• Tidak ada hasil yang ditemukan

“KONSEP KELUARGA SAKINAH DALAM AL-QUR’AN”

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "“KONSEP KELUARGA SAKINAH DALAM AL-QUR’AN” "

Copied!
94
0
0

Teks penuh

(1)

“KONSEP KELUARGA SAKINAH DALAM AL-QUR’AN”

(Kajian Tafsir Tematik).

SKRIPSI

Diajukan Sebagai Salah Satu Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Starata Satu (S1) Dalam Ilmu Al-Qur‟an Dan Tafsir

Fakultas Ushuluddin dan Studi Agama

Oleh IMRONI NIM : UT.143190

JURUSAN ILMU AL-QUR’AN DAN TAFSIR FAKULTAS USHULUDDIN DAN STUDI AGAMA

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) SULTHAN THAHA SAIFUDDIN

JAMBI

2018

(2)
(3)
(4)
(5)

MOTTO











































“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri- isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya

pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir”.

(Q.S Ar-Rum :21)

(6)

PERSEMBAHAN

ِمي ِح هرلٱ ِه َٰ م ۡح هرلٱ ِ هللَّٱ ِم ۡسِب

Puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala rahmat yang dilimpahkan. Sholawat teriring salam tercurah pada insan pilihan, Nabi akhir zaman Muhammad SAW.

Skripsi ini kupersembahkan terutama kepada kedua orang tuaku,dan

Kakak-kakak ku beserta keluarga besarku yang telah memberikan kontribusi yang sangat besar dalam proses perkuliahanku sampai pada tahap

penyusunan skripsi ini. Tidak lupa juga skripsi ini kupersembahkan pula pada seluruh

rekan-rekanku yang telah membantu dan memberikan motivasi

dalam penyusunan skripsi ini.

Akhir kata penulis ucapkan terimakasih sebanyak-banyaknya kepada seluruh pihak yang telah membantu dalam proses penyelesaian karya tulis ini.

Semoga kebaikan yang diberikan akan diberi balasan kebaikan yang berlipat ganda oleh Allah SWT. Amiin

God‟s Plan Is Always More Beautiful Than Our Desires

Abstrak

(7)

ABSTRAK

Penelitian ini di latar belakangi yaitu tentang kehidupan masyarakat sehari-hari khususnya yang sudah berkeluarga karna banyak masyarkat di sekitar kita keluarganya kurang harmonis, sehingga tidak tercapai keluarga yang diinginkan yaitu keluarga sakinah . Keluarga sakinah mungkin saja menjadi idaman bagi masyarakat muslim. Namun mewujudkannya bukanlah perkara mudah, karena rendahnya pemahaman masyarakat tentang keluarga sakinah, sehingga banyak terjadinya permasalahan yang timbul dan mengganggu bahtera keluarga muslim, yang pada akhirnya menghambat cita-cita mulia yaitu keluarga sakinah karna keluarga hal terpenting untuk melanjutkan kehidupan bermasyarakat dan juga keluarga merupakan hal yang penting di kehidupan manusia, dimana keluarga mereupakan tempat pertama kali manusia mendapatkan pelajaran dan pendidikan untuk meneruskan hidup mereka. Kemudian dari sebuah keluarga itulah akan terbentuk ummat, dan dalam ummat itulah akan tegak masyarakat Islam.

Penelitian ini termasuk kedalam pendekatan penelitian kepustakaan (library research) yaitu penelitian yang dilakukan dengan cara mengumpulkan dan mengolah data-data kepustakaan yang berkaitan dengan inti permasalahan.

Adapun permasalahan dalam penelitian ini adalah bersifat deskriptif analisis, yaitu bentuk penelitian yang meliputi proses pengumpulan data dan penyusunan data, kemudian data-data yang telah terkumpul tersebut dianalisis sehingga diperoleh pengertian data yang jelas dan akurat

Hasil penilitian menunjukkan bahwa konsep atau faktor terwujudnya keluarga sakinah yaitu suami istri harus saling memahami hak-haknya dan besabar jika ada kegoncangan dalam rumah tangga saling menerima dari segi kekurangan pasangan dan bersyukur atas kelebihannya dan adapun kreterianya yaitu beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT, Bertangung jawab saling memaafkan dan ma‟asyirah bil ma‟ruf terhadap keluarga.

(8)

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, puji syukur tiada henti-hentinya kehadrat Allah SWT.

Yang telah menganugerahi penulis dengan sedikit ilmu pengetahuan, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

Selawat dan salam selalu tercurah kepada junjungan alam, yakni Nabi besar Muhammad SAW. Seoraang Nabi yang pernah memberi angin segar kepada ummatnya disaat ummatnya tenggelam dalam lautan kemusyrikan, hingga menjadi pantai yang penuh dengan ilmu pengetahuan.

Adapun maksud dan tujuan penulis ini adalah sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana Strata Satu (S1) dalam ilmu Al-Qur‟an dan Tafsir pada Univesitas Islam Negeri Sulthan Thaha Saifuddin Jambi. Tak lupa pula rasa terima kasih yang sedalam-dalamnya penulis ucapkan kepada yang terhormat.

1. Bapak Dr.Nurung, Lc.,M.Ag sebagai pembimbing I dan Bpak Idris,SS.,M.H sebagai pembimbing II yang telah sabar membantu dan membimbing penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

2. Ibu Ermawati,S.Ag.,MA selaku ketua jurusan program studi Tafsir Hadis Fakultas Ushuluddin Institut Agama Islam Negeri Sulthan Thaha Saifuddin Jambi.

3. Bapak Dr.H. Abd Ghafar M.Ag. selaku Dekan Fakultas Ushuluddin Universitas Islam Negeri Sulthan Thaha Saifuddin Jambi.

4. Bapak Dr. Masiyan M Syam. selaku Wakil Dekan I Bidang Akademik

5. Bapak H. Abdullah Firdaus, Lc., M.A., Ph,D. selaku Wakil Dekan II Bidang Administrasi Umum, Perencanaan dan Keuangan,

6. Bapak Dr. Firhat Abbas, M.Ag selaku Wakil Dekan III Bidang Kemahasiswaan Dan Kerjasama Luar Fakultas Ushuluddin Institut Agama Islam Negeri Sulthan Thaha Saifuddin Jambi.

7. Bapak Dr. H. Hadri Hasan, M.A selaku Rektor UIN STS Jambi.

8. Bapak Prof. Dr. H. Su‟aidi Asy‟ari MA., Ph.D selaku Wakil Rektor I Bidang Akademik dan Pengembangan Lembaga,

9. Bapak Dr. H. Hidayat., M.Pd selaku Wakil Rektor II Bidang Administrasi Umum, Perencanaan dan Keuangan.

(9)

Ibu Dr. Hj. Fadhlilah, M.Pd selaku Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan Dan Kerjasama.

10. Bapak Ibu Dosen IAIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi yang memberi ilmu pengetahuan kepada penulis.

11. Bapak dan Ibu kabag di lungkungan Fakultas Ushuluddin Dan Studi Agama UIN STS JAMBI

12. Bapak dan Ibu karyawan dan karyawati dilingkungan Fakultas Ushuluddin Dan Studi Agama Universitas Agama Islam Negeri Sulthan Thaha Saifuddin Jambi.

13. Bapak Pimpinan Perpustakaan UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi beserta staf- stafnya.

14. Teman-teman seperjuangan Tafsir Hadis yang telah memberikan motivasi kepada penulis.

15. Serta semua pihak yang turut membantu, yang tidak dapat peneliti sebutkan satu persatu.

Atas segala bantuan dan bimbingan yang telah diberikan, penulis mengucapkan terima kasih yang tidak terhingga, semoga Allah SWT membalasnya. Akhirnya penulis berharap agar skripsi ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

Jambi, Januari 2018 Penulis,

IMRONI UT.143190

(10)

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

NOTA DINAS ... ii

SURAT PERNYATAAN ORISINALITAS... iii

PENGESAHAN ... iv

MOTTO ... v

ABSTRAK ... vi

PERSEMBAHAN ... vii

KATA PENGANTAR ... viii

DAFTAR ISI ... ix

PEDOMAN TRANSLITERASI ... x

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Rumusan Masalah ... 6

C. Batasan Masalah ... .7

D. Tujuan dan Kegunaan Penelitian ... 7

E. Tinjauan Pustaka ... .8

F. Metode Penelitian ... 10

G. Sistematika Penulisan ... 12

BABII GAMBARAN UMUM TENTANG KELUARGA SAKINAH A. Pengertian Keluarga Sakinah ... 13

B. Unsur-unsur Terbentuknya Keluarga Sakinah ... 16

C. Karateristik Keluarga Sakinah ... 19

BAB III AYAT-AYAT TENTANG KELUARGA SAKINAH DALAM AL-QUR’AN A. Ayat-ayat Yang Berkaitan Tentang Keluarga Sakinah ... 28

B. Asbab An-Nuzul Ayat ... 40

C. Munasabah Ayat ... 41

BAB IV KRITERIA DAN FAKTOR-FAKTOR TERWUJUDNYA KELUARGA SAKINAH DALAM AL-QUR’AN A. Kriteria Keluarga Sakinah dalam Al-Qur‟an ... 44

(11)

B. Faktor Terwujudnya Keluarga Sakinah ... 58 1. Memahami Hak Suami Atas Istri ... 59 2. Memahami Hak Istri Atas Suami ... 65 3. Bersabar Terhadap kekurangan Pasangan

Dan Bersyukur Atas Kelebihannya ... 69 4. Saling Menerima ... 70 BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan ... 74 B. Rekomendasi ... 75 DAFTAR PUSTAKA

CURRICULUM VITE

(12)

TRANSLITERASI A. Alfabet

Arab Indonesia Arab Indonesia

ا

ط

ب

B

ظ

ت

T

ع

ث

Th

غ

Gh

ج

J

ف

F

ح

h}

ق

Q

خ

Kh

ك

K

د

D

ل

L

ذ

Dh

م

M

ر

R

ن

N

ز

Z

ه

H

ش

S

و

W

ش

Sh

ء

ص

s}

ي

Y

ض

d{

B. Vokal dan Harkat

Ara b

Indonesi a

Ara b

Indonesi a

Ara b

Indonesi a

ا

A

ā

ىِا

i>

ا

U

ى ا á و ا

Aw

ِا

I

و ا ū ى ا

Ay

(13)

C. Tā’ Marbūṭah

Transliterasi untuk ta marbutah ini ada dua macam:

1. Tā’ Marbūṭah yang mati atau mendapat harakat sukun, maka transliterasinya adalah /h/.

Arab Indonesia

ةلاص

Ṣalāh

ةارم

Mir‟āh

2. Ta Marbutah hidup atau yang mendapat harakat fathah, kasrah dan dammah, maka transliterasinya adalah /t/.

Arab Indonesia

ةيبرتلا ةرازو

Wizārat al-Tarbiyah

همسلا ةارم

Mir‟āt al-Zaman

3. Ta Marbutah yang berharkat tanwin maka translitnya adalah /tan/tin/tun.

Contoh:

Arab Indonesia

ةنجف

Fajannatan

(14)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

Al-Qur‟an secara harfiah berarti “ bacaan yang sempurna “ tiada bacaan seperti al-Qur‟an yang dipelajari bukan hanya susunan redaksi dan pemilihan kosa katanya, tetapi juga kandungan yang tersurat, tersirat bahkan sampai kepada kesan yang ditimbulkan.1

Al-Qur‟an merupakan kitab suci yang terakhir yang diwahyukan Allah SWT kepada Nabi Muhammad saw. Untuk dijadikan berbagai pedoman hidup bagi manusia.2 Dalam sejarahnya Al-Qur‟an telah menjadi bagian sentral dalam kehidupan muslim. Di mata muslim, Al-Qur‟an bukan semata teks yang dipahami dan dibaca, tetapi teks yang didengar (petuah-petuahnya). Al-Qur‟an telah menjadi rujukan dalam setiap laku kehidupan muslim. Bahkan bukan hanya laku kehidupan. Al-Qur‟an memiliki posisi sentral dalam membentuk ajaran, pemikiran dan peradaban.

Al-Qur‟an sebagai kitab suci, yang diyakini oleh muslim tentang keabadian, keuniversalan serta kebenarannya. Al-Qur‟an adalah kitab suci yang terakhir yang dipedomani umat Islam hingga akhir masa. Al-Qur‟an adalah sumber utama ajaran Islam dan pedoman hidup bagi setiap muslim. Al-Qur‟an bukan sekedar memuat petunjuk tentang hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga mengatur hubungan manusia dengan sesamanya (hablum min Allah wa hablum min an-nas), serta manusia dengan alam sekitarnya. Untuk memahami ajaran Islam secara sempurna (kaffah), diperlukan pemahaman terhadap kandungan Al-Qur‟an dan

1 M. Quraish shihab, wawasan Al-Qur‟an tafsir maudhu‟I atas berbagai persolan Umat, ( Bandung : Mizan, 1996),h 3

2 Muhammad Ridha telah memperinci tujuan-tujuan Al-Qur‟an ( Maqasid Al-Qur‟an ) menjadi 10 macam, yaitu : menerangkan hakikat agama meliputi iman kepada tuhan, hari akhir dan amal shalih, 2. Menjelaskan masalah kenabian dan kerasulan serta tugas-tugasnya, 3.

Menjelaskan Al-Qur‟an sebagai agama fitrah, 4. Membina ummat manusia dalam satu kesatuan yang meliputi : kesatuan umat, agama, undang-undang, persaudaraan seagama, bangsa, hokum, dan bahasa, 5. Menjelaskan keistimewaan-keistimewaan islam, 6. Menjelaskan prinsip dasar berpolitik dan bernegara, 7. Menata kehidupan material, 8. Member pedoman umum mengenai perang dan cara mempertahankan diri, 9. Memberikan kepada wanita hak-haknya, 10.

Memberikan petunjuk dalam hal pemerdekaan budak. Lihat Rasyid Ridha, Al-wahyu Al- Muhammady

(15)

mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari secara sungguh-sungguh dan konsisten.3

Di antara persoalan yang terkait dengan hablum min an-nas yang dibahas dalam al-Qur‟an adalah pernikahan. Dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI) di Indonesia yang tertuang dalam undang-undang RI nomor 1 tahun 1974 pengertian dan tujuan perkawinan terdapat dalam satu pasal, yaitu bab 1 pasal 1 menetapkan bahwa “perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk rumah tangga, keluarga yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.”4

Undang-Undang Perkawinan ini memberikan pengertian kepada kita bahwa sebuah keluarga (Rumah Tangga) haruslah terbentuk dari niat yang ikhlas yang diikat dengan perjanjian suci (Miitsaaqan Ghalidzan) sehingga cita-cita untuk terwujudnya keluarga sejahtera dan bahagia itu akan tercapai. Inilah tujuan yang ensensial dan mulia dari sebuah perkawinan dan sebuah keluarga, sebagaimana yang tercantum dalam Kompilasi Hukum Islam di Indonesia, dimana memberikan ketegasan bahwa “Perkawinan bertujuan untuk mewujudkan kehidupan rumah tanggga yang Sakinah, Mawaddah dan Rahmah”.

Perkawinan atau Pernikahan merupakan suatu ikatan perjanjian antara dua insan laki-laki dan perempuan dengan syarat-syarat adanya ijab Kabul, dua saksi, mahar dan wali nikah.Hikmah diciptakan oleh Allah manusia berpasang-pasangan yang berlainan bentuk dan sifat, adalah agar masing-masing saling membutuhkan, saling memerlukan, sehingga dapat hidup berkembang selanjutnya. Mendambakan pasangan merupakan fitrah sebelum dewasa, dan dorongan yang sulit dibendung.

Oleh karena itu, agama mensyari‟atkan dijalinnya pertemuan antara laki-laki dan perempuan, mengarahkan pertemuan itu sehingga terlaksananya “perkawinan”

dan beralihlah kerisauan laki-laki dan perempuan menjadi ketentraman dan sakinah.5

3 A.M. Imatullah, konsep sakinah, Mawaddah dan Rahmah dalam al-qur‟an prespektif penafsiran kitab alqur‟an dan tafsirnya. 54 Mazahib, Vol. XIV, No. 1 (Juni 2015)

4 Ahmad Rofiq, Hukum Perdata Islam di Indonesia, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2013), 47-48.

5 Eva yarosdiana, Peran Suami Dalam Membina Keluarga Sakinah,(Skripsi Syarif Hidayatullah, Jakarta 2011)

(16)

Menikah merupakan sunatullah yang berlaku bagi semua makhluk Allah swt, termasuk manusia. Di dalam ajaran Islam pernikahan merupakan salah satu sunnah Rasulullah saw yang harus kita laksanakan sebagai salah satu kebutuhan biologis manusia untuk hidup bersama, saling menyayangi, saling mengasihi dan saling mencintai.

Allah swt berfirman dalam Al-Qur‟an surat Yaasin ayat 36,





















  



“Maha suci (Allah) yang telah menciptakan semuanya berpasang-pasangan, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka sendiri, maupun dari apa yang tidak mereka ketahui.” (QS.yasin: 36:36)

Kemudian dalam surat Al Hujarat ayat 13, Allah swt berfirman,











































“Hai Manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa- bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha teliti” (QS: 49:13).

Rasulullah saw dengan tegas menyatakan bahwa orang-orang yang tidak mau menikah, padahal sudah mampu menurut syari‟at Islam untuk melaksanakan pernikahan maka orang tersebut bukan termasuk dari golongan umat Nabi Muhammad saw, sebagaimana beliau bersabda, yang artinya “Nikah itu adalah sunnahku, maka barang siapa yang membenci sunnahku (tidak mau menikah), maka bukanlah mereka termasuk dalam golonganku” (Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim).6

6 Ajamulis, Membentuk Keluaraga Sakinah Dalam Upaya Mewujudkan ketahanan Keluarga, (Kantor Kemenag , kab. Bengkulu Tengah prov. Bengkulu 2013)

(17)

Pernikahan bagi umat manusia adalah sesuatu yang sangat sakral dan mempunyai tujuan yang sakral pula, dan tidak terlepas dari ketentuan-ketentuan yang ditetapkan syari‟at agama. Tujuan utama dari pernikahan adalah untuk membentuk keluarga bahagia yang penuh ketenangan cinta dan rasa kasih sayang.

Allah swt berfirman.











































” Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang.

Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir”.7

Ayat ini mengamanatkan kepada seluruh umat manusia khusus nya umat islam, bahwa diciptakannya seorang istri bagi suami adalah agar suami bisa hidup tentram bersama dalam membina keluarga. Ketentraman seorang suami dalam membina bersama istri dapat tercapai apabila diantara keduanya terdapat kerja sama timbal balik yang serasi, selaras dan seimbang. Masing-masing tidak bertepuk sebelah tangan sebagai laki-laki sejati, suami tentu tidak akan merasa tentram, jika istrinya telah berbuat sebaik-baiknya demi kebahagiaan suami, tetapi suami tidak mampu memberikan kebahagiaan terhadap istrinya. Demikian pulak sebaliknya. Suami akan baru merasa tentram, jika dirinya mampu membahagiakan istrinya dan istri juga sanggup memberikan pelayanan yang seimbang demi kebahagiaan suaminya. Kedua pihak bisa saling mengasihi dan menyayangi, saling mengerti antara satu dengan yang lainnya sesuai dengan kedudukannya masing-masing demi tercapainya keluarga yang sakinah, mawaddah , warahmah.8

7 Depertemen Agama RI, al-Qur‟an Bayan ( Depok : C.V. Bayan Qur‟an, 2009 ).324

8 Fuad kauma dan Nifan, Membimbing Istri Mendampingi Suami, ( Yogyakarta : Mitra Usaha 1997 ), 7

(18)

Keluarga sakinah mungkin saja menjadi idaman bagi masyarakat muslim.

Namun mewujudkannya bukanlah perkara mudah, karena rendahnya pemahaman masyarakat tentang keluarga sakinah, sehingga banyak terjadinya permasalahan yang timbul dan mengganggu bahtera keluarga muslim, yang pada akhirnya menghambat cita-cita mulia di atas. Terlebih lagi kemajuan teknologi informasi membawa pula berbagai macam gaya hidup, di antaranya tidak sesuai dengan nilai-nilai Islam. Rendahnya moralitas dan prilaku sosial yang menyimpang dari nilai-nilai ajaran-ajaran agama, budi pekerti luhur, serta norma yang berlaku di masyarakat adalah tantangan dari idaman tersebut. Serta gagalnya komunikasi pasangan dalam keluarga menjadi salah satu dari beberapa alasan retaknya keluarga.Karena itu agama dianggap sebagai terapi sekaligus antisipasi kegagalan bahtera keluarga. Dijelaskan oleh Nazarudin Umar, “bahwa agama merupakan pedoman hidup termasuk di dalamnya membangun keluarga sakinah, karena dengan penghayatan dan pengamalan agama yang baik, setiap anggota keluarga akan mampu menjalankan fungsinya dengan baik.”

Akan tetapi di dalam membangun sebuah keluarga tidaklah semulus apa yang kita bayangkan, bahkan bisa saja terjadi kesalah pahaman dengan situasi rumah tangga yang semakin memanas sehingga terjadi konflik keluarga yang berkepanjangan dan berdampak pada ketidak harmonisan bahkan lebih dari itu bisa saja terjadi perceraian.

Beberapa peristiwa dalam institusi rumah tangga ternyata masih menyebabkan adanya persoalan dalam keluarga, seperti seseorang yang merasakan sesuatu yang aneh,merasa terasing dengan diri sendiri, seolah-olah dia merasakan ada sesuatu yang belum terpenuhi, seperti kehilangan eksistenti diri.

Padahal Nampak dari luar hubungan dengan keluarga harmonis dan secara biologis dan materi tidak ada kebutuhan yang tak terpenuhi, orang seperti ini mungkin yang dikatakan terasing dengan dirinya,9 kurang memahami diri dan kehendak hatinya, maka dia sekedar hidup atas dasar kesetiaan atau ketulusan

9 Khairul Rasyadi, Cinta dan Keterasingan , Editor M. Arif Hakim, Cet. 1 ( Yogyakarta : LKis, 2000 ),26-28

(19)

yang dibuat-buat, baik kepada suami atau istri dan keluarga. Persolan seperti ini dapat menimbulkan peristiwa kekerasan dalam rumah tangga.

Beberapa persoalan di atas membuat masyarakat muslim lupa untuk memperhatikan makna dan tujuan dari sebuah pernikahan sebagai kerangka nilai dari pernikahan sebagaimana yang tersebut dalam surat Ar-Rum (30): 21.

Sebagian dari kita masih memahami secara dangkal bahkan tidak mengetahui bagaimana cara mencapai tujuan dari pernikahan, khususnya membentuk keluarga sakinah, sehingga terjadinya perceraian.

Di dalama data Badan Urusan peradilan agama (Badilag) Mahkamah Agung (MA) ditemukan, bahwa angka perceraian pasangan di Indonesia meningkat darastis selama periode 2005 hingga 2010 terjadi peningkatan perceraian hingga 70%. Pendapat itu ditambahkan oleh Dirjen Badilag, Wahyu Widiana, bahwa “ perceraian naiknya terus-menerus, begitu juga pada tahun 2011,”di sampaikan kepada harian Republika, selasa 24 januari. Kalau di urai factor penyebab perceraian menurut Wahyu Widiana adalah : karena ketidak harmonisan yang mencapai 91. 841 perkara tidak ada tangnggung jawab mencapai 78. 407 perkara dan karena masalah ekonomi mencapai 67.891 perkara.10

Berdasarkan latar belakang masalah di atas penulis tertarik untuk mengkaji serta menganalisa konsep keluarga yang ada dalam al-Qur‟an untuk itu penulis mengambil judul “Konsep Keluarga Sakinah Dalam al-Qur’an (Kajian Tafsir Tematik)

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian diatas, persoalan pokok kajian ini adalah bagaimana konsep keluarga sakinah dalam Al-Qur‟an ? Upaya mengkongkretkan pokok masalah, adapun beberapa pokok persoalan yang terdapat dalam kajian ini anatara lain :

1. Apa saja kriteria keluarga sakinah di dalam Al-Qur‟an ?

2. Apa faktor terwujudnya keluarga sakinah di dalam Al-Qur‟an ?

10Jurnal Dakwah dan Komunikasi Vol.6 No.1 Januari - Juni 2012

(20)

C. Batasan Masalah

Mengingat luasnya permasalahan yang ingin di bahas, maka perlu adanya sebuah batasan masalah, agar pembahasan yang dilakukan lebih terarah dan tidak keluar dari apa yang menjadi tujuan penelitian. Maka batasan terhadap permasalahan penelitian ini, penulis hanya fokus pada suatu ayat yang didalamnya menerangkan faktor-faktor tentang konsep keluarga sakinah dalam al-Qur‟an dan ayat-ayat yang senada dengannya. Dalam hal ini penulis akan mengemukakan dan menafsirkan beberapa ayat yang berbicara tentang konsep atau faktor keluarga sakinah dalam al-Qur‟an dengan menggunakan metode tafsir tematik.

D. Tujuan dan Kegunaan Penelitian 1. Tujuan penelitian

Secara umum, tujuan panelitian ini yaitu untuk menambah wawasan bagi penulis dan pembaca Mengetahui tentang keluarga sakinah, sedangkan secara khusus penelitian ini ditujukan untuk :

a. Ingin mengetahui apa saja kriteria keluarga sakinah b. Ingin mengetahui faktor terwujudnya keluarga sakinah 2. Kegunaan penelitian

Adapun kegunaaan dari penelitian ini adalah :

a. Penelitian ini diharapkan bisa memberikan kontribusi pemikiran dalam memperkaya khazanah keilmuan umat islam.

b. Menambah cakrawala pengetahuan yang berkaitan dengan kajian-kajian al-Qur‟an.

c. Sebagai bahan bacaan dan rujukan bagi mahasiswa, peneliti dan masyarakat pada umumnya, melalui pembuatan dan penyusunan karya ilmiah secara baik.

d. Serta sebagai melengkapi persyaratan guna untuk memperoleh gelar sarjana ( S1 ) jurusan Ilmu al-Qur‟an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin UIN STS Jambi.

(21)

E. Tinjauan Pustaka

Untuk menghindari terjadinya pengulangan hasil temuan yang membahas permasalahan yang sama dari seseorang baik dalam penulisan sikripsi,artikel jurnal, maupun buku, maka peneliti melakukan kajian pustaka mengenai buku artikel, jurnal,atau sikripsi yang mengangkat tema yang hampir sama yaitu

“Konsep Keluarga Sakinah Dalam Perspektif Al-Qur‟an (Kajian Tafsir Tematik) beberapa sikripsi yang membahas hal yang hampir sama dengna pembahasn peneliti antara lain:

Dalam sikripsi Anifatul Khuraidatun Nisa‟, yang berjudul “Konsep Keluarga Sakinah Perspektif Keluarga Penghafal Al-Qur‟an” ( Studi kasus di Kecematan Singosari Kabupaten Malang) di dalam penelitiannya, dia memfokuskan untuk meneliti dan membahas tentang bagaimana keluarga sakinah perspektif keluarga penghafal Al-Qur‟an di kecematan singosari kabupaten malang. Dan kemudian menjelaskan tentang upaya-upaya keluarga penghafal Al- Qur‟an di kecematan singosari kabupaten malang dalam mempertahankan keluarga sakinah.

Dan adapun hasil penelitiannya, yaitu : bahwa konsep keluarga sakinah menurut para penghafal Al-Qur‟an di kecematan singosaro adalah kehidupan rumah tangga yang dibangun dengan berdasarkan nilai-nilai Al-Qur‟an, yaitu senantiasa menanamkan nilai-nilai Al-Qur‟an dalam kehidupan sehari-hari mereka dan juga mereka selalu menjalankan rutinitas swbagai penghafal Al-Qur‟an seperti : tadarus setiap hari, shalat berjamaah dan juga saling terbuka diantara mereka.11

Dan juga dalam Sikripsi Syamsul Bahri, yang berjudul “Konsep keluarga sakinah menurut M. Quraish shihab”, pembahasan ini membahas tentang bagaimana M. Quraish Shihab memaknai keluaga sakinah dan bagaiman konsep M. Quraish Shihab tentang keluarga sakinah. Menurut M. Quraish Shihab keluarga sakinah adalah keluarga yang tenang, keluarga yang penuh kasih sayang

11Anifatul Khuraidatun Nisa, “Konsep Keluarga Sakinah Perspektif Keluarga Penghafal Al-Qur‟an” ( Studi kasus di Kecamatan Singosari Kabupaten Malang )

(22)

yang awal nya diliputi gejolak dalam hati dengan penuh ketidak pastian untuk menunjukkan ketengan yang dimaksud adalah ketenangan dinamis.

Disamping itu, didalam relasi hubungan suami istri menujukkan bahwa pasangan suami istri adalah iabarat pakaian, hal ini menunjukkan bahwa hubungan suami istri adalah setara atau sejajar dan bermitra. Selanjutnya, di dalam konsep M. Quraish Shihab tentang keluaga sakinah dijelaskan bahwa dengan modal sakinah dapat melahirkan mawaddah dan rahmah.

Untuk mencapai mawaddah ada tiga tahapan yang harus dilalui. Perhatian, tanggung jawab dan penghormatan. Selain itu, agar sebuah perkawinan langgeng, lagi diwarnai sakinah konsep ini menganjurkan kesetaraan, musyawarah dan kesadaranakan kebutuhan pasangan, sehingga semua anggota keluarga merasa saling memiliki peran dan tanggung jawab.12

Didalam buku yang berjudul “buku panduan keluarga sakinah” karya yazid bin abdul qadir jawaz. Didalam bukunya yaitu membahas tentang berbagai aspek dalam pernikahan yaitu meliputi : tujuan pernikahan dalam islam, manfaat pernikahan, tata cara pernikahan dalam islam, beberapa pernikahan yang dilarang syari‟at Islam, pelanggaran-pelanggaran yang sering terjadi dalam pernikahan, kiat-kiat membina rumah tangga yang ideal, nasihat untuk suami-istri, hal-hal yang harus dilakukan ketika si buah hati lahir, kewajiban mendidik anak, menggapai ridha Allah Ta‟ala dengan berbakti kepada kedua orang tua, dan lainnya.

Dalam Sikripsi niken yuliani, yang berjudul “Strategi Dalam Membina Keluarga Bahagia ( Studi Pada Novel Habibie Dan Ainun Karya Bahcaruddin Jusuf Habibie”, dalam penelitian ini menjelaskan yaitu masalah yang muncul dalam kehidupan rumah tangga habibie dan ainun, dan cara-cara habibie dan ainun dalam menagatasi permasalahan tersebut. Serta mengungkapakan tentang nilai-nilai membina keluarga sakinah.13

12 Samsul Bahri, Konsep Keluarga Sakinah Menurut M. Quraish Shihab, (Skripsi UIN Sunan Kali Jaga, Yogyakarta, 2009). 70

13 Niken Yuliani, Strategi Dalam Membina Keluarag Bahagia “ Stidi Pada Novel Habibie Dan Ainun Karya Bcharuddin Jusuf Habibie” ( Skripsi UIN Sunan kalijaga, Yogyakarta,2014). vii

(23)

Sementara ini, sekian banyak karya ilmiah yang penulis tinjau, banyak kesamaan tetapi yang menjadi pembeda dalam penelitian ini yaitu tentang faktor- faktor terwujudnya keluarga sakinah

Adapun yang penulis kemukakan di sini yaitu tentang Konsep Keluarga Sakinah Dalam Perspektif Al-Qur‟an (Kajian Tafsir Tematik), dalam pembahasan penulis akan menulsusuri ayat-ayat tentang faktor-faktor terwujudnya keluarga sakinah,. Dan juga penulis menggunakan penilitian pustaka yang kajiaannya di lakukan dengan menelusuri dan menelaah atau penelitian yang mengkaji tentang konsep keluarga sakinah

F. Metode Penelitian

1. Pendekatan penelitian

Pendekatan penelitian adalah merupakan hal yang sangat penting dalam suatu penelitian. Penelitian ini termasuk kedalam pendekatan penelitian kepustakaan ( library research ) yaitu penelitian yang di lakukan dengan cara mengumpulkan dan mengola data-data kepustakaan yang berkaitan dengan inti permasalahan.

Adapun permasalahan dalam penelitian ini adalah bersifat deskriptif analisis, yaitu bentuk penelitian yang meliputi proses pengumpulan data dan penyususnan data, kemudian data-data yang telah terkumpul tersebut dianalisa sehingga diperoleh pengertian data yang jelas dan akurat.

2. Sumber dan Jenis Data

Penelitian ini adalah jenis penelitian kepustakaan, karena sumber data dalam penelitian ini adalah data-data literature, dokumentasi, atau berbagai sumber tertulis lainnya seperti buku-buku ilmiah, majalah ilmiah, dokumen pribadi, jurnal, dan artikel-artikel. Adapun sumber data untuk memperoleh informasi sebagai teori dan hasil penelitian, penulis akan mengkaji berbagai sumber yang dapat diklasifikasi kepada dua bentuk, yaitu primer dan sekunder. Sumber data primer ( data utama ) yaitu data-data yang diperoleh dari literature-literature yang berkaitan langsung dengan judul ini, atau buku-buku yang mengandung tema mayor untuk membahas objek materi dari judul ini. Buku yang menjadi rujukan utama penulis dari sumber primer adalah Alqur‟an dan terjemahnya, Depertemen

(24)

Agama RI. Untuk data sekundernya yaitu data pendukung yang memberikan informasi tambahan, yang memiliki keterkaitan dengan masalah penelitian, ( tema minor ) agar dapat memudahkan di dalam proses penelitian. Data sekunder ini berupa buku-buku yang berkaitan dengan pembahasan dalam penelitian, yaitu berkenaan dengan konsep keluarga sakinah.

3. Teknik Pengumpulan Data

Penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data dan dokumentasi.14Teknik ini merupakan penelahaan terhadap semua referensi yang berhubungan dengan permasalahan di atas. Pada tahap ini penulis berusaha memperoleh data melalui penelitian kepustakaan ( library research ). Dan diantara metode pengumpulan data adalah dengan cara membaca, menela‟ah, sertra menganalisa bagian-bagian yang terpenting dari kitab-kitab ataupun buku- buku yang berkaitan dengan masalah yang telah penulis rumuskan di rumusan masalah. Selanjutnya data-data tersebut diolah dan di analisis sehingga dapat memberikan pengertian dan kesimpulan sebagai jawaban terhadap pertanyaan- pertanyaan yang menjadi sasaran objek penelitian

4. Analisis Data

Pada dasar nya analisis data merupakan penguraian melalui tahapan kategorisasi, klarifikasi dan pencarian hubungan antar data yang spesifik. Semua data-data tersebut akan dianalisa melalui beberapa tekhnik kerja tafsir maudu‟I (Tematik) dengan langkah-langkah yang akan ditempuh dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

a. memilih atau menetapkan masalah al-Qur‟an yang akan dikaji secara maudu‟I ( Tematik )

b. melacak dan menghimpun ayat-ayat yang berkaitan dengan masalah yang telah ditetapkan, ayat Makiyyah dan Madaniyah.

c. menyusun ayat-ayat tersebut secara runtut menurut kronologi masa turunnya, disertai pengetahuan mengenai latar belakang turunya ayat atau asbab al-nuzul.

14 Tim penyusun,Panduan Penulisan Karya Ilmiah Mahasiswa Fakultas Ushluddin UIN STS Jambi,2016

(25)

d. mengetahui korelasi (munasabah) ayat-ayat tersebut di dalam masing- masing suratnya.

e. menyusun tema bahasan dalam kerangka yang pas, sistematis sempurna dan utuh (outline).

f. melengkapi pembahasan dan uraian dengan hadits, bila di pandang perlu, sehingga pembahasan menjadi semakin sempurna dan semakin jelas.

g. mempelajari ayat-ayat tersebut secara tematik dan menyeluruh dengan cara menghimpun ayat-ayat yang mengandung pengertian serupa, mengompromikan anatara pengertian ayat yang „am (umum) dan khas ( khusus), antara yang muthlaq dan muqayyad, mensinkronkan ayat-ayat yang lahirnya tampak kontradiktif, menjelaskan ayat yang nasikh dan mansukh, sehingga semua ayat tersebut bertemu pada satu muara, tanpa perbedaan atau kontradiksi atau tindakan pemaksaan terhadap sebagian ayat kepada makna-makna yang sebenarnya tidak tepat.

G. Sistematika Penulisan

Untuk lebih mudah memahami isi skripsi ini dan agar tidak memperluas objek dalam penelitian, maka di perlukan adanya sistematika penulisan. Skripsi ini terbagi kepada lima bab membahas permasalahn-permasalahn tersendiri, tetapi tetap saling berkaitan antara sub bab dengan bab berikutnya. Adapun sistematika penulisannya sebagai berikut :

Bab I merupakan bab pendahuluan, yang mana dalam bab ini memaparkan latar belakang masalah, rumusan masalah, batasan masalah, tujuan dan kegunaan penelitian, tinjauan pustaka, metode penelitian, serta sistematika penulis.

Bab II Gambaran umum tentang keluarga sakinah, yang berisikan tentang, Pngertian Keluarga Sakinah, Unsur-unsur Terbentuknya Keluarga Sakinah, Karaekteristik Keluarga Sakinah.

Bab III Ayat-ayat Tentang Keluarga Sakinah,yang berisikan, ayat yang berkaitan tentang keluarga sakinah, Asbab An-Nuzul Munsabah ayat

Bab IV berisikan tentang kriteria dan faktor-faktor terwujudnya keluarga sakinah , beriman dan bertaqwa, bertanggung jawab,Mua‟syarah bil-ma‟ruf memahami hak suami terhadap istri dan kewajiban istri terhadap suami,

(26)

memahami hak istri atas suami dan kewajiban suami atas istri, bersabar atas kekurangan pasangan dan bersyukur atas kelebihannya, saling menerima

Bab V penutup, memaparkan tentang kesimpulan, saran, dan kata penutup.

(27)

BAB II

GAMBARAN UMUM TENTANG KELUARGA SAKINAH A. Pengertian Keluarga Sakinah

keluarga sakinah merupakan gabungan dari dua suku kata yaitu keluarga dan sakinah. Adapun pengertian keluarga yaitu : keluarga dalam bahasa arab adalah ahlun, disamping kata ahlun kata yang bisa memiliki pengertian keluarga adalah ali dan ashir. Kata ahlun berawal dari kata ahila yang berarti rasa senang, rasa suka, dan ramah. Menurut pendapat lain kata ahlun berasal dari kata ahala yang berarti menikah. Sedangkan menurut konsep islam, keluarga adalah satu kesatuan hubungan antara laki-laki dan perempuan melalui akad nikah menurut ajaran islam, dengan adanya ikatan akad nikah pernikahan tersebut dimaksudkan anak dan keturunan yang dihasilkan menjadi sah secara hukum agama.15

Dan juga kata keluarga dalam bahasa arab selain dari kata ahlun ada juga usrah. Kata ini juga berarti keluarga dan saudara seorang laki-laki. Namun, usrah juga bermakna tameng atau perisai pelindung. Selain itu, kata itu juga dipakai untuk menyebutkan kata yang berarti sebuah komunitas yang diikat oleh satu kesatuan. Semua pengertian ini membentuk sebuah makna yang dapat disimpulkan sebagai ikatan yang sangat kuat.

Pengertian usrah sebagai keluarga dan saudara berlaku dalam sebuah masyarakat dalam bentuk kecil, walaupun ada beberapa perbedaan unsur-unsur yang ada di dalamnya. Sebenarnya, semua manusia tidak lain adalah keluarga besar dengan bahasa dan warna kulit yang berbeda. Ini disebabkan mereka adalah keturunan Adam dan istrinya Hawa, yang kemudian melahirkan anak cucu laki- laki dan perempuan.

Sementara itu, penggunaan kata usrah atau keluarga saat ini tidak terbatas pada pasangan suami istri semata. Yang dimaksud keluarga pada saat ini adalah suami istri yang terbentuk melalui perkawina. Disini ada titik penekanan melalui perkawinan, kalau tidak melalui perkawinan maka bukan keluarga. Dan hidup bersama seorang pria dengan seorang wanita tidak dinamakan keluarga, jika

15Ainur Rahim Faqih, Bimbingan dan Konseling dalam Islam, (Yogyakarta: UII press, 2001).70

(28)

kedua nya tidak diikat oleh perkawinan karena itu perkawinan diperlukan untuk membentuk keluarga dan anak-anak yang ada didalamny.16 Pengertian ini tampaknya sesuai dengan firman Allah SWT.

































“Allah menjadikan bagi kamu isteri-isteri dari jenis kamu sendiri dan menjadikan bagimu dari isteri-isteri kamu itu, anak-anak dan cucu-cucu, dan memberimu rezki dari yang baik-baik.”(QS.An-Nahl,72).17

Sedangkan Sakinah secara etimologi berasal dari sakana-yaskunu berarti sesuatu yang tenang atau tetap setelah bergerak (tsubutu as-sya‟I ba‟da taharruk) pisau dalam bahasa arab disebut Sikkin, karena ia adalah alat yang membuat binatang yang disembelih menjadi tenang, tidak bergerak yang sebelumnya meronta.

Dan juga Sakinah secara terminologi diartikan dengan damai atau tenang dan tentram semakna dengan Sa‟adah (bahagia), keluarga yang penuh rasa kasih sayang dan memperoleh rahmat Allah SWT.18

Sedangkan sakinah dalam kamus bahasa Arab berarti; al- Waqar,athtthuma‟ninah, dan al-mahabbah (ketenangan hati, ketentraman dan kenyamanan). Imam ar-Razi dalam tafsirnya al-Kabir menjelaskan sakana ilaihi berarti merasakan ketenangan batin, sedangkan sakana indahu berarti merasakan ketenangan fisik. Dalam Al-Qur‟an surat al-Fath ayat 4 disebutkan bahwa Allah SWT memberikan kedamaian dan ketentraman di dalam hati manusia yang berbunyi :

16 Zidan Abdul Baqi, Sukses Keluarga Mendidik Balita, (Jakarta: Pena Pundi Aksara,2005).7

17Depertemen Agama RI, Al-Qur‟an Tajwid dan Terjemah, (Bandung : C.V.

DiPonegoro,2010).274

18 Eka Prasetiawati, Penafsiran Ayat-Ayat keluarga Sakinah , Mawaddah,Warahmah dalam Tafsir Al-Misbah dan Ibn Katsir,NIZHAM, VOL. 05 NO.02 Juli-Desember 2017

(29)









































“Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi dan adalah Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.”(QS.al-Fath,4).19

Menurut Quraish Shihab kata sakinah berarti ketenangan atau antonim kegoncangan, ketenangan disini ialah ketenangan yang dinamis dalam setiap rumah tangga ada saat dimana terjadi gejolak, namun dapat segera tertanggulangi dan akan melahirkan sakinah. Sakinah bukan hanya yang tampak pada ketenangan lahir, tetapi harus disertai dengan kelapangan dada, budi bahasa yang halus dilahirkan oleh ketenangan batin akibat menyatunya pemahaman dan kesucian hati dan bergabungnya kejelasan pandangan dengan tekad yang kuat kehadiran sakinah tidak datang begitu saja, tetapi ada syarat kehadirannya, hati harus disiapkan dengan kesabaran dan ketaqwaan.20

Jadi, Istilah Keluarga Sakinah adalah dua kata yang saling melengkapi, kata sakinah sebagai kata sifat,yaitu untuk menyifati atau menerangkan kata keluarga. Keluarga sakinah diartikan dengan keluarga yang tentram, tenang, bahagia, dan sejahtera lahir batin serta dilandasi dengan rasa cinta dan kasih sayang. Dalam hal ini Islam menetapkan bahwa tujuan pernikahan adalah membentuk keluarga sakinah yang di landasi dengan mawaddah dan warahmah.21

Tidak mudah membangun keluarga yang sakinah. Ia merupakan bentangan proses yang sering menemui badai. Untuk menemukan formulanya bukan hal yang sederhana. Kasus-kasus keluarga yang terjadi disekitar kita bisa diambil pelajaran yang sangat penting bagi kita untuk menjadi cerminan dalam membangun sebuah, apabila membangun rumah tangga yang terjalin cinta antara

19 Depertemen Agama RI, Al-Qur‟an Tajwid dan Terjemah, (Bandung : C.V.

DiPonegoro,2010).511

20M. Quraish Shihab, Pengantin Al-Qur‟an : Kalung Permata Buat Anak-anakku,(Cet, 1;Jakarta: Lentera, 2007).80-82

21Ainur Rahim Faqih, Bimbingan dan Konseling dalam Islam, (Yogyakarta: UII Press, 2001), 70.

(30)

suami dan istri, maka diperlukan adanya penerapan sistim keseimbangan peranan, maksudnya disamping perannya sebagai suami dan peranannya sebagai istri juga mejalankan peranan seperti tugas sehari-hari. Maka dari itu, tujuan adanya pernikahan adalah untuk melanjutkan keturunan dan tujuan laini-lainnya.22

Dengan demikian dapat dirumuskan bahwa pengertian keluarga sakinah adalah keluarga yang dibina atas perkawinan yang sah. Mampu memberikan kasih sayang kepada anggota keluarga sehinngga mereka memiliki rasa aman,tentram damai serta bahagia.23 Dan juga mampu memenuhi hajat hidup spiritual dan material secara layak dan seimabang, diliputi suasana kasih sayang antar anggota keluarga dan lingkungannya dengan selaras, serasi serta mampu menghayati dan memahami serta mengamalkan nilai-nilai keimanan,ketaqwaan dan akhlaq mulia.24

B. Unsur-unsur terbentuknya keluarga sakinah

Keluarga sakinah perlu direncanakan mulai dari masa pra pernikahan, masa nikah bahkan paska nikah. Upaya perencanaan keluarga sakinah pada masa pra nikah antara lain dapat dilakukan dengan cara memastikan bahwa calon mempelai sama-sama rela untuk menjadi suami istri dan sama-sama telah dewasa secara fisik, mental, maupun sosial untuk bersama mengemban kewajiban dalam keluarga, pemiliharaan sakinah pada masa nikah antara lain dapat dilakukan dengan pembagiaan peran fleksibel dalam memenuhi kebutuhan keluarga, pada prinsipnya siapa pun yang lebih kuat secara ekonomi, pendidikan , maupun fisik harus melindungi dan memberdayakan yang lebih lemah.

Sakinah paska pernikahan adalah situasi dimana sakinah gagal diraih dalam keluarga dan perceraian disepakati sebagai jalan keluar, maka proses perceraian agar mempertimbangkan keinginan semua pihak baik suami, istri, maupun anak- anak, setelah cerai terjadi mesti ada jaminan bahwa kewajiban orang tua atas

22Ela Sartika, Dede Rodiana dan Syahrullah, Keluarga Sakinah dalam Tafsir Al-Qur‟an (Studi komparatip penafsiran Al-Qur‟an dalam Tafsir Jami‟ Li Ahkam Al-Qur‟an Wahbah Zuhaili dalkam Tafsir Al-Munir),Al-Bayan : Jurnal Studi Al-Qur‟an dan Tasir 2,2 (Desember 2017).108

23S.Mahmudah Noorhayati, Konsep Qona‟ah dalam Mewujudkan Keluarga Sakinah Mawaddah dan Rahmah,vol.7 No. 2, Desenber 2016.69

24Ajamulis, Membentuk Keluaraga Sakinah Dalam Upaya Mewujudkan ketahanan Keluarga, (Kantor Kemenag , kab. Bengkulu Tenngah prov. Bengkulu 2013.4

(31)

anak-anak mereka dapat terpenuhi dengan baik karena anak selamanya anak orang tuanya.

Tuntunan Islam begitu lengkap tentang proses yang seharusnya dilalui oleh laki-laki dan wanita untuk memasuki hidup berumah tangga, proses tersebut diawali dengan memilih pasangan hidup dianjurkan mempertimbangkan kriteria Agama, disamping factor keturunan, performance, dan ekonomi.25

1. Memilih pasangan yang ideal

Setiap manusia mempunyai jodohnya masing-masing dan jodoh kita ada ditangan tuhan. Ya, karena pena Ilahi telah mencatat semua yang akan terjadi hingga hari kiamat kelak. Di antara yang dicatat di lauh mahfuzh itu adalh masalah jodoh. Oleh sebab itu,tidak perlu cemas, resah khawatir, takut atau bahkan terburu-buru untuk mendapatkan jodoh.

Meskipun demikian, bukan berarti jodoh tidak perlu dicari. Tetapi perlu adanya ikhtiar untuk menjemput jodoh itu. Ingat, mencari jodoh yang baik adalah syarat utama membentuk generasi Rabbani, penerus peradaban, umat yang kelak dibanggakan Rasulullah karena tidak hanya jumlahnya yang banyak, tetapi karena ketaatannya pada Agama.26

2. Membina dan Menanamkan Nilai-Nilai agama dalam Keluarga

Dalam upaya membentuk keluarga sakinah, peran agama menjadi sangat penting. Ajaran agama tidak cukup hanya diketahui dabn pahami akan tetapi harus dapat dihayati dan diamalkan oleh setiap anggota keluarga sehingga kehidupan dalam keluarga tersebut dapat mencerminkan suatu kehidupan yang penuh dengan ketentraman, keamanan dan kedamaian yang dijiwai oleh ajaran dan tuntunan agama.

Setiap anggota keluarga harus senantiasa berusaha dekat kepada Allah dengan cara melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangannya, sebab

25Ultami, Keluarga Sakinah dalam perspektif Islam (Studi Terhadap Pasangan Yang Berhasil Mempertahankan Keutuhan Perkawinan di kota Padang), (Jakarta: Kementrian Agama RI, 2011).177

26Ahmad Haikal dan Abu Zahwa, Buku Pintar Keluarga Sakinah,(Cet,1 Jakarta: Qultum Media,2010).5

(32)

dengan kedekatan kepada Allah akan terwujud nilai-nilai keimanan dan ketaqwaan yang dapat mempermudah penyelesaian urusan atau permasalahan dalam rumah tangga serta mendatangkan rahmat dan berkah dari Allah SWT, sebagaimana Allah SWT berfirman dalam surat Atthalaq ayat 1dan 2 yang berbunyi :































 

























“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan Mengadakan baginya jalan keluar.dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.

dan Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah Mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.”(QS,At-Thalaq :2-3).27

Rumah tangga yang beriman dan bertaqwa kepada Allah akan terliahat dalam pengalaman ibadah sehari-hari, disamping itu juga akan terlihat semakin membaiknya hubungan dengan kerabat, tetangga dan masyarakat lingkungannya.28

3. Membina Hubungan Antara keluarga dan lingkungan

Keluarga dalam lingkungan yang lebih besar tidak hanya terdiri dari ayah, ibu dan anak akan tetapi menyangkut hubungan persaudaraan yang lebih besar lagi, baik hubungan antara anggota keluarga maupun hubungan dengan lingkungan masyarakat.

Hubungan yang harmonis antara suami istri dan anggota keluarga tidak akan terjadi dengan sendirinya, tetapi keharmonisan membutuhkan usaha yang sungguh-sungguh, ibarat sebatang tanaman yang perlu di sirsam, di pupuk dan dirawat serta dibersihkan dari hama agar dapat tumbuh dengan akar dan batang

27Depertemen Agama RI, Al-Qur‟an Tajwid dan Terjemah, (Bandung : C.V.

DiPonegoro,2010).558

28Ajamulis, Membentuk Keluaraga Sakinah Dalam Upaya Mewujudkan ketahanan Keluarga, (Kantor Kemenag , kab. Bengkulu Tenngah prov. Bengkulu 2013).5

(33)

yang kuat. Oleh karena itu cint, kasih dan sayang perlu dijaga dan dipelihara dengan jalan membangun komunikasi yang kondusif dan edukatif, meluangkan waktu untuk keluarga, saling pengertian, saling hormat menghormati antara satu dengan yang lainnya.29

4. Menanamkan Sifat Qona’ah dalam Keluarga

Sifat Qona‟ah perlu ditumbuh kembangkan dalam keluarga, sebab dengan sifat qonaah suami atau istri merasa rela dan cukup atas apa yang dimiliki.

Apalagi dalam era globalisasi yang ditandai denga tingginya tuntutan kebebasan individu dan hak zasi, menonjolkan sifat naterialistis ditengah masyarakat akan dapat menagancam ketentraman rumah tangga. Oleh karena itu sifat qona‟ah harus menjadi benteng dalam rumah tangga agar keharmonisan kehidupan rumah tangga dapat terpelihara serta keretakan dan kehancuran rumah tangga dapat dihindari.

C. Karakteristik Keluarga Sakinah

1. Lurusnya Niat (Islah al-Niyyah) dan Kuatnya Hubungan dengan Allah (Quwwati Sillah Fi llah)

Motivasi menikah bukanlah semata untuk memuaskan kebutuhan biologis atau fisik. Menikah merupakan salah satu tanda kebesaran Allah SWT sebagai mana diungkap dalam Al-Qur‟an yang berbunyi :











































“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang.

Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.”(Q.S.Al.Rum :21).30

Sehingga bernilai sakral dan signifikan. Menikah juga merupakan perintah Allah SWT yang berbunyi :

29Ibid,6

30Depertemen Agama RI, Al-Qur‟an Tajwid dan Terjemah, (Bandung : C.V.

DiPonegoro,2010).406

(34)





































“Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba- hamba sahayamu yang perempuan. jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. dan Allah Maha Luas (pemberian- Nya) lagi Maha mengetahui.Maksudnya hendaklah laki-laki yang belum kawin atau wanita- wanita yang tidak bersuami, dibantu agar mereka dapat kawin.”(Q.S. Al-Nur :32).31

Yang berarti suatu aktifitas yang bernilai ibadah dan merupakan sunnah Rasul dalam kehidupan sebagaimana ditegaskan dalam satu hadis, “Barang siapa yang dimudahkan baginya untuk menikah, lalu ia tidak menikah maka tidaklah ia termasuk golongan ku” (HR. al-Thabrani dan al-Baihaqi).32

2. Kasih Sayang

Quraish Shihab menyatakan bahwa keluarga merupakan sekolah bagi setiap anggota keluarga. Landasan utama kasih sayang ini adalah saling mencintai karena Allah (Mahabbah Fi llah) antara suami istri dan segenap anngota keluarga.

Hal ini merupakan salah satu perekat terpenting dalam membangun keluarga sakinah dan merekatkan persahabatan di antara mereka.33

Munculnya cinta karena Allah SWT. Di sebabkan karena setiap anggota keluarga memiliki keimanan dan melakukan ketaatan kepadanya. Jika ada yang tidak disukainya dari salah satu anggota keluarga, hal itu karena ia tidak rela melihat salah satu anggota keluarga nya melakukan kemaksiatan dan kemungkaran kepada Allah SWT.Rasulullah SAW bersabda,”siapa saja yang memberi karena Allah,menolak karena Allah, mencintai karena Allah, membenci karena Allah, dan menikah karena Allah, berarti ia telah sempurna imannya”

(HR. Al-Hakim)

31Ibid.354

32Siti Chadijah,Karateristik Keluarga Sakinah dalam Islam,Rausyan Fikr. VOL .14 NO. 1 maret 2018

33Quraish Shihab , Membumikan Al-Qur‟an : Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat,( Bandung : Mizan 2002).255

(35)

Dalam proses perwujudan keluarga sakinah. Ikatan kasih sayang antara anak dan orang tua ini mempunyai peran yang sangat penting. Curahan kasih sayang yang diberikan oaring tua dapat menciptakan kesan yang sangat kuat didalam hati dan benak anak. Perasaan kasih inilah yang berperan membentuk jiwa, sekaligus membangun kepribadiaannya. Para pakar psikologi menjelaskan bahwa perasaan seorang anak kecil terhadap curahan cinta, respon, dan interaksi orang-orang disekitarnya terhadap dirinya sangat penting dalam membantu pertumbuhan emosional dan kejiwaan, bahkan kecerdasan anak.34

3. Komunikasi dan Musyawarah

Pernikahan adalah menyatukan dua orang yang erasal dari latar belakang yang berbeda dan dua keluarga yang berbeda. Karena itu, suami istri perlu saling memahami kelebihan dan kekurangan masing-masing, serta menerimanya dengan lapng dada tanpa ada penyesalan yang berkepanjangan. Kadangkala suami mempunyai kelebihan dalam kemampuan berkomunikasi. Sedangkan istrinya kuarang. Sebaliknya, istri memiliki kemampuan manajemen, sedangkan suaminya lemah. Kelebihan yang ada pada salah satu pasangan tidak menunjukkan ketinggian orang tersebut, demikian juga kekurangan yang ada pada seseorang tidak menunjukkan dia rendah. Tinggi rendahnya manusia di sisi Allah SWT adalah karena ketaqwaan.35 sebagai mana disebutkan dalam Al-Qur‟an :



























 













“Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara

34Izzat Iwadh Khalifah, Kiat Mendidik Anak, terjemahan Rahmad Nurhadi, (Jakarta:

Pustaka Qalam, 2004), 17.

35Siti Chadijah,Karateristik Keluarga Sakinah dalam Islam,Rausyan Fikr. VOL .14 NO. 1 maret 2018.123

(36)

kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.”(QS.Al- Hujurat :13).36

Saling memahami akan menjadikan suami istri berempati terhadap pasangannya sehingga tidak mudah saling berburuk sangka. Sikap saling empati atau memahami tidak berarti toleran terhadap kesalahan dan kelemahan yang dapat merugikan pasangannya. Namun, sikap ini memudahkan suami istri untuk untuk berpikir jernih sebelum memberikan pendapat, kesimpulan maupun penilaian. Kejernihan berfikir akan dapat memudahkan seseorang untuk bersikap dengan tepat dan benar terhadap pasangannya. Dengan itu, masing-masing akan terhindar dari kesalah pahaman yang memunculkan perselisihandan pertengkaran.

Keluarga sangat besar pengaruh dan perannanyadalam mewujudkan komunikasi yang hangat antara orang tua dan anak terutama peran ayah (suami). Dalam keluarga sakinah seorang ayah adalah ia yang mampu mewujudkan suasana keluarga yang harmonis dan komunikatif, sehingga tercipta komunikasi yang dialogis antara orang tua dan anak. Menurut hasan basri, komunuikasi dalam keluarga memiliki beberapa fungsi. Pertama , sarana untuk mengungkapkan kasih sayang; Kedua, media untuk menyatakan penerimaan atau penolakan atas pendapat yang disampaikan; ketiga,saran untuk menmbahkan keakraban hubungan sesame anggota keluarga dan keempat menjadi barometer bagi baik buruknyakegiatan komunikasi dalam sebuah keluarga.37

Dengan demikian,komunikasi yang baik dapat melahirkan hubungan yang baik pula. Sehingga dari sinilah dapat diperoleh keuntungan yang luas dalam kehidupan keluarga, seperti keutuhan keluarga, kasih sayang dantanggung jawab semakin bertambah besar,prestasi belajar anak semakin membaik tarapmkesehatan mental keluarga, semangat kerja pergaulan sosial, kepuasan hubungan suami istri, dan hugungan emosional anggota keluarga yang semakin kuat, seta tarap kemampuan dalam menghadapi persoalan keluarga dan kehidupan pada umumnya yang semakin kompleks. Terciptanya komunikasi yang dialogis

36Depertemen Agama RI, Al-Qur‟an Tajwid dan Terjemah, (Bandung : C.V.

DiPonegoro,2010).517

37Hasan Basri, Keluarga Sakinah, Tinjauan Psikologi dan Agama,( Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 1995 ).80.

Referensi

Dokumen terkait

Limbah rumah sakit adalah semua limbah yang dihasilkan dari kegiatan rumah sakit dalam bentuk padat, cair, pasta (3tr4 maupun gas yang dapat mengandung mikroorganisme

Zbog svojstva monotonosti invertibilnosti funkcije pomiˇcnog ruba, Stefanov problem moˇzemo prikazali u obliku paraboliˇcke varijacijske nejednakosti za koje smo pokazali egzistenciju

Hasil penelitian menunjukkan tidak bahwa terdapat perbedaan yang nyata (P>0,05) terhadap fenomena kelenturan fenotipik dalam sifat-sifat reproduksi (umur dewasa kelamin,

Atas dasar latar belakang yang dikemukakan di atas, pertanyaan utama yang muncul adalah: “Bagaimana diversifikasi kurikulum di bumi Nusantara tercinta ini diwujudkan?”. Apabila

Pada pengujian dengan hasil pelatihan menggunakan transfer learning, dilakukan pengujian terhadap mekanisme pengeluaran label yaitu top-3, top-5, dan threshold, terhadap

Peran sektor transportasi yang terus mengalami peningkatan di Kabupaten Magetan dengan pola pertumbuhan yang signifikan berupa rerata pertumbuhan pendapatan unit penghasil sektor

Telah dikemukakan bahwa teori atribusi untuk mengembangkan penjelasan dari cara-cara kita menilai orang secara berlainan, bergantung pada makna apa yang kita hubungkan kesuatu

Mereka yang kebutuhannya terpenuhi oleh toko kain setempat dan yang mungkin tidak bersedia atau tidak bisa melakukan perjalanan melintasi negara bagian