• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERBANDINGAN AKURASI CAPITAL ASSET PRICING MODEL (CAPM) DAN ARBITRAGE PRICING THEORY (APT) SEBAGAI ALAT PREDIKSI RETURN EKSPEKTASI DAN RISIKO SAHAM

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PERBANDINGAN AKURASI CAPITAL ASSET PRICING MODEL (CAPM) DAN ARBITRAGE PRICING THEORY (APT) SEBAGAI ALAT PREDIKSI RETURN EKSPEKTASI DAN RISIKO SAHAM"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

PERBANDINGAN AKURASI CAPITAL ASSET PRICING MODEL (CAPM) DAN ARBITRAGE PRICING THEORY (APT) SEBAGAI ALAT PREDIKSI RETURN EKSPEKTASI DAN RISIKO SAHAM

Oleh :

Cornelius Agus Prasetyo 1), A. Yusuf Imam Suja’i 2), Budi Wahono 3) 1) Alumni FE Unisma; 2) Dosen tetap FE Unisma; 3) Dosen tetap FE Unisma

Prodi Manajemen, Fakultas Ekonomi, Universitas Islam Malang ABSTRACT

Investment in securities especially stocks, closely related to the future that always in uncertainty. Because its factor of uncertainty so the decision of investors to invest funds in securities is based on the expected return and risk of securities to be purchased. In predicting the expected return and risk of securities can be used several models as predictors of return expectations and risk stock. The models include: the Capital Asset Pricing Model (CAPM) and the Arbitrage Pricing Theory (APT).

This study aimed to analyze and prove the difference in the accuracy of Capital Asset Pricing Model (CAPM) and the Arbitrage Pricing Theory (APT) as predictors of return expectations and risk stock. Samples in this study are stocks that included in the list of "50 Most Active Stocks Based on Frequency Trading" which listed on Indonesia Stock Exchange Period 2005 - 2014. The accuracy of the model in this study was measured by using Mean Absolute Deviation (MAD). The research proves that the CAPM and APT can be used as predictors of return expectations and risk stocks, and there are differences in the accuracy of Capital Asset Pricing Model (CAPM) and the Arbitrage Pricing Theory (APT) as predictors of return expectations and risk stock (MAD CAPM - MAD APT <0).

Keywords: Investments, CAPM, APT, Return, Risk, MAD PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah

Secara umum, investasi diartikan sebagai kegiatan mengorbankan sejumlah dana saat ini untuk kegiatan lain di masa datang dengan harapan mendapatkan pengembalian yang lebih baik di masa yang akan datang. Pengertian tersebut, menunjukkan adanya dua unsur dalam investasi, yaitu waktu dan risiko. Pengorbanan terjadi saat ini mengandung unsur kepastian sedang pengorbanan untuk masa yang akan datang mengandung ketidak pastian atau mengandung risiko.

Investasi dalam sekuritas khususnya saham, berkaitan erat dengan keadaan masa depan yang selalu dalam ketidak pastian. Setiap pemodal dalam melakukan investasi selalu dihadapkan pada trade off antara return dan risiko (risk and return). Setiap keputusan pemodal yang rasional akan melakukan pilihan investasi yang memberikan return tertentu dengan menanggung risiko serendah mungkin atau suatu pilihan investasi pada risiko tertentu yang menghasilkan return setinggi mungkin. Dengan adanya unsur ketidak pastian di masa yang akan datang maka keputusan investor untuk menginvestasikan dananya dalam bentuk surat-surat berharga didasarkan pada return ekspektasi dan risiko sekuritas yang akan dibeli.

Untuk memprediksi return ekspektasi dan risiko dari sekuritas, dapat digunakan beberapa model sebagai alat prediksi return ekspektasi dan risiko saham. Model tersebut antara lain adalah: Capital Asset Pricing Model (CAPM) yang dikembangkan oleh Sharpe (1964), Lintner (1965), dan Mossin (1966) dan Arbitrage Pricing Theory (APT) yang dikenalkan oleh Ross (1976).

Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah, maka rumusan masalah penelitian ini adalah: Apakah terdapat perbedaan akurasi Capital Asset Pricing Model (CAPM) dan Arbitrage Pricing

(2)

Theory (APT) sebagai alat prediksi return ekspektasi dan risiko saham? Tujuan Penelitian

Sesuai permasalahan yang telah dirumuskan, maka tujuan penelitian ini adalah: Untuk menganalisis dan membuktikan perbedaan akurasi Capital Asset Pricing Model (CAPM) dan Arbitrage Pricing Theory (APT) sebagai alat prediksi return ekspektasi dan risiko saham. Kontribusi Penelitian

a. Penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan pengembangan dan tambahan ilmu pengetahuan yang lebih luas mengenai akurasi Capital Asset Pricing Model (CAPM) dan Arbitrage Pricing Theory (APT) sebagai alat prediksi return ekspektasi dan risiko saham. Serta dapat menjadi bahan referensi bagi penelitian sejenis atau penelitian lanjutan sebagai informasi pelengkap dalam penyusunan penelitian selanjutnya

b. Penelitian ini dapat di aplikasikan sebagai bahan masukan dan bahan pertimbangan bagi investor dan calon investor dalam memilih alat prediksi return ekspektasi dan risiko saham untuk melakukan pengambilan keputusan investasi

c. Penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan masukan dan informasi bagi pengembangan alat prediksi return ekspektasi dan risiko saham selanjutnya, dan diharapkan mampu memberikan manfaat positif dalam bidang akademik ataupun bidang praktisi, serta bagi pihak - pihak lain yang membutuhkan

KERANGKA TEORITIS DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS Penelitian Terdahulu

Penelitian yang dilakukan oleh Sudja’i (2001) yang berjudul “Faktor-Faktor Makro Ekonomi Yang Berpengaruh Pada Return Saham di Bursa Efek Jakarta (kajian model Arbitrage Pricing Theory dengan faktor surprise sebagai penjelas return saham)”. Simpulan hasil penelitian ini adalah dengan metode forward stepwise regression memperlihatkan bahwa surprise inflasi, surprise suku bunga deposito, surprise suku bunga SBI, surprise pertumbuhan jumlah uang beredar, dan surprise rasio penjualan/pembelian saham oleh pemodal asing, secara simultan berpengaruh sangat nyata pada return saham baik untuk APT estimasi pada kelompok saham keseluruhan, kelompok saham dalam kondisi pasar Bullish, maupun APT estimasi pada kelompok saham dalam kondisi pasar Bearish.

Pada penelitian Premananto dan Madyan (2004), dengan judul ”Perbandingan Keakuratan Capital Asset Pricing Model Dan Arbitrage Pricing Theory Dalam Memprediksi Tingkat Pendapatan Saham Industri Manufaktur Sebelum Dan Semasa Krisis Ekonomi”. Beberapa kesimpulan yang dapat diambil dalam penelitian ini adalah: Terdapat perbedaan yang signifikan antara keakuratan model CAPM dengan model APT dalam memprediksi pendapatan saham industri manufaktur sebelum dan semasa krisis ekonomi, dimana model CAPM lebih akurat dibandingkan model APT.

Pada penelitian yang dilakukan Widianita (2009) dengan judul “Analisis Perbandingan Keakuratan Capital Asset Pricing Model (CAPM) Dan Arbitrage Pricing Theory (APT) Dalam Memprediksi Return Saham LQ-45 di Bursa Efek Indonesia”, menyatakan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara keakuratan Capital Asset Pricing Model (CAPM) Dan Arbitrage Pricing Theory (APT) dalam memprediksi return saham LQ-45. Dalam penelitian ini keakuratan suatu model diukur dengan menggunakan Mean Absolut Deviation (MAD), model yang mempunyai MAD yang lebih kecil berarti lebih akurat dibandingkan model yang mempunyai MAD yang lebih besar. Berdasarkan hasil perhitungan, dapat disimpulkan bahwa CAPM lebih akurat dibandingkan dengan APT, karena hasil Mean Absolut Deviation (MAD) dan Standar deviasi model CAPM lebih kecil dibandingkan model APT.

(3)

Saham, Return Ekspektasi dan Risiko

Secara sederhana saham dapat didefinisikan sebagai tanda penyerta atau tanda kepemilikan seseorang atau badan usaha dalam perusahaan. Saham adalah tanda bukti berupa surat berharga sebagai pernyataan ikut memiliki modal suatu perusahaan. Menurut Surat Keputusan Menteri Keuangan RI No. 1548/KMK 013/1990, saham adalah penyertaan modal dalam pemilikan Perseroan Terbatas. Pada umumnya, saham dapat dibedakan menjadi dua, yaitu: saham biasa (common stocks) dan saham preferen (prefered stocks).

Return saham dan / atau portfolio adalah tingkat pengembalian atas sejumlah dana yang diinvestasikan ke dalam saham dan / atau portfolio. Dalam buku Jogiyanto (2003:109) ”Return merupakan hasil yang diperoleh dari investasi. Return dapat berupa return realisasi yang sudah terjadi atau return ekspektasi yang belum terjadi tetapi yang diharapkan akan terjadi di masa mendatang”. Menurut Tandelilin (2001:47) “risiko investasi bisa diartikan sebagai kemungkinan terjadinya perbedaan antara return aktual dengan return yang diharapkan”.

Menurut Sunariyah (2000:180) dalam konteks portofolio pasar, harus dipahami adanya risiko investasi yang terdiri dari 2 (dua) komponen yaitu:

1. Risiko tidak sistematik (unsystematic risk)

Risiko tidak sistematik merupakan risiko yang terkait dengan suatu saham tertentu yang umumnya dapat dihindari (avoidable) atau diperkecil melalui diversifikasi (diversifiable).

2. Risiko sistematik (systematic risk)

Risiko sistematik merupakan risiko pasar yang bersifat umum dan berlaku bagi semua saham dalam pasar modal yang bersangkutan. Risiko ini tidak mungkin dapat dihindari oleh investor melalui diversifikasi sekalipun.

Capital Asset Pricing Model (CAPM) Dan Arbitrage Pricing Theory (APT)

Sejak Capital Asset Pricing Model (CAPM), di perkenalkan oleh Lintner (1961), Sharpe (1964) dan Mossin (1996), model ini telah mendominasi berbagai studi empiris di bidang pasar modal. Dalam penelitian empiris dengan menggunakan CAPM, Indeks Pasar yang diasumsikan efisien di gunakan sebagai proksi portofolio pasar. Kesimpulan utama dari CAPM yang di kembangkan oleh Lintner, Sharpe dan Mossin adalah adanya hubungan linier yang positif antara expected return saham dan covarian asset dengan return portfolio pasar (beta pasar).

Walaupun CAPM telah berkembang dan digunakan oleh banyak kalangan akademisi maupun praktisi dalam tiga dasawarsa terakhir ini, namun kemampuan CAPM sebagai model dalam menjelaskan perubahan return saham masih diragukan. Berkenaan dengan hal ini maka Ross (1976), memperkenalkan suatu alternatif model penentuan harga aset yang dinamakan Arbitrage Pricing Theory (APT).

Model APT pada dasarnya menggunakan konsep hukum satu harga (the law of one price) yang menyatakan bahwa dua kesempatan investasi yang mempunyai karakteristik yang identik sama, tidaklah dapat dijual dengan harga yang berbeda. Apabila aktiva yang berkarakteristik sama tersebut terjual dengan harga yang berbeda, maka akan terdapat kesempatan untuk melakukan arbitrage dengan membeli aktiva yang berharga murah dan pada saat yang sama menjualnya pada harga yang lebih tinggi sehingga memperoleh laba tanpa risiko (Husnan, 2001:197).

METODE PENELITIAN Populasi dan Sampel

Populasi pada penelitian ini adalah seluruh saham yang listed di Bursa Efek Indonesia (BEI). Sampel pada penelitian ini adalah saham yang masuk dalam daftar “50 Saham Paling Aktif Berdasarkan Frekuensi Perdagangan” yang tercatat di Bursa Efek Indonesia. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan purposive sampling, dengan kriteria:

(4)

1. Tercatat (listed) di Bursa Efek Indonesia (BEI) dari Januari 2005 sampai dengan Desember 2014.

2. Aktif di perdagangkan di Bursa Efek Indonesia dari Januari 2005 sampai dengan Desember 2014.

3. Masuk dalam daftar “50 Saham Paling Aktif Berdasarkan Frekuensi Perdagangan” Periode 2005 – 2014 menurut Fact Book BEI.

Metode Pengumpulan Data

Pengumpulan data penelitian dilaksanakan dengan cara mengutip berbagai dokumen instansi/lembaga yang berkompeten (dokumentasi).

Operasional Variabel

Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah: 1. Capital Asset Pricing Model (CAPM)

Persamaan CAPM murni dinyatakan dalam bentuk Garis Pasar Modal (Capital Market Line = CML), yaitu suatu garis lurus yang menggambarkan hubungan antara expected return dengan standar deviasi portfolio (proksi risiko). CML merupakan tempat kedudukan himpunan portfolio efisien (efficient set) yang terbentuk oleh sekuritas bebas risiko dan sekuritas beresiko serta berasosiasi dengan portfolio pasar. CAPM selanjutnya dikembangkan untuk menjelaskan return saham individual di luar portfolio pasar dalam suatu garis pasar sekuritas (Security Market Line = SML). Jadi SML merupakan garis yang menggambarkan hubungan return sekuritas individual dengan kovarian sekuritas dan portfolio pasar.

2. Arbitrage Pricing Theory (APT)

Menurut Tandelilin (2001:106) “APT didasari oleh pandangan bahwa return yang diharapkan untuk suatu sekuritas akan dipengaruhi oleh beberapa faktor risiko”. Faktor-faktor risiko tersebut akan menunjukkan kondisi ekonomi secara umum, dan bukan merupakan karakteristik khusus perusahaan. Pada penelitian ini, faktor makroekonomi yang digunakan dalam pengujian APT adalah : Inflasi, Suku Bunga SBI, dan Kurs Rupiah/USD.

3. Return Saham (Ri)

Return Saham i adalah Return Saham biasa dari perusahaan i. Dalam penelitian ini return saham merupakan return saham dari sampel perusahaan LQ45 yang dihitung secara bulanan.

4. Return Pasar (Rm)

Return Pasar adalah perubahan IHSG pada 2 periode yang berurutan. 5. Return Bebas Risiko(Rf)

Return Bebas Risiko yang digunakan dalam penelitian ini adalah Obligasi Negara Republik Indonesia Seri FR0045.

6. Inflasi

Data inflasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah inflasi data bulanan yang diperoleh dari situs www.bi.go.id .

7. BI rate

Data BI rate yang digunakan dalam penelitian ini adalah data BI rate bulanan yang diperoleh dari situs www.bi.go.id .

8. Kurs Rupiah/USD

Kurs Rupiah/USD yang digunakan dalam penelitian ini adalah kurs rupiah/USD rata-rata bulanan yang diperoleh dari situs www.bi.go.id .

(5)

Model Penelitian

Metode Analisis Data

Untuk mengestimasi masing – masing model dilakukan pengujian empiris pada model CAPM dan model APT dengan 2 langkah, yaitu: langkah pertama dengan mengestimasi beta masing-masing saham berdasarkan data time series. Dan langkah kedua dengan melakukan cross section regression rata-rata return saham terhadap beta.

Metode yang digunakan untuk menganalisis akurasi suatu model dan agar model tersebut dapat dipergunakan sebagai alat prediksi return ekspektasi dan risiko saham adalah : 1. Uji Signifikansi

2. Best Linear Unbiased Estimation (BLUE) 3. Koefisien Determinasi (R2)

4. Mean Absolute Deviation (MAD) HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Hasil Perbandingan Model CAPM dan Model APT

Uraian CAPM APT Hasil

1. Uji

Signifikansi

Hasil analisis regresi cross-section

diperoleh nilai t

hitung = -3.557

dengan tingkat

signifikansi 0.001

Hasil analisis regresi cross-section dengan menggunakan Metode Stepwise Regression diperoleh nilai t hitung = 13.199 dengan tingkat signifikansi 0.00

Model APT lebih

signifikan dibanding Model CAPM 2. Best Linear Unbiased Estimator (BLUE)

Asumsi regresi linier klasik telah dipenuhi pada model ini

Asumsi regresi linier klasik telah dipenuhi pada model ini

Model CAPM dan

Model APT merupakan penaksir tak bias linier terbaik (BLUE)

(6)

Uraian CAPM APT Hasil 3. Koefisien Determinasi (R2) Hasil output SPSS diperoleh nilai R square = 0.143 (14.3%) Hasil output SPSS diperoleh nilai R square = 0.26 (26%)

Beta Model APT lebih

baik dalam menjelaskan Average Return Saham dibanding Model CAPM 4. Mean Absolute Deviation (MAD) Berdasarkan hasil perhitungan, saham yang memiliki nilai

MAD terendah

adalah BNII dan

saham yang memiliki nilai MAD tertinggi adalah IIKP

Berdasarkan hasil perhitungan, saham yang memiliki nilai

MAD terendah

adalah ARTI dan

saham yang memiliki nilai MAD tertinggi adalah SIPD

Pada beberapa saham tertentu MAD CAPM lebih baik dibanding MAD APT dan pada

beberapa saham

lainnya MAD APT yang lebih baik dibanding MAD CAPM

Sumber Data: Data Diolah

Syarat Membandingkan Masing – Masing Model Prediksi 1. Uji Signifikansi

Berdasarkan hasil uji, tingkat signifikansi model CAPM sebesar 0.001 dan tingkat signifikansi model APT sebesar 0.00 sehingga CAPM dan APT dapat dipergunakan sebagai alat prediksi return ekspektasi dan risiko saham. Semakin kecil nilai probabilitas suatu model maka semakin besar tingkat kepercayaan untuk model tersebut. Jadi pada penelitian ini model APT dengan variabel bebas Beta BI Rate dan Beta Perubahan Kurs lebih signifikan dibandingkan model CAPM.

2. Best Linear Unbiased Estimator (BLUE)

Pada penelitian ini, model CAPM dan model APT merupakan penaksir tak bias linier terbaik (BLUE). Asumsi regresi linier klasik telah dipenuhi pada kedua model ini. Model CAPM dan Model APT tidak terjadi heterokedastisitas dan tidak ada multikolinieritas. Uji normalitas pada kedua model ini juga menunjukkan bahwa data berdistribusi normal. Pengukuran Akurasi Masing – Masing Model Prediksi

1. Analisis Koefisien Determinasi (R2)

Berdasarkan hasil uji, diperoleh nilai R square = 0.143 (14.3%) untuk model CAPM dan Untuk model APT diperoleh nilai R square = 0.260 (26%). Semakin tinggi R square maka semakin baik bagi model regresi karena variabel bebas dapat menjelaskan variabel terikat lebih besar. Hasil Analisis Koefisien Determinasi kedua model menunjukkan bahwa model APT lebih baik dalam menjelaskan variabel terikat dibandingkan model CAPM. 2. Mean Absolute Deviation (MAD)

Dalam penelitian ini keakuratan suatu model diukur dengan menggunakan Mean Absolute Deviation (MAD), model yang mempunyai MAD yang lebih kecil berarti lebih akurat dibandingkan model yang mempunyai MAD yang lebih besar.

MAD = 𝛴|𝑅𝑖−𝐸(𝑅𝑖)|𝑛

Berikut ini adalah data diolah untuk hasil perhitungan MAD model CAPM dan model APT:

(7)

Data MAD Model CAPM dan Model APT

Kode MAD CAPM MAD APT Kode MAD CAPM MAD APT

BMRI 0.147115434 0.818540595 BBNI 0.061503693 1.42719494 INKP 0.208114659 1.212220867 JIHD 0.153725039 3.113077635 TLKM 0.903820423 0.177745322 PNBN 0.131306936 1.031152459 BUMI 2.258173363 3.078055148 TKIM 1.147753152 3.43013436 BBRI 0.041837363 0.051174493 INTP 0.660162261 0.554908308 ASII 0.35822767 1.124301789 CMNP 0.476336727 0.437129205 INDF 0.647870265 0.254202968 BDMN 0.969286394 1.671078207 UNTR 0.758560079 0.817858449 BNII 0.00858192 0.100978636 ISAT 1.31910309 1.578697495 MTDL 1.047457334 0.198117508 PGAS 0.709471712 3.371366575 SPMA 0.791222557 1.335041211 PTBA 1.089891471 2.534135342 SSIA 0.818210218 0.948605829 CTRA 0.53173179 1.417127971 SCMA 1.386009908 1.102469341 TMPI 3.310376862 2.993965995 MDLN 0.037450454 2.818842639 TINS 0.271906055 0.398744877 PNLF 0.278533906 1.949367784 ELTY 1.87469204 2.213956737 DILD 1.574916818 0.128343509 CNKO 4.037770487 10.32296491 SMRA 0.167800429 2.258197235 UNSP 2.275639856 1.302340311 ARTI 1.007263422 0.001195024 ENRG 1.448774556 5.437118801 SULI 1.195404808 2.529727962 BHIT 1.472917273 0.910933433 PJAA 0.134761495 0.74419062 KLBF 0.821952991 0.678948836 GGRM 0.396720567 2.083094279 RICY 0.79900756 0.518220856 BCIC 0.778696241 1.838836383 MYRX 3.235207767 2.136017034 BTEK 3.841012329 3.294930806 BNGA 0.625696986 0.803139315 LPPS 2.242337922 1.419911914 BBCA 0.260881002 0.219096833 BUDI 0.96685311 0.230749763 GJTL 0.232339175 2.769430425 IIKP 6.701735208 7.800446705 ADHI 0.58597069 2.328489868 HEXA 0.8056713 1.377480538 SMCB 0.057673563 0.988712747 PLAS 0.317933846 0.09154372 MEDC 0.338352215 0.51763042 TIRT 1.357681851 2.627314981 TBLA 0.350729567 0.576599806 PYFA 0.139994779 0.866576306 SIPD 6.526611377 14.06535592 BAYU 1.422000097 1.718254711 POLY 6.695550195 7.745394808 INTA 0.519433923 1.5727564 MITI 6.697138779 4.626728966 APIC 13.37943317 5.914762105 AALI 0.996896812 3.195052679 IGAR 0.789185223 1.833347028 BRPT 0.013412373 1.065931902 LPCK 3.388370414 1.750317962 LSIP 0.396544111 2.377591088 UNVR 1.130511019 0.57227985 KIJA 0.13671224 1.728419176 INPC 0.956022392 1.923802799 DOID 2.567709291 3.925224993 LPLI 1.036580213 1.98323146 SUGI 1.157234974 3.16873111 PTRO 0.342694115 1.517342722 ADMG 0.568814175 3.056905301 LMPI 2.055708637 0.921317885

(8)

Masing – masing saham memiliki nilai MAD yang berbeda untuk setiap model nya. Pada beberapa saham tertentu MAD CAPM lebih baik dibanding MAD APT dan pada beberapa saham lainnya MAD APT yang lebih baik dibanding MAD CAPM. Oleh karena itu untuk mengetahui keakuratan suatu model dan model mana yang lebih baik dipergunakan sebagai alat prediksi dapat dilihat berdasarkan nilai MAD masing-masing saham yang akan dipilih.

Uji Hipotesis

Setelah diketahui nilai MAD untuk kedua model maka selanjutnya dilakukan uji hipotesis dengan Uji Independent Sample T Test. Rumusan hipotesis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

Ho : ( MAD CAPM – MAD APT = 0 )

Hi : ( MAD CAPM – MAD APT < 0 )

Berdasarkan hasil uji, diperoleh nilai probabilitas sebesar 0.048 (0.048 < 0.05) sehingga dapat disimpulkan bahwa Ho ditolak atau Hi diterima. Hal ini membuktikan bahwa terdapat perbedaan akurasi Capital Asset Pricing Model (CAPM) dan Arbitrage Pricing Theory (APT) sebagai alat prediksi return ekspektasi dan risiko saham.

MAD CAPM – MAD APT < 0 atau nilai t uji kurang dari nol menjelaskan bahwa dengan menggunakan keseluruhan sampel pada penelitian ini, CAPM lebih akurat dibandingkan APT sebagai alat prediksi return ekspektasi dan risiko saham.

SIMPULAN DAN SARAN Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian perbandingan akurasi CAPM dan APT sebagai alat prediksi return ekspektasi dan risiko saham maka dapat disimpulkan:

1. Pengujian empiris pada model CAPM dan APT dilakukan dengan 2 langkah, yaitu: langkah pertama dengan mengestimasi beta masing-masing saham berdasarkan data time series. Dan langkah kedua dengan melakukan cross section regression rata-rata return saham terhadap beta.

2. Model CAPM dan Model APT dapat dipergunakan sebagai alat prediksi return ekspektasi dan risiko saham, serta merupakan model penaksir tak bias linier terbaik (BLUE).

3. Pada beberapa saham tertentu MAD CAPM lebih baik dibanding MAD APT dan pada beberapa saham lainnya MAD APT yang lebih baik dibanding MAD CAPM.

4. Terdapat perbedaan akurasi Capital Asset Pricing Model (CAPM) dan Arbitrage Pricing Theory (APT) sebagai alat prediksi return ekspektasi dan risiko saham (MAD CAPM – MAD APT < 0).

5. Berdasarkan Uji Independent Sample T Test dengan menggunakan keseluruhan sampel pada penelitian ini menjelaskan bahwa model CAPM lebih akurat dibanding model APT sebagai alat prediksi return ekspektasi dan risiko saham.

Saran

Saran dalam penelitian ini untuk penelitian – penelitian berikutnya antara lain:

1. Penelitian selanjutnya diharapkan dapat melakukan pengujian empiris CAPM dengan menggunakan asumsi yang dapat mewakili persoalan-persoalan yang sesungguhnya terjadi di dunia nyata. Misalkan dengan menggunakan model CAPM Multifaktor.

2. Penelitian selanjutnya diharapkan dapat menambah faktor-faktor yang mempengaruhi return saham untuk model APT.

3. Penelitian selanjutnya diharapkan dapat menganalisis, membuktikan, menemukan dan mengetahui tingkat akurasi model lain yang dapat digunakan sebagai alat prediksi return ekspektasi dan risiko saham.

(9)

DAFTAR PUSTAKA

Bodie, Zwi ; Alex Kane & Alan Marcus. 1989. “Investment”. Boston: Richard D. Irwin, Inc.

Fauziyah, Roifatul. 2012. “Aplikasi Capital asset Pricing Model (CAPM) Untuk Menentukan Pilihan Investasi Portofolio di Bursa Efek Indonesia (BEI)”. e-JRM Vol 1 No. 01..

Gujarati, Damodar N. 1998. “Basic Econometrics”. 2nd Ed. New York: McGraw-Hill, Inc.

Gujarati, Damodar N. 2003. “Basic Econometrics”. Fourth Edition. New York: McGraw-Hill, Inc. Husnan, Suad. 1998. “Pengujian CAPM di BEJ periode 1994-1997”. Jurnal Ekonomi dan Bisnis

Indonesia. Vol 13, No.4.

Husnan, Suad. 2001. “Dasar-Dasar Teori Portofolio Dan Analisis Sekuritas”. Edisi Ketiga. Yogyakarta: UUP AMP YKPN.

Jogiyanto. 2003. “Teori Portofolio Dan Analisis Investasi”. Edisi Ketiga. Yogyakarta: BPFE.

Maulidah dan Irwan Gunawan. 2004. “Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Tingkat Pengembalian Saham Berdasarkan Arbitrage Pricing Theory (Studi Pada Industri Perbankan yang menetapkan Dual Banking System yang Terdaftar di Bursa Efek Jakarta)”. Jurnal Ilmiah Bidang Manajemen & Akuntansi Vol.1 No. 1. Maret 2004: 79-95.

Musdalifah. 2009. “Analisis Capital Asset Pricing Model dan Arbitrage Pricing Theory dalam memprediksi return saham industri manufaktur yang tecatat di Bursa Efek Indonesia”. Tesis. Dipublikasikan. Program Pascasarjana Universitas Hasanuddin Makassar.

Parrel, CP ; G.C. Caldito & G.G. De Guzman. 1973. “Sampling Design Procedures”. Philippine: The Philippine Social Science Council.

Premanato, Gancar Candra dan Muhammad Madyan. 2004. “Perbandingan Keakuratan Capital Asset Pricing Model Dan Arbitrage Pricing Theory Dalam Memprediksi Tingkat Pendapatan Saham Industri Manufaktur Sebelum Dan Semasa Krisis Ekonomi”. Jurnal Penelitian Dinamika Sosial Vol. 5 No. 2. Agustus 2004: 125-139.

Ross, Stephen. A ; Randolph W. Westerfield & Jeffrey Jaffe, 1996. “Corporate Finance”. 4th Edition. Chicago: Richard D. Irwin, Inc.

Sharpe, William F. ; Gordon J. Alexander & Jeffery V. Bailey. 1995. “Investment”. 5th Edition. New Jersey: Simon & Schuster, Prentice-Hall, Inc.

Sharpe, Alexander and Jeffery V. Bailey. 1999. “Investasi (Edisi Bahasa Indonesia)”. Jakarta: Prenhallindo.

Suartini, Ni Kadek Ayu dan I Made Mertha. 2012. yang berjudul “Perbandingan CAPM dengan APT dalam memprediksi Return Saham”. Jurnal. Fakultas Ekonomi Universitas Udayana Bali.

Sudja’i, Yusuf Imam. 2001. “Faktor-Faktor Makro Ekonomi Yang Berpengaruh Pada Return Saham di Bursa Efek Jakarta (kajian model Arbitrage Pricing Theory dengan faktor surprise sebagai penjelas return saham)”. Disertasi. Dipublikasikan. Universitas Airlangga Surabaya.

Suja’i, Yusuf Imam. 2013. “Teori dan Investasi Portofolio”. Modul. Malang: Fakultas Ekonomi UNISMA.

Sunariyah. 1997. “Pengantar Pasar Modal”. Yogyakarta: UUP AMPYKPN.

Sunariyah. 2000. “Pengantar Pengetahuan Pasar Modal”. Edisi Kedua. Yogyakarta: UUP AMP YKPN.

Tandelilin, Eduardus. 2001. “Analisis Investasi Dan Manajemen Portofolio” Edisi Pertama. Yogyakarta: BPFE.

(10)

Widianita, Sulistiarini. 2009. “Analisis Perbandingan Keakuratan Capital Asset Pricing Model (CAPM) Dan Arbitrage Pricing Theory (APT) Dalam Memprediksi Return Saham LQ-45 di Bursa Efek Indonesia”.. Fakultas Ekonomi dan Ilmu Sosial Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besarnya return dan risiko menggunakan metode CAPM dan APT, untuk menganalisis keakuratan Capital Asset Pricing Model dengan

Sebuah skripsi yang diajukan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana pada Fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. © Ogi Jayaprana 2014

Setelah melakukan analisis dan pembahasan terhadap masalah yang terjadi, yaitu Capital Asset Pricing Model dalam memprediksi return saham pada indeks kompas 100 yang

Model CAPM merupakan suatu revolusi baru dalam ekonomi keuangan yang dapat menjelaskan dan menentukan apa itu ‘risiko’ dalam suatu pasar modal dan menetapkan suatu risiko

Sedangkan menggunakan Capital Asset Pricing Model menghasilkan 12 saham yang membentuk portofolio efisien sebagai berikut: Adaro Energy Tbk (ADRO), Astra Internasional

Penggunaan Capital Asset Pricing Model (CAPM) dalam penelitian ini dengan alasan bahwa metode CAPM dapat menjelaskan dan memberikan prediksi yang tepat mengenai hubungan

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Capital Asset Pricing Model CAPM yaitu untuk melihat return dan risiko yang relevan, serta untuk mencari estimasi tingkat

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui Analisis Capital Asset Pricing Model CAPM Sebagai Dasar Pengambilan Keputusan Investasi Saham Pada Perusahaan Sektor Perbankan Yang