• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kisah Burung dan Hewan dalam Al Quran

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Kisah Burung dan Hewan dalam Al Quran"

Copied!
80
0
0

Teks penuh

(1)

1

Qashash Thair wa Hayawân fî Quran

Al-Karîm

1

Dr. Hamid Ahmad Al-Thahir

Kairo: Dâr Al-Ghad Al-Jadîd 1427 H- 2006 M

Penerjemah: Jejen Musfah dan Ojun Rojun

1

▸ Baca selengkapnya: menurut kamu bagaimana sikap sang anak terhadap ayahnya dalam kisah-ayah remaja dan burung pipit

(2)

2

Daftar Isi Pengantar Penulis

1. Burung Gagak dan Kedua Anak Adam 2. Unta Saleh

3. Biri-biri dan Ismail a.s. 4. Serigala dan Tujuh Sapi 5. Ikan Paus dan Yunus a.s.

6. Ular, Katak, Belalang, dan Kutu 7. Manna, Salwa, dan Anak Sapi Samiri 8. Sapi Bani Israil

9. Ikan, Musa, dan Khidir a.s. 10.Keledai Bul‘am

11.Semut, Burung Hud Hud, dan Nabi Sulaiman 12.Keledai Nabi ‗Uzair

13.Binatang Ashabul Ukhdud 14.Gajah Abrahah

15.Anjing Ashabul Kahfi

(3)

3

PENGANTAR PENULIS

Segala puji milik Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya. Kami memuji-Nya sebagai orang-orang yang bersyukur. Kami bersyukur pada-Nya sebagai orang-orang yang memuji. Tuhanku, pada-Mu kami bertawakal, dan pada-Mu kami kembali. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan kecuali Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad hamba-Nya dan Rasul-Nya. Ya Allah, salawat, salam, dan keberkahan semoga selalu bersama Nabi, keluarga, dan para sahabatnya semua.

Al-Quran Al-Karim kitab Allah. Allah menurunkannya sebagai petunjuk bagi seluruh alam. Al-Quran berisi petunjuk dan pelajaran. Banyak pelajaran terdapat dalam kisah-kisah dan peristiwa-peristiwa yang telah diceritakan Al-Quran. Sungguh indah bahwa beberapa petunjuk dan pelajaran disampaikan melalui lisan binatang dan burung. Kadang kita berkhayal bahwa mereka tidak mengerti sesuatu, namun kita heran saat menemukan bahwa beberapa binatang dan burung mengerti pengajaran Tuhannya lebih baik daripada sebagian Bani Adam.

(4)

4

1. BURUNG GAGAK DAN KEDUA ANAK ADAM

“Allah Swt. berfirman, „Dan ceritakanlah (Muhammad) yang sebenarnya kepada mereka tentang kisah kedua putra Adam, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka (kurban) salah seorang dari mereka (Habil) diterima dan dari yang lain (Qabil) tidak diterima. Dia (Qabil) berkata, „Sungguh, aku pasti membunuhmu!‟ Dia (Habil) berkata, „Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang yang bertakwa.‟

„Sungguh, jika engkau (Qabil) menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku tidak akan menggerakkan tanganku untuk membunuhmu. Aku takut kepada Allah, Tuhan seluruh alam.‟

„Sesungguhnya aku ingin agar engkau kembali dengan (membawa) dosa (membunuh)ku dan dosamu sendiri, maka engkau akan menjadi penghuni neraka; dan itulah balasan bagi orang yang zalim.‟ Maka, nafsu (Qabil) mendorongnya untuk membunuh saudaranya. Kemudian dia pun (benar-benar) membunuhnya, maka jadilah ia termasuk orang yang rugi.

Kemudian Allah mengutus seekor burung gagak menggali tanah untuk diperlihatkan kepadanya (Qabil) bagaimana dia seharusnya mengubur mayat saudaranya. Qabil berkata, „Oh, celaka aku! Mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, sehingga aku dapat mengubur mayat saudaraku ini?! Maka jadilah dia termasuk orang yang menyesal,‖ (QS Al-Maidah [5]: 27-31).

Adam durhaka pada Tuhan-nya. Adam memakan buah khuldi yang telah Allah haramkan baginya dan istrinya di surga. Sebagai hukumannya, Adam dan Hawa diturunkan ke bumi, meninggalkan surga dan beragam kenikmatannya. Hal ini merupakan kemenangan pertama bagi setan atas Adam dan keturunannya, setelah ia tercampakkan dari rahmat Allah karena menolak bersujud bersama para malaikat kepada Adam atas perintah Allah Swt. Namun, Allah menerima taubat Adam dan Hawa, dan mengampuni dosanya. Bumi merupakan tempat bertaubat, bukan tempat siksaan. Maka setan merasa sangat sedih menerima kenyataan tersebut. Ia pun menunggu kesempatan yang tepat untuk menggoda Adam dan keturunannya agar durhaka kepada Allah.

Kehidupan di dunia ini sangat sulit dan menyakitkan karena sebelumnya Adam dan Hawa merasakan kenikmatan surga. Di surga keduanya merasa kenyang, tidak lapar dan haus. Surga tempat istirahat, dan tidak melelahkan. Sebaliknya, hidup di dunia harus bekerja dengan gigih dan tekun. Bekerja agar mampu membeli makanan dan minuman. Jika tidak, maka perut akan berbunyi karena lapar, dan hati akan terbakar karena haus.

Adam dan Hawa dapat melihat dan merasakan kelelahan dan kesakitan tersebut, maka keduanya sangat sedih karena telah berpisah dengan surga dan beragam kenikmatannya. Keduanya pun menangis berharap dapat kembali merasakan kenikmatan dan kesenangan surga. Namun, tidak akan masuk surga kecuali setelah kematian. Sepasang suami-istri itu pun, Adam dan Hawa, menghadapi kehidupan dunia yang melelahkan. Adam a.s. berfikir serius: ―Aku dan Hawa hanya berdua, tidak ada orang ketiga bagi kami, maka untuk siapakah syariat yang telah Allah berikan

kepadaku?‖

(5)

5

terus berputar, hamillah Hawa. Ini merupakan kehamilan pertama di muka bumi. Adam merasa senang dan sangat bahagia. Tibalah saat melahirkan setelah sempurna sembilan bulan usia kandungan yang disertai kelemahan dan kepayahan yang dirasakan Hawa selama mengandung tersebut. Saat itu merupakan masa yang sulit dan mencemaskan. Bau kematian muncul berkali-kali pada saat itu, seakan-akan Hawa melihat dengan mata kepalanya sendiri.

Namun jeritan kedua bayi menghilangkan kesakitan dan kepayahannya. Senyum pun kembali menghampiri Adam dan Hawa. Allah telah menganugerahi keduanya dua anak kembar: laki dan perempuan. Adam memberi nama Qabil untuk anak laki-lakinya, dan menamai anak perempuannya: Iqlima. Iqlima memiliki paras yang sangat cantik, sehingga orang tidak akan berpaling jika memandang wajahnya.

Tidak berlangsung lama, setelah melewati beberapa bulan, Hawa hamil lagi. Di perutnya terdapat dua janin bayi lagi yang baru. Dalam masa hamil tersebut Hawa merasakan kebahagiaan dan juga kesakitan, sehingga ia merasa mendekati kematian sebelum anak kembarnya itu lahir. Sembilan bulan pun tiba. Lahirlah anak kembar itu: laki-laki dan perempuan. Laki-laki bernama Habil dan perempuan bernama Lubuda. Adam pun memuji Allah Swt. atas karunia anak tersebut.

****

Setiap orang akan percaya bahwa pendidikan bagi empat anak yang dilahirkan dalam waktu berdekatan sangat penting sekaligus sangat sulit, apalagi pada zaman tidak ada seorang pun di muka bumi ini kecuali sosok Ibu dan Ayah yang memiliki empat anak. Tidak ada penolong yang lain dalam kesulitan mendidik anak-anak tersebut.

Namun Allah Swt. memberkati Adam dalam merawat kedua anak laki-laki dan kedua anak perempuannya. Mereka tumbuh dewasa dalam pengawasan ayah mereka, Adam, dan kasih sayang Ibu mereka, Hawa. Dan Iqlima mampu menyejukkan bagi mereka yang memandangnya, karena dipenuhi kecantikan dan feminim, sedangkan Lubuda tidak secantik Iqlima. Hal tersebut tidak meresahkan Adam dan Hawa, keduanya mencintai Iqlima dan Lubuda sama besarnya.

Qabil dan Habil bekerja membantu Adam a.s. Qabil memilih menjadi petani, mencangkul, dan bercocok tanam, serta memanennya untuk kebutuhan makan keluarganya dan untuk memberi makan binatang ternak yang dipelihara oleh Habil. Habil mengembala ternaknya di ladang yang hijau, agar kualitas peliharaannya baik, sehingga semua anggota keluarganya bisa meminum susunya dan memakan dagingnya.

Sementara itu Iqlima dan Lubuda membantu Hawa di rumah. Keduanya menjaga hasil kebun, memasak, dan membuat pakaian dan penutup kepala dari bulu unta dan bulu kambing. Keduanya juga membuat beragam alat untuk beristirahat bagi ketiga laki-laki di rumah itu, yang dengan sekuat tenaga menyiapkan segala kebutuhan keluarga kecil mereka.

Tidak ada hal yang merusak kebahagiaan hidup keluarga sederhana itu. Hingga tibalah masanya anak-anak untuk menikah. Di bumi ini tidak ada yang lain kecuali anak-anak Adam. Allah membolehkan seorang saudara laki-laki menikah dengan saudara perempuannya. Namun dengan satu syarat!! Seorang saudara laki-laki tidak boleh menikah dengan saudara perempuannya yang dilahirkan pada kehamilan yang sama. Namun ia menikah dengan saudara perempuan adiknya. Dengan demikian Qabil menikah dengan Lubuda, dan Habil menikah dengan si cantik Iqlima.

(6)

6

Adam berniat mengabarkan hal tersebut kepada anak-anaknya. Adam berkata sambil tersenyum:

―Tibalah waktunya menikah bagi anak-anak kami, sehingga kami akan melihat cucu-cucu.‖ Kedua anak perempuan itu tersipu malu. Dan kedua anak laki-laki itu merasa bahagia. Adam pun melanjutkan perkataannya:

―Qabil akan menikah dengan Lubuda. Habil dengan Iqlima.‖

Saat senyum kebahagiaan mereka belum reda, Qabil berkata setengah berteriak, dan penuh dendam:

―Habil tidak akan pernah menikahi Iqlima. Iqlima hanya milikku. Aku lebih

berhak atas Iqlima dibanding Habil.‖

Dalam situasi penolakan penuh amarah itu, Adam yang pengasih tidak terpancing, bahkan ia berkata dengan lembut:

―Qabil…, Allah telah mengharamkan Iqlima untukmu. Ia hanya halal untuk Habil. Ini merupakan perintah Allah. Taatlah pada perintah-Nya.‖

Qabil menjawab:

―Aku tidak akan patuh kecuali pada jiwaku. Aku tidak akan pernah menikah

dengan Lubuda yang jelek. Seharusnya ia menikah dengan Habil.‖

Qabil memandang Iqlima. Ia menemukan kecantikan yang teramat sangat pada diri Iqlima. Ia pun merasakan letupan api yang menyala-nyala di dalam hati dan dadanya. Tidak seorang pun tahu bahwa itu adalah api kedengkian terhadap saudaranya Habil yang tak berdosa. Hanya saja Allah telah menghalalkan baginya menikah dengan Iqlima. Jadi bukan kehendak diri Habil.

Sementara itu di sudut yang jauh, dan tidak seorang pun yang tahu, setan menertawakan sikap Qabil, yakni setelah ia melihat kecantikan pada diri Iqlima, maka ia menyalakan api kedengkian, semangat, dan ketamakan di dadanya; melanggar perintah Allah Swt.

***

Qabil keluar rumah. Api kedengkian hampir saja membakar dan membunuh dirinya. Ia berjalan sambil menunduk tanpa arah tujuan? Ia hanya berjalan terus. Dalam

pikirannya hanya ada satu tujuan: ―Bagaimana caranya agar ia bisa menikah dengan Iqlima?‖

Inilah mangsa bagi setan. Tidak ada kesulitan baginya untuk merayu Qabil, maka ia menghampiri hati Qabil tanpa sepengetahuannya. Setan pun mulai berbisik:

―Habil. Anak itu memiliki tempat yang khusus di hati Adam. Ia lebih mencintai Habil daripada engkau. Adam akan menikahkannya dengan si cantik Iqlima, dan

menyisakan untukmu Lubuda yang jelek.‖

Qabil tergoda oleh rayuan setan. Setan pun menyalakan lagi api rayuannya:

―Habil. Seorang pengembala yang pekerjaannya hanya keluar bersama beberapa

kambing dan bersantai di sekitar piaraannya itu. Sementara engkau adalah seorang petani yang bangun pada pagi hari sebelum makhluk yang lain bangun. Engkau bersusah payah mencangkul tanah, menaburkan benih, bercocok tanam, dan memanen hasilnya. Lalu engkau hanya mendatapkan Lubuda, dan Habil berhasil memperoleh

Iqlima.‖

(7)

7

sehingga ia berbisik pada dirinya sendiri: ―Aku akan menikahi Iqlima dengan cara apa

pun!!‖

Akhirnya Qabil pulang ke rumah dan melihat ayahnya yang sedang menunggu kedatangannya. Kesedihan menyelimuti wajah Adam karena takut rayuan setan telah menguasai anaknya, padahal ia tak sedikitpun membedakan anak-anaknya. Adam berkata:

―Perhatikanlah anakku. Qabil, berkurbanlah kepada Allah dengan sesuatu dari hasil kebunmu dan sampaikanlah kurban itu hanya kepada Allah. Demikian pula Habil menyerahkan kurbannya kepada Allah.‖

―Siapa di antara kalian berdua yang diterima kurbannya, dialah suami Iqlima

yang cantik jelita.‖

Qabil dan Habil menerima tawaran tersebut. Keduanya pun bersiap-siap untuk berkurban kepada Allah.

***

Pada zaman dahulu terdapat banyak keajaiban. Di antara keajaiban itu adalah bahwa ketika seorang hamba berkurban, maka ia meletakkan kurbannya di atas puncak gunung. Jika Allah menerima kurbannya, maka api putih turun dari langit menyambarnya. Namun jika Allah menolaknya, maka kurban itu akan tetap ada, tidak ada yang mendekatinya, baik itu manusia maupun burung, bukti bahwa Allah tidak meridai hamba itu dan kurbannya.

Habil yang baik, pergi ke gunung membawa binatang peliharannya yang paling baik, yaitu yang paling gemuk dan paling kuat, untuk diberikannya kepada Tuhan sebagai kurban. Habil cinta pada Allah, dan pecinta memberi kekasihnya sesuatu yang paling berharga. Sedangkan Qabil, ia telah memilih untuk menikahi Iqlima. Terjadilah apa yang seharusnya terjadi. Ia tidak bersusah payah menyiapkan kurban yang baik, bahkan ia berkurban dengan buah dan sayur yang buruk, sebagai kurban untuk Tuhannya.

Dua bersaudara itu berkumpul di tempat yang sama. Keduanya mendaki gunung hingga mencapai puncaknya untuk meletakkan kurban mereka masing-masing. Habil dan Qabil menunggu waktu untuk mengetahui hasilnya. Waktu berlalu terasa sangat lambat. Habil merasa senang dan gembira, karena rida terhadap keputusan (qadha) yang akan diterimanya dari Allah. Qabil berharap pada dirinya sendiri, bahwa kurbannya akan diterima. Jiwanya dipenuhi dengki terhadap saudaranya.

Tibalah saat yang ditunggu-tunggu, api putih yang besar meluncur seperti panah, menyambar kurban Habil dalam sekejap mata. Sedangkan kurban Qabil masih utuh. Allah menghendaki Iqlima untuk Habil. Ia pun bersujud sebagai tanda syukur kepada Allah.

Setan tidak berhenti merayu Qabil, seperti anak kecil bermain sepak bola. Ia selalu menghadirkan rupa si cantik Iqlima dalam pikiran Qabil. Setan membisikinya bahwa Adam mendoakan Habil, dan tidak mendoakannya. Ia berbisik:

―Kerjakanlah sesuatu sebelum kau kehilangan pujaan hatimu.‖

―Aku akan membunuhmu, Habil,‖ katanya pada Habil.

Habil menjawab dengan tenang, ―Allah menerima amal orang-orang yang

bertakwa.‖

(8)

8 “‟Sungguh, jika engkau (Qabil) menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku tidak akan menggerakkan tanganku untuk membunuhmu. Aku takut kepada Allah, Tuhan seluruh alam.‟

„Sesungguhnya aku ingin agar engkau kembali dengan (membawa) dosa (membunuh)ku dan dosamu sendiri, maka engkau akan menjadi penghuni neraka; dan itulah balasan bagi orang yang zalim.‟ Maka, nafsu (Qabil) mendorongnya untuk membunuh saudaranya. Kemudian dia pun (benar-benar) membunuhnya, maka jadilah ia termasuk orang yang rugi,‖ (QS Al-Maidah [5]: 27-31).

Habil mampu membunuh Qabil atau melindungi dirinya sendiri, namun ia takut kemarahan Allah karena membunuh saudaranya. Ia lebih rida mematuhi perintah Allah, maka ia menolak tipu daya dan bisikan setan. Sedangkan Qabil sudah siap melakukan apa pun demi mendapatkan Iqlima. Qabil meraih batu dan mencari Habil. Saat Habil sedang tekun dengan pekerjaannya, Qabil memukul kepalanya dari arah belakang, darah mengalir, dan ia pun meninggal.

Di tempat yang jauh dari Qabil, setan tertawa riang, setelah ia mampu mengeluarkan kedua orang tuanya dari surge, ia juga mampu membujuk seorang saudara membunuh saudaranya sendiri setelah menanamkan rasa permusuhan di hati Qabil.

Itulah awal perbuatan dosa di dunia, awal darah mengalir, awal bangkai terbujur, dan dosa yang besar adalah membunuh manusia tidak bersalah dan membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan jalan hak; bahkan sama dengan membunuh seperenam penduduk bumi—jika manusia membunuh manusia lainnya.

***

Qabil tidak pernah melihat mayat sebelumnya, dan tidak tahu apa yang harus diperbuatnya ketika salah di antara mereka meninggal dunia. Ia pun menggendong mayat Habil, tidak tahu apa yang harus diperbuatnya. Lalu ia berjalan dengan wajah nampak kehausan dan penuh kasih. Saat merasa letih ia pun beristirahat, sambil duduk. Tiba-tiba ia melihat pemandangan yang langka, dua ekor burung gagak sedang bertarung, seperti dua orang yang sedang bergulat. Pertarungan semakin sengit sehingga salah satu dari burung itu terbunuh.

Burung gagak yang terbunuh jatuh ke bumi, seperti jatuhnya Habil. Burung gagak yang hidup turun menghampirinya dan meletakkannya di atas tanah. Kedua kakinya menggali lubang, menarik mayat burung itu dan memasukannya ke lubang, lalu menimbunnya dengan tanah. Kemudian burung gagak itu meninggalkannya setelah menguburkannya.

Qabil memahami bahwa Allah mengutus burung gagak itu kepadanya agar mengajarkannya cara menguburkan mayat saudaranya. Ia pun berucap, ―Oh, celaka aku! Mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, sehingga aku dapat menguburkan mayat saudaraku ini?‖ (QS Al-Maidah [5]: 31).

Qabil melangkah, lalu menggali lubang untuk saudaranya. Ia pun menguburkannya, sehingga menjadi kuburan pertama di muka bumi ini.

Adam merasa kehilangan setelah tahu bahwa anaknya terbunuh. Air matanya mengalir, sambil berdoa semoga Allah mengampuni Qabil. Kesedihannya teramat dalam, sehingga Allah menganugerahinya seorang anak lagi yang bernama Syits.

(9)

9

Demikianlah, burung gagak menjadi guru bagi manusia.

Pelajaran Berharga:

1. Setan merupakan musuh yang nyata bagi manusia, maka seyogyanya tidak taat padanya.

2. Taat terhadap perintah Allah dan menjalankan apa yang diwajibkan-Nya pada kita.

(10)

10

2. UNTA SALEH

Kaum ‗Ad hancur setelah kufur terhadap ayat-ayat Allah. Setelah kehancurannya, datanglah kaum yang kuat, berperawakan besar, dan bangunan rumahnya yang kokoh. Di antara kaum tersebut ada yang bernama Umar Al-wahid, yang berumur panjang. Kaum Tsamud, itulah nama kaumnya.

Allah telah menganugerahkan kaum tersebut kekuatan fisik, kesehatan, dan umur panjang. Di antara mereka ada yang membangun rumah dari pohon, daun, dan rantingnya. Namun rumah itu hancur sebelum pemiliknya meninggal. Mereka pun berfikir untuk membangun rumah di gunung, maka mereka membangunnya di bagian tempat tinggal mereka, yaitu Al-Ahqaf.

Di antara mereka ada yang sangat kuat, ia pergi mengambil batu besar, memahatnya, melubanginya, dan menjadikannya sebagai rumah untuknya dan keluarganya.

Inilah bukti kekuatan laki-laki kaum Tsamud. Setelah bergulirnya waktu, manusia lupa nikmat-nikmat Allah, sehingga mereka ingkar pada Allah. Mereka memahat patung, dan menyembahnya seperti yang pernah dilakukan kaum Nuh

sebelumnya, yaitu ‗Ad.

Allah bermaksud member petunjuk kepada mereka, dengan mengutus seorang laki-laki dari mereka, yang telah mereka kenal akhlak baiknya, keturunannya yang mulia, dan ucapannya yang dapat dipercaya.

Allah mengutus Saleh a.s. kepada mereka. Ia membawa misi agar kaumnya tidak menyembah patung, namun hanya menyembah Allah yang tidak ada sekutu bagi-Nya.

Saleh menghampiri kaumnya, mengingatkan mereka pada Allah:

―Wahai kaumku, sembahlah Allah. Tidak ada Tuhan bagi kalian selain-Nya.‖ Namun mereka menjawab:

―…mengapa engkau melarang kami menyembah apa yang disembah oleh nenek moyang kami? Sungguh, kami benar-benar dalam keraguan dan kegelisahan terhadap apa (agama) yang engkau serukan pada kami,‖ (QS Hud, [11]: 62).

Setelah berusaha mengingatkan mereka kepada nikmat-nikmat Allah yang telah mereka rasakan, Saleh berkata:

Dan ingatlah olehmu di waktu Tuhan menjadikan kamu pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah kaum „Aad dan memberikan tempat bagimu di bumi. Kamu dirikan istana-istana di tanah-tanahnya yang datar dan kamu pahat gunung-gunungnya untuk dijadikan rumah. Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah dan janganlah kamu membuat kerusakan di bumi,‖ (QS Al-A‘raf [7]: 74).

Tidak ada yang beriman kepada Saleh, kecuali orang-orang yang lemah dari kaumnya, yaitu mereka yang melihat asal-usul yang baik, dan ucapan yang dapat dipercaya dalam diri Saleh. Mereka beriman kepada utusan yang dapat dipercaya itu. Saleh selalu menyeru kaumnya, namun mereka tetap mendustakannya, dan tidak beriman padanya. Saleh tidak putus asa dan selalu sabar atas kejahatan kaumnya terhadap dirinya dan pengikutnya.

Semakin semangat Saleh berdakwah, semakin bertambah kaumnya mendustakannya. Mereka meminta Saleh sesuatu yang aneh.

―Mohonlah pada Tuhanmu agar menurunkan bukti kebenaranmu, sehingga kami

percaya pada kerasulanmu.‖

(11)

11

―Berkumpullah bersama kami pada hari raya. Kami akan meminta bukti dari

tuhan kami, dan engkau akan minta bukti pada Tuhanmu.‖

Tibalah hari raya itu. Kaum Saleh berkumpul dengan membawa patung-patung mereka. Mereka sepakat bahwa Saleh berdoa pada Tuhannya agar menunjukkan sebuah bukti kerasulan, sedangkan mereka berdoa pada tuhan mereka agar tidak mengabulkan doa Saleh.

Seorang laki-laki kaum Tsamud yang bernama Jundu‘ bin Amr berkata: ―Saleh, keluarkanlah dari batu besar ini seekor sapi betina, yang tidak seperti biasanya. Jika engkau mampu kami akan beriman.‖ Saleh berdoa pada Tuhannya.

Mereka berdoa pada tuhan mereka. Tidak henti-hentinya mereka menertawakan Saleh yang sedang berdoa pada Tuhannya. Tiba-tiba…batu itu pecah dan keluarlah seekor sapi betina yang sedang hamil tua. Ketika semua orang menyaksikannya, sapi itu

melahirkan anaknya. Jundu‘ dan sebagian kaum Saleh, beriman padanya, sedangkan

yang lainnya tetap dalam kekufuran.

Saleh berkata: ―Unta ini akan minum dalam satu hari, dan kalian minum di hari berikutnya.‖

Kaum Tsamud menyaksikan keajaiban sapi ini dan anaknya, yaitu meminum air sumur hingga habis. Lalu mereka meminum air susu sapi ini hingga kenyang.

Pada hari berikutnya giliran mereka yang minum air. Kemudian, esoknya sapi itu kembali menghampiri sumur, air pun naik, lalu sapi meminumnya sampai habis. Sapi itu pun kembali ke asalnya. Demikianlah, seharusnya Tsamud beriman dengan adanya bukti-bukti tersebut. Namun mereka tetap dalam kekufuran dan pembangkangannya.

***

Shunaim bin Harawan menikah dengan seorang perempuan kaya raya bernama Shaduq. Saat ia telah beriman, ia mendermakan hartanya untuk Saleh dan orang-orang mukmin. Namun Shaduq mencelanya karena ia seorang kafir.

Shaduq membawa anaknya dan menyembunyikan mereka di rumah anak-anak pamannya. ―Kembalikan anak-anakku,‖ kata Shunaim.

Shaduq menolak permintaan suaminya. Maka keduanya meminta pendapat anak-anak paman Shaduq, sedangkan mereka adalah orang-orang mukmin, sehingga mereka mengembalikan anak-anak itu pada Shunaim.

Kebencian Shaduq semakin bertambah terhadap Saleh a.s. karena suaminya mendermakan harta padanya, beriman, dan memisahkan dirinya dengan anak-anaknya.

Ia memiliki seorang teman, ‗Unaizah bint Ghanam, seorang kafir. Ia mempunyai seekor kambing yang sedang hamil tua. Ketika kambing itu melihat sapi Saleh, maka ia berlari mendahuluinya, namun ia tidak mendapatkan air untuk diminum. ‗Unaizah pun marah.

Keduanya sama marah terhadap terhadap Saleh dan orang-orang mukmin, dan sepakat untuk membunuh sapi itu, sehingga Saleh marah karenanya.

Saat keduanya memberikan sejumlah uang pada seorang laki-laki untuk membunuh sapi, ia menolaknya. Ia berfikir hal itu perbuatan keji. Sapi itu bukan sembarang sapi; sapi itu bukti yang datang dari sisi Allah.

(12)

12

Kemudian keduanya mencari teman lainnya sehingga jumlah mereka menjadi sembilan laki-laki. Mereka berbuat kerusakan di bumi, dan tidak memeliharanya. Mereka beranggapan bahwa Quddar bin Salaf merupakan orang yang paling dirindukan.

Saleh tinggal di masjid. Kaumnya memberi nama masjid itu ―Masjid Saleh.‖ Saat subuh tiba ia menemui kaumnya.

Quddar dan para sahabatnya berusaha membunuh Saleh a.s., namun malaikat menghalangi orang-orang itu, dan melempar mereka dengan batu.

Saat mereka putus asa karena tidak mampu membunuh Saleh, mereka mencari sapi. Quddar bin Salaf mengeluarkan anak panah dan meletakkannya di busurnya, menunggu hingga sapi keluar. Panah itu mengenai leher sapi, dan matilah sapi tersebut. Mereka menghampiri sapi dan menyembelihnya, serta memakan dagingnya.

Kaum Saleh sadar akan dosa yang telah mereka lakukan. Mereka menemui

Saleh sambil menangis. ―Temuilah anak sapi itu. Saat kalian menemukannya, semoga Allah mengampuni dosa kalian,‖ demikian saran Saleh a.s. kepada kaumnya.

Saat mereka sedang mencari anak sapi itu, mereka menemukannya telah masuk ke dalam batu besar, tempatnya keluar dulu bersama ibunya, setelah ia melenguh dengan keras.

Saleh tahu bahwa sekarang siksa telah datang pada kaumnya. Kehancuran pasti terjadi pada kaumnya. Ia pun berkata pada kaumnya:

―Bersenang-senanglah di rumah kalian selama tiga hari. Kemudian siksa akan

menghampiri kalian. Itulah janji yang pasti ditepati‖.

Tanda siksa itu adalah pada hari pertama wajah mereka akan menguning; hari kedua wajah mereka akan memerah; dan hari ketiga wajah mereka akan berubah hitam.

Pada hari pertama mereka mendapati wajah mereka menguning. Masing-masing mereka memberitahukan perubahan tersebut. Demikian pula pada hari kedua wajah mereka berubah merah, seperti yang dikatakan Saleh, sehingga mereka yakin terhadap siksa itu. Saleh dan orang-orang mukmin pergi meninggalkan negerinya menuju Syam.

Tibalah hari ketiga, wajah kaum Tsamud menghitam seperti aspal, maka mereka membalsem tubuh mereka, mereka saling mengkafani satu sama lain, menjatuhkan diri mereka di atas tanah, dan menunggu siksa yang akan mereka terima.

Datanglah sebuah teriakan yang keras dari langit (suara yang sangat keras, yang memekakkan telinga, dan mengakibatkan manusia mati karena kerasnya), sehingga hati mereka copot, dan mereka pun mati semuanya. Tidak ada yang tersisa dari mereka, besar maupun kecil. Tidak ada yang selamat kecuali seorang perempuan yang terus berlari; ia kafir, ia meninggal saat meminum air. Sebelum meninggal ia sempat menceritakan apa yang terjadi pada kaumnya.

Sedangkan Saleh dan orang-orang mukmin selamat. Mereka tinggal di Syam, hingga nabi Saleh a.s. meninggal dunia.

Nabi Muhammad Saw. pernah melewati negeri kaum Tsamud saat perjalanannya menuju Perang Tabuk. Orang-orang muslim minum dari sumur-sumur negeri itu dan mengadon gandum dengan air ini, maka Nabi meminta mereka memuntahkan air yang telah diminum oleh mereka dan tidak mengadon dengan airnya. Nabi meminta mereka minum dari sumur yang dipakai sapi tempat minumnya. Nabi dan para sahabat menangis saat memasuki negeri itu, sehingga mereka tidak mengalami apa yang terjadi pada kaum Tsamud sebelumnya.

Pelajaran Berharga:

(13)

13

2. Tidak boleh takabur dengan kekuatan yang Allah telah berikan pada seorang hamba, karena kekuatan Allah amat luas. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

3. Bersyukur atas segala nikmat Allah, dan tidak mengingkarinya. 4. Kemaksiatan akan mengakibatkan siksa yang besar.

(14)

14

3. BIRI-BIRI ISMAIL A.S.

Tidak ada yang beriman pada Ibrahim, kecuali Sarah anak perempuan pamannya, dan menjadi istrinya, dan anak laki-laki saudaranya, Luth. Setelah keluar dari Babil, Irak, Ibrahim sampai di Syam. Allah memberinya wahyu:

―Aku menjadikan tanah ini bagimu dan keturunanmu‖.

Ibrahim tinggal di Syam, hingga akhirnya tibalah masa kemarau yang panjang. Ibrahim dan Sarah pergi ke Mesir. Raja Mesir saat itu punya kebiasaan buruk, bahwa saat ia melihat wanita cantik, maka ia akan menjadikannya miliknya. Para pengawal menemui raja dan mengatakan bahwa wanita cantik itu bernama Sarah,

datang bersama suaminya. ―Bawalah wanita itu ke hadapanku,‖ perintah Raja. Ibrahim takut raja menyakiti Sarah jika ia tahu bahwa ia adalah istrinya.

Maka ia berkata pada Sarah, ―Di dunia ini, selain aku dan engkau tidak ada yang muslim. Jika engkau ditanya, katakanlah bahwa engkau adalah saudaraku.‖

Sarah setuju terhadap saran Ibrahim, dan berdoa kepada Allah Swt.: ―Ya Allah,

jika engkau mengetahui bahwa aku beriman padamu, kepada utusanmu, dan aku menjaga kemaluanku kecuali pada suamiku, maka jangan biarkan orang kafir

menguasaiku.‖ Raja bermaksud menyentuhnya, saat ia sudah hamper dekat, tiba-tiba

tangannya lumpuh. ―Apa yang terjadi?‖, Tanya Raja. ―Ini perbuatan Tuhanku,‖ jawab Sarah.

―Berdoalah pada Tuhanmu, aku tidak akan melukaimu.‖

Sarah mendoakannya, namun Raja kembali melakukan perbuatannya. Tangannya lumpuh lagi. Sarah kembali berdoa, setelah ia berjanji tidak akan menyentuhnya lagi. Namun Raja mengulanginya lagi untuk ketiga kalinya. Sarah

kembali mendoakannya. ―Ini adalah kebenaran. Demi Allah, aku tidak akan pernah melukaimu,‖ kata Raja.

Raja berkata kepada para pengawalnya, ―Apakah engkau membawa kepadaku

seorang perempuan atau setan?‖

Raja mengembalikan Sarah pada Ibrahim, dan memberinya uang dan hadiah, kambing dan sapi, dan memberinya seorang budak perempuan, Hajar.

Sarah kembali menemui Ibrahim, dan melihatnya sedang salat. ―Allah telah

melindungiku dari orang zalim. Raja memberiku Hajar,‖ kata Sarah.

Ibrahim kembali ke Syam bersama Sarah. Istrinya yang cantik itu mempunyai segala hal yang didambakan oleh setiap lelaki, kecuali satu hal, bahwa ia belum bisa melahirkan seorang anak, sedangkan ia kini telah menjadi seorang nenek dan Ibrahim seorang kakek.

Sarah merasakan apa yang ada dalam pikiran Ibrahim, maka ia memberikan Hajar pada suaminya untuk dinikahi. Allah memberinya seorang keturunan yang saleh yang kelak akan memakmurkan bumi setelah Ibrahim. Ibrahim menikah dengan Hajar yang berkebangsaan Mesir.

Setelah sembilan bulan mengandung, ia melahirkan seorang bayi laki-laki yang tampan untuk Ibrahim.

Setelah hamil sembilan bulan Hajar melahirkan seorang bayi laki-laki yang tampan, Ismail.

(15)

15

Ibrahim memiliki sifat yang mulia, sehingga disebut ―Bapak Dua Tamu‖, bahwa jika tidak ada tamu yang mengunjunginya, ia akan mencarinya. Pada saat ia sedang duduk di depan rumahnya, datanglah para lelaki yang berpakaian serba putih.

―Assalamu‘alaikum‖.

―Semoga keselamatan juga menyertai orang-orang yang kami tidak kenal,‖ jawab Ibrahim.

Ia menemui keluarganya, lalu menghidangkan daging anak sapi jantan yang gemuk, dan mempersilahkan para tamu untuk menyantapnya.

―Kalian tidak makan,‖ Tanya Ibrahim heran.

Namun mereka tetap tidak menyentuh makanan tersebut. ―Sebenarnya siapa

kalian. Sungguh kami sangat takut pada kalian‖.

―Jangan takut. Kami adalah malaikat Allah yang diutus bagi kaum Luth‖.

Sarah memerhatikan kejadian tersebut dari dekat, sehingga ia tertawa melihat ketakutan suaminya, karena sesungguhnya ia tahu bahwa mereka adalah para malaikat.

Malaikat berkata pada Sarah, ―Kami membawa kabar gembira dengan kehadiran

seorang anak yang cerdas.‖

Sarah terperanjat: seorang nenek-nenek yang mandul bisa melahirkan, dan suaminya seorang kakek-kakek; ini merupakan sesuatu yang ajaib.

―Aku sudah tua, bagaimana kau bisa menyampaikan kabar gembira ini,‖ Tanya

Ibrahim.

―Kami tidak main-main, janganlah termasuk orang-orang yang berputus asa,‖ para Malaikat meyakinkan.

―Orang yang berputus asa dari rahmat Allah adalah orang yang tersesat,‖ timpal

Ibrahim.

Sarah hamil, lalu melahirkan Ishaq; Ibrahim bahagia karenanya:

―Segala puji milik Allah yang telah memberikan Ismail dan Ishaq pada masa

tuaku. Sesungguhnya Allah Mahamendengar doa‖.

Sarah merasa kurang nyaman dengan kehadiran Hajar, maka ia meminta Ibrahim membawanya jauh darinya.

Allah mewahyukan pada Ibrahim untuk mengabulkan permohonan Sarah; pergi bersama Hajar dan Ismail. Allah akan memberkati dan menjadikan keturunannya penuh berkah.

Ibrahim berjalan hingga sampai ke negeri Paran—sekarang Jabal Makkah. Hajar masih punya setengah roti dan sekantung air. Ibrahim meninggalkannya bersama anaknya.

―Kau meninggalkan kami di sini tanpa air dan makanan, serta tak ada seorang

pun,‖ tanya Hajar.

Ibrahim tak menjawab. Ia tetap diam.

―Apakah Allah memerintahkanmu untuk melakukan hal ini?‖ ―Ya‖.

―Allah tidak akan menyia-nyiakan kami‖.

Kemudian Ibrahim pergi menuju Syam. Ia berdoa pada Allah: ―Tuhan kami, aku menempatkan keturunanku di lembah yang tidak ada tanaman di rumah-Mu tanah haram. Tuhan kami, jadikanlah hati manusia mencintai mereka, dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan, semoga mereka bersyukur.‖

(16)

16

Air dan roti telah habis. Hajar dan Ismail kehausan, namun tidak ada air. Ia berjalan sampai jauh dari Ismail, hingga ia tidak bisa melihat anaknya menangis kehausan. Hajar naik gunung Shafa; itulah tempat yang paling dekat, ia berharap bisa menemukan air.

Lalu ia berlari-lari kecil—karena merasa lelah, hingga sampai ke gunung Marwah, namun ia tidak menemukan air, dan tidak melihat seorang pun.

Ia kembali dan mengira bahwa anaknya telah mati.

Namun sungguh ajaib, di bawah kedua kaki Ismail terdapat air. Allah telah

memancarkannya. Hajar berseru, ―zum…zum‖; ia khawatir air itu akan segera habis.

Lalu ia minum, dan member minum anaknya dari sumur zam-zam.

Rombongan pedagang yang sedang lewat melihat seekor burung terbang mengitari gurun—pertanda ada air, maka mereka menghampiri tempat itu untuk mengetahui apa yang terjadi.

Mereka melihat air, Hajar, dan Ismail. Mereka minta izin tinggal di tempat ini.

―Kalian boleh tinggal di sini…namun kalian tidak berhak atas air ini,‖ kata Hajar. Akhirnya, Hajar dan Ismail tinggal bersama kabilah Jurhum, setelah mereka membawa seluruh keluarga mereka.

Ismail hidup di tengah-tengah mereka, dan belajar bahasa Arab. Mereka kagum terhadap kejujuran, ketekunan salat, dan kenabiannya. Mereka menikahkannya dengan salah satu perempuan mereka, sehingga Ismail memberikan keturunan dari mereka. Dan terpenuhilah janji Allah terhadap Ibrahim.

Ibrahim rindu pada anaknya, Ismail. Ia menyiapkan perbekalan untuk perjalanan dari Syam ke Makkah.

Saat Ibrahim bermaksud minum di sumur zam-zam, ia melihat seorang pemuda di bawah pohon yang sedang meraut anak panah di dekat sumur. Saat Ismail melihatnya, ia mengenalinya, maka ia bangkit menghampirinya untuk berbincang dengan ayahnya, kekasih Allah (khalîlullâh) yang tidak pernah dilihatnya dalam masa yang lama.

Kemudian Ismail mengajak Ibrahim ke rumahnya. Saat Ibrahim tidur ia bermimpi menyembelih anaknya—mimpi para nabi merupakan wahyu dari Allah. Ibrahim memanggil anaknya, Ismail.

Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!” Dia (Ismail) menjawab, „Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar,‘‖ (QS Al-Shaffât [37]: 102).

Ibrahim membawa tali dan pisau. Iblis menemui keduanya dengan menyamar sebagai seorang laki-laki.

―Kau hendak ke mana, pak tua?‖ ―Kami mau ke bukit‖.

―Mungkin saja setan menemuimu dalam mimpi dan menyuruhmu menyembelih

anakmu‖.

Ibrahim mengenali Iblis. ―Menjauhlah dariku, wahai musuh Allah‖. Lalu setan

menemui Ismail. ―Ayahmu akan membunuhmu, Ismail‖.

―Lakukanlah apa yang Allah perintahkan…karena patuh dan taat pada Allah,‖

kata Ismail.

(17)

17

―Ayah, jika akan menyembelihku, perkuatlah ikatannya, tutuplah mukaku, sehingga kau tidak melihat wajahku—yang bisa menyebabkan kau melanggar perintah Allah,

copotlah bajuku untuk mengkafaniku.‖

―Anakku, engkau sebaik-baik penolong dalam menjalankan perintah Allah‖. Ibrahim mengasah pisau yang akan memotong urat leher buah hatinya. Ismail berbaring dan menyerahkan segalanya pada Allah.

Tiba-tiba ada suara memanggil:

Wahai Ibrahim! Sungguh, engkau telah membenarkan mimpi itu. Sungguh, demikianlah kami member balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata,‖ (QS Al-Shaffât [37]: 104-106).

Ibrahim menoleh, ia melihat biri-biri putih tua, sebagai tebusan bagi Ismail. Ibrahim senang tiada tara.

Air matanya berlinang membasahi janggutnya yang putih, dipeluknya Ismail:

―Anakku, hari ini kau diserahkan padaku‖.

***

Tempat Ka‘bah al-bait al-haram telah hilang menjadi sebuah bukit rendah yang merah.

Allah mewahyukan pada Ibrahim, ―Bangunlah sebuah rumah untukku di sini.‖ Ibrahim menemui Ismail.

―Allah menyuruh kita menyucikan rumah-Nya untuk orang-orang tawaf, iktikaf,

rukuk, dan sujud‖.

Lalu keduanya menuju tempat rumah itu, dan bersiap-siap untuk membangunnya sambil berdoa:

Dan (ingatlah) ketika Ibrahim meninggikan pondasi baitullah bersama Ismail, (seraya berdoa), „Ya Tuhan kami, terimalah (amal) dari kami. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui. Ya Tuhan kami, jadikanlah kami orang yang berserah diri kepada-Mu, dan anak cucu kami (juga) umat yang berserah diri kepada-Mu dan tunjukanlah kepada kami cara-cara melakukan ibadah (haji), dan terimalah taubat kami. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Penerima taubat, Maha Penyayang. Ya Tuhan kami, utuslah di tengah mereka seorang rasul dari kalangan mereka sendiri, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat-Mu dan mengajarkan Kitab dan Hikmah kepada mereka, dan menyucikan mereka. Sungguh, Engkaulah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana,‖ (QS Al-Baqarah [2]: 127-129)

Ibrahim membuat tanda sebagai petunjuk bagi manusia untuk memulai dan mengakhiri tawaf.

―Anakku, carilah sebuah batu yang paling bagus untuk kujadikan tanda di sini‖.

Ismail datang terlambat. Saat ia datang, Allah telah menurunkan batu hitam (hajar aswad) dari langit pada Ibrahim.

―Ya Allah, kami telah selesai membangun rumah-Mu‖.

―Perintahkan orang-orang untuk melaksanakan haji‖.

―Bagaimana caranya, sedangkan suaraku lemah‖.

―Kewajibanmu adalah menyeru; Aku yang akan menyampaikannya. Katakanlah:

‗hai manusia, diwajibkan bagimu berhaji ke rumah tua, Ka‘bah. Maka kalian telah memenuhi kewajiban pada Tuhan.‘‖

(18)

18

Generasi terus berganti, keturunan Ismail bertambah banyak, hingga Allah mengutus pada mereka Muhammad Saw., cucu Ismail—yang disembelih, anak Abdullah—yang disembelih. Jadi beliau adalah putra dua orang yang disembelih.

Pelajaran Berharga:

1. Tidak putus asa dari rahmat Allah.

2. Tawakal pada Allah, dan selalu berdoa pada-Nya.

(19)

19

4. SERIGALA DAN TUJUH SAPI

Ya‘kub mempunyai 12 orang anak, dua yang terakhir adalah Yusuf dan adiknya Bunyamin. Ibunya meninggal saat keduanya masih kecil. Ya‘kub sangat menyayangi keduanya yang masih kecil.

Janji Allah pada Ya‘kub adalah bahwa akan keluar seorang nabi dari tulang

belakangnya, seperti halnya Ibrahim sebelumnya.

Pada suatu hari Yusuf menemui ayahnya untuk menceritakan mimpi anehnya. Yusuf kecil melihat sebelas bintang, matahari, dan bulan, sujud padanya. Yusuf bangun dari tidurnya ketakutan, dan menceritakannya pada ayahnya.

Ya‘kub sebagai nabi yakin bahwa anak ini akan memperoleh kedudukan yang mulia, dan akan terjadi sesuatu padanya.

Ia menasihati anaknya agar menyembunyikan mimpinya:

Wahai anakku! Janganlah engkau ceritakan mimpimu kepada saudara-saudaramu, mereka akan membuat tipu daya (untuk membinasakan)mu. Sungguh, setan itu musuh yang jelas bagi manusia,‖ (QS Yusuf [12]: 5) 31.

Ya‘kub tahu bahwa saudara-saudara Yusuf membencinya. Bagaimana seandainya mereka tahu tentang mimpi ini. Setan akan merayu mereka, agar permusuhan mereka semakin bertambah.

Namun Yusuf mengatakannya sehingga mereka tahu kisah mimpinya.

Saudara-saudara Yusuf berkumpul di tempat menggembala kambing mereka, salah seorang dari mereka berkata:

Sesungguhnya Yusuf dan saudaranya (Bunyamin) lebih dicintai ayah daripada kita, padahal kita adalah satu golongan (yang kuat). Sungguh, ayah kita dalam kekeliruan yang nyata,‖ (QS Yusuf [12]: 8) 32.

Yang lain berkata:

Bunuhlah Yusuf atau buanglah dia ke suatu tempat agar perhatian ayah tertumpah kepadamu, dan setelah itu kamu menjadi orang yang baik,‖ (QS Yusuf [12]: 9).

Yang tertua berkata, ―Janganlah kamu membunuh Yusuf, tetapi masukkan saja dia ke dasar sumur agar dia dipungut oleh sebagian musafir, jika kamu hendak berbuat,‖ (QS Yusuf [12]: 10).

Jika ia berada di dalam sumur, maka ia akan ditemukan oleh orang-orang yang sedang lewat, dan akan menjualnya.

Akhirnya mereka sepakat untuk membuang Yusuf ke sumur. Setelah mereka menaruhnya di dalam sumur, beberapa pedagang lewat, menawannya, dan menjualnya. Allah tidak akan membiarkan mereka membunuh Yusuf.

Mereka datang menemui Ya‘kub:

Biarkanlah dia pergi bersama kami besok pagi, agar dia bersenang-senang dan bermain-main, dan kami pasti menjaganya,‖ (QS Yusuf [12]: 12).

Ya‘kub berkata: ―Aku takut kalian pergi untuk bermain-main sehingga meninggalkan Yusuf sendirian, dan serigala memangsanya; Yusuf masih kecil sehingga

tidak akan mampu melindungi dirinya sendiri.‖

―Jumlah kami sepuluh, bagaimana mungkin serigala memangsanya; tidak akan mampu serigala melewati kami‖.

(20)

20

Mereka membawa Yusuf di atas bahu mereka. Setelah mereka tak terlihat lagi

oleh Ya‘kub, mereka melemparkannya ke tanah.

Mereka sangat terkejut dengan apa yang dikatakan Yusuf.

Yusuf mengatakan apa yang akan dilakukan mereka terhadapnya, bahwa mereka akan melemparkannya ke dalam sumur. Kesesatan mereka makin bertambah dan menginginkan membunuhnya. Mereka melucuti baju Yusuf dan melemparkannya ke sumur.

Mereka telah menyembelih seekor kambing kecil, dan melumurkan darahnya ke baju Yusuf.

Lalu mereka kembali ke Ya‘kub seraya menangis:

Wahai ayah kami! Sesungguhnya kami pergi berlomba dan kami tinggalkan Yusuf di dekat barang-barang kami, lalu dia dimakan serigala;…,‖ (QS Yusuf [12]: 17) 33

Demi Allah Yusuf tidak dimakan oleh serigala. Ia telah dianiaya dalam kebohongan yang telah mereka perbuat, dan kesepakatan jahat yang telah mereka rencanakan.

Mereka menunjukkan baju Yusuf pada ayahnya, namun ia tidak menemukan satu pun sobekan; sepertinya serigala telah mengoyak baju Yusuf, memakannya, namun tidak meninggalkan bekas taring di bajunya.

Ya‘kub berkata:

Sebenarnya hanya dirimu sendirilah yang memandang baik urusan yang buruk itu; maka hanya bersabar itulah yang terbaik (bagiku). Dan kepada Allah saja memohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan,‖ (QS Yusuf [12]: 18).

Ia tidak memiliki apa pun sekarang kecuali sabar atas ketentuan (qadhâ‟) Allah. ***

Si kecil Yusuf menangis di dalam sumur. Tiba-tiba ia melihat timba kecil yang diikat tali turun ke sumur.

Maka Yusuf bergantung pada tali, dan keluar bersamanya. Laki-laki yang sedang menimba berteriak:

Oh, senangnya, ini adalah seorang anak muda!” (QS Yusuf [12]: 19). Laki-laki itu bermaksud mengambil air untuk rombongan pedagang.

Namun ia mendapat seorang anak yang tampan. Ia akan menjualnya di Mesir. Tidak ragu lagi bahwa ia akan mendapatkan keuntungan uang yang banyak.

Yusuf yang mulia anak orang yang mulia ditawan untuk dijual, dengan penjualan yang rendah di Mesir. Ia dibeli oleh seorang perdana menteri Mesir.

Ia meminta istrinya untuk memelihara Yusuf kecil, pintar, dan tampan, sehingga ia tidak kehilangan masa kecilnya.

Sang istri merawat Yusuf, dan menyaksikannya tumbuh dewasa di hadapan matanya, sehingga ia mencintainya dan merindukannya.

Ia meliburkan para pembantunya, dan mengunci seluruh pintu.

Ia hendak berbuat jahat terhadap Yusuf, namun Yusuf lari di depannya dan ia mengejarnya di belakang, sehingga baju belakangnya robek. Pintu terbuka dan di depan

pintu ada perdana menteri dan anak paman istrinya. Istrinya segera berdusta: ―Yusuf bermaksud jahat padaku.‖

Anak pamannya berkata, ―Kita lihat baju Yusuf. Jika sobeknya di depan maka

engkau yang benar, namun jika sobeknya di belakang maka engkau dusta, dan Yusuf

(21)

21

Semua menyaksikan kebenaran Yusuf. Allah telah menyelamatkannya. Istri perdana menteri ingin menghentikan berita buruk tentangnya, maka ia mengumpulkan setiap istri menteri. Ia menyediakan ruangan bagi mereka, buah-buahan, memberikan pada setiap wanita itu sebuah pisau, dan meminta Yusuf untuk keluar.

Saat para wanita itu menyaksikan keindahan, ketampanan, dan cahaya Yusuf, mereka memotong jari-jari mereka sebagai ganti buah-buahan.

Para suami takut istri-istri mereka tergoda Yusuf, maka mereka memasukkan Yusuf ke dalam penjara; ia dizalimi, karena tidak pernah melakukan kejahatan atau berbuat dosa.

***

Pada masa itu Raja Mesir telah memerintah dalam waktu yang lama. Sebagian dari mereka ingin membunuhnya. Maka mereka menaruh racun pada makanan roti yang dibuatkan oleh tukang roti, dan berusaha memasukkan racun pada minumannya, namun si pemberi minum menolaknya.

Raja mengetahui rencana jahat ini, dan menyuruh memenjarakan pembuat roti dan pemberi minum hingga ada keputusan tentang keduanya.

Di dalam penjara keduanya bertemu Yusuf.

Yusuf memiliki akhlak yang baik, semua orang menyukainya. Pada suatu malam keduanya bermimpi. Si pemberi minum bermimpi dirinya memberi minum Raja, sama seperti biasanya.

Si pembuat roti bermimpi dirinya disalib di papan kayu, dan burung mematuk kepalanya. Yusuf menafsirkan mimpi keduanya, bahwa pemberi minum akan mendapatkan kembali pekerjaannya, dan akan bebas dari kehancuran.

Sedangkan pembuat roti akan disalib seperti mimpinya dan meninggal.

Yusuf berpesan agar pemberi minum menceritakan kisahnya pada Raja, sehingga ia dikeluarkan dari penjara—yang dimasukinya karena sebuah kezaliman.

Namun ia lupa pada pesan Yusuf, sehingga ia tetap dalam penjara selama sembilan tahun.

Dalam tidurnya Raja bermimpi tujuh sapi gemuk keluar dari sungai Nil. Lalu datang tujuh sapi kurus memakan sapi-sapi gemuk itu. Ia juga melihat tujuh tangkai padi yang hijau dan tujuh tangkai padi yang kering.

Raja bangun dari tidurnya dengan perasaan terkejut.

Lalu ia tidur lagi, dan memimpikan hal yang sama. Ia pun bangun sambil berteriak.

―Berikanlah pendapat tentang mimpiku; apa makna mimpi itu,‖ katanya. ―Mimpi itu tak lebih sekedar pikiran dan kekhawatiran saja,‖ kata mereka. ―Tidak…tidak…Mimpi itu datang berulang kali‖.

Maka pemberi minum itu ingat tentang Yusuf, pemuda yang menafsirkan mimpinya.

―Utuslah aku untuk menemuinya di penjara‖. Ia menemui Yusuf di penjara, dan

menceritakan mimpi Raja padanya. Yusuf menafsirkan mimpi itu padanya:

―Kalian bercocok tanam selama tujuh tahun terus-menerus, lalu tujuh tahun berikutnya adalah musim kemarau, tidak ada hujan dan tanaman.

Kemudian datang satu tahun, di mana ada hujan, kalian bercocok tanam, hewan-hewan makan dan minum maka kalian memeras susunya dan meminumnya.‖

Saat Raja mendengar hal itu jiwanya merasa tenang.

(22)

22

Saat utusan Raja menemui Yusuf di penjara ia berkata, ―Temuilah Raja, tanyakanlah padanya tentang keburukanku terhadap para wanita.‖

Maka Raja mengumpulkan para wanita. ―Apa yang telah Yusuf lakukan pada

kalian?‖ ―Kami tidak mengetahui keburukannya. Demi Allah, sesungguhnya ia tidak bersalah‖.

Istri perdana menteri berkata, ―Sekarang, telah jelas kebenaran. Yusuf bebas, dan aku yang zalim disebabkan oleh nafsu yang mendorongku berbuat jahat (nafs al-ammârah bi al-sû‟).‖ Raja mengetahui bahwa Yusuf tak bersalah, maka ia mengeluarkannya dari penjara, dan membawanya ke istananya.

―Hari ini, engkau di samping kami memiliki tempat terpercaya, maka pilihlah

apa yang kau suka,‖ kata Raja.

―Jadikanlah aku bendahara Mesir, karena aku orang yang cerdas dan mampu menjaga,‖ jawab Yusuf.

Raja memberinya kedudukan perdana menteri. Yusuf menjadi perdana menteri setelah dipenjara dan mengalami perbudakan, untuk memulai hidup yang baru.

***

Kelaparan dan kekeringan telah melanda seluruh negeri, khususnya Mesir dan Syam. Kelaparan telah menimpa saudara-saudara Yusuf.

Maka mereka datang ke Mesir; karena Rajanya telah mengeluarkan perintah untuk menyimpan makanan dan biji-bijian, sebagai persiapan untuk tahun-tahun kemarau seperti mimpinya.

Mereka membawa barang-barang untuk ditukarkan dengan makanan. Mereka tidak tahu bahwa mereka datang pada Yusuf, perdana menteri Mesir.

Mana mungkin, Yusuf telah dilemparkan ke sumur, mereka menyangka bahwa ia telah meninggal. Yusuf menunjukkan kasih sayang pada mereka seperti layaknya seorang teman, mereka menceritkan tentang saudaranya yang hilang, Yusuf, dan

saudaranya yang kedua yang ada di Syam beserta ayahnya, Ya‘kub.

―Aku tidak akan pernah memberi kalian makanan sampai engkau membawa saudara kalian padaku,‖ kata Yusuf. Ia memerintahkan para tentaranya untuk

mengembalikan barang-barang mereka tanpa sepengetahuan mereka, hingga mereka kembali lagi padanya untuk kedua kalinya.

Mereka kembali pada Ya‘kub:

―Ayah, perdana menteri menolak memberikan makanan pada kami kecuali kami membawa saudara kami, Bunyamin.‖

―Bagaimana aku memercayakan Bunyamin pada kalian; aku telah

memercayakan Yusuf pada kalian sebelumnya, namun kalian menghilangkannya?‖

Mereka membuka tas-tas mereka, dan mendapati barang-barang bawaannya

telah kembali pada mereka. ―Ayah, inilah bukti kejujuran kami‖.

Lalu mereka bersumpah atas nama Allah akan mengembalikan Bunyamin pada

Ya‘kub—kecuali Allah menentukan hal lain, maka ia mengizinkan mereka membawa Bunyamin.

Bunyamin pergi ke Mesir bersama saudara-saudaranya. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi di sana nanti.

***

(23)

23

bawaannya. Pengawal memasukkan takaran kerajaan itu di dalam barang bawaan Bunyamin.

Lalu seseorang berteriak, ―Telah hilang takaran kerajaan atau telah dicuri.

Barangsiapa mengembalikannya baginya hadiah makanan yang baik.‖

―Kami adalah anak-anak seorang nabi, tidak mungkin mencuri?‖

Para pengawal memeriksa setiap barang bawaan. Barang-barang bawaan saudara-saudara Yusuf diperiksa terlebih dahulu, lalu barang Bunyamin, dan menemukannya. Kemudian mereka memberitahukan hal tersebut pada Yusuf, seperti benar-benar terjadi—Yusuf minta mereka menyimpan rahasia ini.

Saudara-saudara Yusuf berusaha membela Bunyamin di hadapannya: ―Ambillah

salah satu di antara kami sebagai gantinya, karena ayahnya sudah sangat tua.‖

―Kami tidak akan menahan kecuali orang yang ketahuan sebagai pencuri,‖ kata Yusuf. Saudara-saudaranya tidak bisa membujuk Yusuf, bagaimana mereka akan

menemui Ya‘kub.

Padahal mereka telah bersumpah atas nama Allah untuk mengembalikan anaknya. Mereka telah menghilangkan Yusuf atas kehendak mereka sendiri.

Mereka berdiskusi atas masalah ini.

Yang tertua berkata, ―Pulanglah pada ayah kalian, katakan bahwa anaknya telah

mencuri; jika tidak percaya, tanyakanlah pada orang-orang yang pergi bersama kami.‖ Saudara Yusuf pulang menemui Ya‘kub. Ia merasa sangat sedih hingga matanya buta. Ia ingat Yusuf kecil yang sebelumnya telah dihilangkan oleh saudara-saudaranya.

―Pergilah kalian, carilah Yusuf. Aku merasakan kehadirannya‖.

―Yusuf…Yusuf. Engkau akan meninggal saatmasih mengingat Yusuf‖.

***

Saudara-saudara Yusuf kembali ke Mesir. Mereka hanya membawa sedikit barang. Saat menemui Yusuf mereka memohon agar mempercayai mereka, dan memberikan mereka makanan.

―Apakah kalian ingat apa yang kalian lakukan pada Yusuf dan saudaranya di masa lalu; saat kalian adalah orang-orang bodoh‖.

Sekarang mereka yakin kebenaran ucapan ayah mereka. Orang yang sedang berbicara pada mereka itu adalah Yusuf.

―Engkau adalah Yusuf‖.

―Ya‖. ―Aku Yusuf dan ini saudaraku. Sungguh, Allah telah melimpahkan karunia-Nya kepada kami. Sesungguhnya barangsiapa bertakwa dan bersabar, maka sungguh, Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang yang berbuat baik,‖ (QS Yusuf [12]: 90).

Mereka berkata, ―Demi Allah, sungguh Allah telah melebihkan engkau di atas kami, dan sesungguhnya kami adalah orang yang bersalah (berdosa),‖ (QS Yusuf [12]: 91).

―Semoga Allah memaafkan kalian. Mengampuni dosaku dan dosa kalian.

Pergilah kalian membawa bajuku ini, dan usapkanlah pada wajah ayahku hingga ia akan

kembali bisa melihat,‖ kata Yusuf.

―Lalu bawalah ia ke sini; bawalah seluruh keluarga kalian ke Mesir‖.

Saat rombongan pulang dari Mesir, Ya‘kub mencium wangi baju Yusuf, dan

berkata pada anak-anaknya:

(24)

24

Mereka menyangka bahwa ia gila, namun datanglah anaknya yang membawa baju Yusuf, mengusapkannya pada wajahnya, maka penglihatannya kembali normal. Kemudian anak-anaknya mohon maaf pada Ya‘kub. Ya‘kub telah memaafkan mereka.

Mereka semua bersiap-siap untuk perjalanan ke Mesir. Yusuf menyambut mereka. Tiba-tiba semuanya sujud pada Yusuf, sebelas saudara, ibu, dan ayahnya.

Yusuf segera membawa ibu dan ayahnya ke atas singgasana. ―Ayahku, inilah

makna mimpiku saat aku masih kecil; sebelas bintang, matahari, dan bulan sujud padaku. Allah telah menunjukkannya, menyelamatkanku dari kejahatan, dan mengampuni saudara-saudaraku‖.

Semua keluarga Ya‘kub hidup di Mesir sejak saat itu. Yusuf berseru pada Allah: ―Tuhanku, sesungguhnya Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebagian kekuasaan, dan telah mengajarkan kepadaku sebagian takwil mimpi. (wahai Tuhan) Pencipta langit dan bumi, Engkaulah pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan muslim, dan gabungkanlah aku dengan orang yang saleh,‖ (QS Yusuf [12]: 101) 40

Pelajaran Berharga:

1. Perbuatan maksiat tidak akan bermanfaat bagi hamba. 2. Dampak kebohongan itu sangat besar.

3. Allah akan menolong hamba-hamba-Nya yang mengesakan-Nya dari kehancuran, memberi mereka nikmat, menjadikan mereka para pemimpin, dan menjadikan mereka para pewaris.

4. Tidak putus asa dari rahmat Allah. Kebahagiaan setelah penderitaan itu selalu dekat.

5. Memaafkan orang yang bersalah merupakan sifat para nabi dan orang-orang saleh.

(25)

25

5. IKAN PAUS DAN YUNUS A.S.

Pada masa lalu di Irak terdapat kota Mushol, kota besar yang terdiri dari banyak wilayah, dan wilayah yang paling besar adalah wilayah Nainawa.

Di wilayah ini terdapat banyak sekali nikmat Allah. Kebun-kebun yang hijau berbuah lebat, air sungai terpancar di sekitarnya untuk diminum dan untuk bercocok tanam. Demikian juga binatang ternak—sapi dan kambing—minum air sungai, dan perutnya kenyang dengan makanan yang cukup tersedia, sehingga mereka menghasilkan susu dan daging. Kebaikan sangat banyak terdapat di Nainawa.

Sayang, penduduk Ninawi tidak pandai mensyukuri nikmat-nikmat Allah tersebut.

Mereka kafir terhadap Allah, menyembah patung, bintang, dan tetap dalam pembangkangan dan kekufuran.

Allah memilih seorang laki-laki saleh dari mereka. Ia menyembah Allah dan tidak kafir pada-Nya.

Laki-laki saleh itu adalah Yunus bin Matta. Mereka mengenal kejujuran, kemuliaan, dan kebaikan akhlaknya di tengah-tengah masyarakat.

Yunus menyeru penduduk Ninawi untuk hanya menyembah Allah, tidak menyekutukan-Nya, dan tidak kafir pada-Nya; meninggalkan ibadah pada bintang dan patung.

Penduduk Ninawi berjumlah 120.000 laki-laki dan perempuan.

Yunus hanya sendirian, tidak ada seorang pun penduduk Ninawi yang beriman. Yunus mengingatkan mereka tentang nikmat-nikmat Allah yang diberikan pada mereka, yaitu tanah yang subur menghasilkan buah-buahan, sungai-sungai yang mengalir di atasnya, hewan-hewan yang menghasilkan susu untuk diminum anak-anak, dan daging untuk dimakan orang-orang dewasa.

Allah telah member mereka semua kenikmatan di atas, namun mengapa mereka tidak menyembahnya? Bintang hanyalah ciptaan Allah, maka sembahlah Yang menciptakannya, patung adalah hasil rekaan tidak bermanfaat dan tidak mencelakakan, tidak mendengar dan tidak mampu bicara.

Akal mana yang menerima ibadah terhadap patung-patung yang tidak memberi manfaat dan tidak mampu mencelakai.

Namun kaumnya tetap dalam pembangkangan dan kekafiran. Kekafirannya semakin bertambah, mereka mengejek Yunus a.s. Maka ia menasihati mereka agar takut pada siksa Allah dan pada kemarahan-Nya pada mereka.

Saat Yunus sering menakuti mereka dengan siksa, mereka tidak mempercayainya, dan malah mengejeknya.

Allah mewahyukan pada Yunus untuk mengingatkan mereka dan menakuti mereka dengan siksa. Yunus melaksanakannya, mengingatkan mereka pada kemarahan Allah, dan menjanjikan mereka bahwa siksa akan turun tiga hari lagi.

Namun kaumnya tidak juga mau beriman, sehingga Yunus putus asa terhadap keimanan kaumnya. Jiwanya merasa sangat sedih.

Ia tidak menunggu wahyu Allah turun padanya. Ia meninggalkan Ninawi dan kaumnya setelah merasa putus asa atas keimanan kaumnnya.

Satu hari berlalu dari waktu yang dijanjikan Yunus tentang turunnya kemarahan Allah pada kaumnya.

(26)

26

Pada hari ketiga mereka melihat tanda siksa yang dijanjikan Yunus pada mereka, berupa mega hitam yang mengitari kepala-kepala mereka. Ini pasti siksa dan kemarahan Allah.

Namun di manakah gerangan Yunus sekarang, mereka ingin beriman padanya? Ia telah meninggalkan mereka dan negeri mereka.

Mereka semua keluar rumah berharap Yunus bersama mereka berdoa kepada Allah agar mengangkat siksa. Mereka menyebar ke setiap jalan sambil berteriak, memohon pada Allah, dan menyatakan taubat.

Ibu-ibu menangis keras, laki-laki berteriak, anak-anak menangis, bahkan binatang-binatang—sapi dan kambing—merasa sedih, sepertinya mereka menangis saat melihat siksa.

Penduduk Ninawi telah benar-benar taubat, maka Allah mengangkat siksa dari mereka. Mereka semua beriman pada Allah. Mereka mohon ampun atas segala dosa yang telah mereka perbuat, dan memohon agar mengembalikan Yunus yang saleh, yang telah meninggalkan mereka.

Yunus telah meninggalkan Ninawi, ia putus asa terhadap keimanan kaumnya. Yunus, seorang nabi, seharusnya ia tidak melakukan hal itu kecuali atas izin Allah.

Namun ia telah meninggalkannya tanpa petunjuk dan perintah dari Allah.

Yunus berdiri di pinggir pantai. Ia melihat sebuah perahu siap berlayar, ia menemui pemiliknya agar ia bisa berlayar bersama mereka. Orang-orang sepakat membawanya.

Para penumpang melihat Yunus salat dan banyak menyebut nama Allah.

Mereka tahu bahwa ia adalah nabi Allah, maka mereka sangat mencintainya sehingga tidak membebaninya dengan suatu pekerjaan. Mereka melayani Yunus.

Di tengah laut ombak semakin meninggi datang silih berganti.

Ombak menghantam perahu. Mereka melemparkan banyak barang-barang bawaan mereka karena perahu sangat berat.

Sepertinya isi perahu masih terasa berat, namun sudah tidak ada barang lagi, sehingga mereka harus melemparkan salah satu penumpang agar mereka semua tidak tenggelam.

Pimpinan perahu meminta diadakan undian. Mereka juga memasukkan nama Yunus a.s. dalam undian ini.

Nama Yunus keluar pada undian pertama, namun mereka tidak mau melemparkan nabi Allah ke laut. Mereka mencoba mengundi lagi. Keluarlah nama Yunus untuk kedua kalinya, namun bagaimana mungkin mereka tega melemparkan laki-laki saleh ini ke tengah laut.

Mereka mengundi lagi untuk ketiga kalinya. Hasilnya tetap pada Yunus a.s. Semua merasa sedih atas hasil ini. Mereka mulai membuka baju Yunus. Ia menjatuhkan dirinya sendiri ke laut. Semua yakin akan kematiannya. Perahu meluncur jauh meninggalkannya.

Yunus mengucapkan sahadat, sesungguhnya tidak ada tuhan kecuali Allah, saat hendak terjun ke laut. Ia yakin tentang kematiannya. Dia berenang di dasar laut menunggu saat kematiannya.

Ikan paus besar datang melahap Yunus a.s. Ia berada di dalam kegelapan perut ikan ini, dan kegelapan laut.

(27)

27

―Ya Allah, aku sujud padamu di tempat yang tidak pernah seorang pun sujud‖. Ikan paus berenang ―bersama‖ Yunus di laut, sementara ia berenang dalam

kegelapannya.

Yunus mendengar batu kecil dan dua ikan paus kecil bertasbih pada Allah. Ia menyadari bahwa ia telah membuat Tuhannya marah karena meninggalkan Ninawi tanpa perintah dari-Nya, maka air matanya mengalir. Lalu ia berdoa pada Allah Swt.

―Tidak ada tuhan kecuali Engkau. Maha Suci Engkau. Sesungguhnya aku

termasuk orang-orang yang zalim,‖ kata Yunus.

Yunus memanggil Tuhannya dalam kegelapan: kegelapan laut, kegelapan perut ikan paus, dan kegelapan malam.

Di langit, malaikat mendengar tasbih Yunus di dalam perut ikan paus, bahwa ia menyucikan Tuhannya dan mengingat-Nya. Ia mengucapkan kalimat ini terus-menerus:

Lâ ilâha illa anta subhânaka innî kuntu minadz-dzâlimîn‖. Maka malaikat berkata pada Allah Swt.:

―Tuhan kami, kami mendengar suara yang lemah di satu tempat yang langka‖. ―Itu suara Yunus. Ia telah durhaka padaku, maka Aku menahannya di dalam perut ikan paus di tengah lautan,‖ kata Allah.

―Yunus…hamba yang saleh, yang mengerjakan amal saleh siang dan malam,‖

malaikat heran.

―Ya‖.

Malaikat memohon pada Allah agar membebaskan Yunus. Allah mengabulkannya.

Allah menyuruh ikan paus itu agar mengeluarkan Yunus dari perutnya, dan mengantarkannya di daratan.

Ikan paus itu meletakkan Yunus di daratan. Ia dalam keadaan telanjang tanpa sehelai benang pun, maka Allah menciptakan untuknya pohon labu air. Ia dalam keadaan sakit, badannya lemah, seperti anak kecil tanpa pakaian.

Yunus memakan buah labu dan duduk berteduh di bawah pohon itu. Ia bersyukur pada Allah karena telah menyelamatkannya dari kedukaan dan kesusahan yang telah dialaminya.

Ketika kesehatan dan kekuatannya sudah pulih, Allah menyuruhnya kembali ke Ninawi. Ia kembali ke sana, maka 120.000 orang beriman padanya. Allah telah menerima taubatnya.

Pelajaran Berharga:

1. Tidak melakukan maksiat pada Allah Swt. Jika terjadi kemaksiatan maka harus segera bertaubat.

2. Tidak putus asa terhadap rahmat Allah, walaupun kematian siap menjemputmu.

(28)

28

6. ULAR, KATAK, BELALANG, DAN KUTU

Ibrahim masuk Mesir ditemani oleh istrinya Sarah a.s. Disebutkan bahwa Raja Mesir memberi istrinya seorang budak perempuan, Hajar—baca kisah Biri-biri Ismail a.s. Di Mesir, Allah menyampaikan kabar gembira pada Ibrahim, bahwa salah satu keturunannya akan mengalahkan Raja Firaun. Ibrahim meriwayatkan kisah ini, sehingga orang-orang Mesir akan menyebarkannya setelah kematiannya. Mereka percaya kebenaran kisah ini.

Bani Israil masuk ke Mesir bersama paman mereka, Ya‘kub. Ia sendiri keturunan Israil. Garis keturunan mereka sampai pada Ya‘kub. Mereka membicarakan

kabar baik ini hingga sampai pada mata-mata hakim, menteri, dan petinggi Mesir. Maka mereka menyampaikan kisah itu pada Raja Mesir saat itu, Firaun.

Firaun khawatir dengan nasib kerajaannya yang luas. Apalagi, kekayaan dan tanah-tanah Mesir ada dalam kepemilikan Bani Israil—setelah mereka memiliki harta yang banyak, mereka juga menguasai bidang industri, sehingga mereka lebih kaya dari orang-orang Mesir.

Dengan demikian, Firaun menetapkan untuk menguasai kekayaan, rumah-rumah, dan tanah-tanah milik Bani Israil. Ia mengembalikan keadaan mereka tidak memiliki apa pun seperti saat kedatangan pertama mereka ke Mesir. Lebih dari itu, ia menjadikan mereka pembantu bagi orang-orang Mesir. Ia memaksa mereka untuk membangun kota-kota, menggali tanah-tanah, dan menyerahkan pada mereka pekerjaan-pekerjaan sulit yang membutuhkan kesungguhan dan kepayahan yang berat.

Saat ini Bani Israil merindukan kehadiran anak itu yang berasal dari keturunan Ibrahim, yang akan membebaskan mereka dari Firaun dan tentara-tentaranya. Kisah ini pun diyakini kebenarannya oleh Firaun, maka ia membuat perintah baru. Ia memerintahkan untuk menyembelih setiap bayi laki-laki yang lahir, dan membiarkan bayi perempuan dari Bani Israil, sehingga ia membunuh anak yang akan menjadi penghancur kerajaannya. Ia, si pendosa lupa bahwa Allah mampu melakukan apa pun sesuai kehendaknya; dan ia sendiri adalah hamba Allah Swt.

Saat jumlah laki-laki Bani Israil sedikit, penduduk Mesir berkata, ―Anak laki -laki disembelih, orang tua meninggal dunia, maka Bani Israil akan lenyap, dan kami tidak akan menemukan orang yang akan membantu kami.‖

Firaun memutuskan untuk membunuh seluruh anak-anak dalam satu tahun, dan membiarkan mereka dalam tahun berikutnya. Demikian kebijakan itu berlaku. Para dukun anak berkeliling menemui perempuan-perempuan Bani Israil untuk mengumpulkan nama-nama mereka yang sedang hamil, dan mendatangi mereka pada saat kelahiran. Jika bayi itu laki-laki maka mereka menyembelihnya dengan pisau, dan membiarkannya jika perempuan dalam satu tahun; dan pada tahun berikutnya bayi-bayi itu tidak disembelih. Berapa banyak bayi laki-laki disembelih di samping ibunya?!

***

(29)

29

Tidak ada tanda-tanda kehamilan pada istri Imran, sehingga para dukun bayi tidak melihat kehamilannya. Saat tiba waktu kelahiran, saat-saat yang menyulitkan, lahirlah bayi itu. Terjadilah apa yang ia takutkan: ia telah melahirkan seorang bayi laki-laki!!

Ia tidak tahu apa yang harus dilakukan? Para penyembelih sedang menantinya dengan membawa pisau-pisau mereka. Seandainya mereka mendengar suaranya, mereka akan mendatanginya untuk menyembelihnya. Tidak ada seorang pun yang mampu menyembunyikan tangisan bayi, yang akan menangis saat lapar, haus, atau terbangun dari tidurnya. Ia tidak bisa berbicara pada bayinya, atau bayi itu berbicara padanya. Ia sungguh bingung, dan menyangka bayi itu akan disembelih. Tiba-tiba ada suara datang dalam hatinya agar ia menyusuinya, saat ia telah merasa lega, taruhlah anak ini di sungai Nil. Jangan takut dan khawatir. Kami akan mengembalikannya padamu, dan menjadikannya salah seorang utusan.

Ia yakin bahwa ini datang dari Allah, bukan dari setan. Maka ia membawa sebuah peti dari kayu, dan memasukan bayinya di dalamnya setelah ia menyusuinya. Lalu ia menaruhnya di sungai Nil, dan menyerahkan urusannya pada Allah.

***

Di istana Firaun, para budak wanita melihat peti terbawa air mendekati serambi istana, maka mereka berteriak memanggil. Datanglah para pengawal, mengambil peti itu. Saat mereka membuka peti itu mereka menemukan seorang bayi laki-laki tampan dan baunya wangi. Allah meletakkan kecintaan pada wajahnya, sehingga orang yang melihatnya akan mencintainya. Istri Firaun datang, Asiyah bint Mazahim. Saat ia melihat bayi kecil itu ia menyukainya. Sedangkan Firaun telah menyuruh para penyembelih untuk memotong leher bayi kecil tersebut. Istrinya berusaha mencegahnya.

―Ia adalah pujaan hati bagiku dan bagimu. Jangan kau bunuh dia. Mudah -mudahan ia berguna bagi kita atau kita mengangkatnya sebagai anak‖.

Asiyah belum punya anak laki-laki, maka Firaun mengabulkannya. Ia tidak

membunuh bayi itu, dan menyerahkannya pada istrinya yang berkata: ―Kami

memberinya nama Musa. Kami menemukannya antara air dan pohon. Mû dalam bahasa orang-orang Mesir artinya air, Syî atau Sya adalah pohon, maka namanya Musa.

Masalahnya adalah bayi ini tidak mau minum susu dari siapa pun. Semua orang bingung menghadapi masalah ini, maka diumumkanlah tentang pembayaran bagi siapa saja yang bisa menyusui Musa.

Ibu Musa hampir gila saat kehilangan bayinya dalam waktu yang lama, sehingga

ia hampir berteriak mengatakan, ―Aku menaruh anakku di Sungai Nil.‖

Bila saja Allah tidak menetapkan iman padanya. Ia meminta anak perempuannya—saudara Musa—untuk mengikuti peti itu agar tahu apa yang terjadi dengan saudaranya? Ia pun terus berjalan hingga sampai di istana. Berita itu tersebar di setiap sudut istana bahwa bayi itu tidak mau disusui.

Saudara bayi itu mendengar berita tersebut, maka ia menemui istri Firaun.

―Apakah aku boleh menunjukkan pada kalian ahli bait yang akan menyusui, merawat,

dan menjaganya; mereka juga akan menasihatinya?‖

Asiyah menitipkan Musa pada perempuan itu, karena bayi itu harus segera disusui dank arena kecintaannya pada Musa.

Musa kembali lagi ke pelukan ibunya yang hampir hilang akalnya, dan jantungnya berhenti berdetak, kalau saja Allah tidak menguatkannya. Ia berteriak:

―Alhamdulillah. Anakku telah kembali padaku‖. Ia menyusui bayi itu yang

Referensi

Dokumen terkait

Mereka menyelisihi nabi mereka dan sangat mungkin terjadi praktik pembunuhan kepada nabi tersebut jika mayoritas kaum bani Israil pada waktu itu tidak menjadi tenang

Sering terjadi jika seseorang tidak puas mendengar pengadilan dari Nabi Dawud, maka mereka akan puas jika jika pengadilan dipimpin oleh Nabi Sulaiman karena ia benar-benar

Pertama, Palestina merupakan tempat dimana kerajaan nabi Sulaiman as berada, teks Al Qur’an secara lugas menyebutkan bahwasannya nabi Sulaiman as sama sekali tidak

“Mereka menjawab: “Kamu tidak lain hanyalah manusia seperti kami dan Allah Yang Maha Pemurah tidak menurunkan sesuatupun, kamu tidak lain hanyalah pendusta belaka.”

Berdasarkan permasalahan tersebut, kajian ini hendak menganalisis perubahan sosial yang dilakukan oleh Nabi Yusuf as, baik ia sebagai manusia pilihan Allah maupun

Maka di saat nabi Ibrahim yakin bahwa anak itu mampu berusaha bersamanya, dalam tidurnya ia melihat bahwa ia hendak menyembelih anaknya, kemudian ia sadar bahwasannya itu

Karena pada dasarnya, ia ingin menghidupkan kembali hati mereka yang mati, akan tetapi jika ia tidak menghidupkan hatinya lebih dulu, keinginan atau kehendaknya untuk menghidupkan hati

Karena itu yang dimaksudkan disini adalah cerita atau kisah dalam al-Qur’ān yang menceritakan hal-ihwal umat-umat terdahulu dan Nabi-Nabi mereka dan peristiwa yang telah terjadi, yang