MAKALAH FIQIH MUAMALAH I
AKAD KERJASAMA BISNIS (SYIRKAH DAN QIRADH)
`
MAKALAH FIQIH MUAMALAH I
AKAD KERJASAMA BISNIS (SYIRKAH DAN QIRADH)
Makalah diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Fiqih Muamalah I yang dibimbing oleh Nashihul Ibad Elhas, S.H.I., M.H.I.
Oleh :
1. Machallafri Iskandar (E20151001) 2. Ansita Devi Ardillah (E20151034) 3. Bahruddin Nur Salam (E20151035)
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI JEMBER
KATA PENGANTAR
Puji Syukur Alhamdulillah kami panjatkan kehadirat Allah SWT karena atas limpahan Rahmat dan Hidayah-Nya semata, kami dapat menyelesaikan Makalah dengan judul: ”Akad Kerjasama Bisnis (Syirkah dan Qiradh)”. Salawat dan salam semoga tetap tercurah limpahkan kepada Nabi Muhammad SAW, para keluarga, sahabat-sahabat dan pengikut-pengikutnya sampai hari penghabisan.
Atas bimbingan dari Dosen Fiqih Muamalah I dan saran dari teman-teman maka disusunlah Makalah ini, semoga dengan tersusunnya Makalah ini dapat berguna bagi kami semua dalam memenuhi tugas dari mata kuliah Fiqih Muamalah I dan semoga segala yang tertuang dalam Makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis maupun bagi para pembaca dalam rangka membangun khasanah keilmuan. Makalah ini disajikan khusus dengan tujuan untuk memberi arahan dan tuntunan agar yang membaca bisa menciptakan hal-hal yang lebih bermakna.
Ucapan terima kasih juga peneliti sampaikan kepada:
1. Dosen Pembimbing mata kuliah Fiqih Muamalah I, Nashihul Ibad Elhas, S.H.I., M.H.I.
2. Semua pihak yang telah membantu demi terbentuknya Makalah.
Kami menyadari bahwa dalam penyusunan Makalah ini masih terdapat banyak kekurangan dan belum sempurna. Untuk itu kami berharap akan kritik dan saran yang bersifat membangun kepada para pembaca guna perbaikan langkah-langkah selanjutnya.
Akhirnya hanya kepada Allah SWT kita kembalikan semua, karena kesempurnaan hanya milik Allah SWT semata.
DAFTAR ISI
HALAMAN SAMPUL... i
HALAMAN JUDUL... ii
KATA PENGANTAR... iii
DAFTAR ISI... iv
BAB I PENDAHULUAN... 5
1.1. Latar Belakang... 5
1.2. Rumusan Masalah... 6
1.3. Tujuan Penulisan... 6
1.4. Manfaat Penulisan... 6
1.5. Sistematika Penulisan... 7
BAB II PEMBAHASAN... 8
2.1 Syirkah... 8
2.2 Qiradh... 18
BAB IV PENUTUP... 27
3.1 Simpulan... 27
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kata muamalat yang kata tunggalnya muamalah yang berakar pada kata ‘amala secara arti kata mengandung arti “Saling berbuat” atau berbuat secara timbal balik. Lebih sederhana lagi berarti “Hubungan antara orang dengan orang lain”. Bila kata ini dihubungkan kepada lafaz fiqih, mengandung arti aturan yang mengatur hubungan antara seseorang dengan orang lain dalam pergaulan hidup didunia. Ini merupakan timbangan dari fiqh ibadah yang mengatur hubungan lahir antara seseorang dengan Allah.
Sebagaimana disebutkan sebelumnya bahwa Allah mengatur hubungan lahir antara manusia dengan Allah dalam rangka menegakkan hablun min Allah dan hubungan antara sesama manusia dalam rangka menegakkan hablun min al-nas. Yang keduanya merupakan misi kehidupan manusia yang diciptakan sebagai khalifah diatas bumi. Hubungan antara sesama manusia itu bernilaii ibadah pula bila dilaksanakan sesuai dengan petunjuk Allah.
Bila kita membicarakan muamalahsebagai imbangan dari kata ibadah, maka yang dimaksud adalah muamalah dalam arti umum. Yang dibahas disini adalah muamalah dalam arti khusus yang merupakan bagian dari pengertian umum tersebut, yaitu hubungan antara sesama manusia yang berkaitan dengan harta.
Hubungan antara sesama manusia berkaitan dengan harta ini di bicarakan dan diatur dalam kitab-kitab fiqih karna kecendrungan manusia kepada harta itu begitu besar dan sering menimbulkan persengketaan sesamanya, kalau tidak diatur, dapat menimbulkan ketidakstabilan dalam pergaulan hidup antara sesama manusia.
1.2 Rumusan Masalah
Ada beberapa rumusan masalah yang diangkat dalam penulisan makalah yang berjudul “Akad Kerjasama Bisnis (Syikah dan Qiradh), antara lain :
Apakah yang dimaksud syirkah?
Apa dasar hukum syirkah ?
Apa macam-macam syirkah?
Apa saja syarat-syarat syirkah ‘uqud?
Bagaimanakah karakteristik akad syirkah?
Hal apa saja yang bisa membuat syirkah batal ?
1.3 Tujuan Penulisan
Tujuan dari penulisan makalah yang berjudul “Akad Kerjasama Bisnis (Syikah dan Qiradh), yaitu:
Mendefinisikan apa itu syirkah.
Menyebutkan dasar hukum syirkah.
Menyebutkan macam-macam syirkah.
Menyebutkan syarat-syarat syirkah ‘uqud.
Menjabarkan karakteristik akad syirkah
Menyebutkan hal yang dapat membatalkan syirkah.
1.4 Manfaat Penulisan
Manfaat makalah yang berjudul “Akad Kerjasama Bisnis (Syikah dan Qiradh), yaitu :
Mengetahui definisi syirkah.
Agar tahu tentang dasar hukum syirkah.
Dapat tahu macam-macam syirkah.
Dapat mengetahui syarat-syarat syirkah ‘uqud.
Dapat tahu karakeristik akad syirkah.
1.5 Sistematika Penulisan Bab I Pendahuluan:
a. LatarBelakang b. RumusanMasalah c. TujuanPenulisan d. ManfaatPenulisan e. SistematikaPenulisan Bab II Pembahasan:
a. Syirkah
b. Qiradh
Bab III Penutup :
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Syirkah
1.1 Pengertian Syirkah
Syirkah secara bahasa berarti al-ikhtilath yang artinya percampuran, yaitu bercampurnya dua harta bagian secara utuh sehingga tidak dapat lagi dibedakan mana harta bagian yang satu dari harta bagian yang lain.
Secara syara’ syirkah adalah aqad antara dua orang atau lebih yang bersepakat untuk melakukan aktivitas yang menggunakan harta dengan maksud memperoleh keuntungan.
Adapun pengertian syirkah menurut para ulama, antar lain :
Pertama, menurut Ulama Hanafiah yaitu : akad antara dua orang yang berserikat pada pokok harga (modal) dan keuntungannya.
Kedua, menurut Ulama Malikiah yaitu : Izin untuk bertindak secara huku, bagi dua orang yang bekerja sama terhadap harta mereka.
Ketiga, menurut Ulama Syafi’iyah yaitu : Ketetapan hak pada sesuatu yang dimiliki dua orang atau lebih dengan cara yang mahsyur (diketahui)
1.2 Dasar Hukum Syirkah kepadamu dengan meminta kambingmu itu untuk ditambahkan kepada kambingnya. dan Sesungguhnya kebanyakan dari orang-orang yang berserikat itu sebahagian mereka berbuat zalim kepada sebahagian yang lain, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh; dan Amat sedikitlah mereka ini". dan Daud mengetahui bahwa Kami mengujinya; Maka ia meminta ampun kepada Tuhannya lalu
Artinya : “ ...Maka mereka bersekutu dalam yang sepertiga itu,.. ” 2.2 Menurut Hadist
ََاَََنَأ :ُ ا َا َلاَََق ) ملسو هيلع ا لص ِ ا َا ُلوُسَر َلاَق :َلاَق هنع ا ار َةَرْيَرُه ِبَأ ْنَع ,َدُواَد وََُبَأ ُهاَوَر ( اَََمِهِنْيَب ْنِم ُتْجَرَََخ َناَََخ اَذِإَََف ,ُهَبِحا َََص اَمُهُدَََحَأ ْنُخَي ْمَل اَََم ِنْيَكيِر اََشلَا ُثِلاَََث ُمِكاَحْلَا ُهَحاحَصَو
Artinya: “Dari Abu Hurairah yang dirafa’kan kepada Nabi SAW bahwa Nabi SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah SWT berfirman, “Aku adalah yang ketiga pada dua orang yang bersekutu, selama salah seorang dari keduanya tidak mengkhianati temannya, A ku akan keluar dari persekutuan tersebut apabila salah seorang menghianatinya.”
sebagai nabi, orang-orang pada masa itu telah bermuamalahdengan cara ber-syirkah dan Nabi Muhammad SAW membenarkannya.
Imam Bukhari juga meriwayatkan bahwa Aba Manhal pernah mengatakan , “Aku dan rekan pembagianku telah membeli sesuatu dengan cara tunai dan utang. ”Lalu kami didatangi oleh Al Barra’bin azib. Kami lalu bertanya kepadanya. Dia menjawab, “Aku dan rekan kongsiku, Zaiq bin Arqam, telah mengadakan pembagian. Kemudian kami bertanya kepada Nabi SAW tentang tindakan kami. Baginda menjawab: “Barang yang (diperoleh) dengan cara tunai silahkan kalian ambil. Sedangkan yang (diperoleh) secara utang, silalah kalian bayar”. Hukum melakukan syirkah dengan kafir Zimmi Hukum melakukan syirkah dengan kafir zimmi juga adalah mubah. Imam Muslim pernah meriwayatkan dari Abdullah bin Umar yang mengatakan: “Rasulullah SAW pernah memperkerjakan penduduk khaibar (penduduk Yahudi) dengan mendapat bagian dari hasil tuaian buah dan tanaman”
1.3 Macam-macam Syirkah
Syirkah terbagi menjadi dua, yaitu syrikah amlak (kepemilikan) dan syirkah uqud (kontrak. Syirkah amlak yaitu syirkah yang bersifat memaksa dalam hukum positif, sedagkan syirkah uqud yaitu syirkah yang bersifat ikhtiariyah (pilihan sendiri).
3.1 Syirkah Amlak
Syirkah amlak adalah dua orang atau lebih yang memiliki barang tanpa adanya akad baik bersifat ikhtiari atau jabari artinya barang yang dimiliki oleh dua orang atau lebih tanpa adanya akad. Syirkah amlak dibagi menjadi dua, yaitu :
Syirkah Ikhtiar (suka rela)
keduanya menerima barang hibah, wasiat, atau wakaf dari orang lain maka bendabenda itu menjadi harta serikat (bersama).
Syirkah Ijbar (paksaan)
Syirkah ijbar adalah syirkah yang ditetapkan kepada dua orang atau lebih yang bukan didasarkan atas perbuatan keduanya. Seperti harta warisan yang mereka terima dari orang tuanya.
Hukum kedua jenis syirkah ini adalah salah seorang yang bersekutu seolah-olah sebagai orang lain dihadapan sekutunya. Maka dari itu, salah seorang diantara mereka tidak boleh mengolah (tasharruf) harta syirkah tersebut tanpa ada izin dari teman sekutunya, karena keduanya tidak punya wewenang unutk menentukan bagian masing-masing.1
3.2 Syirkah Uqud
Syirkah uqud adalah dua orang atau lebih melakukan akad untuk kerjasama (berserikat) dalam modal keuntungan. Artinya, kerjasama ini didahului oleh transaksi dalam penanaman modal dan kesepakatan pembagian keuntungan. Macam-macam syirkah uqud, anatara lain :
a. Syirkah Inan
itu dihitung nilainya (qîmah al-‘urûdh) pada saat akad. Keuntungan dibagi sesuai presentase yang telah disepakati sebelumnya. Jika mengalami kerugian ditanggung bersama dilihat dari presentasi modal. Jika masing-masing modalnya 50%, maka masing-masing menanggung kerugian sebesar 50%. Diriwayatkan oleh Abdur Razaq dalam kitab Al-Jâmi’, bahwa Ali bin Abi Thalib ra. pernah berkata, "Kerugian didasarkan atas besarnya modal, sedangkan keuntungan didasarkan atas kesepakatan mereka (pihak-pihak yang bersyirkah)."
b. Syirkah al-Abdan
Perserikatan dalam bentuk kerja yang hasilnya dibagi bersama sesuai kesepakatan. Artinya, dalam syirkah ini tidak disyaratkan memiliki kesamaan profesi atau keahlian, tetapi boleh berbeda profesi. Perserikatan dua orang atau lebih untuk menerima sesuatu pekerjaan tukang besi, kuli angkut, tukang jahit, dan sebagainya. Tujuan syirkah ini mencari keuntungan dengan modal pekerjaan bersama.
c. Syirkah Mudharabah
Syirkah mudhârabah adalah syirkah antara dua pihak atau lebih dengan ketentuan, satu pihak memberikan konstribusi kerja (‘amal), sedangkan pihak lain memberikan konstribusi modal (mâl). Istilah mudhârabah dipakai oleh ulama Irak, sedangkan ulama Hijaz menyebutnya qirâdh.
pengelola terikat dengan syarat-syarat yang ditetapkan oleh pemodal.
Jika ada keuntungan, ia dibagi sesuai kesepakatan di antara pemodal dan pengelola modal, sedangkan kerugian ditanggung hanya oleh pemodal. Sebab, dalam mudhârabah berlaku hukum wakalah (perwakilan), sementara seorang wakil tidak menanggung kerusakan harta atau kerugian dana yang diwakilkan kepadanya. Namun demikian, pengelola turut menanggung kerugian, jika kerugian itu terjadi karena kesengajaannya atau karena melanggar syarat-syarat yang ditetapkan oleh pemodal.
d. Syirkah Wujuh
Disebut syirkah wujûh karena didasarkan pada kedudukan, ketokohan, atau keahlian (wujûh) seseorang di tengah masyarakat. Syirkah mudhârabah adalah syirkah antara dua pihak atau lebih dengan ketentuan, satu pihak memberikan konstribusi kerja (‘amal), sedangkan pihak lain memberikan konstribusi modal (mâl). Dalam hal ini, pihak A dan B adalah tokoh masyarakat. Syirkah semacam ini hakikatnya termasuk dalam syirkah mudhârabah sehingga berlaku ketentuan-ketentuan syirkah mudhârabah padanya.
Bentuk kedua syirkah wujûh adalah syirkah antara dua pihak atau lebih yang ber-syirkah dalam barang yang mereka beli secara kredit, atas dasar kepercayaan pedagang kepada keduanya, tanpa konstribusi modal dari masing-masing pihak. e. Syirkah Mufawidah
Hal yang terpenting dalam syirkah ini yaitu modal, kerja maupun keuntungan merupakan hak dan kewajiban yang sama.
1.4 Syarat-syarat Syirkah Uqud 4.1 Syarat Syirkah Uqud
Menurut ulama Hanafiyah syarta syirkah uqud tebagi dua macam, yaitu umum dan khusus.
Adapun syarat umum syirkah uqud, antara lain : a. Dapat dipandang sebagai perwakilan.
b. Ada kejelasan dalam pembagian keuntungan. c. Laba meurpakan bagian (juz) umum dari sunnah. d. Syarat Khusus pada Syirkah Amwal
Sedangkan, syarat khusus pada syirkah amwal baik pada baik pada syirkah inan maupun mufawidah adalah berikut ini :
a. Modal syirkah harus ada dan jelas
b. Modal harus bernilai atau berharga secar mutlak
c. Syarat Khusus Syirkah Mufawidah
4.2 Syarat Syirkah Mufawidah
Ulama Hanafiyah menyebutkan beberapa syarat khusus pada syirkah mufawidah, diantaranya :
a. Setiap aqid (yang akad) harus ahli dalam perwakilan dan jaminan, yakni keduanya harus merdeka telah baligh, berakal, sehat dan dewasa.
b. Ada kesamaan modal dari segi ukuran, harga awal dan akhir. c. Adapun yang pantas menjadi modal dari salah seorang yang
bersekutu dimaukkan dalam perfungsian. d. Ada kesamaan dalam pebagian keuntungan.
4.3 Syarat Syirkah A’mal
Jika syirkah berbentuk mufawidah, harus memenuhi syarat mufawidah. Tapi jika berbentuk syirkah inan, hanya disyaratkan ahli dalam perwakilan saja.
Namun demikian, jika pekerjaan membutuhkan alat itu dipakai oleh salah seorang aqid, hal itu tidak berpengaruh terhadap syirkah. Akan tetapi, jika membutuhkan kepada orang lain, pekerjaan itu menjadi tanggung jawab yang menyuruh dan perkongsian dipandang rusak. 4.4 Syarat Syirkah Wujuh
Apabila syirkah ini berbentuk mufawidah, hendaklah yang bersekutu itu ahli dalam memberikan jaminan dan masing-masing harus memiliki setengah harga yang dibeli. Selain itu, keuntungan dibagi dua dan ketika akad harus menggunakan kata mufawidah.
Namun jika syirkah berbentuk inan, tidak disyaratkan harus memenuhi persyaratan yang adadan dibolehkan salah seorang aqid melebihi yang lain. Hanya saja, keuntungan harus didasarkan pada tanggungan. Jika meminta lebih, akan batal.
1.5 Karakteristik Akad Syirkah
Dalam akad ini dikenal adanya karakteristik yang membedakan dengan akad-akad yang lain, yaitu :
a. Para mitra (syarik) bersama-sama menyediakan dana untuk mendanai suatu usaha, baik yang sudah berjalan maupun yang baru. Selanjutnya mitra dapat mengembalikan dana awal dan membagi hasil yang tela disepakati.
b. Investasi musyarakah dapat diberikan dalam bentuk kas, setara kas atau aset nonkas, termasuk aset tak berwujud, seperti lisensi dan hak paten.
kelalaian atau kesalahan yang disengaja. Beberapa hal yang menunjukkan adanya kesalahan, ialah :
Pelanggaran terhadap akad antara lain penyalahgunaan dana investasi, manipulasi biaya, dan pendapatan operasional.
Pelaksanaan yang tidak sesuai dengan prinsip syariah.
Jika tidak terdapat kesepakatan antara pihak yang bersengketa, kesalahan yang disengaja harus dibuktikan berdasarkan keputusan institusi yang berwenang.
Pendapatan usaha musyarakah dibagi diantara para mitra secara
proporsional sesuai dengan dana yang disetorkan atau sesuai nisbah yang telah disepakati oleh para mitra. Sedangkan rugi dibebankan secara proporsional sesuai dengan dana yang disetorkan.
Jika salah satu mitra memberikan kontribusi atau nilai lebih dari mitra lainnya dalam akad musyrakah, mitra tersebut dapat memperoleh keuntungan lebih besar untuk dirinya. Bentuk keuntungan lebih tersebut dapat berupa pemberian porsi dananya atau bentuk tambahan keuntungan lainnya.
Porsi jumlah bagi hasil untuk para mitra ditentukan berdasarkan nisbah yang disepakati dari pendapatan usaha yang diperoleh selam periode akad bukan dari jumlah investasi yang disalurkan. Pengelola musyarakah mengadminitrasikan transaksi usaha yang
terkait dengan investasi musyarakah yang dikelola dalam pembukuan tersendiri.
1.6 Berakhirnya Akad Syirkah
Beberapa hal yang dapat membatalkan syirkah secara umum, antara lain :
Salah satu pihak yang berserikat meninggal dunia.
Salah satu pihak kehilangan kecakapan bertindak hukum.
Sementara, pembatalan syirkah secara khusus sebagian syirkah, anatara lain :
Harta syirkah rusak dan tidak ada kesamaan modal
Para mitra (syarik) bersama-sama menyediakan dana untuk mendanai suatu usaha, baik yang sudah berjalan maupun yang baru. Selanjutnya mitra dapat mengembalikan dana awal dan membagi hasil yang tela disepakati.
Investasi musyarakah dapat diberikan dalam bentuk kas, setara kas atau aset nonkas, termasuk aset tak berwujud, seperti lisensi dan hak paten.
Karena setiap mitra tidak dapat menjamin dana mitra lainnya, setiap mitra dapat meminta mitra lainnya untuk menyediakan jaminan atas kelalaian atau kesalahan yang disengaja. Beberapa hal yang menunjukkan adanya kesalahan, ialah :
Pelanggaran terhadap akad antara lain penyalahgunaan dana
investasi, manipulasi biaya, dan pendapatan operasional. Pelaksanaan yang tidak sesuai dengan prinsip syariah.
Jika tidak terdapat kesepakatan antara pihak yang bersengketa, kesalahan yang disengaja harus dibuktikan berdasarkan keputusan institusi yang berwenang. Pendapatan usaha musyarakah dibagi diantara para mitra secara proporsional sesuai dengan dana yang disetorkan atau sesuai nisbah yang telah disepakati oleh para mitra. Sedangkan rugi dibebankan secara proporsional sesuai dengan dana yang disetorkan.
Jika salah satu mitra memberikan kontribusi atau nilai lebih dari mitra lainnya dalam akad musyrakah, mitra tersebut dapat memperoleh keuntungan lebih besar untuk dirinya. Bentuk keuntungan lebih tersebut dapat berupa pemberian porsi dananya atau bentuk tambahan keuntungan lainnya.
bukan dari jumlah investasi yang disalurkan.Pengelola musyarakah mengadminitrasikan transaksi usaha yang terkait dengan investasi musyarakah yang dikelola dalam pembukuan tersendiri.
2.2 Qiradh/Mudharabah
2.1Arti, Landasan, Rukun, Jenis dan Sifat Mudharabah a. Arti Mudharabah
Mudharabah atau qiradh termasuk salah satu bentuk akad syirkah (perkongsian).Istilah mudharabah digunakan oleh orang Irak, sedangkan orang Hijaz menyebutnya dengan istilah qiradh. Dengan demikian, mudharabah dan qiradh adalah dua istilah untuk maksud yang sama.
Menurut bahasa, qiradh berarti potongan , sebab pemilik
memberikan potongan dari hartanya untuk diberikan kepada pengusaha agar mengusahakan harta tersebut, dan pengusaha akan memberikan potongan dari laba yang diperoleh. Bisa juga diambil dari kata muqaradhah yang berarti kesamaan, sebab pemilik modal dan pengusaha memiliki hak yang sama terhadap laba.
b. Landasan Hukum
Ulama fiqih sepakat bahwa mudharabah disyaratkan dalam Islam berdasarkan Al-Quran, Sunah, Ijma’, dan Qiyas.
Al-Quran
Ayat-ayat yang berkenaan dengan mudharabah, antara lain:
اَذإإَفإتَيإضُقُاةّصلااوُرإشَتْناَف يإفإض ْأراااُغَتْباَاْنإمإلْضَفإهّللااوُرُكْذاَاَهّللااًريإثَك ْمُكّلَعَلَناُحإلْفُت
Artinya : “Apabila telah ditunaikan shalat, bertebaranlah kamu di muka bumi dan carilah karunia Allah.” (QS. Al-Jumu’ah : 10)
Artinya : “Tidak ada dosa bagimu untuk mencari karunia (rezeki hasil perniagaan) dari Tuhan-Mu.”
As-Sunah
Dalam hadis yang lain diriwayatkan oleh Thabrani dari Ibn Abbas bahwa Abbas Ibn Abdul Muthalib jika memberikan harta untuk mudharabah, dia mensyaratkan kepada pengusaha untuk tidak melewati lautan, menuruni jurang, dan membeli hati yang lembab. Jika melanggar persyaratan tersebut, ia harus menanggungnya. Persyaratan tersebut disampaikan kepada Rasulullah SAW. dan beliau membolehkannya.
Ijma’
Di antara Ijma’ dalam mudharabah, adanya riwayat yang menyatakan bahwa jamaah dari sahabat menggunakan harta anak yatim untuk mudharabah.
Qiyas
Mudharabah diqiyaskan kepada al-musyaqah (menyuruh seseorang untuk mengelola kebun).
c. Rukun Mudharabah
Para ulama berbeda pendapat tentang rukun mudharabah. Ulama Hanafiyah berpendapat bahwa rukun mudharabah adalah ijab dan qabul, yakni lafazh yang menunjukkan ijab dan qabul dengan menggunakan mudharabah, muqaridhah, muamalah, atau kata-kata yang searti dengannya.
Mudharabah ada dua macam, yaitu mudharabah mutlak (al-muthlaq) dan mudharabah terikat (al-muqayyad).
Mudharabah mutlak adalah penyerahan modal seseorang kepada pengusaha tanpa memberikan batasan, seperti berkata, “Saya serahkan uang ini kepadamu untuk diusahakan, sedangkan labanya akan dibagi di antara kita, masing-masing setengah atau sepertiga, dan lain-lain.”
Mudharabah muqayyad (terikat) adalah penyerahan modal seseorang kepada pengusaha dengan memberikan batasan, seperti persyaratan bahwa pengusaha harus berdagang di daerah bandung atau harus berdagang sepatu, atau membeli barang dari orang tertentu , dan lain-lain.
e. Sifat Mudharabah
Diantara ulama terdapat perbedaan pendapat, ada yang
berpendapat termasuk akad yang lazim, yakni dapat diwariskan seperti pendapat Imam Malik, sedangkan menurut ulama Syafi’iyah, Malikiyah, dan Hanabilah, akad tersebut tidak lazim, yakni tidak dapat diwariskan. f. Mudharib (Pengusaha) Lebih dari Seorang
Ulama Malikiyah berpendapat bahwa jika mudharib lebih dari seorang, laba dibagikan berdasarkan hasil pekerjaan mereka.
2.2Syarat Sah Mudharabah a. Syarat Aqidani
Disyaratkan bagi orang yang akan melakukan akad, yakni pemilik modal dan pengusaha adalah ahli dalam mewakilkan atau menjadi wakil, sebab mudharib mengusahakan harta pemilik modal, yakni menjadi wakil. Mudharabah dibolehkan dengan orang kafir dzimmi atau orang kafir yang dilindungi di negara Islam.
b. Syarat Modal
• Modal harus ada, bukan berupa utang, tetapi tidak berarti harus ada ditempat akad
• Modal harus diberikan kepada pengusaha. c. Syarat-Syarat Laba
Laba Harus memiliki Ukuran
Ulama Hanafiyah berpendapat bahwa apabila pemilik modal mensyaratkan bahwa kerugian harus ditanggung oleh kedua orang yang akad, maka akad rusak, tetapi mudharabah tetap sah. Hal ini karena dalam mudharabah, kerugian harus ditanggung oleh pemilik modal.
Menurut ulama Hanafiyah dan Hanabilah, hal itu, termasuk qaradh, tetapi menurut ulam Syafi’iyah termasuk mudharabah yang rusak.
Ulama Malikiyah membolehkan pengusaha mensyaratkan semua laba untuknya.
Laba Harus Berupa Bagian yang Umum (Masyhur)
Pembagian laba harus sesuai dengan keadaan yang berlaku secara umum, seperti kesepakatan di antara orang yang
melangsungkan akad bahwa setengah laba adalah untuk pemilik modal, sedangkan setengah lainnya lagi diberikan kepada pengusaha.
2.3Hukum Mudharabah
a. Hukum Mudharabah Fasid
Tanggung Jawab Pengguna
Jika mudharabah rusak karena adanya beberapa sebab yang menjadikannya rusak, pengusaha menjadi pedagang sehingga ia pun memiliki hak untuk mendapatkan upah.
Jika disyaratkan bahwa pengusaha harus bertanggung-jawab atas rusaknya modal, menurut ulama Hanafiyah dan Hanabilah, syarat tersebut batal, tetapi akadnya sah. Dengan demikian, pengusaha bertanggung-jawab atas modal dan berhak atas laba. Adapun ulama Malikiyah dan Syafi’iyah berpendapat bahwa mudharabah batal.
Tasharuf Pengusaha
a. Pada mudharabah mutlak
Menurut ulama Hanafiyah, jika mudharabah mutlak, maka pengusaha berhak untuk beraktivitas dengan modal tersebut yang menjurus kepada pendapatan laba, seperti jual beli.
Dalam mudharabah mutlak, menurut ulama Hanafiyah, pengusaha dibolehkan menyerahkan modal tersebut kepada pengusaha lainnya atas seizin pemilik modal.
Menurut ulama selain Hanafiyah, pengusaha bertanggung-jawab atas modal jika ia memberikan modal kepada orang lain tanpa seizinny, tetapi laba dibagi atas pengusaha kedua dan pemilik modal.
Ulama Syafi’iyah berpendapat bahwa modal tidak boleh diberikan kepada pengusaha lain, baik dalam hal usaha maupun laba, meskipun atas seizin pemilik modal.
b. Pada mudharabah terikat Penentuan tempat
Pengusaha harus mengusahakannya di daerah
Penentuan orang
Ulama Hanafiyah dan Hanabilah membolehkan pemilik modal untuk menentukan orang yang harus dibeli barangnya oleh pengusaha atau kepada siapa ia harus menjual barang, sebab hal ini termasuk syarat yang berfaedah.
Penentuan waktu
Ulama Hanafiyah dan Hanabilah membolehkan pemilik modal menentukan waktu sehingga jika melewati batas, akad batal.
c. Hak-hak pengusaha (al-mudharib) Hak nafkah (membelanjakan)
Para ulama berbeda pendapat dalam hak nafkah modal atau harta mudharabah. Secara umum, pendapat mereka dapat dibagi menjadi tiga golongan, yaitu:
Imam Syafi’i, menurut riwayat paling zahir, berpendapat bahwa pengusaha tidak boleh menafkahkan modal untuk dirinya, kecuali atas seizin pemilik modal sebab pengusaha akan memiliki keuntungan dari laba.
Jumhur ulama, di antaranya Imam Malik, Imam
Hanafi, dan Imam Zaidiyah berpendapat bahwa pengusaha berhak menafkahkan harta mudharabah dalam perjalanan untuk keperluannya, seperti pakaian, makanan, dan lain-lain.
Ulama Hanabilah membolehkan pengusaha untuk
menafkahkan harta untuk keperluannya, baik pada waktu menetap maupun dalam perjalanan jika disyaratkan pada waktu akad.
Pengusaha berhak mendapatkan bagian dari sisa laba sesuai dengan ketetapan dalam akad, jika usahanya
mendapatkan laba. Jika tidak, ia tidak mendapatkan apa-apa sebab ia bekerja untuk dirinya sendiri. Dalam pembagian laba, disyaratkan setelah modal diambil.
Hak pemilik modal
Hak bagi pemilik modal adalah mengambil bagian laba jika menghasilkan laba. Jika tidak ada laba, pengusaha tidak mendapatkan apa-apa.
2.4Pertentangan antara Pemilik dan Pengusaha a. Perbedaan dalam Mengusahakan (Tasharuf) Harta
Jika terjadi perbedaan antara pemilik dan pengusaha, yaitu satu pihak menyangkut sesuatu yang umum dan pihak lain menyangkut masalah khusus, yang diterima adalah pernyataan yang menyangkut hal-hal umum dalam perdagangan, yakni menyangkut pendapatan laba, yang dapat diperoleh dengan menerapkan ketentuan-ketentuan umum. b. Perbedaan dalam Harta yang Rusak
Jika terjadi perbedaan pendapat antara pemilik modal dan
pengusaha tentang rusaknya harta, seperti pengusaha menyatakan bahwa kerusakan disebabkan pemilik modal, tetapi pemilik modal
mengingkarinya, maka yang diterima, berdasarkan kesepakatan para ulama, adalah ucapan pengusaha sebab pada dasarnya ucapan pengusaha adalah amanah, yakni tidak ada khianat.
c. Perbedaan tentang Pengembalian Harta
Ulama fiqih sepakat bahwa jika terjadi perbedaan pendapat tentang jumlah modal, yang diterima adalah ucapan pengusaha sebab dialah yang memegangnya.
e. Perbedaan dalam Ukuran Laba
Ulama Hanafiyah dan Hanabilah berpendapat bahwa ucapan yang diterima adalah pernyataan pemilik modal, jika pengusaha mengakui bahwa disyaratkan baginya setengah laba, sedangkan menurut pemilik adalah sepertiganya.
f. Perbedaan dalam Sifat Modal
Ulama Hanabilah dan Hanafiyah berpendapat bahwa bila ada perbedaan dalam sifat modal, ucapan yang diterima adalah pernyataan pemilik harta.
2.5Perkara yang Membatalkan Mudharabah Mudharabah dianggap batal pada hal berikut
a. Pembatalan, Larangan Berusaha, dan Pemecatan
Semua ini jika memenuhi syarat pembatalan dan larangan, yakni orang yang melakukan akad mengetahui pembatalan dan pemecatan tersebut, serta modal telah diserahkan ketika pembatalan atau larangan. Akan tetapi, jika pengusaha tidak mengetahui bahwa mudharabah telah dibatalkan, pengusaha (mudharib) dibolehkan untuk tetap
mengusahakannya.
b. Salah Seorang Aqid Meninggal Dunia
Ulama Malikiyah berpendapat bahwa mudharabah tidak batal dengan meninggalnya salah seorang yang melakukan akad, tetapi dapat diserahkan kepada ahli warisnya, jika dapat dipercaya.
c. Salah Seorang Aqid Gila
Apabila pemilik modal murtad (keluar dari Islam) atau terbunuh dalam keadaan murtad, atau bergabung dengan musuh serta telah diputuskan oleh hakim atas pembelotannya, menurut Imam Abu Hanifah, hal itu membatalkan mudharabah sebab bergabung dengan musuh sama saja dengan mati.
e. Modal Rusuk di Tangan Pengusaha
Jika harta rusak sebelum dibelajakan, mudharabah menjadi batal. Hal ini karena modal harus dipegang oleh pengusaha. Jika modal rusak, mudharabah batal.
BAB III PENUTUP
4.1 Simpulan
dalam Islam yaitu: syirkah inân, syirkah abdan, syirkah mudhârabah, syirkah wujûh, dan syirkah mufâwadhah. Syirkah inân adalah syirkah antara dua pihak atau lebih yang masing-masing memberi konstribusi kerja (‘amal) dan modal (mâl). Syirkah ‘abdan adalah syirkah antara dua pihak atau lebih yang masing-masing hanya memberikan konstribusi kerja (‘amal), tanpa konstribusi modal (mâl). Syirkah mudhârabah adalah syirkah antara dua pihak atau lebih dengan ketentuan, satu pihak memberikan konstribusi kerja (‘amal), sedangkan pihak lain memberikan konstribusi modal (mâl). Syirkah mudhârabah adalah syirkah antara dua pihak atau lebih dengan ketentuan, satu pihak memberikan konstribusi kerja (‘amal), sedangkan pihak lain memberikan konstribusi modal (mâl). Syirkah mufâwadhah adalah syirkah antara dua pihak atau lebih yang menggabungkan semua jenis syirkah di atas (syirkah inân, ‘abdan, mudhârabah, dan wujûh. Syirkah berakhir apabila: Salah satu pihak membatalkannya, salah satu pihak kehilangan kecakapan untuk bertasharruf, baik karena gila maupun alasan yang lainnya, salah satu pihak meninggal dunia, salah satu pihak jatuh bangkrut, modal telah habis dahulu.
DAFTAR PUSTAKA
Dr. M. Noor Harisudin, M. Fil. I, Fiqih Muamalah 1, 2014, Pena Salsabila, Surabaya