Seminar NasionalMatematika: Peran Alumni MatematikadalamMembangunJejaring
KerjadanPeningkatanKualitasPendidikan, 6Mei 2017,
FakultasMatematikaUniversitasNegeri Medan
666
PERBEDAAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA YANG DIAJAR DENGAN METODE BEHAVIOR MODIFICATION DAN METODE
GUIDED DISCOVERY PADA SUB POKOK BAHASAN
PERSAMAAN KUADRAT DI KELAS X SMA NEGERI 1 PERBAUNGAN
Nurliyah Nasution1 Lena O Panggabean2
1 Prodi Pendidikan Matematika PPs, Universitas Negeri Medan 2 Pendidikan Matematika, Universitas Negeri Medan
Email : [email protected]
ABSTRAK
Penelitian ini dilatarbelakangi hasil belajar matematika siswa SMA Negeri 1 Perbaungan masih rendah. Untuk itu penelitian ini bertujuan : 1) Untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan antara hasil belajar matematika siswa yang diajar dengan metode behavior modification dengan hasil belajar matematika siswa yang diajar dengan metode guided discovery pada sub pokok bahasan persamaan kuadrat di kelas X SMA Negeri 1 Perbaungan. 2) Untuk mengetahui kesulitan belajar matematika yang dihadapi siswa dalam mempelajari sub pokok bahasan persamaan kuadrat di kelas X SMA Negeri 1 Perbaungan.
Populasi dalam penelitian ini adalah semua siswa kelas X SMA Negeri 1 Perbaungan T.A 2008/2009 yang banyaknya 6 kelas dan banyak siswa 230 orang. Jenis penelitian adalah penelitian eksperimen semu. Teknik pengambilan sampel digunakan secara acak. Sampel dalam penelitian ini terdiri dari dua kelas yaitu kelas X-6 sebagai kelas yang diajar dengan metode behavior modification yang berjumlah 36 orang dan kelas X-5 sebagai kelas yang diajar dengan metode guided discovery yang berjumlah 34 orang. Instrumen dalam penelitian ini berupa soal pre-tes dan post-tes yang bentuknya sama. Tes ini berbentuk essay test yang banyaknya 10 soal, sebelum tes hasil belajar diberikan kepada sampel terlebih dahulu tes divalidasi oleh validator.
Sebelum pengujian hipotesis, terlebih dahulu diuji normalitas data dan homogenitas. Dari pengujian ini diperoleh bahwa sampel berdistribusi normal dan homogen. Hasil belajar matematika siswa yang diajar dengan metode behavior
modification rata-rata pre-tes 42,64 dan pos-tes 77,61 maka tingkat perubahan hasil
belajar adalah 34,97 lebih tinggi dibanding dengan hasil belajar siswa yang diajar dengan metode guided discovery rata-rata pre-tes 42,59 dan pos-tes 70,79 maka tingkat perubahan hasil belajar 28,20. Dengan menggunakan uji statistik-t pada taraf signifikan (=0,05) menunjukkan perbedaan yang signifikan antara pembelajaran dengan metode
behavior modification dengan pembelajaran metode guided discovery (-1,997 < 2,37 atau
2,37 > 1,997). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil belajar matematika siswa yang diajarkan dengan metode behavior
modification dan metode guided discovery pada sub pokok bahasan persamaan kuadrat di
kelas X SMA Negeri 1 Perbaungan T.A 2008/2009. Dari tes hasil belajar siswa dan hasil wawancara diperoleh bahwa siswa masih mengalami kesulitan belajar matematika pada sub pokok persamaan kuadrat namun banyaknya siswa yang mengalami kesulitan belajar matematika ini berkurang.
Seminar NasionalMatematika: Peran Alumni MatematikadalamMembangunJejaring KerjadanPeningkatanKualitasPendidikan, 6Mei 2017, FakultasMatematikaUniversitasNegeri Medan 666 PENDAHULUAN Pendidikan merupakan
kebutuhan sepanjang hayat. Setiap manusia membutuhkan pendidikan, sampai kapan dan dimanapun ia berada. John Locke (dalam Kretif 2006:5) di dalam bukunya Quantum Education menyatakan bahwa: “The main purpose
of education for human is make human to be human”. Dengan kata lain
pendidikan adalah untuk memanusiakan
manusia, sehingga pendidikan
merupakan bagian yang sangat penting bagi kehidupan manusia. Pemerintah
Indonesia juga memahami arti
pentingnya pendidikan bagi warga negaranya. pemerintah membangun sebuah komitmen yang terdapat dalam program wajib belajar untuk seluruh warga negara Indonesia dan berbagai sarana-sarana dalam pendidikan semakin
ditingkatkan sehingga dapat
meningkatkan mutu pendidikan. Salah satu wadah kegiatan yang dipandang mampu menciptakan SDM yang
berkualitas adalah pendidikan
matematika. Matematika merupakan suatu pelajaran yang diajarkan pada setiap jenjang pendidikan di Indonesia mulai dari Sekolah Dasar (SD) sampai dengan Sekolah Menengah Atas (SMA). Hal ini sesuai dengan salah satu tujuan
pendidikan matematika (GBPP
Matematika SMU 1995:1) yaitu: “Mempersiapkan siswa agar sanggup menghadapi perubahan keadaan di dalam kehidupan dan di dunia yang selalu berkembang, melalui latihan, bertindak atas dasar pemikiran secara logis, rasional, kritis, cermat, jujur, efektif dan efisien”.
Segala upaya telah dilakukan oleh pemerintah seperti pembaharuan kurikulum, melengkapi sarana dan prasarana yang menunjang proses belajar mengajar, dan tidak kalah pentingnya adalah meningkatkan kualitas tenaga pendidik. Guru sebagai tenaga pendidik dituntut untuk menguasai strategi dan metode mengajar agar tercipta proses belajar yang efektif di kelas sehingga guru harus mampu memilih metode mengajar yang tepat untuk siswa. Seorang guru atau instruktur harus menyusun beberapa macam teknik yang paling efektif untuk mencapai suatu tujuan tersebut.
Pengalaman peneliti selama mengikuti PPL (Program Pengalaman Lapangan) yaitu banyak siswa yang kurang menguasai konsep matematika karena siswa terbiasa menghafal rumus, sehingga siswa tidak percaya diri dan sulit dalam menyelesaikan permasalahan
yang menyangkut matematika.
Ketidakpercayaan diri siswa disebabkan karena siswa kurang latihan bahkan guru lebih banyak menyelesaikan soal daripada siswa itu sendiri sehingga perubahan-perubahan tingkah laku pembelajaran siswa sama sekali kurang (pasif).
Untuk itu adapun usaha yang harus dilakukan untuk memperbaiki atau meningkatkan hasil belajar matematika tersebut adalah dengan meningkatkan kompetensi guru dalam memilih strategi pembelajaran yang dapat meningkatkan keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran karena sampai sekarang ini
Seminar NasionalMatematika: Peran Alumni MatematikadalamMembangunJejaring
KerjadanPeningkatanKualitasPendidikan, 6Mei 2017,
FakultasMatematikaUniversitasNegeri Medan
667 masih banyak siswa yang mengeluh
bahkan menjadikan matematika sebagai momok yang menakutkan sehingga mereka menjadi malas untuk lebih
mendalami lagi mempelajari
matematika. Kebanyakan dari siswa mempunyai kesulitan dalam memahami konsep, khususnya tentang konsep persamaan kuadrat, dimana konsep ini banyak kaitannya dengan aritmatika, kalkulus dan masalah dalam kehidupan sehari-hari. Pemahaman konsep ini dapat menggambarkan kemampuan seorang siswa dalam memahami matematika.
Persamaan kuadrat salah satu pokok bahasan yang diajarkan pada siswa kelas X SMA semester kedua. Dalam materi persamaan kuadrat siswa dituntut untuk menemukan sendiri rumus – rumus persamaan kuadrat. Menurut hasil wawancara peneliti dengan Ibu Tuti Sipahutar salah seorang guru matematika di SMA Negeri 1 Perbaungan pada tanggal 20 Juni 2008 mengatakan: “Dalam menyelesaikan soal – soal persamaan kuadrat, siswa mengalami kesulitan untuk menentukan akar – akar persamaan kuadrat ax2 + bx + c = 0, jika a bukan 1 dengan memfaktorkan dan melengkapkan kuadrat sempurna”.
Hal ini juga terlihat dari angket yang diberikan kepada siswa bahwa: “Dalam mempelajari persamaan kuadrat siswa mengalami kesulitan dalam
menentukan akar-akar persamaan
kuadrat ax2 + bx + c = 0, jika a bukan 1
dengan memfaktorkan dan
melengkapkan kuadrat sempurna”. Hal ini dibuktikan juga dengan hasil pra penelitian yang dilakukan oleh peneliti bahwa dari 40 siswa kelas X SMA
Negeri 1 Perbaungan yang diberikan tes soal essay persamaan kuadrat sebanyak 5 soal, semua siswa memperoleh nilai dibawah 6 bahkan ada 10 siswa yang tidak menjawab tes tersebut. Waktu yang diberikan dalam mengerjakan soal tes tersebut adalah 50 menit.
Salah satu penyebab siswa mengalami kesulitan dalam memahami konsep tersebut karena siswa tidak dibiarkan untuk menyelesaikan atau membuktikan suatu konsep yang diberikan sehingga siswa cenderung kurang aktif yang menyebabkan perbuatan-perbuatan atau tingkah laku dari siswa kurang terampil dalam penyelesaian soal. Berkaitan dengan uraian tersebut maka perlu dipikirkan cara dan strategi untuk mengatasi permasalahan di atas. Salah satu metode mengajar yang diterapkan dalam belajar matematika adalah metode guided
discovery (penemuan terbimbing). Dengan menggunakan metode guided
discovery ini, menantang peserta didik
untuk merasa terlibat atau berpartisipasi dalam aktivitas pembelajaran. Peranan guru hanyalah sebagai fasilitator dan pembimbing atau pemimpin pengajaran yang demokratis, sehingga diharapkan peserta didik lebih banyak melakukan kegiatan sendiri atau dalam bentuk kelompok memecahkan masalah atas bimbingan guru.
Mempelajari persamaan kuadrat bukan
hanya kemampuan menemukan
kebenaran jawaban akhir dan mutlak
tetapi juga untuk memperoleh
ketangkasan dan keterampilan harus diperlukan suatu keaktifan siswa dengan mengerjakan sendiri dan memecahkan
Seminar NasionalMatematika: Peran Alumni MatematikadalamMembangunJejaring
KerjadanPeningkatanKualitasPendidikan, 6Mei 2017,
FakultasMatematikaUniversitasNegeri Medan
668 masalah sendiri dari suatu konsep yang
diberikan.
METODE PENELITIAN
Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian eksperimen. Metode
yang digunakan adalah metode
eksperimen kuasi (semu) sebab kondisi – kondisi siswa tidak dapat dikontrol secara keseluruhan, seperti: pengerjaan tugas rumah, hubungan siswa dengan orang tua, hubungan siswa dengan lingkungan tempat tinggal. Populasi dalam penelitian ini adalah semua siswa kelas X SMA Negeri I Perbaungan Tahun Ajaran 2008 / 2009 yang berjumlah 230 orang dan dibagi atas enam kelas yang dibagi tidak berdasarkan tingkat kemampuan siswa artinya siswa disebar secara merata. Sampel dalam penelitian ini yaitu satu kelas diambil sebagai kelas eksperimen satu yaitu kelas X-6 dan satu kelas lainnya sebagai kelas eksperimen dua yaitu kelas X-5. Sampel dalam penelitian ini yaitu satu kelas diambil sebagai kelas eksperimen satu yaitu kelas X-6 dan satu kelas lainnya sebagai kelas eksperimen dua yaitu kelas X-5.
HASIL PENELITIAN
Pada penelitian ini kedua kelompok yang dijadikan sampel berada dalam kondisi yang sama sebelum pelaksanaan pembelajaran yaitu buku
ajar kedua sampel sama, lama penyampaian materi pada kedua kelas sama dan waktu belajar kedua sampel tidak jauh berbeda. Setelah mengadakan pengamatan dan menganalisis data, maka diperoleh rata-rata hasil belajar siswa yang diajar dengan metode behavior
modification tidak sama atau lebih baik
dibandingkan dengan siswa yang diajar dengan metode guided discovery,
Tabel 4.1 Deskripsi data hasil belajar
dapat dilihat dari rata-rata post-tes pada kedua kelas, rata-rata post-post-tes kelas eksperimen satu diperoleh 77,61 sedangkan rata-rata post-tes kelas eksperimen dua diperoleh 70,79 sehingga diperoleh selisihnya 6,82. Dapat dilihat bahwa setelah diberikan
pembelajaran dengan metode
pembelajaran yang berbeda, hasil belajar kedua kelompok sampel tersebut juga berbeda dan hasil belajar masing-masing kelompok sampel juga mengalami peningkatan, dimana kelas eksperimen satu mengalami peningkatan hasil belajar rata-rata 34,97 sedangkan kelas eksperimen dua mengalami peningkatan hasil belajar rata-rata 28,20. Dari hasil penelitian diatas membenarkan metode
behavior modification merupakan salah
satu upaya konkrit yang dapat dilaksanakan guru untuk mengatasi No Keterangan
Metode Behavior
Modification Metode Guided Discovery Pre-tes (T11) Post-tes (T21) Pre-tes (T12) Post-tes (T22)
1 N 36 36 34 34
2 X 42,64 77,61 42,59 70,79
3 X 1535 2794 1448 2407
Seminar NasionalMatematika: Peran Alumni MatematikadalamMembangunJejaring
KerjadanPeningkatanKualitasPendidikan, 6Mei 2017,
FakultasMatematikaUniversitasNegeri Medan
669 kesulitan siswa dalam memahami dan
menguasai konsep secara menyeluruh. Dari hasil observasi yang dilakukan oleh guru bidang studi matematika dapat dilihat pada tabel 4.4
Tabel 4.2 Data Hasil Observasi
Berdasarkan hasil observasi pada tabel diatas, peneliti telah mampu
meningkatkan kemampuan dalam
menyajikan materi pelajaran dengan kedua metode pembelajaran sehingga siswa aktif dalam mengikuti pelajaran dan juga dalam menyelesaikan soal. Ini menunjukkan kemampuan peneliti dalam kegiatan pembelajaran mengalami kemajuan.
KESIMPULAN
Berdasarkan analisis terhadap data penelitian maka dapat disimpulkan bahwa:
1. Ada perbedaan yang signifikan antara hasil belajar siswa yang diajar dengan metode behavior
modification dengan hasil belajar
siswa yang diajar dengan metode
guided discovery pada sub pokok
bahasan persamaan kuadrat di kelas X SMA Negeri 1
Perbaungan Tahun Ajaran
2008/2009.
2. Kesulitan belajar matematika yang masih dialami siswa dalam pembelajaran metode behavior
modification dalam mempelajari
sub pokok bahasan persamaan kuadrat di kelas X SMA Negeri 1 Perbaungan yaitu :
Siswa kesulitan dalam memahami soal.
Siswa kesulitan menyatakan
soal dalam bentuk
matematika.
Kesulitan belajar matematika dalam pembelajaran metode
guided discovery yang masih
dialami siswa dalam mempelajari sub pokok bahasan persamaan kuadrat di kelas X SMA Negeri 1 Perbaungan yaitu :
Siswa kesulitan dalam memahami soal.
Siswa kesulitan menyatakan
soal dalam bentuk
matematika.
Siswa kesulitan mengingat rumus.
Siswa kurang teliti dalam perhitungan.
Pertemua n
Behavior
Modification Guided Discovery
Nilai Kriteria Nilai Kriteria I 75 Baik 77,50 Baik II 80,56 Baik 82,50 Baik III 83.33 Baik 85 Sangat Baik