya tanaman dengan menggunakan teknik vertikultur tidak jauh berbeda
dengan budidaya secara konvensional di kebun atau di lahan datar.Perbedaan mendasar sudah pasti
budidaya diatas lahan seluas satu meter persegi dengan jumlah tanaman yang jauh lebih banyak dibanding
dengan dilahan datar dengan luas yang sama. Ada beberapa kelebihan dari teknik budidaya secara
vertikultur diantaranya:
a.
Populasi tanaman per satuan luas lebih banyak karena tanaman disusun ke atas
dengan tingkat kerapatan yang dapat diatur sesuai dengan keperluan.
b.
Kehilangan pupuk oleh guyuran air hujan dapat dikurangi karena jumlah media
tanam yang sudah ditentukan hanya berada di daerah sekitar perakaran tanaman di
dalam wadah terbatas.
c.
Perlakuan penyiangan gulma sangat berkurang atau bahkan tidak ada sama sekali
karena sedikit media tanam terbuka yang memungkinkan media ditumbuhi gulma
d.
Tempat dibangunnya media vertikultur menampilkan nilai estetika, atau dapat
dikatakan sebagai tanaman hias
e.
Efisiensi penggunaan lahan karena dapat diterapkan dilahan sempit.
Disamping banyaknya nilai kelebihan, teknik vertikultur memiliki beberapa kelemahan yakni
investasi atau biaya awal yang diperlukan cukup tinggi (Andoko, 2004).
Sistem pertanian kota dengan ketersediaan lahan yang sempit dapat ditempuh dengan usaha
mengembangkan teknologi pertanian yang hemat lahan. Sistem pertanian vertikal yang diharapkan dapat
meningkatkan panen radiasi surya yang melimpah, selain itu juga efisiensi dalam penggunaan lahan dan
air.Budidaya tanaman dengan sistem vertikultur dapat menghemat air sampai tiga kali (Yusdiana dkk,
2000).
Kenaikan tuntutan penduduk atas industry menyebabkan penggunaan lahan peertanian yang
produktif beralih fungsi menjadi sentra industri sehingga perlu dilakukan ekstensifikasi untuk
memperoleh lahan pertanian baru. Untuk itu digunakan lahan pertanian yang kurang produktif, yang salah
Entisol merupakan tanah yang bertekstur pasir atau pasir berlempung, sehingga mempunyai daya
menahan air yang rendah dan bahan organik yang sangat rendah. Susunan struktur tanah, tekstur dan
ruang pori merupakan faktor yang mempengaruhi daya menahan air. Selain itu Entisol juga mempunyai
kadar bahan organik yang sangat rendah, hal ini disebabkan karena terjadi pencucian yang sangat tinggi
(Utami dan handayani, 2003).
Pada sistem irigasi tetes vertikultur, setiap paralon memiliki lubang dan dua selang di
dalamnya untuk diisi air.Lalu dibiarkan hingga media basah semua, kemudian selang ditutup.Jika
belum sempurna, semprot dengan
sprayer
dengan lembut agar tidak merusak media.Penyiraman
ini dilakukan pada pagi dan sore setiap harinya
(Palupi dan Diennazola, 2010).Bahan kolom vertikal pipa PVC berdiameter 17 cm, dengan panjang 135 cm dan di sekeliling
kolom dibuat lubang tempat menanam bibit. Pada bagian tengah diberi pipa paralon kecil untuk
memperlancar distribusi air irigasi yang diberikan. Sebelumnya pipa dibuat beberapa lubang sebagai
tempat keluarnya air (Yusdiana dkk, 2000).
Sistem Irigasi Tetes Bawah Permukaan
Irigasi secara umum didefinisikan sebagai penggunaan air pada tanah untuk keperluan
penyediaan cairan yang dibutuhkan oleh tanaman. Irigasi dapat juga dikatakan penggunaan air
pada tanah yang berfungsi; (1) menambah air ke dalam tanah untuk menyediakan cairan yang
diperlukan untuk pertumbuhan tanaman; (2) mendinginkan tanah dan atmosfer, sehingga
menimbulkan lingkungan yang baik untuk pertumbuhan tanaman; (3) mencuci atau mengurangi
garam dalam tanah; (4) mengurangi bahaya erosi; (5) mempermudah pengolahan tanah
(Hansen dkk, 1980).
Dengan mengetahui laju evapotranspirasi harian dan simpanan air tanah yang tersedia, penentuan
waktu penggunaan irigasi dapat dihitung (Foth, 1994).
Sistem irigasi bawah permukaan adalah pipa polietilen yang memiliki dripper yang dapat
dibentuk secara langsung dengan interval yang telah ditetapkan. “Prinsip dasar sistem irigasi
bawah permukaan adalah: mengurangi penggunaan air, mengurangi penguapan, mengurangi
pertumbuhan gulma, mengurangi hama dan penyakit tanaman, mengurangi penggenangan dan
aliran permukaan serta menyalurkan air secara langsung pada daerah perakaran” (Brian, 2011).
Menurut Sudjarwadi (1990), sistem irigasi bawah permukaan dapat dilakukan dengan
meresapkan air ke dalam tanah di bawah zona perakaran melalui sistem saluran terbuka ataupun
dengan menggunakan pipa porous. Lengas tanah digerakkan oleh gaya kapiler menuju zona
perakaran lalu dimanfaatkan oleh tanaman.
Sasaran dari manajemen irigasi yang baik adalah untuk menyediakan air bagi tanaman
ketika diperlukan.Sistem irigasi bawah permukaan menempatkan dripper permanen dibawah
permukaan tanah, biasanya pada kedalaman antara 20 hingga 40 cm. Emitter pada
dripper
memancarkan air selama irigasi.Pada sistem yang baru, keseragaman penyebaran airnya dapat
mencapai lebih dari 93%, dibandingkan dengan irigasi curah 60% - 80% dan irigasi permukaan
50% - 60% (Harris, 2005).
Sifat Fisik Tanah
Entisol
Jenis tanah yang digunakan dalam penelitian ini adalah Entisol. Entisol banyak terdapat di sekitar
gunung aktif dan terutama di daerah-daerah saluran lahan volkan. Agihannya hampir terdapat diseluruh
kepulauan Indonesia terutama Jawa, Sumatera dan Nusa Tenggara, luasnya lebih kurang 3 juta hektar
(Syarief, 1985) atau sekitar 2,1 % dari keseluruhan luas lahan di Indonesia (Sujadi, 1984), sehingga
Entisol (‘ent’ berasal dari kata recent) adalah tanah mineral yang tidak memiliki horizon-horizon
pedogenik yang mencirikan (Soil Survey Staff, 1998). Entisol dicirikan oleh bahan mineral tanah yang
belum membentuk horizon diagnostik yang nyata karena pelapukan baru diawali atau bahan induk yang
sukar larut seperti pasir kuarsa, atau terbentuk batuan keras yang larutnya lambat seperti batu gamping,
atau topografi sangat miring sehingga kecepatan erosi melebihi pembentukan horizon pedogenik
(Darmawijaya, 1990).
Sifat fisik tanah Entisol sebagian besar tidak baik. Kendala utama pemanfaatan tanah ini adalah
sifat fisik disertai kurangnya air (Komar, 1984). Entisol mempunyai kadar lempung dan bahan organik
rendah, sehingga daya menahan airnya rendah, struktur remah sampai sampai berbutir dan sangat sarang,
hal ini menyebabkan tanah tersebut mudah melewatkan air dan air mudah hilang karena perkolasi
(Mowidu, 2001).
Entisol memiliki kemantapan agregat rendah sehingga menyebabkan tanah ini mudah mengalami
disperse apabila mengalami tumbukan oleh air hujan. Keadaan tersebut menyebabkan tanah tersebut
mudah tererosi dan agregat yang hancur menjadi partikel-partikel yang sangat halus dapat menutupi
pori-pori tanah sehingga akan menurunkan kapasitas infiltrasi (Darmawijaya, 1990).
Di Indonesia tanah Entisol banyak diusahakan untuk areal persawahan baik sawah teknis maupun
tadah hujan pada daerah dataran rendah. Tanah ini mempunyai konsistensi lepas-lepas, tingkat agregasi
rendah, peka terhadap erosi dan kandungan hara tersediakan rendah. Potensi tanah yang berasal dari abu
vulkan ini kaya akan hara tetapi belum tersedia, pelapukan akan dipercepat bila terdapat cukup aktivitas
bahan organik sebagai penyedia asam-asam organik (Tan, 1986).
Entisol adalah tanah yang belum berkembang dan banyak dijumpai pada tanah dengan bahan
induk yng sangat beragam, baik dari jenis, sifat, maupun asalnya. Beberapa contoh Entisol antara lain
berupa tanah yang berkembang di atas batuan beku dengan solum dangkal atau tanah yang berkembang
pada kondisi yang sangat basah atau sangat kering. Nilai reaksi tanah sangat beragam mulai dari pH 2,5
hingga tinggi dengan KTK sangat beragam, karena sangat tergantung pada jenis mineral liat yang
mendominasinya; kadar hara tergantung bahan induk; permeabilitas lambat; dan peka erosi. Meskipun
tidak ada pencucian hara tanaman dan relatif subur, untuk mendapatkan hasil tanaman yang tinggi
biasanya membutuhkan pupuk N, P, K (Munir, 1996).
Entisol merupakan tanah dengan sedikit perkembangan dimana sifatnya sangat ditentukan oleh
bahan induk. Sebagian tanah yang tergolong dalam Entisol terutama bertekstur pasir atau pasir
berlempung kadang-kadang mempunyai horizon albic yang tebal di atas horizon B yang warnanya sangat
nyata berbeda tetapi sifat-sifat lain tidak jelas berbeda. Entisol terbentuk dari endapan sungai (alluvial)
mengalami diskontinuitas (lapisan tanah yang terbentuk karena tidak mempunyai hubungan satu
dengan yang lain), sehingga C organiknya rendah (Santoso, 1993).
Pada kebanyakan tanah mineral, nilai kerapatan partikel (particle density) adalah sekitar 2,6-2,7
gram/cm3. Kerapatan massa (bulk density) tanah kering menunjukkan perbandingan antara massa tanah
kering terhadap volume total tanah (termasuk partikel tanah dan ruang porinya). Nilai bulk density lebih
kecil dari nilai particle density, untuk tanah dengan volume ruang pori yang berkisar setengah dari
volume total adalah 1,3-1,35 gram/cm3, untuk tanah berpasir mungkin dapat mencapai 1,6 gram/cm3
(Hillel, 1971).
Ukuran partikel tanah akan menentukan tekstur tanah. Partikel yang diameternya lebih besar dari
1,00 mm adalah kerikil, dari 0,05 hingga 1,00 mm adalah pasir, dari 0,002 hingga 0,05 mm adalah
lempung dan yang lebih kecil dari 0,002 mm adalah liat. Untuk menghitung persentase ruang pori (𝜃)
adalah membandingkan nilai kerapatan massa dan kerapatan partikel dengan persamaan:
𝜃=�1−𝐵𝑑
𝑃𝑑� 𝑥 100% ...(1)
𝜃 = Porositas (%)
Bd = Bulk density (gram/cm3)
(Hansen dkk, 1992).
Aliran Air dalam Tanah Tidak Jenuh
Ada dua jenis gerakan air dalam tanah yaitu gerakan air tanah jenuh dan gerakan air tanah tidak
jenuh.Gerakan air tanah jenuh khususnya muncul setelah hujan deras atau pengirigasian. Gerakan air
tanah tidak jenuh muncul ketika sebagian besar air pada pori tanah telah terdrainase dan adanya
ruang-ruang udara di dalam tanah (Coyne and Thompson, 1960).
Didalam sebuah tanah yang homogen, air akan bergerak dari daerah yang berpotensial tinggi ke
daerah yang berpotensial rendah. Gerakan air mungkin terjadi pada semua arah. Kecepatan aliran semakin
tinggi dengan meningkatnya gradien dan jumlah pori yang terisi air (Donahue et.al, 1977).
Gerakan air dalam tanah dalam berbagai segi pengertian adalah laju aliran per satuan luas
penampang dengan persamaan:
𝑞=𝑘𝜕𝐻
𝜕𝑠 ………...……… ………(2)
Dimana H adalah tinggi tekanan keseluruhan, k adalah konduktivitas hidrolik dari tanah yang
bersangkutan, dan s adalah jarak sepanjang aliran. Dalam kasus yang umum, H adalah jumlah dari tinggi
tekanan kapiler, gravitasi dan tekanan uap. Tinggi tekanan kapiler adalah hisapan yang diperlukan untuk
menarik air dari dalam tanah. Hantaran k adalah jumlah air yang akan bergerak melalui suatu satuan
penampang melintang dalam 1 detik pada suatu gradient. Intisari dari persamaan di atas adalah air tanah
cenderung untuk bergerak dari daerah-daerah yang kadar lengasnya tinggi ke yang kadar airnya rendah
atau dari potensial tinggi ke potensial rendah (Linsley, 1986).
Air bergerak di dalam tanah secara horizontal dan vertikal. Pergerakan air secara horizontal
disebit juga pergerakan air lateral. Pergerakan air vertikal dapat berupa pergerakan air ke bawah yang
dipengaruhi oleh gerak gravitasi melalui infiltrasi dan perkolasi serta pergerakan air ke atas melalui gerak
kapilaritas air tanah yang dipengaruhi oleh porositas tanah. Air tanah yang bergerak ke atas ini
disebabkan oleh kemampuan kapiler (capillary rise) yang dimiliki oleh tanah (Kartasapoetra dan Sutedjo,
Pada aliran horizontal tidak jenuh dalam tanah, pengaruh gaya gravitasi terhadap
gerakan air tanah dapat diabaikan. Jika gaya eksternal tidak ada, yaitu jika tekanan didalam tanah
dan atmosfer sama maka faktor yang berpengaruh terhadap gerakan horizontal tidak jenuh dari
air tanah, sangat ditentukan oleh potensial matriks dan kandungan garam dalam larutan tanah
(Herudjito, 1983).
Gerakan air di dalam tanah adalah melalui interkoneksi ruang pori, secara umum, tanah dengan
ruang pori besar akan memiliki konduktivitas hidrolik yang besar. Sebaliknya, tanah dengan ruang pori
kecil akan memiliki konduktivitas hidrolik yang kecil pula. Tanah bertekstur kasar seperti pasir biasanya
memiliki konduktivitas hidrolik besar, dan tanah bertekstur halus seperti liat biasanya memiliki
konduktivitas hidrolik kecil.Gerakan air dalam tanah terjadi sebagai hasil dari perbedaan gradien
(hidrolik), dengan arah dari yang berpotensial tinggi ke potensial rendah, kecepatan gerakannya bervariasi
oleh besarnya gradien hidrolik dan juga konduktivitas hidrolik tanah (Liu and Evett, 2008).
Permeabilitas didefenisikan sebagai sifat bahan berongga yang memungkinkan air atau cairan
lainnya untuk menembus atau merembes melalui ruang antar pori. Bahan yang mempunyai pori-pori
kontinu disebut dapat ditembus (permeable). Contohnya kerikil mempunyai sifat tembus yang tinggi
sedangkan lempung kaku mempunyai sifat dapat tembus yang rendah atau dapat juga dikatakan tidak
tembus (impermeable) (Soedarmo dan Purnomo, 1997).
Koefisien permeabilitas terutama tergantung pada ukuran rata-rata pori yang dipengaruhi oleh
distribusi ukuran partikel, bentuk partikel dan struktur tanah. Secara garis besar, semakin kecil ukuran
partikel, semakin kecil pula ukuran pori dan semakin rendah koefisien permeabilitasnya. Berarti suatu
lapisan tanah berbutir kasar yang mengandung butiran-butiran halus memiliki harga koefisien
permeabilitas yang lebih rendah. Koefisien permeabilitas merupakan fungsi dari angka pori (Craig, 1987).
tempat lain. Selanjutnya disusul dengan tingkatan kedua yang berlangsung secara konveksi yang
disebabkan oleh aliran massa yaitu suatu proses dimana seluruh tubuh cairan bergerak sebagai
respon terhadap perbedaan gradien total (Mansur, 1986).
Konduktivitas hidrolik tanah dipengaruhi oleh struktur dan tekstur tanah tersebut.Konduktivitas
hidrolik meningkat jika tanah sangat berpori, remah atau beragregat dibandingkan jika tanah padat dan
sesak. Konduktivitas hidrolik tidak hanya bergantung pada total ruang pori, tetapi terutama pada ukuran
pori penghubung. Sebagai contoh, tanah berpasir dengan ruang pori yang besar dapat memiliki
konduktivitas lebih besar dari tanah liat dengan ruang pori yang kecil walaupun total ruang pori tanah liat
secara umum lebih besar daripada tanah berpasir (Hillel, 1971).
Dalam gerakan air tanah horizontal yang sesungguhnya, gerakan vertikal (∇𝑧) adalah nol. Proses
lain juga mungkin terjadi jika ∇𝑧 diabaikan, dibandingkan dengan gradien hisapan matriks yang kuat
(∇𝜓). Dalam kasus ini,
𝜕𝜃
𝜕𝑡 = ∇
[
𝐾(
𝜓)
∇𝜓]
...(4)Atau, dalam sebuah sistem gerakan dua dimensi,
𝜕𝜃
Dengan memasukkan difusivitas kedalam persamaan, untuk gerakan dua dimensi dengan mengabaikan
gravitasi diperoleh,
𝜃 = Kadar air volumetrik
𝑡 = Waktu (s)
K = Konduktivitas hidrolik (m2/s)
D = Difusivitas (m2/s)
x = Sumbu horizontal
y = Sumbu vertikal
(Hillel, 1971).
Efisiensi Irigasi
Efisiensi irigasi didefenisikan sebagai persentase air yang dihantarkan dengan air yang
tertahan di zona perakaran dimana menjadi air tersedia untuk pertumbuhan tanaman. Dengan
kata lain sebagai gambaran bagian yang di hantarkan pada bagian lapisan permukaan atas tanah
(Houk, 1996).
Sering terjadi dimana lebih banyak air yang dialirkan ke tanah daripada yang mungkin
bisa ditahannya.Konsep efisiensi pemakaian air irigasi berikut dikembangkan untuk mengukur
dan memusatkan perhatian terhadap efisiensi dimana air yang disalurkan sedang ditampung pada
daerah perakaran tanah, yang dapat digunakan oleh tanaman.
𝐸
𝑎=
𝑊
𝑊
𝑠𝑓
𝑥
100%
...(7)E
a= Efisiensi pemakaian air irigasi (%).
Ws = Air yang ditampung pada daerah perakaran selama pemberian air irigasi.
Wf = Air irigasi yang disalurkan ke lahan.
Efisiensi pemakaian air irigasi dapat berbeda-beda dari harga yang paling rendah sampai
mendekati 100 %.Konsep efisiensi penyimpanan menunjukkan perhatian secara lengkap
bagaimana kebutuhan air tersebut disimpan pada daerah perakaran selama pemberian air irigasi.
𝐸
𝑠=
𝑊
𝑊
𝑠𝑛
𝑥
100%
...(8)W
s= Air yang ditampung pada daerah perakaran selama pemberian air irigasi.
W
n= Air yang dibutuhkan pada daerah perakaran sebelum pemberian air irigasi.
Efisiensi penyimpanan air irigasi penting apabila air yang tidak memadai disimpan pada daerah
perakaran selama pemberian air irigasi. Distribusi air irigasi yang tidak sama memiliki banyak
karakteristik yang tidak diinginkan. Daerah yang kering terlihat di lahan yang diberi air irigasi
secara tidak merata.Kelebihan air yang digunakan menyebabkan pemborosan air. Rumus untuk
efisiensi distribusi air, yang menggambarkan sampai dimana air didistribusikan secara merata,
diperlihatkan pada:
𝐸
𝑑=
�
1
−
𝑌
𝑑� 𝑥
100%
...(9)E
d= Efisiensi distribusi air irigasi (%).
Y
= Angka deviasi standar untuk kedalaman air yang ditampung selama pemberian air
irigasi.
d
= Kedalaman air rata-rata yang ditampung selama pemberian air irigasi.
(Hansen dkk, 1980).Kadar Air Tanah
Kadar air tanah dinyatakan dalam persen volume yaitu persentase volume air terhadap volume
tanah.Cara ini mempunyai keuntungan karena dapat memberi gambaran tentang ketersediaan air bagi
tanaman pada volume tanah tertentu. Cara penetapan kadar air dapat dilakukan dengan sejumlah tanah
basah dikeringkan dalam oven pada suhu 1000C-1100C untuk waktu tertentu. Air yang hilang karena
pengeringan merupakan sejumlah air yang terkandung dalam tanah tersebut. Air irigasi yang memasuki
tanah mula-mula menggantikan udara yang terdapat dalam pori makro dan kemudian pori mikro. Air
berlangsung selama cukup air ditambahkan dan tidak ada penghalang.Pergerakan air tidak hanya terjadi
secara vertikal tetapi juga horizontal (Hakim dkk, 1986).
Salah satu metode yang digunakan secara luar untuk mengukur kadar air tanah adalah
memperkirakan kadar air tanah dengan melihat dan merasakannyadan membandingkannya dengan
struktur tanah yang bersangkutan. Tetapi untuk mendapat data yang lebih akurat dapat dengan mengukur
berat tanah sampel, kemudian tanah diovenkan sampai pada keadaan tanah kering oven, lalu ditimbang.
Selisih antara berat tanah sebelum diovenkan dan sesudah diovenkan menjadi berat air yang terkandung
di dalamnya, dengan demikian didapat kadar air tanah (Hansen dkk, 1984).
Pengukuran kadar air tanah dilakukan untuk mengetahui pola pembasahan tanah. Setelah
diketahui kadar air tanahnya kemudian dibandingkan dengan kadar air tanah kapasitas lapang
(Saprianto dan Pandjaitan 1999)
. Dalam praktek, kadar air tanah kapasitas lapang biasanya
ditentukan 2 hari setelah pemberian air (penjenuhan). Suatu tanah akan sampai pada kapasitas
lapang lebih cepat bila ada suatu tanaman yang aktif tumbuh daripada bila tidak ada yang
mengambil air dari tanah tersebut
(Hansen dkk, 1980).
Laju Infiltrasi
Persamaan yang digunakan untuk menghitung laju infiltrasi dengan menggunakan
metode Kostiakov adalah:
𝑓
𝑝=
𝐾𝑡
𝑛 ...(10)f
p= Laju infiltrasi (mm/menit)
K,n
= Konstanta yang dipengaruhi oleh faktor lahan dan kadar air tanah awal
t
= Waktu (menit)
Penurunan permukaan air diukur setiap selang waktu 2, 5, 10, 20, 30, 45, 60, 90, 120, 180 menit.
Air ditambahkan ke dalam silinder secara berkala agar infiltrasi selalu berlangsung dari
kedalaman yang sama (Januar dan Pandjaitan, 1999).
Biasanya, laju infiltrasi lebih banyak pada permulaan hujan atau pemberian air irigasi
daripada beberapa jam kemudian.Ini dipengaruhi oleh sifat-sifat tanah dan juga oleh tingkat
kelembaban.Pengurangan infiltrasi menurut waktu sesudah pembasahan suatu tanah adalah
penting dalam penelitian curah hujan-limpasan (
rainfall
-
runoff
) dan dalam irigasi (Hansen dkk,
198).
Penggolongan nilai laju infiltrasi konstan menurut Haridjaja (1990) dapat dilihat pada
tabel berikut ini:
Tabel 1. Kriteria Laju Infiltrasi Konstan
Kelas Kategori Laju infiltrasi konstan (cm/jam) Keterangan 1