• Tidak ada hasil yang ditemukan

2. TEORI PENUNJANG. 7 Universitas Kristen Petra

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "2. TEORI PENUNJANG. 7 Universitas Kristen Petra"

Copied!
31
0
0

Teks penuh

(1)

2. TEORI PENUNJANG

Setelah memaparkan fenomena dan fakta yang terjadi dalam bab 1, pada bab 2 penulis akan memaparkan masing-masing konsep yang diteliti. Konsep pertama dan yang menjadi grand theory dari penelitian ini adalah konsep motivasi.

Motivasi secara umum akan diperdalam menuju konsep motivasi untuk berwisata, dimana penulis menggunakan teori motivasi faktor pendorong dan penarik. Konsep kedua yang akan dibahas adalah konsep dari segmentasi pasar yang berguna sebagai dasar untuk mengelompokkan wisatawan medis. Berikutnya, akan dipaparkan konsep dari wisata medis yang merupakan bagian dari wisata minat khusus, serta faktor motivasi pendorong dan penarik untuk berwisata medis.

2.1 Motivasi

Salah satu konsep yang paling umum digunakan dalam penelitian pariwisata adalah konsep motivasi (John & Larke, 2016). Crompton (1979) juga mengakui bahwa pemahaman tentang faktor motivasi yang mempengaruhi perjalanan sangat membantu dalam memahami perilaku seorang wisatawan, dan motivasi wisatawan meliputi area yang luas serta telah terbukti dalam menunjukkan suatu fakta yang benar dan pasti dalam bidang penelitian pariwisata.

2.1.1 Definisi Motivasi

Motivasi adalah kekuatan pendorong dalam diri individu yang mendorong seseorang untuk bertindak. Kekuatan pendorong ini dihasilkan oleh tekanan yang ada dari kebutuhan yang belum terpenuhi (Schiffman & Kanuk, 2007). Motivasi dapat dianggap sebagai aspek yang selektif dan preferensial dari perilaku tertentu, dan motivasi bertanggung jawab atas penjelasan terhadap perilaku atau tindakan seseorang (Lee, 2007). Motivasi juga dapat diartikan sebagai dorongan internal dan eksternal dalam diri seseorang yang diindikasikan dengan adanya: (1) hasrat dan minat untuk melakukan kegiatan, (2) dorongan dan kebutuhan untuk melakukan kegiatan, (3) harapan dan cita-cita, (4) penghargaan dan penghormatan atas diri, (5) lingkungan yang baik, serta (6) kegiatan yang menarik (Uno, 2007).

(2)

2.1.2 Teori Motivasi Maslow

Terdapat beberapa teori tentang motivasi yang seringkali digunakan dalam penelitian. Di antara semua teori motivasi yang ada, teori hikarki kebutuhan Maslow adalah teori yang paling umum dan sering digunakan. Menurut Maslow (1970), arti dari motivasi adalah ‘alasan’ yang mendasari sebuah perbuatan yang dilakukan oleh seorang individu. Seseorang dikatakan memiliki motivasi tinggi jika orang tersebut memiliki alasan yang sangat kuat untuk mencapai apa yang diinginkannya dengan mengerjakan pekerjaannya yang sekarang. Maslow juga menyatakan bahwa motivasi seseorang untuk melakukan sesuatu dapat dibagi menjadi 5 tingkatan berdasarkan hirarki kebutuhannya, dimulai dari kebutuhan yang sangat mendasar hingga kebutuhan yang paling tinggi. Hirarki kebutuhan tersebut terbagi atas:

1. Kebutuhan fisiologis, yaitu kebutuhan berupa makanan, minuman, pakaian, udara, tempat tinggal, dan kebutuhan lainnya yang digunakan untuk bertahan hidup.

2. Kebutuhan keamanan, yaitu kebutuhan akan rasa bebas dari ancaman, berupa rasa aman baik secara mental maupun fisik.

3. Kebutuhan sosial, yaitu kebutuhan akan hubungan, interaksi, serta mencintai dan dicintai.

Gambar 2.1 Hirarki Kebutuhan Maslow Sumber: McLeod (2007)

Aktualisasi Diri

Fisiologis Penghargaan

Sosial Keamanan

(3)

Cultural

Physical

4. Kebutuhan penghargaan, yaitu kebutuhan untuk diakui dan dihargai orang lain.

5. Kebutuhan aktualisasi diri, yaitu kebutuhan seseorang yang ingin memenuhi ambisi pribadi dengan memaksimalkan kemampuan yang dimiliki.

Dengan mengacu pada teori Maslow, McIntosh, Goeldner & Ritchie (1995) mengembangkan teori motivasi wisatawan dalam melakukan perjalanan yang dikelompokkan ke dalam empat tingkatan yaitu:

1. Physical motivators, berhubungan dengan relaksasi, kenyamanan, olahraga, dan motivasi lain yang berhubungan dengan kesehatan jasmani seseorang.

2. Cultural motivators, keingitahuan seseorang untuk melihat dan belajar tentang budaya dari negara-negara lain.

Gambar 2.2 Hirarki Teori Motivasi Wisatawan

Sumber: Hasil olahan penulis diadaptasi dari McIntosh et al. (1995)

3. Interpersonal motivators, yaitu motivasi yang bersifat pribadi seperti keinginan untuk bertemu orang-orang baru, mengunjungi teman dan keluarga, pelarian dari rutinitas hidup yang membosankan, atau untuk mencari pengalaman yang baru dan berbeda.

4. Status and prestige motivators, berkaitan dengan kebutuhan kepercayaan diri dan pengembangan pribadi, seperti keinginan untuk diakui, diketahui, mendapat penghargaan dan reputasi baik yang didapat dengan melakukan perjalanan, serta perjalanan yang berkaitan dengan bisnis, edukasi dan hobi.

Status and Prestige

Interpersonal

(4)

2.2 Teori Motivasi Faktor Pendorong dan Penarik

Meskipun teori Maslow banyak berkontribusi pada teori motivasi, dalam konteks pariwisata, teori motivasi faktor pendorong dan penarik adalah teori yang paling banyak diadopsi untuk mengidentifikasi motivasi wisatawan. Teori motivasi faktor pendorong dan penarik merupakan konsep utama dalam literatur motivasi wisatawan (Pesonen, 2011). John & Larke (2016) juga menyebutkan bahwa dari sekian banyak jenis skema untuk mengklasifikasikan motivasi, faktor pendorong dan penarik tetap merupakan yang utama dalam tinjauan literatur pariwisata.

2.2.1 Definisi Motivasi Faktor Pendorong dan Penarik

Teori motivasi faktor pendorong dan penarik menyatakan bahwa faktor- faktor yang membentuk motivasi seseorang dalam berwisata terdiri dari dua faktor utama, yaitu faktor pendorong (push factor) dan faktor penarik (pull factor).

Menurut Pitana dan Gayatri (2005), faktor pendorong dan penarik ini sebenarnya merupakan motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik yang memotivasi wisatawan untuk mengambil keputusan untuk melakukan perjalanan. Motivasi intrinsik adalah motivasi yang terbentuk karena adanya kebutuhan dan keinginan dari dalam diri manusia itu sendiri, sedangkan motivasi ekstrinsik adalah motivasi yang terbentuk karena adanya pengaruh dari faktor-faktor eksternal, seperti norma sosial, pengaruh keluarga dan situasi lingkungan. Secara singkat, faktor pendorong adalah sesuatu dari dalam diri yang membentuk keinginan seseorang untuk berwisata, sedangkan faktor penarik merupakan sesuatu yang dapat menarik minat seseorang untuk memutuskan destinasi tujuan yang dipilih (Crompton, 1979).

2.2.2 Faktor Pendorong

Faktor pendorong adalah motivasi secara sosio-psikologis yang mendorong seseorang untuk berwisata. Berdasarkan beberapa kajian literatur yang telah penulis lakukan sejauh ini, terdapat tiga penelitian sebelumnya yang menggali faktor motivasi pendorong wisatawan, antara lain Crompton (1979), Ryan (1991), serta McIntosh (1977) & Murphy (1985).

Menurut Crompton (1979), faktor-faktor yang dapat dikelompokkan ke dalam faktor pendorong wisatawan antara lain:

(5)

1. Escape from a perceived mundane environment, yaitu mencari perubahan sementara pada lingkungan sehari-hari, termasuk lingkungan rumah dan pekerjaan.

2. Exploration and evaluation of self, yaitu kesempatan untuk mengevaluasi kembali dan menemukan banyak hal baru tentang diri sendiri.

3. Relaxation, dimana istilah relaksasi lebih mengarah pada keadaan mental daripada fisik. Relaksasi berarti meluangkan waktu untuk melakukan kegiatan yang menarik.

4. Prestige, dimana berlibur telah menjadi bagian dari gaya hidup yang lebih tinggi.

5. Regression, yaitu pencarian gaya hidup pada era sebelumnya, disebut juga sebagai ‘faktor nostalgia’.

6. Enhancement of kinship relationships, dimana berlibur adalah waktu dimana seluruh anggota keluarga dapat bersatu dan berkumpul.

7. Facilitation of social interaction, yaitu keinginan untuk bertemu dengan orang- orang baru di lokasi yang berbeda.

Sedangkan Ryan (1991), mengemukakan berbagai faktor pendorong bagi seseorang untuk melakukan perjalanan wisata, antara lain:

1. Escape, yaitu ingin melepaskan diri dari lingkungan yang dirasakan menjemukan atau kejenuhan dari pekerjaan sehari-hari.

2. Relaxation, yaitu keinginan untuk rekuperasi/penyegaran, yang juga berhubungan dengan motivasi untuk escape di atas.

3. Play, yaitu ingin menikmati kegembiraan, melalui berbagai permainan yang merupakan permunculan kembali dari sifat kekanak-kanakan dan melepaskan diri sejenak dari berbagai urusan yang serius.

4. Strenghtening family bonds, yaitu ingin mempererat hubungan kekerabatan, khususnya dalam konteks visiting friends and relatives (VFR). Hubungan kekerabatan ini juga terjadi di antara anggota keluarga yang melakukan perjalanan bersama-sama, karena kebersamaan sangat sulit diperoleh dalam suasana kerja sehari-hari di negara industri.

(6)

5. Prestige, untuk menunjukkan gengsi, dengan mengunjungi destinasi yang menunjukkan kelas dan gaya hidup, yang juga merupakan dorongan untuk meningkatkan status atau derajat sosial.

6. Social interaction, yaitu untuk dapat melakukan interaksi sosial dengan teman atau dengan masyarakat lokal yang dikunjungi.

7. Romance, yaitu keinginan untuk bertemu dengan orang-orang yang bisa memberikan suasana romantis atau untuk memenuhi kebutuhan seksual.

8. Educational opportunity, yaitu keinginan untuk melihat sesuatu yang baru, mempelajari orang lain atau daerah lain, atau mengetahui kebudayaan etnis lain.

9. Self-fulfilment, yaitu keinginan untuk menemukan diri sendiri (self-discovery), karena jati diri dapat ditemukan pada saat seseorang menemukan daerah atau orang yang baru.

10. Wish-fulfilment, yaitu keinginan untuk merealisasikan mimpi-mimpi yang dicita-citakan, sampai mengorbankan diri dengan cara berhemat agar bisa melakukan perjalanan.

Menurut McIntosh (1977) & Murphy (1985) dalam Pitana & Gayatri (2005), seseorang melakukan perjalanan dimotivasi oleh beberapa hal. Berbagai macam motivasi yang mendorong perjalanan tersebut dapat dikelompokkan menjadi empat kelompok besar, yaitu:

1. Physical motivation, adalah wisatawan yang memiliki motivasi yang bersifat fisik atau fisiologis, seperti relaksasi, kesehatan, kenyamanan, olahraga, bersantai, dan yang berhubungan dengan sifat fisik lainnya.

2. Cultural motivation, adalah wisatawan yang ingin mengetahui budaya, adat, tradisi, dan kesenian di daerah lain, termasuk ketertarikan dari berbagai objek peninggalan budaya atau bangunan yang bersejarah.

3. Social motivation, adalah wisatawan yang termotivasi oleh kegiatan sosial seperti mengunjungi teman dan keluarga, menemui rekan kerja, dan melakukan ziarah, serta kegiatan berwisata yang dapat meningkatkan prestige dalam kehidupannya.

4. Fantasy motivation, adalah wisatawan yang berusaha mewujudkan sesuatu yang telah atau sedang dikhayalkan, berusaha lepas dari rutinitas kesehariannya dan mendapatkan kepuasan psikologis.

(7)

Dari ketiga penelitian sebelumnya tersebut, penulis menemukan bahwa terdapat beberapa kesamaan dalam faktor motivasi pendorong wisatawan, seperti keinginan untuk keluar dari rutinitas (escape), bersantai (relaxation), meningkatkan status sosial (prestige), bersosialisasi dengan orang-orang baru (social), mempunyai waktu untuk berkumpul bersama keluarga (family bonds), keinginan untuk lebih mengenal diri sendiri (self discovery), serta keingintahuan untuk mengenal dan belajar sesuatu yang baru (educational opportunity). Namun, juga terdapat perbedaan, yaitu beberapa faktor yang tidak terdapat dalam kajian peneliti yang lainnya. Tetapi, penulis menyimpulkan bahwa faktor-faktor dalam ketiga penelitian tersebut merupakan garis besar dari faktor motivasi pendorong perjalanan yang berasal dari dalam diri wisatawan.

2.2.3 Faktor Penarik

Dari beberapa kajian literatur pada penelitian sebelumnya mengenai faktor motivasi penarik wisatawan, penulis akan menganalisa hasil penelitian dari Syrakaya, McLellan & Uysal (1996), Kim (2008), serta Tjondrowiguno & Astarini (2014).

Menurut Syrakaya, McLellan & Uysal (1996), faktor penarik adalah sesuatu yang dapat membuat seseorang tertarik dan memilih destinasi tertentu karena beberapa atribut, antara lain:

1. Man-made attractions, terdiri atas infrastruktur, superstruktur seperti fasilitas kegiatan outdoor dan olahraga, hotel dan resorts, fasilitas perbelanjaan, serta upaya publikasi.

2. Natural attractions, terdiri atas pemandangan alam, pantai, iklim dan tempat bersejarah.

3. Socio-cultural attractions, terdiri atas keramahan warga lokal, berbagai aktivitas budaya, serta kehidupan malam dan hiburan lainnya.

4. Psychological attractions, terdiri atas destinasi yang baru, aksesbilitas, keluarga dan teman, kenyamanan wisata, makanan yang enak, akomodasi yang nyaman, lokasi yang tenang, serta bahasa yang umum digunakan.

Sedangkan faktor penarik seseorang untuk melakukan perjalanan wisata menurut Kim (2008) antara lain:

(8)

1. Lodging and transportation, yaitu penginapan dan transportasi yang bersih dan nyaman serta adanya restoran dan kesempatan untuk berbelanja.

2. Convenience and value, meliputi kemudahan untuk mengakses, lamanya waktu perjalanan, good value for the price, ketersediaan informasi tentang tempat tujuan dan ada tempat peristirahatan yang tenang.

3. Recreation and entertainment, adanya fasilitas rekreasi dan olahraga, dapat berpartisipasi dan melihat acara olahraga, kehidupan dan hiburan malam.

4. Cultural opportunities, meliputi adanya atraksi budaya dan sejarah, kesempatan untuk berinteraksi dengan warga lokal dan belajar sesuatu yang baru.

5. Natural scenery, adanya sungai, danau, gunung, salju ataupun berbagai pemandangan alam yang indah.

6. Sun and beaches, meliputi udara yang hangat dan terik serta adanya pantai dan laut.

7. Family friendly, yaitu wisata yang berorientasi keluarga, membangun keakraban serta mementingkan keselamatan dan keamanan.

Sedangkan menurut Tjondrowiguno & Astarini (2014), faktor-faktor penarik perjalanan wisata meliputi:

1. Price, dimana jumlah total biaya yang harus dikeluarkan berperan signifikan dalam pemilihan destinasi wisata.

2. Culture, dimana budaya daerah lain membuat seseorang tertarik untuk datang, melihat dan belajar kebudayaan tersebut.

3. Natural environment and weather attraction, cuaca yang mendukung sangat mempengaruhi aktivitas yang akan dilakukan wisatawan di daerah tujuan, bahkan cuaca dan musim juga dapat dijadikan sebagai atraksi untuk sebuah destinasi wisata.

4. Location, dimana jarak antara destinasi wisata yang satu dengan yang lain dan kemudahan akses ke daerah wisata memberikan pertimbangan bagi wisatawan.

5. Service and facilities, dimulai dari administrasi, akomodasi, transportasi, serta berbagai fasilitas berbelanja.

6. Entertainment and relaxation, dimana hiburan dan relaksasi dapat ditemukan dalam berbagai bentuk, seperti pertunjukan-pertunjukan khusus, kegiatan di luar ruangan, perjudian, kehidupan malam, dan sebagainya.

(9)

7. Safety, dimana keselamatan dalam perjalanan wisata merupakan hal yang sangat penting bagi wisatawan.

Penulis menemukan bahwa terdapat cukup banyak kesamaan faktor-faktor penarik wisatawan pada ketiga kajian literatur tersebut. Perbedaan hanya ditemukan pada hasil penelitian Tjondrowiguno & Astarini (2014), yang mempertimbangkan faktor price dan safety sebagai faktor-faktor yang turut berpengaruh. Namun, dapat disimpulkan bahwa ketiga penelitian tersebut dapat dijadikan sebagai acuan untuk menganalisa faktor motivasi penarik wisatawan dalam melakukan perjalanan.

2.3 Segmentasi Pasar

Setelah menemukan faktor pendorong dan penarik yang memotivasi masyarakat Indonesia untuk berwisata medis ke luar negeri, akan ditemukan bahwa setiap wisatawan sebenarnya memiliki prioritas dan kebutuhan yang berbeda-beda.

Oleh karena itu, penulis akan melakukan segmentasi untuk mengelompokkan wisatawan tersebut, sehingga dapat mengetahui karakteristik dari setiap segmen dan membantu penyedia jasa untuk dapat menyediakan apa yang dibutuhkan oleh segmen pasar yang dituju dengan lebih efektif.

2.3.1 Definisi Segmentasi Pasar

Segmentasi pasar dilakukan karena setiap pembeli mempunyai perbedaan, baik dalam hal keinginan, sumber daya, lokasi, dan perilaku (Kotler, Makens &

Bowen, 2006). Schiffman dan Kanuk (2006) mendefinisikan segmentasi pasar sebagai proses membagi pasar menjadi kelompok-kelompok konsumen yang khas, mempunyai kebutuhan atau sifat yang sama dan kemudian memilih satu atau lebih segmen yang akan dijadikan sasaran. Sedangkan menurut Kasali (2000), segmentasi adalah proses mengkotak-kotakkan pasar yang heterogen menjadi kelompok-kelompok yang lebih homogen. Kelompok-kelompok ini memiliki kebutuhan, karakteristik, dan respons yang sama terhadap suatu produk atau jasa yang ditawarkan. Dengan memahami siapa konsumen yang dituju, dapat ditentukan bagaimana cara menjangkau konsumen tersebut, produk dan layanan apa yang dibutuhkan, berapa harga yang layak dibebankan, serta bagaimana mempertahankan pasar dari serangan para pesaing.

(10)

2.3.2 Variabel-variabel Segmentasi Pasar

Menurut Kasali (2000), mulanya pasar disegmentasikan menurut variabel- variabel geografis dan demografis seperti berdasarkan wilayah, jenis kelamin, lokasi, pendapatan, pekerjaan, usia dan pendidikan. Seiring berjalannya waktu, segmentasi dengan cara ini dinilai kurang akurat sehingga tidak begitu memuaskan.

Segmentasi geografis dan demografis ini akhirnya dipertajam oleh segmentasi psikografis atau perilaku, seperti berdasarkan orientasinya terhadap karier, keluarga dan komunitas, motivasinya dalam berkonsumsi, serta kecenderungan dalam bersikap.

Kotler, Makens & Bowen (2006) menyatakan empat variabel utama yang dapat digunakan untuk melakukan segmentasi pasar adalah:

1. Segmentasi geografis (geographic segmentation), adalah segmentasi yang membagi pasar menjadi unit geografis yang berbeda-beda seperti bangsa, negara, daerah, kota, atau kawasan pemukiman.

2. Segmentasi demografis (demographic segmentation), adalah segmentasi yang membagi pasar menjadi berbagai kelompok berdasarkan variabel seperti usia, jenis kelamin, siklus hidup keluarga, pendapatan, pekerjaan, pendidikan, agama, ras dan kebangsaan.

3. Segmentasi psikografis (psychographic segmentation), membagi konsumen menjadi kelompok yang berbeda-beda berdasarkan kelas sosial, karakteristik gaya hidup dan kepribadian konsumen.

4. Segmentasi perilaku (behavioral segmentation), adalah pengelompokkan pembeli berdasarkan pengetahuan, sikap, tingkat penggunaan, serta respons konsumen dalam membeli sebuah produk atau jasa.

Lebih lanjut, Schiffman & Kanuk (2006) menambahkan bahwa terdapat sembilan kategori utama yang dapat digunakan sebagai dasar segmentasi, yaitu:

1. Segmentasi geografis (geographic segmentation), yaitu berdasarkan daerah, ukuran kota, kepadatan dan iklim.

2. Segmentasi demografis (demographic segmentation), yaitu berdasarkan usia, jenis kelamin, status perkawinan, penghasilan, pendidikan dan pekerjaan.

3. Segmentasi psikologis (psychological segmentation), yaitu berdasarkan motivasi, kepribadian, persepsi dan sikap.

(11)

4. Segmentasi psikografis (psychographic segmentation), yaitu berdasarkan gaya hidup yang diperjelas melalui aktivitas, ketertarikan dan opini.

5. Segmentasi sosial budaya (socio-cultural segmentation), yaitu berdasarkan budaya, agama, ras atau etnis, kelas sosial dan siklus hidup keluarga.

6. Segmentasi terkait pemakaian (use related segmentation), yaitu berdasarkan tingkat pemakaian, kesadaran dan kesetiaan pada merek.

7. Segmentasi situasi pemakaian (usage situation segmentation), yaitu berdasarkan waktu, tujuan, lokasi dan subjek.

8. Segmentasi manfaat (benefit sought segmentation), yaitu atas dasar manfaat yang paling penting dan bermakna, seperti memberikan kenyamanan dan nilai yang sebanding dengan harga.

9. Segmentasi gabungan (hybrid segmentation), terdiri atas tiga kelompok gabungan yaitu demografis-psikografis yang merupakan kombinasi profil demografis dan psikografis dari berbagai segmen konsumen, geodemografis yang berasumsi bahwa orang yang hidup dekat satu dengan yang lain mungkin mempunyai selera, pilihan, gaya hidup dan kebiasaan yang sama, serta Values and Lifestyles (VALS) dimana lebih fokus pada usaha menjelaskan perilaku konsumen.

2.3.3 Syarat Segmentasi Pasar yang Efektif

Dari sekian banyak variabel dan cara untuk melakukan segmentasi pasar, diperlukan pemilihan dasar segmentasi yang tepat agar segmentasi pasar tersebut dapat berjalan dengan efektif. Kotler, Makens & Bowen (2006) memberikan lima syarat yang dapat mendorong pembentukkan segmentasi pasar yang efektif, antara lain:

1. Dapat diukur (measureable), yaitu ciri-ciri dan sifat tertentu dari konsumen harus dapat diukur atau didekati.

2. Dapat diakses (accessable), yaitu suatu segmen harus mudah diakses agar dapat dilayani dengan efektif.

3. Cukup besar (substantial), yaitu suatu segmen harus cukup besar dan menguntungkan.

(12)

4. Dapat dibedakan (differentiable), yaitu sejauh mana segmen-segmen dapat dipisahkan dengan jelas, serta memberi tanggapan yang berbeda atas sesuatu.

5. Dapat dilaksanakan (actionable), yaitu sejauh mana segmen tersebut dapat dilayani dengan program-program yang menarik dan efektif.

2.4 Segmentasi Psikografis (Psychographic Segmentation)

Kasali (2000) menjelaskan bahwa melalui segmentasi psikografis, konsumen dibeda-bedakan berdasarkan sifat-sifat kepribadian, tingkat sosial- ekonomi, sikap dan motivasinya. Tipe segmentasi ini akan membantu untuk mempertajam segmentasi geografis dan demografis, karena orang-orang yang mempunyai berasal dari wilayah yang sama, mempunyai penghasilan yang sama, bahkan berusia dan bertingkat pendidikan sama ternyata mempunyai respons konsumsi yang berbeda. Singkatnya, segmentasi psikografis diartikan sebagai segmentasi berdasarkan gaya hidup, dimana hal tersebut dapat mempengaruhi perilaku seseorang, dan akhirnya menentukan pilihan-pilihan konsumsi seseorang.

Dolnicar (2006) menyatakan bahwa segmentasi psikografis adalah metode segmentasi berbasis data yang paling populer dalam literatur pariwisata. Sebanyak tiga perempat dari semua literatur tersebut menggunakan konstruksi psikografis seperti manfaat, motivasi dan preferensi sebagai kriteria pengelompokan. Bieger &

Laesser (2002) juga menyatakan bahwa segmentasi dalam bidang pariwisata umumnya menggunakan motivasi sebagai salah satu faktor yang menentukan.

2.5 Wisata Medis Sebagai Bagian dari Wisata Minat Khusus

Wisata minat khusus didefinisikan sebagai pengalaman berwisata yang disesuaikan dengan individu atau kelompok untuk mengekspresikan keinginan dan ketertarikan yang spesifik (Douglas et al., 2001). Wisata minat khusus akan berusaha untuk memikat wisatawan yang lebih tertarik dan akan menghabiskan banyak waktu serta biaya di destinasi tersebut (Hall & Weiler, 1992). Beberapa bentuk dari wisata minat khusus antara lain wisata budaya, wisata sejarah, wisata medis, wisata pedesaan, wisata edukasi, dan masih banyak lagi.

(13)

2.5.1 Definisi Wisata Medis

Konsep wisata medis bukanlah sesuatu yang baru. Pertama kali ditemukan ribuan tahun yang lalu pada kehidupan masyarakat Yunani, dimana masyarakat pergi ke seluruh penjuru Mediterania hingga akhirnya berakhir di suatu daerah kecil, yaitu Epidauria. Daerah ini dipercaya sebagai daerah suci yang mendapat anugerah Tuhan, dimana semua orang yang berobat disana akan disembuhkan (Thompson, 2011). Seiring dengan perkembangan jaman dimana manusia hidup dalam rutinitas sehari-hari yang semakin padat, keinginan untuk menikmati waktu liburan untuk kegiatan yang berkontribusi positif terhadap kesehatan juga semakin meningkat (Douglas et al., 2001).

Menurut Cohen (2008), wisata medis adalah kegiatan seseorang yang pergi ke kota atau negara lain untuk mendapatkan perawatan kesehatan sembari menikmati liburan, atau orang yang mengambil keuntungan saat sedang berobat.

Gupta (2004) mendefinisikan wisata medis sebagai penyediaan perawatan kesehatan untuk pasien yang bekerja sama dengan industri pariwisata. Proses ini biasanya difasilitasi oleh sektor perawatan medis swasta, tetapi melibatkan sektor swasta dan publik dari industri pariwisata. Wisatawan medis akan mendapatkan operasi atau perawatan medis sambil menikmati tinggal di salah satu tujuan wisata populer di dunia. Goeldner (1989) dalam Hall (2011) menyebutkan bahwa wisata medis dapat didefinisikan sebagai: (1) pergi ke tempat yang jauh dari rumah, (2) kesehatan sebagai motif yang penting, (3) dilakukan dengan rangkaian cara berlibur. Jadi, konsep dari wisata medis sebenarnya terbangun dari dua pokok teori, yaitu teori pariwisata dan teori kesehatan.

Connell (2013) menjelaskan bahwa wisata medis adalah istilah umum yang digunakan dalam banyak kasus, dimana meningkatkan kondisi kesehatan adalah komponen utama dalam perjalanan. Wisata medis sendiri lebih melibatkan prosedur yang invasif serta berbagai pemeriksaan medis, daripada prosedur yang lebih pasif dengan bentuk-bentuk perawatan kesehatan seperti terapi relaksasi. Oleh karena itu, wisata medis lebih mengarah pada perawatan seperti operasi kecantikan, operasi jantung, dan penggantian pinggul atau lutut. Cormany & Baloglu (2011) juga menjelaskan bahwa wisata medis adalah istilah yang digunakan untuk menunjukkan perilaku perjalanan lintas batas seseorang yang memerlukan operasi

(14)

besar atau kecil, perawatan kecantikan, dan perawatan gigi. Layanan medis preventif seperti medical checkup dan health screening procedures juga termasuk dalam ruang lingkup wisata medis (Heung, Kucukusta & Song, 2011). Konsep wisata medis ini sendiri berbeda dengan yang sering disebut dengan wellness tourism. Mueller & Kaufmann (2001) mendifinisikan wellness tourism sebagai pariwisata yang seringkali mencakup paket layanan yang ditawarkan oleh penyedia jasa pariwisata, terdiri atas akomodasi yang nyaman, pusat kebugaran fisik, perawatan kecantikan, diet sehat, relaksasi, meditasi, dan kegiatan mental lainnya.

Maka, dapat disimpulkan bahwa wisata medis berhubungan dengan perawatan untuk kesehatan tubuh, sedangkan wellness tourism berhubungan dengan kesehatan mental dan pikiran. Penelitian ini akan lebih mengarah pada wisata medis dimana wisatawan benar-benar mencari perawatan kesehatan seperti medical checkup, health screening procedures, operasi kecantikan, perawatan gigi, operasi jantung, perawatan virus tertentu, penggantian pinggul atau lutut, dan berbagai proses perawatan kesehatan lainnya.

2.5.2 Produk dan Layanan dari Wisata Medis

Carrera & Vivien (2012) menggambarkan hirarki kebutuhan perawatan kesehatan dengan menggunakan teori hierarki kebutuhan Maslow dalam teori utama. Orang yang memiliki tingkat kebutuhan perawatan kesehatan yang berbeda, akan mencari bentuk dan karakteristik yang berbeda dari penyedia layanan kesehatan. Ketika dianalisa, hirarki kebutuhan perawatan kesehatan bersama dengan konsumsi wisata medis terdiri atas 4 tingkatan sebagai berikut:

1. Basic healthcare, dimana wisatawan hanya melakukan basic medical care seperti chealthckup kesehatan, pemeriksaan gigi, imunisasi dan pencegahan terhadap penyakit. Pada tingkat ini, wisatawan akan lebih fokus pada faktor berwisata. Untuk pelayanan kesehatan, wisatawan akan cenderung mencari pelayanan yang standar dengan harga terjangkau dan paket-paket promosi spesial.

2. Medically necessary treatment, dimana wisatawan membutuhkan perawatan khusus, seperti operasi atau perawatan virus dan penyakit tertentu. Pada tingkat ini, wisatawan akan lebih berfokus pada perawatan dan pemulihan kesehatan.

(15)

Untuk faktor wisata, masyarakat akan berwisata sejenak di sekitar rumah sakit atau memilih destinasi wisata yang cocok untuk kondisi kesehatan.

Gambar 2.3 Hirarki Kebutuhan Perawatan Sumber: Carrera & Vivien (2012)

3. Health enhancement, dimana wisatawan membutuhkan pelayanan kesehatan lebih, seperti menghilangkan, mengubah, atau melakukan operasi pada bagian tubuh tertentu, misalnya lasik, operasi plastik, perawatan untuk menurunkan berat badan, dan lain-lain. Wisatawan pada tahap ini akan benar-benar mempertimbangkan perawatan kesehatan yang sedang dijalani, dan akan melakukan perjalanan wisata setelah perawatan kesehatan selesai.

4. Optimum health dimana wisatawan ada dalam kondisi tubuh yang baik dan sehat, tetapi ingin mempertahankan atau menjadi lebih sehat lagi. Jenis layanan kesehatan yang dinikmati adalah spa, massage, akupuntur, obat-obat dan perawatan tradisional, serta detox. Fokus dari para turis pada tingkatan ini adalah benar-benar berwisata sembari mencoba layanan kesehatan yang ada di area wisata.

Menurut Yap (2007) dalam Musa, Thirumoorthi & Doshi (2012), wisatawan medis bepergian untuk mendapatkan empat jenis perawatan kesehatan, yaitu:

1. Essential healthcare, yaitu perawatan yang tidak tersedia di negara asal, baik karena negara asal tidak memiliki kecanggihan medis, belum mengijinkan

Optimum Health

Health Enhancement Medically Necessary

Treatment Basic Healthcare

(16)

prosedur tertentu, atau memiliki daftar tunggu yang panjang karena keterbatasan sumber daya.

2. Affordable healthcare, dimana tempat perawatan tersedia tetapi tidak terjangkau oleh pasien tertentu yang tidak mampu membayarnya. Hal ini dimungkinkan karena biaya yang tinggi atau perlindungan asuransi yang tidak memadai.

3. Quality of healthcare, dimana perawatan yang tersedia di negara asal dianggap berkualitas rendah terhadap layanan kesehatan yang tersedia di luar negeri.

4. Premium healthcare, adalah bila bepergian untuk perawatan kesehatan dilihat sebagai kemewahan dan pasien memilih perawatan kesehatan negara lain karena itu menambah prestise dan menunjukkan bahwa masyarakat mampu membelinya atau bahwa masyarakat memiliki rasa yang lebih baik untuk memilihnya.

Dikutip dari jurnal Lee & Spisto (2007), Tourism Reasearch and Marketing (TRAM) menggolongkan komponen dari wisata medis menjadi 4 bagian, yaitu:

1. Treatment of illnesses, secara garis besar meliputi medical checkup, health screening, perawatan gigi, pengobatan sendi, operasi jantung, pengobatan kanker, bedah syaraf, transplantasi dan prosedur lain yang memerlukan intervensi medis yang berkualitas. Komponen ini berkisar dari layanan perawatan kesehatan yang dapat disediakan oleh dokter umum setempat hingga prosedur bedah yang rumit seperti transplantasi.

2. Enhancement, meliputi prosedur yang dilakukan terutama untuk tujuan estetika.

Prosedur ini memerlukan perawat medis yang berkualitas dan memenuhi kualifikasi tertentu, walaupun pekerjaannya jarang berhubungan dengan virus atau penyakit. Contoh prosedur tersebut meliputi semua bedah kosmetik, bedah payudara, pengencangan wajah, sedot lemak, dan perawatan gigi kosmetik.

3. Wellness, dimana komponen wellness dalam wisata medis mempromosikan gaya hidup yang lebih sehat. Oleh karena itu, produk ini meliputi perawatan di spa, perawatan termal dan air, akupunktur, aromaterapi, perawatan kecantikan, facial, penyembuhan herbal, perawatan spa, yoga, dan produk serupa lainnya.

Biasanya, tidak dibutuhkan tenaga dokter spesialis untuk menyediakan layanan ini, tenaga medis yang dibutuhkan berupa tenaga profesional yang seringkali merupakan anggota yang terakreditasi dari berbagai asosiasi.

(17)

4. Reproduction atau fertility treatment, meliputi pasien yang mencari perawatan terkait kesuburan seperti fertilisasi in vitro dan in vivo, serta prosedur serupa lainnya. Dalam beberapa situasi, perjalanan ini dimotivasi dan dipengaruhi oleh undang-undang di negara asal, karena beberapa prosedur kesuburan ilegal di beberapa negara. Selain itu, birth tourism juga termasuk dalam kategori ini.

Birth tourism adalah dimana ibu hamil yang bepergian ke negara lain untuk melahirkan bayinya dan memanfaatkan layanan di negara tersebut. Keuntungan lebih yang didapat selain layanan kelahiran adalah anak tersebut akan mendapatkan kewarganegaraannya dari negara baru, dan dengan demikian dapat tinggal secara permanen di negara tersebut.

Menurut Cormany (2008), perawatan kesehatan dapat dibagi dalam klasifikasi berdasarkan perawatan yang dicari. Perawatan tersebut bervariasi mulai dari penyesuaian gaya hidup, perawatan kecantikan, perawatan gigi, transplantasi organ, hingga operasi jantung. Sistem klasifikasi dari wisata medis tersebut digolongkan dalam tiga area luas, yang dapat dijabarkan menjadi enam kategori.

1. Intrusive medical procedures yang mencakup tiga kategori di dalamnya.

a. Elective surgery or procedures, yang dilakukan karena keinginan dan permintaan dari pasien. Prosedur yang dilakukan meliputi operasi kecantikan, perawatan kecantikan gigi, operasi alat kelamin atau pengobatan reproduksi.

b. Quality of life surgery, didefinisikan sebagai perawatan dan operasi yang dianjurkan, tetapi tidak sampai tahap mengancam keselamatan hidup, contohnya seperti operasi gigi dan perawatan sendi.

c. Life saving surgery, adalah perawatan dan operasi yang harus dilakukan karena mengancam keselamatan hidup, meliputi operasi cardiovascular, transplantasi organ dan onkologi.

2. Diagnostic procedures, hanya meliputi satu kategori di dalamnya, yaitu perawatan seperti stress tests, screenings, cat-scans, dan electrocardiograms.

3. Lifestyle procedures yang terdiri dari dua kategori.

a. Spa dan konsultasi untuk mengatasi kecanduan, mempelajari tentang bagaimana cara mengurangi stress, serta relaksasi.

(18)

b. Non-surgical alternative thealthrapies, seperti akupuntur, injeksi botox, ayurveda, serta perawatan herbal untuk kondisi tertentu.

Selain itu, kelompok ketujuh yang mungkin masuk ke dalam salah satu dari enam kategori di atas telah diidentifikasi. Disebut sebagai circumvention tourist, yaitu wisatawan yang melakukan perjalanan untuk mendapatkan perawatan yang tidak diizinkan di negara asal. Beberapa contohnya adalah perempuan dari Irlandia yang bepergian untuk aborsi, pasangan yang mengunjungi India untuk meminta ibu pengganti kehamilan, orang yang bepergian ke Swiss untuk euthanasia, atau wisatawan China yang bepergian ke Hongkong untuk melahirkan untuk menghindari hukum satu anak per keluarga (Stolley & Watson, 2012, dalam Cormany, 2013).

2.6 Motivasi Faktor Pendorong dan Penarik untuk Berwisata Medis 2.6.1 Faktor Motivasi Pendorong Berwisata Medis

Mengenai faktor motivasi pendorong berwisata medis, penulis menemukan bahwa belum banyak kajian literatur yang benar-benar menganalisa motivasi yang berasal dari dalam diri wisatawan. Hal ini menunjukkan bahwa penelitian mengenai faktor motivasi pendorong berwisata medis masih jarang dilakukan. Terdapat tiga penelitian sebelumnya yang dapat dijadikan sebagai referensi dalam menganalisa faktor motivasi pendorong berwisata medis, yaitu penelitian dari Laesser (2011), Jananto & Roebianto (2015), dan Khan, Chelliah, Haron & Ahmed (2017).

Menurut Laesser (2011), faktor pendorong wisatawan medis terdiri atas:

1. Ingin merawat dan menambah kecantikan 2. Menikmati kenyamanan

3. Relaks dan beristirahat

4. Menantang dan mendorong diri sendiri 5. Ingin mengakhiri suatu fase kehidupan 6. Ingin meluangkan waktu untuk diri sendiri 7. Bergerak aktif

8. Lepas dari rutinitas sehari-hari

9. Melihat dan mengalami sesuatu yang baru 10. Bersosialisasi dengan orang baru

(19)

11. Menambah pengalaman

12. Ingin menghabiskan waktu bersama keluarga 13. Ingin mengalami sesuatu yang asing

14. Ingin melakukan perjalanan yang bergengsi

Sedangkan Jananto & Roebianto (2015) menjelaskan bahwa faktor pendorong wisatawan medis dapat berasal dari:

1. Social, dimana tren, prestise, opini publik, referensi dari kerabat, serta rujukan dari dokter dan rumah sakit di Indonesia mempengaruhi pengambilian keputusan seseorang untuk berwisata medis.

2. Internal factor, meliputi kebutuhan perawatan medis oleh wisatawan yang bersangkutan, serta persepsi dan ekspektasi terhadap perawatan medis di negara yang dituju.

Lebih lanjut, penelitian Khan et al. (2017) mengungkapkan bahwa faktor yang mendorong seseorang untuk berwisata medis adalah:

1. Rasa tidak puas dengan harga perawatan, dimana harga perawatan dianggap terlalu mahal atau tidak sesuai dengan yang didapatkan.

2. Kurang percaya dengan layanan perawatan, dimana faktor kepercayaan terhadap layanan yang tersedia tergolong rendah sehingga ingin mencari pilihan lain.

3. Pengalaman buruk sebelumnya, memberikan rasa trauma dan tidak ingin mendapatkan pengalaman serupa.

4. Rasa tidak puas dengan jenis perawatan yang tersedia, dimana jenis perawatan yang tersedia dinilai kurang lengkap dan mutakhir.

Berdasarkan beberapa pembahasan tersebut, faktor pendorong yang memotivasi wisatawan dapat dirangkumkan menjadi:

Tabel 2.1 Tabel Ringkasan Faktor Pendorong Wisata Medis

Laesser (2011) Jananto & Roebianto (2015) Khan et al (2017) 1. ingin merawat dan menambah

kecantikan

1. social 1. rasa tidak puas dengan harga

perawatan

2. menikmati kenyamanan 2. internal factor 2. kurang percaya dengan layanan perawatan

3. relaks dan beristirahat 3. pengalaman buruk sebelumnya

4. menantang dan mendorong diri sendiri

4. rasa tidak puas dengan jenis perawatan yang tersedia

(20)

Tabel 2.1 Tabel Ringkasan Faktor Pendorong Wisata Medis (sambungan)

5. ingin mengakhiri suatu fase

kehidupan

6. ingin meluangkan waktu untuk diri sendiri

7. bergerak aktif

8. lepas dari rutinitas sehari-hari 9. melihat dan mengalami sesuatu yang baru

10. bersosialisasi dengan orang baru

11. menambah pengalaman 12. ingin menghabiskan waktu bersama keluarga

13. ingin mengalami sesuatu yang asing

14. ingin melakukan perjalanan yang bergengsi

Sumber: Laesser (2011), Jananto & Roebianto (2015) dan Khan et al. (2017) Ketiga hasil penelitian mengenai faktor pendorong berwisata medis di atas cukup berbeda satu dengan yang lain. Faktor-faktor yang diungkapkan oleh Laesser (2011) lebih mengarah pada dorongan keinginan dan kebutuhan wisatawan, sedangkan Khan et al. (2017) berfokus pada perasaan wisatawan terhadap apa yang tersedia di negara asal. Jananto & Roebianto (2015) telah mencakup kedua sisi baik sosial maupun internal, namun dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor pendorong dalam ketiga penelitian tersebut saling melengkapi untuk dapat menganalisa faktor motivasi pendorong berwisata medis lebih dalam.

2.6.2 Faktor Motivasi Penarik Berwisata Medis

Penelitian sebelumnya mengenai faktor motivasi penarik berwisata medis sudah cukup banyak dilakukan. Dalam penelitian ini, penulis akan menganalisa faktor-faktor penarik berwisata medis yang merupakan hasil penelitian dari Musa et al. (2012), Jananto & Roebianto (2015), Fetscherin & Stephano (2015), dan John

& Larke (2016).

Faktor penarik wisatawan untuk berwisata medis menurut Musa et al.

(2012) terdiri atas:

1. Excellent medical services, meliputi rekam jejak layanan medis yang baik, personal touch oleh dokter, jam layanan klinik atau rumah sakit yang nyaman, layanan pelanggan khusus, layanan medis terkemuka, tersedia berbagai layanan

(21)

medis, keselamatan dan keamanan terjamin, tujuan populer untuk perawatan medis, tersedia fasilitas pembayaran dengan kartu kredit.

2. Value for money, meliputi fasilitas medis mutakhir, mendapatkan value for money dari perawatan medis, perawatan medis modern dan terkini.

3. Religious factor, meliputi tersedia makanan halal dan adanya fasilitas yang ditawarkan untuk praktik keagamaan.

4. Cultural similarity, meliputi jarak yang tidak jauh dari negara asal dan adanya kesamaan dalam makanan.

5. Supporting services, meliputi layanan transportasi yang baik dan kemudahan izin imigrasi.

Menurut Jananto & Roebianto (2015), faktor penarik wisatawan medis terdiri atas:

1. Medical attributes, meliputi fasilitas dan peralatan medis yang canggih, keramahan dan profesionalisme dokter dan paramedik, proses pelayanan dan perawatan medis yang cepat, variasi perawatan medis yang tersedia, dan spesialisasi medis dalam penanganan penyakit tertentu.

2. Practical considerations, meliputi akomodasi yang terjangkau, sarana dan infrastruktur yang baik, kemudahan berkomunikasi dengan dokter, paramedik dan masyarakat lokal, adanya kesamaan bahasa dan budaya, serta jarak yang tidak jauh dari negara asal.

3. Liesure and entertaiment, meliputi ketersediaan shopping center, situs budaya, restoran, café, bar dan tempat hiburan lainnya.

Sedangkan menurut Fetscherin & Stephano (2015), faktor-faktor yang memotivasi wisatawan medis yaitu:

1. Country environment, dimana negara tujuan mempunyai tingkat korupsi yang rendah, mempunyai budaya yang mirip dengan budaya di negara asal, mempunyai bahasa yang mirip dengan bahasa di negara asal, perekonomian tergolong stabil, aman untuk bepergian, secara keseluruhan memiliki citra negara yang positif, dan mempunyai nilai tukar uang yang stabil.

2. Tourism destination, dimana negara tujuan merupakan tujuan wisata yang menarik, merupakan tujuan wisata yang populer, mempunyai banyak objek

(22)

wisata budaya atau alam, merupakan tujuan wisata yang eksotis, dan mempunyai cuaca yang nyaman.

3. Medical tourism costs, meliputi biaya perjalanan rendah, biaya akomodasi rendah, biaya pengobatan rendah, biaya penerbangan terjangkau dan biaya perawatan kesehatan rendah.

4. Facility and services, meliputi adanya perawatan dan bahan medis yang berkualitas, rumah sakit dan fasilitas medis dengan standar tinggi, dokter yang berpengalaman, dokter yang terlatih, dokter yang mempunyai reputasi internasional, staf dan dokter bersertifikasi internasional, fasilitas medis dan rumah sakit dengan indikator perawatan kesehatan yang baik, adanya dokter yang akan direkomendasikan kepada keluarga atau teman, rumah sakit dan fasilitas medis terkemuka, staf dan dokter yang ramah, secara keseluruhan mempunyai citra pariwisata medis yang positif, dikenal dengan peralatan medis canggih, rumah sakit dan fasilitas medis yang terakreditasi internasional, adanya dokter berpendidikan internasional, adanya rumah sakit dan fasilitas medis yang layak direkomendasikan, serta mempunyai kualitas tinggi dalam perawatan kesehatan.

Lebih lanjut, John & Larke (2016) dalam penelitiannya menggolongkan faktor-faktor penarik untuk berwisata medis menjadi dua kelompok besar, yaitu dalam hal healthcare provider specific dan destination specific, yang kemudian dijabarkan menjadi:

1. Healthcare provider specific, meliputi biaya medis lebih rendah, kualitas layanan, kemahiran bahasa staf medis, akreditasi fasilitas medis, waktu tunggu yang minimal, kemudahan mendapatkan perawatan dan obat-obatan yang tidak tersedia di negara asal, reputasi rumah sakit serta reputasi para praktisi.

2. Destination specific, infrastruktur yang baik, ketersediaan perawatan khusus seperti aborsi dan terapi sel induk, reputasi para profesional medis di negara tujuan, stabilitas politik dan sosial, nilai tukar mata uang yang menguntungkan, fasilitas makanan dan akomodasi, adanya perlindungan hukum, serta keakraban sosial dan budaya.

Berdasarkan beberapa pembahasan tersebut, faktor penarik yang memotivasi wisatawan dapat dirangkumkan menjadi:

(23)

Tabel 2.2 Tabel Ringkasan Faktor Penarik Wisata Medis

Musa et al. (2012) Jananto &

Roebianto (2015)

Fetscherin & Stephano

(2015) John & Larke (2016)

1. excellent medical services

1. medical attributes 1. country environment 1. healthcare provider specific

2. value for money 2. practical considerations

2. tourism destination 2. destination specific 3. religious factor 3. leisure and

entertaiment

3. medical tourism costs 4. cultural similarity 4. facility and services 5. supporting services

Sumber: Musa et al. (2012), Jananto & Roebianto (2015), Fetscherin &

Stephano (2015) dan John & Larke (2016)

Berdasarkan faktor-faktor penarik berwisata medis di atas, atribut terkait layanan perawatan kesehatan dan biayanya adalah faktor yang utama, diikuti dengan atribut untuk berwisata seperti ketersediaan shopping center dan berbagai objek wisata menarik, serta atribut terkait keadaan dan situasi negara tujuan secara umum. Menurut hasil penelitian dari Musa et al. (2012), atribut terkait keagamaan (religious factor) juga turut menjadi pertimbangan wisatawan.

(24)

2.7 Penelitian Terdahulu

2.7.1 Penelitian Terdahulu Mengenai Motivasi Berwisata Medis

Tabel 2.3 Tabel Penelitian Terdahulu Mengenai Motivasi Berwisata Medis No. Judul PenelitianTujuan PenelitianObjek PenelitianHasil Penelitian 1An Analysis of Push and Pull Motivations Investigated in Medical Tourism Research Published from 2000 to 2016 (John & Larke, 2016) Untuk memberi ringkasan bagi para peneliti tentang motivasi berwisata medis, dari yang paling banyak dan yang paling sedikit diteliti secara umum.

Studi literatur dari berbagai penelitian sebelumnya tentang wisata medis

Motivasi penarik yang paling umum digunakan adalah biaya medis yang lebih rendah, kualitas layanan, akreditasi internasional dari fasilitas medis, dan waktu tunggu yang lebih pendek, sementara yang paling jarang digunakan adalah reputasi praktisi medis dan pengetahuan sosial dan budaya wisatawan. Motivasi pendorong yang paling umum adalah rekomendasi dari teman, dokter, dan keluarga, cakupan asuransi yang tidak memadai, dan keinginan untuk privasi dan kerahasiaan perawatan, sementara yang paling jarang digunakan adalah kurangnya pilihan pengobatan dan ketidakpercayaan pada sistem perawatan kesehatan di negara asal. 2Analisa Perbedaan Motivasi Ditinjau dari Push dan Pull Factor Bagi Warga Surabaya Dalam Memutuskan Pemilihan Destinasi Wisata Medis antara Singapura dan Malaysia (Jananto & Roebianto, 2015)

Untuk mengetahui ada atau tidak adanya perbedaan motivasi ditinjau dari faktor pendorong dan faktor penarik bagi warga Surabaya dalam memutuskan pemilihan destinasi wisata medis antara Singapura dan Malaysia.

Wisatawan medis di Indonesia

Ditinjau dari faktor pendorong dan faktor penarik, tidak ada perbedaan motivasi antara wisatawan yang memilih destinasi wisata medis Singapura maupun Malaysia. 3The Medical Tourism Index: Scale Development and Validation (Fetscherin & Stephano, 2015)

Menyajikan Medical Tourism Index yang dapat digunakan sebagai dasar untuk menilai kemenarikan suatu negara sebagai destinasi wisata medis.

Warga negara Amerika Serikat

Medical Tourism Index adalah konstruksi multidimensi dengan 4 dimensi (country, tourism, medical costs, medical facility and services) yang dapat mengukur perbedaan pada setiap negara, sehingga dapat berguna untuk mengelola tujuan wisata medis.

Referensi

Dokumen terkait

Terdapat pengaruh antara sistem pengendalian intern barang milik negara yang meliputi lingkungan pengendalian, penilaian risiko, kegiatan pengendalian, dan

Garis bantu yang terdapat pada CorelDRAW X3 berguna untuk membantu Anda dalam menentukan posisi dan perataan objek dengan tepat, serta membantu Anda saat menggambar

Melalui lagu model yang sering dinyanyikan oleh guru dan anak pada saat proses pembelajaran, diharapkan nilai karakter yang ada pada lirik lagu tersebut akan mampu

Dalam penelitian ini mengadopsi sistem dinamik. Kecurangan yang terjadi yang diukur dengan indeks integritas UN dan penggunaan anggaran yang cukup tinggi merupakan isu yang

Maksud dari penulisan ini adalah sebagi studi awal dalam membuat suatu konsep perancangan interior rumah sakit ibu dan anak kususya ruang Tunggu pada instalasi rawat

Penentuan komposisi serta pemilihan jenis dari suatu lumpur pemboran yang akan digunakan pada pemboran suatu formasi tertentu harus tepat, sehingga dapat menunjang

berdasarkan pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor yang lebih dominan dalam kemampuan kerja karyawan adalah faktor keyakinan, keterampilan,

Dengan berkunjung ke museum terbuka Candi Bahal ini maka di dalam diri peserta didik akan tertanam: pertama karakter toleransi yakni menghormati orang lain yang