• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS PENELITIAN. peraturan perundang-undangan perpajakan. b) Mengisi formulir pajak dengan lengkap dan jelas

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS PENELITIAN. peraturan perundang-undangan perpajakan. b) Mengisi formulir pajak dengan lengkap dan jelas"

Copied!
24
0
0

Teks penuh

(1)

10 BAB II

KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS PENELITIAN 2.1. Landasan Teori

2.1.1 Kepatuhan Pajak

Kepatuhan Wajib Pajak menurut Nowak (dalam Zain, 2007) adalah suatu iklim kepatuhan dan kesadaran pemenuhan kewajiban perpajakan, tercermin dalam situasi di mana:

a) Wajib pajak paham atau berusaha untuk memahami semua ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.

b) Mengisi formulir pajak dengan lengkap dan jelas c) Menghitung jumlah pajak yang terutang dengan benar d) Membayar pajak yang terutang tepat pada waktunya

Menurut Erard dan Feinstein (dalam Devano, 2006:111) pengertian kepatuhan wajib pajak adalah rasa bersalah dan rasa malu, persepsi wajib pajak atas kewajaran dan keadilan beban pajak yang mereka tanggung, dan pengaruh kepuasan terhadap pelayanan pemerintah.

Menurut Nurmanto (dalam Rahayu, 2010:138) kepatuhan perpajakan dapat didefinisikan sebagai suatu keadaan di mana wajib pajak memenuhi semua kewajiban perpajakan dan melaksanakan hak perpajakannya dimana kepatuhan perpajakan dibagi ke dalam dua kepatuhan meliputi kepatuhan formal dan kepatuhan material. Kepatuhan formal dan material ini lebih jelasnya diidentifikasi kembali dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor

(2)

11

74/PMK.03/2012. Menurut Peraturan Menteri Keuangan Nomor 74/PMK.03/2012, kepatuhan wajib pajak dapat diidentifikasi dari:

a) Tepat waktu dalam menyampaikan Surat Pemberitahuan

b) Tidak mempunyai tunggakan pajak untuk semua jenis pajak, kecuali tunggakan pajak yang telah memperoleh izin mengangsur atau menunda pembayaran pajak

c) Laporan Keuangan diaudit oleh Akuntan Publik atau lembaga pengawasan keuangan pemerintah dengan pendapat Wajar Tanpa Pengecualian selama 3 (tiga) tahun berturut-turut

d) Tidak pernah dipidana karena melakukan tindak pidana di bidang perpajakan berdasarkan putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap dalam jangka waktu 5 (lima) tahun terakhir Kepatuhan formal yang dimaksud misalnya, ketentuan batas waktu penyampaian Surat Pemberitahuan Pajak Penghasilan (SPT PPh) Tahunan tanggal 31 Maret. Apabila wajib pajak telah melaporkan SPT PPh Tahunan sebelum atau pada tanggal 31 Maret, maka wajib pajak telah memenuhi ketentuan formal, namun isinya belum tentu memenuhi ketentuan material, yaitu suatu keadaan di mana wajib pajak secara substantif memenuhi semua ketentuan material perpajakan, yakni sesuai isi dan jiwa Undang-Undang perpajakan. Kepatuhan material dapat meliputi kepatuhan formal. Wajib pajak yang memenuhi kepatuhan material adalah wajib pajak yang mengisi dengan jujur, lengkap, dan benar surat pemberitahuan sesuai ketentuan dan menyampaikannya ke KPP sebelum batas waktu akhir.

(3)

12 2.1.2 Definisi Benchmarking

Benchmark menurut Abbott (2001) adalah sebuah metode peningkatan kinerja secara sistematis dan logis melalui pengukuran dan perbandingan kinerja dan kemudian menggunakannya untuk meningkatkan kinerja.

Menurut Wikipedia Indonesia (2015), pengertian Benchmark adalah teknik pengetesan dengan menggunakan suatu nilai standar. Suatu program atau pekerjaan yang melakukan perbandingan kemampuan dari berbagai kerja dari beberapa peralatan dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas pada produk yang baru. Pengujian dilakukan dengan cara membandingkan produk-produk perangkat lunak maupun perangkat keras dengan percobaan yang sama.

Pawitra (1994) mengartikan Benchmarking (patok duga) sebagai suatu proses belajar yang berlangsung secara sistematis dan terus-menerus dimana setiap bagian dari suatu perusahaan dibandingkan dengan perusahaan yang terbaik atau pesaing yang paling unggul.

Selain itu menurut Pawitra (1994) terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam memahami Benchmarking, yaitu:

a) Benchmarking merupakan kiat untuk mengetahui tentang bagaimana dan mengapa suatu perusahaan yang memimpin dalam suatu industri dapat melaksanakan tugas-tugasnya secara lebih baik dibandingkan dengan yang lainnya.

b) Fokus dari kegiatan Benchmarking diarahkan pada praktik terbaik dari perusahaan lainnya. Ruang lingkupnya makin diperluas yakni dari produk dan jasa menjalar ke arah proses, fungsi, kinerja organisasi,

(4)

13

logistik, pemasaran, dan lain-lain. Benchmarking juga berwujud perbandingan yang terus-menerus, jangka panjang tentang praktik dan hasil dari perusahaan yang terbaik di manapun perusahaan itu berada. c) Praktik Benchmarking berlangsung secara sistematis dan terpadu

dengan praktik manajemen lainnya, misalnya TQM, corporate reengineering, analisis pesaing, dan lain-lain.

d) Kegiatan Benchmarking perlu keterlibatan dari semua pihak yang berkepentingan, pemilihan yang tepat tentang apa yang akan di-Benchmarking-kan, pemahaman dari organisasi itu sendiri, pemilihan mitra yang cocok, dan kemampuan untuk melaksanakan apa yang ditemukan dalam praktik bisnis.

Menurut Shahindra (2008) Benchmarking adalah suatu proses yang biasa digunakan dalam manajemen atau umumnya manajemen strategis, dimana suatu unit/bagian/organisasi mengukur dan membandingkan kinerjanya terhadap aktivitas atau kegiatan serupa unit/bagian/organisasi lain yang sejenis baik secara internal maupun eksternal.

Berdasarkan definisi-definisi tersebut dapat dikatakan bahwa Benchmarking atau patok duga ialah proses pengukuran suatu produk atau pekerjaan dengan pembanding produk atau pekerjaan sejenis yang terbaik, dengan tujuan untuk melakukan peningkatan kualitas produk atau pekerjaan yang sedang diteliti.

(5)

14 2.1.3 Benchmarking Pajak

Benchmarking Pajak didefinisikan sebagai proses membandingkan rasio-rasio yang terkait dengan tingkat laba perusahaan dan berbagai input dalam kegiatan usaha dengan rasio-rasio yang sama yang dianggap standar untuk kelompok usaha tertentu, serta melihat hubungan keterkaitan antar rasio untuk menilai kewajaran kinerja keuangan dan pemenuhan kewajiban perpajakan Wajib Pajak. Definisi ini diambil dari Lampiran SE-96/PJ/2009.

2.1.4 Karakteristik Benchmarking Pajak

Menurut SE-96/PJ/2009, Benchmarking pajak memiliki karakteristik: a) Disusun berdasarkan kelompok usaha.

b) Dilakukan atas rasio-rasio berkaitan dengan tingkat laba dan input-input perusahaan.

c) Hubungan keterkaitan antar rasio-rasio diperhatikan.

d) Fokus pada penilaian kewajaran kinerja keuangan dan pemenuhan kewajiban perpajakan.

Wajib Pajak yang memiliki kinerja keuangan yang lebih rendah daripada Benchmark, tidak selalu berarti bahwa wajib pajak tersebut tidak melakukan kewajiban pajaknya dengan benar. Perlu diagnosa lebih mendalam untuk dapat menentukan apakah wajib pajak tersebut benar-benar tidak patuh atau terdapat faktor-faktor lain yang menyebabkan wajib pajak memiliki kinerja yang berbeda dengan Benchmark. Benchmarking pajak bukan merupakan suatu proses enforcement di mana wajib pajak diharuskan untuk mengikuti standar yang ditetapkan, melainkan suatu alat bantu (supporting tools) yang dapat digunakan

(6)

15

oleh aparat pajak dalam membina wajib pajak dan menilai kepatuhan perpajakannya.

2.1.5 Benchmarking Behavioural Model

Benchmarking Behavioural Model merupakan pengembangan dari metodologi Benchmarking sebelumnya yaitu Total Benchmarking. Total Benchmarking didefinisikan sebagai proses membandingkan rasio-rasio yang terkait dengan tingkat laba perusahaan dan berbagai input dalam kegiatan usaha dengan rasio-rasio yang sama yang dianggap standar untuk kelompok usaha tertentu, serta melihat hubungan keterkaitan antar rasio untuk menilai kewajaran kinerja keuangan dan pemenuhan kewajiban perpajakan Wajib Pajak. (SE-96/PJ/2009)

Secara definisi, Benchmarking Behavioural Model sama dengan Total Benchmarking. Namun metode yang digunakan dalam menentukan nilai Benchmarking Behavioural Model lebih spesifik dibandingkan dengan metode yang digunakan untuk menentukan Total Benchmarking. Dalam modul Benchmark dijelaskan untuk menentukan nilai Benchmarking Behavioural Model, dilakukan pemisahan peredaran usaha berdasarkan skala bisnis sehingga usaha besar tidak akan memiliki nilai Benchmark yang sama dengan usaha kecil meskipun jenis usahanya sejenis. Nilai yang dihasilkan juga berupa range dan bukan nilai tunggal.

Nilai Benchmarking Behavioural Model didapat dari analisis data SPT PPh Tahunan yang telah dilaporkan oleh wajib pajak dengan usaha yang sejenis dan beroperasi dalam wilayah atau daerah yang sama. Dari data berupa angka tersebut

(7)

16

dianalisis oleh DJP dengan menggunakan rumus dan aplikasi khusus sehingga menghasilkan range nilai Benchmarking Behavioural Model. Nilai Benchmarking Behavioural Model dihitung oleh DJP untuk setiap tahun pajak sesuai masing-masing klasifikasi usaha wajib pajak. Namun karena semakin banyaknya klasifikasi kegiatan usaha wajib pajak dan keterbatasan sumber daya, nilai Benchmarking Behavioural Model untuk wajib pajak dengan usaha BPR hanya ada sampai dengan tahun 2013. Data nilai Benchmarking Behavioural Model usaha BPR tahun 2014 dan 2015 belum dihitung sehingga belum tersedia. Berikut pada Tabel 2.1 nilai batas bawah Benchmarking yang ditetapkan DJP bagi wajib pajak dengan usaha BPR untuk tahun 2011 sampai dengan tahun tahun 2013. Tabel 2.1 Nilai Batas Bawah Benchmarking Behavioural Model KLU 64127

Bank Perkreditan Rakyat

Tahun Rasio 16,61% 17,47% 18,50% 16,52% 17,36% 18,39% 13,26% 13,94% 14,77% 2,69% 2,83% 3,00% CCTOR 2013 2012 2011 OPM PPM NPM

Sumber: Direktorat Jenderal Pajak, 2015 2.1.6 Definisi Pajak

Pajak menurut pasal 1 angka 1 Undang-undang Nomor 16 Tahun 2009 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan adalalah kontribusi wajib kepada negara yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan undang-undang dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan negara bagi sebesar besarnya kemakmuran rakyat.

(8)

17

Definisi menurut undang-undang ini adalah sebuah definisi resmi yang dikeluarkan oleh pemerintah tentang pajak.

2.1.7 Wajib Pajak

Menurut Pasal 1 Angka 2 Undang-undang Nomor 16 Tahun 2009 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan, wajib pajak adalah orang pribadi atau badan, meliputi pembayar pajak, pemotong pajak, dan pemungut pajak, yang mempunyai hak dan kewajiban perpajakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.

2.1.8 Pajak Penghasilan

Berdasarkan Pasal 1 Undang-undang Nomor 36 Tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan, yang dimaksud dengan pajak penghasilan adalah pajak yang dikenakan terhadap subjek pajak atas penghasilan yang diterima atau diperolehnya dalam tahun pajak.

2.1.9 Penghasilan

Definisi Penghasilan menurut Pasal 4 Undang-undang Nomor 36 Tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan adalah setiap tambahan kemampuan ekonomis yang diterima atau diperoleh wajib pajak, baik yang berasal dari Indonesia maupun dari luar Indonesia, yang dapat dipakai untuk konsumsi atau untuk menambah kekayaan Wajib Pajak yang bersangkutan, dengan nama dan dalam bentuk apa pun, termasuk:

a) Penggantian atau imbalan berkenaan dengan pekerjaan atau jasa yang diterima atau diperoleh termasuk gaji, upah, tunjangan, honorarium,

(9)

18

komisi, bonus, gratifikasi, uang pensiun, atau imbalan dalam bentuk lainnya, kecuali ditentukan lain dalam undang-undang ini;

b) Hadiah dari undian atau pekerjaan atau kegiatan, dan penghargaan; c) Laba usaha;

d) Keuntungan karena penjualan atau karena pengalihan harta;

e) Penerimaan kembali pembayaran pajak yang telah dibebankan sebagai biaya dan pembayaran tambahan pengembalian pajak;

f) Bunga termasuk premium, diskonto, dan imbalan karena jaminan pengembalian utang;

g) Dividen, dengan nama dan dalam bentuk apapun, termasuk dividen dari perusahaan asuransi kepada pemegang polis, dan pembagian sisa hasil usaha koperasi;

h) Royalti atau imbalan atas penggunaan hak;

i) Sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta; j) Penerimaan atau perolehan pembayaran berkala;

k) Keuntungan karena pembebasan utang, kecuali sampai dengan jumlah tertentu yang ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah;

l) Keuntungan selisih kurs mata uang asing; m) Selisih lebih karena penilaian kembali aktiva; n) Premi asuransi;

o) Iuran yang diterima atau diperoleh perkumpulan dari anggotanya yang terdiri dari Wajib Pajak yang menjalankan usaha atau pekerjaan bebas;

(10)

19

p) Tambahan kekayaan neto yang berasal dari penghasilan yang belum dikenakan pajak;

q) Penghasilan dari usaha berbasis syariah;

r) Imbalan bunga sebagaimana dimaksud dalam Undang‐Undang yang mengatur mengenai ketentuan umum dan tata cara perpajakan; dan s) Surplus Bank Indonesia.

2.1.10 Laporan Keuangan

Laporan keuangan adalah suatu penyajian terstruktur dari posisi keuangan dan kinerja keuangan suatu entitas. Laporan keuangan yang lengkap menyajikan informasi aset, liabilitas, ekuitas, pendapatan dan beban termasuk keuntungan dan kerugian, kontribusi dari dan distibusi kepada pemilik dalam kapasitasnya sebagai pemilik, dan arus kas. Laporan yang disajikan meliputi neraca, laporan rugi laba, laporan perubahan keuangan, catatan dan laporan lain serta materi penjelasan yang merupakan bagian integral dari laporan keuangan. Di samping itu juga termasuk skedul dan informasi tambahan yang berkaitan dari laporan tersebut, misalnya informasi keuangan segmen industri dan geografis serta pengungkapan pengaruh perubahan harga (Ikatan Akuntan Indonesia, 2014).

Laporan keuangan pada dasarnya adalah hasil dari proses akuntansi yang dapat digunakan sebagai alat untuk berkomunikasi antara data keuangan atau aktivitas suatu perusahaan dengan pihak-pihak yang berkepentingan dengan data atau aktivitas perusahaan tersebut (Munawir, 2010).

(11)

20

Laporan keuangan merupakan suatu informasi yang menggambarkan kondisi keuangan suatu perusahaan, dan lebih jauh informasi tersebut dapat dijadikan sebagai gambaran kinerja keuangan perusahaan tersebut (Fahmi, 2012).

Laporan keuangan adalah ringkasan dari suatu proses pencatatan atas transaksi-transaksi keuangan yang terjadi selama tahun buku yang bersangkutan, yang dibuat oleh manajemen dengan tujuan untuk mempertanggung jawabkan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya oleh pemilik perusahaan dan juga digunakan untuk memenuhi tujuan lainnya yaitu sebagai laporan kepada pihak-pihak di luar perusahaan (Baridwan, 2005).

Dari definisi-definisi tersebut dapat dikatakan bahwa laporan keuangan merupakan suatu ringkasan peristiwa-peristiwa keuangan dalam suatu kurun waktu tertentu yang disajikan secara informatif dalam bentuk suatu laporan bagi pihak-pihak yang berkepentingan dalam suatu perusahaan.

2.1.11 Tujuan laporan keuangan

Dalam Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (Ikatan Akuntan Indonesia, 2014), laporan keuangan disusun dengan maksud:

a) Menyediakan informasi yang menyangkut posisi keuangan, kinerja, dan arus kas entitas yang bermanfaat bagi sebagian besar kalangan pengguna laporan dalam pembuatan keputusan ekonomi.

b) Menunjukkan hasil pertanggungjawaban manajemen atas penggunaan sumber daya yang dipercayakan kepada mereka. Pemakai yang ingin menilai apa yang telah dilakukan atau dipertanggungjawabkan manajemen, berbuat demikian agar mereka dapat membuat keputusan

(12)

21

ekonomi; keputusan ini mungkin mencakup, misalnya, keputusan untuk menahan atau menjual investasi mereka dalam perusahaan atau keputusan untuk mengangkat kembali atau mengganti manajemen. c) Membantu pengguna laporan dalam memprediksi arus kas masa depan

dan, khususnya, dalam hal waktu dan kepastian diperolehnya kas dan setara kas.

2.1.12 Jenis laporan keuangan

Laporan keuangan perusahaan merupakan salah satu sumber informasi yang penting bagi perusahaan, disamping informasi lainnya. Menurut Harahap (2008) jenis-jenis laporan keuangan sebagai berikut:

a) Daftar neraca, menggambarkan posisi keuangan perusahaan pada suatu tanggal tertentu.

b) Perhitungan laba rugi, yang menggambarkan jumlah hasil, biaya, dan laba/rugi perusahaan pada suatu periode tertentu.

c) Laporan sumber dan penggunaan dana, disini dimuat sumber dan pengeluaran perusahaan selama satu periode.

d) Laporan arus kas, disini digambarkan sumber dan penggunaan kas dalam suatu periode.

e) Laporan harga pokok produksi, menggambarkan berapa unsure dan apa yang diperhitungkan dalam harga pokok produksi suatu barang. f) Laporan laba ditahan, menjelaskan posisi laba ditahan yang tidak

(13)

22

g) Laporan perubahan modal, menjelaskan perubahan posisi modal baik saham dalam PT atau modal dalam perusahaan perseroan.

h) Laporan kegiatan keuangan, menggambarkan transaksi laporan keuangan perusahaan yang mempengaruhi kas atau ekuivalen kas. Menurut Weston & Brigham (2006), laporan keuangan meliputi:

a) Neraca. Yaitu laporan mengenai posisi keuangan pada saat tertentu. b) Perhitungan Rugi/Laba. Yaitu laporan yang mengikhtisarkan

pendapatan dan beban perusahaan dalam suatu periode akuntansi. c) Perhitungan Laba yang Ditahan. Yaitu perhitungan yang melaporkan

seberapa banyak laba yang tidak dibayarkan sebagai dividen.

d) Laporan Arus Kas. Yaitu melaporkan dampak dari kegiatan operasi, investasi, dan pembiayaan perusahaan terhadap arus kas selama satu periode akuntansi.

Sedangkan Gitman (2008) memaparkan bahwa umumnya laporan keuangan terdiri dari:

a) Neraca. Menunjukkan dan memaparkan jumlah aktiva, hutang, dan modal dari suatu perusahaan pada tanggal tertentu.

b) Perhitungan Rugi Laba. Memperlihatkan hasil-hasil yang telah dicapai oleh perusahaan serta biaya yang terjadi selama periode tertentu. c) Laporan Perubahan Modal. Menunjukkan sumber dan penggunaan

atau alasan-alasan yang menyebabkan perubahan modal suatu perusahaan.

(14)

23 2.1.13 Keterbatasan laporan keuangan

Laporan keuangan mempunyai keterbatasan antara lain (Munawir, 2010): a) Laporan keuangan yang dibuat secara periodik pada dasarnya

merupakan interim report (laporan yang dibuat antara waktu tertentu yang sifatnya sementara) dan bukan merupakan laporan yang bersifat final.

b) Laporan keuangan menunjukkan angka dalam Rupiah yang kelihatannya bersifat pasti dan tetap, tetapi sebenarnya dasar penyusunannya dengan standar nilai yang mungkin berbeda atau berubah-ubah.

c) Laporan keuangan disusun berdasarkan hasil pencatatan transaksi keuangan atau nilai Rupiah dari berbagai waktu atau tanggal yang lalu, dimana daya beli uang tersebut semakin menurun dibandingkan dengan periode waktu sebelumnya, sehingga kenaikan volume penjualan yang dinyatakan dalam Rupiah belum tentu mencerminkan jumlah unit yang dijual semakin besar.

d) Laporan keuangan tidak dapat mencerminkan berbagai faktor yang dapat mempengaruhi posisi atau keadaan keuangan perusahaan yang tidak dapat dinyatakan dengan satuan uang, misalnya prestasi dan reputasi perusahaan, adanya beberapa pesanan yang tidak dapat dipenuhi, atau adanya kontrak-kontrak pembelian dan penjualan yang telah disetujui, kemampuan atau integritas manajernya, dan sebagainya.

(15)

24 2.1.14 Analisis laporan keuangan

Analisis laporan keuangan pada hakikatnya merupakan laporan untuk mengadakan penilaian atau pengkajian keuangan dan potensi atas kemajuan suatu perusahaan melalui laporan keuangan tersebut dengan mempelajari angka-angka yang terdapat dalam laporan keuangan dan mencari hubungan sebab akibatnya. (Gittman, 2008).

Prastowo (2010) menyatakan bahwa Analisis laporan keuangan merupakan suatu proses yang penuh pertimbangan dalam rangka membantu mengevaluasi posisi keuangan dan hasil operasi perusahaan pada masa sekarang dan masa lalu, dengan tujuan utama untuk menentukan estimasi dan prediksi yang paling mungkin mengenai kondisi dan kinerja keuangan perusahaan pada masa mendatang.

2.1.15 Rasio keuangan

Rasio menggambarkan suatu hubungan atau perimbangan antara suatu jumlah tertentu dengan jumlah yang lain, dan dengan menggunakan alat analisis berupa rasio akan dapat memberikan gambaran kepada penganalisis tentang baik dan buruknya posisi keuangan suatu perusahaan terutama sebagai standar. (Munawir, 2010).

Rasio keuangan ialah rasio yang menggambarkan suatu hubungan antara suatu jumlah tertentu dengan jumlah yang lain. Dengan menggunakan alat analisis berupa rasio ini akan dapat menjelaskan atau memberi gambaran kepada penganalisis tentang baik atau buruknya keadaan keuangan perusahaan terutama

(16)

25

apabila angka rasio tersebut dibandingkan dengan angka rasio pembanding yang digunakan sebagai standar. (Gittman, 2008).

Dari pengertian-pengertian tersebut maka dapat dikatakan rasio keuangan merupakan alat ukur yang digunakan untuk menilai dan mengevaluasi kinerja keuangan perusahaan.

2.1.16 Metode analisis rasio keuangan

Metode analisis yang sering digunakan oleh para analis laporan keuangan perusahaan adalah cross-sectional approach dan time series analysis (Syamsuddin, 2007), dimana:

a) Cross-sectional approach adalah suatu cara mengevaluasi dengan jalan membandingkan rasio-rasio antara perusahaan yang satu dengan perusahaan lainnya yang sejenis pada waktu yang sama.

b) Time series analysis dilakukan dengan jalan membandingkan rasio-rasio finansial perusahaan dari satu periode ke periode lainnya.

Riyanto (2011) menyebutkan bahwa penganalisis dalam melakukan analisis rasio keuangan dapat melakukan dua cara pembandingan yaitu:

a) Membandingkan rasio sekarang (present ratio) dengan rasio-rasio dari waktu-waktu yang lalu (historical ratio) atau dengan rasio-rasio yang diperkirakan untuk waktu yang akan datang dari perusahaan yang sama.

b) Membandingkan rasio-rasio dari suatu perusahaan dengan rasio-rasio yang sama pada perusahaan lain yang sejenis, untuk waktu yang sama.

(17)

26

Sedangkan Munawir (2010) menyatakan bahwa dalam melakukan analisis rasio keuangan digunakan dua jenis metode analisis yaitu:

a) Analisis Horizontal (Analisis Dinamis)

Analisis horizontal merupakan analisis perkembangan data keuangan dan data operasi perusahaan dari tahun ke tahun, atau dengan kata lain mengadakan perbandingan laporan keuangan untuk beberapa periode tertentu dengan menetapkan salah satu periode sebagai periode dasar pembanding. Dari analisis ini akan dapat trlihat perkembangan maupun penurunan operasional perusahaan.

b) Analisis Vertikal (Analisis Statis)

Analisis vertikal merupakan analisis laporan keuangan yang terbatas pada suatu periode akuntansi saja, sehingga hanya membandingkan antara pos yang satu dengan pos yang lainnya dalam laporan keuangan tersebut untuk mengetahui keadaan keuangan atau hasil usaha pada periode itu saja. Analisis vertikal ini disebut juga sebagai metode analisis yang statis karena kesimpulan yang dapat diperoleh hanya untuk tahun itu saja tanpa mengetahui perkembangannya dibandingkan tahun-tahun lain.

2.1.17 Penggolongan rasio keuangan

Menurut Riyanto (2011) penggolongan rasio keuangan adalah: a) Rasio likuiditas

Adalah rasio yang dimaksudkan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya, atau

(18)

27

kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban keuangan pada saat ditagih. Yang termasuk dalam rasio likuiditas ialah rasio lancar (current ratio), rasio cepat (quick ratio/acid-test ratio), rasio kas (cash ratio), rasio modal kerja terhadap total aktiva (working capital to total assets ratio).

b) Rasio aktivitas

Adalah rasio-rasio yang digunakan untuk mengukur seberapa besar efektivitas perusahaan dalam menggunakan sumber-sumber daya yang dimilikinya, atau dengan kata lain sejauh mana efektivitas penggunaan aset. Yang termasuk rasio aktivitas diantaranya: rasio tingkat perputaran aktiva tetap (fixed assets turnover ratio), rasio perputaran total aktiva (total assets turnover) rasio tingkat perputaran persediaan (inventory turnover ratio), rasio tingkat perputaran piutang (receivable turnover ratio), rasio perputaran modal kerja (working capital turnover), rasio periode pengumpulan piutang (average collection period).

c) Rasio solvabilitas atau leverage

Adalah rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban-kewajiban jangka panjangnya, atau seberapa jauh aktiva perusahaan dibiayai dengan utang. Yang termasuk rasio solvabilitas ini misalnya rasio hutang (total debt to total assets ratio), rasio kewajiban terhadap modal (debt coverage ratio), time interest earned ratio, rasio kewajiban lancar

(19)

28

terhadap total aktiva, rasio kewajiban tidak lancar terhadap total aktiva.

d) Rasio rentabilitas atau profitabilitas

Adalah rasio yang menunjukkan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba selama periode tertentu. Yang termasuk dalam rasio profitabilitas diantaranya: marjin laba kotor (profit margin on sales), marjin laba usaha, marjin laba bersih, serta return on investment (ROI).

2.2 Hipotesis Penelitian

Hipotesis adalah dugaan sementara terhadap suatu masalah penelitian yang kebenarannya harus diuji secara empiris. Adapun hipotesis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

2.2.1 Perbandingan Rasio Keuangan BPR dibandingkan dengan Nilai Rasio Benchmarking Behavioural Model DJP

Menurut Undang-undang Nomor 16 tahun 2009 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan, Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan Wajib Pajak yang wajib menyelenggarakan pembukuan harus dilampiri dengan laporan keuangan berupa neraca dan laporan laba rugi serta keterangan lain yang diperlukan untuk menghitung besarnya Penghasilan Kena Pajak. Bank merupakan salah satu wajib pajak yang wajib menyelengarakan pembukuan, oleh karena itu BPR wajib menyampaikan laporan keuangan yang telah dibuat saat menyampaikan SPT Tahunan kepada KPP tempat BPR tersebut terdaftar.

Namun tidak hanya kepada KPP, sesuai dengan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Nomor 6/POJK.03/2015 tentang Transparansi dan Publikasi

(20)

29

Laporan Bank yang mulai berlaku sejak tanggal 31 Maret 2015, dalam rangka transparansi kondisi keuangan dan kinerja Bank, Bank wajib menyusun, mengumumkan, dan menyampaikan Laporan Publikasi, yaitu laporan keuangan, informasi kinerja keuangan dan/atau informasi lain, yang disampaikan oleh Bank kepada masyarakat dan/atau OJK dengan tata cara penyampaian dan pengumuman sesuai ketentuan yang ditetapkan oleh OJK. Peraturan OJK Nomor 6/POJK.03/2015 tersebut mencabut peraturan Bank Indonesia Nomor 14/14/PBI/2012 tanggal 18 Oktober 2012 tentang Transparansi dan Publikasi Laporan Bank, dimana kewajiban Bank umum untuk menyampaikan laporan publikasi sudah dimulai sejak tanggal Juni 1998 yang diatur pertama kali dengan Surat Keputusan Direksi Bank Indonesia Nomor 31/40/KEP/DIR tanggal 9 Juni 1998 tentang Laporan Keuangan Tahunan dan Laporan Keuangan Publikasi Bank Umum.

Salah satu penyebab nilai rasio keuangan riil wajib pajak lebih kecil dibandingkan dengan nilai rasio Benchmarking behaviour model disebabkan karena laporan keuangan dalam SPT yang diberikan kepada DJP tidak mencerminkan kegiatan usaha wajib pajak yang sebenarnya. Ketidaksesuaian laporan yang disampaikan akan menjadi indikasi Corporate Governance yang tidak baik. Indikasi Corporate Governance yang tidak baik tentu akan menggangu kepercayaan masyarakat sebagai salah satu pemangku kepentingan (stakeholders). Dalam penelitian yang dilakukan Solomon (2007) menunjukkan perkembangan terkini bahwa Corporate Governance dimaksudkan untuk tujuan yang lebih luas, yaitu untuk kepentingan stakeholders, dibanding sebatas pemegang saham.

(21)

30

Corporate Governance mencakup usaha pencapaian tujuan jangka panjang, yaitu pencapaian tujuan kesejahteraan stakeholders yang merujuk kepada pihak-pihak atau kelompok-kelompok yang mempengaruhi ataupun yang dipengaruhi oleh keputusan kebijakan, dan operasi perusahaan. Penelitian ini membuktikan bahwa Good Corporate Governance adalah hal yang sangat penting untuk dijaga demi menjaga kepercayaan stakeholders. Sehingga BPR pun seharusnya menjaga kepercayaan masyarakat sebagai stakeholders terbesarnya dengan tidak melakukan tindakan dengan membuat perbedaan antara laporan keuangan yang disampaikan kepada KPP dengan laporan publikasi yang diumumkan. Karena jika laporan yang disampaikan sama, maka seharusnya nilai rasio keuangan yang dihasilkan juga akan sama. Penyebab lain lebih rendahnya rasio keuangan riil wajib pajak dibandingkan dengan rasio Benchmarking behaviour model adalah kondisi usaha wajib pajak memang menurun atau lebih rendah dibandingkan dengan usaha lain yang sejenis.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Theresia (2011) terhadap empat perusahaan rokok menunjukkan adanya perbedaan rasio laporan keuangan mereka dengan rasio Benchmarking DJP, dimana nilai rasio GPM, OPM, PPM, dan NPM dari empat perusahaan rokok tersebut lebih kecil dari nilai rasio Benchmarking DJP. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Bayu (2012) terhadap perusahaan yang bergerak pada sektor perantara keuangan juga menunjukkan adanya perbedaan rasio laporan keuangan mereka dengan rasio Benchmarking DJP. Dari hasil penelitian Bayu tersebut, untuk perusahaan dengan klasifikasi usaha perbankan nilai rasio GPM, OPM, PPM, NPM dan CCTOR lebih besar dibanding nilai rasio

(22)

31

Benchmarking DJP. Untuk perusahaan dengan klasifikasi usaha asuransi, nilai rasio GPM, OPM, PPM, dan NPM lebih besar dibandingkan dengan nilai rasio Benchmarking DJP, namun untuk rasio CTTOR ternyata lebih kecil dibanding dengan nilai Benchmarking DJP. Untuk perusahaan dengan klasifikasi usaha pembiayaan konsumen, nilai rasio GPM, OPM, PPM, NPM dan CTTOR perusahaan tersebut lebih kecil dibandingkan dengan nilai rasio Benchmarking DJP.

Berdasarkan hasil penelitian tersebut maka perlu diteliti perbandingan antara rasio keuangan berdasarkan laporan keuangan BPR dengan rasio Benchmarking DJP. Tingginya pertumbuhan BPR di kabupaten Badung seharusnya diikuti dengan meningkatnya laba karena BPR termasuk dalam perusahaan yang berorientasi pada laba. Angka pertumbuhan yang positif setiap tahun seharusnya menghasilkan nilai rasio keuangan yang baik. Berdasarkan penjelasan diatas dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut.

H1a: Nilai rata-rata rasio OPM BPR lebih besar dari nilai batas bawah rasio OPM Benchmarking Behavioural Model

H1b: Nilai rata-rata rasio PPM BPR lebih besar dari nilai batas bawah rasio PPM Benchmarking Behavioural Model

H1c: Nilai rata-rata rasio NPM BPR lebih besar dari nilai batas bawah rasio NPM Benchmarking Behavioural Model

H1d: Nilai rata-rata rasio CTTOR BPR lebih besar dari nilai batas bawah rasio CCTOR Benchmarking Behavioural Model

(23)

32

2.2.2 Pengaruh kinerja keuangan BPR terhadap pembayaran PPh badan

Kinerja perusahaan merupakan hasil dari banyak keputusan individu yang dibuat secara terus menerus oleh pihak manajemen suatu perusahaan. Kinerja berarti pula bahwa dengan masukan tertentu untuk memperoleh keluaran tertentu. Secara implisit definisi kinerja mengandung suatu pengertian adanya suatu efisiensi yang dapat diartikan secara umum sebagai rasio atau perbandingan antara masukan dan keluaran. Kinerja perusahaan sebagai emiten di pasar modal merupakan prestasi yang dicapai perusahaan yang menerbitkan saham yang mencerminkan kondisi keuangan dan hasil operasi (operating result) perusahaan tersebut dan biasanya diukur dalam rasio-rasio keuangan (Siregar, 2010).

Menurut Fahmi (2012) kinerja keuangan merupakan gambaran dari pencapaian keberhasilan perusahaan dapat diartikan sebagai hasil yang telah dicapai atas berbagai aktivitas yang telah dilakukan. Dapat dijelaskan bahwa kinerja keuangan adalah suatu analisis yang dilakukan untuk melihat hasil kinerja suatu perusahaan dari kegiatan yang dilakukan dengan menggunakan aturan-aturan pelaksanaan keuangan secara baik dan benar. Nainggolan (2004) dalam Christiani (2010) menyatakan bahwa kinerja keuangan perusahaan merupakan salah satu aspek penilaian yang fundamental mengenai kondisi keuangan perusahaan yang dapat dilakukan berdasarkan analisis terhadap rasio-rasio keuangan perusahaan, antara lain: rasio likuiditas, rasio leverage, rasio aktivitas dan rasio profitabilitas yang dicapai oleh perusahaan dalam suatu periode tertentu.

Berdasarkan teori dapat disimpulkan bahwa kesehatan perusahaan tercermin dari kinerja keuangannya. Kinerja keuangan juga mencerminkan tingkat margin laba. Semakin baik kinerja keuangan suatu perusahaan maka semakin

(24)

33

besar margin laba. Saat laba perusahaan meningkat maka seharusnya semakin banyak PPh yang terutang. Tingkat pertumbuhan BPR khususnya di kabupaten Badung selama 2011-2013 menunjukkan kinerja yang sangat baik. Berdasarkan data pertumbuhan yang meningkat maka pembayaran PPh Badan yang dilakukan seharusnya meningkat. Penelitian yang dilakukan oleh Harahap (2013) dan Mariwan (2005) menyatakan bahwa kinerja keuangan berpengaruh positif terhadap pembayaran PPh. Berdasarkan penjelasan diatas maka dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut.

H2: Kinerja keuangan BPR berpengaruh positif pada pembayaran PPh Badan

Referensi

Dokumen terkait

Imbangan Duga berikut diambil daripada buku perakaunannya pada 30 April 2020.. (v) Peruntukan hutang ragu diselaraskan 2% atas baki Akaun Belum Terima

Secara rata-rata industri dari data sampel yang diambil, besarnya laba perusahaan pada kuartal 1 hingga kuartal 3 tahun 2020 mengalami penurunan yang sangat besar

Pelaksanaan kegiatan Pendayaangunaan Teknologi Penjernihan Air untuk Daerah Bencana merupakan program dari dua lemabaga terkait yaitu antara BPPT dengan Pusat Litbang

Dalam merumuskan strategi , maka terlebih dahulu harus melakukan analisis lingkungan dengan maksud untuk untuk menyesuaikan dengan keunggulan dan kelemahan yang

Dari hadis di atas data di jelaskan bahwasnya dalam menerapkan odd pricing di mata air swalayan dan resto terdapat peniuan, dimana label harga yang di terapkan oleh

Selain itu proses assessment ini merupakan salah satu tahapan di dalam proses seleksi terbuka yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Purbalingga guna untuk menghasilkan

Lokasi Kota Pedas ini yang berada di simpang pertemuan Sungai Pedas dan Sungai Rembau ini telah mengiyakan data-data yang diperolehi oleh pengkaji dari pihak Lembaga Muzium Negeri

hasil kajian menunjukkan responden yang memiliki nafkah ganda atau multi pada pekerjaan penebangan kayu hutan dan penambangan batubara menikmati kenaikan pendapatan