II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Keragaan Usahatani
Identifikasi terhadap keragaan usahatani perlu diteliti untuk melihat adanya perbedaan dan persamaan dalam aktivitas usahatani antara satu petani dengan petani lain dalam komoditas yang sama. Petani yang berusahatani dalam komoditas yang sama, memiliki keragaman dalam melakukan aktivitas usahataninya. Berikut adalah beberapa aktivitas petani dalam satu komoditas dan memiliki keragaan dalam proses aktivitas usahataninya.
2.1.1 Pembedengan
Pembedengan merupakan aktivitas usahatani yang Dalam Skripsi Fristiana Merliza Siregar (2008) meneliti keragaan usahatani meliputi pengolahan tanah yang dilakukan menggunakan cangkul dengan kedalaman antara 20-30 cm. Bila sudah gembur, bedengan dapat langsung dibuat. Bedengan dibuat setinggi 30-40 cm, lebar bedengan kurang lebih 100 cm, serta jarak tanam antar bedengan rata-rata 40 cm dengan tujuan agar bias dilalui petani. Selain itu, perlu dibuatkan saluran air sebagai tempat untuk penampungan dan pembuangan air yang berlebihan. Ini dibuat agar pada musim kering, air pada saluran penampungan tersebut dapat dimanfaatkan.
Aktivitas pembuatan bedengan yang berbeda, baik sesama komoditas maupun beda komoditas merupakan hal yang dapat diteliti untuk melihat perbedaan keragaan petani dalam aktivitas pembedengan.
2.1.2 Bibit
Dalam Skripsi Fristiana Merliza Siregar (2008) meneliti keragaan usahatani pengadaan benih. Untuk budidaya cabai merah, benih diadakan sendiri oleh petani. Petani mengambil biji atau benih dari buah tanaman induk. Tanaman induk harus berasal dari tanaman yang sehat dan buah yang baik. Tanaman cabai yang dijadikan induk pun perlu dipilih yang berjenis murni. Jenis murni artinya tanaman yang tidak berbaur dengan tanaman sama atau dari jenis lain. Selain harus berasal dari tanaman induk pilihan, buah cabai yang akan diambil bijinya
11 harus berbentuk sempurna, tidak cacat, bebas hama penyakit, dan umurnya cukup tua. Menurut petani syarat lainnya adalah kelopak buahnya tidak pecah.
Dalam penelitian Bayu Sumbara (2008) tentang keragaan usahatani tembakau dan virginia di kabupaten garut, varietas tembakau Virginia dilakukan oleh beberapa pihak seperti petani tembakau Virginia, Dinas Perkebunan Kabupaten Garut, dan perwakilan dari CV. Tresno Adi. Bibit tembakau Virginia belum tersedia di Kabupaten Garut sehingga petani harus membeli ke CV. Tresno Adi yang dikoordinir oleh Dinas Perkebunan Kabupaten Garut apabila ingin menanam pada musim selanjutnya. Sedangkan pada usahatani tembakau Mole, pemilihan tanaman tembakau yang akan dijadikan bibit diseleksi terlebih dulu dengan memilih tanaman tembakau yang bagus pertumbuhannya dan bebas dari hama penyakit.
Adanya perbedaan pemilihan, sumber, dan asal bibit menyebabkan keragaan usahatani untuk bibit akan dijadikan objek penelitian.
2.1.3 Pemupukan
Pemupukan merupakan objek keragaan usahatani yang dapat diteliti karena teknik, bahan, dan cara pemupukan pada tiap komoditas, varietas dalam satu komoditas berbeda-beda. Dalam usahatani cabai merah (Fristiana Merliza Siregar, 2008), pemupukan dilakukan sebanyak dua kali. Pemupukan pertama dilakukan bersamaan proses pengolahan lahan dengan 1 kg pupuk kandang/kompos setiap lubangnya. Pemupukan susulan dilakukan pada saat awal pertumbuhan, pembentukan bunga, dan buah serta saat proses pematangan. Waktu pemberiannya adalah saat tanaman berumur 1, 3, 5 minggu. Pupuk yang biasa digunakan petani adalah pupuk cair organic yang terbuat dari kotoran ternak (urine kambing, domba, dan sapi) atau bias juga terbuat dari kulit udang, bulu ayam, ikan busuk.
Pemupukan pada usahatani tembakau Mole dan Virginia berbeda dalam intensitas pemupukan. Pada tembakau Mole, intensitas pemupukan dilakukan sebanyak tiga kali (pemupukan bedengan persemaian, dan pemupukan pada saat pemeliharaan tanaman) sedangkan pada tembakau Virginia dilakukan sebanyak dua kali (pada saat pemeliharaan tanaman).
12 2.2 Penelitian Terdahulu
2.2.1 Penelitian Mengenai Mangga Gedong Gincu
Penelitian Shilvia Agung Dhiany (2009) dengan judul Analisis Daya Saing usahatani Mangga Gedong Gincu (Mangifera Indica L) Kasus di Desa Sliyeg Lor, Kec. Sliyeg, Kab. Indramayu, Jawa Barat. Usahatani memiliki nilai Rasio Biaya Privat dan Rasio Sumberdaya Domestik kurang dari 1. Nilai tersebut mengindikasikan usahatani memiliki daya saing (keunggulan komparatif dan keunggulan kompetitif). Meskipun tanpa bantuan dan intervensi pemerintah, komoditas Mangga Gedong Gincu memiliki daya saing dan bertahan di pasar persaingan sempurna. Usahatani mangga gedong gincu di Desa Sliyeg, Kab Indramayu memiliki keuntungan Privat dan Keuntungan Sosial positif. Nilai tersebut mengindikasikan usahatani menghasilkan keuntungan, baik secara financial maupun ekonomi. Penerapan kebijakan pemerintah berupa subsidi pada input usahatani Mangga Gedong Gincu memberikan keuntungan pada petani karena mampu mengurangi biaya input tradable dan input non tradable sedangkan kebijakan pemerintah pada output berupa distorsi harga berdampak pada berkurangnya penerimaan petani.
Penelitian Yeyen Eryani (2006) dengan judul Analisis Pemasaran Mangga Gedong Gincu (Mangifera indica. L) di Kabupaten Cirebon, Provinsi Jawa Barat. Hasil penelitian tersebut menyatakan bahwa proses pemasaran mangga gedong gincu di Kabupaten Cirebon melibatkan beberapa lembaga tataniaga, seperti petani, pedagang, pengumpul kecil, pengumpul besar, pedagang pengecer, pedagang di Pasar Induk, supermarket, dan eksportir. Struktur pasar yang terjadi cenderung mengarah pada pasar bersaing tidak sempurna. Struktur pasar yang terjadi antara petani mangga gedong gincu, pedagang pengumpul besar, dan pedagang pengumpul kecil adalah struktur pasar oligopsoni. Struktur pasar yang terjadi antara pedagang pengumpul besar dan pedagang di pasar bersifat oligopoli. Struktur pasar yang terjadi antara pengumpul besar dan eksportir dan supermarket adalah olgopsoni. Dari kedelapan saluran pemasaran yang ada di Kabupaten Cirebon,saluran pemasaran 2 (petani-pedagang pengumpul besar-pedagang pengecer-di pasar local-konsumen) merupakan saluran pemasaran yang paling
13 efisien berdasarkan nilai farmer’s share terbesar yang diterima petani mangga gedong gincu yaitu sebesar 61,07%.
2.2.2 Penelitian Mengenai Pengaruh Teknologi Terhadap Pendapatan Petani Penelitian Valentinus Ladja Dede (1985) dengan judul Tesis Pengaruh Teknologi Pola Tanam pada Pendapatan Petani di Daerah yang Beriklim Kering, Kasus Wilayah Pengembangan Pertanian AROKI di Nusa Tenggara Timur. Dalam penelitiannya, adanya teknologi baru seperti penggunaan pupuk,varitas unggul,pengaturan waktu tanam telah meningkatkan penerimaan petani antara 21% walaupun dengan curah hujan yang terbatas antara 4-5 bulan dalam setahun dan kesuburan tanah yang marjinal.
Penelitian Akbar Zamani (2008) dengan judul Analisis Pendapatan dan Efisiensi Penggunaan Produksi Usahatani Belimbing Depok Varietas Dewa Dewi
(Averrhoa Carambola). Hasil penelitian tersebut menyebutkan, pengeluaran
biaya terbesar untuk petani SOP dan non SOP adalah biaya untuk Tenaga Kerja Dalam Keluarga (TKDK) dan Tenaga Kerja Luar Keluarga (TKLK). Biaya TKLK yang dikeluarkan petani SOP yaitu sebesar Rp. 1.247.200 atau sekitar 30,97% dari biaya total produksi dan untk petani non SOP mengeluarkan biaya tersebut sebesar Rp. 1.177.600 atau 30,98% dari total biaya produksi. Penerimaan Tunai yang diterima petani SOP dan non SOP yaitu masing-masing Rp. 6.288.876 dan Rp. 4.803.976. Pendapatan petani SOP atas biaya tunai dan biaya total untuk satu musim panen masing-masing Rp. 3.701.019 dan Rp. 2.261.114 sedangkan untuk petani non SOP masing-masing sebesar Rp. 2.816.139 dan Rp. 1.002.916. Sehingga R/C rasio atas biaya tunai dan total untuk petani SOP masing-masing 2,43 dan 1,56 sedangkan R/C rasio atas biaya tunai dan total yang diperoleh petani non SOP yaitu sebesar 2,42 dan 1,26.
2.2.3 Penelitian Mengenai Pendapatan Usahatani
Penelitian Teguh Purwadi (2009) dengan judul Analisis Pendapatan Usahatani Pisang Ambon melalui Program Primatani. Hasil analisis biaya usahatani menunjukkan bahwa pada tahun 2008 total biaya usahatani pisang per hektar sebesar Rp. 16.991.076,49 yang terdiri dari biaya tunai Rp. 11.298.555,48
14 dan biaya tidak tunai sebesar Rp. 5.692.521,01. Dari Struktur biaya yang dikeluarkan petani dapat dilihat bahwa dalam budidaya pisang ini petani telah menjadikan pisang sebagai usahatani komersial dimana petani lebih banyak menggunakan factor produksi yang dibeli secara tunai. Hasil analisis penerimaan usahatani menunjukkan bahwa pada tahun 2008 petani di Desa Talaga per hektar produksi yang dihasilkan sebesar 20.526,48 kg, dari jumlah produksi petani mendapatkan penerimaan tunai sebesar Rp. 33.937.045,18. Pendapatan yang diperoleh selama satu tahun dari luas lahan satu hektar adalah sebesar Rp. 16.945.968,69. Hasil analisis efisiensi menunjukkan bahwa budidaya yang dilakukan petani menguntungkan untuk dijalankan dengan nilai imbangan biaya dan penerimaan sebesar 3,00 terhadap biaya tunai dan 2,00 terhadap biaya total.
Penelitian Rosana Podesta (2009) dengan judul Pengaruh Penggunaan Benih Sertifikat terhadap Efisiensi dan Pendapatan Usahatani Padi Pandan Wangi. Hasil analisis menunjukkan bahwa usahatani padi Pandan Wangi benih sertifikat lebih efisien secara teknis dibandingkan usahatani dengan benih non sertifikat. Hasil analisis pendapatan menunjukkan bahwa pendapatan tunai maupun pendapatan total usahatani padi Pandan Wangi benih bersertifikat baik MT I maupun MT II lebih besar daripada usahatani padi Pandan Wangi dengan benih non sertifikat. Akan tetapi, nilai R/C rasio atas biaya tunai usahatani padi pandan wangi benih non sertifikat MT II lebih besar dibandingkan nilai R/C rasio yang lain. Hal ini karena komponen terbesar biaya tunai berasal dari benih dan benih yang digunakan adalah benih non sertifikat yang harganya lebih murah jika dibandingkan dengan benih bersertifikat. Beberapa alasan tersebut yang mengakibatkan petani lebih memilih menggunakan benih non sertifikat dibandingkan benih yang bersertifikat.
15 Tabel 4. Penelitian Terdahulu
No. Nama Tahun
Penelitian
Judul Skripsi Alat Analisis 1. Teguh Purwadi 2009 Analisis Pendapatan
Usahatani Pisang Ambon melalui Program Primatani
R/C Rasio
2. Rosana Podesta 2009 Pengaruh Penggunaan Benih Sertifikat terhadap Efisiensi dan Pendapatan Usahatani Padi Pandan Wangi
R/C Rasio Analisis Frontier
3. Akbar Zamani 2008 Analisis Pendapatan dan Efisiensi
Penggunaan Produksi Usahatani Belimbing Depok Varietas Dewa Dewi (Averrhoa Carambola)
R/C Rasio Analisis Efisiensi
Penelitian yang telah dilakukan memiliki kesamaan dan perbedaan dengan penelitian sebelumnya. Persamaan dengan penelitian oleh Akbar Zamani yang meneliti mengenai tanaman tahunan dengan menggunakan Analisis Pendapatan R/C Rasio. Perbedaannya adalah dalam penelitian ini menggunakan analisis parsial dengan Metode Keuntungan Parsial untuk mengevaluasi penerapan Standar Operasional Prosedur (SOP) terhadap pendapatan petani.
2.2 Definisi Operasional
Mangga Gedong Gincu adalah mangga jenis gedong yang dipanen pada kematangan antara 70% hingga 95%.
Petani SOP adalah petani yang telah tersertifikasi oleh Departemen Pertanian Jawa Barat atas kebun buah mangga gedong gincu.
Petani Non SOP adalah petani yang tidak tersertifikasi oleh Departemen Pertanian Jawa Barat atas kebun buah mangga gedong gincu.
Proses sertifikasi adalah proses pendaftaran kebun buah mangga yang telah menerapkan Standar Operasional Prosedur (SOP).