• Tidak ada hasil yang ditemukan

DENGAN RISIKO TINGGI PENYAKIT KARDIOVASKULAR BERDASARKAN FRAMINGHAM GENERAL CVD RISK SCORE 2008

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "DENGAN RISIKO TINGGI PENYAKIT KARDIOVASKULAR BERDASARKAN FRAMINGHAM GENERAL CVD RISK SCORE 2008"

Copied!
103
0
0

Teks penuh

(1)

KORELASI KADAR LIPOPROTEIN(A) PLASMA DENGAN

CAROTID INTIMA-MEDIA THICKNESS (CIMT) PADA PENDERITA DENGAN RISIKO TINGGI PENYAKIT KARDIOVASKULAR

BERDASARKAN FRAMINGHAM GENERAL CVD RISK SCORE 2008

Karya Akhir untuk Mendapatkan Keterangan Keahlian

di Bidang Ilmu Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah

Peneliti :

Susetyo Atmojo

NIM. 011081314

Pembimbing :

Prof. Dr. Budi Susetyo Pikir, dr. Sp.PD, Sp.JP(K) FIHA

PROGRAM PENDIDIKAN DOKTER SPESIALIS-1

DEPARTEMEN ILMU PENYAKIT JANTUNG DAN PEMBULUH DARAH FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

RSUD Dr. SOETOMO SURABAYA

(2)

KORELASI KADAR LIPOPROTEIN(A) PLASMA DENGAN

CAROTID INTIMA-MEDIA THICKNESS (CIMT) PADA PENDERITA DENGAN RISIKO TINGGI PENYAKIT KARDIOVASKULAR

BERDASARKAN FRAMINGHAM GENERAL CVD RISK SCORE 2008

KARYA AKHIR

Untuk Memperoleh Keterangan Keahlian (Sp.JP) pada

Program Pendidikan Dokter Spesialis-1

Ilmu Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah

Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga

Oleh :

Susetyo Atmojo

NIM. 011081314

PROGRAM PENDIDIKAN DOKTER SPESIALIS-1

DEPARTEMEN ILMU PENYAKIT JANTUNG DAN PEMBULUH DARAH FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

RSUD Dr. SOETOMO SURABAYA

(3)
(4)
(5)
(6)

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas berkat, rahmat

dan anugerah-Nya sehingga karya akhir dengan judul “Korelasi Kadar

Lipoprotein(a) Plasma Dengan Carotid Intima-Media Thickness (CIMT) Pada

Penderita Dengan Risiko Tinggi Penyakit Kardiovaskular Berdasarkan

Framingham General CVD Risk Score 2008” dapat terselesaikan dengan baik.

Penulis menyadari bahwa karya akhir ini tidak dapat terselesaikan

dengan baik tanpa bantuan, bimbingan dan dorongan dari berbagai pihak. Kepada

Prof. Dr. Budi Susetyo Pikir, dr. Sp.PD, Sp.JP(K), FIHA selaku pembimbing

karya akhir kami, penulis ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas segala

bimbingan, dukungan dan semangat yang telah diberikan untuk menyelesaikan

penelitian ini. Pada kesempatan ini penulis juga menghaturkan terima kasih

kepada yang terhormat:

1. Prof. Dr. H. Fasich, Apt selaku Rektor Universitas Airlangga saat penulis

memulai pendidikan dan Prof. Dr. Mohammad Nasih, SE., Mt., Ak.,CMA

selaku Rektor Universitas Airlangga saat ini, Prof. Dr. Agung Pranoto, dr.,

Sp.PD-FINASIM KEMD selaku Dekan FK Unair saat penulis memulai

pendidikan dan Prof. Dr. Soetojo, dr., Sp.U selaku Dekan FK Unair saat ini,

H. Dodo Anondo, dr., MPH selaku direktur RSUD Dr. Soetomo saat penulis

memulai pendidikan dan dr. Harsono selaku Plt. Direktur RSUD Dr. Soetomo

saat ini, atas kesempatan dan fasilitas yang diberikan untuk menempuh

(7)

2. Muhammad Aminuddin, dr., Sp.JP(K), FIHA, FAsCC selaku Ketua

Departemen Ilmu Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah FK Unair, atas

kesempatan untuk menempuh pendidikan, bimbingan serta bantuannya

selama pendidikan.

3. Andrianto, dr., Sp.JP (K), FIHA selaku Ketua Program Studi Ilmu Penyakit

Jantung dan Pembuluh Darah FK Unair saat ini atas kesempatan menempuh

pendidikan, dan bimbingan serta bantuaanya selama pendidikan.

4. Agus Subagjo, dr., Sp.JP(K), FIHA, FAsCC selaku Ketua Program Studi

Ilmu Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah FK Unair saat penulis memulai

pendidikan atas kesempatan menempuh pendidikan, dan bimbingan serta

bantuannya selama pendidikan.

5. Prof. Dr. Djoko Soemantri, dr., Sp.JP(K), FIHA, FAsCC dan Dr. J. Nugroho

Eko Putranto, dr., Sp.JP(K), FIHA selaku koordinator penelitian pada

program studi Ilmu Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah FK Unair atas

segala bimbingan dan bantuannya selama pendidikan.

6. Prof. Dr. Budi Susetyo Juwono (Alm), dr., Sp.JP (K), FIHA dan Jatno

Karjono (alm), dr., Sp.JP (K), FIHA atas bimbingan, bantuan dan keteladanan

yang diberikan selama masa hidup beliau selama pendidikan.

7. Seluruh Staf Pengajar Program Studi Ilmu Penyakit Jantung dan Pembuluh

Darah FK Unair : Prof. R. Mohammad Yogiarto, dr., Sp.JP(K), Prof. Dr.

Rochmad Romdoni, dr., Sp.JP(K), Jeffrey D. Adipranoto, dr., Sp.JP(K), R.P.

Soeharsohadi, dr., Sp.JP(K), Iswanto Pratanu, dr., Sp.JP(K), Dyah Priyatini,

dr., Sp.JP(K), Esti Hindariati, dr., Sp.JP(K), Budi Baktijasa, dr., Sp.JP(K), I

(8)

Achmad Lefi, dr., Sp.JP(K), Yudi Her Oktaviono, dr., Sp.JP(K), Moh.

Budiarto, dr., Sp.JP, M. Yusuf, dr., Sp.JP, Meity Ardiana, dr., Sp.JP, Rerdin

Julario, dr., Sp.JP, Rosi Amrilla F, dr., Sp.JP, dan Nia Dyah Rahmianti, dr.,

Sp.JP atas segala bimbingan, bantuan dan semangat yang diberikan selama

pendidikan.

8. Kepala Bagian/SMF Ilmu Penyakit Dalam, Paru, Radiologi, Rehabilitasi

Medik, dan Ilmu Kesehatan Anak beserta staf pengajar atas kesempatan

belajar serta bimbingannya selama pendidikan.

9. Kepala Ruangan Rawat Inap, Poliklinik Jantung, ICCU, IDIK, IRD dan

Ekokardiografi beserta seluruh staf paramedis RSUD Dr. Soetomo Surabaya

dan karyawan bagian Ilmu Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah FK Unair

atas segala bimbingan, kerjasama, motivasi dan bantuannya selama

pendidikan.

10. Seluruh Pasien yang telah dirawat maupun responden penelitian atas

ketulusan dan kerjasamanya, sekaligus menjadi guru bagi penulis selama

pendidikan.

11. Rekan – rekan seangkatan : Agung Hadi Susanto, dr., Sp.JP, Aldhi Pradana

H, dr., Sp.JP, Ahmad Faizal Amir, dr., Isnaini, dr., Mia Puspitasari, dr., dan

Luh Oliva Saraswati S, dr., atas kerjasama, dukungan, motivasi dan semangat

selama pendidikan.

12. Rekan – rekan seperjuangan dalam ujian tulis nasional (CBT Maret 2016):

Irma Kartikasari, dr., Rina Mawarti, dr., Amelia Arindanie, dr., Ahmad Faizal

Amir, dr., Luh Oliva Saraswati S, dr., Feranti Meuthia, dr., atas segala

(9)

13. Rekan – rekan PPDS – 1 Ilmu Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah FK

Unair atas segala kerjasama, bantuan, semangat selama pendidikan.

14. Kedua orang tua penulis, bapak Poniman Sumarijadi dan ibu Theresia

Darmiasih; serta mertua penulis, bapak Slamet Muhardjo dan ibu Endang

Astuti, ketiga saudara saya, Bagus Sarwo Edhy, ST., Pujo Laksono, SE., Leni

Kusumawardani yang tidak henti-hentinya mendoakan dan memberikan

dorongan semangat serta moril selama menempuh pendidikan.

15. Istri penulis, Savitri Rahayu, dr., atas segala pengertian, dukungan, kesabaran,

pengorbanan, serta doa yang tidak henti – hentinya diberikan selama

menempuh pendidikan.

16. Semua pihak yang tidak bisa disebutkan satu – persatu, yang turut membantu

dan mendukung penulis selama menjalani pendidikan.

Penulis menyadari bahwa karya akhir ini masih banyak kekurangan, oleh

karena itu diharapkan sumbang saran dan kritik dari semua pihak demi perbaikan

di masa mendatang. Saya berharap karya akhir ini dapat bermanfaat bagi

masyarakat dan bagi perkembangan ilmu pengetahuan. Tidak lupa penulis

memohon maaf yang sebesar – besarnya kepada semua pihak atas segala

kekurangan dan kesalahan yang dilakukan selama menjalani pendidikan. Semoga

Allah SWT selalu membimbing dan meridhoi kita semua.

Surabaya, 28 Juli 2016

(10)

ABSTRAK

KORELASI KADAR LIPOPROTEIN(A) PLASMA DENGAN

CAROTID INTIMA-MEDIA THICKNESS (CIMT) PADA PENDERITA DENGAN RISIKO TINGGI PENYAKIT KARDIOVASKULAR

BERDASARKAN FRAMINGHAM GENERAL CVD RISK SCORE 2008

Susetyo Atmojo, Budi Susetyo Pikir

Latar Belakang: Penyakit kardiovaskular aterosklerotik saat ini merupakan

penyebab kematian tertinggi di berbagai negara di dunia. Peningkatan kadar Lipoprotein(a) (Lp(a)) plasma merupakan salah satu faktor risiko yang dikaitkan dengan proses aterosklerosis yang mendasari berbagai manifestasi klinis penyakit kardiovaskular. Namun, penelitian klinis tambahan perlu dilakukan untuk membuktikan hal ini. Carotid Intima-Media Thickness (CIMT) diketahui merupakan salah satu pemeriksaan untuk menilai derajat dan progresivitas proses aterosklerosis.

Tujuan: Membuktikan adanya korelasi antara kadar Lp(a) plasma dengan CIMT

pada penderita dengan risiko tinggi penyakit kardiovaskular berdasarkan Framingham General CVD risk score 2008.

Metode: Jenis dan desain penelitian ini menggunakan metode correlational dengan teknik pengambilan sampel purposive sampling. Ada 30 subyek yang berpartisipasi dalam penelitian ini dimana masing – masing subyek penelitian akan menjalani pemeriksaan CIMT dan juga pengambilan sampel darah untuk pemeriksaan Lp(a) plasma. Korelasi antara kadar Lp(a) plasma dan nilai CIMT dievaluasi menggunakan uji korelasi Spearman.

Hasil: Rerata kadar Lp(a) plasma pada subyek penelitian ini adalah 24.6667

mg/dL. Terdapat korelasi positif yang kuat dan bermakna antara kadar Lp(a) plasma dan CIMT rata-rata (CIMT mean) pada penderita dengan risiko tinggi penyakit kardiovaskular berdasarkan Framingham General CVD risk score 2008 (r = 0.618 dan p < 0.0001). Terdapat juga korelasi positif yang kuat dan bermakna antara kadar Lp(a) plasma dan CIMT tertinggi (CIMT max) pada penderita dengan risiko tinggi penyakit kardiovaskular berdasarkan Framingham General CVD risk score 2008 (r = 0.698 dan p < 0.0001).

Kesimpulan: Didapatkan korelasi positif yang kuat dan bermakna antara kadar

Lp(a) plasma dan CIMT rata-rata (CIMT mean) serta CIMT tertinggi (CIMT max) pada penderita dengan risiko tinggi penyakit kardiovaskular berdasarkan Framingham General CVD risk score 2008.

(11)

ABSTRACT

THE CORRELATION BETWEEN PLASMA LIPOPROTEIN(A) LEVEL

AND CAROTID INTIMA-MEDIA THICKNESS (CIMT) IN PATIENT

WITH HIGH RISK OF CARDIOVASCULAR DISEASE ACCORDING TO

FRAMINGHAM GENERAL CVD RISK SCORE 2008

Susetyo Atmojo, Budi Susetyo Pikir

Background : Atherosclerotic Cardiovascular Disease (ASCVD) is the leading

cause of mortality in the worldwide. Elevated plasma levels of lipoprotein(a) (Lp(a)) are considerd to be an atherosclerotic risk factor, although additional studies are necessary to provide confirmation. The Carotid Intima-Media Thickness (CIMT) is known as a surrogate index of atherosclerosis.

Objective : To prove a correlation between plasma Lp(a) level and CIMT in

patient with high risk of cardiovascular disease according to Framingham General CVD risk score 2008.

Methods : This is a correlational study with purposive sampling technique. Thirty

subjects participate in this reseach and each subject underwent a CIMT examination and their blood sample were collected for Lp(a) measurement. This study is analyzed with Spearman Correlation Test.

Results : The mean of plasma Lp(a) level in this study was 24.6667 mg/dL. There

is a positive, strong and significant correlation between plasma Lp(a) level and CIMT mean in patient with high risk of cardiovascular disease according to Framingham General CVD risk score 2008 (r = 0.618 dan p < 0.0001). There is also a positive, strong and significant correlation between plasma Lp(a) level and CIMT max in patient with high risk of cardiovascular disease according to Framingham General CVD risk score 2008 (r = 0.698 dan p < 0.0001).

Conclusions : There was a positive, strong and significant correlation between

plasma Lp(a) level and CIMT in patient with high risk of cardiovascular disease according to Framingham General CVD risk score 2008.

Keywords : atherosclerosis, lipoprotein(a), Carotid Intima-Media Thickness,

(12)

DAFTAR ISI 2.1 Penyakit Kardiovaskular... 9

2.2 Patologi Plak Aterosklerosis... 10

2.3 Lipoprotein(a)………... 13

2.4 Peran Lipoprotein(a) pada Patogenesis Aterosklerosis... 17

2.5 Carotid Intima-Media Thickness (CIMT)... 21

2.5.1 Peran Pemeriksaan CIMT untuk Menilai Aterosklerosis 21 2.5.2 Metode Pemeriksaan CIMT dan Interpretasi Data... 24

2.6 Penilaian Risiko Penyakit Kardiovaskular... 25

BAB 3 KERANGKA KONSEPTUAL DAN HIPOTESIS PENELITIAN 3.1 Kerangka Konseptual... 30

3.2 Penjelasan Kerangka Konseptual……… 31

3.3 Hipotesis Penelitian... 33

4.4.2 Kriteria Inklusi dan Eksklusi 4.4.2.1 Kriteria Inklusi... 35

4.4.2.2 Kriteria Eksklusi... 35

(13)

4.6 Instrumen Penelitian... 37

4.6.1 Tabel Framingham General CVD risk score 2008... 37

4.6.2 Kadar Lipoprotein(a) Plasma…….………... 37

4.6.3 Jarum dan Tabung SST 5 cc……..………... 37

4.6.4 Carotid Ultrasonography untuk Menilai Carotid Intima-Media Thickness……..………..……... 37

4.6.5 Kuesioner Klinis……….……..………... 38

4.6.6 Kuesioner Demografis……….……..………...38

4.7 Definisi Operasional... 38

4.8 Alur Penelitian... 40

4.9 Prosedur Penelitian... 40

4.10 Pengolahan dan Analisis Data 4.10.1 Pengolahan Data... 41

4.10.2 Analisis Data... 42

4.11 Ethical Clearance... 42

BAB 5 HASIL PENELITIAN 5.1 Karakteristik Dasar Subyek Penelitian... 43

5.2 Hasil Pemeriksaan Kadar Lipoprotein(a) Plasma... 46

5.3 Hasil Pemeriksaan Carotid Intima-Media Thickness (CIMT)... 47

5.4 Analisis Bivariate Karakteristik Subyek Penelitian Terhadap Kadar Lipoprotein(a) Plasma………... 47

5.5 Hasil Analisis Korelasi Kadar Lipoprotein(a) Plasma Dengan Carotid Intima-Media Thickness (CIMT) Pada Penderita Dengan Risiko Tinggi Penyakit Kardiovaskular Berdasarkan Framingham General CVD Risk Score 2008... 49

BAB 6 PEMBAHASAN 6.1 Karakteristik Dasar Subjek Penelitian...54

6.2 Analisis Bivariate Karakteristik Subyek Penelitian Terhadap Kadar Lipoprotein(a) Plasma……….. ... 55

6.3 Nilai Carotid Intima-Media Thickness (CIMT) Berdasarkan Karakteristik Subyek Penelitian ... 57

6.4 Korelasi Kadar Lipoprotein(a) Plasma Dengan Nilai Carotid Intima-Media Thickness (CIMT) Pada Penderita Dengan Risiko Tinggi Penyakit Kardiovaskular Berdasarkan Framingham General CVD Risk Score 2008 ... 58

BAB 7 KESIMPULAN DAN SARAN 7.1 Kesimpulan... 62

7.2 Saran... 62

DAFTAR PUSTAKA………63

(14)

DAFTAR GAMBAR

halaman

Gambar 2.1 Skema Patologi Evolusi Plak Aterosklerosis…... 13

Gambar 2.2 Struktur Lipoprotein(a)………... 14

Gambar 2.3 Mekanisme Aterogenesis Lipoprotein(a)………....19

Gambar 2.4 Mekanisme Patogenesis Trombosis oleh Lipoprotein(a)……...21

Gambar 2.5 Gambaran Double line dan Cara Pengukuran CIMT... 25

Gambar 3.1 Kerangka Konseptual Penelitian…………... 30

Gambar 4.1 Alur Penelitian………... 40

Gambar 5.5.1 Hubungan antara Kadar Lipoprotein(a) Plasma dengan Nilai

Carotid Intima-Media Thickness Rata-rata (CIMT mean)…... 51

Gambar 5.5.2 Hubungan antara Kadar Lipoprotein(a) Plasma dengan Nilai

(15)

DAFTAR TABEL

halaman Tabel 5.1 Karakteristik Data Dasar Subyek Penelitian... 45 Tabel 5.2 Nilai Minimum dan Maksimum, Rerata, Simpang Baku Kadar

Lipoprotein(a) Plasma………... 46 Tabel 5.3.1 Nilai Minimum dan Maksimum, Rerata, Simpang Baku Carotid

Intima-Media Thickness Rata-rata (CIMT mean)... 47 Tabel 5.3.2 Nilai Minimum dan Maksimum, Rerata, Simpang Baku

Carotid Intima-Media Thickness Tertinggi (CIMT max)……… 44 Tabel 5.4 Analisis Bivariate Karakteristik Subyek Penelitian terhadap

Kadar Lipoprotein(a) Plasma... 48 Tabel 5.5 Analisis Korelasi Kadar Lipoprotein(a) Plasma dengan Nilai

(16)

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

Lampiran 1 Tabel Framingham General Cardiovascular Disease risk score 2008………....…... 70

Lampiran 2 Lembar Information for Consent…... 71

Lampiran 3 Lembar Persetujuan Ikut Serta dalam Penelitian…………... 76

Lampiran 4 Lembar Pengumpulan Data Subyek

Penelitian... 77

(17)

DAFTAR SINGKATAN

ACS Acute Coronary Syndrome AHA American Heart Association Apo(a) Apolipoprotein(a)

ARIC Atherosclerotic Risk in the Community ASE American Society of Echocardiography CACS Coronary Artery Calcium Score CIMT Carotid Intima-Media Thickness CRP C-Reactive Protein

CVD Cardiovascular Disease

EAS European Atherosclerosis Society

EDHF Endothelium-Derived Hyperpolarizing Factor FHS Framingham Heart Study

HDL High Density Lipoprotein

hs-CRP high sensitivity C-Reactive Protein ICAM-1 Intercellular Cell Adhesion Molecule-1 IL-8 Interleukin-8

IMT Indeks Massa Tubuh LDL Low Density Lipoprotein Lp(a) Lipoprotein(a)

MCP-1 Monocyte Chemotactic Protein-1

M-CSF Macrophage Colony-Stimulating Factor NCEP National Cholesterol Education Program NHLBI National Heart, Lung, and Blood Institute NO Nitric Oxide

PAD Peripheral Artery Disease

PAI-1 Plasminogen Activator Inhibitor-1 PJK Penyakit Jantung Koroner

(18)

RISKESDAS Riset Kesehatan Dasar

SCORE Systematic Coronary Risk Evaluation

SHAPE Screening for Heart Attack Prevention and Education SKA Sindroma Koroner Akut

(19)

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Penyakit kardiovaskular hingga saat ini masih menjadi masalah kesehatan

utama dunia baik di negara maju maupun negara berkembang. Hal ini didasarkan

atas data yang menyebutkan kelompok penyakit kardiovaskular merupakan

penyebab kematian tertinggi di berbagai negara di dunia dan diperkirakan

prevalensinya akan terus meningkat pada tahun-tahun mendatang. Data World

Health Organization (WHO) saat ini menunjukkan penyakit kardiovaskular

menjadi penyebab lebih dari 17 juta kematian atau sekitar 30 persen dari total

angka kematian di seluruh dunia setiap tahunnya, dimana 80 persen diantaranya

terjadi di negara berkembang, dan diperkirakan akan bertambah menjadi 23,6 juta

kematian pada tahun 2030 (Mendis, et al., 2011; Dariush, et al., 2015).

Penyakit kardiovaskular terdiri dari spektrum penyakit yang luas, namun

secara umum disebabkan oleh patofisiologi awal yang sama yakni didasari adanya

proses aterosklerosis yang mendahului sebelum bermanifestasi sebagai penyakit

kardiovaskular. Penyakit ini meliputi sekelompok penyakit yaitu Penyakit Jantung

Koroner (PJK), penyakit serebrovaskular termasuk stroke dan Transient Ischemic

Attack (TIA), penyakit pada aorta dan arteri perifer/Peripheral Artery Disease

(PAD), serta gagal jantung. PJK merupakan manifestasi penyakit kardiovaskular

yang paling sering ditemukan dengan angka mortalitas dan morbiditas tertinggi

(20)

Penyakit kardiovaskular berkaitan erat dengan berbagai faktor risiko

aterosklerosis. Faktor-faktor risiko penting yang termasuk dalam berbagai model

stratifikasi risiko penyakit kardiovaskular yaitu usia, jenis kelamin, hipertensi,

dislipidemia, merokok, diabetes mellitus, dan riwayat keluarga dengan PJK

prematur. Pada populasi penderita PJK, beberapa studi menyatakan keberadaan

faktor-faktor risiko tersebut ditemukan pada 85 persen populasi. Selain berbagai

faktor risiko tradisional tersebut, terdapat beberapa faktor risiko baru yang mulai

teridentifikasi diantaranya sindroma metabolik, lipoprotein(a), high sensitivity

C-Reactive Protein (hs-CRP), fibrinogen, homosistein, dan tissue-Plasminogen

Activator (t-PA). Walaupun satu faktor risiko saja dapat mencetuskan kejadian

kardiovaskular, tetapi kombinasi beberapa faktor risiko akan meningkatkan

kemungkinan terjadinya kejadian kardiovaskular pada individu. Oleh karena itu,

identifikasi semua faktor risiko yang ada, khususnya faktor risiko baru diluar

faktor-faktor risiko tradisional yang telah lama diketahui serta tatalaksana

berbagai faktor risiko aterosklerosis yang terdapat pada seorang individu harus

dilakukan seoptimal mungkin untuk mencegah manifestasi penyakit

kardiovaskular (Yusuf, et al., 2004; Wang, et al., 2006).

Peningkatan angka mortalitas dan morbiditas oleh karena penyakit

kardiovaskular dari tahun ke tahun menarik perhatian para ahli untuk

terus-menerus melakukan strategi preventif terhadap kejadian kardiovaskular.

Stratifikasi risiko kardiovaskular dengan penilaian risiko adalah langkah penting

untuk mencapai tujuan ini. Salah satu model stratifikasi risiko penyakit

kardiovaskular adalah berdasarkan Framingham Heart Study (FHS). Pada tahun

(21)

disebut Framingham General Cardiovascular Disease (CVD) risk score 2008.

Algoritma FHS yang baru ini dikembangkan berdasarkan jumlah kejadian

kardiovaskular yang lebih besar, menyertakan faktor risiko kadar kolesterol High

Density Lipoprotein (HDL), serta dapat digunakan untuk mengestimasi risiko

absolut penyakit kardiovaskular. Pada stratifikasi risiko ini, individu

dikelompokkan menjadi beberapa kategori berdasarkan pada estimasi risiko

terjadinya suatu kejadian penyakit kardiovaskular dalam 10 tahun kedepan.

Caranya dihitung poin dari setiap faktor risiko yang ada dan dijumlahkan,

kemudian dilihat pada tabel dan dinilai besarnya risiko kejadian penyakit

kardiovaskular dalam 10 tahun kedepan. Bila risiko terjadinya penyakit

kardiovaskular dalam 10 tahun kedepan < 10 % disebut risiko rendah, antara 10 %

- 19 % risiko sedang, sedangkan ≥ 20 % risiko tinggi (D’Agostino, et al., 2008).

Lipoprotein(a) (Lp(a)) merupakan salah satu fraksi lipoprotein yang

disintesis di hati dan terdiri atas molekul apolipoprotein B yang berikatan kovalen

dengan apolipoprotein(a) (apo(a)). Peningkatan kadar Lp(a) plasma diketahui

berhubungan dengan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular karena aktivasi

proses aterosklerosis dan trombosis oleh Lp(a). Keterkaitan Lp(a) dengan proses

aterosklerosis diduga disebabkan oleh proses oksidasi Lp(a) dan infiltrasi Lp(a)

yang teroksidasi kedalam tunika intima pembuluh darah akibat adanya disfungsi

endotel serta fagositosis Lp(a) oleh makrofag sebagaimana proses yang terjadi

pada Low Density Lipoprotein (LDL), sedangkan peningkatan kejadian trombosis

terkait Lp(a) dikarenakan adanya homologi parsial antara struktur apo(a) dari

Lp(a) dengan plasminogen yang akan menurunkan aktivitas sistem fibrinolisis

(22)

Carotid Intima-Media Thickness (CIMT) merupakan pemeriksaan

non-invasif yang aman, cepat, dan murah dalam menilai derajat aterosklerosis.

Pemeriksaan ini memberikan hasil pengukuran yang akurat terhadap penilaian

awal adanya suatu proses aterosklerosis, bahkan sebelum terjadinya aterosklerosis

sistemik yang signifikan yang pada akhirnya akan bermanifestasi sebagai penyakit

kardiovaskular. Suatu data prospektif menunjukkan bahwa CIMT berhubungan

dengan risiko kejadian kardiovaskular bahkan pada pasien yang asimptomatis.

Guideline Screening for Heart Attack Prevention and Education (SHAPE)

memasukkan dua jenis pemeriksaan non-invasif untuk menilai aterosklerosis

subklinis yaitu dengan pengukuran CIMT menggunakan ultrasonografi B-Mode

pada arteri karotis dan penghitungan skor kalsium arteri koroner/Coronary Artery

Calcium Score (CACS) dengan menggunakan modalitas Computed Tomography

(Morteza, et al., 2006; Joshi, et al., 2012).

Pada penelitian patologi, Lp(a) ditemukan pada pewarnaan plak

aterosklerosis baik pada manusia maupun hewan coba. Penelitian oleh Shindo dkk

tahun 2001 melaporkan adanya konsentrasi apo(a) yang lebih tinggi pada area

pewarnaan dari spesimen aterektomi penderita dengan unstable angina

dibandingkan dengan stable angina, dimana apo(a) ini merupakan salah satu

komponen penyusun dari Lp(a) (Shindo, et al., 2001). Berbagai penelitian klinis

mendukung konsep Lp(a) sebagai salah satu faktor risiko baru aterosklerosis.

Penelitian oleh Bennet dkk tahun 2010 menunjukkan bahwa kadar Lp(a) yang

tinggi berkaitan dengan peningkatan risiko PJK (Bennet, et al., 2010). Bahkan

(23)

dapat digunakan sebagai marker untuk diagnosis unstable angina (Vidosava, et

al., 2011).

Sebuah studi oleh Kotani dkk baru-baru ini menyimpulkan peningkatan

kadar oksidasi Lp(a) berkorelasi positif dengan peningkatan nilai CIMT (Kotani,

et al., 2011). Meskipun sebagian besar penelitian mendukung konsep Lp(a)

sebagai salah satu faktor risiko penyakit kardiovaskular dan berhubungan dengan

peningkatan nilai CIMT, namun terdapat penelitian yang melaporkan tidak adanya

hubungan antara peningkatan kadar Lp(a) plasma dengan peningkatan nilai

CIMT. Penelitian oleh Wang dkk tahun 2014 menyimpulkan tidak adanya

hubungan antara peningkatan kadar Lp(a) plasma dengan nilai CIMT. Beberapa

referensi menunjukkan bahwa kadar Lp(a) sangat dipengaruhi oleh faktor genetik

dikarenakan adanya polimorfisme dari apo(a) yang dipengaruhi oleh perbedaan

etnis. Data epidemiologis menunjukkan bahwa terdapat variasi kadar Lp(a) yang

cukup besar pada tujuh populasi etnis yang berbeda, sehingga hasil penelitian

yang dilakukan di suatu negara belum tentu dapat diaplikasikan di negara lain

yang kelompok etnisnya berbeda (Wang, et al., 2009).

Berdasarkan latar belakang diatas, kami ingin meneliti tentang korelasi

antara kadar Lp(a) plasma dengan derajat aterosklerosis yang dinilai melalui

Carotid Intima-Media Thickness (CIMT) pada penderita dengan risiko tinggi

penyakit kardiovaskular berdasarkan Framingham General CVD risk score 2008

(24)

1.2 Rumusan Masalah

Apakah terdapat korelasi antara kadar lipoprotein(a) plasma dengan

Carotid Intima-Media Thickness (CIMT) pada penderita dengan risiko tinggi

penyakit kardiovaskular berdasarkan Framingham General Cardiovascular

Disease risk score 2008 ?

1.3 Tujuan Penelitian

1.3.1 Tujuan Umum

Mengetahui adanya korelasi antara kadar lipoprotein(a) plasma dengan

Carotid Intima-Media Thickness (CIMT) pada penderita dengan risiko tinggi

penyakit kardiovaskular berdasarkan Framingham General Cardiovascular

Disease risk score 2008.

1.3.2 Tujuan Khusus

1. Mengetahui korelasi antara kadar lipoprotein(a) plasma dengan

Carotid Intima-Media Thickness Rata-rata (CIMT mean) pada

penderita dengan risiko tinggi penyakit kardiovaskular berdasarkan

Framingham General Cardiovascular Disease risk score 2008.

2. Mengetahui korelasi antara kadar lipoprotein(a) plasma dengan

Carotid Intima-Media Thickness Tertinggi (CIMT max) pada

penderita dengan risiko tinggi penyakit kardiovaskular berdasarkan

(25)

1.4 Manfaat Penelitian

1.4.1 Manfaat Teoritis

1. Menambah dasar pengetahuan dan pemahaman tentang hubungan

kadar lipoprotein(a) plasma dengan Carotid Intima-Media Thickness

(CIMT) pada penderita dengan risiko tinggi penyakit kardiovaskular

berdasarkan Framingham General Cardiovascular Disease risk score

2008.

2. Menambah pengetahuan dan pemahaman mengenai penilaian derajat

aterosklerosis pembuluh darah karotis melalui Carotid Intima-Media

Thickness (CIMT) pada penderita dengan risiko tinggi penyakit

kardiovaskular berdasarkan Framingham General Cardiovascular

Disease risk score 2008.

1.4.2 Manfaat Praktis

1. Mengetahui kadar lipoprotein(a) plasma pada penderita dengan risiko

tinggi penyakit kardiovaskular berdasarkan Framingham General

Cardiovascular Disease risk score 2008 sehingga dapat dilakukan

tatalaksana yang optimal pada penderita.

2. Meningkatkan pengetahuan mengenai manfaat pemeriksaan Carotid

Intima-Media Thickness (CIMT) untuk menilai derajat aterosklerosis

pembuluh darah karotis dalam praktek klinis sehari-hari.

3. Mengetahui derajat aterosklerosis pembuluh darah karotis penderita

dengan risiko tinggi penyakit kardiovaskular berdasarkan Framingham

(26)

Carotid Intima-Media Thickness (CIMT) sehingga tatalaksana

(27)

BAB 2

TINJAUAN KEPUSTAKAAN

2.1 Penyakit Kardiovaskular

Penyakit kardiovaskular hingga saat ini masih menjadi masalah kesehatan

utama dunia baik di negara maju maupun negara berkembang. Hal ini didasarkan

atas data yang menyebutkan kelompok penyakit kardiovaskular merupakan

penyebab kematian tertinggi di berbagai negara di dunia dan diperkirakan

prevalensinya akan terus meningkat pada tahun-tahun mendatang. Data World

Health Organization (WHO) saat ini menunjukkan penyakit kardiovaskular

menjadi penyebab lebih dari 17 juta kematian atau sekitar 30 persen dari total

angka kematian di seluruh dunia setiap tahunnya, dimana 80 persen diantaranya

terjadi di negara berkembang, dan diperkirakan akan bertambah menjadi 23,6 juta

kematian pada tahun 2030 (Mendis, et al., 2011; Dariush, et al., 2015).

Data di Indonesia menurut laporan Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS)

tahun 2007 yang diterbitkan Departemen Kesehatan Republik Indonesia pada

tahun 2008 di Jakarta menyebutkan prevalensi penyakit jantung di Indonesia

sebesar 7,2 persen, dan menurut proporsi angka kematian di perkotaan pada

kelompok umur 45 – 54 tahun penyakit jantung menduduki urutan ketiga yaitu

sebesar 8,7 persen. Data profil kesehatan Indonesia tahun 2009 yang dikeluarkan

oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia juga menunjukkan bahwa

penyakit sistem pembuluh darah menempati urutan tertinggi yaitu sebesar 11,06

persen dari seluruh penyebab kematian di rumah sakit pada tahun 2008. Laporan

(28)

tertinggi PTM (Penyakit Tidak Menular) di Indonesia. Prevalensi PJK

berdasarkan diagnosis dokter Indonesia sebesar 0,5 persen, sedangkan

berdasarkan gejala (tanpa diagnosis dokter) sebesar 1,5 persen. WHO

memperkirakan kematian akibat PJK di Indonesia mencapai 17,5 persen dari

seluruh total kematian tiap tahunnya di Indonesia (Departemen Kesehatan

Republik Indonesia, 2013).

Penyakit kardiovaskular terdiri dari spektrum penyakit yang luas, namun

secara umum disebabkan oleh patofisiologi awal yang sama yakni didasari adanya

proses aterosklerosis yang mendahului. Penyakit ini meliputi sekelompok

penyakit yaitu PJK, penyakit serebrovaskular termasuk stroke dan TIA, penyakit

pada aorta dan arteri perifer/PAD, serta gagal jantung. PJK merupakan

manifestasi penyakit kardiovaskular yang paling sering ditemukan dengan angka

mortalitas dan morbiditas tertinggi diantara kelompok penyakit kardiovaskular

(Frostegard J., 2013).

2.2 Patologi Plak Aterosklerosis

Aterosklerosis merupakan suatu proses inflamasi difus dan progresif pada

pembuluh darah arteri ukuran sedang dan besar, ditandai dengan adanya deposisi

lemak, massa kolagen, terjadinya proliferasi sel otot polos pembuluh darah, serta

infiltrasi sel radang pada dinding pembuluh darah yang mengakibatkan penebalan,

kekakuan, berkurangnya elastisitas, dan penyempitan pada pembuluh darah

tersebut. Proses aterosklerosis telah terjadi bahkan sejak fase awal kehidupan dan

berlangsung terus dengan periode laten yang panjang sebelum bermanifestasi

(29)

upaya menjelaskan proses aterosklerosis. Hipotesis akumulasi lipid merupakan

hipotesis yang berkembang terlebih dahulu dimana proses aterogenesis

disebabkan oleh tingginya akumulasi lipid pada dinding arteri. Pada hipotesis ini

diketahui kadar plasma kolesterol terutama LDL adalah penyebab utama proses

aterosklerosis. Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan, hipotesis ini

akhirnya disempurnakan. Akhir-akhir ini teori respon jejas pada endotel

merupakan hipotesis yang paling banyak diterima terkait patogenesis

aterosklerosis. Jejas pada endotel akan memicu proses inflamasi yang akan

mengakibatkan teraktivasinya respon fibroproliferatif pada dinding pembuluh

darah yang terkena. Beberapa penyebab terjadinya jejas endotel diantaranya

kondisi stress oksidatif, LDL kolesterol teroksidasi, agen infeksi, toksin termasuk

diantaranya produk sampingan dari merokok, hiperglikemia, resistensi insulin,

peningkatan katekolamin, Lp(a) teroksidasi, dan hiperhomosisteinemia. Oleh

karena itu, saat ini dipercayai bahwa patogenesis aterosklerosis adalah

konsekuensi multifaktorial yang berawal dari terjadinya lesi endotel hingga

terbentuknya plak aterosklerosis (Ross R., 2007; Libby P., 2008).

Pembuluh darah arteri terdiri dari 3 lapisan yaitu tunika intima, tunika

media, dan tunika adventitia. Tunika intima merupakan lapisan paling dalam yang

terdiri dari satu lapis sel endotel pembuluh darah yang membatasi lumen

pembuluh darah dan berinteraksi dengan komponen darah. Tunika media

merupakan lapisan paling tebal yang terletak di tengah dan terdiri dari sel otot

polos pembuluh darah serta matriks ekstraseluler sehingga berperan sebagai

(30)

yang terdiri dari komponen saraf, limfatik, dan vasa vasorum yang memberi

nutrisi pada sel-sel pada dinding pembuluh darah (Mallika, et al., 2007).

Sel endotel yang terdapat pada tunika intima memiliki peran vasodilator,

anti trombotik, dan anti inflamasi. Peran vasodilator endotel disebabkan oleh

karena sel endotel mensintesis faktor-faktor vasodilator yakni nitric oxide,

prostasiklin, dan Endothelium-Derived Hyperpolarizing Factor (EDHF).

Manifestasi awal dari proses aterosklerosis adalah terjadinya jejas yang

menyebabkan disfungsi endotel. Jejas endotel ini secara umum disebabkan oleh

keadaan stress oksidatif. Kondisi disfungsi endotel akan memicu masuknya

lipoprotein sirkulasi seperti LDL atau Lp(a) kedalam sub-endotel melewati

endotel yang mengalami disfungsi. Stress oksidatif dan LDL yang teroksidasi

akan merangsang pengeluaran sitokin. Sitokin akan meningkatkan ekspresi

molekul adhesi terutama Vascular Cell Adhesion Molecule-1 (VCAM-1) dan

molekul kemoatraktan Monocyte Chemotactic Protein-1 (MCP-1) yang

mengarahkan migrasi monosit kedalam tunika intima. Monosit kemudian berubah

menjadi makrofag dan mengekspresikan reseptor scavenger dengan rangsangan

Macrophage Colony-Stimulating Factor (M-CSF). Makrofag kemudian

memfagositosis lipoprotein yang sudah termodifikasi seperti LDL teroksidasi dan

berubah menjadi sel busa (foamcell) dan membentuk fatty streak. Sel busa (foam

cell) juga akan merangsang pengeluaran sitokin, molekul efektor anion

superoxide dan matrix metalloproteinase yang menyebabkan sel-sel otot polos

pembuluh darah bermigrasi dari tunika media menuju tunika intima. Sel-sel otot

polos di tunika intima akan membelah diri dan bergabung dengan matriks

(31)

aterosklerosis dan akan membentuk fibrous plak. Pada lipid core dari plak

aterosklerosis sendiri akan terjadi peristiwa apoptosis dan fibrosis serta kalsifikasi

yang terus-menerus dimana ketidakseimbangan dari proses-proses ini akan

memicu terjadinya ruptur plak aterosklerosis yang menimbulkan manifestasi

klinis seperti Sindroma Koroner Akut (SKA)/Acute Coronary Syndrome (ACS)

(Gambar 2.1) (Stary, et al., 1995; Libby, 2008).

Gambar 2.1 Skema patologi evolusi plak aterosklerosis. (Diadaptasi dari Zipes D, Libby P, et al. Braunwald’s Heart Disease 9th ed. Philadelphia, Elsevier Saunders; 2007: 915)

2.3 Lipoprotein(a)

Kare Berg, seorang ilmuwan genetika, pada tahun 1963 merupakan

peneliti yang pertama kali menemukan keberadaan suatu lipoprotein spesifik di

dalam darah manusia dan dinamai sebagai lipoprotein(a). Saat itu diketahui bahwa

keberadaan Lp(a) ditentukan secara genetik melalui pola autosomal dominan.

Meskipun Lp(a) telah ditemukan hampir 50 tahun yang lalu, hubungan dengan

faktor risiko kardiovaskular baru diketahui sejak tahun 1980-an. Lp(a) merupakan

(32)

apolipoprotein B yang berikatan secara kovalen melalui ikatan disulfida dengan

apolipoprotein(a) (Gambar 2.2). Lp(a) mengandung satu molekul apolipoprotein

B dan dua molekul apo(a). Lp(a) merupakan suatu partikel lipoprotein kompleks

dengan sifat yang unik karena secara struktural menyerupai LDL dan juga

plasminogen. Struktur apolipoprotein B dari Lp(a) memiliki kemiripan dengan

molekul LDL dalam hal komposisi inti lemak (lipid core)-nya yaitu terdiri dari

kolesterol bebas, ester kolesterol, fosfolipid, dan trigliserida, sedangkan struktur

apo(a) dari Lp(a) merupakan suatu glikoprotein berukuran besar (236 - 255 A)

dengan densitas tinggi (1,05 - 1,08 g/L) yang komposisinya mirip dengan struktur

plasminogen yang merupakan suatu pro-enzim sistem fibrinolisis. Bila

plasminogen teraktifasi, maka plasminogen akan berubah menjadi plasmin yang

merupakan enzim yang aktif memecah fibrin dalam proses fibrinolysis (Gries, et

al., 1987; Chawla, et al., 2001).

Gambar 2.2 Struktur Lipoprotein(a)

Lp(a) yang terdapat di dalam sirkulasi darah disintesis di hati sebagai suatu

(33)

sintesis Lp(a) yang utama. Setelah disintesis, Lp(a) akan disekresikan ke dalam

sirkulasi. Perbedaan kadar Lp(a) plasma ditentukan oleh kecepatan produksinya.

Faktor-faktor yang mempengaruhi sintesis, pengaturan, katabolisme, dan ekskresi

dari Lp(a) sampai sekarang masih belum diketahui sepenuhnya. Namun dari

penelitian observasional yang telah dilakukan diketahui bahwa ginjal memegang

peranan penting dalam ekskresi Lp(a), sehingga penderita gangguan fungsi ginjal

yang berat dapat mengalami peningkatan kadar Lp(a) plasma (Jenner, et al.,

2005).

Kadar Lp(a) dalam plasma dapat bervariasi antar individu dan khususnya

antar kelompok etnis karena ditentukan secara genetik yaitu diturunkan melalui

pola autosomal dominan. Kadar Lp(a) plasma hampir seluruhnya dikontrol oleh

gen apo(a) yang terletak pada kromosom 6q2.2 - q2.7. Hal ini yang membuat

molekul apo(a) dari Lp(a) memiliki derajat variasi rantai polipeptida yang tinggi

yang membuat struktur dari Lp(a) dapat sangat heterogen karena sebagian besar

ditentukan oleh variasi ukuran komponen apo(a)-nya.Kadar Lp(a) plasma sangat

bervariasi diantara kelompok-kelompok etnis dimana perbedaan ini disebabkan

perbedaan pada ukuran dan jumlah isoform dari apo(a). Pada populasi kulit putih,

distribusi kadar Lp(a) condong kearah kadar yang rendah dengan nilai rerata 14

mg/dL, sedangkan pada populasi kulit hitam nilai Lp(a) plasma dapat mencapai

tiga kali lebih tinggi dibandingkan dengan populasi kulit putih. Karena kadar

Lp(a) tergantung ras/etnis maka sebenarnya diperlukan penentuan nilai rujukan

normal maupun batas nilai berisiko (cut-off point) secara tersendiri untuk

masing-masing kelompok etnis yang berbeda. Kadar Lp(a) plasma umumnya rendah pada

(34)

dan konstan hingga akhir kehidupan setelah usia 2 tahun, dimana kadarnya telah

mencapai kadar yang ditemukan pada usia dewasa. Menurut studi Prospective

Cardiovascular Munster (PROCAM), kadar Lp(a) pada pria dan wanita tidak

berbeda secara bermakna. Secara laboratoris umum, kadar Lp(a) plasma

digolongkan atas: 1) normal, bila < 20 mg/dL, 2) borderline, bila 20 - 30 mg/dL,

dan 3) tinggi, bila > 30 mg/dL. Walaupun kadar Lp(a) hampir seluruhnya

ditentukan secara genetik, beberapa faktor telah diketahui dapat mempengaruhi

kadar Lp(a). Faktor-faktor yang dapat meningkatkan kadar Lp(a) plasma adalah

diet yang kaya asam lemak jenuh dan trans-fatty acid, paska olah raga berat,

pemberian hormon pertumbuhan (growth hormone), adanya kondisi inflamasi

kronik atau berat, dan gagal ginjal (Marcovina & Koschinsky, 1997; Kostner &

Kostner, 2005; Clarke, et al., 2009; Li, et al., 2011).

Beberapa penelitian terdahulu telah menunjukan bahwa kadar Lp(a)

plasma berhubungan dengan proses aterosklerosis dan trombosis di dalam

pembuluh darah. Kemiripan struktur Lp(a) dengan struktur kolesterol LDL dan

plasminogen diduga yang mendasari hal ini. Dalam kaitannya dengan

aterosklerosis, Lp(a) walaupun memiliki struktur yang mirip dengan kolesterol

LDL, namun Lp(a) tidak berikatan secara baik dengan reseptor LDL. Lp(a) yang

mengalami oksidasi akan masuk melewati endotel pembuluh darah yang

mengalami disfungsi jika terdapat jejas endotel pembuluh darah akibat stress

oksidatif dan kondisi hiperkolesterolemia yang selanjutnya akan difagositosis oleh

makrofag. Makrofag ini kemudian berubah menjadi sel busa (foam cell) di

sub-endotel pembuluh darah yang merupakan cikal bakal terbentuknya plak

(35)

struktur Lp(a) sangat homolog dengan struktur plasminogen memperkuat dugaan

bahwa Lp(a) merupakan suatu faktor yang terkait dengan kejadian trombogenik.

Dikarenakan Lp(a) berperan dalam proses aterosklerosis dan trombosis, maka

Lp(a) berperan sebagai salah satu faktor risiko penyakit kardiovaskular,

khususnya PJK dan stroke iskemik. Beberapa penelitian yang telah dilakukan baik

berupa penelitian case control maupun penelitian prospektif menunjukan bahwa

kadar Lp(a) yang tinggi memiliki korelasi dengan kejadian PJK dan stroke

iskemik/trombotik (Klein, et al., 2008; Genser, et al., 2011).

2.4 Peran Lipoprotein(a) pada Patogenesis Aterosklerosis

Aterosklerosis merupakan hasil interaksi yang kompleks, meliputi proses

patologis seperti disfungsi endotel, perekrutan monosit, inflamasi, proliferasi sel

otot polos, akumulasi dan oksidasi lipid, nekrosis, kalsifikasi dan trombosis.

Koyaknya plak aterosklerosis yang diikuti adanya ketidakseimbangan antara

faktor trombogenik dan mekanisme proteksi dapat menyebabkan terjadinya

trombosis. Terjadinya trombosis akan memberikan manifestasi klinis seperti SKA.

Peran Lp(a) pada penyakit kardiovaskular didasarkan atas peran Lp(a) dalam

proses aterosklerosis (aterogenesis) dan patogenesis Lp(a) pada proses trombosis

(Simionescu & Sima, 2012).

Peran Lp(a) dalam proses aterosklerosis terutama disebabkan kemiripan

struktur Lp(a) yang menyerupai LDL, sehingga menyebabkan Lp(a) juga bersifat

aterogenik karena dapat menimbulkan retensi di dinding arteri setelah mengalami

oksidasi. Lp(a) menyebabkan aterosklerosis melalui beberapa mekanisme yaitu:

(36)

Lp(a) menginduksi penurunan ekspresi dari inducible Nitric Oxide Synthase

(iNOS) yang berperan dalam sintesis NO. NO mempunyai sifat anti aterogenik

dengan menghambat proliferasi limfosit T dan sel otot polos, adhesi neutrophil,

aktifitas trombosit, serta menurunkan permeabilitas endotel pembuluh darah; 2.)

peningkatan ekspresi molekul adhesi, adhesi leukosit dan aktivasi migrasi leukosit

ke tunika media. Lp(a) teroksidasi yang berada di lapisan sub-endotel pembuluh

darah berperan penting dalam perekrutan monosit yang telah berdiferensiasi

menjadi makrofag. Hal ini merupakan hasil dari sekresi molekul adhesi dari

endotel yang dirangsang oleh Lp(a) teroksidasi. Selanjutnya sel endotel dan sel

otot polos akan mensekresi faktor kemotaktik seperti Monocyte Chemoattractant

Protein-1 (MCP-1), faktor diferensiasi monosit Macrophage Colony-Stimulating

Factor (M-CSF), peningkatan molekul adhesi interselular yaitu Intercellular

Adhesion Molecule-1 (ICAM-1) dan Vascular Cell Adhesion Molecules-1

(VCAM-1). Makrofag selain memfagositosis Lp(a) teroksidasi juga akan

mensekresikan bermacam-macam faktor seperti faktor pertumbuhan (growth

factor), faktor kemotaktik (chemotactic factor), sitokin, dan pro-oksidan yang

bertanggung jawab pada berlanjutnya proses aterosklerosis; 3.) menginduksi

makrofag untuk memproduksi interleukin-8 (IL-8). Sitokin IL-8 merupakan

sitokin proinflamasi dalam plak ateromatous dan dapat meningkatkan aktivitas

kemotaktik terhadap netrofil, limfosit T, sel otot polos, serta monosit. Makrofag

menghasilkan suatu enzim proteolitik (metalloproteinase) yang dapat

menyebabkan terjadinya rupture plak ateromatous; 4.) aktivasi pembentukan sel

busa (foam cell). Mekanisme retensi Lp(a) di dinding arteri yang dapat

(37)

proteoglikan dari dinding arteri. Proteoglikan ini, terutama proteoglikan

kondroitin sulfat, dapat berinteraksi dengan lipoprotein yang mengandung

apolipoprotein B, terutama LDL dan Lp(a), tetapi tidak dengan HDL. Interaksi ini

menyebabkan Lp(a) terperangkap, kemudian termodifikasi dan difagositosis oleh

makrofag dan menyebabkan terbentuknya sel busa (foam cell). Biarpun beberapa

proses seperti fagositosis dan agregasi dapat menyebabkan pengambilan Lp(a)

oleh makrofag, namun faktor kunci dalam proses ini adalah oksidasi Lp(a) oleh

kondisi stress oksidatif; 5.) mengaktifkan proliferasi sel otot polos pada tunika

media pembuluh darah (gambar 2.3)(Deb & Caplice, 2004).

Gambar 2.3 Mekanisme Aterogenesis Lipoprotein(a)

Penelitian di Utah, Amerika Serikat, mendukung hal ini dimana

peningkatan kadar Lp(a) plasma dan peningkatan rasio kolesterol total/HDL akan

meningkatkan risiko terjadinya PJK secara bermakna. Oleh karena itu, European

Atherosclerosis Society (EAS) Consensus Panel tahun 2010 merekomendasikan

(38)

dengan risiko tinggi (high risk) terhadap kejadian kardiovaskular, individu yang

mengalami kejadian kardiovaskular pada usia yang relatif muda, individu dengan

riwayat keluarga PJK prematur, individu dengan familial hypercholesterolemia,

serta individu yang mengalami atau masih mengalami kejadian kardiovaskular

walau telah dilakukan terapi farmakologis yang adekuat dengan hasil kolesterol

LDL plasma yang normal atau sesuai target (Antonicelli, et al., 2001; Tsimikas, et

al., 2003; Nordestgaard, et al., 2010).

Dalam hal patogenesis trombosis, struktur lipoprotein(a) yang homolog

dengan plasminogen akan menurunkan aktivitas proses fibrinolisis dengan cara

menghambat perubahan plasminogen menjadi plasmin melalui mekanisme

kompetisi dengan plasminogen untuk berikatan dengan reseptor plasminogen di

permukaan sel endotel dan makrofag sehingga mempermudah terjadinya

trombosis. Disamping itu, Lp(a) juga merangsang sel endotel untuk menghasilkan

Plasminogen Activator Inhibitor-1 (PAI-1) yang dapat menghambat proses

fibrinolysis. Peran trombogenik Lp(a) selain karena kemiripan struktur apo(a)

dengan plasminogen, juga karena Lp(a) berperan menstimulasi pertumbuhan

sel-sel otot polos dinding pembuluh darah, peningkatan molekul adhesi intersel-selular

yaitu Intercellular Adhesion Molecule-1 (ICAM-1) dan Vascular Cell Adhesion

Molecules-1 (VCAM-1), dan inhibisi aktivasi plasminogen oleh

tissue-Plasminogen Activator (t-PA) (gambar 2.4) (Marcovina & Konchinsky, 1998;

Deb & Caplice, 2004; Erqou, et al., 2009; Genser, et al., 2011).

Berdasarkan data penelitian, Lp(a) berperan sebagai salah satu faktor

risiko terjadinya stroke iskemik walaupun belum sekuat hubungannya dengan

(39)

membuktikan bahwa kadar Lp(a) yang tinggi dapat meningkatkan risiko stroke

trombotik, aterosklerosis karotis, dan penyakit vaskular perifer (von Eckardstein,

et al., 2001).

Gambar 2.4 Mekanisme Patogenesis Trombosis oleh Lipoprotein(a)

2.5 Carotid Intima-Media Thickness (CIMT)

2.5.1 Peran Pemeriksaan CIMT untuk Menilai Aterosklerosis

Proses lanjut dari aterosklerosis pada pembuluh darah arteri akan

menyebabkan penyempitan atau bahkan oklusi total pada pembuluh darah

tersebut. Metode penilaian aterosklerosis dibagi menjadi dua jenis pemeriksaan

yaitu metode invasif dan non-invasif. Angiografi merupakan metode invasif dan

standar baku emas untuk mengetahui adanya penyempitan atau oklusi pada

pembuluh darah arteri spesifik. Namun, pemeriksaan ini terkadang sulit untuk

(40)

untuk menilai adanya aterosklerosis pada pembuluh darah arteri yakni dengan

menggunakan pendekatan non-invasif. Penilaian aterosklerosis dengan metode

non-invasiv antara lain dengan cara menilai disfungsi endotel, ketebalan dinding

arteri, kekakuan arteri serta parameter aliran darah. Penilaian tersebut antara lain

dengan Carotid intima media thickness (CIMT), Flow mediated dilatation (FMD),

pulse wave velocity (PWV), ankle brachial index (ABI). Guideline Screening for

Heart Attack Prevention and Education (SHAPE) memasukkan dua jenis

pemeriksaan non-invasif yang dapat digunakan untuk menilai aterosklerosis yaitu

dengan pengukuran Carotid Intima-Media Thickness (CIMT) menggunakan

ultrasonografi B-Mode pada arteri karotis dan penghitungan skor kalsium arteri

koroner/Coronary Artery Calcium Score (CACS) dengan menggunakan modalitas

Computed Tomography (Morteza, et al., 2006; Holewijn & Heijer, 2010).

Pemeriksaan skor kalsium koroner merupakan penilaian keberadaan dan

luas kalsium koroner yang menyatakan adanya kalsifikasi pada pembuluh darah

koroner. Kalsifikasi koroner didefinisikan sebagai lesi tebal yang mengandung

fokus kalsium pada arteri koroner > 130 Hounsfield Units (HU) dengan area ≥ 3

piksel. Kalsifikasi vaskular memang telah lama diketahui berhubungan dengan

aterosklerosis. Dari konferensi Bethesda dinyatakan bahwa pemeriksaan kalsium

koroner dengan Computed Tomography merupakan metode yang akurat dalam

mendeteksi aterosklerosis secara dini pada saat ini. Namun, kekurangan dari

pemeriksaan skor kalsium koroner yaitu memerlukan ketersediaan alat canggih

dengan biaya yang mahal serta adanya pajanan radiasi dalam pemeriksaannya

(41)

Pemeriksaan CIMT merupakan metode non-invasif yang telah diakui

cukup baik dalam menilai proses aterosklerosis pada arteri karotis dengan

menggunakan ultrasonografi B-Mode resolusi tinggi. Pemeriksaan ini dapat

digunakan sebagai penanda perubahan struktur dinding arteri karotis. Peningkatan

nilai CIMT menunjukkan progresifitas proses aterosklerosis. Pemeriksaan CIMT

merupakan pemeriksaan yang relatif aman tanpa pajanan radiasi, cepat, mudah

dikerjakan, dan lebih murah dibandingkan skor kalsium koroner dalam menilai

aterosklerosis. Pemeriksaan ini dapat menilai aterosklerosis subklinis sebelum

terjadinya aterosklerosis yang signifikan serta dapat mengidentifikasi keberadaan

plak aterosklerosis. Pemeriksaan CIMT dapat melihat efek kumulatif dari

berbagai faktor risiko aterosklerosis yang terdapat pada individu dan merupakan

prediktor independen terhadap risiko kejadian kardiovaskular di waktu yang akan

datang. Data prospektif dari beberapa studi mendukung peningkatan nilai CIMT

berhubungan dengan peningkatan risiko kardiovaskular baik pada penderita yang

simptomatis maupun pada individu yang asimptomatis (Devine, et al., 2006;

Lester, et al., 2009; Cobble & Bale, 2010;Perk, et al., 2012).

Pemeriksaan ultrasonografi arteri karotis mengikuti suatu protokol

skrining dari penelitian epidemiologi besar yang melaporkan nilai CIMT dalam

persentil berdasarkan usia, jenis kelamin, dan ras seperti penelitian

Atherosclerotic Risk in the Community (ARIC) atau penelitian lainnya. Terdapat

perbedaan definisi nilai CIMT abnormal pada beberapa studi. Beberapa studi

menggunakan nilai CIMT abnormal yaitu lebih persentil 75. Sementara ada studi

yang lain yang menggunakan definisi nilai CIMT abnormal yaitu > 1 SD dari nilai

(42)

mm atau ≥ 1 mm. American Society of Ekokardiografi (ASE) merekomendasikan

nilai abnormal CIMT yaitu lebih besar dari persentil 75 untuk usia, jenis kelamin

dan etnis. Interpretasi nilai CIMT dengan faktor risiko kardiovaskular berdasarkan

konsensus ASE 2008 yaitu: 1) high risk dan indikasi untuk peningkatan risiko

penyakit kardiovaskular jika CIMT ≥ 75th persentil, 2) average risk dan indikasi

untuk tidak ada perubahan risiko penyakit kardiovaskular jika CIMT 25th sampai

75th persentil, 3) lower risk jika CIMT ≤ 25th persentil. Sampai saat ini tidak ada

konsensus yang menetapkan nilai cut-off peningkatan CIMT yang berkorelasi

dengan kejadian kardiovaskular sehingga ada dua pendekatan yang digunakan

yakni: 1) pendekatan konservatif, dimana CIMT > 0.9 mm ditetapkan sebagai

indikator peningkatan risiko penyakit kardiovaskular aterosklerotik, 2) pendekatan

berdasarkan nilai rujukan, yaitu menggunakan nilai rujukan berdasarkan usia dan

jenis kelamin serta menetapkan persentil 75th sebagai nilai berisiko (cut-off point)

(Howard, et al., 1993; Chambless, et al., 1997; Stein, et al., 2008; Rodrigues,

2014).

2.5.2 Metode Pemeriksaan CIMT dan Interpretasi Data

Pemeriksaan CIMT menggunakan peralatan standar yaitu ultrasonografi

B-Mode dengan transduser ultrasonografi linear > 7 MHz, dengan kedalaman

fokus kira-kira 30 - 40 mm, frame rate > 15 Hz. Pengukuran CIMT lebih dipilih

pada dinding jauh (far wall) dari arteri karotis komunis. Nilai dari dinding dekat

(near wall) bergantung pada pengaturan gain dan kurang dipercaya. Lokasi yang

dipilih untuk pengukuran CIMT yaitu distal 1 cm dari tiap arteri karotis komunis

(43)

yang optimal serta dua sudut yang saling melengkapi (anterior, lateral, dan

posterior). Gambaran longitudinal yang benar secara simultan menunjukkan dua

garis sejajar/double line pada dinding dekat dan jauh dari arteri karotis komunis

(double line sign). Garis yang pertama menunjukkan permukaan lumen – intima,

sedangkan garis kedua menunjukkan permukaan tunika media – adventitia.

Pengukuran CIMT dikerjakan dengan melakukan tracing kedua garis ini pada

dinding jauh menggunakan teknik leading edge to leading edge, dengan segmen

arteri karotis komunis yang diukur adalah sepanjang 1 cm (Gambar 2.5) (Stein, et

al., 2008; Touboul, et al., 2012; Rodrigues, 2014).

Gambar 2.5 Gambaran Double line dan cara pengukuran CIMT (Diadaptasi dari Stein, et al., 2008)

2.6 Penilaian Risiko Penyakit Kardivaskular

Penyakit kardiovaskular hampir selalu berhubungan dengan satu atau lebih

karakteristik sifat atau atribut pada individu (seperti usia, jenis kelamin, dan

riwayat individu), kebiasaan maupun paparan pada individu yang secara statistika

(44)

kardiovaskular yang disebut faktor risiko penyakit kardiovaskular. American

Heart Association (AHA) memaparkan beberapa faktor risiko mayor yang

diketahui berhubungan dengan penyakit kardiovaskular yaitu hipertensi, diabetes

melitus, peningkatan kolesterol total dan LDL, merokok, serta usia lanjut. Selain

faktor-faktor risiko mayor tersebut terdapat beberapa faktor risiko lain yang

diketahui berhubungan dengan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular yakni

obesitas, sindroma metabolik, inaktivitas fisik, riwayat keluarga dengan PJK

prematur, peningkatan trigliserida, small-LDL, homosistein, lipoprotein(a),

fibrinogen, dan C-Reactive Protein (CRP). Beberapa faktor risiko tersebut

khususnya faktor-faktor risiko yang dipengaruhi gaya hidup merupakan kondisi

yang dapat dimodifikasi untuk menurunkan risiko terjadinya penyakit

kardiovaskular di kemudian hari yaitu merokok, inaktivitas fisik, dan obesitas.

Selain itu, hipertensi, diabetes melitus, dan dislipidemia termasuk kelompok

faktor-faktor risiko yang dapat dikoreksi dengan modifikasi gaya hidup serta

terapi farmakologis yang adekuat. Sedangkan usia lanjut, jenis kelamin laki-laki,

dan riwayat keluarga dengan PJK prematur termasuk faktor-faktor risiko yang

tidak dapat dimodifikasi (Greenland, et al., 2010).

Aterosklerosis yang menjadi dasar utama penyakit kardiovaskular

merupakan suatu proses inflamasi kronis progresif dengan masa laten yang

panjang sebelum bermanifestasi sebagai penyakit kardiovaskular. Keberadaan

berbagai faktor risiko aterosklerosis merupakan hal yang memperberat dan

mempercepat proses inflamasi yang mendasari proses aterosklerosis untuk

bermanifestasi sebagai penyakit kardiovaskular, sehingga identifikasi dan

(45)

merupakan kunci utama pencegahan penyakit kardiovaskular (Yusuf, et al., 2004;

Greenland, et al., 2010).

Penilaian tingkat risiko penyakit kardiovaskular pada individu yang

berdasar pada keberadaan faktor-faktor risiko kardiovaskular dalam berbagai

model stratifikasi risiko telah banyak berkembang. Framingham Heart Study

merupakan studi penting dalam bidang kardiologi preventif yang menghasilkan

konsep dalam penilaian risiko serta prediksi penyakit jantung koroner pada

individu asimtomaktik. Cara perhitungan dibuat agar memudahkan penggunanya

dengan model kalkulator faktor risiko dan menghasilkan nilai atau skor tertentu

dan angka persentasi prediksi kejadian penyakit kardiovaskular dalam 10 tahun

yang dikenal dengan Framingham Risk Score (Greenland, et al., 2010).

Beberapa model stratifikasi risiko yang sering digunakan adalah

Framingham risk score (FRS) dari Amerika Serikat dan Systematic Coronary Risk

Evaluation (SCORE) dari Eropa. Selain itu, skor-skor risiko lain seperti

Prospective Cardiovascular Munster (PROCAM) score, WHO score, Reynolds

score, yang menggunakan beragam faktor risiko kardiovaskular tradisional juga

dapat dipakai untuk penilaian risiko pada semua individu dewasa yang

asimptomatis tanpa riwayat PJK. Skor-skor ini berguna untuk melakukan

penilaian faktor risiko kedalam suatu perkiraan kuantitatif sehingga dapat

digunakan untuk tujuan pencegahan penyakit kardiovaskular (Uthoff, et al.,

2010).

Model skor Framingham dianggap akurat untuk populasi tertentu antara

lain populasi Amerika, Australia, atau New Zealand. Namun dianggap kurang

(46)

mencoba mengkalibrasi skor-skor tersebut sehingga dapat diterapkan di

negaranya. Sharmini dkk dalam studinya menyebutkan skor prediksi FRS dan

SCORE dapat mengidentifikasi risiko kardiovaskular tinggi pada populasi orang

Malaysia (Eichler, et al., 2007; Selvarajah, et al., 2014).

Pada awalnya FHS hanya memprediksi kejadian PJK. Untuk memperbaiki

penilaian risiko penyakit kardiovaskular pada FHS awal yang hanya memprediksi

kejadian PJK, pada tahun 2008 FHS mengembangkan profil risiko penyakit

kardiovaskular yang baru dengan melibatkan 8491 peserta dari ketiga studi kohort

FHS. Algoritma FHS yang baru ini dikembangkan berdasarkan jumlah kejadian

kardiovaskular yang lebih besar, menyertakan faktor risiko kadar kolesterol HDL,

dan dapat digunakan untuk mengestimasi risiko absolut penyakit kardiovaskular.

Algoritma ini dapat digunakan para dokter khususnya dokter layanan primer

untuk menilai risiko seseorang mengalami kejadian penyakit kardiovaskular (PJK,

stroke, penyakit aorta dan arteri perifer, atau gagal jantung) dengan baik.

Penilaian multivariabel ini dapat digunakan untuk memperkirakan risiko absolut

penyakit kardiovaskular serta untuk menentukan tatalaksana faktor risiko.

Penilaian risiko global kardiovaskular dengan cara Framingham ini telah

digunakan secara luas baik pada laki-laki maupun perempuan dengan sejumlah

kelompok etnis, bahkan bisa dianggap sebagai standar baku untuk penilaian risiko

kardiovaskular. Guideline dari American College of Cardiology

Foundation/American Heart Association (ACCF/AHA) 2010 memberikan kelas

rekomendasi IB bagi penggunaan Framingham Risk Score untuk penilaian risiko

kardiovaskular pada individu dengan faktor risiko aterosklerosis yang

(47)

beberapa kategori berdasarkan pada estimasi risiko terjadinya suatu kejadian

penyakit kardiovaskular dalam 10 tahun kedepan. Beberapa variabel risiko

tersebut berdasarkan Framingham General CVD risk score 2008 yaitu jenis

kelamin, umur, kolesterol total, kolesterol HDL, tekanan darah sistolik, terapi

terhadap hipertensi, status merokok, status diabetes. Framingham General CVD

risk score 2008 ini membagi individu dalam tiga kelompok risiko yaitu risiko

rendah (< 10%), risiko sedang (10% - 19%), dan risiko tinggi (≥ 20 %) (Kannel

(48)

BAB 3

KERANGKA KONSEPTUAL DAN HIPOTESIS PENELITIAN

3.1 Kerangka Konseptual

Keterangan :

Gambar 3.1 Kerangka konseptual penelitian : Variabel tidak diteliti : Variabel yang diteliti

Kadar Lipoprotein(a) plasma pada pasien dengan risiko tinggi penyakit kardiovaskular

Aterosklerosis

Nilai Carotid Intima-Media Thickness

(CIMT)

Proses oksidasi Lp(a)

sekresi MCP-1, M-CSF, ICAM-1, VCAM-1, penghambatan sintesis NO, pembentukan foam cell, peningkatan proliferasi sel otot polos pada

tunika media

Arterial wall thickness

(49)

3.2 Penjelasan Kerangka Konseptual

Kadar Lipoprotein(a) plasma hampir seluruhnya ditentukan secara genetik

melalui pola autosomal dominan. Terdapat beberapa faktor yang terbukti dapat

meningkatkan kadar lipoprotein(a) plasma selain faktor genetik yaitu diet tinggi

asam lemak jenuh, paska olah raga berat, pemberian hormon pertumbuhan,

adanya kondisi inflamasi, dan gagal ginjal. Peran Lp(a) dalam proses

aterosklerosis terutama disebabkan kemiripan struktur Lp(a) yang menyerupai

LDL, sehingga menyebabkan Lp(a) juga bersifat aterogenik karena dapat

menimbulkan retensi di dinding arteri setelah mengalami oksidasi. Lp(a)

menyebabkan aterosklerosis melalui beberapa mekanisme yaitu: 1.)

penghambatan sintesis Nitric Oxide (NO) oleh sel endotel pembuluh darah. Lp(a)

menginduksi penurunan ekspresi dari inducible Nitric Oxide Synthase (iNOS)

yang berperan dalam sintesis NO. NO mempunyai sifat anti aterogenik dengan

menghambat proliferasi limfosit T dan sel otot polos, adhesi neutrophil, aktifitas

trombosit, serta menurunkan permeabilitas endotel pembuluh darah; 2.)

peningkatan ekspresi molekul adhesi, adhesi leukosit dan aktivasi migrasi leukosit

ke tunika media. Lp(a) teroksidasi yang berada di lapisan sub-endotel pembuluh

darah berperan penting dalam perekrutan monosit yang telah berdiferensiasi

menjadi makrofag. Hal ini merupakan hasil dari sekresi molekul adhesi dari

endotel yang dirangsang oleh Lp(a) teroksidasi. Selanjutnya sel endotel dan sel

otot polos akan mensekresi faktor kemotaktik seperti Monocyte Chemoattractant

Protein-1 (MCP-1), faktor diferensiasi monosit Macrophage Colony-Stimulating

Factor (M-CSF), peningkatan molekul adhesi interselular yaitu Intercellular

(50)

(VCAM-1). Makrofag selain memfagositosis Lp(a) teroksidasi juga akan

mensekresikan bermacam-macam faktor seperti faktor pertumbuhan (growth

factor), faktor kemotaktik (chemotactic factor), sitokin, dan pro-oksidan yang

bertanggung jawab pada berlanjutnya proses aterosklerosis; 3.) menginduksi

makrofag untuk memproduksi interleukin-8 (IL-8). Sitokin IL-8 merupakan

sitokin proinflamasi dalam plak ateromatous dan dapat meningkatkan aktivitas

kemotaktik terhadap netrofil, limfosit T, sel otot polos, serta monosit. Makrofag

menghasilkan suatu enzim proteolitik (metalloproteinase) yang dapat

menyebabkan terjadinya rupture plak ateromatous; 4.) aktivasi pembentukan sel

busa (foam cell). Mekanisme retensi Lp(a) di dinding arteri yang dapat

menyebabkan proses aterosklerosis diduga karena interaksinya dengan

proteoglikan dari dinding arteri. Proteoglikan ini, terutama proteoglikan

kondroitin sulfat, dapat berinteraksi dengan lipoprotein yang mengandung

apolipoprotein B, terutama LDL dan Lp(a), tetapi tidak dengan HDL. Interaksi ini

menyebabkan Lp(a) terperangkap, kemudian termodifikasi dan difagositosis oleh

makrofag dan menyebabkan terbentuknya sel busa (foam cell). Biarpun beberapa

proses seperti fagositosis dan agregasi dapat menyebabkan pengambilan Lp(a)

oleh makrofag, namun faktor kunci dalam proses ini adalah oksidasi Lp(a) oleh

kondisi stress oksidatif; 5.) mengaktifkan proliferasi sel otot polos pada tunika

media pembuluh darah. Proses aterosklerosis akan menyebabkan peningkatan

ketebalan dinding arteri. Hal ini salah satunya dapat dinilai dengan mendeteksi

peningkatan ketebalan dinding arteri karotis dengan penilaian Carotid

(51)

3.3 Hipotesis Penelitian

Terdapat korelasi antara kadar lipoprotein(a) plasma dengan Carotid

Intima-Media Thickness (CIMT) pada penderita dengan risiko tinggi penyakit

kardiovaskular berdasarkan Framingham General Cardiovascular Disease risk

Gambar

Gambar 2.1 Skema patologi evolusi plak aterosklerosis. (Diadaptasi dari Zipes D,
Gambar 2.3 Mekanisme Aterogenesis Lipoprotein(a)
Gambar 2.4 Mekanisme Patogenesis Trombosis oleh Lipoprotein(a)
Gambar 2.5 Gambaran Double line dan cara pengukuran CIMT (Diadaptasi dari
+7

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan teks berbeda dengan teks negosiasi , dimana tujuan teks deskripsi sangat jelas yaitu agar orang yang membaca teks ini seolah-olah sedang merasakan langsung apa yang sedang

“Menyimak adalah suatu proses kegiatan mendengarkan lambang-lambang lisan dengan penuh perhatian, pemahaman, argumentasi, serta interprestasi untuk memperoleh

dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami

pintoi sebagai biomulsa memberikan pengaruh nyata terhadap peningkatan pertumbuhan (tinggi tanaman dan jumlah ruas) dan hasil produksi cabai merah keriting

SRI International telah mengembangkan program yang disebut VALS1 (value and life style 1) untuk mengukur gaya hdup ditinjau dari aspek nilai cultural yaitu (1) outer

Prinsip kerja dari sistem ini adalah ketika terjadi suatu yang abnormal di dalam rumah baik itu kemalingan maupun asap yang tidak wajar, ada api, dan suhu

DAERAH RAWAN BANJIR, LONGSOR, MACET DAN SIAGA ALAT PROVINSI BANTEN DAN JAWA BARAT LEBARAN 2013. Serang Cilegon Pandeglang Tigaraksa Rangkasbitung Bayah Malingping Sajira

Kompleksitas yang terlibat dalam beroperasi di Negara-negara berbeda dan mempekerjakan kategori karyawan yang berbeda kebangsaan adalah suatu variable kunci yang