UJI SENSITIVITAS DAN RESISTENSI BAKTERI Streptococcus mutans PENYEBAB KARIES GIGI TERHADAP BEBERAPA ANTIBIOTIK SECARA
IN VITRO DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH (RSUD) HAJI MAKASSAR
SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Meraih Gelar Sarjana Farmasi Jurusan FarmasiPadaFakultas
Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Alauddin Makassar
Oleh
FANY FADYLA HASRUL NIM 70100112069
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR
ii
NIM : 70100112069
Tempat Tgl Lahir : Jeneponto, 4 Juni 1994 Jurusan : Farmasi
Alamat : Btn. Pao-pao permai blok.A1/10
Judul : Uji resistensi bakteri Streptococcus mutans penyebab karies gigi terhadap beberapa antibiotik secara in vitro di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Haji Makassar.
Menyatakan dengan penuh kesadaran bahwa skripsi ini benar adalah hasil karya penulis sendiri. Jika di kemudian hari terbukti bahwa ia merupakan duplikat, tiruan, plagiat, atau dibuat oleh orang lain, sebagian atau seluruhnya, maka skripsi dan gelar yang diperoleh karenanya batal demi hukum.
Samata-Gowa, 11 Mei 2016
Penyusun,
FANY FADYLA HASRUL
(RSU) Haji Makassar
Mahasiswa Jurusan Farmasi pada Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar, telah
Ujian Munaqasyah yang diselenggarakan pada hari bertepatan dengan tanggal
sebagai salah satu syarat u Ilmu Kesehatan, Jurusan Farmasi.
Ketua : Dr. dr. H. Andi Armyn Nurdin, M.Sc.
Sekretaris : Dr. Mukhtar Lutfi, M.Pd
Pembimbing I : Hj. Gemy nastity handayany, S.Si., M.Si., Apt.
Pembimbing II : Asr
Penguji I : Andi Tenriugi, S.Si., M.Si. Penguji II : Hj. Fatimah Irfan Idris S.Ag.
iii
(RSU) Haji Makassar” yang disusun oleh Fany Fadyla Hasrul , NIM:
usan Farmasi pada Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar, telah diuji dan dipertahankan dalam
yang diselenggarakan pada hari Selasa, 18 Maret 2
tanggal 18 Jumadil Akhir 1436 H, dinyatakan telah dapat diterima sebagai salah satu syarat untuk meraih gelar Sarjana dalam Fakultas Kedokteran dan
Jurusan Farmasi.
Samata-Gowa,
18 Jumadil Akhir 1436 H
DEWAN PENGUJI
Dr. dr. H. Andi Armyn Nurdin, M.Sc.
Dr. Mukhtar Lutfi, M.Pd.
: Hj. Gemy nastity handayany, S.Si., M.Si., Apt. Asrul Ismail, S.Farm., M.Sc., Apt.
Andi Tenriugi, S.Si., M.Si. Hj. Fatimah Irfan Idris S.Ag.
Diketahui oleh :
Dekan Fakultas Kedokteran dan Ilmu UIN Alauddin Makassar
Dr. dr. H. Andi Armyn Nurdin NIP. 19550203 198312 1 001
NIM: 70100112069, usan Farmasi pada Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan diuji dan dipertahankan dalam Selasa, 18 Maret 2016 M yang H, dinyatakan telah dapat diterima ntuk meraih gelar Sarjana dalam Fakultas Kedokteran dan
Gowa, 18 Maret 2016 M Jumadil Akhir 1436 H
(...) (...) : Hj. Gemy nastity handayany, S.Si., M.Si., Apt. (...) (...) (...) (...)
Dekan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
iv
ini dapat terselesaikan tepat pada waktunya. Rasa syukur yang tiada terhingga kepadaNya atas segala hidayah dan karunia yang penulis dapatkan.
Salam dan shalawat senantiasa penulis kirimkan kepada junjungan utusan Allah, nabi besar Muhammad saw, keluarga, dan para sahabat yang telah memberi kontribusi besar dalam memperjuangkan dan menyebarkan agama islam di muka bumi ini. Semoga kita menjadi umatnya yang taat.
Skripsi ini dibuat sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar ‘sarjana’ di bidang pendidikan Sarjana. Besar harapan penulis agar skripsi ini dapat dijadikan sebagai penunjang ilmu pengetahuan kedepannya dan bermanfaat bagi banyak orang. Banyak terima kasih penulis haturkan kepada semua pihak yang telah membantu selama penulis menjalani pendidikan kuliah hingga rampungnya skripsi ini.
Terima kasih yang setulusnya kepada kedua orang tua penulis yaitu ayahanda Hasrul lewa S.Pd dan ibunda Roswati N atas segala do’a, kesabaran, kegigihan, serta pengorbanan yang diberikan dalam membesarkan dan mendidik penulis hingga saat ini. Kepada kakak tercinta penulis, Fery Fadly Hasrul S.HI, dan Fajar Fajrin Hasrul S.Pd yang telah memeberikan do’a dan semangat kepada penulis. Kepada semua keluarga besar, teman-teman penulis yaitu Yuschaidir setiawan, Muhammad ikram hasbi, Rifai Arfan, Eka safitri, A. Tantri nurul mukmin, Ardiansah S.Farm., Apt. dan teman yang lain yang selalu memberi semangat dan dorongan kalian sehingga penulis dapat dengan gigih menyelesaikan skripsi ini.
Terima kasih pula kepada Bapak/ Ibu :
1. Prof. Dr. Musafir Pababbari, M.Si., selaku Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar.
2. Dr. dr. H. Andi Armyn Nurdin, M.Sc., sebagai Dekan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan serta para wakil dekan FKIK UIN Alauddin Makassar.
3. Haeria, S.Si., M.Si., selaku Ketua Jurusan Farmasi FKIK UIN Alauddin Makassar.
4. Mukhriani, S.Si., M.Si., Apt., selaku Sekretaris Jurusan Farmasi FKIK UIN Alauddin Makassar.
5. Hj. Gemy Nastity Handayany, S.Si., M.Si., Apt., selaku pembimbing I bagi penulis yang senantiasa dengan sabar memberi arahan dan bimbingannya kepada penulis.
6. Asrul Ismail, S.Farm., M.Sc., Apt., selaku pembimbing II penelitian bagi penulis yang sangat banyak memberi saran dan arahan selama penelitian.
7. Andi Tenriugi, S.Si., M.Si. selaku penguji kompetensi dalam penyusunan skripsi penelitian bagi penulis.
8. Hj. Fatimah Irfan Idris M.Ag, selaku pembimbing agama dalam penyusunan skripsi penelitian bagi penulis.
9. Dosen dan seluruh staf jurusan Farmasi beserta laboran atas bantuan dan kerjasamanya yang diberikan kepada penulis saat melaksanakan penelitian. 10. Keluarga besar Mahasiswa Jurusan Farmasi UIN Alauddin Makassar,
rekan-rekan angkatan 2005, 2006, 2007, 2008, 2009, 2010, 2011, 2012, 2013, 2014 dan 2015 atas segala bantuan selama penulis menempuh pendidikan.
11. Sahabat-sahabat penulis: Ardiansah S.Farm., Apt., Syamsul Rizal, S.Kep, Yuschaidir setiawan, Muhammad ikram hasbi, Rifai Arfan, Eka safitri, A. Tantri nurul mukmin, Mulyanti, Muhammad darwis dan lainnya yang tidak dapat disebutkan satu persatu.
12. Semua pihak yang tidak sempat tersebutkan namanya satu-persatu, terima kasih atas perhatian dan bantuan yang diberikan pada penulis selama ini.
Akhirnya, penulis mengharapkan agar skripsi ini dapat bermanfaat bagi ilmu di bidang Farmasi pada umumnya dan semoga Allah swt. selalu melimpahkan rahmat dan hidayah didalamnya. Aamiin ya Rabbal Aalamin..
Samata-Gowa, 11 Mei 2016 Penulis,
FANY FADYLA HASRUL
vii DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... i
HALAMAN SURAT PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI ... ii
HALAMAN PENGESAHAN SKRIPSI ... iii
KATA PENGANTAR ... iv
DAFTAR ISI ... vii
DAFTAR TABEL ... xi
DAFTAR GAMBAR ... xii
DAFTAR LAMPIRAN ... xiv
ABSTRAK ... xv
ABSTRACT ... xvi
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang ... 1
B.Rumusan Masalah ... 3
C.Definisi Operasional dan Ruang Lingkup ... 4
D.Kajian Pustaka... 6
E. Tujuan Penelitian... 9
F. Kegunaan Penelitian ... 9
BAB II TINJAUAN TEORETIS ... 11
A.Karies ... 11
1. Defenisi Karies... 11
2. Epidemiologi Karies ... 11
3. EtiologiKaries ... 12
5. Diagnosa Karies ... 14
B.Antibiotik... 17
1. Defenisi Antibiotik... 17
2. Mekanisme Kerja Antibiotik... 18
3. Golongan Antibiotik ... 19
C.Antibiotik Amoksisilin ... 23
1. Sifat fisika kimia ... 23
2. Indikasi Antibiotik ... 24 3. Farmakologi Antibiotik ... 24 4. Interaksi Antibiotik ... 26 5. Kegunaan Klinis... 26 D.Antibiotik Seftriakson... 29 1. Farmakokinetik ... 29 2. Farmakodinamik ... 30 E. Antibiotik Eritromisin ... 30 F. Resistensi Antibiotik... 33 1. Definisi Antibiotik ... 33 2. Penyebab Antibiotik... 33
3. Mekanisme Resistensi Antibiotik ... 34
4. Konsekuensi Akibat Resistensi Antibiotik ... 35
G. Sensitivitas Antibiotik ... 36 1. Metode Dilusi ... 37 2. E-Test ... 37 3. MIC ... 38 4. Sensitivity Test... 38 H. Bakteri ... 40 1. Definisi ... 40 2. Sifat-sifat Bakteri ... 40 I. Streptococcus mutans ... 41 1. Streptococcus mutans ... 41
2. Sifat Streptococcus mutans ... 42
4. Klasifikasi Streptococcus mutans ... 43
J. Macam-macam dan komposisi Medium ... 44
1. TYC ... 44
2. TSB ... 44
3. NA ... 45
K.Tinjauan Agama ... 45
BAB III METODOLOGI PENELITIAN ... 52
A.Jenis dan Lokasi Penelitian 1. Jenis Penelitian... 51
2. Lokasi Penelitian ... 51
B.Pendekatan Penelitian ... 51
C.Populasi Penelitian ... 51
D.Sampel Penelitian ... 52
E. Metode Pengumpulan Data ... 53
F. Variabel Penelitian ... 53
G.Penyiapan Sampel ... 54
H.Prosedur Uji Sensitivitas dan Resistensi ... 54
1. Persiapan Sterilisasi Alat ... 54
2. Isolasi Bakteri ... 54
3. Pembiakkan Bakteri ... 55
4. Pembuatan Suspensi Bakteri ... 55
5. Menilai Hasil Biakan ... 56
6. Kriteria Pasien ... 56
a. Kriteria Inklusi ... 56
I. Instrumen Penelitian ... 56
1. Alat yang Digunakan ... 56
2. Bahan yang Digunakan ... 57
J. Analisis Data Penelitian ... 57
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 59
A. Hasil Penelitian ... 58 B.Pembahasan ... 60 BAB V PENUTUP ... ... 80 A.Simpulan ... 80 B.Saran ... 80 KEPUSTAKAAN ... 81 LAMPIRAN ... 84 RIWAYAT HIDUP ... 128
xi
DAFTAR TABEL
Tabel Halaman
1. Standar Pengujian Antibiotik Terhadap Streptococcus mutans ... 40 2. Data hasil rerata daya hambat antibiotik Amoksisilin pada Streptococcus
mutans ... 58 3. Data hasil rerata daya hambat antibiotik Eritromisin pada Streptococcus
mutans ... 59 4. Data hasil rerata daya hambat antibiotik Ceftriaxon pada Streptococcus
mutans ... 59 5. Rekam medis ... 94 6. Analisis statistik daya hambat antibiotik terhadap Streptococcus mutans 118
xii
DAFTAR GAMBAR
Gambar Halaman
1. Bentuk Streptococcus mutans ... 43 2. Gambar penelitian ... 101
xiii
DAFTAR LAMPIRAN
No Halaman
1. Sterilisasi alat menggunakan oven ... 84
2. Pembuatan medium TSB agar ... 85
3. Pembuatan medium TYC Agar ... 86
4. Pengambilan Sampel ... 87
5. Isolasi bakteri dari karies gigi ... 88
6. Uji sensitivitas dan resistensi bakteri ... 89
7. Identitas Peneliti. ... 90
8. Formulir persetujuan mengikuti penelitian setelah mendapat penjelasan ... 92
9. Rekam Medis ... 95
10.Gambar proses penelitian ... 101
11.Hasil data statistik Uji Sensitivitas dan Resistensi Streptococcus mutans dengan metode RAL menggunakan aplikasi SPSS 20 ... 118
xiv ABSTRAK
Nama Penulis : Fany Fadyla Hasrul
NIM : 70100112069
Judul Skripsi : Uji Sensitivitas dan Resistensi Bakteri Streptococcus
mutans penyebab Karies Gigi terhadap Beberapa Antibiotik secara in vitro di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Haji Makassar.
Resistensi bakteri terhadap antibiotik merupakan suatu yang alamiah. Bahaya resistensi antibiotik merupakan salah satu masalah yang dapat mengancam kesehatan masyarakat. Telah dilakukan penelitian Uji Sensitivitas dan Resistensi Bakteri Streptococcus mutans penyebab Karies Gigi terhadap beberapa Antibiotik secara in vitro di Rumah Sakit Umum (RSUD) Haji Makassar. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui sensitivitas dan resistensi Bakteri Streptococcus mutans terhadap antibiotik amoksisilin, ceftriakson dan eritromisin. Pengujian ini dilakukan berdasarakan metode Kirby Bauer dengan mengukur diameter zona hambat beberapa antibiotik terhadap koloni bakteri Streptococcus mutans yang diperoleh dari hasil isolasi 10 karies pasien karies gigi untuk pengujian sensitivitas dan resistensi antibiotik amoksisilin, seftriakson dan eritromisin, setelah diperoleh biakan Streptococcus mutans kemudian ditanam pada nutrien agar dan diletakkan paper disk antibiotik lalu di inkubasi 1 x 24 jam.
Hasil penelitian menunjukkan nilai persentase kriteria antibiotik terhadap Streptococcus mutans setelah diinkubasi selama 1 x 24 jam dengan kriteria resistensi sebesar 100% artinya 10 dari 10 pasien karies gigi RSUD. Haji Makassar Periode Januari - Maret 2016 telah mengalami resistensi terhadap antibiotik amoksisilin, kemudian untuk antibiotik seftriakson 85% dari 10 pasien sudah mengalami resisten, sedangkan penggunaan antibiotik eritromisin masih termasuk dalam kriteria sensitif sebesar 90% sehingga untuk terapi karies gigi bisa dikatakan masih efektif dan sangat baik dalam menggunakan antibiotik eritromisin.
Kata kunci: Amoksisilin, Ceftriakson, Eritromisin, karies gigi, resisten, sensitif,
xv
ABSTRACT
Author Name : Fany Fadyla Hasrul
NIM : 70100112069
Thesis title : Sensitivity and resistance test bacteria of Streptococcus
mutans is dental caries causing against antibiotics in vitro at regional general hospital Haji Makassar.
Bacterial resistance to antibiotic is a natural. The dangers of antibiotic resistance is one of the the issues that may threaten public health. Sensitivity Test has been conducted research and Resistance Bacteria Streptococcus mutans cause tooth caries to some antibiotics in vitro at the General Hospital (Hospital) Haji Makassar. The purpose of this study was to determine the sensitivity and resistance of Streptococcus mutans bacteria against antibiotics amoxicillin, ceftriaxone and erythromycin. The test is performed on the terms of method of Kirby Bauer by measuring the diameter of inhibition zone of some antibiotics against bacterial colonies of Streptococcus mutans were obtained from the isolation of 10 caries patient dental caries for testing sensitivity and resistance antibiotic amoxicillin, ceftriaxone and Eeythromycin, having acquired cultured Streptococcus mutans then planted in Nutrients agar and placed paper disk antibiotics and incubated 1 x 24 hours.
The results show the percentage value criteria after antibiotic against Streptococcus mutans was incubated for 1 x 24 hours with resistance criteria of 100% means that 10 of 10 patients with dental caries hospitals. Haji Makassar January - March 2016 has been resistance to the antibiotic Amoxicillin, then to antibiotic Ceftriaxone 85% of the 10 patients had experienced resistance, while the use of the antibiotic Erythromycin was included in the criteria for Sensitive by 90% so as to treatment of dental caries can be said to be still effective and highly good at using the antibiotic erythromycin.
Keywords: amoxicillin, ceftriaxone, Erythromycin, dental caries, resistant, sensitive, Streptococcus mutans.
1
BAB I
PENDAHULUAN
A.Latar Belakang
Masalah utama yang sering terjadi pada rongga mulut adalah karies gigi. Prevalensi karies gigi pada negara maju terus menurun, sedangkan di negara-negara berkembang termasuk Indonesia ada kecenderungan meningkat. Data menunjukkan sekitar 80% penduduk Indonesia memiliki gigi rusak yang disebabkan berbagai faktor, namun yang paling banyak ditemui adalah karies atau gigi berlubang. Pada hampir setiap mulut orang Indonesia akan ditemukan dua hingga tiga gigi berlubang (Bidarisugma. 2012: 3).
Karies merupakan kerusakan gigi yang progresif dari email dan dentin yang dimulai dari bekerjanya mikroorganisme pada permukaan gigi. Agen penyebab utama terjadinya karies adalah bakteri Streptococcus mutans yang menyebabkan terjadinya demineralisasi gigi akibat produk yang dihasilkan. Karies pada awalnya adalah proses yang lambat dan reversibel. Jika terdapat suatu larutan yang dapat memicu remineralisasi maka proses karies akan berhenti (Ariestanto. 2012: 9).
Pada umumnya antibiotik diberikan bila terdapat gambaran klinis infeksi seperti edema dan kemerahan didaerah mulut yang tidak segera sembuh. Antibiotik merupakan terapi yang sering digunakan oleh dokter gigi untuk membunuh bakteri
spesifik dan non spesifik etiologi periodontal. Pemilihan antibiotik didasarkan pada analisis mikrobiologi dari bagian yang terinfeksi dan tanda-tanda klinisnya. Berikut ini contoh antibiotik yang sering digunakan : penisilin (amoksisilin), kloramfenikol, tetrasiklin, klindamisin, metronidazol, ciprofloxacin (Pejcic. 2010).
Salah satu perhatian dalam pengobatan modern saat ini adalah adanya resistensi antibiotik (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2011: 57). Resistensi antibiotik adalah kemampuan mikroorganisme untuk menahan efek dari antibiotik. Ini adalah cara tertentu perlawanan terhadap obat, di mana mikroorganisme tetap mampu bertahan selama kontak dengan antibiotik sehingga antibiotik tidak lagi bekerja terhadap mikrooganisme tersebut (Refdanita. 2010: 21).
Dilakukan uji sensitivitas terhadap antimikroba yaitu penentuan terhadap bakteri penyebab penyakit yang kemungkinan menunjukkan sensitivitas terhadap antimikroba atau kemampuan suatu antimikroba untuk menghambat pertumbuhan bakteri yang tumbuh, sehingga dapat dipilih sebagai antimikroba yang berpotensi untuk pengobatan (Umiana. 2015: 120).
َْ ِ َنوُ ﱠ َ َ َ َو ْ ِ ِ ُ ُ َ َ َ َو اًد ُ ُ َو ً َ!ِ َ ّﷲ َنوُ ُ$ْ%َ َ& ِ%ﱠ'ا
تاَو َ)ﱠ*'ا ِ+
ِر ﱠ 'ا َباَ%َ َ ِ.َ َ/َ0 َ1ْ2ُ3 ً4ِط َ ا%َھ َ7ْ.َ َ َ َ ﱠ َر ِضْرَ9اَو
Artinya:“(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka perihalah kami dari siksa neraka” (Departemen Agama RI. 2010: 110).
Dia tidak akan pernah menciptakan sesuatu yang sia-sia dan tanpa guna dan tidak akan membiarkannya begitu saja, tetapi sebaliknya Dia menciptakan secara sungguh-sungguh dan akan memberikan balasan kejahatan terhadap orang-orang yang berbuat jahat dan balasan kebaikan terhadap orang-orang yang berbuat kebaikan. Suatu contoh dan bahan renungan buat kita, bahwasanya segala yang ada, baik di bumi, langit atau angkasa, pada dasarnya adalah ciptaan Allah semua dan tiadalah yang sia-sia. Allah menciptakan makhluk mulai yang besar, seperti matahari, bumi, bulan dan planet-planet, sampai makhluk yang kecil seperti semut, rerumputan hingga bakteri yang tidak tampak mata atau yang lebih kecil lagi, yaitu sel. Seluruh makhluk yang ada adalah ciptaan Allah. Tidak ada benda yang muncul secara tiba-tiba, tanpa ada yang menciptakan (Shihab. 2012).
Adanya bakteri yang sensitif dan resisten terhadap antibiotik, mendorong dilakukannya penelitian untuk mengkaji sensitivitas dan resistensi bakteri Strptococcus Mutans terhadap antibiotik sediaan amoksisilin secara in vitro di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Haji Makassar.
B.Rumusan Masalah
1. Apakah bakteri Streptococcus mutans peyebab karies gigi resisten atau sensitif terhadap antibiotik Amoksisilin, Eritromisin, dan Ceftriakson ?
2. Antibiotik apakah yang memiliki sifat paling sensitif terhadap Bakteri streptococcus mutans ?
C. Definisi Operasional dan Ruang Lingkup Penelitian 1. Definisi Operasional
a. Karies adalah pembusukan, pengeroposan atau kematian molekuler tulang, hingga menjadi lunak, berubah warna dan berpori (Dorlan.2010: 345). b. Karies gigi adalah penyakit infeksi dan merupakan suatu proses
demineralisasi yang progresif pada jaringan keras permukaan gigi oleh asam organis yang berasal dari makanan yang mengandung gula. Karies gigi merupakan penyakit yang paling banyak dijumpai di rongga mulut bersama-sama dengan penyakit periodontal, sehingga merupakan masalah utama kesehatan gigi dan mulut (McDonald. 2011: 183).
c. Biofilm adalah suatu lapisan tipis mikroorganisme yang melekat pada permukaan suatu struktur, yang mungkin organik dan anorganik, bersama dengan polimer yang disekresikan (Dorlan.2010: 252).
d. Demineralisasi merupakan proses hilangnya sebagian atau keseluruhan dari kristal enamel. Demineralisasi terjadi karena penurunan pH oleh bakteri kariogenik selama metabolisme yang menghasilkan asam organik pada permukaan gigi dan menyebabkan ion kalsium, fosfat dan mineral yang lain berdifusi keluar enamel membentuk lesi di bawah permukaan (Faria. 2010: 18).
e. Remineralisasi adalah proses pengembalian ion-ion kalsium dan fosfat yang terurai ke luar enamel atau kebalikan reaksi remineralisasi dengan
penumpatan kembali mineral pada lesi dibawah permukaan enamel (Fehrenbach. 2004: 18).
f. Antibiotika adalah zat kimia yang dihasilkan oleh mikroorganisme yang mempunyai kemampuan, dalam larutan encer, untuk menghambat pertumbuhan atau membunuh mikroorganisme (Dorlan. 2010: 115).
g. In vitro dalam bahasa Latin “di kaca”; adalah mengacu pada penelitian yang dilakukan dalam tabung uji atau media kultur di laboratorium (Kamus Kesehatan. 2015).
h. Resistensi antibiotik adalah gaya yang kerjanya berlawan atau perlawanan dan merupakan kemampuan alamiah organisme untuk bertahan terhadap mikroorganisme atau toksin yang diproduksi pada penyakit (Dorlan. 2010: 1893).
i. Sensitivitas adalah dapat menerima atau memberikan respon terhadap rangsangan dan terkadang digunakan untuk mengartikan terlalu cepat, atau respons abnormal lain terhadap rangsangan (Dorlan. 2010: 1971).
2. Ruang lingkup penelitian
Ruang lingkup penelitian ini meliputi isolasi bakteri Streptococcus mutans dari karies gigi pasien dengan terapi amoksisilin di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Haji Makassar. Hasil isolasi bakteri Streptococcus mutans dari karies gigi tersebut ditumbuhkan pada medium TYC kemudian dilakukan uji sensitivitas dan resistensi bakteri Streptococcus mutans terhadap antibiotik amoksisilin, eritromisin
dan seftriakson dengan metode dilusi agar meggunakan disk antibiotik amoksisilin, eritromisin dan seftriakson.
D. Kajian Pustaka
Buwembo William et al., 2012. Cotrimoxazole Prophylaxis Specifically
Selects for Cotrimoxazole Resistance in Streptococcus mutans and Streptococcus sobrinus with Varied Polymorphisms in the Target Genes folA and folP. Penelitian dari profilaksis Kotrimoksazol khusus Memilih untuk obat Kotrimoksazol sebagai obat perlawanan dari Streptococcus mutans dan Streptococcus sobrinus dengan berbagai variasi Polimorfisme dalam Gen Sasaran Fola dan folP (Pemilihan resistensi antibiotik dengan profilaksis kotrimoksazol yang dievaluasi, dan ditandai Mekanisme resistensi kotrimoksazol di Streptococcus mutans dan Streptococcus sobrinus. Kerentanan in vitro untuk enam antibiotik dievaluasi pada 64 mutans kelompok streptococci (MSG) dan isolat dari kelompok profilaksis kotrimoksazol dan dibandingkan dengan 84 MSG isolat dari kelompok nonprofilaksis. Gen FolA dan folP dan dibandingkan dengan urutan referensi di NCBI. Hanya resistensi terhadap kotrimoksazol secara signifikan lebih tinggi pada kelompok profilaksis (54,7% berbanding 15,5%, OR = 6,59, 95% CI: 2,89-15,3, P <0,05). Resistensi terhadap amoksisilin, ceftriaxone, kloramfenikol, eritromisin, dan tetrasiklin adalah 1,4%, 25,5%, 6,2%, 6,5%, dan 29,6% dari isolat, masing-masing. Polimorfisme yang ditemukan pada gen folP di S. mutans, tetapi ini tidak bisa dikaitkan dengan sulfonamid resistensi obat. Tidak ada variasi yang terlihat di folP atau Fola gen S.
sobrinus. Transfer genetik gen jalur folat tampaknya tidak mungkin pada isolat tersebut.
Endang Suprastiwi. Dep.I.Konservasi Gigi FKG-UI. Efek Antimikroba Polifenol dari Teh Hijau Jepang terhadap Streptococcus Mutans. Karies terjadi akibat inter aksi Streptococcus Mutans, hospes dan makanan tinggi karbohidrat.Untuk mencegah karies perlu mengendalikan aktifitas Streptococcus Mutans. Poifenol dari teh hijau jepang mempunyai efek antimikroba. Pada penelitian ini akan dilihat efek antimikroba dari polifenol terhadap Streptococcus Mutans dengan menggunakan metoda inhibisi zona dan efek hambat minimal konsentrasi polifenol. Hasilnya polifenol efektif sebagai antimiroba terhadap semua jenis Streptococcus Mutans standar strain pada konsertrasi 10-2ml dengan kisaran inhibisi zone 2.00–3,40 mm.Kesimpulan ; polifenol dari teh hijau Jepang dapat menghambat pertumbuhan Streptococcus Mutans, dan hasil ini dapat dikembangkan dalam jangka panjang sebagai bahan pencegah karies yang sesuai dengan prinsipintervensi minimal.
Agoeng Tjahajani. 2012. Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia. Analisis sensitifitas Streptococcus mutans serotip f terhadap pasta gigi mengandung xylitol (in vitro) (Sensitivity analysis of Streptococcus mutans serotype on xylitol containing toothpaste (in vitro) Streptococcus mutans. (S. mutans) adalah penyebab utama karies gigi yang ditemukan dalam air liur dan plak gigi. Banyak literatur melaporkan bahwa banyak ketegangan dan serotype S. mutans menyebabkan karies S. sanguis S. mitis, S. salivarus, S. mutans serotype c, e, f dan k. menyikat gigi dengan pasta gigi adalah pola orang modern dalam mengurangi karies gigi. Penelitian
terbaru dilaporkan bahwa yang mengandung xylitol menggunakan pasta gigi SLS dapat menghambat pertumbuhan streptokokus mutan. Tujuan: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis kepekaan yang mengandung xylitol menggunakan pasta gigi SLS pada S. mutans serotype f (secara in vitro). Metode: Bakteri saham S. mutans serotype f Diperiksa oleh pemurnian menggunakan pewarnaan Gram dan kekeruhan dilakukan menggunakan Mc Farland standar. Xylitolcontaining menggunakan pasta gigi SLS diencerkan dalam aquadest steril dan membuat pengenceran serial untuk mendapatkan konsentrasi 100%, 10%, 1%, 0,1%, 0,01% dan 0.001%. Mereka solusi yang mengandung xylitol menggunakan pasta gigi SLS dianalisis sampai kadar hambat Minimal (MIC) dan bakterisida Minimal konsentrasi (MBC) S. mutans serotype f dengan metode Difusi dan pengenceran. Hasil: zona hambat dibentuk pada solusi 100% dan 10%. Analisis statistik menunjukkan bahwa ada perbedaan yang signifikan antara yang mengandung xylitol menggunakan pasta gigi SLS dan pertumbuhan mutan streptokokus (p < 0,05). MIC bisa diidentifikasi pada konsentrasi 10%, Ketika MBC 1%, 0,1%, 0,01% dan 0.001% konsentrasi).
Cut R. Alfath.2013. Antibacterial Effect of Granati fructus Cortex Extract on Streptococcus mutans In Vitro. Efek antibakteri kulit buah delima (Granati fructus cortex) pada streptococcus mutans in vitro. Granati fructus cortex mengandung banyak senyawa-senyawa antibakteri seperti alkaloid, flavonoid, dan tannin. Tujuan : mengevaluasi efek antibakteri Granati fructus cortex dalam menghambat pertumbuhan streptococcus mutans. Metode : penelitian ini merupakan eksperimental laboratories yang menguji daya hambat antibakteri menggunakan
metode difusi agar dengan media MHA. Hasil : ekstrak kulit buah delima dalam berbagai konsentrasi memiliki efek antibakteri, ekstrak kulit buah delima dengan konsentrasi 30% memiliki rata-rata zona hambat yang besar (15,4mm). semakin tinggi konsentrasi ekstrak kulit buah delima maka semakin besar zona hambat yang terbentuk hasil uji ini juga menunjukkan adanya perbedaan rata-rata zona hambat dalam berbagai konsentrasi ekstrak kulit buah delima. Simpulan : Granati fructus cortex memiliki efek antibakteri terhadap pertumbuhan Streptococcus muntas.
Penelitian yang dilakukan berfokus pada pengembangan obat mengenai sensitivitas dan resistensi suatu obat yang sering digunakan dalam pengobatan penyakit karies gigi.
E.Tujuan Penelitian
1. Mengetahui resistensi dan sensitifitas bakteri Streptococcus mutans terhadap antibiotik amoksisilin, eritromisin dan seftriakson.
2. Mengetahui bakteri Streptococcus mutans yang paling sensitif terhadap antibiotik amoksisilin, eritromisin atau seftriakson.
F. Kegunaan Penelitian
1. Dari hasil penelitian yang dilakukan diharapkan dapat memberikan informasi resistensi atau sensitifitas bakteri streptococcus mutans terhadap antibiotik amoksisilin, eritromisin dan seftriakson pada penyakit karies gigi.
2. Dari hasil penelitian yang dilakukan diharapkan dapat memberikan informasi mengenai bakteri Sreptococcus mutans yang paling sensitif terhadap antibiotik amoksisilin, eritromisin atau seftriakson pada penyakit karies gigi.
3. Dari hasil penelitian yang dilakukan diharapkan dapat memberikan informasi kepada tenaga medis di rumah sakit dan masyarakat tentang resistensi atau sensitifitas antibiotik amoksisilin, eritromisin dan seftriakson.
11
BAB II
TINJAUAN TEORITIS
A. Karies 1. Defenisi
Karies berasal dari bahasa Latin yaitu caries yang artinya kebusukan. Karies gigi adalah suatu proses kronis regresif yang dimulai dengan larutnya mineral email sebagai akibat terganggunya keseimbangan antara email dan sekelilingnya yang disebabkan oleh pembentukan asam mikrobial dari substrat sehingga timbul destruksi komponen-komponen organik yang akhirnya terjadi kavitas. Dengan perkataan lain, dimana prosesnya terjadi terus berjalan ke bagian yang lebih dalam dari gigi sehingga membentuk lubang yang tidak dapat diperbaiki kembali oleh tubuh melalui proses penyembuhan, pada proses ini terjadi demineralisasi yang disebabkan oleh adanya interaksi kuman, karbohidrat yang sesuai pada permukaan gigi dan waktu (Sihotang. 2010: 7).
2. Epidemiologi Karies
Karies gigi pada anak merupakan masalah serius dalam kesehatan gigi dan mulut di Indonesia dengan prevalensi hingga 90,05%. Hal ini merupakan salah satu bukti bahwa kesadaran masyarakat masih kurang untuk menjaga kesehatan gigi dan mulut. Menurut data dari Riset Kesehatan Dasar (RIKESDAS) tahun 2013, prevalensi nasional masalah gigi dan mulut adalah 25,9 % , sebanyak 14 provinsi mempunyai prevalensi masalah gigi dan mulut diatas angka nasional.Indeks DMF-T Indonesia
sebesar 4,6 dengan nilai masing-masing : D-T=1,6; MT= 2,9; F-T=0,8; yang berarti kerusakan gigi penduduk Indonesia 460 buah gigi per 100 orang ( Trihono. 2013: 110).
3. Etiologi Karies
Karies merupakan hasil interaksi dari bakteri di permukaan gigi, plak atau biofilm, dan diet (khususnya komponen karbohidrat yang dapat difermentasikan oleh bakteri plak menjadi asam terutama asam laktat dan asetat) sehingga terjadi demineralisasi jaringan keras gigi dan memerlukan cukup waktu untuk kejadiannya. Untuk terjadinya karies ada tiga faktor yang harus ada secara bersamasama yaitu bakteri kariogenik, permukaan gigi yang rentan dan tersedianya bahan nutrisi untuk mendukung pertumbuhan bakteri. Karies merupakan penyakit infeksi yang disebabkan pembentukan plak kariogenik pada permukaan gigi yang menyebabkan demineralisasi pada gigi (demineralisasi email terjadi pada pH 5,5 atau lebih). Dari sekitar tiga ratus macam spesies bakteri rongga mulut hanya streptococcus mutans yang merupakan penyebab utama dari karies. Streptococcus mutans merupakan penyebab utama karies karena sifatnya yang menempel pada email, menghasilkan dan dapat hidup di lingkungan asam, berkembang pesat dilingkungan yang kaya sukrosa dan menghasilkan bakteriosin yaitu substansi yang dapat membunuh organisme kompetitornya (Putri MH. 2011: 154).
Transfer ion secara terus menerus terjadi antara plak dan email yang
berhadapan dengannya. Dekalsifikasi awal terjadi di subsurface dan mungkin terjadi satu sampai dua tahun sebelum menjadi kavitas. Setelah terjadi kavitas email, dentin
yang mendasar juga sudah terpengaruh oleh dekstruksi tersebut dan selanjutnya laktobacilus menjadi bakteri yang dominan setelah streptococcus mutans untuk merusak dentin lebih lanjut. Terpaparnya plak terhadap nutrisi terutama sukrosa, metabolisme dalam plak menghasilkan asam yang menyebabkan demineralisasi struktur gigi. Jika nutrisi atau plak dihilangkan, ion-ion dari saliva (natrium, kalium atau kalsium) meremineralisasi struktur gigi dalam upaya memperbaiki komponen ion di struktur gigi. Jika terdapat fluoride, bahan ini akan diambil oleh struktur gigi dan membentuk fluorapatit di email yang lebih resisten terhadap serangan demineralisasi berikutnya dari email normal (Putri MH. 2011 :154).
Saliva berperan penting pada proses karies. Fungsi saliva yang adekuat penting dalam pertahanan melawan serangan karies. Mekanisme fungsi perlindungan saliva meliputi aksi pembersihan bakteri, aksi buffer, aksi antimikroba dan remineralisasi. Aksi pembersih bakteri terjadi karena saliva mengandung molekul karbohidrat protein (glikoprotein) yang menyebabkan beberapa bakteri mengelompok (aglutinasi). Setiap hari normalnya dibentuk 1,5 liter saliva. Saliva juga mengandung urea dan buffer lain yang membantu melarutkan asam dalam plak. Aksi antimikroba plak terjadi karena kandungan berbagai macam protein dan antibodi yang dapat menghambat bahkan membunuh bakteri. Protein tersebut meliputi lisosim, laktoferin, laktoperioksidase dan IgA sekretori. Saliva mengandung ion kalsium, fosfat, kalium dan kadang kala fluoride yang membantu remineralisasi. Berkurangnya saliva secara signifikan meningkatkan laju pertumbuhan karies. Berkurangnya aliran saliva akan berakibat pada tertekannya pH dalam jangka waktu lama (berkurangnya buffering),
menurunnya efek anti bakteri dan berkurangnya ion untuk remineralisasi (Putri MH. 2011 :154).
Siklus proses karies membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menyebabkan kavitas. Perkembangan melalui email sering kali lambat sehingga lesi email kadang tetap tanpa perubahan selama tiga sampai empat tahun. Laju perkembangan karies melalui dentin juga lambat sehingga proses berjalan panjang, memberi kesempatan remineralisasi yang dapat mencegah untuk tidak sampai terjadi kavitas (Putri MH. 2011 :154).
4. Klasifikasi Karies
Klasifikasi berdasarkan stadium karies (dalamnya karies gigi) :
a. Karies superficialis; Dimana karies baru mengenai email saja, sedangkan dentin belum terkena.
b. Karies media; Dimana karies sydah mengenai dentin tetapi belum melenihi setengah dentin.
c. Karies profunda; Dimana karies sudah mengenai lebih dari setengah dentin dan kadang-kadang sudah mengenai pulpa (Rasinta T. 2014: 38).
5. Diagnosis Karies
Penetapan diagnosis yang tepat sangat dibutuhkan untuk kesuksesan perawatan lesi pada karies, baik dengan pemeriksaan klinis maupun dengan pemeriksaan penunjang seperti radiografi. Diagnosis yang dilakukan pada tahap dini telah dianggap seebagai sesuatu yang sangat penting, sejak karies diketahui dapat dihentikan dan remineralisasi dapat terjadi. Deteksi lesi awal merupakan perpaduan
diagnosis yang penting karena hal ini mengacu kepada jenis pencegahan dan perawatan yang dibutuhkan. Beberapa karies awal dapat dideteksi oleh alat diagnosa klinis yang lebih teliti dan pemeriksaan radiografi (Indry W. 2013: 1).
Deteksi dini lesi karies karies yang kecil dapat dilakukan dengan beberapa pendekatan, pada lesi karies yang mengenai pit atau fisura dapat menggunakan kaca mulut dan eksplorer, dengan tekanan ringan dapat terasa, ujung sonde yang tersangkut dan pada tekanan yang lebih besar akan teraba daerah lebih lunak, opak, warna dan lebih buram jika dibandingkan dengan gigi sebelahnya. Diagnosis karies diperlukan untuk mengetahui kerentanan seseorang terhadap karies, aktivitas karies , dan risiko karies dan untuk menentukan jenis terapi :
a. Karies Dini/karies email tanpa kavitas yaitu karies yang pertama terlihat secara klinis, berupa bercak putih setempat pada email. Anamnesis pada karies email tanpa kavitas adanya bintik putih pada gigi. Terapi yang dilakukan dengan pembersihan gigi, diulas dengan flour, edukasi pasien.
b. Karies dini/karies email dengan kavitas yaitu karies yang terjadi pada email sebagai lanjutan dari karies dini. Anamnesa pada pasien dirasakannya gigi yang terasa ngilu. Terapi dengan penambalan.
c. Karies dengan dentin terbuka/dentin Hipersensitif yaitu peningkatan sensitiftas karena terbukanya dentin. Anamnesa pada pasien kadang-kadang rasa ngilu waktu kemasukan makanan, saat minum dingin, asam dan asin dan biasanya rasa ngilu hilang setelah rangsangan dihilangkan, rasa sakit harus karena adanya rangsangan, tidak sakit secara spontan. Terapi dengan penambalan.
d. Pulpitis reversibel/hiperemi pulpitis/pulpitis awal yaitu peradangan pulpa awal sampai sedang akibat rangsangan. Anamnesa biasanya pasien nyeri bila minum panas, dingin, asam dan asin, nyeri tajam singkat tidak spontan, tidak terus menerus, rasa nyeri lama hilangnya setelah rangsangan dihilangkan. Terapi dengan penambalan /pulp cafing dengan penambalan Ca(OH) ± 1 minggu untuk membentuk sekunder dentin.
e. Pulpitis irreversibel yaitu radang pulpa ringan yang baru dapat juga yang sudah berlangsung lama (Profil Kesehatan Sulsel. 2012: 6).
6. Proses Karies a. Lesi Email Awal
Lesi Email Awal dikenal pula dengan “white spot lesion” karena secara klinis lesi ini terlihat sebagai bercak yang berwarna putih pada gigi. Lesi ini terjadi akibat level pH pada permukaan gig lebih menurun dan tidak dapat diimbangi dengan proses remineralisasi. Ion-ion asam dapat berpenetrasi kedalam lapisan prisma yang porus sehingga menyebabkan demineralisasi dibawah permukaan kulit. Sedangkan Ca2+,HPO42-, fluoride, dan kapasitas dapar oleh saliva (McIntyre, JM. 2005: 21).
b. Karies Dentin
Ketika demineralisasi telah berlanjut hingga dentin dan bakteri berada dalam kavitas secara permanen, lesi dapat dengan mudah berkembang dengan sendirinya didalam dentin. Demineralisasi masih dikontrol oleh diet substrat tetapi bakteri juga dapat memproduksi asam untuk melarutkan hidroksiapatit pada dentin yang lebih dalam. Oleh karena itu terdapat daerah demineralisasi yang tidak mengandung bakteri
didalamnya. Tekstur dan warna dentin akan berubah seiring dengan perkembangan lesi. Tekstur dentin akan lebih lunak, sementara warna dentin akan lebih gelap karena noda dari produk bakteri ataupun makanan dan minuman yang dikonsumsi (McIntyre JM. 2005: 21).
B. Antibiotik
1. Pengertian Antibiotik
Antibiotika adalah senyawa kimia yang dihasilkan oleh berbagai jasad renik bakteri, jamur dan aktinomises, yang dapat berkhasiat menghentikan pertumbuhan atau membunuh jasad renik lainnya. Antibiotika yang diperoleh secara alami dari mikroorganisme disebut antibiotika alami, antibiotika yang disintesis di laboratorium disebut antibiotika sintetis. Antibiotika yang dihasilkan oleh mikroorganisme dan dimodifikasi di laboratorium dengan menambahkan senyawa kimia disebut antibiotika semisintetis (Tjahajati. 2011: 13).
Antibiotika adalah suatu substansi antimikrobia yang diperoleh dari atau dibentuk dan dihasilkan oleh mikroorganisme yang umumnya adalah jamur maupun zat sintetik lain, dan zat-zat itu dalam jumlah sedikitpun mempunyai daya hambat kegiatan mikroorganisme yang lain (Lalitha. 2011: 7).
Dalam arti sebenarnya, antibiotik merupakan zat antibakteri yang diproduksi oleh berbagai spesies mikroorganisme (bakteri, jamur, dan actinomycota) yang dapat menekan pertumbuhan dan atau membunuh mikroorganisme lainnya. Penggunaan umum sering meluas kepada agen antimikroba sintetik, seperti sulfonamid dan kuinolon (Hamita. 2012: 15).
2. Mekanisme Kerja
Antimikroba diklasifikasikan berdasarkan struktur kimia dan mekanisme kerjanya, sebagai berikut:
a. Antibiotik yang menghambat sintesis dinding sel bakteri, termasuk golongan β-laktam misalnya, penisilin, sefalosporin, dan carbapenem dan bahan lainnya seperti cycloserine, vankomisin, dan bacitracin (Hamita. 2012: 18).
b. Antibiotik yang bekerja langsung pada membran sel mikroorganisme, meningkatkan permeabilitas dan menyebabkan kebocoran senyawa intraseluler, termasuk deterjen seperti polimiksin, antijamur poliena misalnya, nistatin dan amfoterisin B yang mengikat sterol dinding sel, dan daptomycin lipopeptide (Hamita. 2012: 21).
c. Antibiotik yang mengganggu fungsi subunit ribosom 30S atau 50S untuk menghambat sintesis protein secara reversibel, yang pada umumnya merupakan bakteriostatik misalnya, kloramfenikol, tetrasiklin,eritromisin, klindamisin, streptogramin, dan linezolid (Hamita. 2012: 22).
d. Antibiotik berikatan pada subunit ribosom 30S dan mengganggu sintesis protein, yang pada umumnya adalah bakterisida Misalnya, aminoglikosida (Hamita. 2012: 22).
e. Antibiotik yang mempengaruhi metabolisme asam nukleat bakteri, seperti rifamycin misalnya, rifampisin dan rifabutin yang menghambat enzim RNA polimerase dan kuinolon yang menghambat enzim topoisomerase (Hamita. 2012: 22).
f. Antimetabolit, seperti trimetoprim dan sulfonamid, yang menahan enzim - enzim penting dari metabolisme folat. (Hamita. 2012: 23).
3. Golongan Antibiotik
Ada beberapa golongan – golongan besar antibiotik, yaitu: a. Golongan Penisilin
Penisilin diklasifikasikan sebagai obat β-laktam karena cincin laktam mereka yang unik. Mereka memiliki ciri-ciri kimiawi, mekanisme kerja, farmakologi, efek klinis, dan karakteristik imunologi yang mirip dengan sefalosporin, monobactam, carbapenem, dan β-laktamase inhibitor, yang juga merupakan senyawa β-laktam (Henry. 2011: 67).
Penisilin dapat terbagi menjadi beberapa golongan : 1) Penisilin natural (misalnya, penisilin G)
Golongan ini sangat berpotensi terhadap organisme gram-positif, coccus gram negatif, dan bakteri anaerob penghasil non-β-laktamase. Namun, mereka memiliki potensi yang rendah terhadap batang gram negatif (Henry. 2011: 69).
2) Penisilin antistafilokokal (misalnya, nafcillin)
Penisilin jenis ini resisten terhadap stafilokokal β-laktamase. golongan ini aktif terhadap stafilokokus dan streptokokus tetapi tidak aktif terhadap enterokokus, bakteri anaerob, dan kokus gram negatif dan batang gram negatif (Henry. 2011: 71).
3) Penisilin dengan spektrum yang diperluas (Ampisilin dan Penisilin antipseudomonas) Obat ini mempertahankan spektrum antibakterial penisilin dan mengalami peningkatan aktivitas terhadap bakteri gram negatif (Henry. 2011: 74).
b. Golongan Sefalosporin dan Sefamisin
Sefalosporin mirip dengan penisilin secara kimiawi, cara kerja, dan toksisitas. Hanya saja sefalosporin lebih stabil terhadap banyak beta-laktamase bakteri sehingga memiliki spektrum yang lebih lebar. Sefalosporin tidak aktif terhadap bakteri enterokokus. Sefalosporin terbagi dalam beberapa generasi, yaitu:
1) Sefalosporin generasi pertama
Sefalosporin generasi pertama yaitu sudah tidak banyak digunakan saat ini dalam pengobatan infeksi. Sefalosporin generasi pertama antara lain sefadroxil, sefazolin,sefalexin, sefalotin, sefafirin, dan sefradin. Obat - obat ini sangat aktif terhadap kokus gram positif seperti pneumonia kokus, streptokokus, dan stafilokokus (Henry. 2011: 76).
2) Sefalosporin generasi kedua
Anggota dari sefalosporin generasi kedua, antara lain: sefaklor, sefamandol, sefanisid, sefuroxim, sefprozil, loracarbef, dan seforanid. Secara umum, obat – obat generasi kedua memiliki spektrum antibiotik yang sama dengan generasi pertama. Hanya saja obat generasi kedua mempunyai spektrum yang diperluas kepada bakteri gram negatif (Henry. 2011: 77).
3) Sefalosporin generasi ketiga
Obat–obat sefalosporin generasi ketiga antara lain sefeperazone, sefotaxime, seftazidime, seftizoxime, seftriaxone, sefixime, seftibuten, moxalactam, dll. Obat generasi ketiga memiliki spektrum yang lebih diperluas kepada bakteri gram negatif maupun gram positif dan dapat menembus sawar darah otak (Kayserl. 2010: 55).
4) Sefalosporin generasi keempat
Sefepime merupakan contoh dari sefalosporin generasi keempat dan memiliki spektrum yang luas. Sefepime sangat aktif terhadap haemofilus dan neisseria dan dapat dengan mudah menembus CSS (Kayserl. 2010: 56).
c. Golongan Kloramfenikol
Kloramfenikol merupakan inhibitor yang poten terhadap sintesis protein mikroba. Kloramfenikol bersifat bakteriostatik dan memiliki spektrum luas dan aktif terhadap masing – masing bakteri gram positif dan negatif baik yang aerob maupun anaerob (M.K. Lalitha. 2011: 121).
d. Golongan Tetrasiklin
Golongan tetrasiklin merupakan obat pilihan utama untuk mengobati infeksi dari Micobacterium pneumonia, klamidia, riketsia, dan beberapa infeksi dari spirokaeta. Tetrasiklin juga digunakan untuk mengobati ulkus peptikum yang disebabkan oleh H.pylori. Tetrasiklin menembus plasenta dan juga diekskresi melalui ASI serta dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan tulang dan gigi pada anak akibat ikatan tetrasiklin dengan kalsium. Tetrasiklin diekskresi melalui urin dan cairan empedu (Lalitha. 2011: 115).
e. Golongan Makrolida
Eritromisin merupakan bentuk prototipe dari obat golongan makrolida yang disintesis dari Salmonella erythreus. Eritromisin efektif terhadap bakteri gram positif terutama pneumokokus, streptokokus, stafilokokus, dan korinebakterium. Aktifitas
antibakterial eritromisin bersifat bakterisidal dan meningkat pada pH basa (Lalitha. 2011: 116).
f. Golongan Aminoglikosida
Yang termasuk golongan aminoglikosida, antara lain: streptomisin, neomisin, kanamisin, tobramisin, sisomisin, netilmisin, dan lain – lain. Golongan aminoglikosida pada umumnya digunakan untuk mengobati infeksi akibat bakteri gram negatif enterik, terutama pada bakteremia dan sepsis, dalam kombinasi dengan vankomisin atau penisilin untuk mengobati endokarditis, dan pengobatan tuberkulosis (Lalitha. 2011: 117).
g. Golongan Sulfonamida dan Trimetoprim
Sulfonamida dan trimetoprim merupakan obat yang mekanisme kerjanya menghambat sintesis asam folat bakteri yang akhirnya berujung kepada tidak terbentuknya basa purin dan DNA pada bakteri. Kombinasi dari trimetoprim dan sulfametoxazole merupakan pengobatan yang sangat efektif terhadap pneumonia akibat Pseudomonas jiroveci, sigellosis, infeksi salmonela sistemik, infeksi saluran kemih, prostatitis, dan beberapa infeksi mikobakterium non tuberkulosis (Lalitha. 2011: 119).
h. Golongan Fluorokuinolon
Golongan fluorokuinolon termasuk di dalamnya asam nalidixat, siprofloxasin, norfloxasin, ofloxasin, levofloxasin, dan lain–lain. Golongan fluorokuinolon aktif terhadap bakteri gram negatif. Golongan fluorokuinolon efektif mengobati infeksi saluran kemih yang disebabkan oleh pseudomonas. Golongan ini juga aktif
mengobati diare yang disebabkan oleh shigella, salmonella, Escheria coli, dan Campilobacter (Lalitha. 2011: 121).
C. Antibiotik amoksisilin 1. Sifat fisiko kimia
Nama resmi : AMOKSICILLINUM
Nama lain : Amoksisilin
Berat molekul : 419,45
Rumus molekul : C16H19N3O5S.3H2O
Rumus struktur :
Gambar 4: Rumus struktur amoksisilin Pemerian : Serbuk hablur, putih; praktis tidak berbau.
Kelarutan : Sukar larut dalam air dan metanol; tidak larut dalam
benzena, dalam karbon tetraklorida dandalam kloroform.
Fungsi : Antibiotika
Ph : Antara 3,5 dan 6,0; lakukan penetapan menggunakan
larutan 2mg per ml.
bentuk asam penicilloic. Larutan tanpa buffer dari amoksisilin sodium stabil pada pH 5,8 dan larutan dalam larutan buffer sitrat lebih stabil pada pH 6,5.
Penyimpanan : Amoksisilin sebaiknya disimpan dalam wadah kedap udara pada temperature tidak lebih dari 30ºC.
2. Indikasi
Amoksisilin digunakan untuk mengatasi infeksi yang disebabkan oleh bakteri gram negatif seperti Haemophilus Influenza, Escherichia coli, Proteus mirabilis, Salmonella. Amoksisilin juga dapat digunakan untuk mengatasi infeksi yang disebabkan oleh bakteri gram positif seperti : Streptococcus pneumoniae, enterococci, nonpenicilinase-producing staphylococci, Listeria. Tetapi walaupun demikian, amoksisilin secara umum tidak dapat digunakan secara sendirian untuk pengobatan yang disebabkan oleh infeksi streprtococcus dan staphilococcal. Amoksisilin diindikasikan untuk infeksi saluran pernapasan, infeksi saluran kemih, infeksi klamidia, sinusitis, bronkitis, pneumonia, abses gigi dan infeksi rongga mulut lainnya (Pertiwi. 2010).
3. Farmakologi
Amoksisilin adalah antibiotik dengan spektrum luas, digunakan untuk pengobatan seperti; karies gigi, infeksi pada saluran napas, saluran empedu, dan saluran seni, gonorhu, gastroenteris, meningitis dan infeksi karena Streptococci, seperti pneumonia. Amoxicillin adalah turunan penisilin yang tahan asam tetapi tidak tahan terhadap penisilinase (Pertiwi. 2010).
Amoksisilin aktif melawan bakteri gram positif yang tidak menghasilkan β-laktamase dan aktif melawan bakteri gram negatif karena obat tersebut dapat menembus pori–pori dalam membran fosfolipid luar. Untuk pemberian oral, amoksisilin merupakan obat pilihan karena di absorbsi lebih baik daripada ampisilin, yang seharusnya diberikan secara parenteral (Pertiwi. 2010).
Amoksisilin merupakan turunan dari penisilin semi sintetik dan stabil dalam suasana asam lambung. Amoksisilin diabsorpsi dengan cepat dan baik pada saluran pencernaan, tidak tergantung adanya makanan. Amoksisilin terutama diekskresikan dalam bentuk tidak berubah di dalam urin. Ekskresi Amoksisilin dihambat saat pemberian bersamaan dengan probenesid sehingga memperpanjang efek terapi (Pertiwi. 2010).
Amoksisilin mempunyai spektrum antibiotik serupa dengan ampisilin. Beberapa keuntungan amoksisilin dibanding ampisilin adalah absorbsi obat dalam saluran cerna lebih sempurna, sehingga kadar darah dalam plasma dan saluran seni lebih tinggi. Efek terhadap Bacillus dysentery amoksisilin lebih rendah dibanding ampisilin karena lebih banyak obat yang diabsorbsi oleh saluran cerna (Pertiwi. 2010).
Namun, resistensi terhadap amoksisilin dan ampisilin merupakan suatu masalah, karena adanya inaktifasi oleh plasmid yang diperantai penisilinase. Pembentukan dengan penghambat β–laktamase seperti asam klavunat atau sulbaktam melindungi amoksisilin atau ampisilin dari hidrolisis enzimatik dan meningkatkan spektrum antimikrobanya (Pertiwi. 2010).
4. Interaksi obat
Amoksisilin dapat memberikan interaksi dengan senyawa lain bila diberikan dalam waktu yang bersamaan. Interaksi tersebut antara lain.
a. Eliminasi Amoksisilin diperlambat pada pemberian dengan Uricosurika (misal Probenesid), Diuretika, dan Asam–asam lemah ( misal asam Acetylsalicylat dan Phenilbutazon).
b. Pemberian bersamaan Antasida - Alumunium tidak menurunkan ketersediaan biologik dari Amoksisilin.
c. Pemberian bersamaan Allopurinol dapat memudahkan timbulnya reaksi - reaksi kulit alergik.
d. Menurunkan keterjaminan kontrasepsi preparat hormon.
e. Kemungkinan terjadi alergik silang dengan Antibiotik Sepalosporin. f. Antibiotik bacteriostatik mengurangi bactericidal dari Amoksisilin. g. Inkompabilitas dengan cairan/larutan dekstrosa.
5. Kegunaan Klinis (Spektrum Antibiotik)
Sifat antibiotik dapat berbeda satu dengan lainnya. Misalnya, Penisilin G bersifat aktif terhadap bakteri Gram-Positif, sedangkan Gram-negatif pada umumnya resisten terhadap Penisilin G. Streptomisin memiliki sifat berbanding terbalik dengan Penisilin G, sedangkan tetrasiklin aktif terhadap berbagai bakteri Gram-positif dan Gram-negatif. Berdasarkan perbedaan sifat spektrum kerjanya, antibiotik dibagi atas dua yaitu spektrum sempit dan spektrum luas. Antibiotik yang termasuk dalam golongan spektrum sempit di antaranya Penisilin G (benzil penisilin) dan
streptomisin. Sedangkan antibiotik yang termasuk dalam golongan spektrum luas di antaranya tetrasiklin, kloramfenikol, dan karbapenem (Yati. 2011: 142).
Walaupun suatu antibiotik berspektrum luas, efektivitas kliniknya belum tentu seluas spektrumnya karena efektivitas maksimal diperoleh dengan menggunakan obat terpilih untuk peradangan yang sedang dihadapi terlepas dari efeknya terhadap mikroba lain. Antibiotik berspektrum luas cenderung menimbulkan superinfeksi oleh bakteri atau jamur yang resisten. Di lain pihak, pada septikemia yang penyebabnya belum diketahui diperlukan antibiotik yang berspektrum luas sementara menunggu hasil pemeriksaan mikrobiologik (Yati. 2011 : 142).
a. Spektrum sempit
Antibiotik yang bersifat aktif bekerja hanya terhadap beberapa jenis mikroba saja, bakteri gram positif atau gram negative saja. Contohnya eritromisin, klindamisin, kanamisin, hanya bekerja terhadap mikroba gram-positif. Sedang streptomisin, gentamisin, hanya bekerja terhadap kuman gram-negatif (Yati. 2011 : 148).
b. Spektrum luas
Antibiotik yang bersifat aktif bekerja terhadap banyak jenis mikroba yaitu bakteri gram positif dan gram negative. Contoh antibiotik dalam kelompok ini adalah sulfonamid, ampisilin, sefalosforin, kloramfenikol, tetrasiklin, dan rifampisin (Yati. 2011 : 148).
D. Antibiotik seftriakson
Seftriakson merupakan antibiotika golongan sefalosporin generasi ke tiga. Antibiotik ini memiliki aktivitas yang sangat kuat untuk melawan bakteri gram negatif dan gram positif dan beberapa bakteri anaerob lain termasuk Streptococcuss spp, Hemophiluse inlfluenzae, dan Pseudomonas (Jayesh. 2010). Sefalosporin berasal dari jamur Cephalosporium acremonium yang diisolasi pada tahun 1948 oleh Brotzu. Aktivitas antimikroba sefalosporin ialah dengan menghambat sintesa dinding sel mikroba, yang dihambat ialah reaksi transpeptidase tahap ketiga dalam rangkaian reaksi pembentukan dinding sel (Deddy. 2011).
Gambar 1. Struktur Seftriakson (Deddy. 2011).
Seftriakson memiliki spektrum aktivitas yang luas dan efektif untuk pengobatan infeksi yang disebabkan oleh berbagai bakteri gram positif dan gram negatif. Seperti sefalosporin generasi ketiga lainnya (sefotaksim, seftazidim), seftriakson kurang aktif daripada generasi sefalosporin pertama dan kedua terhadap beberapa bakteri gram positif aerobik (misalnya, staphylococci) dan umumnya tidak boleh digunakan dalam pengobatan infeksi yang disebabkan oleh organisme ketika generasi penisilin atau sefalosporin pertama atau kedua bisa digunakan. Namun, seftriakson dapat
menjadi obat pilihan untuk infeksi serius yang disebabkan oleh bakteri gram positif tertentu lainnya, termasuk beberapa streptococci (Streptococus pneumoniae, Streptococcus pyrogenes, Streptococcus agalactiae). Seftriakson dianggap obat pilihan bagi banyak infeksi yang disebabkan oleh bakteri gram negatif (Acinetobacter calcoaceticus, Enterobacter aerogenes, Enterobacter cloacae, Escherichia coli) dan penggunaan utama obat ini untuk pengobatan infeksi serius bakteri gram-negatif, infeksi nosokomial (McEvoy & Gerald. 2008). Farmakokinetik Seftriakson mengikuti farmakokinetika non linier (bergantung dosis), terikat protein plasma 85 hingga 95%. Absorbsi seftriakson di saluran cerna buruk, karena itu diberikan secara parentral. Konsentrasi plasma sekitar 40 dan 80µg/ mL telah dilaporkan 2 jam setelah injeksi IM 0,5 dan 1g seftriakson. t½ eliminasi seftriakson tidak tergantung pada dosis dan bervariasi antara 6 dan 9 jam, tetapi dapat diperpanjang pada neonatus. t½ eliminasi tidak berubah pada pasien dengan gangguan ginjal, tetapi mengalami penurunan terutama ketika ada gangguan hati. Seftriakson secara luas didistribusikan dalam jaringan tubuh dan cairan. Umumnya mencapai konsentrasi terapeutik dalam CSF. Melintasi plasenta dan konsentrasi rendah telah terdeteksi dalam ASI konsentrasi tinggi dicapai dalam empedu. Sekitar 33 hingga 67 % seftriakson diekskresikan dalam urin, terutama oleh filtrasi glomerulus, sisanya diekskresikan dalam empedu dan dibuang melalui feses(Mc Evoy & Gerald.2008).
farmakodinamik Ceftriakson adalah golongan cefalosporin dengan spektrum
luas, yang membunuh bakteri dengan menghambat sintesis dinding sel bakteri (Deddy. 2011).
E. Antibiotik eritromisin
Eritromisin merupakan antibiotik golongan makrolid. Antibiotika golongan makrolida mempunyai persamaan yaitu terdapatnya cincin lakton yang besar dalam rumus molekulnya (Joyce L.2012).
Eritromisin dihasilkan oleh suatu strain Streptomyces erythreus. Zat ini berupa kristal berwarna kekuningan, larut dalam air sebanyak 2 mg/ml. Eritromisin larut lebih baik dalam etanol atau pelarut organik. Antibiotik ini tidak stabil dalam suasana asam, kurang stabil pada suhu kamar tetapi cukup stabil pada suhu rendah. Aktivitas in vitro paling besar dalam suasana alkalis. Larutan netral eritromisin yang disimpan pada suhu kamar akan menurun potensinya dalam beberapa hari, tetapi bila disimpan pada suhu 5˚ biasanya tahan sampai beberapa minggu (Joyce L.2012).
Antivitas mikroba golongan makrolid menghambat sintesis protein kuman dengan jalan berikatan secara reversible dengan ribosom subunit 50S, dan bersifat bakteriostatik atau bakterisid tergantung dari jenis kuman dan kadarnya. Spektrum antimikroba. In vitro, efek terbesar eritromisin terhadap kokus gram positif, seperti Str. Pyogenes dan Str. Pneumoniae. Str. Viridans mempunyai kepekaan yang bervariasi terhadap eritromisin. S. aureus yang resisten terhadap eritromisin serin dijumpai di rumah sakit (strain nosokmial). Batang gram positif yang pka terhadap eritromisin ialah Cl. Perfringens, C. Diphtheriae, dan L. monocytogenes. Eritromisin
tidak aktif terhadap kebanyakan kuman gram negatif, namun ada beberapa spesies yang sangat peka terhadap eritromisin yaitu N. Gonorrhoeae, Campylobacter jejuni, M. Pneumoniae, Legionella pneumophila, dan C. Trachomatis. H. Influenzae mempunyai kepekaan yang bervariasi terhadap obat ini (Joyce L.2012).
Resistensi terhadap eritromisin terjadi melalui 3 mekanisme yang diperantarai oleh plasmid yaitu : 1.Menurunnya permeabilitas dinding sel kuman, 2.Berubahnya reseptor obat pada ribosom kuman, dan 3.Hidrolisis obat oleh esterase yang dihasilkan oleh kuman tertentu (Enterobacteriaceae) (Joyce L.2012).
Farmakokinetik eritromisin yaitu pemberian Eritromisin basa dihancurkan oleh asam lambung sehingga obat ini diberikan dalam bentuk tablet salut enterik atau ester. Semua obat ini diabsorpsi secara adekuat setelah pemberian per-oral. 2.Distribusi Distribusi eritromisin ke seluruh cairan tubuh baik kecuali ke cairan sebrospinal. Obat ini merupakan satu di antara sedikit antibiotika yang bedifusi ke dalam cairan prostat da mempunyai sifat akumulasi unit ke dalam makrofag. Obat ini berkumpul di hati. Adanya inflamasi menyebabkan penetrasinya ke jaringan lebih baik. 3.Metabolisme Eritromisin dimetabolisme secara ekstensif dan diketahui menghambat oksidasi sejumlah obat melalui interaksinya dengan sistemsitokrom P-450. 4.Ekskresi Eritromisin terutama dikumpulkan dan diekskresikan dalam bentuk aktif dalam empedu. Reabsorpsi parsial terjadi melalui sirkulasi enterohepatik (Joyce L.2012).
Efek samping eritromisin yaitu: 1.Gangguan epigastrik Efek samping ini paling sering dan dapat mengakibatkan ketidakpatuhan pasien terhadap eritromisin.
2.Ikterus Kolestatik Efek samping ini terjadi terutama pada eritromisin estolat. Reaksi ini timbul pada hari ke 10-20 setelah dimulainya terapi. Gejalanya berupa nyeri perut yang menyerupai nyeri pada kolestasis akut, mual, muntah, kemudian timbul ikterus, demam, leukositosis dan eosinofilia; transaminase serum dan kadar bilirubin meninggi; kolesitogram tidak menunjukkan kelainan. 3.Ototoksisitas Ketulian sementara berkaitan dengan eritromisin terutama dalam dosis tinggi. 4.Reaksi Alergi Reaksi alergi mungkin timbul dalam bentuk demam, eosinofilia dan eksantem yang cepat hilang bila terapi dihentikan (Joyce L.2012)
Interaksi obat : 1.Eritromisin dengan obat asma (turunan teofilin) Efek obat asma dapat meningkat. Obat asma digunakan untuk membuka jalan udara paru-paru dan untuk mempermudah pernapasan penderita asma. Akibatnya : terjadi efek samping merugikan karena terlalu banyak obat asma. Gejala yang dlaporkan : mual, salit kepala, pusing, mudah terangsang, tremor, insomnia, aritmia jantung, takhikardia, dan kemungkinan kejang. 2.Eritromisin dengan Karbamazepin Efek karbamazepin dapat meningkat. Karbamazepin adalah antikonvulsan yang digunakan untuk mengendalikan kejang pada gangguan seperti ayan. Akibatnya : terjadi efek samping merugikan yang disebabkan karena terlalu banyak karbamazepin. Gejala yang dilaporkan : pusing, mual, nyeri perut, dan nanar. 3.Eritromisin dengan Digoksin Efek digoksin meningkat. Digoksin digunakan untuk layu jantung dan untuk menormalkan kembali denyut jantung yang tak teratur. Akibatnya : terjadi fek samping merugikan karena terlalu banyak digoksin. Gejala yang dilaporkan : mual, kehilangan nafsu makan, aritmia jantung, takhikardia atau bradikardia. 4.Erirtromisin
dengan Klindamisin atau Linkomisin Efek antibiotika klindamisin dan linkomisin dapat berkurang. Akibatnya : infeksi yang diobati mungkin tidak sembuh seperti yang diharapkan. 5.Erirtromisin dengan Antibiotika penisilin Efek masing-masing antibiotika dapat meningkat atau berkurang. Karena akibatnya sulit diramalkan, sebaiknya kombinasi ini dihindari (Deddy.2011)
F. Resistensi Antibiotik 1. Definisi
Resistensi antimikrobial merupakan resistensi mikroorganisme terhadap obat antimikroba yang sebelumnya sensitif. Organisme yang resisten (termasuk bakteri, virus, dan beberapa parasit) mampu menahan serangan obat antimikroba, seperti antibiotik, antivirus, dan lainnya, sehingga standar pengobatan menjadi tidak efektif dan infeksi tetap persisten dan mungkin menyebar (Goodman Gillman). Resistensi antibiotik merupakan konsekuensi dari penggunaan antibiotik yang salah, dan perkembangan dari suatu mikroorganisme itu sendiri, bisa jadi karena adanya mutasi atau gen resistensi yang didapat (WHO 2012) (Departemen Farmakologi dan Terapi. 2007: 89).
2. Penyebab Resistensi Antibiotik
Menurut WHO (2012), ketidaktepatan serta ketidakrasionalan penggunaan antibiotik merupakan penyebab paling utama menyebarnya mikroorganisme resisten. Contohnya pada pasien yang tidak mengkonsumsi antibiotik yang telah diresepkan oleh dokternya, atau ketika kualitas antibiotik yang diberikan buruk (Departemen
Farmakologi dan Terapi. 2007: 102). Adapun faktor-faktor lain yang dapat menyebabkan adanya resistensi antibiotik adalah sebagai berikut:
a. Kelemahan atau ketiadaan system monitoring dan surveilans (mengamati). b. Ketidakmampuan sistem untuk mengontrol kualitas suplai obat
c. Ketidaktepatan serta ketidakrasionalan penggunaan obat d. Buruknya pengontrolan pencegahan infeksi penyakit e. Kesalahan diagnosis dan pengobatan yang diberikan.
3. Mekanisme Resistensi Antibiotik
Agar dapat bekerja efektif, antibiotik harus mencapai target dalam bentuk aktif, mengikat target, dan melakukan fungsinya sesuai dengan mekanisme kerja antibiotik tersebut. Resistensi bakteri terhadap agen antimikroba disebabkan oleh tiga mekanisme umum, yaitu: (1) obat tidak mencapai target, (2) obat tidak aktif, atau (3) target tempat antibiotik bekerja diubah (Departemen Farmakologi dan Terapi. 2007: 116).
a. Kegagalan obat untuk mencapai target. Membran luar bakteri gram negatif adalah penghalang yang dapat menghalangi molekul polar besar untuk masuk ke dalam sel bakteri. Molekul polar kecil, termasuk seperti kebanyakan antimikroba, masuk ke dalam sel melalui saluran protein yang disebut porin. Ketiadaan, mutasi, atau kehilangan porin dapat memperlambat masuknya obat ke dalam sel atau sama sekali mencegah obat untuk masuk ke dalam sel, yang secara efektif mengurangi konsentrasi obat disisi aktif obat. Jika target kerja obat terletak di intraseluler dan obat memerlukan transpor aktif untuk melintasi membran sel, resistensi dapat terjadi
dari mutasi yang menghambat mekanisme transportasi obat tersebut. Sebagai contoh, gentamisin, yang target kerjanya di ribosom, secara aktif diangkut melintasi membran sel dengan menggunakan energi yang disediakan oleh gradien elektrokimia membran sel bakteri. Gradien ini dihasilkan oleh enzim–enzim pernapasan aerob bakteri. Sebuah mutasi dalam jalur ini atau kondisi anaerob dapat memperlambat masuknya gentamisin ke dalam sel, mengakibatkan resistensi (Departemen Farmakologi dan Terapi. 2007: 215).
b. Inaktivasi obat. Resistensi bakteri terhadap aminoglikosida dan antibiotik beta laktam biasanya hasil dari produksi enzim yang memodifikasi atau merusak antibiotik. Variasi dari mekanisme ini adalah kegagalan bakteri untuk mengaktifkan prodrug yang secara umum merupakan hal yang mendasari resistensi Mycobacterium tuberculosis terhadap isoniazid (Departemen Farmakologi dan Terapi. 2007: 222).
c. Perubahan target kerja antibiotik. Hal ini mencakup mutasi dari target alami (misalnya, resistensi fluorokuinolon), modifikasi dari target kerja (misalnya, perlindungan ribosom dari makrolida dan tetrasiklin), atau akuisisi bentuk resisten dari target yangrentan (misalnya, resistensi stafilokokus terhadap metisilin yang disebabkanoleh produksi varian Peniccilin Binding Protein yang berafinitas lemah) (Departemen Farmakologi dan Terapi. 2007: 234).
4. Konsekuensi Akibat Resistensi Antibiotik
Konsekuensi yang ditimbulkan akibat adanya resistensi antibiotik yang paling utama adalah peningkatan jumlah bakteri yang mengalami resistensi terhadap pengobatan lini pertama. Konsekuensi ini akan semakin memberat. Dari konsekuensi