• Tidak ada hasil yang ditemukan

Uji Pengaruh Umur Bibit Dan Dosis Pupuk

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Uji Pengaruh Umur Bibit Dan Dosis Pupuk"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I

PENDAHULUAN 1. Latar Belakang

Negara Indonesia merupakan negara agraris yang mayoritas penduduknya bermata pencaharian sebagai Petani. Karena di Indonesia berupa kepulauan dengan ribuan pulau yang memiliki banyak daerah yang bisa dimanfaatkan sebagai lahan pertanian, selain itu kondisi tanah di Indonesia yang mempunyai kandugan unsur hara yang baik sehingga dapat membantu pertumbuhan tanaman. Salah satu produk hortikultura yang menjadi unggulan dalam sektor pertanian di Indonesia adalah tanaman sayuran. Sayuran merupakan salah satu produk hortikultura. Salah satu komoditi sayur yang sangat dibutuhkan oleh hampir semua orang dari berbagai lapisan masyarakat, adalah cabai, sehingga tidak mengherankan bila volume peredaran di pasaran dalam skala besar.

(2)

menyebabkan gagal panen. Selain itu, produktivitas buah yang rendah dan waktu panen yang lama.

Untuk peningkatan produksinya lebih mengutamakan perbaikan teknologi budidaya. Penanaman dan pemeliharaan cabai yang intensif dan dilanjutkan dengan penggunaan teknologi pasca panen yang baik.

Salah satu tujuan pengembangan cabai adalah untuk meningkatkan produktivitas tanaman cabai. Peningkatan produktivitas tanaman cabai dilakukan untuk memenuhi permintaan konsumen yang terus meningkat dan efisiensi penggunaan lahan. Artinya, diharapkan di lahan yang semakin sempit sekalipun tanaman cabai dapat berproduksi tinggi. Dengan demikian, para petani yang memiliki lahan sempit (100-200 m2) dapat menanam cabai dan memetik hasil yang tinggi. Begitu pula dengan orang- orang yang ingin memanfaatkan halaman rumahnya untuk budidaya cabai. Mereka dapat menanam cabai di dalam pot/polybag dan memanen hasil yang tinggi pula.

2. Rumusan Masalah

Pemilihan komoditas cabai untuk di Uji Pengaruh Umur Bibit Dan Dosis Pupuk Npk Mutiara Terhadap Pertumbuhan Dan Produksi Tanaman Cabai (Capsicum Annum L) Varietas Gada F1. Karena dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan hasil dan pengaruh terhadap peningkatan produktivitas cabai di Indonesia.

3. Tujuan

(3)

Pertumbuhan Dan Produksi Tanaman Cabai (Capsicum Annum L) Varietas Gada F1.

4. Hipotesis

Diduga terjadi peningkatkan produksi tanaman cabai dengan Uji Pengaruh Umur Bibit Dan Dosis Pupuk NPK Mutiara Terhadap Pertumbuhan Dan Produksi Tanaman Cabai (Capsicum Annum L) Varietas Gada F1.

BAB II

(4)

2.1 Klasifikasi

Menurut klasifikasi dalam tata nama (sistem tumbuhan) tanaman cabai menurut Prajnata (1995) :

 Kingdom : Plantarum  Divisi : Spermatophyta  Sub divisi : Angiospermae  Kelas : Dicotyledoneae  Ordo : Solanales  Famili : Solanaceae  Genus : Capsicum

 Spesies : Capsicum annum L  Varietas : GADA F1.

2.2 Morfologi tanaman

Bentuk luar atau morfologi tanaman cabai sebenamya bukan hal yang acing bagi sebagian masyarakat Indonesia, terutama berbeda halnya dengan masyarakat yang tinggal di perkotaan. Seringkali mereka belum pemah melihat tanaman cabai yang sebenamya. Yang mereka ketahui hanyalah buah cabai yang dapat dimanfaatkan sebagai sayur.

2.4.1. Daun

(5)

4.2.2. Batang

Tanaman cabai merupakan tanaman perdu dengan batang tidak berkayu. Biasanya, batang akan tumbuh sampai ketinggian tertentu, kemudian membentuk banyak percabangan. Untuk jenis-jenis cabai rawit, panjang batang biasanya tidak melebihi 100 cm. Namun untuk jenis cabai besar, panjang batang (ketinggian) dapat mencapai 2 meter bahkan lebih. Batang tanaman cabai berwarna hijau, hijau tua, atau hijau muda. Pada batang-batang yang telah tua (biasanya batang paling bawah), akan muncul wama coklat seperti kayu. Ini merupakan kayu semu, yang diperoleh dari pengerasan jaringan parenkim.

2.4.3 Akar

Tanaman cabai memiliki perakaran yang cukup rumit dan hanya terdiri dari akar serabut saja. Biasanya di akar terdapat bintil-bintil yang merupakan hasil simbiosis dengan beberapa mikroorganisme. Meskipun tidak memiliki akar tunggang, namun ada beberapa akar tumbuh ke arah bawah yang berfungsi sebagai akar tunggang semu.

2.4.4. Bunga

(6)

tanaman cabai termasuk dalam sub kelas Ateridae (berbunga bintang). Bunga biasanya tumbuh pada ketiak daun, dalam keadaan tunggal atau bergerombol dalam tandan. Dalam satu tandan biasanya terdapat 2 — 3 bunga saja. Mahkota bunga tanaman cabai warnanya bermacam-macam, ada yang putih, putih kehijauan, dan ungu. Diameter bunga antara 5 — 20 mm.Bunga tanaman cabai merupakan bunga sempuma, artinya dalam satu tanaman terdapat bunga jantan dan bunga betina. Pemasakan bunga jantan dan bunga betina dalam waktu yang sama (atau hampir sama), sehingga tanaman dapat melakukan penyerbukan sendiri. Namun untuk mendapatkan hasil buah yang lebih baik, penyerbukan silang lebih diutamakan. Karena itu, tanaman cabai yang ditanam di lahan dalam jumlah yang banyak, hasilnya lebih baik dibandingkan tanaman cabai yang ditanam sendirian.

Pernyerbukan tanaman cabai biasanya dibantu angin atau lebah. Kecepatan angin yang dibutuhkan untuk penyerbukan antara 10 — 20 km/jam (angin sepoi-sepoi). Angin yang ter lalu kencang justru akan merusak tanaman. Sedangkan penyerbukan yang dibantu oleh lebah dilakukan saat lebah tertarik mendekati bunga tanaman cabai yang menarik penampilannya dan terdapat madu di dalamnya.

2.4.5 Buah dan biji

(7)

dalam 11 tipe bentuk, yaitu serrano, cubanelle, cayenne, pimento, anaheim chile, cherry, jalapeno, elongate bell, ancho, banana, dan blocky bell.

2.5 Syarat Pertumbuhan 2.6.1 Iklim

Pada umumnya cabai dapat ditanam di dataran rendah sampai pegunungan (dataran tinggi) + 2.000 meter dpl yang membutuhkan iklim tidak terlalu dingin dan tidak terlalu lembab. Temperatur yang baik untuk tanaman cabai adalah 240 - 270 C, dan untuk pembentukan buah pada kisaran 160 - 230 C. Setiap varietas cabai hibrida mempunyai daya penyesuaian tersendiri terhadap lingkungan tumbuh. Cabai hibrida Hot Beauty dan Hero dapat berproduksi dengan baik di dataran rendah sampai dataran tinggi + 1200 m dpl. Sedangkan cabai hibrida Long Chili lebih cocok ditanam pada ketinggian antara 800 - 1500 m dpl. Khusus untuk cabai Paprika umumnya hanya cocok ditanam di dataran tinggi. Suhu berpengaruh pada pertumbuhan tanaman, demikian juga terhadap tanaman cabai. Suhu yang ideal untuk budidaya cabai adalah 24-280 C. Pada suhu tertentu seperti 150 C dan lebih dari 320 C akan menghasilkan buah cabai yang kurang baik. Pertumbuhan akan terhambat jika suhu harian di areal budidaya terlalu dingin. Tanaman cabai dapat tumbuh pada musim kemarau apabila dengan pengairan yang cukup dan teratur. Iklim yang dikehendaki untuk pertumbuhannya antara lain:

(8)

Penyinaran yang dibutuhkan adalah penyinaran secara penuh, bila penyinaran tidak penuh pertumbuhan tanaman tidak akan normal.

b. Curah Hujan

Walaupun tanaman cabai tumbuh baik di musim kemarau tetapi juga memerlukan pengairan yang cukup. Adapun curah hujan yang dikehendaki yaitu 800-2000 mm/tahun.

c. Suhu dan Kelembaban

Tinggi rendahnya suhu sangat mempengaruhi pertumbuhan tanaman. Adapun suhu yang cocok untuk pertumbuhannya adalah siang hari 210C-280C, malam hari 130C-160C, untuk kelembaban tanaman 80%.

d. Angin

Angin yang cocok untuk tanaman cabai adalah angin sepoi-sepoi, angin berfungsi menyediakan gas CO2 yang dibutuhkannya.

2.6.2 Ketinggian Tempat

(9)

2.6.3. Tanah

Cabai sangat sesuai ditanam pada tanah yang datar. Dapat juga ditanam pada lereng-lereng gunung atau bukit. Tetapi kelerengan lahan tanah untuk cabai adalah antara 0-100. Tanaman cabai juga dapat tumbuh dan beradaptasi dengan baik pada berbagai jenis tanah, mulai dari tanah berpasir hingga tanah liat.

Pertumbuhan tanaman cabai akan optimum jika ditanam pada tanah dengan pH 6-7. Tanah yang gembur, subur, dan banyak mengandung humus (bahan organik) sangat disukai.

Tanaman cabai dapat tumbuh disegala macam tanah, akan tetapi tanah yang cocok adalah tanah yang mengandung unsur-unsur pokok yaitu unsur-unsur N dan K, tanaman cabai tidak suka dengan air yang menggenang.

2.6 Hama dan Penyakit

2.7.1 Hama dan Pengendalianya

Salah satu faktor penghambat peningkatan produksi cabai adalah adanya serangan hama dan penyakit yang fatal. Kehilangan hasil produksi cabai karena serangan penyakit busuk buah (Colletotrichum spp), bercak daun (Cerospora sp) dan cendawan tepung (Oidium sp) berkisar 5-30%. Strategi pengendalian hama dan penyakit pada tanaman cabai dianjurkan penerapan pengendalian secara terpadu. Beberapa hama yang paling sering menyerang dan mengakibatkan kerugian yang besar pada produksi cabai sebagai berikut:

(10)

Hama ulat grayak merusak pada musim kemarau dengan cara memakan daun mulai dari bagian tepi hingga bagian atas maupun bagian bawah daun cabai. Serangan ini menyebabkan daun daun berlubang secara tidak beraturan sehingga proses fotosintesis terhambat. Ulat grayak terkadang memakan daun cabai hingga menyisakan tulang daunnya saja. Otomatis produksi buah cabai menurun.

b. Kutu Daun (Myzus persicae Sulz)

Hama ini menyerang tanaman cabai dengan cara menghisap cairan daun, pucuk, tangkai bunga, dan bagian tanaman lainnya. Seranganberat menyebabkan daun-daun melengkung, keriting, belang-belang kekuningan (klorosis) dan akhirnya rontok sehingga produksi cabai menurun. c. Lalat Buah (Bactrocera dorsalis)

Lalat buah menyerang buah cabai dengan cara meletakkan telurnya didalam buah cabai. Telur tersebut akan menetas menjadi ulat (larva). Ulat inilah yang merusak buah cabai.

d. Trips (Thrips sp)

(11)

selain hama, musuh tanaman cabai adalah penyakit yang umumnya disebabkan oleh jamur /cendawan ataupun bakteri.

2.7.2 Penyakit

Setidaknya ada enam penyakit yang kerap menyerang tanaman cabai yaitu:

a. Bercak Daun (Cercospora capsici heald et walf)

Cendawan ini merusak daun dan menyebabkan timbul bercak bulat kecil kebasahan. Dikendalikan dengan blue 5-10 gram/liter. Penyebab penyakit bercak daun adalah cendawan Cerospora capsici.Serangan yang berat dapat menyebabkan daun menguning dan gugur atau langsung berguguran tanpa didahului menguningnya daun.

b. Busuk Phytoptora (Phytoptora capsici Leonian)

Cendawan ini hidup di batang tanaman, menyebabkan busuk batang dengan warna cokelat hitam. Dikendalikan dengan manual atau fungisida sanitasi lingkungan.

c. Antraknosa/Patek

(12)

d. Layu Bakteri (Pseudomonas solanacearum

Bakteri ini hidup didalam jaringan batang, menyebabkan pemucatan tulang daun sebelah atas, tangkai menunduk. Dikendalikan dengan mengkondisikan bedengan selalu kering atau pencelupan bibit ke larutan bakterisida misal Agrymicin 1,2 gram/liter.

Layu bakteri menyerang sistem perakaran tanaman cabai. Gejala kelayuan tanaman cabai terjadi mendadak dan akhirnya menyebabkan kematian tanaman dalam beberapa hari kemudian. Gejala yang dapat diamati seccara visual pada tanaman cabai adalah kelayuan tanaman, mulai dari bagian pucuk, kemudian menjalar ke seluruh bagian tanaman. Daun pun menguning dan akhirnyamengering serta rontok. Pengendalian penyakit layu bakteri dapat dilakukan dengan cara:

 Perbaikan drainase tanah di sekitar kebun agar tidak becek atau mengggenang.

 Pencabutan tanaman yang sakit agar tidak menular ke tanaman yang sehat.

 Pengelolaan (manajemen) lahan, misalnya dengan pengapuran tanah ataupun pergiliran tanaman yang bukan famili Solanaceae.

(13)

Cendawan ini hidup di tanah masam, menyebabkan pemucatan atau layu tulang daun sebelah atas, tangkai menunduk. Dikendalikan dengan pengupasan, pencelupan biji pada fungisida dan pergiliran tanaman.

f. Rebah Semai (Phytium debarianum Hesse dan Rhizoctonia soloni Kuhu)

Menyebabkan bibit tidak berkecambah dan rebah lalu mati. Dikendalikan dengan pembenaman bibit dengan furadan. Media semai diberikan Basamid G, lalu disemprot fungisida (Vitagram Blue 0,5-1,0 gram/liter diselingi Previcur N 1,0-1,5 ml/liter).

BAB III

BAHAN DAN METODE

4.1. Tempat Dan Waktu Penelitian

Penelitian dilaksanakan di desa Bangun Harja Kec. Sungai Bakau Kab. Seruyan, dengan kemiringan 0-50 0 dan 0 -8 meter dari permukaan laut. Wilayah kabupaten Seruyan termasuk daerah yang beriklim tropis dengan suhu udara rata-rata 29o C dan temperatur tertinggi 34 o C.

Tipe iklim adalah tropis lembab dan panas, curah hujan rata-rata per tahun 3.479,8 mm dengan rata-rata hujan per tahun 13,8 hari. Musim penghujan akan terjadi antara bulan Desember - Maret, sedangkan Kemarau antara Juli - September. Sumber : Seruyan Dalam Angka 2007

4.3. Alat dan Bahan

(14)

Alat yang digunakan untuk penelitian yaitu : Cangkul, sabit, tugal, meteran, rafia dan ajir, alat semprot, cutter, gembor, timba, gunting pangkas, alat tulis dan dokumentasi, jangka sorong, timbangan dan pH tester.

4.3.2. Bahan yang digunakan :

Bahan yang di gunakan untuk penelitian yaitu : Benih cabai, air, insektisida, fungisida, pupuk NPK.

4.4. Metode Rancangan Percobaan (RAL)

Rancangan percobaan dilakukan dengan cara mengamati varietas kacang panjang baik secara karakter kualitatif maupun karakter kuantitatif.Rancangan plot percobaan adalah sbgai berikut:

 Ukuran plot : 1,2 x 10 m

 Jarak tanam antara plot : 80 cm,jarak tanam dalam baris 30 cm  Jarak antara plot : 40 cm

(15)

4.5. Denah Percobaan

4.6. Parameter Pengamatan 4.6.1 Kualitatif

 Tipe tumbuh  Tipe tanaman

 Tipe percabangan  Bentuk tajuk

 Bentuk penampang batang  Warna buku pada batang

 Bentuk penampang batang melintang  Bentuk daun

(16)

 Bentuk bunga

 Warna bunga(kelopak,mahkota,sayap,benang sari,putik)  Warna tangkai

 Bentuk buah/polong  Warna polong muda  Warna polong tua  Ujung polong  bentuk biji  Warna biji  Rasa polong muda

4.6.2. Karakter Kuantitatif

 Ukuran daun(p x l)

 Diameter batang

 Umur mulai berbunga

 Umur mulai panen

 Panjang polong

 Diameter polong

 Berat perpolong

 Jumlah biji perpolong

 Produksi pertanaman

(17)

Daftar Pustaka

 Tjahjadi, Nur. 1991. Bertanam Cabai. Penerbit Kanisius. Yogyakarta.

 Harpenas, Asep & R. Dermawan. 2010. Budidaya Cabai Unggul. Penebar

Swadaya. Jakarta

 Djarwaningsih, T. 1984. Jenis- jenis Cabai di Indonesia, dalam Penelitian

Peningkatan Pendayagunaan Sumber Daya Alam, hlm 232-235.

 Anonim. 1992. Petunjuk Praktis Bertanam Sayuran. Kanisius. Yogyakarta.

 Rahmadian Ustrianto SP.2011. Budidaya Tanaman Kacang Panjang.CV.Aura

Seed Indonesia,Kediri.

 ______a. 2010. Budidaya Cabai Hibrida. http://www.tanindo.com/budidaya/

cabe/cabehibrida.htm. Diakses pada tanggal 03 Mei 2011

 ______b. 2009. Menanan Budidaya Cabai Merah http://rivafauziah.wordpress.

(18)

Referensi

Dokumen terkait

Di Indonesia selain jeruk yang digunakan untuk buah meja atau untuk dikonsumsi juga ada beberapa jenis jeruk yang dimanfaatkan untuk bahan sayuran, obat-obatan

Dosis pupuk 125 kg/ha SP-36 dan 1,5 ton/ha kapur merupakan dosis yang terbaik untuk diaplikasikan pada budidaya kacang tanah di lahan kering Kepulauan Bangka

Selain pupuk kascing merupakan bahan organik yang dapat meningkatkan produksi tanaman karena dapat menyediakan unsur hara untuk memperbaiki sifat fisik kimia dan biologi

Gambar 3: selain dari tugu yang dibangun, tanah warisan juga dimanfaatkan oleh pemegang lahan sebagai lahan pertanian yang ditumbuhi tanaman seperti kopi,.. kelapa, cabai,

Gugus pulau Desa Talise bahkan merupakan pulau yang sangat kecil dimana pulau ini telah dimanfaatkan untuk berbagai peruntukan seperti untuk aktivitas pertanian, pemanfaatan

Hal ini memberikan indikasi bahwa untuk pembuatan bibit ramin di persemaian, tidak mengharuskan menggunakan media gambut dan dapat menggunakan media tanah top soil + pasir

Hasil percobaan menunjukkan bahwa takaran pupuk kandang ayam yang memberikan pengaruh terbaik untuk pertumbuhan bibit kakao adalah pemberian dengan perbandingan tanah

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dosis pupuk kandang sapi terhadap pertumbuhan dan hasil beberapa varietas kacang tanah di lahan kering Desa