BAB I PENDAHULUAN. Bahasa sebagai alat komunikasi, digunakan untuk menyampaikan sebuah

14 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

1 1.1 Latar Belakang

Bahasa sebagai alat komunikasi, digunakan untuk menyampaikan sebuah maksud agar sesuatu yang diiginkankan terjadi, tapi penyampaian maksud penutur tersebut kadang pula disampaikan secara samar. Penyampaian maksud penutur yang samar-samar tersebut sering kali ditemukan dalam tuturan bahasa Jepang, tetapi penyampaian maksud penutur untuk menunjukkan izin akan sebuah situasi, dapat dituturkan dengan jelas menggunakan pola kalimat ~te mo ii dalam bahasa Jepang.

Pola kalimat ~te mo ii merupakan pola kalimat yang menunjukkan izin akan sebuah situasi (Nitta, 2003: 117). Bentuk negatif pola ~te mo ii tersebut yaitu ~nakute mo ii yang juga menggambarkan makna yang sama dengan ~te mo ii (Miyazaki dkk, 2009: 108). Pola ~te mo ii merupakan pola kalimat yang dapat menggambarkan tindak tutur direktif. Tindak tutur direktif merupakan tindak tutur yang dimaksudkan penutur agar petutur melakukan sesuatu, misalnya tindak memaksa, memerintah, mengajak, menyuruh, memperingatkan, mengizinkan, dan sebagainya (Yule, 1996: 54). Tindak tutur direktif tersebut juga dapat mengungkapkan maksud penutur (keinginan atau harapan), sehingga tuturan atau sikap tersebut yang akan dijadikan alasan untuk melakukan sebuah tindakan (Yulia, 2013: 2).

(2)

Pola kalimat ~te mo ii dalam bahasa Jepang, salah satunya digunakan dalam situasi meminta izin yang disertai dengan sebuah permohonan. Hal tersebut dapat dilihat pada contoh tuturan berikut:

(1) Matsui : kore haite mite mo ii desu ka?

Juugyouin : shuushoku katsudou desu ka? Ganbatte kudasai ne. Matsui : aa. Hai.

(RMPW: eps. 1) Terjemahan

Matsui : apakah (saya) bisa mencoba (sepatu) ini?

Pegawai : apakah Anda sedang (dalam kondisi) mencari pekerjaan? Semangat ya.

Matsui : ah iya.

Dari contoh kalimat diatas, dapat diketahui:

a. Peserta tutur pada tuturan di atas yaitu Matsui dan pegawai toko. Penutur pada tuturan di atas adalah seorang pelanggan bernama Matsui dan petutur adalah pegawai toko.

b. Tuturan tersebut terjadi di sebuah toko sepatu.

c. Situasi yang terjadi pada saat tuturan tersebut dituturkan yaitu Matsui datang ke toko sepatu untuk mencari sepatu yang cocok dan pas dipakai untuk mencari pekerjaan. Hal ini karena sepatu yang dipakai Matsui saat itu sudah usang dan dirasa perlu untuk membeli yang baru. Saat mencari-cari sepatu mana yang cocok dari segi model dan ukurannya, Matsui harus mencoba sepatu tersebut terlebih dahulu untuk memastikannya. Untuk memastikan bahwa sepatu yang dipilih adalah model sepatu yang diinginkan dan memiliki ukuran yang pas, Matsui harus menanyakannya terlebih dahulu apakah sepatu

(3)

tersebut boleh dicoba atau tidak. Untuk menanyakan apakah sepatu tersebut dapat dicoba atau tidak, Matsui menghampiri pegawai toko dengan membawa sepatu yang ingin dicoba.

d. Tujuan tuturan tersebut dimaksudkan untuk meminta izin kepada pegawai toko sebelum Matsui mencoba sepatu tersebut.

e. Implikasi dari sebuah permintaan izin tersebut yaitu penutur mencoba sepatu tersebut dan jika sepatu tersebut sesuai maka penutur akan membelinya.

Tuturan tersebut dituturkan secara langsung, yaitu penutur ingin menyampaikan maksud tuturannya secara jelas dan tanpa basa-basi. Strategi langsung yang dilakukan oleh penutur untuk mengucapkan permintaan izin secara langsung dimaksudkan untuk memberi efisiensi terhadap tuturannya. Hal tersebut dapat dilihat bahwa tuturan penutur pada tuturan (1) yang tidak diawali oleh tuturan lain (basa-basi).

Pada tuturan tersebut, penutur dan petutur menggunakan ragam formal dalam bertutur. Hal ini karena keduanya tidak saling kenal dan tidak akrab, tuturan tersebut juga diatur oleh konteks sosial bahwa pegawai toko harus menggunakan ragam formal untuk menghormati pelanggan, tapi pelanggan tidak selalu menggunakan ragam formal dalam bertutur.

Tuturan (1) yang menggunakan pola ~te mo ii, menunjukkan bahwa ragam tutur yang digunakan yaitu ragam formal yang memiliki makna meminta izin. Makna meminta izin dalam ragam formal tersebut yang menggunakan pola ~te mo ii, berbeda dengan contoh tuturan berikut:

(4)

Yoko : o-kaa san ni awa nakute ii no?

(RMPW: eps. 10) Hyuga : ayo pulang. Ini hal yang sia-sia.

Yoko : apakah tidak apa-apa kamu tidak menemui ibumu?

Dari contoh kalimat diatas, dapat diketahui:

a. Peserta tutur pada tuturan di atas yaitu Hyuga dan Yoko. Penutur pada tuturan tersebut adalah Hyuga dan t adalah Yoko. Hubungan peserta tutur tersebut adalah teman dekat.

b. Tuturan tersebut terjadi di tepi pantai.

c. Situasi tutur yang terjadi yaitu saat mereka pergi ke suatu tempat untuk mencari teman mereka karena tidak ada kabar selama beberapa hari. Teman yang dimaksudkan adalah Matsui. Matsui tidak ada kabar selama beberapa hari karena sebelumnya bertengkar dengan Hyuga, sehingga Matsui kesal dan menghilang dengan tidak memberikan kabar. Pencarian Matsui yaitu Hyuga dan Yoko pergi ke desa tempat orang tua Matsui tinggal, yang juga merupakan tempat yang sama dengan keberadaan ibu Hyuga. Yoko tiba-tiba melontarkan pertanyaan kepada Hyuga yang tengah berjalan pulang. Yoko melontarkan pertanyaan tersebut karena Hyuga menganggap bahwa pergi ke desa tersebut dan tidak menemukan Matsui adalah hal yang sia-sia.

d. Tujuan tuturan tersebut yaitu Yoko ingin menanyakan perasaan Hyuga apakah baik-baik saja atau tidak karena tidak menemui ibunya dan ingin menunjukkan bahwa pergi ke desa tersebut belum tentu sia-sia. Hal ini karena

(5)

Hyuga tidak dapat mengungkapkan jati diri yang sebenarnya kepada ibunya, sehingga dia tidak berani untuk menemuinya.

e. Implikasi dari tuturan tersebut yaitu Hyuga merasa terkejut dan tidak tahu harus menjawab apa. Hal tersebut dapat dilihat dari respon Hyuga saat mendengar tuturan Yoko yaitu tidak berkata apa-apa, dia hanya terdiam dan melihat Yoko heran kenapa dia bisa bertanya seperti itu.

Ragam tuturan yang digunakan dalam contoh tuturan di atas yaitu ragam informal. Kesantunan dalam bertutur juga dapat dilihat pada tuturan ini meskipun tidak menggunakan ragam sopan (keigo), hal ini karena tidak ditemukan penanda kesopanan seperti desu atau masu dalam bahasa Jepang. Kesantunan yang dapat ditemukan pada tuturan tersebut yaitu penyebutan o-kaa san yang dipakai untuk menyebut ibu orang lain.

Makna pola ~nakute mo ii dalam tuturan di atas yaitu makna tidak perlu (tidak apa-apa). Hal tersebut dapat dilihat pada tuturan o-kaa san ni awa nakute ii no? (apakah tidak apa-apa kamu tidak menemui ibumu?). Makna tuturan yang menunjukkan ketidakperluan dalam tuturan tersebut, berbeda dengan makna yang ditunjukkan contoh tuturan (1) yaitu sebuah permintaan izin.

Melalui contoh tuturan (1) menggunakan pola ~te mo ii dan tuturan (2) menggunakan pola ~nakute mo ii pun dapat diketahui bahwa kedua tuturan tersebut tidak selalu memiliki makna tuturan yang sama yaitu menunjukkan sebuah permintaan izin. Strategi kesantunan dalam tuturan tersebut, aspek-aspek tuturan, seperti hubungan penutur dan petutur dalam tuturan tersebut, serta implikasi apa yang akan muncul dari tuturan tersebut menjadi sebuah latar

(6)

belakang dalam penelitian ini. Hal tersebut membuat penulis tertarik untuk meneliti lebih dalam mengenai ragam tuturan sopan menggunakan pola kalimat ~te mo ii dan ~nakute mo ii dalam bahasa Jepang dengan teori pragmatik dalam sudut pandang strategi kesantunan, serta melihat aspek-aspek tuturannya. Penelitian ini menggunakan teori pragmatik karena dianggap dapat mengidentifikasi tindak tuturan yang sopan dan aspek-aspek tuturan dalam meminta izin menggunakan pola ~te mo ii dan ~nakute mo ii dalam bahasa Jepang.

Teori pragmatik yang digunakan sebagai landasan teori pada penelitian ini, juga melihat dari sudut pandang strategi kesantunan dan aspek-aspek tuturan. Strategi kesantunan diterapkan pada penelitian ini untuk melihat penggunaan pola kalimat ~te mo ii dan ~nakute mo ii lebih fokus pada aspek-aspek tuturan, prinsip kesantunan, dan skala-skala kesantunan dalam bertutur.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah yang dapat dirumuskan dalam penelitian ini adalah bagaimana tindak tutur mengizinkan menggunakan pola ~te mo ii dan ~nakute mo ii dalam bahasa Jepang?

1.3 Batasan Masalah

Penelitian ini akan membatasi masalah pada pola kalimat ~te mo ii dan ~nakute mo ii yang digunakan bertutur dalam bahasa Jepang. Pembatasan masalah

(7)

pada pola kalimat tertentu ini dimaksudkan untuk lebih fokus dalam melihat penggunaan pola kalimat tersebut dalam tindak tutur menggunakan teori pragmatik dari sudut pandang strategi kesantunan dan aspek-aspek tuturnya.

1.4 Manfaat dan Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah yang telah dikemukakan di atas, maka tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui penggunaan pola kalimat ~te mo ii dan ~nakute mo ii dalam bahasa Jepang berdasarkan teori pragmatik dengan sudut pandang strategi kesantunan, serta aspek-aspek tuturannya. Hasil penelitian ini nantinya diharapkan dapat membantu pembelajar asing (khususnya pembelajar Indonesia yang belajar bahasa Jepang) dalam memahami penggunaan pola kalimat ~te mo ii dan ~nakute mo ii dalam bahasa Jepang menggunakan teori pragmatik yang dilihat dari sudut pandang strategi kesantunan serta aspek-aspek tuturnya.

1.5 Tinjauan Pustaka

Penelitian yang berkaitan dengan tindak tutur dalam bahasa Jepang, teori pragmatik, atau penelitian lain mengenai kesantunan dalam bahasa Jepang sudah dilakukan sebelumnya. Penelitian-penelitian tersebut diantaranya, dilakukan oleh Fajar Shidiq Listianto tahun 2007, Universitas Indonesia yang berjudul “Fami-Kon Keigo sebagai Nihon’go no Midare dalam Analisis Teori Kesantunan”. Penelitian tersebut membahas fungsi pola-pola kesantunan seperti ~ni narimasu, ~no hou, ~yoroshikatta deshou ka, dan ~kara o-azukari shimasu sesuai dengan

(8)

teori kesantunan (politeness) bahwa untuk mengekspresikan kesantunan dapat dilakukan dengan membuat kalimat menjadi ambigu, menyampaikan secara tersirat, dan mengurangi tekanan atau beban bagi pendengar.

Penelitian lainnya yang berjudul “Strategi Tindak Tutur Memohon dalam Drama Jepang Great Teacher Onizuka (GTO)” dilakukan oleh Fenty Seska Yulia tahun 2013, Universitas Bung Hatta. Skripsi itu membahas mengenai strategi tindak tutur memohon yang banyak digunakan dalam drama Jepang yaitu Great Teacher Onizuka. Salah satu tindak memohon yaitu menggunakan kata yoroshii sebagai strategi formula saran yang diucapkan n.

Hesty Puspitasari tahun 2009, Universitas Diponegoro dalam skripsinya yang berjudul “Penggunaan Strategi Kesantunan dalam Tindak Tutur Direktif pada Novel Memoirs of a Geisha Karya Arthur Golden”. Penelitian itu membahas tuturan-tuturan direktif dalam bentuk menyuruh yang digunakan dalam novel Memoirs of a Geisha Karya Arthur Golden. Bentuk tuturan direktif yang dianalisis pada penelitian tersebut menunjukkan bahwa semua strategi kesantunan Brown dan Levinson digunakan dalam tuturan novel, tapi tidak semua sub strategi digunakan. Hasil penelitian tersebut yaitu tuturan yang ditemukan tidak semuanya dapat diklasifikasikan ke dalam sub kategori kesantunan.

Rani Novia Dewi tahun 2013, Universitas Bung Hatta dalam skripsinya yang berjudul “Tindak Tutur Menolak dalam Bahasa Jepang pada Film Suko March”. Penelitian tersebut membahas tindak tutur penolakan yang menggunakan teori Beebe, Takahashi dan Uliss Weltz. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa kekuasaan (P) lebih diperhatikan dalam mengucapkan tuturan penolakan,

(9)

kemudian tingkat solidaritas (S) lebih banyak digunakan dalam hubungan personal yang tidak akrab dan kekuasaan penolak lebih rendah.

Michael Haugh tahun 2005, Griffith University dalam jurnalnya yang berjudul “The Importance of ‘Place’ in Japanese Politeness: Implications for Cross cultural and Intercultural Analyses”. Pada penelitian itu, dijelaskan bahwa konsep ‘tempat’, yang telah lama menempati posisi penting dalam filsafat orang Jepang dan penelitian bahasa, hal ini merupakan dasar pada contoh kesantunan orang Jepang. Hal itu mengindikasikan bahwa tingkat kesantunan orang Jepang memerhatikan keterlibatan 'place one belongs' (inclusion) dan the 'place one stands' (distinction). Penelitian ini menjabarkan tentang pemahaman fenomena kesantunan silang budaya dan pemahaman fenomena kesantunan antar kebudayaan.

Saeko Fukushima tahun 2009, International Pragmatics Association dalam jurnalnya yang berjudul “Evaluation of Politeness: Do The Japanese Evaluate Attentiveness More Positively Than The British?”. Penelitian tersebut melihat perhatian (kikubari) dalam penelitian kesopanan dari perspektif t dan penuh perhatian (kikubari). Penelitian ini menunjukkan bahwa niat baik dari pemberi perhatian tersebut tidak selalu dievaluasi secara positif dalam perbedaan budaya.

Fiona Webster tahun 2002, Nagoya University menulis artikel yang berjudul “The [on] concept: dependency-acknowledging speech acts in Japanese”. Penelitian tersebut menganalisis konsep ‘on’ terutama pada fenomena bahasa Jepang yang dapat menyebabkan terjadinya keragaman bahasa pada bahasa Jepang, baik ragam bahasa formal maupun informal. Penelitian tersebut

(10)

juga mengindikasikan pengertian perubahan secara otentik dalam pragmatik dan semantik.

Berdasarkan penelusuran yang dilakukan, dapat diketahui bahwa sampai dengan penelitian ini disusun belum ditemukan penelitian mengenai penggunaan pola kalimat ~te mo ii dan ~nakute mo ii dalam bahasa Jepang menggunakan teori pragmatik dari sudut pandang strategi kesantunan dan aspek-aspek tuturnya.

1.6 Landasan Teori

Penelitian ini menggunakan teori pragmatik. Pragmatik adalah cabang ilmu bahasa yang mempelajari struktur bahasa secara eksternal, yaitu bagaimana bahasa itu digunakan dalam komunikasi (Wijana, 1996: 1). Tindak tutur merupakan lingkup pragmatik yang diklasifikasikan menjadi tiga macam, yaitu tindak lokusi, ilokusi, dan perlokusi. Dalam konteks sosial, individu-individu secara khusus menandai perbedaan-perbedaan antar status sosial n dan n, n yang lebih tinggi, lebih tua atau lebih berkuasa, sehingga n pun memilih penggunaan bahasa yang tepat (Yule, 2006:16).

Konteks sangat penting dalam kajian pragmatik karena melalui konteks akan diketahui maksud dari n dalam mengucapkan sesuatu. Konteks didefinisikan oleh Leech (Nadar, 2009: 6) sebagai berikut:

Background knowledge assumed to be shared by s and h and which contributes to h’s interpretation of what s means by a given utterance. “Latar belakang pemahaman yang dimiliki oleh n maupun t sehingga t dapat membuat interpretasi mangenai apa yang dimaksud oleh n pada saat

(11)

membuat tuturan tertentu”) (s berarti speaker “n”; sedangkan h berarti hearer “t”)”.

Searle mengemukakan bahwa dalam praktik penggunaan bahasa terdapat tiga macam tindak tutur, yaitu tindak lokusioner (locutionary acts), tindak ilokusioner (ilocutionary acts), dan tindak perlokusioner (perlocutionary acts) (Rahardi, 2010: 35). Selanjutnya, Searle menggolongkan tindak tutur ilokusi ke dalam lima macam bentuk tuturan yang memiliki fungsi komunikatif. Kelima bentuk tuturan yang menunjukkan fungsi tersebut yaitu asertif, direktif, ekspresif, komisif, dan deklarasi.

Penggolongan tindak tutur ke dalam bentuk-bentuk tutur itu akan menunjukkan peringkat kesantunan dalam bertutur (Rahardi, 2010: 38). Beberapa pandangan mengenai kesantunan tuturan, seperti pandangan kesantunan yang berkaitan dengan norma-norma sosial, pandangan yang melihat kesantunan sebagai sebuah maksim percakapan dan beberapa pandangan kesantunan lainnya, serta maksim dalam prinsip sopan santun pun akan dijabarkan dalam penelitian ini. Maksim-maksim tersebut dijabarkan dalam penelitian ini, karena untuk melihat tuturan yang menggunakan pola ~te mo ii dalam bahasa Jepang tersebut terjadi pelangaran maksim atau tidak.

Brown dan Levinson dalam Puspitasari (2009: 16-22), membagi strategi-strategi kesantunan menjadi lima, yaitu strategi-strategi langsung tanpa basa-basi (bald on record strategy), strategi kesantunan positif (positive politeness strategy), strategi kesantunan negatif (negative politeness strategy), strategi tidak langsung (off record), dan strategi tidak mengancam muka (don’t do the Face Threatening Acts).

(12)

Strategi kesantunan bertutur oleh Brown dan Levinson tersebut, juga terdapat skala kesantunan sebagai penentu tinggi rendahnya peringkat kesantunan sebuah tuturan.

Penelitian ini akan menggunakan landasan teori pragmatik untuk menganalisis tuturan yang menggunakan pola kalimat ~te mo ii dalam tuturan bahasa Jepang. Landasan teori penelitian ini yaitu teori pragmatik yang meliputi teori tindak tutur (speech act theory), teori kesantunan berbahasa (politeness theory), dan strategi kesantunan (politeness strategy). Definisi dan penjelasan lebih mendalam mengenai landasan teori akan dilanjutkan pada bab landasan teori.

1.6 Metode Penelitian

Penelitian ini dilakukan dalam tiga tahap, yaitu tahap pengumpulan data, tahap analisis data, dan tahap pemaparan data. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode simak dengan teknik lanjutan teknik sadap. Metode simak merupakan metode yang digunakan untuk memperoleh data dengan menyimak penggunaan bahasa (Mahsun, 2006: 90). Metode ini memiliki teknik dasar yang berwujud teknik sadap. Penyadapan penggunaan bahasa secara tertulis yaitu teknik penyadapan dengan penggunaan bahasa bukan dengan orang yang berbicara atau bercakap-cakap, tetapi berupa bahasa tulis (Mahsun, 2009: 90-91).

Data yang dikumpulkan yaitu berupa tuturan yang mengandung pola kalimat ~te mo ii dan ~nakute mo ii dalam bahasa Jepang. Data yang dikumpulkan berasal dari sumber-sumber berupa drama, atau film berbahasa Jepang yang

(13)

berjumlah sepuluh contoh tuturan. Drama atau film tersebut berjudul Rich Man Poor Woman, Nobunaga no Shefu, dan Nihonjin no Shiranai Nihon’go.

Pada tahap analisis data, metode yang digunakan dalam penelitian ini ialah metode padan. Metode padan adalah metode yang alat penentunya di luar, terlepas, dan tidak menjadi bagian dari bahasa yang bersangkutan (Sudaryanto, 1993: 13). Metode padan tersebut memiliki sub jenis metode, yang pada penelitian ini menggunakan sub metode kelima yaitu alat penentunya adalah mitra wicara. Sub jenis metode ini biasa disebut metode padan pragmatis.

Objek sasaran penelitian ini adalah tinggi rendahnya kadar suatu tuturan berdasarkan alat penentunya. Alat penentu penelitian ini adalah t (mitra wicara, istilah Sudaryanto) karena kalimat yang diucapkan akan mempengaruhi t dan memberikan sebuah efek atas tuturan tersebut.

Penelitian ini juga merupakan jenis penelitian deskriptif, yaitu penelitian yang dilakukan semata-mata hanya berdasarkan fakta yang ada atau fenomena yang terjadi pada penutur bahasa, sehingga yang dihasilkan dari penelitian tersebut berupa perian bahasa yang sifatnya seperti potret, paparan seperti apa adanya (Sudaryanto, 1992: 62). Oleh karena itu, metode deskriptif dipilih untuk digunakan memberikan gambaran secara lengkap mengenai analisis data berdasarkan landasan teori yang diterapkan.

Tahap terakhir yaitu tahap pemaparan hasil analisis data. Hasil analisis data dengan menggunakan teori pragmatik akan dipaparkan dalam bentuk deskripsi pada bab selanjutnya.

(14)

1.7 Sistematika Penulisan

Penelitian ini akan terbagi menjadi empat bab. Bab I merupakan pendahuluan, berisi latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian, tinjauan pustaka, kerangka teori, metode penelitian, dan sistematika penulisan. Bab II berisi landasan teori. Selanjutnya bab III merupakan hasil analisis data dan pembahasan. Bab terakhir yaitu bab IV berisi kesimpulan dari hasil penelitian.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...