NILAI PENDIDIKAN ISLAMI DALAM NOVELJIWA-JIWA
BERCAHAYAKARYA WAHYUDI ASMARAMANY
Ferry Fauzi
Mahasiswa Magister Pendidikan Bahasa Indonesia
Abstak: Sastra merupakan sebuah luapan emosional seseorang yang dituangkan melalui media lisan maupun tulisan dengan menggunakan bahasa yang indah, serta mampu memberikan perubahan tingkah laku, emosional dan pola piker terhadap pembaca. Pada dasarnya karya sastra mendeskripsikan fenomena dalam masyarakat yang berkaitan langsung dengan nilai pendidikan islami. Tujuan pendidikan islami adalah membentuk kepribadian sebagai khalifah Allah yang mampu memepersiapkan diri untuk beriman kepada Allah serta tunduk dan patuh dengan totalitas. Hal tersebut memberikan bukti bagi masyarakat bahwa karya sastra bisa dijadikan tolok ukur dalam menjalani kehidupan.
Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif pustaka, teknik analisis yang digunakan meliputi, (1) identifikasi data dilakukan untuk menemukan data, (2) klasifikasi data yaitu mengelompokkan data berdasarkan objek kajian, (3) deskripsi data yaitu menggambarkan kejadian pada data, dan (4) interpretasi data yaitu menafsirkan data temuan. Hasil dari penelitian ini bisa diimplementasikan dalam pembelajaran sastra sehingga, guru mampu menyatukan penanaman karakter nilai pendidikan islami terhadap siswa dengan materi nilai pendidikan islami dalam novel. Kata-kata kunci :pendidikan islami, novel jiwa-jiwa bercahaya
PENDAHULUAN
Karya sastra merupakan hasil imajinasi seseorang melalui proses kontemplasi sehingga mampu menghasilkan sebuah kreatifitas yang sangat estetis melalui medium bahasa, dimana objeknya adalah manusia dan kehidupan. Karya sastra sebagai hasil imajinatif, berfungsi sebagai hiburan yang bisa megubah suasana hati bagi pembaca.
Pengarang menciptakan karya sastra untuk mengenalkan kehidupan yang terjadi dimasyarakat. Bentuk kehidupan dimasyarakat bisa berupa nilai pendidikan agama, khususnya
agama Islam yang kemudian dituangkan dalam karya sastra. Hal ini sejalan dengan pendapatnya Plato (dalam Teeuw 2013:69) Karya merupakan memesis atau peniruan terhadap kenyataan. Hal tersebut sering dijadikan sebuah bahan oleh pengarang untuk menciptakan sebuah karya sastra yang baru. Kenyataannya banyak karya sastra yang isinya mengangkat dari kehidupan nyata. Baik kenyataan tersebut dialami sendiri oleh pengarang maupun dialami oleh orang lain.
dituangkan melalui media lisan maupun tulisan dengan menggunakan bahasa yang indah. Bahasa yang indah dalam karya sastra mampu menimbulkan efek positif bagi pembaca. Karya sastra yang baik harus memberikan faedah yang berguna bagi pembaca. Artinya pembaca tidak hanya memperoleh hiburan saja tetapi pembaca dapat memperoleh faedah atau pelajaran yang bisa diaplikasikan dalam kehidupan nyata.
Manusia dengan karya sastra tidak bisa dipisahkan dan merupakan kesatuan yang utuh, yang keduanya saling membutuhkan. Promlematika yang dialami manusia adalah sumber inspirasi bagi pengarang untuk menuangkan aspirasinya dalam karya sastra. Dengan ini maka dipastikan bahwa tanpa adanya manusia, kemungkinan besar sastra juga tidak akan ada. Kesimpulannya adalah karya sastra tidak dapat terlepas dari manusia, baik manusia sebagai pengarang, manusia sebagai objek kajian sastra dan manusia sebagai konsumen sastra itu sendiri.
Karya sastra memilki tiga jenis (genre) sastra yaitu. Prosa fiksi, puisi, dan drama. Salah satu jenis prosa fiksi adalah novel. Novel merupakan jenis karya sastra yang paling banyak beredar dimasyarakat lantaran daya komunikasi yang mampu memikat perhatian masyarakat untuk membacanya.
Menurut Leeuwen (dalam Supratman, 2009:3) Novel merupakan suatu cerita yang bermain dalam dunia manusia dan benda yang ada disekitarnya.
Menurut Ratna (2005:15) Novel sebagai karya sastra membangun dunia melalui dunia
kata-kata, sebab kata-kata memiliki energi. Energi itulah yang membentuk citra tentang dunia tertentu, yaitu dunia dalam kata-kata yang menceritakan tentang kehidupan manusia.
Novel yang baik adalah novel yang isinya mampu memanusiakan pembaca, lantaran novel tersebut dapat membina pembaca menjadi manusia yang yang lebih baik dari sebelumnya, sehingga pembaca mengalami perubahan baik dari segi emosional, perasaan, tingkah laku, pola pikir dan lain sebagainya.
Novel religius adalah cerita yang di dalamnya sarat dengan nuansa keagamaan dan pendidikan yang bisa dijadikan inspiratif bagi pembaca. Pendidikan merupakan suatu hal yang sangat vital dalam kehidupan manusia karena pendidikan dapat menjadikan manusia beriman dan bertakwa kepada tuhan yang maha Esa, berakhlak mulia, berilmu dan mandiri.
Manusia sangat butuh terhadap pendidikan terutama penddidikan Islami yang bertujuan untuk membentuk kepribadian sebagai khalifah Allah yang mampu memepersiapkan diri untuk beriman kepada Allah serta tunduk dan patuh dengan totalitas.
Ruang lingkup pendidikan Islam mencakup tiga hal yaitu: (1) aqidah, (2) syariah, dan (3) aklhak.
2.Syari’ah adalah ketetapan Allah untuk hambanya yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. 3. Akhlak mencakup tingkah laku
kehidupam manusia sehari-hari yang bertjuan untuk menentramkan manusia, semua pekerjaan manusia sehari-hari menurut Islam ada tata caranya semua, tergantung manusia apakah mau mengaplikasikan atau tidak, dengan demikian tata cara pola hidup dalam Islam sangat kompleks.
Novel Jiwa-jiwa Bercahaya termasuk jenis novel religius yang disinyalir menggambarkan nilai pendidikan Islami.
Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini untuk memberikan bukti bagi masyarakat bahwa karya sastra bisa dijadikan tolak ukur dalam menjalani kehidupan dan dapat di implementasikan dalam pembelajaran sastra di sekolah.
MANFAAT PENELITIAN
Hasil penelitian sastra ini dapat dimanfaatkan sebagai (1) bahan acuan bahwa karya sastra mencerminkan nilai pendidikan Islami yang patut ditiru, (2) Alternatif dalam mengimplementasikan pembelajaran sastra agar tujuan pembelajaran tercapai secara maksimal, (3) Penyatuan penanaman karakter nilai pendidikan islami dengan materi nilai pendidikan islami dalam novel, dan (4) Bahan apresiasi dalam dunia sastra, dan dijadikan acuan untuk penelitian selanjutnya.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan pendekatan sosiologis dan metode yang digunakan adalah hermeneutik.
Menurut Ratna (2005:59) pendekatan sosiologis menganalisis manusia dalam masyarakat, dengan proses pemahaman dari masyarakat ke individu. pendekatan sosiologis menganalisis hunungan hakiki karya sastra dengan masyarakat, disebabkan oleh: (a) karya sastra dihasilkan oleh pengarang,(b) pengarang itu sendiri adalah anggota masyarakat, dan (c) hasil karya sastra itu dimanfaatkan kembali oleh masyarakat
Menurut Endraswara, (2013:74) Hermeneutik ialah metode untuk memahami teks yang diuraikan dan diperuntukkan bagi penelaah teks karya sastra. Hermeneotik cocok untuk membaca karya sastra karena dalam penelitian sastra, apapun bentuknya, berkaitan dengan suatu aktifitas yakni interpretasi (penafsiran).
Menurut Endrawarsa, (2006:45) hermeneotik menekanakan pada empat langkah dalam penelitian, yaitu (1) menentukan arti langsung yang primer, (2) bila perlu menjelaskan arti implisit, (3) menentukan tema, dan (4) memperjelas maksud-maksud simbolis.
Kehadiran peneliti dalam penelitian ini adalah alat penelitian yang utama, walaupun spesifikasi data yang diperlukan telah ditetapkan sesuai dengan tujuan penelitian mementingkan deskripsi dan interpretasi.
dari bulan maret sampai dengan bulan juni 2016.
Penelitian ini berfokus pada nilai pendidikan islami dalam novel Jiwa-Jiwa Bercahaya karya Wahyudi Asmaramany. dan lebih khusus meneliti nilai Akhlak dan syariah dalam novel Jiwa-Jiwa Bercahaya karya Wahyudi Asmaramany.
Sumber data dalam penelitian ini adalah novel jiwa-jiwa bercahaya karya wahyudi asmaramany, dengan jumlah halaman 336, dan diterbitkan oleh DIVA Press.
Pengumpulan data merupakan serangkaian proses yang dilakukan sesuai dengan metode penelitian yang dipergunakan. (Uhar suharsaputra, 2012:207). Tekhnik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah teknik observasi dan teknik dokumentasi.
Teknik observasi adalah teknik mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkrip buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat, leger, agenda, dan sebagainya. Alasan digunakannya teknik. dokumentasi dalam penelitian ini karena data yang akan dianalisis berupa novel novel Jiwa-jiwa BercahayaKarya Wahyudi.
Teknik dokumentasi adalah penulisan data temuan dalam tabel pengumpulan data sesuai dengan klasifikasi data penelitian. Adapun data dalam penelitian ini berupa kata, kalimat, dan dialog dalam teks yang mengandung nilai pendidikan islam.
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi empat tahap yaitu: identifikasi data, klasifikasi data, deskripsi data dan, interpretasi data.
Ada tiga teknik dalam pengecekan keabsahan data. (1)
memperpanjang masa pengamatan hal ini dapat meningkatkan kepercayaan data yang dikumpulkan dan untuk membangun kepercayaan para respoden terhadap peneliti dan juga kepercayaan diri peneliti. (2) pengamatan yang terus menerus, hal ini dilakukan untuk untuk menemukan ciri-ciri dan usur yang sangat relevan dengan penelitian, serta memusatkan diri pada penelitan agar lebih rinci. (3) Triangulasi adalah teknik membandingkan data yang diperoleh dengan sumber data dan pengamat lain.
Untuk memperoleh keabsahan data maka peneliti membaca novel secara terus menerus dan menemukan ciri yang relevan dengan indikator.
Tahapan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini melalui tiga tahap, yaitu: (1) Tahap persiapan, (2) Tahap pelaksanaan, dan (3) Tahap penyelesaian. Langkah-langkah dari ketiga tahapan tersebut sebagai berikut:
Dalam tahap persiapan ini terdapat beberapa langkah yang dilakukan: (a) Menentukan judul penelitian, (b) Penyusunan proposal, (c) Melakukan kajian pustaka yang relevan, (d) Menentukan data berdasarkan fokus kajian, dan (e) Melakukan bimbingan kepada dosen pembimbing.
Tahap pelaksanaan meliputi: (a) Membaca dan memahami isi novel novel Jiwa-jiwa Bercahaya Karya Wahyudi Asmaramany, (b) Mengklasifikasikan data, dan (c) Menganalisis data dan mendeskripsikan secara kualitatif.
HASIL PENELITIAN
Berdasarkan apresiasi terhadap novel jiwa-jiwa bercahaya didalamnya terkandug Nilai Pendidikan Islamdalam bidang bidang (1) ibadah, (2) akhlak kepada Allah, (3) akhlak kepada keluarga, (4) akhlak kepada orang lain dan (5) akhlak kepada diri sendiri.
Ibadah
Ibadah merupakan kebutuhan bagi setiap manusia, karena dengan beribadah bisa membawa ketenangan jiwa dan kejernihan fikiran. Aspek ibadah yang terdapat dalam novel Jiwa-Jiwa Bercahaya Karya Wahyudi Asmaramany adalah. melaksanakan shalat sunnah dan wajib, melaksanakan shalat berjemaah, mengaji, tersenyum ketika bertemu dengan teman, tidak memandang wajah wanita yang bukan mahrom, tidak berjabat tangan dengan wanita yang bukan mahrom, meminta izin sebelum menggunakan barang milik orang lain dan bersuci.
Melaksanakan shalat adalah wajib hukumnya bagi orang yang beriman karena hal tersebut merupakan perintah Allah dalam Al-qur’an (S. Al-Baqaroh: 43) yang artinya :
”Dan dirikanlah shalat, dan keluarkanlah zakat dan tunduklah/rukuk bersama orang-orang yang pada rukuk” (S. Al-Baqaroh: 43).
Kutipan diatas menjadi landasan Faris dalam mengerjakan shalat sehari-hari sebagai suatu kewajiban yang tidak boleh ditinggalkan karena apabila ditinggalkan akan mendapatkan dosa.
Menurut Mahfud (2011:25) shalat bagi setiap muslim merupakan kewajiban yang tidak pernah berhenti
dalam kondisi apa pun, sepanjang akalnya sehat. Sekalipun demikian, ada kalanya seorang muslimah tidak diperkenankan shalat yakni pada saat-saat tertentu seperti ketika sedang haid dan nifas sampai ia suci.
Shalat yang Faris lakukan tidak hanya terbatas pada yang bersifat wajib namun juga bersifat sunnah seperti shalat istikharah. Hal tersebut dilakukan untuk memperoleh petunjuk atas kebimbangan pada dirinya.
Menurut Rifa’i, (2010:93) Shalat istikharoh ialah shalat sunnah dua raka’at untuk memohon kepada Allah ketentuan pilihan yang lebih baik dianatara dua hal yang belum dapat ditentukan baik dan buruknya. Yakni apabila seseorang berhajat dan bercita-cita akan mengerjakan sesuatu maksud, sedang ia ragu-ragu dalam pekerjaan atau maksud itu, apakah dilakukan terus atau tidak. Maka untuk memilih salah satu dari dua hal diteruskan atau tidak, disunnahkan shalat istikharah dua raka’at.
Mengaji adalah hal yang biasa lakukan oleh Faris sejak kecil karena ayahnya sudah mengajarinya mengaji sedari lahir, bahkan Faris menganggapnya sebagai kewajiban karena memberikan dampak yang luar biasa. Hal ini yang menjadikan Faris tumbuh dibarengi dengan mengamalkan isi yang ada di dalam Al-quran. Membaca Al-quran akan mendapatkan dampak yang positif diantaranya, menjadikan manusia lebih baik, memberikan ketenangan dan kedamaian, membersihkan penyakit hati dan mendapatkan pahala yang banyak.
meskipun sangat kecil maka dilakukan oleh Faris, seperti halnya tersenyum terhadap orang lain yang nomuslim. Rasulullah Saw. bersabda
“Janganlah engkau meremehkan kebaikan sekecil apapun, walaupun itu berupa cerahnya wajahmu terhadap saudaramu.” (HR. Muslim).
Berdasarkan hadis diatas sangat logis apabila Faris sering tersenyum ketika sedang berkomunikasi karena disamping hal tersebut menjauhkan dari arah kemarahan yang memicu permusuhan juga menecegah terhadap kerasnya hati.
Senyummu didepan saudaramu adalah sedekah(HR, At-tirmidzi)
Dari hadis di atas senyuman dapat memengaruhi penampilan seseorang sehingga orang merasa lebih dihargai, raut wajah seseorang mampu mencerminkan suasana hati yang sedang dirasakan, maka tidak jarang senyum digunakan untuk memikat perhatian orang lain.
Senyum merupakan sedekah karena membuat orang yang tersenyum menjadi indah dan enak dilihat, senyum juga mampu membuat orang lebih awet muda dan senyum juga bisa menjauhkan dari penyakit strouk.
Saling berpandangan terhadap lawan jenis yang bukan mahrom merupakan hal yang biasa dilakukan oleh masyarakat luas, namun bagi Faris hal tersebut adalah hal yang tidak biasa dilakukan karena hal tersebut dilarang. Sebagaimana dalam hadis Rasulullah Saw.
Dua mata berzina, dan zina keduanya adalah pandangan (HR. Abu Huroiroh r.a)
Persamaan zina pada pandangan mata terhadap hal-hal yang haram merupakan dalil yang sangat jelas atas haramnya hal tersebut, dan peringatan keras atas bahaya yang akan ditimbulkan. Hal itulah dihindari oleh Farah dan Faris ketika bercakap-cakap karena hal tersebut dapat berkibat fatal, apalagi dibarengi dengan syahwat maka hasilnya akan dapat menjerumuskan kedalam hal yang lebih bahaya. Allah juga berfirman dalam Al-qur’an surat Annur ayat 30 yang artinya.
Katakana kepada orang laki-laki yang beriman ” hendaknya mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluanya; yang demikian itu lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah maha mengetahui apa yang mereka perbuat.”
Makna yang tersurat dalam ayat diatas adalah mempertegas bahwa memandang wanita yang bukan haknya akan menimbulkan nasfsu birahi yang menyebabkan kesenangan sesaat tapi mengakibatkan kesengsaraan berkepanjangan menjurus pada perbuatan perzinahan, pandangan awal diperbolehkan tapi pandangan yang selanjutnya merupakan larangan sebagaimana dalam hadis yang artinya.
” Hai Ali, janganlah kamu terus memandang wanita. Pandangan pertamamu adalah bagimu, tetapi tidak untuk yang kedua kalinya dan seterusnya” ( H.R Turmudi dari Ahmad).
tangan, kecuali yang sesama muhrim. Karena hal tersebut dilarang oleh agama. sebagaiman hadis Rasulullah Saw.
Tidak pernah sekali-kali rasulullah Saw menyentuh tangan seorang wanita yang tidak halal baginya. (HR. Bukhari dan Muslim).
Berdasarkan hadis diatas maka haram hukumnya saling berjabat tangan laki-laki dengan perempuan yang bukan mahrom karena Rasulullah tidak pernah mencontohkan hal yang demikian.
Ditusuknya kepala seseorang dengan pasak dari besi, sungguh lebih baik baginya daripada menyentuh wanita yang bukan mahromnya (HR. Tabrani)
Berdasarkan analogi hadis diatas maka sangatlah dilarang bersentuhan atau berjabat tangan tangan laki-laki dengan perempuan yang bukan mahrom. Maka sangat bijak Faris ketika berkenalan dengan aini tanpa berjabat tangan, dan hal tersebut menunjukkan tertanamnya jiwa islami dalam diri Faris.
Dalam kehidupan sehari-hari Faris selalu berwudhuk baik ketika akan melaksanakan shalat atau hanya untuk membersihkan muka dari debu dan kotoran. Dari kebiasan tersebut mencermin bahwa diri Faris memilki kebiasaan hidup bersih dan sehat. Allah berfirman dalam Al-qur’an yang artinya.
” Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu (basuh) kakimu sampai kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat
buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur.”(QS. Al-maidah [5]:6)
Ayat diatas mewajibkan seorang muslim untuk membersihkan diri sebelum melaksanakan shalat, karena shalat merupakan interaksi langsung kepada Allah yang didalamnya dibutuhkan kesopanan dengan cara membersihkan diri berbagai kotoran yang melekat pada tubuh.
Menurut Mahfud (2011:24). Suci dari kotoran atau najis dan hadas. Suci dari najis artinya menghilangkan najis, baik najis yang melekat pada badan, Pakaian dan tempat dengan alat penghilang najis seperti air, tanah, batu, daun, kertas atau alat lain yang secara syariat diperbolehkan. Sedangkan bersuci dari hadas artinya menghilangkan hadas kecil dengan cara berwudu dan menghilangkan hadas besar dengan mandi janabat (mandi wajib karena bersetubuh, keliar mani dan selesai haid atau nifas).
karena sama halnya dengan merampas hak orang lain sebagaimana firman Allah.
Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri. Potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dam Allah maha perkasa lagi maha bijaksana. (Q.S. Al-maidah [5]: 38).
Berdasarkan ayat diatas maka sangat benar tindakan yang dilakukan oleh Enggo, dan apabila dilakukan akan mendapatkan hukuman dari Allah. Sedangkan bagi pemilik akan menimbulkan sebuah kerugian. Hal ini bukan hanya diaplikasikan dalam kehidupannya namun juga dinasehatkan terhadap teman-temannya ketika akan mengerjakan sesuatu yang bisa merugikan orang lain.
Akhlak kepada Allah
Akhlak kepada Allah diwujudkan dengan berzikir kepada Allah, berdoa, dan selalu mensyukuri atas segala nikmat yang diberikan oleh Allah tanpa mengeluh sedikitpun.
Berzikir adalah hal yang selalu dikerjakan oleh Faris dan keluarganya setelah selesai melaksanakan shalat, memperbanyak dzikir dapat melapangkan pintu rezeki, mendapatkan ketenangan jiwa dan menyadari kesalahan diri kepada Allah.
Menurut Mahfud (2011:99) Berzikir kepada Allah adalah mengingat Allah SWT. dalam berbagai situasi (lapang, sempit, senang, susah) merupakan wujud akhlak kepada-Nya. Dia menyuruh orang mukmin untuk berzikir kepada-Nya dengan sebanyak-banyaknya.
Dengan berzikir manusia akan mendapatkan ketenangan.
Zikir yang dilakukan oleh Faris dan keluarganya dapat dijadikan sebagai jalan mengingat dan mendekatkan diri kepada Allah, ketika seseorang dekat dengan Allah maka apa yang ia inginkan akan dimudahkan oleh Allah, karena Allah sangat menyukai orang yang mendekatkan diri pada-Nya.
Berdoa adalah hal yang selalu lakukan setiap waktu dengan tujuan memohon agar keinginannya dikabulkan oleh Allah, hal inilah yang dilakukan oleh Faris beserta keluarganya setiap selesai shalat, maupun diluar waktu shalat.
Menurut Mahfud (2011:100) berdoa atau memohon kepada Allah SWT. sesuai dengan hajat harus dilakukan dengan dengan cara sebaik mungkin, penuh keikhlasan, penuh keyakinan bahwa doanya akan dikabulkan oleh Allah SWT..
Berdasarkan pendapat diatas doa harus dilakukan dengan khusuk dan penuh keyakinan bahwa doa akan dikabulkan oleh Allah. Menurut Aizid (2014:155) janji Allah adalah pasti, tidak pernah ada yang meleset walau satu detik. Allah berjanji akan mengijabah setiap doa, maka janji itu pasti terjadi. Hanya saja, doa kita diijabah bukan sesuia dengan keinginan kita, tetapi sesuai dengan keinginan Allah.
kepada Allah hakikatnya bersyukur kepada diri sendiri, karena manfaat yang besar akan kembali kepada yang bersangkutan.
Faris selalu mensyukuri terhadap nikmat dan karunia yang Allah berikan baik berupa makanan dan minuman yang yang kurang pas dengan seleranya, berupa keselamatan dalam perjalanan dan diberikan berupa kesembuhan dari sakit, hal ini yang menjadi cerminan kepribadian Faris. Hal tersebut dilakukan berdasarkan
Dan (ingatkan juga), tatkala tuhanmu memaklumkan: ” Sesungguhnya bila kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikamt-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih” (Q.S Ibrahim [14]:7)
Berdasakan ayat diatas maka sangat wajar apabila Faris selalu bersyukur terhadap nikmat yang Allah berikan, karena hal tersebut endingnya akan kembali kepada dirinya yang akan merasakan terhadap nikmat dari syukur tersebut. Akhlak kepada Keluarga
Akhlak kepada keluarga adalah input bagi anggota keluarga agar memiliki kepribadian dan tingkah laku yang sesuai dengan tuntunan islam. Akhlak kepada keluarga digambar oleh ayah dan ibu Faris dengan memberikan nasehat dan motivasi, saling menghargai, meminta maaf dan memberikan maaf serta memberikan nafkah batin.
Memberikan nasehat dan motivasi adalah gambaran dari keluarga Faris yang penuh dengan nuansa islami, hal tersebut dilakukan agar kelak anggota keluarganya
menjadi orang yang bermanfaat bagi agama dan bangsa.
Ketika istri Rasulullah berbuat hilaf, segera beliau meluruskannya. Tatkala istri-istri beliau malas beribadah , beliau segera memotivasi dengan menyampaikan janji-janji Allah bagi orang-orang yang rajin beribadah. (Salamulloh 2008:4).
Hal diatas menjadi gambaran akan pentingnya Memberikan nasehat dan motivasi dalam keluarga agar anggota keluarga tidak melakukan hal-hal yang menyimpang dari syariat islam, serta menjadi tanggung jawab bersama untuk saling meningkatkan ketakwaan kepada Allah.
Saling menghargai dalam keluarga digambarkan oleh Faris ketika lulus seleksi beasiswa kuliah di Al-Azhar khairo, namun ayahnya memintanya untuk mondok di Pesantren Rahamatullah selama lima tahun, karena ayahnya sudah berjanji kepada pengasuh Pesantren akan memondokkan anaknya kelak ketika lulus sekolah. Keputusan yang diambilnya adalah menghargai permintaan ayahnya, ini mencerminkan sikap menghargai
permintaan orang dan
membahagiakan orang tua.
Meminta maaf dan memberikan maaf adalah kebiasaan yang terjadi dalam keluarga Faris dengan tujuan agar permasalahan yang ada cepat terselesaikan dan dapat menikmati indahnya keluarga tanpa masalah.
“Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah oang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang yang bodoh. (Q.S Al-A’raaf [7]199)”
Berdasarkan ayat diatas maka memberikan maaf lebih mulia ketimbang meminta maaf karena menghilang perasaan yang sakit meskipun membutuhkan waktu yang sangat lama untuk melupakannya, Sementara meminta maaf adalah kesadaran diri terhadap kesalahan yang diperbuat. Maka meminta maaf lebih mudah untuk dikerjakan ketimbang memberikan maaf.
Memberikan nafakah adalah kewajiban seoarang suami terhadap istri dan keawajiban istri terhadap suami baik nafkah lahir maupun batin . hal tersebut digambarkan oleh Anisa yang segera menyerah dirinya untuk dinafkahi secara batin oleh Faris.
Menurut Salamulloh (2008:21) Maksud bersegera memenuhi kebutuhan suami adalah apabila suami menghajatkan sesuatu yang berkaitan dengan kebutuhan kemanusiaan, hendaknya sang istri segera memenuhinya. Misalnya, jika suami perlu makan, maka istri mrnyediakannya. Apabila suami perlu minum, istri bergegas mengambilkannya, dan kebutuhan-kebutuhan manusiawi lainnya. Terutama ketika sang suami mengajak istrinya melakukan hubungan seksual, hendaknya segera mempercantik diri dan memenuhi ajakan suaminya.
Annisa segera menyerahkan dirinya sebagai tanda pengabdian istri terhadap suami serta untuk segera menikmati indahnya surga dunia yang telah Allah ciptakan untuk seluruh ummatnya.
Akhlak kepada Diri Sendiri
Akhlak kepada diri sendiri adalah tidak menjerumuskan diri sendiri kedalam kerusakan organ tubuh dan kerusakan jiwa yang dapat memicu kerugian bagi diri sendiri. Hal ini digambarkan oleh Faris dengan cara melawan hawa nafsu pada dirinya dan tidak berprasangka buruk terhadap orang lain.
Watak hawa nafsu senag bermalas-malasan, menganggur dan menuruti syahwat meskipun dalam keadaan sadar, yang dapat mencelakakan diri sendiri. Tindakan melawan hawa nafsu digambarkan oleh Faris ketika hari minggu libur ia tetap bekerja meskipun ableh menyarankannya untuk istirahat, karena bermalas-malasan dalam bekerja akan merugikan dirinya. Allah berfirman.
“ Dan aku tidak (menyatakan) diriku bebas (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan, kecuali (nafsu) yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya tuhanku maha pengampun, Maha penyayang.” (Q.S Yusuf [12]:53)
Menurut Efferi (2009:11) Hawa nafsu berupa keinginan atau sesuatuyang diinginkan oleh manusia hanyalah keinginan kosong, sesuatu yang tidak berguna dan sia-sia. Bahkan, lebih dari itu,keinginan-keinginan hawa nafsu hampir selalu bersifat menjatuhkan spiritualitas manusia.
hawa nafsu atau dikalahkan oleh hawa nafsu.
Berprasangka buruk terhadap orang lain dapat menyebabkan kerasnya hati dan menjauhkan diri kepada Allah, sebab hal tersebut akan didasarkan pada iri hati. Berprasangka buruk sering dialami oleh Faris namun dirinya mampu mengubahnya dengan berfikir positif.
Menurut Saleh (2012:156) Pikiran positip merupakan wujud dari keyakinan kita atas kehidupan dan sang pemberi segala pertolongan yaitu Allah SWT. Semakin kita berpikir positif, berarti semakin kita memberikan kepercayaan pada Allah untuk membantu jalan kita.
Dengan berfikiran positif Faris mampu melahirkan bermacam-macam tindakan positif yang menjadikannya tamPak positif dihadapan orang lain. Dampak berfikiran positif Faris juga mampu melahirkan perkataan yang sopan dan tidak menyakiti perasaan orang lain. Akhlak kepada Orang Lain
Akhlak kepada orang lain yang dimiliki Faris diwujudkan dalam bentuk menolong sesama, saling menghormati, saling berjabat tangan sesama mahrom ketika bertemu, saling memaafkan, saling berucap dan berbalas salam ketika bertemu sesama dan saling menasehati.
Akhlak islam mengajarkan bahwa orang yang berada dalam kesusahan harus dibantu dengan semampunya. (Salamulloh 2008:98). Hal inilah yang menjadi landasan Faris dalam menolong setiap orang yang membutuhkan.
Tolong menolong dilakukan oleh Faris dengan berbagai cara diantaranya, menolong orang lain dengan ilmu, dilakukan Faris dengan
mengajari masyarakat muara kedang cara shalat yang benar. Tolong menolong dengan perkataan dilakukan Faris dengan memberikan motivasi terhadap temannya yang sedang dalam masalah. Tolong menolong dengan waktu dan tenaga dilakukan Faris dengan menolong Anisa yang terjatuh dari motor.
Sebagian dari memuliakan guru, ialah janganlah berjalan didepannya, duduk ditempat duduknya, memulai bicara kecuali mendapatkan isin darinya, banyak bicara, dan janganlah mengajukan pertanyaan, jika guru sedang dalam keadaan tidak enak, dan jagalah waktu, jangan sampai mengetuk-ketuk pintunya. Tetapi sabarlah sebentar, tunggu sampai dia keluar. (Zarnuji, :26)
Saling merhormati adalah ajaran islam yang bertujuan untuk saling menjaga kehormatan diri masing-masing dan orang lain. Saling menghormati dalam islam tidak memandang usia, baik terhadap yang lebih tua, sebaya dan yang lebih muda.
Menghormati guru dilakukan oleh Faris dengan mengucapkan salam ketika bertemu, mencium tangannya, duduk dengan sopan dihadapannya, berbicara dengan sopan dan tidak menyakiti perasaannya dan mematuhi perintahnya.
Berjabat tangan adalah kebiasaan orang islam untuk mempererat tali persaudaraan dan bisa menjadi sebab hilangnya kebencian dalam hati.
Praktik jabat tangan itu sendiri dicontohkan oleh suri teladan kita, Rasulullah saw. Ketika berjumpa dengan para sahabat, beliau terlebih dahulu mengulurkan tangan untuk berjabat tangan. Dalam berjabat tangan, beliau sering kali memandang wajah sahabatnya. Bahkan, tidak jarang beliau mendekap dan mencium pipi mereka sebagai wujud kasih sayang beliau yang mendalam. (Salamulloh 2008:207)
Berjabat tangan selalu dilakukan oleh Faris ketika bertemu dengan orang lain kecuali yang bukan muhrim, berjabat tangan dengan sesama teman bertujuan untuk memperkuat ikatan persaudaraan dan Berjabat tangan denngan guru bertujuan untuk menghargai jasa berupa ilmu yang telah diajarkan kepadanya.
Berucap salam dan berbalas salam ketika bertemu dengan sesama merupakan budaya islam yang tetap eksis dari masa ke masa, berucap salam berarti mendoakan orang yang akan menjawab, sementara menjawabnya berarti mendoakan terhadap yang mengucapkan, hubungan kausalitas ini mampu memperkuat hubungan antar sesama. Berucap salam dan mejnawabnya sangat dianjurkan oleh Allah.
” Dan apabila kamu dihormati dengan suatu (salam) penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik, atau balaslah (penghormatan itu, dengan yang sepadan) dengannya. Sungguh Allah
memperhitungkan segala sesuatu.” (Q.S. An-Nisa’ [4]: 86)
Berucap salam dan menjawab salam selalu diparaktekkan oleh Faris dan teman-temannya ketika bertemu dengan harapan dibeikan keselamatan oleh Allah dalam hidupnya, namun tidak dilakukan terhadap jes yang notabeni nomuslim karena dilarang oleh agama.
Saling menasehati adalah hal selalu dilakukan oleh Faris terhadap orang disekelilingnya ketika melakukan penyimpangan, dengan harapan orang tersebut tidak tersesat dengan indahnya dunia yang mampu membutakan hati. Memberikan nasehat juga digambarkan oleh K.H Marisie terhadap Faris agar melakukan shalat istikharoh, dengan tujuan Faris diberikan petunjuk tentang kebimbangan pada pilihannya. Allah berfirman dalam Al-Quran.
Nilai pendidikan islami dalam novel jiwa-jiwa bercahaya dapat diimplementasikan dalam pengajaran bahasa dan sastra dengan cara.
(1) menentukan KI/KD yang sesuai, misalnya, 6.2 Menemukan nilai-nilai cerita pendek melalui kegiatan diskusi. Kelas X, 15.2 Menemukan nilai-nilai yang terkandung di dalam sastra Melayu klasik kelas XI, dan 13.2 Menemukan nilai-nilai dalam cerpen yang dibacakan.
(2) menentukan jenjang, yaitu SMA (3) menentukan indikator, (4) menyusun langkah pembelajaran berdasarkan KI/KD, (5) pengembangan materi, dan (6) evaluasi pembelajaran.
SIMPULAN
Dalam penelitian berjudul Nilai Pendidikan Islami dalam Novel Jiwa-jiwa Bercahaya Karya Wahyudi Asmaramany terdapat lima hal yang dapat peneliti simpulkan berupa (1) aspek ibadah dalam novel Jiwa-Jiwa Bercahaya, (2) Akhlak kepada Allah dalam novel Jiwa-Jiwa Bercahaya, (3) Akhlak kepada keluarga dalam novel Jiwa-Jiwa Bercahaya, (4) Akhlak kepada diri sendir idalam novel Jiwa-Jiwa Bercahaya, dan (5) Akhlak kepada orang lain dalam novel Jiwa-Jiwa Bercahaya.
Aspek ibadah meliputi melaksanakan shalat sunnah dan wajib, melaksanakan shalat berjemaah, bersuci, mengaji, tersenyum ketika bertemu dengan teman, tidak memandang wajah wanita yang bukan mahrom, tidak berjabat tangan dengan wanita yang bukan mahromdan meminta izin sebelum menggunakan barang milik orang lain.
Akhlak kepada Allah meliputi berzikir kepada Allah, berdoa, dan selalu mensyukuri atas segala nikmat yang diberikan oleh Allah tanpa mengeluh sedikitpun.
Akhlak kepada keluarga meliputi memberikan nasehat dan motivasi, saling menghargai, meminta maaf dan memberikan maaf serta memberikan nafkah batin.
Akhlak kepada diri sendiri meliputi melawan hawa nafsu pada dirinya dan tidak berprasangka buruk terhadap orang lain.
Akhlak kepada orang lain meliputi menolong sesama, saling menghormati, saling berjabat tangan sesama mahrom ketika bertemu, saling memaafkan, saling berucap dan berbalas salam ketika bertemu sesama dan saling menasehati.
SARAN
Semoga hasil penelitian ini bisa dijadikan sebagai:
(1)Bahan acuan bahwa karya sastra mencerminkan nilai pendidikan Islami yang patut ditiru.
(2)Alternatif mengimplementasikan pembelajaran sastra agar tujuan pembelajaran tercapai secara maksimal.
(3)Penyatuan penanaman karakter nilai pendidikan islami dengan materi nilai pendidikan islami dalam novel.
(4)Bahan apresiasi dalam dunia sastra, dan dijadikan acuan untuk penelitian selanjutnya.
DAFTAR RUJUKAN
Aizid, Rizem. 2014. Diguyur Rezeki. Jogjakarta: DIVA Press.
Efferi, Adri. 2009. Mengakali Tuhan. Jakarta: Inti Medina.
Endawarsa. 2006. Metodologi Penelitian Sastra. Flores: Nusa Indah.
Endraswara, Suwardi. 2013. Teori Kritik Sastra. Yogyakarta: CAPS (Center for Academy Publishing Service).
Mahfud, Rois. 2011. Al-Islam Pendidikan Agama Islam. Jakarta: Erlangga.
Ratna, Nyoman Kutha. 2004. Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Rifa’i, Moh. 2010. Risalah Tuntunan Shalat Lengkap. Semarang: Karya Toha Putra.
Salamulloh. 2008. Akhlak Hubungan Horizontal. Yogyakarta: Insan Madani.
Saleh, Akh Muwafik. 2012. Membangun Karakter Dengan Hati Nurani. Jakarta: Erlangga. Supratman, M. Tauhed. 2009.
Pengeetahuan Dasar Prosa Fiksi.Pamekasan: UNIRA. Teew, A.2013. Sastra Dan Ilmu
Sastra. Bandung: Dunia Pustaka Raya.