51 BAB 4
ANALISA DAN BAHASAN
Pada bab ini, akan dibahas mengenai analisa dari beberapa aspek untuk mendukung perancangan panti jompo di Jakarta Timur. Analisa terhadap aspek-aspek perancangan yang terdiri dari aspek-aspek manusia, lingkungan dan bangunan.
4.1. Aspek manusia
Berdasarkan survei yang dilakukan di 3 tempat panti jompo jakarta, dapat dilihat pengguna kegiatan bangunan panti jompo tidak lepas hubungannya antara 2 kelompok pengguna utama yaitu penghuni dan kelayan tenaga kesehatan). Selain penghuni dan kelayan (tenaga kesehatan), terdapat kelompok pengguna utama lain yaitu pengunjung, dan pengelola panti jompo, manusia yang terlibat dalam proyek :
1. penghuni
2. Staff (tenaga kesehatan, pengelola) 3. pengunjung
4. staff service
4.1.1 Hunian
Untuk mengatasi perubahan-perubahan yang terjadi baik psikologis-emosional maupun kondisi fisiknya di hari-hari tua, Prof.Dr.R Kusumanto Setyonegoro (Sartika,1992) mengatakan ada tiga langkah yang dapat ditempuh:
1. Mengusahakan kemandirian semampu-mampunya agar tugas-tugas rutin sehari-hari dapat tetap dikerjakan.
2. Mengusahakan adanya aktivitas mental dan fisik secara berkelanjutan dan teratur.
3. Mengisi waktu senggang secara konstruktif baik dengan kegiatan-kegiatan intelektual maupun berupa kegiatan-kegiatan ketrampilan dengan maksud memperbaiki presetasi dan mencapai sasaran yang sudah ditetapkan.
Hal ini juga diperkuat lagi oleh hasil penelitian dari pusat penelitian Unika Atmajaya yang mengarahkan bahwa :
1. Kegiatan rutin sehari-hari lansia di panti jompo seperti tidur, mandi, makan, masak, membaca, nonton TV, mendengarkan radio, merenung, sembahyang, mengamati lingkungan sekitar.
2. Kegiatan yang mengusahakan aktivitas mental dan fisik secara berkelanjutan dan teratur seperti kegiatan olahraga, jogging, jalan cepat, senam pagi, jalan santai. Adanya fasilitas pelayanan dan perawatan: periksa kesehatan, pertolongan pertana untuk keadaan darurat
3. Mengisi waktu senggang secara konstruktif :
• Interaksi interpersonal antar penghuni : ngobrol, minum dan makan bersana, olahraga bersama, beribadat bersama, membaca buku, berjalan-jalan
• Interaksi sosial (antara penghuni dan masyarakat) : -Penghuni - pengunjung biasa: menyapa, mengobrol -Penghuni - kerabat/keluarga: mengobrol, makan bersama,
bermain dengan cucu
Gambar 4.1 Alur kegiatan penghuni
4.1.2 Staff
Memeriksa kesehatan fisik lansia, Mengontrol dan mengawasi kegiatan Lansia, mengatur makan, istirahat, standby di pos untuk mendampingi lansia jika perlu
Gambar 4.2 Alur kegiatan tenaga kesehatan
Gambar 4.3 Alur kegiatan pengelola
4.1.3 Pengunjung
Menjenguk kerabat atau keluarga, mengadakan acara seperti ulangtahun penghuni dll, makan bersama dan ngobrol, membawa keperluan, ikut serta dalam klub hobi, menginap.
Gambar 4.4 Alur kegiatan penguni
4.1.4 Service
-Staff pemeliharaan kebersihan : cuci, jemur, setrika, cleaning servis -Staff keamanan: menjaga keamanan
-Staff M.E: memeriksa M.E, bongkar muat barang -Staff mini market: bongkar muat barang
Gambar 4.5 Alur kegiatan staff service
4.1.5 Analisa Jumlah Unit
Jatinegara merupakan kecataman dengan jumlah lansia terbanyak setelah Duren Sawit yaitu sebanyak 17.648 jiwa dan menurut buku kecamatan dalam angka tahun 2012, lansia terlantar di Jatinegara sebanyak 187 jiwa
Tabel 4.1 Jumlah lansia terlantar di Jatinegara
Sumber :Buku Kecamatan Dalam Angka Tahun 2012
Berdasarkan jumlah lansia terlantar di Jatinegara, maka dapat direncanakan berjumlah ±190 unit kamar hunian pada panti jompo ini dan asumsi untuk kebutuhan kamar unit hunian single adalah 150,unit double 30 dan unit bersama adalah 4, maka perencanaan unit hunian adalah ±230 orang
4.1.6 Analisa Kebutuhan Parkir
Kebutuhan jumlah parkir dapat dihitung berdasarkan buku (Bradford Perkins, J.D Houglund, D.King, Senior Living. 2004) setiap unit dibutuhkan 0,3 - 0,5 parkir kendaraan. Maka kebutuhan parkir pada panti jompo ini adalah sebagai baerikut :
4 .1 .7 S tu d i b a n d in g p a n ti j o m p o J a k a rt a T a b el 4 .2 A n al is a k eb u tu h an r u an g
4 .1 .8 S tu d i b a n d in g p a n ti j o m p o J a k a rt a T a b el 4 .3 P ro g ra m r u an g
4.1.9 Hubungan Antar Ruang
Kemudian dari kebutuhan ruang tersebut dapat di buat dalam bentuk bubble diagram hubungan ruang, dimulai dari matriks hubungan ruang kemudian ke bentuk bubble diagram mikro dan makro.
Tabel 4.4 Matriks hubungan ruang
Bubble diagram hunian
Memperhatikan hubungan antara hunian dengan fasilitas yang dibutuhkan, dari hubungan ruang yang punya hubungan paling erat, erat dan tidak erat
Gambar 4.6 Bubble diagram penghuni mikro dan makro
Keterangan: 1 Tidak erat 2 Erat 3 Sangat erta
Bubble diagram pengelola
Memperhatikan hubungan pengelola dengan penunjang operasional gedung, dari hubungan ruang yang punya hubungan paling erat, erat dan tidak erat.
Gambar 4.7 Bubble diagram pengelola mikro dan makro Bubble diagram pengunjung
Memperhatikan hubungan pengunjung dengan fasilitas gedung, dari hubungan ruang yang punya hubungan paling erat, erat dan tidak erat.
Gambar 4.8 Bubble diagram pengunjung makro
Pendekatan manusia dengan perancangan Hunian (warga lanjut usia)
• Penyediaan fasilitas dan kegiatan-kegiatan yang sesuai untuk mengatasi kebosanan, kesepian dan lainnya selain kegiatan rutin sehari-hari akibat terjadinya perubahan-perubahan psikologis-emosional di usia mereka. Perlu diperhatikan cara menciptakan suasana seperti di rumah sendiri dan penuh rasa kebersamaan, interaksi sosial yang tinggi.
• Penyediaan kemudahan-kemudahan bagi warga lansia berkaitan dengan menurunya kemampuan fisik dan
perkembangan mental. Perlu diperhatikan struktur kegiatan yang akan terjadi di dalam tapak sehingga dapat mengatifkan penghuni untuk memperlambat penurunan kualitas fisik. • Penyediaan kemudahan-kemudahan dan cara menciptakan
keamanan dan keselamatan penghuni yang memadai berkaitan dengan kemunduran fisiologis dan psikologis mereka.
• Penyediaan kemudahan aksesibilitas yang menciptakan kemandirian para penghuni dengan berkaitan dengan kemunduran fisik lansia.
Pengunjung
Tamu/ kerabat: menciptakan suasana yang sekiranya dapat membuat pengunjung merasa betah sewaktu mereka berkunjung ke tempat ini dan tidak sekedar datang saja tapi juga bisa menikmatinya.
Pengunjung umum: perlu diperhatikan pengunjung berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya tanpa membuat para penghuni merasa kurang aman atau sebaliknya merasa terisolasi dari lingkungannya.
Pengelola
Perlu diperhatikan mengenai kemudahan pengawasan dan pengontrolan kegiatan-kegiatan yang berlangsung dalam tapak selain kepentingan administrasi. Contohnya adalah meletekan pos perawat di tengah-tengah hunian untuk mempermudah mobile antara perawat dengan hunian
Servis
Perlu diperhatikan mengenai masalah penempatan ruang servis dan bagaimana caranya agar pelayanannya dapat terjangkau merata sekaligus juga tanpa harus mengganggu kegiatan lainnya di dalam tapak
Berdasarkan pendekatan-pendekatan diatas, maka dapat dibuat sebuah zone antar ruang private, ruang semi-private dan ruang publik
Gambar 4.9 Bubble diagram zoning lantai 1
Gambar 4.10 Bubble diagram zoning lantai 2-8
4.2. Aspek Lingkungan 4.2.1 Lokasi Tapak
Tapak berada di Jalan Jendral Basuki Rahmat, kecamatan Jatinegara, Cipinang Besar Utara, Jakarta Timur. Lokasi ini berada di sebuah tanah kosong dengan luas lahan sekitar ±6,5 ha, dan tidak berbatasan langsung dengan bangunan lain
Lantai 1
Lantai 3-8 Lantai 2
Gambar 4.11 Lokasi pencapaian tapak
4.2.2 Pencapaian tapak
Lokasi ini berada di jalan utama Jendral Basuki Rahmat dan memberikan kemudahan bagi pengunjung yang ingin mencapai ke lokasi tapak. Pencapaian ke tapak dapat melalui beberapa jalan alternatif :
-Utara :Pulo Gadung -Selatan :Kuningan -Timur :Duren Sawit -Barat :Kasablanka
Gambar 4.12 Peruntukan lahan tapak
Luas Lahan : ±6,5 hektar (±65000m2), yang akan digunakan 7200m2 KDB :40 % = 40% x 7000 = 2880m2
Ketinggian Maksimal : 8
Peruntukan lahan : SSk (kesehatan) GSB : -Utara 4m
-Timur 7m -Selatan 10m -Barat 4m
4.2.3 Kondisi Sekitar Tapak
• Bagian Utara merupakan tanah kosong yang akan dibangun apartemen Bassura City
• Bagian Timur tapak merupakan kawasan pemukiman warga
• Bagian Selatan dan Barat tapak merupakan kawasan ruko dan pasar dengan jalur lalu lintas dua arah
Gambar 4.13 Kondisi lingkungan sekitar tapak Sumber : dokumentasi pribadi
Potensi site:
1. Dekat dengan perumahan, cukup tenang
2. Dekat dengan fasilitas kota : pasar, masjid, sekolah dll 3. Dekat dengan Rumah sakit
4. Pencapaian mudah di akses
5. Merupakan tanah kosong dan datar
6. Dekat dengan kanal, mempermudah pembuangan air limbah
Kekurangan:
1. Tapak melebar ke sisi Barat dan Utara
2. kebisingan relatif rendah karena jauh dari jalan utama
4.2.4 Analisa Lingkungan Analisa Entrance
Tabel 4.5 Perbandingan analisa entrance
Alternatif 1 Alternatif 2
Kelebihan:
-Berada di dalam jalan lingkungan 1 sehingga mudah dikenal
-Sangat baik untuk sirkulasi kendaraan ke dalam tapak, supaya menghindari kepadatan
dari keramaian pasar
Kekurangan:
-Tidak di lalui kendaraan umum, sehingga sulit diakses oleh pengunjung yang datang dengan
kendaraan umum
Kelebihan:
-Berada di jalur jalan lingkungan 2 yang yang jarang di lalui oleh kendaraan
umum
Kekurangan:
-Berada di jalur jalan lingkungan 2 sehingga susah untuk di capai
Pertimbangan penentuan pencapaian dan sirkulasi ke dalam tapak akan lebih baik jika setiap kegiatan tidak saling mengganggu agar tercipta sirkulasi yang nyaman, aman dan mudah.
Alternatif 1 dipilih, dasar pertimbangan meletakkan pintu masuk di daerah tersebut adalah mudah dilihat, mudah dalam pencapaianya dan berorientasi ke arah jalan utama. Hanya ada 1 jalan masuk ke dalam tapak. Kekurangannya, pejalan kaki, tamu berkendaraan dan pengelola/servis mempunyai 1 pintu masuk sehingga mengurangi kenyamanan dalam pencapaian menuju tapak.
Pintu masuk utama diletakkan di sebelah Barat tapak, dengan pertimbangan kondisi lalu-lintas kendaraan, dimana bagian Barat merupakan jalan lingkungan 1 namun dapat mudah dicapai pintu masuk dibandingan di jalan lingkungan 2.
Gambar 4.14 Konsep entrance
Bagian utara merupakan akses jalan lingkugan 2 yang jarang dilalui kendaraan dan bersifat tersembunyi. Sehingga dapat menjadi pintu masuk mobil utilitas seperti truk sampah dan mobil kebakaran yang tidak akan terhambat oleh kepadatan kendaraan di jalan jika menuju ke lokasi.
Analisa arah matahari
Tabel 4.6 Tabel perbandingan analisa matahari
Alternatif 1 Alternatif 2
Kelebihan :
-Orientasi bangunan ke Utara dan Selatan
-Memudahkan dalam perletakan bukaan untuk pencahayaan dan penghawaan
alami
-Kamar dapat memperoleh sinar matahari alami
Kekurangan:
-orientasi banguna menjadi kurang mengundang
Kelebihan :
-Bentuk massa memudahkan dalam penyusunan layout ruang -orientasi bangunan menjadi lebih
mengundang Kekurangan :
-Bangunan memanjang ke arah Barat dan Timur
-Ruang kamar menghadap Barat (panas)
-Bukaan mengarah ke Barat dan Timur kurang dapat mengoptimalkan
penghawaan alami
Dari analisa diatas, alternatif 1 memiliki orientasi bangunan yang lebih baik terhadap jalur matahari. Ruang-ruang utama seperti kamar tidur panti jompo tidak langsung mengenai radiasi matahari sehingga memungkinkan temperatur udara didalam ruangan tetap rendah.
Berdasarkan analisa matahari dan angin di kondisi tapak maka untuk mengoptimalkan potensi matahari ke dalam tapak sehingga perletakkan massa bangunan dapat dilihat dari tabel 4.14 di bawah ini.
Gambar 4.15 Hasil analisa matahari
Bentuk tapak yang tidak tegak lurus dengan jalur matahari memberikan potensi baik pada massa bangunan dalam hal pembayangan. Setiap sisi bangunan tidak ada yang secara terus menerus mendapatkan panas matahari. Pada sisi Timur terdapat ujung gubahan massa yang semakin melebar yang dapat dimanfaatkan sebagai open space dengan sinar matahari pagi.
Permasalahan terjadi disisi Barat, dimana sisi tersebut mendapatkan radiasi matahari yang relatif tinggi. Solusi terbaik yaitu dengan meletakkan massa bangunan yang dapat meminimalkan penerimaan radiasi matahari yaitu dengan penempatan ruang-ruang utama seperti kamar panti jompo yang tidak langsung menghadap arah jalur matahari agar suhu didalam kamar panti jompo tidak panas. Pada sisi Barat-Timur diletakkan ruang service atau ruang public yang tidak menjadi persoalan jika terkenal sinar matahari yang berlebih.
Analisa kebisingan dan vegetasi
Sumber kebisingan utama berasal dari arah Barat dan Utara tapak dimana dikelilingi oleh jalan lingkungan. Adapun pemecah masalah kebisingan adalah dengan mengatur perletakan bangunan, bangunan di tempatkan mundur ke belakang tapak, menjauhi sumber kebisingan. Selain itu
juga dapat dilakukan dengan menempatkan vegetasi di sekitar tapak sebagai sound barrier. Kebisingan pada tapak sangat mempengaruhi ketenangan hunian di panti jompo sehingga penanganan kebisingan pada tapak harus di minimalkan seminimal mungkin
Gambar 4.16 Sound barrier pada tapak
Analisa Gubahan Massa
Tabel 4.7 Perbandingan bentuk gubahan massa
Bentuk dasar Bangunan Kelebihan Kekurangan
-Lebih fungsional
-Layout ruang lebih mudah
-Dapat memaksimalkan
ruang yang ada
-Bentuk cenderung statis dan kaku
-Bentuk dinamis
-Dapat mengalirkan angin -Mempunyai pusat (focal point)
-Relatif lebih indah secara estetik
-Tidak efisien dalam meletakkan ruang
-Kurang cocok terhadap
bentuk tapak yang
memanjang
-Bangunan stabil secara
konstruksi/ gempa
-Kurang efisien pada
bagian sudut, dan pada bentuk tapak yang ada -Sulit dipadukan dengan bentuk lain
Dari bentuk massa yang ada, bentuk massa pipih memanjang menjadi pilihan utama, mengingat pola sirkulasi linear yang akan diterapkan, bentuk pipih memanjang memiliki kelebihan dalam perancangan layout.
Gambar 4.17 Zoning pada tapak
Gambar 4.18 Gubahan massa
Orientasi sisi massa bangunan di susun sedemikian rupa diharapkan dapat mengoptimalkan potensi sinar matahari dan angin. Massa bangunan yang pendek menghadap ke arah sisi Barat dan massa bangunan yang memanjang menghindari panas matahari dikarenakan ruang yang akan
digunakan adalah ruangan hunian para lansia, di samping itu untuk menciptakan penerangan alami juga lebih mudah. Selain itu, bentuk bayangan dari bangunan itu sendiri juga dapat di gunakan sebagai teduhan untuk area terbuka.
Gambar 4.19 Analisa zoning lantai 1
• Zona area servis dan parkir servis diletakkan disisi belakang agar aktivitasnya dalam panti jompo.
• Lobby utama dan kantor pengelola diletakkan disisi depan berdekatan dengan pintu masuk utama agar mempermudah proses registrasi bagi lansia yang ingin tinggal di panti jompo tersebu
• Bangunan klinik dan serba guna merupakan zona publik yang dipisah dan diletakkan dibagian Barat biar tidak terjadi keramaian dikedua massa bangunan
• Area semi private yang meliputi ruang-ruang para lansia menjalankan aktifitas sehari-hari tanpa ada orang luar kecuali pengunjung yang dapat mengakses ke lantai 2, ruang-ruang yang terdiri dari fasilitas-fasilitas indoor dan ruang therapy
• Pada bagian lantai 2 ujung Utara bangunan merupakan zona private unit hunian bagi lansia setengah rentan, tujuannya supaya mempersingkat jarak tempuh para lansia setengah rentan dalam menggunakan fasilitas gedung dan lebih mendekati ruang fisiotherapy. Selain itu jika dalam keadaan darurat lebih mudah dievakuasi.
• Antara tower A dan tower B setiap lantai dihubungkan connection bridge agar dapat mempersingkat jarak tempuh lansia dalam dari satu tower ke tower lain
Gambar 4.21 Analisa zoning lantai 3-8
• Pada lantai 3-6 merupakan zona private dimana hanya dapat diakses oleh penghuni itu sendiri. Selain dapat menjaga ketenangan dan juga privasi para lansia tersebut
• Pada tower B disediakan ruang komunal bagi lansia di lantai masing-masing diharapkan menjadi sebuah titik kumpul para lansia agar tetap bisa menjaga sosialitas antara penghuni
4.3. Aspek Bangunan
4.3.1 Analisa sirkulasi horizontal
Dalam perancangan panti jompo ini, sirkulasi single loaded terasa lebih efektif untuk mengurangi jumlah pemakaian listrik karena penghawaan dan pencahayaan alami dapat dimanfaatkan. Namun, single loaded memiliki kekurangan yaitu mudah masuk debu. Hal ini menjadi pertimbangan karena kamar seorang lansia harus bersih dari debu. Oleh sebab itu, sirkulasi double loaded terasa cocok untuk koridor kamar penghuni lansia karena hubungan antar ruang lebih mudah dicapai mengingat para lansia butuh aksesibilitas yang mudah. Sirkulasi double loaded ini akan dikombinasikan dengan sistem linear bertekuk. Tujuannya agar sirkulasi koridor tidak monoton.
Tabel 4.8 Perbandingan koridor
Jenis Sirkulasi Kelebihan Kekurangan
Singel Loaded • Dapat memaksimalkan
pencahayaan dan
penghawaan alami
• Kurang efisien dalam
penggunaan lahan
• Debu mudah masuk
Double Loaded • Memuat banyak unit sehingga efisien dalam penggunaa lahan.
• Mudah dalam
pencapaian antar ruang
• Koridor membutuhkan
penghawaan dan
pencahayaan buatan.
Sirkulasi horizontal menggunakan pola sirkulasi terpusat, pola ini dapat memudahkan perawat mencapai ke unit-unit hunian. Serta pos perawat terletak di tengah-tengah unit hunian supaya dapat mempersingkat jarak tempu perawat ke unit hunian
Gambar 4.22 Zoning horizontal hunian 4.3.2 Analisa Sirkulas Vertikal
Tabel 4.9 Perbandingan jenis sirkulasi vertikal
Jenis sirkulasi Kelebihan Kekurangan
Tangga -tidak menggunakan listrik
-fleksible dan murah -harus ada untuk keadaan darurat
-melelahkan bagi pengguna
Lift -Tidak melelahkan, cocok untuk
para pengguna (lansia) dimana lansia akan lebih nyaman
-Butuh listrik -Perlu waktu tunggu dan
tidak dapat di gunakan dalam keadaan darurat Ramp -Bernilai estetika
-Efisien bagi trolley dan penyandang cacat
-butuh space besar, tidak efisien dan melelahkan
pertimbangan bangunan > 4 lantai:
- digunakan pada kondisi lahan yang sempit dan padat -lebih kompleks
-sirkulasi horizontal dekat -tingkat privasi tinggi -bahaya terhadap kebakara Pertimbangan bangunan < 4 lantai :
-Digunakan pada kondisi lahan yang luas dan belum padat -sirkulasi horisontal relatif jauh
-tingkat privasi rendah
-lebih mudah melakukan evakusi Pos perawat
Hunian Lift
Arahan:
Ketinggian bangunan menggunakan ketinggian 8 lantai, dengan pertimbangan privasi dan ketenagan para lansia, mengingat warga lansia yang sangat rentan terhadap fisik mereka yang akan mempengaruhi ruang gerak mereka sehingga sirkulasi vertikal utama yang digunakan adalah lift, penggunaan ramp pada area split level.
Gambar 4.23 Zoning Vertikal bangunan
Menurut buku Building Type Basic For Senior Living, 2004, kriteria lift untuk bangunan panti jompo adalah sebagai berikut:
Untuk 60 orang dilayani oleh 1 lift
Kapasitas lift maksimal 16 orang termasuk kursi roda dan kasur roda
Perhitungan jumlah lift
240 orang / 2 zona (massa A dan B) = 120 orang 120 orang / 60 = 2 unit lift tamu
2 lift tamu x 2 zona = 4 lift tamu (total)
Asumsi menggunaka 1 lift barang
4.3.3 Analisa Utilitas Proteksi Kebakaran
Bangunan harus menggunakan konstruksi yang tahan api untuk melindungi penghuninya jika terjadi kebakaran minimal dalam waktu 6 jam. Setiap bagian bangunan dapat menggunakan sistem ini dan biasanya sistem ini digunakan pada tangga dan lift.
Berdasarkan peraturan bangunan tinggi jarak jangkauan tangga tidak boleh lebih dari 30 meter. Pada jalan buntu tangga harus di tempatkan pada jarak 12 meter dari pintu paling ujung dan pintu tangga darurat yang tahan api.
Gambar 4.24 Ilustrasi standar tangga darurat
Berdasarkan analisa diatas maka dapat di tentukan beberapa titik tangga darurat pada lokasi tapak proyek ini. Tangga darurat di letakkan pada setiap ujung koridor untuk menghindari dead corridor disaar terjadi kebakaran pada lantai unit hunian.
Gambar 4.25 Titik tangga darurat
Sesaat lansia setengah rentan harus dievakuasi naik turun tangga, dapat dilakukan dengan mengguanakan evacuation slide. Karena bentuk fisik evacuation slide seperti luncuran dengan sudut kemiringan yang mengacu pada standar evacutation slide pada pesawat boeing yaitu antara 22-32
derajat, dengan pengaplikasian evacuation slide ini diharapakan dapat menjadi solusi desain tangga kebakaran bagi lansia yang tidak dapat bergerak dengan normal atau setengah rentan.
Gambar 4.26 Ilustrasi evacuation slide di negara China
sumber : http://www.huffingtonpost.com/2013/03/14/chinese-evacuation-slide-installed_n_2876882.html (diakses 27 July 2014)
Selain itu, bangunan harus dilengkapi sarana pencegahan kecelakaan seperti alarm suara dan petunjuk penggunaan yang mudah dipahami oleh pemakainya atau untuk lift 4 (empat) lantai harus dilengkapi ARD (Automatic Rexserve Divide) yaitu alat yang dapat mencari lantai terderkat bila terjadi pemadaman listrik.
Sistem deteksi asap seperti smoke detector dan sprinkler di tempatkan pada setiao unit kamar dan koridor gedung untuk mengantisipasi apabila terjadi kebakaran
Gambar 4.27 Sprinkler dan smoke detector sumber : google
Hidran dan APAR (Alat pemadam Api Ringan) juga merupakan syarat dalam perancangan bangunan umun, khususnya panti jompo. Hidran dalam biasanya ditempatkan di dekat atau di dalam tangga darurat, dan biasanya dilengkapi dengan selang, katup, tabung pemadam, serta alarm atau tombol panggil. Air yang digunakan diambil dari menara air, yang memang sebagian isinya dicadangkan untuk keperluan darurat. Hidran luar berupa kepala hidran dan selang. Sumber airnya dari sistem hidran kota.
Analisa Instalasi Listrrik
Instalasi listrik di salurkan dari PLN ke gardu dan dari gardu di salurkan lagi ke panel-panel pada bangunan. Selain listrik dari PLN, pada bangunan juga disiapkan generator yang berfungsi sebagai listrik cadangan apabila terjadi pemadaman lampu dari PLN. Peletakan ruang panel dan generator atau genset diletakan pada basement atau di ruang-ruang yang jauh dari aktivitas manusia, terutama unit hunian. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari kebisingan yang terjadi akibat suara mesin genset.
Gambar 4.28 Skema penyaluran listrik
Pada perancangan bangunan panti jompo, genset akan diletakan di basement agar tidak menggangu kegiatan pengguna baik didalam maupun sekitar bangunan akibat suara yang ditimbulkan dari genset.
Analisa Air Bersih
Penyediaan air bersih pada panti jompo ini menggunakan air PAM. Hal ini di sebabkan jika mengambil air tanah tidak akan efisien (pengeboran tanah yang cukup dalam, daya sedot pompa lebih besar) selain itu dapat mengganggu keseimbangan lingkungan. Berikut adalah contoh sistem penyediaan air bersih:
Gambar 4.29 Skema penyaluran air bersih
4.4 Analisa Aksesibilitas Lansia di Panti Jompo Jakarta
Analisa aksesibilitas berdasarkan pada hasil survey lapangan terhadap panti jompo di Jakarta dengan menggunakan gabungan dari 3 sample panti jompo yang tidak memenuhi kemudahan aksesibilitas bangunan yang ideal. 4.4.1 Sirkulasi vertikal
Ramp yang disediakan pada panti jompo Budi Mulia 4 hanya terdapat 1 sisi handrail saja dan ramp tersebut didesain tidak memenuhi standar sehingga terlalu curam bagi lansia untuk menggunakannya.
Gambar 4.30 Studi kasus Budi Mulia 4
Sirkulasi vertikal pada panti jompo Santa Anna menggunakan tangga dan lift, namun lift yang tersedia hanya 1 sehingga bisa dikatakan kebutuhan lift tidak mencukupi, sehingga para lansia terpaksa menggunakan tangga,
namun tangga yang disediakan tidak menyediakan handrail pada dinding sehingga mengakibatkan ketidaknyamanan saat menggunakan tangga.
Gambar 4.31 Studi kasus Santa Anna
Arahan desain Ramp
• Lebar ramp harus dapat dilewati 2 jalur yaitu minimal 1,2 m • Kemiringan ramp tidak boleh melebihi rasio 1 : 12
• Untuk jalur ramp yang panjang diperlukan sebuah tempat peristirahatan bagi lansia dimana tersebut dapat berupa taman kecil atau tempat duduk yang dilengkapi relif-relif yang dapat merelaksasi visual para lansia
• Perlu adanya lampu penerang pada ramp di malam hari, untuk mempermudah penglihatan lansia. Lampu disembunykan menciptakan cahaya indirect supaya menghindari efek silau pada penglihatan lansia
Gambar 4.32 Detail ramp Sumber : Barrier free design guide
Gambar 4.33 Detail ramp
Gambar 4.34 Detail ramp
Railing
• Sebaiknya menyediakan railing di kedua sisi ramp. Agar jika salah satu railing di hentikan oleh entrance pintu atau pergantian jalur maka dapat di lanjutkan pada railing lainnya.
• Sebaiknya railing diperpanjang 300mm di akhir ramp. Supaya tetap menjaga keseimbangan pengguna.
• Railing harus disediakan di setiap koridor, tangga, ramp dan kamar mandi di panti jompo. ramp, tangga atau yang lebih dari 1,1 meter sebaiknya di sediakan railing di dua sisi.
• Dinding dengan permukaan kasar harus diberi jarak 75mm antar genggaman railing dengan dinding, jika dinding dengan permukaan tidak kasar maka cukup di kasih jarak 40mm, agar tangan lansia menghindari terggoresnya dengan dinding permukaan kasar.
• Genggaman railing sebaiknya berbentuk lingkaran dengan diameter 30mm-43mm untuk memastikan genggaman yang erat.
• Railing yang dihentikan oleh pintu sebaiknya tidak menghalangi pengguna untuk melanjutkan perjalanan, sebaiknya disediakan railing di sisi lainnya untuk melanjutkan perjalanan lansia.
• Ketinggian genggaman railing sebaiknya sesuai dengan standar yaitu 800mm-900mm dari permukaan lantai
• Handrail di beri jarak miniman 20 cm dari dinding bertujuan untuk menghindari tergoresnya dinding oleh kursi roda
• Menghindari menggunakan jenis railing yang mempunyai celah di void, karena.
Gambar 4.35 Detail handrail
Gambar 4.37 Detail handrail dengan dinding
Gambar 4.38 Extended railing
Gambar 4.39 Railing pada void
4.4.2 Sirkulasi horizontal
Pada area lobby utama terdapat tanjakan yang lumayan tinggi sekitar 20cm, yang tidak dapat di lalui oleh lansia yang menggunakan kursi roda ataupun kesulitan lansia yang menggunakan tongkat jalan
Gambar 4.40 Studi kasus Karya Kasih Arahan desain:
• Ketinggian level ruang sebaiknya tidak melebihi 13 Ketinggian level ruang sebaiknya tidak melebihi 13mm, ketinggian level ruang yang melebihi 13mm sebaiknya diberikan kemiringan agar mempermudah transisi dari satu ruang ke ruang lain.
• Ketinggian level ruang sebaiknya dapat dikenali oleh lansia, dengan memberikan warna kontras di bagian pertemuan level ruang supaya dapat menghindari jatuh pada lansia.
Kamar mandi
Koridor menuju ke kamar mandi terlalu sempit, sangat tidak memungkinkan lansia yang memakai kursi roda untuk bisa menggunakan kamar mandi tersebut, selain itu pada dinding tidak dilengkapi handrail (pegangan tangan) untuk mempermudah gerakan lansia.
Standar pintu untuk aksesibilitas kursi roda adalah minimal 80cm sedangkan lebar pintu kamar mandi di panti lansia karya kasih hanya 65cm sehingga tidak memungkinkan kursi roda melakukan manuver.
Arahan desain:
• Material lantai kamar mandi sebaiknya menggunakan material kasar supaya menghindari resiko jatuh karena licin
• Sebaiknya menhindari menggunakan kloset jongkok pada lansia, dikarenakan kekuatan kaki lansia semakin hari semakin lemah.
• Sebaiknya kamar mandi di lengkapi dengan handrail supaya lansia dapat melakukannya secara mandiri dan juga kenyamanan lansia dalam menggunakan kamar mandi
• Menggunakan cahaya yang cukup dalam kamar mandi untuk menghindari resiko kecelakaan pada lansia
• Alat mandi yang digunakan sebaiknya dengan shower, jika menggunakan ember sangat melelahkan lansia
• Jika ada perbedaan level lantai pada kamar mandi, harus di beri kemiringan dan memeberikan warna kontras diantara perbedaan level lantai
Gambar 4.42 Detail kamar mandi Sumber : Barrier free design guide
Gambar 4.43 Detail ruang mandi Sumber : Barrier free design guide
Gambar 4.44 Detail kloset Sumber : Barrier free design guide
Pintu masuk
• Lebar pintu minimal 80 cm dengan pertimbangan akses untuk kursi roda bagi lansia
• Engsel pintu sebaiknya dapat memperlamabat tertutupnya pintu sekurang-kurangnya 8-10 detik sebelum pintu itu tutup sendiri. Hal ini supaya pengguna kursi roda dapat melewati pintu tersebut dengan nyaman
• Material pintu sebaiknya terbuat dari besi. Hal ini supaya pintu yang di dorong oleh kursi roda tidak mudah rusak.
• Ketinggian genggaman pintu sebaiknya tidak melebihi 1,2 m. Tinggi ideal untuk para lansia adalah 90cm-106cm agar dapat mempermudah lansia membuka pintu
• Handle pintu sebaiknya mudah di buka, mengingat kekuatan lansia semakin hari semakin tidak bertenaga
Gambar 4.45 Detail pintu Sumber : Barrier free design guide
Gambar 4.46 Detail pintu Sumber : Barrier free design guide
Jendela
• Ketinggian jendela adalah 60cm dari lantai supaya lansia dapat dengan mudah melihat ke luar jendela
• View dari jendela sebaiknya merupakan view taman
• Jendela yang di desain sebaiknya dapat memasuki pencahayaan alami • Jendela sebaiknya menggunakan jendela geser dari pada jendela
engsel
Gambar 4.47 Ilustrasi desain jendela Lantai
• Lantai yang terdapat pada permukaan ramp sebaiknya di berikan coakan untuk bisa menahan kursi roda agar tetap bisa menjaga keseimbangan • Lantai pada ruangan sebaiknya tidak menggunakan nat yang terlalu
besar, karena akan mengakibatkan getaran terhadap lansia yang menggunakan kursi roda