• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS PERHITUNGAN INTERFERENSI SISTEM TERESTRIAL TERHADAP SISTEM GMPCS SATELIT GLOBALSTAR

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "ANALISIS PERHITUNGAN INTERFERENSI SISTEM TERESTRIAL TERHADAP SISTEM GMPCS SATELIT GLOBALSTAR"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS PERHITUNGAN INTERFERENSI SISTEM TERESTRIAL TERHADAP SISTEM GMPCS SATELIT GLOBALSTAR

Karlo Juliano Aer¹, -²

¹Teknik Telekomunikasi, Fakultas Teknik Elektro, Universitas Telkom Abstrak

Penggunaan pita frekuensi yang sama pada dua sistem yang berbeda dapat menyebabkan terjadinya interferensi. Interferensi tersebut dapat juga terjadi antara sistem komunikasi terestrial dengan sistem komunikasi satelit global GMPCS (Global Mobile Personal

Communication by Satellite), yang menggunakan frekuensi operasi yang sama dengan cakupan wilayah yang saling overlap.

Dalam penulisan tugas akhir ini, akan dianalisa aspek interferensi, khususnya interferensi sistem komunikasi terestrial terhadap sistem komunikasi satelit global GMPCS. Sistem komunikasi terestrial yang dimaksud adalah sistem komunikasi gelombang mikro digital point to point yang LOS (Line Of Sight). Sistem komunikasi satelit global GMPCS merupakan pemanfaatan teknologi satelit yang memungkinkan seseorang untuk melakukan komunikasi antar personal secara mobile via satelit dengan cakupan mendunia.

Analisa perhitungan dilakukan dengan mempertimbangkan aspek geometri, faktor penguatan side lobe antena, bandwidth operasional, dan kondisi propagasi. Pemodelan perhitungan interferensi dilakukan berdasarkan perbandingan teknis dan kemungkinan interferensi yang datang dari sistem radio terestrial ke sistem GMPCS Globalstar.

Dari hasil analisis perhitungan interferensi, tampak bahwa radio terestrial cukup mengganggu terhadap satelit Globalstar. Besarnya wilayah terinterferensi cukup signifikan. Hal ini sangat sulit diatasi, kecuali kedua sistem tidak menggunakan alokasi pita frekuensi yang sama.

Kata Kunci :

Abstract

Uses of same frequency at two different system earn to cause the happening of interference. The Interference earn also be happened by among system of communications terrestrial with system of global satellite communications of GMPCS (Global Mobile Personal Communication By Satellite), using same operation frequency with region coverage which each other overlap. In this final assignment writing, will be analysed by aspect interference, specially interference of system of communications terrestrial to system of global satellite communications of GMPCS. System of such communications terrestrial is system of communications of digital microwave of point to point which LOS (Line Of Sight). System of global satellite communications of GMPCS represent technological exploiting of satellite enabling somebody to do communications usher personal in mobile via satellite with global coverage.

Analyses calculation done by considering aspect geometry, factor of reinforcement of eunuch of lobe antenna, bandwidth operational, and condition propagation. The modeling of calculation interference done pursuant to technical comparison and possibility of incoming interference from system of radio terrestrial to system of GMPCS Globalstar.

From the result of analyses calculation interference, appear that radio terrestrial enough bother to satellite Globalstar. The regional of interference enough significan. This problem is very difficult to overcome, except the both of system not use allocation of same frequency. Keywords :

Powered by TCPDF (www.tcpdf.org)

(2)

ANALISIS PERHITUNGAN INTERFERENSI SISTEM TERESTRIAL TERHADAP SISTEM GMPCS

SATELIT GLOBALSTAR

Karlo Juliano Aer, Ir. Gideon Jonathan, Arfianto Fahmi, ST Jurusan Teknik Elektro

Sekolah Tinggi Teknologi Telkom

ABSTRAKSI

Penggunaan pita frekuensi yang sama pada dua sistem yang berbeda dapat menyebabkan terjadinya interferensi. Interferensi tersebut dapat juga terjadi antara sistem komunikasi terestrial dengan sistem komunikasi satelit global GMPCS (Global Mobile Personal Communication by Satellite), yang menggunakan frekuensi operasi yang sama dengan cakupan wilayah yang saling overlap.

Dalam penulisan tugas akhir ini, akan dianalisa aspek interferensi, khususnya interferensi sistem komunikasi terestrial terhadap sistem komunikasi satelit global GMPCS. Sistem komunikasi terestrial yang dimaksud adalah sistem komunikasi gelombang mikro digital point to point yang LOS (Line Of Sight). Sistem komunikasi satelit global GMPCS merupakan pemanfaatan teknologi satelit yang memungkinkan seseorang untuk melakukan komunikasi antar personal secara mobile via satelit dengan cakupan mendunia.

Analisa perhitungan dilakukan dengan mempertimbangkan aspek geometri, faktor penguatan side lobe antena, bandwidth operasional, dan kondisi propagasi. Pemodelan perhitungan interferensi dilakukan berdasarkan perbandingan teknis dan kemungkinan interferensi yang datang dari sistem radio terestrial ke sistem GMPCS Globalstar.

Dari hasil analisis perhitungan interferensi, tampak bahwa radio terestrial cukup mengganggu terhadap satelit Globalstar. Besarnya wilayah terinterferensi cukup signifikan. Hal ini sangat sulit diatasi, kecuali kedua sistem tidak menggunakan alokasi pita frekuensi yang sama.

ABSTRACTION

Uses of same frequency at two different system earn to cause the happening of interference. The Interference earn also be happened by among system of communications terrestrial with system of global satellite communications of GMPCS (Global Mobile Personal Communication By Satellite), using same operation frequency with region coverage which each other overlap.

In this final assignment writing, will be analysed by aspect interference, specially interference of system of communications terrestrial to system of global satellite communications of GMPCS. System of such communications terrestrial is system of communications of digital microwave of point to point which LOS (Line Of Sight). System of global satellite communications of GMPCS represent technological exploiting of satellite enabling somebody to do communications usher personal in mobile via satellite with global coverage.

Analyses calculation done by considering aspect geometry, factor of reinforcement of eunuch of lobe antenna, bandwidth operational, and condition propagation. The modeling of calculation interference done pursuant to technical comparison and possibility of incoming interference from system of radio terrestrial to system of GMPCS Globalstar.

From the result of analyses calculation interference, appear that radio terrestrial enough bother to satellite Globalstar. The regional of interference enough significan. This problem is very difficult to overcome, except the both of system not use allocation of same frequency.

I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Pada awal kemunculannya, sistem komunikasi satelit hanya digunakan sebagai jaringan transport antar sentral yang secara geografis tidak mungkin dilayani dengan jaringan terestrial atau atas dasar pertimbangan ekonomis dianggap tidak efisien. Selanjutnya, dengan adanya kemajuan teknologi yang mendukung perkembangan space

segment maupun ground segment, sistem

komunikasi satelit mulai diaplikasikan tidak hanya sebagai jaringan transport akan tetapi juga diaplikasikan sebagai jaringan akses.

Pengembangan penggunaan jaringan digital telah membawa kita pada penyediaan layanan telekomunikasi secara langsung ke end-user dalam area transnasional, regional, maupun global. Hal ini

(3)

membuat user yang bersifat mobile dapat dengan mudah mengakses setiap jenis layanan baik itu layanan akses telepon, layanan jasa multimedia;

internet, video on demand, DTH (Direct TV to Home), video conference, dan lain-lain.

Terkait dengan hal tersebut, penggunaan pita frekuensi yang sama pada dua sistem yang berbeda dapat menyebabkan terjadinya interferensi. Interferensi tersebut dapat juga terjadi antara sistem komunikasi terestrial dan sistem komunikasi satelit GMPCS yang menggunakan frekuensi operasi sama dengan cakupan wilayah yang saling overlap. Adanya interferensi ini menyebabkan penambahan daya derau noise pada peralatan penerima. Hal ini akan berpengaruh terhadap kualitas sinyal yang diperoleh dari output peralatan penerimanya. Pengaruh dari interferensi ini dapat dilihat dengan parameter C/I (carrier to interference ratio). Harga C/I tersebut berpengaruh terhadap harga C/N (carrier to noise) untuk sinyal analog dan Eb/No atau BER (bit error rate) untuk sinyal digital.

Pemanfaatan metode akses dapat mengurangi interferensi yang terjadi, karena ketahanannya terhadap interferensi terutama interferensi

bandwidth sempit (Narrow-band Interference). Dari

keuntungan pemanfaatan metode akses, diharapkan pengaruh interferensi dari sistem komunikasi terestrial tidak akan mengurangi performansi sistem komunikasi satelit GMPCS.

1.2 Perumusan Masalah

Tugas akhir ini membahas interferensi yang disebabkan oleh sistem komunikasi terestrial terhadap sistem komunikasi satelit global GMPCS, yang menyebabkan performansi kedua sistem komunikasi tersebut menurun, dalam hal ini BER. Akan ditinjau sejumlah parameter sistem komunikasi yang diperkirakan mempengaruhi BER.

1.3 Batasan Masalah

¾ Perhitungan dan analisa dilakukan berdasarkan interferensi yang datang dari sistem komunikasi terestrial terhadap sistem komunikasi satelit GMPCS, pada pita frekuensi C-band untuk feeder link,

L-band untuk frekuensi mobile uplink serta S-band untuk frekuensi mobile down link.

¾ Sistem komunikasi satelit GMPCS Globalstar berada pada orbit LEO (Low

Orbit Earth).

¾ Sistem komunikasi terestrial adalah sistem komunikasi gelombang mikro digital point

to point yang LOS.

¾ Perhitungan interferensi antara radio terestrial dengan sistem GMPCS satelit Globalstar dilakukan hanya pada satu spot

beam, yang berarti satu carrier saja.

Perhitungan dilakukan untuk berbagai sudut pandang, dalam hal ini sudut pandang ditentukan oleh sudut elevasi. Untuk sudut

pandang diasumsikan azimuth radio terestrial terhadap satelit Globalstar tepat pada vektor pointing antena radio terestrial.

1.4 Tujuan Penelitian

¾ Mengetahui apakah interferensi sistem komunikasi terestrial akan mempengaruhi performansi dari sistem komunikasi satelit GMPCS.

¾ Menghitung dan menganalisa tingkat gangguan interferensi yang terjadi antara kedua sistem komunikasi tersebut.

1.5 Metodologi Pemecahan Masalah

Metodologi yang dipakai untuk memecahkan masalah adalah metode verifikasi dengan pendekatan analisa dari studi literatur.

1.6 Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan dari tugas akhir ini adalah sebagai berikut:

BAB I : PENDAHULUAN BAB II : LANDASAN TEORI

BAB III : MODEL INTERFERENSI BAB IV : ANALISIS PERHITUNGAN BAB V : PENUTUP

II. LANDASAN TEORI

2.1 Sistem Komunikasi Radio Terestrial

Sistem komunikasi radio terestrial adalah suatu sistem komunikasi yang dilewatkan melalui media propagasi gelombang radio pada frekuensi 1,4-50 GHz. Untuk sistem komunikasi radio di Indonesia pada umumnya lebih banyak menggunakan frekuensi dibawah 10 GHz.

Mekanisme perambatan gelombang radio ada dua macam, yaitu sistem komunikasi bebas pandang atau LOS (Line Of Sight) dan sistem komunikasi dibalik jangkauan lihat horizon (Over The Horizon) yang meliputi tropospheric scatter dan difraksi. Propagasi bebas pandang merupakan propagasi yang menghindari adanya halangan (Obstacle) pada lintasan propagasinya. Kondisi ini dapat tercapai, bila persyaratan daerah fresnel dipenuhi. Sedangkan sistem propagasi over the horizon adalah pemantulan gelombang radio pada lapisan atmosfer tertentu (difraksi) dan penghamburan (scattering) gelombang radio oleh partikel-partikel udara pada lapisan troposfer (tropospheric scatter). Dalam penulisan ini, akan lebih ditekankan pada uraian mengenai hubungan radio terestrial bebas pandang atau LOS.

2.1.1 Redaman Ruang Bebas (Free Space Loss)

Redaman ruang bebas atau free space loss (FSL) merupakan penurunan daya gelombang radio selama gelombang tersebut merambat di ruang bebas. Rugi-rugi ini dipengaruhi oleh besarnya

Powered by TCPDF (www.tcpdf.org)

(4)

reg

l

159,75 dB horison

d

29,05 km FSL

l

129,65 dB

)

(

Y

RT Tx

G

20 dB

)

(

Y

UTs

G

-15 dB

)

( X

F

-35,1 dB Jarak loss difraksi 41 km

Jarak total terinterferensi 70,05 km Luas wilayah terinterferensi 3854 km2

Dari hasil perhitungan, terlihat bahwa luas wilayah yang terganggu oleh 1 radio terestrial cukup besar. Untuk frekuensi carrier 2491,75 MHz saja, di Indonesia ada sekitar 70 buah. Untuk 70 radio terrestrial tersebut akan menghasilkan luas wilayah terinterferensi sekitar 0,27 juta km2. Ini jika dibandingkan dengan total area Indonesia yaitu sekitar 1,9 juta km2, maka sekitar 14,2 % wilayah Indonesia tidak dapat mempergunakan sistem GMPCS UTs Globalstar.

V. PENUTUP

5.1 Kesimpulan

1. Perhtiungan interferensi antara sistem GMPCS satelit Globalstar dengan sistem terestrial mempertimbangkan aspek geometri, penguatan side lobe antena, kondisi propagasi, dan bandwidth operasional kedua sistem.

2. Dari analisis power link budget kedua sistem diperoleh kriteria parameter interferensi sebagai berikut:

9 (C/Io)reg pada satelit Globalstar sebesar 59,53 dBHz per spot

beam.

9 (Io/No)reg pada user terminal Globalstar sebesar 2,3 dB

3. Dari hasil perhitungan interferensi antara 2 sistem dibandingkan dengan parameter interferensi diatas diperoleh:

9 Interferensi dari radio terestrial ke satelit Globalstar diperoleh bahwa radio terestrial mengganggu 1 spot

beam satelit selama 30 dengan tingkat gangguan sampai 2 dB, dengan gangguan berlangsung dalam waktu kurang lebih 1 menit oleh satu radio terestrial saja. 9 Interferensi dari radio terrestrial ke

UTs Globalstar diperoleh luas wilayah terinterferensi untuk frekuensi carrier 2491,75 MHz sebesar 0,27 juta km2, atau sekitar 14,2 % wilayah Indonesia terganggu.

5.2 Saran

1. Bagi regulator spektrum frekuensi di Indonesia sebaiknya mempertimbangkan kodisi spektrum frekuensi di Indonesia sebelum menyetujui penggunaan suatu sistem lain yang masuk ke Indonesia.

2. Diharapkan dilakukan lagi analisis perhitungan interferensi yang datang dari satelit Globalstar ke sistem terestrial. Dan juga sistem komunikasi lainnya khususnya yang global yang sedang dan akan beroperasi di Indonesia, yang menggunakan spektrum frekuensi yang ada di Indonesia. Dengan berpindahnya posisi satelit Globalstar baik dalam orbit maupun posisi ascending node maka kondisi interferensi terburuk pasti terjadi. Dengan tingkat gangguan seperti dalam analisa, maka tidak ada yang dapat dilakukan kecuali sistem Globalstar dengan sistem terestrial tidak menggunakan frekuensi yang sama.

DAFTAR PUSTAKA

[Dalgleish’89] Dalgleish, D. I, “An Introduction to

Satellite Communications”, IEE

Telecommunications series 20, London, 1989.

[Freeman’97] Freeman, Roger. L, “Radio System

Design for Telecommunications” 2nd

edition, John Wiley & Sons Inc., New York, 1997.

[Freeman’98] Freeman, Roger. L, “Telecommunications Transmission

Handbook” 4th edition, John Wiley & Sons Inc., New York, 1998. [GDJ’01] Jonathan, Gideon, “Diktat Kuliah

Sistem Komunikasi Satelit”, Lab. Transmisi STT Telkom, Bandung, 2001.

[GDJ’00] Jonathan, Gideon, “Diktat Kuliah Perencanaan Radio Terestrial”, Lab. Transmisi STT Telkom, Bandung, 2000

[Rec.ITU F.699-4] Reference Radiation Patterns for Line of Sight Radio Relay System Antennas for Use in Coordination Studies and Interference Assessment in The Frequency Range from 1 to about 40 GHz

[Rec. ITU F.1108-1] Determination of The Criteria to Protect Fixed Service Receivers from The Emissions of Space Stations Operating in Non-Geostationary Orbits in Shared Frequency Bands

[Rec. ITU P.526-5] Propagation by Diffraction Over Spherical Earth

Powered by TCPDF (www.tcpdf.org)

(5)

reg

l

159,75 dB horison

d

29,05 km FSL

l

129,65 dB

)

(

Y

RT Tx

G

20 dB

)

(

Y

UTs

G

-15 dB

)

( X

F

-35,1 dB Jarak loss difraksi 41 km

Jarak total terinterferensi 70,05 km Luas wilayah terinterferensi 3854 km2

Dari hasil perhitungan, terlihat bahwa luas wilayah yang terganggu oleh 1 radio terestrial cukup besar. Untuk frekuensi carrier 2491,75 MHz saja, di Indonesia ada sekitar 70 buah. Untuk 70 radio terrestrial tersebut akan menghasilkan luas wilayah terinterferensi sekitar 0,27 juta km2. Ini jika dibandingkan dengan total area Indonesia yaitu sekitar 1,9 juta km2, maka sekitar 14,2 % wilayah Indonesia tidak dapat mempergunakan sistem GMPCS UTs Globalstar.

V. PENUTUP

5.1 Kesimpulan

1. Perhtiungan interferensi antara sistem GMPCS satelit Globalstar dengan sistem terestrial mempertimbangkan aspek geometri, penguatan side lobe antena, kondisi propagasi, dan bandwidth operasional kedua sistem.

2. Dari analisis power link budget kedua sistem diperoleh kriteria parameter interferensi sebagai berikut:

9 (C/Io)reg pada satelit Globalstar sebesar 59,53 dBHz per spot

beam.

9 (Io/No)reg pada user terminal Globalstar sebesar 2,3 dB

3. Dari hasil perhitungan interferensi antara 2 sistem dibandingkan dengan parameter interferensi diatas diperoleh:

9 Interferensi dari radio terestrial ke satelit Globalstar diperoleh bahwa radio terestrial mengganggu 1 spot

beam satelit selama 30 dengan tingkat gangguan sampai 2 dB, dengan gangguan berlangsung dalam waktu kurang lebih 1 menit oleh satu radio terestrial saja. 9 Interferensi dari radio terrestrial ke

UTs Globalstar diperoleh luas wilayah terinterferensi untuk frekuensi carrier 2491,75 MHz sebesar 0,27 juta km2, atau sekitar 14,2 % wilayah Indonesia terganggu.

5.2 Saran

1. Bagi regulator spektrum frekuensi di Indonesia sebaiknya mempertimbangkan kodisi spektrum frekuensi di Indonesia sebelum menyetujui penggunaan suatu sistem lain yang masuk ke Indonesia.

2. Diharapkan dilakukan lagi analisis perhitungan interferensi yang datang dari satelit Globalstar ke sistem terestrial. Dan juga sistem komunikasi lainnya khususnya yang global yang sedang dan akan beroperasi di Indonesia, yang menggunakan spektrum frekuensi yang ada di Indonesia. Dengan berpindahnya posisi satelit Globalstar baik dalam orbit maupun posisi ascending node maka kondisi interferensi terburuk pasti terjadi. Dengan tingkat gangguan seperti dalam analisa, maka tidak ada yang dapat dilakukan kecuali sistem Globalstar dengan sistem terestrial tidak menggunakan frekuensi yang sama.

DAFTAR PUSTAKA

[Dalgleish’89] Dalgleish, D. I, “An Introduction to

Satellite Communications”, IEE

Telecommunications series 20, London, 1989.

[Freeman’97] Freeman, Roger. L, “Radio System

Design for Telecommunications” 2nd

edition, John Wiley & Sons Inc., New York, 1997.

[Freeman’98] Freeman, Roger. L, “Telecommunications Transmission

Handbook” 4th edition, John Wiley & Sons Inc., New York, 1998. [GDJ’01] Jonathan, Gideon, “Diktat Kuliah

Sistem Komunikasi Satelit”, Lab. Transmisi STT Telkom, Bandung, 2001.

[GDJ’00] Jonathan, Gideon, “Diktat Kuliah Perencanaan Radio Terestrial”, Lab. Transmisi STT Telkom, Bandung, 2000

[Rec.ITU F.699-4] Reference Radiation Patterns for Line of Sight Radio Relay System Antennas for Use in Coordination Studies and Interference Assessment in The Frequency Range from 1 to about 40 GHz

[Rec. ITU F.1108-1] Determination of The Criteria to Protect Fixed Service Receivers from The Emissions of Space Stations Operating in Non-Geostationary Orbits in Shared Frequency Bands

[Rec. ITU P.526-5] Propagation by Diffraction Over Spherical Earth

(6)

[RPA’99] Pudjiastuti, Rina, “Diktat Kuliah Perencanaan Radio Terestrial”, Lab. Transmisi STT Telkom, Bandung, 1999.

[Roddy’96] Roddy, Dennis, “Satellite

Communications” 2nd edition, McGraw-Hill Companies Inc., Singapore, 1996.

[Rosmansyah’99] Rosmansyah, Yusep, “Diktat Kuliah Sistem Komunikasi Satelit”, Lab. Sinyal & Sistem ITB, Bandung, 1999.

[Tri T.Ha’90] Tri, T. Ha, “Digital Satellite

Communications” 2nd edition, McGraw-Hill Companies Inc., Singapore, 1990.

[Winch’93] Winch, Robert. G, “Telecommunication

Transmission System”,

McGraw-Hill Companies Inc., Singapore, 1993.

[www.globalstar.com] Globalstar’s website, at URL http://www.globalstar.com

Powered by TCPDF (www.tcpdf.org)

Referensi

Dokumen terkait

Dengan munculnya Sistem Komunikasi Satelit (SISKOMSAT), telah membawa perubahan yang cukup besar, dalam dunia telekomunikasi, sehingga dibentuk suatu organisasi yang

General Packet Radio Service GPRS adalah sistem komunikasi data bergerak seluler yang dikembangkan khusus pada sistem GSM Global System For Mobile Communication yang menggunakan

Dari uraian pada pembahasan dapat disimpulkan bahwa sampai saat ini baru terdapat 2 (dua) sistem satelit navigasi global yang telah beroperasi dan

Sebuah global positioning system (GPS) merupakan sistem navigasi yang berbasis satelit dalam memberikan informasi akan posisi, waktu dan kecepatan yang sangat akurat.. GPS

Dalam Sistem Komunikasi Satelit Parameter Hub Station memiliki fungsi yang sangat penting dalam perhitungan Link Budget yaitu menentukan spesifikasi teknis stasiun

• Sistem transmisi data dari satelit stasiun bumi menggunakan saluran X- band sedang untuk komunikasi Stasiun Bumi Parepare ke Jakarta menggunakan jalur VPN dengan

Pengembangan Sistem Komunikasi Satelit Satkomlek TNI dalam Mendukung Operasi dan Latihan TNI | Boris Lukman, Agus Adriyanto, Dohar Sianturi | 91 Berdasarkan pembahasan, dalam

Laporan praktik mengenai sistem komunikasi satelit yang mencakup pemahaman garis lintang, garis bujur, dan ketinggian serta penggunaan Google Earth untuk mengidentifikasi dan menganalisis lokasi stasiun