BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Pengertian peserta didik dan perkembangan peserta didik
Peserta didik adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi dirimealui proses pembelajaran pada jalur pendidikan. Baik itu jalur pendidikan formal maupun pendidikan nonformal, pada jenjang pendidikan dan jenis pendidikan tertentu.
Perkembangan merupakan serangkain perubahan progresif yang terjadi sebagai akibat dari proses kematangan dan pengalaman , bekerja dalam suatu proses perubahan yangberkenaan dengan aspek-aspek fisik dan psikis atau perubahan tingkah laku dan kemampuan sepanjang proses perkembangan individu mula dari masa konsepsi sampai mati.
Peserta didik adalah sinonim dari peserta didik, siswa, murid, atau warga belajar belajar, dalam perkuliahan perkembangan peserta didik berlaku untuk seluruh rentang usia sudah dapat mengikuti penddikan, mulai dari anak-anak, remaja, dewasa, dan lansia.
Perkembangan peserta didik dimana kitamempelajari tingkah laku atau perilaku seseorang dan watak si peserta didik.
Kajian teori dan faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan ini dikemukakan berkaitan dengan kajian yang mempersalahkan tentang manakah yang lebih berpengaruh atau yang lebih menentukan terhadap perkembangan diri seseorang.
Aliran nativisme, aliran ini berpendapat bahwa pertumbuhan dan
perkembangan ditentukan oleh faktor bawaan atau keturunan.
Aliran empirisme, aliran ini berpendapat bahwa pertumbuhan dan
perkembangan individu lebih dipengaruhi oleh lingkungan atau pengalaman.
Aliran konvergensi, aliran ini berpendapat bahwa pertumbuhan dan
perkembangan individu dipengaruhi oleh pembawaan maupun lingkungan.
Sejak zaman Yunani kuno para filsuf berpendapat bahwa manusia itu terdiri dari atas jasmani dan rohani. Jiwa termasuk bagian yang rohani. Plato mengemukakan pembagian jiwa berdasarkan trikotomi, yaitu pikir, kemauan, dan keinginan. Sedangkan Aristoteles mengemukakan pembagian berdasarkan dikotomi, yaitu kognisi (gejala mngenal) dan konasi (gejala kehendak).
Para filsuf abad pertengahan mempunyai pandangan tentang jasmani dan rohani sebagai suatu kesatuan. Pandangan mereka dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu (a) monisme, yang menganggap bahwa aspek jasmani dan aspek rohani tidak dapat dipisah-pisahkan karena erupakan suatu kesatuan ; (b) dualisme, yang menganggap aspek jasmani dan aspek rohani dapat berdiri sendiri meskipun keduanya merupakan satu kesatuan.
Para ahli zaman sekarang, umumnya berpendapat bahwa aspek jasmani dan rohani merupakan suatu kesatuan yang tidak dapat dipisah-pisahkan. Demikian pula aspek-aspek psikis yang dibedakan secara trikotomi dan dikotomi, merupakan suatu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Pembagian tersebut hanya untuk kepentingan analisis teoritis.
Gejala-gejala yang menggambarkan adanya perkembangan berbagai aspek pada diri individu, yaitu: (a)aspek fisik, misalnya pertumbuhan payudara; (b) aspek intelek, misalnya perkembangan kemampuan penalaran; (c) aspek emosi, misalnya semakin ada stabilitas emosi; (d) aspek sosial, misalnya senang membantu dan bekerja sama dengan orang lain; (e) aspek bahasa, misalnya bertambah perbendaharaan kata; (f) aspek bakat khusus, misalnya mampu menjunjung tinggi dan membela kebenaran.
karakteristik nilai, moral, dan sikap, misalnya ada anak yang taat terhadap tata tertib sekolah, ada pula yang begitu mudah melanggar aturan atau tata tertib sekolah.
1.3 Remaja dan perkembangannya
Masa remaja terletak di antara masa anak dan masa dewasa. Masa remaja dianggap telah mulai ketika anak telah matang dalam aspek seksual dan kemudian berakhir seelah matang secara hukum. Di Amerika, anak dianggap telah matang secara hukum apabila telah mencapai usia 18 tahun.
Pertumbuhan adalah proses perubahan fisiologis yang bersifat progresif dan kontinu serta berlangsung selama periode tertentu. Perkembangan ialah perubahan psikis yang bersifat progresif dan menyebabkan tercapainya kemampuan dan sifat-sifat yang baru.
Pertumbuhan jasmani dan erkembangan rohani berlangsung menurut hukum-hukum tertentu, yaitu (a) hukum tempo perkembangan, (b) hukum irama perkembangan, (c) hukum rekapitulasi, (d) hukum masa peka, (e) hukum masa menentang, (f) hukum masa eksploratif, (g) hukum pertahanan diri, (h) hukum pengembangan diri.
Karakteristik umum perkembangan remaja ialah bahwa remaja merupakan peralihan dari masa anak menuju masa dewasa sehingga seringkali menunjukkan sifat-sifat karakteristik, seperti kegelisahan, kebingungan, karena terjadi suatu pertentangan, keinginan untuk mengkhayal, dan aktivitas berkelompok.
a. Pertumbuhan fisik
Pertumbuhan fisik meliputi perubahan-perubahan fisik yang progresif baik eksternal maupun internal. Pertumbuhan fisik mempunyai pengaruh terhadap tingkah laku. Misalnya, karena otot-otot tungkai belum kuat maka anak berjalan terhuyung-huyung.
yang diwariskan orang tuanya dan kematangan), dan faktor eksternal (kesehatan, makanan, stimulasi lingkungan, dan sebagainya). Kedua variasi jenis pertumbuhan ini yang menyebabkan adanya perbedaan antara individu satu dengan yang lain. Pertumbuhan juga menyebabkan fisik remaja putri semakin jelas perbedaannya dengan remaja putra.upaya untuk membantu petumbuhan fisik adalah dengan cara menjaga kesehatan dan memberi makanan yang baik.
Implikasinya bagi pendidikan ialah :
Sarana dan prasarana pendidikan jangan sampai mengganggu kesehatan Waktu istirahat untuk menghilangkan kelelahan perlu diperhatikan
Disediakan jam-jam untuk berolahraga sebagai usaha untuk menjaga
kesehatan.
b. Perkembangan intelek
Istilah intelek berasal dari bahasa inggris “intellect” yang berarti: proses kognitif, proses berpikir, daya menghubungkan, kemampuan menilai, dan kemampuan mempertimbangkan serta kemampuan mental atau inteligensi.
Menurut Jean Piaget, perkembangan intelek atau kognitif dibagi menjadi empat tahapan, yaitu :
1. Tahap sensoris-motoris (0-2 tahun). Pada tahap ini pertumbuhan ditandai oleh kecendrungan-kecendrungan sensoris-motoris.
2. Tahap praoperasional (2-7 tahun). Perkembangan dalam tahap ini ditandai perkembangan intuitif. Artinya, semua perbuatan rasionalnya tidak didukung oleh pemikiran tetapi oleh unsur perasaan.
3. Tahap operasional konkret (7-11 tahun). pada tahap ini, anak mulai berkembang sesuai dengan rasa ingin tahunya. Disini anak sudah mulai mengamati, menimbang, mengevaluasi, dan menjelaskan pikiran orang lain dengan cara yang kurang egosentris dan lebih objektif.
Hubungan intelek dengan tingkah laku adalah bahwa inteligensi merupakan pernyataan dari tingkah laku adaptif yang terarah kepada kontak dengan lingkungan dan kepada penyusunan pemikiran.
Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan intelektual adalah faktor hereditas, faktor lingkungan (yang meliputi keluarga, sekolah, dan masyarakat).
c. Perkembangan kreativitas
Perkembangan kreativitas berkaitan erat dengan fungsi belahan otak kanan, yang berarti berkaitan pula dengan perkembangan intelek.
Ada beberapa definisi kreativitas yang dikemukakan oleh para ahli, berikut ini :
Barron mendefinisikan kreativitas adalah kemampuan menciptakan
sesuatu yang baru.
Guilford menyatakan kreativitas mengacu pada kemampuan yang
menandai ciri-ciri seorang kreatif.
Utami munandar mendefinisikan kreativitas sebagai kemampuan
untuk mengolaborasi sesuatu gagasan.
Ada beberapa faktor yang mendukung berkembangnya potensi kreativitas pada remaja, yaitu :
Remaja yang mampu melakukan kombinasi serta pemikiran logis. Remaja yang mampu melakukan kombinasi secara proporsional. Remaja memiliki pemahaman tentang ruang relatif.
Remaja mampu melakukan pemisahan dan pengendalian variabel masalah
yang kompleks.
Remaja sudah mampu melakukan abstraksi reflektif dan berpikir hipotetis. Remaja memiliki diri ideal.
Remaja sudah menguasai bahasa abstrak.
d. Perkembangan emosi
Ada empat teori yang menjelaskan hubungan antara emosi dengan tingkah laku, yaitu (a) teori sentral, (b) teori peripheral, (c) teori kepribadian, (d) teori kedaruratan emosi.
Selain keempat teori diatas juga terdapat lima faktor yang memengaruhi perkembangan emosi remaja, yaitu, (a) perubahan jasmani, (b) perubahan pola interaksi dengan orang tua, (c) perubahan interaksi dengan teman sebaya, (d) perubahan pandangan luar, dan (e) perubahan interaksi dengan sekolah.
Upaya yang dapat dilakukan untuk mengembangkan emosi remaja agar berkembang ke arah kecerdasan emosional antara lain dengan belajar engembangkan: (a) keterampilan emosional, (b) keterampilan kognitif, (c) keterampilan perilaku.
e. Perkembangan bakat khusus
Bakat adalah kemampuan alamiah untuk memperoleh pengetahuan dan keterampilan, baik yang bersifat umum maupun bersifat khusus. Disebut bakat khusus apabila kemampuan yang berupa potensi tersebut bersifat khusus, misalnya bakat akademik, sosial, seni, kinestetik, dan sebagainya.
Bakat khusus disebut talent, sedangkan bakat umum disebut gifted. Oleh karena itu, anak yang memiliki bakat khusus menonjol sering disebut dengan istilah talent children, sedangkan anak yang memiliki bakat intelektual menonjol sering disebut dengan istilah gifted children.
Perwujudan dari bakat dan kemampuan adalah prestasi. Bakat dan kemampuan menentukan prestasi seseorang. Misalnya, individu yang memiliki bakat matematika akan dapat mencapai prestasi yang menonjol dalam bidang matematika.
Faktor-fator internal yang mempengaruhi perkembangan bakat khusus adalah (a) minat, (b) motif berprestasi, (c) keberanian mengambil resiko, (d) keuletan dalam menghadapi tantangan, dan (e) kegigihan atau daya juang dalam mengatasi kesulitan yang timbul.
prasarana, (c) dukungan dan dorongan orang tua/keluarga, (d) lingkungan tempat tinggal, dan (e) pola asuh orang tua.
Upaya pendidikan dalam mengembangkan bakat khusus peserta didik lebih efektif kepada anak dan remaja yang memiliki bakat khusus. f. Perkembangan hubungan sosial
Hubungan sosial adalah cara-ara individu bereaksi terhadap orang-orang di sekitarnya dan bagaimana pengaruh hubunga itu terhadap dirinya. Hubungan sosial ini mula-mula dimulai dari lingkungan rumah, kemudian berkembang lebih luas lagike lingkungan sekolah, dan dilanjutkan kepada lingkungan yang lebih luas lagi yatu tempat berkumpulnya teman sebaya.
Interaksi adalah peristiwa saling memengaruhi satu sama lain ketika dua orang atau lebih hadir bersama, mereka menciptakan suatu hasil satu sama lain, atau berkomunikasi satu sama lain. Jadi, dalam interaksi tindakan setiap orang bertujuan untuk memengaruhi individu lain.
Dari sudut komunikasi interaksi dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu interaksi verbal, interaksi fisik, dan interaksi emosional.
Faktor-faktor yang memengaruhi perkembangan hubungan sosial adalah keluarga, sekolah, dn masyarakat.
Perbedaan lingkungan dapat menimbulkan sikap sosial pada individu. Secara psikologis, sikap ini dapat dipelajari dengan tiga cara, yaitu :
banyak diguncangkan oleh nilai-nilai baru yang banyak dipahami; (b)
Tingkatan pertama adalah tingkatan impulsif dan melindungi diri Tingkatan kedua adalah tingkat konformistik
Tingkatan ketiga adalah tingkat sadar diri Tingkatan keempat adalah tingkat seksama Tingkatan kelima adalah tingkat individualistik Tingkatan keenam adalah tingkat mandiri.
Faktor-faktor yang memengaruhi perkembangan kemandirian remaja adalah :
Penciptaan partisipasi dan keterlibatan remaja dalam keluarga Penciptaan keterbukaan
khas remaja. Perkembangan mutakhir bahasa khas remaja sering dikenal agama, (e) nilai seni, dan (f) nilai politik atau nilai kuasa.
Moral berasal dari kata latin mores yang artinya tata cara dalam kehidupan, adat istiadat, atau kebiasaan. Moral pada dasarnya merupakan rangkaian nili tentang berbagai macam perilaku yang harus dipatuhi.
Suatu sifat dapat dipandang sebagai kebutuhan dasar jika memenuhi mengutamakan kebutuhan itu dibandingkan jenis-jenis kepuasan lainnya
Kebutuhan itu tidak aktif, lemah, dan secara fungsional tidak
terdapat pada orang yang sehat.
Maslow mengemukakan hierarki kebutuhan dari yang paling dasar sampai yang paling tinggi, yaitu :
McClelland mengemukakan tiga kebutuhan dasar manusia, yaitu :
Kebutuhan untuk berprestasi (need for achievement) Kebutuhan untuk berkuasa ( need for power)
Kebutuhan untuk berafiliasi ( need for affiliation) 1.5 Tugas-tugas perkembangan remaja (peserta didik)
Tugas perkembangan adalah tugas yang muncul pada saat atau sekitar suatu periode tertentu dari kehidupan individu yang harus diselesaikan dengan sebaik-baiknya. Keberhasilan kehidupan peyelesaian tugas perkembangan akan menimbulkan kebahagiaan dan membawa ke arah keberhasilan dalam melaksanakan tugas-tugas perkembangan pada fase berikutnya.
tersebut, masing-masing dapat dikaji dari aspek-aspek hakikat tugas, dasar biologis, dan dasar psikologis.
Masing-masing tugas perkembangan itu membawa implikasi yang berbeda dalam enyelenggaraan pendidikan, yaitu dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan kegiatan-kegiatan nonakademik berkenaan dengan penyesuaian peran sosial, pemahaman terhadap kondisi fisik dan psikologis, serta pemahaman dan penghayatan peran jenis kelamin. 1.6 Penyesuaian diri dan permasalahannya
Penyesuaian diri dapat dimaknai dari tiga sudut pandang, yaitu: (a) penyesuaian diri sebagai adaptasi, (b) penyesuaian diri seagai bentuk konformitas, (c) penyesuaiandiri sebagai usaha penguasaan.
Seseorang dikatakan memiliki kemampuan penyesuaian diri yang baik (well adjusted person) manakala mampu melakukan respons-respons yang matang efisien, memuaskan, dan sehat. Dikatakan efisien berarti mampu melakukan respons dengan mengeluarkan tenaga dan waktu sehemat mungkin. Dikatakan sehat artinya bahwa rspons-respons yang dilakukannya sesuai dengan hakikat individu, lembaga atau kelompok antarindividu, dan hubungan antara individu dan penciptanya.
Proses penyesuaian diri setidaknya melibatkan tiga unsur, yaitu : Motivasi
Sikap terhadap realitas, dan Pola dasar penyesuaian diri.
Penyesuaian diri remaja memiliki karakteristik yang khas, yang dapat dilihat dari penyesuian diri terhadap (a) peran dan identtasnya, (b) pendidikan, (c) kehidupan seks, (d) norma sosial, (e) penggunaan waktu luang, (f) penggunaan uang, serta (g) kecemasan, konflik, dan frustasi.
BAB II PENUTUPAN 2.1 Kesimpulan
melakukan suatu proses yang disebut proses pembelajaran untuk mencapai satu tujuan yang sama.
Peserta didik khususnya remaja mengalami suatu fase perkembangan dimana mereka mengalami suatu perubahan didalam hidupnya. Baik itu eliputi pertumbuhan fisik, perkembangan intelek, perkembangan reativitas, perkembangan emosi, perkembangan bakat khusus, perkembangan hubungan sosial, perkembangan kemandirian, perkembangan bahasa, perkembangan nilai, moral, dan sikap.
Selain itu juga seiring berljalannya perkembangan yang terjadi pada peserta didik, mereka juga mengalami perubahan kebutuhan yang mengikuti laju perkembangan mereka. Disini mereka ditutuk dapat berupaya guna memanajemen kebutuhan mereka dan cara untuk memenuhi kebutuhan mereka. Ketika remaja tersebut tidak mampu memenuhi kebutuhan mereka, mereka setidaknya mengetahui konsekuensi apa dan bagaimana upaya mencegah konsekuensi yang terjadi ketika upaya yang mereka lakukan tidak berhasil memenuhi kebutuhan mereka sendiri.
Selain kebutuhan remaja yang bertambah mengikuti perkembangan mereka, disini peserta didik harus bisa menyesuaikan dirinya sesuai dengan perkembangan yang mereka alami dan mereka diharapkan agar dapat menyelesaikan berbagai permasalahan yang menimpa sebaik mungkin.
2.2 Saran
DAFTAR RUJUKAN Ali, mohammad. 2012. Psikologi remaja. Jakarta: Bumi Aksara