salep

86 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

DAYA ANTIJAMUR EKSTRAK LENGKUAS MERAH

(Alpinia purpurata K. Schum) DALAM SEDIAAN SALEP

Oleh

RIZKA HEZMELA F34101083

2006

FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(2)

DAYA ANTIJAMUR EKSTRAK LENGKUAS MERAH (Alpinia purpurata K. Schum) DALAM SEDIAAN SALEP

SKRIPSI

Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar SARJANA TEKNOLOGI PERTANIAN pada Departemen Teknologi Industri Pertanian

Fakultas Teknologi Pertanian Institut Pertanian Bogor

Oleh

RIZKA HEZMELA F34101083

2006

FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(3)

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN

DAYA ANTIJAMUR EKSTRAK LENGKUAS MERAH (Alpinia purpurata K. Schum) DALAM SEDIAAN SALEP

SKRIPSI

Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar SARJANA TEKNOLOGI PERTANIAN pada Departemen Teknologi Industri Pertanian

Fakultas Teknologi Pertanian Institut Pertanian Bogor

Oleh RIZKA HEZMELA

F34101083

Dilahirkan di Bogor pada tanggal 13 Oktober 1983 Tanggal Lulus : 27 Januari 2006

Disetujui,

Bogor, Februari 2006

Dra. Hernani, M.Sc Prof. Dr. Ir. Djumali M, DEA Pembimbing Akademik II Pembimbing Akademik I

(4)

Rizka Hezmela. F34101083. Daya Antijamur Ekstrak Lengkuas Merah (Alpinia purpurata K. Schum) dalam Sediaan Salep. Di bawah bimbingan Djumali Mangunwidjaja dan Hernani. 2006.

RINGKASAN

Rimpang lengkuas merah mengandung senyawa antijamur seperti eugenol, galangin, kaempferid, dan kuersetin yang dapat menyebabkan ketidakteraturan pada membran sitoplasma jamur. Penelitian bertujuan untuk mengetahui potensi bahan aktif rimpang lengkuas merah dalam menghambat pertumbuhan jamur penyebab penyakit mikosis lokal kulit seperti T. rubrum, T. mentagrophytes, M. canis, dan Candida albicans. Selain itu, penelitian juga bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan ekstrak lengkuas kedalam dua sediaan salep yaitu basis minyak dalam air (o/w) dan air dalam minyak (w/o) terhadap daya antijamur, pH sediaan dan stabilitas emulsi sediaan salep. Penelitian dilakukan dalam dua tahapan, yaitu penelitian pendahuluan dan penelitian utama. Penelitian pendahuluan dilakukan untuk menentukan jamur uji terbaik dan penentuan rentang konsentrasi hambatan terbaik. Penelitian utama meliputi, pembuatan salep antijamur dengan berbagai variasi konsentrasi ekstrak yang kemudian diuji daya antijamurnya kepada jamur uji terpilih, pengujian terhadap nilai pH dan stabilitas emulsi sediaan. Hasil penelitian pendahuluan menunjukkan bahwa jamur T. mentagrophytes dan M. canis dapat terhambat dengan baik pada konsentrasi ekstrak lengkuas 5%, sedangkan jamur C. albicans dan T. rubrum tidak dapat dihambat dengan baik, sehingga hanya jamur T. mentagrophytes dan M. canis yang digunakan untuk penelitian utama. Konsentrasi ekstrak minimum untuk menghambat pertumbuhan T. mentagrophytes adalah sebesar 0,5% dan pada konsentrasi ekstrak 10% diperoleh diameter hambatan maksimum. Konsentrasi ekstrak minimum untuk menghambat pertumbuhan M. canis adalah sebesar 0,3% dan pada konsentrasi ekstrak 5% diperoleh diameter hambatan maksimum. Hasil penelitian utama menunjukkan bahwa nilai diameter hambatan cenderung meningkat seiring dengan peningkatan konsentrasi ekstrak dalam sediaan salep. Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa hanya faktor konsentrasi ekstrak yang berpengaruh nyata terhadap nilai diameter hambatan kedua jamur, dan seluruh taraf konsentrasi memberikan hasil berbeda nyata terhadap nilai diameter hambatan kedua jamur (α = 0,05). Jamur M. canis lebih sensitif terhadap ekstrak lengkuas dibandingkan T. mentagrophytes. Salep minyak dalam air (o/w) memiliki pH yang lebih rendah (4,25 -5,45) dibandingkan air dalam minyak (w/o) (7,7 – 9,2). Nilai rata-rata stabilitas emulsi tipe o/w (54,46% – 87,61%) lebih kecil dibandingkan dengan stabilitas emulsi tipe w/o (93,17% – 97,40%). Analisis ragam menunjukkan bahwa konsentrasi ekstrak lengkuas dan tipe salep berpengaruh nyata terhadap nilai pH dan stabilitas emulsi. Dari uji lanjut Duncan dapat dilihat bahwa pada α = 0,05 seluruh konsentrasi memberikan hasil yang berbeda nyata terhadap nilai pH, sedangkan untuk stabilitas emulsi hanya konsentrasi 0,3% dan 0,5% yang tidak berbeda nyata sedangkan konsentrasi lainnya berbeda nyata.

(5)

Rizka Hezmela. F34101083. The Antifungal Activities of Red Galangal (Alpinia purpurata K Schum) Extract in Ointment Bases. Supervised by Djumali Mangunwidjaja and Hernani. 2006.

SUMMARY

Red galangal has some antifungal active compounds such as eugenol, galangin, kaempferol, and quercetin, which can cause deterioration in the fungal’s cytoplasm. The research was conducted to explore the potentials of red galangal

as antifungal agent for some fungal causing local mycosis such as, T. mentagrophyes, T. rubrum, M. canis, and C. albicans. The research was also

aimed to determine the effect of the incorporation of red galangal extract into ointment bases, both for oil in water (o/w) emulsion base and water in oil (w/o) emulsion base, in terms of their antifungal activities, pH, and emulsion stability. The research was done in two stages. The pre-research was conducted to select the fungal that can be well inhibited by red galangal extract and to determine the extract concentration’s range to inhibit the selected fungal. The next stage was the main research that covered the making of antifungal ointments in various extract concentrations then tested to the selected fungal, the evaluation of pH bases and emulsion stability. Result from pre-research had shown the potentials of red galangal extract as fungistatic agent for T. mentagrophytes and M. canis, but not for T. rubrum and C. albicans. The minimum concentration to inhibit the growth of T. mentagrophytes was 0,5% and at 10% concentration the maximum zone of inhibition was obtained. The minimum concentration to inhibit the growth of M. canis was 0,3% and at 5% concentration the maximum zone of inhibition was obtained. Result from the main research had shown that the values for zone of inhibition were tended to increase along with the higher concentrations added to the ointment bases. Analysis of variance had shown that extract concentrations gave significant effect for the zone of inhibition’s diameter and each level of concentration significantly affect the zone of inhibition’s diameter (α = 0,05) for

both fungal. M. canis was more sensitive to red galangal extract than T. mentagrophytes. The evaluation’s result for pH bases shown that oil in water

base had a lower pH (4,25 – 5,45) comparing to water in oil base (7,7 – 9,2). Water in oil emulsion base was more acceptable to be applied topically since its pH was still in the pH range of skin acceptability (4,0 -5,6). The emulsion stability for oil in water base was lower than water in oil base. The emulsion stability for oil in water base was 54,46% – 87,61% and 93,17% – 97,40% for water in oil base in average. Analysis of variance had shown that extract concentrations and type of ointment gave significant effect both for pH bases and emulsion stability. Post hoc test for 95%’s level of significance (α = 0,05) had shown that each level of concentration significantly affect the pH base, while for emulsion stability, only the concentrations of 0,3% and 0,5% that did not give significant effect to emulsion stability.

(6)

SURAT PERNYATAAN

Saya menyatakan dengan sebenar-benarnya bahwa skripsi yang berjudul ” Daya Antijamur Ekstrak Lengkuas Merah (Alpinia purpurata K Schum) dalam Sediaan Salep ” merupakan hasil karya asli saya sendiri, dengan arahan dosen pembimbing akademik, kecuali yang dengan jelas ditunjukkan rujukannya.

Bogor, Februari 2006 Yang Membuat Pernyataan,

RIZKA HEZMELA F34101083

(7)

BIODATA PENULIS

Penulis dilahirkan di Jakarta pada tanggal 13 Oktober 1983 sebagai anak pertama dari tiga bersaudara, dari pasangan Alamsyah dan Yunizar.

Penulis menempuh pendidikan di SDN Pondok Labu 07 Pagi Jakarta (1989-1995), SLTPN 85 Jakarta (1995-1998), dan SMUN 34 Jakarta (1998-2001).

Pada akhir pendidikan di SLTA, penulis berkesempatan untuk mengikuti Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI) dan pada Tahun 2001 penulis menjadi mahasiswa di Departemen Teknologi Industri Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor.

Selama masa kuliah, penulis bergabung dalam Himpunan Mahasiswa Teknologi Industri (HIMALOGIN) dan IPB Debating Community (IDC). Selain itu, penulis juga pernah menjadi pelatih IDC pada tahun 2005 dan mengajar percakapan dalam bahasa Inggris di English Avenue Bogor pada tahun 2005 - 2006. Penulis melakukan Praktek Lapang di PD. Andalas Mekar Sentosa Bandar Lampung dengan judul ”Produksi dan Pemasaran Keripik Pisang dan Nangka”, dan mengakhiri masa studi di IPB dengan menyelesaikan skripsi yang berjudul ”Daya Antijamur Ekstrak Lengkuas Merah (Alpinia purpurata K Schum) dalam Sediaan Salep”.

(8)

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala rahmat, hidayah dan karuniaNya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “ Daya Antijamur Ekstrak Lengkuas Merah (Alpinia purpurata K Schum) dalam Sediaan Salep”.

Pada kesempatan ini, penulis mengucapan terima kasih sedalam-dalamnya kepada :

1) Prof. Dr. Ir. Djumali M, DEA selaku dosen pembimbing I atas dukungan, bimbingan, arahan dan bantuan selama penulis kuliah di TIN.

2) Dra. Hernani, M.Sc selaku dosen pembimbing II atas bimbingan, arahan dan bantuan selama penelitian dan pembuatan skripsi.

3) Dr. Ir. Erliza Noor selaku dosen penguji, atas kritik dan sarannya.

4) Eni Kusumaningtyas, SSi, M.Sc atas segala bantuan, arahan, dan masukannya selama penelitian.

5) Staf di Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian, Bogor.

6) Staf di Laboratorium Mikologi Balai Penelitian Veteriner, Bogor.

7) Kedua orang tua dan adik-adik atas dukungannya, baik moral maupun material.

Akhirnya, dengan berbagai kekurangan yang ada, maka segala kritik dan saran sangat diharapkan. Semoga skripsi ini bermanfaat bagi bagi semua pihak yang memerlukannya.

Bogor, Februari 2006

(9)

UCAPAN TERIMA KASIH

Penelitian dan penyusunan skripsi yang berjudul ”Daya Antijamur Ekstrak Lengkuas Merah (Alpinia purpurata K Schum) dalam Sediaan Salep” tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam kepada :

1. Anak Agung Purnama, atas bantuan, doa dan kebersamaanya. 2. Ratna Mahmudah Kurniasari, atas motivasi dan bantuannya.

3. New Sakinah Crew (Markas Besar TIN 38) : Ikund, Agus, Wanto, Wawan, Slamet, Anas, Galih, Dhani, Ardi, Chairil, Pupunk, Dicki, dan Azmidi, atas bantuan, kebersamaan dan semangatnya.

4. Dian K, Linda, Ferry, Dini, Hevy, Yeni, Efi, Feby, Teh Ratih atas motivasi, bantuan, serta masukan-masukan yang sangat berharga.

5. Mommy, Wini, Astrid, DP, Debbi, Anne, QQ, Rahmi, Wina, Arya, Affan, AY, Kunang dan Jhon untuk dukungan dan persahabatannya.

6. Teman-teman di BPPP : Lidya, Alis, Neni, Iyus, Tria, Tika, Fiena, Ratih, atas bantuan dan kerjasamanya.

7. Teman-teman TINers 38 yang telah memberikan persahabatan dan kenangan yang indah.

.

Bogor, Februari 2006

(10)

DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR ISI………. i

DAFTAR TABEL………... iii

DAFTAR GAMBAR……… iv

DAFTAR LAMPIRAN... v

I. PENDAHULUAN………... 1

A. LATAR BELAKANG………... 1

B. TUJUAN PENELITIAN ...…….……….. 2

II. TINJAUAN PUSTAKA……… 3

A. LENGKUAS ... 3

1. Botani tanaman lengkuas ………. 3

2. Syarat tumbuh...…………..………. 4

3. Kandungan kimia……… 4

4. Potensi tanaman lengkuas……….. 6

5. Penggunaan lengkuas ……… 7

B. ANTIJAMUR... ...……….…... 8

1. Pengertian... 8

2. Cara kerja ... 9

3. Pengujian aktivitas antijamur ... 9

C. PENYAKIT KULIT YANG DISEBABKAN JAMUR ... 11

D. SALEP (Unguentum) ... 14

III. METODOLOGI ... 16

A. ALAT DAN BAHAN ... 16

B. METODE PENELITIAN ... 16

1. PENELITIAN PENDAHULUAN ... 16

1.1.Pengolahan simplisia lengkuas ... 16

1.2.Ekstraksi ... 17

1.3.Penentuan jamur uji terbaik ... 18

1.4.Penentuan rentang konsentrasi hambatan ... 18

2. PENELITIAN UTAMA ... 19

(11)

2.2.Pengujian efektifitas salep antijamur ... 21

2.3.Pengujian sifat fisik salep antijamur ... 21

C. RANCANGAN PERCOBAAN ... 22

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ... 23

A. PENELITIAN PENDAHULUAN ... 23

1. Analisis mutu bahan baku ... 23

2. Ekstraksi ... 26

3. Penentuan jamur uji terbaik ... 28

4. Penentuan rentang konsentrasi hambatan ... 29

B. PENELITIAN UTAMA ... 30

1. Daya antijmur ... 30

2. pH sediaan ... 35

3. Stabilitas emulsi ... 36

V. KESIMPULAN DAN SARAN ... 38

DAFTAR PUSTAKA ... 39

LAMPIRAN ... 42

DAFTAR TABEL

(12)

Tabel 1. Komposisi rimpang lengkuas kering ... 5

Tabel 2. Aktivitas beberapa komponen bioaktif pada rempah-rempah ... 6

Tabel 3. Luas panen tanaman obat di Indonesia tahun 1999 – 2002 ... 7

Tabel 4. Produktivitas tanaman obat tahun 1999 – 2002 ... 7

Tabel 5. Persyaratan simplisia lengkuas ... 17

Tabel 6. Komposisi bahan dalam formulasi sediaan salep ... 19

Tabel 7. Hasil analisis mutu bubuk lengkuas merah ... 24

Tabel 8. Diameter hambatan jamur pada konsentrasi ekstrak lengkuas 5%... 28

DAFTAR GAMBAR Halaman Gambar 1. Diagram alir ekstraksi simplisia lengkuas ... 17

(13)

Gambar 3. Diagram alir proses pembuatan salep air dalam minyak ... 20 Gambar 4. Tampilan simplisia lengkuas merah ... 23 Gambar 5. Ekstrak etanol lengkuas merah ... 27 Gambar 6.Morfologi koloni (a) dan morfologi mikroskopis (b)

T. mentagrophytes ... 29 Gambar 7. Morfologi koloni (a) dan morfologi mikroskopis (b)

M. canis ... 29 Gambar 8. Grafik pengaruh konsentrasi ekstrak lengkuas merah

dalam dua dasar salep terhadap diameter hambatan

T. mentagrophytes ... 31 Gambar 9. Grafik pengaruh konsentrasi ekstrak lengkuas merah

dalam dua dasar salep terhadap diameter hambatan

M. canis ... 31 Gambar 10. Grafik perbandingan nilai diameter hambat

T. mentagrophytes dan M. canis

pada konsentrasi 0,5%, 1%, 3%, dan 5% dalam

dasar salep o/w ... 33 Gambar11. Grafik perbandingan nilai diameter hambat

T. mentagrophytes dan M. canis

pada konsentrasi 0,5%, 1%, 3%, dan 5%

dalam dasar salep w/o ... 33 Gambar 12.Rumus bangun senyawa aktif antijamur dalam

lengkuas merah ... 35 Gambar 13.Grafik pengaruh konsentrasi ekstrak lengkuas

terhadap nilai pH produk... 36 Gambar 14. Grafik pengaruh konsentrasi ekstrak lengkuas

terhadap nilai stabilitas emulsi ... 37 DAFTAR LAMPIRAN

Halaman Lampiran 1. Tata cara analisis bubuk lengkuas ... 42 Lampiran 2. Tata cara analisis sifat fisik salep ... 44

(14)

Lampiran 3. Hasil analisis mutu bahan baku ... 45

Lampiran 4. Zona hambatan 4 jamur uji pada penelitian pendahuluan ... 47

Lampiran 5. Hasil pengukuran diameter hambatan ... 48

Lampiran 6. Analisis ragam untuk daya antijamur ... 49

Lampiran 7. Tampilan zona hambatan T. mentagrophytes dan M. canis ... 50

Lampiran 8. Hasil pengukuran nilai pH sediaan ... 53

Lampiran 9. Analisis ragam untuk pH sediaan ... 54

Lampiran 10. Hasil pengukuran stabilitas emulsi ... 55

Lampiran 11. Analisis ragam untuk stabilitas emulsi ... 56

(15)

I.

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Penyakit kulit yang disebabkan oleh beberapa jenis jamur merupakan salah satu masalah utama negara-negara di daerah tropis seperti di Indonesia. Kondisi kulit yang mudah berkeringat dan lembab, kebersihan diri yang tidak terjaga dan kurangnya pengetahuan tentang kesehatan merupakan faktor yang memungkinkan pertumbuhan jamur penyebab penyakit kulit.

Pengembangan obat-obatan tradisional yang berasal dari bahan-bahan alam telah mendapat perhatian dari pemerintah maupun masyarakat karena potensinya cukup tinggi. Salah satu upaya dalam hal ini adalah dengan meningkatkan bentuk obat tradisional menjadi fitofarmaka agar dapat diterima dalam pengobatan formal. Hal ini pun ditunjang oleh kekayaan hayati Indonesia yang beraneka ragam dengan berbagai tanaman yang berkhasiat mencegah, mengurangi atau menghilangkan gangguan fisiologik tubuh, serta ada pula yang memiliki daya antibakteri dan antijamur, diantaranya adalah lengkuas.

Tanaman lengkuas merupakan salah satu komoditi tanaman obat yang potensial untuk dikembangkan. Data luas panen tanaman lengkuas dan produktivitasnya pada tahun 1999-2002, menunjukkan bahwa luas panen lengkuas pada selang tersebut berturut-turut adalah 7.881.241 m2, 16.185.905 m2, 15.958.475 m2, dan 11.480.646 m2, sedangkan produktivitasnya pada adalah 1,51 kg/m2, 1,7 kg/m2, 1,64 kg/m2, dan 2 kg/m2 (Dirjen Bina Produksi Hortikutura, 2003).

Rimpang lengkuas telah lama digunakan sebagai obat tradisional untuk mengobati radang lambung, kolik, panu, eksim,jerawat, koreng, bisul, kurap dan bercak-bercak kulit. Shelef (1983) meyatakan bahwa ekstrak lengkuas dapat menghambat pertumbuhan bakteri Gram positif (Staphylococcus aureus) dan Gram negatif (Salmonella typhosa). Hasil penelitian Mulyaningsih (1996) juga menyatakan bahwa minyak atsiri lengkuas merah mempunyai aktivitas antifungi dengan konsentrasi hambat minimum 3,13% (v/v) terhadap C. albicans.

(16)

Salep merupakan sediaan emulsi setengah padat yang banyak digunakan untuk menghantarkan bahan obat. Pemilihan dasar salep yang tepat dapat mempengaruhi efektivitas senyawa obat yang dihantarkan (Jenkins et al., 1957). Penambahan ekstrak lengkuas ke dalam sediaan salep dapat meningkatkan nilai tambah lengkuas merah sebagai bahan obat. Salep antijamur dengan bahan aktif yang berasal dari lengkuas merah diperkirakan mampu menghambat beberapa jamur penyebab penyakit kulit, terutama yang bersifat lokal.

B. Tujuan

Tujuan dari penelitian ini adalah :

1. Mengidentifikasi potensi bahan aktif rimpang lengkuas merah dalam menghambat pertumbuhan jamur penyebab penyakit mikosis lokal kulit seperti T. rubrum, T. mentagrophytes, M. canis dan C. albicans. 2. Mengetahui pengaruh penambahan ekstrak lengkuas ke dalam dua

sediaan salep yaitu basis minyak dalam air (o/w) dan air dalam minyak (w/o) terhadap kualitas salep, seperti daya antijamur, pH dan stabilitas emulsi sediaan salep.

(17)

II. TINJAUAN PUSTAKA

A. LENGKUAS

1. Botani Tanaman Lengkuas

Lengkuas termasuk terna tumbuhan tegak yang tinggi batangnya mencapai 2 – 2,5 meter. Ada 2 jenis lengkuas yang dikenal yaitu varietas dengan rimpang berwarna putih dan merah. Tanaman ini memiliki akar tak teratur. Pada lapisan luar terdapat kulit tipis berwarna coklat sedangkan di bagian tangkai yang berbentuk umbi berwarna merah. Bagian dalam berwarna putih dan jika dikeringkan menjadi kehijau-hijauan. Lengkuas mempunyai batang pohon yang terdiri atas susunan pelepah-pelepah daun. Daun-daunnya berbentuk bulat panjang dan antara daun yang terdapat pada bagian bawah terdiri atas pelepah-pelepah saja, sedangkan bagian atas batang terdiri dari pelepah-pelepah lengkap dengan helaian daun. Bunganya juga muncul pada pada bagian ujung tumbuhan. Rimpang umbi lengkuas selain berserat kasar juga memiliki aroma yang khas (Anonim,1999).

Klasifikasi tanaman lengkuas berdasarkan adalah sebagai berikut (Anonim, 2000) : Kerajaan : Plantae Subkerajaan : Tracheobionta Superdivisi : Spermatophyta Divisi : Magnoliophyta Klas : Liliopsida Subklas : Zingiberidae Ordo : Zingiberales Keluarga : Zingiberaceae Genus : Alpinia Roxb.

(18)

2. Syarat Tumbuh

Tanaman lengkuas dapat tumbuh di daerah dataran rendah sampai dataran tinggi, kurang lebih 1200 meter di atas permukaan laut. Curah hujan tahunan di daerah tempat tumbuh berada pada kisaran 2500 – 4000 mm/tahun. Bulan basah (di atas 100 mm/bulan) lamanya antara 7 – 9 bulan, sedangkan bulan kering (di bawah 60 mm/bulan) lamanya antara 3 – 5 bulan. Suhu udara berkisar antara 25oC –29 oC, kelembaban udara sedang, dan intensitas penyinaran tinggi (Anonim, 2000).

Jenis tanah yang cocok untuk tumbuhnya tanaman lengkuas adalah latosol merah coklat, andosol, dan aluvial. Tekstur tanah dapat bervariasi antara lempung berliat, lempung berpasir, lempung merah, dan lateristik. Kedalaman air tanah sekitar 50 – 100 cm dari permukaan tanah. Kedalaman perakaran antara 10 – 30 cm dari permukaan tanah. Tingkat kesuburan tanah harus berada pada kisaran sedang – tinggi dengan sistem pengairan yang baik (Anonim, 2000).

3. Kandungan Kimia

Lengkuas yang dikenal kaya akan kandungan kimia mengandung lebih kurang 1% minyak atsiri berwarna kuning kehijauan yang terutama terdiri dari metil-sinamat 48%, sineol 20% - 30%, eugenol, kamfer 1%, seskuiterpen, dan δ-pinen (Mc Vicar, 1994). Selain itu, lengkuas juga mengandung resin yang disebut galangol, kristal berwarna kuning yang disebut kamferida dan galangin, kadinen, heksabidrokadalen hidrat, kuersetin, amilum, dan beberapa senyawa flavonoid (Anonim, 2000).

Komponen bioaktif pada rempah-rempah, khususnya dari golongan Zingiberaceae yang terbanyak adalah dari jenis flavonoid yang merupakan golongan fenolik terbesar dan terpenoid. Pada golongan flavonoid dikenal golongan flavonol. Komponen flavonol yang banyak tersebar pada tanaman misalnya yang terdapat pada lengkuas adalah galangin, kaemferol, kuerstin dan mirisetin. Salah satu golongan flavonoid adalah kalkon. Kalkon adalah komponen yang berwarna kuning terang. Komponen lainnya yang ditemukan pada Alpinia adalah flavonon. Komponen flavonon dan

(19)

dihidroflavonol dikenal sebagai senyawa yang bersifat fungistatik dan fungisida dan yang terdapat pada tumbuhan Alpinia dan Kaempferia dari golongan Zingiberaceae adalah alpinetin.

Bentuk senyawa bioaktif lainnya adalah dari golongan terpenoid. Golongan ini dikenal sebagai kelompok utama pada tanaman sebagai penyusun minyak atsiri. Terpenoid mempunyai rumus dasar (C5H8)n atau dengan satu unit isopren. Jumlah n menunjukkan klasifikasi pada terpenoid yang dikenal dengan monoterpen, seskwiterpen, diterpen, triterpen, tetraterpen dan politerpen. Struktur terpenoid ada yang berbentuk siklik dan ada yang tidak (Wallis, 1981). Komposisi rimpang lengkuas kering dapat dilihat pada Tabel 1, sedangkan aktivitas beberapa komponen bioaktif pada rempah-rempah dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 1. Komposisi Rimpang Lengkuas Kering Komponen Kandungan (%) Air 7,65 Abu 12,28 Lemak 1,59 Pati 26,44 Serat kasar 11,55 Protein 3,07 Minyak atsiri 0,27 Kamferid 0,07 Mineral 0,03 Sumber : Rosdiyati (1980) Di dalam Kholid (2000)

(20)

Tabel 2. Aktivitas Beberapa Komponen Bioaktif pada Rempah-rempah Jenis Rempah 2) Jenis Komponen 2) Beberapa Aktivitas Bioaktif 1)

Jahe Gingerol Antikoagulan, menurunkan kadar kolesterol

Adas, Anis Bintang Anethole Ekspektoran, antiinflamasi

Sereh Sitronelal, Sitronellol Insektisida Cengkeh Eugenol Antiinflamasi,

antikarminativa, stimulan, antimikroba

Kapulaga Terpineol Antialergik, antiseptik, bakterisida

Kayu putih, eucalyptus Sineol Antiseptik, bakterisida, herbisida

Ketumbar l-borneol Antiinflamasi Lada Piperin Stimulan,

menghangatkan tubuh

Pala d-pinene,d-camphene Ekspektoran, stimulan, antikarminativa

Akar wangi Vetiverol Diaforetik Kayu manis Sinamaldehid Antikarminativa,

spasmolitik, antimikroba

Lengkuas Kuersetin, kaemferol Antimikroba, antioksidan

Sumber : 1) Malaysian Herbal Database (2003) 2) Ketaren (1985)

4. Potensi Tanaman Lengkuas

Tanaman lengkuas tergolong ke dalam tanaman obat yang potensial untuk dikembangkan karena luas panen yang besar dan produktivitasnya yang tinggi. Tabel mengenai luas panen dan produktivitas tanaman lengkuas berturut-turut disajikan pada Tabel 3 dan Tabel 4.

(21)

Tabel 3. Luas Panen Tanaman Obat Biofarmaka di Indonesia Tahun 1999 - 2002 No KOMODITAS LUAS PANEN TANAMAN OBAT (m2), TAHUN

1999 2000 2001 2002 1 Jahe 77.269.296 76.135.306 85.090.013 66.102.436 2 Lengkuas 7.881.241 16.185.905 15.958.475 11.480.646 3 Kencur 8.098.144 12.829.624 12.166.828 8.547.922 4 Kunyit 11.791.045 17.894.238 18.292.769 16.840.783 5 Lempuyang 2.235.095 2.564.077 3.817.085 2.554.551 6 Temulawak 4.330.344 6.014.696 5.612.786 5.075.686 7 Temuireng 3.416.735 3.613.238 2.837.349 2.655.692 8 Kejibeling 747.905 685.542 847.975 608.894 9 Dringo 290.214 285.238 402.479 506.236 10 Kapulaga 3.013.050 3.504.163 3.268.544 4.855.309 Jumlah 119.073.069 139.712.027 148.294.303 119.228.155 Sumber : Dirjen Bina Produksi Hortikultura (2003)

Tabel 4. Produktivitas Tanaman Obat Biofarmaka Tahun 1999 – 2002

No KOMODITAS PRODUKTIVITAS TANAMAN OBAT (Kg/m2), TAHUN 1999 2000 2001 2002 1 Jahe 1,43 1,51 1,51 2 2 Lengkuas 1,51 1,70 1,64 2 3 Kencur 0,72 0,74 0,91 2 4 Kunyit 1,30 1,39 1,49 1 5 Lempuyang 1,60 1,75 1,26 2 6 Temulawak 1,07 0,94 1,08 1 7 Temuireng 0,54 0,79 0,59 1 8 Kejibeling 0,54 0,69 0,80 1 9 Dringo 0,71 0,49 0,28 1 10 Kapulaga 0,33 0,71 0,59 1 Jumlah 1,35 1,38 1,4 1,7 Sumber : Dirjen Bina Produksi Hortikultura (2003)

5. Penggunaan Lengkuas

Lengkuas dikenal sebagai tanaman penghasil bahan pewangi dan penambah flavor masakan. Rimpang yang muda dan segar dapat dimanfaatkan untuk mengawetkan masakan. Rimpang lengkuas yang berwarna putih pemanfaatannya banyak digunakan pada bidang pangan. Rimpang lengkuas selama ini dikenal sebagai pengempuk daging dalam masakan dan digunakan sebagai salah satu rempah bagi berbagai jenis bumbu masakan tradisional Indonesia (Heyne, 1987).

(22)

Lengkuas yang biasanya digunakan untuk pengobatan adalah jenis lengkuas merah. Dalam farmakologi Cina dan pengobatan tradisional lainnya disebutkan, lengkuas merah mempunyai sifat antijamur dan antikembung. Efek farmakologi ini umumnya diperoleh dari rimpang yang mengandung basonin, eugenol, galangan dan galangol. Basonin dikenal memiliki efek merangsang semangat, eugenol sebagai antijamur C. albicans, antikejang, analgetik, dan anastetik, galangan meredakan rasa lelah, meredakan rasa lelah dan antimutagenik, sementara galangol dapat merangsang semangat dan menghangatkan tubuh (Anonim, 2003).

Khasiat rimpang lengkuas juga sudah dibuktikan secara ilmiah melalui berbagai penelitian sebagai antijamur. Secara tradisional sejak zaman dahulu, parutan rimpang lengkuas kerap digunakan sebagai obat penyakit kulit, terutama yang disebabkan oleh jamur seperti panu, kurap, eksim, jerawat, koreng, bisul, dan sebagainya (Anonim, 2000).

B. ANTIJAMUR

1. Pengertian

Menurut Ganiswara (1995), zat antijamur merupakan bahan yang dapat membasmi jamur pada umumnya, khususnya yang bersifat patogen bagi manusia. Berdasarkan sifat toksisitas selektif, senyawa antifungi dibagi atas fungisida dan fungistatik. Fungisida yaitu senyawa antijamur yang mempunyai kemampuan untuk membunuh jamur sehingga dinding sel jamur menjadi hancur karena lisis, akibatnya jamur tidak dapat bereproduksi kembali, meskipun kontak dengan obat telah dihentikan. Fungistatik yaitu senyawa antijamur yang mempunyai kemampuan untuk menghambat pertumbuhan jamur sehingga jumlah sel jamur yang hidup relatif tetap. Pertumbuhan jamur akan berlangsung kembali bila kontak dengan obat dihentikan.

(23)

2. Cara Kerja

Menurut Ganiswara (1995), berdasarkan cara kerjanya, obat antijamur dibedakan menjadi 4 yaitu :

a) Berikatan kuat dengan sterol yang terdapat pada membran sel jamur. Ikatan ini mengakibatkan kebocoran membran sel, sehingga terjadi kehilangan beberapa bahan intrasel dan menyebabkan kerusakan yang tetap pada sel jamur. Contoh: nistatin dan amfoterisin.

b) Masuk kedalam sel jamur dengan bantuan sitosin deaminasi dan dalam sitoplasma akan bergabung dengan RNA setelah mengalami deaminase menjadi 5-fluorourasil. Sintesis protein sel jamur terganggu akibat penghambatan langsung sintetis DNA oleh metabolit fluorourasil. Contoh : flusitosin.

c) Menghambat mitosis jamur dengan mengikat protein mikrotubuler dalam sel. Contoh : griseofulvin.

d) Menimbulkan gangguan terhadap sintesis asam nukleat atau penimbunan peroksida dalam sel jamur sehingga terjadi kerusakan dinding sel yang mengakibatkan permeabilitas terhadap berbagai zat intrasel meningkat. Contoh : imidazol (mikonazol, klotrimazol). 3. Pengujian Aktivitas Antijamur

Pengujian aktivitas antijamur sama artinya dengan menentukan kerentanan jamur terhadap suatu zat antijamur. Beberapa faktor yang mempengaruhi aktivitas antijamur in vitro antara lain adalah pH lingkungan, komponen media, stabilitas zat antijamur, ukuran inokulum, masa inkubasi, dan aktivitas metabolisme mikroorganisme (Asmaedy, 1991). Menurut Ganiswara (1995), metode pengujian aktivitas antijamur in vitro berdasarkan prinsipnya dibagi menjadi :

a) Metode Difusi

Pada metode ini zat antijamur ditentukan aktivitasnya berdasarkan kemampuan berdifusi pada lempeng agar yang telah diinokulasi dengan jamur uji. Dasar pengamatannya adalah dengan melihat ada atau tidaknya zona hambatan (daerah bening yang tidak

(24)

memperlihatkan adanya pertumbuhan jamur) yang terbentuk disekeliling zat antijamur. Metode ini dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu :

a.1. Cara cakram (disc)

Pada cara ini dipergunakan cakram kertas saring yang mengandung suatu zat antijamur dengan kekuatan tertentu yang diletakkan pada lempeng agar yang telah diinokulasi dengan jamur uji, selanjutnya diinkubasi pada suhu 37oC selama 7 sampai 14 hari. Pengamatan dilakukan terhadap daerah bening yang terbentuk di sekeliling kertas cakram yang menunjukkan zona hambatan pertumbuhan jamur.

a.2. Cara sumur

Pada lempeng agar yang telah diinokulasi oleh jamur uji dibuat sebidang sumur. Sumur kemudian diisi dengan zat uji, diinkubasi 37oC selama 7 sampai 14 hari. Pengamatan dilakukan dengan melihat ada atau tidaknya zona hambatan di sekeliling sumur.

b) Metode Dilusi

Pada metode ini zat antijamur dicampur dengan media agar yang kemudian diinokulasi dengan jamur uji. Pengamatan dilakukan dengan melihat tumbuh atau tidaknya jamur dalam media. Aktivitas zat antijamur ditentukan dengan melihat konsentrasi hambat minimum (KHM), yaitu konsentrasi hambatan terkecil dari zat antijamur yang dapat menghambat pertumbuhan jamur uji. Metode ini dapat dilakukan dengan 2 cara :

b.1. Cara penipisan lempeng agar

Pada cara ini, zat uji diencerkan sehingga diperoleh suatu larutan uji yang mengandung 100μg/mL, larutan ini sebagai larutan sediaan. Dari larutan sediaan dibuat secara serial penipisan larutan uji dengan metode pengenceran kelipatan dua dalam media agar yang masih cair, kemudian dituang ke dalam cawan petri. Jamur uji diinokulasikan setelah agar membeku dan

(25)

kering. Zat diinkubasi pada suhu 37oC selama 7 sampai 14 hari. Aktivitas zat uji ditentukan sebagai KHM.

b.2. Cara pengenceran tabung

Prinsip dari cara ini adalah penghambatan pertumbuhan jamur dalam pembenihan cair oleh suatu zat antijamur yang dicampur ke dalam pembenihan. Zat uji diencerkan secara serial dengan metode pengenceran kelipatan dua dalam media cair, kemudian diinokulasi dengan jamur uji dan diinkubasi pada suhu 37oC selama 7 sampai 14 hari. Aktivitas zat uji ditentukan sebagai KHM.

C. PENYAKIT KULIT YANG DISEBABKAN JAMUR

Penyakit kulit yang disebabkan oleh jamur dapat bersifat mikosis sistemik ataupun mikosis lokal kulit. Mikosis sistemik yang mempengaruhi organ internal dan viseral biasanya disebabkan oleh Candida albicans, Aspergillus fumigatus, Cryptococcus, Torulopsis dan Mucor, sedangkan mikosis lokal yang mempengaruhi jaringan kutan biasanya disebabkan oleh jenis Tricophyton (mentagrophytes dan rubrum), Epidermophyton floccosum, maupun Candida albicans (Jungerman dan Robert, 1972).

Mikosis lokal kulit (dermatomikosis) terjadi di seluruh dunia, dan jenis ini adalah penyakit yang paling sering menginfeksi manusia. Badan kesehatan dunia (WHO) memperkirakan bahwa sekitar 20% dari total penduduk dunia menderita penyakit ini, dan persentase ini bahkan lebih tinggi di daerah tropis dan subtropis. Sebagian besar dari infeksi ini disebabkan oleh jamur dermatofit yang menginfeksi kulit, rambut dan kuku (Allevato, 1999).

Salah satu contoh mikosis lokal kulit adalah ringworm atau disebut juga tinea. Ringworm biasanya menyerang tubuh ataupun wajah manusia. Penyakit ini biasanya terjadi di daerah tropis dan menyerang laki-laki ataupun wanita dari berbagai usia. Ringworm terjadi akibat infeksi yang disebabkan oleh jamur dari golongan dermatofit (Al-Doory, 1980).

Greenwood et al. (1995) menyatakan bahwa jamur dari golongan dermatofit menyerang permukaan rambut, kulit dan kuku. Jamur dari

(26)

golongan dermatofit menginfeksi dan hidup pada jaringan keratin yang mati, tepatnya pada lapisan paling atas dari epidermis. Ringworm dapat terjadi melalui kontak secara langsung ataupun tidak langsung antara manusia dan hewan yang telah terinfeksi.

Studi lebih lanjut yang dilakukan Raymond Sabouraud pada tahun 1910 menunjukkan bahwa terdapat tiga genus jamur dermatofit yang merupakan penyebab paling umum timbulnya ringworm, yaitu Microsporum, Tricophyton dan Epidermophyton (Soltys, 1963). Selain itu, mikosis lokal kulit juga dapat disebabkan oleh C. albicans yang menimbulkan penyakit kandidosis (Al-Doory, 1980).

Genus Microsporum meliputi beberapa spesies seperti M. canis, M. audouini, M. gypseum, M. equinum. Genus Tricophyton meliputi T. mentagrophytes, T. verrucosum, T. equinum, T. rubrum, T. schoenleini, T. tonsurans, dan T. gallinæ. Dari genus Epidermophyton hanya terdapat E. floccosum (Soltys, 1963).

1. M. canis

M. canis termasuk fungi imperfecti (deuteromycetes), tetapi stadium seksual dari jamur ini telah ditemukan dan diberi nama Arthroderma otae. Pada medium agar Sabouraud, pertumbuhan koloni cepat, koloni berwarna putih pada permukaan agar dan berwarna kuning pada sisi sebaliknya. Jamur ini membentuk banyak makrokonidia multiseluler dengan ukuran 10 – 150 μm yang terdiri dari 8 – 15 sel berdinding tebal yang biasanya mempunyai ujung-ujung melengkung atau kail berduri. Jamur ini berbentuk kumparan dan terbentuk pada konidiospora khusus (Jawetz, 1980).

M. canis merupakan penyebab penyakit tinea capitis, yaitu dermatofitosis pada kulit kepala dan rambut. Kelainan ini ditandai dengan kulit bersisik, kemerah-merahan, kebotakan dan kadang-kadang terjadi gambaran klinis yang lebih berat atau disebut kerion yaitu reaksi peradangan yang berat, berupa pembengkakan yang menyerupai sarang lebah (Dubos, 1948).

(27)

2. T. rubrum

Jamur ini termasuk dalam famili Moniliaceae yang telah ditemukan stadium seksualnya yang diberi nama Arthroderma simii. Pada medium agar Sabouraud, pertumbuhan koloninya lambat, koloni berwarna putih seperti kapas pada permukaan agar dan berwarna merah pada sisi sebaliknya. Jamur ini mempunyai mikrokonidia berukuran 2 -5 μm yang berbentuk lonjong di sepanjang sisi-sisi hifa. Selain itu, jamur ini juga tumbuh pada sisi lateral hifa dan berkelompok seperti pohon cemara (Rippon, 1988).

Jamur ini menyebabkan penyakit tinea cruris yang menginfeksi jaringan antara jari-jari kaki dan lipatan paha. Pada daerah antara jari-jari kaki, penderita mengalami gatal-gatal, kulit bersisik dan pecah-pecah. Dermatofitis pada lipatan paha dapat bersifat akut maupun menahun. Kelainan kulit yang tampak pada paha merupakan lesi berbatas tegas. Peradangan pada tepi lebih nyata daripada daerah tengahnya. (Djuanda, 1987).

3. E. floccosum

Jamur ini termasuk fungi imperfecti dari familia Moniliaceae. Pada medium agar Sabouraud, sifat pertumbuhan koloninya lambat dan koloninya berwarna putih yang kemudian akan berubah menjadi kehijauan. Pada genus ini hanya terbentuk mikrokonidia berbentuk tongkat, terdiri dari 1 sampai 5 sel. Jamur ini juga merupakan penyebab penyakit tinea pedis dan tinea cruris. Jamur ini menyerang sel epidermis, khususnya di daerah lipatan paha dan lipatan di bawah payudara. Selain itu jamur ini dapat juga menginfeksi jaringan di antara jari-jari kaki (Djuanda, 1987).

4. T. mentagrophytes

Jamur ini termasuk famili Moniliaceae yang telah memiliki stadium seksual yang diberi nama Arthroderma vanbreu seghemii. Dalam biakan, koloni jamur ini berkisar dari granular sampai serbuk, dan biasanya menunjukkan banyak kelompok mikrokonidia subsferis yang menyerupai tangkai buah anggur pada cabang-cabang terminalnya. Koloni jamur ini

(28)

berbulu putih seperti kapas dan hanya sedikit mengandung makrokonidia berukuran 6 – 20 μm dengan 2 sampai 8 septa.

Jamur ini merupakan penyebab penyakit tinea pedis. Jamur ini menginfeksi jari kaki dengan mula-mula terdapat rasa gatal antara jari-jari dan berkembang menjadi daerah maserasi vesikel yang terdapat pada daerah antara jari dan meluas ke telapak kaki. Jika infeksi ini berlangsung lama, maka jamur ini juga akan menginfeksi kuku, dimana kuku menjadi kuning, rapuh, tebal dan hancur (Al-Doory, 1980).

5. C. albicans

C. albicans merupakan jamur yang seperti khamir, berbentuk oval, memproduksi blastospora dan pseudomiselium dalam jaringannya, dan tumbuh pada temperatur ruang dan pada suhu 37oC. C. albicans merupakan flora umum yang terdapat dalam tubuh manusia, terutama pada mulut dan saluran intestinal. C. albicans dapat menyebabkan infeksi membran mukosa pada mulut dan vagina, infeksi kulit, infeksi kuku, dan infeksi sistemik (Dubos, 1948).

D. SALEP (unguentum)

Salep adalah gel dengan perubahan bentuk plastis yang ditentukan untuk penerapan pada kulit sehat, sakit atau terluka atau pada selaput lendir (hidung, mata). Salep pada pokoknya berlaku untuk terapi lokal (Voigt, 1994). Ditambahkan pula oleh Jenkins et al. (1957), salep biasanya mengandung obat-obatan yang dipakai di luar tubuh dan memiliki konsistensi yang kuat yang jika dioleskan pada kulit akan melunak dan membentuk lapisan di atas kulit. Proporsi bahan dalam sediaan salep dapat berubah-ubah untuk mempertahankan konsistensi, sedangkan proporsi bahan aktif di dalamnya tidak berubah (Anonim, 1955).

Pemakaian salep adalah untuk daerah topikal yang diperuntukkan sebagai protektan, antiseptik, emolien, antipruritik, keratolitik, dan astringents. Pemilihan dasar salep yang tepat sangat penting untuk efektivitas fungsi yang diinginkan. Untuk salep yang berfungsi sebagai protektan, maka dasar salep harus bersifat melindungi kulit dari kelembaban, udara, sinar matahari, dan

(29)

faktor eksternal lainnya. Salep antiseptik digunakan untuk membunuh atau menghambat pertumbuhan bakteri. Seringkali infeksi oleh bakteri terjadi jauh di dalam lapisan kulit, sehingga dasar salep untuk pembuatan salep antiseptik harus memiliki kemampuan untuk meresap ke dalam kulit dan melepaskan bahan aktif yang berfungsi sebagai obat (Anonim, 2005).

Menurut jenis distribusi bahan obat dalam medium penyangganya, maka salep dibedakan atas salep larutan, salep suspensi, dan salep emulsi. Salep larutan dan salep suspensi berbeda, tergantung pada sifat kelarutan dari bahan obat terlarut atau tersuspensi dalam dasar salep. Salep mengandung air dengan penambahan emulgator secara umum dinyatakan sebagai salep emulsi (Voigt, 1994).

Salep emulsi terdiri atas dua jenis yaitu jenisminyak dalam air (o/w) dan jenis air dalam minyak (w/o). Dasar salep o/w memiliki keuntungan yaitu dapat dicuci dengan air sehingga tidak meninggalkan kesan lengket yang tidak disukai, lebih dapat diterima sebagai dasar sediaan kosmetika, dan umumnya cocok untuk sediaan salep obat (Jenkins et al., 1957). Dasar salep w/o memiliki keuntungan yaitu stabilitas emulsinya yang tinggi (Voigt, 1994).

Salep dibuat dengan dua metode umum, yaitu pencampuran dan peleburan. Dalam metode pencampuran, komponen dari salep dicampur bersama-sama sampai sediaan yang homogen tercapai. Pencampuran dicampur dalam sebuah lumpang dengan sebuah alu untuk menggerus bahan bersama-sama. Dalam metode peleburan, semua atau beberapa komponen dari salep dicampurkan dengan melebur bersama dan didinginkan dengan pengadukan yang konstan sampai mengental. Komponen-komponen yang tidak dicairkan biasanya ditambahkan pada campuran yang sedang mengental setelah didinginkan dan diaduk. Bahan-bahan yang mudah menguap ditambahkan terakhir bila temperatur dari campuran telah cukup rendah tidak menyebabkan penguraian atau penguapan dari komponen. Dalam skala kecil, peleburan dapat dilakukan pada cawan porselen atau gelas piala (Ansel, 1989).

(30)

III. METODOLOGI

A. ALAT DAN BAHAN

Peralatan yang digunakan antara lain pisau, penepung jenis piring yang dilengkapi ayakan 30 mesh, oven, hot plate, labu goyang, penguap-rotasi hampa udara, labu erlenmeyer 500 ml, pH meter, alat-alat gelas untuk analisis, tabung reaksi, cawan petri, pipet mikro, erlenmeyer, inkubator, mikroskop, otoklaf, jarum ose, Haemocytometer Neubauer Improved , dan pipet pasteur.

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah rimpang lengkuas merah kering, berumur panen 11 bulan yang diperoleh dari Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Cibinong Bogor. Bahan-bahan kimia yang digunakan untuk ekstraksi adalah etanol 96%. Media untuk uji mikrobiologi adalah Sabouraud agar, dan bahan kimia lainnya untuk analisis. Jamur yang digunakan dalam pengujian adalah C. albicans dan M. canis yang diperoleh dari Laboratorium Mikrobiologi Departemen Farmasi Universitas Indonesia, serta T. rubrum dan T. mentagrophytes yang diperoleh dari Laboratorium Mikologi Balai Penelitian Veteriner Bogor. Masing-masing jamur uji merupakan penyebab dermatomikosis.

B. METODE PENELITIAN 1. PENELITIAN PENDAHULUAN 1.1. Pengolahan Simplisia Lengkuas

Bubuk lengkuas dibuat dengan menggunakan metode Farrell (1990), yakni metode umum yang digunakan untuk pengolahan rempah-rempah termasuk untuk mendapatkan oleoresin dari rempah-rempah. Sebelum dilakukan ekstraksi, rimpang lengkuas terlebih dahulu diiris-iris dengan menggunakan pisau yang menghasilkan irisan setebal 1,5 mm, kemudian dikeringkan dalam alat pengering (oven blower) selama 12 jam. Selanjutnya rimpang lengkuas digiling halus dengan mesin penggiling yang dilengkapi ayakan berukuran 30 mesh. Bubuk yang dihasilkan disimpan dalam ruang beku. Bubuk lengkuas

(31)

yang dihasilkan dianalisis. Tata cara analisis bubuk lengkuas dapat dilihat pada Lampiran 1. Persyaratan simplisia lengkuas dapat dilihat pada Tabel 5.

Tabel 5. Persyaratan Simplisia Lengkuas

Spesifikasi Simplisia Lengkuas Kadar minyak atsiri Minimal 0,5% v/b

Pemerian Bau aromatik; rasa pedas Kadar abu Maksimal 3,9%

Kadar abu tidak larut dalam asam Maksimal 3,7% Kadar sari yang larut dalam air Minimal 5,2% Kadar sari yang larut dalam etanol Minimal 1,7% Bahan organik asing Maksimal 2%

Penyimpanan Dalam wadah yang tertutup baik Sumber : Depkes RI (1978)

1.2. Ekstraksi

Ekstraksi dilakukan dengan metode maserasi berulang selama dua hari menggunakan pelarut etanol 96%. Secara ringkas, tahapan ekstraksi dapat dilihat pada gambar berikut.

(32)

1.3. Penentuan Jamur Uji Terbaik

Penentuan jamur uji terbaik dilakukan manggunakan metode sumur dengan melihat diameter zona hambatan yang terdapat disekeliling sumur. Pengujian dilakukan terhadap 4 jamur, yaitu C. albicans, T. mentagrophytes, T. rubrum, dan M. canis. Konsentrasi ekstrak lengkuas yang diujikan adalah 5 %.

Biakan masing-masing jamur uji diambil dari agar miring menggunakan jarum ose secara aseptik dan diremajakan dalam media cair. Dalam setiap media terdapat kerapatan spora sebesar 105 cfu/ml. Selanjutnya disiapkan agar Sabouraud di dalam cawan petri dan masing-masing biakan digoreskan di atas agar, lalu dibuat sumur-sumur pada agar yang telah digoreskan biakan jamur uji menggunakan pipet pasteur dengan diameter sumur sebesar 6 mm. Ekstrak yang akan diujikan diisikan ke dalam lubang hingga kedalaman lubang terisi sempurna, kemudian agar yang sudah berisi ekstrak diinkubasi selama 2 hari untuk C. albicans dan 7 hari untuk T. mentagrophytes, T. rubrum, dan M. canis.

Setelah selesai waktu inkubasi, aktivitas antijamur dapat diamati. Aktivitas antijamur diukur dengan mengurangi diameter total zona hambat dengan diameter sumur. Jamur yang terpilih untuk digunakan dalam penelitian utama adalah jamur yang mampu dihambat paling baik yang ditunjukkan oleh tingginya nilai diameter.

1.4. Penentuan Rentang Konsentrasi Hambatan

Rentang konsentrasi hambatan ditentukan dengan mencoba beberapa konsentrasi ekstrak secara coba-coba terhadap daya hambat jamur uji. Penentuan rentang nilai ini dilakukan untuk menentukan batas bawah dan batas atas faktor perlakuan yang dapat memberikan zona hambatan terbaik terhadap jamur uji terpilih. Depkes RI (1989) menyatakan bahwa suatu bahan baru dapat dikatakan memiliki aktivitas antimikroba bila diameter hambatan yang terbentuk adalah lebih dari sama dengan 6 mm. Oleh karena itu, nilai ini menjadi batas bawah dari rentang konsentrasi hambatan, sedangkan batas atas ditentukan berdasarkan zona hambat terbaik pada konsentrasi tertentu yang

(33)

meski konsentrasi tersebut dinaikkan tidak akan memberikan hasil yang berbeda nyata.

2. PENELITIAN UTAMA 2.1. Pembuatan Salep Antijamur

Sediaan salep dibuat berdasarkan komposisi sediaan yang dibuat oleh Himawati dan Erawati (2003) dengan penambahan ekstrak lengkuas sebagai bahan antijamur dalam berbagai variasi konsentrasi yang ditambahkan pada masing-masing sediaan. Salep dibuat dengan metode peleburan. Tahapan pembuatan dapat dilihat pada Gambar 2 dan Gambar 3, sedangkan formulasi salep dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 6. Komposisi Bahan dalam Formulasi Sediaan Salep

Dasar salep air dalam minyak (w/o) Dasar salep minyak dalam air (o/w) Komposisi formula % (b/b) Komposisi formula % (b/b) Malam putih 19,97 Polisorbat 80 5 Parafin cair 59,91 Stearil alkohol 9,98

Na-Boraks 1 Gliserol 9,98 Air suling 18,97 Vaselin 24,96

Nipagin 0,1 Air suling 49,93 Nipasol 0,05 Nipagin 0,1

(34)

Gambar 2. Diagram proses produksi salep minyak dalam air (oil in water (o/w))

(35)

2.2. Pengujian Efektivitas Salep Antijamur Pada Jamur Uji

Pengujian efektivitas salep antijamur dilakukan untuk mengetahui perubahan besarnya daya hambat akibat penambahan ekstrak lengkuas merah pada beberapa taraf konsentrasi dan pada 2 dasar salep yang berbeda. Penentuan efektivitas salep antijamur dilakukan menggunakan metode sumur dengan melihat diameter zona bening yang terdapat disekeliling sumur. Pengujian salep dilakukan terhadap jamur uji terpilih pada beberapa taraf konsentrasi, sesuai dengan hasil penentuan rentang konsentrasi hambatan yang telah ditentukan pada penelitian pendahuluan.

Biakan jamur uji terpilih diambil dari agar miring menggunakan jarum ose secara aseptik dan diremajakan dalam media cair. Dalam setiap media terdapat kerapatan spora sebesar 105 cfu/ml. Selanjutnya disiapkan agar Sabouraud di dalam cawan petri dan masing-masing biakan digoreskan di atas agar. Kemudian, dibuat sumur-sumur pada agar yang telah digoreskan biakan jamur uji menggunakan pipet pasteur dengan diameter lubang sebesar 6 mm. Salep yang akan diujikan kemudian diisikan kedalam lubang hingga kedalaman lubang terisi sempurna. Kemudian agar yang sudah berisi bahan uji diinkubasi dengan kondisi yang sesuai untuk pertumbuhan jamur uji terpilih.

Setelah selesai waktu inkubasi, aktivitas antijamur pada berbagai taraf konsentrasi diamati. Aktivitas antijamur diukur dengan mengurangi diameter total zona hambatan dengan diameter sumur.

2.3 Pengujian Terhadap Sifat Fisik Salep Antijamur

Pengujian terhadap karakteristik fisik salep antijamur dilakukan untuk mengetahui nilai pH dan stabilitas emulsi untuk tiap jenis salep, akibat penambahan ekstrak lengkuas pada beberapa taraf konsentrasi. Salep yang diujikan pada pengukuran sifat fisik sediaan terdiri atas dua jenis dasar salep (A) yaitu, o/w (A1) dan w/o (A2). Pada masing-masing dasar salep ditambahkan ekstrak lengkuas dengan berbagai ragam konsentrasi (B) antara lain 0,3% (B1), 0,5% (B2), 1% (B3), 3% (B4), 5% (B5), 7% (B6), dan 10% (B7). Tata cara pengujian sifat fisik salep dapat dilihat pada Lampiran 2.

(36)

C. Rancangan Percobaan

Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap dengan dua faktor. Model rancangan tersebut adalah :

Yijk = μ + Ai + Bj + ABij + εk (ij)

Yijk = peubah tanggap hasil pengamatan ke-k yang terjadi karena pengaruh bersama taraf ke-i faktor A dan taraf ke-j faktor B. μ = rata-rata yang sebenarnya.

Ai = efek taraf ke-i faktor dasar salep

Bj = efek taraf ke-j faktor konsentrasi ekstrak lengkuas

ABij = efek interaksi antara taraf ke-i faktor A dan taraf ke-j faktor B εk (ij) = efek unit percobaan ke-k dalam kombinasi perlakuan (ij)

(37)

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. PENELITIAN PENDAHULUAN

1. Analisis Mutu Bahan Baku

Lengkuas dikenal kaya akan kandungan bahan kimia. Lengkuas yang biasanya digunakan untuk pengobatan adalah jenis lengkuas merah (Alpinia purpurata K Schum). Hasil penelitian Rahayu (2000) menunjukkan bahwa lengkuas merah memberikan daya antimikroba yang lebih tinggi dibandingkan dengan lengkuas putih untuk semua bakteri yang diuji yaitu rata-rata memberikan nilai KHM 16,9 mg/ml untuk lengkuas merah dibandingkan dengan 20,6 mg/ml untuk lengkuas putih. Dalam farmakologi Cina dan pengobatan tradisional lainnya disebutkan bahwa lengkuas merah memiliki sifat antijamur.

Rimpang lengkuas yang telah diolah ke dalam bentuk simplisia haruslah memiliki mutu yang baik. Untuk mengetahui mutu simplisia maka dilakukan pengujian terhadap beberapa kriteria mutu seperti yang tercantum dalam Depkes RI (1978). Hasil pengujian terhadap mutu simplisia disajikan pada Tabel 7. Tampilan simplisia dapat dilihat pada Gambar 4. Data lengkap hasil analisis mutu bahan baku disajikan pada Lampiran 3.

(38)

Tabel 7. Hasil Analisis Mutu Simplisia Lengkuas Merah (kadar bahan, % bk) Kandungan pada Bahan Bubuk Simplisia

Lengkuas Merah

Baku Mutu berdasarkan Depkes RI (1978) Kadar air % bb 7,69 -

Kadar abu *) 6,17 Maksimal 3,9 Kadar abu tidak larut dalam asam*) 2,88 Maksimal 3,7 Kadar sari larut dalam air *) 33,22 Minimal 5,2 Kadar sari larut dalam etanol *) 25,40 Minimal 1,7 Kadar minyak atsiri 0,66 Minimal 0,5 Keterangan : *) = rataan ulangan

Kadar air yang terkandung dalam rimpang lengkuas segar sangat tinggi. Akibat kadar air yang tinggi ini maka bahan menjadi lebih mudah rusak ketika disimpan karena adanya pertumbuhan mikroba dan aktivitas enzim penyebab kerusakan. Batas kadar air minimal dimana mikroba masih dapat tumbuh adalah 14 – 15% (Fardiaz et al., 1992). Voigt (1994) menambahkan bahwa kandungan air yang terlalu tinggi atau penyimpanan bahan yang terlalu basah dapat menyebabkan suatu perusakan mikrobial dari material tumbuhan. Penurunan kadar air hingga mencapai 7,69% melalui proses pengeringan dapat memperpanjang umur simpan bahan.

Abu secara umum didefinisikan sebagai residu anorganik dari pembakaran bahan-bahan organik. Komponen-komponen yang umum terdapat pada senyawa anorganik alami adalah silikat, kalium, natrium, kalsium, magnesium, mangan, besi, dan lain-lain. Kadar abu merupakan parameter yang menunjukkan banyaknya bahan anorganik yang ada didalam produk (Apriyantono et al., 1989). Abu yang terbakar sempurna adalah abu yang sudah berwarna putih keabuan. Dari hasil analisis diketahui bahwa kadar abu bahan sebesar 6,17% dan lebih tinggi dari baku mutu yaitu maksimal 3,9%. Kadar abu yang tinggi ini dapat disebabkan oleh tingginya kandungan mineral pada lahan tanam ataupun karena proses pemupukan yang baik selama di lahan.

(39)

Pengujian kadar abu tidak larut asam dilakukan untuk melihat adanya kandungan mineral yang tidak larut dalam asam kuat (HCl). Dari hasil pengujian diketahui bahwa kadar abu tidak larut asam bahan sesuai dengan ketentuan baku mutu (maksimal 3,7%), yaitu sebesar 2,88%. Nilai kadar abu tidak larut asam yang relatif kecil dibanding baku mutu dapat disebabkan oleh proses pencucian dengan air pada bahan tersebut sehingga mineral menjadi berkurang. Menurut Voigt (1994), proses pendahuluan seperti pencucian dengan air secara berulang-ulang pada suatu bahan akan menyebabkan terlarutnya kandungan mineral dalam bahan tersebut oleh air pencuci sehingga kandungan mineralnya menjadi berkurang.

Kadar sari yang terlarut dalam air atau alkohol menunjukkan adanya zat berkhasiat yang dapat terlarut dalam pelarut yang digunakan. Semakin tinggi kadar yang dihasilkan berarti semakin tinggi pula kandungan zat berkhasiatnya (Gaman dan Sherrington, 1992). Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kandungan zat berkhasiat, terutama faktor agronomis seperti ketinggian tempat, kelembaban, suhu, dan jenis tanah (Gupta, 1999). Nilai kadar sari larut dalam air bahan yaitu sebesar 33,22% dan telah sesuai dengan baku mutu yang ditetapkan yaitu minimal 5,2%, sedangkan nilai kadar sari larut dalam alkohol bahan yaitu sebesar 25,40% dan juga telah sesuai dengan baku mutu yaitu minimal dengan 1,7%. Nilai kadar sari larut dalam air yang lebih besar menunjukkan bahwa zat-zat berkhasiat yang berada didalam lengkuas dapat larut dengan lebih baik didalam air dibandingkan didalam alkohol. Air sebagai pelarut dapat menarik lendir, amina, vitamin, asam organik, asam anorganik, ataupun bahan pengotor.

Menurut Wills dan Stuart (2001), dalam setiap jenis tanaman, metabolit sekunder biasanya berperan sebagai zat berkhasiat, dan akan berkorelasi positif dengan umur tanaman. Sebagai contoh pada ginseng, kadar saponinnya akan meningkat dengan meningkatnya umur tanaman.

Kadar minyak atsiri bahan yaitu sebesar 0,66% dan telah sesuai baku mutu meski hanya berada sedikit diatas batas yang ditetapkan yaitu lebih dari 0,5%. Rimpang lengkuas seharusnya mengandung lebih kurang 1% minyak atsiri berwarna kuning kehijauan yang terutama terdiri dari metil sinamat

(40)

48%, sineol 20% - 30%, eugenol, kamfer 1%, seskuiterpen, δ-pinen, dan galangin. Nilai kadar minyak atsiri yang rendah ini disebabkan oleh waktu penyulingan yang relatif cepat yaitu 3 jam. Hal ini disebabkan tekstur bahan yang terlalu halus akibat penggilingan sehingga terjadi penggumpalan yang menghambat penetrasi uap. Akibatnya penetrasi uap hanya terjadi di beberapa bagian tumpukan, dan sebagian uap lainnya akan lolos membentuk jalur uap. Selain itu, rendahnya rendemen minyak atsiri karena pada awal penyulingan, uap yang terbentuk akan mengembun, dan membasahi bahan yang akan di suling. Pembasahan ini akan berlangsung terus sampai suhu di setiap bagian bahan sama dengan titik didih air pada tekanan tertentu. Pembasahan yang berkelanjutan mengakibatkan terbentuknya gumpalan, sehingga rendemen minyak yang dihasilkan rendah. Menurut Ketaren (1985), kadar minyak atsiri yang dihasilkan tergantung dari cara pengolahan sebelum disuling, umur dan varietas serta sistem penyulingan yang digunakan.

2. Ekstraksi

Zat antijamur dari lengkuas merah diperoleh dengan proses ekstraksi. Ekstraksi merupakan suatu proses penarikan komponen yang diinginkan dari suatu bahan. Gaya yang bekerja dalam proses ekstraksi adalah akibat dari adanya perbedaan konsentrasi antara larutan di dalam sel dengan cairan ekstraksi di luar sel. Bahan pelarut yang mengalir ke dalam ruang sel akan menyebabkan protoplasma membengkak, dan bahan kandungan sel akan terlarut sesuai dengan kelarutannya (Voigt, 1994).

Proses ekstraksi yang dilakukan adalah dengan maserasi. Maserasi merupakan cara ekstraksi yang paling sederhana karena bahan yang akan diekstrak cukup dilarutkan di dalam pelarut pada perbandingan tertentu. Lamanya maserasi berbeda-beda tergantung pada sifat bahan dan pelarut. Lamanya harus cukup agar pelarut dapat memasuki protoplasma dengan sempurna sehingga mampu melarutkan semua zat yang diinginkan untuk terekstrak. Pada penelitian ini digunakan perbandingan bahan dengan pelarut yaitu 1 : 3, sedangkan lama maserasi adalah satu hari dengan perendaman ulang terhadap residu selama satu hari lagi.

(41)

Keberhasilan proses ekstraksi ditentukan oleh jenis pelarut yang digunakan. Jenis pelarut yang digunakan harus dipilih berdasarkan kemampuan dalam melarutkan zat-zat aktif yang diinginkan tanpa mengikutsertakan unsur-unsur yang tidak diinginkan. Pelarut yang digunakan dalam penelitian adalah etanol 96%. Hal ini karena etanol dapat mengekstrak seluruh bahan aktif yang terkandung dalam lengkuas, terutama yang memiliki sifat antijamur. Winholz et al. (1983) menyatakan bahwa komponen antijamur sebagian besar dapat larut dalam alkohol, seperti galangin, eugenol, kaemferol, dan kuersetin. Voigt ( 1994) juga menyatakan bahwa etanol sangat sering menghasilkan suatu hasil bahan aktif yang optimal, dimana bahan pengotor hanya dalam skala kecil turut dalam cairan pengekstraksi.

Jenis pelarut dan jenis bahan yang diekstrak mempengaruhi warna ekstrak yang dihasilkan tetapi tidak mempengaruhi baunya. Hal ini membuktikan bahwa pelarut uji yang digunakan telah menguap sempurna. Ekstrak yang dihasilkan memiliki warna coklat pekat dengan bau khas lengkuas. Ekstrak yang diperoleh merupakan ekstrak kasar berbentuk pasta. Rendemen ekstrak yang diperoleh adalah sebesar 7,63% dengan kadar air sebesar 70,21%. Rendemen ekstrak menggambarkan besarnya bahan yang dapat ditarik oleh etanol, dimana bahan-bahan tersebut antara lain alkaloid, glikosida, minyak atsiri, asam organik, garam anorganik, lemak dan resin. Tampilan ekstrak yang diperoleh dapat dilihat pada Gambar 5.

Gambar 5. Ekstrak etanol lengkuas merah

(42)

3. Penentuan Jamur Uji Terbaik

Pada penentuan jamur uji terbaik diketahui bahwa M. Canis dan T. mentagrophytes dapat dihambat dengan baik oleh ekstrak lengkuas dengan

konsentrasi 5%. Hal ini didasarkan pada nilai diameter zona hambatan yang dihasilkan, yaitu di atas 6 mm. Namun, konsentrasi ekstrak 5% tidak dapat menghambat dengan baik pertumbuhan C. albicans dan T. rubrum karena nilai diameter zona hambatan di bawah 6 mm. Ekstrak lengkuas dengan konsentrasi 5% belum dapat dikatakan memiliki sifat antijamur untuk C. albicans dan T. rubrum. Nilai diameter zona hambatan ekstrak lengkuas terhadap masing-masing jamur uji dapat dilihat pada Tabel 8. Zona hambatan masing-masing jamur dapat dilihat pada Lampiran 4.

Berdasarkan hasil yang diperoleh maka jamur M. canis dan T. mentagrophytes digunakan dalam penelitian utama. Morfologi T. mentagrophytes dan M. canis dapat dilihat pada Gambar 6 dan Gambar 7.

Tabel 8. Diameter Zona Hambatan pada Konsentrasi Ekstrak Lengkuas 5% Diameter Hambatan (mm) Basis Salep Jamur Uji o/w w/o D1 D2 D3 Rata-rata (mm) D1 D2 D3 Rata-rata (mm) CA 3 3 3 3 ± 0,00 3 3 3 3 ± 0,00 TM 34 35 35 34,67 ± 0,22 33 34 32 33 ± 0,67 TR 3 3 3 3 ± 0,00 3 3 3 3 ± 0,00 MC 39 39 40 39,33 ± 0,22 38 38 38 38 ± 0,00 Keterangan : CA = C. albicans TM = T. mentagrophytes TR = T. rubrum MC = M. canis

(43)

(a)

(b)

Gambar 6. Morfologi koloni (a) dan morfologi mikroskopis (b) T. mentagrophytes

(a)

(b)

Gambar 7. Morfologi koloni (a) dan morfologi mikroskopis (b) M. canis 4. Penentuan Rentang Konsentrasi Hambatan

Rentang nilai konsentrasi hambatan ditentukan dengan mencoba ekstrak dalam berbagai variasi konsentrasi ekstrak lengkuas. Penentuan rentang nilai ini dilakukan untuk menentukan batas bawah dan batas atas faktor perlakuan yang dapat memberikan diameter zona hambatan terbaik terhadap M. canis dan T. mentagrophytes.

Dari hasil pengujian diperoleh bahwa jamur sudah dapat terhambat pada konsentrasi minimal untuk menghambat pertumbuhan T. mentagrophytes dan M. canis adalah 0,5 % dan 0,3%, dan pada konsentrasi 10% dan 5% diperoleh nilai diameter hambatan maksimum untuk T. mentagrophytes dan M. canis. Meskipun konsentrasi dinaikkan lebih tinggi, maka tidak akan

(44)

diperoleh nilai diameter hambatan yang berbeda nyata. Rentang konsentrasi yang dicobakan pada pengujian efektifitas salep antijamur adalah 0,5%, 1%, 3%, 5%, 7%, dan 10% untuk T. mentagrophytes, serta 0,3%, 0,5%, 1%, 3%, dan 5% untuk M. canis.

B. PENELITIAN UTAMA

1. Daya Antijamur

Beberapa faktor yang mempengaruhi efektivitas senyawa antijamur antara lain konsentrasi senyawa antijamur, jenis, umur, jumlah dan latar belakang jamur, suhu, waktu, dan sifat fisik serta kimia. Efektivitas senyawa antijamur dapat diukur dengan melihat kerentanan jamur uji terhadap bahan yang diberikan. Salah satu cara uji untuk mengukur kerentanan tersebut adalah dengan difusi obat. Metode ini dilakukan dengan prinsip menginokulasikan biakan jamur di atas agar padat pada cawan petri, kemudian bahan yang mengandung senyawa antijamur diujikan pada permukaan medium untuk memastikan apakah bahan tersebut dapat mencegah atau mematikan pertumbuhan jamur. Salah satu cara yang paling umum digunakan adalah dengan membuat lubang-lubang di atas agar, yang kedalamnya diisikan bahan dengan konsentrasi yang berbeda-beda (Volk dan Wheeler, 1988).

Hasil pengukuran menunjukkan bahwa untuk kedua jamur uji nilai diameter hambatan cenderung meningkat seiring dengan peningkatan konsentrasi ekstrak lengkuas merah di dalam sediaan salep. Hal ini dikarenakan, semakin tinggi konsentrasi yang diberikan maka kandungan bahan aktif didalamnya juga akan semakin tinggi, sehingga efektivitasnya dalam menghambat pertumbuhan jamur akan semakin baik pula. Nilai rata-rata diameter hambatan T. mentagrophytes dan M. canis serta kecenderungannya untuk meningkat dapat dilihat pada Gambar 8 dan Gambar 9. Data lengkap hasil pengukuran diameter hambatan dapat dilihat pada Lampiran 5.

(45)

0 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50 0.5 1 3 5 7 10 Konsentrasi (% ) Diam e te r Ha m b atan (m m ) o/w w/o

Gambar 8. Grafik pengaruh konsentrasi ekstrak lengkuas dalam dua dasar salep terhadap diameter hambatan T. mentagrophytes

0 5 10 15 20 25 30 35 40 45 0.3 0.5 1 3 5 Konsentrasi (% ) Diam eter Ham b ata n (m m ) o/w w/o

Gambar 9. Grafik pengaruh konsentrasi ekstrak lengkuas dalam dua dasar salep terhadap diameter hambatan M. canis

Berdasarkan hasil analisis ragam yang disajikan pada Lampiran 6, untuk jamur T. mentagrophytes dan M. canis, hanya faktor konsentrasi ekstrak yang memberikan hasil berbeda nyata terhadap nilai diameter hambatan, sedangkan faktor dasar salep memberikan hasil yang tidak nyata. Meskipun dari grafik terlihat bahwa ekstrak dalam dasar salep o/w memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan dalam dasar salep w/o, hasil analisis ragam yang tidak nyata menunjukkan bahwa kedua dasar salep dapat digunakan sebagai pengantar bahan aktif yang baik untuk menekan pertumbuhan kedua jamur uji. Hasil uji lanjut Duncan menunjukkan bahwa pada α = 0,05 seluruh

(46)

taraf konsentrasi memberikan hasil berbeda nyata terhadap nilai diameter hambatan kedua jamur.

Tingkat kerentanan yang berbeda terhadap efektivitas salep antijamur yang diberikan juga ditunjukkan oleh kedua jamur uji. M. canis dikatakan lebih sensitif terhadap bahan aktif di dalam salep antijamur dibandingkan dengan T. mentagrophytes karena memberikan nilai diameter hambat minimal dan sudah terhambat secara maksimal pada konsentrasi yang jauh lebih rendah. Hal ini disimpulkan dengan cara membandingkan nilai diameter hambatan kedua jamur pada taraf konsentrasi yang sama, dan dari perbandingan diperoleh bahwa untuk tiap-tiap taraf konsentrasi dalam tiap dasar salep, M. canis selalu memberikan nilai diameter hambatan yang lebih tinggi dibandingkan dengan T. mentagrophytes.

Menurut Soltys (1963), T. mentagrophytes memiliki dinding spora yang tipis dan fase pertumbuhannya sangat cepat, sedangkan M. canis memiliki dinding spora yang tebal dan fase pertumbuhannya lambat. Horsfall (1956) menyatakan bahwa kecepatan germinasi spora juga berpengaruh terhadap daya antijamur. Griffin (1981) menambahkan bahwa, jamur yang mampu bergerminasi dengan cepat akan lebih sulit dihambat pertumbuhannya oleh zat antijamur dibandingkan dengan jamur yang bergerminasi lambat. M. canis, meskipun memiliki dinding spora yang tebal untuk dapat dimasuki senyawa antijamur namun karena fase germinasi sporanya yang lebih lambat dibandingkan T. mentagrophytes mengakibatkan kecepatan senyawa antijamur lebih dulu berpenetrasi kedalam sel sebelum spora bergerminasi. Hal ini menyebabkan, M. canis dapat terhambat lebih baik dibandingkan dengan T. mentagrophytes. Perbandingan nilai diameter hambatan ini dapat

dilihat pada Gambar 10 dan Gambar 11. Tampilan zona hambatan T. mentagrophytes dan M. canis disajikan pada Lampiran 7.

(47)

0 5 10 15 20 25 30 35 40 45 0 1 2 3 4 5 6 Konsentrasi (%) D iamet er H a mb at an ( mm) TM (o/w) MC (o/w)

Gambar 10. Grafik perbandingan nilai diameter hambatan T. mentagrophytes dan M. canis pada konsentrasi ekstrak 0,5%, 1%, 3% dan 5% dalam dasar salep o/w

0 5 10 15 20 25 30 35 40 45 0 1 2 3 4 5 6 Konsentrasi (% ) D iam e ter H a m b a tan ( m m ) TM (w/o) MC (w/o)

Gambar 11. Grafik perbandingan nilai diameter hambatan T. mentagrophytes dan M. canis pada konsentrasi ekstrak 0,5%, 1%, 3% dan 5% dalam dasar salep w/o

Salep antijamur yang mengandung bahan aktif ekstrak lengkuas didalamnya bekerja dengan menimbulkan ketidakteraturan membran sitoplasma jamur. Menurut Siswandono dan Soekarjo (2000), senyawa antijamur dan asam lemak tidak jenuh, suatu komponen membran jamur, dapat membentuk interaksi hidrofob, mengubah permeabilitas membran dan fungsi pengangkutan senyawa esensial, menyebabkan ketidakseimbangan

(48)

metabolik sehingga menghambat pertumbuhan atau menimbulkan kematian sel jamur.

Senyawa aktif antijamur yang berasal dari lengkuas bersifat polar. Senyawa ini mampu berikatan dengan asam amino dari protein membentuk produk konjugasi yang bersifat hidrofilik (Doerge, 1982). Produk konjugasi yang terbentuk akan menghambat metabolisme sel karena senyawa yang terbentuk mengubah struktur asam amino yang fungsi awalnya adalah untuk metabolisme sel. Rumus bangun bahan aktif antijamur dalam lengkuas merah dapat dilihat pada Gambar 12.

Membran sitoplasma tersusun terutama dari protein dan lemak; karena itu, membran khususnya bersifat rentan terhadap bahan yang dapat menurunkan tegangan permukaan. Kerusakan pada membran ini memungkinkan ion anorganik yang penting, nukleotida, koenzim dan asam amino merembes keluar sel. Selain itu, kerusakan membran juga dapat mencegah masuknya bahan-bahan penting ke dalam sel. Senyawa antijamur di dalam lengkuas mampu menurunkan tegangan permukaan karena memiliki grup lipofil dan hidrofil dalam molekulnya. Menurut Voigt (1994), yang termasuk grup hidrofil antara lain gugus hidroksil, gugus karboksil, gugus karboksil dengan kation bervalensi satu, gugus sulfat, gugus sulfat dengan kation bervalensi satu, gugus sulfonat, gugus sulfonat dengan kation bervalensi satu, gugus amino, gugus amino tersubstitusi, dan ikatan ganda karbon. Grup lipofil antara lain adalah rantai karbon, cincin karbon, dan grup karboksil dengan kation bervalensi dua. Di dalam bahan aktif antijamur dari lengkuas, yang merupakan grup hidrofil adalah gugus hidroksil (-OH), sedangkan cincin karbon merupakan grup lipofil.

(49)

-O OH OH O HO O OH OH OH O O HO OH OH OH OH O

(A) Eugenol (B) Kaempferol

(C) Quercetin (D) Galangin

Gambar 12. Rumus bangun senyawa aktif antijamur dalam lengkuas merah 2. pH Sediaan

Derajat keasaman suatu produk ditunjukkan oleh nilai pH produk tersebut. Kadar keasaman atau pH sediaan topikal harus sesuai dengan pH penerimaan kulit. Kulit manusia mempunyai pH 4,0 – 5,6, sehingga sediaan topikal dengan pH lebih besar atau lebih kecil dari pH kulit ada kemungkinan dapat menyebabkan iritasi (Harry, 1975).

Nilai rata-rata pH salep dengan jenis o/w berada pada kisaran 4,25 -5,45. Nilai ini sesuai dengan pH kulit sehingga cocok digunakan pada kulit. pH salep jenis w/o berada pada kisaran 7,7 – 9,2, nilai ini melebihi pH kulit sehingga bila digunakan produk dapat menyebabkan iritasi pada kulit. Hasil pengukuran pH sediaan disajikan pada Lampiran 8.

Konsentrasi ekstrak lengkuas dan tipe salep berpengaruh nyata terhadap nilai pH produk. Hal ini disebabkan penambahan ekstrak berbanding terbalik dengan penambahan air, yang berakibat pada penurunan nilai pH. Penurunan ini dikarenakan berkurangnya jumlah air yang digunakan dalam pembuatan produk akibat penambahan ekstrak lengkuas yang juga merupakan fase air.

OH

OCH3

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :