• Tidak ada hasil yang ditemukan

Melacak Praktik Pengelolaan Zakat di Ind

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Melacak Praktik Pengelolaan Zakat di Ind"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

241

Melacak Praktik Pengelolaan Zakat di

Indonesia Pada Masa Pra-Kemerdekaan

Moch. Arif Budiman

A. Pendahuluan

Perjumpaan bangsa Indonesia dengan Islam sebenarnya sudah mulai terjadi sejak abad ketujuh Masehi. Pada mulanya, Islam dipeluk oleh sebagian kecil penduduk bangsa ini, namun secara perlahan agama ini terus meluaskan pengaruhnya hingga menyebar ke seluruh pelosok Nusantara. Namun, sejak kedatangan kaum kolonial, khususnya Belanda, proses Islamisasi itu menjadi terhambat. Melihat potensi agama ini sebagai ancaman bagi kelangsungan penjajahannya,1 Belanda berupaya menjinakkan dan

membatasi pengaruh Islam yang menjadi agama mayoritas bangsa ini dengan menerapkan berbagai kebijakan, di antaranya berupa politik adu domba (devide et empera) di antara kerajaan-kerajaan Islam, menyokong dan memperkuat keberadaan kaum abangan vis a vis kaum santri, serta berusaha mengkonfrontasikan hukum Islam dengan hukum adat.

Di bawah arahan C. Snouck Hurgronje, upaya-upaya tersebut rupanya cukup efektif sehingga mengakibatkan umat Islam

(2)

242

kehilangan kekuatannya karena tercerai berai menjadi kelompok-kelompok kecil yang saling berseteru. Selain itu, banyak aspek hukum Islam yang kehilangan efektivitasnya di tengah-tengah kehidupan masyarakatnya sendiri dan akhirnya termarjinalkan menjadi sekadar urusan individu setiap pemeluknya, termasuk dalam hal ini hukum yang berkenaan dengan zakat.

Zakat adalah suatu ibadah yang berdimensi sosial kemasyarakatan. Pelaksanaan dan pengelolaan zakat pada dasarnya tidak bisa diserahkan begitu saja kepada masing-masing individu muslim, melainkan harus diorganisasikan sedemikian rupa di bawah kendali lembaga yang memiliki otoritas, yaitu pemerintah. Tanpa keterlibatan serius dari pemerintah, maka fungsi zakat sebagai sarana mengeliminasi kesenjangan ekonomi dan mempromosikan kesejahteraan sosial tidak akan tercapai secara optimal.

Dengan dasar pemikiran seperti diuraikan di atas, tulisan ini bermaksud melacak praktik pengelolaan zakat di Indonesia pada masa pra-kemerdekaan dan berusaha mengungkapkan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Sejauh pengamatan penulis, tulisan yang membahas pengelolaan zakat pada masa pra-kemerdekaan masih jarang ditemukan sehingga tulisan ini diharapkan dapat mengisi kekosongan tersebut.

B. Proses Islamisasi di Indonesia

(3)

243

seluruh kepulauan Nusantara melalui jalur perdagangan, perkawinan, dan jalur-jalur lain yang semuanya berjalan dengan damai. Tidak ditemukan adanya laporan yang menyebutkan bahwa Islam didakwahkan dengan cara-cara yang keras dan revolusioner. Di Jawa, Islam pertama kali dipeluk oleh penduduk yang berdiam di pesisir pantai utara dan sedikit demi sedikit kemudian memasuki daerah pedalaman. Selanjutnya, penyebaran Islam semakin meluas, apalagi ketika penguasa Kerajaan Mataram yang berpusat di Jawa Tengah menyatakan masuk Islam. 2

Sebelum kedatangan Islam, agama Hindu dan Budha merupakan agama utama yang dipeluk penduduk Indonesia. Pada saat itu, kerajaan-kerajaan Hindu dan Budha tersebar di berbagai pelosok Nusantara, seperti Sriwijaya di Sumatera, Pajajaran, Mataram Kuno, dan Majapahit di Jawa, Kutai di Kalimantan, dan masih banyak kerajaan-kerajaan kecil lainnya. Menghadapi kuatnya pengaruh kedua agama tersebut, para penyebar Islam memilih mempergunakan pendekatan kultural dalam proses Islamisasi penduduk Indonesia, terutama di daerah Jawa dimana pengaruh Hindu dan Budha tampak sangat kental. Pilihan terhadap proses Islamisasi secara kultural itu pada gilirannya mengharuskan mereka untuk melakukan serangkaian adaptasi dengan budaya lokal yang telah mengakar sehingga secara perlahan-lahan akhirnya Islam dapat diterima dengan baik oleh penduduk Indonesia. Namun pendekatan kultural yang ditempuh para penyebar Islam tersebut bukannya tanpa konsekuensi. Akibat pendekatan itu, maka banyak ajaran Islam yang terkontaminasi dengan budaya lokal sehingga melahirkan bentuk-bentuk Islam yang sinkretis.

Hal ini ternyata mempengaruhi pengamalan ajaran keagamaan mereka. Tingkat kesadaran umat Islam dalam pengamalan ajaran Islam secara kaffah dapat dibilang relatif rendah dan kalau pun

(4)

244

dijalankan sebagiannya tidak sesuai dengan tuntunan Islam yang murni. Itulah sebabnya di kalangan masyarakat muslim muncul istilah kelompok abangan yang menunjuk kepada orang-orang yang ber-Islam hanya secara nominal, yaitu mengaku sebagai pemeluk Islam, namun tidak konsisten menjalankan kewajiban-kewajiban keagamaan. Rendahnya kesadaran beragama ini tampak semakin jelas dalam pelaksanaan ibadah zakat.

Sejauh ini, zakat sebagai salah satu rukun Islam cenderung “didiskriminasikan” oleh umatnya sendiri. Mereka umumnya masih jauh lebih rajin melaksanakan shalat dan puasa ketimbang menunaikan zakat. Banyak yang memahami zakat hanya semata-mata berupa “pemberian beras” pada akhir Ramadhan. Itu berarti bahwa orang baru akan membayar zakat ketika bulan Ramadhan tiba. Itupun terbatas hanya zakat fitrah an sich yang jumlahnya tidak seberapa, sementara pada bulan-bulan lain tidak banyak yang mengeluarkan zakatnya. Adanya kewajiban zakat mal di samping zakat fitrah ternyata kurang dipahami.

Banyak hal yang bisa diajukan sebagai faktor penyebab rendahnya pengamalan zakat di tanah air, di antaranya pemahaman yang sangat minim terhadap zakat, konsepsi fiqih yang kurang relevan dengan perkembangan zaman, masih dominannya pola berzakat tradisional, dan lain-lain.3 Di samping itu, tidak adanya ketentuan

yang mengikat muzakki untuk mengeluarkan zakatnya dan terbatasnya peran pemerintah juga ditengarai turut memberi andil terhadap rendahnya tingkat pelaksanaan zakat di Indonesia,4

padahal menurut konsep awalnya, peranan pemerintah merupakan

3 Mohammad Daud Ali, Sistem Ekonomi Islam: Zakat dan Wakaf (Jakarta: Universitas Indonesia Press, 1988), 53-56.

(5)

245

faktor yang sangat fundamental bagi optimalisasi pelaksanaan kewajiban ini.

Tingkat pelaksanaan zakat umat Islam Indonesia yang masih sangat rendah ini sebenarnya bukanlah sesuatu yang baru terjadi, melainkan merupakan kontinuitas dari praktik serupa pada masa-masa sebelum bangsa ini merdeka yang dalam banyak hal memang sengaja well designed dan dikondisikan sedemikian rupa oleh pemerintah kolonial yang berkuasa saat itu.

C. Praktik Pengelolaan Zakat di Indonesia

1. Masa Penjajahan Belanda

Belanda mulai melakukan penetrasi ke Indonesia pada tahun 1596 di bawah pimpinan Cornelis de Houtman. Misi awal mereka di Nusantara pada mulanya adalah misi perdagangan atau ekonomi, khususnya dalam rangka memperoleh rempah-rempah yang harganya memang relatif sangat murah jika dibandingkan dengan harga yang berlaku di pasar Eropa. Selain itu, perjalanan mereka ke Asia Tenggara juga didorong oleh semangat berpetualang untuk menjelajah kawasan-kawasan baru yang belum mereka kenal sebelumnya.5

Untuk mengatur urusan perdagangannya, Belanda kemudian membentuk sebuah organisasi dagang yang dikenal dengan VOC (Verenigde Oost-Indische Compagnie) pada tahun 1602.6 Dalam praktik

perdagangannya, Belanda berupaya untuk memonopoli seluruh perdagangan di Nusantara sehingga untuk menunjang kepentingan itu mereka melengkapi organisasi dagang tersebut dengan

5Marwati Djoned Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto, Sejarah Nasional Indonesia, Jilid III (Jakarta: Balai Pustaka, 1984), 45.

(6)

246

persenjataan modern. Hal ini lantaran mereka harus berkompetisi tidak saja dengan para saudagar lokal dan kerajaan-kerajaan Islam yang ada di Nusantara, seperti Aceh Darussalam, Mataram, Banten, Banjar, Gowa-Tallo dan lain-lain,7 tetapi juga dengan

pedagang-pedagang asing lain yang telah datang sebelum mereka, seperti Portugis dan Inggris. Praktik monopoli dan kooptasi yang mereka jalankan tentu saja memicu perlawanan dari berbagai elemen bangsa Indonesia. Peperangan demi peperangan senantiasa terjadi antara VOC dengan bangsa Indonesia yang sebagian besarnya dipelopori oleh para pemimpin dan pejuang muslim. Dalam sejarah panjang peperangan melawan Belanda di Indonesia terdapat deretan nama para pahlawan muslim kenamaan yang gagah berani, seperti Pangeran Diponegoro di Jawa, Tuanku Imam Bonjol di Minagkabau, Teuku Umar dan Cut Nyak Din di Aceh,8 Pangeran Antasari di Kalimantan, Pangeran Hasanuddin di

Sulawesi dan masih banyak yang lainnya.

Lantaran terlalu banyak mengeluarkan dana untuk membiayai peperangan, VOC menderita kerugian besar dan akhirnya pada tahun 1789 organisasi tersebut dibubarkan.9 Sejak saat itu,

kekuasaan atas Indonesia beralih ke tangan pemerintahan Belanda dan Indonesia pun secara resmi dijadikan sebagai daerah jajahan pemerintahan Belanda. Misi perdagangan pun berubah menjadi misi kolonialisme. Satu persatu kerajaan Islam ditundukkan dan dipecah belah menjadi kerajaan-kerajaan kecil. Untuk mempertahankan kekuasaannya, pemerintahan Belanda tidak segan-segan menumpas habis setiap usaha atau gerakan yang

7Taufik Abdullah et.al, Sejarah Ummat Islam Indonesia (Jakarta: Majelis Ulama Indonesia, 1991), 51-105.

8Dalam sejarah konsolidasi kekuasaan Belanda, Perang Diponegoro (1825-1830), Perang Paderi (1821-1837) dan Perang Aceh (1873-1904) tercatat sebagai perang-perang termahal dan paling banyak menelan korban. Abdullah et.al, Sejarah Ummat Islam, 141-85.

(7)

247

menentangnya. Meskipun demikian, pelawanan terhadap penjajahan Belanda bukannya berhenti, tetapi justru terus bermunculan dari waktu ke waktu.

Dalam kebijakan mengenai masalah agama, pemerintah Belanda sebenarnya mengklaim menerapkan prinsip netralitas dalam setiap kebijakannya. Hal ini berarti bahwa mereka memberikan perlakuan yang sama kepada semua agama yang ada tanpa memihak kepada kepentingan manapun. Akan tetapi, klaim pemerintah Belanda itu ternyata hanya kedok belaka sebab mereka pada hakikatnya menghendaki agar Kristen dapat menggantikan posisi Islam sebagai agama mayoritas penduduk negeri ini. Itulah sebabnya sejak awal kedatangannya di Indonesia, misi penyebaran agama Kristen telah dijadikan sebagai salah satu di antara sekian misi Belanda. Dalam konteks ini, fakta menunjukkan bahwa para pendeta Belanda tidak saja memberikan pengajaran agama kepada para serdadu dan pegawai mereka saja, tetapi ternyata juga menyebarkannya kepada rakyat Indonesia pada umumnya.10

Berbagai kebijakan pemerintah Belanda terhadap urusan-urusan umat Islam tidak dapat dilepaskan dari pengaruh teori “Politik Islam” yang diintrodusir oleh C. Snouck Hurgronje.11 Dalam

kapasitasnya sebagai penasihat resmi pemerintah dalam segala urusan yang berkaitan dengan umat Islam, Snouck memberikan suatu pedoman umum yang menyebutkan bahwa Islam pada dasarnya terbagi atas tiga wilayah, yaitu (1) keagamaan “murni” atau ibadat; (2) kemasyarakatan; dan (3) kenegaraan. Terhadap yang pertama, pemerintah menurutnya harus berlepas tangan atau

10Nourouzzaman Shiddiqi, “The Role of The Ulama During The

Occupation of Indonesia (1942-1945),” (Tesis M.A., McGill University, Montreal, 1975), 60-1.

(8)

248

tidak mencampurinya, sedangkan terhadap yang kedua, jika memungkinkan, pemerintah hendaknya memberikan bantuannya, misalnya dalam masalah haji. Namun terhadap yang ketiga, pemerintah harus bersikap keras dan tanpa kompromi.12 Dalam

menghadapi umat Islam, politik pemerintah Belanda pada umumnya memang berada dalam kerangka teori tersebut, meskipun belakangan teori itu sudah tidak tepat lagi diterapkan dalam konteks masyarakat Indonesia yang terus berubah.

Terhadap urusan zakat yang nota bene merupakan urusan keagamaan murni, pemerintah Belanda tercatat pernah mengeluarkan beberapa kebijakan. Namun alih-alih memajukan, kebijakan-kebijakan tersebut pada kenyataannya malah semakin memperlemah pelaksanaan ibadah zakat di dalam masyarakat. Pemerintah Belanda nampaknya memang menghendaki agar potensi zakat terabaikan sehingga rakyat Indonesia yang mayoritas muslim tetap lemah kondisi ekonominya sekaligus tetap rendah tingkat kesejahteraannya.13 Kebijakan ini sangat boleh jadi

dipengaruhi juga oleh kenyataan bahwa sebagian dana zakat dipergunakan pula oleh umat Islam untuk membiayai peperangan melawan Belanda,14 seperti terjadi pada Perang Aceh. Perang Aceh

yang terbukti mampu membuat pemerintah Belanda kewalahan ternyata dapat bertahan dalam waktu cukup panjang salah satunya karena didukung oleh sumber dana yang memadai yang antara lain berasal dari zakat yang dikumpulkan melalui para ahli fiqih.15

12Taufik Abdullah, “Kata Pengantar” dalam karya C. Snouck Hurgronje, Islam di Hindia Belanda, ter. S. Gunawan(Jakarta: Bhratara Karya Aksara, 1983), 5.

13Ali Yafie, Teologi Sosial: Telaah Kritis Persoalan Agama dan Kemanusiaan (Yogyakarta: LKPSM, 1997), 119.

14 Ali, Sistem Ekonomi Islam, 32.

(9)

249

Sebelum Belanda menapakkan kakinya di Indonesia, pola pelaksanaan zakat di kalangan masyarakat muslim Indonesia sepenuhnya masih berpola tradisional. Pola ini dicirikan oleh hubungan langsung antara pihak muzakki dan mustahiq yang sepenuhnya bersifat lokal. Dalam pelaksanaannya di lapangan, pola tradisional tersebut dapat dibedakan menjadi dua bentuk. Bentuk pertama, muzakki menyerahkan langsung zakatnya kepada

mustahiq yang ditentukannya sendiri. Mereka pada umumnya adalah guru agama, ulama, atau anak yatim yang berada di sekitar tempat tinggal muzakki. Penyerahan zakat untuk keperluan produktif atau untuk kawasan lain, kalaupun memang ada, dapat dipastikan sangat jarang terjadi. Bentuk kedua, yang merupakan metode baru dari pola tradisional, muzakki membagi-bagikan semacam kupon kepada para mustahiq dimana yang disebutkan terakhir ini selanjutnya mencairkan kupon tersebut di tempat sang

muzakki. Metode seperti ini boleh jadi sengaja dilakukan oleh sebagian orang kaya untuk tujuan memperoleh popularitas di tengah-tengah masyarakat.16

Kehadiran Belanda yang kemudian membentuk jaringan birokrasi pemerintahan dari pusat hingga ke daerah-daerah, melahirkan pola baru dalam pengelolaan zakat, yaitu penyerahan zakat kepada para petugas keagamaan formal yang diangkat pemerintah, seperti penghulu dan naib. Selain itu, banyak pula aparat pemerintahan, mulai dari bupati hingga kepala desa yang turut terlibat dalam pengumpulan dana zakat dari umat Islam.

Dalam hal penyaluran dana zakat, praktik yang berjalan tidak sepenuhnya sesuai dengan aturan yang digariskan oleh hukum Islam. Di Jawa Barat dan Madura, zakat dianggap sebagai gaji pegawai masjid. Hal ini karena pengumpulan zakat itu, untuk

(10)

250

sebagian besarnya memang dapat berjalan berkat kerja keras mereka, di samping karena segenap waktu dan tenaga mereka senantiasa dicurahkan untuk pengabdian kepada Tuhan.17 Di

beberapa daerah lain, para pegawai, seperti bupati, wedana, dan kepala desa juga turut mengumpulkan zakat dan menerima sebagian hasil zakat mal dan zakat fitrah.18 Sementara itu, zakat

fitrah di Banten sebagian besarnya diterima oleh para kyai atau guru mengaji, sedangkan di Jawa Timur, zakat mal berada di bawah kekuasaan kyai dan ulama, sementara zakat fitrah diserahkan kepada para petugas agama di desa, seperti khatib, mu’adhdhin, dan imammasjid.19

Bahwa petugas pemungut zakat (amil) yang terdiri dari pegawai masjid, aparat pemerintah, dan guru agamaitu memperoleh bagian dana zakat, hal tersebut sebenarnya tidak menjadi persoalan ditinjau dari hukum Islam karena selaku amil, mereka memang berhak atas bagian itu. Akan tetapi yang menjadi persoalan kemudian adalah seberapa besar bagian itu. Jika bagian terbesar dana zakat justru jatuh ke tangan para pelaksananya saja, sementara mustahiq lain yang juga berhak, terutama kaum fakir dan miskin, hanya memperoleh sedikit atau bahkan tidak mendapat bagian sama sekali, maka tentu saja hal tersebut tidak sesuai dengan maksud disyariatkannya ibadah ini. Yang lebih parah lagi adalah bahwa dana zakat yang menjadi bagian dari kas masjid20

seringkali diselewengkan penggunaannya atas perintah para Bupati atau Residen. Kas masjid yang seharusnya dipergunakan untuk kepentingan masjid dan umat Islam, justru seringkali dipergunakan

17Hurgronje, Islam di Hindia Belanda, 21.

18Karel A. Steenbrink, Beberapa Aspek Tentang Islam di Indonesia Abad Ke-19 (Jakarta: Bulan Bintang, 1984), 230.

(11)

251

untuk pengeluaran yang kurang atau tidak relevan, seperti untuk dana pemeliharaan orang sakit gila, lepra, buta, atau sebagai pinjaman tanpa bunga kepada suatu lembaga kredit.21 Bahkan, di

wilayah Karesidenan Surabaya, kas masjid dipergunakan untuk membantu sebuah Rumah Sakit Zending, sementara di Kediri dipergunakan untuk membiayai asrama bagi kepentingan pelacur yang sakit.22

Fenomena keterlibatan aparat pemerintahan dalam pengumpulan zakat pada perkembangan selanjutnya rupanya kurang disenangi oleh pemerintah Belanda. Oleh karena itu, pemerintah Belanda mengeluarkan kebijakannya yang pertama mengenai zakat berupa

Bijblad Nomor 1892tahun 1866 yang isinya melarang para petugas keagamaan, seperti penghulu, naib dan yang lainnya untuk turut campur dalam pengumpulan zakat dengan alasan untuk menghindari penyelewengan dana zakat. Penyelewengan yang dimaksudkan itu memang pernah terjadi, namun yang barangkali perlu disayangkan adalah bahwa para penghulu dan naib yang bekerja untuk melaksanakan administrasi Pemerintah Belanda itu sebelumnya sama sekali tidak memperoleh gaji atau tunjangan

21Gagasan ini dikemukakan oleh De Wolff van Westerrode, Asisten Residen Purwokertoyang pada tahun 1904 ditugaskan untuk mendirikan Bank Kredit Rakyat. Aqib Suminto, Politik Islam Hindia Belanda (Jakarta: LP3ES, 1985), 164-5.

(12)

252

apapun dari pemerintah sehingga pelarangan untuk mengurusi zakat sama artinya dengan memusnahkan sebagian “pendapatan” mereka.23

Peraturan ini selanjutnya menimbulkan perubahan dalam praktik berzakat di kalangan umat Islam. Mereka pun tidak lagi memberikan zakatnya kepada penghulu atau naib, melainkan kepada ahli agama yang lebih dihormati, yaitu kyai atau guru pengajian24 dengan harapan mendapatkan syafaat sehingga

memperoleh berkat dari Yang Maha Kuasa. Namun akibat peraturan ini pula sebagian umat Islam di beberapa tempat akhirnya justru menjadi enggan mengeluarkan zakatnya.25

Selanjutnya, pada tanggal 28 Pebruari 1905, pemerintah Belanda kembali mengeluarkan kebijakan tentang zakat berupa Bijblad

6200. Peraturan baru ini melarang semua jajaran pegawai pemerintahan dan juga para priyayi pribumi, mulai dari kepala desa sampai bupati untuk ikut serta membantu pelaksanaan zakat.

23Ali, Sistem Ekonomi Islam, 32. Berdasarkan laporan Nakamura, jumlah beras yang diterima seorang penghulu di Kotagede pada setiap akhir bulan Ramadhan cukup dipergunakan untuk keperluan selama setengah tahun. Mitsuo Nakamura, The Crescent Arises Over Banyan Tree (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1993), 91.

24Steenbrink, Beberapa Aspek Tentang Islam, 230. Di daerah Jawa, penghormatan masyarakat terhadap seorang kyai atau guru pengajian memang sangat tinggi. Sikap dan perilakunya menjadi ikutan orang banyak, sementara perkataan dan fatwanya umumnya selalu dianggap benar dan tidak boleh dibantah. Kedudukan yang mulia tersebut biasanya berlanjut hingga hari tuanya, bahkan tidak jarang terjadi, pengaruh yang sedemikian itu belum juga pupus, walaupun sang kyai atau guru itu telah wafat. Penghormatan yang tinggi ini agaknya tidak terlepas dari pengaruh atau kelanjutan dari posisi yang sama pada zaman sebelum kedatangan Islam di Nusantara. Deliar Noer, Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900-1942 (Jakarta: LP3ES, 1991), 18-9.

(13)

253

Kebijakan tersebut menegaskan bahwa pemerintah tidak ingin mencampuri pelaksanaan ibadah zakat dan menyerahkan pelaksanaannya sepenuhnya kepada umat Islam sesuai dengan syariat Islam. Dengan peraturan ini tampaknya pemerintah Belanda ingin membuat batas yang tegas antara tanggung jawab pemerintah dan masyarakat di dalam masalah-masalah keagamaan.26 Kebijakan ini pada kenyatannya semakin

melemahkan potensi umat Islam dalam penggalangan dana melalui zakat sehingga pengelolaan zakat sepenuhnya kembali bersifat tradisional dalam pengertian tidak melibatkan amil lagi.

Dalam perkembangan berikutnya, pelaksanaan zakat di masyarakat Indonesia ternyata kian menurun. Berdasarkan catatan Snouck Hurgronje, sejak abad kesembilanbelas tingkat pengamalan zakat di kalangan umat Islam Indonesia menunjukkan gejala penurunan. Di beberapa daerah, misalnya Pasundan, pungutan zakat yang sebelumnya dilaksanakan secara teratur dan hingga saat itu (saat ia menulis laporannya) masih terasa pengaruhnya, mulai menjadi kacau sehingga sedikit demi sedikit muncul keyakinan di masyarakat bahwa zakat hanyalah suatu kewajiban keagamaan yang sepenuhnya bersifat sukarela. Sedangkan di kebanyakan daerah, pemugutan zakat hanya kadang-kadang saja dilaksanakan.27

Sementara itu, merespon praktik pengamalan zakat secara tradisional yang masih merupakan kecenderungan umum pada saat itu, Muhammadiyah, sebuah organisasi keagamaan modernis, memperkenalkan reformasi pengelolaan zakat dengan membentuk lembaga amil zakat dan menghimpun shadaqah, infak dan wakaf.

Muhammadiyah berpendapat bahwa praktik pengelolaan zakat yang bersifat langsung seperti yang berkembang luas saat itu tidak sesuai dengan ajaran Islam. Pengelolaan zakat haruslah ditangani

(14)

254

oleh suatu kelompok (amil) yang ditunjuk dan hasilnya diserahkan kepada fakir-miskin.28

Untuk memenuhi tujuan-tujuan sosial dari disyariatkannya ibadah-ibadah itu, para pemimpin Muhammadiyah kemudian mengemukakan beberapa ijtihad, seperti membolehkan pemindahan harta zakat ke daerah lain yang lebih memerlukan dan mengakumulasikannya untuk membiayai usaha-usaha produktif. Mereka yakin bahwa investasi dana zakat dalam kegiatan-kegiatan ekonomi yang dilakukan secara bersama-sama pada akhirnya akan menghasilkan lebih banyak dana untuk diberikan kepada mereka yang berhak menerimanya. Sebagai ‘amil zakat, Muhammadiyah memutar dana zakat untuk aktivitas-aktivitas bisnis dengan persetujuan dari para mustahiq yang secara otomatis menjadi pemegang saham dari usaha-usaha tersebut. Pada tahun 1920 sampai dengan 1930-an, gagasan tersebut diimplementasikan dengan pendirian koperasi-koperasi yang terdapat di cabang-cabang Muhammadiyah di berbagai daerah.29

Dalam konteks zamannya, Muhammadiyah muncul dengan melancarkan kegiatan-kegiatan yang konkrit, seperti melakukan

tabligh sebagai media pendidikan bagi masyarakat, mendirikan sekolah-sekolah, panti yatim piatu dan—belakangan— poliklinik dan rumah sakit yang dimulai oleh K.H. Mas Mansyur atas anjuran dan bantuan sahabat sekaligus lawan debatnya, dr. Soetomo. Dengan langkah-langkah itu, Muhammadiyah menjadi sebuah organisasi yang bergerak dan hidup, bahkan perkembangannya melampaui Budi Utomo yang pada waktu itu tetap bertahan

28Nakamura, The Crescent Arises Over Banyan Tree, 91. Lihat pula M. Dawam Rahardjo, Islam dan Transformasi Sosial-Ekonomi (Jakarta: LSAF, 1999), 432.

(15)

255

sebagai organisasi yang elitis dan ditinggalkan oleh generasi mudanya, termasuk oleh Sutomo sendiri.30

Pembentukan lembaga amil zakat oleh K.H. Ahmad Dahlan menandai perkembangan tahap kedua dalam pelaksanaan zakat di tanah air. Keistimewaan K.H. Ahmad Dahlan terletak pada kecenderungan praktisnya. Dia membentuk Muhammadiyah supaya bisa bertindak bersama-sama melakukan hal-hal yang sudah jelas diperintahkan dan bukan untuk sekadar bersatu dan mempertahankan sistem kelembagaan tradisional yang ada. Baginya, organisasi semata-mata hanyalah alat dan bukan tujuan.31

2. Masa Pendudukan Jepang

Sejak Maret 1942 sampai dengan Agustus 1945 Indonesia berada di bawah pendudukan Bala Tentara Jepang.32

Pendudukan Jepang ini pada mulanya memberi angin segar bagi kehidupan umat Islam setelah sekian lama ruang gerak mereka dibelenggu oleh pemerintah Belanda. Dalam rangka menarik simpati bangsa Indonesia yang mayoritas muslim, Jepang menerapkan strategi politik yang relatif menguntungkan umat Islam. Dalam hal ini, terdapat sejumlah perbedaan mencolok dalam kebijakan terhadap umat Islam antara pemerintah

30M. Dawam Rahardjo, Intelektual, Intelegensia dan Perilaku Politik Bangsa: Risalah Cendekiawan Muslim (Bandung: Mizan, 1999), 228.

31Ibid., 450.

(16)

256

Belanda dengan penguasa Jepang. Jika sebelumnya Belanda selalu berupaya memecah-belah kekuatan umat Islam ke dalam kelompok-kelompok kecil melalui politik devide et empera,

penguasa Jepang justru mempersatukan organisasi-organisasi muslim dalam satu wadah organisasi. Jepang rupanya berkepentingan untuk mendamaikan persengketaan antara kaum tradisional dan modernis dalam rangka mengukuhkan eksistensi kekuasaannya. Selain itu, Jepang memberi akses kepada para santri untuk memperoleh latihan kemiliteran, baik di Pasukan Hizbullah maupun Peta (Pembela Tanah Air) sehingga pada saatnya nanti memungkinkan para santri tersebut untuk mengambil bagian dalam menyambut kemerdekaan seperti yang dijanjikan Jepang.33

Lebih dari itu, Jepang juga membentuk Shumubu (Jawatan Agama Islam) di tingkat pusat dan Shumuka di daerah-daerah pada tahun 1942 untuk mengelola urusan umat Islam. Sekadar catatan, pada masa Belanda urusan agama Islam ditangani oleh banyak departemen. Urusan pendidikan Islam dan haji berada di bawah kewenangan Departemen Dalam Negeri, urusan pengadilan agama di bawah Departemen Kehakiman, urusan gerakan keagamaan di bawah Kantor Masalah Pribumi dan Islam (Kantoor voor Inlandsche en Mohammadanse Zaken), sedangkan urusan ibadah agama di bawah Departemen Pendidikan.34 Untuk daerah Aceh yang memiliki kekhususan

dalam pengamalan ajaran Islam, pemerintah Bala Tentara Jepang membentuk Kantor Urusan Agama (Mahkamah Syari’ah) berdasarkan Aceh Syu Rei No. 12 tanggal 15 Pebruari

33Nourouzzaman Shiddiqi, “Islam pada Masa Pendudukan Jepang:

Sebuah Tinjauan tentang Peranan Ulama dan Pergerakan Muslim Indonesia” dalam Penulisan Sejarah Islam di Indonesia dalam Sorotan, ed. A. Mu’in ‘Umar, et.al (Yogyakarta: Dua Dimensi, 1985), 35.

(17)

257

1944 yang mulai berlaku sejak tanggal 1 Maret 1944. Salah satu tugas kantor ini adalah mengurus masalah zakat, zakat fitrah dan wakaf.35

Pada masa pendudukan Jepang, usaha untuk melibatkan pemerintah dalam pengumpulan zakat mulai dilakukan oleh MIAI (Majlis Islam A’la Indonesia),36 federasi umat Islam yang

diizinkan kembali beroperasi pada masa Jepang. MIAI mengambil inisiatif membentuk Baitul Mal Pusat untuk mengorganisasikan dana zakat secara terkoordinasi. Pembentukan Baitul Mal ini merupakan satu-satunya proyek — dari tiga proyek yang direncanakan MIAI— yang sempat terwujud, sementara dua proyek lainnya, yaitu pembangunan sebuah Masjid Agung dan pendirian universitas Islam gagal direalisasikan. Baitul Mal Pusat berhasil didirikan pada bulan Juni 1943. Badan ini dikepalai oleh Ketua MIAI sendiri, Windoamiseno dengan anggota komite yang berjumlah 5 orang, yaitu Mr. Kasman Singodimedjo, S.M. Kartosuwirjo, Moh. Safei, K. Taufiqurrachman, dan Anwar Tjokroaminoto. Publikasi besar-besaran yang dilakukan pengurusnya dalam jurnal federasi itu rupanya mampu membangkitkan antusiasme yang cukup besar dari masyarakat. Pada bulan itu juga para delegasi MIAI melakukan perjalanan ke Jawa Tengah dan Timur untuk berdiskusi dengan para pimpinan agama dan pejabat pemerintahan di daerah tentang didirikannya Baitul Mal

35Nourouzzaman Shiddiqi, Fiqh Indonesia: Penggagas dan Gagasannya (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1997), 41-2.

(18)

258

di daerah mereka masing-masing. Upaya-upaya itu rupanya tidak sia-sia, sebab dalam jangka waktu yang singkat, —hanya beberapa bulan saja—, Baitul Mal telah berhasil didirikan di 35 kabupaten dari 67 kabupaten yang ada di Jawa pada saat itu.37

Akan tetapi, usaha MIAI yang sangat progresif itu akhirnya terpaksa kandas di tengah jalan. Penguasa Jepang agaknya menaruh kekhawatiran sebab jika proyek ini berhasil, maka bukan saja akan menghimpun dana besar bagi umat Islam yang ternyata mulai tidak pro-Jepang, tetapi juga akan memotong jalur pengawasan terhadap ulama yang telah dipusatkan di

Syumubu. MIAI pada akhirnya dibubarkan Jepang pada tanggal 24 Oktober 194338 dan sejak saat itu, sumber daya umat Islam

lebih terkonsentrasi pada upaya-upaya untuk merebut dan mempertahankan kemerdekaan sehingga agenda optimalisasi pengelolaan zakat menjadi kembali terabaikan.

D. Penutup

Praktik pengelolaan zakat di Indonesia yang sejauh ini masih belum menggembirakan pada dasarnya merupakan kontinyuitas dari praktik serupa pada masa-masa sebelum kemerdekaan. Praktik tersebut dalam banyak hal dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah

37Harry Jindrich Benda, The Crescent and The Rising Sun: Indonesian Islam Under The Japanese Occupation, 1942-1945 (The Hague: W. van Hoeve, 1958), 143-6.

(19)

259

kolonial yang memang tidak mendukung pelaksanaan ibadah umat Islam. Kebijakan pemerintah kolonial itu antara lain didasarkan pada pendirian pemerintah yang tidak ingin mencampuri urusan ibadah umat Islam. Di samping itu, potensi besar yang terkandung dalam ibadah zakat rupanya dikhawatirkan akan dapat membahayakan eksistensi mereka. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kebijakan pemerintah kolonial, baik Belanda maupun Jepang, tidak terlepas dari pertimbangan-pertimbangan yang bersifat politis.

Kenyataan di atas memberikan penegasan bahwa pelaksanaan zakat dimana pun akan sangat dipengaruhi oleh kebijakan yang diterapkan pemerintahnya. Jika pemerintah tidak memberikan dukungannya –dalam kasus pemerintah kolonial bahkan cenderung merintanginya—, maka pengelolaan zakat tidak akan optimal. Demikian pula sebaliknya, apabila pemerintah serius memberikan perhatian dan menciptakan kondisi ideal dalam regulasi dan pengelolaan zakat, maka optimalisasi rukun Islam ketiga ini sebagai salah satu sarana menciptakan kesejahteraan masyarakat niscaya akan dapat terealisir. Kendati demikian, perubahan kebijakan pemerintah dari ‘merintangi’ menuju ‘mendukung’ pengelolaan zakat tentunya tidak akan terjadi begitu saja, melainkan membutuhkan perjuangan dari umat Islam sendiri karena bagaimanapun pengamalan keagamaan sebenarnya sangat tergantung pada pengikut agama yang bersangkutan, dan bukan tergantung semata-mata pada pihak pemerintah. Wallahu a’lam

(20)

260

Daftar Pustaka

1. Abdullah, Taufik et.al, Sejarah Ummat Islam Indonesia. Jakarta: Majelis Ulama Indonesia, 1991.

2. ---, “Zakat Collection and Distribution in Indonesia” dalam The Islamic Voluntary Sector in Southeast Asia, ed. Mohamed Ariff. Singapore: Institute of Southeast Asian Studies, 1991.

3. Ali, Fachri dan Bahtiar Effendy, Merambah Jalan Baru Islam: Rekonstruksi Pemikiran Islam Masa Orde Baru. Bandung: Mizan, 1992.

4. Ali, Mohammad Daud, Sistem Ekonomi Islam: Zakat dan Wakaf.

Jakarta: Universitas Indonesia Press, 1988.

5. Azhari, M. Tahir, “Zakat dan Aplikasinya dalam Konteks Kesejahteraan Sosial,” makalah pada Seminar Sehari RUU tentang Pengelolaan Zakat yang diselenggarakan oleh Departemen Agama RI di Jakarta, 30 Agustus 1999.

6. Benda, Harry Jindrich, Bulan Sabit dan Matahari Terbit, ter. Daniel Dhakidae. Jakarta: Pustaka Jaya, 1980.

7. ---, The Crescent and The Rising Sun: Indonesian Islam Under The Japanese Occupation, 1942-1945. The Hague: W. van Hoeve, 1958.

8. Hurgronje, C. Snouck, Islam di Hindia Belanda, ter. S. Gunawan.Jakarta: Bhratara Karya Aksara, 1983.

9. Jainuri, Achmad, The Formation of The Muhammadiyah’s Ideology

1912-1942. Surabaya: IAIN Sunan Ampel Press, 1999.

(21)

261

11. Koningsveld, P. SJ. Van, Snouck Hurgronje dan Islam. Jakarta: Girimukti Pustaka, 1989.

12. Nakamura, Mitsuo, The Crescent Arises Over Banyan Tree.

Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1993.

13. Noer, Deliar, Administrasi Islam di Indonesia. Jakarta: Rajawali, 1983.

14. ---, Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900-1942. Jakarta: LP3ES, 1991.

15. Poesponegoro, Marwati Djoned dan Nugroho Notosusanto,

Sejarah Nasional Indonesia, Jilid III. Jakarta: Balai Pustaka, 1984.

16. Rahardjo, M. Dawam, Intelektual, Intelegensia dan Perilaku Politik Bangsa: Risalah Cendekiawan Muslim. Bandung: Mizan, 1999.

17. ---, Islam dan Transformasi Sosial-Ekonomi. Jakarta: LSAF, 1999.

18. Shiddiqi, Nourouzzaman, Fiqh Indonesia: Penggagas dan Gagasannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1997.

19. ---, “Islam pada Masa Pendudukan Jepang: Sebuah Tinjauan tentang Peranan Ulama dan Pergerakan Muslim Indonesia” dalam Penulisan Sejarah Islam di Indonesia dalam Sorotan, ed. A. Mu’in ‘Umar, et.al , Yogyakarta: Dua Dimensi, 1985.

20. ---, “The Role of The Ulama During The Occupation of Indonesia (1942-1945),” Tesis M.A., McGill University, Montreal, 1975.

21. Steenbrink, Karel A., Beberapa Aspek Tentang Islam di Indonesia Abad Ke-19. Jakarta: Bulan Bintang, 1984.

(22)

262

23. Sya’roni, Mizan, “The Majlisul Islami A’la Indonesia (MIAI): Its Socio-Religious and Political Activities (1937-1943),” Tesis M.A., McGill University, Montreal, 1998.

Referensi

Dokumen terkait

Dimulai ketika aplikasi mulai dinyalakan maka muncul tampilan menu utama, kemudian memanggil data berdasarkan kategori, setelah memilih salah satu kategori, sistem

Pada tahap perancangan Aplikasi M- Learning Bahasa Inggris Berbasis Client Server dalam penelitian ini akan dilakukan pengumpulan data dan informasi yang sesuai dengan

Standar internasional yang dijadikan metode perencanaan tebal perkerasan landasan pacu adalah dengan menggunakan metode FAA yang dilakukan dengan dua cara, yaitu

Merupakan pihak keempat yang biasanya ada pada posisi kalangan pers atau bisa juga masyarakat setempat. Karena tanpa disadari pihak keempat ini bisa menjadi humas atau

Beberapa pertimbangan yang harus diperhatikan pada sebuah reaktor agar dapat berjalan secara optimal antara lain kondisi operasi, reaksi yang terjadi dalam reaktor, jenis reaktor

Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui tingkat resiliensi pada guru di SLB Putra Jaya, (2) mengetahui tingkat work engagement pada guru di SLB Putra Jaya, (3) dan

Untuk memprediksi performansi mesin shrink botol tunnel Polyethelin Theretalate selama proses desain dapat dilakukan dengan menggunakan virtual reality.. Pada penelitian ini,