• Tidak ada hasil yang ditemukan

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA"

Copied!
25
0
0

Teks penuh

(1)

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA

RISALAH RAPA T PANJA

PENYUSUNAN RUU TENTANG PERUBAHAN ATAS UU NO. 24 TAHUN 2004 TENTANG MAHKAMAH KONSTITUSI

Tahun Sidang Masa Persidangan Jenis Rapa!

Rapat ke Hari/Tanggal Waktu Tempat Acara Ketua Rapa!

Sekretaris Rapa!

Hadir

ANGGOTA DPR RI : Pimpinan:

1. Ignatius Mulyono

Fraksi Partai Demokrat : 5 dari 6 orang Anggota 1. Ors. Umar Arsal

KAMIS, 29 APRIL 2010

2009 - 2010 Ill

Rapa! Panja

Kamis, 29 April 2010 09.00 WIB

Ruang Sidang II Griya Sabha Kopo Cisarua, Bogor Melanjutkan acara tanggal 28 April 201 O

Ignatius Mulyono

Ors. Djaka Dwi Winarko, M.Si 16 orang dari 24 orang Anggota

Fraksi Partai Golkar:

1 dari 5 orang Anggota

1. H. Andi Rio Idris Padjalangi, S.H., M.Kn 2. Didi lrawadi Syamsuddin, S.H., LLM

3. Sutjipto, S.H., M.Kn

4. DR. Pieter C Zulkifli Simabuea, M.H.

5. Dhiana Anwar, S.H.

Fraksi PDIP: Fraksi PKS:

2 dari 4 orang Anggota 2 dari 2 orang Anggota 1. Ora. Sri Rahayu

2. Rahadi Zakaria 1. H. TB. Soenmandjaja, SD

2. Ir. Memed Sosiawan

Fraksi PAN: Fraksi PKB:

2 dari 2 orang Anggota 1. Jamaluddin Jafar, S.H.

1 dari 1 orang Anggota 1. Achmad Yani, S.H., M.H.

2. Indira Chunda Thita Syahrul, S.E., M.M

(2)

Fraksi PPP:

1 orang dari 1 orang Anggota 1. Ors. H. lbnu Multazam

KETUA RAPAT (IGNATIUS MUL YONO) : Salam sejahtera untuk kita sekalian Bapak dan ibu sekalian yang saya hormati

Fraksi Partai Hanura:

1 orang dari 1 orang Anggota

maka skors kami cabut dan kita lanjutkan pembahasan kita. Kemarin jika tidak salah sudah sampai ke Bagian ke-2 akhir pada halaman 7, kita akan melanjutkan ke Bagian Ketiga Sekretariat Jenderal dan Kepaniteraan, judul agaknya masih tetap tidak kita bahas.

Di

sini ditulis bahwa untuk saran dari perubahan ini sebagai berikut : "Pada Mahkamah Konstitusi dibentuk Sekretariat Jenderal dan Kepaniteraan untuk menyelenggarakan pelaksanaan tugas dan wewenang Mahkamah Konstitusi". Jika yang kemarin untuk Mahkamah Konstitusi hanya dibantu oleh Sekretariat Jenderal dan Kepaniteraan sekarang ini dibentuk Sekretariat Jenderal dan Kepaniteraan. Jadi hanya kata

"dibantu" dihganti "dibentuk".

F-PPP (AHMAD YANI, S.H., M.H.):

Usul Bapak Ketua, Pasal 7 ini usulan saya mencantumkan ini saja kata saja ""Pada Mahkamah Konstitusi dibentuk Sekretariat Jenderal dan suatu Kepaniteraan untuk menyelenggarakan pelaksanaan tugas dan wewenang Mahkamah Konstitusi", jadi pakai kata

"suatu" sebagai penghubunganya, suatu kepaniteraaan ini yang nanti akan mengatur panitera- panitera.

KETUA RAPA T :

lni ada pendapat kita lebih tepat menggunakan istilah "dibantu" atau "dibentuk". Untuk bapak-bapak yang lain silahkan jika ada pendapat.

F·PDIP (RAHADI ZAKARIA):

Jadi lebih menonjolkan atau memerankan Sekretariat Jenderal ini saya kira jika menurut hemat saya lebih tepat itu "dibantu", sifatnya pembantuan atau pelayanan kepada Mahkamah Konstitusi.

F·PKS (IR. MEMED SOSIAWAN):

Saya setuju yang "dibentuk" karena dibentuk itu mernberikan kepastian institusi Sekjen.

Yang kedua, tentang tugas yang dikhawatirkan menservice itu tidak perlu khawatir karena di sini juga dijelaskan untuk menyelenggarakan pelaksanaan tugas dan wewenang Mahkamah Konstitusi, servicenya juga dijelaskan, institusinya juga dijelaskan.

KETUA RAPA T :

Jadi konotasinya jika memang dibentuk pendekatannya adalah persyaratan, bahwa satu institusi yang berkait pada satu peradilan itu harus ada yang disebut Sekretariatnya dan Kepaniterannya karena tugasnya memang berbeda, sehingga ini merupakan satu persyaratan jadi

2

(3)

tidak hanya sekedar seakan-akan ini suatu perbantuan, tetapi memang persyaratan harus ada. Jika demikian bagaimana jika disetujui yang "dibentuk" setuju ya?

(RAPAT:SETUJU)

Kemudian Pasal 8, (1) Sekretariat Jenderal sebagaimana dimaksud dalam Pasla 7 menjalankan tugas teknis administrasi Mahkamah Konstitusi. (2) Tugas teknis administrasi sebagaimana dimaksud pada Pasal 8 Ayat (1) diuraikan sampai E ini, kemudian 8A sebagai uraian dari Kepaniteraan, tugasnya juga sudah diatur. Selanjutnya yang 88 jika itu sudah termuat apa masih butuh lagi diatur melalui ketentuan-ketentuan yang akan dibuat dalam peraturan Presiden atas usu! Mahkamah Konstitusi. Jadi mohon ditanggapi mulai dari Pasal 8 secara keseluruhan.

F-PPP (AHMAD YANI, S.H., M.H.):

Saya langsung saja 88, yang lainnya tidak ada persoalan sudah bagus. 88 "ketentuan mengenai susunan organisasi, fungsi, tugas dan wewenang Sekretariat Jenderal dan sebuah Kepaniteraan Mahkamah Konstitusi diatur lebih lanjut dengan peraturan Mahkamah Konstitusi". Jadi tidak perlu dengan Peraturan Presiden, cukup dengan Peraturan Mahkamah Konstitusi, Mahkamah Agung tidak ada peraturan Mahkamah Agung.

KETUA RAPA T :

Silahkan ditanggapi ada usu! tidak dari Peraturan Presiden cukup dengan Peraturan Mahkamah Konstitusi. Karena ini nanti menyangkut masalah dukungan dan sebagainya, jadi ini ada tanggungan masalah konsekuensi dan pengaturan. Jadi usulan dari Bapak Ahmad Yani tidak diperlukan Peraturan Presiden cukup dengan Peraturan Mahkamah Konstitusi. Karena tidak ada tanggapan lain apakah disetujui akan disesuikan dengan Mahkamah Agung dan kita serahkan ke tenaga ahli, setuju ya?

(RAPAT:SETUJU)

Lanjut kita ke Pasal 9 tetap, Bab Ill Kekuasaan Mahkamah Konstitusi, di sini awalnya di tulis Bagian Pertama berikutnya ditulis Bagian Kesatu. Saya kira ini sinkronisasi saja ya, karena sinkronisasi kita serahkan ke tenaga ahli.

Kemudian ke Pasal 10, ini untuk koreksi ke tenaga ahli dahulu besok lagi jika yang tetap ditulis tetap saja, supaya kita akan ketemu mana yang akan kita bicarakan jika begini kita harus cari- cari lagi. lni saya lihat A tetap sama itu, redaksinya juga sama, B tetap juga, C memutus pembubaran partai politik tetap, D ada perubahan semula memutus perselisihan tentang hasil Pemilu di sini tertulis memutus perselisihan tentang hasil Pemilu yang meliputi Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden, Pemilihan Umum Anggota DPR, DPD dan DPRD dan Pemilihan Umum Kepala Daerah. lni lebih ditegaskan, jika memang hasil Pemilihan Umum itu , jika memang sebenarnya Pilkada itu termasuk ranah Pemilihan Umum sebenarnya cukup dengan Pemilihan Umum, jika ini dituliskan Pemilihan Umum Kepala Daerah ini berarti sebenarnya suatu saat ada Pemilihan Kepala Daerah tanpa Pemilihan Umum. Sebenarnya di Pasal 18 ini juga begitu, Pasal 18 tetap ada dua kemarin yang ditegaskan oleh Bapak dari Forum Konstitusi jelas masih ada dua itu.

Jadi menurut saya kita sepakati yang baru ini ya.

F·PDIP (RAHADI ZAKARIA):

Jadi ini sudah benar akan tetapi jika nanti ternyata Undang-Undang Pemilihan Kepala Daerah ini berubah, misalnya di provinsi jadi jika untuk provinsi nanti pemilihan umumnya itu tidak pemilihan umum akan tetapi pemilihan kepala daerah sifatnya yang dipilih DPRD, ini bagaimana

(4)

mewadahi jika ada persoalan kasus yang terjadi ketika pemilihan kepada daerah itu tidak dipilih oleh rakyat akan tetapi dipilih oleh lembaga dewan, itu bukan namanya pemilihan umum itu beda tetapi pemilihan kepada daerah tida pakai umum, di sini masih ada kata-kata pemilihan umum. Apakah ini perlu dimasukkan termasuk pemilihan kepala daerah, itu bagaimana cara mewadahinya. Sekaligus jika ini disahkan tidak perlu ada perubahan lagi akan tetapi sudah mencakup untuk mencoba mengantisipasi kasus-kasus sengketa pemilihan kepada daerah. Jika itu jadi nanti undang- undangnya diubah bahwa Gubernur tidak lagi dipilih oleh rakyat langsung akan tetapi dipilih oleh DPRD.

F-PPP (AHMAD YANI, S.H., M.H.):

Saya usu! konkrit saja, saya kira hanya menambahkan saja "dan pemilihan umum kepala daerah dan atau pemilihan kepala daerah".

KETUA RAPA T :

Jika seperti itu kita juga ada konsekuensi bahwa kita masih tetap mewadahi ranah daripada pemilihan kepala daerah itu bisa melalui pemilihan umum dan bisa pemilihan dari DPRD. lni secara eksplisit tertulis di sini, jadi itu nanti bisa jadi aturan panjang terhadap masalah Undang-Undang No.

22 Tahun 2007 itu sedang dibahas di Komisi II DPR RI itu nanti terimbas juga oleh ini.

F-PPP (AHMAD YANI, S.H., M.H.):

Dan itu sesuai dengan konstitusi, pemilihan itu bisa pemilihan umum secara langsung bisa juga karena panggilannya demokratis.

KETUA RAPAT :

Benar hanya sekarang ada kelompok-kelompok yang sudah menarik secara penuh itu bahwa pemilihan kepala daerah itu menjadi ranah pemilihan umum, padahal tidak kami dahulu menyusun undang-undang tidak menyebut Pemilu Kada akan tetapi sekarang sudah ada upaya akan menarik semua ke pilihan umum. Jika berani kita meluruskan kembali, tetapi saya belum berani jika belum ada persetujuan dari Mbak Yayuk.

F-PDIP (DRA. SRI RAHA YU):

Artinya jika kita sudah membuat seperti itu kita juga punya pikiran kearah ke sana, sementara inikan pemilihan kepala daerah semuanya arahnya pemilu sudah jalan begitu, artinya jika ada begitu berarti kita juga punya pikiran bahwa nanti akan ditarik bahwa pemiihan kepada daerah itu tidak melalui secara langsung akan tetapi melalui DPRD, kan arahnya ke sana. Maksud saya bahwa ada wacana di provinsi itu kepala daerahnya bukan dipilih oleh DPRD akan tetapi langsung diangkat.

F-PD (SOET JIPTO, S.H., M.Kn):

Saya kira saya mengerti apa yang dikhawatirkan lbu Yayuk di konstitusi jelas bahwa pemilihan Gubernur, Bupati, Walikota itu dipilih secara demokratis. Jadi tidak mungkin akan diangkat Presiden tanpa merubah konstitusi. Oleh karena itu, saya setuju usulan Bapak Ahmad Yani dan saya kira saya bisa mengerti lbu Yayuk sehingga bukan berarti ini kita memaksa Undang-Undang Pemilihan Kepala Daerah harus DPRD akan tetapi kita adalah mewadahi konstitusi, jika ada kita

(5)

sudah ada jika tidak nantik kita berubah lagi Undang-Undang Mahkamah Konstitusi. Oleh karena itu, saya setuju usulan rumusan yang disampaikan Bapak Ahmad Yani tadi.

KETUA RAPA T : Setuju ya?

F-PAN (JAMALUDDIN JAFAR, S.H.):

Jadi ini apakah mau di delete kepala daerah atau bagaimana ini? lni kepala daerahkan ada dua, ada Bupati ada Gubernur. Bupatinya tetap masih ada dan dipilih oleh masyarakat, jadi tidak perlu kita mendelete ini tetap memang sudah bagus, karena kita tidak mengeksplisit menunjuk bahwa ini Gubernur akan tetapi kepala daerah, nanti kepala daerah kabupaten atau provinsi ini nanti sudah diwadahi.

KETUA RAPA T :

Karena Bapak Jamaluddin Jafar juga sudah memperkuat langsung kita ketok saja ya?

(RAPAT:SETUJU)

Ayat (2) ini tidak ada coretan berarti tetap ya, Ayat (2), Ayat (3) tetap semua. Lanjut ke halaman 12 Pasal 16 "Untuk dapat diangkat menjadi hakim konstitusi seorang calon harus memenuhi syarat : a. Warga negara Indonesia, b. Bertaqwa dan berakhlaq mulia, c. Berpendidikan Sarjana Hukum, d. Berusia sekurang-kurangnya 40 (empat puluh) tahun dan setinggi-tingginya 65 (enam puluh lima) tahun pada saat pengangkatan, e. Mampu secara jasmani dan rohani dalam menjalankan tugas dan kewajiban, f. Tidak pernah dihatuhi pidana penjara berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap, g. Tidak sedang dinyatakan pailit berdasarkan putusan pengadilan, h. Mempunyai pengalaman kerja di bidang hukum, ketatanegaraan sekurang-kurangnya 10 (sepuluh) tahun dan/atau pernah menduduki jabatan kenegaraan. Menurut saya yang menjadi masalah tinggal D saja in, silahkan Bapak Jafar.

F-PAN (JAMALUDDIN JAFAR, S.H.):

Jadi karena masalah SOM kita dan pendidikan kita ini semakin hari semakin maju, maka kesarjanaan hukum itu ditegaskan saja 83, jika bisa 83 karena jika 82 sudah banyak, karena Mahkamah Konstitusi ini kualified dan ini putusannya bersifat final jadi kita harapkan sudah matang.

Masalah umur itu jika bisa 50 tahun.

KETUA RAPA T :

Jika atasnya 65 tahun setuju.

F-PPP (AHMAD YANI, S.H., M.H.):

Saya setuju pertama masalah pendidikan jika kita mau mempersamakan dengan hakim agung 83 tidak ada masalah, jika hakim agung 82 itu minimum. Usia saya setuju 50 tahun bahkan 55 tahun, setinggi-tingginya sama juga dengan hakim agung ini.

(6)

KETUA RAPA T :

Masih ada pendapat lain, silahkan Bapak Soetjipto.

F·PD (SOET JIPTO, S.H., M.Kn):

Saya menghargai pendapat kawan-kawan sebelumnya jadi untuk persyaratan saya setuju jika pendidikannya itu adalah 83, akan tetapi khusus yang dari Mahkamah Agung karena di Undang- Undang Mahkamah Agung jika hakim karir itu pendidikan sekurang-kurangnya 82, tetapi jika hakim yang non karir itu harus 83. Oleh karena itu, pendidikan 83 dengan catatan khusus yang berasal dari hakim agung pendidikan sekurang-kurangnya adalah 82, supaya jangan sampai tertutup hakim agung yang berpendidikan 82 untuk menjadi hakim konstitusi karena persyaratan hakim agung itu adalah S2 dan S3 tergantung dari pasalnya.

KETUA RAPA T :

Redaksinya bagaimana Bapak Soetjipto.

F-PD (SOET JIPTO, S.H., M.Kn):

Jadi unsur dari DPR dan Pemerintah pendidikan sekurang-kurangnya S3, sedangkan unsr dari Mahkamah Agung pendidikan sekurang-kurangnya 82. Hakim konstitusi tidak ada karir dan non karir akan tetapi bahwa di Mahkamah Agung itu hakimnya terdiri dari karir dan non karir, sehingga nanti jika yang dikirim yang memang non karir pasti 83 itu persyaratan di sana tetapi jika yang dikirim adalah hakim agung yang karir bisa saja 82 meskipun sekarang sudah banyak 83.

Lalu mengenai usia, karena hakim konstitusi itu sebenarnya pada dasarnya dia adalah seorang negarawan meskipun negarawan itu tidak harus dikaitkan umur akan tetapi lebih baik supaya mereka bisa menjabat dua kali saya setuju, jika umur sekurang-kurangnya 55 tahun. Jadi jika mereka nanti 55 tahun sampai 60 tahun, 60 tahun sampai 65 tahun sehingga jika maksimum 65 tahun benar, karena mereka jangan kurang dari satu jabatan jika nanti kita sepakat juga umur 70 tahun. Oleh karena itu, saya setuju jika umur sekurang-kurangnya 55 tahun, jangan sampai negarawan itu masih terlampau muda.

KETUA RAPAT :

Silahkan kepada lbu Sri Rahayu.

F-PDIP (ORA. SRI RAHA YU):

Saya hanya ingin tahu soal dasar pertimbangan dulu 40 tahun itu seperti apa, sehingga kita bisa menentukan 55 tahun dan seterusnya, tentunya kemarin ada alasan yang kuat mengapa 40 tahun. Kemudian yang kedua, jika itu harus ada yang H itu ada pengalaman kerja di bidang ketatanegaraan sekurang-kurangnya 10 tahun dan/atau pernah menduduki jabatan negara.

Kemudian jika kita kaitkan juga dengan yang pendidikan itu apa tidak ada semacam diskriminasi yang kurang baik, karena di sini sudah ada persyaratan.

KETUA RAPA T :

Apa yang disampaikan lbu Yayuk jika soal 50 tahun sampai 55 tahun itu nanti secara bisik- bisikan dan nanti akan dijelaskan, jika untuk soal yang H ini jika ditambah persyaratan yang demikian itu mungkin juga proses pemilihan kita juga mengalami yang terbatas sekali. Orang yang

(7)

83 dan punya pengalaman 10 tahun di hukum ketatanegaraan inikan agak mempersempit, nanti calonnya itu orang yang tidak seharusnya di sana jadi repot. Jadi jika yang lama cukup di sini mempunyai pengalaman kerja di bidang hukum sekurang-kurangnya 10 tahun. Jika akan ditambah saja dan/atau pernah menduduki jabatan kenegaraan barangkali itu masih mungkin tetapi tidak diikat habis dengan kata-kata hukum ketata negaraan ini agak mempersempitnya luar biasa.

F-PPP (AHMAD YANI, 5.H., M.H.):

Yang pertama tadi masalah pendidikan, saya setuju dengan Bapak soetjipto karena unsure hakim Mahkamah Konstitusi ini terdiri dari 3 unsur, perwakilan dari 3 unsur DPR, 3 unsur dari pemerintah, 3 dari Mahkamah Agung. lni memang jika kita langsung 83 ini agak bermasalah di Mahkamah Agung, ini hakim Mahkamah Agung untuk menjadi hakim Mahkamah Konstitusi sedikit sekali hanya orang-orang tertentu yang mau. Jadi perwakilan hakim Mahkamah Agung ini prakteknya sekarang ini wakil dari hakim Mahkamah Agung mau menjadi hakim Mahkamah Konstitusi itu sedikit sekali, ini menyangkut masalah karena di Mahkamah Agung mereka sudah mendapatkan kenikmatan, sedangkan di Mahkamah Konstitusi kenikmatan itu akan berkurang, jadi orang yang punya visi kenegarawan itu yang akan hakim Mahkamah Agung.

Kemudian yang kedua, saya setuju juga dengan draft yang lama. Mempunyai pengalaman kerja di bidang hukum sekurang-kurangnya jika mau ditambah 15 tahun, jadi tidak perlu kata kenegaraan dia bisa saja 5 tahun mempelajari.

KETUA RAPA T :

8ilahkan Bapak Jamaluddin.

F-PAN (JAMALUDDIN JAFAR, 5.H.):

Jadi masalah 82 itu saya setuju jika dari unsur hakim karir, tetapi jika dari unsur akademis mungkin itu sebaiknya 83, apakah ada unsur akademis di sini nanti. Yang nanti jika Mahkamah Agung sudah kita terima yang 82, tetapi dari luarnya 83. 8aya setuju dengan itu, terima kasih.

KETUA RAPA T :

Silahkan Bapak Memed.

F-PK5 (IR. MEMED 5051AWAN):

lni 55 tahun sekurang-kurangnya, jika 40 tahun ini masih banyak kebutuhan-kebutuhan yang duniawi. Yang H itu memang sebaiknya dibidang hukum saja sekurang-kurangnya 15 tahun, apalagi pernah menduduki jabatan kenegaraan itu semakin sulit, apalagi nanti yang diusulkan dari jalur DPR, jika dari jalur Presiden dan Mahkamah Agung itu mungkin jabatan Negara bisa.

KETUA RAPAT :

Silahkan Bapak soetjipto.

F·PD (SOET JIPTO, S.H., M.Kn):

Saya kira selain syarat-syarat A sampai H, saya kira ketentuan di konstitusi jangan diredusi karena di sini di Pasal 24 C ayat (5) Hakim konstitusi harus memiliki integritas dan pribadi yang tidak tercela, adil, negarawan yang menguasai konstitusi dan ketatanegaraan. Jadi menguasai di sini

(8)

bukan berarti pengalaman ketatanegaraan tetapi saya kira ini dimasukkan, negarawan yang menguasai konstitusi dan ketatanegaraan, karena ini syarat di konstitusi tidak boleh ditambah dalam undang-undang. Jadi negarawan yang menguasai konstitusi dan ketatanegaraan.

KETUA RAPA T :

Sudah di Pasal 15, itukan tetap jadi yang bapak sampaikan tadi 3 hal itu sudah termuat di sana.

F-PPP (AHMAD YANI, 5.H., M.H.):

lni tetap maksudnya adalah dua pasal yang isinya sama kenapa tidak dijadikan satu atau Pasal 16 ini bisa dinaikkan menjadi Pasal 16 tambahannya, Pasal 16 ini digabun menjadi Pasal 15.

Digabung saja nanti, jadi pengangkatan itu Pasal 15 boleh a, b, c, mungkin yang satu ini menjadi B nanti.

KETUA RAPA T :

Jangan-jangan yang Pasal 15 itu sebagai persyaratan pokok mungkin atau utama, dan sedang persyaratan yang umum itu mungkin yang di Pasal 16 atau persyaratan khususnya yang Pasal 16. Jika dijadikan satu tidak masalah bahkan lebih bagus, jadi jika itu bagus bisa dijadikan satu tidak mengurangi makna itu, jadi yang Pasal 16 itu ditambahi a, b, c yang Ayat (1) itu sudahini sampai H tetapi ditata urutan yang ini yang paling bagusn letaknya di mana.

F-PAN (JAMALUDDIN JAFAR, 5.H.):

Saya pikir yang Pasal 15 dan Pasal 16 ini digabung saja, jadi Pasal 16 itu menjadi Pasal 15.

KETUA RAPA T :

ltu jika kita jadikan dua ayat terus ini menjadi 3 ayat sebenarnya tidak ada bedanya dengan Pasal 15 dipakai, sebenarnya seharusnya dua ayat, jadi yang Pasal 15 dilebur menjadi satu a, b, c, d, e,

f,

g, h, apalagi itu. Jadi ayatnya tetap dua Pasal 16, Pasal 15 dihapus. Jadi Pasal 16 jadi Pasal 15 digabung, terus ayat (1) a, b, c, itu dimasukkan. Hanya akan kami putuskan di sini berpendidikan S3 itu tadi yang disampaikan tadi kecuali jika yang di Mahkamah Agung itu bisa S2, itu sudah oke.

Kemudian berusia sekurang-kurangnya 50 tahun, jadi 55 tahun oke punya.

F-PDIP (ORA. SRI RAHA YU):

Dalam penyusunannya mungkin saya hanya memberikan saran kepada tenaga ahli yang huruf a itu tetap warga negara Indonesia, jadi bukan hanya sekedar digabung tetapi harus disusun sesuai dengan urutan yang tepat.

F-PPP (AHMAD YANI, 5.H., M.H.):

Saya usul lagi ini khusus untuk pendidikan tadi nanti disesuaikan dengan Pasal 24 C ayat (3) di Undang-Undang Dasar.

(9)

KETUA RAPA T :

Penulisan ketatanegaraan kita hapus yang H itu, karena sudah terkait diatas juga jika pernah menduduki jabatan kenegaraan tidak perlu. Kemudian tetap sampai dengan Pasal 19 saya ketok ya.

F-PD (SOET JIPTO, S.H., M.Kn):

lni saya kira penting sekali khusus Pasal 18, jadi saya dan kawan-kawan dari PDIP dari lintas partai pada waktu yang mengusulkan adanya Mahkamah Konstitusi dan ini juga berlaku di negara lain, jadi jika kita tadi sudah bicara masalah pendidikan Pasal 15 dan Pasal 16. Sekarang mengenai kualifikasi, jadi yang dimaksudkan dulu di dalam konstitusi saya ingat benar yang dari hakim Mahkamah Agung itu harus hakim agung, kenyataannya sekarang yang diusulkan Mahkamah Agung karena di undang-undag tidak menyebutkan jelas itu ada hakim pengadilan tinggi yang tidak lolos fit and propertest hakim agung, ada yang mereka menurut saya tidak pas, padahal antara Mahkamah Agung dengan Mahkamah Konstitusi itu adalah lembaga yang sejajar. Jika kita lihat bidang tugasnya Mahkamah Agung jika dalam hak ujinya sampai tingkat peraturan di bawah undang-undang, sedangkan Mahkamah Agung tingkat undang-undang. Oleh karena itu, supaya ada kesejajaran jadi yang dari Mahkamah Agung haruslah kualifikasinya hakim agung, jika seorang negarawan seharusnya mereka akan memilih di Mahkamah Konstitusi karena di sana semuanya sudah tertib, sekarang juga sangat dihargai, tetapi mungkin jika pendapatan besar di sana. Oleh karena itu jangan sampai ini diredusir oleh Mahkamah Agung sehingga yang diajukan itu bukan hakim agung.

F-PPP (AHMAD YANI, S.H., M.H.):

Saya agak beda pendapat dengan Bapak Soetjipto, secara ideal saya setuju apa yang diajukan Bapak Soetjipto ini secara ideal setuju itu yang ideal, tetapi saya takut tidak aplicable. Nanti inikan tidak ada kewajiban Ketua Mahkamah Agung memaksa hakim agung masuk di sana, ini saya lihat nanti diperiode berikutnya tidak ada hakim agung yang mau masuk di sana, jika tidak ada menjadi stagnat akan jadi ada persoalan.

F-PD (SOET JIPTO, 5.H., M.Kn):

lnikan ketatanegaraan, perintah konstitusi adalah perintah undang-undang, Mahkamah Agung harus mengirimkan dan itu di negara lain pun itu kualifikasinya hakim agung tidak ada nanti, jika nanti diredusir bisa saja nanti pengadilan tinggi incomenya besar kasihlah orang yang asal mau daftar maka celaka kita. Semangatnya membuat konstitusi adalah itu, kenapa Mahkamah Agung ya itu harus hakim agung.

KETUA RAPA T :

Kita masukkan di sini atau dipenjelasan.

F-PD (SOET JIPTO, 5.H., M.Kn):

Jadi di Pasal 18 jika boleh saya usulkan ayat (1) hakim konstitusi diajukan masing-masing 3 orang hakim agung oleh Mahkamah Agung, 3 orang oleh DPR, 3 orang oleh Presiden untuk ditetapkan dengan putusan Presiden.

(10)

F-PPP (AHMAD YANI, S.H., M.H.):

8aya setuju yang tadi tetapi persoalannya Bapak Tjip Ketua Mahkamah Agung tidak puny hak otoritas, ini hakim Mahkamah Agung ini berjumlah 55 sampai 60 nanti, tatkala nanti mengisi 3 unsur pemilihan berikutnya dari unsur Mahkamah Agung, Ketua Mahkamah Agung itu jika dipersyaratkan dia tidak punya otoritas kekuasaan untuk menentukan siapa-siapa, jika sekarang ini siapa yang mau silahkan. Tatkala tidak ada anggota hakim agung itu yang tidak mau bagaimana jalan keluarnya, sedangkan dia tidak otoritas kekuasaan untuk memaksa. Hakim di tingka pidana korupsi ini saya hanya memberikan ideal yang contoh praktis, sekarang ini Mahkamah Agung mengalami kesulitan untuk mencari hakim Tipikor di pengadilan tingkat provinsi, karena yang mau masuk mendaftar menjadi hakim Tipikor ini rendah sekali jumlahnya, terbatas sekali. Yang kedua, sudah dilakukan 3 kali akhirnya dapat dan tidak memenuhi kualifikasi. Jadi sekarang ini Bapak Tjip Mahkamah Agung akan mengirim surat ke Komisi Ill DPR RI untuk memberikan pertimbangan, karena undang-undang mensyaratkan kepada Mahkamah Agung untuk membentuk ini tetapi dia tidak punya kemampuan, secara finansial maupun rekrutmen. Yang saya khawatirkan jika kita masukkan secara definitif dan limitatif di dalam pasal ini, ternyata dikemudian hari ini tidak terpenuhi ini ada problem apa, ini ada problem undang-undang nanti. Oleh karena itu, menurut saya bagaimana mencermati ini dan harus ada pasal yang ini, andai nanti tidak ada di Mahkamah Agung yang mau.

F-PD (SOET JIPTO, S.H., M.Kn):

8aya mengerti apa yang disampaikan Bapak Yani dan jika kita bicara ini bahwa hakim konstitusi itu pegang peran yang sangat penting apalagi memutuskan Pilpres, ini redusir jika nanti konstitusi diredusir demikian juga kita tadi sudah sepakat persyaratannya yang dari DPR, Presiden itu 83 yang dari Mahkamah Agung 82 syarat-syaratnya itu supaya bahwa itu adalah memang karena masuk hakim agung syaratnya memang 82, sedangkan kekhawatiran Bapak Yani itu bisa diatasi, jika nanti hakim agung itu karena ini sudah undang-undang dan itu akan masuk ke Mahkamah Agung nanti akan diangkat lagi hakim agung dan jangan khawatir mereka tidak mau, saya kira Mahkamah Agung namanya akan rusak, jika tidak ada hakim agung yang mau disana, itu kewenangan Ketua Mahkamah Agung. lnikan ada organisasi, inikan perintah konstitusi, perintah undang-undang kenapa tidak ada yang mau menjadi hakim konstitusi saya kira itu akan digebuki oleh L8M. Jadi menurut saya Bapak Yani jangan sampai Mahkamah Konstitusi yang sekarang ini sangat bagus kita hormati dan putusan-putusannya termasuk Bapak Yani itu masuk DPR karena putusan Mahkamah Konstitusi, oleh karena itu saya kira Mahkamah Konstitusi ini lebih sah, jadi putusan pengadilan tertinggi.

F-HANURA (H. SARIFUDDIN SUDDING, S.H., M.H.):

Dua pemikiran ini saya kira ada sesuatu yang dipikirkan seperti Bapak Yani ini pikirannya jauh ke depan, selalu mengantisipasi sesuatu hal yang jangan sampai terjadi stagnat dalam suatu institusi, ini yang dipikirkan oleh Bapak Yani. Karena memang pengalaman kami kemarin pada waktu ke Mahkamah Agung, hakim-hakim sekarang ini sudah teramat sulit bagi Mahkamah Agung untuk mencari yang namanya hakim-hakim Tipikor di daerah. Namun demikian, bahwa perlu juga kita memahami yang namanya hakim konstitusi adalah seorang negarawan yang dalam menjalankan tugas dan fungsinya harus memahami pula dengan hukum acara, harus memahami tentang dunia praktisi. Pengamalan kemarin pada saat kasus-kasus legislasi hampir setiap persoalan putusan-putusan yang ada di sana itu tidak sesuai dengan fakta yang ada dipersidangan sehingga banyak yang mengajukan prates dan itu saya sangat memahami, karena ketika saya masih diruangan hakim konstitusi pada waktu itu ruangan penuh dengan berkas. 8aya tanya bagaimana cara pengerjakan membaca semua berkas dengan tumpukan berkas begitu banyak,

(11)

memang hakim-hakim itu punya teknik untuk membaca, ada tehnik-tehnik untuk membaca berkas dan itu sudah diketahui oleh hakim yang sudah mendalami dunia praktisi, sudah melalui jenjang karir. Sehingga saya sangat sepakat ketika misalnya hakim konstitusi ini itu diambil dari hakim agung, karena itu tadi ada satu kesulitan yang mereka dalam teknis membaca berkas itu yang dialami oleh hakim konstitusi saat ini, begitu pula dalam hal membuat satu keputusan.

Jadi jika bukan hakim karir artinya kita tidak bisa menafikkan juga dengan hakim-hakim katakanlah yang punya wawasan di bidang itu, kita tidak bisa artikan itu, tetapi paling tidak dalam satu majelis itu ada hakim karir dari Mahkamah Agung, sehingga rumusan ini saya sepakat itu kita tidak bisa hilangkan, rumusan bahwa harus ada pencalonan dari DPR , Mahkamah Agung, yang saya tidak setuju dari Presiden. Memang benar itu diatur dalam Undang-Undang Dasar, hanya saja persoalannya seandainya ini bisa dihilangkan dengan mengamandemen Undang-Undang Dasar 1945 usulan Presiden ini harus kita rubah, ditiadakan karena itu akan terjadi conflict of interest. Jika misalnya yang memeriksa ini adalah orang yang diangkat oleh Presiden terjadi conflict of interest, hal-hal seperti itulah karena yang diuji di Mahkamah Konstitusi itu adalah undang-undang yang memang banyak inisiasinya dari pemerintah dan juga dari DPR. Tetapi pada dasarnya saya sepakat dengan ini.

KETUA RAPA T :

Silahkan Bapak Yani.

F-PPP (AHMAD YANI, S.H., M.H.):

Saya kira ide-ide cerdas beliau ini nanti melalui Fraksi Hanura, nanti bapak perjuangkan di badan pekerja MPR. Kita amandemen lagi akan tetapi sekarang ini menjadi hukum tertulis kita.

Undang-Undang Dasar Pasal 24 C ayat (3) Mahkamah Konstitusi mempunyai 9 orang anggota hakim konstitusi yang ditetapkan oleh Presiden yang diajukan masing-masing 3 orang oleh Mahkamah Agung, 3 orang oleh DPR, dan 3 orang Presiden. lni masih menjadi landasan hukum kita, masih acuan kita, sebelum diamandemen. Pikiran yang cerdas Bapak Suding itu nanti diperjuangkan saja kepada badan pekerja.

KETUA RAPA T :

Bapak Ahmad Yani itu ada kata-kata "seandainya", saya mengusulkan apakah yang ditambahkan Bapak Soetjipto ini masuk di substansi atau kita masukkan dipenjelasan, karena jika di sunstansi ini berbeda dengan Undang-Undang Dasar, kita kunci dipenjelasan saja. Yang diusulkan dari Mahkamah Agung adalah 3 hakim agung.

F·PPP (AHMAD YANI, S.H., M.H.):

Jadi ditambahkan dipenjelasan itu, jadi sifatnya di sana itu ada penugasan, jadi hakim agung yang di san itu karena dia kembali dia bisa kembali lagi ke hakim agung, jika tidak maka tidak akan ada yang mau.

KETUA RAPAT :

Ditegaskan dengan penugasan dipenjelasan.

(12)

F·PD (DRS. UMAR ARSAL):

Mungkin juga bisa diprioritaskan hakim agung, ditambah kata "diprioritaskan", tidak bisa ya atau dipenjelasan saja.

KETUA RAPA T :

lni dari tenaga ahli mau menyampaikan apa.

TENAGA AHLI (BARUS) :

Mengenai unsur dari Mahkamah Agung itu jika nanti diuraikan dipenjelasan sebenarnya makna yang disampaikan Bapak Soetjipto itu memiliki kekuatan norma. Jadi jika dia memiliki kekuatan norma tidak tepat ditempatkan dipenjelasan, jadi di pasal ini tidak apa-apa kita rumuskan.

KETUA RAPA T :

Kita tidak mau disana sudah nampak bertentangan dengan Undang-Undang Dasar, di konstitusi tidak disebut hakim agung cukup bahwa dari diajukan Mahkamah Agung 3 orang.

Sekarang kita kunci dipenjelasan sebagai penugasan, tolong dicatat oke kita ketok ya?

F-PDIP (ORA. SRI RAHA YU):

Jika misalnya apa yang disampaikan tenaga ahli tadi, Pasal 18 ayat (1) iya kemudian ayat (2) nya mungkin dipenjelasan dimasukkan di ayat (2) atau ayat (1 a) atau apa dibawahnya ayat (1) itu, jadi tidak dipenjelasan.

KETUA RAPA T :

Tidak perlu dibuat penjelasan langsung diberikan ayat sendiri.

F-PDIP (ORA. SRI RAHA YU):

Jadi ayat (1) nya sesuai dengan undang-undang kemudian tambah satu ayat khusus yang Mahkamah Agung itu tadi.

KETUA RAPAT :

Silahkan Bapak Memed.

F·PKS (IR. MEMED SOSIAWAN):

Terima kasih Pimpinan.

Saya hanya ingin menanyakan kesetaraannya saja jika diputuskan Mahkamah Agung yang 3 orang itu dibuat syarat yang relatif berat, bagaimana dengan yang usulan dari DPR RI dan Presiden, hanya memakai kata umum dan khusus yang disebutkan dalam Pasal 16 atau Pasal 15 jika digabungkan.

(13)

KETUA RAPAT:

Sudah ada persyaratannya tadi yang di Pasal 15 tadi, itukan persyaratan yang sudah ditentukan. Sekarang khusus di Pasal 18 itu kita lebih menitik beratkan hanya untuk kepentingan hakim agung dari Mahkamah Agung itu tadi. Setuju ya?

(RAPAT:SETUJU)

Kita lanjutkan Pasal 20, Pasal 20 ini hanya ada tambahan yaitu ayat (2a) "masyarakat berhak memperoleh informasi dan memberikan masukan mengenai seleksi calon hakim konstitusi pada masing-masing lembaga sebagaimana dimaksud pada ayat (1)".

F·PDIP (ORA. SRI RAHAYU):

Jika masyarakat ini berhak memperoleh informasi dan memberikan masukan kemudian teknisnya seperti apa untuk memberikan informasi kepada masyarakat.

KETUA RAPA T :

Apa mungkin nanti bisa kita perjelas dipenjelasan, teknis untuk menyampaikan informasi kemudian masyarakat juga memberikan masukan itu, apakah nanti kita muat dalam penjelasan dari masing-masing lembaga yang mengajukan calonnya untuk menjadi hakim konstitusi agar diumumkan di media massa dan namanya diusulkan dan bagi masyarakat yang ingin menyampaikan saran dan masukan bisa disampaikan tentunya dimasukkan kepada Presiden.

F·PD (SOET JIPTO, S.H., M.Kn):

Saya kira seleksi itukan selama ini sudah terjadi, DPR RI selalu mengumumkan siapa yang mendaftar jadi inikan seolah-olah unndag-undang ini sudah meredusir tidak percaya kepada lembaga DPR ke Presiden, oleh karena itu dihilangkan saja. lni prakteknya sudah dilakukan tetapi belum masuk norma di dalam undang-undang, itu selalu prakteknya.

KETUA RAPA T :

Ada tanggapan yang lain.

F·HANURA (H. SARIFUDDIN SUDDING, S.H., M.H.):

Saya sepakat dengan Bapak Tjipto ini akan hanya teknis saja, sama halnya ketika kita melakukan pemilihan terhadap calon hakim agung kemarin. Kita akan menerima stake holder untuk memberikan masukan tentang calon-calon hakim agung itu, ini saya kira menyangkut masalah teknis saja. Saya kira di drop saja.

KETUA RAPA T :

Jadi ayat (2a) dihapus saja. Silahkan tenaga ahli.

TENAGA AHLI (ISRAENI) : Terima kasih Pimpinan

(14)

Mungkin sedikit mau klarifikasi saja, kenapa ada ayat (2a) dan ayat {2b) ini karena di fatwa empirikalnya itu memang jika untuk calon yang diajukan dari OPR itu memang mekanismenya terbuka dan transparan tetapi yang dari Mahkamah Agung dan Presiden itu yang agak masalah, karena tidak diselwksi DPR jadi langsung itu yang secara faktualnya, agak tertutup dibandingkan mekanisme dari DPR.

F-PPP (AHMAD YANI, S.H., M.H.):

Bukan seperti itu saya kira kemarin pemilihanya juga terbuka yang dari pemerintah.

F·PD (SOET JIPTO, S.H., M.Kn):

Dan lagi pilihan pemerintah selama ini kita lihat apakah ada yang bermasalah, sehingga jangan meredusir seolah lembaga ini tidak dipercaya.

KETUA RAPA T :

Sekarang semua pihak sudah menerima dan itu kita juga memberikan kepercayaan lebih dalam kepada lembaga yang terkait. Oke ayat (2a) dan ayat (2b) dihapus ya?

(RAPAT:SETUJU)

lni ada tambahan dua pasal, Pasal 22 A tetap halaman 15, yaitu masalah masa jabatan. Di dalam yang tetap ini "masa jabata hakim konstitusi selama 5 tahun dan dapat dipilih kembali hanya untuk 1 kali masa jabatan berikutnya".

Saya minta pendapat tadi sebenarnya masa jabatan tadi 5 tahun itu memang sudah disetujui tetap.

Setuju ya?

(RAPAT:SETUJU)

Mohan maaf saya kemarin tidak mengikuti, yang tadi masalah 3 tahun dan 2,5 tahun tadi apa, jadi itu tadi yang masalah masa jabatan Ketua dan Wakil Ketua. Jika jabatan hakim konstitusi 5 tahun sudah disetujui ya?

(RAPAT:SETUJU)

Terus tambahan ini dalam rangka untuk memberikan prosesnya untuk penyampaian terhadap pengajuan ini, Pasal 22 A ayat (1) "Mahkamah Konstitusi memberitahukan kepada masing- masing lembaga yang berwenang tentang akan berakhirnya masa jabatan hakim konstitusi paling lama 6 (enam) bulan sebelum berakhir masa jabatan hakim konstitusi". Ayat (2) "Masing-masing lembaga yang berweang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengajukan calon hakim konstitusi kepada Presiden paling lama 4 (empat) bulan terhitung sejak tanggal pemberitahuan diterima". lni apakah Pasal 22 A ini dapat diterima? Tolong dipelajari termasuk yang ayat (3). Waktu-waktu yang dibutuhkan ini apakah disetujui?

F-PKS (IR. MEMED SOSIAWAN):

lni supaya ada waktu sehingga tidak ada kekosongan, supaya lembaga-lembaga terkait menyiapkan.

(15)

F-PPP (AHMAD YANI, S.H., M.H.):

lni maksudnya kan penegasan akan tetapi praktek selama ini berjalan itu yang akan dikirim melalui Mahkamah Konstitusi itu memberitahu sebenarnya.

KETUA RAPA T :

Apa bisa kami ketok Pasal 22 A? bisa ya?

(RAPAT: SETUJU)

Sekarang Pasal 23 Pemberhentian, "Hakim Konstitusi diberhentikan dengan hormat dengan alasan", yang dulu itu "Hakim Konstitusi diberhentikan dengan hormat apabila". lni yang menjadi masalah telah berusia 70 tahun, yang kemarinnya berusia 67 tahun dan sakit jasmani atau rohani secara terus menerus selama 3 bulan yang dibuktikan dengan surat keterangan dokter.

F-HANURA (H. SARIFUDDIN SUDDING, S.H., M.H.):

Saya kira ini saya setuju Bapak Ketua, karena dalam pengangkatan mereka ini setinggi- tingginya 65 tahun. Lalu kemudian masa periode satu, di Undang-Undang Mahkamah Agung juga adalah berusia 70 tahun. Lalu kemudian E-nya juga seperti itu 3 bulan dibuktikan dengan surat keterangan dokter. Saya kira pada dasarnya saya sepakat ini.

F-PDIP (ORA. SRI RAHAYU):

Sebenarnya jika persyaratannya maksimal 65 tahun, sebenarnya tanpa diberhentikan jika sudah 70 tahun dia tidak mungkin lagi. Artinya dengan satu periode 65 tahun itu otomatis dia sudah berhenti.

F-HANURA (H. SARIFUDDIN SUDDING, S.H., M.H.):

Artinya tetap ada umur di sana sesuai dengan Undang-Undang Mahkamah Agung, di Undang-Undang Mahkamah Agung juga dicantumkan di sana, yang telah berusia 70 tahun, jadi kita sinkronkan karena ini dua mahkamah, Undang-Undang Mahkamah Agung dan Undang-Undang Mahkamah Konstitusi.

KETUA RAPA T :

lni sebenarnya hanya pasal penegasan saja, jadi sebenarnya tidak usah disebut 70 tahun jika dia masuknya 65 tahun, 70 tahun pasti berhenti tetapi ini adalah penegasan. Segala sesuatu jika juga ditegaskan seperti aturan yang lain kami kira tolong Mbak Yayuk bisa. Oke ya, saya itu jika belum ada dari Mbak Yayuk belum bisa saya ketok. Setuju ya?

(RAPAT:SETUJU)

Lanjut ke Pasal 23 ayat (4) saja. Penetapan hakim konstitusi oleh Presiden dilakukan paling lama 1 (satu) bulan terhitung sejak tanggal pengajuan calon hakim sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diterima oleh Presiden. Oke ya penegasan juga ya?

(RAPAT:SETUJU)

(16)

Hakim konstitusi diberhentikan dengan hormat dengan alasan, ini kenapa ada dua kali sama ini tetapi ada yang G ini, ada yang ayat (2) itu ada bedanya itu. Ayat (2) itu jika di sini ditambahkan melangar larangan sebagaimana dimaksud pada Pasal 17 atau melanggar kode etik hakim konstitusi. Kita pakai yang dibelakang saja jika begitu lebih lengkap. Jadi ini apa maksudnya pembedaan ini? lsinya hampir sama akan tetapi beda, ada banyak yang beda itu. Atau kita serahkan untuk Pasal 23 disinkronkan, diambil yang tepat. Saya mengajak ke Pasal 23

A.

F-PDIP (ORA. SRI RAHA YU):

Jika saya yang G pak, yang Pasal 23 yang kedua yang G, itu jika ditambahkan lebih lengkap disanakan hanya melanggar kode etik hakim konstitusi. Maksud saya tambahannya tidak lagi memenuhi syarat sebagai hakim konstitusi dan melanggar kode etik hakim konstitusi.

KETUA RAPA T :

lbu Yayuk mudah-mudahan bisa menangkap. Kita buka halaman 19, ada usul dari PSHK bahwa Pada Pasal 23 A ayat (1) tidak jelas dan menimbulkan penafisran ganda apakah materi yang diatur dalam Keppres lembaganya atau hakim pengganti antar waktu. Pasal 23 A ayat (1) "apabila hakim konstitusi diberhentikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23, lembaga yang berwenang mengajukan penggantian antar waktu hakim konstitusi sesuai dengan syarat-syarat dan tata cara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15, Pasal 16, Pasal 18 dan Pasal 20 yang ditetapkan dengan keputusan Presiden". Ayat (2) "Penggantian hakim konstitusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan paling lama 60 (enam puluh) hari terhitung sejak tanggal pemberitahuan disampaikan oleh Mahkamah Konstitusi". Ayat (3) "Hakim Konstitusi yang menggantikan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sebelum memangku jabatannya mengucapkan sumpah/janji yang pengucapannya dipandu oleh Ketua/Wakil Ketua Mahkamah Konstitusi dengan bunyi sumpah/janji sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 ". Ayat ( 4) "Hakim Konstitusi yang menggantikan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) melanjutkan sisa jabatan hakim konstitusi yang digantikannya". Ayat (5) "penggantian hakim konstitusi antar waktu tidak dilakukan apabila sisa masa jabatan hakim yang akan diganti kurang dari 3 (tiga) bulan dari masa jabatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22". lni jelas tidak ada persoalan, setuju ya?

(RAPAT:SETUJU)

Masuk ke halaman 20 Bab IV A Kode Etik dan Pedoman Perilaku Serta Majelis Kehormatan Hakim, Pasal 27 A :

Ayat (1) "Mahkamah Konstitusi wajib menyusun kode etik yang berisi norma-norma yang harus dipatuhi oleh setiap hakim konstitusi dalam menjalankan tugasnya untuk menjaga integritas dan kepribadian yang tidak tercela, adil da negarawan".

Ayat (2) "Kode etik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memuat maknisme mepegakan kode etik dan jenis sanksi".

Ayat (3) "Sanksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berupa : a. Teguran tertulis, b.

Pemberhentian sementara, c. Pemberhentian".

Ayat (4) "untuk menegakkan kode etik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibentuk Majelis Kehormatan Mahkamah Konstitusi yang keanggotaannya terdiri dari : a. 2 (dua) orang dari unsur hakim konstitusi, b. 2 (dua) orang dari unsur praktisi, c. 1 (satu) orang dari unsur akademisi".

Ayat (5) "unsur akademisi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf ditetapkan oleh Mahkamah Konstitusi dari nama-nama yang diusulkan oleh perguruan tinggi".

Ayat (6) "Unsur praktisi sebagaimana dimaksud pada Ayat (3) huruf c ditetapkan oleh Mahkamah Konstitusi dari nama-nama yang diusulkan oleh organisasi profesi advokad".

(17)

Ayat (7) "Keanggotaan majelis kehormatan Mahkamah Konstitusi ditetapkan oleh Mahkamah Konstitusi". Ayat (8}"ketentuan lebih lanjut mengenai susunan organisasi dan tata cara persidangan majelis kehormatan Mahkamah Konstitusi diatur dalam peraturan Mahkamah Konstitusi".

Silahkan ditanggapi, sebelumnya ini saya mohon menyampaikan sedikit sebagai perbandingan dan pertimbangan bahwa dari Komisi Yudisial kemarin Mahkamah Konstitusi keberatan jika masuk dalam ranah yang ditangani oleh Komisi Yudisial hakim konstitusinya.

Sekarang siapa yang kiranya yang tepat untuk menangani terhadap segala sesuatu yang dilakukan oleh hakim konstitusi. lni badannya siapa ini, apakah mau yang ini, inikan hanya kode etik ini.

F-PPP (AHMAD YANI, S.H., M.H.):

Saya ingin tanyakan kepada tenaga ahli, inikanb bicara masalah pelanggaran kode etik.

Yang ingin saya tanyakan apakah ada satu badan dalam RUU ini tentang apakah badan kehormatan atau badan pengawas. Apa yang dimaksud dengan kode etik dan pedoman perilaku serta majelis kehormatan hakim. Saya hanya tanya adakah RUU ini akan kita buat dibuat badan tersendiri, jadi badan pengawas juga, di pasal berapa, jika belum ada maka kita harus masukkan.

Unsur badan itu menurut saya jika mau 5 orang maka 3 orang dari unsur petinggi itu adalah unsur MPR, 1 orang dari hakom konstitusi, 1 orang dari praktisi.

F·PD (SOET JIPTO, S.H., M.Kn):

Saya sebagian besar sependapat dengan Bapak Yani, jadi ini yang diadili inikan masa1ah etik oleh karena itu di mana etik itu selalu melibatkan unsur diri sendiri, tetapi harus ada unsur dari luar, unsur dari luar itu memang lazimnya lebih besar jadi untuk menjaga etnisnya. Oleh karena itu, saya usul jadi dua dari hakim konstitusi tetap, yang 3 dari unsur MPR, jadikan MPR itu banyak anggota DPD, anggota DPR yang mereka juga orang akademisi dan praktisi jadi tidak usah dari luar.

Saya kira di Negara-negara lain itu juga bahwa kongres itu juga mereka mengawasi lembaga- lembaga yang lain juga.

F-PDIP (RAHADI ZAKARIA):

Tentunya itu sangat ideal usulan Bapak Tjipto dan Bapak Yani tetapi alasannya itu harus jelas juga, kenapa MPR dilibatkan, kenapa tidak dari luar. Karena di beberapa contoh untuk DPR sendiri badan kehormatan diambil dari dalam, tidak dari luar. Apalagi dikatakan masalah kode etik ini soal etik menyangkut orang-orang dalam, menyangkut orang-orang yang tahu dan sebagainya.

kemudian yang juga ingin saya sampaikan bahwa Mahkamah Konstitusi itu adalah mahkamah yang benar-benar sifatnya merdeka, apakah itu jika dimasukkan orang dari luar nanti apakah ini tidak merupakan salah satu bentuk melakukan intervensi kemerdekaan dari Mahkamah Konstitusi. Jadi saya ingin mendapatkan alasannya, jika alasannya itu sangat memungkinkan kenapa tidak.

KETUA RAPA T :

Ada lagi silahkan Bapak Umar Arsal.

F·PD (DRS. UMAR ARSAL):

Jadi sama saja, saya lebih setuju dengan konsep yang sudah ada ini. MPR tidak perlu mungkin karena ini unsur praktisi ini juga rakyat atau orang yang profesional dan kita mau tanya dari staf ahli, alasan dimasukkan ini pasti punya alasan. Saya tadi setuju bahwa ini internal Mahkamah

(18)

Konstitusi, sebaiknya memang seperti kita di DPR juga punya badan kehormatan sendiri jadi saya setuju dengan rancangan yang sudah ada.

KETUA RAPA T :

Silahkan Bapak Yani.

F-PPP (AHMAD YANI, S.H., M.H.):

lni memang unsur praktisi dan akademisi ini kadang-kadang untuk memenuhi kebutuhan seoalah-olah kita ini membuka partisipasi dari masyarakat. Prakteknya juga tidak seperti itu unsur praktisi mereka-mereka juga, unsur akademisi perguruan tinggi tertentu juga yang mendominasi dan akhirnya orang-orang itu juga. Jika ini memang ingin dikemukakan tadi badan kode etik ini adalah badan sendiri di wilayah Mahkamah Konstitusi saya bisa menyetujui, maka mereka semua dari hakim konstitusi jangan menganalogikan badan kehormatan DPR RI, akan tetapi perlu buat satu badan lagi yang namanya badan pengawas apapun namanya yang diluar itu. Sadan pengawas ini juga harus ada, karena jika kode etik saja pelanggaran-pelanggaran juga kita tidak tahu, karena hakim Mahkamah Konstitusi bersifat final and bainding banyak problem juga diamanti, bagaimana ini menelusuri andaikan ada keputusan. lni Bapak Jumly dan Bapak Mahfud juga mengatakan perlu ada satu juga badan yang bisa mengoreksi andai terjadi kekeliruan seperti itu. Sadan itu menurut saya penting dan unsurnya sama dengan Sapak Tjipto, bahwa unsurnya harus dominan dari MPR, mau ditambah unsur badan pengawasnya ini ditambah hakim konstitusi 1 orang ini boleh, 1 orang dari luar ini yang menjadi debatable.

F-HANURA (H. SARIFUDDIN SUDDING, S.H., M.H.):

Saya hanya ingin mengingatkan bahwa keberadaan Komisi Yudisial itu sebagai lembaga pengawasan di bidang yudikatif. Artinya ketika ada permintaan orang dari Mahkamah Konstitusi perlu dipertanyakan kenapa kita harus ikut permintaan itu. Saya lebih condong ketika pengawasan ini hakim-hakim di konstitusi kita serahkan masuk ke Komisi Yudisial karena memang bidangnya.

Mahkamah Agung juga seperti itu dibawah pengawasan Komisi Yudisial, walaupun dia secara internal ada hakim agung bidang pengawasan. Sama ketika misalnya di Mahkamah Konstitusi dibentuk tentang tim atau badan kehormatan, saya kira di Mahkamah Agung juga seperti itu ada hakim yang khusus menangani terhadap hakim-hakim yang nakal itu setelah ada rekomendasi dari Komisi Yudisial. Jika misalnya ini kita bisa dalam konteks pengawasan ini kita bisa serahkan ke Komisi Yudisial saya kira ini lebih bagus, jadi orang yang mengawasi ini diluar dari internal hakim Mahkamah Konstitusi. Saya kurang respek ketika misalnya permintaan hakim Mahkamah Konstitusi kita ikuti supaya tidak diawasi oleh Komisi Yudisial, jadi pertanyaan bagi kita kenapa.

KETUA RAPA T :

Silahkan Bapak Soetjipto.

F-PD (SOET JIPTO, S.H., M.Kn):

Terima kasih Pimpinan.

Jadi pada saat merumuskan Mahkamah Konstitusi dengan Mahkamah Agung itu ada satu perbedaan yang mendasar persyaratan bahwa dia sebagai negarawan. Jadi pada saat merumuskan masalah pengawasan yaitu Komisi Yudisial, itu yang dibahas adalah pengawasan terhadap hakim agung, karena sebagian negarawan itu memang tidak perlu diawasi, oleh karena itu pada saat kawan-kawan saya juga termasuk di minta kesaksian di sidang Mahkamah Konstitusi pada waktu

(19)

hakim agung mengajukan yudisial review mengenai Undang-Undang Komisi Yudisial itu kita semuanya memang kewajiban, itu memang harus diawasi hakim agung, tetapi hakim konstitusi tidak. Oleh karena itu, karena prinsispnya mereka itu mandiri karena tidak boleh diintervensi mengenai proses hukumnya tetapi bahwa perilaku kode etik itu saya kira saya tetap sependapat cukup jika memang dua dari dalam, 3 dari luar yaitu MPR, tetapi bahwa badan pengawasan saya kira itu nanti terlampau jauh karena nanti bisa seolah-olah mengintervensi masalah keputusan- keputusan, masalah proses hukumnya sehingga yang diawasi ini perilaku kode etik karena bisa juga diberhentikan, jika mereka melanggar kode etikkan bisa diberhentikan oleh majelis kode etik dan biasanya pelanggaran kode etik itu memang sebagian besar jika di pengadilan hakim-hakim umum itu terkait juga dengan perkara yang ditangani. Oleh karena itu, saya usulkan jadi majelis kode etik tanpa badan pengawas yang isinya 5 itu tadi, 2 dari hakim konstitusi dan 3 dari MPR, karena MPR saya kira isinya juga tidak kalah dari akademisi atau praktisi.

KETUA RAPAT :

Kami kira masukan sudah cukup banyak, Bapak Memed silahkan.

F·PKS (IR. MEMED SOSIAWAN):

Mengingatkan juga pembahasan yang selama ini berjalan, bahwa seorang hakim dalam membuat keputusan tidak bisa diintervensi, punya otoritas sehingga tidak boleh ada badan yang akan mengunci atau mengevaluasi keputusan dari hakim itu. Yang boleh adalah upaya hukum jika memang dianggap keputusan hakim itu tidak tepat, tetapi karena Mahkamah Konstitusi ini merupakan keputusan yang final dan paling tinggi dalam hal pengujian terhadap undang-undang ke Undang-Undang Dasar tidak ada lagi diatasnya upaya hukum. Jadi memang seluruh badan pengawas atau Komisi Yudisial tadi hanya mengawasi kode etik demikian juga yang di majelis kehormatan Mahkamah Konstitusi ini hanya kode etik tidak akan mempermasalahkan pengambilan keputusan nya.

KETUA RAPA T :

Saya kira sudah cukup mendalam pembahasan kita, yang pertama pembentukan badan ini jika bisa saya simpulkan adanya tidak perlu diadakan pembentukan badan, tetapi kita juga harus memikirkan jika badan itu tidak ada, Komisi Yudisial juga tidak masuk bagaimana proses agar langkah tindak dari anggota hakim konstitusi ini benar-benar professional, ini siapa yang kira-kira apakah dewan ini tadi, dewan kehormatan Mahkamah Konstitusi ini juga perlu diberikan. Jadi kira- kira perlu tidak dewan kehormatan ini disamping kode etik mungkin ada walaupun itu sifatnya tidak terlalu jelas nampak ada untuk juga mengawaqsi terhadap profesi ini. jadi ini nanti redaksinya bagaimana mungkin barangkali ini di kode etik memuat mekanisme penegakkan kode etik apalagi dan jenis sanksi barangkali.

F-PDIP (ORA. SRI RAHA YU):

Yang lain-lain yang kaitannya pidana dan sebagainya di sini kayaknya sudah ada ditangani di sini tertangkap dan sebagainya itukan sudah ada, artinya yang di sini memang murni yang kode etik karena di pasal sebelumnya sudah ada. "hakim konstitusi dapat dikenakan tindakan kepolisian atas perintah jaksa agung setelah dan seterusnya", artinya sudah ada penanganan sendiri, artinya jika ada sesuatu yang tertangkap tangan melakukan tindak pidana itu sudah langsung ditangani di Pasal 6. Jika yang profesi saya kira cukup kode etik tidak harus ada yang lainnya.

(20)

KETUA RAPA T :

Maksudnya berkaitan dengan kebutuhan masalah profesi tidak mau kita tampung bahwa yang masuk ke sana sudah pasti professional.

F·PKS (IR. MEMED SOSIAWAN):

Ada di Pasal 27 B, itu menjatuhkan putusan secara objektif berdasarkan pada fakta dan hukum yang dapat dipertangungjawabkan, itu saya pikir koridor professional.

KETUA RAPA T :

Sekarang tinggal satu keanggotaan, keanggotaan itu jika tadi usulan Bapak Tjipto itu MPR itukan lembaga politik, lembaga politik jika masuk ranah situ nanti jadi, kita diserangnya dari sana.

Takut saya kita diserangnya, jika kualitas orangnya di MPR ini tidak perlu kita ragukan akan tetapi masalahnya bahwa kita ini sudah terlanjur dianggap orang politik semua, jadi saya agaknya perlu dipertimbangkan jika dari MPR. Sekarang jika 2 orang dari unsure praktisi dan 1 orang akademisi ini kira-kira kita milihnya bagaimana. Jika menurut saya ini saja kita buat dipenjelasan saja, jadi kualifikasi mereka-mereka dari praktisi maupun dari akademisi ini harus jelas kita perkuat dipenjelasan, jika disetujui atau mungkin Bapak Soetjipto ada pendapat.

F·PD (SOETJIPTO, S.H., M.Kn):

Jika memang pertimbangan itu takut diserang saya bisa mengerti, memang kayaknya di Indonesia itu masih terhadap politisi ini masih belum mau menerima sepenuhnya, masih dianggap negatif. Oleh karena itu, saya kira unsurnya karena jika nanti pengawasannya dari profesi saya kurang pas, karena profesi itu mereka ada

conflict of interest

banyak yang mereka mengajukan yudisial review, mengajukan perkara-perkara ke Mahkamah Konstitusi sehingga tidak tepat jika unsurnya dari sana. Oleh karena itu, jika dari akademisi itu lebih netral, praktisi disinikan advokad jadi jika menurut saya kurang pas, karena advokad itu ada conflict of interest dengan tugas bidangnya yang dia juga berperkara di Mahkamah Konstitusi. Oleh karena itu, saya setuju jika akademisi ditambah dari pimpinan Komisi Yudisial saja yang mereka itu memang tugasnya mengawasi hakim agung juga tetapi bukan karena Undang-Undang Komisi Yudisial tetapi karena orangnya. Jadi memang dia sebagai lembaga negara yang unsur pengawasan tetapi tidak karena lembaganya tetapi ketuanya saja.

KETUA RAPAT :

Tolong ditanggapi ini menarik ini usulannya. Beliau menyampaikan Ketua Komisi Yudisial masuklah ke sana akan tetapi bukan dari lembaganya yang dibawa tetapi orang perorangannya.

Jika perlu karena yang diadili itukan hanya orang 9, apa jumlahnya harus 5, 3 tidak cukup itu. Satu dari Mahkamah Konstitusi, 1 dari Komiis Yudisial, 1 dari akademisi. Apa bisa saya ketok 3 ini, dari Mahkamah Konstitusi 1 orang, dari Ketua Komisi Yudisial 1 orang, dan dari akademisi 1 orang. Jika 5 orang, 2 dari Mahkamah Konstitusi, 1 dari Ketua Komisi Yudisial, 2 dari akademisi. Oke ya, 2 dari Mahkamah Konstitusi, 1 Ketua Komisi Yudisial dan 2 dari akademisi.

F·PAN (JAMALUDDIN JAFAR, S.H.):

Tadi masalah Mahkamah Konstitusi ini wajib menyusun kode etik, inikan mereka yang menyusun, siapa yang memeriksa kode etiknya, inikan intern mereka. 5 orang itukan tidak dilibatkan

20

(21)

untuk menyusun kode etik, Mahkamah Konstitusi itu yang menyusun baru diserahkan kepada itu, bisa dibuat saja mereka intern.

F-PO (SOET JIPTO, S.H., M.Kn):

Saya kira hampir semua kode etik itu diprofesi dimanapun itu yang menyusun internal, karena mereka yang prilaku dan segala macam dan lagi sekarang inikan mereka bisa mencontoh di KPK juga ada, di hakim itu juga saya kira tidak usah khawatir. Lazimnya seluruh kode etik itu selalu disusun oleh internal mereka, jadi bukan orang luar yang buat kode etik.

F-PAN (JAMALUODIN JAFAR, S.H.):

Baik saya setuju memang mereka yang buat, itukan normanya tetapi siapa yang membaca, memeriksa, baru disahkan kode etiknya itu, kan ini dia yang menyusun, tetapi hasil penyusunannya itu siapa yang memeriksa. Yang 5 orang ini hanya tinggal mengawasi apa yang dibuat kode etik itu tadi sebelum disahkan maksud saya kode etiknya.

KETUA RAPA T :

Yang mengesahkan dari Mahkamah Konstitusi sendiri, disahkan menjadi kode etik Mahkamah Konstitusi itu oleh Mahkamah Konstitusi sendiri.

F-POIP (RAHAOI ZAKARIA):

Jadi sudah jelas bahwa kode etik ini adalah etika kesepakatan bersama oleh suatu organisasi atau komunitas, bersama-sama menyepakati bahwa ini tidak boleh, ini boleh, ini melanggar dan sebagainya. kesepakatan itu disetujui bersama ketika melanggar konsekuensinya si orang-orang yang melanggar terkena kode etik sendiri setelah dilakukan kesepakatan.

KETUA RAPA T :

Jadi oke itu ya, bisa ya, silahkan Mbak Yayuk.

F-PDIP (ORA. SRI RAHA YU):

Karena ini tadi untuk yang dari Komisi Yudisial maunya eksopisio. Kemudian yang dari hakim konstitusi ada 2 apakah itu yang satu eksopisio atau bukan, apakah dia dipilih dari ini maka nanti juga perlu penjelasan khususnya yang Komisi Yudisial yang dari luar.

KETUA RAPA T :

Saya kira sudah bisa ditangkap, silahkan ada yang mau disampaikan.

F-POIP (ORA. SRI RAHA YU):

Terima kasih Pimpinan.

Terkait mengenain isi dari kode etik dan perilaku konstitusi itu sendiri sudah ada rujukannya yaitu the bachcelor principal of yudisial tahun 2002, jadi isinya sudah merujuk kepada itu.

(22)

KETUA RAPA T :

Tolong tenaga ahli disesuaikan, seperti itu ada dari profesi advokad itu dihapus nanti saja disesuaikan. Bapak dan ibu sekalian setuju ya?

(RAPAT:SETUJU)

Kita menginjak Bab 5 Hukum Acara, hukum acara ini Pasal 28 tetap, Pasal 29 tetap, Pasal 30 tetap, Pasal 31 tetap, yang kita bahas halaman 25 Pasal 32 itu ada beberapa perubahan dan tambahan yang ayat (1) itu lebih dipertegas "Terhadap setiap permohonan yang diajukan, Panitera Mahkamah Konstitusi melakukan pemeriksaan kelengkapan permohonan sebagaimana dimaksud dalam Pas al 29 dan Pasal 31 ". Saya minta ini nanti disesuaikan dengan pasal-pasalnya supaya disinkronisasikan belum tentu tepat itu.

Kemudian ditambahi yang ayat (1a) "Pemeriksaan kelengkapan permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bersifat terbuka dan dapat dilakukan melalui konsultasi oleh pemohon". Ayat (2) "Dalam hal permohonan belum memenuhi kelengkapan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), pemohon diberi kesempatan untuk melengkapi permohonan dalam jangka waktu paling lama 7 (tuju) hari kerja sejak pemberitahuan kekurang lengkapan tersebut diterima pemohon". Ayat (3)

"Permohonan yang telah memenuhi kelengkapan sebagaimana dimaksud pad ayat (2a) dicatat dalam Buku Registrasi Perkara Konstitusi dan kepada pemohon diberikan Akta Penerimaan Berkas Perkara". Ayat (3a) "Dalam hal kelengkapan permohonan tidak dipenuhi dalam jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (2), Panitera Mahkamah Konstitusi menerbitkan akta yang menyatakan bahwa permohonan tidak diregristasi dalam Buku Registrasi Perkara Konstitusi dan diberitahukan kepada pemohon disertai dengan pengembalian berkas permohonan". Kami kira ini normatif.

F-PDIP (ORA. SRI RAHA YU):

Barangkali kalimatnya "Pemeriksaan kelengkapan permohonan sebagaimana dimaksud pada Ayat (1) bersifat terbuka dan pemohon dapat melakukan konsultasi". Apa begitu atau mungkin ada maksud lain.

KETUA RAPA T :

Sudah lebih tegas, dicatat saja nanti kalian juga yang akan merumuskan tetapi substansi yang disampaikan lbu Yayuk tadi itu lebih tegas, isinya sama akan tetapi lebih tegas. Kami kira ini bisa disetujui ya Pasal 32?

(RAPAT:SETUJU)

Pasal 33 tetap, Pasal 33 A halaman 26. Pasal 33 A ayat (1) "Mahkamah Konstitusi menyampaikan salinan permohonan kepada DPR dan Presiden dalam jangka waktu paling lama 7 (tujuh) hari kerja sejak tanggal permohonan dicatat dalam Buku Registrasi Perkara Konstitusi". Ayat (2) "Penyampaian salinan permohonan sebagaimana dimaksud ada ayat (1) dibuktikan dengan tanda terima".

lni di Pasal 33 berbunyi "Buku Regitrasi Perkara Konstitusi memuat antara lain catatan tentang kelengkapan administrasi dengan disertai pencantuman nomor perkara, tanggal penerimaan berkas permohonan, nama pemohon, dan pokok perkara". Administrasi juga ini, Pasal 33 lebih untuk memberikan kelengkapan untuk proses dari Pasal 33 A. Oke ya setuju?

(RAPAT:SETUJU)

22

(23)

Saya minta penjelasan dahulu ini Pasal 34 kenapa digaris bawahi semua, apa maksudnya.

TENAGA AHLI (ISRAENI):

Maaf pak, terkait dengan Pasal 34 ini memang ini dari ayat (1) sampai dengan ayat (5) memang ada perubahan, makanya ini digaris bawahi karena berbeda dengan yang revisi kita dengan draft RUU ini. Yang dipakai adalah draft kita, jadi yang kolom tengah yang ada garis bawahi.

lni mungkin kesalahan pengetikan saja.

KETUA RAPAT:

Yang kiri itu aslinya, yang tengah itu sudah hasil revisi oleh tenaga ahli dari hasil rangkuman masuman-masukan itu. Hanya saja yang digaris bawahi yang aslinya, ini yang menimbulkan pertanyaan. Jadi ini sudah dirubah ke Pasal 34 biasanya yang dicoret yang tengah ini, ini lebih baik saya baca saja yang Pasal 34 yang tengah.

Pasal 34 ayat (1) "Mahkamah Konstitusi menetapkan hari sidang pertama dalam jangka waktu paling lambat 14 (empat belas) hari kerja sejak permohonan dicatat dalam Buku Registrasi Perkara Konstitusi". Ayat (2) "Penetapan hari sidang sebagaimana dimaksud pada Ayat (1) diberitahukan kepada pemohon, termohon dan pihak terkait serta diumumkan kepada masyarakaf'.

Ayat (3) "Pengumuman sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan dengan menempelkan pada papan pengumuman yang khusus dibuat untuk itu dan melalui media cetak atau elektronik". Ayat (3a) "Pemberitahuan penetapan hari sidang sebagaimana dimaksud pada ayat (2) harus sudah diterima oleh para pihak yang berperkara dalam jangka waktu paling lambat 5 (lima) hari sebelum hari persidangan". Apakah ada yang perlu dikoreksi, silahkan Bapak Soetjipto.

F·PD (SOET JIPTO, S.H., M.Kn):

Saya mau tanya saja, sepengetahuan saya selama ini jika ada perkara itu ada panggilan tepat tetapi juga memakai internet, apakah yang dimaksud media elektronik ini termasuk tidak pakai media vetak atau elektronik termasuk internet ini. lni maksudnya media cetak dan media elektronik atau media cetak dan elektronik.

KETUA RAPA T :

Ditambah saja media elektronik supaya jelas.

F·PD (SOET JIPTO, S.H., M.Kn):

Harus jelas, maka saya tanyakan apakah internet tidak masuk di sini.

TENAGA AHLI (ISRAENI) : Internet masuk pak.

F-PD (SOET JIPTO, S.H., M.Kn):

Internet itu masuk media elektonik.

TENAGA AHLI (ISRAENI) :

Jadi seperti e-bussiness itukan juga termasuk internet juga.

23

(24)

F·PD (SOET JIPTO, S.H., M.Kn):

Jadikan kita punya web site, jadi cukup web site. ltu bisa jadikan inikan alternatif, jadi jika boleh itu media cetak atau media elektronik, berarti ini alternatif salah satu bisa dipakai jika salah satu bisa dipakai berarti dengan web site saja cukup.

TENAGA AHLI (ISRAENI) :

lni kita angkat dari Peraturan Mahkamah Konstitusi yang ada, yang sudah berjalan. lni kita angkat menurut kami ini memang sangat relevan makanya kita angkat dalam undang-undang. Di sana dikatakan bahwa bisa melalui media cetak atau media elektronik, maksudnya di sini adalah sistem informasi yang ada di Mahkamah Konstitusi itu melalui web site Mahkamah Konstitusi.

F·PD (SOET JIPTO, S.H., M.Kn):

Jadi itu sudah ada diperaturannya, tetapi ini media elektronik.

KETUA RAPA T :

Tambahi media. Silahkan lbu Yayuk.

F-PDIP (ORA. SRI RAHA YU):

Saya menambah untuk apa yang disampaikan Bapak Soetjipto, saya setuju dengan adanya media cetak atau media elektronik. Artinya karena di sini itu atau jadi bisa memilih salah satu, padahal menurut kita seharusnya tidak memilih satu tetapi elektronik itu sebagai satu keharusan, karena ini yang bisa diakses oleh seluruh masyarakat Indonesia. Jika media cetak itu hanya orang- orang tertentu yang bisa membaca.

KETUA RAPA T :

Sebenarnya dengan kata "dan" di depan ini "dan melalui media cetak atau melalui media elektronik". Kami kira sudah lengkap ini, jika belakangnya ataunya diganti dan kayaknya terlalu dan terus ini atau diganti serta umpanya. Jadi jika gitu itu harus wajib semuanya itu.

F·PD (SOET JIPTO, S.H., M.Kn):

lni pengalaman saja saya inikan sudah beberapa kali saya sendiri mengalami dan saya sendiri sebagai tim ke Mahkamah Konstitusi. Praktek selama ini sebenarnya sangat tertib Mahkamah Konstitusi itu, panggilan itu on time beda di pengadilan biasa untuk memanggil saja harus membayar. Oleh karena itu, jika yang di peraturan sekarang itu sudah sesuai atau saya kira tidak usah dirubah, karena inikan hanya diangkat saja normanya. Saya kira semuanya tetap ada kendala tetapi pengiriman kepada pemohon itu saya kira sudah tepat dan lagi selama ini tidak pernah ada masalah.

KETUA RAPAT :

Tolong nanti dicarikan apa yang dimaksud lbu Yayuk tadi, dicatat dicarikan redaksi yang paling tepat. Kita ketok ya Pasal 34?

(RAPAT:SETUJU)

24

(25)

Masuk ke Pasal 35, Pasal 35 yang berkait dengan masalah ada tambahan ayat (1a). Ayat (1) "Pemohon dapat menarik kembali permohonan sebelum atau selama pemeriksaan Mahkamah Konstitusi dilakukan". Ayat (1a) "Dalam hal pemohon menarik kembali permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Panitera Mahkamah Konstitusi menerbitkan Akta Pembatalan Registrasi Permohonan dan memberitahukan kepada pemohon disertai dengan pengembalian berkas permohonan". Ayat (2) "Penarikan kembali sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengakibatkan permohonan tidak dapat diajukan kembali". Untuk yang ayat (1a) barangkali untuk melengkapi itu saya kira itu lebih bags, hanya di sini jika yang seperti ini tidak ada sanksi.

F-PD (SOET JIPTO, 5.H., M.Kn):

Yang tambahan Ayat (1a), maaf ini dari siapa masukannya?

TENAGA AHLI (ISRAENI):

lni kita angkat juga dari Peraturan Mahkamah Konstitusi, jadi di Pasal 24 C ayat (6) itukan mengatur bahwa segala hukum acara dan ketentuan lain mengenai Mahkamah Konstitusi harus diatur dalam undang-undang, jadi makanya hal yang menurut kita itu signifikan dan krusial kita angkat ke undang-undang.

KETUA RAPA T :

Oke yang Bapak Soetjipto, setuju ya?

(RAPAT:SETUJU)

Kita sudah berjalan sampai jam 12.00 WIB, itu tadi kita mulai jam 10.00 WIB. Kita sudah dapat 20 lembar lebih. lni sampai Pasal 51 banyak tetapnya ini, jika saya lihat lembar-lembar berikutnya lebih banyak tetapnya. Jika disetujui ibu dan bapak sekalian kita apa istirahat dahulu sampai jam 13.00 WIB, jam 13.00 WIB kita lanjutkan jam 15.00 WIS selesai mungkin. Kita sholat Djuhur dan makan siang 1 jam, jam 13.00 WIB kita mulai lagi jam 15.00 WIS kita selesai. Kita skors dan kita mulai lagi jam 13.00 WIB.

(RAPAT DISKORS PUKUL 12.10 WIB)

Jakarta, 29 April 2010 Sekretaris Rapat,

Ors. Djaka Dwi Winarko, M.Si

25

Referensi

Dokumen terkait

Kewenangan DPR untuk memilih calon Hakim Agung seperti yang dimaksud dalam Undang-Undang tentang Komisi Yudisial dan pada dan Undang-Undang tentang Mahkamah Agung

a. Pengawasan terhadap penggunaan izin tinggal oleh orang asing di berbagai tempat, terutama di bidang Pariwisata maupun di berbagai tempat hiburan. Upaya yang

Selalu saja dalam fit and proper test calon Anggota Komisi Yudisial ada kalimat-kalimat yang mengharubirukan kita bahwa nanti kelak ketika menjadi Anggota Komisi Yudisial akan

Komisi II DPR RI dan Pemerintah menyepakati bahwa KPU dan Bawaslu tetap sebagai penyelenggara pemilihan disertai adanya penguatan bahwa kedua lembaga tersebut secara

Semua pandangan/masukan yang telah diberikan oleh Pimpinan Fraksi-Fraksi dan Pimpinan Komisi I s/d Komisi XI akan menjadi bahan masukan dan pertimbangan Badan Legislasi

Ya, terima kasih Pimpinan. Pimpinan, Anggota Komisi yang kami hormati dan kami banggakan. Para jajaran Dirut dan Direksi BUMN yang hadir di ruangan Komisi VI. Untuk perumahan saya

Selamat siang. Dan saya ucapkan selamat kepada Ibu sebagai Kepala Dirjen yang baru dan kepada seluruhnya. Pimpinan, Ketua Komisi beserta Wakil Ketua Komisi,

Sebentar Ketua. Saya sekaligus mengingatkan Pak Sarwoto dan juga Pak Hasnul, tadi ada dua CP yang mohon nanti dijawab juga jawabannya, ketika tadi jawaban dari