• Tidak ada hasil yang ditemukan

Asesmen wilayah rawan kebakaran pada per

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Asesmen wilayah rawan kebakaran pada per"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

ASESMEN WILAYAH RAWAN KEBAKARAN

PADA PERMUKIMAN PADAT PENDUDUK DI JAKARTA BARAT Ratna Saraswati & M.H. Dewi Susilowati

Fakultas Matematika dan Ilmu pengetahuan Alam, Universitas Indonesia Departemen Geografi

Abstrak

Jakarta Barat mempunyai kepadatan penduduk yang tinggi, tentunya akan muncul berbagai masalah sosial yang tidak dapat dihindari seperti adanya ancaman bahaya kebakaran. Konsentrasi penduduk yang padat beserta kondisi lingkungan dan aktifitas penduduk merupakan hal yang sering menjadi kriteria penting terhadap penentuan daerah rawan kebakaran. Sehubungan dengan itu, maka masalah yang akan dikaji dalam penelitian ini adalah: (a) Bagaimanakah permodelan wilayah rawan kebakaran di wilayah padat penduduk di Jakarta Barat? (b). Bagaimana pula asesmen wilayah rawan kebakaran ditinjau dari aspek kebijakan tentang mitigasi kebakaran di Jakarta Barat? Dalam penelitian ini, data diolah dengan menggunakan SIG (Sistem Informasi Geografis), sedangkan citra satelit diolah dengan menggunakan perangkat lunak pengolah citra. Kedua data tersebut diintegrasikan dan diolah juga dengan SPSS (Statistical Product and Service Solutions). Data olahan citra dan matriks serta SPSS digunakan untuk penentuan model wilayah rawan kebakaran, setelah itu dibuat asesmennya. Kesimpulannya adalah kejadian kebakaran di Jakarta Barat, sebagian terjadi pada daerah bagian barat yang berbatasan dengan Kabupaten Tangerang dan yang tidak terjadi kebakaran tersebar di bagian timur dan selatan. Terdapat hubungan antara besarnya persentase bangunan semi permanen dengan kejadian kebakaran, yaitu semakin besar persentase bangunan semi permanen, semakin banyak kejadian kebakaran. Namun kejadian kebakaran tidak berhubungan dengan kepadatan penduduk, kerapatan bangunan maupun kerapatan jaringan jalan. Wilayah Rawan Kebakaran I terdapat di bagian barat dan utara, yang mempunyai kriteria kepadatan bangunan tinggi dan dan persentase bangunan semi permanen tinggi. Apabila dikaitkan dengan pelayanan pemerintah yang telah menyediakan hidran, maka terdapat beberapa lokasi bagian barat yang masih kekurangan hidran.

Kata kunci: Kebakaran, wilayah rawan kebakaran, sistem informasi geografis.

1. Pendahuluan

Jakarta Barat mempunyai kepadatan penduduk yang tinggi, tentunya akan muncul berbagai masalah sosial. yang tidak dapat dihindari, seperti adanya ancaman bahaya kebakaran. Semakin tinggi jumlah penduduk pada suatu daerah dan semakin beragam aktifitas penduduknya, maka potensi terjadinya kebakaran juga tinggi.

(2)

frekuensi kebakaran makin meningkat dari tahun ke tahun. Pada tahun 1990, kejadian kebakaran hanya 146 kali, tertinggi pada tahun 2006 sebanyak 208 kali kejadian kebakaran. Bila dilihat jumlah hidran yang tersebar di Jakarta Barat hanyalah 126 hidran untuk permukiman kumuh seluas 1.931, 84 hektar. Di Jakarta Barat terdapat dua kecamatan yang tidak mempunyai hidran yaitu Kecamatan Kembangan dan Kalideres, padahal kecamatan ini mempunyai luas wilayah kumuh yang luas yaitu seluas 450 hektar (Anon, 2007; Riza, 2005).

Dari data di atas, kasus kebakaran yang terjadi di daerah perkotaan yang semakin banyak tentunya haruslah dilakukan upaya-upaya yang dapat meminimalisir sebab-sebab terjadinya kebakaran. Hal ini agar tercapai suatu kota yang sehat maka perlu dilakukan perencanaan wilayah yang terkait berbagai sektor (Barton & Tsourou, 2000).

1.2. Perumusan Masalah

Arus migrasi yang tinggi dan harga tanah yang semakin mahal di DKI Jakarta, sehingga menyebabkan timbulnya permukiman yang padat penduduknya, ditandai juga dengan padatnya populasi bangunan. Rendahnya kemampuan ekonomi masyarakat sejalan dengan terbatasnya kemampuan berusaha dan terbatasnya penyediaan sarana dan prasarana di permukiman yang ada, menyebabkan permukiman tersebut rawan kebakaran. Sehubungan dengan itu, maka masalah yang akan dikaji dalam penelitian ini adalah : (a). Bagaimanakah permodelan wilayah rawan kebakaran di wilayah padat penduduk di Jakarta Barat? (b). Bagaimana pula asesmen wilayah rawan kebakaran ditinjau dari aspek kebijakan tentang mitigasi kebakaran di Jakarta Barat?

1.3. Tujuan dan Manfaat Riset

Tujuan riset ini adalah membuat permodelan wilayah rawan kebakaran di wilayah padat penduduk.

Sedangkan manfaat penelitian ini adalah penyusunan model informasi rawan kebakaran dan asesmen wilayah rawan kebakaran juga sebagai masukan dalam perumusan kebijakan wilayah rawan kebakaran dan evaluasi implementasi kebijakan wilayah rawan kebakaran sebagai acuan dalam perbaikan rencana tata ruang

(3)

Perkembangan bangunan di perkotaan semakin kompleks baik dari segi intensitas, teknologi maupun kebutuhan prasarana dan sarana. Perbedaan lokasi ini menyebabkan adanya permukiman yang padat penduduk dengan unit-unit rumah yang mempunyai ukuran kecil serta kondisi fisik lingkungan yang buruk. Ciri lain adalah berkembang tanpa rencana, cenderung kumuh, seringkali ditandai dengan letak rumah yang tidak teratur dan rapat, prasarana kota terbatas, kepadatan penduduk tinggi penghasilan masyarakat rendah, bangunan semi permanen dan kepemilikan lahan yang tidak jelas (Kartono, 1994). Hal ini dimungkinkan untuk dapat menimbulkan bahaya kebakaran. Interaksi antarsubsistem dapat dijelaskan dalam konteks wilayah, mulai dari perpindahan penduduk dari desa ke kota (Rahardjo, 2005). Jakarta Barat dalam hal ini dapat disebut sebagai national growth center (Wheeler & Muller, 1981; Goldblum & Wong, 2000). Penduduk memilih tempat bermukim di kota itu, karena memperoleh kemudahan ke tempat bekerja. Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat pada konsep dasar penelitian pada Gambar 1.

Gambar 1. Kosep Dasar Penelitian

2.1. Kerangka Pemikiran

Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis komparatif dengan membandingkan kriteria wilayah rawan bencana kebakaran dengan kejadian kebakaran yang terjadi di daerah Jakarta Barat tahun 2008. Hasil dari model tersebut dibuat

Pokok masalah

Semakin meluasnya permukiman padat dan kumuh dapat mengakibatkan permukiman yang rawan bencana kebakaran

Dasar Teori

Teori kebakaran

Teori penggunaan tanah Teori struktur permukiman

Konsep Dasar

Wilayah rawan kebakaran Penanggulangan bencana

kebakaran

Kebijakan mitigasi kebakaran

(4)

asesmen wilayah rawan kebakaran di Jakarta Barat. Variabel yang digunakan untuk penentuan wilayah rawan kebakaran adalah kepadatan penduduk, kualitas bangunan, jaringan jalan, frekuensi kebakaran, jaringan sungai dan sarana dan prasarana kebakaran. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat di kerangka pemikiran yang digambarkan sebagai berikut, Gambar 2.

Gambar 2. Kerangka Pemikiran

2.2. Pengumpulan Data

Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data sekunder dan primer. Data primer dari survey lapang dilakukan untuk pengecekan titik kontrol tanah (ground control point/GCP) untuk masing-masing kelurahan sebanyak dua titik. Data sekunder diperoleh dari :

- data kependudukan; Jakarta Barat Dalam Angka Tahun 2007 dan untuk masing-masing kecamatan (Kecamatan Dalam Angka Tahun 2007), diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS).

- Data kebakaran ; frekuensi, sebab-sebab terjadinya, lokasi kejadian, luas areal yang terbakar, jumlah korban yang kehilangan tempat tinggal (data mulai dari Januari 2008

Kajian kepustakaan

Kajian peraturan kebakaran UU RI No 28/2002

Keputusan Menteri Negara PU No.11/KPTS/2000 Master Plan DKI Jakarta

Perda No.3/1992 Perda No. 170/2007

Wilayah Rawan Kebakaran

Kepadatan penduduk Kualitas bangunan Jaringan jalan Frekuensi kebakaran Jaringan sungai

(5)

sampai 9 Desember 2008) dan data lokasi hidran dan pos pemadam kebakaran diperoleh dari Suku Dinas Kebakaran Jakarta Barat

- Data citra satelit Spot dan Ikonos tahun 2005

- Data lain yang diperoleh dari peta seperti dari peta Jabotabek tahun 2007-2008, peta administrasi, peta jaringan jalan, peta rupa bumi

2.3. Pengolahan Data

Dalam penelitian ini, peta diolah dengan menggunakan SIG (O’ Sullivan & Unwin,2003), sedangkan citra satelit diolah dengan menggunakan perangkat lunak pengolah citra. Kedua data tersebut diintegrasikan sehingga menjadi data untuk hasil analisis. Disamping itu data lain dibuat dalam bentuk tabel, untuk selanjutnya dibuat tabel analisis berupa matriks. Data juga diolah dengan SPSS (Statistical Product and Service Solutions). Data olahan citra dan matriks serta SPSS digunakan untuk penentuan model wilayah rawan kebakaran, setelah itu dibuat asesmennya.

2.4.Analisis Data

Analisis yang dilakukan dalam penelitian ini adalah analisis keruangan dan statistik. Analisis keruangan merupakan integrasi data tabular dan peta sehingga menghasilkan asesmen wilayah rawan kebakaran di Jakarta Barat. Analisis statistik dengan menggunakan korelasi Pearson dengan formula : (Johnston,1978)

Keterangan:

rxy = koefisien korelasi antara X dan Y

Xi dan Yi = Variabel bebas (X) dan Variabel terikat (Y) data ke i

atau

(6)

dan

Keterangan:

rxy = koefisien korelasi antara X dan Y xy = mean deviasi

Y = Kejadian Kebakaran

X = Kepadatan Penduduk, Kepadatan Bangunan, Persentase Bangunan Semi Permanen, Jaringan jalan.

Langkah-langkah pengujian hipotesis: 1) Menentukan Ho dan Ha

Ho: Tidak ada hubungan antara variabel X dan Y Ha: Ada hubungan antara variabel X dan Y

2) Menentukan level of significance

Taraf kepercayaan yang digunakan 95% dan tingkat toleransi kesalahan (α) 5% .

3) Kriteria pengujian

a. Berdasarkan perbandingan r hitung dan r tabel Ho diterima jika r hitung < r tabel

Ho ditolak jika r hitung ≥ r tabel b. Berdasarkan Probabilitas

Ho diterima jika probabilitas > 0,05 Ho ditolak jika probabilitas ≤ 0,05

3. Hasil dan Pembahasan 3.1. Hasil Penelitian

Hasil penelitian dalam tulisan ini akan dibahas menurut variabel kepadatan penduduk, penggunaan tanah, kualitas bangunan yang terdiri dari kepadatan bangunan dan kualitas bangunan yaitu bangunan semi permanen serta jaringan jalan. Sedangkan pembahasan dalam penelitian ini akan membahas wilayah kebakaran di Jakarta Barat, wilayah rawan kebakaran dan lokasi hidran.

(7)

bangunan-bangunan tua/kuno serta gedung mewah seperti hotel, apartemen, pusat perbelanjaan dan sebagainya. Jakarta Barat terletak antara 106º22'42'' BT sampai 106º58'18'' BT dan 50º19'12'' LS sampai 60º23'54''. Permukaan tanahnya relatif datar, terletak sekitar tujuh km di atas permukaan laut dengan luas wilayah 128,19 km² ( BPS, 2007). Batas-batas administrasinya adalah :

(a) Sebelah Utara : Jakarta Utara dan Kabupaten Tangerang (b) Sebelah Timur : Jakarta Pusat dan Jakarta Utara

(c) Sebelah Selatan : Jakarta Selatan dan Kabupaten Tangerang (d) Sebelah Barat : Kabupaten Tangerang

Kota Jakarta Barat terbagi menjadi delapan kecamatan dan 56 kelurahan.Bila dilihat dari luasnya, Kecamatan Cengkareng dengan luas 30,10 km² merupakan kecamatan terluas dibandingkan kecamatan lain yang ada di Jakarta Barat, sedangkan Kecamatan Tambora dengan luas 5,41 km² merupakan kecamatan tersempit di Jakarta Barat. Kelurahan yang terluas adalah Kelurahan Tegal Alur (7,78 km²) dan Kelurahan Kapuk (7,23 km²), adapun yang tersempit adalah Kelurahan Tambora seluas 0,28 km².

Jumlah penduduk Jakarta Barat tahun 2006 adalah 1.565.947 jiwa. Jumlah penduduk yang terbanyak terdapat di Kelurahan Palmerah, Kecamatan Palmerah dengan jumlah penduduk sebanyak 54.650 jiwa atau 3,5 persen dari seluruh jumlah penduduk di Jakarta Barat. Jumlah penduduk yang paling sedikit adalah di Kelurahan Roa Malaka, Kecamatan Tambora dengan jumlah 4.364 jiwa atau 0,28 persen dari jumlah seluruh penduduk Jakarta Barat. Apabila dilihat per kecamatan, maka Kecamatan Tambora merupakan kecamatan dengan jumlah penduduk terbanyak di Jakarta Barat sebesar 265.851 jiwa atau 16,98 persen dari jumlah seluruh penduduk di Jakarta Barat, sedangkan Kecamatan Kembangan merupakan kecamatan dengan jumlah penduduk yang paling sedikit yaitu sebanyak 141.095 jiwa atau 9,01 persen dari jumlah seluruh penduduk Jakarta barat

(8)

Dari data kepadatan penduduk Jakarta Barat dibuat tiga klasifikasi yaitu kepadatan penduduk jarang dengan kepadatan kurang dari 15.000 jiwa/km², kepadatan penduduk sedang dengan kepadatan antara 15.000 – 30.000 jiwa/km² dan kepadatan penduduk padat yaitu lebih dari 30.000 jiwa/km². Sebaran kepadatan penduduknya adalah di sebelah timur wilayah Jakarta Barat merupakan wilayah dengan kepadatan penduduk sedang dan padat sedangkan di bagian baratnya di dominasi oleh kepadatan penduduk jarang.

.

Penggunaan tanah di Jakarta Barat bervariasi, seperti permukiman, pertanian, perdagangan, tanah kosong dan lainnya, namun yang paling luas digunakan untuk permukiman yaitu 44,12 persen dari luas daerah Jakarta Barat. Pertanian tanah basah menempati urutan kedua yaitu 19,10 persen dan ketiga jasa, perdagangan yaitu 13,49 persen. Untuk lebih jelasnya lihat Tabel 1. Wilayah permukiman tersebar merata di seluruh daerah Jakarta Barat, sedangkan pertanian tanah basah terkonsentrasi di bagian barat. Wilayah industri terletak di bagian utara dan disekitar jalan Tol Sedyatmo (ke arah Tangerang). Lihat juga Peta 1.

Tabel 1. Penggunaan Tanah Jakarta Barat Tahun 2008

No Jenis Penggunaan Tanah Luas (Ha) %

1 Permukiman 6377,52 44,12

11 Jasa, Perkantoran dan Perdagangan 1949,145 13,49

(9)

Dilihat dari kepadatan bangunan permukiman di Jakarta Barat, yang terpadat terdapat di Kecamatan Grogol Petamburan dengan 10.822,27 bangunan per km², sedangkan yang terjarang terdapat di Kecamatan Taman Sari dengan 74 bangunan per km². Bila dilihat per kelurahan kepadatan bangunan yang terpadat terdapat di Kelurahan Krendang ( 16.452,79 unit bangunan per km²) dan Kali Anyar (16.582,24 bangunan per km²), sedangkan kelurahan dengan kepadatan bangunan terjarang berada di Kelurahan Mangga Besar dengan 57,99 bangunan per km². Kepadatan bangunan permukiman, klasifikasinya dibagi menjadi tiga kelas yaitu kurang dari 80 bangunan per ha, antara 80-160 bangunan per ha, dan lebih dari 160 unit bangunan per ha. Kepadatan bangunan terpadat mendominasi bagian tengah utara wilayah Jakarta Barat, sedangkan di bagian timur lebih di dominasi dengan kepadatan bangunan permukiman rendah sampai sedang. Untuk jelasnya lihat Peta 3.

Kualitas bangunan permukiman di Jakarta Barat terdiri dari bangunan permanen, semi permanen dan bangunan sementara. Dalam penelitian ini bangunan semi permanen dan bangunan permanen dijadikan satu yaitu bangunan semi permanen karena tidak semua kelurahan ada bangunan sementaranya. Persentase bangunan semi permanen di Jakarta Barat yang terbesar ada di Kecamatan Kalideres yaitu 64,65 persen dari seluruh bangunan yang ada, sedangkan persentase terkecil terdapat di Kecamatan Taman Sari sebesar 26,01 persen. Bila dilihat per kelurahan persentase bangunan semi permanen terbesar terdapat di Kelurahan Jelambar Baru sebesar 80, 59 persen, sedangkan Kelurahan Slipi hanya sebesar 2,14 persen dan di Kelurahan Glodok tidak ada bangunan semi permanen. Persentase bangunan semi permanen terbanyak terdapat di sebelah barat wilayah penelitian. Lihat Peta 2.

Jaringan jalan di Jakarta Barat terdiri dari jalan arteri, kolektor, lokal dan jalan tol. Dalam penelitian ini jaringan jalan yang dilihat adalah kerapatan jaringan jalannya. Kerapatan jalan di Jakarta Barat adalah 18,03 km/km². Bila dilihat per kecamatan, yang mempunyai jaringan jalan terpadat adalah Kecamatan Tambora sebesar 30,71 km/km², sedangkan Kecamatan yang terjarang adalah Kecamatan Kalideres sebesar 12,08 km/km². Sedangkan kelurahan yang mempunyai jaringan jalan terpadat adalah Kelurahan Kali Anyar yaitu 41,20 km/km², yang terjarang adalah Kelurahan Semanan dengan 7,65 km/km².

(10)

di bagian timur Jakarta Barat, sementara itu di bagian baratnya didominasi oleh kerapatan sedang, sedangkan di bagian tengah kerapatan jalannya masuk kedalam klasifikasi rendah.

. 3.2.Pembahasan

Kebakaran di Jakarta Barat terjadi di berbagai penggunaan tanah, seperti permukiman, perdagangan, industri, pertanian dan lain-lain. Berdasarkan data pada Peta 7 dan Tabel 2, terlihat bahwa kejadian kebakaran terbanyak pada wilayah permukiman yaitu 46,23 persen dari seluruh kejadian kebakaran pada tahun 2008. Sedangkan yang paling sedikit terjadi pada penggunaan tanah pertanian yaitu 4,30 persen dan industri 7,53 persen, yang termasuk lain-lain itu berupa tumpukan sampah (14 kejadian) dan kabel listrik udara serta gardu PLN (13 kejadian).

Berdasarkan sebaran data kejadian kebakaran, maka dapat diklasifikasikan menjadi empat kelas yaitu tidak ada kebakaran, 1 - 3 kejadian, 4 – 6 kejadian dan lebih besar dari 6 kejadian kebakaran.

(11)

yang tidak terjadi kebakaran menyebar di bagian timur (Kelurahan Roa Malaka, Keagungan, Jembatan Lima dan Kota Bambu Utara), serta di bagian utara terdapat satu kelurahan yaitu Kedaung Kaliangke.

Pada penelitian ini menekankan pada kejadian kebakaran pada wilayah permukiman. Berdasarkan data, kejadian kebakaran pada wilayah permukiman terbanyak di Kelurahan Duri Kepa, Kecamatan Kebun Jeruk (tujuh kejadian) dan Kelurahan yang tidak terjadi kebakaran pada wilayah permukiman pada tahun 2008 meliputi 13 kelurahan yaitu Kelurahan Meruya Selatan, Kelapa Dua, Kota Bambu Utara, Kali Anyar, Angke, Jembatan Lima, Roa Malaka, Pekojan, Mangga Besar, Keagungan, Glodok, Kedaung Kali Angke dan Kamal. Apabila dilihat dari administrasi kecamatan, maka semua kecamatan mengalami kejadian kebakaran dan yang terbanyak Kecamatan Kebon Jeruk (17 kejadian kebakaran) dan yang paling sedikit Kecamatan Taman Sari ( lima kejadian).

Apabila dilihat dari penyebab kebakaran, terlihat bahwa tahun 2008 yang terbanyak disebabkan oleh listrik, yaitu sebanyak 123 kejadian atau 66,13 persen, dibandingkan dengan penyebab dari rokok, kompor dan lain-lain.

Apabila dikorelasikan antara kejadian kebakaran dengan kepadatan penduduk, maka terlihat bahwa kepadatan penduduk tidak berkorelasi dengan kejadian kebakaran. Hal ini ditunjukkan dalam analisis korelasi pearson, yang diolah datanya dengan SPSS Keluaran SPSS menunjukkan bahwa 56 data kelurahan di Jakarta Barat, semuanya diproses (tidak ada data yang missing), sehingga tingkat validitasnya 100 persen. Lihat Tabel 3 dibawah ini.

Dari Tabel 3. korelasi antara kepadatan penduduk dan kejadian kebakaran, yang memuat hubungan antara variabel kejadian kebakaran dengan kepadatan penduduk, dengan tingkat signifikansi (α) = 0,05, banyak data (N) = 56, menunjukkan bahwa Pearson Correlation (0,039) < Pearson tabel, kemudian berdasarkan probabilitas terlihat bahwa angka probabilitasnya > 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa kepadatan penduduk tidak ada hubungan dengan kejadian kebakaran.

Tabel. 3. Korelasi antara Kepadatan Penduduk dan Kejadian Kebakaran

KEBAKAR KEPDDK

(12)

Sig. (2-tailed) , ,776

N 56 56

KEPDDK Pearson Correlation -,039 1,000

Sig. (2-tailed) ,776 ,

N 56 56

Sumber: Pengolahan data

Jika kejadian kebakaran dikorelasikan dengan kerapatan jaringan jalan, maka terlihat dalam analisis korelasi pearson, yang diolah datanya dengan SPSS, bahwa kerapatan jalan tidak berkorelasi dengan kejadian kebakaran. Keluaran SPSS menunjukkan bahwa 56 data kelurahan di Jakarta Barat, semuanya diproses (tidak ada data yang missing), sehingga tingkat validitasnya 100 %.

Tabel 4. Korelasi antara Jaringan Jalan dan Kejadian Kebakaran

KEBAKAR JALAN

KEBAKAR Pearson Correlation 1,000 -,029

Sig. (2-tailed) , ,832

N 56 56

JALAN Pearson Correlation -,029 1,000

Sig. (2-tailed) ,832 ,

N 56 56

Sumber: Pengolahan Data

Hasil korelasi pada Tabel 4, yang memuat hubungan antara variabel kejadian kebakaran dengan kerapatan jaringan jalan, dengan tingkat signifikansi (α) = 0,05, banyak data (N) = 56, menunjukkan bahwa Korelasi Pearson (0,029) < Pearson tabel, kemudian berdasarkan probabilitas terlihat bahwa angka probabilitasnya > 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa kerapatan jalan tidak ada hubungan dengan kejadian kebakaran.

Apabila dikorelasikan antara kejadian kebakaran dengan persentase bangunan semi permanen, maka terlihat bahwa persentase bengunan semi permanen mempunyai korelasi dengan kejadian kebakaran. Hal ini ditunjukkan dalam analisis pearson correlation, yang diolah datanya dengan SPSS. Keluaran SPSS menunjukkan bahwa 56 data (kelurahan) di Jakarta Barat, semuanya diproses (tidak ada data yang missing), sehingga tingkat validitasnya 100 %.

Tabel 5. Korelasi antara Persentase Bangunan Semi Permanen dan Kejadian Kebakaran

KEBAKAR SEMIPER

KEBAKAR Pearson Correlation 1,000 ,312

Sig. (2-tailed) , ,019

(13)

SEMIPER Pearson Correlation ,312 1,000

Sig. (2-tailed) ,019 ,

N 56 56

Sumber: Pengolahan Data

Dari korelasi pada Tabel 5, yang memuat hubungan antara variabel kejadian kebakaran dengan persentase bangunan semi permanen, dengan tingkat signifikansi (α) = 0,05, banyak data (N) = 56, menunjukkan bahwa Korelasi Pearson (0,312) > Pearson tabel, kemudian berdasarkan probabilitas terlihat bahwa angka probabilitasnya < 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa terdapat korelasi antara persentase bangunan semi permanen dengan kejadian kebakaran. Angka korelasi positif, yang berarti semakin besar persentase bangunan semi permanen, maka semakin banyak pula kejadian kebakaran.

Jika dikorelasikan antara kejadian kebakaran dengan kepadatan bangunan, maka terlihat bahwa kepadatan bangunan tidak berkorelasi dengan kejadian kebakaran. Hal ini ditunjukkan dalam analisis korelasi pearson, yang diolah datanya dengan SPSS. Keluaran SPSS menunjukkan bahwa 56 data (kelurahan) di Jakarta Barat, semuanya diproses (tidak ada data yang missing), sehingga tingkat validitasnya 100 %.

Tabel 6. Korelasi antara Kepadatan Bangunan dan Kejadian Kebakaran

KEBAKAR KPTBANG

KEBAKAR Pearson Correlation 1,000 ,057

Sig. (2-tailed) , ,677

N 56 56

KPTBANG Pearson Correlation ,057 1,000

Sig. (2-tailed) ,677 ,

N 56 56

Sumber: Pengolahan Data

Hasil korelasi pada Tabel 6, yang memuat hubungan antara variabel kejadian kebakaran dengan kepadatan bangunan, dengan tingkat signifikansi (α) = 0,05, banyak data (N) = 56, menunjukkan bahwa Korelasi Pearson (0,0) < Pearson tabel, kemudian berdasarkan probabilitas terlihat bahwa angka probabilitasnya > 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa kepadatan bangunan tidak ada hubungan dengan kejadian kebakaran.

3.2.1. Wilayah Rawan Kebakaran

(14)

maka terlihat bahwa wilayah kebakaran I, terdapat di bagian barat dan utara, yang mempunyai kriteria kepadatan bangunan tinggi dan persentase bangunan semi permanen tinggi. Tabel 7 menjelaskan kriteria untuk menentukan wilayah rawan kebakaran, yaitu

- Wilayah Rawan Kebakaran I: kepadatan bangunan tinggi dan persentase bangunan semi permanen tinggi

- Wilayah Rawan Kebakaran II: kepadatan bangunan tinggi dan persentase bangunan semi permanen rendah atau kepadatan bangunan rendah dan persentase bangunan semi permanen tinggi.

- Wilayah Rawan Kebakaran III: kepadatan bangunan rendah dan persentase bangunan semi permanen rendah.

Tabel 7. Kriteria Wilayah Rawan Kebakaran

No. Variabel Penentu Wilayah Rawan Kebakaran

Rawan Keb I Rawan Keb II Rawan Keb III 1

Sebagai contoh wilayah rawan I adalah Kelurahan Kalideres, Pegadungan, Kamal, Tegal Alur, Cengkareng Barat, Cengkareng Timur, Kapuk, Kedaung Kali Angke, Wijaya Kusuma, Jelambar Baru. Sedangkan wilayah Rawan III, dengan kriteria kepadatan bangunan rendah dan persentase bangunan semi permanen rendah, menyebar di bagian timur, seperti Kelurahan Glodok dan Mangga Besar. Lihat Peta 5.

3.2.2. Lokasi Hidran

Kondisi hidran yang tersedia di Jakarta Barat tidak semuanya baik, namun kurang lebih 35 % kondisi rusak. Kondisi hidran yang baik sebagian besar terkonsentrasi di bagian timur, seperti Kecamatan Palmerah, Tambora, Kebun Jeruk dan Grogol Petamburan. Dilain pihak kejadian kebakaran terbanyak di bagian barat, sehingga diperlukan peninjauan kembali dalam penempatan hidran.

(15)

hidran baik dan 20 hidran rusak). Sebaliknya pada daerah bagian barat, yang berbatasan dengan Kota tangerang, masih jarang lokasi penempatan hidran, sebagai contoh Kecamatan Kalideres hanya terdapat di dua kelurahan yaitu Kelurahan Pegadungan dan Kelurahan Kalideres, sedangkan Kecamatan Kembangan juga hanya terdapat di dua Kelurahan yaitu Srengseng dan Meruya Utara.

Apabila dilihat dari kondisi hidran, maka terlihat bahwa dari 175 lokasi hidran yang rusak 50 hidran (28,57 %) dan yang masih baik 125 hidran (71,43 %). Persebaran hidran rusak, terlihat bahwa hidran yang rusak paling banyak pada kecamatan Grogol Petamburan sebanyak 20 hidran, kemudian Kecamatan Tamansari 13 hidran.

4. Kesimpulan

1) Kejadian kebakaran di Jakarta Barat, sebagian terjadi pada daerah bagian barat yang berbatasan dengan Kabupaten Tangerang dan yang tidak terjadi kebakaran tersebar di bagian tengah. Terdapat hubungan antara besarnya persentase bangunan semi permanen dengan kejadian kebakaran, yaitu semakin besar persentase bangunan semi permanen, semakin banyak kejadian kebakaran. Namun kejadian kebakaran tidak berhubungan dengan kepadatan penduduk, kerapatan bangunan maupun kerapatan jaringan jalan. 2) Wilayah Rawan Kebakaran I terdapat di bagian barat dan utara, yang mempunyai

kriteria kepadatan bangunan tinggi dan persentase semi permanen tinggi.

3) Apabila dikaitkan dengan pelayanan pemerintah yang telah menyediakan hidran, maka terdapat beberapa lokasi bagian barat yang masih kekurangan hidran.

5. Rekomendasi/Saran

1) Perlu peninjauan kembali penempatan lokasi hidran, sehingga posisi hidran sesuai dengan kebutuhan untuk pemadam kebakaran.

2) Perlu penambahan lokasi hidran pada daerah bagian barat, yang banyak mengalami kejadian kebakaran.

3) Perlu perbaikan hidran pada daerah bagian timur, terutama Kecamatan Grogol Petamburan, Taman sari dan Kebun Jeruk.

Ucapan terima kasih

(16)

Program Hibah Kompetensi Institusi Universitas Indonesia Tahun 2008, Batch C2.2. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam proses administrasi hibah ini, dalam perolehan data kebakaran yaitu dari Dinas Kebakaran Jakarta Barat. Selain itu, kami juga ingin berterima kasih kepada Sdr. Bibit Budi P, SSi yang telah membuat peta-peta yang ada dalam penelitian ini menjadi indah dan informatif, juga Sdr. Yuni Asri yang telah membantu memplot lokasi-lokasi kebakaran selama tahun 2008 di Jakarta Barat. Semoga kiranya penelitian ini dapat bermanfaat bagi pihak-pihak yang memerlukan.

Daftar pustaka

Anon, 2007. Laporan Akhir Pembuatan Peta Digital Rawan Kebakaran. PT Citra Wahana Konsultan kerjasama dengan Suku Dinas Pertanahan dan Pemetaan Kotamadya Jakarta Barat.

Barton, H. & C. Tsourou 2000. Healthy Urban Planning: a WHO Guide to Planning for People. Spon Press, London.

Goldblum, C. & T.C. Wong 2000. Growth Crisis and Spatial Change : a Study of Haphazard Urbanization in Jakarta, Indonesia. In Land Use Policy 17. Elsevier Science Ltd., Nl.

Johnston, R.J, 1978. Multivariate statistical analysis in geography, a primer on the general linier model, Longman Group Limited, London

Kartono, H. 1994. Daerah Kumuh Rawa Badak (Jakarta Utara), Operasionalisasi konsep penataan ruang kawasan perkotaan. Prosiding Seminar Sehari Pendekatan rasional dalam upaya penataan ruang suatu wilayah. Jurusan Geografi FMIPA UI

O’Sullivan, D&D.Unwin,2003. Geographic Information Analysis. John Wiley & Sons. Inc.

Rahardjo, S. 2005: Pengaruh Penggunaan Tanah Terhadap Kualitas Hidup. Desertasi. Program Doktor PS Kajian Ilmu Lingkungan. Jakarta

Riza, M. 2005. Wilayah Rawan Kebakaran di Jakarta Barat. Tesis Magister Geografi. Departemen Geografi FMIPA UI

(17)
(18)
(19)

Gambar

Gambar 1. Kosep Dasar Penelitian
Gambar 2. Kerangka Pemikiran
Tabel 1. Penggunaan Tanah Jakarta Barat Tahun 2008
Tabel. 2. Kejadian Kebakaran Tahun 2008
+3

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian menunjukkan bahwa petugas pemadam kebakaran di Dinas Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana (DPK-PB) DKI Jakarta di Jakarta Pusat sebagian besar

Wilayah DKI Jakarta berada di palau Jawa bagian barat sebelah.. Sebelah timur DKI Jakarta

Dalam penelitian ini, analisis hubungan kejadian kebakaran dengan masing- masing kode SPBK dibangkitkan dari luas kebakaran (Ha) yang terjadi di 30 lokasi kebakaran

Kecuali sebagian besar wilayah DKI Jakarta bagian Utara, Tenggara dan Selatan, sebagian Kab Tangerang bagian Utara dan Barat Laut, sebagian besar wilayah Kota Tangerang,

Terjadi di sebagian besar Bogor, Sukabumi bagian tengah dan utara, sebagian besar Cianjur, sebagian kecil Bekasi bagian barat daya, Karawang bagian selatan, Subang bagian

Daerah yang masuk kategori rawan kriminalitas berada di Kecamatan Semarang Barat, Semarang Tengah, Semarang Selatan, sebagian Semarang Timur, Gayamsari bagian

Dalam penelitian ini, analisis hubungan kejadian kebakaran dengan masing- masing kode SPBK dibangkitkan dari luas kebakaran (Ha) yang terjadi di 30 lokasi kebakaran

Terjadi di sebagian besar : Sukabumi tengah, Majalengka, Subang, Sumedang; Sebagian kecil : Bandung selatan bagian tengah dan timur, Bogor barat, Cianjur utara,