• Tidak ada hasil yang ditemukan

Populis Volume 13 No 2, November 2020, ISSN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Populis Volume 13 No 2, November 2020, ISSN"

Copied!
25
0
0

Teks penuh

(1)

Etnografi Komunikasi dalam Tradisi Upacara Pernikahan Masyarakat Etnik Komunitas Towani Tolotang di Kabupaten Sidenreng

Rappang Provinsi Sulawesi Selatan

Ririn Indraswari, Tamrin Meda STMIK Handayani

Makassar, Sulawesi Selatan, Indonesia e-mail : [email protected]

[email protected]

ABSTRAK

Penelitian ini melatarbelakangi tentang tradisi dan kebudayaan pernikahan yang dianggap hanya dianggap ceremonial saja, tanpa mengetahui makna dan tujuannya.

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagimana komponen komunikasi, situasi komunikasi, peristiwa komunikasi, tindakan komunikasi yang ada pada masyarakat adat Towani Tolotang secara etnografi dalam prosesi pernikahan Towani Tolotang, serta makna tradisi dan kebudayaan dari duduk bersila diatas daun lontar pada pernikahan etnik komunitas Towani Tolotang di Kabupaten Sidenreng Rappang Sulawesi Selatan.

Penelitian ini menggunakan metode etnografi komunikasi yaitu peranan makna dari perilaku komunikatif dalam suatu masyarakat yang berbeda-beda. Pendekatan penelitian ini menggunakan metode kualitatif, teknik pengumpulan data yang paling utama adalah observasi partisipan dan wawancara terbuka dan mendalam, yang mana data yang diperoleh dianalisis secara analisis domain, analisis taksonomi, dan analisis komponensial.

Dari hasil penelitian yang didapatkan peneliti secara etnografi komunikasi, bahwa ada beberapa rangkaian peristiwa komunikasi, tindakan komunikasi pada pernikahan komunitas Towani Tolotang yaitu mabbaja laleng, mappasuro ada, mappettuada, massarapo, dio majeng, laitona, mappacci, lolang, marala, appasialang, palai tapi, mapparola, resepsi, mabbenni siwenni, mabbenni tellung penni, manre baiseng. Adapun makna dari duduk bersila diatas daun lontar adalah merupakan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada para tamu kehormatan, dan para pemangku adat (Uwa’).

Semakin berlapis tingkatan tikar, maka semakin tinggi tingkat strata sosialnya seseorang.

Ini menandakan bahwa Towani Tolotang sangat menghargai tamunya, walaupun aktivitas tersebut merupakan duduk melantai.

Kata Kunci: Etnografi, Komunikasi, Pernikahan, Towani Tolotang Pendahuluan

Keberagaman agama dan berbagai aliran kepercayaan di Indonesia tidak pernah lepas dalam pengawasan negara, dalam hal ini pemerintah termasuk pemerintah daerah.

(2)

Selama ini agama lokal diafiliasikan kedalam salah satu agama resmi yang diakui negara.

Agama lokal yang berafiliasi cenderung mempertahankan berbagai tradisi warisan leluhur, yang dapat menimbulkan pertentangan baru, sementara penganut agama yang ada senantiasa menjaga kemurnian agamanya.

Komunitas Towani Tolotang yang bermukim di Kabupaten Sidenreng Rappang provinsi Sulawesi Selatan merupakan satu agama lokal yang digabungkan ke dalam agama resmi oleh negara. Afiliasi kepercayaan Towani Tolotang kedalam agama resmi ditegaskan dalam keputusan Dirjen Bimas Hindu Bali/Budha No. 2/1966 yang mengeluarkan keputusan menyatakan bahwa Towani Tolotang merupakan salah satu sekte agama Hindu. Afiliasi Towani Tolotang kedalam agama Hindu memberikan konsekuensi administratif, segala bentuk urusan Towani Tolotang berkiblat pada agama Hindu. Penggabungan Towani Tolotang pada agama Hindu didasarkan banyak kemiripan praktik keagamaan dengan Hindu dibanding dengan agama lain.

Kehidupan bangsa di dunia yang mendiami suatu daerah tertentu memiliki adat istiadat (kebiasaan hidup) dan kebudayaan masing-masing, setiap bangsa memiliki adat istiadat yang merupakan aturan tata hidupnya. Kebiasaan hidup suku bangsa yang satu berbeda dengan suku bangsa lainnya. Kebiasaan yang dianut berpuluh-puluh tahun oleh suatu kelompok masyarakat atau suku bangsa dikenal sebagai tradisi. Upacara adat perkawinan yang ada di Indonesia sangatlah beragam. Upacara perkawinan adalah termasuk upacara adat yang harus dijaga dan dilestarikan, karena dari situlah akan tercermin jati diri bangsa, bersatunya sebuah keluarga bisa mencerminkan bersatunya sebuah negara. Kebudayaan sebagai hasil dari cipta, rasa dan karsa manusia memiliki peranan penting dalam kehidupan manusia. Kebudayaan setiap daerah memiliki arti tersendiri yang memiliki keunikan masing-masing didalamnya. Van Peursen dalam Budiono Herusatono(2012)berpendapat mengenai kebudayaan, yaitumeliputi segala manifestasi dari kehidupan manusia yang berbudi luhur dan yang bersifat rohani, seperti agama, kesenian, filsafat, ilmu pengetahuan, tata negara dan lain sebagainya.

Upacara adat pernikahan masyarakat Towani Tolotang di Kabupaten Sidrap masih terpelihara hingga saat ini sehingga menjadi potensi pariwisata di Sulawesi Selatan, karena upacara adat pernikahan tersebut merupakan warisan leluhur. Yang menjadi ciri khas prosesi pernikahan masyarakat adat Towani Tolotang adalah semua tamu yang hadir duduk bersila dilantai papan rumah panggung yang berornamen Bugis, dimana rumah panggung tersebut yang ditambah teras depannya dinamakan sarapo, gunanya adalah agar jumlah tamu yang hadir dapat semuanya duduk didalam rumah. Sedangkan khusus

(3)

pemangku adat atau tamu kehormatan akan duduk diatas tikar daun lontar yang telah disiapkan. Jadi tidak ada kursi satupun dirumah pengantin, yang ada hanya tempat pelaminan merupakan tempat tidur yang penuh dengan dekorasi, yang menjadi tempat duduk pengantin. Jika masyarakat tidak memahami makna dan tujuan serta tanpa memahami bagaimana situasi, bentuk pesan yang disampaikan dari mulut ke mulut, dan muatan pesan dari setiap detail tindakan dan makna dari tradisi upacara pernikahan masyarakat etnik Towani Tolotang, maka dikhawatirkan akan terkikisnya eksistensi, serta esensi tradisi tersebut dalam masyarakat akan berkurang. Ini berkaitan dengan kajian etnografi komunikasi yang memandang perilaku yang terlahir dari integrasi tiga keterampilan dimiliki oleh setiap individu sebagai mahluk sosial. Ketiga keterampilan terdiri dari keterampilan linguistik, keterampilan interaksi, dan keterampilan budaya (Kuswarno, 2008:18).

Mendefinisikan etnografi menjadi dasar yang penting untuk memahaminya lebih lanjut. Etnografi berasal dari bahasa Yunani, ethnos yang berarti orang dan graphein yang berarti tulisan. Dell-Hymes sebagai pencetus teori etnografi komunikasi menyebutkan bahwa linguistik bahasa sebagai sistem yang abstrak, telah mengabtraksikan bidang kajiannya dari sisi pertuturan. Kemudian mendefenisikan etnografi of speaking sebagai gabungan etnografi dan linguistik, suatu kajian yang menyangkut situasi, penggunaan, pola, dan fungsi dari bicara sebagai aktivitas. Dan Hymes mengubah istilah pendekatannya dengan etnogrhaphy of speaking menjadi etnogfraphy of communication.

Pendekatan ini semakin luas dan sebagai kajian yang penting dalam memandang perilaku komunikasi manusia yang berhubungan erat dengan kebudayaan.

Etnografi komunikasi merupakan sebuah pendekatan untuk menganalisa sebuah wacana yang digunakan. Etnografi komunikasi juga merupakan salah satu metode penelitian yang digunakan dalam sebuah penelitian kualitatif, etnografi berkaitan dengan antropologi akan tetapi etnografi komunikasi berbeda dengan antropologi linguistik, hal ini dikarenakan etnografi komunikasi memfokuskan kajiannya pada perilaku-perilaku komunikasi yang didalamnya melibatkan bahasa dan budaya. Etnografi komunikasi secara sederhananya adalah pengkajian peranan bahasa dalam perilaku komunikasi suatu masyarakat, yaitu cara-cara bagaimana bahasa dipergunakan dalam masyarakat yang berbeda-beda kebudayaannya (Koentjaraningrat, dalam Kuswarno, 2008:11).

Dalam rangka untuk menggambarkan dan menganalisis komunikasi Hymes membagi ke dalam tiga unit analisis, meliputi situasi (situation), peristiwa (event), dan tindak (act). Situasi komunikatif (communicative situation) merupakan konteks di mana

(4)

komunikasi terjadi seperti upacara, perkelahian, perburuan, pembelajaran di dalam ruang kelas, konferensi, pesta dan lain sebagainya. Peristiwa komunikatif (comminicative event) merupakan unit dasar untuk sebuah tujuan deskriftif komunikasi yang sama meliputi : topik yang sama, peserta yang sama, ragam yang sama. Tindak komunikatif (communicative act) umumnya berbatasan dengan fungsi tunggal interaksional, seperti pernyataan referensial, permintaan atau perintah, yang mungkin berupa tindak verbal dan non verbal.

Ruang lingkup kajian etnografi terdapat enam lingkup yaitu:

1. Pola dan fungsi komunikasi (patterns and functions of communications).

2. Hakikat dan definisi masyarakat tutur (nature and definition of speech community) 3. Cara-cara berkomunikasi (means of communicating).

4. Komponen-komponen kompetensi komunikasi (component of communicative competence).

5. Hubungan bahasa dengan pandangan dunia dan organisasi sosial (relationship of languange to world view and social organization).

6. Semesta dan ketidaksamaan linguistik dan sosial (linguistic and social universal and inqualities).

Ada beberapa istilah yang akan menjadi kekhasan dalam penelitian etnografi komunikasi, dan istilah ini nantinya akan menjadi objek penelitian etnografi komunikasi yaitu:

1. Masyarakat Tutur (speech community).

2. Aktivitas Komunikasi, unit diskrit komunikasi yaitu: (a) Situasi komunikatif dan konteks terjadinya komunikasi; (b) Peristiwa komunikatif atau keseluruhan perangkat komponen yang utuh dimulai dengan tujuan umum komunikasi, topik umum yang sama, dan melibatkan partisipan yang secara umum menggunakan varietas bahasa yang sama, mempertahankan tone yang sama, dan kaidah-kaidah yang sama untuk interaksi, dalam setting yang sama; (c) Tindak komunikatif adalah fungsi interaksi tunggal seperti pernyataan, permohonan, perintah, ataupun perilaku nonverbal.

3. Komponen Komunikasi, yaitu (a) Genre atau tipe peristiwa komunikasi (misal lelucon, salam, perkenalan, dongeng, gosip, dan lain-lain); (b) Topik peristiwa komunikasi; (c) Tujuan dan fungsi peristiwa secara umum dan juga fungsi dan tujuan partisipan secara individual; (d) Setting termasuk lokasi, waktu, musim, dan aspek situasi lainnya; (e) Partisipan, termasuk usianya, jenis kelamin, etnik, status sosial, atau kategori lain yang relevan dan hubungannya satu sama lain; (f) Bentuk pesan, termasuk saluran verbal,

(5)

nonverbal, dan hakikat kode yang digunakan, misalnya bahasa mana dan varietas mana; (g) Isi pesan, mencakup apa yang dikomunikasikan termasuk level konotatif dan referensi denotatif; (h) Urutan tindakan, atau urutan tindak komunikatif atau tindak tutur termasuk alih giliran atau fenomena percakapan; (i) Kaidah interaksi; (j) Norma- norma interpretasi, termasuk pengetahuan umum, kebiasaan, kebudayaan, nilai dan norma yang dianut, tabu-tabu yang harus dihindari, dan sebagainya.

4. Kompetensi Komunikasi, terdiri dari: (a) Pengetahuan dan harapan tentang siapa yang bisa atau tidak bisa berbicara dalam setting tertentu? (b) Kapan mengatakannya? (c) Bilamana harus diam? (d) Siapa yang bisa diajak bicara? (e) Bagaimana berbicara kepada orang-orang tertentu yang peran dan status sosialnya berbeda? (f) Apa perilaku nonverbal yang pantas? (g) Rutin yang bagaimana yang terjadi dalam alih giliran percakapan? (h) Bagaimana menawarkan bantuan? (i) Bagaimana cara meminta informasi dan sebagainya?

5. Varietas bahasa, terdiri dari : (a) Partisipan dalam komunitas budaya lokal menciptakan makna. Mereka menggunakan kode-kode yang mempunyai pengertian yang sekiranya sama untuk mereka mengerti; (b) Komunikator dalam berbagai grup budaya harus dapat meng koordinasikan tindakan mereka. Harus ada beberapa sistem mengenai apa yang harus dilakukan dalam komunikasi; (c) Makna dan tindakan merupakan bagian dari individu. Dalam pengertian lain, mereka berbeda dari satu budaya terhadap budaya lain; (d) Tidak hanya pola-pola tindakan dan kode yang berbeda dari satu grup terhadap grup yang satu tetapi setiap grup juga mempunyai cara tersendiri untuk mengerti beberapa kode dan tindakan.

Pambahasan

Berdasarkan hasil penelitian tentang etnografi komunikasi dalam tradisi upacara pernikahan komunitas Towani Tolotang yang telah dilakukan oleh peneliti dilapangan, baik dengan wawancara langsung dengan informan dan narasumber, maupun observasi partisipan, dapat dijelaskan dari beberapa informan, diantaranya terdiri dari pemangku adat, dan orang yang telah melakukan pernikahan dengan melaksanakan prosesi adat.

Pada wawancara tersebut peneliti menberikan pertanyaan seputar pemahaman tentang komponen komunikasi yang mencakup prosesi adat pernikahan.

A. Komponen Komunikasi Tradisi Upacara Pernikahan Etnik Komunitas Towani Tolotang di Kabupaten Sidenreng Rappang

Komponen Komunikasi Penjelasan Komponen Komunikasi Genre atau tipe peristiwa

komunikasi

Dalam penelitian ini prosesi upacara pernikahan komunitas Towani Tolotang

(6)

adalah iring-iringan pengantar mempelai pengantin dari pihak mempelai pria

Topik peristiwa komunikasi Topik atau fokus referensi komunikasi dalam tradisi upacara pernikahan komunitas towani tolotang adalah memohon restu duniawi dan restu dari kedua orang tua, dan para kerabat untuk meminta izin menikah serta meminta doa kepada Dewata Seuwae (Tuhan YME) yang bergelar Patotoe (Yang menentukan Takdir)

Tujuan Tujuan dari komunikasi tradisi upacara pernikahan untuk mendapatkan restu kepada Dewata Seuwae (Tuhan YME), kedua orang tua, serta para kerabat untuk meminta izin menikah.

Setting atau latar Setting atau latar adalah komponen bahasa yang mengacu kepada ruang dan waktu, untuk menentukan hari pernikahan oleh pemangku adat (Uwa’)

Partisipan Partisipan dalam komunikasi pada

prosesi pernikahan yang dijalankan oleh komunitas etnik Towani Tolotang terdiri atas kedua orang tua calon pengantin, pemangku adat (uwa’), dan orang-orang yang dituakan.

Bentuk Pesan Bentuk pesan dalam komunikasi tradisi pada prosesi pernikahan komunitas Towani Tolotang adalah pesan verbal yang diucapkan dalam bentuk doa, prolog. Selain pesan verbal juga digunakan pesan-pesan nonverbal berupa alat-alat dan bahan sebagai pesan simbolik. Bahasa yang digunakan dalam komunikasi pada prosesi pernikahan komunitas Towani Tolotang adalah bahasa Bugis.

Isi Pesan Komunikasi dalam tradisi yang

diucapkan melalui doa berisikan permohonan dan harapan kepada kepada Dewata Seuwae sebagai wujud kekuatan tertinggi yang mereka percaya dan yakini.

Sedangkan komunikasi dalam bentuk nonverbal lebih kepada pemaknaan atas simbol-simbol yang sarat dengan makna- makna.

Urutan Tindakan Komunikasi dalam prosesi pernikahan Towani Tolotang yakni dalam setiap komunikasinya tetap dalam bentuk adat budaya suku Bugis, diawali dengan sapaan dan diikuti dengan permohonan dan harapan kepada Dewata Seuwae sebagai wujud kekuatan tertinggi yang mereka percaya dan

(7)

yakini. Situasi komunikasi pada pernikahan Towani Tolotang ini dijalankan berdasarkan ketetapan rangkaian acara yakni mulai dari mabbaja laleng, mappasuro ada, mappettuada, massarapo, dio majeng, laitona, mappacci, lolang, marala, appasialang, palai tapi, mapparola, resepsi, mabbenni siwenni, mabbenni tellung penni, manre baiseng.

Kaidah Interaksi Komunikasi dalam prosesi pernikahan Towani Tolotang sangat memperhatikan hal-hal penting yang wajib, yakni partisipasi menyeluruh dari keluarga, kerabat dekat, tetangga, dan berbagai peralatan untuk menunjang terlaksananya prosesi pernikahan.

Norma Interpretasi Komunikasi dalam prosesi pernikahan yang dijalankan membuahkan penghayatan nilai-nilai keteraturan pada komunitas Towani Tolotang.

TABEL 1.

Sumber : Hasil Wawancara Dan Pengamatan Peneliti, 2020

Setting komunikasi dalam prosesi pernikahan etnik komunitas Towani Tolotang yaitu:

1. Mabbaja laleng

a. Apa yang dilakukan. Mabbaja laleng di lakukan oleh keluarga dari pihak calon mempelai pria, hal ini dilakukan guna untuk menjajaki, pendekatan, dan merintis jalan pada keluarga calon mempelai wanita.

b. Mengapa dilakukan. Mabbaja laleng dilakukan gunanya untuk mengetahui apakah wanita yang akan dilamar belum memiliki pasangan atau belum ada yang mengikatnya. Hal ini juga dilakukan untuk mengetahui karakter, perangai, dan tindak tuturnya.

c. Tempat pelaksanaan. Mabbaja lalelng ini dilaksanakan dirumah wanita.

2. Madduta (Pelamaran)

a. Apa yang dilakukan. Menyampaikan lamaran atau meminang yang dilakukan oleh salah seorang atau masing-masing duta dari kedua belah pihak untuk berdialog dan waktu melamar belum melibatkan banyak orang. Biasanya paling banyak 3-5 orang dari masing-masing pihak termasuk kedua duta

b. Mengapa dilakukan. Prosesi ini dilakukan untuk mencari kesepakatan kedua belah pihak, dan disaksikan oleh pemangku adat Towani Tolotang (Uwa’)

(8)

c. Tempat Pelaksanaan. Pelaksanaan prosesi ini di kediaman calon mempelai wanita.

3. Mappenre dui / mappettuada oleh pihak pria

a. Apa yang dilakukan. Mappettuada dilakukan setelah madduta (pelamaran) dilakukan dan menemukan kesepakatan kedua belah pihak. Mappettu artinya Memutuskan, dan Ada artinya Perkataan, jadi Mappettuada adalah perundingan antara utusan keluarga calon mempelai pria dengan utusan keluarga calon mempelai wanita.

b. Mengapa dilakukan. Proses mappenre dui memperlihatkan pada kerabat jumlah uang pesta dan sompa ( persembahan). Sompa bisa berbentuk tanah, kebun atau emas yang diberikan kepada mempelai wanita ( menjadi hak sepenuhnya wanita, tidak boleh diambil meskipun bercerai). Setelah proses ini, baru kemudian dibicarakan hari baik untuk melakukan akad nikah dan resepsi.

4. Massarapo / Mabbaruga

a. Apa yang dilakukan. Massarapo adalah tahapan pertama dalam rangkaian tradisi pernikahan. Sarapo adalah bentuk rumah adat Towani Tolotang yaitu rumah panggung yang besar. Ukurannya seperti dua rumah digabung menjadi satu.

Rumah luas karena semua hadirin akan berada di dalam, saat acara adat berlangsung. Namun, ketinggian lantai dibuat berbeda. Fungsinya menjadi pemisah antara tokoh adat dengan masyarakat biasa. Massarapo ini dilaksanakan tiga samapi lima hari sebelum hari H pernikahan (dilakukan dihari ganjil).

b. Mengapa dilakukan. Massarapo dilakukan agar kerabat jauh, kerabat dekat datang sebelum acara pernikahan dilakukan. Massarapo juga gunanya untuk berkumpul dengan tetangga, kerabat sebagai bentuk silaturahmi dengan berkumpul disatu tempat yaitu ruang tamu yang ditambah sehingga menjadi luas dan memuat banyak orang. Towani tolotang akan menggunakan sarapo, jika menikah antara sesamanya, tetapi jika Towani Tolotang menikah dengan agama Islam, maka tidak akan menggunakan sarapo, tetapi menggunakan tenda sebagai tempat menerima tamu.

c. Tempat pelaksanaan. Pelaksaan massarapo ini dilakukan dirumah calon pengantin pria dan wanita, yaitu ruang tamu yang ditambah sehingga menjadi luas sehingga dapat menampung banyak tamu.

(9)

Gambar 2. Massarapo (menambah bagian depan rumah) atau lego-lego

5. Mappassau Botting dan Dio Majeng

a. Apa yang dilakukan. Setelah menyebarkan undangan pernikahan, mappasau botting, yang berarti merawat pengantin, adalah ritual awal dalam upacara pernikahan. Acara ini berlangsung selama tiga hari berturut-turut sebelum hari H.

Selama tiga hari tersebut pengantin menjalani perawatan tradisional seperti mandi uap dan menggunakan bedak hitam dari campuran beras ketan, asam jawa dan jeruk nipis.

b. Mengapa dilakukan. Dio Majeng sendiri merupakan mandi tolak balak yang dilakukan untuk meminta perlindungan Tuhan dari bahaya. Upacara ini umumnya dilakukan pada pagi hari, sehari sebelum hari H. Dio majeng juga bermakna membersihkan dan mensucikan diri. Dio majeng ini hanya dilakukan oleh mempelai pria yang belum pernah menikah (lajang), dalam artian dio majeng hanya dilakukan sekali seumur hidup. Dio majeng ini menggunakan majeng kalosi dan majeng kalulu untuk memandikan calon mempelai pria

c. Tempat pelaksanaan. Ritual dio majeng dilaksanakan dirumah calon pengantin pria.

(10)

Gambar 3.Dio Majeng 6. Laitona

a. Apa yang dilakukan. Acara diawali dengan prosesi Laitona dilakukan sebelum ritual mappacci dilakukan. Ritual tersebut dilakukan sesuai rangkaian prosesi untuk mempelai pria di kediamannya.

b. Mengapa dilakukan. Laitona dilakukan pemangku adat adalah menyajikan makanan untuk mempelai pria, maknanya adalah pernikahannya direstui dan diberkahi oleh Dewata Seuwae (Tuhan YME).

c. Tempat Pelaksanaan. Prosesi ini dilaksanakan di kediaman mempelai pria, pada malam hari sebelum acara akad nikah.

Gambar 4. Laitona

7. Mappacci / Tudampenni

a. Apa yang dilakukan. Malam menjelang pernikahan, calon pengantin pria melakukan kegiatan mappaci / tudammpenni. Prosesi adat ini dilakukan kepada calon mempelai pria yang belum pernah menikah (lajang). Ritual ini dilakukan sekali seumur hidup.

(11)

b. Mengapa dilakukan. Proses ini bertujuan untuk membersihkan dan mensucikan kedua pengantin dari hal-hal yang tidak baik. Dimulai dengan penjemputan kedua mempelai, yang kemudian duduk di pelaminan, setelah itu di depan mereka disusun perlengkapan-perlengkapan berikut; sebuah bantal sebagai simbol penghormatan, tujuh sarung sutera sebagai simbol harga diri, selembar pucuk daun pisang sebagai simbol kehidupan yang berkesinambungan, tujuh sampai sembilan daun nangka sebagai simbol harapan, sepiring wenno (padi yang sangrai) sebagai simbol perkembangan baik, sebatang lilin yang menyala sebagai simbol penerangan, daun pacar halus sebagai simbol kebersihan dan bekkeng (tempat logam untuk daun pacci) sebagai simbol persatuan pengantin. Setelah perlengkapan-perlengkapan tersebut ditaruh, satu persatu kerabat dan tamu akan mengusapkan pacci (daun pacar) ke telapak tangan pengantin. Mappacci dilakukan hanya pria yang belum menikah (lajang) artinya, hanya dilakukan sekali seumur hidup. Sebelum ritual ini dilaksanakan, diawali dengan sanro sebagai pembaca doa dengan mengelilingkan dikepala pesse pelleng (kemiri) yang dibakar, sebelum pemangku adat (Uwa’) memakaikan sigerra’ dan sebanyak tujuh sampai sebelas orang pemangku adat (Uwa’) melakukan ritual mappacci.

c. Tempat pelaksanaan. Ritual mappacci ini dilaksanakan oleh pihak calon mempelai pria.

Gambar 6

(12)

Gambar 7. Mappacci / Tudampenni

8. Lolang

a. Apa yang dilakukan. Lolang ini dilakukan adalah salah satu rangkaian prosesi adat yaitu keluarga mempelai pria mengunjungi kediaman mempelai wanita guna untuk mencari tahu kesiapan untuk akad nikah keesokan harinya.

b. Mengapa dilakukan. Prosesi ini dilakukan agar keluarga mempelai pria siap mengantar calon pengantin keesokan harinya menuju kediaman mempelai wanita.

c. Tempat pelaksanaan. Lolang ini dilaksanakan di kediaman mempelai wanita.

9. Mappenre Botting

a. Apa yang dilakukan. Mappenre botting berarti mengantar mempelai pria ke rumah mempelai wanita. Mempelai pria diantar oleh iring-iringan tanpa kehadiran orang tuanya. Iring-iringan tersebut biasanya terdiri dari indo botting (inang pengantin) danpassepi(pendamping mempelai).

b. Mengapa dilakukan. Mappenre botting untuk mengantar calon mempelai pria ke rumah calon mempelai wanita untuk melaksanakan akad nikah.

c. Tempat pelaksanaan. Mappenre botting dilakukan dirumah calon mempelai pria, menuju rumah calon mempelai wanita.

(13)

Gambar 8.Mappenre’ Botting 10. Marala

a. Apa yang dilakukan. Marala yaitu menjemput pemangku adat (Uwa’) untuk menikahkan

b. Mengapa dilakukan. Pemangku adat (Uwa’) menjadi saksi untuk kedua belah pihak calon mempelai, pemangku adat (Uwa’) yang menjadi saksi pernikahan adalah hitungan ganjil, mulai dari tiga sampai seterusnya bilangan ganjil.

c. Tempat pelaksanaan. Marala dilakukan di kediaman mempelai wanita.

11. Akkalibinengeng / Appasialang

a. Apa yang dilakukan. Acara puncak yang sakral (akad nikah), dengan resminya menjadi pasangan suami isteri. Pihak perempuan lebih awal mempersiapkan segala sesuatunya menunggu kedatangan rombongan dari pihak laki-laki dalam bahasa Bugis disebut " Madduppa Botting. Pihak laki-laki juga demikian halnya, untuk menuju kediaman calon pengantin perempuan lengkap dengan bawaannya yang disebut Leko' serta walasuji dan maharnya diantar oleh sanak saudara, handai tolan, kerabat keluarga bahkan pinisepuh/sesepuh. Rombongan tersebut dalam bahasa Bugis disebut Pampawa Botting atau Pappapenning

b. Mengapa dilakukan. Proses ini adalah tahapan acara puncak yang sakral, yang dinikahkan oleh pemangku adat komunitas Towani Tolotang. Proses pernikahan

(14)

tersebut, penentuan tanggal dan hari pernikahan, ditentukan dan dipilihkan oleh pemangku adatnya (Uwa’).

c. Tempat pelaksanaan. Ritual ini pelaksaannya di kediaman mempelai wanita.

Gambar 9. Appasialang (Akad Nikah)

12. Mappasikarawa / Palai Tapi

a. Apa yang dilakukan. Setelah akad nikah, mempelai pria dituntun menuju kamar mempelai wanita untuk melakukan sentuhan pertama. Bagi suku Bugis, sentuhan pertama mempelai pria memegang peran penting dalam keberhasilan kehidupan rumah tangga pengantin.

b. Mengapa dilakukan. Mappasikarawa dilakukan oleh mempelai pria dan wanita untuk melakukan sentuhan pertama. Ditandai dengan sudah sahnya sebagai suami istri. Palai Tapi ini adalah disatukannya kedua mempelai kedalam satu sarung, maknanya adalah agar kedua mempelai dapat bersatu selamanya.

c. Tempat pelaksanaan. Ritual ini dilaksanakan dalam kamar pengantin, dirumah mempelai wanita disaksikan oleh sanro dan pemangku adat (Uwa’).

(15)

Gambar 10. Palai Tapi 13. Mapparola

a. Apa yang dilakukan. Setelah appasialang (akad nikah) dilakukan, maka keluarga mempelai wanita melakukan kunjungan balasan ke kediaman mempelai pria, diantar oleh iring-iringan keluarga mempelai wanita tanpa orang tua. Prosesi ini dilakukan sehari setelah akad nikah dilakukan. Mapparola biasanya keluarga mempelai wanita membawakan kue, sarung, dan sebagainya.

b. Mengapa dilakukan. Mapparola ini maknanya menyambung silaturahmi antar kedua belah pihak keluarga. Dengan prosesi mapparola ini, mempelai wanita memberikan penghargaan kepada keluarga mempelai pria.

c. Tempat pelaksanaan. Prosesi ini dilaksanakan di kediaman mempelai pria.

Gambar 11

(16)

Gambar 12. Mapparola 14. Resepsi

a. Apa yang dilakukan. Perjamuan atau pertemuan tamu untuk memberikan doa restu kepada kedua mempelai. Resepsi pernikahan dihadiri oleh para tamu undangan untuk mengumumkan bahwa kedua mempelai telah sah menjadi suami dan istri.

b. Mengapa dilakukan. Resepsi dilakukan agar semua tamu, keluarga dan handai taulan dapat berbagi kebahagiaan, dan juga sebagai ajang silaturahmi dan lingkungan sekitar.

c. Tempat pelaksanaan. Biasanya resepsi dilakukan sesuai hasil keputusan bersama antar kedua belah pihak, bisasanya dilakukan di kediaman mempelai wanita, pun bisa dilakukan di gedung pertemuan.

15. Mabbenni Siwenni (Bermalam semalam)

a. Apa yang dilakukan. Pada tahapan ini, mempelai wanita datang ke kediaman mempelai pria untuk tidur semalam.

b. Mengapa dilakukan. Ritual adat ini dilakukan untuk dengan datangnya mempelai wanita, berarti telah diterima menjadi keluarga dirumah mempelai pria sebagai keluarga baru.

c. Tempat pelaksanaan. Ritual ini dilaksanakan dirumah mempelai pria.

16. Mabbenni Tellung Penni (Bermalam tiga malam)

a. Apa yang dilakukan. Pada prosesi adat ini pihak pengantin wanita bermalam selama tiga malam di kediaman pengantin pria.

(17)

b. Mengapa dilakukan. Ritual ini dilakukan dengan ditandainya sudah sah menjadi suami dan isti, dan suami boleh tinggal dirumah mempelai pria, dan telah diterima oleh keluarga pria.

c. Tempat pelaksanaan. Ritual ini dilakukan dirumah mempelai pria.

17. Manre Baiseng

Apa yang dilakukan. Sebagai penutup rangkaian acara pernikahan, kedua keluarga pengantin bertemu di rumah pengantin wanita. Kegiatan ini bertujuan untuk membangun tali silaturahmi antara kedua keluarga. Adapun prosesi manre baiseng ini adalah seluruh biaya makan ditanggung oleh pihak laki-laki. Manre baiseng ini dilakukan selama hari ganjil, mulai dari 3 sampai 7 hari.

B. Makna tradisi duduk bersila diatas daun lontar pada pernikahan etnik komunitas Towani Tolotang di Kabupaten Sidenreng Rappang Provinsi Sulawesi Selatan.

Pemangku adat (Uwa’) atau tetua dalam komunitas Towani Tolotang, bergelar Uwa. Budaya duduk pada komunitas Towani Tolotang adalah duduk bersila diatas tikar daun lontar. Ketika ada pesta derajat ketokohan Uwa sangat berlapis lapis. Ada yang dinamakan pemimpin tertinggi yang bergelar uwatta, tetapi tidak semua pemangku adat atau uwatta dapat berbicara diluar komunitas. Otoritas hanya uwa yang ditunjuk untuk berhak bicara diluar komunitas.

Hasil wawancara dengan pemangku adat Uwa Narto, pada hari jumat tanggal 10 April 2020. Berikut paparannya “Uwa Eja merupakan salah satu dari dua orang Tolotang yang kini menjabat sebagai legislator. Namanya diputuskan oleh komunitas sebelum pemilihan umum digelar. Uwa Eja adalah pemangku adat tertinggi di komunitas Towani Tolotang. Beliau yang menunjuk dan melantik para pemangku adat lapis kedua” hal ini sesuai dengan teori etnografi komunikasi bahwa, komunikator dalam berbagai grup budaya harus dapat mengkoordinasikan tindakan mereka. Serta bagaimana berbicara kepada orang-orang tertentu yang peran dan status sosialnya berbeda.

Menurut Uwa’ Narto, pada pesta pernikahan yang digelar sarapo atau lego-lego dibuat bertingkat-tingkat. Pemangku adat duduk pada strata masing-masing. Yang menjadi ciri khas dalam pernikahan komunitas etnik Towani Tolotang adalah semua tamu yang hadir dalam acara tersebut duduk bersila dilantai papan rumah panggung

(18)

itu. Khusus tamu kehormatan, pemangku adat akan duduk diatas tikar daun lontar yang dipersiapkan oleh tuan rumah.

Gambar 13. Tamu Kehormatan

Gambar 14.

Pemangku adat, tamu kehormatan dan mempelai pengantin

Menurutnya, ini memberikan pemaknaan bahwa duduk beralaskan tikar daun lontar tersebut memberikan kebersamaan, dan kesetaraan pada komunitas Towani Tolotang masih dijunjung tinggi. Mempelai pengantin pun tidak terkecuali tidak menggunakan kadera (kursi) sebagai tempat pelaminannya, hanya tempat tidur pengantin

(19)

yang di dekorasi menjadi yang menjadi tempat duduk pengantin. Tak heran jika dirumah komunitas Towani Tolotang tidak ditemukan kursi satupun. Dalam kebiasaan komunitas Towani Tolotang adalah duduk bersila, menurut mereka duduk bersila adalah bentuk penghormatan kepada tamunya. Apapun jamuan acaranya dan acara adat, komunitas Towani Tolotang menggunakan Tappere’ atau tikar yang terbuat dari jalinan daun lontar atau pandan.

Budaya komunitas Towani Tolotang adalah budaya duduk bersila diatas tikar daun lontar dengan duduk sama rendah. Menurutnya, duduk sama rendah, melingkar pertanda musyawarah. Duduk diatas tikar daun lontar adalah melambangkan bahwa bentuk penghargaan kepada pemangku adat (Uwa’) sebagai tanda kehormatan. Ini melambangkan juga bahwa pemangku adat (Uwa’) adalah memiliki kasta yang tinggi di komunitas Towani Tolotang.

A. Etnografi Komunikasi dalam Prosesi Pernikahan Adat Towani Tolotang

Berdasarkan data yang diperoleh, peneliti memiliki pandangan terhadap tradisi pernikahan komunitas Towani Tolotang, baik dari informan dan narasumber. Karena peneliti melakukan wawancara untuk mengetahui makna dibalik prosesi acara adat pernikahan komunitas Towani Tolotang di Kabupaten Sidenreng Rappang Sulawesi Selatan.

Tradisi pernikahan etnik komunitas Towani Tolotang ini, dilihat dari aspek komunikasi erat kaitannya dengan budaya. Dilihat dari aspek komunikasi komponen prosesi pernikahan termasuk kedalam komunikasi ritual. Karena didalam prosesi ada ritual-ritual kecil yang dilakukan oleh mempelai pengantin yang dipandu dan disaksikan oleh pemangku adat (Uwa’). Ritual-ritual kecil tersebut terdapat pada gerakan-gerakan yang dilakukan oleh calon pengantin secara berurutan yang mempunyai makna, serta terdapat pula pada alat-alat dan bahan-bahan yang digunakan sebagai perlengkapan prosesi. Dalam pernikahan komunitas etnik Towani Tolotang mengandung nilai estetika yang sangat menarik dan mengagumkan. Secara garis besar prosesi pernikahan adat komunitas Towani Tolotang terdapat didalamnya ritual yang sangat sistematis dan tertib, diantaranya mabbaja laleng (mencari informasi tentang calon mempelai wanita), melamar, bertemu pemangku adat untuk penentuan hari pernikahan (mappasuro ada), mappasiroa (kesepakatan) kedua belah pihak, mappettuada, mappenre dui, massarapo, dio majeng, laitona, mappacci, lolang, marala, appasialang, palai tapi, mapparola, mabbenni siwenni, mabbenni tellung penni, dan manre baiseng. Ini sesuai dengan teori etnografi komunikasi, bahwa Towani Tolotang sebagai masyarakat tutur secara

(20)

keseluruhan telah melakukan rangkaian ritual adat sesuai dengan budayanya. Serta dari segi peristiwa atau perangkat komponen yang utuh melibatkan partisipan dan menggunakan varietas bahasa yang sama.

Selain itu tata busana dalam prosesi pernikahan adat komunitas Towani Tolotang semakin menambah keunikan, diantaranya para pengantar pengantin menggunakan kebaya dan tidak menggunakan alas kaki. Secara keseluruhan dari ritual perkawinan adat Towani Tolotang di dalamnya mengandung unsur-unsur estetika yang meliputi unsur kesatuan, ketertiban, keseimbangan, dan sistematis. Unsur-unsur tersebut berpadu dan membentuk nilai estetika yang sangat menarik bagi setiap orang yang melihatnya. Towani Tolotang tetap menggunakan baju adat suku Bugis yaitu baju bodo. Tetapi dari corak warna baju bodo yang digunakan juga memiliki makna tersendiri. Seperti warna baju bodo warna putih artinya mempelai pengantin mempunyai kasta yang lebih tinggi, kemudian warna baju bodo warna hijau melambangkan mempunyai kasta nomor dua. Jika mempelai menggunakan pakaian baju bodo corak warna lain, berarti mereka hanya kasta paling bawah. Ini merupakan bentuk pesan komunikasi yang disampaikan melalui ritual adat pernikahan Towani Tolotang, agar untuk diketahui masyarakat. Hal ini sependapat dengan yang dikemukakan oleh La Madda, “bahwa pernikahan adat Towani Tolotang memiliki makna disetiap prosesinya”. Hal ini sesuai dengan teori etnografi dalam varitas bahasa, bahwa partisipan dalam budaya lokal menciptkan makna.

Berdasarkan hasil temuan dalam memahami komponen komunikasi pada tradisi prosesi pernikahan komunitas Towani Tolotang, maka terdapat ciri-ciri umum perilaku komunikasi pada prosesi pernikahan adat Towani Tolotang, yaitu: (1) Berkomunikasi dengan cara unik, tidak secara langsung tetapi diwakili oleh orang-orang tertentu (Uwa’);

(2) Selalu dalam bentuk adat Bugis dan doa-doa; (3) Selalu dilaksanakan di kediaman calon pengantin atau disebut rumah orang tuanya; (4) Komunikasi pada tradisi tersebut menggunakan bahasa Bugis; (5) Menggunakan kalimat yang dibuat secara teratur namun dapat dipahami; (6) Dipengaruhi oleh sistem budaya yang dianut. Kebanyakan aspek komunikasi yang dilakukan adalah pengucapan doa-doa dan adat yang dilakukan Uwa atau pemangku adatnya. Keunikan lainnya adalah pernikahan adat Towani Tolotang mempelai pria lebih banyak menggunakan prosesi adat, dibandingkan dengan mempelai wanita. Jadi yang lebih dominan prosesinya adalah mempelai pria. Hal ini sejalan dengan teori etnografi komunikasi yang mana budaya lokal tersebut menciptakan makna.

Seperti yang dijelaskan oleh La Madda “bahwa, prosesi adat di pernikahan Towani Tolotang adalah tidak lepas dari peran dari pemangku adat (Uwa’). Setiap

(21)

prosesinya selalu disaksikan oleh pemangku adat (Uwa’) dalam hitungan ganjil. Jika mempelai memiliki kasta yang lebih tinggi, maka semakin banyak pemangku adat (Uwa’) yang akan hadir. Adapun jumlah pemangku adat (Uwa’) yang hadir paling banyak 13 orang. Jika mempelai mempunyai kasta dibawah, maka pemangku adat (Uwa’) yang hadir adalah tiga orang”.

Prosesi pernikahan adat komunitas Towani Tolotang relevan dengan teori etnografi komunikasi yang bersifat spesifik menjelaskan dan memahami perilaku komunikasi dalam kebudayaan tertentu. Sehingga sifat penjelasannya terbatas pada suatu konteks, situasi dan tempatnya. Gambaran rangkaian acara dalam sebuah pernikahan memang berbeda-beda di setiap daerahnya, dengan demikian setiap daerah memiliki ciri khas masing-masing kebudayaannya. Jadi, peneliti simpulkan bahwa kebudayaan Towani Tolotang dalam upacara pernikahan yang melaksanakan tradisi prosesi adat di dalamnya memiliki makna dan pesan yang terkandung, sehingga perbedaan dari setiap sudut pandang harus diminimalisasi dalam rangka memberikan pemahaman yang lebih baik dan masukan yang positif dalam pelestarian warisan budaya nasional. Towani tolotang merupakan kebudayaan unik didalam suku bugis di Kabupaten Sidrap, dikarenakan mereka melestarikan adat dan kebudayaannya dari leluhurnya, sehingga sampai sekarang Towani Tolotang masih kental dengan nuansa tradisionalnya tanpa ada modern didalamnya. Seperti sarapo atau lego-lego, Towani Tolotang masih menggunakan seperti itu di zaman sekarang, walapun di zaman sekarang sudah ada tenda pengantin yang bisa digunakan, tetapi Towani Tolotang masih menggunakan warisan adat leluhurnya. Bahkan Towani Tolotang sampai sekarang tetapi mempertahankan eksistensinya ditengah modernisasi dengan tetap membangun rumah panggung dibandingkan dengan rumah batu. Karena rumah panggung khas bugis tersebut jika digunakan dalam suatu acara dapat ditambah teras depannya (sarapo) agar dapat memuat banyak orang.

Penelitian juga melalukan wawancara trianggulasi kepada pakar kebudayaan, Menurut Karlin Kati (Ketua Kerukunan Bugis) salah satu tokoh kebudayaan di Sulawesi Selatan, “bahwa pernikahan Komunitas Towani Tolotang dapat menjadi potensi pariwisata, karena setiap prosesinya sarat akan makna dan pernikahan tersebut tetap menggunakan pakaian suku bugis (baju bodo) walaupun prosesinya ada yang lain dari pengantin bugis pada umumnya”. Ditambahkan lagi, bahwa “ritual-ritual adat yang dilakukan oleh komunitas Towani Tolotang merupakan salah satu kebudayaan yang ada di Sulawesi Selatan yang patut diperhatikan, karena acara adat yang dilakukan oleh mereka, mengundang perhatian masyarakat, bukan hanya masyarakat lokal, tetapi warga

(22)

negara asing pernah datang untuk menyaksikan acara-acara adat yang digelar oleh komunitas Towani Tolotang. Dan uniknya lagi, segala prosesi dalam pernikahan tersbut diamati langsung oleh pemangku adat (Uwa’)”. Pernikahan Komunitas Towani Tolotang bukan hanya ceremonial saja, tetapi memiliki makna secara verbal maupun non verbal disetiap rangkaian acara. Simbol-simbol yang digunakan serta generasi atau komunitas Towani Tolotang sendiri sebagai pemilik warisan budaya belum tentu mengetahui akan makna dan tujuan atas segala aktivitas yang ada di pernikahan Towani Tolotang. Dilihat dari aspek komunikasi beberapa urutan peristiwa yang dilakukan oleh kedua mempelai masuk dalam komunikasi ritual. Proses adat pernikahan Towani Tolotang tetap betahan ditengah arus modernisasi karena adanya dorongan keyakinan yang bersumber dari nenek moyangnya dan adanya keinginan untuk mempertahankan tradisi.

B.Makna Duduk di Atas Tikar Daun Lontar

Duduk diatas tikar daun lontar merupakan tempat duduk pemangku adat yang memimpin prosesi pernikahan adat komunitas Towani Tolotang di Kabupaten Sidenreng Rappang. Peran pemangku adat dalam ritual tersebut sangat dibutuhkan, karena segala prosesi dalam pernikahan tersebut diamati langsung oleh uwa atau pemangku adatnya.

Menurut peneliti konsep duduk tersebut merupakan konsep budaya tradisonal dimulai dari kebiasaan nenek moyang mereka yang dalam pelaksanaannya memiliki karakteristik serta makna kebersamaan. Menurut Bahar Balulu (mantan anggota DPR Kab. Sidrap), bahwa “Komunitas Towani Tolotang adalah mengedepankan azas gotong royong, adapun duduk melantai adalah memiliki makna kebersamaan, tanpa memandang kasta seseorang, adapun duduk melantai dengan menggunakan tikar daun lontar adalah untuk menghargai tamu kehormatan, dan pemangku adat (Uwa’) yang hadir” ini sejalan dengan makna pesan dari komunikasi bahwa pernikahan Towani Tolotang adalah sarat akan makna dan simbol-simbol komunikasi. Dari segi komunikasi hal tersebut sangat erat kaitannya dengan budaya. Hal ini diperkuat oleh Wa’ Narto, bahwa “pernikahan adat Towani Tolotang dapat menjadi potensi wisata, apalagi jika Towani Tolotang yang mempunya kasta tertinggi yang melakukan pernikahan, maka akan banyak ritual-ritual adat yang dilakukan”.

Dalam tradisi duduk bersila diatas tikar daun lontar merupakan sebuah norma interpretasi yang dilakukan oleh masyarakat tutur Towani Tolotang. Makna duduk bersila adalah bernilai rasa kesopanan dan menghormati bagi yang mempunyai hajat. Ini sesuai yang dikemukakan oleh Bahar Balulu, bahwa “ciri khas dari masyarakat Towani Tolotang

(23)

adalah duduk bersila, karena budaya mereka dari zaman dahulu dari nenek moyangnya adalah duduk dibawah tanpa menggunakan kursi. Karena pada dasarnya penganut Towani Tolotang mempunyai rumah panggung khas bugis tanpa mengenal kursi”. Ini sependapat dengan teori etnografi tentang perilaku non verbal yang pantas dan sangat sopan.

Dalam hal duduk bersila diatas tikar daun lontar adalah merupakan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada para tamu kehormatan, dan para pemangku adat (Uwa’).

Semakin berlapis tingkatan tikar, maka semakin tinggi tingkat strata sosialnya seseorang.

Ini menandakan bahwa Towani Tolotang sangat menghargai tamunya, walaupun aktivitas tersebut merupakan duduk melantai. Hal ini menandakan bahwa budaya Towani Tolotang patut diapresiasi karena masih mempertahankan budaya seperti itu tanpa tergeser oleh penggunaan kursi di masa sekarang. Menurut mereka, duduk diatas tikar tradisional sangat hikmat dan nuansa kekeluargaan serta kebersamaan sangat baik. Perilaku demikian menurut mereka adalah bernilai kepeduliaan dan penghormatan.

Penutup Kesimpulan

1. Komponen komunikasi yang terdapat dalam tradisi pernikahan adat komunitas Towani Tolotang adalah ritual-ritual yang sangat unik yang terdapat didaerah suku bugis, dan adapun setiap prosesinya adalah diamati dan diketahui oleh pemangku adatnya (Uwa’).

Aktivitas komunikasi yang terjadi pada prosesi pernikahan adat komunitas Towani Tolotang yang melibatkan partisipan yaitu mabbaja laleng (mencari tahu tentang keluarga dan wanita yang hendak dilamar), selanjutnya madduta (pelamaran) kepada pihak keluarga wanita, penentuan hari (mappasuro ada) dan dui menre (uang mahar) oleh kedua belah pihak keluarga, disaksikan oleh pemangku adat (Uwa’). Kemudian mappenre dui oleh pihak laik-laki (mappettuada), massarapo (penambahan ruang tamu), prosesi awal pernikahan yaitu dio majeng oleh pihak pria yang dilakukan sekali seumur hidup, kemudian proses kedua laitona (menyuguhkan makanan kepada mempelai pria) oleh pemangku adat (Uwa’), dihari yang sama kemudian pelaksaan mappacci dilakukan juga oleh mempelai pria (lajang), dilakukan juga sekali seumur hidup. Kemudian keesokan harinya pihak keluarga mempelai pria berkunjung ke kediaman mempelai wanita melihat kesiapannya sebelum prosesi akad nikah dilaksanakan. Selanjutnya prosesi marala (penjeputan pemangku adat) yang akan menjadi saksi dan menikahkan. Kemudian appasialang (akad nikah) sebagai puncak prosesi yang sakral, prosesi palai tapi selanjutnya mapparola (kunjungan balasan ke keluarga pria sebagai bentuk silaturahmi bersatunya dua keluarga), mabbenni siwenni

(24)

(bemalam semalam) dikediaman mempelai pria, mabbenni tellung penni (bermalam tiga malam) dikediaman mempelai pria, prosesi terakhir pasca pernikahan adalah manre baiseng (kunjungan keluarga mempelai pria ke kediaman mempelai wanita selama tiga sampai tujuh hari), ini dilakukan dihari ganjil.

2. Duduk bersila diatas tikar daun lontar adalah merupakan norma interpretasi yang sesuai dengan nilai kesopanan, yang mempunyai arti kebersamaan, gotong royong, tolong menolong, nilai kekeluargaan, nilai kepedulian, dan nilai penghormatan. Ini merupakan simbol bagi komunitas Towani Tolotang dalam melaksanakan setiap hajat dan ritual budaya dan keagamaannya.

Saran

Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai literatur atau sumber tambahan dalam memperoleh informasi yang berkenaan dengan aspek budaya. Hasil penelitian ini dapat memberikan kontribusi bagi pelaku budaya dan pemerhati budaya, sehingga apabila budaya asing masuk, tetapi budaya tradisional tetap dipertahankan eksistensinya, sehingga dapat dilestarikan terkhusus bagi komunitas Towani Tolotang yang kebudayaannya bersumber dari keyakinannya.

DAFTAR PUSTAKA

Arianto, Nurcahyo Tri. Etnografi Indonesia. Surabaya:Fisip Unair.2012 __________________. Etnografi. Artikel Ilmiah. Surabaya Fisip Unair.2011 Barker, Chris. 2000. Culture Studie, Teory and Practis.London: Sage Publication Brewer, j.d. 2000. Ethnography. Bukingham: Open University Press

Chaer, Abdul.,Leonie Agustina.2010.Sosiolinguistik: Perkenalan Awal (Edisi Revisi).Jakarta: PT. Rineka Cipta

Departemen Pendidikan Nasional. 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Keempat.

Jakarta: Diknas

Koentjaraningrat. 2009. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rinka Cipta

Kuswarno, Engkus. 200. Etnografi Komunikasi, Suatu Pengantar dan Contoh Penelitian.

Bandung: Widya Padjajaran

Littlejohn, Stephen W & Karen A. Foss. 2009. (Terjemahan Muhammad Yusuf Hamdan) Theories Of Human Communication. Jakarta: Salemba Humanika

(25)

Liliweri, Alo. 2011. Gatra-Gatra Komunikasi Antar Budaya. Yogyakarta: Pustaka Belajar

Mulyana, Deddy. 2001. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya

Mulyana, Deddy & Solatun. 2008. Metode Penelitian Komunikasi: Contoh-Contoh Penelitian Kualititaif Dengan Pendekatan Praktis. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya Nasrullah, Rulli. 2017. Etnografi Virtual. Simbiosa Rekatama Media

Gambar

Gambar 2. Massarapo (menambah bagian depan rumah) atau lego-lego
Gambar 3.Dio Majeng 6. Laitona
Gambar 7. Mappacci / Tudampenni
Gambar 8. Mappenre’ Botting 10. Marala
+5

Referensi

Dokumen terkait

Dengan melakukan analisa keandalan dapat diketahui berapa nilai keandalan dari alur pelayaran Barito sehingga dapat ditentukan berapa kedalaman yang harus

[r]

Pada pengejaan skripsi dengan judul Impelementasi Algrotima Learning Vector Quantization dan Weighted product Dalam Memilih Perusahaan Tempat Berinvestasi ini,

Kegiatan Usaha Pertanian, Perdagangan Umum, Pengangkutan, Perindustrian dan Jasa Atau Pelayanan Jumlah Saham yang ditawarkan 240.000.000 Saham Biasa Atas Nama dengan Nilai

Spoken and written forms of examples & Teach both form and meaning.. May or may not use

IMPLEMENTASI METODE PROMETHEE PADA SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN PENENTUAN KELAYAKAN USULAN KENAIKAN PANGKAT DAN JABATAN FUNGSIONAL DOSEN.. Universitas Pendidikan Indonesia |

4.6 Perbandingan Hasil Evaluasi dengan Mesin Penerjemah Statistik Bahasa Indonesia-Jawa Google Translate ……… 41. 4.7 Hasil

Tinggi bekerja sama dengan Bappenas dan kemudian dengan Dewan Pengembangan Program Kemitraaan (DPPK) telah merintis dan mengembangkan Program Co-operative Academic