• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN. PT. Barsindo Utama merupakan perusahaan yang bcrgcrak di bidang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN. PT. Barsindo Utama merupakan perusahaan yang bcrgcrak di bidang"

Copied!
40
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS DAN PEMBAHASAN

4.1 Gambaran llmum Perusahaan 4.1.1 Scjarah Singkat Perusahaan

PT. Barsindo Utama merupakan perusahaan yang bcrgcrak di bidang pembuatan sandal. Perusahaan ini memproduksi sandal untuk segala usia dan perusahaan bcrusaha untuk tcrus mcrnacu bisnisnya dengan mengikuti perkembangan selera pasar dan kecendeiungan yang ada di masyarakat (konsumcn), serta tetap mempcrtahankan bisnisnya yang sudah ada. PT. Barsindo Utama didirikan pada tahun 1991 oleh Bapak Budi Darmawan. PT. Barsindo Utama merupakan anak perusahaan dari perusahaan scpatu yang memproduksi sepatu ATT yang ditujukan untuk segala kalangan dari anak kecil sampai dewasa.

PT. Barsindo Utama mempunyai Surat Izin Usaha Pcrdagangan (SIUP) dengan nomor SIUP 545/13.03/PB/1X/1991 yang dikeluarkan di Surabaya pada tanggal 6 September 1991 atas nama menteri Keuangan Kepala (Cantor Wilayah Departemen Perdagangan Propinsi Jawa Timur, Drs. M. Ilamonangan Siregar,M.A.

Semenjak berdiri perusahaan hanya memenuhi permintaan khusus untuk Pulau Jawa dengan distributor Surabaya unluk wilayah Jatim dan Jateng, dan kota Jakarta unluk wilayah Jakarta dan Jawa Barat. Karena meiu'ngkalnya permintaan konsumcn unluk pulau Jawa, maka perusahaan ingin memperluas jangkauan daerah pemasaran dengan memperluas jaringan distributor di luar pulau Jawa, yaitu Sumatcra, Kalimantan, Sulawesi, Bali dan NTB. Scdangkan perusahaan

31

(2)

32

bclum memcnuhi untuk dickspor tetapi masih memcnuhi pcrmintaan konsumcn dalam negeri yang cukup banyak untuk menunjang hal tersebut, maka perusahaan mendatangkan mesin-mesin produksi dari Cina dan sebagaian dari dalam negeri.

4.1.2 Lokasi Perusahaan

Segala macam bentuk usaha tidak akan lepas dari kebuluhan akan lokasi atau tempat kediaman perusahaan yaitu tempat di mana perusahaan melakukan aktivitas-aktivitasnya.

Sejak permulaan didirikannya suatu perusahaan, keputusan untuk menetapkan lokasi perusahaan mempunyai ei'ek penting bagi sukses tidaknya operasi perusahaan yang bersangkutan. Oleh karena itu pemilihan lokasi suatu perusahaan didasarkan atas pertimbangan yang cermat terhadap semua faktor yang mempunyai peranan dan hubungan penting dalam perusahaan. Demikian halnya dengan PT. Barsindo Utama, yang dalam penentuan lokasinya mempertimbangkan faktor-faktor yang akan mempengaruhi perkembangan dan kelangsungan hidup perusahaan.

PT. Barsindo Utama berlokasi di jalan Tropodo No. 8, Kelurahan Miji, Kecamatan Prajurit Kulon, Kodya Mojokerto, berdiri di atas tanah seluas kurang lebih 4 hektar. Adapun alasan dipilihnya lokasi perusahaan adalah sebagai berikut

I. Tenaga Kerja

Dalam memperoleh tenaga kerja yang dibutuhkan, perusahaan tidak mengalami kesulitan karena banyak tenaga kerja yang ada. Tenaga kerja umumnya berasal dan daerah sekitar lokasi perusahaan.

(3)

2. Transportasi

Lokasi perusahaan yang dekat dengan jalan raya, sehingga memudahkan perusahaan dalam menjalankan kegiatan operasinya, baik menyangkut bahan dasar, barang jadi maupun transportasi para karyawan. Int disebabkan di daerah tersebut ada jurusan kcndaraan umum.

3. Tenaga Listrik

Perolehan supply energi (listrik) yang mudah didapat dan lancar jarang mengalami gangguan sehingga proses produksi dapat berjalan dengan lancar.

4.1.3 Struktur Organisasi

Untuk memperlancar jalannya aktivitas perusahaan sangatlah diperlukan adanya slruktur organisasi perusahaan yang baik serta dapat saling mendukung antara bagian-bagian dari organisasi tersebut. Struktur organisasi PT. Barsindo Utama berbentuk lini, yaitu struktur organisasi yang arus perintahnya mengalir dari atas ke bawah, demikian juga dengan arus pertanggungjawaban mengalir dari bawah ke alas. Gambar struktur organisasi dapat dilihat pada gambar 2.

(4)

Manajer Pemasaran

Penelitian Dan Pengembangan

Pelayanan Pelanggan

Promosi

Penjualan

Gambar 2 Struktur Organisasi PT. BARSINDO UTAMA

Manajer Pembelian

Administrasi Pembelian

Pembelian Import

Pembelian Lokal

Gudang Bahan Baku

Sumber: PT. Barsindo Utama

Komisaris

Direktur

P.P.C.

Sekretaris

Manajer Produksi

Administrasi Produksi

Proses Produksi

Penyimpanan (gudang) dan Pengiriman

Teknik Perbaikan

Manajer Keuangan

Akuntansi Keuangan

Kasir

Kas dan Bank

Pengendalian Piutang

Manajer Personalia

Administrasi Personalia

Personalia Dan Untunt

Pengadaan Tenaga

Kerja

Keselamatan dan Kese'natan

Kerja

(5)

Adapun pembagian kerja dan tanggung jawab dalam organisasi di PT. Barsindo Utama adalah sebagai berikut:

1) Komi saris

a) Sebagai penanggung jawab utama untuk mengelola, memimpin dan memajukan aktivitas perusahaan.

b) Menetapkan dan mengambil keputusan terhadap suatu masalah besar yang ada di perusahaan.

c) Menelili laporan-Iaporan perusahaan.

d) Mengkoordinasi seluruh dana yang dimiliki perusahaan.

2) Direktur

a) Mengawasi pelaksanaan koordinasi kerja yang ditetapkan.

b) Melakukan pengawasan kepada semua manajer dalam melaksanakan fungsi masing-masing.

c) Mengambil keputusan/tindakan setelah perencanaan ditetapkan.

3) PPC

Mempunyai tugas dalam pengawasan dan pengujian terhadap mutu barang yang dihasilkan, penelitian dan pengembangan produk ( menciptakan produk baru), perencanaan produk.

4) Sekretaris

Bertugas membanlu pekerjaan direktur dalam segi administrasi dan tugas- tugas harian direktur seperti surat menyurat, jadwal kegiatan direktur sehari- hari, mencatat kegiatan atau rcncana kerja direktur baik yang sudah berlangsung, yang sedang dan akan berlangsung.

(6)

36

5) Manajemen Pemasaran

a) Merencanakan dan menetapkan kegiatan pemasaran tanpa menyimpang dari garis-garis kebijakan yang telah ditetapkan dalam rencana kerja dan anggaran pendapatan dan belanja tahunan perusahaan.

b) Memasarkan dan mengadakan kegiatan dalam rangka perluasan pasar dengan cara mengaktitkan bagian penjualan.

c) Mengkoordinir aktivitas penjualan dalam mencapai pasar secara efektif dan efisien.

d) Memberikan laporan kepada direktur tentang hasil penjulan yang dicapai serta memberikan informasi-inibrmasi penting tentang masalah yang timbul dalam pasar dan mencan penyelesaiannya.

e) Bertanggung jawab Iangsung kepada direktur dalam melaksanakan kegiatannya.

6) Manajemen Pembelian

a) Merencanakan dan menetapkan kegiatan pembelian tanpa menyimpang dari garis-garis kebijakan yang telah ditetapkan dalam rencana kerja dan anggaran pendapatan dan belanja tahunan perusahaan.

b) Mengadakan pemeliharaan dan penyimpanan bahan baku serta melakukan pengawasannya.

c) Memberikan laporan posisi persediaan bahan baku, pemakaian maupun pembelian pada direktur.

d) Bekerja sama dengan manajer produksi dalam menjamin kelancaran dan kualitas persediaan bahan baku.

(7)

e) Berlanggung jawab langsung kepada direklur dalam melaksanakan kegialannya.

7) Manajemen Produksi

a) Merencanakan dan menelapkan kegiatan produksi lanpa menyimpang dari garis-garis kebijakan yang telah dilelapkan dalam rencana kerja dan anggaran pendapatan dan belanja tahunan perusahaan.

b) Menjamin kelancaran proses produksi mulai dari bahan baku sampai menjadi barangjadi.

c) Menjamin kualilas produk sesuai dengan ketenluan.

d) Melakukan pengawasan proses produksinya mulai bahan baku sampai barangjadi.

e) Bertanggung jawab langsung kepada direktur dalam melaksanakan kegiatannya.

8) Manajemen Keuangan

a) merencanakan dan menetapkan kegiatan keuangan tanpa menyimpang dari garis-garis kebijakan yang telah ditetapkan dalam rencana kerja dan' anggaran pendapatan dan belanja tahunan perusahaan.

b) Melakukan kegiatan pembukuan dan pemeriksaan keuangan.

c) Melakukan pembayaran-pembayaran berkaitan dengan tagihan-tagihan.

d) Berhubungan dengan bank untuk penyimpanan, pengiriman serta transfer finansial.

e) Memberikan laporan dan pertanggungjawaban keuangan perusahaan.

f) Bertanggung jawab langsung kepada direktur dalam melaksanakan kegiatannya.

(8)

3 8 9) Manajemen Personalia

a) Merencanakan dan menetapkan kcgiatan personalia tanpa menyimpang dari garis-garis kebijakan yang telah ditetapkan dalam rencana kerja dan anggaran pcndapatan dan belanja tahunan perusahaan.

b) Melakukan pengadaan, seleksi dan penelapan tenaga kerja bekerja saina dengan bagian-bagian lain.

c) Menyelenggarakan perhitungan gaji dan upah, penghasilan dan tunjangan.

d) Mcngawasi pcnyclcnggaraan tata usaha kantor, kctcrtiban dan kcuangan.

e) Menyelesaikan persoalan-persoalan perusahaan yang berhubungan dengan hukum dan kctenagakerjaan.

0 Bertanggung jawab langsung kepada direktur dalam melaksanakan kegiatannya.

4.1.4 Produksi

4.1.4.1 Jenis dan Bahan Baku Produksi

Jenis produksi yang dihasilkan adalah sandal. Untuk kcperluan pembuatan sandal lersebul, bahan baku lerdiri dari dua macam yailu avalan (Karet) untuk alas dan tali sandal.

Avalan tersebut terbuat dari:

• Karet

• Eva

• Kalsium

• DCP (Dccumil Piroksid)

• ZNO(ZingOksida)

(9)

• ST (Stirilaksit)

• Pewarna

• Select

DPT

• AK2N

4.1.4.2 Mcsin-mesin dan Peralatan yang Digunakan

Yang dimaksud dengan mesin adalah suatu peralatan yang digerakkan oleh suatu kekuatan/ tenaga yang digunakan untuk membantu manusia dalam mengerjakan produk atau bagian-bagian produk tertentu. Dalam Peralatan ini disamping mesin juga "tools" yaitu setiap instrumen atau peralatan kecil sekali yang digunakan untuk melakukan pekerjaan dalam mengerjakan produk atau bagian-bagian produk.

Pada proses pembuatan sandal di PT. Barsindo Utama digunakan beberapa mesin dan peralatan, antara lain :

1) Mesin Roll Kickers

Mesin yang berfungsi untuk mencacah avalan menjadi bagian kecil-kecil.

2) Mesin Roll Avalan

Mesin yang berfungsi untuk menghaluskan hasil dari mesin roll kickers yang berupa avalan yang tercacah. Mesin ini menghaluskan avalan sampai halus dan memadatkan avalan agar tidak berongga, apabila tetap berongga maka avalan dihaluskan dan dipadatkan lagi pada mesin ini.

(10)

40

3) Mesin Banbari

Mesin ini berlungsi untuk membuat bahan dasar avalan. Di mana dalam mesin proses pencampuran bahan kimia (DCP + ZNO + ST + SELECT + DPT + AK2N) dan bakan baku (karet + EVA + Kalsium).

4) Mesin Roll

Mesin ini berlungsi untuk mcnghaluskan hasil dari pencampuran mesin banbari. Mesin ini akan mcnghaluskan secara berulang-ulang untuk mendapatkan hasil berupa kompon yang padat dan halus (tidak berongga).

5) Mesin Cutting

Mesin ini berlungsi untuk memotong kompon menjadi lembaran-lembaran dengan ukuran tertentu.

6) Mesin Oven Panas

Mesin ini berfungsi untuk mengoven panas bahan kompon menjadi mengcmbang, hasil dari oven dinamakan avalan yang merupakan bahan untuk alas sandal. Waktu yang dibutuhkan dalam satu kali pengovenan selama 20 menit, mesin ini akan menghasilkan tujuh avalan.

7) Mesin Oven Dingin

Mesin ini berlungsi untuk mengoven dingin avalan yang masih panas untuk dipres sesuai dengan model sandal.

8) Mesin Injection

Mesin ini berfungsi untuk menghasilkan tali sandal sesuai ukuran dan model sandal secara otomatis.

(11)

9) Mesin Plong

Mesin ini bcii'ungsi unluk melubangi atau mengeplong avalan yang telah ada ukuran atau model sandal sehingga menghasilkan alas sandal.

10) Mesin Selep

Mesin ini berfungsi untuk membuat halus pinggiran alas sandal.

11) Mesin Bor

Mesin ini berfungsi untuk melubangi bagian alas sandal yang nantinya untuk lempat tali sandal.

12) Mesin Konveyor

Mesin ini berfungsi sebagai roda berjalan untuk memindahkan hasil menuju packing.

Dan peralatan yang digunakan dalam pembuatan sandal adalah sebagai berikut:

1) Alat pasang tali dan 2) Alattimbang.

4.1.4.3 Proses Produksi

PT. Barsindo Utama dalam proses produksinya bersiiat terus menerus dalam arti memproduksi secara massal untuk memenuhi kebutuhan konsumen.

Adapun proses produksi sandal ini terdiri dari 3 tahap departemen yang tiap departemennya saling berhubungan, maksudnya tiap departemen itu saling menunjang agar proses penyempumaan sandal setengah jadiV hampir jadi menjadi sempurna (selesai) dengan waktu yang seminim mungkin. Sandal terdiri dari 2

(12)

4 :

komponen yaitu alas dan tali. Komponen ini dibual terpisah-pisah yang nantinya dirakit menjadi satu.

Ketiga tahap departemen itu adalah : I. Tahap Departemen Spon

a. Tahap proses bagian mesin kickers

Avalan atau spon yang tersorlir dapat digunakan kembali sebagai bahan baku spon. Avalan yang dimaksud adalah yang berongga atau tidak padat serta rusak. Pada proses mesin kickers ini avalan dipilah-pilah sesuai dengan warnatvya, avalan tersebut pada bagian mesin secara pelan-pelan oleh seorang operator dimana hasilnya akan bcrupa potongan kecil-kecil. Hal ini dilakukan secara berulang-ulang sampai menghasilkan potongan yang lebih kecil.

b. Tahap proses bagian mesin Roll Avalan

Hasil proses mesin kickers yang berupa potongan kecil-kecil, kemudian dimasukkan atau diproses ke dalam mesin roll avalan secara berulang-ulang sehingga menghasilkan lembaran-lembaran. Lembaran-lembaran tersebut oleh seorang operator akan digulung sesuai ukuran tertentu yang akan dijadikan sebagai bahan dasar membuat avalan (spon).

c. Tahap proses bagian mesin Banbari

Pada proses pembuatan avalan (spon) mesin banbari merupakan proses utama dalam menghasilkan avalan (spon) yang merupakan bahan baku utama dalam pembuatan sandal. Proses mesin banbari dapat diterangkan sebagai berikut, mcliputi.

(13)

Proses pencampuran bahan dasar

Bahan utama yang dibutuhkan dalam proses ini yang berupa bahan-bahan kimia meliputi DCP (dicumil piroksit), ZNO (zingoksida), ST (stirilaksit), SELECT, DPT, AK.2N, dan zat pewarna yang dicampur dengan karet, EVA, kalsium. Pada proses pencampuran bahan-bahan utama yang dijeiaskan di atas akan ditimbang sesuai kadar dan ukuran tertentu yang kemudian akan diproses dalam mesin banbari. Proses pencampuran pada mesin banbari membutuhkan waktu kurang lebih 3 menit, apabila waktu pemprosesan kurang dan 3 menit atau melebihi waktu standart maka hasil pencampuran itu tidak memenuhi standar.

- Proses pencampuran daur ulang

Pada proses ini bahan-bahan kimia yang dibutuhkan sesuai dengan yang di atas ditambah dengan hasil dari mesin roll avalan yang berupa guiungan.

Maksud proses pencampuran daur ulang adalah sisa dari avalan (spon) yang telah digunakan maupun avalan yang tersortir akan diproses kembali melalui mesin kickers dan mesin roll avalan yang selanjutnya dipakai sebagai bahan pengganti bahan karet.

d. Tahap proses bagian mesin roll-roll

Selanjutnya hasil mesin banbari akan diproses pada roll-roll. Proses pada mesin ini adalah unluk memperoleh lembaran-Iembaran karet yang disebut juga kompon dengan ketebalan tertentu. Untuk itu diperlukan proses

pengerollan secara berulang-ulang dengan ketebalan makin lama makin menipis dengan hasil kompon yang semakin padat.

Pada proses pengerollan ini dilakukan selama 3 tahap mesin pengerollan yaitu:

(14)

44

- Pengero 11 an pertam a - Pengerollan kedua - Pengerollan ketiga

Proses pada mesin ini berlangsung secara kontinyu tanpa ada henti sehingga kompon dapat padat dan tidak cacal (berlubang).

e. Tahap proses bagian mesin cutting

Pada proses ini kompon akan mengalami proses pendinginan dengan blower selama kompon tersebut berjalan pada roll perata. Dalam proses pendinginan kompon masih berupa lembaran-Iembaran panjang setelah keluar dari proses pendinginan, kompon sudah terpotong-potong sesuai ukuran yang dibutuhkan.

Proses pemotongan kompon ini berjalan secara otomatis. Setelah proses pemotongan maka kompon diperiksa, apakah cacat atau tidak, apabila cacat maka kompon ditimbang dengan berat tertentu sebelum kompon dimasukkan ke oven panas.

f. Tahap proses bagian oven panas

Pada proses ini lembaran kompon siap untuk dioven pada mesin oven panas selama 20 menit dengan suhu 180" C. Pada proses pengovenan panas kcrja mesin telah diprogram selama 20 menit untuk satu kali proses pengovenan.

Dalam satu kali pengovenan panas akan menghasilkan 7 lembaran spon atau avalan.

g. Tahap proses bagian Oven Dingin

Setelah melalui proses oven panas, avalan (spon) akan dilanjutkan dengan proses sesuai dengan model dan ukuran sandal; waktu yang dibutuhkan dalam

(15)

proses tcrsebul selama 7 menit dan suhu yang dibutuhkan 7°C dalam satu kali pengovenan dingin.

Dengan demikian proses pada departemen spon telah selesai dan avalan (spon) dibawa ke gudang sementara.

(iambar 3

Lay Out Departemen Spon PT. Barsindo Utaina

Gudang Sementara

Oven Heater (Pembangkit Panas Oven)

•M

Mesin Kickers

Mesin Roll Avalan

t> Mesin Banbari

Mesin Roll-roll

Mesin Cutting (Pemotongan)

Mesin Oven Panas

Mesin Oven Dingin

Sumber: PT. Barsindo Utama

(16)

46

2. Tahap Departemen Injection

Pada tahap departemen injection ini dimaksudkan untuk menjelaskan pembuatan tali sandal dengan menggunakan mesin injection. Bahan-bahan yang dibutuhkan antara Iain EVA, Kalsium dan VPC.

Dalam departemen injection dapat diuraikan menjadi 2 tahap proses, yaitu . a. Tahap Mesin Oiling aval

Pada proses mesin giling aval ini berfungsi untuk menggiling/ memotong tali sandal yang tersortir sehingga mendapatkan potongan-potongan kecil sebagai bahan baku pada mesin injection.

b. Tahap Mesin Injection

Potongan kecil-kecil dari mesin giling aval dimasukkan pada mesin injection dan ditambah dengan bahan-bahan lain yaitu EVA, Kalsium, dan VPC. Proses mesin injection mulai awal bahan dimasukkan sampai menghasilkan tali sandal membutuhkan waktu kurang lebih 30 detik. Dalam satu kali kerja mesin injection menghasilkan 4 bundel tali yang masing-masing bundel berisi 12 pasang tali. Tali tersebut akan disortir apakah tali telah memenuhi standar (tidak cacat). Apabila dalam hasil mesin injection terdapat cacat/ rusak akan dibawa ke giling aval untuk digiling kembali dan untuk diproses lagi pada mesin injection.

Sedangkan untuk hasil yang baik/ memenuhi standar akan dipilah-pilah sesuai wama dan ukuran. Untuk memudahkan dalam pemasangan nanti maka pada departemen ini, tali akan diikat menjadi 12 pasang. Dengan demikian proses pada departemen injection telah selesai dan selanjutnya tali dibawa ke gudang sementara.

(17)

Gambar 4

Lay Out Departemen Injection PT. Barsindo Dtama

Mesin Injection

ir

Inspeksi TALI

1

Mesin Injection

v Inspeksi

TALI GUDANG SEMENTARA

1

^

Mesin Giling Aval

it,

Sumber : PT. Barsindo Utama

3. Tahap Departemen Assembling

Bahan avalan diambil dari gudang sementara untuk dibawa menuju departemen assembling. Departemen assembling dapat diuraikan menjadi beberapa tahap proses, yaitu :

a. Tahap Proses Plong

Avalan (spon) yang berupa lembaran akan diplong pada mesin plong.

Mesin ini digolongkan menjadi 2 bagian yaitu mesin plong yang mengeplong secara keseluruhan dan mesin plong yang mengeplong per baris. Pada proses ini pengeplongan berdasarkan pada ukuran dan model yang telah ada pada avalan, selain itu hasil pengeplongan mengalami penyortiran untuk mendapalkan alas sandal yang baik (padat tidak berongga). Setelah itu dilanjutkan pada proses selep.

(18)

48 b. Tahap Proses Selep

Proses selep merupakan kelanjutan proses sebelumnya. Hasil plong berupa alas yang baik akan diselep atau dihaluskan pada bagian pinggir alas, sehingga mendapatkan hasil yang berkualitas. Setelah itu akan diteliti oleh bagian inspeksi dengan jalan menggunting bagian-bagian yang cacat atau yang belum rapi.

c. Tahap Proses Melubangi dan Memasang Tali

Setelah alas diinspeksi maka alas siap dilubangi dengan mesin bor secara satu persatu, setelah alas berlubang, kemudian diletakkan pada roda berjalan menuju operator bagian pemasangan tali. Pemasangan tali dikerjakan secara cepat menggunakan alat pemasang tali. Setelah itu sandal yang sudah terpasang tali diletakkan roda berjalan menuju bagian packing.

d. Tahap Proses Bagian Packing

Pada proses ini sandal yang sudah jadi akan diinspeksi dengan cara mengelompokkan per pasang sesuai model, ukuran, dan warna. Kemudian sandal akan dibungkus dengan plastik pembungkus. Setelah itu akan dipasang label merek ATT pada bagian luar pembungkus. Sebelum proses pengepakan sandal yang sudah terbungkus rapi akan dikelompokkan/

ditempatkan pada keranjang dan selanjutnya dibawa menuju ke bagian pengepakan akhir ke dalam karung plastik yang liap-tiap karung berisi sebanyak 12 dosen pasang sandal.

(19)

Gambar 5

Lay Out Departemen Assembling PT. Barsindo litama

Mesin Selep

Mesin Plonir Mesin Plong Mesin Plong

Mesin Selep Mesin Selep

Mesin Plong

> Mesin Dor

Alat Pasang Tili Packing

GUDANG SEMENTARA

Sumber: PT. Barsindo Utama

Diharapkan aliran produksi tiap departemen tidak mengalami hambatan dan penundaan yang merugikan jalannya produksi yang berlangsung. Bahan atau material diharuskan selalu siap, jangan sampai terjadi keterlambatan selama proses produksi tersebut berlangsung.

Dalam pembuatan sandal disertai adanya SPK. (Surat Perintah Kerja). SPK.

ini selalu dibawa tiap sandal pindah dari satu departemen ke departemen lain.

(20)

50

Dalam SPK ini memuat hal-hal sebagai berikut:

Tanggal masuk : PO

SPK Merk Type

Warna :

SPK berguna untuk memberikan informasi tentang spesifikasi produk sandal yang harus dipenuhi sesuai dengan permintaan order. Misalnya merek sandal, warna, model, dan sebagainya. SPK ini diberi nomor berdasarkan order yang diterima lebih dahulu dan nomor yang lebih kecil dengan material yang siap dikerjakan lebih dulu.

Dengan demikian proses produksi sandal mulai dan departemen spon, departemen injection, dan terakhir pada departemen assembling telah berakhir, dan sandal siap untuk dipasarkan. Untuk proses pemasaran produk sandal ATT dilakukan oleh para distributor. Wilayah yang menjadi target pasar produk ini meliputi Jawa, Bali, Sumatera dan Kalimantan. Produk sandal ATT masih mengutamakan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri dan belum untuk diekspor ke mancanegara.

4.1.5 Sistem 11 pah, Pemberian Inscntif dan Jam Kcrja

Di dalam memberikan balas jasa kepada karyawan perusahaan memberikan suatu gaji atau upah. Adapun gaji atau upah yang diberikan :

(21)

a. Upah Bulanan

Upah bulanan dibayarkan pada stai* setiap akhir bulan setelah karyawan menyelesaikan tugas pekerjaan dalam bulan bersangkutan.

b. Upah Harian

Upah harian diberikan pada karyawan bagian produksi dan upah yang diberikan setiap karyawan bervariasi. Selain upah, karyawan mendapatkan insentif yang diberikan berdasarkan absensi untuk mengukur prestasi tersebut.

Masalah jam kerja dan jam istirahat telah diatur oleh perusahaan berdasarkan undang-undang pemerintah yang berlaku. Pada umumnya jumlah jam kerja dalam perusahaan adalah 7 (tujuh) jam dalam sehari dan 5 (lima) jam untuk hari Sabtu atau 40 jam seminggu. Jam kerja di atas berlaku untuk 6 hari kerja.

Pengaturan jadwal kerja PT. Barsindo Utama adalah sebagai berikut:

- Untuk Staff

Senin - Jumat : pk. 07.30 - 16.30 Istirahat : pk. 11.30-12.30 Sabtu . pk. 07.30- 12.30 - Untuk Karyawan Produksi

Shirt I Shif\ 2 Shirt 3 Senm-Jumat : pk. 07.30-15.00 15.00-22.30 22.30-06.00 Istirahat : pk. 11.30-12.00 17.00-17.30 03.00-04.00 Sabtu . pk. 07.30-12.30 12.30-17.30 17.30-22.30

(22)

4.1.6 Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Keselamatan kerja dan kesehatan kerja dalam hal ini sangat bersangkutan erat dengan peningkatan produksi dan produktivitas. Keselamatan kerja akan membawa iklim keamanan dan ketenangan kerja, sehingga akan sangat membantu bagi hubungan buruh dan pengusaha yang merupakan landasan kuat bagi terciptanya kelancaran produksi di dalam perusahaan.

Keselamatan kerja dan kesehatan kerja yang ada pada PT. Barsindo Utama dapat berupa:

a. Cek Kesehatan

Cek kesehatan disini dimaksudkan untuk memeriksa sekaligus mengontrol kondisi fisik para karyawan secara berkala, sehingga akan dapat mencegah, jumlah karyawan yang sakit dan akan dapat meningkatkan produktivitas perusahaan bersangkutan.

b. Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (PjK)

Pertolongan kecelakaan disini dimaksudkan untuk memberi sedapat mungkin pertolongan awal akibat kerja, baik pada saat penanganan mesin, maupun kondisi karyawan yang tidak memungkinkan akibat lingkungan yang mengganggunya atau lingkungan ( kondisi ) dan dalam dirinya sendiri dan sebagainya.

c. Kantin

Maksud diadakan dan didirikan kantin dalam perusahaan adalah untuk membantu dan memberikan menu makanan yang baik, bergizi dan sehat bagi para karyawan. Dengan adanya menu yang bergizi ini, maka kondisi karyawan

(23)

diharapkan baik, tidak sakit-sakitan, energik, dan Iain-Iain, dan akan dapat meningkatkan produksi dan produktivitas perusahaan.

d. Cuti

Cuti dibenkan oleh perusahaan untuk para karyawannya tanpa ada potongan upah.

Macam-macam cuti antara lain : (l)CutiTahunan

Yaitu dalam satu bulan diberikan cuti satu hari selama setahun.

(2) Cuti Hari Raya

Yaitu diberikan pada saat hari besar atau hari raya Idul Fitri, maka diberikanlah cuti dengan jumlah hari tertentu pada karyawan sesuai dengan kebijakan perusahaan bersangkutan.

(3) Cuti Melahirkan

Cuti ini diberikan khusus bagi karyawan wanita saja yang sedang melahirkan. Besarnya cuti diberikan tergantung kebijakan perusahaan bersangkutan (dalam hal ini kurang lebih 3 bulan ).

(4) Cuti sakit

Diberikan kepada karyawan yang benar-benar sakit disertai surat keterangan dokter.

e. Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI)

Berguna sekali bagi para karyawan untuk menyalurkan suatu ide-ide atau gagasan, hasrat atau kemauan yang berhubungan dengan ketenagakerjaan yang ada pada perusahaan sandal ATT dengan syarat tertentu yang telah ditentukan.

(24)

54 f. Asuransi Tenaga Kerja (ASTEK)

Berguna untuk memberikan kompensasi kecelakaan akibat kerja yang besarnya disesuaikan menurut tingkat beratnya, lamanya cacat, dan besarnya uang yang dibayar untuk kompensasi, termasuk pula biaya pengobatan, perawatan, upah selama tidak mampu bekerja, dan Iain-Iain. Besarnya nilai asuransi yang dikeluarkan diperhitungkan sesuai dengan kebijakan perusahaan dan ASTEK bersangkutan.

4.2 Deskripsi Permasaiahan

Pada bagian sub bab ini digambarkan permasaiahan mengenai sumber daya manusia yang terjadi pada PT. Barsindo Utama. Adapun permasaiahan mengenai sumber daya manusia ini mencakup tentang upah, kedisiplinan kerja dan produktivitas kerja karyawan bagian produksi di PT. Barsindo Utama.

4.2.1 Upah

Pada tabel di bawah ini digambarkan upah rata-rata yang diterima karyawan bagian produksi di PT. Barsindo Utama dari bulan Januari 1995 sampai dengan bulan Desember 1996.

(25)

Tabel 3

Rata-rata Upah yang Diterima oleh Karyawan Bagian Produksi PT. Barsindo Utama

Periode 1995-1996

Bulan

Januari '95 Pcbruari Marct April Mci Juni Juli Agusius September Oktobcr November Dcscmbcr Jumlah

Jumlah Upah yang Dibnvarkan

(dalam ribuan Rp)

50.220 43.416 45.640 56.724 47.450 44.525 45.966 53.138 58.712 52.969 54.284 51.948 604.992

Jumlah Karyawan

324 324 326 325 325 326 326 326 328 329 331 333

Upah Rata- rata Karynwon

(dalam ribuan Rp)

155 134 140 174 146 137 141 163 179 161 164 156

Bulan

Januari '96 Pcbruari Marct April Mci Juni Juli Ayusltis

September Oktobcr November Dcscmbcr Jumlah

Jumlah Upah yang Dibaynrknn

(dalam ribuan Rp)

48.191 46.506 43.680 53.760 51.590 49.728 50.550 51.561 52.752 50.362 48.477 47.799 594.956

Jumlah Karyawan

337 337 336 336 335 336 337 337 336 338 339 339

Upah rala- rata Knryownn

(dalam ribuan Rp)

143 138 130 160 154 148 150 153 157 149 143 141

Sumber: PT. Barsindo Utama, diolah penulis

Dari tabel di atas maka dapat diketahui bahwa rata-rata upah yang diterima karyawan ( sudah termasuk upah lembur ) di bagian produksi pada PT. Barsindo Utama untuk tiap bulannya pada tahun 1995 dan pada tahun 1996 cenderung menurun. Penurunan rata-rata upah yang diterima oleh karyawan ini disebabkan karena jumlah karyawan yang semakin meningkat sehingga pada saat perusahaan ingin mencapai target produksi yang telah ditetapkan maka perusahaan tidak begitu banyak mengeluarkan upah lembur.

(26)

56 4.2.2 Kcdisiplinan kerja

Pada tabel dibawah ini diperlihatkan kedisiplinan kerja yang terjadi pada.

PT. Barsindo Utama, yang akan penulis kemukakan tentang tingkat absensi karyawan produksi dan produktivitas kerja.

4.2.2.1 Tingkat Absensi Tenaga Kerja

Menurut Edwin B. Flippo ( 1996:27 ), cara perhitungan tingkat absensi ini adalah sebagai berikut:

.. Man Days Lost Absenteism = —-

Man Days Worked + Man Days Lost Keterangan:

Man Days Lost : jumlah jam absensi Man Days Worked : jumlah jam kerja

Selanjutnya Flippo mengemukakan bahwa tingkat absensi yang telah mencapai 6% ke atas perlu mendapat perhatian pada masalah absensi tersebut.

Absensi tenaga kerja langsung di bagian produksi pada PT. Barsindo Utama dapat dilihat pada tabel 4.

(27)

Periode 1995-1996

Bulan Januari '95 Pebruari Maret April Met Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Januari '96 Pebruari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember

Jumlah Karyawan

324 324 326 325 325 326 326 326 328 329 331 333 Jumlah

337 337 336 336 335 336 337 337 336 338 339 339 Jumlah

Jumlah Jam Kcrja

(jam) 50.895 47.120 51.428 46.575 50.757 52.102 50.011 51.743 51.075 52.450 52.461 50.270 606.887

52.831 46.288 46.441 52.328 50.366 50.095 53J68 52.646 50.320 55.279 52.568 53.353 615.683

Absensi (Jam)

4425 4240 4251 2410 3810 4110 3924 4447 2580 4110 4251 3735 46.293

4773 4361 4208 3277 4738 4820 4610 5110 2960 5157 4711 4588 53.313

(%)

8,00 8,26 7,63 4,92 6,98 7,31 7,28 7,91 4,81 7,27 7,50 6,92 8,29 8,61 8,31 5,89 8,60 8,78 7,98 8,85 5,56 8,53 8,22 7,92

Sumber: PT. Barsindo Utama, diolah penulis

(28)

58 Jadi tingkat absensi karyawan PT. Barsindo Utama pada tahun 1995 dan pada tahun 1996 adalah scbesar:

46.293 Tingkat Absensi ( 1995)

Tingkat Absensi ( 1996 ) =

606.887 + 46.293 - 7,09%

53.313 615.683 + 53.313 7,97%

Dengan tingkat absensi yang cukup tinggi maka PT. Barsindo Utama banyak kehilangan jumlah jam kerja sehingga menyebabkan target produksi belum dapat tercapai.

Untuk menghitung rencana produksi yang tidak tercapai maka dapat dipergunakan perhitungan sebagai berikul:

Tahun 1995

Target produksi : 2.416.200

Jam produksi 606.887 Jumlah jam absensi 46.293 Jadi rencana produksi rata-rata per jam :

= ( 2.416.200 : 606.887 ) x 1 dosin

= 3,981301297 dosin

Maka rencana produksi yang tidak tercapai:

= 46.293x3,981301297

= 184.306,38 dosin

(29)

Tahun 1996

Target produksi : 2.416.200

Jam produksi 615.683 Jumlahjamabsensi 53.313 Jadi rencana produksi rata-rata per jam :

= ( 2.416.200 : 615.683 ) x 1 dosin

= 3,924422146 dosin

Maka rencana produksi yang tidak tercapai:

= 53.313x3,924422146 - 209.222,72 dosin

4.2.2.2 Produktivitas Karyawan

Pada label di bawah int diperlihatkan besarnya produktivilas kerja karyawan bagian produksi PT. Barsindo Utama untuk periode tahun 1995 sampai tahun 1996.

t

(30)

60

Tabel 5

Produktivitas Kerja Karyawan Bagian Produksi PT. Barsindo Utama

Periode 1995-1996

Bulan Januari '95 Pebruari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktobcr November Desember

JUMLAH Januari '96 Pebruari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember

Jumlah

Hari 26 24 26 23 25 26 25 26 25 26 26 25 303

26 23 23 25 25 25 26 26 24 27 26 26 302

Realisasi Jam Kerja

46.470 42.880 47.177 44.165 46.947 47.992 46.087 47.296 48.495 48.340 48210 46.535 560.594

48.058 41.927 42.233 49.051 45.628 45.275 48.558 47.536 47.360 50.122 47.857 48.765 562.370

Target Produksi

(dosin) 201.350 201.350 201.350 201.350 201.350 201.350 201.350 201.350 201.350 201.350 201.350 201.350 2.416.200

201.350 201.350 201.350 201.350 201.350 201.350 201.350 201.350 201.350 201.350 201.350 201.350 2.416.200

Realisasi Produksi (dosin) 191.716 175.712 193.671 201.834 191.210 199.077 188.702 194.668 214.347 200.032 201.988 189.988 2.342.988

197.254 173.801 170.787 215.333 187.715 187.978 198.799 196.488 209.804 210.376 197.214 201.656 2.347.205

Produktivitas 4,13 4,10 4,11 4,57 4,07 4,15 4,09 4,12 4,42 4,14 4,19 4,08 50,17

4,10 4,15 4,04 4,39 4,11 4,15 4,09 4,13 4,43 4,20 4,12 4,14 50,05 Sumber: PT. Barsindo Utama, diolah penulis

Dari tabel dt atas dapat diketahui produktivitas kerja karyawan bagian produksi pada PT. Barsindo Utama untuk tahun 1995 adalah sebesar 50,17 dosin dan pada tahun 1996 yaitu sebesar 50,05. Jadi produktivitas kerja karyawan dari tahun 1995 ke tahun 1996 mengalami penurunan yaitu sebesar 0,12 dosin atau sebesar 0,24%. Sedangkan pada bulan April dan September produktivitas

(31)

mengalami peningkalan, ini disebabkan perusahaan PT. Barsindo Utama pada bulan tersebut membenkan tambahan insentif bagi karyawan yang tidak pemah absen.

4.3 Analisis Model dan Pembuktian Hipotesis 4.3.1 Rcgresi Linier Berganda

Dengan menggunakan kuadrat minimum untuk mencari koefisien a, bi dan b2, maka didapat persamaan sebagai berikut:

Persamaan dasar:

Y = a+biX, + b2X2

Dan persamaan dasar di atas maka dengan menggunakan program SPSS didapat koefisien a, bi dan b2 sebagai berikut (lihat lampiran 2 ):

b, =-0,010978 b2 = - 0,070987 a =4,159384

Sehingga didapatkan persamaan regresi berganda, untuk mengetahui hubungan antara upah dan absensi karyawan dengan produktivitas kerja adalah sebagai berikut:

Y = 4,159384 + 0,010978 X, - 0,070987 X2 Dari persamaan di atas dapat dikatakan sebagai berikut:

1. Apabila tidak terdapat perubahan upah dan absensi karyawan maka produktivitas kerja yang dihasilkan sebesar 4,159384.

(32)

02

2. Bila lerjadi upah karyawan meningkat 1 satuan rupiah dengan anggapan absensi karyawan tidak berubah maka produktivitas akan meningkat sebesar 0,010978.

3. Bila terjadi absensi karyawan meningkat I satuan jam dengan anggapan bahwa upah tidak berubah maka produktivitas akan menurun sebesar 0,070987.

4.3.2 Analisis Korelasi Berganda

Untuk mengelahui apakah ada hubungan antara upah dan absensi karyawan berubah secara serempak dengan produktivitas kerja, maka dipergunakan koefisien korelasi berganda (R). Korelasi ini diperoleh dengan mencari koefisien determinasi (R2) dengan rumus yaitu :

R 2_ b , ( J K X , Y ) + b2(JKX2Y) JKY

dengan penjelasan dan masing-masing perhitungan sebagai berikut JKX, Y = IX,Y (ZX.XZY)

5028,02

N

(1202) (100,22) 24

= 8,66833334

(IX

2

XIY)

JK X2 Y - SX2Y -

= 750,1095- N

(180,33) (100,22) 24

= -2,918525

(33)

JKY = Z Y2- i ^ X L

N

418,917 (100,22)2 24

0,414983334 Dengan

b, =0,010978 b2 - -0,070987 J K X , Y = 8,66833

JKX2Y =-2,91853 JKY = 0,41498

Maka dapat dihitung koefisien korelasi (R2),

R2 _b,(JKX,Y) + b,(JKX,Y) JKY

_ 0,010978(8,66833) -t- (-0,070987) (-2,91853) 0,41498

- 0,72856

R = 0,85356 = 85,356%

Dari hasil perhitungan di atas maka dapat dikatakan bahwa upah dan absensi karyawan mempengaruhi 85,356% dari produktivitas kerja, sedangkan sisanya sebesar 14,644% dari produktivitas kerja dipengaruhi oleh faktor lainnya (seleksi, pelatihan, evaluasi prestasi kerja).

(34)

64

4.3.3 H ji Signifikansi Regresi Linier Berganda

Pengujian tni digunakan untuk meyakinkan apakah persamaan regresi linier berganda yang diperoieh berdasarkan hasil-hasil penelitian memang ada artinya bila dipakai untuk meramalkan produktivitas (Y) bila upah (X|) dan absensi karyawan (X2) diketahui.

Pengujian ini menggunakan uji F dengan rumus :

F = = JK (reg) /k

J K ( S ) / ( N - k - l )

Dari lampiran 2, dapat diketahui:

Sum of square regression = JK(reg) = 0,30234 Sum of square residual • JK (S) • 0,11264 k = banyaknya peubah bebas = 2 ( Xi dan X2) N = banyaknya data • 24

Jadi

F . 0.30234/2 0,11264/21 Bila:

Fhimng ^ Fiabci, maka persamaan regresinyasignifikan.

Fhiiung < Ftabei. maka persamaan regresinya tidak signifikan.

Dengan a = 5%, maka F^bei (5v.,2/2i) = 3,47

Karena F^ung (2B.18J33) > F^bei (3.47).maka dapat dikatakan bahwa persamaan regresi adalah signifikan, sehingga persamaan regresi tersebut dapat dipakai untuk meramal.

1

(35)

4.3.4 Uji Signifikan Korelasi Berganda

Pengujian ini bertujuan untuk mengetahui apakah kociisien korelasi yang diperoleh signifikan (bermakna). Rumus untuk menghitung uji signiflkan korelasi berganda dengan menggunakan rumus uji F yaitu .

' (l-R2)/(N-k~\)

= 0.72856/ 2 (1-0,72856)/21

= 28,17324 Bila:

Fhiiung ^ F^i. maka korelasi signifikan.

f hitung < Fubei, maka korelasi tidak signifikan.

Dengan a = 5%, maka Fia^ {s%jn\)= 3.4 7

Karena Fhmmg(28,i7J24) > Fu,bci o 47), maka dapat dikatakan bahwa korelasinya adalah signifikan, sehingga upah (X») dan absensi karyawan (X2) secara serempak ada hubungan dengan produktivitas kerja (Y).

4.J.5 Uji dan Penafsiran Koefisien Korelasi Parsial

Dikarenakan suatu variabel independen tidak dapat mengabaikan variabel independen yang lain daiam mempengaruhi suatu varibel dependen, dalam hal ini sebagai contoh untuk meningkatkan produktivitas kerja, selain variabel absensi karyawan, maka variabel upah juga ikut mempengaruhinya. Dengan demikian maka koefisien korelasi sederhana antara upah dengan produktivitas kerja, serta koefisien korelasi antara absensi karyawan dengan korelasi parsial.

(36)

66

Adapun rumus koefisien parsial adalah sebagai berikut ry, _ ry2 . rx,x2

ryi2

ryzi

^ - r > yJ) ( l - l * X , J IJ)

ry2_ry,.rx,x2

V(l-r

2

y,)(l-rV»)

Dengan .

ryn adalah koefisien korelasi parsial antara Y dan Xi, di mana X2 dianggap tetap.

ry2i adalah koefisien korelasi parsial antara Y dan X2, di mana Xi dianggap tetap.

ryi adalah koefisien korelasi sederhana antara Y dan X|

N . I X , Y - I J < r , I Y

ryi

~V|NlXf)-(lXj}j:N.XY

2

)-(lY)

2

}

24.5028,02-1202.100,22

7^24.60574)- (\202f }|24 . 418,917) - (l(K),22)2} - 0,6960

Berdasarkan hasil perhitungan di atas, maka dapat diketahui bahwa koefisien korelasi antara upah dengan produktivitas kerja besarnya adalah 0,6960, karena korelasi positif sehingga apabita nilai upah ditingkatkan maka akan meningkatkan produktivitas kerja, demikian sebaliknya bila upah diturunkan maka akan menurunkan produktivitas kerja.

172 adalah koefisien korelasi sederhana antara Y dan X2 N . I X2Y - I J raI V

ryz

24.750,1095-180,33.100,22

7124.1386,1243)-(180,3a)2}|24. 418,917)-(10(\227)

= -0,8115

(37)

Berdasarkan hasil pcrhitungan di alas, maka dapat diketahui bahwa kociisicn korclasi antara abscnsi karyawan dengan produktivitas kcrja besarnya adalah -0,8115, karena berkorelasi negatif sehingga apabila nilai absensi karyawan meningkat maka akan menurunkan produktivitas kcrja, demikian juga sebaliknya bila nilai absensi kerja diturunkan maka akan meningkatkan produktivitas kcrja, scdangkan kociisicn korclasi antara upah dan abscnsi karyawan dapat diketahui dari pcrhitungan di bawah ini.

nt|X2 adalah koefisien korelasi sederhana antara X| dan X2.

^ ~V«N.IX1 2)-(IXJ)|;N.IXO-(SXJ}

24.8967,23-1202.180,33

/J(24.60574)- (1202)2} j[24 . 13 86,1234)^080,33)*}

= -0,5956

Berdasarkan hasil perhitungan koefisien korelasi sederhana antara upah dengan produktivitas kerja, kociisicn korelasi sederhana antara absensi karyawan dengan produktivitas kerja, dan koefisien korelasi sederhana antara upah dan abscnsi karyawan, maka dapat diketahui besarnya koefisien korelasi parsial antara upah dengan produktivitas kerja di mana absensi karyawan dianggap tetap (ryu) dan koelisien korelasi parsial antara absensi karyawan dengan produktivitas kerja di mana upah dianggap tetap (ry21).

(38)

68 ryi 2 adalah koefisien korelasi parsial antara Y dan X|, dimana X2 dianggap tetap. 1

t _ Wr «Ya -re.*;

V ( l - rJy2) ( l - r2 X, x2)

. °^960-(-0,8115).-0,5956 V( (l - (- 0,8 II 5/(1 - (- 0,5956) }

= 0,4529

Berdasarkan perhitungan di atas maka besarnya koefisien korelasi parsial antara upah dengan produktivitas kerja di mana absensi karyawan dianggap tetap adalah sebesar 0,4529, artinya upah mempeiigaruhi 45,29% dari produktivitas kerja dengan absensi karyawan tetap.

Di bawah ini diperlihatkan besarnya koefisien korelasi parsial antara absensi karyawan dengan produktivitas kerja di mana upah dianggap tetap.

ry2 | ry2- ry, .rx,x2 V ( l - r2y , ) ( l - r2x , x2)

- - ° ^ n 5- ° ^9 6 0 --0,5956 v f l P (0,6960)2(l - (-0,5956) }

= -0,6882

Berdasarkan perhitungan di atas maka besarnya koefisien parsial antara absensi karyawan dengan produktivitas kerja di mana upah dianggap tetap adalah sebesar -0,6882, artinya absensi karyawan mempeiigaruhi -68,82% dari produktivitas kerja dengan upah tetap.

(39)

Bcrdasarkan hasil pcrhilungan kocfisicn korelasi parsial di alas, maka langkah selanjutnya adalah mencari uji signifikan tcrhadap koeiisien parsial dengan menggunakan uji t dengan rumus sebagai berikut:

t i_ r y , : - V N - k - i

dan

t^ _ r y2, . V N - k - 1

Dengan dcmikian maka besarnya t( dan t2 adalah sebagai berikut:

t|

= ^ - V N - k - l

V

1

-

r 2

y„

_ 0 , 4 5 2 9 / 2 4 - 2 - 1 Vl - (0,4529)'

= 2,328 Hipotesis:

I lo : p2 = 0, upah lidak ada hubungan parsial dengan produklivitas kerja.

Hi : P2 •*• 0, upah ada hubungan parsial dengan produklivitas kerja.

Uji Hipotesis :

Bila Ithitung I ^ t («,N-k.n, maka Ho ditolak, artinya upah ada hubungan parsial dengan produktivitas kerja.

Bila 1 thitimg I < -t KN-k-i), maka H| diterima, artinya upah tidak ada hubungan parsial dengan produklivitas kerja.

(40)

70

Dcngan a - 5%, W i ,0.025.21) - 2,080, schingga t hjtun(l < 2.j2H > > W i ,2.ORO >, maka dapat disimpulkan Ho ditolak, artinya upah ada hubungan parsial dcngan produktivitas kerja, di mana absensi karyawan dianggap tetap.

Sedangkan besar t2 adalah sebagai berikut.

^ _ ry

r

,.

J N ^ T

_ -0,6882.724-2-1 Vl-(- 0,6882 )2

= -4,347

Hipotcsis:

Ho:pi - 0, absensi karyawan tidak ada hubungan parsial dengan produktivitas kerja.

H | . p i * 0 , absensi karyawan ada hubungan parsial dengan produktivitas kerja.

Uji Hipotesis.

Bila I thihmp I ^ t (aiN-k-i), maka Hi diterima, artinya absensi karyawan tidak ada hubungan parsial dengan produktivitas kerja.

Bila |t hiiiinp I < -t (a,N-ki), maka Ho ditolak, artinya absensi karyawan ada hubungan parsial dengan produktivitas kerja.

Dengan a • 5%, 1,^1 (0,025.21) = 2,080, sehingga t himng H„J47) <-ttabei u.oao), maka dapat disimpulkan Ho ditolak, artinya absensi karyawan ada hubungan parsial dengan produktivitas kerja, di mana upah dianggap tetap.

Referensi

Dokumen terkait

11 Monitoring dan evaluasi terhadap pelaksanaan prosedur pelayanan klinis, analisis dan tindak lanjut.

Pada pelaksanaanya ada beberapa faktor penting yang harus diperhatikan agar sistem pendidikan (pembelajaran) jarak jauh dapat berjalan dengan baik yaitu tingkat perhatian

Untuk dapat menemukan ciri yang khas dari sinyal EEG maka diperlukan metode pengolahan yang tepat, dalam penelitian ini ciri diperoleh dari hasil ekstraksi

Kabupaten Bima adalah Pemerintah Daerah Kabupaten Bima yang mencakup 14 (empat belas) Wilayah Kecamatan dan Seluruh Desa dan Dusun yang berada dibawahnya. Maju dalam Bidang

1) Memperbesar benda yang sangat kecil dan tidak tampak oleh mata menjadi lebih besar sehingga dapat terlihat dengan jelas. 2) Menyajikan benda atau peristiwa yang jauh

• Bahwa saksi mengetahui pemohon dan termohon adalah suami istri yang telah menikah sekitar bulan Desember 2006 di Kabupaten Lombok Barat karena saksi turut

Pengawasan yang dilakukan Dinas Pendidikan mengenai dana yang bersumber dari sumbangan masyarakat hanya berupa laporan penggunaan dana tersebut pada awal tahun

Perpindahan panas akibat aliran fluida yang terjadi di luar pipa dianalisa berdasarkan analisa perpindahan panas secara konveksi yang melewati susunan tube.Besarnya