Peran Guru Bimbingan Konseling dalam Mengatasi Masalah Kedisiplinan Siswa di SMP Muhammadiyah 05 Wonosegoro Kabupaten Boyolali - Test Repository

96 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

i

PERAN GURU BIMBINGAN KONSELING DALAM MENGATASI MASALAH KEDISIPLINAN SISWA DI SMP MUHAMMADIYAH 05

WONOSEGORO KABUPATEN BOYOLALI

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Kewajiban dan Melengkapi Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd.)

Oleh :

Nurul Istikomah

111-12-186

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) SALATIGA

(2)
(3)

iii

KEMENTERIAN AGAMA

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) SALATIGA FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN

Jl. Lingkar Salatiga Km. 2 Pulutan Salatiga

(4)
(5)

v

MOTTO

ٌرْي ِصَب َن ْوُلَمْعَت اَمِب ُهَّوِا ۗا ْوَغْطَت َلََو َكَعَم َباَت ْهَمَو َتْرِمُا ۤاَمَك ْمِقَتْساَف

(

دوه

:

۱۱۲

)

“Maka tetaplah Engkau (Muhammad) (di jalan yang benar), sebagaimana telah diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang bertaubat bersamamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sungguh, Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan”

(6)

vi

PERSEMBAHAN

Skripsi ini kupersembahkan untuk:

1. Ayahanda dan Ibunda tercinta (Ayahanda Suparjan dan Bunda Siti Solikhah) yang telah mengorbankan apa saja dan telah mengajarkan arti kehormatan, cinta, dan kasih sayang sehingga aku berbakti kepadanya

2. Kakak-kakakku, Mas Fatih Khoirul Najich, Mbak Nur Faridah Aziizah, Mas Mutho’alimin, Mbak Anis Zuliana yang senantiasa mendo’akanku.

3. Untuk keponakan-keponakanku tercinta, Almas Muluhatul Arofah El Faza, Mumtaz Syafa’at An Najah, Alyana Najla Alexandra, Muhammad Alian

Agam Athaya yang selalu memberikan senyuman manisnya untukku.

4. Ku haturkan untuk seluruh keluarga besar ku yang senantiasa memberikan dukungan serta do’a yang tiada putusnya.

(7)

vii

KATA PENGANTAR

الله الرحمن الرحيم مسب

ءايبنلاا نتاخ يلع ملاسلاو ةلاصلاو ،،باتكلا هدبع يلع لزنا ىذلا لله دوحلا

نيلسرولا

,

نيدلا موي يلا وتعيرشب نينهؤولاو وبحصو ولا يلعو

Alhamdulillahi robbil’alamin segala puji dan syukur penulis panjatkan

kehadirat Allah SWT yang senantiasa melimpahkan taufiq, hidayah dan inayah, serta ridho-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan lancar, sholawat serta salam semoga selalu terlimpahkan atas junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW.

Berkat ketekunan dan dorongan dari berbagai pihak, maka penyusunan skripsi yang berjudul “PERAN GURU BIMBINGAN KONSELING DALAM MENGATASI MASALAH KEDISIPLINAN SISWA DI SMP MUHAMMADIYAH 05 WONOSEGORO KABUPATEN BOYOLALI” dapat terselesaikan.

Untuk itu penulis mengucapkan terima kasih yang tulus kepada berbagai pihak yang telah membantu, terutama kepada:

1. Dr. Rahmat Hariyadi, M.Pd., selaku Rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Salatiga.

2. Suwardi, M.Pd., selaku Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Salatiga.

(8)

viii

4. Dra. Sri Suparwi, M.A., selaku pembimbing yang dengan ikhlas meluangkan waktu, tenaga, serta pikitan, berkenan memberikan bimbingan dan pengarahan kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

5. Segenap civitas akademika IAIN Salatiga yang telah banyak membantu penulis.

6. Segenap Guru dan Karyawan SMP Muhammadiyah 05 Wonosegoro yang telah banyak membantu dengan sabar secara sungguh-sungguh, sehingga penulis mendapatkan data-data yang diperlukan.

7. Kedua orang tua yang senantiasa memberikan do’a dan motivasi demi kelancaran penyelesaian skripsi ini.

8. Segenap sahabat dan rekan-rekan mahasiswa yang secara langsung maupun tidak langsung telah banyak memberikan bantuannya.

Penulis menyadari bahwa hasil penyusunan skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan, untuk itu harapan penulis kritik dan saran yang membangun dari pembaca. Akhirnya semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua. Amin.

Salatiga, 05 September 2016 Penulis

(9)

ix ABSTRAK

Istikomah, Nurul.2016.“Peran Guru Bimbingan Konseling dalam Mengatasi Masalah Kedisiplinan Siswa di SMP Muhammadiyah 05 Wonosegoro Kabupaten Boyolali” Skripsi. Jurusan Pendidikan Agama Islam. Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan. Institut Agama Islam Negeri Salatiga. Pembimbing: Dra. Sri Suparwi, M.A.

Kata kunci: Peran Guru BK Mengatasi Masalah, Kedisiplinan Siswa

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Peran Guru Bimbingan Konseling dalam Mengatasi Masalah Kedisiplinan Siswa di SMP Muhammadiyah 05 Wonosegoro. Pertanyaan yang ingin dijawab melalui penelitian ini adalah: 1) Bagaimana kondisi kedisiplinan siswa di SMP Muhammadiyah 05 Wonosegoro, 2) Bagaimana Peran Guru Bimbingan Konseling dalam Mengatasi Masalah Kedisiplinan Siswa di SMP Muhammadiyah 05 Wonosegoro, 3) Bagaimana Faktor Pendukung dan Penghambat Peran Guru Bimbingan Konseling dalam Mengatasi Masalah Kedisiplinan Siswa di SMP Muhammadiyah 05 Wonosegoro. Penelitian ini menggunakan pendekatan lapangan (field research) dengan metode kualitatif. Teknik pengumpulan data adalah wawancara, dan dokumentasi. Subyek penelitian adalah guru Bimbingan Konseling dan siswa SMP Muhammadiyah 05 Wonosegoro.

(10)

x DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

NOTA PEMBIMBING ... ii

KEASLIAN TULISAN ... iii

PENGESAHAN ... iv

MOTTO ... v

PERSEMBAHAN ... vi

KATA PENGANTAR ... vii

ABSTRAKSI ... ix

DAFTAR ISI ... x

DAFTAR LABEL ... xii

BAB I PENDAHULUAN A.Latar belakang masalah ... 1

B. Rumusan masalah ... 6

C.Tujuan penelitian ... 6

D.Manfaat penelitan ... 7

E. Definisi operasional ... 7

F. Metode penelitian ... 9

G.Sistematika penulisan ... 13

BAB II KAJIAN PUSTAKA A.Bimbingan dan konseling ... 15

1. Pengertian guru bimbingan konseling ... 15

2. Pentingnya Bimbingan dan Konseling di Sekolah ... 16

3. Tujuan Bimbingan dan Konseling di Sekolah ... 18

(11)

xi

B. Kedisiplinan siswa ... 23 1. Pengertian kedisiplinan ... 23 2. Faktor yang mempengaruhi kedisiplinan ... 26 3. Peran guru bimbingan konseling dalam mengatasi masalah kedisipilinan

siswa... 30 BAB III LAPORAN HASIL PENELITIAN

A.Keadaaan umum SMP Muhammadiyah 05 Wonosegoro ... 32 B. Paparan data ... 42 BAB IV ANALISIS DATA

A.Analisis kondisi kedisiplinan siswa Muhammadiyah 05 Wonosegoro... 48 B. Analisis peran guru Bimbingan Konseling dalam mengatasi masalah

kedisiplinan siswa di SMP Muhammadiyah Wonosegoro... 49 C.Analisis Faktor Pendukung dan Penghambat Peran guru Bimbingan Konseling

dalam menangani kedisiplinan siswa di SMP Muhammadiyah 05 Wonosegoro ... 54 BAB V PENUTUP

A.Kesimpulan ... 61 B. Saran-saran ... 62 DAFTAR PUSTAKA

(12)

xii

DAFTAR TABEL

Tabel I Profil Sekolah ... 32 Tabel II Sarana dan Prasarana... 36 Tabel III Data Siswa SMP Muhammadiyah 05 Wonosegoro Tiga Tahun

Terakhir... 37 Tabel IV Data Tenaga Pendidik dan Tata Usaha... 37 Tabel V Daftar Tenaga Pengajar SMP Muhammadiyah 05 Wonosegoro... 38 Tabel VI Daftar Jenis Kegiatan Pengembangan Diri SMP Muhammadiyah 05

(13)

1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

Melihat fenomena saat ini, dunia pendidikan dihadapkan dengan berbagai macam tantangan dan permasalahan. Diantara permasalahannya adalah timbulnya berbagai bentuk kenakalan remaja.

Bentuk kenakalan remaja itu sendiri ada berbagai macam, seperti sering terlambat/tidak disiplin, tidak mengikuti upacara bendera, tidak mengikuti kegiatan belajar mengajar (KBM), tidak menggunakan atribut dengan lengkap, sering membolos sekolah, menggunakan topi dan jaket di lingkungan sekolah, sepatu berwarna-warni, seragam tidak dimasukkan, tidak mamakai ikat pinggang, pulang pada jam pelajaran, rambut gondrong/dicat, dan lain sebagainya.

Masa remaja sangat potensial untuk berkembang ke arah positif maupun negatif. Karena bagaimanapun remaja dipandang dan dari segi apapun remaja dinilai, remaja merupakan suatu proses peralihan dari anak menjelang remaja (Daradjat, 1975:11).

(14)

2

Masa remaja ini disebut sebagai masa penghubung atau masa peralihan antara masa kanak-kanak dengan masa dewasa. Pada periode tersebut terjadi peubahan-perubahan besar mengenai kematangan fungsi-fungsi rohani dan jasmani. Terutama fungsi-fungsi seksuil, yang sangat menonjol pada periode ini ialah: kesadaran yang mendalam mengenai diri sendiri, dengan mana orang muda mulai meyakini kemauan, potensi dan cita-cita sendiri. Dengan kesadaran tersebut ia berusaha menemukan jalan hidupnya, dan mulai mencari nilai-nilai tertentu seperti kebaikan, keluhuran, kebijaksanaan, keindahan, dan sebagainya (Kartono, 1986:149)

Oleh karena itu edukatif dalam bentuk pendidikan dan bimbingan, pengarahan, maupun pendampingan sangat diperlukan, untuk mengarahkan perkembangan potensi remaja tersebut agar berkembang ke arah positif dan produktif. Generasi muda memang merupakan penentu generasi di masa mendatang. Bisa dibilang bahwa corak perkembangan umat Islam dan kemampuannya berkiprah dalam pembangunan di masa mendatang amat bergantung dari kualitas generasi muda sekarang (Rahman, 1991: 254)

(15)

3

petuah-petuah yang bijak untuk menjadikan peserta didik ini siswa yang lebih baik dari hari sebelumnya, selain itu mampu melaksanakan tugasnya sebagai makhluk sosial dan sebagai makhluk individual dan mandiri.

Seorang guru bimbingan konseling atau istilah modernnya seorang konselor harus mampu mengetahui kecakapan metode pendekatan yang harus digunakan untuk mengatasi masalah siswanya. Seorang konselor harus memiliki kehalusan perasaan serta ia harus mempunyai perhatian khusus dalam spesialisasi. Sebagai konselor yang baik, ia harus selalu menyesuaikan diri dengan tingkat perkembangan situasi konseli (siswa) dalam proses konseling.

Guru berperan juga sebagai orang tua di sekolah, di pundaknya terpikul tanggung jawab utama keefektifan seluruh usaha pendidikan. Maka guru memikul beban dari orang tua untuk mendidik anak-anak. Dalam hal ini selain sebagai pendidik di dalam kelas guru juga harus membantu peran orang tua untuk menjadikan putra-putri mereka menjadi orang yang berkembang ke arah positif, dan mematuhi berbagai norma-norma yang ada di sekolah maupun norma-norma sosial.

(16)

4

Fenomena kenakalan remaja akhir-akhir ini menjadikan tugas seorang guru menjadi lebih berat. Dikarenakan tugas guru tidak hanya saja menjadikan para peserta didiknya bagus dalam nilai akademik melainkan juga nilai sosial dan spiritual. Hal ini dapat terlaksana jika diimbangi pula dengan kegigihan guru dalam memberikan penanganan-penanganan terhadap siswa yang memiliki sikap kurang menghargai nilai-nilai tersebut.

Untuk menjadikan para peserta didik menjadi pribadi yang santun terhindar dari beberapa penyimpangan yang mungkin terjadi di lingkungan sekolah maka pendidikan norma sangatlah penting, maka di sinilah peran guru bimbingan konseling menjadi pusat pendidikan yang diharapkan dapat memberikan stimulan-stimulan yang menjadikan para peserta didik menuju pribadi yang lebih baik.

(17)

5

Maka dari itu seorang guru bimbingan konseling harus mampu memberikan dan menanamkan nilai-nilai spiritual dan sosial kepada para anak didiknya supaya dalam pengembangan keilmuannya tidak disertai dengan kecurangan atau penyimpangan yang mungkin terjadi.

SMP Muhammadiyah 05 Wonosegoro adalah salah satu lembaga pendidikan formal yang bernaung di bawah Departemen Pendidikan Nasional, yang juga ikut mencetak generasi-generasi baru penerus bangsa ke arah yang lebih baik. Lembaga yang masih terbilang muda ini, tentunya belum mempunyai andil yang sangat besar dalam kancah pendidikan nasional, akan tetapi dengan tekad dan optimisme yang tinggi, sekolah ini mencoba untuk membentuk serta menorehkan tinta yang baik dengan prestasi. Beberapa siswa dalam sekolah ini adalah siswa yang mendapat nilai bagus dalam pelajaran masing-masing, mempunyai pendapat atau pandangan tertentu mengenai sosok gurunya.

(18)

6

“PERAN GURU BIMBINGAN KONSELING DALAM

MENGATASI MASALAH KEDISIPLINAN SISWA DI SMP MUHAMMADIYAH 05 WONOSEGORO KABUPATEN

BOYOLALI”

B. Rumusan Masalah

Berangkat dari latar belakang masalah di atas, maka perlu kiranya masalah yang luas ini difokuskan agar dalam pelaksanaan penelitian nanti, masalah atau segala sesuatu yang perlu dan ingin diketahui menjadi jelas. Adapun rumusan masalahnya adalah sebagi berikut:

1. Bagaimana kondisi kedisiplinan siswa di SMP Muhammadiyah 05Wonosegoro Kabupaten Boyolali?

2. Bagaimana peran guru BK dalam mengatasi kedisiplinan siswa di SMP Muhammadiyah 05 Wonosegoro Kabupaten Boyolali?

3. Apa saja faktor pendukung dan penghambat peran guru BK dalam mengatasi kedisiplinan siswa di SMP Muhammadiyah 05 Wonosegoro Kabupaten Boyolali?

C. Tujuan Penelitian

1. Untuk mendeskripsikan kondisi kedisiplinan siswa di SMP Muhammadiyah Wonosegoro 05 Kabupaten Boyolali.

(19)

7

3. Untuk mendeskripsikan faktor pendukung dan penghambat peran guru BK dalam mengatasi kedisiplinan siswa di SMP Muhammadiyah 05 Wonosegoro Kabupaten Boyolali.

D. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan memiliki manfaat baik secara teoretis maupun secara praktis:

1. Secara teoretis

Secara teoretis diharapkan dapat memberi sumbangan bagi pengembangan pendidikan Islam pada umumnya, khususnya dapat memperkaya khasanah dunia pendidikan Islam yang diperoleh dari penelitan lapangan. Serta temuan penelitian ini diharapkan dapat dijadikan dasar dalam pengembangan pengetahuan dan teori pembelajaran.

2. Secara praktis

a. Bagi penulis, dapat mengetahui cara yang tepat untuk mengatasi kedisiplinan siswa di sekolah.

b. Bagi guru, manfaat penelitian ini adalah untuk menjadi acuan bagi guru untuk lebih dapat mengembangkan bimbingan dan konseling untuk mengatasi masalah kedisiplinan siswa.

E. Definisi Operasional

(20)

8 1. Guru Bimbingan Konseling

Guru dalam bahasa jawa adalah penunjuk bagi seseorang yang harus digugu lan ditiru oleh semua murid dan bahkan masyarakatnya. Harus digugu artinya segala sesuatu yang disampaikan olehnya senantiasa dipercaya dan diyakini sebagai kebenaran oleh semua murid. Seorang guru ditiru artinya seorang guru harus menjadi suri tauladan (panutan) bagi semua muridnya (Roqib dan Nurfuadi, 2009:20)

Bimbingan adalah suatu istilah yang luas dan biasanya dipakai dalam program umum sekolah. Pelayanannya ditujukan demi membantu para murid untuk menyusun dan melaksanakan rencananya dan mencapai penyesuaian yang memuaskan dalam kehidupannya. Konseling biasanya dilihat sebagai bagian dari program pelayanan bimbingan yang ditujukan kepada murid yang mempunyai masalah pribadi dan mereka tidak mampu memecahkannya sendiri (Gunawan, 2001:58)

Konseling adalah proses belajar melalui hubungan khusus secara bersemuka (face-to-face) dalam wawancara antara konselor dan konseli. Dengan tujuan agar klien dapat mengenal diri sendiri, menerima diri sendiri secara realistis dalam proses penyesuaian dengan lingkungan (Gunawan, 2001:116)

(21)

9

menyelesaikan masalah, dengan tujuan siswa dapat mengenali diri sendiri.

2. Kedisiplinan Siswa

Kedisiplinan dalam kamus besar bahasa indonesia online, berasal dari kata disiplin yang artinya ketaatan (kepatuhan) kepada peraturan, tata tertib dan sebagainya (http://kbbi.web.id/disiplin) diakses pada hari selasa 24 Mei 2016. Sedangkan siswa adalah peserta didik yang merupakan subjek pendidikan.

Jadi kedisiplinan siswa adalah segala peraturan, tata tertib yang harus dipatuhi oleh peserta didik sebagi subjek pendidikan.

F. Metode Penelitian

Untuk mempermudah penelitian dalam pengumpulan data dan analisis data maka penulis menggunakan metode dan pendekatan sebagai berikut:

1. Pendekatan dan jenis penelitian

Jika ditinjau dari rujukan primernya, maka penelitian ini adalah penelitian lapangan (field research) yang bermaksud untuk mengetahui data responden secara langsung dari lapangan, yakni suatu penelitian yang bertujuan studi mengenai suatu kegiatan bimbingan konseling dengan sedemikian rupa sehingga menghasilkan gambaran yang terorganisir dengan baik mengenai kegiatan tersebut.

(22)

10

situasi secara rinci dan akurat mengenai peran guru BK dalam mengatasi masalah kedisiplinan siswa, kegiatan yang dilakukan, serta faktor pemdukung dan penghambat pelaksanaan kegiatan tersebut.

Penelitian kualitatif menurut Moloeng (2009:6) adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan, dan persoalan tentang manusia yang diteliti. Dengan cara mendeskripsikan data yang berupa kata-kata lisan dan tulisan dari orang-orang yang diwawancarai.

2. Kehadiran peneliti

Kehadiran peneliti dalam penelitian ini bertindak sebagai instrumen sekaligus pengumpulan data. Hal ini dimaksudkan untuk mempertegas peran peneliti sebagai instrumen aktif dalam rangka pengumpulan data-data yang ada di lapangan.

3. Lokasi penelitian

Lokasi penelitian ini bertempat di SMP Muhammadiyah 05 Wonosegoro Kabupaten Boyolali.

4. Sumber data

a. Sumber data primer

(23)

11

secara langsung dari orang-orang yang dipandang mengetahui masalah yang akan dikaji dan bersedia memberi data yang diperlukan. Pada penelitian ini yang menjadi sumber data primer adalah guru bimbingan konseling SMP Muhammadiyah 05 Wonosegoro.

b. Sumber data sekunder

Sumber data sekunder adalah data yang mengandung dan melengkapi sumber-sumber data primer. Adapun sumber data sekunder dalam penelitian ini adalah dokumen-dokumen yang memperkuat hasil temuan dan melengkapi informasi yang telah dikumpulkan melalui wawancara sebelumnya.

5. Teknik pengumpulan data

Untuk memperoleh data akurat serta memperhatikan relevansi data dengan tujuan yang dimaksud, maka dalam pengumpulan data menggunakan beberapa teknik, yaitu:

a. Wawancara

(24)

12

dan faktor pendukung serta penghambat guru BK dalam mengatasi kedisiplinan siswa.

b. Dokumentasi

Dokumentasi berasal dari kata document, yang artinya barang-barang tertulis. Di dalam melaksanakan dokumentasi, penulis meneliti benda-benda tertulis. Seperti buku-buku, dukumentasi, majalah, dan sebagainya (Arikunto, 2006:101), yang berada di sekolahan atau lingkungan sekolah sebagai pelengkap data. Dokumentasi yang penulis gunakan adalah rekaman hasil wawancara. Rekaman wawancara digunakan untuk menelaah lebih detail informasi-informasi yang disampaikan oleh narasumber. 6. Analisis data

Analisis data disebut juga pengolahan data dan penafsiran data. Analisi data adalah rangkaian penelaahan, pengelompokan, sistemasi, penafsiran dan verifikasi data agar sebuah fenomena memiliki nilai sosial, akademis, dan ilmiah.

7. Pengecekan keabsahan data

(25)

13

yang lain di luar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu.

Adapun dalam penelitian ini peneliti melakukan pengecekan yaitu dengan membandingkan data hasil wawancara guru Bimbingan Konseling dengan wawancara kepada objek dari peran dalam mengatasi masalah kesiplinan siawa yang dilakukan oleh guru.

G. Sistematika Penulisan

Untuk memperoleh gambaran yang jelas dari penelitian skripsi maka penulis membuat sistematika penulisan sebagai berikut:

BAB I : PENDAHULUAN

Berisi tentang latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, definisi operasional, manfaat penelitian, metode penelitian, sistematika penulisan. BAB II : KAJIAN PUSTAKA

Berisi tentang konsep bimbingan konseling, karakteristik anak usia SMP, pengertian kesiplinan siswa, hal-hal yang mempengaruhi kedisiplinan.

BAB III : PAPARAN DATA DAN TEMUAN PENELITIAN

(26)

14

kedisiplinan siswa SMP Muhammadiyah 05 Wonosegoro tahun 2016, peran guru BK dalam mengatasi masalah kedisiplinan siswa SMP Muhammadiyah 05 Wonosegoro tahun 2016, dan faktor pendukung serta penghambat. BAB IV : PEMBAHASAN

Berisi tentang penganalisisan data yang diperoleh mengenai: kondisi kedisiplinan siswa, peran guru BK dalam mengatasi masalah kedisiplinan siswa di sekolah yang menjadi tempat penelitian serta menganalisis faktor-faktor yang mendukung dan menghambatnya.

BAB V : PENUTUP

(27)

15 BAB II

KAJIAN PUSTAKA A. Bimbingan dan Konseling

1. Pengertian Guru Bimbingan Konseling

Guru dalam bahasa jawa adalah penunjuk bagi seseorang yang harus digugu lan ditiru oleh semua murid dan bahkan masyarakatnya. Harus digugu artinya segala sesuatu yang disampaikan olehnya senantiasa dipercaya dan diyakini sebagai kebenaran oleh semua murid. Seorang guru ditiru artinya seorang guru harus menjadi suri tauladan (panutan) bagi semua muridnya (Roqib dan Nurfuadi, 2009:20)

Bimbingan adalah suatu istilah yang luas dan biasanya dipakai dalam program umum sekolah. Pelayanannya ditujukan demi membantu para murid untuk menyusun dan melaksanakan rencananya dan mencapai penyesuaian yang memuaskan dalam kehidupannya. Konseling biasanya dilihat sebagai bagian dari program pelayanan bimbingan yang ditujukan kepada murid yang mempunyai masalah pribadi dan mereka tidak mampu memecahkannya sendiri (Gunawan, 2001:58)

(28)

16

menerima diri sendiri secara realistis dalam proses penyesuaian dengan lingkungan (Gunawan, 2001:116)

Konseling adalah hubungan tatap muka yang bersifat rahasia, penuh dengan sikap penerimaan dan pemberian kesempatan dari konselor kepada klien. Pendapat lain mengatakan bahwa konseling adalah upaya membantu individu melalui proses interaksi yang bersifat pribadi antara konselor dan konseli agar konseli mampu memahami diri dan lingkungannya, mampu membuat keputusan dan menentukan tujuan berdasarkan nilai yang diyakininya sehingga konseli merasa bahagia dan efektif perilakunya (Nurihsan, 2007:20)

Jadi guru bimbingan konseling adalah sesorang yang harus dipercaya dan dijadikan suri tauladan serta dipatuhi siswa dalam menyelesaikan masalah, dengan tujuan siswa dapat mengenali diri sendiri.

2. Pentingnya Bimbingan dan Konseling di Sekolah

(29)

17

ketika mereka membutuhkan pertolongan semacam itu ketika kebiasaan-kebiasaan, sikap, dan cita-cita sedang tumbuh dan berkembang serta sedang banyak mengalami perubahan dalam diri pribadinya, seperti dalam masa remaja.

Bimbingan pada masa remaja ini akan mengurangi kebutuhan bimbingan pada masa yang akan datang. Pertanyaan yang sering timbul pada masa ini adalah: mengapa anak sekolah menengah perlu mendapatkan bimbingan? Jawabannnya adalah karena sifat anak itu sendiri. Lalu bagaimana sifat anak sekolah menengah? Sifat anak sekolah menengah itu antara lain:

a. Pada umumnya, murid-murid sekolah menengah berumur antara 12 dan 18 tahun. Masa ini merupakan masa remaja dan merupakan masa yang penuh perubahan dalam pertumbuhan dalam pertumbuhan fisik, mental, sosial, dan emosional.

b. Masa ini anak mengalami dan merasakan perasaan kebebasan pribadi dan keinginannya untuk bersatu dengan yang lain dalam berteman, walaupun kebutuhan ini sering tidak diakui.

c. Masa ini para remaja umumnya sulit membuka dirinya terhadap orang lain dan sukar mengetahui diri sendiri.

d. Mereka sukar mengakui bahwa mereka membutuhkan bimbingan, dan mereka menolak pertolongan dari orang dewasa.

(30)

18

guru, orang tua, dan penguasa lainnya. Adanya perubahan ini membuat tugas guru berat dan sulit, sebab mereka harus menyesuaikan diri dengan perbedaan-perbedaan minat dan sikap individual siswa.

Guru harus kerap memperhatikan adanya perbedaan-perbedaan ini, karena setiap anak akan menuju kedewasaaanya menurut sifat dan wataknya masing-masing. Patokan norma lebih cocok untuk orang dewasa dari pada untuk remaja. Perbedaan individual ini menuntut guru memberikan pertolongan individual dalam bentuk bimbingan (Gunawan, 2001: 190-191)

3. Tujuan Bimbingan dan Konseling di Sekolah

a. Tujuan bimbingan sekolah menengah menurut kurikulum 1975 Adapun tujuan bimbingan sekolah menengah menurut kurikulum 1975 adalah sebagai berikut:

1) Mengembangkan pemahaman dan pengertian dari dalam kemajuannya di sekolah;

2) Mengembangkan dunia kerja, kesempatan kerja, serta rasa tanggung jawab dalam memilih kesempatan kerja tertentu yang sesuai dengan tingkat pendidikan yang disyaratkan;

(31)

19

4) Mewujudkan penghargaan terhadap kepentingan dan harga diri orang lain. (Gunawan, 2001: 201)

b. Tujuan bimbingan dan penyuluhan di sekolah tidak terlepas dari tujuan dari pendidikan dan pengajaran pada khususnya dan pendidikan pada umumnya. Tujuan dari pendidikan dan pengajaran di Indonesia tercantum dalam undang-undang No. 12 tahun 1954 dalam Bab II pasal 3 yang berbunyi: “Tudjuan pendidikan dan

pengadjaran ialah membentuk manusia susila jang cakap dan warga negara jang demokratis serta bertanggung djawab tentang kesedjahteraan masyarakat dan tanah air.”

Dengan demikian maka tujuan dari bimbingan dan penyuluhan disekolah ialah membantu tercapainya tujuan pendidikan dan pengajaran dan membantu individu untuk mencapai kesejahtaraan (Walgito, 1995: 25)

4. Fungsi Bimbingan dan Konseling

Fungsi bimbingan dapat diartikan sebagai suatu kegiatan tertentu yang mendukung atau mempunyai arti terhadap tujuan bimbingan. Fungsi bimbingan sering diartikan sebagai sifat bimbingan. Adapun fungsi bimbingan adalah sebagi berikut:

(32)

20

menuntut secara mutlak pemahaman diri seorang anak secara keseluruhan. Tujuan bimbingan dan pendidikan dapat tercapai jika programnya didasarkan atas pemahaman diri anak didiknya. Bimbingan tidak dapat berfungsi efektif jika konselor kekurangan pengetahuan dan pengertian mengenai motif tingkah laku konseli, sehingga usaha preventif dan treatment tidak dapat berhasil. Seperti diagnosis mendahului terapi, maka mengerti dan memahami anak harus mendahului mengajar dan konseli. Karena itu program analisis individual merupakan program kunci dalam pelayanan bimbingan, di mana informasi mengenai anak dikumpulkan secara sistematis. Pengumpulan data dapat dilakukan oleh guru, konselor, atau tenaga ahli lain yang berwenang. Pemahaman anak sebagai diri dengan tugas-tugas perkembangan serta masalah-masalah pribadinya sangat diharapkan untuk keberhasilan bimbingan.

(33)

21

(34)

22

sehingga anak memiliki kesempatan untuk mengembangkan dirinya secara optimal.

c. Membantu individu untuk menyempurnakan cara-cara penyelesaiannya. Setiap manusia pada saat tertentu membutuhkan pertolongan dalam menghadapi situasi lingkungannya. Pertolongan yang dibutuhkan untuk setiap individu tidak sama. Perbedaan umumnya tertelak pada tingkatannya daripada macamnya. Fungsi preventif dan pengembangan memang ideal, tetapi hanya fungsi ini saja tidaklah cukup. Pada suatu saat kita membutuhkan tindakan korektif yang tujuannya tetap pada pengembangan kekuatannya sendiri untuk mengatasi masalahnya. Bimbingan dapat memberikan pertolongan pada anak untuk memberikan pertolongan pada anak untuk memecahkan problemnya sendiri. Melalui bimbingan, kemampuan ini dikembangkan dan diperkuat. Keterampilan psikolog, para konselor, pekerja sosial, psikiater semakin dibutuhkan di sekolah dan di klinik untuk memberikan konseling individual dan terapi, agar cara-cara penyesuaian individu terhadap lingkungnnya semakin berkembang (Gunawan, 2001:42-44)

(35)

23

1) Fungsi penyaluran, yang membantu siswa untuk memilih jurusan, lanjutan sekolah, atau memilih kegiatan-kegiatan kurikuler lainnya.

2) Fungsi adaptasi, yang memberikan bantuan kepada staf sekolah untuk mengadaptasikan pengajaran dengan kemampuan, minat, dan kebutuhan para siswa.

3) Fungsi penyesuaian, yang memberikan bantuan kepada siswa untuk memperoleh kemajuan dalam perkembangannya secara optimal.

Fungsi ini dilaksanakan dalam rangka membantu siswa untuk mengidentifikasi, mamahami, menghadapi, dan memecahkan masalah-masalahnya (Gunawan, 2001:45)

B. Kedisiplinan Siswa

1. Pengertian kedisiplinan

Kedisiplinan berasal dari kata disiplin dalam kamus besar bahasa indonesia online yang berarti ketaatan (kepatuhan) kepada peraturan tata tertib dan sebagainya (http://kbbi.web.id/disiplin) diakses pada hari selasa 24 Mei 2016. Sedangkan siswa adalah peserta didik yang merupakan subjek pendidikan. Adapun kedisiplinan siswa yang dimaksud penulis adalah ketaatan dan kepatuhan siswa terhadap tata tertib dan segala sesuatu yang berkaitan dengan kesiswaan.

(36)

24

lingkungan sekolah, kantor, rumah, atau dalam bepergian dan sebagainya. Disiplin suatu tata tertib yang dapat mengatur tatanan kehidupan pribadi dan kelompok. Tata tertib itu bukan buatan binatang, tetapi buatan manusia sebagai pembuat dan pelaku. Sedangkan disiplin timbul dari dalam jiwa karena adanya dorongan untuk menaati tata tertib tersebut. Dengan demikian dapat dipahami bahwa disiplin adalah tata tertib, yaitu ketaatan (kepatuhan) kepada peraturan tata tertib dan sebagainya. Berdisiplin berarti menaati (mematuhi) tata tertib (Djamarah, 2002:12).

Disiplin yang dikehendaki itu tidak hanya muncul karena kesadaran, tetapi juga karena paksaan. Disiplin yang muncul karena kesadaran disebabkan faktor seseorang dengan sadar bahwa hanya dengan disiplin akan didapatkan kesuksesan dalam segala hal. Dengan disiplin akan tercipta ketertiban dan kelancaran dalam segala urusan (Nata, 2010:249). Keteraturan dalam kehidupan, dapat menghilangkan kekecewaan orang lain, dan dengan disiplinlah orang lain mengaguminya.

(37)

25

raya selalu saja ada pelanggaran lalu lintas terhadap rambu-rambu lalu lintas, terutama bila tidak ada petugas di tempat. Maka disiplin yang terpaksa identik denngan ketakutan pada hukum. Sedangkan disiplin karena kesadaran menjadikan hukum sebagai alat yang menyenangkan di jiwa dan selalu siap sedia untuk menaatinya (Djamarah, 2002:13).

Untuk menegakkan disiplin tidak selamanya harus melibatkan orang lain, tetapi dengan melibatkan diri sendiripun juga bisa. Bahkan yang melibatkan diri sendirilah yang lebih penting, sebab penegakan disiplin karena melibatkan diri sendiri berarti disiplin yang timbul itu adalah karena kesadaran.

Dalam belajar disiplin sangat diperlukan. Disiplin dapat melahirkan semangat menghargai waktu, bukan menyia-nyiakan waktu berlalu dalam kehampaan. Budaya jam karet adalah musuh besar dari mereka yang mengagungkan disiplin dalam belajar. Mereka benci perbuatan menunda-nunda waktu. Setiap jam dan bahkan setiap detik sangat berarti bagi mereka yang menuntut ilmu di manapun dan kapanpun.

(38)

26

2. Faktor yang mempengaruhi kedisiplinan

Disiplin muncul dari kebiasaan hidup dan kehidupan belajar yang teratur serta mencintai dan menghargai pekerjaannya. Disiplin memerlukan proses pendidikan dan pelatihan yang memadai. Untuk itu, guru memerlukan pemahaman tentang landasan ilmu pendidikan dan keguruan, sebab dewasa ini terjadi erosi sopan santun dan erosi disiplin dalam melaksanakan proses pendidikan, baik yang dilakukan oleh peserta didik maupun oleh para pendidik. Mengapa terjadi erosi disiplin dalam proses pendidikan di negara kita? Menurut Cece Wijaya dan A Tabrani Rusyan, ada beberapa faktor yang mempengaruhinya, dan diantaranya adalah sebagai berikut:

a. Masyarakat di negara kita pada umumnya sudah berpandangan lebih maju untuk meningkatkan kehidupan sosial-ekonomi, artinya tuntutan kebutuhan hidup lebih mendesak sehingga bagaimanapun caranya, bagaimanapun jalannya, banyak ditempuh untuk menutupi tuntutan hidup tersebut.

(39)

27

c. Pola dan sistem pendidikan yang sering berubah sehingga membingungkan peserta didik dan para pendidik untuk melaksanakan proses pendidikan tersebut sehingga tidak berjalan sebagaimana mestinya.

d. Motivasi belajar para peserta didik dan para pendidik menurun, dengan alasan bahwa mereka beranggapan tanpa belajar dengan baik, tanpa disiplin yang tinggi, dan tanpa mengikuti berbagai kegiatanpun mereka pasti lulus atau naik kelas.

e. Longgarnya peraturan yang ada, terutama untuk sekolah-sekolah di kota-kota besar (Wijaya dan Ruslan, 1991:17-18)

Banyak lagi faktor yang lain yang menunjang erosi disiplin dalam proses pendidikan sehingga apabila kita melihat faktor-faktor tersebut dengan makna dan upaya pendidikan kita akan bertanya: mengapa hal itu bisa terjadi? Salahkah sistem pendidikan kita baik secara filosofis, konseptual, sistematis, sistemik, ataupun teknis?

(40)

28

sekalipun isi dan tujuannya baik. Kemudian para peserta didik pada umumnya menganggap bahwa belajar itu hanya untuk memperoleh, ijazah atau hanya untuk meningkatkan gengsi.

Sehubungan dengan terjadinya erosi disiplin dalam pendidikan mengakibatkan rendahnya mutu pendidikan, maka timbul pula pertanyaan lain, yaitu: mengapa bisa terjadi erosi disiplin? Jawabannya adalah: kepatuhan, ketaatan, dan kesetiaan bangsa Indonesia untuk melaksanakan proses pendidikan kurang efektif.

Disiplin adalah sesuatu yang terletak di dalam hati dan di dalam jiwa seseorang, yang memberikan dorongan bagi orang bersangkutan untuk melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu sebagaimana yang ditetapkan oleh norma dan peraturan yang berlaku. Dalam pendidikan umumnya yang dimaksudkn dengan disiplin ialah keadaan tenang atau keteraturan sikap atau keteraturan tindakan. Disiplin merupakan salah satu alat untuk mencapai tujuan pendidikan.

(41)

29

Beberapa indikator yang dapat dikemukakan agar disiplin dapat dibina dan dilaksanakan dalam proses pendidikan sehingga mutu pendidikan dapat ditingkatkan adalah sebagi berikut:

a. Melaksanakan tata tertib dengan baik, baik dari guru maupun dari siswa, karena tata tertib yang berlaku merupakan aturan dan ketentuan yang harus ditaati oleh siapapun demi kelancaran proses pendidikan. Adapun aturan-aturan tersebut adalah:

1) Patuh terhadap aturan sekolah atau lembaga pendidikan;

2) Mengindahkan petunjuk-petunjuk yang berlaku di sekolah atau lembaga pendidikan tertentu. Contohnya menggunakan kurikulum yang berlaku untuk membuat satuan pelajaran; 3) Tidak membangkang pada peraturan yang berlaku, baik bagi

pendidik ataupun peserta didik, contohnya membuat satpel bagi guru dan mengerjakan PR bagi peserta didik;

4) Tidak suka membohong;

5) Tingkah laku yang menyenangkan; 6) Rajin dalam belajar-mengajar;

7) Tidak suka malas dalam belajar-mengajar;

8) Tidak menyuruh orang untuk bekerja demi dirinya; 9) Tepat waktu dalam belajar-mengajar;

(42)

30

1) Memerima, menganalisis, dan mengkaji berbagai pembaruan pendidikan;

2) Berusaha menyesuaikan diri dengan situasi dan kondisi pendidikan yang ada;

3) Tidak membuat keributan di dalam kelas;

4) Mengerjakan tugas sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan; 5) Membantu kelancaran proses belajar-mengajar.

c. Menguasai diri dan instropeksi. Dengan melaksanakan indikator-indikator yang dikemukakan di atas sudah barang tentu disiplin dalam proses pendidikan dapat terlaksana dan mutu pendidikan dapat ditingkatkan (Wijaya dan Ruslan, 1991:18-19)

C. Peran Guru Bimbingan Konseling dalam Mengatasi Masalah Kedisipilinan Siswa

Guru Bimbingan Konseling selama ini dianggap sebagai sosok yang dapat mengatasi masalah-masalah pribadi yang dialami oleh para siswa, di mana guru BK sangat berperan untuk memberikan solusi yang tepat kepada para siswa. Masalah yang dihadapi oleh guru BK biasanya berkisar pada masalah pendidikan terutama pada masalah kedisiplinan siswa yang menjadi problem yang sangat utama yang harus segera diatasi.

(43)

31

keterlambatan masuk sekolah. Hal ini biasanya diserahkan kepada guru Bimbingan Konseling di sekolah.

Seperti halnya fungsi bimbingan konseling yakni membantu individu untuk menghadapi situasi lingkungannya (Gunawan, 2001:44). Karena di sini tugas konselor adalah menjadi mitra klien sebagai tempat penyaluran perasaan atau sebagai pedoman dikala bingung atau pemberi semangat dikala patah semangat dengan tujuan mengutuhkan kembali pribadinya yang tergoncang (Sarwono, 1997:226)

Hal tersebut menggambarkan bahwa guru Bimbingan Konseling berperan dalam proses pendidikan kedisiplinan untuk anak di sekolah, sehingga tugas yang dibebankan kepadanya sangatlah penting demi kebelangsungan siswa disekolah. Karena kedisiplinan di sekolah merupakan modal utama bagi siswa di luar sekolah. Sebagai siswa disiplin merupakan hal utama yang harus dimiliki dalam proses belajar mengajar. Dengan berdisiplin siswa akan dengan mudah menggapai aspek-aspek di sekolah. Maka peran guru Bimbingan Konseling sangatlah diperlukan.

(44)

32 BAB III

LAPORAN HASIL PENELITIAN A. Kondisi Umum SMP Muhammadiyah 05 Wonosegoro

1. Sejarah berdiri SMP Muhammadiyah 05 Wonosegoro

Pada awalnya sekolah yang terletak di desa Ketoyan kecamatan Wonosegoro ini adalah sekolah menengah pertama Islam (SMPI) yang berdiri sekitar tahun 1963 dan berubah menjadi PGAP pada tahun 1966. Dalam perkembangannya lembaga ini berubah kembali menjadi PGA di tahun 1972 dan sejajar dengan Madrasah Aliyah.

Karena PGA hanya ada di tingkat kabupaten saja, maka pada tanggal 1 januari 1977 beralih nama kembali menjadi SMP Muhammadiyah 05 Wonosegoro sampai sekarang.

2. Profil Sekolah

Tabel I Profil Sekolah

Nama Sekolah SMP Muhammadiyah 05 Wonosegoro Alamat Desa/ Kelurahan

Kabupaten No. Telp/HP

Ketoyan/ Kecamatan Wonosegoro Boyolali

081567635588 Nama Kepala Sekolah Fauzani, S.Pd

Nama Yayasan Muhammadiyah

(45)

33

NSS/DNS 202030918047/20308532

Jenjang Akreditasi Terakreditasi B SK Akreditasi No.13430 Tahun Didirikan 1977 Tahun Beroperasi 1977

Kepemilikan Tanah Yayasan Muhammadiyah

Status Tanah Hibah

Luas Tanah 4077 m²

Status Bangunan Yayasan Surat Ijin Bangunan

Luas Seluruh Bangunan 594 m² Nomor Rekening Rutin

Sekolah

01301-00 1945-53-5, Nama Bank BRI Cabang Boyolali

3. VISI dan MISI a. VISI

“TERBENTUKNYA MANUSIA YANG BERKUALITAS,

BERIMAN, BERTAQWA, SERTA TERAMPIL”

Visi SMP Muhammadiyah 05 Wonosegoro ini dijadikan sebagai sumber motivasi bagi warga sekolah dalam menunaikan tugas dan kewajibannya.

Adapun Indikator dari Visi di atas adalah sebagi berikut:

(46)

34

2) Beriman yaitu meyakini keberadaan Tuhan sebagai Yang Maha Kuasa dan Sang Maha Pencipta yang mempunyai kekuasaan mutlak terhadap kehidupan ini.

3) Bertaqwa dalam pengertian semua warga sekolah senantiasa berusaha untuk menjalankan perintah Allah SWT dan menjauhi segala larangannya.

4) Terampil dalam pengertian bahwa para peserta didik SMP Muhammadiyah 05 Wonosegoro selain menerima bekal ilmu pengetahuan juga mempunyai keterampilan dan kecakapan hidup.

b. MISI

1) Mewujudkan pendidikan yang menghasilkan lulusan yang beriman, berprestasi akademik, non akademik, serta berbudi luhur.

2) Mewujudkan kurikulum yang berkualitas, yaitu holistik, sesuai dengan potensi dan kebutuhan, siswa dalam konteks sekolah. 3) Mewujudkan proses pembelajaran yang dinamis, kreatif,

inovatif, dan menyenangkan dengan menggunakan pendekatan CTL.

(47)

35

5) Mewujudkan sumber daya manusia pendidik dan tenaga kependidikan yang profesional, bertanggung jawab, dan berdedikasi tinggi.

6) Mewujudkan pengelolaan sekolahan berdasarkan konsep manajemen berbasis sekolah.

7) Mewujudkan pembiayaan pendidikan yang memadai dengan memberdayakan semua yang terkait.

8) Mewujudkan sistem penilaian yang menyeluruh, otentik, obyektif, dan berkelanjutan yang mampu mengukur kompetensi siswa secara utuh.

4. Lokasi SMP Muhammadiyah 05 Wonosegoro

SMP Muhammadiyah 05 Wonosegoro terletak di daerah pemukiman, tepatnya Desa Ketoyan, Kecamatan Wonosegoro, Kabupaten Boyolali. Karena letaknya tidak terlalu dekat dengan jalan raya, kira-kira 500m dari jalan raya Karang Gede-Juwangi maka menjadikan suasana pembelajaran yang nyaman.

5. Sarana Prasarana

(48)

36 Tabel II Sarana dan Prasarana

Ruang Jumlah Luas (m²)

Teori/ kelas 5 615

Lab. Multimedia 1 56

Lab. IPA 1 150

Perpustakaan 1 -

Keterampilan - -

Kepala Sekolah 1 -

Guru 1 -

Tata Usaha 1 -

BK - -

OSIS 1 -

UKS 1 -

Gudang 1 -

Kantin 1 -

WC Siswa 6 -

WC Guru 2 -

Mushola 1 -

Aula 1 -

6. Data Siswa

(49)

37

Tabel III

Data Siswa SMP Muhammadiyah 05 Wonosegoro Tiga Tahun Terakhir

Tahun Pelajaran

Jumlah Pendaftar/ Calon Siswa

Baru

Jumlah Siswa

Kelas I Kelas II Kelas III Jumlah

2013/2014 69 69 42 52 163

2014/2015 27 27 46 44 117

2015/2016 30 30 29 44 103

7. Keadaan Tenaga Pendidik dan Tata Usaha Tabel IV

Data Tenaga Pendidik dan Tata Usaha

Tenaga Pendidik dan TU Jumlah

Tenaga Pendidik/ Guru 15 orang

Pustakawan 1 orang

Laborat -

(50)

38

Tabel V

Data Tenaga Pengajar SMP Muhammadiyah 05 Wonosegoro

No Nama Mangajar Mapel

1 Fauzani, S.Pd PKN

2 Sukiman, S.Pd Matematika

3 Amin, S.Ag Bhs. Indonesia

Akidah Akhlak

4 Zaenul Hadi, S.Pd Bhs. Indonesia Kesenian

5 Eni Winarsih, S.Pd IPA

6 Nurul Hidayati, S.Pd.I Bhs. Inggris Akidah Akhlak

7 Oktari Titis S Bhs. Inggris

8 Maulida Soffiana, S.Pd. IPA 9 Ikwan Yani Saputra, S.Pd. Olahraga 10 Muh Pujianto, S.Kom TIK

11 Muhammad Arifin, S.Pd Bhs. Indonesia Bhs. Jawa 12 Ridwan Prihantoro, M.Pd Matematika

13 Anita Wiyana IPS

14 Slamet, S.Ag IPS

Agama

15 Rofiqoh, S.Pd BP

(51)

39

8. Struktur Organisasi SMP Muhammadiyah 05 Wonosegoro

Dalam melaksanakan tugas agar bisa berjalan dengan baik, maka dibutuhkan komponen yang saling mendukung dan saling bekerja sama dalam pelaksanaan tugas sehari-hari tersusun atas komponen-komponen yang tersusun dalam bentuk struktur organisasi sebagai berikut:

I. Komite sekolah : Mukhsin

II. Kepala Sekolah : Fauzani, S.Pd III. Wakil Kepala Sekolah Urusan

1. Kurikulum : Ikwan Yani Saputra, S.Pd 2. Kesiswaan : Muh Pujianto, S.Kom 3. Sarana Prasarana : Zaenul Hadi, S.Pd IV. Ka. Ur. Tata Usaha : Rofiqoh, S.Pd

V. Wali Kelas

1. Wali Kelas VII : Muhammad Arifin, S.Pd 2. Wali Kelas VIII : Oktari Titis S

3. Wali Kelas IX A : Slamet, S.Ag

4. Wali Kelas IX B : Nurul Hidayati, S.Pd.I Struktur Penyelengaraan Majlis Dikdasmen PDM Kabupaten Boyolali dan PCM Wonosegoro Struktur PDM

(52)

40 Bendahara : H. Arkan, S.Ag Anggota :

- Drs. Tujianto, M.Pd - Dra. Hj Zumrotun, M.Pd - Drs. H. Ahmad, P.M - Drs. H. Bimono - Drs. Supadi, MM - Drs. Sadiman - Drs. Edi Purwanto Struktur PCM

Ketua : Sarmin, A.Ma.Pd Sukiman, S.Pd Sekretaris : Ambari

Taufik, S.Pd Bendahara : Yasin, S.Ag Ali Munawar Anggota :

- Suranto - Z Hadi

(53)

41

9. Kegiatan Intra dan Ekstra Kurikuler a. Kegiatan Intra Kurikuler

Kegiatan intra kurikuler adalah kegiatan yang diselenggarakan dalam jam-jam edukatif dan SMP Muhammadiyah 05 Wonosegoro berlangsung mulai jam 07.00 sampai jam 13.15 WIB.

Adapun bagian dari Intra kurikuler dalam 1 tahun terbagi menjadi 2 bagian yaitu:

1) Kegiatan semester ganjil 2) Kegiatan semester genap

b. Kegiatan Ekstra Kurikuler/ Pengembangan Diri

(54)

42

Tabel VI

DAFTAR JENIS KEGIATAN PENGEMBANGAN DIRI SMP Muhammadiyah 05 Wonosegoro

No Jenis Kegiatan Keterangan

1 Pramuka (Pandu HW) Wajib kelas VII dan VIII

2 Al-qur’an (Keagamaan) Semua Siswa

3 Bola Volly Semua Siswa

B. Paparan Data

1. Kondisi Kedisiplinan Siswa di SMP Muhammadiyah 05 Wonosegoro

Keadaan kedisiplinan siswa secara umum di SMP Muhammadiyah 05 Wonosegoro dalam kondisi yang cukup, data ini penulis dapatkan setelah mengamati selama beberapa hari di lokasi sekolah. Kondisi kedisiplinan penulis dapatkan dengan mengacu pada indikator-indikator kedisiplinan yang telah penulis dapatkan sebelumnya. Indikator-indikator tersebut dijadikan acuan oleh penulis untuk melakukan pengamatan sebagai penguat data yang telah penulis dapatkan.

(55)

43

“Kalau masalah kedisiplinan di sini sudah cukup, dilihat dari kerapian pakaian, kedatangan kesekolah, pengerjaan tugas, kesopanan, kejujuran, serta tingkahlakunya semua sudah cukup menggembirakan, karena guru juga tidak kurang-kurang dalam memberikan arahan kepada siswa. Tetapi karena latar belakang siswa yang berbeda-beda, jadi ya masih ada juga yang melanggar tata tertib yang sudah ditetapkan oleh sekolah”

Hal senada juga diungkapkan oleh siswa kelas VIII bernama NK seperti berikut:

“kalau di sini biasanya terlambat sekolah, pakaiannya nggak lengkap gitu mbak, rambutnya panjang gitu-gitu mbak”

Berdasarkan hasil wawancara itulah penulis memperoleh masukan data yang dibutuhkan. Meskipun secara keseluruhan kondisi kedisiplinan sudah cukup, tetapi karena dari latar belakang siswa yang beraneka ragam, ada juga siswa yang susah untuk diingatkan dua sampai tiga kali oleh guru, sehingga guru harus memberikan tambahan hukuman “punishmen” kepada siswa agar jera serta tidak melakukan

kesalahan yang sama. Tidak jarang guru memberikan tindakan hukuman berupa fisik, seperti push up, membersihkan toilet guru, mengepel aula. Hal ini senada dengan yang dipaparkan oleh siswi yang bernama AG kelas VIII:

“biasanya diingatkan dulu sama teman-teman mbak, kalau sudah tidak bisa baru teman-teman bilang sama bu guru, kalau bu guru sudah tidak bisa mengingatkan biasanya disuruh ngepel toilet guru mbak kalo yang perempuan, kalau yang laki- laki biasanya disuruh push up mbak, kadang sepuluh kali, kadang dua puluh kali tergantung kesalahannya mbak”

Hukuman seperti di atas juga diungkapkan oleh guru BK, sebagai berikut:

(56)

44

diingatkan sudah tidak bisa, maka kadanag memberikan hukuman yang sedikit berat, biasanya mengepel toilet guru, atau aula”

Pernyataan senada juga disampaikan oleh siswa kelas VIII bernama FF sebagai berikut:

“kalau ngelanggar biasanya diingatkan mbak sama bu guru sama pak guru, tapi kalau sudah tidak bisa biasanya langsung diberikan hukuman, disuruh ngepel aula, push up, sit up, banyak mbak. Kadang juga dipanggil orang tuanya mbak”

Dalam dunia pendidikan memang tidak seharusnya menggunakan hukuman yang berat untuk anak. Tetapi hal ini dilakukan semata-mata hanya untuk memberikan efek jera bagi siswa agar tidak melakukan kesalahan yang sama yang dapat menghambat proses belajar-mengajar di sekolah. Hal disiplin tidak hanya diajarkan dalam kegiatan intra saja tetapi juga dalam kegiatan ekstrakurikuler dan pengembangan diri. Hal ini bertujuan untuk mendidik kedisiplinan bagi semua siswa.

2. Peran Guru BK dalam Mengatasi Kedisiplinan Siswa di SMP Muhammadiyah 05 Wonosegoro Kabupaten Boyolali

(57)

45

Guru Bimbingan Konseling dalam hal ini mempunyai peran utama, dikarenakan latar belakang dalam masalah kedisiplinan dari siswa itu sendiri, maka guru Bimbingan Konseling adalah sosok utama yang diharapkan dapat menyadarkan siswa tentang tanggung jawab dan tugasnya di sekolah. Masalah yang sering dihadapi guru dalam hal ini adalah masalah pendidikan, seperti pelanggaran terhadap tata tertib sekolah.

Peran Guru Bimbingan Sekolah yang sering dilakukan oleh guru di SMP Muhammadiyah 05 Wonosegoro adalah bimbingan secara individual. Sebelum melakukan bimbingan secara individu terlebih dahulu guru sering mengingatkan kepada siswa tentang kesalahan yang dilakukan, sebagaimana yang disampaikan oleh guru BK sebagai berikut:

“ya biasanya saya memberikan peringatan satu sampai tiga kali, jika sudah tidak bisa maka guru kelas yang menangani. Tetapi tidak hanya guru BK dan guru kelas saja, tetapi juga ada keikutsertaan guru-guru yang lain, semuanya saling membantu dan bekerja bersama-sama. Jika guru kelas juga sudah tidak bisa mengatasi maka guru BK baru turun tangan. Biasanya saya menggunakan pendekatan secara individu”

Keterangan tersebut juga disampaikan oleh murid kelas VIII yang bernama ICA:

“jadi kalau ada yang melanggar aturan diingatkan mbak sama bu guru. Biasanya dipanggil sendiri-sendiri, kadang juga orang tuanya dipanggil mbak”

(58)

46

Semua guru bepartisipasi demi terwujudnya kedisiplinan di lingkungan sekolah. Semua guru menerapkan peran guru dalam hal bimbingan di sekolah sebagaimana yang dikemukakan oleh Muh Roqib dan Nurfuadi “kehadiran guru disekolah adalah untuk

membimbing anak didik menjadi manusia dewasa susila yang cakap”

(2009:109)

3. Faktor Pendukung dan Penghambat Peran Guru BK dalam Mengatasi Kedisiplinan Siswa di SMP Muhammadiyah 05 Wonosegoro Kabupaten Boyolali

Faktor yang dapat mendukung guru BK dalam menciptakan kondisi disiplin untuk para siswa salah satunya adalah motivasi dari siswa itu sendiri, dibantu juga oleh guru yang selalu bekerjasama dari guru mapel, guru kelas, sampai kepala sekolah. Sebagai seorang pendidik sudah semestinya memberikan pengarahan untuk menjadikan anak didiknya menjadi pribadi yang baik serta berpengetahuan luas. Agar tercipta hal tersebut maka disiplin adalah modal utama yang harus dimiliki oleh para siswa maupun guru.

Hal pendukung yang paling besar adalah kesadaran dari siswa itu sendiri diluar peringatan yang disampaikan oleh guru dan warga sekolah. Hal ini disampaikan oleh guru BK sebagai berikut:

(59)

47

Adapun yang menjadi faktor penghambat guru BK dalam menciptakan kondisi disiplin terhadap peraturan sekolah kepada para siswa yang paling besar adalah latar belakang siswa yang berbeda-beda. Dikarenakan kondisi ini sehingga sebagai guru BK harus memahami karakter dan kondisi yang dihadapi oleh para siswa-siswanya.

Karakter siswa yang bermacam-macam ini juga yang menjadi hambatan guru BK untuk menciptakan kedisiplinan untuk para siswa, sebagimana yang dikemukakan oleh guru BK:

“ya kan latar belakang siswa itu berbeda-beda ya mbak, jadi kita, saya sebagai guru juga tidak dapat menyalahkan seutuhnya kepada siswa, maka saya juga harus memahami dulu sifat dan karakter siswa yang saya hadapi. Selain itu orang tua juga kadang kurang memperhatikan kondisi anak, maka kita sebagai guru juga harus bisa merangkap sebagai orang tua dan dapat merasakan apa yang mereka rasakan”

(60)

48 BAB IV

ANALISIS DATA

A. Kondisi Kedisiplinan Siswa di SMP Muhammadiyah 05 Wonosegoro Kondisi kedisiplinan siswa penulis dapatkan dari data yang didapatkan pada saat observasi melalui metode wawancara. Penulis melakukan wawancara kepada guru yang bersangkutan yaitu guru Bimbingan Konseling serta beberapa siswa di SMP Muhammadiyah 05 Wonosegoro. Dalam menganalisis kondisi kedisiplinan siswa penulis berpedoman pada indikator yang telah didapatkan pada pembahasan sebelumnya.

Kondisi kedisiplinan siswa di lingkungan sekolah SMP Muhammadiyah 05 Wonosegoro sudah dikatakan cukup, hal ini mengacu pada:

(61)

49

pembiasaan yang dilakukan oleh pihak sekolah sudah cukup berhasil diterapkan untuk para siswa.

2. Taat terhadap kebijakan yang berlaku di sekolah, melalui indikator ke dua ini penulis mendapatkan keadaan yang real dari lokasi yaitu bahwasannya para siswa sudah berusaha untuk melaksanakan kebijakan yang ditetapkan oleh sekolah dengan baik, seperti berusaha untuk menjaga kondisi kelas agar tetap kondusif, data ini penulis dapatkan dari hasil wawancara kepada para siswa. Dengan melaksanakan kebijakan sekolah siswa dituntut untuk disiplin dan berkesinambungan.

Dari pencapaian indikator di atas maka dapat diambil kesimpulan bahwa kedisiplinan siswa di SMP Muhammadiyah 05 Wonosegoro dalam kondisi yang cukup, dan dapat dikatakan guru Bimbingan Konseling sudah cukup berhasil dalam pencapaian kedisiplinan siswa. Namun masih butuh peningkatan peran agar hasil yang didapatkan dapat maksimal.

B. Peran guru Bimbingan Konseling dalam menangani kedisiplinan siswa di SMP Muhammadiyah 05 Wonosegoro

Keikutsertaan guru BK dalam membimbing para siswa untuk menuju siswa yang mempunyai kedisiplinan yang kuat tidak lepas juga dari dukungan para guru dan kepala sekolah. Adapun peran yang dilakukan oleh guru BK dalam mendidik kedisiplinan siswa adalah sebagai berikut:

1. Pemberian peringatan kepada siswa

(62)

50

ini diberikan sampai batas maksimal tiga kali kesalahan yang sama ynag dilakukan oleh para siswa. Dengan menggunakan peringatan para siswa diharapkan tidak melakukan kesalahan yang sama. Pemberian peringatan ini tidak hanya semata-mata dari guru Bimbingan Konseling saja, tetapi juga dilakukan oleh guru-guru yang lain, atau teman-teman di sekolah. 2. Pemberian bimbingan secara individu

Bimbingan individu dilakukan oleh guru Bimbingan Konseling bilamana batas peringatan terhadap kesalahan yang dilakukan oleh siswa sudah melebihi batas maksimal yaitu tiga kali peringatan. Apabila sampai tiga kali peringatan siswa masih melakukan pelanggaran yang sama, maka guru BK akan melakukan bimbingan secara individu, yaitu bimbingan secara face to face dengan siswa diruang bimbingan.

Bimbingan secara individu dilakukan dengan cara wawancara antara conselor dengan kasus. Masalah yang dipecahkan melalui teknik conseling ini adalah masalah-masalah yang sifatnya pribadi (Tohirin, 2009:163)

Dalam konseling hendaknya konselor dalam hal ini adalah guru BK bersikap empati dan simpati. Simpati artinya menunjukan adanya rasa turut merasakan apa yang dirasakan oleh siswa, sedangkan empati yaitu berusaha menempatkan diri pada situasi dari siswa.

3. Pemberian bimbingan secara kelompok

(63)

51

oleh siswa yang bertujuan agar kesalahan yang dilakukan tidak akan terulang kembali. Bimbingan dilakukan dengan pemanggilan secara kelompok oleh guru Bimbingan Konseling antara 3-7 orang, di dalam bimbingan diberikan penyuluhan tentang kesalahan yang telah diperbuat oleh siswa, serta akibat yang akan dihadapinya.

Konseling kelompok merupakan bantuan kepada individu dalam situasi kelompok yang bersifat pencegahan dan penyembuhan, serta diarahkan pada pemberian kemudahan dalam perkembangan dan pertumbuhannya (Ahmad, 2006:14) sedangkan menurut prayitno konseling kelompok adalah memberikan bantuan melalui interaksi sosial klien sesuai dengan setiap kebutuhan individu anggota kelompok (2004:207)

4. Pemberian hukuman kepada siswa

Hukuman diberikan kepada siswa jika ke tiga langkah diatas sudah tidak mampu membuat para siswa jera untuk tidak melakukan kesalahan yang sama. Hukuman yang diberikan biasanya bersifat fisik, seperti mengepel, push up, sit up. Tetapi hukuman ini bukan hal utama yang dilakukan oleh guru. Hukuman semacam ini dilakukan jika para siswa sudah tidak bisa lagi diingatkan melalui peringatan verbal.

(64)

52 5. Pemanggilan orang tua siswa

Pemanggilan orang tua siswa dilakukan ketika guru sudah dirasa tidak sanggup lagi untuk menangani kesalahan yang telah dilakukan oleh siswa disekolah. Sebelum pemanggilan dilakukan, guru Bimbingan Konseling berkonsultasi terlebih dahulu kepada kepala sekolah mengenai kesalahan yang dilakukan oleh siswa. Setelah pemanggilan orang tua, guru Bimbingan Konseling meminta kerja sama kepada orang tua siswa untuk pemantauan kegiatan siswa di rumah.

6. Pembiasaan yang diterapkan dalam intrakurikuler maupun ekstrakurikuler

Kedisiplinan dapat dibina juga melalui pembiasaan di dalam kelas maupun di luar kelas, tidak harus selalu dengan pemberian hukuman atau bahkan pemanggilan orang tua. Pembiasaan yang dilakukan di dalam kelas biasanya diterapkan pada saat ingin dimulai pelajaran, di mana pada awal pelajaran dibiasakan untuk membaca do’a asmaul husna serta

hafalan surat-surat pendek tergantung tingkatan kelas masing-masing, serta menerapkan untuk membaca do’a setelah selesai pelajaran. Dengan menerapkan hafalan dan do’a di dalam kelas akan mempersempit

kesempatan bagi siswa untuk melanggar peraturan yang diterapkan oleh sekolah seperti keterlambatan siswa dalam memulai belajar dan mempersempit ruang untuk membolos dari pelajaran tertentu.

(65)

53

untuk shalat berjamaah bagi para siswa dan guru. Kegiatan semacam ini akan merangsang siswa untuk tetap mematuhi peraturan sekolah, serta meningkatkan kesadaran siswa akan kedisiplinan.

Kegiatan lain yang dapat dilakukan oleh guru untuk menerapkan kedisiplinan kepada siswa adalah dengan kegiatan ekstrakurikuler dan pengembangan diri yang harus diikuti oleh para siswa. Dalam hal ini misalnya saja dengan kegiatan Hisbul Wathan atau kata lain dari pramuka, kegiatan ini akan menuntut siswa untuk selalu datang tepat waktu dikarenakan kegiatan ini merupakan kegiatan yang wajib diikuti oleh para siswa terutama bagi peserta didik kelas VII. Selain dengan kegiatan Hisbul Wathan, hal lain adalah kegiatan pengembangan diri yaitu diantaranya kegiatan keagamaan dan bola volly. Dengan mengikuti kegiatan tersebut siswa akan dididik dengan peraturan yang ada dan ini akan memberikan pembiasaan bagi para siswa.

Melalui kegiatan di atas maka diharapkan dapat meningkatkan kesadaran kepada peserta didik akan pentingnya kedisiplinan bagi diri mereka. Dengan menjalankan segala kegiatan intra maupun ekstrakurikuler di sekolah akan mendidik para siswa dengan kedisiplinan dan akan memberikan pembiasaan yang baik serta mendidik jiwa disiplin bagi para siswa.

(66)

54

kesisiplinan di lingkungan sekolah guru Bimbingan Konseling tidak bekerja sendiri, melainkan antara guru saling membantu, hal ini dilakaukan untuk pemenuhan VISI dan MISI sekolah.

Segala keikutsertaan guru Bimbingan Konseling dalam mengatasi masalah kedisiplinan siswa diharapkan dapat meningkatkan kesadaran siswa dalam menaati tata tertib dan kedisiplinan di lingkungan siswa dan guru. Semua peran serta guru Bimbingan Konseling sangat dibutuhkan untuk menerapkan kedisiplinan siswa di sekolah.

C. Faktor Pendukung dan Penghambat Peran guru Bimbingan Konseling dalam menangani kedisiplinan siswa di SMP Muhammadiyah 05 Wonosegoro

Faktor atau hal yang mendukung guru Bimbingan Konseling dalam mengatasi masalah kedisiplinan siswa adalah sebagai berikut:

1. Kerjasama antar guru

Kerjasama dijalin untuk memudahkan guru Bimbingan Konseling dalam menangani masalah kedisiplinan siswa. Selain guru Bimbingan Konseling, guru yang lainpun juga melakukan hal yang sama untuk kedisiplinan siswa, seperti memberikan peringatan kepada siswa mengenai kesalahan yang dilakukan oleh siswa.

(67)

55

lagi, maka permasalahan diberikan kepada guru Bimbingan Konseling sebagai tindak lanjutnya. Maka kerjasama antar guru sangat dibutuhkan demi terciptanya keadaan disiplin di lingkugna sekolah, terutama untuk para siswa. Semua guru saling mendukung program yang satu dengan yang lainnya, dengan demikian akan tercipta kedisiplinan sekolah yang kondusif.

2. Motivasi dari siswa

Hal terbesar yang dapat mendukung peran guru Bimbingan Konseling dalam mengatasi masalah kedisiplinana siswa adalah motivasi yang besar dari dalam diri siswa itu sendiri. Dengan mengakui kesalahan yang telah diperbuat dan berusaha memperbaiki kesalahan siswa akan sadar dengan sendirinya akan kesalahan yang telah diperbuat. Keinginan yang kuat dari siswa untuk berubah inilah yang menjadi faktor pendukung yang paling kuat bagi guru Bimbingan Konseling untuk melakukan perannya dalam mengatasi masalah kedisiplinan siswa.

Setelah motivasi untuk berubah dan memperbaiki kesalahan dari siswa ini tumbuh, guru sebagai orang yang dianggap mampu untuk menyelesaikan masalah hanya perlu membimbing agar siswa ini tidak melakukan kesalahan yang sama. Bimbingan perlu dilakukan secara terus-menerus agar motivasi yang kuat ini tidak pernah luntur.

(68)

56

dilanggar oleh siswa. Dalam hal ini siswa membutuhkan bimbingan dan pengarahan yang sangat kuat dari guru untuk perbaikan.

3. Kerjasama dengan lingkungan sekitar

Hubungan yang dijalin dengan lingkungan sekitar akan sangat membantu jika dilakukan dengan sangat apik oleh pihak sekolah. Banyak hal yang bisa dilakukan oleh pihak sekolah untuk merangkul para penduduk sekitar untuk menjaga kondusifitas proses belajar mengajar. Kerjasama dapat dilakukan oleh guru bimbingan konseling bersama dengan guru yang membidangi hubungan dengan masyarakat.

Sebagai seorang guru bimbingan konseling dapat memberikan penyuluhan kepada masyarakat bahwasannya kerjasama dari masyarakat sangatlah penting untuk menerapkan kedisiplinan di sekolah yang berada di pemukiman penduduk. Jika sekolah dipandang baik oleh masyarakat luas maka penduduk sekitar juga akan mendapatkan pujian darinya. Maka dengan tujuan ini sekolah harus dapat menjalin hubungan yang sangat erat dengan warga sekitar.

(69)

57

Bimbingan adalah bantuan bagi individu yang menghadapi masalah, maka sudah tentu berhasil tidaknya suatu usaha bantuan dalam rangka bimbingan akan banyak tergantung dari keterangan-keterangan atau informasi tentang individu tersebut. Informasi tentang individu akan menentukan jenis masalah, jenis bimbingan, teknik-teknik dan alat-alat yang dibutuhkan (I. Djumhur dan Moh Surya, 1975:39)

Adapun faktor penghambat yang menjadi penghalang bagi guru Bimbingan Konseling dalam mengatasi masalah kedisiplinan antara lain sebagai berikut:

1. Latar belakang siswa

Keadaaan keluarga dari siswa yang berbeda-beda menjadikan kesadaran akan kedisiplinan dari masing-masing siswa menjadi hambatan paling besar dalam mendisiplinkan perilaku siswa. Peran keluarga yang kurang dalam memberikan pendidikan kedisiplinan kepada anak memberikan dampak yang besar terhadap sikap disiplin anak di lingkungan sekolah. Dalam keadaan yang seperti ini maka guru bimbingan konseling harus memahami terlebih dahulu latar belakang dari siswa yang mempunyai masalah di sekolah.

(70)

58

menghubungkan aspek satu dengan yang lainnya dan dengan membandingkan data dari peserta didik lainnya (Winkel, 1991:225)

Setelah data dari latar belakang siswa telah didapatkan oleh guru, maka dengan data ini seorang pendidik dapat menentukan cara apa yang akan digunakan dalam menangani masalah yang dihadapi oleh siswa tersebut. Dalam menangani permasalahan yang dihadapi seorang guru harus bisa menempatkan dirinya sebagai seorang guru maupun teman. 2. Lingkungan sekitar

Keberadaan SMP Muhammadiyah 05 Wonosegoro yang berada di lingkungan pemukiman penduduk merupakan salah satu faktor yang menghambat kerja guru bimbingan konseling dalam mendisiplinkan para siswanya. Meskipun kondisi memberikan ketenangan dalam proses belajar mengajar dikarenakan letaknya yang jauh dari jalan raya, tetapi keberadaan sekolah yang berdampingan dengan tempat tinggal warga menjadikan para siswa dengan mudah lari dari peraturan yang telah ditetapkan oleh sekolah.

Kemajemukan warga sekitar juga menjadi faktor yang menjadikan kedisiplinan kurang diterapkan oleh para siswa. Ditemukan bahwa di lingkungan penduduk banyak anak-anak usia remaja yang tidak melanjutkan pendidikannya, maka dari itu banyak diantara para siswa mengikuti kegiatan yang dilakukan oleh warga sekitar.

(71)

59

sebagai seorang guru bimbingan konseling mempunyai peran yang ganda selain mendisiplinkan siswa di sekolah guru BK juga harus menjalin hubungan kerjasama dengan masyarakat sekitar melalui guru yang membidangi hubungan masyarakat (HUMAS). Untuk meningkatkan hubungan kerjasama yang baik maka dibutuhkan jalinan kerjasama yang saling menguntungkan (simbiosis mutualisme) baik untuk pihak sekolah maupun untuk masyarakat sekitar.

3. Kurangnya kesadaran siswa

Kedisiplinan merupakan hal pertama dan utama yang harus dimiliki oleh siswa untuk meraih segala yang diinginkan baik bidang akademik maupun non akademik. Namun banyak diantara para siswa yang menyepelekan kedisiplinan yang harus dimiliki. Kebanyakan dari mereka masih banyak yang melanggar peraturan atau tata tertib yang telah ditetapkan oleh sekolah. Kurangnya kesadaran inilah yang menjadi salah satu penghambat untuk menerapkan kedisiplinan di kalangan anak-anak sekolah.

(72)

60

Melihat keadaan yang demikian maka guru bimbingan konseling memiliki peran yang penting dalam menjaga kedisiplinan siswa di sekolah, hal ini dikarenakan guru bimbingan konseling adalah sosok guru yang dianggap mampu untuk menyelesaikan berbagai masalah kedisiplinan yang dihadapi oleh siswa. Dengan berbekal pengalaman yang didapatkan dalam menangani masalah-masalah dari latar belakang siswa yang berbeda-beda maka sebagai guru bimbingan konseling diharapkan dapat menumbuhkan motivasi kesadaran akan kedisiplinan untuk para siswa di lingkungan sekolah yang menaungi mereka.

Referensi

Memperbarui...