TEORI KEPEMIMPINAN SANG BAPAK PENDIDIKAN NASIONAL
UNTUK PARA GENERASI KEKINIAN
Oleh : Arief Ibrahim
Selamat Hari Pendidikan Nasional, hari ini kembali kita merayakan hari peringatan kita semua, hari besar dan penuh dengan sejarah. Hari ini memanglah bukan mengenang hari kelahiran atau anniversary kita dengan orang tercinta. Tapi, hari ini adalah hari besar yang kita peringati sebagai renungan dan semangat kita akan Bangkitnya Generasi Emas Indonesia. Hari ini adalah hari yang penting sebab kita sadar akan pentingnya pendidikan untuk diri kita sendiri, untuk bangsa Indonesia, dan terkhusus untuk masyarakat Morowali Utara yang kita cintai.
Hari ini adalah hari kita semua 2 Mei 2016. Mengapa saya menyebutnya hari peringatan kita semua? Sebab dari Presiden, Kepala Daerah, Ustad, Pendeta, hingga para Petani adalah orang yang pernah berpendidikan. Baik itu hanya tamatan SD, SMP, atau SMA. Kita adalah orang yang pernah mengikuti proses pendidikan sehingga hari ini adalah hari untuk kita semua.
Bapak Pendidikan Republik Indonesia begitu ia disebut. Pria yang memiliki nama asli Raden Mas Soewardi Soerjaningrat ini berasal dari keturunan keluarga keraton Yogyakarta, yang merupakan seorang yang memiliki gelar bangsawan. Namun beliau mengganti namanya dan menghilangkan gelar bangsawan itu. Alasannya sederhana, sebab agar supaya beliau bisa lebih dekat dengan rakyat.
Saya sangat menyenangi bapak Ki Hajar Dewantara. Mengapa? Karena pria kelahiran Yogyakarta ini adalah sosok yang sangat sederhana, cerdas, dan merupakan orang yang sangat peduli akan pentingnya pendidikan. Sebagai seorang guru dan bapak pendidikan nasional, tak jarang beliau menjadi motivator yang selalu menginspirasi kaum muda dengan
Inspirasing Teacher and Leader yang ia miliki.
Ki Hajar Dewantara tak hanya memberi motivasi dan inspirasi melalui kata-katanya, tapi beliau senantiasa membuktikan melalui perbuatannya. Sebab, beliau selalu mengajarkan “bahwa alam kita, bukanlah sekedar alam kata-kata, namun adalah alam pembuktian”.
Dari pembelajaran dan inspirasi yang diberikan oleh Sang Bapak Pendidikian Nasional ini, ada tiga Konsep Kepemimpinan yang sampai sekarang menjadi teladan Bangsa Indonesia, konsep kepemimpinan ini tercipta saat beliau mendirikan Taman Siswa sebagai tempat belajar bagi pribumi pada masa penjajahan Belanda.
Pada awalnya konsep ini ditujukan kepada pendidik agar bisa menginspirasi, memberikan teladan dan memotivasi siswanya. Namun konsep ini ternyata sangat pas pula untuk seorang pemimpin, karena sejatinya seorang pemimpin bersesuaian dengan figur seorang guru yang mendidik murid-muridnya.
Pertama, Ing Ngarso Sung Tulodo ini berarti memimpin dari depan dan memberi teladan. Seorang pemimpin akan selalu terlihat berada didepan rakyat yang dipimpinnya. Follower tidak hanya memperhatikan perilaku dari seorang pemimpin secara pribadi, namun juga meliputi sejauh mana nilai-nilai budaya organisasi telah tertanam dalam diri pemimpinnya, bagaimana cara pemimpinnya dalam mengatasi masalah, sejauh mana pemimpin berkomitmen terhadap organisasi. Pemimpin yang memiliki karisma atau seorang pemimpin yang kharismatik akan lebih mudah menjalankan peran ini. Hal ini disebabkan oleh karisma mereka yang dapat menginspirasi rakyat yang dipimpinnya. Karisma yang dimaksud adalah pemimpin yang mampu memberi Motivasi atau Orasi pembakar semangat agar para followernya dapat menjalankan visi dan misi yang menjadi tujuan bersama.
Ing Madya Mangun Karso
Kedua adalah Ing Madya Mangun Karso, yang berarti Memimpin dari tengah dan menggugah semangat. Seorang pemimpin harus mampu menempatkan diri ditengah-tengah followernya, berdiri ditengah, bekerja bersama, dan membimbing follower agar mencapai tujuan bersama yang diinginkan. Seorang pemimpin harus bisa merangkul yang dipimpinnya, mau menerima kritik dan saran, serta mampu menggugah semangat bersama untuk meraih visi dan misi yang dituju. Saat di tengah-tengah, pemimpin harus bisa membuat atmosfer organisasi menjadi positif, sehingga akan muncul semangat bersama untuk saling memotivasi dalam mencapai tujuan yang diinginkan.
Ketiga adalah Tut Wuri Handayani, yang artinya Memberikan dorongan dari belakang.
Seorang pemimpin harus bisa memberikan dorongan kepada followernya dari belakang. Ini berarti bahwa pemimpin harus memiliki segudang ide agar dapat memotivasi para followernya agar follower itu dapat bekerja sesuai dengan apa yang menjadi tujuan bersama. Pada teori ketiga ini, biasanya para Follower sudah mampu melakukan pekerjaan mereka. Kini tugas pemimpin sudah lebih mudah. Pemimpin hanya perlu step back dan berdiri dibelakang memberikan dorongan dan inspirasi. Biarkan rakyat bekerja dan tugas pemimpin, mengamati hasil pekerjaan mereka.
Teori Kepemimpinan Untuk Generasi Kekinian
Generasi Kekinian
Bukan hanya skala nasional saja, bahkan hingga kepelosok-pelosok pulau yang ada di
Indonesia pun baik itu Gubernur, Walikota, Bupati, hingga Kepala-Kepala desa. Semua telah tergambarkan melalui tiga teori kepemimpinan Ki Hajar Dewantara.
Dari teori kepemimpinan yang diajarkan oleh Ki Hajar Dewantara, Terkadang timbul pertanyaan dibenak saya, saat ini teori kepemimpinan manakah yang cocok untuk kita para generasi kekinian?
Bila kita melihat kembali:
Ing Ngarso Sung Tulodo adalah memimpin dari depan. Kebanyakan teori ini terdapat di zaman kerajaan dimana para raja hanya selalu memerintah dan memberi orasi pembakar semangat untuk rakyatnya agar rakyat yang dipimpinnya mau bekerja. Jika saat ini para pemimpin masih menerapkan pola itu mungkin hanya sebagian orang saja yang mau bekerja. Sebab, generasi kekinian tidak seperti generasi masa lalu yang mau diperintah seenaknya. Generasi kekinian kebanyakan lebih mau bergerak sendiri untuk dirinya dan keluarganya saja bukan untuk bangsa apalagi daerahnya.
Tut Wuri Handayani adalah mendorong dari belakang. Tapi, Generasi kekinian
membutuhkan pemimpin yang bisa terlihat berada disisi rakyat bukan berada dibelakang rakyat. Kini bukan zamannya lagi para generasi kekinian bisa didoktrin dengan mimpi-mimpi besar dan angan-angan semata tapi nyatanya nihil. Generasi kekinian butuh bukti yang jelas bukan hanya sekedar janji apalagi patende (cerita hiperbola) semata.. Generasi kekinian tidak butuh pemimpin yang hanya memberi ide tanpa sebuah realisasi kerja yang nyata.
Ing Madya Mangun Karso, memimpin dari tengah dan menggugah semangat. Mungkin dari tiga teori Kepemimpinan Ki Hajar Dewantara, inilah teori yang tepat untuk saat ini untuk kita generasi kekinian. Kedua teori sebelumnya mungkin tepat untuk orang zaman dulu. Generasi kekinian butuh pemimpin yang mampu bekerja ditengah dan bersama rakyat, bukan hanya memerintah didepan apalagi hanya mampu memberi ide dan dorongan dari belakang.
Sebab pada hakikatnya saat ini generasi kekinian bukan budak yang harus diperintah seperti pada zaman kerajaan, bukan pula anak kecil yang harus diberi janji atau angan-angan dari para pemimpin. Generasi kekinian membutuhkan pemimpin yang mampu berada ditengah rakyat, bersama membangun bangsa, daerah, atau sebuah organisasi. Karena rakyat melalui jalan itu, maka rakyat akan merasa dibutuhkan untuk mencapai tujuan bersama. Dan apabila pemimpin bekerja bersama ditengah-tengah rakyat maka akan tumbuh atmosfer positif dan semangat follower akan menjadi dua kali lipat sehingga pekerjaan atau tujuan yang ingin dicapai akan lebih cepat terselesaikan.
Sebelum mengakhiri tulisan ini, di Hari Pendidikan Nasional ini saya berpesan untuk diri sendiri dan semua pembaca tulisan ini. Banyak yang berpikir bahwa presentasi orang yang malas jauh lebih banyak dari orang yang mau bekerja. Tapi, pemikiran itu sebenarnya bisa kita balik. Sebab orang malas akan menjadi lebih malas ketika dia tidak dilibatkan dalam suatu pekerjaan dan ia akan merasa tidak dibutuhkan. Begitu sebaliknya orang yang mau bekerja akan menjadi pemalas jika ia merasa modal rajin yang ia miliki tidak dibutuhkan atau tidak dapat dimanfaatkan untuk menyelesaikan pekerjaan itu.