• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERNYATAAN INTEGRITAS AKADEMIK

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PERNYATAAN INTEGRITAS AKADEMIK"

Copied!
23
0
0

Teks penuh

(1)

UNIVERSITAS KATOLIK PARAHYANGAN FAKULTAS HUKUM

Terakreditasi Berdasarkan Keputusan Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi Nomor : 429/SK/BAN-PT/Akred/S/XI/2014

Perlindungan Terhadap Hak-Hak Perempuan Nelayan Dalam Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2016 Dikaitkan Dengan Prinsip Non Diskriminasi Sebagai Perwujudan Hak

Asasi Manusia

OLEH :

Renatha Inna Anjani NPM : 2015200192

PEMBIMBING I Dr. Niken Savitri, S.H., MCL.

Penulisan Hukum

Disusun Sebagai Salah Satu Kelengkapan Untuk Menyelesaikan Program Pendidikan Sarjana

Program Studi Ilmu Hukum

2019

(2)
(3)

PERNYATAAN INTEGRITAS AKADEMIK

Dalam rangka mewujudkan nilai-nilai ideal dan standar mutu akademik yang setinggi-tingginya, maka Saya, Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Katolik Parahyangan yang beranda tangan di bawah ini :

Nama : Renatha Inna Anjani NPM : 2015200192

Dengan ini menyatakan dengan penuh kejujuran dan dengan kesungguhan hati dan pikiran, bahwa karya ilmiah / karya penulisan hukum yang berjudul:

“Perlindungan Terhadap Hak-Hak Perempuan Nelayan Dalam Undang- Undang Nomor 7 Tahun 2016 Dikaitkan Dengan Prinsip Non Diskriminasi Sebagai Perwujudan Hak Asasi Manusia”

Adalah sungguh-sungguh merupakan karya ilmiah /Karya Penulisan Hukum yang telah saya susun dan selesaikan atas dasar upaya, kemampuan dan pengetahuan akademik Saya pribadi, dan sekurang-kurangnya tidak dibuat melalui dan atau mengandung hasil dari tindakan-tindakan yang:

a. Secara tidak jujur dan secara langsung atau tidak langsung melanggar hak-hak atas kekayaan intelektual orang lain, dan atau

b. Dari segi akademik dapat dianggap tidak jujur dan melanggar nilai-nilai integritas akademik dan itikad baik;

Seandainya di kemudian hari ternyata bahwa Saya telah menyalahi dan atau melanggar pernyataan Saya di atas, maka Saya sanggup untuk menerima akibat- akibat dan atau sanksi-sanksi sesuai dengan peraturan yang berlaku di lingkungan Universitas Katolik Parahyangan dan atau peraturan perundang-undangan yang berlaku.

(4)
(5)

i ABSTRAK

Indonesia merupakan negara dengan sektor perikanan yang cukup besar, dengan jumlah tangkapan yang diizinkan atas potensi lestari yakni sebanyak 5,12 juta ton per tahun. Nelayan merupakan entitas yang memiliki andil dalam pemanfaatan sektor perikanan tersebut. Dalam kegiatan penangkapan ikan, kaum perempuan nelayan seringkali mengalami kendala dalam memperoleh pengakuan sebagai nelayan. Akibat dari hal tersebut, perempuan nelayan juga mengalami kesulitan untuk mendapatkan hak-hak nelayan yang telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2016 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Nelayan, Pembudi Daya Ikan, dan Petambak Garam. Untuk mengetahui lebih lanjut tentang fenomena tersebut, penelitian ini menggunakan metode penelitian yuridis sosiologis, guna mengetahui aturan hukum yang berlaku dan realita yang terjadi dalam masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kaum perempuan nelayan belum memperoleh hak- hak nelayan, terutama hak atas sarana dan hak atas jaminan perlindungan dari risiko yang tercantum dalam Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2016 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Nelayan, Pembudi Daya Ikan, dan Petambak Garam, karena mereka bahkan masih kesulitan untuk mendapatkan pengakuan sebagai nelayan.

Kemudian, Pasal 45 dalam Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2016 Tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Nelayan, Pembudi Daya Ikan, dan Petambak Garam sebagai satu-satunya Pasal yang secara eksplisit mengatur tentang peran perempuan, turut mendiskriminasi dan turut mengecilkan peran perempuan nelayan.

Key words : hak perempuan, perempuan nelayan, non diskriminasi

(6)

ii

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan pada Tuhan, karena atas berkat, cinta dan kasih- Nya, penulis telah diberi kesempatan dan kelancaran dalam menyelesaikan penulisan hukum yang berjudul “Perlindungan terhadap Hak-Hak Perempuan Nelayan dalam Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2016 Dikaitkan dengan Prinsip Non Diskriminasi sebagai Perwujudan Hak Asasi Manusia”.

Penulisan hukum ini merupakan hasil jerih payah penulis dalam menyelesaikan pendidikan di Universitas Katolik Parahyangan. Penulis menyadari bahwa selesainya penulisan hukum ini bukan semata-mata hasil kerja keras penulis saja, melainkan tidak luput dari berkat dan kasih-Nya dalam memberi kekuatan mau pun jalan keluar, dalam menghadapi kesulitan serta tantangan selama proses penulisan hukum ini. Penulis juga menyadari bahwa masih terdapat berbagai kekurangan dalam penulisan hukum ini, oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari para pembaca.

Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada berbagai pihak atas dukungan, doa, dan arahan selama proses penyelesaian penulisan hukum ini, terutama keluarga, dosen, serta orang-orang terdekat penulis. Dalam kesempatan yang berbahagia ini, penulis sungguh bersyukur dan berterima kasih kepada :

1. Yesus dan Bunda Maria yang selalu siap mendengar keluh kesah penulis, dan selalu menolong penulis saat kesusahan. Kasih-Mu sungguh besar, dan Pertolongan-Mu sungguh tidak pernah terlambat. Terima kasih Yesus dan Bunda Maria.

2. Papa (Permono) dan Mama (Indriati Veronica) yang selalu mendoakan, mendidik, dan memberi segala dukungan, hingga penulis akhirnya dapat menyelesaikan penulisan hukum ini, serta Kakak (Petra Annie) yang selalu

(7)

iii

mendukung penulis, semoga penulis dapat selalu membahagiakan Papa, Mama, dan Kakak.

3. Ibu Dr. Niken Savitri, S.H., MCL. yang selalu sabar memberikan dukungan, nasihat, dan arahan pada penulis dalam penulisan skripsi ini. Terima kasih Ibu untuk bimbingannya.

4. Bapak I Wayan Parthiana, S.H., M.H. dan Bapak Dr. iur. Liona Nanang Supriatna, S.H., M. Hum. selaku dosen penguji sidang Penulisan Hukum yang telah memberikan dukungan, saran, serta pengetahuan sehingga skripsi ini dapat diselesaikan dengan baik.

5. Ibu Grace Juanita S.H., M.Kn. selaku dosen wali penulis, terimakasih Ibu untuk segala arahan dan dukungan dalam 4 tahun perkuliahan ini.

6. Segenap staf Tata Usaha Fakultas Hukum Universitas Katolik Parahyangan serta Bapak-Bapak Pekarya, terima kasih untuk segala bantuan, dukungan, dan kerjasama selama penulis menjalani kuliah di Fakultas Hukum.

7. Nadhira Maudy dan Gebby Thalia, yang sejak semester 1 selalu menemani dan mengisi hari-hari penulis di Bandung, terima kasih telah selalu siap sedia menemani penulis kemana pun dan kapan pun dalam 24 jam. Penulis sangat bersyukur bisa memiliki sahabat seperti kalian.

8. Ivana Sania, Kartikasari, dan Angel Sirang terima kasih untuk tawa via whatsapp disaat penulis sedang kebingungan dan butuh hiburan, terima kasih untuk dukungan virtualnya.

9. Maria Meideline, Della Anggelia, dan Ratih Dipa, terima kasih untuk segala bentuk support yang telah diberikan pada penulis.

10. Andry dan Raja, yang siap sedia menemani penulis nonton bioskop, makan, dan tentu saja ketika latihan LISTRA. Good luck untuk kalian!

11. Gita Senia, terima kasih untuk deep talk selama masa kuliah, walaupun terkadang tidak sepaham, namun ingat bahwa there’s unity in diversity. Untuk Mulla Kamara, Tasia Clementia, Tasya Samosir, Gaodiliam, Bianca, Ica, Bill, Felly, dan Kak Ica, dan teman-teman lain yang tidak dapat penulis sebutkan

(8)

iv

satu persatu, terima kasih untuk pertemanan nano-nano selama masa perkuliahan ini.

12. Leonard Henry. Orang tersabar dalam menghadapi kepanikan, kelabilan, dan sesi marah-marah penulis. Terima kasih telah selalu mengerti keadaan penulis, untuk segala bantuan, doa, support, dan sogokan makanan favorit penulis yakni Eric Kayser dan ayam tangkap.

Bandung, 25 Mei 2019 Penulis,

Renatha Inna Anjani 2015200192

(9)

v DAFTAR ISI

ABSTRAK ... i

KATA PENGANTAR ... ii

BAB I PENDAHULUAN ...1

A. LATAR BELAKANG...1

B. IDENTIFIKASI MASALAH ...7

C. TUJUAN PENELITIAN ...7

D. HIPOTESIS PENELITIAN ...8

E. METODE PENELITIAN ...9

F. SISTEMATIKA PENULISAN ...12

BAB II HAK ASASI MANUSIA DAN HAK ASASI PEREMPUAN ... 14

A. PENGANTAR ...14

B. HAK ASASI MANUSIA ...14

1. PENGERTIAN HAK ASASI MANUSIA...14

2. SEJARAH HAK ASASI MANUSIA ...18

C. DISKRIMINASI ...20

D. PRINSIP NON DISKRIMINASI ...24

E. HAK ASASI PEREMPUAN ...28

1. CONVENTION ON THE ELIMINATION OF ALL FORMS OF DISCRIMINATION AGAINST WOMEN ...29

BAB III UNDANG-UNDANG NOMOR 7 TAHUN 2016 TENTANG PERLINDUNGAN DAN PEMBERDAYAAN NELAYAN, PEMBUDI DAYA IKAN DAN PETAMBAK GARAM ... 33

A. PENGANTAR ...33

B. PENGERTIAN DAN KLASIFIKASI NELAYAN ...33

1. PENGERTIAN NELAYAN ...33

2. KLASIFIKASI NELAYAN ...34

(10)

vi

C. PENGATURAN HAK-HAK NELAYAN DALAM UNDANG-UNDANG NOMOR

7 TAHUN 2016 ...36

1. PERLINDUNGAN DAN PEMBERDAYAAN NELAYAN ...36

2. SYARAT MENDAPATKAN HAK ATAS SARANA, DAN JAMINAN PERLINDUNGAN DARI RISIKO ...47

BAB IV PERLINDUNGAN TERHADAP HAK-HAK PEREMPUAN NELAYAN DALAM UNDANG-UNDANG NOMOR 7 TAHUN 2016 TERKAIT PRINSIP NON DISKRIMINASI ... 55

A. PENGANTAR ...55

B. IMPLEMENTASI UNDANG-UNDANG NOMOR 7 TAHUN 2016 TENTANG PERLINDUNGAN DAN PEMBERDAYAAN NELAYAN, PEMBUDI DAYA IKAN, DAN PETAMBAK GARAM TERHADAP PEREMPUAN NELAYAN ...55

1. IMPLEMENTASI HAK ATAS SARANA DAN HAK ATAS JAMINAN PERLINDUNGAN DARI RISIKO TERHADAP PEREMPUAN NELAYAN ...57

2. IMPLEMENTASI KARTU NELAYAN DAN KARTU KUSUKA SEBAGAI SYARAT AKSES HAK ATAS SARANA DAN HAK ATAS JAMINAN PERLINDUNGAN DARI RISIKO TERHADAP PEREMPUAN NELAYAN ...62

C. KETERKAITAN ANTARA RUMUSAN PASAL 45 UNDANG-UNDANG NOMOR 7 TAHUN 2016 TENTANG PERLINDUNGAN DAN PEMBERDAYAAN NELAYAN, PEMBUDI DAYA IKAN, DAN PETAMBAK GARAM DENGAN PRINSIP NON DISKRIMINASI ...72

1. RUMUSAN PASAL 45 UNDANG-UNDANG PERLINDUNGAN DAN PEMBERDAYAAN NELAYAN, PEMBUDI DAYA IKAN, DAN PETAMBAK GARAM DIKAITKAN DENGAN PRINSIP NON DISKRIMINASI ...73

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN... 77

A. KESIMPULAN ...77

B. SARAN ...78

DAFTAR PUSTAKA ... 79

(11)

1 BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Indonesia merupakan negara kepulauan dengan luas lautan yang melebihi daratan. Menurut data Kementerian Kelautan dan Perikanan, Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia memiliki 17.499 pulau dari Sabang hingga Merauke, dengan luas total wilayah Indonesia adalah 7,81 juta km2, yang terdiri dari 2,01 juta km2 daratan, 3,25 juta km2 lautan, dan 2,55 juta km2 Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE).1 Dilihat dari segi geografis, Indonesia terletak di antara dua benua dan dua samudera, serta memiliki kekayaan sumber daya alam yang begitu besar.2 Sebagai negara kepulauan dengan luas lautan yang begitu besar, Indonesia kerap kali disebut negara maritim.3 Namun sayang julukan tersebut tampaknya belum tepat karena pembangunan di Indonesia selama beberapa dekade terakhir masih terpusat di daratan saja. Adanya ketimpangan pembangunan di antara daratan dan lautan masih terlihat begitu jelas.4

Pembangunan di bidang kelautan dan perikanan hingga saat ini masih jauh dari harapan.5 Padahal wilayah pesisir, pulau-pulau kecil, dan lautan kepulauan Indonesia menyimpan potensi sumber daya alam yang sangat besar dan beraneka ragam, namun kekayaan sumber daya hayati tersebut belum dimanfaatkan secara optimal.6 Berkaitan dengan hal tersebut, pemanfaatan sumber daya hayati seharusnya

1 Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia, https://kkp.go.id/artikel/2233-maritim- indonesia-kemewahan-yang-luar-biasa diakses tanggal 26 September 2018 pukul 14.00 WIB

2 A. Kadar, Pengelolaan Kemaritiman Menuju Indonesia Sebagai Poros Maritim Dunia, Jurnal Keamanan Nasional Vol. 1 No. 3, 2015, hlm. 427

3 Id.

4 Id.

5 Ridwan Lasabuda, Tinjauan Teoritis Pembangunan Wilayah Pesisir dan Lautan dalam Perspektif Negara Kepulauan Republik Indonesia, Jurnal Ilmiah Platax Vol. 1-2, 2013, hlm. 92

6 Id.

(12)

2

mulai dioptimalkan agar sejalan dengan amanat Undang-Undang Dasar 1945 yang tercantum pada bagian Pembukaan alinea ke-4 yakni :

“...Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu Pemerintahan Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum..."

Yang diselaraskan dengan Pasal 33 butir (3) Undang-Undang Dasar 1945 yang menyebutkan :

“Bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.”

Ketentuan di atas telah menjelaskan bahwa potensi kekayaan alam di Indonesia memang seharusnya dimanfaatkan dengan tujuan utama mewujudkan kesejahteraan umum. Potensi kekayaan alam yang dimaksud dalam hal ini adalah kekayaan alam di sektor perikanan.

Bila dilihat lebih jauh pada sektor perikanan Indonesia, dari 7000 spesies ikan di dunia, 2000 jenis diantaranya terdapat di Indonesia.7 Potensi lestari sumber daya perikanan di laut Indonesia kurang lebih 6,4 juta ton per tahun.8 Dari keseluruhan potensi tersebut, jumlah tangkapan yang diperbolehkan yakni sebanyak 5,12 juta ton per tahun atau sekitar 80% dari potensi lestari.9 Potensi kelautan dan perikanan di atas yang berguna untuk mendorong pertumbuhan ekonomi pada bidang perikanan tangkap diperkirakan mencapai US$ 15,1 miliar per tahun, kemudian di bidang budidaya laut US$ 46,7 miliar per tahun, dan budidaya tambak US$ 10 miliar per tahun.10

Dengan kekayaan yang begitu besar dari sektor tersebut, maka peran dari sektor perikanan tidak hanya dalam pembangunan ekonomi negara saja, namun juga dalam meningkatkan perluasan kesempatan kerja, pemerataan pendapatan dan

7 Id., hlm. 93

8 Id.

9 Id.

10 Id., hlm. 94

(13)

3

peningkatan taraf hidup masyarakat termasuk nelayan kecil, pembudidaya ikan dan pihak-pihak pelaku usaha di bidang perikanan.11 Namun dalam realita justru nampak sebaliknya, kehidupan nelayan di Indonesia sangat memprihatinkan, banyak nelayan masih terjebak dalam kemiskinan.12 Sebagian besar dari masyarakat nelayan merupakan nelayan tradisional dengan tingkat pendapatan yang rendah dan kemapuan sosial ekonomi terbatas.13 Masalah tidak berhenti sampai disitu, muncul isu lain yang menjadi perhatian masyarakat terkait pembedaan hak antara nelayan perempuan dan laki-laki.

Pada Pasal 1 butir (3) Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2016 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Nelayan, Pembudi Daya Ikan, dan Petambak Garam, telah tercantum mengenai pengertian dari nelayan yang berbunyi sebagai berikut :

“Nelayan adalah Setiap Orang yang mata pencahariannya melakukan Penangkapan Ikan.”

Dalam rumusan pasal tersebut, hanya dijelaskan bahwa orang yang pekerjaannya menangkap ikan disebut sebagai nelayan, tidak disebutkan mengenai pembedaan antara nelayan perempuan maupun laki-laki. Kemudian pada Pasal 45 dalam Undang Undang Nomor 7 Tahun 2016 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Nelayan, Pembudi Daya Ikan, dan Petambak Garam yang menyebutkan bahwa :

“Kegiatan pemberdayaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 43 memperhatikan keterlibatan dan peran perempuan dalam rumah tangga Nelayan, rumah tangga Pembudi Daya Ikan, dan rumah tangga Petambak Garam.”

Rumusan pasal tersebut cukup menuai kontroversi karena dianggap kurang memperhitungkan peran perempuan nelayan yang juga ikut pergi menangkap ikan untuk menghidupi keluarganya, bukan hanya sekedar menjadi bagian rumah tangga.

11 Endang Retnowati, Nelayan Indonesia dalam Pusaran Kemiskinan Struktural (Perspektif Sosial, Ekonomi dan Hukum), Jurnal Perspektif Vol. XVI, No. 3, 2011, hlm. 150

12 Id.

13 Id.

(14)

4

Hingga saat ini, Pusat Data dan Informasi Koalisi Rakyat Untuk Keadilan Perikanan (KIARA) mencatat sedikitnya 5,6 juta orang terlibat di dalam aktivitas perikanan.14 Aktivitas ini mulai dari penangkapan, pengolahan, sampai dengan pemasaran hasil tangkapan.15 Dari jumlah itu, 70% atau sekitar 3,9 juta orang adalah perempuan.16 Berdasarkan kajian KIARA, perempuan nelayan sangat berperan di dalam rantai nilai ekonomi perikanan, mulai dari pra-produksi sampai dengan pemasaran.17 Ketika perempuan hanya dianggap sebagai pelengkap atau pendamping saja dalam penangkapan ikan, maka dukungan dan perlindungan seperti pemberian sarana serta fasilitas dan jaminan yang diberikan Pemerintah yang tertera dalam Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2016 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Nelayan, Pembudi Daya Ikan, dan Petambak Garam menjadi tidak dapat diakses oleh Perempuan Nelayan.18 Mungkin memang pandangan di kalangan masyarakat bahwa nelayan adalah pria masih terpampang nyata, namun pemerintah jelas bisa mengubah pandangan itu dengan mendukung peran perempuan nelayan yang nyata-nyata sudah bekerja sebagai nelayan.19

Adanya kepentingan yang mendesak dalam mendapatkan pengakuan sebagai nelayan juga dirasakan oleh perempuan nelayan di Tambak Polo, Demak, Jawa Tengah.20 Kegiatan sehari-hari para perempuan nelayan di Tambak Polo adalah ikut berpartisipasi dalam proses penangkapan ikan dan hal tersebut harus mereka lakukan

14 Martin Sihombing, 3,9 Juta Perempuan Nelayan Belum Diakui Negara,

http://industri.bisnis.com/read/20180222/99/741892/39-juta-perempuan-nelayan-belum-diakui- negara diakses pada tanggal 26 September 2018 pukul 14.20 WIB

15 Id.

16 Id.

17 Id.

18 Perempuan Nelayan di Indonesia Menunggu Diakui

https://www.bbc.com/indonesia/majalah/2016/01/160113_majalah_nelayan_perempuan diakses pada tanggal 26 September 2018 pukul 14.25 WIB

19 Id.

20 Eka Handriana, Perjalanan Panjang Perempuan Nelayan Mendapat Pengakuan Negara, https://rappler.idntimes.com/qowi-bastian/perjalanan-panjang-perempuan-nelayan-mendapat- pengakuan-negara-1/full diakses pada tanggal 26 September 2018 pukul 15.00 WIB

(15)

5

karena dari mata pencaharian itulah mereka dapat memenuhi kebutuhan hidup.21 Perjuangan para perempuan nelayan di Tambak Polo dalam rangka mendapat pengakuan sebagai nelayan sedikit demi sedikit membuahkan hasil. Pekerjaan mereka sebagai nelayan diakui pada Kartu Tanda Penduduk milik mereka.22 Namun perjuangan para perempuan nelayan ini belum berakhir karena mereka masih harus berjuang mendapatkan Kartu Nelayan untuk dapat mengakses hak-hak yang telah dijanjikan dalam Undang-Undang Perlindungan dan Pemberdayaan Nelayan, Pembudi Daya Ikan, dan Petambak Garam.23 Hingga akhir bulan Maret 2018, tercatat baru 31 perempuan nelayan yang bisa mendapatkan pengakuan sebagai nelayan dalam Kartu Tanda Penduduk mereka dan mendapatkan Kartu Nelayan.24

Kartu Nelayan merupakan kartu identitas nelayan untuk mengakses hak-hak nelayan seperti asuransi nelayan, sarana dan prasarana untuk nelayan yang ada pada Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2016 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Nelayan, Pembudi Daya Ikan, dan Petambak Garam, dan salah satu syarat mendapatkan kartu tersebut yakni harus berstatus sebagai nelayan pada Kartu Tanda Penduduk.25 Kemudian, terdapat perkembangan mengenai adanya Kartu Pelaku Usaha Kelautan dan Perikanan (KUSUKA) yang nantinya akan menggantikan Kartu Nelayan.26 Kartu KUSUKA berfungsi sebagai identitas tunggal bagi para pelaku usaha perikanan baik perorangan maupun korporasi yang termasuk nelayan, pembudidaya ikan, maupun petambak garam.27 Hingga kini, penggantian kartu nelayan menjadi kartu KUSUKA masih pada tahap transisi dan sosialisasi, sehingga

21 Id.

22 Id.

23 Id.

24 Bina Desa, Meneguhkan Status Pengakuan Perempuan Nelayan, http://binadesa.org/meneguhkan- status-pengakuan-perempuan-nelayan/ diakses pada tanggal 27 September 2018 pukul 15.10 WIB

25 Id.

26 Dina Indriani, Kartu Nelayan di Batang akan Diganti Menjadi Kartu KUSUKA,

http://jateng.tribunnews.com/2018/07/30/kartu-nelayan-di-batang-akan-diganti-menjadi-kartu- kusuka diakses pada tanggal 26 Januari 2019 pukul 13.00 WIB

27 Id.

(16)

6

bagi nelayan yang telah memiliki Kartu Nelayan masih tetap dapat berlaku.28 Fungsi kartu KUSUKA bagi nelayan tetap sama, yakni untuk mengakses asuransi nelayan, serta sarana bantuan dari Pemerintah. Apabila kartu nelayan hanya diperuntukkan bagi para nelayan kecil saja, kartu KUSUKA dapat digunakan oleh pembudidaya ikan dan petambak garam.29 Sejauh ini berdasarkan data yang diperoleh dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), hak-hak untuk nelayan seperti asuransi nelayan sebagian besar masih hanya dinikmati oleh para nelayan laki-laki.30

Kemudian dalam sebuah studi yang dilakukan di Desa Torosiaje Laut, Kecamatan Popayato, Kabupaten Pohuwato di Gorontalo, terbukti bahwa jumlah perempuan yang bekerja sebagai nelayan lebih tinggi dibandingkan pekerjaan lain yang diemban oleh perempuan yang hidup di daerah tersebut.31 Dari contoh-contoh kasus tersebut, dapat diperoleh gambaran bahwa perempuan nelayan termasuk sebagai aktor yang turun secara langsung melakukan kegiatan penangkapan ikan.

Merujuk pada Convention on the Elimination of All Forms of Discrimination Against Women (CEDAW) yang telah diratifikasi oleh Indonesia dengan Undang- Undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 1984 dan Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia, apakah kondisi yang dialami oleh perempuan nelayan yang kesulitan mendapatkan perlindungan nelayan berupa hak atas sarana dan hak atas jaminan perlindungan resiko dari Pemerintah, dapat disebut sebagai diskriminasi terhadap Hak Asasi Manusia? Mengingat bahwa dalam Pasal 1 Convention on the Elimination of All Forms of Discrimination Against Women (CEDAW) yang telah diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa, telah disebutkan mengenai pengertian diskriminasi terhadap

28 Id.

29 Id.

30 Dana Pratiwi, LIPI: Masih Ada Stigma Perempuan Tak Boleh Jadi Nelayan,

https://www.validnews.id/LIPI--Masih-Ada-Stigma-Perempuan-Tak-Boleh-Jadi-Nelayan-RCZ diakses pada tanggal 26 Januari 2019 pukul 13.30

31 Sumrin, Abdul Hafidz Olii, Alfi Sahri Remi Baruadi, Studi Peran Perempuan Pesisir dalam Menunjang Aktivitas Perikanan di Desa Torosiaje Laut Kecamatan Popayato Kabupaten Pohuwato, Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan, Vol. 3, No. 1, 2015

(17)

7

perempuan yang mencakup pembedaan, pembatasan, mau pun pengasingan berdasarkan jenis kelamin, yang bertujuan atau berdampak pada penghapusan atau pengurangan Hak Asasi Manusia dan hak fundamental perempuan di berbagai bidang.

Dengan adanya permasalahan hukum yang telah dikemukakan, penulis akan melakukan analisa dengan skripsi yang berjudul : “Perlindungan Terhadap Hak- Hak Perempuan Nelayan Dalam Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2016 Dikaitkan Dengan Prinsip Non Diskriminasi Sebagai Perwujudan Hak Asasi Manusia”

B. IDENTIFIKASI MASALAH

Berdasarkan uraian pada latar belakang, maka permasalahan hukum yang akan dibahas dalam penulisan hukum ini adalah sebagai berikut :

1. Bagaimana implementasi dari Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2016 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Nelayan, Pembudi Daya Ikan, dan Petambak Garam, terhadap perempuan nelayan?

2. Apakah Pasal 45 dalam Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2016 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Nelayan, Pembudi Daya Ikan, dan Petambak Garam dapat berdampak pada adanya diskriminasi terhadap perempuan nelayan?

C. TUJUAN PENELITIAN

Berdasarkan identifikasi masalah yang telah dikemukakan, adapun tujuan yang hendak dicapai yaitu:

1. Untuk mengetahui penyebab terjadinya perbedaan antara aturan dan implementasi dari Undang Undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2016

(18)

8

tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Nelayan, Pembudi Daya Ikan, dan Petambak Garam.

2. Untuk mengetahui bilamana rumusan Pasal 45 dalam Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2016 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Nelayan, Pembudi Daya Ikan, dan Petambak Garam memberi dampak pada timbulnya diskriminasi terhadap perempuan nelayan.

D. HIPOTESIS PENELITIAN

Penulis melakukan hipotesis penelitian yang dapat menjawab sementara mengenai identifikasi masalah yang telah dikemukakan di atas. Berdasarkan hasil dari pengamatan terhadap variabel tertulis yakni Undang-Undang, dan berita-berita yang relevan terkait perempuan nelayan, serta dokumentasi lapangan yang dilakukan oleh Tim Metro TV yakni dalam acara Tiga_60 dengan tajuk Perjuangan Nelayan Perempuan Mencari Pengakuan, maka penulis mengambil kesimpulan sementara bahwa :

1. Dari pengamatan terhadap berita-berita terkait isu perempuan nelayan yang diakses dari KIARA, dan dari dokumentasi lapangan yang dilakukan Tim Metro TV yakni dalam acara Tiga_60 dengan tajuk Perjuangan Nelayan Perempuan Mencari Pengakuan, terdapat perbedaan antara aturan dan implementasi dari Undang Undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2016 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Nelayan, Pembudi Daya Ikan, dan Petambak Garam yang menyebabkan perempuan nelayan kesulitan mengakses beberapa hak yang telah disediakan Undang-Undang seperti hak atas sarana dan hak atas jaminan perlindungan dari risiko, karena adanya anggapan bahwa perempuan hanya berperan membantu di belakang suaminya.32

32 KIARA, Salmi Rodi : Peran dan Keberadaan Perempuan Nelayan Belum Diakui,

https://www.kiara.or.id/salmi-rodi-peran-dan-keberadaan-perempuan-nelayan-belum-diakui/, diakses pada 25 Desember 2018 pukul 21.00 WIB

(19)

9

2. Rumusan Pasal 45 dalam Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2016 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Nelayan, Pembudi Daya Ikan, dan Petambak Garam, dapat berdampak pada adanya diskriminasi terhadap perempuan nelayan, karena dalam Pasal 45 Undang-Undang tersebut disebutkan dengan jelas bahwa :

“Kegiatan Pemberdayaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 43 memperhatikan keterlibatan dan peran perempuan dalam rumah tangga nelayan...”

Rumusan Pasal tersebut dengan jelas membatasi dan menempatkan perempuan nelayan dalam bidang pemberdayaan dengan kedudukan pada ranah domestik semata, dan tidak memperhatikan ruang publik bagi perempuan nelayan. Hal tersebut dapat berdampak pada akses perempuan nelayan terhadap hak-hak di luar bidang pemberdayaan yang telah disediakan oleh Undang-Undang.

E. METODE PENELITIAN

Penelitian merupakan suatu kegiatan ilmiah yang berkaitan erat dengan analisa dan konstruksi, yang dilakukan secara metodologis, sistematis, dan konsisten.33 Dilakukan secara metodologis berarti sesuai dengan cara-cara tertentu, kemudian sistematis berarti mengikuti sistem yang ada dan menguraikan dengan cara yang baik, dan konsisten berarti tidak terdapat hal-hal yang bertentangan dengan suatu kerangka tertentu.34

a. Metode pendekatan

Penelitian yang akan digunakan penulis merupakan metode penelitian yuridis sosiologis, yakni penelitian di lapangan dengan mengkaji ketentuan

33 Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, Penerbit Universitas Indonesia, Jakarta, 2010, hlm. 42

34 Id.

(20)

10

hukum yang berlaku, serta hal yang terjadi dalam kenyataan di masyarakat.35 Penulis menggunakan metode penelitian yuridis sosiologis karena objek yang diteliti berupa kenyataan yang terjadi dalam masyarakat dan aturan dalam Undang-Undang yang berlaku. Dengan menemukan fakta-fakta yang ada di lapangan dan data-data pendukung lainnya, maka akan digunakan untuk mengidentifikasi masalah yang berujung pada penyelesaian masalah.

b. Data Penelitian

Data Penelitian atau field research merupakan pengumpulan data primer yang dilakukan terhadap objek pembahasan yang memfokuskan pada kegiatan-kegiatan lapangan, yakni dengan mendapatkan data berupa keterangan secara langsung dari lokasi penelitian, yang akan dilakukan di kantor Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (KIARA), berlokasi di Jalan Rawajati Timur Blok AM-7, Ruko Kalibata Indah, Rawajati, Pancoran, Kota Jakarta Selatan.

c. Metode Pengumpulan Data

Guna mendapatkan data yang diperlukan dalam penelitian ini dan membahas permasalahan yang ada, maka penulis melakukan wawancara dan dokumentasi. Yang dimaksud dengan wawancara adalah cara untuk mendapatkan informasi-informasi yang dibutuhkan dengan bertanya secara langsung pada narasumber yang diwawancarai untuk mendapatkan jawaban yang relevan terkait masalah penelitian.36 Wawancara dilakukan terhadap Ibu Susan Herawati Romica selaku Sekretaris Jenderal KIARA, dan Ibu Nibras Fadhlillah selaku Project Officer KIARA.

d. Sumber Data

Pengkajian yang akan dilakukan dalam penulisan ini akan melihat pada peraturan-peraturan yang relevan, yang terdapat dalam data kepustakaan

35 Id., hlm. 72

36 Marzuki Abu Bakar, Metodologi Penelitian, Banda Aceh, 2013, hlm. 57

(21)

11

dan dimaksudkan untuk dijadikan data sekunder, kemudian terhadap data sekunder tersebut akan dikaitkan dengan fakta-fakta yang ada. Data pendukung yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah data kepustakaan sebagai data sekunder. Data sekunder tersebut terdiri dari :

1. Bahan hukum primer, yang termasuk bahan hukum primer yakni bahan hukum yang mengikat baik Perundang-undangan yang telah dikodifikasi maupun tidak dikodifikasi dan norma-norma dasar, antara lain :

• Perundang-undangan

- Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945

- Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia

- Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2016 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Nelayan, Pembudi Daya Ikan, dan Petambak Garam - Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik

Indonesia Nomor 16 Tahun 2016 tentang Kartu Nelayan

- Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia Nomor 39 Tahun 2017 tentang Kartu Pelaku Usaha Kelautan dan Perikanan

- Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 18 Tahun 2016 tentang Jaminan Perlindungan Atas Risiko Kepada Nelayan, Pembudi Daya Ikan, dan Petambak Garam

- Convention on the Elimination of All Forms of Discrimination Against Women yang diratifikasi

(22)

12

dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 1984

• Prinsip non diskriminasi

2. Bahan hukum sekunder, yakni bahan yang memberikan penjelasan mengenai sumber-sumber hukum primer, termasuk hasil-hasil penelitian akademik, artikel, majalah, dan jurnal ilmiah yang relevan dengan penelitian ini.

3. Bahan hukum tersier, yakni bahan hukum penunjang yang mencakup petunjuk dan penjelasan terhadap bahan hukum primer dan sekunder, seperti kamus umum, kamus hukum, internet, serta termasuk bahan primer, sekunder, dan tersier di luar bidang hukum yang diperlukan dalam melakukan penelitian ini.

F. SISTEMATIKA PENULISAN

Sistematika penulisan yang akan penulis susun adalah sebagai berikut :

• BAB I PENDAHULUAN

Bab ini berisi latar belakang masalah, identifikasi masalah, tujuan dan manfaat penelitian, metode penelitian, dan sistematika penulisan.

• BAB II HAK ASASI MANUSIA DAN HAK ASASI PEREMPUAN Bab ini berisikan kajian yang lebih mendalam mengenai Hak Asasi Manusia, pengertian prinsip non diskriminasi, Hak Asasi Perempuan, CEDAW.

• BAB III PENGATURAN UNDANG-UNDANG NOMOR 7 TAHUN 2016 TENTANG PERLINDUNGAN DAN PEMBERDAYAAN NELAYAN, PEMBUDI DAYA IKAN, DAN PETAMBAK GARAM Bab ini berisikan kajian mengenai mengenai pengertian nelayan, kajian terhadap pengaturan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2016 tentang Perlindungan dan

(23)

13

Pemberdayaan Nelayan, Pembudi Daya Ikan, dan Petambak Garam, kajian terkait Kartu Nelayan dan Kartu KUSUKA.

• BAB IV PERLINDUNGAN TERHADAP HAK-HAK PEREMPUAN NELAYAN DALAM UNDANG-UNDANG NOMOR 7 TAHUN 2016 TERKAIT PRINSIP NON DISKRIMINASI

Bab ini berisikan pembahasan mengenai perlindungan terhadap hak-hak perempuan nelayan di Indonesia dalam Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2016 terkait prinsip non diskriminasi.

• BAB V PENUTUP

Bab ini berisikan kesimpulan dan saran dari penelitian.

Referensi

Dokumen terkait

Adapun fakor – faktor yang menghambat pelaksanaan hak – hak saksi dan korban dalam sistem peradilan pidana yaitu faktor dari Undang – Undang Nomor 13 Tahun 2006 tentang

Djarum Tayu Pati pada dasarnya telah membuat kebijakan serta melaksanakan pemenuhan hak pekerja perempuan sebagaimana yang telah diatur dalam Undang- Undang Nomor 13

penyandang disabilitas sudah diatur dalam Undang-undang terbaru yaitu Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 yang mengatur bahwa setiap penyandang disabilitas mempunyai hak

SRITEX Kabupaten Sukoharjo pada dasarnya telah membuat kebijakan serta melaksanakan pemenuhan hak pekerja perempuan sebagaimana yang telah diatur dalam Undang- Undang Nomor 13

Pengaturan merek di Indonesia diatur dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2016 Tentang Merek dan Indikasi Geografis.Undang-Undang tersebut dibuat untuk melindungi pemegang

17 Tahun 2016 Tentang perubahan atas Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2014 tentang perubahan atas Undang- Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2002

Perlunya revisi (perubahan) terhadap Pasal 82 dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 jo Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 jo Perppu Nomor 1 Tahun 2016

Secara spesifik dalam kaitannya dengan bidang perikanan keberadaan lembaga adat juga diatur dalam Undang-Undang Nomor 7 tahun 2016 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Nelayan, Pembudi