KONSEP MANAJEMEN RESIKO (RISK MANAGEMENT)
DALAM PROJEK PENULISAN MANUAL PENGAMANAN ASSET INDUSTRI HULU MIGAS DI INDONESIA
A. PENDAHULUAN
Tahapan dalam pembuatan rencana keamanan dapat disusun berdasarkan gangguan yang pernah terjadi, lokasi penyimpanan aset, atau pemilihan system pengamanan yang sesuai dengan dana User (SKK Migas). Terkadang pula Rencana Pengamanan dituliskan dengan format dan isi yang berbeda-beda, sehingga perlu dilakukan pengkajian tentang bagaimana rencana pengamanan yang bukan saja secara efektif menurunkan risiko, juga secara efisien dalam implementasinya.
Proses penyusunan ini perlu diawali dengan pemahaman terhadap rencana pengamanan yang lengkap, dan dukungan hasil analisis risiko dan mitigasi. Rencana Pengamanan (security planning) merupakan susunan strategi yang diterapkan untuk mengurangi kelemahan dan menurunkan potensial ancaman dan risiko yang terkait dengan system pengamanan yang berjalan, sehingga kemudian dapat dilakukan proses untuk meredakan risiko (risk mitigation), dan melakukan kontrol dan evaluasi Komponen dari rencana keamanan meliputi: kebijakan, standard dan prosedur pengamanan (policy), kontrol pengelolaan Sumber Daya Manusia (SDM) untuk keamanan (people), kontrol teknologi keamanan (technology) dan keamanan informasi (Information Security).
Kontrol yang dimaksud adalah langkah implementasi yang spesifik dan prosedural. Sedangkan yang menjadi kebutuhan penting rencana ini adalah permintaan level pengamanan yang diinginkan.
Sebuah rencana keamanan harus dapat mengkombinasikan peran dari kebijakan, orang dan teknologi/peralatan, dimana manusia (people), yang menjalankan proses membutuhkan dukungan kebijakan dan prosedur (policy and procedures),sebagai petunjuk untuk melakukannya, dan membutuhkan teknologi (technology) merupakan alat(tools), mekanisme atau fasilitas untuk melakukan proses kegiatan pengamanan
Berdasarkan uraian di atas, maka rencana pengamanan akan berisi tentang penentuan kombinasi kontrol keamanan yang digunakan, serta prioritas dalam melakukan implementasinya. Isi/ konten dasar pada dokumen rencana Pengamanan (security plan), antara lain:
1. Ancaman dan kelemahan (Threat and Vulnerability), merupakan proses untuk mereview hasil tahapan penilaian risiko, dengan mengambil informasi mengenai sesuatu yang dapat menganggu kegiatan organisasi. 2. Tujuan dan sasaran (Scope and Objectives), merupakan proses
menentukan target dan lingkup keamanan yang ingin dicapai, sehingga dapat fokus pada aspek keamanan yang akan diselesaikan. Sasaran keamanan menggambarkan spesifik hasil, kejadian atau manfaat yang ingin di capai sesuai dengan tujuan keamanan yang ditetapkan.
sebagai upaya untuk menurunkan risiko keamanan yang bersumber dari ancaman dan kelemahan
4. Strategi dan kontrol keamanan, merupakan proses untuk memberikan prioritas aksi yang akan dilakukan untuk mencapai tujuan dan sasaran keamanan yang telah ditetapkan.
B. PENILAIAN ANCAMAN DAN KELEMAHAN (Risk & Vulnerability Assessment) Pelaksanaan Risk Assessment dijalankan menggunakan 7 (tujuh) langkah yaitu antara lain :
1. Menetapkan konteks Resiko 2. Mengidentifkasi Resiko
3. Menganalisa/ mengukur resiko 4. Menilai Resiko
5. Memperlakukan resiko 6. Monitoring and review 7. Komunikasi dan konsultasi
TAHAPAN MANAJEMEN RISIKO
1. Menetapkan Konteks
Identifikasi risiko seringkali dianggap sebagai tahapan utama dalam proses manajemen risiko, namun seperti terlihat dalam gambar di atas maka untuk dapat mengenali risiko terlebih dahulu harus diperoleh pemahaman mengenai what is at risk. Untuk memastikan bahwa semua risiko signifikan sudah terekam maka harus dipahami dengan baik tujuan-tujuan organisasi dimana risiko tersebut dikelola.
a.Ruang Lingkup
Ruang lingkup penetapan konteks mencakup:
1) Kebijakan, fungsi, proses dan aktivitas organisasi 2) Kekuatan dan kelemahan organisasi
3) Tujuan utama organisasi ancaman dan peluang terbesar yang dihadapi organisasi
4) Stakeholder dan kepentingannya
5) Tanggung jawab organisasi terhadap stakeholder 6) Faktor lingkungan internal dan eksternal
b.Teknik
Teknik yang dapat digunakan dalam penetapan konteks adalah: Mengumpulkan dan menelaah dokumen-dokumen organisasi 1) Mereview struktur dan bagan organisasi
2) Melakukan wawancara dengan pihak terkait 3) Benchmarking
4) Control and Risk Self Assessment c. Tahapan
1) Menetapkan konteks strategis
Dilakukan dengan memahami faktor internal dan eksternal organisasi, membuat Analisis hubungan antara aktivitas organisasi dengan lingkungan, mengidentifikasi stakeholders (manajemen, pemegang saham, pegawai, pelanggan, rekanan, masyarakat, pemerintah dan pemuka masyarakat), mengembangkan Analisis SWOT (strenght, weakness, opportunity, threat).
2) Menetapkan konteks organisasi
Dilakukan dengan menilai aktivitas dan kemampuan organisasi untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Sejumlah aspek yang harus dinilai adalah:
a) Budaya risiko (sikap, nilai-nilai dan praktik-praktik yang mencerminkan bagaimana suatu organisasi mempertimbangkan risiko dalam aktivitas sehari-hari)
b) Hasrat risiko/risk appetite (tingkat risiko yang dapat diterima oleh organisasi dalam mencapai tujuan)
3) Menetapkan konteks manajemen risiko
Dilakukan dengan menentukan sasaran, tujuan, strategi, lingkup dan parameter aktivitas atau bagian organisasi dimana proses manajemen risiko diaplikasikan, sumber daya yang diperlukan.
4) Mengembangkan kriteria penilaian risiko
Dilakukan dengan mempertimbangan tingkat risiko yang dapat diterima oleh organisasi dalam hubungannya dengan berbagai aspek kegiatan. Kriteria yang dikembangkan harus memenuhi atribut:
a) Concise (jelas) - memberikan sejumlah ukuran tertentu yang memungkinkan penilaian atas seluruh dampak yang signifikan b) Mencakup seluruh aspek kegiatan
c) Merumuskan bagaimana ukuran-ukuran dibuat, apakah dalam bentuk kualitatif atau kuantitatif
5) Mendefinisikan struktur manajemen risiko
Dilakukan dengan merumuskan struktur yang meliputi pemisahan aktivitas dalam suatu perangkat elemen-elemen yang menyediakan kerangka yang logis untuk kepentingan identifikasi dan Analisis yang memberi keyakinan bahwa risiko-risiko yang signifikan.
2. Mengidentifikasi Risiko a. Tujuan
Merupakan tahapan yang sangat kritikal dalam proses manajemen risiko yaitu merekam semua risiko baik yang sudah maupun belum dikendalikan melalui pengendalian inten.
Proses yang dilakukan dalam tahap identifikasi risiko adalah:
1) Menginventarisasi data kejadian/peristiwa komprehensif yang mempengaruhi organisasi
2) Menentukan sumber-sumber risiko, antara lain hubungan bisnis dan hukum, lingkungan ekonomi, perilaku manusia, kejadian alam, lingkungan politik, isu teknologi, aktivitas manajemen dan aktivitas individu.
3) Menentukan area yang terkena pengaruh risiko, antara lain aset dan sumber daya, pendapatan, biaya, pegawai, masyarakat, kinerja, waktu dan jadual aktivitas, lingkungan.
4) Menentukan penyebab dan skenario risiko. b.Teknik
c. Model Risiko
Sebagai bagian dari tahapan identifikasi risiko, dibuat model risiko untuk memberi gambaran secara komprehensif mengenai peristiwa dan kondisi yang mungkin terjadi, baik yang bersumber dari perubahan di dalam lingkungan eksternal maupun dari unsur proses bisnis internal organisasi. Model risiko dibuat dengan tujuan untuk memberi acuan mengenai peristiwa dan kondisi yang mungkin terjadi serta bagaimana dan mengapa terjadi yang selanjutnya akan digunakan sebagai bahan Analisis.
3. Menganalisis/Mengukur Risiko a. Tujuan
Merupakan tahapan untuk memisahkan risiko minor dan risiko mayor serta mengidentifikasi pengendalian intern yang ada (melalui inspeksi dan control self assessment) serta menentukan dampak dan likelihood.
Sumber data dan informasi yang digunakan untuk menentukan konsekuensi dan likelihood adalah catatan masa lalu, justifikasi berdasarkan pengalaman yang relevan, praktik dan pengalaman industri, literatur-literatur, riset pasar, pengujian dan prototype, model ekonomi, pertimbangan ahli dan spesialis.
b.Metode
Analisis risiko terbagi menjadi beberapa jenis, yaitu: 1) Analisis Kualitatif risiko adalah faktor-faktor risiko, pengaruhnya serta pemicu (driver) dari masing -masing risiko.
2) Analisis Semi Kuantitatif
Dalam Analisis semi kuantitatif, skala kualitatif diberi nilai dan angka. 3) Analisis Kuantitatif
tergantung pada tingkat keakuratan data. Konsekuensi diekspresikan dalam nilai uang/kriteria teknis/kriteria manusia, sedangkan Probralility atau Likelihood diekspresikan dalam probabilitas/ frekuensi/kombinasi antara probabilitas dan frekuensi.
4. Menilai Risiko
Dalam tahapan penilaian risiko, dilakukan proses membandingkan tingkat risiko dengan kriteria risiko pada basis yang sama. Hasil penilaian risiko adalah berupa daftar prioritas risiko dimana area yang dinilai berisiko tinggi ditindaklanjuti dan yang berisiko rendah dipantau.
Penilaian risiko pada akhirnya akan memberikan hasil identifikasi risiko, beserta rekomendasi control keamanan yang terkait dengan upaya menurunkan risiko terserbut. Tahapan tersebut dinamakan rekomendasi kontrol. Control recommendation akan menjadi hasil dari proses risk assessment dan akan menjadi input bagi proses risk mitigation, serta menjadi rekomendasi prosedur dan teknik dalam perencanaan pengamanan yang diimplementasikan ke depan.
Adapun rekomendasi yang dihasilkan dari atau analisis risiko, sebagai berikut:
a. Risiko yang terkategori pada level “Low”, dengan rangking 1 sampai 4, bernilai risiko rendah, sehingga yang dapat diterima.
b. Risiko yang terkategori pada level “Medium”, dengan ranking 5 sampai 12 bernilai menengah, dengan rekomendasi risiko tidak dapat diterima, sehingga risiko tersebut harus dihilangkan, dikurangi atau dipindahkan. c. Risiko yang terkategori pada level “High”, dengan ranking 15 sampai 25
bernilai tinggi, dengan rekomendasi risiko tidak dapat diterima, sehingga risiko tersebut harus dihilangkan, dikurangi atau dipindahkan.
PROBABILITY REMARKS IMPACT REMARKS 5 Very Likely (hampir pasti) 1 Trivial/ Low (relative tidak
berdampak)
4 Likely (mungkin terjadi) 2 Minor (dampak kecil)
3 Moderate (sedang) 3 Moderate (dampak sedang)
2 Unlikely (kemungkinan kecil
terjadi) 4 Major (dampak besar)
1 Rare ( sangat jarang terjadi) 5 Extreme (dampak sangat besar)
5. Memperlakukan Risiko
Dalam tahapan perlakuan risiko, ditempuh langkah-langkah sebagai berikut: a. Identifikasi opsi perlakuan
1) Menghindari risiko
Menghindari risiko dapat mengakibatkan kegagalan memperlakukan risiko, meninggalkan pilihan kritis kepada pihak lain, menangguhkan keputusan yang tidak dapat dihindari oleh organisasi, memilih opsi yang memiliki risiko lebih rendah tanpa mempertimbangkan manfaatnya.
2) Mengurangi likelihood (kemungkinan)
Langkah yang dapat ditempuh adalah melakukan audit, penelaahan formal terhadap spesifikasi dan rancangan operasi, pengendalian proses, manajemen investasi dan portofolio, manajemen proyek, manajemen dan standar kualitas, penelitian dan pengembangan teknologi, supervisi dan pengendalian teknik.
3) Mengurangi konsekuensi
Langkah yang dapat ditempuh adalah perencanaan kontinjensi, rencana pemulihan bencana, pengendalian kecurangan, meminimalkan eksposur terhadap sumber risiko, perencanaan portofolio, kebijakan dan pengendalian penentuan harga, pemisahan atau relokasi suatu aktivitas atau sumberdaya, hubungan masyarakat. 4) Mentransfer risiko (risk transfer)
Menentukan penanggung jawab, jadwal, outcome yang diharapkan, anggaran, ukuran kinerja dan penelaahan.
2) Implementasi rencana perlakuan
Apabila masih ada risiko residual, harus diputuskan apakah akan menahan risiko atau mengulangi proses perlakuan.
6. Monitoring dan Review
Monitoring dan review atas risiko dan efektifitas pengendalian dilakukan untuk meyakinkan apakah perubahan kondisi tidak mengubah prioritas dan apakah rencana manajemen tetap relevan.
7. Komunikasi dan Konsultasi
Dilakukan komunikasi mengenai risiko dan cara mengelolanya kepada setiap stakeholder dan harus dilakukan pada setiap tahapan manajemen risiko.
C. ANALISA EFEKTIFITAS DAN EFISIENSI
keamanan yang berpotensi terjadi. Tahapan pada mitigasi risiko antara lain adalah tahap analisis effectivenessccost dan costcbreneft analysis
Pada tahap analisis effectivenesss cost kontrol keamanan akan dilakukan berdasarkan tahapan, sebagai berikut:
1. Melakukan identifikasi investasi dalam rangka implementasi kontrol keamanan yang telah direkomendasikan pada tahapan sebelumnya 2. Menghitung nilai prioritas, setiap investasi
3. Menentukan rangking prioritas investasi.
Tahap pertama ialah mengidentifikasi investasi dalam rangka implementasi kontrol keamanan, yang telah direkomendasikan.
Tahap kedua ialah menghitung nilai prioritas, dengan membandingkan efektivitas antar control keamanan satu dengan lainnya, berdasarkan kemampuannya untuk mencapai tujuan sistem pengamanan.
Adapun hasil dari identifikasi dan perbandingan data ini diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan dalam perencanaan keamanan, sehingga dapat diketahui prioritas impelementasi kontrol agar dapat efektif dalam mencapai tujuan dan sasaran keamanan.
Pemilihan kontrol telah menyajikan hasil evaluasi, yang menyatakan bahwa seluruh control telah sesuai dengan kerawanan/kelemahan yang akan dikurangi dan mampu menurunkan risiko di bawah maksimum risiko.
Sedangkan analisis costcbreneft, yang menyatakan bahwa kontrol yang direkomendasikan dapat mengurangi minimum resiko dengan biaya implementasi yang lebih kecil dibanding biaya (nilai risiko) jika tidak dimplementasi
Analisis cost effectiveness memberikan prioritas dalam mengimplementasikan kontrol-kontrol tersebut, berdasarkan efektvitasnya dalam mencapai tujuan pengamanan. Sehingga sampai pada kesimpulan berdasarkan hasil evaluasi dan analisis, control dipilih dapat ntuk diimplementasikan.
Tindakan selanjutnya setelah rekomendasi kontrol dipilih untuk diimplementasikan ialah menugaskan orang dengan deskripsi tugas tertentu, sebagai orang yang bertanggungjawab pada pengendalian tugas dan mekanisme untuk mengurangi dan menghilangkan risiko.
Rencana tersebut berisi informasi hasilhasil tahapan risk mitigation sebelumnya, yaitu antara lain:
1. Pilihan kontrol (selected planned control) 2. Prioritas aksi (prioritize action)
3. Kebutuhan sumber daya untuk implementasi kontrol (required resources for implementing the selected planned control)