• Tidak ada hasil yang ditemukan

GAMBARAN UMUM PEREKONOMIAN INDONESIA docx

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "GAMBARAN UMUM PEREKONOMIAN INDONESIA docx"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

GAMBARAN UMUM PEREKONOMIAN

INDONESIA

A. ERA SEBELUM 1966, MASA PERALIHAN 1966-1668, DAN ERA PEMBANGUNAN JANGKA PANJANG

ERA SEBELUM 1966

Selama sekitar dua puluh tahun pertama merdeka, perekonomian Indonesia

berkembang jurang menggembirakan. Dimana, perilaku kenaikan harga-harga barang secara agresif sebenarnya sudah terlihat sejak tahun 1955. Ketika itu laju inflasi, diukur dengan Indeks Biaya Hidup di Jakarta, naik 33 persen. Berdasarkan ini mencapai angka 40 persen pada tahun 1958. Laju inflasi tahunan selama periode 1955-1960 rata-rata 23,5 persen. Menjelang tahun 1960 terlihat tanda-tanda inflasi mereda, namun ternyata kembali meningkat pada tahun 1961 dan bahkan berlanjut terus hingga tahun 1966. Pada tahun berakhirnya rezim Orde Lama ini, Indonesia menggoreskan catatan penting yang tak diinginkan dalam sejarah perekonomiannya: laju inflasi sekitar 650 persen.

Masa orde lama juga ditandai dengan berbagai fenomena ekonomi yang tidak menyenangkan seperti nasionalisme perusahaan-perusahaan asing, kekurangan capital, kebijakan anti-investasi asing, hilangnya pangsa pasar sejumlah komoditas dalam perdagangan internasional, dan tekanan atas neraca pembayaran yang mengakibatkan depresiasi rupiah.

Nasionalisme perusahaan-perusahaan asing dimulai pada tahun 1951, tetapi pelaksanaannya terjadi secara besar-besaran pada tahun 1958. Ridakan ini merupakan kelajutan pemberlakuan Undang-undang No. 78/1958 tentang investasi asing, yang intinya berisikan tentang kebijakan anti-investasi. Ketika itu tumbuh subur pandangan bahwa

investasi asing bukan saja akan merupakan hambatan bagi pembangunan ekonomi Indonesia, tetapi bahkan bertujuan hendak menguasai kehidupan perekonomian.

(2)

kejanggalan dalam sejarah sistem moneter Indonesia, maka pada tahun 1965 menteri untuk urusan Bank Sentral menggabungkan semua bank milik pemerintah (termasuk Bank Indonesia) kedalam satu wadah tunggal yang dijuluki “Bank Berjuang”. Tujuannya yaitu untuk mengelola dan mengendalikan langsung aktivitas san sistem perbankan oleh hanya satu tangan yaitu pemerintah, sekaligus dalam rangka melaksanakan gagasan “ekonomi terpimpin” yang dilancarkan oleh pemerintah ketika itu.

MASA PERALIHAN 1966-1968

Menyusul kudeta komunis yang gagal dalam bulan September 1965, sebuah

pemerintah baru tampil sejak maret 1966. Rezim baru ini mewarisi keadaan perekonomian yang porak poranda yang mana:

a)Ketidakmampuan memenuhi kewajiban utang luar negeri lebih dari US$ 2 milliar,

b)Penerimaan ekspor yang hanya setengah dari pengeluaran untuk impor barang dan jasa,

c)Ketidakberdayaan mengendalikan anggaran belanja dan memungut pajak,

d)Laju inflasi 30-50 persen per bulan, dan

e)Buruknya kondisi prasarana perekonomian serta penurunan kapasitas produktif sektor industri dan ekspor.

Untuk mengatasi keadaan diatas maka ditetapkan beberapa langkah prioritas kebijakan ekonomi berupa upaya-upaya:

a)Memerangi hiperinflasi,

b)Mencukupkan stok bahan pangan, khususnya beras,

c)Merehabilitas prasarana perekonomian,

d)Meningkatkan ekspor,

e)Menyediakan dan menciptakan lapangan kerja, dan

(3)

Secara keseluruhan, program ekonomi pemerintah Orde Baru ini dibagi menjadi dua jangka waktu yang saling berkaitan yaitu jangka pendek dan jangka panjang (rencana pembangunan lima tahun/REPELITA).

Program ekonomi jangka pendek terdiri atas:

1.Tahap penyelamatan (Juli – Desember 1966)

2.Tahap rehabilitas (Januari – Juni 1967)

3.Tahap konsolidasi (Juli – Desember 1967)

4.Tahap stabilisasi (Januari – Juni 1968)

Dalam mendukung kebijakan jangka pendek, pemerintah memperkenalkan kebijakan anggaran berimbang (balanced budget policy). Sementara itu, berkenaan dengan beban utang luar negeri, terbentuk sebuah “konsorsium” Negara-negara donator bernama

Inter-Govermental Group on Indonesia (IGGI).

Di sektor moneter, dilakukan reformasi besar atas sistem perbankan. Bersamaan dengan itu, Indonesia kembali menjadi anggota International Monetary Fund (Indonesia keluar dari IMF pada bulan agustus 1965). Tiga undang-undang baru tentang perbankan diberlakukan yaitu:

a.Undang-undang tentang Perbankan tahun 1967,

b.Undang-undang tentang Bank Sentral tahun 1968, dan

c.Undang-undang tentang Bank Asing tahun 1968.

ERA PEMBANGUNAN JANGKA PANJANG

Maka sejak tahun 1969, Indonesia dapat memulai membentuk rancangan pembangunan yang disebut Rencana Pembangunan Lima Tahun (REPELITA). Berikut penjelasan singkat tentang beberapa REPELITA:

1.REPELITA I (1969-1974)

(4)

ekonomi 5% per tahun dengan sasaran yang diutamakan adalah cukup pangan, cukup sandang, perbaikan prasarana terutama untuk menunjang pertanian. Tentunya akan diikuti oleh adanya perluasan lapangan kerja dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

2. REPELITA II (1974-1979)

Target pertumbuhan ekonomi adalah sebesar 7,5% per tahun. Prioritas utamanya adalah sektor pertanian yang merupakan dasar untuk memenuhi kebutuhan pangan dalam negeri dan merupakan dasar tumbuhnya industri yang mengolah bahan mentah menjadi bahan baku.

3.REPELITA III (1979-1984)

Prioritas tetap pada pembangunan ekonomi yang dititikberatkan pada sektor pertanian menuju swasembada pangan, serta peningkatan industri yang mengolah bahan baku menjadi bahan jadi.

4.REPELITA IV (1984-1989)

Adalah peningkatan dari REPELITA III. Peningkatan usaha-usaha untuk memperbaiki kesejahteraan rakyat, mendorong pembagian pendapatan yang lebih adil dan merata, memperluas kesempatan kerja. Priorotasnya untuk melanjutkan usaha memantapkan swasembada pangan dan meningkatkan industri yang dapat menghasilkan mesin-mesin industri sendiri.

5.REPELITA V

Pertumbuhan rata-rata 6,70% per tahun, dibandingkan rata-rata 5,32% dalam pelita sebelumnya. Ekspor komoditas nonmigas meningkat pesat, Indonesia bahkan mulai berhasil mengekspor berbagai produk industri. Periode ini mengantarkan Indonesia menjadi sebuah Negara industri baru (a newly industrialized country /NIC).

6. REPELITA VI

Tareget-target yang dicapai pada repelita VI adalah:

a.Pertumbuhan Ekonomi secara keseluruhan 6,2 %

(5)

c.Sektor Industri 9 %

d.Sektor Manufaktur di Luar Migas 10,0 %

e.Sektor Jasa 6,5%

f.Laju Inflasi 5,0 %

g.Eksport non Migas 16,5 %

h.Eksport Manufaktur 17,5 %

i.Debt Service Ratio 20,0 %

j.GDP Rp. 2.150,0 triliun

k.Nilai Investasi Rp. 660,1 triliun

Jika ditarik kesimpulan maka pembangunan ekonomi menurut REPELITA adalah mengacu pada sektor pertanian menuju swasembada pangan yang diikuti pertumbuhan industri bertahap.

B. GEJOLAK POLITIK SEBELUM ORDE BARU

Secara politis, kurun waktu sejak kemerdekaan hingga tahun 1965 dapat dipilah menjadi tiga periode yaitu:

1.Periode 1945-1950,

2.Periode Demokrasi Parlementer (1950 – 1959), dan

3.Periode Demokrasi Terpimpin (1959 – 1965).

a)Kabinet Hatta, Desember 1949 – September 1950

(6)

Tindakan yang paling penting yang dilakukan kabinet ini adalah reformasi moneter melaui devaluasi mata uang secara serempak dan pemotongan (dalam arti harafiah) uang yang beredar pada bulan maret 1950. Pemotongan uang ini melibatkan pengguntingan menjadi separuh atas semua uang kertas keluaran De Javasche Bank yang bernilai nominal lebih dari 2,50 gulden Indonesia (samapai dengan 22 Mei 1951, saat De Javasche Bank dinasionalisasikan menjadi Bank Indonesia, mata uang Indonesia bernama gulden), dan pengurangan seluruh deposito bank yang bernilai di atas 400 gulden menjadi separohnya. Sebagai ganti rugi akibat tindakan yang terakhir ini, kepada pemegang depositonya diberikan obligasi jangka panjang pemerintah.

b) Kabinet Natsir, September 1950 – Maret 1951

Pada masa kabinet Natsir, Natsir dan kawan-kawan berhasil memanfaatkan situasi “perang korea” untuk keperluan pembangunan. Ekspor terdorong kuat sehingga mampu mengatasi kesulitan neraca pembayaran, sekaligus menaikkan penerimaan pemerintah. Impor

diliberalisasikan sebagai upaya menekan tingkat harga –harga umum dalam negeri. Kredit bagi perusahaan-perusahaan pribumi diperlunak. Suatu kombinasi kebijakan fiscal yang ketat dan penerimaan yang tinggi sempat menghasilkan surplus anggaran yang cukup besar pada tahun 1951.

Pada masa kabinet ini pertama kalinya terumuskan perencanaan pembangunan, yaitu Rencana Urgensi Perekonomian (RUP).

c)Kabinet Sukiman, April 1951 – Februari 1952

Masa pemerintahan Sukiman mencatat beberapa peristiwa penting dalam sejarah perekonomian Indonesia. Diantaranya adalah nasionalisme De Javasche Bank menjadi Bank Indonesia (22 Mei 1951) dan memburuknya situasi fiscal. Menurunnya ekspor, sistem kurs berganda (multiple exchange rate system), yang telah menjebak sistem perekonomian sejak 1950.

d) Kabinet Wilopo, April 1952 – Juni 1953

Kabinet Wilopo memperkenalkan konsep anggaran berimbang (balanced budget)

(7)

Strategi pembangunan ekonomi yang ditempuh oleh Wilopo juga tak berbeda dengan yang dijalankan oleh pendahulunya. Kabinet tetap melanjutkan Rencana Urgensi Perekonomian, temasuk Program Benteng yang merupakan upaya untuk membentuk sesuatu kelas menegah nasional dengan jalan membatasi alokasi impor hanya kepada pengusaha-pengusaha nasional. Program benteng yang merupakan bagian dari RUP ini bersifat diskriminatif-rasial. Efek merugikannya sangat dirasakan oleh golongan pengusaha (terutama importer) nonpribumi sejak pertengahan tahun 1953, akhir masa kerja Kabinet Wilopo.

e) Kabinet Ali I, Agustus 1953 – Juli 1955

Kabinet Ali I sangat melindungi importer pribumi, sangat menggebu-gebu untuk

mengubah perekonomian dari struktur kolonial menjadi nasional. Ini terlihat sekitar lima bulan ia menjabat, jumlah pengusaha nasional yang tergolong kedalam “importer benteng” membengkak luar biasa. Dari 700 menjadi 4300 importer.

Ditinjau dari sisi fiskal, masa Sembilan bulan pertama kabinet ini bahkan dapat dikatakan sebagai katastropik. Kegagalan fiskal ini bahkan mengundang kecaman keras, sehingga Ali mengganti beberapa anggota utama kabinetnya. Karena goncangan kabinet, tindakan restabilisasi diarahkan pada pembatasan impor dan upaya ini cukup berhasil. Akan tetapi disis lain, upaya pengendalian laju uang beredar kurang sukses.

f)Kabinet Burhanuddin, Agustus 1955-1956

Tindakan ekonomi penting yang dilakukan Kabinet Burhaniddin diantaranya adalah

liberalisasi impor (politik rasialisme terhadap importer dihapuskan). Pada saat yang sama,

kebijakan pembayaran dimuka atas impor ditingkatkan. Laju uang yang beredar berhasil ditekan, berkurang sekitar 5 persen (senilai Rp 600 juta ketika itu). Begitu pula harga barang-barang eks impor, yang pada paruh pertama tahun 1955 telah naik hampir 13 persen. Nilai rupiah bahkan naik sekitar 8 persen terhadap emas.

Kabinet Burhaniddin dinilai berhasil dan konsisten dalam melaksanakan RUP.

(8)

g)Kabinet Ali II, April 1956- Maret 1957

Ali Sastroamidjojo kembali naik panggung pemerintahan, dan merupakan kabinet hasil pemilihan umum pertama. Kabinet ini nyaris tak sempat berbuat apa-apa dalam bidang perekonomian. Dimana, penyeludupan merajalela sehingga merosotkan cadangan devisa dan defisit berat dalam anggaran Negara terjadi lagi. Setifikat pendorong Ekspor, yang sebelumnya sempat dibekukan dicairkan kembali. Utang pada belanda dihapuskan, sementara itu pemerintah menerima bantuan US$55 juta dari Dana Moneter Internasional (IMF). Undang-undang tentang penanaman modal asing diajukan ke DPR. Pada saat yang sama diberlakukan undang-undang anti pemogokan dan anti pemilikan tanah secara tidak sah. Undang-undang yang terakhir ini merupakan sebuah upaya untuk melindungi

perkebunan-perkebunan yang sebagian besar dimiliki dan dioperasikan oleh orang asing.

h) Kabinet Djuanda

Semasa pemerintahan Djuanda dengan perekonomian yang bersifat terpimpin ini, instrument ekspor berupa Sertifikat Pendorong Ekspor (SPE) diganti/disederhanakan menjadi Bukti Ekspor (BE). Dalam bulan Desember 1957, dilakukan pengambilalihan (nasionalisme) perusahaan-perusahaan belanda. Kabinet Djuanda pun harus berjuang dan akhirnya kalah melawan gejolak keuangan pemerintah bahkan harus menanggung defisit anggaran sebesar Rp5,5 milliar, atau hampir 22 persen dari pengeluaran total pemerintah.

Referensi

Dokumen terkait

Studi yang dilakukan IMF pada tahun 1998 menyatakan bahwa faktor-faktor pendorong terjadinya krisis adalah defisit neraca berjalan, hutang luar negeri yang besar,

We show that extending an economy by admitting new agents of an incumbent type has a double-edged effect on the Walrasian utilities of the original agents so long as substitution

pentingnya mematuhi aturan dalam kehidupan pada siswa yang belum mampu membaca indah puisi anak tentang lingkungan (dengan lafal, intonasi, dan ekspresi yang tepat).. •

Dalam promosi event Road Show GADIS Sampul 2011, tim promosi sudah memiliki prosedur tetap yang berlaku untuk melaksanakan event tersebut, dengan menjalankan proses promosi dan

Peningkatan kualitas pelayanan dan pengembangan ragam produk dan jasa yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat, serta pemahaman prinsip-prinsip

R., 2013, Peranan Penerapan Sistem Informasi Manajemen Terhadap Efektivitas Kerja Pegawai Lembaga Pemasyarakatan Narkotika (Lapa stika).. Bollangi Kabupaten

[r]

Pembuatan tablet ekstrak etanol sabut buah pinang (EESBP) Sebagai contoh F2 (Formula dengan bahan pengisi SMSBP). Di buat formula untuk 100 tablet, bobot per tablet 650 mg