• Tidak ada hasil yang ditemukan

Nining Sri Purwanti R.0208031

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Nining Sri Purwanti R.0208031"

Copied!
69
0
0

Teks penuh

(1)

commit to user

PERBEDAAN KELELAHAN KERJA SEBELUM DAN

SESUDAH MEMAKAI

EAR PLUG

PADA PEKERJA

YANG TERPAPAR BISING DI PEMBUATAN

GAMELAN

SKRIPSI

Untuk Memenuhi Persyaratan

Memperoleh Gelar Sarjana Sains Terapan

Nining Sri Purwanti R.0208031

PROGRAM DIPLOMA IV KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET

(2)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

2

(3)

commit to user

PERNYATAAN

Dengan ini menyatakan bahwa dalam skripsi ini tidak terdapat karya yang pernah

diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan disuatu Perguruan Tinggi, dan

sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah

ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam

naskah dan disebutkan dalam daftar pustaka.

Surakarta, ……….

Nining Sri Purwanti

(4)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

2

ABSTRAK

Nining Sri Purwanti. R0208031. 2012. Perbedaan Kelelahan Kerja Sebelum dan

Sesudah Memakai Ear Plug pada Pekerja yang Terpapar Bising di Pembuatan Gamelan. Skripsi. Fakultas Kedokteran, Universitas Sebelas Maret, Surakarta.

Latar Belakang : Industri gamelan merupakan industri informal yang bergerak di

bidang pembuatan gamelan yang berada di Desa Wirun, Mojolaban, Sukoharjo. Proses pembuatan gamelan menggunakan peralatan yang sederhana dan menimbulkan bising. Kebisingan yang berlebihan dan tidak memakai APD dapat menyebabkan kelelahan kerja. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan kelelahan kerja sebelum dan sesudah memakai ear plug pada pekerja yang terpapar bising di pembuatan gamelan.

Metode : Penelitian ini menggunakan jenis penelitian eksperimen semu dengan

menggunakan desain eksperimen one group pretest and postest desaign. Subjek penelitian adalah semua tenaga kerja yang berjumlah 30 orang dengan menggunakan sampel jenuh. Untuk mengetahui perbedaan kelelahan sebelum dan sesudah memakai ear plug digunakan uji statistik paired sample t-test.

Hasil : Hasil pengukuran kelelahan kerja sebelum dan sesudah memakai ear plug

diperoleh rata-rata sebelum memakai ear plug (574,100) dan sesudah memakai ear plug (306,350). Hasil uji statistik menunjukkan p = 0,00 (p < 0,01) yang berarti nilai p sangat signifikan.

Kesimpulan : Dari hasil uji tersebut dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan

yang sangat signifikan antara kelelahan kerja sebelum dan sesudah memakai ear plug pada pekerja yang terpapar bising di pembuatan gamelan yang berarti pemakaian ear plug di tempat yang intensitas bisingnya melebihi NAB maka dapat menurunkan tingkat kelelahan kerja.

Kata Kunci : Kelelahan Kerja, Ear Plug, Intensitas Kebisingan

(5)

commit to user

ABSTRACT

Nining Sri Purwanti. R0208031. 2012. Differences of Phycical Fatigue of

Gamelan Industry Workers Exposed to Noise Before and After Wearing Ear Plug during Working Gamelan. Mini Thesis. Faculty of Medicine, Sebelas Maret University, Surakarta.

Background: Gamelan industry is an informal industry produce an manufacture

of gamelan located in the village of Wirun, Mojolaban, Sukoharjo. Gamelan manufacturing process using simple equipment and it is noisy. Excessive noise in gamelan industry if workers not wearing PPE can cause phycical fatigue. Purpose of this study was to determine the difference fatigue before and after wearing ear plugs to workers exposed to noise in the manufacturing process of gamelan.

Methods: This research uses quasi-experimental study using design of

experiments one group pretest and postest desaign. Subjects were all workers, amount of 30 people using saturated samples. To find the difference of fatigue before and after wearing ear plugs used statistical test paired sample t-test.

Results: The measurement of fatigue prior to and after wearing ear plugs the

average obtained prior to use ear plugs (574.100) and after wearing ear plugs (306.350). The results of the statistical test showed p = 0.00 (p < 0,01) the mean value of p is very significant.

Conclusion: From the test results we can conclude there is a significant

differences of phycical fatigue of gamelan industry workers exposed to noise before and after wearing ear plug during working gamelan it means that wearing the ear plug in the place of high intensity noise can reduce the fatigue level of workers.

(6)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

2

PRAKATA

Alhamdulillahirobbil’aalamiin, segala puji dan syukur bagi Allah SWT atas rahmat, karunia serta segala kemudahan yang dilimpahkan-Nya sehingga penelitian yang berjdul “Perbedaan Kelelahan Kerja Sebelum dan Sesudah Memakai Ear Plug pada Pekerja yang Terpapar Bising di Pembuatan Gamelan” dapat terselesaikan. Penelitian ini tidak akan berhasil bila tanpa bantuan dari berbagai pihak dengan memberikan ide, kritikan, dan saran. Oleh karena itu penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada:

1. Bapak Prof. Dr. Zainal Arifin Adnan, dr. S.PD-KR-FINASIM selaku Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret Surakarta.

2. Ibu Ipop Sjarifah, Dra, M.Si. selaku Kepala Program Studi Diploma IV Keselamatan dan Kesehatan Kerja Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret Surakarta yang telah memberikan banyak dukungan terhadap kegiatan Penelitian.

3. Ibu Isna Qadrijati, dr., M. Kes. selaku Dosen Pembimbing I, yang telah membimbing dan tak kenal lelah membantu menyelesaikan penelitian ini dengan segala ketelatenan dan kesabaran. Hingga pada akhirnya penelitian ini dapat terselesaikan dengan baik dan tepat waktu.

4. Bapak Widodo Prayitno, Drs, selaku Dosen Pembimbing II, yang sama halnya telah membimbing dan mengarahkan penelitian di sela-sela waktu sibuk. Terimakasih telah bersedia membimbing dengan segala sikapnya yang tidak pernah membuat peneliti merasa bimbang dan kesulitan.

5. Ibu Cr. Siti Utari, Dra., M. Kes. selaku Penguji yang telah memberi masukan-masukan yang bermanfaat sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. 6. Seluruh Dosen, tenaga pengajar dan staf Program Studi Diploma IV

Keselamatan dan Kesehatan Kerja Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret Surakarta yang telah memberikan ilmu, dukungan, dan kerjasama yang baik kepada peneliti.

7. Bapak Supoyo, selaku pemilik industri gamelan yang telah berkenan memberikan waktu dan kesempatan kepada peneliti untuk melakukan penelitian.

8. Para subjek penelitian yang telah menerima peneliti dengan baik selama penelitian dan selalu memberikan cerita pengalaman hidupnya.

9. Ibu dan ayahku tercinta. Ibu yang tak henti-hentinya memberiku dukungan moral dan spiritual. Ibu yang selalu menginspirasiku. Ayah yang tak pernah habisnya memberiku dorongan untuk tetap dan terus melangkah.

10. Adikku tersayang, Farida Yuli Maryani. Adik yang tak kalah memberi dukungan dan motivasi dalam menyelesaikan penelitian ini.

11. Sahabat-sahabatku : Nur Ika Widyawati, Rusmiara Lita Dewi, Nur Ika Widyawati dan Rika Prabawati yang selalu menemani dan mendukungku dengan candaan, yang tak kenal lelah memberiku semangat. Juga teman-temanku angkatan 2008 yang aku kasihi yang tak bisa aku sebutkan satu-persatu. Aku akan sangat merindukan dan berterimakasih pada kalian.

(7)

commit to user

12. Terimakasih pula penulis ucapkan kepada semua pihak yang turut membantu terselesaikannya penelitian ini.

Penulis menyadari bahwa penyusunan skripsi ini masih jauh dari sempurna oleh karenanya saran dan kritik membangaun dari pembaca sangat diharapkan. Semoga skripsi ini dapat menjadi sumbangsih dan amal nyata peneliti terhadap keilmuwan. Amin.

Surakarta, Juni 2012 Penulis

(8)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

2

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL... i

HALAMAN PERSETUJUAN SKRIPSI ... ii

HALAMAN PERNYATAAN ... iii

G. IdentifikasiVariabel Penelitian ... 34

H. Definisi Operasional Variabel Penelitian ... 35

I. Alat dan Bahan Penelitian ... 36

J. Cara Kerja Penelitian ... 36

K. Teknik Analisis Data ... 38

BAB IV. HASIL PENELITIAN ... 39

A. Gambaran Umum Perusahaan ... 39

B. Karakteristik Subjek Penelitian ... 40

C. Hasil Pengukuran Lingkungan Kerja ... 42

D. Hasil Pengukuran Intensitas Kebisingan di Tempat Kerja ... 43

E. Hasil Pengukuran Kelelahan Kerja ... 44

F. Uji Perbedaan ... 45

BAB V. PEMBAHASAN ... 46

A. Analisis Karakteristik Subjek Penelitian ... 46

B. Analisis Pengukuran Lingkungan Kerja ... 48

C. Analisis Univariat ... 51

(9)

commit to user

E. Keterbatasan Penelitian ... 55

BAB VI. SIMPULAN DAN SARAN ... 56

A. Simpulan ... 56

B. Saran ... 56

(10)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

2

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Tabel NAB Kebisingan Menurut Permenaker No. 13 Tahun 2011 ... 10

Tabel 2. Tabel Klasifikasi Tingkat Kelelahan Kerja ... 24

Tabel 3. Tabel Distribusi Frekuiensi Umur ... 40

Tabel 4. Tabel Distribusi Jenis Kelamin ... 41

Tabel 5. Tabel Distribusi Frekuensi Masa Kerja ... 41

Tabel 6. Tabel Hasil Pengukuran Iklim Kerja ... 42

Tabel 7. Tabel Hasil Pengukuran Intensitas Kebisingan ... 43

Tabel 8. Tabel Hasil Pengukuran Kelelahan Kerja ... 44

Table 9. Tabel Hasil uji statistik ... 45

Tabel 10. Tabel Berat Beban yang dianjurkan Menurut Usia dan Jenis Kelamin ... 51

(11)

commit to user

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Kerangka Pemikiran ... 31 Gambar 2. Desain Penelitian ... 33

(12)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

2

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Surat Keterangan Melakukan Penelitian

Lampiran 2. Surat Pernyataan Menjadi Responden

Lampiran 3. Angket Penjaringan Sampel

Lampiran 4. Hasil Pengukuran Kelelahan Kerja Sebelum Memakai Ear Plug

Lampiran 5. Pengukuran Kelelahan Kerja Sesudah Memakai Ear Plug

Lampiran 6. Rata-rata Pengukuran Kelelahan Sebelum dan Sesudah Memakai

Ear Plug

Lampiran 7. Hasil Uji Perbedaan Kelelahan Kerja Sebelum dan Sesudah Memakai Ear Plug dengan uji statistik paired sample t-test

menggunakan program SPSS

Lampiran 8. Dokumentasi Penelitian

(13)

commit to user

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Dalam era globalisasi dengan pesatnya kemajuan di bidang

teknologi, telekomunikasi dan transportasi, dunia seakan tanpa batas dan

jarak, dengan demikian penggunaan sumber daya manusia menjadi sangat

penting terlebih lagi dengan dilakukannya perdagangan bebas yang berarti

semua produk-produk yang dihasilkan oleh industri harus memenuhi standar

kualitas yang disepakati oleh dunia internasional. Oleh karena itu dunia

industri harus lebih cepat dan cerdas mengambil langkah-langkah untuk

mengantisipasi perkembangan teknologi tersebut agar semua produk yang

dihasilkan mempunyai daya saing di pasar bebas (Tarwaka, 2008).

Sejalan dengan pertumbuhan industri sekarang ini jelas memerlukan

kegiatan tenaga kerja sebagai unsur dominan yang mengelola bahan

baku/material, mesin, peralatan dan proses lainnya yang dilakukan di tempat

kerja, guna menghasilkan suatu produk yang bermanfaat bagi masyarakat.

Oleh karena itu, tenaga kerja mempunyai peranan yang sangat penting

sebagai penggerak roda pembangunan nasional khususnya yang berkaitan

dengan sektor industri. Di samping itu tenaga kerja adalah unsur yang

langsung berhadapan dengan berbagai akibat dari kegiatan industri, sehingga

sudah seharusnya kepada mereka diberikan perlindungan dan pemeliharaan

(14)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

2

Akibat yang ditimbulkan oleh teknologi modern karena peningkatan

industri antara lain timbulnya masalah kebisingan yang mempunyai pengaruh

luas mulai dari gangguan konsentrasi, komunikasi, dan kenikmatan kerja

sampai pada cacat karena kehilangan daya dengar yang menetap. Kebisingan

tidak hanya berpengaruh terhadap kualitas kerja tetapi juga berpengaruh

terhadap tenaga kerja (Budiono, 2003).

Kelelahan merupakan akibat dari kebanyakan tugas pekerjaan yang

sama. Pada pekerjaan yang berulang, tanda pertama kelelahan merupakan

peningkatan dalam rata-rata panjang waktu yang diambil untuk

menyelesaikan suatu siklus aktivitas. Waktu pendistribusian yang hati-hati

sering menunjukkan kelambatan performansi sebagaimana yang tampak

dalam pendistribusian proporsi yang lebih besar dari siklus lambat yang tidak

normal (Nurmianto, 2003).

Kelelahan kerja dapat disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu faktor

lingkungan fisik di tempat kerja antara lain oleh suhu dan kebisingan,

lingkungan fisik kerja yang terlalu panas mengakibatkan tenaga kerja cepat

lelah karena kehilangan cairan dan garam. Bila produksi panas tidak

seimbang dengan panas yang dikeluarkan tubuh, akan menghasilkan kondisi

kerja yang tidak nyaman dan suhu tempat kerja yang melebihi 30 °C akan

mempercepat kelelahan tenaga kerja (Iwan, 2007).

Industri pengrajin Gamelan merupakan industri informal yang

bergerak dibidang pembuatan gamelan yang berada di Desa Wirun,

(15)

commit to user

peralatan yang sederhana dan alat kerja yang menimbulkan bising.

Kebisingan yang ada di bagian pembuatan gamelan yaitu pada waktu

meratakan gamelan dan menggerinda gamelan dengan mesin gerinda.

Berdasarkan hasil pengukuran pada waktu survei awal dapat

diketahui bahwa intensitas kebisingan yang ada di tempat kerja khususnya di

bagian pembuatan gamelan yaitu 100 dBA, sedangkan intensitas kebisingan

di sektor industri logam yang lain sebesar 90 dBA yang melebihi Nilai

Ambang Batas (NAB) yang diperkenankan yaitu 85 dBA untuk 8 jam kerja

seperti yang diatur dalam Kepmenaker no. KEP 51/MEN/1999. Pekerja

mengalami beberapa gangguan seperti gangguan fungsi pendengaran dan

gangguan keseimbangan. Sedangkan kelelahan kerja yang diukur

menggunakan reaction timer 470,8 milidetik, 561,9 milidetik dan 623,5

milidetik yang termasuk kategori Kelelahan Kerja Berat (KKB) dengan waktu

reaksi > 580,0 milidetik. Sebagian besar pekerja mengalami kelelahan saat

bekerja dan sebagian pekerja tidak menggunakan Alat Pelindung Diri (APD)

yang berupa ear plug. Para pekerja sudah terbiasa dengan keadaan tersebut

dan tidak berusaha mengatasi bising yang ditimbulkan dari proses pembuatan

gamelan.

Dengan mengacu pada hasil survei awal yang dilakukan oleh

penulis, maka penulis mengadakan penelitian mengenai “Perbedaan

Kelelahan Kerja Sebelum dan Sesudah Memakai Ear Plug pada Pekerja yang

(16)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

2

B. Rumusan Masalah

Apakah ada Perbedaan Kelelahan Kerja Sebelum dan Sesudah

Memakai Ear Plug pada Pekerja yang Terpapar Bising di Pembuatan

Gamelan?

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

Untuk mengetahui dan mengkaji perbedaan kelelahan kerja

sebelum dan setelah memakai ear plug pada pekerja yang terpapar bising

di industri gamelan.

2. Tujuan Khusus

a. Untuk mengetahui dan mengkaji kebisingan pada pembuatan

gamelan.

b. Untuk mengetahui dan mengkaji kelelahan kerja yang terjadi pada

pekerja di industri gamelan.

c. Untuk mengetahui dan mengkaji perbedaan kelelahan kerja sebelum

dan sesudah memakai ear plug pada pekerja pembuat gamelan.

D. Manfaat Penelitian

1. Teoritis

a. Menambah wawasan pengetahuan bagi peneliti tentang perbedaan

kelelahan kerja sebelum dan sesudah memakai ear plug.

(17)

commit to user

b. Sebagai pengkaji teori bahwa pemakaian ear plug diharapkan dapat

menurunkan tingkat kelelahan kerja.

2. Aplikatif

a. Diharapkan tenaga kerja menyadari pentingnya pemakaian APD (ear

plug) dari bahaya kebisingan.

b. Diharapkan pengusaha maupun tenaga kerja mengetahui perbedaan

kelelahan kerja sebelum dan sesudah memakai ear plug.

c. Diharapkan pengusaha menyediakan APD sesuai jenis pekerjaannya.

d. Diharapkan manajemen perusahaan dapat melakukan pengendalian

(18)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

syaraf pendengar dalam telinga oleh gelombang longitudinal yang

ditimbulkan getaran dari sumber bunyi atau suara dan gelombang

tersebut merambat melalui media udara atau penghantar lainnya dan

manakala bunyi atau suara tersebut tidak dikehendaki oleh karena

mengganggu atau timbul di luar kemauan orang yang bersangkutan,

maka bunyi-bunyian atau suara demikian dinyatakan sebagai

kebisingan (Suma’mur, 2009).

Kebisingan adalah semua bunyi atau suara yang tidak

dikehendaki yang dapat mengganggu kesehatan dan keselamatan

(Anizar, 2009).

b. Jenis-jenis Kebisingan

Berdasarkan atas sifat dan frekuensi bunyi, menurut

Soeripto (2008), bising dapat dibagi atas :

1) Bising yang kontinu dengan spektrum frekuensi yang sempit.

Misal: gergaji sirkuler dan katup gas.

2) Bising yang kontinu dengan spektrum frekuensi yang luas.

Misal: mesin, kipas angin dan dapur pijar.

(19)

commit to user 3) Bising yang terputus-putus.

Misal: lalu lintas dan suara kapal terbang.

4) Bising impulsif.

Misal: suara tembakan, meriam, ledakan dan pukulan.

5) Bising impulsif berulang.

Misal: mesin tempa dan pandai besi.

Berdasarkan pengaruhnya terhadap manusia, menurut

Soeripto (2008), bising dapat dibagi menjadi :

1) Bising yang mengganggu (iritating noise), intensitasnya tidak

keras.

2) Bising yang menutupi (masking noise) merupakan bunyi yang

menutupi pendengaran.

3) Bising yang merusak (damaging/injurious noise) yaitu bunyi

yang intensitasnya melampaui Nilai Ambang Batas (NAB) dan

akan merusak atau menurunkan fungsi pendengaran.

Menurut Anizar (2009), kebisingan dapat diklasifikasikan

dalam beberapa jenis yaitu :

1) Bising secara terus menerus adalah bising yang mempunyai

perbedaan tingkat intensitas bunyi diantara maksimum dan

minimum yang kurang dari 3 dB. Contohnya adalah bunyi yang

(20)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

2

2) Bising fluktuasi yaitu bunyi bising yang mempunyai perbedaan

tingkat di antara intensitas yang tinggi dengan yang rendah lebih

dari 3 dB.

3) Bising implus yaitu bunyi bising yang mempunyai intensitas

yang sangat tinggi dalam waktu yang singkat. Contohnya suara

tembakan senjata api dan suara ledakan.

4) Bising bersela yaitu bunyi yang terjadi dalam jangka waktu

tertentu secara berulang misalnya mesin tempa.

Menurut Tigor (2005), kebisingan diklasifikasikan ke dalam

dua jenis golongan besar yaitu kebisingan tetap (steady noise) dan

kebisingan tidak tetap (non steady noise). Kebisingan tetap

dipisahkan lagi menjadi dua jenis yaitu :

1) Kebisingan dengan frekuensi terputus (discrete frequency noise)

yaitu kebisingan yang berupa nada-nada pada frekuensi yang

beragam. Misalnya suara mesin dan kipas angin.

2) Broad band noise yaitu kebisingan yang terjadi pada frekuensi

yang lebih bervariasi (bukan “nada” murni).

Sedangkan kebisingan tidak tetap (unsteady noise) dibagi menjadi

tiga jenis yaitu :

1) Kebisingan fluktuatif (fluctuating noise) yaitu kebisingan yang

selalu berubah-ubah selama rentang waktu tertentu.

2) Intermittent noise yaitu kebisingan yang terputus-putus dan

besarnya berubah-ubah. Misalnya kebisingan lalu lintas.

(21)

commit to user

3) Impulsive noise yaitu kebisingan yang dihasilkan oleh

suara-suara berintensitas tinggi (memekakkan telinga) dalam waktu

yang relatif singkat. Misalnya suara ledakan senjata api dan

alat-alat sejenisnya.

Beberapa hal yang perlu dipahami tentang kebisingan

(Ridley, 2006) :

1) Kebisingan adalah bunyi yang tidak diharapkan.

2) Beberapa bunyi-bunyian diperlukan untuk :

a) Berkomunikasi.

b) Memberi peringatan.

c) Menyeimbangkan dan mengenali sesuatu.

3) Bunyi merupakan pulsa-pulsa tekanan di udara.

4) Ambang pendengaran adalah tingkat kebisingan paling rendah

yang dapat dideteksi oleh telinga.

c. Nilai Ambang Batas Kebisingan (NAB)

NAB untuk kebisingan di tempat kerja adalah intensitas

tertinggi dan merupakan nilai rata-rata yang masih dapat diterima

oleh tenaga kerja tanpa mengakibatkan hilangnya daya dengar yang

tetap untuk waktu terus menerus tidak lebih dari 8 jam sehari dan 40

jam seminggunya. NAB kebisingan adalah 85 dBA selama waktu

pemaparan 8 jam. Menurut Permenakertrans RI No.

(22)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

2

Faktor Kimia di Tempat Kerja, NAB kebisingan adalah sebagai

berikut:

Tabel 1. Nilai Ambang Batas Faktor Fisik dan Kimia

Waktu pemaparan per hari Intensitas kebisingan dalam dBA

Sumber : Permenakertrans RI No. PER.13/MEN/2011

d. Gangguan Kebisingan di Tempat Kerja

Kebisingan dapat mempengaruhi daya kerja seseorang dan

(23)

commit to user

dari hasil kerja. Pengaruh dari kebisingan juga dapat merusak

indera-indera pendengaran yang menyebabkan tuli progresif. Menurut

Buchari (2007), gangguan kebisingan di tempat kerja dapat

dikelompokkan sebagai berikut :

1) Gangguan fisiologis

Gangguan dapat berupa peningkatan tekanan darah,

peningkatan nadi, basal metabolisme, konstruksi pembuluh

darah kecil terutama pada bagian kaki, dapat menyebabkan

pucat dan gangguan sensoris.

2) Gangguan psikologis

Gangguan psikologis dapat berupa rasa tidak nyaman,

kurang konsentrasi, susah tidur dan emosi. Pemaparan jangka

waktu lama dapat menimbulkan penyakit psikosomatik seperti

penyakit gastritis dan jantung koroner.

3) Gangguan komunikasi

Gangguan komunikasi ini dapat menyebabkan

terganggunya pekerjaan bahkan terjadi kesalahan terutama bagi

pekerja baru yang belum berpengalaman. Gangguan komunikasi

ini secara tidak langsung akan mengakibatkan bahaya bagi

keselamatan dan kesehatan tenaga kerja, karena tidak

mendengar teriakan atau isyarat tanda bahaya dan tentunya akan

(24)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

2

4) Gangguan keseimbangan

Gangguan keseimbangan ini mengakibatkan gangguan

fisiologis seperti kepala pusing dan mual.

5) Gangguan terhadap pendengaran

Diantara gangguan yang ditimbulkan oleh bising,

gangguan terhadap pendengaran adalah gangguan yang paling

serius karena dapat menyebabkan hilangnya pendengaran atau

ketulian. Ketulian ini dapat bersifat progresif atau awalnya

bersifat sementara tapi bila bekerja terus-menerus di tempat

bising tersebut maka daya dengar akan menghilang secara

menetap atau tuli.

e. Pengendalian Kebisingan

Kebisingan dapat dikurangi dengan pengendalian yang

dilakukan oleh pihak ahli teknik atau pihak manajemen

mempergunakan salah satu atau kedua-duanya. Pengendalian

kebisinganyang pertama adalah bagaimana mengurangi kebisingan

yang ditimbulkan oleh sumber. Kedua adalah dengan mengurangi

kebisingan di sepanjang jalur yang dilaluinya. Ketiga adalah

mengurangi kebisingan pada pendengar dengan menggunakan alat

pelindung diri (Anizar, 2009).

Menurut Budiman (2006), kebisingan dapat dikendalikan

dengan berbagai cara, antara lain :

(25)

commit to user 1) Pengurangan sumber bising.

Hal ini dapat dilakukan dengan menempatkan peredam

suara pada sumber kebisingan, melakukan modifikasi mesin

atau bangunan, mengganti mesin dan menyusun perencanaan

bangunan baru.

2) Penempatan penghalang pada jalan transmisi suara.

Isolasi antara ruang kerja dengan ruangan mesin

merupakan upaya yang cepat dalam mengurangi kebisingan.

Agar efektif, harus disusun rencana yang sebaik mungkin dan

bahan yang dipakai untuk penutup harus dibuat cukup berat dan

dilapisi oleh bahan yang dapat menyerap suara agar tidak

menimbulkan getaran yang kuat.

3) Perlindungan dengan sumbat atau tutup telinga

Tutup telinga biasanya lebih efektif dari penyumbat

telinga. Alat seperti itu harus diseleksi agar terpilih yang paling

tepat. Alat semacam ini dapat mengurangi intensitas kebisingan

sekitar 20-25 dBA. Sebagai akibat penggunaan alat tersebut,

upaya perbaikan komunikasi harus dilakukan. Masalah utama

pemakaian APD pendengaran adalah kedisiplinan pekerja saat

(26)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

2

2. Kelelahan Kerja

a. Definisi Kelelahan kerja

Kata kelelahan menunjukkan keadaan yang berbeda-beda,

tetapi semuanya berakibat kepada pengurangan kapasitas kerja dan

ketahanan tubuh (Suma’mur, 1996).Kelelahan kerja adalah perasaan

lelah dan adanya penurunan kesiagaan (Setyawati, 2011).

Menurut Nurmianto (2003), kelelahan kerja akan

menurunkan kinerja dan menambah tingkat kesalahan kerja.

Meningkatnya kesalahan kerja akan memberikan peluang terjadinya

kecelakaan kerja dalam industri. Pembebanan otot secara statispun

(static muscular loading) jika dipertahankan dalam waktu yang

cukup lama akan mengakibatkan RSI (Repetition Strain Injuries),

yaitu nyeri otot, tulang dan tendon yang diakibatkan oleh jenis

pekerjaan yang bersifat berulang (repetitive).

Menurut Setyawati (2011), kelelahan kerja merupakan

kriteria yang kompleks yang tidak hanya menyangkut kelelahan

fisiologis dan psikologis tetapi dominan hubungannya dengan

penurunan kinerja fisik, adanya perasaan lelah, penurunan motivasi

dan penurunan produktivitas kerja.

Tarwaka (2010) menyebutkan bahwa kelelahan merupakan

mekanisme perlindungan tubuh agar terhindar dari kerusakan lebih

lanjut sehingga terjadi pemulihan setelah istirahat.

(27)

commit to user b. Jenis Kelelahan Kerja

Berdasarkan waktu terjadinya kelelahan menurut Setyawati

(2011), maka kelelahan dibagi menjadi dua yaitu :

1) Kelelahan akut yaitu kelelahan yang terjadi dengan cepat yang

pada umumnya disebabkan oleh kerja suatu organ atau seluruh

tubuh yang berlebihan.

2) Kelelahan kronis yaitu kelelahan yang disebabkan oleh sejumlah

faktor yang berlangsung secara terus menerus dan terakumulasi.

Sedangkan berdasarkan penyebab kelelahan menurut

Setyawati (2011), maka kelelahan dibedakan menjadi dua yaitu :

1) Kelelahan fisiologis yaitu kelelahan yang timbul karena adanya

perubahan fisiologis dalam tubuh.

2) Kelelahan Psikologis yaitu kelelahan yang terjadi karena adanya

pengaruh dari luar diri berupa tingkah laku atau perbuatan alam

memenuhi kebutuhan hidupnya, seperti: suasana kerja, interaksi

dengan pekerja maupun dengan atasan.

Menurut Tarwaka (2010), kelelahan diklasifikasikan

menjadi dua jenis :

1) Kelelahan otot yaitu tremor pada otot atau perasaan nyeri pada

otot.

2) Kelelahan umum biasanya ditandai dengan kurangnya kemauan

(28)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

2

intensitas dan lamanya kerja fisik, keadaan lingkungan,

sebab-sebab mental, status kesehatan dan keadaan gizi.

c. Fisiologi Kelelahan

Secara fisiologis tubuh manusia dapat diumpamakan

sebagai suatu mesin yang dalam menjalankannya membutuhkan

bahan bakar sebagai sumber energi. Dalam melangsungkan tugas

fisik tubuh dipengaruhi oleh beberapa sistem yang bekerja sendiri

atau bersama-sama. Sistem tersebut adalah sistem peredaran darah,

sistem pencernaan, sistem otot, sistem saraf dan sistem pernafasan

(Setyawati, 2011).

Kelelahan sebagai akumulasi asam laktat di otot-otot

disamping zat ini berada di aliran darah. Akumulasi asam laktat

dapat menyebabkan penurunan kerja otot dan kemungkinan faktor

saraf tepi dan sentral berpengaruh terhadap terjadinya kelelahan.

Pada saat otot berkontraksi, glikogen diubah menjadi asam laktat dan

asam ini merupakan produk yang dapat menghambat kontinuitas

kerja otot sehingga terjadi kelelahan. Dalam stadium pemulihan

terjadi proses yang mengubah sebagian asam laktat kembali menjadi

glikogen sehingga memungkinkan otot-otot dapat berfungsi normal

kembali (Setyawati, 2011).

Menurut Setyawati (2011), bila pengaruh sistem aktivasi

lebih kuat maka tubuh dapat secara kuat menjawab setiap stimuli.

(29)

commit to user

menurun maka tubuh mengalami penurunan kesiagaan bereaksi

terhadap suatu rangsang.

d. Gejala Kelelahan Kerja

Kelelahan kerja pada umumnya dikeluhkan sebagai

kelelahan dalam sikap, orientasi dan penyesuaian pekerja yang

mengalami kelelahan. Gejala kelelahan kerja menurut (Setyawati,

2011) adalah :

1) Gejala-gejala yang mungkin berakibat pada pekerjaan seperti

penurunan kesiagaan dan perhatian, penurunan dan hambatan

persepsi, cara berpikir atau perbuatan anti sosial, tidak cocok

dengan lingkungan, depresi, kurang tenaga dan kehilangan

inisiatif.

2) Gejala umum yang sering menyertai gejala-gejala diatas adalah

sakit kepala, vertigo, gangguan fungsi paru dan jantung,

kehilangan nafsu makan serta gangguan pencernaan.

e. Penyebab Kelelahan Kerja

Dari penelitian kelelahan kerja di Indonesia sejak beberapa

tahun yang lalu diperoleh pemahaman bahwa kejadian kelelahan

kerja ada hubungannya dengan lingkungan kerja yang tidak

bersahabat dengan pekerja baik cuaca kerja, kebisingan, getaran

maupun bahan kimia tertentu dan gizi kerja. Kelelahan kerja juga

berhubungan dengan stress kerja, shift kerja, kualitas tidur, dan

(30)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

2

Menurut Setyawati (2011), dari sudut neurofisiologi, siaga

merupakan keadaan tertentu pada sistem saraf sentral yang

disebabkan oleh aktivitas antagonis sistem aktivasi dan inhibisi

batang otak. Bila pengaruh sistem aktivasi lebih kuat maka tubuh

dapat secara cepat menjawab setiap stimuli. Bila pengaruh sistem

inhibisi lebih kuat atau proses aktivasi sebagian besar menurun maka

tubuh mengalami penurunan kesiagaan bereaksi terhadap suatu

rangsang.

Menurut Tarwaka (2010), menjelaskan bahwa faktor

penyebab terjadinya kelelahan di industri sangat bervariasi. Untuk

memelihara dan mempertahankan kesehatan serta efisiensi, proses

penyegaran harus dilakukan di luar tekanan (cancel out the stress).

Penyegaran terjadi terutama selama waktu tidur malam, tetapi

periode istirahat dan waktu-waktu berhenti kerja juga memberikan

penyegaran.

Menurut Setyawati (2011), penyebab kelelahan kerja secara

umum berkaitan dengan :

1) Pekerjaan yang monoton.

2) Intensitas dan lamanya kerja fisik dan mental yang tinggi.

3) Cuaca ruang kerja, pencahayaan dan kebisingan serta

lingkungan kerja lain yang tidak memadai.

4) Faktor psikologis misalnya rasa tanggungjawab,

ketegangan-ketegangan dan konflik-konflik.

(31)

commit to user 5) Circadian rhythm.

Menurut Tarwaka (2010), penyebab terjadinya kelelahan

kerja adalah sebagai berikut :

1) Aktivitas kerja fisik.

2) Aktivitas kerja mental.

3) Sikap paksa.

4) Kerja statis.

5) Sifat kerja monoton.

6) Lingkungan kerja ekstrim.

7) Psikologis.

8) Kebutuhan kalori kurang.

9) Waktu kerja-istirahat tidak tepat.

Menurut Suma’mur (1994), faktor-faktor yang

mempengaruhi kelelahan kerja yaitu faktor internal dan faktor

eksternal. Yang termasuk faktor internal yaitu :

1) Faktor somatis atau fisik, seperti : kesehatan, gizi, pola makan,

jenis kelamin dan usia.

2) Faktor psikis, seperti : pengetahuan, sikap, gaya hidup, dan

pengelolaan stress.

Sedangkan faktor-faktor eksternal yaitu :

1) Faktor fisik, seperti : kebisingan, suhu, pencahayaan.

2) Faktor kimia, seperti : zat beracun.

(32)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

2

4) Faktor ergonomi

5) Faktor lingkungan kerja, seperti : kategori pekerjaan, sifat

pekerjaan, disiplin perusahaan, gaji/uang lembur (insentif),

hubungan sosial, posisi kerja.

Menurut Depkes RI (1991), kelelahan mempunyai beragam

penyebab yang berbeda yaitu :

1) Beban Kerja

Merupakan volume pekerjaan yang dibebankan kepada

tenaga kerja, baik fisik maupun mental dan tanggung jawab.

Beban kerja yang melebihi kemampuan akan mengakibatkan

kelelahan kerja.

2) Beban Tambahan

Beban tambahan merupakan beban di luar beban kerja

yang harus ditanggung oleh pekerja. Beban tambahan tersebut

berasal dari lingkungan kerja yang memiliki potensi bahaya

seperti lingkungan kerja.

f. Cara Mengatasi Kelelahan Kerja

Menurut Setyawati (2011), untuk mengatasi kelelahan kerja

ada beberapa hal yang patut mendapat perhatian dan harus dilakukan

dengan baik agar kelelahan kerja dapat dikendalikan dengan

berbagai cara yaitu sebagai berikut :

1) Lingkungan kerja bebas dari zat berbahaya, penerangan

(33)

commit to user

pengaturan udara yang adekuat, bebas dari kebisingan, getaran,

serta ketidaknyamanan.

2) Waktu kerja diselingi istirahat pendek dan istirahat untuk

makan.

3) Kesehatan umum dijaga dan dimonitor.

4) Pemberian gizi kerja yang memadai sesuai dengan jenis

pekerjaan dan beban kerja.

5) Beban kerja berat tidak berlangsung terlalu lama.

6) Tempat tinggal diusahakan sedekat mungkin dengan tempat

kerja, kalau perlu bagi tenaga kerja dengan tempat tinggal jauh

diusahakan transportasi dari perusahaan.

7) Pembinaan mental secara teratur dan berkala dalam rangka

stabilitas kerja dan kehidupannya.

8) Disediakaan fasilitas rekreasi, waktu rekreasi dan istirahat

dilaksankan secara baik.

9) Cuti dan liburan digunakan sebaik-baiknya.

10) Diberikan perhatian khusus pada kelompok tertentu seperti

tenaga kerja beda usia, wanita hamil dan menyusui, tenaga kerja

dengan kerja gilir di malam hari, tenaga baru pindahan .

11) Mengusahakan tenaga kerja bebas alkohol dan obat berbahaya.

g. Pengukuran Kelelahan Kerja

Sampai saat ini belum ada cara untuk mengukur tingkat

(34)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

2

oleh peneliti sebelumnya hanya berupa indikator yang menunjukkan

terjadinya kelelahan akibat kerja. Tarwaka (2010) mengelompokkan

metode pengukuran kelelahan dalam beberapa kelompok, yaitu:

1) Kualitas dan kuantitas kerja

Kualitas output digambarkan sebagai suatu jumlah

proses kerja (waktu yang digunakan dalam setiap item) atau

proses operasi yang dilakukan setiap unit waktu. Namun

demikian banyak faktor yang harus dipertimbangkan seperti :

target produksi, faktor sosial, dan perilaku psikologis dalam

kerja. Sedangkan kuantitas output (kerusakan produk, penolakan

produk) atau frekuensi kecelakaan dapat menggambarkan

terjadinya kelelahan, tetapi faktor tersebut bukanlah causal

factor.

2) Uji psikomotor (Psychomotor test)

Metode ini melibatkan fungsi persepsi, interpretasi dan

reaksi motor. Salah satu cara yang digunakan dengan

pengukuran waktu reaksi. Waktu reaksi yaitu jangka waktu dari

pemberian suatu rangsang sampai pada suatu saat kesadaran

atau dilaksanakan kegiatan. Dalam uji waktu reaksi dapat

digunakan nyala lampu, denting suara, sentuhan kulit atau

goyangan badan. Terjadinya pemajangan waktu reaksi

merupakan petunjuk adanya perlambatan pada proses faal syaraf

dan otot.

(35)

commit to user

Setyawati (2011) melaporkan, dalam uji waktu reaksi,

ternyata stimuli terhadap cahaya lebih signifikan daripada

stimuli suara. Hal tersebut disebabkan karena stimuli suara lebih

cepat diterima oleh reseptor daripada stimuli cahaya. Alat ukur

waktu reaksi yang telah berkembang di Indonesia biasanya

menggunakan nyala lampu dan denting suara sebagai stimuli.

Menurut Tim Hiperkes (2004), tingkat kelelahan kerja

dapat diklasifikasikan berdasarkan waktu reaksi yang diukur

dengan reaction timer yaitu :

a) Normal (N) dengan waktu reaksi 150,0-240,0 milidetik.

b) Kelelahan Kerja Ringan (KKR) dengan waktu reaksi >

240,0 - < 410,0 milidetik.

c) Kelelahan Kerja Sedang (KKS) dengan waktu reaksi 410,0 -

< 580,0 milidetik.

d) Kelelahan Kerja Berat (KKB) dengan waktu reaksi > 580,0

milidetik.

3) Uji hilangnya kelipatan (Flicker fusion test)

Dalam kondisi yang lelah, kemampuan tenaga kerja

untuk melihat kelipatan akan berkurang. Semakin lelah akan

semakin panjang waktu yang diperlukan untuk jarak antara dua

kelipatan. Uji kelipatan di samping untuk mengukur kelelahan

(36)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

2

4) Pengukuran kelelahan secara subyektif (Subjective feelings of

fatigue)

Subjective Self Rating Test merupakan salah satu

kuesioner yang dapat untuk mengukur tingkat kelelahan

subjektif. Pengukuran kelelahan dengan kuesioner subjektif

dapat digunakan untuk menilai tingkat keparahan kelelahan

individu dalam kerja yang cukup banyak atau kelompok sampel

yang dapat merepresentasikan populasi secara keseluruhan.

Adapun klasifikasi tingkat kelelahan subjektif berdasarkan total

skor individu yaitu :

Tabel 2. Klasifikasi tingkat kelelahan subjektif berdasarkan total

(37)

commit to user 3. Alat Pelindung Telinga

Menurut Tarwaka (2008), Alat Pelindung Diri (APD)

merupakan seperangkat alat keselamatan yang digunakan oleh pekerja

untuk melindungi seluruh atau sebagian tubuhnya dari kemungkinan

adanya pemaparan potensi bahaya lingkungan kerja terhadap kecelakaan

dan penyakit akibat kerja. Secara teknis alat pelindung diri tidaklah dapat

melindungi tubuh secara sempurna terhadap paparan potensi bahaya. Alat

Pelindung Diri (APD) merupakan sarana pengendalian yang digunakan

untuk jangka pendek dan bersifat sementara manakala sistem

pengendalian yang permanen belum dapat diimplementasikan. APD

merupakan pilihan terakhir dari suatu sistem pengendalian resiko di

tempat kerja. Hal ini disebabkan oleh :

a. APD tidak menghilangkan resiko bahaya yang ada, tetapi hanya

membatasi antara terpaparnya tubuh dengan potensi bahaya yang

diterima.

b. Penggunaan APD dirasa tidak nyaman, karena kekurangleluasaan

gerak pada waktu bekerja dan dirasakan adanya beban tambahan

karena harus dipakai selama bekerja.

Fungsi alat pelindung telinga adalah menurunkan tingkat

kebisingan yang mencapai alat pendengar. Ada dua jenis alat pelindung

(38)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

2

a. Sumbat Telinga (ear plug)

Sumbat telinga yang paling sederhana terbuat dari kapas

yang dicelupkan dalam lilin yang terbuat dari bahan sintetis. Sumbat

telinga ini dapat menurunkan intensitas kebisingan sebesar 25 dBA

sampai 30 dBA. Kapas telinga tidak dapat digunakan sebagai sumbat

telinga karena tidak efektif (Anizar, 2009).

Ear plug dapat terbuat dari kapas, plastik, karet alami dan

bahan sintetis. Untuk ear plug yang terbuat dari kapas, spon dan

malam (wax) hanya bisa digunakan untuk sekali pakai (disposable).

Sedangkan yang terbuat dari bahan karet dan plastik yang dicetak

(molded rubber/plastic) dapat digunakan berulang kali (non

disposable) (Tarwaka, 2008).

Keuntungan pemakaian ear plug adalah ukuran kecil

sehingga mudah dibawa, pada tempat kerja yang panas lebih

nyaman, tidak membatasi gerakan kepala, lebih murah daripada ear

muff dan lebih mudah dipakai bersama dengan kacamata dan helm.

Kerugian pemakaian ear plug adalah besarnya pengurangan terhadap

bising (attenuation) lebih kecil, memasang harus secara tepat sekali

(sukar), sukar mengontrol, dan saluran telinga mudah terkena infeksi

(Sigit, 2008).

b. Penutup Telinga (ear muff)

Penutup telinga lebih baik dari pada penyumbat telinga,

(39)

commit to user

menghambat hantaran melalui tulang tengkorak. Penutup telinga

dapat mengurangi intensitas kebisingan sebesar 30 dBA sampai 40

dBA (Anizar, 2009).

Alat pelindung jenis ini terdiri dari dua buah tutup telinga

dan sebuah headband. Isi dari tutup telinga dapat berupa cairan atau

busa yang berfungsi untuk menyerap suara frekuensi tinggi. Pada

pemakaian yang cukup lama, efektivitas ear muff dapat menurun

karena bantalannya mengeras dan mengerut sebagai akibat reaksi

dari bantalan dengan minyak dan keringat. Alat ini juga dapat

melindungi bagian luar telinga dari benturan benda keras atau

percikan bahan kimia (Tarwaka, 2008).

Keuntungan pemakaian ear muff adalah besarnya

pengurangan (attenuation) terhadap bising umumnya maksimum,

performance baik, lebih stabil untuk pemakaian lama, lebih mudah

diterima oleh tenaga kerja stadium permulaan, dapat dipakai saat ada

infeksi atau iritasi telinga, tidak mudah hilang, mudah memonitor

pemakaian dari jarak jauh. Sedangkan kerugian ear muff adalah

harganya lebih mahal, tekanan yang ketat ke kepala dapat

mengurangi kenyamanan, agak berat dan panas, tidak efektif dipakai

dengan kacamata atau topi keras, dapat menyebabkan radang atau

infeksi kulit jika tidak dibersihkan secara memadai, sulit disimpan

(40)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

2

menjadi keras atau retak, kehilangan fluida dan ketegangan pita

mengendor (Sasongko dkk, 2000).

4. Hubungan Bising dengan Kelelahan Kerja

Mekanisme kebisingan terhadap kelelahan kerja dimulai dengan

gelombang suara yang datang dari luar ditangkap oleh daun telinga

kemudian suara melewati liang telinga dan liang telinga ini akan

memperkeras suara dengan frekuensi sekitar 3.000 Hz dengan cara

resonansi. Suara kemudian diterima oleh gendang telinga (membran

timpani), sebagian suara dipantulkan dan sebagian diteruskan ke

tulang-tulang pendengaran dan akhirnya menggerakkan stapes yang

mengakibatkan terjadinya gelombang pada perilympa. Telinga tengah

merupakan satu kesatuan sistem penguat bunyi yang diteruskan oleh

gendang telinga. Penguat oleh sistem penguat tengah adalah sebesar 30

dB yang diperoleh akibat perbedaan penampang gendang telinga dengan

telinga lonjong. Gelombang pada perilympa pada scala media

selanjutnya terus ke helicoterma scala tympani dan menggerakkan

foramen rotudum untuk membuang getaran ke telinga tengah akibat

gelombang pada perilympa dan endollympha ini terjadi gelombang pada

membrane basalis yang mengakibatkan sel rambut pada organ corti

mengenai membrane tectoria sampai membengkok dan terjadi potensi

listrik yang diteruskan sebagai rangsangan syaraf ke daerah penerima

rangsangan pendengaran primer (auditorius primer) yang terletak pada

gyrus temporalis transverses (gyrus heschi) (Ganong, 1992).

(41)

commit to user

Suara yang terlalu bising dan berlangsung lama dapat

menimbulkan stimuli darah di sekitar area penerimaan pendengaran

primer yang akan menyebabkan sensasi gemuruh dan berdenging.

Timbulnya sensasi suara ini akan menimbulkan stimulasi nucleus

ventralateralis thalamus yang akan menimbulkan inhibisi impuls dari

kumparan otot (muscle spindle) dengan kata lain akan menggerakkan

atau menguatkan sistem inhibisi atau penghambat yang ada pada

thalamus (Chusid, 1992).

Kelelahan adalah reaksi fungsional pusat kesadaran yaitu otak

(cortex cerebri) yang dipengaruhi oleh dua sistem antagonis yaitu sistem

penghambat (inhibisi) dan sistem penggerak (aktivasi) yang keduanya

berada dalam susunan syaraf pusat. Sistem penghambat bekerja pada

thalamus yang mampu menurunkan kemampuan manusia bereaksi dan

menyebabkan kecenderungan untuk tidur. Adapun sistem penggerak

terdapat dalam formatio retikularis yang dapat merangsang pusat-pusat

vegetatif untuk konversi ergotropis dari organ-organ dalam tubuh ke

arah kegiatan bekerja, berkelahi dan melarikan diri. Apabila sistem

aktivasi lebih kuat maka seseorang dalam keadaan segar untuk bekerja.

Sebaliknya manakala sistem penghambat berada pada posisi yang kuat

dari pada sistem aktivasi maka seseorang berada dalam keadaan lelah

(Harwanto, 2004).

Kelelahan diatur oleh sentral dari otak. Pada susunan syaraf

(42)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

2

mengimbangi tetapi kadang-kadang salah satu daripadanya lebih

dominan sesuai dengan kebutuhan. Sistem aktivasi bersifat simpatis,

sedang inhibisi adalah parasimpatis. Agar tenaga kerja berada dalam

keserasian dan keseimbangan, kedua sistem tersebut berada pada kondisi

yang memberikan stabilitas pada tubuh (Suma’mur, 2009).

Faktor-faktor yang dapat berpengaruh terhadap terjadinya

kelelahan kerja bermacam-macam mulai dari faktor lingkungan kerja

tidak memadai untuk bekerja sampai kepada masalah psikososial yang

dapat berpengaruh kepada lingkungan kerja. Lingkungan kerja yang

nyaman dan ventilasi udara yang adekuat, didukung oleh tidak adanya

kebisingan akan mengurangi kelelahan kerja (Setyawati, 2011).

(43)

commit to user

B. KerangkaPemikiran

Gambar 1. Kerangka Pemikiran Keterangan :

Diteliti Tidak Diteliti

C. Hipotesis

Ada Perbedaan Kelelahan Kerja Sebelum dan Sesudah Memakai Ear

(44)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

2

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Penelitian ini menggunakan jenis penelitian eksperimen semu (quasi

experiment). Penelitian ini menggunakan bentuk desain eksperimen one

group pretest posttest design (Soekidjo, 2010).

B. Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada tenaga kerja di industri gamelan

desa Wirun, Mojolaban, Sukoharjo pada bulan Maret – Juni 2012.

C. Populasi Penelitian

Populasi penelitian adalah tenaga kerja di industri gamelan desa

Wirun, Mojolaban, Sukoharjo yang berjumlah 30 orang.

D. Teknik Sampling

Teknik sampling yang digunakan yaitu adalah non probability

sampling yaitu teknik sampling yang tidak memberi peluang atau kesempatan

sama bagi setiap anggota populasi untuk dipilih menjadi sampling dengan

menggunakan sampling jenuh yaitu teknik penentuan sampel bila semua

anggota populasi digunakan sebagai sampel.

(45)

commit to user

E. Sampel Penelitian

Sampel penelitian adalah semua pekerja di industri pembuatan

Gamelan Desa Wirun, Mojolaban, Sukoharjo yang berjumlah 49 orang

melalui perhitungan menggunakan rumus jumlah sampel untuk estimasi

proporsi yaitu sebagai berikut :

n = & ( )

= ,ª . , ( , ) ,

= 49

Dari hasil peritungan sampel menggunakan rumus estimasi proporsi

diperoleh jumlah sampel sebesar 49 orang. Namun, pada waktu penelitian

tenaga kerjanya hanya berjumlah 30 orang sehingga semua tenaga kerja di

industri pembuatan gamelan semuanya dijadikan sampel penelitian.

(46)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

2

Keterangan :

Pengukuran I : pengukuran kelelahan kerja pada tenaga kerja

sebelum memakai ear plug.

Pengukuran II : pengukuran kelelahan kerja pada tenaga kerja

sesudah memakai ear plug.

G. Identifikasi Variabel Penelitian

1. Variabel Bebas

Variabel bebas dalam penelitian ini adalah intensitas kebisingan.

2. Variabel Terikat

Variabel terikat dalam penelitian ini adalah tingkat kelelahan

kerja pada tenaga kerja.

3. Variabel Pengganggu

Variabel pengganggu dalam penelitian ini yaitu variabel

pengganggu tidak terkendali yaitu variabel yang tidak dilakukan

pengukuran. Misalnya lama kerja, usia dan jenis kelamin, ergonomi,

getaran dan beban kerja.

Variabel pengganggu terkendali yaitu variabel yang dilakukan

pengukuran yaitu tekanan panas.

(47)

commit to user

H. Definisi Operasional Variabel Penelitian

1. Kebisingan

Kebisingan adalah bunyi yang didengar sebagai

rangsangan-rangsangan pada telinga oleh getaran-getaran melalui media elastis dan

manakala bunyi-bunyi tersebut tidak dikehendaki. Kebisingan di hasilkan

pada waktu proses penempaan dan penggerindaan gamelan. Untuk

mengukur kebisingan di tempat kerja, dilakukan pengukuran langsung di

tempat kerja yang dilakukan oleh orang yang sudah diberi tahu cara

melakukan pengukuran dan sudah berpengalaman dengan menggunakan :

Alat ukur : Sound Level Meter

Satuan : dBA

Skala pengukuran : Rasio

2. Kelelahan Kerja

Kelelahan kerja adalah mekanisme perlindungan tubuh agar

terhindar dari kerusakan lebih lanjut sehingga terjadi pemulihan setelah

istirahat. Untuk mengukur kelelahan kerja pada tenaga kerja dilakukan

pengukuran langsung kepada tenaga kerja setelah selesai melakukan

pekerjaan, yang dilakukan oleh orang yang sudah diberi tahu cara

melakukan pengukuran dan sudah berpengalaman dengan menggunakan :

Alat ukur : Reaction Timer Merk Lakassidaya Type L-77

Satuan : Millidetik

(48)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

2

I. Alat dan Bahan Penelitian

1. Sound level meter, yaitu alat untuk mengukur intensitas kebisingan.

Merek alat : Sound Level Meter RION NA-20

Satuan : dBA

2. Reaction timer, yaitu alat yang digunakan untuk mengukur kelelahan

kerja yang dialami oleh tenaga kerja.

Merek alat : LakasidayaType L-77

Satuan : milidetik

3. Lembar isian data, yaitu daftar pertanyaan yang digunakan untuk

menentukan subjek penelitian.

4. Alat tulis yaitu untuk mencatat hasil dari pengukuran.

5. Camera digital untuk mengambil dokumentasi sebagai bukti penelitian

selama penelitian berlangsung.

J. Cara Kerja Penelitian

Dalam penelitian ini alat dan bahan yang digunakan untuk

pengambilan data beserta pendukungnya adalah :

1. Sound Level Meter yaitu alat untuk mengukur intensitas kebisingan

dalam suatu ruangan.

Merk alat : Sound Level Meter RION NA-20

Satuan : dBA

Cara penggunaan alat :

a. Memasang baterai

(49)

commit to user b. Mengecek Voltase

1) Memutar swicth ke BATT

2) Jika jarum tidak menunjuk pada pointer “BATT”, maka voltase

baterai telah habis.

c. Kaliberasi alat

1) Memutar level switchin the level indicating window at centre

pada 70 dB (A).

2) Pada Filter - CAL - INT switch ke “CAL”.

3) Jarum akan menunjuk pada CAL mark, jika tidak maka putar

sensitivity adjustment.

d. Pengukuran

1) Memutar switch ke A

2) Memutar Filter - CAL - INT ke arah INT

3) Memutar level switch sesuai dengan tingkat kebisingan yang

terukur.

4) Menggunakan Meter Dynamic Characteristic Selector Switch

“SLOW” untuk bising impulsif dan “FAST” untuk bising

continue.

Mencatat hasil pengukuran

2. Reaction Timer tipe Lakassidaya.

a. Operator siap untuk menekan tombol sensor cahaya.

b. Probandus diusahakan jangan sampai melihat operator menekan

(50)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

2

c. Masing-masing probandus diukur sebanyak 20 kali. Dengan

ketentuan sebagai berikut :

1) 1 - 5 sebagai adaptasi alat.

2) 6 - 15 sebagai perhitungan.

3) 16 - 20 dianggap tingkat kejenuhan mulai muncul.

d. Operator mencatat hasil pengukuran

3. Alat tulis, yaitu untuk mencatat hasil dari pengukuran.

4. Lembar isian data, yaitu daftar pertanyaan yang digunakan untuk

menentukan subjek penelitian.

5. Camera digital, yaitu untuk mengambil dokumentasi pada waktu

penelitian.

K. Teknik Analisis Data

Teknik analisis data dalam penelitian ini dilakukan dengan uji

statistik Paired Sample T-Test dengan menggunakan program komputer SPSS

versi 16.0, dengan interpretasi hasil sebagai berikut :

1. Jika p value < 0,01 maka hasil uji dinyatakan sangat signifikan.

2. Jika p value > 0,01 tetapi ≤ 0,05 maka hasil uji dinyatakan signifikan.

3. Jika p value > 0,05 maka hasil uji dinyatakan tidak signifikan

(Sugiyono, 2010).

(51)

commit to user

BAB IV

HASIL PENELITIAN

A. Gambaran Umum Perusahaan

Industri pengrajin gamelan di Desa Wirun Kecamatan Mojolaban

Sukoharjo merupakan suatu home industri dengan tenaga kerja sebanyak 30

orang yang mengolah bahan mentah timah dan kuningan menjadi alat musik

gamelan, dimana dalam proses produksinya dilakukan di dalam ruangan dan

diluar ruangan dengan jam kerja ± 7 jam/hari, dengan waktu istirahat pukul

12.00 – 13.00 WIB. Semua tenaga kerjanya adalah laki-laki yang bekerja

setiap hari Senin sampai dengan Sabtu.

Industri pengrajin gamelan di Desa Wirun Mojolaban Sukoharjo

sudah ada sejak tahun 1984. Dalam jangka waktu 3 bulan satu set gamelan

harus sudah jadi, harga dari satu set gamelan adalah Rp. 400.000.000,00.

Industri ini memproduksi segala macam gamelan, tetapi yang sering

diproduksi adalah Gamelan Jawa dan Gamelan Bali, karena hasil dari

produksi gamelan ini terkenal sangat bagus, sehingga dapat berkembang

dengan pesat. Distribusi gamelan ini tidak hanya di dalam negeri seperti Bali,

Kalimantan dan Sumatra, tetapi juga sudah sampai Internasional seperti

Negara Amerika, Australia, Singapura, Malaysia, dan Belanda.

Proses pembuatan gamelan ini dilakukan secara bertahap dimulai

dari peleburan bahan-bahan mentah yang berupa plat, kuningan, tembaga dan

timah. Logam yang sudah mencair kemudian dituang ke dalam cetakan untuk

(52)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

2

atas bara api dan ditempa menggunakan palu besar. Jika panas logam sudah

berkurang logam tersebut dipanaskan dan ditempa kembali sampai tercapai

bentuk yang diinginkan.. Dalam proses pembuatan gamelan yang paling

penting adalah suara/bunyinya. Proses ini dinamakan penalaan/pengecekan

nada. Proses yang selanjutnya yaitu penguningan dengan cara penggerindaan

dan pengamplasan untuk menghasilkan gamelan yang halus. Proses yang

terakhir dalam pembuatan gamelan yaitu penyempurnaan/pengkilapan dengan

menggunakan braso.

B. Karakteristik Subjek Penelitian

1. Umur

Dari hasil penelitian diperoleh bahwa umur responden berada

dalam rentang 25 – 50 tahun.

Tabel 3. Distribusi Frekuensi Umur

No

Sumber : Data Primer Juni 2012.

Berdasarkan tabel 3, dapat diketahui bahwa rentang umur 25 –

30 tahun ada 3 orang dengan persentase 10,0%, responden dengan

rentang umur 31 – 35 tahun ada 7 orang dengan persentase 23,3%,

(53)

commit to user

persentase 20,0%, responden dengan rentang umur 41 – 45 tahun ada 6

orang dengan persentase 20,0% sedangkan responden dengan rentang

umur 46 – 50 tahun ada 8 orang dengan persentase 26,7%.

2. Jenis Kelamin

Dari hasil pengamatan yang dilakukan, semua tenaga kerja di

Industri Gamelan Desa Wirun, Mojolaban, Sukoharjo berjenis kelamin

laki-laki.

Tabel 4. Distribusi Frekuensi Jenis Kelamin

No Jenis Kelamin Frekuensi Persentase (%)

1. Laki-laki 30 100

2. Perempuan 0 0

Jumlah 30 100

Sumber : Data Primer April 2012.

3. Masa Kerja

Dari hasil penelitian dengan melakukan wawancara, semua

responden yang berada di Industri Gamelan Desa Wirun, Mojolaban,

Sukoharjo sudah bekerja selama lebih dari 5 tahun.

Tabel 5. Distribusi Frekuensi Masa Kerja

No Masa Kerja

(54)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

2

C. Hasil Pengukuran Lingkungan Kerja

1. Tekanan Panas

Dari hasil pengukuran tekanan panas di Industri Gamelan Desa

Wirun, Mojolaban, Sukoharjo diperoleh hasil sebagai berikut :

Tabel 6. Data Hasil Pengukuran Iklim Kerja

No. Waktu

Sumber : Data Primer Juni 2012

Dari hasil pengukuran tekanan panas di tempat kerja dapat

diketahui rata-rata ISBB di titik 1 sebesar 32,1 (ºC), rata-rata ISBB di

titik 2 sebesar 29,9 (ºC), rata-rata ISBB di titik 3 sebesar 29,7 (ºC) dan

rata-rata ISBB di titik 4 sebesar 29,5 (ºC). Berdasarkan Standar Nasional

Indonesia SNI 16-7063-2004 tentang Nilai Ambang Batas Iklim Kerja

(Panas), Kebisingan, Getaran Lengan-Lengan dan Radiasi Sinar Ultra

Ungu di Tempat Kerja, ISBB yang diperkenankan untuk waktu kerja

75% dan istirahat 25% dengan beban kerja berat adalah 25,9 (ºC).

2. Getaran

Pengukuran getaran di bagian penempaan gamelan yang

dilakukan pada tanggal 6 Juni 2012. Pengukuran ini dilakukan dengan

menempelkan alat (Vibration Meter) pada tanah tempat tenaga kerja

(55)

commit to user

penempaan gamelan yaitu 1,5 m/s2. Menurut Permenaker No.

Per.13/MEN/X/2011 tentang NAB Faktor Fisika dan Faktor Kimia di

Tempat Kerja, menyebutkan bahwa NAB getaran alat kerja yang kontak

langsung maupun tidak langsung pada lengan tangan tenaga kerja

ditetapkan sebesar 4 m/det2.

3. Ergonomi

Dari hasil pengamatan yang dilakukan peneliti, rata-rata denyut

nadi kerja yaitu 150 denyut/menit, rata-rata denyut nadi istirahat 125

denyut/menit dan denyut nadi maksimal 168. Dalam menempa gamelan,

para pekerja tidak memperhatikan posisi kerja dan hanya bekerja sesuai

dengan kenyamanan sendiri tidak memperhatikan risiko yang akan

terjadi.

D. Hasil Pengukuran Intensitas Kebisingan di Tempat Kerja

Hasil pengukuran kebisingan di tempat pembuatan gamelan yaitu

pada bagian penempaan dan bagian penggerindaan. Pengukuran dilakukan di

4 titik dimana titik-titik tersebut mengelilingi sumber bising dan pekerja

biasanya berada di titik tersebut selama bekerja. Hasil pengukuran kebisingan

adalah sebagai berikut :

Tabel 7. Hasil Pengukuran Intensitas Kebisingan

No Bagian Titik 1

(56)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

2

E. Hasil Pengukuran Kelelahan Kerja

Pengukuran kelelahan kerja pada tenaga kerja menggunakan alat

Reaction Timer Merk Lakassidaya Type L-77. Hasil pengukuran kelelahan

kerja pada di Industri Gamelan Desa Wirun, Mojolaban, Sukoharjo adalah

sebagai berikut :

Tabel 8. Hasil Pengukuran Kelelahan Kerja

No

Sumber : Data Primer April dan Juni 2012

Berdasarkan tabel 8, dapat diketahui bahwa tingkat kelelahan tenaga

kerja sebelum dan sesudah memakai ear plug ada perbedaan. Tingkat

kelelahan sebelum memkai ear plug ada 14 orang dengan kategori kelelahan

sedang dan 16 orang dengan kategori kelelahan berat. Sedangkan tingkat

kelelahan setelah memakai ear plug mengalami penurunan yaitu 3 orang

dengan kategori kelelahan normal, 2 orang dengan kategori kelelahan ringan

dan 25 orang dengan kategori kelelahan berat.

(57)

commit to user

F. Uji Perbedaan Kelelahan Kerja Sebelum dan Sesudah Memakai Ear

Plug

Hasil uji statistik dengan menggunakan paired sample t-test.

Berdasarkan hasil pengukuran intensitas kebisingan dan kelelahan kerja

sebelum dan setelah memakai ear plug pada tenaga kerja di Industri Gamelan

Desa Wirun, Mojolaban, Sukoharjo. Hasil pengukuran kelelahan kerja

sebelum dan sesudah memakai ear plug adalah sebagai berikut :

Dari hasil uji statistik menggunakan paired sample t-test

menggunakan SPSS versi 16, diperoleh rata-rata kelelahan sebelum memakai

ear plug adalah 574,10 milidetik dan standar deviasinya adalah 72,2077.

Sedangkan rata-rata kelelahan setelah memakai ear plug adalah 306,35

milidetik dan standar deviasinya adalah 58,8553. Berdasarkan hasil uji

statistik diketahui bahwa nilai p adalah 0.000 atau kurang dari 0.01 (p < 0,01)

berarti nilai p sangat signifikan. Hal ini menunjukkan bahwa ada perbedaan

yang sangat signifikan antara kelelahan kerja terhadap pemakaian ear plug

(58)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

2

BAB V

PEMBAHASAN

A. Karakteristik Subyek Penelitian

1. Umur

Umur dapat mempengaruhi kelelahan kerja. Semakin tua umur

seseorang semakin besar tingkat kelelahan. Fungsi faal tubuh dapat

berubah karena faktor umur yang mempengaruhi ketahanan tubuh dan

kapasitas kerja seseorang (Suma’mur, 1999). Kekuatan maksimal otot

dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain umur, jenis kelamin,

latihan-latihan dan motivasi sesaat. Pusat kekuatan otot pada laki – laki dan

wanita sekitar 25 – 35 tahun dan pada umur sekitar 50 – 60 kekuatan otot

menurun sekitar 15% – 25% (Setyawati, 2011). Menurut Tarwaka

(2010), seseorang yang berumur 60 tahun kemampuan kerja fisik tinggal

mencapai 50% dari orang yang berumur 25 tahun. Sehingga umur juga

dapat mempengaruhi tingkat kelelahan seseorang.

Dari hasil wawancara dengan responden, umur responden

berada pada rentang umur 25 – 50 tahun. Depkes RI (2008) menyebutkan

bahwa usia produktif adalah antara 15 – 54 tahun, sehingga responden

berada pada usia yang masih produktif. Menurut Oentoro (2004), tenaga

kerja yang berumur 40 – 50 tahun, lebih cepat mengalami kelelahan

dibandingkan dengan tenaga kerja yang relatif muda.

(59)

commit to user 2. Jenis Kelamin

Laki-laki dan perempuan bisa mengalami kelelahan kerja,

namun dalam kemampuan fisik dan kekuatan kerja ototnya berbeda

(Suma’mur, 2009). Menurut Windahyani (2008) pada tenaga kerja

wanita mengalami siklus biologi setiap bulan di dalam mekanisme

tubuhnya, sehingga mempengaruhi kondisi fisik maupun psikisnya dan

hal ini menyebabkan tingkat kelelahan wanita lebih besar daripada

tingkat kelelahan pria. Dalam penelitian ini, sampel yang diambil adalah

keseluruhan pekerja yang bekerja di industri informal pembuatan

gamelan Desa Wirun Mojolaban Sukoharjo yaitu semua pekerja berjenis

kelamin laki-laki.

3. Masa Kerja

Rata-rata pekerja yang berada di industri pembuatan gamelan

Desa Wirun, Mojolaban, Sukoharjo sudah bekerja lebih dari 5 tahun. Jadi

100 % pekerja di industri gamelan sudah lama bekerja di indutri gamelan

tersebut. Masa kerja dapat mempengaruhi pekerja baik positif maupun

negatif. Memberikan pengaruh positif apabila semakin lama seseorang

bekerja maka berpengalaman dalam melakukan pekerjaannya.

Sebaliknya memberikan pengaruh negatif apabila semakin lama bekerja

akan menimbulkan kelelahan mental misalnya kebosanan, mengantuk,

pusing, berkurangnya tingkat kewaspadaan, persepsi yang buruk dan

lambat, semangat kerja berkurang dan menurunnya kinerja jasmani dan

Gambar

Gambar 1.  Kerangka Pemikiran .....................................................................
Tabel 1. Nilai Ambang Batas Faktor Fisik dan Kimia
Tabel 2. Klasifikasi tingkat kelelahan subjektif berdasarkan total
Gambar 1. Kerangka Pemikiran
+7

Referensi

Dokumen terkait

Penyajian data dala m bentuk angka ini, dimu lai dengan menga mbil data posisi bus saat ini dari database bus sehingga didapat data lintang dan bujur selanjutnya data lintang dan

Ikan Chaetodontidae dapat dijadikan sebagai bioindikator bagi karang berdasarkan kriteria yaitu: (a) salah satu dari jenis ikan karang yang keberadaannya

Kuyung Rizal (2003) dalam skripsinya yang berjudul “Referensi Dalam Kaba Cindua Mato”. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori analisis wacana oleh M.A.K

Hal ini didasarkan pada hasil prasurvey yang dilakukan oleh Tim PPM Lembaga Pengabdian Pada Masyarakat STEKOM Semarang di SDN GAJAHMUNGKUR 01 Semarang bahwa hal

Ketiga, mendidik dengan mengajarkan ilmu pengetahuan dan dialog tentang berbagai persoalan. Dalam hal ini amat penting orang tua mampu menanamkan pengertian kepada

Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh Seiri, Seiton, Seiso, Seiketsu dan Shitsuke secara parsial terhadap Operasional Bengkel di New Armada Magelang

Kemampuan sumber daya manusia untuk dapat menghasilkan suatu karya yang bermanfaat sering disebut dengan produktivitas karyawan, dan produktivitas karyawan itu

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui aktivitas antidiabetes ekstrak etanol daun lidah mertua (EEDLM) terhadap penurunan kadar glukosa darah (KGD) mencit dengan menggunakan