83
i
PUBLIKASI INDIKATOR SDGs
PROVINSI ACEH 2019
ISBN
: 978-602-71290-9-2
Nomor Publikasi
: 11520.2006
Katalog BPS
: 3102033.11
Ukuran Buku
: 18,2 x 25,7 cm
Jumlah Halaman
: xiv+124 halaman
Naskah
: Seksi Statistik Kesejahteraan Rakyat
Penyunting
: Seksi Statistik Kesejahteraan Rakyat
Desain Kover
: Seksi Statistik Kesejahteraan Rakyat
Sumber ilustrasi
: flaticon.com freepik
Diterbitkan oleh
: © BPS Provinsi Aceh
Dilarang mengumumkan, mendistribusikan, mengomunikasikan, dan/atau menggandakan sebagian atau seluruh isi buku ini untuk tujuan komersil tanpa izin tertulis dari Badan Pusat Statistik
iii
Tim Penyusun
Publikasi Indikator SDGs Provinsi Aceh 2019
Pengarah:
Ihsanurijal S.Si, M.Si
Penanggung Jawab:
Dadan Supriadi SST, M.Si
Penyunting:
Devi Indriastuti SST, M.Si
Penulis:
Ismaturrahmi Suhaimi, S.ST
Pengolah Data:
Ismaturrahmi Suhaimi, S.ST
Infografis:
Ismaturrahmi Suhaimi, S.ST
https://aceh.bps.go.id
v
Kata Pengantar
Millenium Development Goals (MDGs) telah berakhir pada tahun
2015. Agenda selanjutnya untuk melanjutkan MDGs disebut Sustainable
Development Goals (SDGs). Indonesia berkomitmen untuk melaksanakan
dan menyukseskan SDGs ini selama tahun 2015-2030. Badan Pusat Statistik
Provinsi Aceh sebagai instansi penyedia data terus berupaya mendukung
pemerintah dalam mencapai keberhasilan pelaksanaan SDGs di Provinsi
Aceh. Hal ini dilakukan melalui penyediaan data yang akurat, objektif, dan
up to date.
Publikasi Indikator SDGs Provinsi Aceh 2019 ini merupakan salah
satu bentuk komitmen dalam mendukung pencapaian SDGs di Provinsi
Aceh. Informasi yang dicakup dalam publikasi ini umumnya berasal dari
pengumpulan data Susenas Maret 2019. Mengingat terbatasnya
ketersediaan data, tidak semua indikator dapat disajikan dalam publikasi
ini.
Semoga publikasi ini bermanfaat. Kepada semua pihak yang telah
berpartisipasi dalam penyusunan publikasi ini, diucapkan terima kasih.
Banda Aceh, Juli 2020
Kepala Badan Pusat Statistik
Provinsi Aceh
Ihsanurijal S.Si, M.Si
https://aceh.bps.go.id
vii
DAFTAR ISI
Kata Pengantar ………. v
Daftar Isi ……… vii
Daftar Gambar ……….. ix
Daftar Tabel ……….. xi
Pendahuluan ………. 3
Tujuan 1. Tanpa Kemiskinan ……… 5
Tujuan 3. Kehidupan Sehat Dan Sejahtera ………..…… 23
Tujuan 4. Pendidikan Berkualitas ………. 35
Tujuan 5. Kesetaraan Gender ………... 57
Tujuan 6. Air Bersih Dan Sanitasi Layak ……… 65
Tujuan 9. Industri, Inovasi, Dan Infrastruktur ………. 73
Tujuan 11. Kota Dan Permukiman Yang Berkelanjutan ………... 79
Tujuan 16. Perdamaian, Keadilan, Dan Kelembagaan Yang Tangguh………. 83 Daftar Pustaka ……….. 91
Lampiran ………... 93
https://aceh.bps.go.id
ix
DAFTAR GAMBAR
Gambar Halaman
1.1 Persentase Penduduk Miskin di Aceh, Maret 2016 – Maret 2019
……….
8 1.2 Persentase Wanita Pernah Kawin (WPK) Umur 15-49 Tahun yangProses Melahirkan Terakhirnya di Fasilitas Kesehatan (Penduduk 40% Pendapatan Terendah), 2016-2019
……….………
10 1.3 Persentase Rumah Tangga yang Memiliki Akses TerhadapSumber Air Minum Layak (Penduduk 40% Pendapatan Terendah), 2017-2019
………..………
11 1.4 Persentase Rumah Tangga yang Memiliki Akses TerhadapLayanan Sanitasi Layak dan Berkelanjutan (Penduduk 40% Pendapatan Terendah), 2017-2019
……….
13 1.5 Persentase Rumah Tangga Kumuh (Penduduk 40% PendapatanTerendah), 2018-2019
………..
15 1.6 Angka Partisipasi Murni (APM) SD/MI/sederajat (Penduduk 40%Pendapatan Terendah), 2017-2019
…
161.7 Angka Partisipasi Murni (APM) SMP/MTs/sederajat (Penduduk 40% Pendapatan Terendah), 2017-2019
……….
17 1.8 Angka Partisipasi Murni (APM) SMA/MA/sederajat (Penduduk40% Pendapatan Terendah), 2017-2019 18
1.9 Persentase Penduduk usia 0-17 Tahun Dengan Kepemilikan Akta Kelahiran (Penduduk 40% Pendapatan Terendah), 2017-2019
……..
19 1.10 Persentase Rumah Tangga yang Sumber Penerangan UtamanyaListrik (Penduduk 40% Pendapatan Terendah), 2017-2019
………..
21 3.1 Persentase Persempuan Pernah Kawin Umur 15-49 Tahun yangProses Melahirkan Terakhirnya Oleh Tenaga Kesehatan Terlatih, 2016-2019
……….….
26 3.2 Persentase Perempuan Pernah Kawin Umur 15-49 TahunMenurut Penolong Kelahiran Terakhir, 2017-2019
………..
27 3.3 Persentase Perempuan Pernah Kawin Umur 15-49 Tahun yangProses Melahirkan Terakhirnya di Fasilitas Kesehatan, 2016-2019
……….…
28 3.4 Persentase Perempuan Pernah Kawin Umur 15-49 TahunMenurut Tempat Melahirkan Terakhir, 2019
………
29 3.5 Unmet Need Pelayanan Kesehatan, 2017-2019……… 31 3.6 Persentase Merokok Pada Penduduk Umur 15 Tahun Ke Atas,2015-2019
……….
32https://aceh.bps.go.id
Gambar Halaman
4.1 Angka Partisipasi Kasar (APK) SD/MI/sederajat, 2017-2019
…………
38 4.2 Angka Partisipasi Kasar (APK) SMP/MTs/sederajat, 2017-2019 ...…
39 4.3 Angka Partisipasi Kasar (APK) SMA/SMK/MA/ sederajat,2017-2019
………..………...
40 4.4 Rata-rata Lama Sekolah Penduduk Usia 15 Tahun Ke AtasMenurut Jenis Kelamin dan Klasifikasi Wilayah, 2017-2019
…………
41 4.5 APK Anak 3-6 Tahun yang Mengikuti PAUD Menurut KlasifikasiWilayah dan Jenis Kelamin, 2017-2019
………
43 4.6 Angka Partisipasi Kasar (APK) Perguruan Tinggi (19-24 Tahun),2017-2019
……….
45 4.7 Persentase Penduduk Usia Di Atas 5 Tahun yang MengaksesInternet, 2016-2019
………
46 4.8 Persentase Penduduk Remaja (Umur 15-24 Tahun) dan Dewasa(Umur 15-59) yang Menggunakan Internet, 2017-2019
………
47 4.9 Rasio Angka Partisipasi Murni (APM) Perempuan/Laki-laki diSD/MI/sederajat, 2016-2019
………
50 4.10 Rasio Angka Partisipasi Murni (APM) Perempuan/Laki-laki diSMP/MTs/sederajat, 2016-2018
………
51 4.11 Rasio Angka Partisipasi Murni (APM) Perempuan/Laki-laki diSMA/MA/sederajat, 2016-2018
………..
52 4.12 Persentase Angka Melek Aksara (AMH) Penduduk Umur 15Tahun Ke Atas, 2017-2019
……….
53 4.13 Persentase AMH Penduduk Usia 15-24 Tahun, 2017-2019……….…..
55 4.14 Persentase AMH Penduduk Usia 15-59 Tahun, 2017-2019………
56 5.1 Persentase Wanita Umur 20-24 Tahun yang Berstatus Kawin atauBerstatus Hidup Bersama Sebelum Umur 18 Tahun, 2017-2019
…..
60 5.2 Persentase Penduduk Berumur 5 Tahun Ke Atas yangMenguasai/Memiliki Telepon Genggam, 2017-2019
………
61 5.3 Persentase Penduduk yang Menguasai/Memiliki TeleponGenggam Menurut Kelompok Umur, 2019
……….
62 6.1 Persentase Rumah Tangga yang Memiliki Akses TerhadapSumber Air Minum Layak Menurut Tipe Daerah, 2017-2019
………
68 6.2 Persentase rumah tangga yang Memiliki Fasilitas Cuci TanganDengan Sabun dan Air, 2017-2019
……….
70 6.3 Persentase Rumah Tangga Dengan Sanitasi Layak, 2017-2019 ...…
71 9.1 Persentase Penduduk Berumur 5 Tahun Ke Atas yangMenguasai/Memiliki Telepon Seluler (HP) Nirkabel Dalam 3 Bulan Terakhir, 2017-2019
……….……
76 9.2 Persentase Penduduk Berumur 5 Tahun Ke Atas yang PernahMengakses Internet Dalam 3 Bulan Terakhir, 2017-2019
……….
77https://aceh.bps.go.id
xi
Gambar Halaman
11.1 Proporsi Korban Kejahatan Dalam 12 Bulan Terakhir yang Melaporkan Kepada Polisi, 2018-2019
………
82 16.1 Persentase Penduduk yang Menjadi Korban Kejahatan DenganKekerasan Dalam 12 Bulan Terakhir Menurut Jenis Kelamin,
2018-2019
………
8616.2 Persentase Penduduk yang Merasa Aman Berjalan Sendirian di Area Tempat Tinggalnya, 2014- dan 2017
………
87 16.3 Persentase Penduduk yang Menjadi Korban KejahatanKekerasan Dalam 12 Bulan Terakhir yang Melaporkan Kepada Polisi, 2018-2019
………
88 16.4 Persentase Anak Umur 0-4 Tahun yang Memiliki Akta Kelahiran,2017-2019
………
89xiii
DAFTAR TABEL
Tabel Halaman
1 Persentase Penduduk Miskin di Aceh………. 95 2 Persentase Wanita Pernah Kawin (WPK) Umur 15-49 Tahun yang
Proses Melahirkan Terakhirnya di Fasilitas Kesehatan (Penduduk 40% Pendapatan Terendah)………. 96 3 Persentase Rumah Tangga Menurut Sumber Air Minum Layak
dan Berkelanjutan (Penduduk 40% Pendapatan Terendah)……... 97 4 Persentase Rumah Tangga yang Memiliki Akses Terhadap
Layanan Sanitasi Layak dan Berkelanjutan, (Penduduk 40% Pendapatan Terendah) ……….………….……….. 98 5 Persentase Rumah Tangga Kumuh (Penduduk 40% Pendapatan
Terendah) ………….………….………….………….……... 99 6 Angka Partisipasi Murni (APM) (Penduduk 40% Pendapatan
Terendah) ………….………….………….………….……... 100 7 Persentase Penduduk usia 0-17 Tahun Dengan Kepemilikan Akta
Kelahiran (Penduduk 40% Pendapatan Terendah) ………….….. 102 8 Persentase Rumah Tangga yang Sumber Penerangan Utamanya
Listrik (Penduduk 40% Pendapatan Terendah) ………….………. 103 9 Persentase Wanita Pernah Kawin (WPK) Umur 15-49 Tahun yang
Proses Melahirkan Terakhirnya Oleh Tenaga Kesehatan Terlatih. 104 10 Persentase Wanita Pernah Kawin (WPK) Umur 15-49 Tahun yang
Proses Melahirkan Terakhirnya di Fasilitas Kesehatan ………...… 105 11 Unmeet Need Pelayanan Kesehatan ………….………….………. 106 12 Persentase Merokok Pada Penduduk Umur 15 Tahun Ke Atas … 107 13 Angka Partisipasi Kasar (APK) SD/MI/sederajat ………….……... 108 14 Angka Partisipasi Kasar (APK) SMP/MTs/sederajat ………….….. 109 15 Angka Partisipasi Kasar (APK) SMA/SMK/MA/ sederajat ……….. 110 16 Persentase Penduduk yang Mengakses Internet ………….……. 111 17 Rasio Angka Partisipasi Murni (APM) Perempuan/Laki-laki …….. 112 18 Persentase Angka Melek Aksara (AMH) Umur 15 Tahun Ke Atas.. 114 19 Persentase AMH Penduduk Usia 15-24 Tahun dan Usia 15-59
Tahun ………….………….………….………….………….…….. 115
20 Persentase Penduduk Usia Di Atas 5 Tahun yang Memiliki
Telepon Genggam ………….………….………….………. 116
21 Persentase Rumah Tangga Menurut Tipe Daerah dan Sumber Air
Minum Layak ………….………….………….………. 117
22 Persentase rumah tangga yang Memiliki Fasilitas Cuci Tangan Dengan Sabun dan Air ………….………….……… 118 23 Persentase Rumah Tangga Dengan Sanitasi Layak ……… 119
Tabel Halaman
24 Persentase Penduduk Berumur 5 Tahun Ke Atas yang Menguasai/Memiliki Telepon Seluler (HP) Nirkabel Dalam 3 Bulan Terakhir ………….………….………….………….……….. 120 25 Persentase Penduduk Berumur 5 Tahun Ke Atas yang Pernah
Mengakses Internet Dalam 3 Bulan Terakhir ………….………… 121 26 Proporsi Penduduk yang Menjadi Korban Kejahatan Dalam 12
Bulan Terakhir yang Melaporkan Kepada Polisi……….…………. 122 27 Persentase Anak Umur 0-4 Tahun yang Memiliki Akta Kelahiran... 123
1
TUJUAN PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN
3
PENDAHULUAN
Sustainable Development Goals disingkat dengan SDGs atau dalam bahasa Indonesia dikenal sebagai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan adalah agenda global yang ditentukan oleh PBB dan disepakati oleh negara-negara di dunia untuk kebaikan masyarakat dan lingkungan sekitar. Mulai tahun 2016-2030, tujuan ini secara resmi menggantikan MDGs 2000-2015. SDGs merupakan tindak lanjut dari berakhirnya MDGs yang masih menyisakan pekerjaan rumah yang harus diselesaikan hingga tahun 2030. SDGs mencakup 17 tujuan yaitu:
(1) Tanpa Kemiskinan; (2) Tanpa Kelaparan;
(3) Kehidupan Sehat dan Sejahtera; (4) Pendidikan Berkualitas;
(5) Kesetaraan Gender;
(6) Air Bersih dan Sanitasi Layak; (7) Energi Bersih dan Terjangkau;
(8) Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi; (9) Industri, Inovasi dan Infrastruktur;
(10) Berkurangnya Kesenjangan;
(11) Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan;
(12) Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab; (13) Penanganan Perubahan Iklim;
(14) Ekosistem Lautan; (15) Ekosistem Daratan;
(16) Perdamaian, Keadilan dan Kelembagaan yang Tangguh; (17) Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.
Indonesia sebagai negara yang telah menyepakati penerapan SDGs berkomitmen untuk menyukseskan pelaksanaan SDGs melalui berbagai kegiatan
dan kebijakan yang diambil. Seiring upaya Indonesia dalam mencapai SDGs, Badan Pusat Statistik (BPS) sebagai lembaga penghasil data memiliki komitmen untuk ikut mendukung pencapaian SDGs di Indonesia. Peran BPS dalam pencapaian SDGs adalah menyediakan data/indikator untuk monitoring capaian implementasi SDGs.
Salah satu kegiatan statistik rutin yang dilakukan BPS adalah Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas). Susenas merupakan survei yang mengumpulkan data sosial kependudukan yang mencakup data pendidikan, kesehatan, perumahan, dan konsumsi rumah tangga. Dari hasil survei tersebut dapat diperoleh beberapa indikator SDGs. Namun, Susenas belum mampu memenuhi semua tuntutan penyediaan data seperti yang dikehendaki oleh metadata SDGs nasional.
Publikasi ini hanya menyajikan indikator-indikator SDGs yang diolah dari data Susenas, yaitu terkait dengan indikator kemiskinan, pendidikan, kesehatan, dan perumahan.
5
https://aceh.bps.go.id
7
Mengakhiri Segala Bentuk
Kemiskinan Dimanapun
Tujuan Pembangunan Berkelanjutan ke-1 bertujuan untuk menghapus segala bentuk kemiskinan selama 15 tahun ke depan. Target yang ingin dicapai pada tahun 2030 ini mensyaratkan bahwa setiap warga negara Indonesia memiliki akses terhadap pelayanan dasar dan memiliki hak untuk menikmati suatu standar kehidupan yang layak serta pemerintah harus dapat menjamin masyarakat yang sangat miskin dengan suatu program jaminan sosial.
TARGET 1.2 PADA TAHUN 2030, MENGURANGI SETIDAKNYA SETENGAH PROPORSI LAKI-LAKI, PEREMPUAN DAN ANAK-ANAK DARI SEMUA USIA, YANG HIDUP DALAM KEMISKINAN DI SEMUA DIMENSI, SESUAI DENGAN DEFINISI NASIONAL.
INDIKATOR 1.2.1 PERSENTASE PENDUDUK YANG HIDUP DI BAWAH GARIS KEMISKINAN NASIONAL, MENURUT JENIS KELAMIN DAN KELOMPOK UMUR **)
Untuk mengukur kemiskinan, BPS menggunakan konsep basic needs approach. Dengan pendekatan ini, kemiskinan dipandang sebagai ketidakmampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan non makanan yang diukur dari sisi pengeluaran. Kemudian akan dihitung Headcount Index, yaitu persentase penduduk miskin terhadap total penduduk. Metode yang digunakan adalah menghitung Garis Kemiskinan (GK), yang terdiri
dari dua komponen, yaitu Garis Kemiskinan Makanan (GKM) dan Garis Kemiskinan Non Makanan (GKNM).
▪ GKM merupakan nilai pengeluaran kebutuhan minimum makanan yang disetarakan dengan 2100 kilo kalori per kapita per hari. Paket komoditi kebutuhan dasar makanan diwakili oleh 52 jenis komoditi (padi-padian, umbiumbian, ikan, daging, telur dan susu, sayuran, kacang-kacangan, buah-buahan, minyak dan lemak, dan lain-lain).
▪ GKNM adalah kebutuhan minimum untuk perumahan, sandang, pendidikan, dan kesehatan. Paket komoditi kebutuhan dasar non makanan diwakili oleh 51 jenis komoditi di perkotaan dan 47 jenis komoditi di perdesaan.
GAMBAR 1.1 Persentase Penduduk Miskin di Aceh, Maret 2016–
Maret 2019
Sumber: BPS Aceh, 2016-2019
Sumber data utama yang digunakan untuk menghitung tingkat kemiskinan adalah Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas). Hasil Susenas Maret menggambarkan perkembangan persentase penduduk miskin di Aceh menunjukkan tren menurun selama tiga tahun terakhir. Usaha pemerintah, baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah, perlu diapresiasi terlihat bahwa
16,73
16,89
15,97
15,32
2016 2017 2018 2019
Selama 3 tahun terakhir, persentase penduduk yang berada di bawah
garis kemiskinan semakin menurun
9 persentase penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan pada bulan Maret 2017 sebesar 16,89 persen dan pada bulan Maret 2019 persentasenya menurun menjadi 15,32 persen. Walaupun sempat terjadi peningkatan dari tahun 2016-2017 namun tidak signifikan. Menurunnya proporsi penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan dari tahun 2017-2019 menunjukkan bahwa pembangunan yang berorientasi pada pengentasan kemiskinan yang dilakukan oleh pemerintah pusat maupun pemerintah daerah telah menunjukkan hasil yang positif. Dalam hal ini pemerintah dapat mempertahankan konsistensi tren penurunan tersebut. Meskipun demikian, pemerintah tetap perlu melakukan upaya yang lebih terarah dalam penghapusan kemiskinan agar tujuan ke-1 bisa tercapai pada tahun 2030.
TARGET 1.4 MENJAMIN BAHWA SEMUA LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN, KHUSUSNYA MASYARAKAT MISKIN DAN RENTAN, MEMILIKI HAK YANG SAMA TERHADAP SUMBER DAYA EKONOMI, SERTA AKSES TERHADAP PELAYANAN DASAR, KEPEMILIKAN DAN KONTROL ATAS TANAH DAN BENTUK KEPEMILIKAN LAIN, WARISAN, SUMBER DAYA ALAM, TEKNOLOGI BARU, DAN JASA KEUANGAN YANG TEPAT, TERMASUK KEUANGAN MIKRO
Seluruh indikator yang merupakan sub target 1.4 dihitung berdasarkan penduduk 40 persen terbawah yaitu tingkat pendapatan rendah (kuintil-1 dan kuintil-2).
INDIKATOR 1.4.1.(A) PERSENTASE PEREMPUAN PERNAH KAWIN UMUR 15-49 TAHUN YANG PROSES MELAHIRKAN TERAKHIRNYA DI FASILITAS KESEHATAN
Tempat melahirkan yang tergolong dalam fasilitas kesehatan adalah rumah sakit/rumah bersalin, klinik, puskesmas, pustu, polindes/poskesdes, dan
praktik tenaga kesehatan. Pertolongan persalinan di fasilitas kesehatan tersebut menunjukkan kualitas terhadap pelayanan kesehatan, sehingga risiko kematian ibu melahirkan menjadi rendah.
GAMBAR 1.2 Persentase Wanita Pernah Kawin (WPK) Umur 15-49 Tahun yang Proses Melahirkan Terakhirnya di Fasilitas Kesehatan (Penduduk 40% Pendapatan Terendah), 2016-2019
Sumber: Susenas Maret, 2016-2019
Persentase perempuan pernah kawin umur 15-49 tahun yang proses melahirkan terakhirnya di fasilitas kesehatan mengalami peningkatan dari tahun 2016 hingga 2019. Pada tahun 2019, sebanyak 86,84 persen perempuan dengan pendapatan 40 persen terendah melahirkan di fasilitas kesehatan. Hal ini menunjukkan pemahaman perempuan berpendapatan rendah yang semakin baik dengan tidak memilih tempat yang tidak terjamin keamanannya untuk proses melahirkan.
Menurut tempat tinggalnya, persentase perempuan pernah kawin umur 15-49 tahun berpendapatan rendah yang tinggal di perkotaan lebih banyak
90,07 73,55 76,39
80,50 76,13 76,86
83,26 80,14 80,74
87,64 86,64 86,84
Perkotaan Perdesaan Aceh
2016 2017 2018 2019
https://aceh.bps.go.id
11 melahirkan di fasilitas kesehatan dibandingkan perdesaan yaitu masing-masing 87,64 persen dan 86,64 persen. Angka ini harus terus ditingkatkan terutama di perdesaan agar risiko kematian ibu melahirkan menjadi rendah.
INDIKATOR 1.4.1.(D) PERSENTASE RUMAH TANGGA YANG MEMILIKI AKSES TERHADAP LAYANAN SUMBER AIR MINUM LAYAK DAN BERKELANJUTAN
GAMBAR 1.3 Persentase Rumah Tangga yang Memiliki Akses Terhadap Sumber Air Minum Layak (Penduduk 40% Pendapatan Terendah), 2017-2019
Sumber: Susenas Maret, 2017-2019
Sumber air minum layak adalah sumber air berkualitas dan berjarak sama dengan atau lebih dari 10 meter dari tempat pembuangan kotoran dan/atau terlindung dari kontaminasi lainnya, meliputi:
a. air leding (keran); b. sumur bor atau pompa; c. sumur terlindung; 77,88 50,67 55,60 74,86 51,17 55,89 92,93 76,56 80,09
Perkotaan Perdesaan Aceh 2017 2018 2019
d. mata air terlindung; dan e. air hujan.
Penghitungan indikator sumber air layak didasarkan pada konsep air minum yang berkelanjutan (sustainable), sehingga air kemasan dan air isi ulang tidak dicakup. Penghitungan indikator air minum layak dengan metode baru tidak hanya menggunakan variabel air yang digunakan untuk minum, tetapi juga air yang digunakan untuk mandi/cuci/dll. Sehingga, rumah tangga juga dikatakan memiliki akses terhadap layanan sumber air minum layak jika mengonsumsi air kemasan bermerk, air isi ulang, sumur tak terlindung, atau mata air tak terlindung. Namun rumah tangga tersebut tetap harus memiliki akses untuk menggunakan air yang berkelanjutan (yaitu air leding, sumur bor/pompa, sumur terlindung, mata air terlindung, atau air hujan). Oleh karena itu, misalnya terdapat rumah tangga yang menggunakan air isi ulang untuk minum namun menggunakan air leding untuk memasak/mandi/cuci, maka rumah tangga tersebut dianggap memiliki akses terhadap sumber air minum layak.
Pada tahun 2019, perhitungan akses terhadap layanan sumber air minum layak menggunakan metode baru. Metode baru yang digunakan yaitu penghitungan akses air minum layak tanpa mempertimbangkan jarak ke tempat pembuangan akhir tinja (TPAT).
Ketersediaan sumber air minum yang layak merupakan hal yang sangat mendasar bagi setiap manusia. Sumber air minum yang layak sangat penting untuk menjaga kesehatan masyarakat, bila sumber air minum yang layak tidak tersedia maka masyarakat akan rentan terkena berbagai macam penyakit. Selama tiga tahun terakhir, akses terhadap air minum layak pada rumah tangga dengan pendapatan 40 persen terendah di Aceh mengalami peningkatan. Pada tahun 2017 persentase rumah tangga pendapatan rendah yang memiliki akses terhadap air minum layak sebesar 55,60 persen meningkat menjadi 80,09 persen pada tahun 2019. Apabila dilihat berdasarkan daerah tempat tinggal, persentase rumah tangga dengan pendapatan rendah di perkotaan lebih tinggi
13 daipada di perdesaan. Pada tahun 2019, di perkotaan sekitar 92,93 persen sedangkan di perdesaan hanya 76,56 persen.
INDIKATOR 1.4.1.(E) PERSENTASE RUMAH TANGGA YANG MEMILKI AKSES
TERHADAP LAYANAN SANITASI LAYAK DAN
BERKELANJUTAN
Sanitasi layak didefinisikan sebagai fasilitas sanitasi yang memenuhi syarat kesehatan, antara lain klosetnya menggunakan leher angsa, tempat pembuangan akhir tinjanya menggunakan tanki septik (septic tank) atau Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL), dan fasilitas sanitasi tersebut digunakan oleh rumah tangga sendiri atau bersama dengan anggota rumah tangga tertentu.
GAMBAR 1.4 Persentase Rumah Tangga yang Memiliki Akses Terhadap Layanan Sanitasi Layak dan Berkelanjutan (Penduduk 40% Pendapatan Terendah), 2017-2019
Sumber: Susenas Maret, 2017-2019 70,84 42,98 48,03 79,42 47,40 53,78 75,98 51,95 57,14
Perkotaan Perdesaan Aceh
2017 2018 2019
Fasilitas sanitasi yang layak sangat penting untuk mengukur tingkat kesejahteraan rakyat dari aspek kesehatan. Gambar di atas memperlihatkan persentase rumah tangga dengan pendapatan 40 persen terendah yang memiliki akses terhadap sanitasi layak selama tahun 2017-2019. Pada kurun waktu tersebut, dapat dilihat adanya pola kenaikan rumah tangga yang memiliki akses terhadap sanitasi layak. Pada tahun 2017, rumah tangga yang dapat mengakses sanitasi layak sebesar 48,03 persen, naik menjadi 53,78 persen pada tahun 2018, dan 57,14 persen pada tahun 2019.
Menurut daerah tempat tinggalnya, sanitasi layak di daerah perkotaan jauh lebih baik dibandingkan dengan perdesaan. Rumah tangga yang dapat mengakses sanitasi layak di perkotaan pada tahun 2019 mencapai 75,98 persen sedangkan di perdesaan hanya 51,95 persen. Kesenjangan ini sudah membaik daripada tahun sebelumnya yaitu pada tahun 2019 terjadi peningkatan rumah tangga yang memiliki akses terhadap sanitasi layak di perdesaan. Hal ini menunjukkan pentingnya peran pemerintah dalam menyiapkan fasilitas sanitasi yang layak terutama di daerah perdesaan untuk mengurangi penyebaran penyakit.
INDIKATOR 1.4.1.(F) PERSENTASE RUMAH TANGGA KUMUH PERKOTAAN
Rumah tangga kumuh adalah rumah tangga yang tidak memiliki akses terhadap sumber air minum layak, sanitasi layak, luas lantai >7,2 m2 per kapita,
kondisi atap, lantai, dan dinding yang layak. Dihitung dengan menggunakan pembobot untuk masing-masing indikator.
Indikator ini memberikan gambaran tentang tingkat kesejahteraan dan permasalahan kemiskinan akibat ketimpangan pembangunan yang tidak merata. Perhitungan rumah tangga kumuh menggunakan konsep baru yang dikeluarkan pada tahun 2019. Persentase rumah tangga kumuh di Aceh pada tahun 2019 sebesar 18,17 persen menurun 0,29 poin dari tahun 2018. Menurut
15 daerah tempat tinggalnya, rumah tangga kumuh di perdesaan lebih besar daripada di perkotaan. Persentase rumah tangga kumuh di perkotaan (penduduk 40 persen pendapatan terendah) yang merupakan indikator SDGs 1.4.1.(F) pada tahun 2019 lebih rendah dari tahun sebelumnya. Pada tahun 2018, persentase rumah tangga kumuh di perkotaan (penduduk dengan tingkat pendapatan rendah) sebesar 12,64 persen menurun menjadi 11,87 persen pada tahun 2019. Pemerintah daerah harus menanggulangi adanya pemukiman kumuh ini untuk meningkatkan tingkat kesejahteraan masyarakat.
GAMBAR 1.5 Persentase Rumah Tangga Kumuh (Penduduk 40% Pendapatan Terendah), 2018-2019
Sumber: Susenas Maret, 2018-2019
INDIKATOR 1.4.1.(G) ANGKA PARTISIPASI MURNI (APM) SD/MI/SEDERAJAT
Angka Partisipasi Murni (APM) didefinisikan sebagai proporsi penduduk pada kelompok umur jenjang pendidikan tertentu yang masih bersekolah terhadap total penduduk pada kelompok umur tersebut. Dengan kata lain, APM mengukur daya serap sistem pendidikan terhadap penduduk usia sekolah. Jika
12,64 19,90 18,46 11,87 19,91 18,17
Perkotaan Perdesaan Aceh 2018 2019
APM=100, maka dapat dikatakan bahwa seluruh anak usia sekolah dapat bersekolah tepat waktu. Sejak tahun 2007, Pendidikan Non Formal (Paket A, Paket B, dan Paket C) turut diperhitungkan.
GAMBAR 1.6 Angka Partisipasi Murni (APM) SD/MI/sederajat (Penduduk 40% Pendapatan Terendah), 2017-2019
Sumber: Susenas Maret, 2017-2019
APM SD/MI/sederajat menunjukkan partisipasi sekolah penduduk usia 7-12 tahun yang bersekolah di tingkat SD/MI/sederajat. APM SD/MI/sederajat di Aceh sudah cukup tinggi dan mengalami peningkatan dari tahun 2017 ke tahun 2019. Pada tahun 2019, APM SD/MI/sederajat di Aceh sebesar 99,01 persen. Hal ini menunjukkan hampir seluruh anak usia sekolah dasar (7-12 tahun) sudah dapat menempuh tingkat pendidikan SD/MI/sederajat tepat waktu. Dilihat dari klasifikasi tempat tinggalnya, APM SD/MI/sederajat di perkotaan lebih tinggi dibandingkan di perdesaan, yaitu masing-masing sebesar 99,38 persen dan 98,89 persen. Tingginya capaian APM pada tingkat sekolah dasar ini
98,56 98,44 98,46 98,05 99,08 98,87 99,38 98,89 99,01
Perkotaan Perdesaan Aceh
2017 2018 2019
17 menunjukkan bahwa hampir seluruh anak usia sekolah SD/MI/sederajat sudah dapat memanfaatkan fasilitas pendidikan di tingkat SD/MI/sederajat.
INDIKATOR 1.4.1.(H) ANGKA PARTISIPASI MURNI (APM) SMP/ MTs/ SEDERAJAT
GAMBAR 1.7 Angka Partisipasi Murni (APM) SMP/MTs/sederajat (Penduduk 40% Pendapatan Terendah), 2017-2019
Sumber: Susenas Maret, 2017-2019
Berdasarkan pengertian APM yang telah dibahas sebelumnya, APM SMP/MTs/sederajat mengukur daya serap sistem pendidikan terhadap penduduk usia sekolah SMP/MTs/sederajat. Secara umum, APM SMP/MTs/sederajat masih berada di bawah nilai APM SD/MI/sederajat. Pada tahun 2019, APM SMP/MTs/sederajat sebesar 86,98 persen.
Menurut tempat tinggalnya, daya serap sistem pendidikan SMP/MTs/sederajat terhadap penduduk kelompok umur 13-15 tahun lebih baik di wilayah perkotaan daripada di perdesaan. Terlihat bahwa APM SMP di
85,99 86,43 86,35 92,62 84,52 86,07 92,55 85,48 86,98
Perkotaan Perdesaan Aceh
2017 2018 2019
perkotaan mencapai 92,55 persen, lebih baik dibandingkan di perdesaan yang hanya sebesar 85,48 persen.
INDIKATOR 1.4.1.(I) ANGKA PARTISIPASI MURNI (APM) SMA/MA/SEDERAJAT
Sebagaimana APM SD/MI/sederajat dan APM SMP/MTs/sederajat, APM SMA/MA/sederajat menunjukkan partisipasi sekolah penduduk usia 16-18 tahun yang bersekolah di tingkat SMA/MA/sederajat. Pada tahun 2019, APM SMA/MA/sederajat di Aceh sebesar 63,60 persen. APM di perdesaan lebih baik dibandingkan perkotaan yaitu masing-masing 64,41 persen dan 60,87 persen. Berarti lebih banyak penduduk perdesaan usia sekolah jenjang SMA yang bersekolah tepat waktu dibandingkan penduduk perkotaan, pada tahun 2019.
GAMBAR 1.8 Angka Partisipasi Murni (APM) SMA/MA/sederajat (Penduduk 40% Pendapatan Terendah), 2017-2019
Sumber: Susenas Maret, 2017-2019 77,86
62,97 65,66
71,92
63,17 64,97
60,87 64,41 63,60
Perkotaan Perdesaan Aceh
2017 2018 2019
19 Jika dilihat antar jenjang pendidikan, APM SMA/MA/sederajat lebih rendah dibandingkan APM SD/sederajat dan APM SMP/MTs/sederajat. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan, maka semakin kecil persentase penduduk usia sekolah yang dapat bersekolah tepat waktu.
INDIKATOR 1.4.1.(J) PERSENTASE PENDUDUK USIA 0-17 TAHUN DENGAN KEPEMILIKAN AKTA KELAHIRAN
GAMBAR 1.9 Persentase Penduduk usia 0-17 Tahun Dengan Kepemilikan Akta Kelahiran (Penduduk 40% Pendapatan Terendah), 2017-2019
Sumber: Susenas Maret, 2017-2019
Kepemilikan akta kelahiran merupakan hal yang penting bagi kesejahteraan dan pembangunan sosial bagi anak-anak di Indonesia. Kepemilikan akta tersebut menjadi salah satu identitas diri dan akan terdaftar dalam Kartu Keluarga (KK) serta diberikan Nomor Induk Kependudukan (NIK) sebagai dasar untuk mengakses layanan dan jaminan sosial serta pelayanan masyarakat. Tujuan dari indikator ini adalah untuk mengukur banyaknya anak
Perkotaan Perdesaan Aceh
90,76 81,58 83,25 90,00 83,06 84,44 90,25 87,79 88,35 2017 2018 2019
https://aceh.bps.go.id
yang memiliki akta kelahiran sebelum melewati masa umur yang dianggap anak dan dapat memasuki dunia kerja maupun usia pernikahan.
Secara umum, persentase penduduk 17 tahun ke bawah yang memiliki akta kelahiran meningkat selama tiga tahun terakhir. Pada tahun 2019, terdapat 88,35 persen penduduk usia 0-17 tahun yang sudah memiliki akta kelahiran. Angka ini sudah cukup bagus, walaupun masih terdapat sekitar 11,65 persen anak di Aceh yang belum memiliki akta kelahiran atau belum tercatat identitasnya.
Bila dilihat menurut klasifikasi daerah tempat tinggal, terlihat adanya perbedaan antara anak-anak yang tinggal di wilayah perkotaan dengan perdesaan. Pada tahun 2019, terdapat sekitar 90,25 persen anak yang tinggal di daerah perkotaan sudah memiliki akta kelahiran, artinya hanya sekitar 10 persen dari seluruh anak usia 0-17 tahun belum tercatat identitasnya. Sedangkan di wilayah perdesaan masih terdapat sekitar 13 persen anak yang belum tercatat. Selain itu, dapat terlihat bahwa terjadi peningkatan yang cukup signifikan persentase anak yang memiliki akta kelahiran di perdesaan pada tahun 2019 yaitu sebesar 4,73 poin. Hal ini menunjukkan kesadaran masyarakat akan pentingnya akta kelahiran bagi anak semakin meningkat. Pemerintah harus terus meningkatkan kepemilikan akta kelahiran bagi anak di Provinsi Aceh, selain itu agar data registrasi kependudukan semakin baik dengan tercatatnya seluruh identitas penduduk.
INDIKATOR 1.4.1.(K) PERSENTASE RUMAH TANGGA MISKIN DAN RENTAN YANG SUMBER PENERANGAN UTAMANYA LISTRIK BAIK DARI PLN DAN BUKAN PLN
Listrik merupakan salah satu sumber penerangan yang sangat penting bagi rumah tangga. Selain itu listrik juga berperan sebagai sumber tenaga bagi sebagian besar peralatan elektronik rumah tangga saat ini. Sumber penerangan
21 listrik dapat berasal dari PLN maupun bukan PLN. Indikator ini diperlukan untuk memantau kecenderungan rumah tangga miskin yang memiliki akses terhadap listrik. Diharapkan dengan adanya akses terhadap listrik maka keluarga tersebut mempunyai kesempatan untuk meningkatkan produktivitas, pendidikan, kesehatan, dan akses informasi.
GAMBAR 1.10 Persentase Rumah Tangga yang Sumber Penerangan Utamanya Listrik (Penduduk 40% Pendapatan Terendah), 2017-2019
Sumber: Susenas Maret, 2017-2019
Pengadaan fasilitas listrik yang menyentuh rumah tangga berpendapatan rendah sudah baik, ditunjukkan oleh peningkatan persentase rumah tangga yang menggunakan penerangan dengan sumber listrik selama tiga tahun terakhir. Secara umum, persentase rumah tangga miskin dan rentan miskin yang sumber penerangan utamanya listrik pada tahun 2019 sebesar 99,40 persen. Angka yang belum mencapai 100 persen ini menunjukkan masih terdapat sekitar 0,6 persen penduduk yang belum menggunakan listrik sebagai sumber penerangan utama.
Perkotaan Perdesaan Aceh 99,16 98,09 98,28 99,53 99,26 99,32 99,84 99,28 99,40 2017 2018 2019
https://aceh.bps.go.id
Jika dilihat antara perkotaan dan perdesaan, rumah tangga dengan sumber penerangan listrik sedikit lebih tinggi di perkotaan dibandingkan di perdesaan. Rumah tangga yang menggunakan sumber penerangan utamanya listrik meningkat baik di perkotaan maupun perdesaan. Peningkatan ini menunjukkan upaya pemerintah dalam menyediakan fasilitas sumber penerangan listrik sudah menjangkau hampir seluruh penduduk.
23
https://aceh.bps.go.id
25
Menjamin Kehidupan yang Sehat dan Meningkatkan
Kesejahteraan Seluruh Penduduk Semua Usia
Pembangunan Berkelanjutan ke-3 bertujuan untuk menjamin kesehatan dan kesejahteraan bagi seluruh penduduk pada setiap tahap kehidupannya. Targetnya adalah untuk meningkatkan kesehatan reproduksi serta kesehatan ibu dan anak, mengakhiri epidemi HIV/AIDS, malaria, TBC dan penyakit tropis, mengurangi penyakit tidak menular dan environmental, mencapai cakupan kesehatan universal, dan menjamin akses universal untuk aman, terjangkau serta obat-obatan dan vaksin yang efektif.
TARGET 3.1 MENGURANGI RASIO ANGKA KEMATIAN IBU HINGGA KURANG DARI 70 PER 100.000 KELAHIRAN HIDUP
INDIKATOR 3.1.2* PROPORSI PEREMPUAN PERNAH KAWIN UMUR 15-49 TAHUN YANG PROSES MELAHIRKAN TERAKHIRNYA DITOLONG OLEH TENAGA KESEHATAN TERLATIH
Tujuan dari indikator ini adalah untuk melihat risiko kematian ibu dan berkaitan dengan capaian Angka Kematian Ibu (AKI). Pertolongan persalinan oleh tenaga terlatih (dokter kandungan, dokter umum, bidan, atau perawat yang sudah terlatih di bidang persalinan) di fasilitas kesehatan menunjukkan kualitas terhadap pelayana kesehatan. Proses kelahiran dinyatakan aman dan memenuhi syarat kesehatan jika sejak awal hingga akhir proses melahirkan ditangani oleh tenaga kesehatan terlatih. Yang tidak termasuk tenaga
kesehatan terlatih seperti dukun beranak/paraji, keluarga/famili, atau proses melahirkan yang dilakukan tanpa pendamping kelahiran. Hal ini penting untuk diperhatikan mengingat penolong kelahiran bayi yang tidak ditangani oleh tenaga kesehatan yang terlatih merupakan salah satu faktor yang menyebabkan tingginya kasus kematian ibu dan bayi.
GAMBAR 3.1 Persentase Persempuan Pernah Kawin Umur 15-49 Tahun yang Proses Melahirkan Terakhirnya Oleh Tenaga Kesehatan Terlatih, 2016-2019
Sumber: Susenas Maret, 2016-2019
Dari Gambar di atas, terlihat bahwa selama empat tahun terakhir terjadi peningkatan persentase perempuan pernah kawin umur 15-49 tahun yang proses kelahiran terakhirnya dibantu tenaga kesehatan terlatih. Pada tahun 2016, terdapat 96,28 persen perempuan pernah kawin yang proses kelahiran terakhirnya dibantu tenaga kesehatan terlatih. Angka ini meningkat cukup signifikan pada tahun 2017 menjadi 97,32 persen. Persentase yang sudah baik ini kembali meningkat 2,48 poin di tahun 2019 menjadi 99,8 persen. Hal ini menunjukkan pemahaman wanita umur 15-49 tahun terhadap pentingnya peran
96,28
97,32 97,57
99,8
2016 2017 2018 2019
27 tenaga kesehatan terlatih dalam membantu proses persalinannya sudah semakin baik.
GAMBAR 3.2 Persentase Perempuan Pernah Kawin Umur 15-49 Tahun Menurut Penolong Kelahiran Terakhir, 2017-2019
Sumber: Susenas Maret, 2017-2019
Jika ditelusuri lebih lanjut, ternyata sebagian besar perempuan pernah kawin umur 15-49 tahun memilih untuk melahirkan dibantu bidan, yaitu sekitar 62,66 persen pada tahun 2019. Penolong kelahiran yang menggunakan jasa dokter kandungan menduduki urutan kedua, yaitu sekitar 34,31 persen. Selain itu terlihat pula terjadi penurunan penolong kelahiran yang dilakukan oleh dukun beranak/paraji yaitu menjadi 1,51 persen setelah sempat cukup tinggi pada tahun 2018 yaitu 2,25 persen. Namun angka ini masih berada di atas dokter umum dan perawat. Pemerintah perlu mengupayakan penekanan angka
62,66 34,31 1,51 0,93 0,39 0,11 63,95 31,30 2,25 1,89 0,43 0,18 68,28 27,51 0,55 0,73 0,79 2,13 Bidan Dokter kandungan Dukun beranak/ paraji Dokter umum Perawat Lainnya
2017 2018 2019
Jasa bidan sebagai penolong kelahiran menurun sedangkan
dokter kandungan meningkat.
penolong kelahiran yang dilakukan oleh dukun beranak/paraji ini dan diarahkan kepada penolong kelahiran bidan, dokter, atau tenaga kesehatan terlatih lainnya melalui penyediaan tenaga kesehatan terlatih yang lebih banyak terutama di daerah yang kekurangan bidan/dokter.
Kemudian dilihat perkembangannya selama tiga tahun terakhir, jasa bidan sebagai penolong kelahiran menurun sekitar 5,54 poin dari tahun 2017 yang mencapai 68,2 persen. Sementara itu, penolong kelahiran yang dilakukan oleh dokter kandungan terus meningkat selama tiga tahun terakhir, mulai dari 27,51 persen pada tahun 2017 meningkat menjadi 31,30 persen pada tahun 2018, kemudian pada tahun 2019 kembali meningkat menjadi 34,31 persen.
INDIKATOR 3.1.2.(A) PERSENTASE PEREMPUAN PERNAH KAWIN UMUR 15-49 TAHUN YANG PROSES MELAHIRKAN TERAKHIRNYA DI FASILITAS KESEHATAN
GAMBAR 3.3 Persentase Perempuan Pernah Kawin Umur 15-49 Tahun yang Proses Melahirkan Terakhirnya di Fasilitas Kesehatan, 2016-2019
Sumber: Susenas Maret, 2016-2019
Tujuan dari indikator ini sama dengan indikator sebelumnya yaitu untuk melihat risiko kematian ibu dan berkaitan dengan capaian Angka Kematian Ibu
80,15 81,57 86,12 88,8 2016 2017 2018 2019 Semakin banyak wanita yang melahirkan di fasilitas kesehatan dalam empat tahun
terakhir.
29 (AKI). Pertolongan persalinan di fasilitas kesehatan menunjukkan kualitas terhadap pelayanan kesejatan, sehingga risiko kematian ibu melahirkan menjadi rendah. Proses kelahiran dinyatakan aman dan memenuhi syarat kesehatan jika dilakukan di fasilitas kesehatan. Yang termasuk dalam fasilitas kesehatan adalah rumah sakit pemerintah/rumah sakit swasta/rumah sakit ibu dan anak, rumah bersalin/klinik, puskesmas, puskesmas pembantu, praktik tenaga kesehatan, dan atau polindes/poskesdes.
Dari Gambar 3.3 di atas, terlihat bahwa perempuan pernah kawin usia 15-49 tahun yang melakukan proses kelahiran di fasilitas kesehatan semakin meningkat selama empat tahun terakhir. Pada tahun 2019, sudah terdapat sekitar 88,8 persen perempuan pernah kawin pernah kawin yang melahirkan di fasilitas kesehatan.
GAMBAR 3.4 Persentase Perempuan Pernah Kawin Umur 15-49 Tahun Menurut Tempat Melahirkan Terakhir, 2019
Sumber: Susenas Maret, 2019
Dilihat menurut tempat melahirkannya, perempuan pernah kawin umur 15-49 tahun terbanyak memilih RS Pemerintah/ RS Swasta/RS Ibu dan Anak sebagai tempat melahirkannya yaitu mencapai 37,6 persen. Angka ini diikuti
RS Pemerintah/ RS Swasta/RSIA; 37,6 RS Bersalin/klinik; 20,5 Puskesmas; 8,2 Pustu; 2,5 Praktik nakes; 10,1 Polindes/Poskes des; 9,9 Rumah; 10,7 Lainnya; 0,5
https://aceh.bps.go.id
oleh perempuan pernah kawin yang melahirkan di RS Bersalin/klinik sebesar 20,5 persen. Tempat melahirkan biasanya dipilih sesuai tingkat kenyamanan dan kebutuhan ibu melahirkan. Selain itu, akses ke fasilitas kesehatan juga menentukan pilihan perempuan pernah kawin untuk tempat melahirkannya. Masih terdapat 10,7 persen perempuan pernah kawin yang melahirkan di rumah. Hal ini mungkin disebabkan oleh kebiasaan turun-temurun untuk melahirkan di rumah hingga akses sulit untuk ke fasilitas kesehatan menjadi alasan pilihan tersebut.
Untuk meminimalisir kasus kematian ibu dan anak, pemerintah memberikan himbauan kepada masyarakat untuk melahirkan di fasilitas kesehatan. Tujuan dari himbauan ini adalah agar ibu hamil dan bayi dapat secara cepat dan tepat mendapatkan fasilitas kesehatan yang bersih dan aman. Selain itu juga, agar ibu hamil dan bayi mendapat pertolongan dan pelayanan dari tenaga kesehatan yang siap di tempat. Hal ini akan mengurangi kemungkinan terjadinya komplikasi persalinan. Perempuan pernah kawin yang melahirkan juga akan merasa lebih nyaman karena peralatan dan tenaga kesehatan yang tersedia di fasilitas kesehatan.
TARGET 3.8 MENCAPAI CAKUPAN KESEHATAN UNIVERSAL, TERMASUK PERLINDUNGAN RISIKO KEUANGAN, AKSES TERHADAP PELAYANAN KESEHATAN DASAR YANG BAIK, DAN AKSES TERHADAP OBAT-OBATAN DAN VAKSIN DASAR YANG AMAN, EFEKTIF, BERKUALITAS, DAN TERJANGKAU BAGI SEMUA ORANG INDIKATOR 3.8.1.(A) UNMET NEED PELAYANAN KESEHATAN
Unmet need pelayanan kesehatan merupakan persentase penduduk yang mengalami keluhan kesehatan dan terganggu aktivitasnya tetapi tidak berobat jalan. Aktivitas yang dimaksud meliputi aktivitas penduduk sehari-hari
31 seperti bekerja, bersekolah atau kegiatan sehari-hari lainnya. Indikator ini merupakan proksi untuk melihat cakupan penduduk yang seharusnya berobat ketika sakit, namun pada kenyataannya tidak berobat. Hal ini dapat disebabkan oleh berbagai hal seperti; tidak punya biaya berobat, tidak ada biaya transport, tidak ada sarana transportasi, waktu tunggu pelayanan yang lama, atau alasan lainnya.
GAMBAR 3.5 Unmet Need Pelayanan Kesehatan, 2017-2019
Sumber: Susenas Maret, 2017-2019
Unmet need kesehatan mengalami penurunan pada tahun 2019 walau sempat meningkat dari 3,62 pada tahun 2017 menjadi 4,53 pada tahun 2018. Pada tahun 2019, terjadi penurunan 0,17 poin menjadi sekitar 4,36 persen penduduk yang tidak berobat jalan ketika mengalami keluhan kesehatan yang mengganggu aktivitas sehari-harinya.
Menurut tempat tinggalnya, angka ini juga menurun dari tahun sebelumnya baik penduduk yang tinggal di perdesaan maupun perkotaan. Penduduk yang tidak berobat ketika mengalami keluhan sedikit lebih tinggi di daerah perdesaan dibandingkan perkotaan. Penurunan ini menunjukkan
3,74
3,57 3,62
4,43 4,57 4,53
4,15 4,46 4,36
Perkotaan Perdesaan Aceh 2017 2018 2019
Penduduk yang tidak berobat ketika mengalami keluhan kesehatan menurun dari
tahun sebelumnya.
kesadaran penduduk akan pentingnya memeriksakan kesehatan ke tenaga kesehatan semakin baik.
TARGET 3.A MEMPERKUAT PELAKSANAAN THE FRAMEWORK CONVENTION WHO DI SELURUH NEGARA SEBAGAI LANGKAH YANG TEPAT INDIKATOR 3.A.1* PERSENTASE MEROKOK PADA PENDUDUK UMUR 15 TAHUN
KE ATAS
GAMBAR 3.6 Persentase Merokok Pada Penduduk Umur 15 Tahun Ke Atas, 2015-2019
Sumber: Susenas Maret, 2015-2019 *data tahun 2018 tidak tersedia
Indikator ini berfungsi sebagai proksi untuk memonitor pelaksanaan Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) WHO di Indonesia, dimana prevalensi tinggi penduduk yang merokok dapat berisiko terhadap kondisi kesehatan masyarakat. Data tahun 2018 tidak tersedia karena pertanyaan mengenai kesehatan sudah tercakup dalam Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) yang dilaksanakan oleh Kementerian Kesehatan pada bulan April 2018.
Pada tahun 2017, persentase penduduk umur di atas 15 tahun yang merokok mengalami peningkatan dibanding tahun sebelumnya, yaitu dari 28,16
29,82 28,16 28,85 22,26 2015 2016 2017 2019 1 dari 4 penduduk Aceh ≥ 15 tahun merupakan perokok.
https://aceh.bps.go.id
33 persen pada tahun 2016 menjadi 28,85 persen. Angka ini menurun di tahun 2019 menjadi 22,26 persen yang berarti bahwa terdapat 1 dari sekitar 5 orang penduduk umur 15 tahun ke atas yang merokok. Angka ini cukup tinggi, mengingat sangat banyak penyakit yang akan timbul sebagai akibat dari merokok.
35
https://aceh.bps.go.id
37
Menjamin Kualitas Pendidikan yang Inklusif dan
Merata Serta Meningkatkan Kesempatan Belajar
Sepanjang Hayat Untuk Semua
Pembangunan Berkelanjutan ke-4 bertujuan untuk menjamin dan memastikan bahwa semua orang memiliki akses terhadap pendidikan yang berkualitas dan memiliki kesempatan belajar yang merata selama hidupnya. Tujuan ini berfokus pada perolehan keterampilan dasar dan tinggi di semua jenjang pendidikan, akses yang lebih besar dan lebih adil terhadap pendidikan berkualitas di semua jenjang, termasuk pendidikan teknis dan kejuruan, dan pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai yang dibutuhkan untuk berfungsi dan berkontribusi dengan baik dalam kehidupan sosial.
TARGET 4.1 MENJAMIN BAHWA SEMUA ANAK PEREMPUAN DAN LAKI-LAKI MENYELESAIKAN SD-SMP TANPA DIPUNGUT BIAYA, SETARA, DAN BERKUALITAS, YANG MENGARAH PADA CAPAIAN PEMBELAJARAN YANG RELEVAN DAN EFEKTIF
INDIKATOR 4.1.1.(D) ANGKA PARTISIPASI KASAR (APK) SD/MI/SEDERAJAT
Indikator ini bertujuan untuk menunjukkan berapa besar tingkat partisipasi penduduk pada suatu tingkat pendidikan. Selain itu juga dapat menunjukkan berapa besar kapasitas sistem pendidikan dapat menampung siswa dari kelompok usia sekolah tertentu. APK merupakan indikator yang
paling sederhana untuk mengukur daya serap penduduk usia sekolah di masing-masing jenjang pendidikan.
GAMBAR 4.1 Angka Partisipasi Kasar (APK) SD/MI/sederajat, 2017-2019
Sumber: Susenas Maret 2017-2019
Selama tiga tahun terakhir, Angka Partisipasi Kasar (APK) SD/MI/sederajat sempat mencapai angka 113,85 pada tahun 2018 namun kembali turun menjadi 109,93 pada tahun 2019. Walaupun mengalami penurunan, namun dilihat menurut jenis kelamin maupun menurut wilayah tempat tinggalnya, APK SD/MI/sederajat masih konsisten melebihi angka seratus. Hal ini dapat disebabkan oleh adanya siswa yang bukan berusia sekolah dasar (7-12 tahun) yang sedang menempuh pendidikan di jenjang SD/MI/sederajat. Orang tua terkadang mendaftarkan anak yang belum mencapai umur tujuh tahun langsung ke sekolah dasar tanpa melewati PAUD terlebih dahulu.
Selain itu, biasanya anak yang memulai pendidikan usia dini pada umur lima tahun hanya mengikuti pendidikan di jenjang tersebut selama satu tahun. Selanjutnya orang tua cenderung memilih untuk mendaftarkan anaknya lanjut
110,75 109,85 107,94 111,26 110,31 114,09 113,61 111,74 114,77 113,85 110,29 109,55 109,52 110,12 109,93
Laki-laki Perempuan Perkotaan Perdesaan
Jenis Kelamin Klasifikasi Wilayah Aceh
2017 2018 2019 Penyerapan penduduk usia sekolah pada tingkat SD/MI/sederajat sudah baik.
https://aceh.bps.go.id
39 ke sekolah dasar dibandingkan berlama-lama mengenyam pendidikan pra sekolah untuk anaknya. Oleh karena itu, APK SD/MI/sederajat yang mencapai 109,93 pada tahun 2019 menunjukkan bahwa kapasitas sistem pendidikan dasar sudah cukup untuk menampung siswanya.
INDIKATOR 4.1.1.(E) ANGKA PARTISIPASI KASAR (APK) SMP/MTs/SEDERAJAT,
GAMBAR 4.2 Angka Partisipasi Kasar (APK) SMP/MTs/sederajat, 2017-2019
Sumber: Susenas Maret 2017-2019
APK SMP/MTs/sederajat menggambarkan daya serap penduduk umur 13-15 tahun pada tingkat pendidikan SMP/MTs/sederajat. APK SMP/MTs/sederajat sebesar 97,42 persen pada tahun 2019 atau lebih rendah dibandingkan APK SD/MI/sederajat. Tahun 2019, APK SMP/MTs/sederajat turun 1,88 poin persen dibandingkan tahun 2018. Serupa dengan APK SD/MI/sederajat, terlihat adanya penurunan partisipasi sekolah pada jenjang SMP/MTs/sederajat. Jika dilihat menurut wilayah tempat tinggal, APK pada tingkat pendidikan SMP/MTs/sederajat di perkotaan lebih tinggi dibandingkan di daerah perdesaan.
100,61 96,69 97,24 99,36 98,74 100,2 98,35 100,48 98,82 99,3 99,26 95,55 99,29 96,65 97,42
Laki-laki Perempuan Perkotaan Perdesaan
Jenis Kelamin Klasifikasi Wilayah Aceh
2017 2018 2019 APK laki-laki cenderung lebih tinggi dibandingkan perempuan.
https://aceh.bps.go.id
Kemudian berdasarkan jenis kelamin, partisipasi perempuan lebih rendah dibandingkan APK laki-laki pada jenjang ini.
INDIKATOR 4.1.1.(F) ANGKA PARTISIPASI KASAR (APK) SMA/SMK/MA/ SEDERAJAT
GAMBAR 4.3 Angka Partisipasi Kasar (APK) SMA/SMK/MA/sederajat, 2017-2019
Sumber: Susenas Maret 2017-2019
Indikator ini mengukur kemudahan akses bagi penduduk terutama remaja usia sekolah dalam menempuh pendidikan di tingkat SMA/MA/sederajat. APK untuk jenjang sekolah SMA/MA/sederajat nilainya dibawah seratus. Hal ini menjelaskan bahwa tidak semua penduduk usia 16-18 tahun sedang mengenyam pendidikan pada jenjang tersebut, kemungkinan sisanya sedang sekolah pada jenjang pendidikan di bawah atau di atasnya.
Selama tahun 2017-2019, APK SMA/MA/sederajat cenderung fluktuatif. APK pada jenjang ini meningkat 5,29 poin pada tahun 2019 dibanding tahun sebelumnya. Dilihat menurut jenis kelamin dan wilayah tempat tinggalnya, APK
82,31 92,86 94,59 84,5 87,52
82,6 87,1 93,02 81,09 84,8
88,66 91,65
97,86
86,21 90,09
Laki-laki Perempuan Perkotaan Perdesaan
Jenis Kelamin Klasifikasi Wilayah Aceh
2017 2018 2019
41 SMA/MA/sederajat juga mengalami peningkatan di tahun 2019. Peningkatan yang signifikan terjadi pada APK SMA/MA/sederajat jenis kelamin laki-laki, yaitu dari 82,6 persen di tahun 2018 menjadi 88,66 persen di tahun 2019.
Di sisi lain, perbedaan APK SMA/MA/sederajat antar wilayah tempat tinggal juga cukup signifikan, pada tahun 2019 APK SMA/MA/sederajat di wilayah perkotaan adalah 97,86 persen sedangkan di wilayah perdesaan hanya 86,21 persen. Diperlukan perhatian pemerintah daerah untuk mengevaluasi kebijakan yang sedang dilakukan di perdesaan, agar APK SMA/MA/sederajat antara perkotaan dan perdesaan menjadi lebih seimbang.
INDIKATOR 4.1.1.(G) RATA-RATA LAMA SEKOLAH PENDUDUK UMUR ≥15 TAHUN
GAMBAR 4.4 Rata-rata Lama Sekolah Penduduk Usia 15 Tahun Ke Atas Menurut Jenis Kelamin dan Klasifikasi Wilayah, 2017-2019
Sumber: Statistik Pendidikan, 2017-2019
Kualitas penduduk dalam hal mengenyam pendidikan formal dapat dilihat dari capaian Rata-rata Lama Sekolah (RLS). Tingginya Rata-rata lama
9,64 9,2 10,85 8,79 9,42 9,7 9,22 10,89 8,8 9,46 9,79 9,4 11,03 8,89 9,59
Laki-laki Perempuan Perkotaan Perdesaan
Jenis Kelamin Klasifikasi Wilayah Aceh
2017 2018 2019
sekolah menunjukkan jenjang pendidikan yang pernah/sedang diduduki seseorang. Semakin tinggi RLS maka semakin lama/tinggi jenjang pendidikan yang ditamatkannya.
Pada tahun 2017-2019, capaian rata-rata lama sekolah di Indonesia meningkat setiap tahunnya. Selama tiga tahun terakhir, jenjang pendidikan yang rata-rata pernah/sedang diduduki penduduk Aceh adalah sama yaitu sekitar kelas tiga SMP.
Dilihat dari perbandingan antara pendidikan laki-laki dengan perempuan, rata-rata lama sekolah penduduk laki-laki sedikit lebih lama dibandingkan perempuan. Yang cukup menjadi perhatian adalah capaian rata-rata lama sekolah penduduk 15 tahun ke atas antara perkotaan dan perdesaan. Rata-rata lama sekolah di perkotaan jauh lebih tinggi dibandingkan dengan perdesaan. Penduduk perkotaan rata-rata telah menyelesaikan pendidikan hingga kelas 11 atau kelas dua SMA/MA/sederajat. Di sisi lain, penduduk perdesaan rata-rata hanya bersekolah sampai kelas dua atau kelas tiga SMP/MTs/sederajat. Walaupun angka ini sudah tinggi, namun ini menunjukkan bahwa kesempatan belajar mengenyam pendidikan formal antar wilayah tidak merata. Pemerintah daerah diharapkan dapat memberikan perhatian lebih untuk pendidikan di wilayah perdesaan agar terjadi pemerataan pendidikan di Provinsi Aceh.
TARGET 4.2 MENJAMIN BAHWA SEMUA ANAK PEREMPUAN DAN LAKI-LAKI
MEMILIKI AKSES TERHADAP PERKEMBANGAN DAN
PENGASUHAN ANAK USIA DINI, PENGASUHAN, PENDIDIKAN PRA-SEKOLAH DASAR YANG BERKUALITAS, SEHINGGA MEREKA SIAP UNTUK MENEMPUH PENDIDIKAN DASAR
INDIKATOR 4.2.2.(A) ANGKA PARTISIPASI KASAR (APK) ANAK YANG MENGIKUTI PENDIDIKAN ANAK USIA DINI (PAUD)
43 PAUD adalah pendidikan prasekolah yang biasa ditempuh anak sebagai langkah awal menuju sekolah sebelum memasuki jenjang sekolah dasar. Sehingga anak memiliki modal pendidikan dalam rangka persiapan untuk memasuki jenjang pendidikan SD/MI/sederajat. Jenis prasekolah yang termasuk antara lain: taman kanak-kanak, busthanul athfal/raudhatul athfal, PAUD terintegrasi BKB/Taman Posyandu, PAUD-TAAM, PAUD-PAK, PAUD-BIA, TKQ, kelompok bermain, dan taman penitipan anak.
GAMBAR 4.5 APK Anak 3-6 Tahun yang Mengikuti PAUD Menurut Klasifikasi Wilayah dan Jenis Kelamin, 2017-2019
Sumber: Statistik Pendidikan, 2017-2019
APK PAUD mengalami peningkatan selama tahun 2017-2018, sedangkan pada tahun 2019 tetap stabil. Secara umum, anak usia 3-6 tahun yang mengikuti PAUD masih belum banyak di Indonesia. Pada tahun 2019, APK PAUD telah mencapai 31,76 persen. Artinya bahwa hanya sekitar satu dari tiga anak usia 3-6 tahun yang mengikuti pendidikan PAUD. Dari Gambar 4.5 terlihat bahwa anak yang mengikuti PAUD cenderung lebih tinggi yang berjenis kelamin perempuan. Sementara itu, berdasarkan daerah tempat tinggal, disparitas antara perkotaan
26,8 27,83 33,27 24,9 27,31 29,67 33,97 35,16 30,19 31,76 31,26 32,27 32,13 31,59 31,76
Laki-laki Perempuan Perkotaan Perdesaan
Jenis Kelamin Klasifikasi Wilayah Aceh
2017 2018 2019
dan perdesaan mengecil dimana APK PAUD di perkotaan sedikit lebih besar dibandingkan di perdesaan (32,13 persen berbanding 31,59 persen). Meningkatnya partisipasi anak usia 3-6 tahun yang mengikuti PAUD menunjukkan akses dan fasilitas untuk pelayanan PAUD yang semakin baik di wilayah perdesaan.
TARGET 4.3 MENJAMIN AKSES YANG SAMA BAGI SEMUA PEREMPUAN DAN LAKI-LAKI, TERHADAP PENDIDIKAN TEKNIK, KEJURUAN DAN PENDIDIKAN TINGGI, TERMASUK UNIVERSITAS, YANG TERJANGKAU DAN BERKUALITAS
INDIKATOR 4.3.1.(A) ANGKA PARTISIPASI KASAR (APK) SMA/SMK/MA/ SEDERAJAT
Sama dengan indikator 4.1.1.(f), sehingga penjelasannya dapat dilihat pada indikator 4.1.1.(f).
INDIKATOR 4.3.1. (B) ANGKA PARTISIPASI KASAR (APK) PERGURUAN TINGGI (PT)
Selama tahun 2017-2018, APK Perguruan Tinggi usia 19-24 tahun menurun dari 37,85 persen di tahun 2017 menjadi 36,61 persen di tahun 2018. Angka ini sedikit meningkat menjadi 36,77 persen di tahun 2019. Penurunan dan rendahnya APK perguruan tinggi tersebut menunjukkan masih sulitnya akses pendidikan di tingkat perguruan tinggi bagi penduduk. Padahal tujuan pembangunan berkelanjutan memiliki program untuk terus meningkatkan kesempatan belajar, salah satunya di pendidikan tinggi. Dalam hal ini, pemerintah Aceh perlu mengupayakan peningkatan akses di perguruan tinggi.
45 GAMBAR 4.6 Angka Partisipasi Kasar (APK) Perguruan Tinggi (19-24 Tahun),
2017-2019
Sumber: Statistik Pendidikan, 2017-2019
Dari gambar di atas, terlihat bahwa APK Perguruan Tinggi di wilayah perdesaan masih sangat jauh tertinggal. Pada tahun 2019, APK Perguruan Tinggi di perkotaan sebesar 60,79 persen, sedangkan di perdesaan hanya sebesar 23,55 persen. Kondisi ini menandakan belum terjaminnya kualitas pendidikan yang merata di tingkat perguruan tinggi. Di sisi lain, terjadi pula perbedaan capaian APK Perguruan Tinggi antara laki-laki dengan perempuan. Pada tahun 2019, APK Perguruan Tinggi laki-laki sebesar 33,29 persen sedangkan APK Perguruan Tinggi perempuan sebesar 40,33 persen. Hal ini menunjukkan partisipasi perempuan pada tingkat pendidikan Perguruan Tinggi lebih tinggi dibandingkan laki-laki. 34,6 41,17 58,45 27,82 37,85 33,47 39,87 60,54 24,05 36,61 33,29 40,33 60,79 23,55 36,77
Laki-laki Perempuan Perkotaan Perdesaan
Jenis Kelamin Klasifikasi Wilayah Aceh
2017 2018 2019
TARGET 4.4 MENINGKATKAN SECARA SIGNIFIKAN JUMLAH PEMUDA DAN ORANG DEWASA YANG MEMILIKI KETERAMPILAN YANG RELEVAN, TERMASUK KETERAMPILAN TEKNIK DAN KEJURUAN,
UNTUK PEKERJAAN, PEKERJAAN YANG LAYAK DAN
KEWIRAUSAHAAN
INDIKATOR 4.4.1 PROPORSI REMAJA/DEWASA DENGAN KETERAMPILAN TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMPUTER (TIK)
Akses masyarakat terhadap komunikasi dan informasi dapat dicerminkan melalui jumlah masyarakat yang mengakses internet. Persentase penduduk Aceh usia di atas lima tahun yang mengakses internet selama tahun 2016-2019 terus meningkat. Pada tahun 2019 sebesar 35,6 persen penduduk sudah mengakses internet. Angka ini meningkat dibandingkan tahun 2018 yaitu sebesar 30,69 persen. Kondisi ini menjadi cerminan positif bagi pemerintah Aceh dengan terus meningkatnya jumlah penduduk yang mengakses internet.
GAMBAR 4.7 Persentase Penduduk Usia Di Atas 5 Tahun yang Mengakses Internet, 2016-2019
Sumber: Susenas Maret 2016-2019
18,24 24,44 33,43 39,23 16,42 21,29 27,98 32,01 17,32 22,86 30,69 35,6 2016 2017 2018 2019
Laki-laki Perempuan Aceh
47 Namun jumlah tersebut masih terbilang rendah, hanya tiga sampai 4 orang dari sepuluh penduduk Aceh yang memiliki akses terhadap internet. Seiring perkembangan dunia digital saat ini, keterbukaan informasi dan komunikasi menjadi peluang untuk masuk dalam revolusi industri. Mengakses internet sebagai sarana meningkatkan relasi dan kapasitas diri menjadi kunci keberhasilan yang dapat dipetik dari lahirnya transformasi digital.
GAMBAR 4.8 Persentase Penduduk Remaja (Umur 15-24 Tahun) dan Dewasa (Umur 15-59) yang Menggunakan Internet, 2017-2019
Sumber: Susenas Maret, 2017-2019
46,77 38,98 62,43 69,01 62,21 82,19 40,47 31,91 58,51 62,96 54,53 80,03 30,56 23,13 47,29 51,78 43,19 70,49 Aceh Perdesaan Perkotaan Aceh Perdesaan Perkotaan 15 -5 9 T ah u n 15 -2 4 T ah u n 2017 2018 2019
https://aceh.bps.go.id
Menurut jenis kelamin, persentase laki-laki yang mengakses internet lebih tinggi dibandingkan perempuan. Di era saat ini, sudah banyak kegiatan perekonomian atau bisnis yang berbasis dunia digital. Misalnya, masyarakat sudah tidak perlu lagi keluar rumah untuk mendapatkan penghasilan. Terutama bagi perempuan yang kegiatan sehari-harinya mengurus rumah tangga dapat mengejar peluang dengan memanfaatkan internet sebagai media usahanya.
Proporsi remaja (umur 15-24 tahun) dan dewasa (umur 15-59 tahun) yang mengakses internet menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun. Hal ini sejalan dengan teknologi yang terus berkembang di bidang teknologi dan informasi. Remaja yang mengakses internet pada tahun 2019 tercatat 69,01 persen, meningkat sekitar enam poin dari tahun sebelumnya. Angka ini seharusnya bisa lebih tinggi mengingat jumlah remaja di Aceh cukup besar namun ketersediaan infrastruktur untuk menunjang penggunaan internet belum merata.
Ditinjau menurut daerah tempat tinggal, persentase remaja yang mengakses internet di perkotaan jauh lebih tinggi dibandingkan di perdesaan. Hal ini dapat terjadi karena infrastruktur yang ada di perdesaan belum memadai dalam hal akses terhadap internet. Walaupun demikian, penduduk remaja yang mengakses internet di perdesaan tahun 2019 mengalami peningkatan lebih tinggi dibandingkan di perkotaan. Tren ini diharapkan terus terjadi pada tahun-tahun berikutnya sehingga menurunkan kesenjangan akses internet antara perkotaan dan perdesaan.
Dari Gambar 4.8 juga dapat dilihat bahwa penduduk umur 15-59 tahun yang mengakses internet lebih kecil dibandingkan remaja umur 15-24 tahun. Hal ini dipengaruhi faktor usia dimana akses internet lebih dominan dijumpai pada kelompok umur muda. Pada tahun 2019, sebanyak 46,77 persen penduduk usia dewasa mengakses internet dengan persentase yang lebih tinggi di perkotaan dibandingkan di perdesaan.
49
TARGET 4.5 MENGHILANGKAN DISPARITAS GENDER DALAM PENDIDIKAN, DAN MENJAMIN AKSES YANG SAMA UNTUK SEMUA TINGKAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEJURUAN, BAGI MASYARAKAT RENTAN TERMASUK PENYANDANG CACAT, MASYARAKAT PENDUDUK ASLI, DAN ANAK-ANAK DALAM KONDISI RENTAN INDIKATOR 4.5.1 RASIO ANGKA PARTISIPASI MURNI (APM)
PEREMPUAN/LAKI-LAKI DI: (1) SD/MI/SEDERAJAT; (2) SMP/ MTS/ SEDERAJAT; (3) SMA/ SMK/ MA/ SEDERAJAT; DAN RASIO ANGKA PARTISIPASI KASAR (APK) (4) PERGURUAN TINGGI PEREMPUAN/ LAKI-LAKI
Indikator kesempatan memperoleh pendidikan antara perempuan dan laki-laki diukur dari rasio APM yang menunjukkan kesetaraan dan keadilan gender di bidang pendidikan. Pendidikan adalah salah satu aspek penting dari pembangunan manusia. Menurunkan ketimpangan gender di semua jenjang pendidikan akan meningkatkan status dan kemampuan perempuan dan laki-laki. Angka Partisipasi Murni (APM) adalah proporsi penduduk pada kelompok umur tertentu yang masih bersekolah terhadap penduduk pada kelompok umur tersebut. APM mengukur ketepatan usia penduduk dalam berpartisipasi untuk mengenyam suatu jenjang pendidikan tertentu. Angka Partisipasi Murni (APM) SD/MI/sederajat menunjukkan partisipasi sekolah penduduk usia sekolah (7-12 tahun) yang besekolah di SD/MI/sederajat.
Rasio APM SD/MI/sederajat membandingkan antara capaian APM SD/MI/sederajat penduduk berjenis kelamin perempuan dengan capaian APM SD/MI/sederajat penduduk laki-laki. Jika rasionya mencapai angka 100, mengindikasikan bahwa adanya kesetaraan antara capaian APM perempuan dan laki-laki.
GAMBAR 4.9 Rasio Angka Partisipasi Murni (APM) Perempuan/Laki-laki di SD/MI/sederajat, 2016-2019
Sumber: Susenas Maret 2016-2019
Pada tahun 2016, rasio APM perempuan/laki-laki di Aceh sebesar 99,13 persen. Artinya, capaian APM SD/MI/sederajat perempuan lebih rendah jika dibandingkan laki-laki. Dilihat perkembangannya selama empat tahun terakhir, APM SD/MI/sederajat perempuan selalu di bawah 100 persen yang menunjukkan bahwa APM SD/MI/sederajat perempuan lebih rendah dari laki-laki. Pada tahun 2019, rasio ini meningkat mencapai 99,68 persen dibandingkan tahun sebelumnya 99,64 persen. Angka ini menunjukkan partisipasi dalam menempuh pendidikan SD/MI/sederajat terus menuju keseimbangan.
99,13 99,94 99,64 99,68 2016 2017 2018 2019 Pada tahun 2019, gap capaian APM SD/sederajat antara
perempuan/laki-laki semakin kecil.
51 98,99 98,34 100,13 98,55 2016 2017 2018 2019
GAMBAR 4.10 Rasio Angka Partisipasi Murni (APM) Perempuan/Laki-laki di SMP/MTs/sederajat, 2016-2019
Sumber: Susenas Maret 2016-2019
Pada tahun 2016, rasio APM perempuan/laki-laki di Aceh sebesar 98,99 persen. Artinya, capaian APM SMP/MTs/sederajat perempuan lebih rendah jika dibandingkan laki-laki. Jika dilihat perkembangannya selama tahun 2016-2019, Rasio APM perempuan/laki-laki di SMP/MTs/sederajat di Aceh terlihat berfluktuasi. Pada tahun 2017, rasio APM perempuan/laki-laki di tingkat SMP/MTs/sederajat sebesar 98,34 persen, meningkat cukup cepat menjadi 100,13 persen pada tahun 2018, kembali turun di tahun 2019 menjadi 98,55 persen. Hal ini menunjukkan bahwa partisipasi perempuan dibandingkan laki-laki dalam mengenyam pendidikan SMP/MTs/sederajat yang sudah cukup seimbang di tahun 2018 kembali menunjukkan kesenjangan. Pemerintah perlu mengevaluasi kembali kebijakan yang sudah dilakukan di tahun 2019 untuk mengurangi kesenjangan ini.
Pada tahun 2019, gap capaian APM SMP/sederajat antara
perempuan/laki-laki semakin besar.