Kelompok 4: Lailatul Hana, Risma Nur
Evaluasi Pendidikan Islam
A. Pengertian Evaluasi Pendidikan Islam
Evaluasi berasal dari bahasa Inggris evaluation yang berarti tindakan atau proses untuk menentukan nilai sesuatu atau dapat diartikan sebagai tindakan atau proses untuk menentukan nilai segala sesuatu yang ada hubungannya dengan pendidikan. Dalam bahasa Arab evaluasi dikenal dengan istilah imtihan yang berarti ujian. Dan dikenal pula dengan istilah khataman sebagai cara menilai hasil akhir dari proses pendidikan.
Jika kata evaluasi tersebut dihubungkan dengan kata pendidikan, maka dapat diartikan sebagai proses membandingkan situasi yang ada dengan kriteria tertentu terhadap masalah-masalah yang berkaitan dengan pendidikan. Untuk itu evaluasi pendidikan sebenarnya tidak hanya menilai tentang hasil belajar para siswa dalam suatu jenjang pendidikan tertentu, melainkan juga berkenaan dengan penilaian terhadap berbagai aspek yang mempengaruhi proses belajar siswa tersebut, seperti evaluasi terhadap guru, kurikulum, metode, sarana prasarana, lingkungan, dan sebagainya.
Dapat ditarik kesimpulan bahwa evaluasi yaitu suatu proses dan tindakan yang terencana untuk mengumpulkan informasi tentang kemajuan, pertumbuhan dan perkembangan (peserta didik) terhadap tujuan (pendidikan), sehingga dapat disusun penilaiannya yang dapat dijadikan dasar untuk membuat keputusan.
Dengan demikian evaluasi bukan sekedar menilai suatu aktivitas secara spontan dan insedental, melainkan merupakan kegiatan untuk menilai sesuatu yang terencana, sistematik dan berdasarkan tujuan yang jelas. Jadi dengan evaluasi diperoleh informasi dan kesimpulan tentang keberhasilan suatu kegiatan, dankemudian kita dapat menentukan alternatif dan keputusan untuk tindakan berikutnya.
Selanjutnya, Evaluasi dalam pendidikan Islam merupakan cara atau tehnik penilaian terhadap tingkah laku anak didik berdasarkan standar perhitungan yang bersifat komprehensif dari seluruh aspek-aspek kehidupan mental-psikologis dan spiritual religius, karena manusia bukan saja sosok pribadi yang tidak hanya bersikap religius, melainkan juga berilmu dan berketerampilan yang sanggup beramal dan berbakti kepada Tuhan dan masyarakatnya.
Evaluasi pendidikan Islam adalah suatu kegiatan untuk menentukan taraf kemajuan suatu aktivitas di dalam pendidikan Islam. Program evaluasi ini diterapkan dalam rangka mengetahui tingkat keberhasilan seorang pendidik dalam menyampaikan materi pelajaran, menemukan kelemahan-kelemahan yang dilakukan, baik berkaitan dengan materi, metode, fasilitas dan sebagainya.
Oleh karena itu, yang dimaksud evaluasi dalam pendidikan Islam adalah pengambilan sejumlah keputusan yang berkaitan dengan pendidikan Islam guna melihat sejauhmana keberhasilan pendidikan yang selaras dengan nilai-nilai Islam sebagai tujuan dari pendidikan Islam itu sendiri.
Kemudian Term atau istilah evaluasi dalam wacana pendidikan Islam tidak diperoleh padanan katanya yang pasti, tetapi terdapat term atau istilah-istilah tertentu yang mengarah pada makna evaluasi. Term-term tersebut adalah:
1. Al-Hisab
Memiliki makna menghitung, menafsirkan dan mengira. Hal ini dapat dilihat dalam firman Allah SWT.:
ْْنَمِلُرِفْغَيَفُهَّللاِهِبْمُكْبِساَحُيُهوُفْخُت ْوَأْمُكِسُفْنَأيِفاَماوُدْبُتْنِإ َو ِض ْرلأايِفاَم َوِتا َواَمَّسلايِفاَمِهَّلِل
ْ ريِدَقٍءْيَشِِّلُكىَلَعُهَّللا َوُءاَشَيْْنَمُبِِّذَعُي َوُءاَشَي
Artinya : kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. dan jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikan, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu. Maka Allah mengampuni siapa yang dikehandaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu (QS. Al-Baqarah: 284).
2. Al-Bala’
Memiliki makna cobaan dan ujian. Terdapat dalam firman Allah SWT.:
َْةاَيَحْلا َوْ َت ْوَمْلاَْقَلَخْيِذَّلا
ُْروُفَغْلاْ ُزي ِزَعْلاْ َوُه َوْلاَمَعُْنَسْحَأْْمُكُّيَأْْمُك َوُلْبَيِل
Artinya
: yangْ menjadikanْ matiْ danْ hidupsupayaْ Diaْ mengujiْ kamusiapaْ diْ antaraْkamuْyangْlebihْbaikْamalnyadanْDiaْMahaْPerkasaْlagiْMahaْPengampun (QS. Al- Mulk: 2).
3. Al-Hukm
Memiliki makna putusan atau vonis. Misalnya dalam ayat berikut:
ُْميِلَعْلاُْزي ِزَعْلاْ َوُه َوِْهِمْكُحِبْْمُهَنْيَبْي ِضْقَيْ َكَّب َرَّْنِإ
Artinya: Sesungguhnya Tuhanmu akan menyelesaikan perkara antara mereka dengan keputusan-Nya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui (QS. An-Naml: 78).
4. QadhaْAl ْ
Memiliki makna arti putusan. Misalnya, dalam ayat berikut:
ْ ٍضاَقْ َتْنَأْاَمْ ِضْقاَفْاَن َرَطَفْيِذَّلا َوِْتاَنِِّيَبْلاَْنِمْاَنَءاَجْاَمْىَلَعْ َك َرِثْؤُنْ ْنَلْاوُلاَق اَيْنُّدلاَْةاَيَحْلاِْهِذَهْي ِضْقَتْاَمَّنِإ
Artinya: mereka berkata, “kami sekali-kali tidak akan mengutamakan kamu daripada bukti-bukti yang nyata (mukjizat), yang telah datang kepada kami dan daripada Tuhan yang telah menciptakan kami. Maka putuskanlah apa yang hendak kamu putuskan.
Sesungguhnya kamu hanya akan dapat memutuskan pada kehidupan di dunia ini saja”
(QS. Thaha: 72).
5. An-Nazr
An-Nazr berarti melihat. Misalnya, dalam ayat berikut:
َْنيِبِذاَكْلاَْنِمْ َتْنُكْْمَأْ َتْقَدَصَأْ ُرُظْنَنَسَْلاَق
Artinya: berkata Sulaiman “akan kami lihat, apa kamu benar ataukah kamu termasuk orang-orang yang berdusta” (QS. An-Naml: 27).
B. Tujuan Evaluasi 1. Tujuan Umum
a. untuk memperoleh data pembuktian, yang akan menjadi petunjuk sampai di mana tingkat kemampuan dan tingkat keberhasilan peserta didik dalam pencapaian
tujuan-tujuan kurikuler, setelah meraka menempuh proses pembelajaran dalam jangka waktu yang telah ditentukan.
b. untuk mengukur dan menilai sampai di manakah efektivitas mengajar dan metode-metode mengajar yang telah diterapkan atau dilaksanakan oleh pendidik, serta kegiatan belajar yang dilaksanakan oleh peserta didik.
2. Tujuan Khusus
a. untuk merangsang kegiatan peserta didik dalam menempuh program pendidikan.
Tanpa adanya evaluasi maka tidak mungkin timbul kegairahan atau rangsangan pada diri peserta didik untuk memperbaiki dan meningkatkan prestasinya masing- masing.
b. untuk mencari dan menemukan faktor-faktor penyebab keberhasilan dan ketidakberhasilan peserta didik dalam mengikuti program pendidikan, sehingga dapat dicari dan ditemukan jalan keluar atau cara-cara perbaikannya.
C. Prinsip Evaluasi
1. Kontinuitas/kesinambungan
Evaluasi dilakukan secara terus menerus pada proses pendidikan maupun setelah proses pendidikan berhasil. Evaluasi tidak hanya dilakukan setahun sekali, per semester, atau sebulan sekali.
2. Komprehensif/menyeluruh
Evaluasi dilakukan pada semua aspek kepribadian siswa, yaitu aspek pemahaman, sikap, kedisiplinan, tanggung jawab, pengamalan ilmu yang diperoleh, dan sebagainya.
3. Objektivitas
Evaluasi dilakukan berdasarkan keadaan sesu6dan tidak dicampuri oleh hal yang bersifat emosional/irasional. Sikap ini secara tegas dikatakan oleh Rasulullah SAW dengan melarang seorang hakim yang sedang marah untuk memutuskan perkara. Sebab hakim semacam ini pikirannya diliputi oleh emosi yang yang melibatkan putusannya menjadi tidak objektif dan irasional.
4. Valid
Evaluasi mengukur apa yang seharusnya diukur menggunakan jenis tes yang terpercaya dan shohih. Artinya, ada kesesuaian alat ukur dengan fungsi pengukuran dan sasaran pengukuran.
5. Efisiensi
Evaluasi dilakukan secara cermat dan tepat sasaran.
D. Prosedur Evaluasi 1. Perencanaan 2. Pengumpulan data 3. Verifikasi
4. Analisis data 5. Penafsiran data
Pertama, guru merumuskan tujuan evaluasi yang hendak dilaksanakan dalam pembelajaran yang didasarkan atas tujuan yang hendak dicapai dalam pembelajaran tersebut. Kemudian, menetapkan aspek-aspek yang harus dinilai. Penentuan tentang aspek-aspek yang harus dinilai ditentukan oleh tujuan evaluasi yang dilaksanakan. Yakni untuk memperoleh bahan informasi yang cukup lengkap tentang siswa dengan sendirinya harus diadakan evaluasi terhadap sejumlah aspek tertentu.
Setelah itu, menentukan metode evaluasi yang akan dipergunakan. Metode ini ditentukan oleh aspek yang akan dinilai. Untuk menilai sikapnya, misalnya dibuatkan checklist. Lalu memilih atau menyusun alat-alat evaluasi yang akan digunakan. Alat-alat evaluasi ditentukan oleh metode evaluasi yang kita gunakan. Masalah penyusunan alat- alat evaluasi merupakan hal yang sangat penting dalam proses evaluasi. Karena tepat tidaknya data yang diperoleh sangat tergantung pada baik tdaknya alat-alat evaluasi yang digunakan.
Terakhir, menentukan kriteria yang dipergunakan. Setelah alat-alat evaluasi dipilih dan disusun serta telah ditetapkan kriterianya, maka selanjutnya ditentukan frekuensi evaluasi. Dalam proses belajar-mengajar, pedoman yang tepat untuk dipergunakan dalam menetapkan frekuensi evaluasi ialah susunan bahan pelajaran.