• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA, KERANGKA TEORI, DAN KONSTRUK ANALISIS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II TINJAUAN PUSTAKA, KERANGKA TEORI, DAN KONSTRUK ANALISIS"

Copied!
98
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA, KERANGKA TEORI,

DAN KONSTRUK ANALISIS

2.1 Tinjauan Pustaka 2.1.1 Kajian Tematisasi

Kajian tentang Tema atau struktur Tema sudah dimulai sejak abad ke-19. Pada waktu itu pakar linguistik Weil (1818-1909) mengkaji titik awal sebuah ujaran yang diikuti dengan urutan pernyataan pesan yang mengikuti klausa dalam wacana. Pelopor dalam kajian tema yang terkenal adalah Vilem Mathesius (1882-1945) pakar linguistik aliran Praha. Kajian Mathesius dikenal sebagai kajian struktural tentang topik dan fokus yang maksudnya sama dengan Tema dan Rema. Tema merupakan topik yang dibicarakan dan rema adalah fokus penjelasan tentang Tema. (Sinar, 2009).

Brown dan Yule (1983:133-134) juga mengungkapkan tentang tematisasi dalam linieritas pengorganisasian teks. Ia mengatakan “Thematization and Staging” dengan pernyataan sebagai berikut, “...thematization as a discoursal rather than simply a sentential process. What the speaker or writer puts first will influence the interpretation of everything that follows.”

Berdasarkan kutipan di atas dinyatakan bahwa tematisasi sebagai wacana lebih dari sekedar proses kalimat. Apa yang pembicara dan penulis letakkan pertama kali akan mempengaruhi interpretasi berikutnya. Sementara itu mengenai “Staging”, ia

(2)

(which refers only to the linear organization of texts) is ‘Staging”. (Brown dan Yule, 1983:134). “Staging” merupakan istilah yang lebih umum dan inklusif daripada tematisasi (yang merujuk hanya pada susunan linear teks).

Dalam penelitian ini, tematisasi yang dikaji adalah Tema dengan menggunakan teori Systemic Functional Linguistics yang diajukan oleh Halliday. Halliday (1994:38) mendefinisikan Tema sebagai berikut.

The Theme is one element in a particular structural configuration which, taken as a whole, organized the clause as a message; this is the configuration of Theme + Rheme. A message consists of a Theme combined with a Rheme. Within that configuration, the Theme is the starting-point for the message; it is the ground from which the clause is taking off.

(Tema adalah satu unsur di dalam konfigurasi struktural tertentu yang secara keseluruhan mengorganisir klausa sebagai pesan; Ini adalah konfigurasi Tema + Rema. Sebuah pesan terdiri atas sebuah Tema yang dikombinasikan dengan Rema. Di dalam konfigurasi ini, Tema sebagai titik awal keberangkatan pesan tersebut; Itu adalah dasar berlepasnya sebuah klausa)

Kajian tematisasi ini muncul dari adanya pemahaman bahwa bahasa berfungsi untuk menyampaikan pesan. Pesan ini disampaikan secara bersistem. Hal ini menunjukkan bahwa bahasa mempunyai aturan agar dapat menyampaikan pesan dengan susunan yang baik dan teratur. Fungsi bahasa ini disebut fungsi tekstual di mana Tema merupakan titik awal dari satu pesan (the starting point of the message) yang terealisasi dalam klausa.

Di dalam bahasa Inggris dan Indonesia, Tema ditandai dengan posisi di awal klausa atau unsur paling depan dari klausa. Tema dinyatakan dengan unsur pertama klausa sedangkan unsur klausa sesudah Tema disebut Rema (Saragih, 2007:8).

(3)

Figura 2.1: Posisi Tema dan Rema dalam Teks Theme:

Point of departure of clause as a message; local context of clause as a piece of text

Initial position in the clause

Rheme:

Non-Theme – where the presentation moves after the point of departure, what is presented in the local context set up by theme

Position following initial position

Tema dari segi bentuknya dapat berupa partisipan, proses ataupun sirkumstan berbentuk kata, frasa, maupun kalimat. Jika hanya ada satu unsur dalam klausa yang berpotensi menjadi Tema maka unsur tersebut disebut Tema sederhana dan dilabeli dengan nama “Tema”. Sebaliknya, jika di dalam sebuah klausa terdapat lebih dari satu unsur yang berpotensi menjadi Tema, maka dikatakan Tema tersebut sebagai Tema kompleks.

Menurut Saragih (2006:112-114), Tema kompleks dibagi atas tiga jenis yaitu (1) Tema Tekstual, (2) Tema Antarpersona dan (3) Tema Topikal. Tema Topikal adalah unsur pertama representasi pengalaman. Ini berarti bahwa Tema Topikal dapat berupa proses, partisipan, atau sirkumstan. Jika di dalam satu klausa hanya terdapat satu Tema atau Tema sederhana maka Tema itu cukup diberi label Tema bukan Tema Topikal.

Selanjutnya, Saragih (2007:47) menjelaskan Tema dapat diidentifikasi berdasarkan kompleksitasnya dan kebermarkahannya. Kompleksitas terdiri dari Tunggal (single) dan Majemuk (multiple). Kebermarkahan terdiri dari Bermarkah

(4)

Figura 2.2: Klasifikasi Tema Berdasarkan Komplesitas dan Kebermarkahannya Kompleksitas Tunggal Majemuk Tunggal – Bermarkah Majemuk – Bermarkah Kebermarkahan: Bermarkah

Tidak Bermarkah Tunggal tidak Bermarkah

Majemuk – tidak Bermarkah

2.1.2 Kajian Translasi dan Penerjemah

Proses pengalihan pesan teks bahasa sumber dipengaruhi oleh budaya penerjemah, yang tercermin dari cara seseorang dalam memahami, memandang, dan mengungkapkan pesan itu melalui bahasa yang digunakan. Pengalihan pesan dalam proses penerjemahan selalu ditandai oleh perbedaan budaya bahasa sumber dan bahasa sasaran. Perbedaan ini secara langsung akan menempatkan penerjemah pada posisi yang dilematis. Di satu sisi penerjemah harus mengalihkan pesan teks bahasa sumber ke dalam bahasa sasaran secara akurat. Di sisi lain dan dalam banyak kasus penerjemah harus menemukan padanan yang tidak mungkin ada dalam bahasa sasaran.

Pada hakekatnya, teori translasi sudah menyediakan pedoman untuk mengatasi masalah-masalah penerjemah. Namun, sebagai pedoman umum, teori translasi tidak selalu dapat diterapkan untuk memecahkan persoalan letak terjemahan yang timbul dalam peristiwa komunikasi interlingual tertentu. Bahkan, suatu padanan untuk suatu ungkapan dalam bahasa sumber yang sudah lazim digunakan, diterima dan dianggap

(5)

benar oleh pembaca teks bahasa sasaran, apabila dianalisis secara mendalam, bukan merupakan padanan yang benar.

Pada hakikatnya kajian translasi menitikberatkan proses menerjemahkan berarti mengalihkan pesan yang terdapat dalam bahasa sumber ke dalam bahasa sasaran sedemikian rupa sehingga orang yang membaca atau mendengar pesan itu dalam bahasa sasaran kesannya sama dengan orang yang membaca pesan itu dalam bahasa sumber (Nida, 1976). Sebelumnya, Nida (1964) juga menyatakan bahwa translasi yang sempurna adalah yang bisa menciptakan efek sebagaimana teks aslinya. Ahli lainnya (Catford,1974) menyatakan penerjemahan adalah pemindahan materi teks bahasa sumber yang berekuivalen dengan materi teks pada bahasa sasaran. Mohanty dalam Dollerup dan Lindegaard, (1994) menyatakan bahwa penerjemahan bukan hanya aktivitas bilingual tetapi juga pada saat yang bersamaan adalah aktivitas bi-kultural. Pernyataan ini mengandung perngertian bahwa penerjemahan bukan hanya menerjemahkan bahasa tetapi sekaligus transfer budaya.

Al Zouby dan Al Asnawi (2001) mendefinisikan pergeseran (shift) sebagai tindakan wajib yang disebabkan oleh adanya perbedaan struktur dua bahasa yang terlibat dalam penerjemahan dan tindakan opsional yang ditentukan oleh preferensi personal dan stilistik yang dilakukan secara sadar untuk menghasilkan translasi yang alamiah dan komunikatif dari bahasa sumber ke dalam bahasa sasraran. Mereka membedakan pergeeran ke dalam dua jenis yakni pergeseran mikro (micro shift) dan pergeseran makro (macro shift). Pergeseran mikro bisa berwujud pergeseran vertikal yang mengarah ke atas jika unit bahasa sumber disubtitusi dengan unit yang lebih

(6)

tinggi ‘rank’nya atau mengarah ke bawah jika unit bahasa sumber disubtitusi dengan unit yang lebih rendah ‘rank’nya, sedangkan pergeseran horizontal adalah jika padanan dalam bahasa sumber berada pada ‘rank’ yang sama dengan bahasa sasaran. Pergeseran makro melibatkan semua variabel tekstur, budaya, gaya dan retorik yang memungkinkan terjadinya pergeseran pada tataran selain tataran sintaksis. Zellermeyer (1987) menjelaskan bahwa pergeseran (shift) dalam penerjemahan sebagai ‘metamessages’. Pergeseran dapat terjadi karena adanya penambahan (addition), penghilangan (delition), substitusi (substitution) dan penyusunan kembali (reordering).

Penerjemahan teks selalu terkait erat dengan masalah budaya. Pemahaman budaya agar dapat menerjemahkan teks sangat diperlukan. Masyarakat mempunyai budaya yang berbeda sehingga diperlukan pemahaman budaya masyakarat tersebut sehingga teks dapat diterjemahkan sesuai dengan makna yang terdapat dalam bahasa sumber. Penerjemah merupakan proses pengalihan pesan teks bahasa sumber ke dalam bahasa sasaran. Tujuan praktis dari proses pengalihan pesan itu adalah untuk membantu pembaca teks bahasa sasaran dalam memahami pesan yang dimaksudkan oleh penuli asli teks bahasa sumber. Tugas pengalihan ini menempatkan penerjemah pada posisi yang sangat penting dalam menyebarluaskan ilmu pengetahuan dan teknologi. Apabila ilmu pnegetahuan dan teknologi dipahami sebagai bagian dari budaya, secara tidak langsung penerjemah turut serta dalam proses alih budaya.

Ada terjemahan yang sudah secara setia menyampaikan pesan teks bahasa sumber ke dalam bahasa sasaran, tetapi bahasa yang digunakan tidak bisa dipahami

(7)

oleh pembaca dengan baik. Ada pula terjemahan yang tampak “cantik” dan wajar, tetapi pesannya menyimpang jauh dari pesan teks aslinya. Jika kasus seperti ini sering terjadi, tujuan praktis penerjemahan tidak tercapai dengan baik. Terjemahan yang demikian dianggap telah menghianati tidak hanya penulis teks asli tetapi juga pembaca teks terjemahan (Damono, 2003).

Terjemahan merupakan alat komunikasi. Sebagai alat komunikasi, terjemahan mempunyai tujuan komunikatif, dan tujuan komunikatif itu ditetapkan oleh penulis teks bahasa sumber, penerjeman sebagai mediator, dan pembaca teks bahasa sasaran. Penetapan tujuan itu sangat dipengaruhi oleh konteks sosial dan budaya serta ideologi penulis teks bahasa sumber, penerjemah, pembaca teks bahasa sasaran (Nababan, 2004).

Apa yang dimaksud dengan budaya? Dalam ruang lingkup Studi Penerjemahan, budaya mempunyai pengertian yang sangat luas dan menyangkut semua aspek kehidupan manusia yang dipengaruhi oleh aspek sosial (Snell-Hornby, 1995). Konsep budaya ini didefinisikan oleh Gohring (1977), dan Newmark (1988) sebagai berikut.

As I see it, a society’s culture consists of whatever it is one has to know or believe in order to operate in a manner acceptable to its members, and do so in any role that they accept for any one of themselves. Culture, being what people have to learn as distinct from their biological heritage, must consist of the end product of learning : knowledge, in a most general, if relative, sense of the term. By this definition, we should note that culture is not a material phenomenon; it does not consists of things, people, behavior, or emotions. It is rather an organization of these things. It is the forms of things that people have in mind, their models fro perceiving, relating, and otherwisw interpreting them. As such, the things people say and do, their social arrangements and events, are products or by-products of their culture as they

(8)

who knows their culture, these things and events are also signs signifying the cultural forms or models of which they are materail presentations....

(Goodenough, 1964).

Culture is everything one needs to know, master and feel in order to judge where people’s behavior conforms to or deviates from what is expected from them in their social roles, and in order to make one’s own behavior conform to the expectations of the society concerned-unless one is prepared to take the consequences of deviant behavior. (Gohring dalam Snell-Hornby, 1995).

The way of life and its manifestations that are perculiar to a community taht uses a particular language as its means of expressions. (Newmark, 1988)

Dari definisi budaya di atas dapat ditarik empat hal pokok. Pertama, budaya merupakan totalitas pengetahuan, penguasaan dan persepsi. Kedua, budaya mempunyai hubungan yang erat dengan prilaku (tindakan) dan peristiwa atau kegiatan. Ketiga, budaya tergantung pada harapan dan norma yang berlaku dimasyarakat. Keempat, pengetahuan, penguasaan, persepsi, perilaku kita terhadap sesuatu diwujudkan melalui bahasa. Oleh karena itu, bahasa merupakan ungkapan tentang budaya dan diri penutur, yang memahami dunia melalui bahasa.

Konsep bahwa bahasa adalah budaya dan budaya diwujudkan melalui perilaku kebahasaan dapat pula diterapkan dan dikaitkan pada bidang penerjemahan. House (2002) berpendapat bahwa seseorang tidak menerjemahkan bahasa tetapi budaya, dan dalam penerjemahan kita mengalihkan budaya bukan bahasa. Pendapat ini sejalan dengan pandangan bahwa budaya merupakan suatu terjemahan, bukan kata, frase, klausa, paragraf atau teks yang seharusnya mendapatkan perhatian yang serius dari penerjemah.

(9)

2.2 Kerangka Teori

“Teori bahasa memiliki cara yang beragam dalam melihat fenomena bahasa” (Sinar, 2003:13). Di dalam penelitian ini, teori bahasa yang akan digunakan adalah teori Systemic Functional Linguistics dan teori translasi. Oleh karena itu, bab ini akan menjelaskan kedua teori tersebut, yaitu teori Translasi yang dikemukakan oleh Larson dan Catford dan teori Systemic Functional Linguistics yang dikemukakan oleh Halliday. Teori-teori itu dilengkapi oleh model-model penerjemahan yang relevan dengan penelitian ini.

Secara sistematis, teori yang digunakan peneliti dalam translasi dwibahasa: Inggris-Indonesia dapat diklasifikasikan sebagai-berikut.

(1) Kerangka Teori

(2) Teori Translasi dan Penerjemahan (3) Model-model Penerjemahan

(4) Alasan Memilih Teori Translasi Larson dan Catford (5) Kerangka Konsep Pergeseran dalam Translasi (6) Teori Systemic Functional Linguistics

(7) Alasan Memilih Teori Systemic Functional Linguistics

(8) Berbagai Model Systemic Functional Linguistics

(9) Kerangka Konsep Systemic Functional Linguistics

(10) Metafungsi Bahasa (11) Orientasi Teoritis (12) Penelitian Sebelumnya

(10)

(13) Konstruk Analisis

2.3 Teori Translasi dan Penerjemahan

Pada penelitian ini perlu dibedakan antara kata ‘translasi’ dan ‘penerjemahan’. Kata ‘penerjemahan’ mengandung pengertian proses alih pesan, sedangkan kata ‘translasi’ sebagai padanan kata ‘translation’ artinya hasil dari suatu penerjemahan (Nababan, 2003:18). Di dalam penelitian ini, peneliti menggunakan istilah translasi untuk hasil penerjemahan dan istilah penerjemahan untuk proses alih pesan dalam translasi.

Berdasarkan pengertian di atas, menerjemahan berarti mengalihkan pesan yang terdapat dalam bahasa sumber ke dalam bahasa sasaran sedemikian rupa sehingga orang yang membaca atau mendengar pesan itu dalam bahasa sasaran kesannya sama dengan orang yang membaca pesan itu dalam bahasa sumber. Hal ini sesuai dengan pendapat Nida (1976) dalam Hanafi (1986:25) yang mengatakan bahwa, “Translating consist in producing in the receptor language the closest natural equivalent to the message of the source language, fist in meaning and secondly in style.” Hal ini berarti, di dalam kajian translasi harus dicari padanan yang paling dekat dengan bahasa penerima terhadap bahasa sumber, baik dalam hal makna maupun gaya bahasanya.

Sejalan dengan pendapat di atas, Catford (1965) dalam Nababan (2003:19) menyatakan penerjemahan adalah pemindahan materi teks bahasa sumber yang berekuivalen dengan materi teks pada bahasa sasaran. Di dalam proses alih pesan tersebut, terdapat faktor linguistik dan budaya. Steiner (1994:103) mengatakan,

(11)

Translation can be seen as (co) generation of text under specific contraints that is relative stability of some situasional factorand, therefore, register, and, classically, change of language and (context of) culture”. Di dalam hal ini, faktor situasi, budaya, dan perubahan bahasa sumber dan bahasa sasaran menjadi hal-hal yang menjadi perhatian penerjemah. Dengan demikian, penerjemahan bukan hanya aktivitas bilingual tetapi juga pada saat yang bersamaan adalah aktivitas bi-kultural. Pernyataan ini mengandung perngertian bahwa penerjemahan bukan hanya menerjemahkan bahasa tetapi sekaligus transfer budaya.

Jacobson dalam artikelnya “On Linguistic Aspecct of Translation” (1959) dalam Shuttlewarth dan Cowie (1997:82-88), menyatakan translasi dapat dibagi menjadi tiga jenis berikut ini.

a. Intralingual Translation (Translasi Intralingual) yaitu penerjemahan yang hanya melibatkan satu bahasa (bahasa yang sama) saja dalam prosesnya.

b. Interlingual Tranlation (Translasi Interlingual) yaitu penerjemahan yang melibatkan dua bahasa yang berbeda.

c. Intersemiotic Translation (Translasi Intersemiotik) yaitu penerjemahan suatu simbol yang mempunyai makna ke dalam simbol lain yang juga mempunyai makna yang sama.

Esksistensi translasi yang dikemukakan oleh Jakobson (1959:232-239) di atas dapat diklasifikasikan pada konteks translasi bahasa Indonesia sebagaimana terlihat dalam figura berikut ini.

(12)

Figura 2.3: Klasifikasi Eksistensi Translasi Translasi

Kebahasaan Nonkebahasaan Kebahasaan/ Non-kebahasaan Intra-kebahasaan Inter-kebahasaan Translasi ekabahasa Translasi multibahasa Translasi dwibahasa Translasi Bahasa Indonesia-Belanda Translasi Bahasa Indonesia-Inggris dan sebagainya

Dari ketiga klasifikasi yang dinyatakan oleh Jacobson tersebut, penelitian ini berkonsentrasi pada jenis translasi kedua, yaitu interlingual translation, tepatnya antara

(13)

merupakan bahasa regional penduduk terbesar di Asia Tenggara sedangkan bahasa Inggris merupakan bahasa internasional yang berasal dari kawasan Eropa Barat.

Menurut Tou (1997:27) konsep penerjemahan dapat dibedakan atas tiga hal, yaitu (1) teori fenomena, (2) fenomena studi, dan (3) praktik atau kegiatan mengerjakan fenomena tersebut. Skema berikut diciptakan untuk memberikan gambaran yang lebih jelas tentang konsep yang diadopsi seorang peneliti. Sebagai fenomena studi, penerjemahan bisa diklasifikasikan ke dalam tiga kategori berbeda, yaitu penerjemahan sebagai fenomena bahasa, penerjemahan sebagai fenomena bukan bahasa, dan penerjemahan sebagai fenomena bahasa/bukan bahasa.

Figura 2.4: Skema Penerjemahan (Adaptasi dari Choliludin, 2007:21) TEORI FENOMENA - teori penerjemahan - translatologi - ilmu penerjemahan - translatik - kajian penerjemahan FENOMENA STUDI PENERJEMAHAN Fenomena bahasa

Intralingual - penerjemahan monolingual Penerjemahan Interlingual - penerjemahan bilingual - penrjemahan multilingual Penerjemahan Intersemiotik - fenomena bukan bahasa

- fenomena bahasa/bukan bahasa

(14)

Pada hakikatnya, penerjemahan mencakup pemakaian dua bahasa dengan ide atau makna yang sama (Beekman dan Callow, 1974:58-59). Oleh karena itu, penerjemahan yang benar adalah penerjemahan yang dapat mentransfer makna dari bahasa sumber ke bahasa sasaran. Kemampuan menerjemah selain berkaitan dengan kemampuan menguasai kosa kata, struktur bahasa juga harus dapat memahami situasi komunikasi dan konteks budaya bahasa sumber, sehingga dapat mentransfer ke dalam kosa kata, struktur, dan konteks budaya bahasa sasaran (Larson, 1984:15).

Sejalan dengan pendapat di atas, translasi dan penerjemahan berhubungan erat dengan cara memahami bahasa. Menurut Halliday dan Hasan (1985:5-8), cara memahami bahasa terletak pada kajian sebuah teks yang memiliki konteks di dalamnya. Maka dalam proses yang sama, konteks dan teks adalah aspek. Gagasan tentang sesuatu yang menyertai teks yang melewati batas, yang dikatakan dan ditulis meliputi nonverbal lain yang muncul dalam lingkungan total yang diungkap. Maka, lingkungan total yang berlaku sebagai penghubung antara teks dan situasi yaitu tempat teks yang sebenarnya itu muncul dan ini disebut konteks situasi.

Setiap teks, baik lisan maupun tulisan, mengungkap makna dalam konteks penggunaannya. Oleh karena itu, bahasa dalam hubungannya dengan struktur sosial menimbulkan konsekuensi untuk menggambarkan konteks yang diperankan bahasa. Contoh fenomena ini sering dialami oleh Bronislaw Malinowski. Malinowski menghadapi masalah cara menerjemahkan atau menyampaikan pikirannya tentang bahasa dan budaya Kariwian di Pulau Trobriand pada para pembaca penutur bahasa Inggris. Budaya yang dia pelajari berbeda dengan budaya orang inggris. Malinowski

(15)

kemudian mengadopsi berbagai metode. Pada tahap ini, dia memperkenalkan konsep konteks situasi dan konteks budaya; dan dia menganggap bahwa keduanya sama-sama penting bagi pemahaman terhadap sebuah teks sebelum menerjemahkannnya

Di dalam proses penerjemahan, penerjemah hanyalah seorang komunikator yang menjembatani alur informasi dari penulis dan pembaca yang semestinya bisa menghilangkan sedemikian rupa campur tangan atau subyektivitas. Untuk itu setiap penerjemah perlu memiliki suatu pedoman dalam pemadanan dan pengubahan (Machali, 2000:104). Newmark (1988:4) menilai bahwa sebuah teks yang akan ditranslasikan dapat ditarik ke sepuluh arah dalam analisis sebelum dialihkan. Dinamika penerjemahan ini digambarkan sebagai berikut.

Figura 2.5 Dinamika Translation (Newmark, 1988:4) 9 The truth (the facts of the matter)

1 SL writer 2 SL norm 3 SL culture 4 SL setting and tradition 5 TL relationship 6 TL norm 7 TL culture 8 TL setting and tradition

TEXT

(16)

Terlepas dari berbagai kemungkinan keputusan yang bisa diambil oleh penerjemah dalam proses penerjemahan sebagai akibat dari keragaman faktor penentu tersebut di atas, Machali (2000:105) memberikan suatu pegangan dasar dalam proses penerjemahan. Machali menilai bahwa gambar dinamika penerjemahan Newmark tersebut menunjukkan, bahwa yang terletak paling atas adalah ‘truth’ kebenaran berupa fakta atau substansi permasalahan yang akan diterjemahkan yang dibahas dalam teks atau ‘field’ menurut Halliday. Sejauh perubahan yang ada tidak menyebabkan perubahan truth (tetap mempertahankan makna referensial) maka kesepadanan masih dapat berterima. Perubahan atau pergeseran lain yang menyangkut kaidah bahasa (nomor 2 dan 6 dalam dinamika translasi tersebut) tidak membuat bergesernya ‘truth’ sehingga masih berterima. Dinamika tersebut di atas memberi peluang terjadinya campur tangan penerjemah. Machali (2000:106) mengungkapkan bahwa campur tangan penerjemah dalam proses penerjemahan disebabkan oleh:

(1) merupakan terjemahan manusia (human translation) bukan terjemahan mesin (machine translation);

(2) bahasa bukanlah sebuah “jaket pengaman” yang mengikat pemakainya (penerjemah) untuk hanya memilih satu bentuk tertentu; dan,

(3) penerjemah (manusia) mempunyai keunikan (pandangan, prasangka, dll.)

2.3.1 Model-model Translasi

Larson (1984:17) menyatakan bahwa saat menerjemahkan sebuah teks, tujuan penerjemah adalah mencapai translasi idiomatik yang sedemikian rupa, berusaha

(17)

untuk mengkomunikasikan makna teks bahasa sumber ke dalam bentuk alami dari bahasa sasaran. Oleh karena itu, penerjemahan merupakan kegiatan yang berkenaan dengan studi tentang leksikon, struktur tata bahasa, situasi komunikasi, dan konteks budaya teks bahasa sumber yang dianalisis dengan maksud untuk menentukan maknanya. Makna yang ditemukan kemudian diungkapkan dan dikonstruksikan kembali dengan menggunakan leksikon dan struktur tata bahasa dan konteks budayanya.

Di dalam hal ini, Larson (1984:4) secara sederhana menampilkan diagram proses menerjemah suatu bahasa.

Figura 2.6 Proses Translasi Model Larson (Diadaptasi dari Choliludin, 2007:31)

Teks yang Diterjemahkan MAKNA Makna yang Diekspresikan Kembali Translasi Menemukan Makna

(18)

Di samping itu, Johannes (1979) membagi bahasa penerjemahan atas dua bagian, yaitu bahasa keilmuan dan bahasa sastra. Menurutnya penerjemahan bahasa keilmuan harus mempunyai kriteria-kriteria denotatif sebagai berikut.

(1) bahasa yang dipergunakan adalah bahasa resmi bukan bahasa pergaulan (2) mempunyai sifat formal dan objektif

(3) mempunyai nada yang tidak emosional (4) perlu memperhatikan keindahan bahasa (5) menghindari kemubaziran (redundancy)

(6) mempunyai isi yang lengkap, jelas, ringkas, meyakinkan, tepat dan padat. Bahasa sastra berbeda dalam pemakaian ungkapan dan kiasan, yang tidak dijumpai dalam bahasa ilmu. Kriteria-kriteria bahasa sastra ialah sebagai berikut:

(1) bahasa sastra bersifat konotatif

(2) bahasa sastra mengutamakan keindahan sedangkan bahasa ilmu tidak.

(3) bahasa sastra bersifat elastis merupakan dasar karya-karya sastra, sementara karya-karya ilmiah mengutamakan kepadatan isi.

2.3.2 Alasan Memilih Teori Translasi Larson dan Cadford

Teori translasi mempunyai kelebihan, yaitu dapat memenuhi keinginan peneliti dalam penyelesaian masalah budaya di dalam penerjemahan. Budaya di sini mencakup segala sesuatu yang secara historis tercipta karena pola berpikir suatu masyarakat baik tersurat maupun tersirat, baik yang rasional maupun irrasional. Secara garis besar kesulitan-kesulitan dalam penerjemahan dapat dibedakan menjadi dua kategori besar.

(19)

Kedua kategori ini adalah kesulitan yang berkaitan dengan kebahasaan ‘linguistic problems’ dan kesulitan yang bersifat non kebahasaan ‘nonlinguistic problems.’

Selanjutnya, dalam penerjemahan adanya perbedaan antara sistem bahasa sumber dan sistem bahasa sasaran juga ditunjukkan oleh perbedaan struktur baik tataran kata, frasa, klausa, dan kalimat. Dalam bahasa Inggris, inconceivable ditulis sebagai satu kata tetapi terdiri atas tiga morfem: in, conceive, dan able. Jika kata itu dialihkan ke dalam bahasa Indonesia, translasinya akan berbunyi: tidak dapat dipikirkan atau tidak dapat dibayangkan. Persoalan-persoalan seperti ini dapat dicari solusinya dengan menggunakan teori penerjemahan yang berorientasi pada penetapan tema dan rema dalam teks bahasa sumber dan translasinya.

Berdasarkan penjelasan di atas, proses translasi adalah proses mengekspresikan kembali makna teks bahasa sumber ke dalam bahasa sasaran tanpa mengubah makna bahasa sumber tersebut. Untuk itu, penelitian ini menerapkan teori translasi Larson dan Cadford. Hal ini disebabkan di dalam penerjemahan ada kesulitan yang disebutkan kesulitan bahasa ‘linguistik’ dan kesulitan budaya. Catford (1965) mengatakan kesulitan ialah kesulitan yang berkaitan dengan unsur-unsur budaya. Hal yang sama juga disebutkan oleh Larson (1984) bahwa salah satu masalah yang paling sulit dalam penerjemahan ialah perbedaan antara budaya.

Penerjemahan adalah masalah latar belakang budaya dari penerjemah. Walaupun kemampuan menerjemah seseorang baik karena menguasai bahasa sumber dan bahasa sasaran dengan kuantitas yang sama artinya, orang tersebut mengetahui perbedaan persepsi linguistik bahasa sumber dan sasaran. Si penerjemah juga diminta

(20)

meguasai konteks estetika dan budaya bahasa sumber dan sasaran sehingga dengan pengetahuan materinya yang memadai, ia melakukan mampu penerjemahan.

Menurut Halliday (1985) langkah pertama dalam menerjemah adalah menemukan makna yang terkandung melalui analisis makna. Menganalisis teks dengan menggunakan seperangkat framework akan memberikan gagasan komprehensif pada para pembaca untuk menghasilkan sebuah hasil translasi. Setiap teks baik lisan maupun tulisan mengungkap makna dalam konteks penggunannya. Jadi, dengan konteks di sekitar teks, teks menciptakan makna. Untuk dapat memahami makna teks dapat dilakukan dengan menggunakan framework seperti berikut ini.

Figura 2.7: Kedudukan Teks, Konteks, dan Makna dalam Wacana

TEKS KONTEKS

Metafungsi bahasa Konteks Situasi

- fungsi ideasional - medan wacana - fungsi antarpersona - pelibat wacana - fungsi tekstual - sarana wacana

Konteks Budaya - institusional - ideasional Intertekstual

- teks yang berkaitan Intratekstual

- koherensi - kohesi

(21)

Berdasarkan figura di atas dapat dipahami bahwa teks, konteks dan makna adalah tiga unsur yang salig berkaitan erat. Makna teks terealisasi melalui fungsi ideasional, antarpersona, tekstual, dan konteks berperan mempengaruhi makna yang disampaikan oleh teks. Dengan demikian, teks mengungkapkan maknanya dalam kaitanya dengan konteks yang terdapat di dalam teks tersebut.

2.3.3 Kerangka Konsep Pergeseran dalam Translasi

Catford (1965:20) menegaskan konsep pergeseran bisa dilihat dari dua perspektif yang berbeda tentang translasi: (1) translasi sebagai produk, (2) translasi sebagai suatu proses. Sebagai produk, konsep pergeseran formal identik dengan konsep pergeseran yang mengacu pada suatu peristiwa atau keadaan di mana sebuah padanan di seleksi dari bahasa sasaran dalam proses penerjemahan tidak menunjukkan kesejajaran bentuk teks (unit, struktur, ataupun kelas) dalam bahasa sumber. Sebagai suatu proses, pengertian pergeseran formal sejajar dengan istilah transposisi (transposition) yang dikemukakan oleh Newmark (1988) yaitu suatu cara atau prosedur penerjemahan melalui perubahan bentuk gramatikal dari bahasa sumber ke dalam bahasa target.

Catford (1965:73-82) membedakan pergeseran dalam translasi ke dalam dua jenis sebagai-berikut.

(1) level shift yang muncul di permukaan dalam bentuk item bahasa sumber pada level linguistik tertentu mempunyai padanan dalam level yang berbeda. Misalnya, tataran gramatika berpadanan dengan leksis.

(22)

(2) category shift yaitu suatu istilah generik yang mengacu pada pergeseran yang mencakup empat kategori sebagai berikut.

a. structure-shifts, yakni pergeseran struktur yang menyangkut perubahan gramatikal antara struktur bahasa sumber dan sasaran.

b. class-shifts, yakni pergeseran kelas bila kata dalam bahasa sumber dipadankan dengan bahasa sasaran mempunyai kelas gramatikal yang berbeda.

c. unit-shifts, yakni pergeseran unit yang menyangkut perubahan ‘rank’ misalnya dari kata diterjemahkan menjadi frasa.

d. intra-system-shifts, yakni pergeseran intra sistem yang terjadi bila secara formal bahasa sumber dan target mempunyai kondisi yang kelihatannya sejajar tetapi secara konstituen mempunyai perbedaan. Misalnya, bentuk tunggal dalam bahasa sumber menjadi bentuk jamak dalam bahasa sasaran.

Al Zouby dan Al Asnawi (2001) mendefinisikan pergeseran (shift) sebagai tindakan wajib yang disebabkan oleh adanya perbedaan struktur dua bahasa yang terlibat dalam penerjemahan dan tindakan operasional yang ditentukan oleh preferensi personal dan stilistik yang dilakukan secara sadar untuk menghasilkan translasi yang alamiah dan komunikatif dari bahasa sumber ke dalam bahasa sasaran. Mereka membedakan pergeseran ke dalam dua jenis yakni pergeseran mikro (micro shift) dan pergeseran makro (macro shift). Pergeseran mikro bisa berwujud pergeseran vertikal yang mengarah ke atas jika unit bahasa sumber disubtitusi dengan unit yang lebih

(23)

tinggi ‘rank’nya atau mengarah ke bawah jika unit bahasa sumber disubtitusi dengan unit yang lebih rendah ‘rank’nya, sedangkan pergeseran horizontal adalah jika padanan dalam bahasa sumber berada pada ‘rank’ yang sama dengan bahasa sasaran. Pergeseran makro melibatkan semua variabel tekstur, budaya, gaya, dan retorik yang memungkinkan terjadinya pergeseran pada tataran selain tataran sintaksis.

Berdasarkan penjelasan di atas, pergeseran dalam penerjemahan terjadi karena berbagai aspek, bergantung pada konteksnya. Di dalam hal ini, Zellermeyer (1987) menjelaskan bahwa pergeseran (shift) dalam penerjemahan sebagai ‘metamessages’. Pergeseran dapat terjadi karena adanya penambahan (addition), penghilangan (delition), substitusi (substitution), dan penyusunan kembali (reordering).

2.4 Teori Systemic Functional Linguistics

Penelitian ini menggunakan teori Systemic Functional Linguistics yang dikemukakan oleh Halliday. Teori Systemic Functional Linguistics ini di Indonesia memperoleh dua penerjemahan yang menjadi rujukan teks berbahasa Indonesia dalam penelitian ini. Terjemahan pertama adalah Linguistik Sistemik Fungsional (LSF) oleh Tengku Silvana Sinar dalam bukunya Teori dan Analisis Wacana: Pendekatan Sistemik-Fungsional (terbit 2003 dan dicetak ulang 2008). Terjemahan kedua Linguistik Fungsional Sistemik (LFS) oleh Amrin Saragih dalam bukunya Bahasa dalam Konteks Sosial: Pendekatan Lunguistik Fungsional Sistemik terhadap Tata Bahasa dan Wacana (2006) dan Fungsi Tekstual dalam Wacana: Panduan Menulis Rema dan Tema (2007).

(24)

Menurut Sinar (2008:14), teori ini meyakini bahwa bahasa atau teks selalu berada pada konteks pemakaiannya. Secara historis, menurut Saragih (2007:1), teori ini dikembangkan oleh Halliday (2004) dan para pakar lainnya, seperti Martin (2003), Halliday dan Matthiessen (2001), Kress (2002). Teori ini berkembang di Inggris, tetapi perkembangannya sangat pesat terutama di Universiy of Sydney, Australia sejak

Linguistics Department dibuka di universitas itu pada 1976.

Sinar (2003:14) menjelaskan istilah ‘Teori Linguistik’ mempunyai dua implikasi. Implikasinya, analisis wacana harus menggunakan teori bahasa yang memiliki kerangka penelitian analisis wacana dalam konteks linguistik dengan mengikuti prinsip-prinsip teori Systemic Functional Linguistics. Kemudian, investigasi fenemona analisis wacana mengisyaratkan pemilihan pendekatan bahasa yang secara interpretatif bersifat semiotik, tematis, dan antardisiplin.

Selanjutnya, Sinar (2003:15) bersepakat bahwa istilah ‘Sistemik’ berimplikasi kepada tiga hal. Ketiga hal itu mengisyaratkan bahwa analisis bahasa untuk memperhatikan hubungan sistem(ik) dalam berbagai kemungkinan pada jaringan sistem hubungan dan dapat memulai pilihan dari dari fitur umum ke spesifik, yang vertikal atau paradigmatik. Di samping itu, fenomena yang diinvestigasi melibatkan sistem-sistem makna. Sistem-sistem makna tersebut mendasari analisis bahasa, baik berada di belakangnya, di bawahnya, di atasnya, di sekelilingnya, atau di seberang fenomena yang sedang diinvestigasi.

Sebaliknya, istilah ‘Fungsional’ mengimplikasikan tiga hal. Ketiga hal tersebut menekankan bahwa analisis wacana memberi perhatian pada realisasi fungsional

(25)

sistem dalam struktur-struktur dan pola-pola yang secara struktur bersifat horizontal dan sintagmatis. Perhatian juga ditujukan pada fungsi-fungsi atau makna-makna yang ada dalam bahasa tersebut dan fungsi-fungsi atau makna-makna yang beroperasi di dalam tingkat dan dimensi bervariasi dalam bahasa yang bersangkutan.

Menurut Saragih (2007:1-6), pendekatan fungsional memiliki tiga pengertian, yang saling bertaut. Pertama, pendekatan fungsional berpendapat bahwa bahasa terstruktur berdasarkan fungsi bahasa dalam kehidupan manusia. Dengan kata lain, bahasa terstruktur berdasarkan tujuan penggunaan bahasa. Bahasa yang digunakan untuk suatu fungsi atau tujuan disebut teks (text). Oleh karena itu, teks yang digunakan untuk menceritakan peristiwa (narasi) terstuktur berbeda dengan teks yang digunakan untuk melaporkan satu peristiwa (laporan), kecenderungan tata bahasa dalam teks sejarah berbeda dengan teks fisika, dan struktur teks politik berbeda dengan teks kesastraan.

Dengan pengertian fungsional yang pertama ini, teks dinterpretasikan berdasarkan konteks sosial, yakni segala unsur yang terjadi di luar teks. Dengan kata lain, konteks sosial memotivasi pengguna atau pemakai bahasa menggunakan struktur tertentu. Konteks sosial yang mempengaruhi bahasa ini dalam teori Systemic Functional Linguistics terdiri atas konteks situasi (register) dan budaya (culture) yang di dalamnya termasuk ideologi (ideology).

Konteks situasi mengacu kepada kondisi dan lingkungan yang mendampingi atau sedang berlangsung ketika penggunaan bahasa berlangsung atau ketika interaksi antarpemakai bahasa terjadi. Menurut Halliday dan Hasan (1985) dalam Butt, dkk.

(26)

(2003:4) konteks situasi terdiri atas tiga unsur, yaitu field, tenor, dan mode of discourse. Ketiga unsur tersebut mengandung arti (1) medan (field), yakni apa—what

yang dibicarakan dalam interaksi, (2) pelibat (tenor), yakni siapa—who yang terkait atau terlibat dalam interaksi, dan (3) cara (mode), yakni bagaimana—how interaksi dilakukan.

Lebih lanjut, Halliday (1974) dalam Saragih (2007:2) menegaskan bahwa bahasa adalah fenomena antarmanusia yang disebut sebagai interorganism, yang berbeda dengan pendapat para pakar linguistik formal, misalnya Chomsky yang berpendapat bahasa sebagai fenomena intraorganism atau hal yang terjadi di dalam diri manusia. Dengan kata lain, secara spesifik para pakar Systemic Functional Linguistics mengamati, bahwa struktur teks ditentukan oleh unsur yang ada di luar teks, yakni konteks sosial. Hubungan antara teks dan konteks sosial adalah hubungan

construal, yakni saling menentukan, konteks sosial menentukan teks dan teks menentukan konteks sosial. Dengan kata lain, pada suatu saat konteks sosial terbentuk dan konteks sosial ini mempengaruhi teks. Pada saat berikutnya, teks yang wujud itu merujuk dan membentuk konteks sosialnya.

Kedua, berkaitan dengan pengertian fungsional pertama, fungsi bahasa dalam kehidupan manusia mencakup tiga hal, yaitu (1) memaparkan atau menggambarkan (ideational function), (2) mempertukarkan (interpersonal function), dan (3) merangkai (textual function) pengalaman manusia. Ketiga fungsi ini disebut metafungsi bahasa (metafunction), yakni fungsi bahasa untuk penggunaan bahasa. Masing-masing fungsi direalisasikan oleh tata bahasa yang berbeda sifatnya dan tidak saling berhubungan.

(27)

Dengan demikian, dalam perspektif Systemic Functional Linguistics, tata bahasa (lexicogrammar) merupakan teori tentang pengalaman manusia, yakni teori yang mencakupi paparan, pertukaran, dan organisasi pengalaman manusia. Dari ketiga fungsi itu, kajian ini berkaitan dengan fungsi tekstual. Akan tetapi, karena uraian mengenai pemakaian bahasa mencakup metafungsi bahasa, maka uraian tentang fungsi tekstual akan dikaitkan dengan dua fungsi yang lain secara parsial atau jika fungsi eksperiensia atau antarpersona menambah kejelasan uraian fungsi tekstual.

Pengertian fungsional ketiga adalah setiap unit bahasa adalah fungsional terhadap unit yang lebih besar, yang di dalamnya unit itu menjadi unsur. Dengan pengertian ini ditetapkan bahwa morfem adalah fungsional di dalam kata, kata adalah fungsional dalam grup atau frase, grup atau frase adalah fungsional dalam klausa, dan klausa menjadi unsur fungsional dalam klausa kompleks. Dengan pandangan ini, para pakar Systemic Functional Linguistics berpendapat bahwa dalam mengkaji satu unit linguistik, unit linguistik itu dikaji dari tiga posisi, yakni dari (1) unit yang lebih besar di atasnya yang di dalam unit di atasnya itu unit linguistik itu menjadi elemen/ konstituen, (2) unit yang lebih kecil di bawahnya yang menjadi elemen/konstituen dan membangun unit bahasa yang dikaji, dan (3) unit yang setara atau sama posisinya dengan unit kajian.

Fungsi tekstual bahasa menunjukkan bagaimana pesan dalam bahasa dirangkai agar menjadi teks yang padu. Secara struktural, untuk merangkai pesan dalam klausa, dua aspek tata bahasa digunakan, yaitu Tema dan Rema. Struktur Tema di dalam klausa, menurut teori Systemic Functional Linguistics, ditentukan oleh konteks sosial.

(28)

Sebagai bagian dari konteks situasi, unsur cara berkait dengan struktur Tema. Dengan kata lain, cara berkaitan langsung atau mempengaruhi stuktur Tema dan Rema. Selanjutnya, cara sebagai bagian dari konteks situasi atau register merupakan realisasi ideologi. Sebagai unsur semiotik sosial di atas register, terdapat konteks budaya yang menjadi penentu cara. Dengan kata lain, budaya secara parsial menentukan struktur Tema dan Rema.

Menurut Saragih (2007:5-6), bahasa digunakan untuk menyampaikan pesan. Dalam menyampaikan pesan secara berpola, bahasa memiliki aturan bahwa pesan yang disampaikan tersebut disusun atau dirangkai dengan baik. Dengan demikian, bahasa berfungsi untuk merangkai pengalaman yang di dalam rangkaian itu terbentuk keterkaitan, satu (unit) pengalaman (dalam experiential meaning dan interpersonal meaning) relevan dengan pengalaman yang telah dan akan disampaikan sebelum dan sesudahnya. Dengan tugasnya membentuk kerelevanan pengalaman dengan pengalaman lain agar membentuk satu kesatuan (oneness), fungsi tekstual berkaitan dengan lingkungan atau konteks satu pengalaman linguistik.

Dalam satu situasi atau kesempatan, sumber daya (resources) bahasa (kata, frase, dan klausa) memiliki kemampuan yang sama untuk (pertama kali) muncul dalam interaksi sosial. Dengan kata lain, menurut Saragih (2006:106), ”Semua sumber daya bahasa memiliki probabilitas yang sama untuk muncul pertama kali. Akan tetapi, pada saat satu sumber daya muncul pertama sekali, pemunculannya telah menghalangi atau mengurangi kemungkinan pemunculan sumber daya lain.”

(29)

Contohnya, apabila penutur telah mengucapkan klausa Banjir di desa itu telah membawa korban jiwa, pemunculan klausa Ketegangan di Bangkok antara kelompok baju merah dan pemerintah meningkat tidak relevan lagi. Sebagai akibat pemunculan banjir di desa itu, klausa yang lebih relevan adalah Regu penolong dan bantuan pangan telah didatangkan. Ini berarti, pemunculan sumber daya bahasa pertama sekali memegang peran penting dalam pemunculan sumber daya yang lain. Sumber daya bahasa yang pertama disampaikan, yang disebabkan oleh pengaruh konteks pemakaian bahasa, memiliki fungsi yang berbeda bagi penutur (addresser)

dan mitra tutur (addressee). Bagi penutur unsur pertama ini merupakan unsur penting. Unsur pertama inilah yang akan diuraikan dalam sumber daya berikutnya atau yang menjadi tumpuan dalam pemunculan sumber daya berikutnya. Sumber daya pertama dalam satu unit pengalaman atau klausa dalam perspektif penutur disebut Tema

(Theme) dan sumber daya bahasa berikutnya setelah tema disebut Rema (Rheme). Bagi mitra tutur, unsur pertama menjadi tidak jelas atau hilang karena sudah terlalu lama terdengar dalam bahasa lisan. Sementara itu, unsur yang terakhir menjadi jelas karena terakhir disampaikan dan masih dapat disimak dalam proses penuturan. Dengan demikian, dari perspektif pendengar atau mitra tutur, unsur pertama disebut Lama (Given), sementara unsur terakhir disebut Baru (New).

2.4.1 Alasan Memilih Teori Systemic Functional Linguistics

Teori Systemic Functional Linguistics adalah teori yang memandang bahwa kajian bahasa tidak terlepas dari konteksnya. Berkaitan dengan penelitian ini, kajian

(30)

translasi tidak lepas dari kajian terhadap teks dan konteks. Dalam hal ini, baik teks dan hasil translasi merupakan produk teks yang baru dan itu merupakan unit bahasa yang fungsional dalam konteks sosial. Artinya, teks sumber dan teks sasaran adalah unit arti atau unit semantik dan dapat direalisasikan oleh berbagai unit tata bahasa.

Teori Systemic Functional Linguistics sangat potensial dengan berbagai dimensi analisis dalam teks dan wacana. Dalam dimensi bahasa, analisis dapat dilakukan terhadap tiga strata bahasa yaitu semantik, leksikogramatika, dan fonologi atau ortografi. Ketiga strata ini mempunyai pengertian bahwa suatu makna direalisasikan ke dalam tata bahasa atau disebut leksikogramatika dan akhirnya direalisasikan ke dalam bunyi bahasa ataupun tulisan.

Selaras dengan penjelasan di atas, analisis juga dapat diterapkan kepada teks sumber dan teks sasaran translasi. Analisis kedua teks tersebut dapat diterapkan dari dimensi rangkaian teks (cohesion) dan dimensi koherensi yang merupakan susunan tata cara yang terjalin erat dan teratur satu sama lain.

Pendekatan Systemic Functional Linguistics terhadap analisis teks juga mencakup analisis konteks. Konteks atau konteks sosial (context) selalu menyertai teks dan tidak dapat dipisahkan satu sama lainnya. Halliday mengistilahkan construal

yaitu adanya hubungan konstrual bahwa konteks sosial yang menentukan dan ditentukan oleh teks. Menurut Halliday (1978) dalam Saragih (2007:2), konteks sosial terbagi tiga yaitu konteks situasi (register), konteks budaya (genre), dan konteks ideologi. Konteks situasi merupakan unsur yang penting dalam bahasa karena manusia berbicara atau menulis harus disesuaikan dengan konteks situasinya.

(31)

Kelebihan lainnya teori Systemic Functional Linguistics adalah pada analisis konteks budaya teks sebagai aktivitas sosial bertahap untuk mencapai suatu tujuan keberhasilan teks mencapai sasarannya. Teori ini memandang teks mempunyai ciri budaya yang memberi karakteristik atau fitur pada teks tersebut. Dalam suatu interaksi sosial teks, ia harus melalui suatu tahapan untuk menghasilkan tujuan yang tepat sasaran dan setiap teks membawa misi yang berbeda sehingga dengan demikian teks ini juga menghasilkan karakteristik tahapan yang berbeda-beda.

Konteks budaya disebut juga dengan genre yaitu kegiatan berbahasa yang bertahap, bermatlamat sebagai aktivitas yang berorientasi pada tujuan di mana penulis/penutur melibatkan diri sebagai anggota-anggota dari budaya itu sendiri (Sinar, 2003:68). Selanjutnya, konteks teks mempunyai ideologi yang merujuk sikap, nilai yang dikontruksikan secara sosial menjadi konsep yang diyakini oleh masyarakat. Dengan demikian, bahasa yang terdiri atas unsur makna (semantik, tata bahasa (leksikogrammar) dan bunyi (fonologi) mempunyai konteks situasi budaya di atasnya. Ketiga jenis konteks ini direalisasikan oleh bahasa seperti terdapat dalam diagram berikut.

Figura 2.8: Hubungan Teks dan Konteks (Saragih, 2006:3)

Ideologi

Budaya

Situasi

(32)

Untuk itu semua, maka peneliti akhirnya memilih teori Systemic Functional Linguistics. Hal ini dimaksudkan agar di dalam perjalanan panjang penelitian ini dapat mengeksplorasi teks dengan memahami dan mengkaji unsur-unsur yang terdapat di dalam bahasa, yaitu analisis tekstual dan di luar bahasa yaitu konteks sosial bahasa yang mencakup konteks situasi (register). Hal itu disebabkan bahasa tidak dapat dipisahkan dari konteksnya. Dengan kata lain, untuk memahami bahasa maka sebaiknya memahami konteks.

2.4.2 Berbagai Model Systemic Functional Linguistics

Berbagai model Systemic Functional Linguistics telah dikembangkan oleh Halliday di Universitas Sydney dan para pengikut teori ini. Di antaranya, model

Systemic Functional Linguistics telah dirancang dan dikembangkan oleh Fawcet di Universitas Cardiff, Gregory di Universitas York, yang kemudian diterapkan oleh Young di Universitas Leuven Catholic, model Martin di Universitas Sydney, dan model Halliday yang dikembangkan oleh Matthiessen di Universitas Macquarie.

Model Systemic Functional Linguistics dirancang dan dikembangkan oleh para pengikut teori ini dengan didasarkan pada hubungan bahasa dan konteksnya. Bahasa dibangun atas unsur makna yang dirangkaikan atau disusun menurut strukturnya (lexicogrammar) yang pada akhirnya direalisasikan ke dalam bunyi (fonologi) ataupun tulisan (grafologi). Halliday (1991:8) menganggap bahwa terdapat hubungan yang erat antara bahasa dan konteks sebagaimana terlihat dalam figuru berikut ini.

(33)

Figura 2.9: Bahasa dan Konteks (Adaptasi dari Halliday, 1991:8)

sistem (potensi) instan konteks fungsi bahasa BUDAYA SITUASI

(ranah budaya) (Jenis situasi)

bahasa SISTEM TEKS Note: kiri – kanan = instansiasi [cf. iklim cuaca]

atas– bawah = realisasasi [dalam bahasa, leksikogramatika, fonologi]

Selanjutnya, Martin (1993) dalam Sinar (2008:8-9) menjelaskan dalam rancangannya bahwa bahasa berada di dalam konteks sosial. Konsekuansinya, untuk memahami bahasa harus memahami konteks sosialnya juga karena bahasa sebagai sistem semiotik merealisasikan konteks sosial sebagai sebuah sistem sosial.

Figura 2.10: Bahasa sebagai Realisasi Konteks Sosial (Adaptasi dari Martin, 1993:142)

(34)

Selain itu, Matthiessen (1993) dalam Sinar (2008:17) merancang stratifikasi bahasa dalam konteks. Ia berpendapat bahwa di dalam bahasa terdapat makna (semantik), di dalam makna terdapat leksikogrammar dan di dalam leksikogrammar terdapat fonologi. dengan demikian bahasa meliputi tiga unsur sekaligus yaitu semantik, leksikogrammar, dan semantik.

Figura 2.11: Stratifikasi Bahasa dalam Konteks (Adaptasi dari Matthiessen, 1993:227)

bahasa

leksikogramatika semantik

Konteks: sistem makna tingkat lebih tinggi

Isi

Fonologi ekspresi

Berikut ini adalah perbandingan enam model konteks dalam kerangka teori

(35)

Figura 2.12: Stratifikasi Bahasa dalam Konteks

(Adaptasi dari Matthiessen, 1993:227; lihat juga Sinar, 2008:55)

Konteks Halliday (1964)

Gregory (1967)

Ure & Elis (1977) Halliday (1978) Fawcett (1980) Martin (1992) Budaya Genre Medan

Wacana Medan Wacana Medan Wacana Medan Wacana Pokok Persoalan Medan Wacana Pelibat Wacana personal Formalitas Tujuan Hubungan Pelibat Wacana Pelibat Wacana fungsional Peran Pelibat Wacana Tujuan pragmatik Pelibat Wacana Situasi Sarana Wacana Sarana Wacana Sarana Wacana Sarana Wacana Sarana Wacana Sarana Wacana

Berdasarkan perbandingan di atas dapat dipahami bahwa terdapat perbedaan konteks situasi. Halliday membagi konteks situasi menjadi tiga, yaitu medan wacana, pelibat wacana dan sarana wacana. Sedangkan Martin menggunakan genre sebagai rujukan untuk konteks budaya. Berbeda dengan Halliday dan Martin, Gregory membagi pelibat wacana menjadi dua bagian pelibat wacana personal dan fungsional, sedangkan Ure dan Elis membagi pelibat wacana ke dalam dua bagian formalitas dan peran. Fawcet membagi pelibat wacana berdasarkan tujuan hubungan dan pragmatik.

2.4.3 Kerangka Konsep Systemic Functional Linguistics

Di dalam konsep Systemic Functional Linguistics dijelaskan bahwa (1) bahasa merupakan sistem semiotik dan (2) bahasa juga bersifat fungsional (3) bahasa berfungsi untuk membuat makna dan bahasa mempunyai tiga fungsi yaitu fungsi

(36)

mempertukarkan pengalaman atau fungsi antarpersona dan fungsi merangkaikan pengalaman atau fungsi tekstual, dan (4) bahasa bersifat kontekstual.

2.4.3.1Bahasa adalah Sistem Semiotik Sosial

Systemic Functional Linguistics berbeda dengan aliran linguistik lain karena berdasarkan teori ini, bahasa dipandang sebagai fenomena sosial yang wujudnya sebagai semiotik sosial. Konsep semiotik pada mulanya berasal dari konsep tanda yang berhubungan dengan istilah ‘semainon’ (penanda). Oleh karena itu, Fawcett (1984:xiii) mengatakan bahwa semiotik merupakan kajian tentang sistem tanda dan penggunaannya. Dengan demikian, semiotik bukan sebagai kajian tentang tanda melainkan sebagai kajian tentang sistem tanda. Dengan kata lain, semiotik sebagai suatu kajian tentang ‘makna’ yang paling umum.

Sejalan dengan pengertian semiotik di atas, kajian makna suatu bahasa harus ditempatkan pada konteks sosial. Hal ini membawa implikasi bahasa bertautan dengan makna dalam budaya. Sudah pasti dalam budaya mana pun banyak cara yang berkenaan dengan makna yang berada di luar bidang bahasa. Cara-cara tersebut meliputi baik bentuk-bentuk seni seperti lukisan, ukiran bunyi-bunyian, tarian, dan lainnya, maupun bentuk-bentuk tingkah laku budaya lainnya yang tidak termasuk dalam ruang lingkup seni, misalnya ragam pertukaran, pakaian, susunan keluarga dan seterusnya. Ini semua pembawa makna dalam budaya. Pada hakikatnya, dalam konteks ini budaya didefinisikan sebagai seperangkat sistem semiotik, sistem makna yang semuanya saling berhubungan. Pengertian umum tentang semiotik ini tidak dapat

(37)

dijelaskan melalui konsep tanda sebagai suatu kesatuan lahiriah, tetapi semiotik sebagai sistem-sistem makna, yang dapat dipandang sebagai tatanan yang bekerja melalui semacam bentuk luar keluaran (output) yang disebut tanda, tetapi tatanan-tatanan itu sendiri bukan perangkat benda tersendiri, melainkan merupakan jaringan-jaringan hubungan. Dalam arti inilah istilah ‘semiotik’ digunakan untuk melihat bahasa, yaitu bahasa sebagai salah satu dari sejumlah sistem makna yang secara bersama-sama membentuk budaya manusia.

Istilah sosial dalam konteks bahasa adalah sistem semiotik sosial bersinonim dengan kebudayaan. Menurut Sinar (2008:21), “Konsep semiotik sosial adalah bahwa hubungan setiap manusia dengan lingkungan manusia penuh dengan arti dan arti-arti ini dipelajari melalui interaksi seseorang dengan orang lain yang melibatkan lingkungan arti tersebut.” Jadi, semiotik sosial yang dimaksudkan adalah batasan sistem sosial atau kebudayaan sebagai suatu sistem makna. Istilah ‘sosial’ juga digunakan untuk menunjukkan adanya hubungan bahasa dengan struktur sosial, dengan memandang struktur sosial sebagai satu segi dari sistem sosial. Jadi dalam pengertian ini, bahasa dijelaskan dengan menggunakan pandangan sosial karena dimensi sosial sangatlah signifikan dan yang selama ini paling diabaikan dalam pembahasan-pembahasan bahasa dalam pendidikan.

Bahasa dipandang dari perspektif pendidikan suatu proses sosial. Lingkungan tempat belajar itu berlangsung dalam suatu lembaga sosial, seperti ruangan kelas atau sekolah dengan struktur sosialnya yang digariskan dengan lebih jelas atau yang lebih abstrak, menyangkut sistem sekolah atau jalannya kependidikan. Ilmu pengetahuan

(38)

disampaikan dalam konteks sosial melalui hubungan-hubungan seperti orang tua dengan anak, guru dengan murid atau antarteman sekelas yang digariskan dalam tata nilai dan ideologi kebudayaan yang bersangkutan. Berdasarkan hal tersebut, menurut Halliday (1975) dalam Sinar (2008:20-21), belajar bahasa adalah belajar memaknai yang mempunyai konsekuensi pada proses belajar mengajar. Dengan demikian, seseorang dalam aksinya belajar berbahasa sekaligus mempelajari budaya melalui bahasa yang dipelajari dalam sistem sosial kehidupannya.

2.4.3.2Bahasa adalah Fungsional

Halliday dan Hasan (1985:10) mendefinisikan teks sebagai bahasa yang fungsional. Fungsional diartikan sebagai bahasa yang melakukan perkerjaan yang sama dalam suatu konteks. Di dalam konteks ini, bahasa yang fungsional bukan kata-kata atau kalimat yang terisolir yang mungkin dituliskan seseorang di atas papan tulis. Dengan demikian, hakekat teks adalah sebagai entitas semantik, sehingga sebuah teks harus dipertimbangkan dari dua perspektif sekaligus, baik sebuah produk maupun sebagai sebuah proses.

Menurut Saragih (2006:3) terdapat tiga pengertian dalam konsep fungsional di dalam konteks sosial.

(1) Bahasa terstruktur sesuai dengan kebutuhan manusia akan bahasa.

(2) Bahasa berfungsi untuk memaparkan, mempertukarkan dan merangkai pengalaman. Ketiga fungsi ini disebut dengan metafungsi bahasa.

(39)

(3) Satu unit bahasa fungsional terhadap unit lain yang lebih besar. Artinya satu unit bahasa dapat menjadi unit bahasa yang lebih besar misalnya kata, frase dan klausa. Bahasa dalam analisis wacana dengan pendekatan linguistik fungsional sistemik mempunyai tiga fungsi yaitu fungsi memaparkan, mempertukarkan dan merangkai pengalaman.

2.4.3.3Fungsi Bahasa Membuat Makna

Bahasa berfungsi membuat makna. Hal ini dapat dibuktikan ketika manusia mengekspresikan keperluan-keperluan mereka melalui bahasa, mereka membuat makna dalam teks. Halliday (1975) dalam Sinar (2008:20) berpendapat bahwa belajar bahasa adalah belajar memaknai yang mempunyai konsekuensi pada proses belajar-mengajar. Di dalam hal ini, Halliday (1975:37) memandang pembelajaran bahasa sebagai belajar memaknai atau mempelajari cara membuat makna. Dengan demikian, teori Systemic Functional Linguisticsi mempunyai kekuatan pada nilai pendidikan linguistik.

Fokus Systemic Functional Linguistics terhadap bahasa sebagai institusi sosial memberi makna khusus teks dan konteks. Hal ini memunculkan pandangan bahwa bahasa adalah sebuah sistem atau sistem pilihan yang relevan dengan pendidikan linguistik. Bagi praktisi pendidikan merupakan sesuatu yang penting untuk memahami perspektif bahwa seseorang belajar dalam proses sosial dan potensinya sangat erat hubungannya dengan bagaimana seorang anak membuat makna dengan menggunakan bahasa. Di dalam fungsi bahasa ini, seorang anak dalam aksinya belajar berbahasa, ia

(40)

sekaligus mempelajari budaya melalui bahasa yang dipelajarinya. Sistem semiotik yang dikonstruksikan oleh anak tersebut menjadi sarana utama bagi transmisi budaya.

2.4.3.4Bahasa adalah Kontekstual

Secara historis, bahasa terikat dengan penutur dan situasi penuturannya. Situasi penggunaan bahasa seperti ini bersifat kontekstual, sehingga pemahaman makna bahasa tersebut terikat pada konteks pemakaiannya (Sinar, 2008:23). Konsep konteks ini merujuk pada hubungan linguistik dengan konteks budaya yang disebabkan oleh ketergantungan makna linguistik terhadap konteks budaya. Hal ini disebabkan bahasa merupakan ungkapan ekspresi seseorang dalam merespon kondisi sosial budayanya, sehingga makna dari setiap kata dalam tingkat tertentu sangat tergantung pada konteks pembicaraan seseorang.

Halliday dan Hasan (1985) dalam Saragih (2006:4) bahasa adalah kontekstual karena pemahaman tentang bahasa terletak dalam kajian teks. Ada teks dan ada teks lain yang menyertainya: teks yang menyertai teks itu disebut konteks. Namun, pengertian mengenai hal yang menyertai teks itu meliputi tidak hanya yang dilisankan atau ditulis, tetapi juga meliputi kejadian-kejadian yang nonverbal lainnya pada keseluruhan lingkungan teks itu. Bahkan, menurut Saragih (2006:4), “Dengan pengertian konstrual ini, dalam satu konteks sosial tertentu hanya teks tertentu yang dihasilkan. Sebaliknya, dengan teks tertentu hanya konteks sosial tertentu pula yang (dapat) dirujuk.”

(41)

Dalam teori Systemic Functional Linguistics, konteks terbagi atas konteks linguistik dan konteks sosial. Konteks linguistik merujuk pada bahasa itu sendiri sedangkan kontek sosial terbagi atas tiga yaitu (1) konteks situasi yang mencakup ‘field’, ‘tenor’ dan ‘mode’, (2) konteks budaya, dan (3) konteks ideologi. Konteks situasi diperlukan untuk memahami jenis teks. Konteks situasi yaitu konteks yang memiliki teks yang mengungkap dan mewakili lingkungan tempat makna itu dipertukarkan.

Konteks situasi dijabarkan oleh Halliday dan Hasan (1985) dalam Sinar (2008:56-59) melalui tiga cirinya, yaitu (1) Medan Wacana (Field of Discourse), (2) Pelibat Wacana (Tenor of Discourse), dan (3) Sarana Wacana (Mode of Discourse).

Ketiga ciri tersebut dijelaskan oleh Halliday dan Hasan (1985) dalam Choliludin (2007:10-13) berikut ini.

(1) Field of discourse adalah istilah abstrak bagi pernyataan ‘apa yang sedang terjadi’ yang mengacu pada pilihan substansi linguistik si pembicara. Pilihan linguistik yang berbeda dibuat oleh pembicara yang berbeda tergantung pada jenis tindakannya, selain tindakan berbicara langsung yang mereka pandang sendiri saat ikut andil di dalamnya. Misalnya, pilihan linguistik akan beragam menurut andil pembicara masing-masing, apakah ikut dalam pertandingan sepak bola, berpidato politik, melakukan operasi atau membahas tentang obat-obatan.

(2) Tenor of discourse adalah istilah abstrak untuk hubungan antara orang-orang yang ikut andil dalam berbicara.bahasa yang digunakan orang beragam tergantung pada jenis hubungannya, seperti hubungan interpersonal antara ibu dan anak, dokter dan pasien, atau derajat orang atas dan yang rendah seorang pasien tidak akan memakai kata sumpah serapah untuk menyebut seorang dokter di hadapannya dan seorang ibu tidak akan memulai permintaan kepada anaknya dengan mengatakan, “Maaf apakah bisa kalau kamu...” menerjemahkan tenor of discourse secara benar dalam translasi bisa cukup menyulitkan. Hal ini tergantung pada apakah seseorang itu memandang tingkat formalitas teretntu sebagai hal yang ‘benar’ dari sudut pandang budaya bahasa sumber atau dari sudut pandang budaya bahasa sasaran.

(42)

informal dengan dengan orang tuanya dengan menggunakan nama depan dan bukan dengan panggilan ibu atau ayah. Tingkat formalitas ini akan sangat tidak bisa diterima oleh kebanyakan kebudayaan lain. Seorang penerjemah harus memilih antara mengganti tenornya untuk disesuaikan dengan budaya pembaca sasaran atau tetap seperti aslinya, yaitu mentransfer tenor informalnya untuk memberikan kesan jenis hubungan yang biasa dilakukan oleh para remaja dengan orang tuanya di masyarakat Amerika. Apa yang dipilih penerjemah pada situasi teretntu tentunya akan bergantung pada apa yang dia lihat sebagai tujuan penerjemahan secara menyeluruh.

(3) Mode of discourse mengacu pada jenis peran yang dimainkan bahasa (bicara/pidato, esai, kuliah, instruksi), yaitu jenis peran yang diharapkan partispian terhadap bahasa dalam suatu situasi: organisasi teks yang simbolik, status yang dimiliki dan fungsinya dalam konteks termasuk alat penghubung (lisan/tulisan atau gabungan dari keduanya), dan juga mode retorika, apa yang sedang dicapai oleh teks dalam kondisi kategori berikut ini yaitu persuasif, paparan, didaktis, dan hal senada. Misalnya, seperti ‘re’

adalah kata yang diterima dalam bahasa surat bisnis tetapi sangat jarang digunakan dalam bahasa lisan.

2.4.4 Metafungsi Bahasa

Makna metafungsional adalah makna yang secara simultan terbangun dari tiga fungsi bahasa, yaitu fungsi ideasional, fungsi interpersonal, dan fungsi tekstual. Fungsi ideasional mengungkapkan realitas fisik dan biologis serta berkenaan dengan interpretasi dan representasi pengalaman. Fungsi interpersonal mengungkapkan realitas sosial dan berkenaan dengan interaksi antara penutur/penulis dengan pendengar/pembaca. Sementara itu, fungsi tekstual mengungkapkan realitas semiotis dan berkenaan dengan cara penciptaan teks dalam konteks (Matthiessen, 1995:6; Halliday & Martin, 1993:29; Halliday & Matthiessen, 1999:7-8).

Berdasarkan penjelasan di atas, makna metafungsional melingkupi tiga jenis makna, dan realisasinya di dalam teks dapat dilihat dari unsur-unsur leksikogramatika

(43)

membentuk registernya. Sebagai salah satu wilayah makna metafungsional, makna tekstual tercipta dari gabungan antara fungsi ideasional dan fungsi interpersonal. Makna tekstual adalah makna sebagai hasil dari realisasi unsur-unsur leksikogramatika yang menjadi media terwujudnya sebuah teks, tertulis atau lisan, yang runtut dan yang sesuai dengan situasi tertentu pada saat bahasa itu dipakai dengan struktur yang bersifat periodik (Martin, 1992:10,13,21).

Pada tataran kelompok kata dan klausa, makna tekstual diungkapkan dengan tematisasi, hubungan makna secara repetisi, sinonimi, antonimi, hiponimi, kohiponimi, meronimi, dan komeronimi untuk mengungkapkan kohesi leksikal. Pada tataran wacana, makna tekstual diungkapkan dengan rajutan leksikal, jalinan referensi, akumulasi penataan Tema-Rema pada tingkat klausa, Hiper-tema/Hiper-rema pada paragraf, dan struktur teks. Makna tekstual pada tingkat wacana sesungguhnya adalah persoalan bagaimana sebuah teks itu ditata dan dimediakan sehingga tercipta sebagaimana wujudnya.

Dalam hal tematisasi pada tataran klausa, Tema yang paling dominan pada teks-teks tersebut adalah Tema Topikal Tak Bermarkah, disusul Tema Tekstual dan Tema Topikal Bermarkah yang kesemuanya mengungkapkan kekohesifan yang cukup tinggi pada tataran klausa. Pada tataran wacana, tematisasi direalisasikan oleh pola pengembangan topik (dalam hubungan Tema Rema dan Hiper-tema Hiper-rema).

Dalam hal rajutan leksikal, terbukti bahwa rajutan leksikal merealisasikan makna tekstual melalui berbagai variasi hubungan makna (yang meliputi repetisi, sinonimi, antonimi, hiponimi, kohiponimi, meronimi, dan komeronimi). Hubungan

(44)

tersebut menunjukkan tidak saja cakupan pokok persoalan yang disajikan secara ideasional tetapi juga kerekatan di antara leksis-leksis tersebut secara tekstual. Kerekatan leksis dalam berbagai variasi hubungan semantis tersebut menunjukkan bahwa teks-teks tersebut memiliki derajat kohesi leksikal yang cukup tinggi pada tataran wacana. Di dalam hal jalinan referensi, terbukti bahwa jalinan referensi berfungsi untuk mengidentifikasi partisipan yang ada di dalam teks menurut sistem pengacuan. Secara tekstual, pengacuan pada jalinan referensi dapat mencerminkan derajat kekohesifan teks. Sebagian besar partisipan pada teks-teks tersebut adalah partisipan benda umum, bukan partisipan benda manusia. Selain itu, benda yang disebut sesudahnya bukan selalu merupakan benda yang disebut sebelumnya. Hal ini menunjukkan makna bahwa benda-benda yang dimaksud adalah benda-benda yang memenuhi konsep generalitas, yaitu benda-benda yang sudah diabstrakkan untuk menyatakan generalisasi, bukan benda-benda yang secara eksperiensial berada di sekitar manusia. Secara tekstual, cara pengacuan di atas lebih berorientasi kepada makna tekstual pada tataran wacana.

2.4.4.1 Fungsi Ideasional 2.4.4.1.1 Fungsi Eksperensial

Di dalam fungsi eksperensial, bahasa terdiri dari enam proses yaitu proses material, verbal, mental, relasional, perilaku, dan wujud. Setiap proses didampingi oleh partisipan yang direalisasi oleh nomina atau grup nomina. (Sinar, 2008:31-37; dan lihat juga, Saragih, 2006:28-41).

(45)

(1) Proses material adalah proses yang melibatkan kegiatan fisik, seperti mendorong, mengangkat dan berlari. Proses material didampingi oleh dua partisipan utama yaitu aktor dan gol. Partisipan lain yang dapat mendampingi proses material adalah jangkauan dan penerima. Contohnya:

Pemerintah membangun gedung sekolah ini.

Aktor Proses Material Gol

(2) Proses verbal berada di antara proses mental dan realsional dan proses ini melibatkan informasi misalnya berkata, bertanya, menyapa. Partisipan dalam proses verbal adalah penyampai, pesan, target, dan penerima. Contohnya:

Turis itu bertanya kepada saya suatu alamat

Penyampai proses verbal penerima target

(3) Proses mental adalah proses yang berkaitan dengan indera, kognisi, emosi dan persepsi misalnya melihat, mencintai, dan berpikir. Partisipan dalam proses mental adalah pengindera dan fenomenon. Contohnya:

Para ilmuwan tersebut mengamati kelinci percobaan tersebut

Pengidera proses mental fenomenon

(4) Proses relasional adalah proses hubungan antarunit bahasa yang terbagi atas hubungan intensif, hubungan sirkumstan, dan hubungan posesif. Ketiga hubungan ini dibagi atas mode intensif (posisi kedua entitas dapat saling dipertukarkan) dan atribut (posisi kedua entitas tidak dapat saling dipertukarkan). Partisipan dalam proses relasional terdiri atas bentuk, nilai, penyandang, dan atribut. Hubungan intensif menunjukkan hubungan satu entitas dengan entitas yang lain, seperti:

ayahnya (adalah) seorang dokter

(46)

Hubungan sirkumstan menunjukkan hubungan satu entitas dengan lingkungan yang terdiri atas lokasi (waktu, tempat, urut), sifat, peran atau fungsi, penyerta dan sudut pandang, seperti:

Ulang tahunnya (adalah) tanggal 15 Februari

Penanda proses relasional nilai (sirkumstan: waktu) Hubungan posesif menunjukkan kepunyaan, misalnya:

Tanah itu (adalah) milik kami

Milik proses relasional pemilik

(5) Proses perilaku (behavioural) merupakan aktivitas atau kegiatan fisiologis yang menyatakan tingkah laku fisik manusia. Secara semantik, proses tingkah laku terletak di antara proses material dan mental. Partisipan dalam proses ini adalah petingkah laku. Proses ini ditandai dengan verba bernafas, batuk, pingsan, tidur, tertawa, dan sebagainya. Contohnya:

Anak itu telah tidur dengan nyenyak

Petingkah laku proses tingkah laku sirkumstan

(6) Proses wujud (eksistensial) menunjukkan keberadaan satu entitas. Secara semantik proses wujud berada di antara proses material dan relasional. Partisipan dalam proses wujud (eksistensial) ini adalah maujud (eksisten) Proses ini ditandai oleh verba ada, berada, muncul, terjadi, bertahan, tumbuh, dan tersebar. Contohnya:

Ada banyak nasabah di bank itu.

Proses wujud maujud sirkumstan

2.4.4.1.2 Fungsi Logika

(47)

atau lebih dari satu klausa yang disusun berdasarkan hubungan logis berdasarkan posisi antarklausa dan makna antarklausa. Posisi antarklausa mengacu pada status satu klausa dengan klausa lainnya yang disebut taksis. Sedangkan makna antarklausa menunjukkan arti atau fungsi satu klausa dengan klausa yang mendahuluinya yang dimaksud dengan hubungan logis semantik.

Taksis terbagi atas parataksis (hubungan klausa yang setara ditandai dengan angka 1,2,3...n) dan hipotaksis (hubungan klausa yang tidak setara yang ditandai dengan α, β, χ, δ ). Hubungan logis semantik menunjukkan makna yang timbul antar klausa dan dibagi dua yaitu ekspansi dan proyeksi. Ekspansi menunjukkan bahwa klausa kedua memperluas makna klausa pertama dengan tiga cara yaitu elaborasi, ekstensi, dan ganda sedangkan proyeksi merupakan representasi kembali pengalaman linguistik ke pengalaman linguistik lain.

Dari tabel berikut ini dapat diketahui bahwa parataksis menunjukkan kesetaraan hubungan dua klausa. Sebaliknya, hipotaksis menunjukkan ketidaksetaraan hubungan dua klausa. Elaborasi menunjukkan makna klausa pertama sejajar/setara dengan makna klausa kedua. Ekstensi berarti makna klausa kedua menambah makna yang ada pada klausa pertama. Ganda berarti makna klausa kedua melipatgandakan makna yang ada pada klausa pertama. Proyeksi lokusi menunjukkan proyeksi kata sedangkan proyeksi ide menunjukkan proyeksi makna.

Figura 2.13: Hubungan Logis dan Taksis (Adaptasi dari Halliday, 1994:216-220)

(48)

Semantik Parataksis Hipotaksis Elaborasi (=) Anak itu buta; dia tidak

bisa melihat apa-apa. 1=2

Anak itu buta, yang sangat menyusahkan kami

α = β Ekstensi (+) Ayahnya bekerja di

Medan dan ibunya bekerja di Surabaya

1+2

Ayahnya bekerja di Medan sedangkan ibunya bekerja di Surabaya

α + β Ekspansi

Ganda (x) Dia sedang marah dan karena itu dia pergi

1x 2

Dia pergi karena dia marah

α x β Lokusi (“) Dia berkata, “aku akan

pergi.” 1”2

Dia mengatakan bahwa dia akan pergi

α ” β Proyeksi

Ide (‘ ) He thought, “I’ll go now.”

1’2

Dia berpendapat dia harus pergi

α ’ β

2.4.4.2 Fungsi Antarpersona

Setelah dijelaskan fungsi memaparkan (fungsi ideasional) yang mencakup fungsi eksperensial dan logika, maka berikut ini dijelaskan fungsi kedua bahasa yaitu memaparkan pengalaman atau disebut fungsi antarpersona. Fungsi antarpersona adalah fungsi bahasa yang mampu mempertukarkan pengalaman dalam interaksi sosial. Fungsi antarpersona merupakan aksi yang dilakukan pemakai bahasa dalam saling bertukar pengalaman linguistik. Dengan kemampuan berinteraksi sosial, maka manusia dapat memenuhi kebutuhannya. Dalam melakukan suatu aksi maka dari segi

Gambar

Figura 2.2: Klasifikasi Tema Berdasarkan Komplesitas dan Kebermarkahannya  Kompleksitas  Tunggal Majemuk  Tunggal –  Bermarkah  Majemuk – Bermarkah Kebermarkahan: Bermarkah
Figura 2.3: Klasifikasi Eksistensi Translasi  Translasi
Figura 2.5 Dinamika Translation (Newmark, 1988:4)  9 The truth (the facts of the matter)
Figura 2.6 Proses Translasi Model Larson (Diadaptasi dari Choliludin, 2007:31)
+7

Referensi

Dokumen terkait

Guru yang mengajar di sana bisa dikatakan relawan karena guru yang mengajar disekolah tersebut tidak meminta imbalan apapun karena sumber dana yang diterima yayasan untuk

Tujuan dilakukan penelitian ini adalah untuk mengetahui berapa proporsi pasien hipertensi di poli ginjal hipertensi RSUP Haji Adam Malik Medan yang menderita

Abu Batubara Arang sekam

Untuk tujuan ini, baik Fakultas maupun Sekolah menyediakan sumber daya akademik maupuan sumber daya pendukung akademik (laboratorium, studio, perpustakaan), bukan

Pada periode pertama pengaruh variabel PP bernilai 100 persen dan di periode selanjutnya menurun, akan tetapi penurunannya tidak begitu besar yaitu berada di rata-rata 94

kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia dan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan serta dengan

keterampilan pengelolaan kelas dalam upaya meningkatkan motivasi belajar IPA Terpadu siswa kelas VIIA SMP Unismuh Makassar dapat disimpulkan bahwa : setelah dilakukan

11 Menurut Chairunnisa (2010) dalam pelitiannya dengan judul Hubungan kenaikan berat badan, lingkar lengan atas, dan kadar hemoglobin ibu hamil trimester III dengan