*Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sam Ratulangi Manado

Teks penuh

(1)

1

HUBUNGAN ANTARA FAKTOR RISIKO DENGAN KEJADIAN HIPERTENSI PADA LAKI-LAKI DI WILAYAH MASYARAKAT PESISIR DESA MARINSOW KECAMATAN LIKUPANG TIMUR KABUPATEN MINAHASA UTARA TAHUN 2017

Jessica J. Pinontoan*, Grace D. Kandou*, Wulan P. J. Kaunang* *Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sam Ratulangi Manado

ABSTRAK

Prevalensi kejadian hipertensi yang terus mengalami peningkatan diprediksikan pada tahun 2025 akan ada sekitar 29% orang dewasa di seluruh dunia mengalami hipertensi. Kejadian hipertensi telah mengakibatkan kematian 8 juta orang disetiap tahun, dimana 1,5 juta kematian atau sepertiga dari populasi yang ada di wilayah Asia Tenggara menderita hipertensi, termasuk Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara perilaku konsumsi makanan berisiko, konsumsi minuman beralkohol, dan stres dengan kejadian hipertensi pada laki-laki di wilayah masyarakat pesisir Desa Marinsow Kecamatan Likupang Timur Kabupaten Minahasa Utara tahun 2017. Jenis penelitian ini yaitu deskriptif analitik dengan desain cross sectional study (studi potong lintang). Penelitian dilakukan di Desa Marinsow Kecamatan Likupang Timur Kabupaten Minahasa Utara pada bulan Maret-Mei 2017. Populasi dalam penelitian ini adalah laki-laki yang berusia 18 tahun. Pengambilan sampel menggunakan teknik probabilitas dengan pengambilan sampel secara acak stratifikasi menggunakan tabel random, sampel berjumlah 72 orang. Pengumpulan data menggunakan kuesioner. Analisis data univariat yaitu karakteristik responden, gambaran perilaku konsumsi makanan berisiko, konsumsi minuman beralkohol, serta stres dan analisis bivariat yaitu hubungan antara perilaku konsumsi makanan berisiko, konsumsi minuman beralkohol, serta stres dengan kejadian hipertensi dengan menggunakan uji statistik Chi-square dengan CI = 95% dan α = 0,05. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang bermakna antara perilaku konsumsi makanan berisiko dengan kejadian hipertensi (p=0,079), tidak terdapat hubungan antara konsumsi minuman beralkohol dengan kejadian hipertensi (p=785). Terdapat hubungan antara stres dengan kejadian hipertensi (p=0,001).

Kata Kunci: Faktor Risiko, Perilaku Konsumsi Makanan Berisiko, Konsumsi Minuman Beralkohol, Stres, Kejadian Hipertensi

ABSTRACT

The prevalence of an increasing incidence of hypertension predicted on 2025 will be about 29% of adults in the worldwide experiencing hypertension. The incidence of hypertension has resulted the deaths of 8 million people every year, of which 1.5 million deaths or one third of the population in Southeast Asia suffer from hypertension, including Indonesia. This study aims to determine the relationship between risky food consumption, alcohol consumption, and stress with the incidence of hypertension in men in the coastal area of Marinsow Village, East Likupang District, North Minahasa Regency in 2017. The type of this research is analytic descriptive with cross sectional study design (cross sectional study). The study was conducted in Marinsow Village, East Likupang District, North Minahasa Regency from March to May 2017. The population in this study were men aged ≥18 years old. Sampling using probability technique with random sampling stratification using random table, the sample amounted to 72 people. Data collection using questionnaires. Analysis of univariate data were respondent characteristic, description of risk food consumption behavior, consumption of alcoholic beverages, and stress and bivariate analysis that is the relationship between risky food consumption behavior, alcohol consumption, and stress with hypertension incidence using Chi-square statistical test with CI = 95 % And α = 0.05. The result of statistic test showed that there was no significant correlation between consumption of risky food with hypertension (p = 0,079), there was no correlation between alcohol consumption and hypertension (p = 785). There is a relationship between stress with the incidence of hypertension (p = 0.001).

(2)

2

Keywords: Risk Factors, Risk Behavior Consumption Behavior, Alcoholic Beverage

(3)

3 PENDAHULUAN

Kesehatan merupakan hak asasi setiap manusia sebagaimana juga dimaksudkan dalam Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang memiliki salah satu unsur yang harus diwujudkan yaitu kesejahteraan sesuai cita-cita bangsa Indonesia, termasuk di dalamnya setiap upaya dan

kegiatan yang dilakukan untuk

memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat setinggi-tingginya. Indonesia secara geografis merupakan negara yang memiliki wilayah laut mencapai 70% dari total wilayahnya, untuk itu perkembangan pembangunan saat ini lebih difokuskan pada daerah kelautan dengan dilaksanakannya berbagai program untuk mewujudkan masyarakat sejahtera, khususnya masyarakat yang ada di wilayah pesisir (Satria, 2015).

Pembangunan kesehatan di Indonesia yang mempunyai sekitar 8.090 desa pesisir dan 300 kabupaten/kota pesisir yang dari 31 juta penduduk miskin di Indonesia, 7,87 juta jiwa (25,14%) di antaranya adalah nelayan dan masyarakat pesisir. Upaya yang dilakukan pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir dalam bidang kesehatan salah satunya adalah penanggulangan penyakit tidak menular (PTM) (Kemenkes RI, 2013b).

Permasalahan kesehatan yang sampai saat ini masih menjadi perhatian dunia berdasarkan data dari Badan Kesehatan Dunia/World Health Organization (WHO)

dalam Global Report On Non

Communicable Diseases tahun 2014 yaitu masih tingginya mortalitas akibat Penyakit Tidak Menular (PTM) di negara berkembang yang jumlahnya mencapai 85%, dimana penyakit kardiovaskuler merupakan penyebab terbesar (WHO, 2014a). Data WHO pada tahun 2014 menunjukkan mortalitas akibat PTM di Indonesia dari total 1.551.000 kasus kematian, penyebabnya 71% adalah PTM,

dimana penyakit kardiovaskuler

merupakan penyebab terbesar (37%) (WHO, 2014).

Prevalensi kejadian hipertensi yang

terus mengalami peningkatan

diprediksikan pada tahun 2025 akan ada sekitar 29% orang dewasa di seluruh dunia mengalami hipertensi. Kejadian hipertensi telah mengakibatkan kematian 8 juta orang disetiap tahun, dimana 1,5 juta kematian atau sepertiga dari populasi yang ada di wilayah Asia Tenggara menderita hipertensi (Kemenkes RI, 2013d).

Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013 menunjukkan prevalensi hipertensi di Indonesia pada umur ≥ 18 tahun adalah sebesar 25,8%

dan merupakan penyakit dengan

(4)

4 Sementara itu Provinsi Sulawesi Utara menempati urutan ke sembilan dalam prevalensi hipertensi tertinggi di Indonesia, yaitu sebesar 27,1% (Kemenkes RI, 2013a). Faktor risiko hipertensi diantaranya yaitu perilaku konsumsi makanan berisiko, konsumsi minuman beralkohol, dan stres (Suiraoka, 2012).

Desa Marinsow merupakan salah satu desa yang berada di Kecamatan Likupang Timur Kabupaten Minahasa Utara yang berada di wilayah pesisir dengan tingkat kebiasaan konsumsi minuman beralkohol yang masih cukup tinggi, begitupun dengan faktor-faktor risiko penyebab hipertensi yang lain seperti perilaku konsumsi makanan berisiko, dan pengaruh stres. Kebiasaan masyarakat saat menghadiri undangan pesta atau acara-acara tertentu dan kondisi stres dapat mempengaruhi kebiasaan konsumsi minuman beralkohol dan perilaku konsumsi makanan berisiko yang juga didukung oleh wilayah masyarakat yang secara geografis berada di daerah pesisir

yang membuat mereka sering

mengkonsumsi makanan berisiko seperti

makanan asin, diawetkan,

dipanggang/dibakar, berkafein, bumbu penyedap, dan lain sebagainya. Sementara untuk stres, penyebabnya masih belum diketahui secara pasti, karena stres dapat disebabkan oleh berbagai hal. Akses ke pelayanan kesehatan yaitu Puskesmas

Likupang yang cukup jauh (± 17 km), dan kurangnya tenaga kesehatan di Puskesmas Pembantu yang ada di Desa Marinsow juga berdampak pada kurangnya promosi kesehatan yang diperoleh masyarakat

sehingga kurangnya pengetahuan

masyarakat tentang hipertensi dan faktor-faktor risiko yang menyebabkan hipertensi, serta masih kurangnya tingkat kesadaran masyarakat untuk menjaga kesehatannya.

Data di atas menjadi alasan penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang faktor risiko termasuk perilaku konsumsi makanan berisiko, konsumsi minuman beralkohol, dan stres dengan kejadian hipertensi di wilayah masyarakat pesisir Desa Marinsow Kecamatan Likupang Timur Kabupeten Minahasa Utara.

METODE PENELITIAN

Jenis penelitian ini yaitu deskriptif analitik dengan desain cross sectional study/studi potong lintang. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Marinsow Kecamatan Likupang Timur Kabupaten Minahasa Utara pada bulan Maret-Mei 2017. Sampel dalam penelitian ini yaitu laki-laki berusia ≥ 18 tahun yang diambil menggunakan teknik pengambilan sampel probabilitas dengan cara acak sratifikasi menggunakan tabel random. Jumlah sampel yaitu 72 responden yang telah memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Analisis data yang digunakan yaitu analisis univariat dan

(5)

5 bivariat menggunakan uji chi-squre dengan CI=95% dan α = 0,05.

HASIL DAN PEMBAHASAN A. Karakteristik Responden Penelitian Penelitian ini memperoleh hasil yang menunjukkan bahwa frekuensi kejadian hipertensi hampir berimbang antara responden yang mengalami hipertensi (52,8%) dan yang tidak mengalami hipertensi (47,2%), dan kejadian hipertensi paling banyak dialami oleh responden pada kelompok umur 55-64 tahun. (13,9%). Tingkat pendidikan menunjukkan kejadian hipertensi paling

banyak dialami oleh responden

SMA/SMK (20,8%). Jenis pekerjaan

responden yang mengalami hipertensi paling banyak yaitu tani (20,8%).

Status gizi berdasarkan pengukuran IMT menunjukkan responden yang mengalami hipertensi paling banyak mempunyai status gizi normal (29,2%). Kebiasaan merokok responden yang mengalami hipertensi (33,3%) dan tidak mengalami hipertensi (31,9%) hampir setara yaitu mempunyai kebiasaan merokok setiap hari dengan rata-rata rokok yang dihisap 14 batang/hari. Aktivitas fisik yang dilakukan menunjukkan responden yang mengalami hipertensi sebagian besar melakukan aktivitas fisik berat, dan riwayat keluarga menunjukkan responden yang mengalami hipertensi paling banyak tidak mempunyai riwayat keluarga menderita

hipertensi (32,4%).

B. Hubungan Antara Perilaku Konsumsi Makanan Berisiko Dengan Kejadian Hipertensi

Tabel 1. Hubungan Antara Perilaku Konsumsi Makanan Berisiko Dengan Kejadian Hipertensi

Perhitungan yang dilakukan menggunakan uji statistik chi square diperoleh nilai probabilitas sebesar 0,079 dengan tingkat kesalahan 0,05. Hal tersebut menunjukkan tidak terdapat hubungan antara perilaku

konsumsi makanan berisiko dengan kejadian hipertensi pada laki-laki di wiayah masyarakat pesisir Desa Marinsow Kecamatan Likupang Timur Kabupaten Minahasa Utara.

Konsumsi Makanan Berisiko

Hipertensi Tidak Hipertensi Total P value

n % n % n % Sering Jarang 34 4 57,6 30,8 25 9 42,4 69,2 59 13 100 100 0,079 (p > 0,05)

(6)

6

C. Hubungan Antara Konsumsi Minuman Beralkohol Dengan Kejadian Hipertensi

Tabel 2. Hubungan Antara Konsumsi Minuman Beralkohol Dengan Kejadian Hipertensi

Nilai probabilitas yang diperoleh dalam perhitungan menggunakan uji statistik chi square, yaitu sebesar 0,785 dengan tingkat keselahan 0,05. Hal tersebut menunjukkan tidak terdapat hubungan antara konsumsi

minuman beralkohol dengan kejadian hipertensi pada laki-laki di wilayah masyarakat pesisir Desa Marinsow Kecamatan Likupang Timur Kabupaten Minahasa Utara.

D. Hubungan Antara Stres Dengan Kejadian Hipertensi

Tabel 3. Hubungan Antara Konsumsi Minuman Beralkohol Dengan Kejadian Hipertensi

Kondisi Stres

Hipertensi Tidak Hipertensi Total P value

n % n % n % Ya Tidak 29 9 69 30 13 21 31 70 42 30 100 100 0,001 (p < 0,05) Uji statistik chi square yang digunakan dalam

perhitungan hubungan antara stres dengan kejadian hipertensi, diperoleh nilai probabilitas sebesar 0,001 dengan tingkat keselahan 0,05. Hal tersebut menunjukkan bahwa terdapat

hubungan antara stres dengan kejadian hipertensi pada laki-laki di wilayah masyarakat pesisir Desa Marinsow Kecamatan Likupang Timur Kabupaten Minahasa Utara.

PEMBAHASAN

Makanan berisiko dibagi menurut jenisnya antara lain makanan dan

minuman manis, diasinkam, berlemak, jeroan, dibakar/ dipanggang, diawetkan, berkafein, dan bumbu penyedap Konsumsi Minuman Beralkohol Hipertensi Tidak Hipertensi Total P value n % n % n % Ada Tidak Ada 28 10 51,9 55,6 26 8 48,1 44,4 54 18 100 100 0,785 (p > 0,05)

(7)

7 (Kemenkes RI, 2013c). Penelitian mengenai perilaku konsumsi makanan berisiko yang dilakukan pada laki-laki di wilayah masyarakat pesisir Desa Marinsow Kecamatan Likupang Timur Kabupaten Minahasa Utara ini diukur secara kualitatif dimana pengukuran pada frekuensi konsumsi dan tidak sampai pada mengukur kuantitatif atau berapa banyak yang dikonsumsi responden. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa responden yang mengalami hipertensi paling banyak sering mengkonsumsi makanan berisiko (57,6%). Dikatakan sering jika responden mengkonsumsi makanan berisiko setiap hari > 1 kali atau 1 kali per hari. Analisis data yang diperoleh menunjukkan tidak ada hubungan antara perilaku konsumsi makanan berisiko dengan kejadian hipertensi, namun

terdapat kecenderungan yang

menunjukkan masih tingginya perilaku konsumsi makanan berisiko responden, hal ini dipengaruhi oleh kebiasaan makan masyarakat dan lokasi tempat tinggal yaitu di wilayah pesisir. Hal ini perlu mendapatkan perhatian dalam upaya mengurangi risiko kejadian hipertensi. Jika pola makan yang tidak baik tetap diteruskan, maka dampaknya akan sangat merugikan dan kesehatan (Khasanah, 2012). Hasil penelitian yang dilakukan oleh Pebriyandini, dkk (2014) di Kabupeten Kubu Raya, sejalan

dengan penelitian ini yang menunjukkan tidak ada hubungan antara konsumsi makanan berisiko dengan hipertensi dengan nilai probabilitas 0,621 (p > 0,05). Penelitian yang dilakukan oleh Manawan (2014) di Desa Tendangan Satu Kecamatan Eris Kabupaten Minahasa menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara konsumsi makanan dengan kejadian hipertensi dengan nilai p = 0,000 (p > 0,05). Hal ini bertolak belakang dengan penelitian ini yang menunjukkan tidak terdapat hubungan antara konsumsi makanan berisiko dengan kejadian hipertensi. Adanya perbedaan tersebut dikarenakan karakteristik masyarakat dan jumlah sampel yang berbeda sehingga dapat mempengaruhi hasil dari penelitian yang dilakukan.

Kebiasaan konsumsi minuman

beralkohol laki-laki di wilayah masyarakat pesisir Desa Marinsow Kecamatan Likupang Timur Kabupaten Minahasa Utara ini dinilai dari

kebiasaan konsumsi minuman

beralkohol dalam 12 bulan terakhir dan masih mengkonsumsi sampai 1 bulan terakhir penelitian dilakukan dengan melihat frekuensi mengkonsumsi responden. Kebiasaan konsumsi minuman beralkhol responden masih cukup tinggi, baik konsumsi responden yang mengalami hipertensi (51,9%) dan responden yang tidak mengkonsumsi

(8)

8 minuman beralkohol namun mengalami hipertensi (55,6%), tetapi secara umum

sebagian besar responden

mengkonsumsi alkohol dengan

frekuensi 1-3 hari per bulan. Hasil yang diperoleh dari uji chi square menunjukkan tidak terdapat hubungan antara konsumsi minuman beralkohol dengan kejadian hipertensi. Hal tersebut kemungkinan disebabkan oleh frekuensi konsumsi yang hanya 1-3 hari per bulan. Orang yang mengkonsumsi alkohol berisiko mengalami hieprtensi, namun berapa banyak yang dikonsumsi juga ikut mempengaruhi (Wibowo, 2014).

Konsumsi minuman beralkohol

responden dalam penelitian ini masih sangat tinggi, sehingga membutuhkan kerja sama dari berbagai pihak untuk

membatasi konsumsi minuman

beralkohol sehingga mengurangi risiko penyakit tidak menular, termasuk hipertensi. Penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian Lapian (2014) di

Kabupaten Minahasa Selatan

menunjukkan tidak ada hubungan antara konsumsi alkohol dengan kejadian hipertensi dengan nilai p = 0,405 (p > 0,05). Penelitian yang dilakukan oleh

Komaling (2013) di Kabupaten

Minahasa Selatan menunjukkan adanya hubungan antara konsumsi alkohol dengan kejadian hipertensi dengan nilai p = 0,000 (p < 0,05), dan menjelaskan bahwa semakin tinggi kadar dari etanol

yang terdapat dalam minuman

beralkohol yang dikonsumsi, maka akan semakin besar pula risiko hipertensi. Hal ini bertolak belakang dengan penelitian dilakukan di wilayah masyarakat pesisir Desa Marinsow Kecamatan Likupang Timur Kabupaten Minahasa Utara yang menunjukkan tidak terdapat hubungan antara konsumsi minuman beralkohol dengan kejadian hipertensi. Perbedaan tersebut dipengaruhi oleh jumlah sampel dan karakteristik masyarakat yang berbeda.

Kondisi stres dapat meningkatkan tekanan darah. Penelitian ini memperoleh hasil adanya hubungan antara stres dengan kejadian hipertensi pada laki-laki di wilayah masyarakat pesisir Desa Marinsow Kecamatan Likupang Timur Kabupaten Minahas Utara, stres dinilai menggunakan kuesioner SRQ dengan kategori yang sudah ditentukan sebelumnya. Keadaan stres responden dalam penelitian ini dipengaruhi oleh berbagai macam faktor, termasuk pekerjaan. Pekerjaan responden pada kondisi tertentu dapat menyebabkan stres. Jika seseorang menghadapi beban tugas yang berat dan tidak mampu diselesaikan atau kurang istirahat, maka akan muncul respon tubuh yang membuat orang tersebut mengalami stres. Stres merupakan sebuah reaksi psikologis dan fisik pada umumnya muncul akibat meningkatnya

(9)

9 kebutuhan hidup (Savitri, 2016). Hasil penelitian yang dilakukan oleh Nadya (2015) di Solok Selatan menunjukkan hal yang sama, yaitu terdapat hubungan antara stres dengan kejadian hipertensi dengan nilai probabilitas sebesar 0,027 (p < 0,05).

KESIMPULAN

1. Tidak terdapat hubungan antara perilaku konsumsi makanan

berisiko dengan kejadian

hipertensi pada laki-laki di wilayah masyarakat pesisir Desa Marinsow Kecamatan Likupang Timur Kabupaten Minahasa Utara tahun 2017.

2. Tidak terdapat hubungan antara konsumsi minuman beralkohol dengan kejadian hipertensi pada laki-laki di wilayah masyarakat pesisir Desa Marinsow Kecamatan

Likupang Timur Kabupaten

Minahasa Utara tahun 2017. 3. Terdapat hubungan antara stres

dengan kejadian hipertensi pada laki-laki di wilayah masyarakat pesisir Desa Marinsow Kecamatan

Likupang Timur Kabupaten

Minahasa Utara Tahun 2017.

DAFTAR PUSTAKA

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI). 2013a. Laporan Hasil Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) Indonesia Tahun 2013. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan

Kesehatan Departemen

Kesehatan. Republik Indonesia. Kementerian Kesehatan Republik

Indonesia (Kemenkes RI). 2013b.

Peningkatan Kesehatan

Masyarakat Pesisir. (Online), (http://www.depkes.go.id/pdf.php?id=22

37. Diunduh 06 Maret 2017). Kementerian Kesehatan Republik

Indonesia (Kemenkes RI). 2013c. Pedoman Pengisian Kuesioner. Jakarta: Badan Penelitian Dan Pengembangan Kesehatan.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI). 2013d. Pedoman Teknis Penemuan Dan Tatalaksana Hipertensi. Jakarta: Direktorat Pengendalian Penyakit Tidak Menular.

Khasanah N. 2012. Waspadai Beragam Penyakit Degeneratif Akibat Pola Makan. Yogyakarta: Laksana.

Komaling JK. Hubungan

Mengkonsumsi Alkohol Dengan Kejadian Hipertensi Pada Laki-Laki Di Desa Tompasobaru II

Kecamatan Tompasobaru

Kabupaten Minahasa Selatan.

(10)

10 (https://ejournal.unsrat.ac.id/index .php/jkp/article/view/2194, diakses 21 Juli 2017).

Lapian EL. 2014. Hubungan Antara

Konsumsi Alkohol Dengan

Kejadian Hipertensi Pada Laki-Laki Usia 25-65 Tahun Di Desa

Kapoya Kecamatan Tareran

Suluun Kabupaten Minahasa

Selatan. Manado: FKM Unsrat. Manawan AA. 2016. Hubungan Antara

Konsumsi Makanan Dengan

Kejadian Hipertensi Di Desa Tandengan Satu Kecamatan Eris Kabupaten Minahasa. UNSRAT, (Online),

(https://ejournal.unsrat.ac.id/index.php/p harmacon/article/view/11345, diakses 21 Juli 2017).

Nadya WN. 2015. Hubungan Stres Kerja Dengan Kejadian Hipertensi Pada Karyawan Sawit Indonesia Solok Selatan, UNAND, (Online), (http://scholar.unand.ac.id/156/, diakses 05 Juni 2017).

Pebriyandini T, Budiastitik I, Saleh I. 2014. Hubungan Antara Pola

Makan, Status Gizi, Dan

Kebiasaan Merokok Dengan

Hipertensi Usia Produktif Di Dusun Merpati Dan Nirwana Desa Sungai Kakap Kabupaten Kubu Raya, UNMUHPBK, (Online),

(http://openjurnal.unmuhpnk.ac

.id/index.php?journal=JJUM&p

age=article&op=download&pat

h%5B%5D=331&path%5B%5

D=266, diunduh 05 Juni 2017).

Satria A. 2015. Pengantar Sosiologi

Masyarakat Pesisir. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia. Savitri A. 2016. Waspadalah Masuk

Usia 40 Ke Atas. Yogyakarta: Pustaka Baru Press.

Suiraoka I. 2012. Penyakit Degeneratif. Yogyakarta: Nuha Medika.

World Health Organization (WHO). 2014. Noncommunicable Diseases

(NCD) Indonesia Country

Profiles.

(Online),

(

http://who.int/nmh/countries/id

n_en.pdf, diunduh 13 Februari

2017).

(11)

Figur

Tabel  2.  Hubungan  Antara  Konsumsi  Minuman  Beralkohol  Dengan  Kejadian  Hipertensi

Tabel 2.

Hubungan Antara Konsumsi Minuman Beralkohol Dengan Kejadian Hipertensi p.6