PROPOSAL KARYA TULIS ILMIAH
Formulasi Salep Luka Bakar Ekstrak Gambir (Uncaria gambir Roxb)
Oleh : M. Raihan Djibran NIM : P01750222035
PROGRAM STUDI FARMASI PROGRAM DIPLOMA TIGA JURUSAN ANALIS KESEHATAN
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN BENGKULU TAHUN 2024
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Kulit merupakan organ tubuh paling luas yang melapisi seluruh bagian tubuh yang memiliki fungsi membungkus daging dan organ-organ yang berada di dalamnya. terdapat kelenjar minyak atau glandula sebasea. Kelejar tersebut memiliki fungsi menjaga keseimbangan dalam kelembaban kulit, pada masa pubertas berfungsi secara aktif dan menjadi lebih besar (Sifatullah & Zulkarnain, 2021). Sebagai pelindung, kulit sering mengalami kerusakan akibat gangguan bahaya dari luar salah satunya yaitu luka yang dapat dari sumber panas. Luka merupakan suatu kondisi terjadinya kerusakan jaringan tubuh yang melibatkan kerusakan jaringan ikat, otot, kulit, saraf serta robeknya pembuluh darah yang kemudian akan mengganggu homeostasis tubuh (Ayuchecaria et al., 2023).
Salah satu bentuk luka adalah luka bakar. Luka bakar adalah kerusakan kulit dan kehilangan jaringan yang dapat mempengaruhi seluruh sistem tubuh yang disebabkan kontak dengan sumber panas seperti air, bahan kimia, listrik dan radiasi (Ayuchecaria et al., 2023). Luka bakar jika tidak ditangani sesegera mungkin, maka akan menyebabkan berbagai komplikasi seperti infeksi, perdarahan, ketidakseimbangan elektrolit, sampai syok (Handayani et al., 2015)..
Waktu yang diperlukan untuk proses penyembuhan luka dipengaruhi oleh faktor internal dan faktor eksternal seperti adanya kandungan zat-zat anti inflamasi di dalam obat yang diberikan selama perawatan luka bakar.
Pengobatan tradisional berbasis alami sudah digunakan sejak dahulu di berbagai negara (Ilham & Endrinaldi, 2021).
Salah satu tumbuhan yang digunakan masyarakat sebagai obat tradisional adalah tumbuhan gambir (Uncaria gambir Roxb.) yang termasuk famili Rubiaceae. Tumbuhan ini digunakan masyarakat untuk mengobati berbagai penyakit seperti luka terbakar, luka, sariawan, radang gusi (getahnya), radang tenggorokan, diare, disentri, batuk, haid banyak, demam kuning, dan suara parau. Kandungan utama gambir adalah katekin (51%), zat penyamak (20-25%), asam catechutannat, quersetin, catechu merah, gambir fluoresein, abu, asam lemak, lilin, alkaloid, dan tanin. Kandungan kimia gambir yang paling banyak dimanfaatkan adalah katekin dan tanin. Kandungan kimia gambir yang terbesar adalah katekin merupakan bagian dari golongan flavonoid, flavonoid berfungsi sebagai antibakteri dengan cara membentuk senyawa kompleks terhadap protein ekstraseluler yang menganggu integritas membran sel bakteri. Kandungan tanin dalam gambir bekerja baik sebagai antibakteri dan antifungi. Tanin dapat digunakan sebagai adstringen yang menyebabkan penciutan pori-pori kulit, memperkeras kulit, menghentikan pendarahan yang ringan, antiseptik dan obat luka bakar.Alkaloid memiliki kemampuan sebagai antibakteri. Mekanisme yang diduga adalah dengan cara menganggu komponen penyusun peptidoglikan pada sel bakteri, sehingga lapisan dinding sel tidak terbentuk secara utuh dan menyebabkan kematian sel tersebut (Handayani et al., 2015).
Salep adalah sediaan setengah padat yang mudah dioleskan dan digunakan sebagai obat luar, bahan obatnya larut atau terdispersi homogen dalam dasar salep yang cocok. Formulasi sediaan salep yang dapat bersifat oklusif dan meningkatkan hidrasi, mengandung basis yang berlemak atau berminyak dengan pengemulsi air dalam minyak atau minyak dalam air. Keuntungan utama dari pemberian secara topikal adalah obat memperoleh akses langsung kejaringan, dengan setidaknya memberikan efek secara lokal. Sediaan salep memiliki beberapa kelebihan seperti sebagai pelindung untuk mencegah kontak permukaan kulit dengan rangsang kulit, stabil dalam penggunaan dan penyimpanan, mudah dipakai, mudah terdistribusi merata dan sebagai efek proteksi terhadap iritasi mekanik, panas, dan kimia (Davis et al., 2021).
Menurut (Lachman et al.,1994) salep dengan basis lanolin memiliki sifat emolient (pelunak kulit) dan menyimpan lapisan berminyak pada kulit sehingga salep akan melekat lebih lama dalam kulit dan obat akan dapat berpenetrasi ke kulit lebih lama dan lebih banyak.
Berdasarkan uraian diatas maka peneliti tertarik membuat salep luka bakar dari Ekstrak gambir (Uncaria gambir Roxb.) dengan variasi konsentrasi Lanolin (10%), (15% ), dan (20% ).
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang diuraikan diatas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Bagaiman karakteristik sediaan salep dengan perbandingan konsentrasi Lanolin 10%, 15% dan 20% ?”
C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum
Tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk mengetahui formula salep dengan variasi konsentrasi ekstrak gambir yang memiliki karakteristik paling baik.
2. Tujuan Khusus
Tujuan khusus dari penelitian ini adalah :
a) Untuk mengetahui karakteristik sediaan Salep yang mengandung Ekstrak Etanol Gambir (Uncaria gambir Roxb) dengan konsentrasi Lanolin 10%.
b) Untuk mengetahui karakteristik sediaan Salep yang mengandung Ekstrak Etanol Gambir (Uncaria gambir Roxb) dengan konsentrasi Lanolin 15%.
c) Untuk mengetahui karakteristik sediaan Salep yang mengandung Ekstrak Etanol Gambir (Uncaria gambir Roxb) dengan konsentrasi Lanolin 20%.
d) Untuk mengetahui formula yang memiliki karakteristik paling baik pada sediaan Salep Ekstrak Gambir (Uncaria gambir Roxb)
.
D. Manfaat Penelitian 1. Untuk Peneliti
Dengan adanya penelitian ini dapat menambah pengetahuan dan wawasan peneliti mengenai Ekstrak Gambir (Uncaria gambir Roxb) sebagai bahan pembuatan sediaan Salep.
2. Untuk Institusi
Dengan adanya penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi yang bermanfaat dan menjadi pustaka tambahan mengenai formulasi pembuatan sediaan Salep dari ekstrak etanol Gambir (Uncaria gambir Roxb).
3. Untuk Peneliti Lain
Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai salah satu bahan acuan untuk penelitian selanjutnya dalam pembuatan formulasi sediaan Salep dari ekstrak etanol Gambir (Uncaria gambir Roxb).
E.
F. Keaslian Penelitian
Tabel 1.1 Keaslian Penelitian
No Judul Penelitian
Nama Penelitian
Lokasi dan Waktu Penelitian
Jenis Penelitian
Variabel Penelitian
Link (http) 1. Uji Aktivitas
Ekstrak Etanol Gambir (Uncaria gambir Roxb.) Terhadap Penyembuhan Luka Tikus Putih Jantan (Mus musculus)
Fitri Handayani, Eka Siswanto, Lintang Ayu Trisna Pangesti
Laboratorium Akademi Farmasi Samarinda
eksperimen laboratorium.
Variabel bebas dan terikat
25-Article Text-97-1- 10- 20170126 (1).pdf
2. Efek Pemberian Salep Ekstrak Katekin Gambir (Uncaria gambir R.) Terhadap Reepitelisasi dalam Penyembuhan Luka Bakar Derajat II Tikus (Rattus
novergicus) pada Fase
Proliferasi
Nur Muhammad Ilham, Miftah Irrahmah, dan Endrinaldi
Laboratorium Universitas Andalas, Kota Padang
eksperimen laboratorium.
Variabel bebas dan terikat
4399-9044- 1-PB (2).pdf
3. Formulasi Dan Pengujian Sediaan Salep Ekstrak Etanol Daun Kembang Sepatu
(Hibiscus rosa- sinensis L.)
Stevanie Elisabeth Davis, Selvana S.
Tulandi,Olvie S. Datu1, Franky Sangande,
Laboratorium Universitas Kristen Indonesia
Tomohon
eksperimen laboratorium
Variabel bebas dan terikat
407320- formulasi- dan- pengujian- sediaan- salep-ek- 620977bb
Dengan Berbagai Variasi Basis Salep
Douglas N.
Pareta1
(1).pdf
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Daun Gambir (Uncaria gambir Roxb)
1. Klasifikasi Daun Gambir (Uncaria gambir Roxb)
Divisi : Spermatophyta
Subdivisi : Angiospermae
Kelas : Dicotiledon
Bangsa : Rubiales
Suku : Rubiaceae
Marga : Uncaria
Spesies : Uncaria gambir Roxb.
Gambar 2.1 Daun Gambir (Uncaria gambir Roxb)
(sumber:..\Downloads\mengenal-daun-gambir-dari-manfaatnya-dari-para-peneliti- tbl6O8SCiE.jpg)
2. Morfologi daun gambir (Uncaria gambir Roxb)
Indonesia memiliki kekayaan flora terbesar diseluruh wilayah. Tanaman yang hidup di dataran tinggi dan dataran rendah yang memiliki kekhasan tersendiri. Walaupun tidak semua daerah ditumbuhi tanaman yang sama namun masing-masing daerah memiliki kekhasan tersendiri dari berbagai jenis tanaman.
Gambir (Uncaria gambir Roxb) merupakan tumbuhan yang tumbuh di kawasan tropis yang memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Gambir (Uncaria gambir Roxb)
termasuk dalam kerajaan Plantae, divisi Magnoliophyta, kelas Magnoliopsida, ordo Gentianales, family Rubiaceae, genus Uncaria, spesies Uncaria gambir (Marlinda, 2019).
Gambir merupakan tanaman perdu dengan tinggi 1-3 m. Batangnya tegak, bulat, percabangan simpodial, warna cokelat pucat. Daunnya tunggal, berhadapan, berbentuk lonjong, tepi bergerigi, pangkal bulat, ujung meruncing, panjang 8-13 cm, lebar 4-7 cm, dan berwarna hijau. Bunga gambir adalah bunga majemuk, berbentuk lonceng, terletak di ketiak daun, panjang lebih kurang 5 cm, memiliki mahkota sebanyak 5 helai yang berbentuk lonjong, dan berwarna ungu.
Buahnya berbentuk bulat telur, panjang lebih kurang 1,5cm dan berwarna hitam.
Tanaman gambir dapat tumbuh pada ketinggian bervariasi antara 2-500 m dari permukaan laut dan memerlukan cahaya matahari yang banyak dan merata sepanjang tahun (Marlinda, 2019).
Manfaat gambir secara tradisional adalah sebagai pelengkap makan sirih dan obat-obatan, seperti di malaysia gambir digunakan untuk obat luka bakar, disamping rebusan daun muda dan tunasnya digunakan sebagai obat diare dan disentri serta obat kumur-kumur pada sakit kerongkongan (Marlinda, 2019).
3. Kandungan Daun Gambir (Uncaria gambir Roxb)
Tanaman gambir merupakan tanaman perdu, termasuk salah satu di antara yang memiliki nilai ekonomi tinggi, yaitu dari ekstrak (getah) daun dan ranting yang mengandung asam catechu tannat (tanin), cathechin, pyrocatecol, flouresin, lilin, fixed oil. Gambir (Uncaria gambir Roxb) merupakan tumbuhan asli Asia Tenggara yang tersebar di beberapa areal perkebunan terutama pulau
Sumatera yaitu Sumatera Barat, Riau, Sumatera Utara, Kepulauan Riau, Sumatera Selatan dan Aceh (Hera et al., 2020).
B. Kulit
1. Definisi Kulit
Kulit merupakan pembungkus yang elastis yang terletak paling luar yang melindungi tubuh dari pengaruh lingkungan hidup manusia dan merupakan alat tubuh yang terberat dan terluas ukurannya, yaitu kira-kira 15% dari berat tubuh dan luas kulit orang dewasa 1,5 m2. Kulit sangat kompleks, elastis dan sensitif, serta sangat bervariasi pada keadaan iklim, umur, jenis kelamin, ras, dan juga bergantung pada lokasi tubuh serta memiliki variasi mengenai lembut, tipis, dan tebalnya. Rata-rata tebal kulit 1-2 mm. Paling tebal (6 mm) terdapat di telapak tangan dan kaki (Afdal & Candra, 2021).
Kulit terdiri atas 2 lapisan utama yaitu epidermis dan dermis. Epidermis merupakan jaringan epitel yang berasal dari ektoderm, sedangkan dermis berupa jaringan ikat agak padat yang berasal dari mesoderm. Di bawah dermis terdapat selapis jaringan ikat longgar yaitu hipo-dermis, yang pada beberapa tempat terutama terdiri dari jaringan lemak (Kalangi & Bagaian, 2021).
Gambar 2.2 Struktur kulit
(sumber: https://dokterelvira.com/lapisan-kulit/)
a.) Epidermis
Epidermis merupakan lapisan paling luar kulit dan terdiri atas epitel berlapis gepeng dengan lapisan tanduk. Epidermis hanya terdiri dari jaringan epitel, tidak mempunyai pembuluh darah maupun limf oleh karena itu semua nutrien dan oksigen diperoleh dari kapiler pada lapisan dermis. Epitel berlapis gepeng pada epidermis ini tersusun oleh banyak lapis sel yang disebut keratinosit.
Sel-sel ini secara tetap diperbarui melalui mitosis sel-sel dalam lapis basal yang secara berangsur digeser ke permukaan epitel. Selama perjalanan-nya, sel-sel ini berdiferensiasi, membesar, dan mengumpulkan filamen keratin dalam sitoplasmanya. Mendekati permukaan, sel-sel ini mati dan secara tetap dilepaskan (terkelupas). Waktu yang dibutuhkan untuk mencapai permukaan adalah 20 sampai 30 hari. Modifikasi struktur selama perjalanan ini disebut sitomorfosis dari sel-sel epidermis. Bentuknya yang berubah pada tingkat berbeda dalam epitel memungkinkan pembagian dalam
potongan histologik tegak lurus terhadap permukaan kulit (Kalangi & Bagaian, 2021).
b.) Dermis
Dermis terdiri atas stratum papilaris dan stratum retikularis, batas antara kedua lapisan tidak tegas, serat antaranya saling menjalin.
1.Stratum papilaris
Lapisan ini tersusun lebih longgar, ditandai oleh adanya papila dermis yang jumlahnya bervariasi antara 50 – 250/mm2. Jumlahnya terbanyak dan lebih dalam pada daerah di mana tekanan paling besar, Lapisan ini tersusun lebih longgar, ditandai oleh adanya papila dermis yang jumlahnya bervariasi antara 50 – 250/mm2. Jumlahnya terbanyak dan lebih dalam pada daerah di mana tekanan paling besar, seperti pada telapak kaki. Sebagian besar papila mengandung pembuluh-pembuluh kapiler yang memberi nutrisi pada epitel di atasnya. Papila lainnya mengandung badan akhir saraf sensoris yaitu badan Meissner. Tepat di bawah epidermis serat-serat kolagen tersusun rapat (Kalangi & Bagaian, 2021).
2.Stratum retikularis
Lapisan ini lebih tebal dan dalam. Berkas-berkas kolagen kasar dan sejumlah kecil serat elastin membentuk jalinan yang padat ireguler. Pada bagian lebih dalam, jalinan lebih terbuka, rongga-rongga di antaranya terisi jaringan lemak, kelenjar keringat dan sebasea, serta folikel rambut. Serat otot polos juga ditemukan pada tempat-tempat tertentu, seperti folikel rambut,
skrotum, preputium, dan puting payudara. Pada kulit wajah dan leher, serat otot skelet menyusupi jaringan ikat pada dermis (Kalangi & Bagaian, 2021).
c.) Hypodermis
Sebuah lapisan subkutan di bawah retikularis dermis disebut hipodermis. Ia berupa jaringan ikat lebih longgar dengan serat kolagen halus terorientasi terutama sejajar terhadap permukaan kulit, dengan beberapa diantaranya menyatu dengan yang dari dermis. Pada daerah tertentu, seperti punggung tangan, lapis ini meungkinkan gerakan kulit di atas struktur di bawahnya. Di daerah lain, serat-serat yang masuk ke dermis lebih banyak dan kulit relatif sukar digerakkan. Sel-sel lemak lebih banyak daripada dalam dermis. Jumlahnya tergantung jenis kelamin dan keadaan gizinya. Lemak subkutan cenderung mengumpul di daerah tertentu.Tidak ada atau sedikit lemak ditemukan dalam jaringan subkutan kelopak mata atau penis, namun di abdomen, paha, dan bokong, dapat mencapai ketebalan 3 cm atau lebih. Lapisan lemak ini disebut pannikulus adiposus (Kalangi & Bagaian, 2021).
C. Luka Bakar
1. Definisi Luka Bakar
Luka bakar adalah kerusakan atau kehilangan jaringan yang dapat disebabkan oleh panas (api, cairan/lemak panas, uap panas), radiasi, listrik, kimia. Luka bakar merupakan jenis trauma yang merusak dan merubah berbagai sistem tubuh (Anggowarsito, 2014).
2. Derajat Kedalaman Luka Bakar
Kedalaman kerusakan jaringan akibat luka bakar tergantung dari derajat sumber, penyebab, dan lamanya kontak dengan permukaan tubuh. Luka bakar terbagi dalam 3 derajat:
a) Luka bakar derajat I
Kerusakan jaringan terbatas pada lapisan epidermis (superfisial)/epidermal burn. Kulit hiperemik berupa eritema, sedikit edema, tidak dijumpai bula, dan terasa nyeri akibat ujung saraf sensoris teriritasi. Pada hari keempat paska paparan sering dijumpai deskuamasi. Salep antibiotika dan pelembab kulit dapat diberikan dan tidak memerlukan pembalutan.(Anggowarsito, 2014)
b) Luka bakar derajat II
Kerusakan meliputi epidermis dan sebagian dermis berupa reaksi inflamasi disertai proses eksudasi. Pada derajat ini terdapat bula dan terasa nyeri akibat iritasi ujung-ujung saraf sensoris.(Anggowarsito, 2014)
1. Dangkal/superfisial/superficial partial thickness
2. Dalam/deep partial thickness
Pada luka bakar derajat II dangkal/ superficial partial thickness, kerusakan jaringan meliputi epidermis dan lapisan atas dermis. Kulit tampak kemerahan, edema, dan terasa lebih nyeri daripada luka bakar derajat I. luka sangat sensitif dan akan lebih pucat jika kena tekanan. Masih dapat ditemukan folikel rambut, kelenjar keringat, dan kelenjar sebasea. Penyembuhan terjadi secara spontan
dalam 10-14 hari tanpa sikatrik, namun warna kulit sering tidak sama dengan sebelumnya. Perawatan luka dengan pembalutan, salep antibiotika perlu dilakukan tiap hari. Penutup luka sementara (xenograft, allograft atau dengan bahan sintetis) dapat diberikan sebagai pengganti pembalutan.(Anggowarsito, 2014)
Pada luka bakar derajat II dalam/deep partial thickness, kerusakan jaringan terjadi pada hampir seluruh dermis. Bula sering ditemukan dengan dasar luka eritema yang basah. Permukaan luka berbecak merah dan sebagian putih karena variasi vaskularisasi. Luka terasa nyeri, namun tidak sehebat derajat II dangkal.
Folikel rambut, kelenjar keringat, dan kelenjar sebasea tinggal sedikit.
Penyembuhan terjadi lebih lama, sekitar 3-9 minggu dan meninggalkan jaringan parut. Selain pembalutan dapat juga diberikan penutup luka sementara (xenograft, allograft atau dengan bahan sintetis).(Anggowarsito, 2014)
c) Luka bakar derajat III
Kerusakan jaringan permanen yang meliputi seluruh tebal kulit hingga jaringan subkutis, otot, dan tulang. Tidak ada lagi elemen epitel dan tidak dijumpai bula, kulit yang terbakar berwarna keabu-abuan pucat hingga warna hitam kering (nekrotik). Terdapat eskar yang merupakan hasil koagulasi protein epidermis dan dermis. Luka tidak nyeri dan hilang sensasi akibat kerusakan ujung-ujung saraf sensoris. Penyembuhan lebih sulit karena tidak ada epitelisasi spontan. Perlu dilakukan eksisi dini untuk eskar dan tandur kulit untuk luka
bakar derajat II dalam dan luka bakar derajat III. Eksisi awal mempercepat penutupan luka, mencegah infeksi, mempersingkat durasi penyembuhan, mencegah komplikasi sepsis, dan secara kosmetik lebih baik.(Anggowarsito, 2014)
3. Proses Penyembuhan Luka Bakar
Penyembuhan luka bakar terbagi menjadi 3 fase (fase inflamasi, fase poliferasi, fase maturasi). Tindakan yang sering dilakukan pada luka bakar adalah dengan memberikan terapi lokal yang bertujuan terhadap kesembuhan luka bakar secepat mungkin. Banyak orang yang menggunakan obat-obatan yang berasal dari alam atau obat herbal, hal ini disebabkan karena obat alam dapat diperoleh tanpa resep dokter, dapat diramu sendiri, harga relatif murah, dan tanaman obat dapat ditanam sendiri oleh pemakainya(Usman et al., 2024).
D. Simplisia
1. Definisi Simplisia
Dalam buku “Materia Medika Indonesia” ditetapkan definisi bahwa simplisia adalah bahan alamiah yang dipergunakan sebagai obat yang belum mengalami pengalaman apapun juga dan kecuali dikatakan lain, berupa bahan yang telah dikeringkan (Depkes RI, 2000).
Parameter standarisasi simplisia yang ditetapkan yaitu parameter non spesifik, spesifik dan uji kandungan kimia. Parameter non spesifik meliputi kadar air, kadar abu total, kadar abu tidak larut asam, susut pengeringan dan bobot jenis.
Parameter spesifik meliputi organoleptik, kadar sari larut air, dan kadar sari larut etanol (Sumiwi et al., 2013).
2. Jenis-jenis Simplisia a) Simplisia Nabati
Simplisia nabati dapat berupa tanaman utuh, bagian dari tanaman (akar, batang, daun dan sebagainya) atau eksudat tanaman, yaitu isi sel yang secara spontan dikeluarkan dari tanaman atau dengan cara tertentu dikeluarkan dari sel atau zat-zat lain dengan cara tertentu dipisahkan dari tanaman (Agoes, 2020).
b) Simplisia Hewani
Simplisia hewani yaitu simplisia yang dapat berupa hewan utuh, bagian dari hewan, atau zat berguna yang dihasilkan hewan, tetapi bukan berupa zat kimia murni (Agoes, 2020).
c) Simplisia Pelikan atau Mineral
Simplisia pelikan yaitu atau mineral yaitu simplisia berupa bahan pelikan atau mineral belum diolah atau telah diolah secara sederhana, akan tetapi belum/bukan berupa zat kimia murni (Agoes, 2020).
E. Ekstraksi
1. Definisi Ekstraksi
Definsi umum ekstraksi yaitu proses pemisahan dari suatu zat dengan menambahkan pelarut tertentu untuk mengeluarkan suatu komponen zat baik zat padat maupun zat cair. Dalam hal ini, fraksi padat bersifat larut dalam pelarut (solvent), sedangkan fraksi padat bersifat tidak larut Komponen pemindahan dari zat padat ke pelarut disebut solute sedangkan padatan yang tidak terlarut disebut
inert. Proses tersebut akan menjadi sempurna jika solute dipisahkan pelarutnya melalui cara destilasi atau penguapan (Rezki et al., 2015).
Ekstraksi dapat dilakukan dengan satu tahap ataupun beberapa tahap. Faktor- faktor yang mempengaruhi kerja ekstraksi adalah ukuran partikel, temperature ekstraksi atau suhu ekstraksi, jumlah pelarut, dan waktu ekstraksi (Rezki et al., 2015).
2. Macam-Macam Metode Ekstraksi
a) Maserasi adalah salah satu proses penyaringan sederhana dengan melakukan peredaman sampel dalam cairan penyari. Hal ini mengakibatkan zat aktif akan larut karena adanya perbedaan konsetrasi antara zat aktif dengan cairan pelarut. Proses peredaman ini dilakukan berulang hingga mendapat sampel yang diinginkan (Wicaksana and Rachman, 2018).
b) Perkolasi adalah salah satu metode ekstraksi dingin sehingga tidak merusak senyawa yang terdapat didalamnya. Metode ini diharapkan dapat memperoleh ekstrak yang sempurna akibat kesetimbangan waktu yang berlangsung cukup lama akibat dari penambahan cairan penyari secara terus menerus untuk menghindari sampel terjadi kejenuhan (Andhiarto et al., 2021).
c) Soxhletasi adalah jenis ekstraksi dengan menggunakan sampel dan pelarut yang ditempatkan secara terpisah. Metode ini dilakukan dengan pemanasan pelarut. Prinsip dari metode ini adalah ekstraksi dilakukan secara terus menerus dengan menggunakan pelarut yang sedikit. Jika proses ekstraksi telah selesai maka pelarut dapat diuapkan dan diperoleh ekstrak dari proses
tersebut. Dalam hal ini, pelarut yang digunakan adalah pelarut yang mudah menguap dan memiliki titik didih yang rendah (Firyanto et al., 2020).
d) Infusa adalah proses ekstraksi dengan menggunakan pelarut air pada temperatur penangas air dengan suhu 90°C selama 15 menit (Hasrianti et al., 2016).
e) Dekok adalah proses ekstraksi dengan pelarut air pada temperatur suhu 90°C selama 30 menit (Hasrianti et al., 2016).
F. Salep
1. Pengertian Salep
Salep merupakan sediaan setengah padat yang ditujukan untuk pemakaian topikal pada kulit atau selaput lendir. Salep sendiri memiliki kelebihan sebagai pelindung untuk mencegah kontak permukaan kulit yang luka dengan udara, stabil dalam penggunaan, penyimpanan, dan mudah dalam penggunaannya (Mutiarawati et al., 2022).
2. Jenis-jenis Salep
a) Povidone iodine (Betadine)
Salep povidone iodine memiliki sifat antiseptik dan antimikroba yang berfungsi untuk menghambat perkembangan bakteri sehingga risiko infeksi pada luka dapat ditekan.
b) Cadexomer iodine (Iodosorb)
Cadexomer iodine termasuk zat antiseptik yang umum digunakan dalam perawatan luka. Salep ini umumnya memiliki kadar iodine lebih rendah, yaitu sekitar 4%, dibandingkan povidone iodine dengan kadar iodine 10%.
c) Bacitracin
Bacitracin adalah salah satu salep antibiotik yang dijual bebas. Salep ini bisa digunakan untuk luka bakar ringan, luka lecet, dan luka sayat.
Sedikit berbeda dengan salep antiseptik, salep antibiotik tidak hanya menghambat perkembangan bakteri tetapi juga menghentikannya.
d) Silver sulfadiazine
Silver sulfadiazine juga digunakan untuk salep luka, khususnya luka bakar tingkat sedang dan berat. Zat ini termasuk obat antibiotik dan berfungsi untuk menghentikan pertumbuhan bakteri yang dapat menyebabkan infeksi.
G. Monografi Bahan
1. Lanolin (Adeps Lanae)
Lanolin (Adeps lanae) merupakan zat serupa lemak yang telah dimurnikan dan diperoleh dari bulu domba (Ovis aries Linne). Lanolin mengandung air tidak lebih dari 0,25% dan kelarutannya tidak larut dalam air; agak sukar larut dalam etanol (95%); mudah larut dalam kloroform P dan eter P (DepKes RI, 1979).
2. Vaselin Album
Vaselinum album atau vaselin putih merupakan campuran hidrokarbon setengah padat yang telah diputihkan diperoleh dari minyak mineral.
Pemerianvaselinum album masa seperti lemak, putih atau kekuningan, pucat, massa berminyak transparan dalam lapisan tipis setelah didinginkan pada suhu 0 Vaselinum album mempunyai kelarutan praktis tidak larut dalam air, dalam etanol 95%, namun larut dalam kloroform dan eter (Depkes, 2014).
3. Aquadest
Aquades adalah air mineral yang telah diproses dengan cara destilasi (disuling) sehingga diperoleh air murni (H2O) yang bebas mineral. Kalau ditinjau dari namanya, aquades terdiri dari dua kata yaitu (aqua dan destila).
Aqua artinya air, destila artinya penyulingan. Jadi air ini adalah air mineral hasil penyulingan. Adapun cara untuk mendapatkan aquades menggunakan metode destilasi (disuling) dengan cara ini menunjukan proses pemisahan suatu campuran kimia menjadi komponen-komponen penyusunnya dengan cara dipanaskan hingga mencapai titik didihnya, kemudian uapnya didinginkan hingga menjadi zat cair kembali. Aquades memiliki 3 macam aquades, yaitu : Aquadest (Aqua Destilata),Aquabidest (Aqua Bidestilata),Aquademin (Aqua Demineralisata).(Moeksin and Ronald 2009).
BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratorium yang bertujuan untuk mengembangkan dan menguji efektivitas sediaan salep luka bakar yang diformulasikan dari ekstrak gambir (Uncaria gambir Roxb).
B. Variabel Penelitian
Variabel dalam penelitian ini adalah variabel bebas (independent) dan variabel terikat (dependent). Jenis variabel ini digunakan dalam menganalisis hubungan antara variabel, yaitu variabel terikat (Y) dipengaruhi oleh variabel bebas (X).
Variabel Bebas (X) Variabel Terikat (Y)
Gambar 3.1 Hubungan Variabel Independen dan Variabel Dependen
C. Definisi Operasional
Tabel 3.1 Definisi Operasional
Variabel Jenis
Variabel Definisi
Operasional Satuan Hasil Ukur Alat EkstrakGambir
(Uncaria gambir Roxb).
Independent Ekstrak yang diperoleh dari daun dan ranting tanaman gambir (Uncaria gambir Roxb.) melalui metode maserasi menggunakan pelarut etanol 70%.
Gram (g) Berat ekstrak yang digunakan dalam formulasi salep.
Timbangan analitik
Salep Luka Bakar
Independent Sediaan semi- padat berbasis lanolin yang dioleskan pada kulit untuk mempercepat penyembuhan luka bakar.
Gram (g) Berat total salep yang
diaplikasikan pada luka.
Spatula, wadah pencampur
Konsentrasi Basis Lanolin
Independent Persentase lanolin dalam formulasi salep, dengan variasi konsentrasi 10%,15%,20%.
Persen (%) Konsentrasi lanolin dalam formulasi salep.
Pipet ukur, gelas ukur
Efektivitas Penyembuhan Luka
Dependent Diukur dengan mengamati persentase penyembuhan luka bakar pada model kulit sintetis atau jaringan kulit yang dihasilkan secara in vitro.
Persen (%) Persentase penyembuhan luka dari luas luka awal.
Kamera digital, perangkat lunak analisis gambar
Persentase Penyembuhan Luka
Dependent Pengurangan luas luka yang diukur setiap hari selama 14 hari,
dinyatakan dalam
persentase dari
Persen (%) Persentase pengurangan luas luka setiap hari.
Kaliper, kamera digital
luas luka awal.
D. Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian akan dilaksanakan selama 6 bulan dimulai dari bulan November 2024 sampai bulan April 2025 di Laboratorium Terpadu Poltekkes Kemenkes Bengkulu Jalan Indragiri Padang Harapan No.3 Kecamatan Gading Cempaka Kota Bengkulu.
E. Tahapan Pelaksanaan Penelitian 1. Tahap Pra Analitik
a.) Pengurusan Perizinan
Pada penelitian ini pengurusan perizinan dilakukan secara mandiri oleh mahasiswa. Ada beberapa tahap yang perlu dilakukan. Pertama, dengan cara mengajukan surat Pra Penelitian kepada Kepala Laboratorium Universitas Bengkulu untuk dilakukan determinasi pada sampel dan mengajukan surat Pra Penelitian kepada Kepala Laboratorium Poltekkes Kemenkes Bengkulu dengan cara: mahasiswa harus mendaftar secara online di situs resmi Poltekkes Kemenkes Bengkulu. Setelah selesai menginput data mengenai penelitian maka mahasiswa dapat langsung dating ke bagian Administrasi Akademik (ADAK) Poltekkes Kemenkes Bengkulu untuk mencetak surat pra penelitian. Setelah dicetak, surat pra penelitian dapat diambil dan digunakan sebagaimana semestinya.
b.) Alat dan Bahan 1) Alat
Alat yang digunakan Timbangan analitik, spatula, wadah pencampur pipet ukur, gelas ukur, kamera digital, perangkat lunak analisis gambar, kaliper, penggaris, perlak/alas, beaker glass, hotplate, oven, kertas saring, kertas PH, ayakan, gunting, lumpang dan alu, tempat salep, toples kaca, dan pipet tetes dan kulit sintetis.
2) Bahan
Ekstrak gambir vaselin album, lanolin, etanol 70%, alkohol 70%, Salep Betadine, aquadest, eter.
2. Tahap Analitik a.) Penyiapan Simplisia
Tahap pertama adalah determinasi tanaman. Selanjutnya pengumpulan sampel Daun Gambir (Uncaria gambir Roxb) Sampel Daun Gambir dikumpulkan dan dibersihkan dari pengotor dengan cara dicuci dengan air mengalir. Setelah bersih daun ditiriskan, lalu dikeringkan dengan cara kering angin. Setelah sampel daun Bandotan kering, lakukan sortasi kering dengan cara memisahkan benda-benda asing seperti kerikil, tanah, atau kotoran-kotoran lain dari bahan-bahan.
Kemudian, sampel yang telah kering dirajang. Hasilnya dimasukkan ke dalam wadah gelas tertutup (Hartini & Wulandari, 2016).
DAFTAR PUSTAKA
afdal, M., & Candra, R. (2021). Sistem Pakar Berbasis Android Untuk Diagnosa Awal Penyakit Kulit Dermatofitosis. Jurnal Ilmiah Rekayasa Dan Manajemen Sistem Informasi, 7(1), 103. Https://Doi.Org/10.24014/Rmsi.V7i1.11999
Anggowarsito, J. L. (2014). Luka Bakar Sudut Pandang Dermatologi. Jurnal Widya Medika, 2(2), 115–120.
Ayuchecaria, N., Gunawan, Y. E., Oksal, E., & Citrariana, S. (2023). Formulasi Dan Uji Efektivitas Sediaan Gel Ekstrak Daun Bajakah Kalalawit (Uncaria Gambir Roxb.) Terhadap Proses Penyembuhan Luka Bakar Pada Mencit Putih. Jurnal
Insan Farmasi Indonesia, 6(2), 251–262.
Https://Doi.Org/10.36387/Jifi.V6i2.1635
Agoes, G. (2020). Teknologi Bahan Alam (Serial Farmasi Industri-2).
Davis, S. E., Tulandi, S. S., Datu, O. S., Sangande, F., & Pareta, D. N. (2021).
Formulasi Dan Pengujian Sediaan Salep Ekstrak Etanol Daun Kembang Sepatu (Hibiscus Rosa-Sinensis L.) Dengan Berbagai Variasi Basis Salep.
Biofarmasetikal Tropis, 4(2), 66–73.
Https://Doi.Org/10.55724/J.Biofar.Trop.V4i2.362
Handayani, F., Siswanto, E., & Ayu Trisna Pangesti Akademi Farmasi Samarinda, L.
(2015). Uji Aktivitas Ekstrak Etanol Gambir (Uncaria Gambir Roxb.) Terhadap Penyembuhan Luka Tikus Putih Jantan (Mus Musculus). Jurnal Ilmiah Manuntung, 1(2), 133–139.
Hera, N., Aprelia, R., & Aminuddin, A. T. (2020). Eksplorasi Dan Karakteristik Morfologi Tanaman Gambirliar (Uncaria Gambir Roxb.) Pada Lahan Gambut Dataran Rendah Dikota Pekanbaru. Menara Ilmu, Xiv(02), 68–72.
Ilham, N. M., & Endrinaldi, D. (2021). Archives Pharmacia Efek Pemberian Salep Ekstrak Katekin Gambir (Uncaria Gambir R.) Terhadap Reepitelisasi Dalam Penyembuhan Luka Bakar Derajat Ii Tikus (Rattus Novergicus) Pada Fase Proliferasi The Effect Of Cathecin Gambir (Uncaria Gambir R.) Extract Oin.
Archives Pharmacia, 3, 58.
Marlinda. (2019). Identifikasi Kadar Katekin Pada Gambir (Uncaria Gambier Roxb).
Jurnal Optimalisasi, 4(1), 47–53.
Sifatullah, N., & Zulkarnain. (2021). Jerawat (Acne Vulgaris): Review Penyakit Infeksi Pada Kulit. Prosiding Biologi Achieving The Sustainable Development Goals , November, 19–23. Http://Journal.Uin-Alauddin.Ac.Id/Index.Php/Psb Usman, Y., Hasma, H., & Panaungi, A. N. (2024). Uji Aktivitas Salep Ekstrak Etanol
Daun Ubi Jalar Ungu (Ipomoea Batatas L.) Untuk Luka Bakar Pada Kelinci.
Jurnal Mipa, 13(2), 99–104. Https://Doi.Org/10.35799/Jm.V13i2.56352
Hartini, Y. S., & Wulandari, E. T. (2016). Buku Panduan Praktikum Farmakologi Fitokimia. Jurnal Laboratorium Farmakognosi-Fitokimia Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma, 0–22.
Kalangi, S. J. R., & Bagaian. (2021). Histofisiologi Kulit. Jurnal Biomedik (Jbm), 5(3), 12–20. Https://Doi.Org/10.35790/Jbm.5.3.2013.4344