1
LAPORAN PENELITIAN
IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN MULTIKULTURAL PADA LEMBAGA PENDIDIKAN ANAK USIA DINI
DI NEGERI SYARIAT ISLAM
(STUDI DI TAMAN KANAK-KANAK BUDI DHARMA KABUPATEN ACEH TENGAH)
Disusun Oleh:
ELIYYIL AKBAR, M.Pd.I
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI GAJAH PUTIH TAKENGON ACEH TENGAH ACEH
TAHUN 2018
2
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah penelitian berjudul “Implementasi Pembelajaran Multikultural Pada Lembaga Pendidikan Anak Usia Dini Di Negeri Syariat Islam (Studi Di Taman Kanak-Kanak Budi Dharma Kabupaten Aceh Tengah)” ini akhirnya tersusun. Ungkapan terima kasih yang tak terhingga penulis tujukan kepada semua pihak yang telah mencurahkan tenaga dan pikiran demi kelancaran penelitian ini. Pihak-pihak tersebut di antaranya adalah Dr. Zulkarnain,M.Ag selaku Ketua STAIN Gajah Putih Takengon, Aceh beserta jajarannyayang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk melakukan penelitian yang didanai Instansi, Ketua Jurusan pada STAIN Gajah Putih. Selanjutnya penulis menyampaikan terima kasih kepada teman-teman yang meluangkan waktu demi hasil laporan ini. Semoga kebaikan kalian disaksikan seluruh alam dan maqbulan
‘inda Allah. Amin. Kesuksesan penyusunan karya ini juga tidak lepas dari kasih sayang dan do’a restu Ibu tercinta, yang selalu mengingatkan penulis kalimat kalimat beliau “ sepiro gedene sengsoro yen tinompo mung dadi cobo” dan “ojo sumelang, Allah Ora Sare”. Malaikat-malaikat kecilku Barqia, Bihar, serta Balqis, they always color the days of mine. Penyusunan karya ini tentu saja tidak terlepas dari kekurangan ataupun keterbatasan. Maka dari itu, kritik dan saran senantiasa diharapkan demi perbaikan lebih lanjut. Penulis berharap karya ini dapat memberikan sumbangsih dan manfaat khususnya bagi penulis sendiri, sekaligus bagi para pembaca pada umumnya.
3
4 DAFTAR ISI
Halaman Judul ...
Pernyataan Keaslian ...
Pengesahan …………...
Abstrak ...
Kata Pengantar ...
Daftar Isi ...
Daftar Tabel ...
Daftar Gambar ...
i ii iii iv v vi vii vii BAB I :
BAB II :
BAB III :
BAB IV :
PENDAHULUAN ...
A. Latar Belakang ...
B. Rumusan Masalah ...
C. Tujuan Penelitian ...
D. Manfaat Penelitian ...
E. Kajian Pustaka ...
F. Penjelasan Istilah ...
TINJAUAN PUSTAKA ...
A. Konsep Pembelajaran Multikultural ...
B. Pendidikan Anak Usia Dini ...
C. Pelaksanaan Syariat Islam di Aceh ...
METODOLOGI PENELITIAN ...
A. Metode dan Pendekatan Penelitian ...
B. Objek dan Subjek Penelitian ...
C. Teknik Pengambilan Subjek ...
D. Teknik Pengumpulan Data ...
E. Instrumen Penelitian ...
F. Teknik Analisa Data ...
G. Prosedur Penelitian ...
DESKRIPSI DAN PEMBAHASAN PENELITIAN……...
A. Deskripsi dalam Penelitian ...
1. Gambaran Umum Taman Kanak-Kanak Budi Dharma 2. Gambaran Impelentasi Pembelajaran Multikultural di Lembaga PendIdikan Anak Usia Dini pada Taman Kanak-Kanak Budhi Dharma Kabupaten Aceh Tengah
...
3. Gambaran Nilai-nilai multikultural yang diterapkan pada Pembelajaran Multikultural di Lembaga Pendidikan Anak Usia Dini pada Taman Kanak- Kanak Budhi Dharma Kabupaten Aceh Tengah...
1 1 7 8 8 9 12 14 14 49 55 57 59 52 60 60 63 64 66 67 67 67 68
91
5 BAB V :
4. Hasil Pembelajaran Multikultural di Lembaga PendIdikan Anak Usia Dini pada Taman Kanak- Kanak Budhi Dharma Kabupaten Aceh Tengah...
B. Pembahasan dalam Penelitian ...
1. Gambaran Impelentasi Pembelajaran Multikultural di Lembaga PendIdikan Anak Usia Dini pada Taman Kanak-Kanak Budhi Dharma Kabupaten Aceh Tengah...
2. Gambaran Nilai-nilai multikultural yang diterapkan pada Pembelajaran Multikultural di Lembaga Pendidikan Anak Usia Dini pada Taman Kanak- Kanak Budhi Dharma Kabupaten Aceh Tengah...
3. Hasil Pembelajaran Multikultural di Lembaga PendIdikan Anak Usia Dini pada Taman Kanak- Kanak Budhi Dharma Kabupaten Aceh Tengah...
PENUTUP ...
A. Kesimpulan...
B. Saran...
103
107 107
111
113
115 115 116 DAFTAR PUSTAKA ...
6 BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Polemik isu tentang pendidikan multikultural sering dibahas oleh akademisi pendidikan, kalangan agama, politik, sosial maupun budaya. Kemajemukan bangsa Indonesia tidak dapat dipungkiri karena merupakan wilayah yang terdiri dari suku, bahasa, adat istiadat, agama serta budaya. Masyarakat Indonesia juga dikenal sebagai masyarakat multikultural karena anggotanya terdiri dari berbagai latar belakang agama dan budaya yang beragam, oleh karena itu bangsa Indonesia dapat disebut bangsa yang bersifat multikulturalisme yang tidak menutup kemungkinan munculnya konflik etnis, sosial, budaya yang menjadikan runtuhnya dunia pendidikan pada masa depan. Hal tersebut sebagaimana kondisi sosio- kultural maupun geografis yang beragam yang terdiri dari sekitar tiga belas ribu jumlah pulau di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Selain itu populasi penduduknya lebih dari dua ratus juta jiwa yang terdiri dari tiga ratus suku dan dua ratus bahasa yang berbeda, bahkan keyakinannya sangat beragam terdiri dari Islam, Katolik, Kristen, Protestan, Hindu, Budha, Konghucu serta berbagai aliran kepercayaan yang belum disahkan pemerintah.
Secara konseptual sebenarnya multikulturalisme tidak sama dengan konsep keberagaman atau keanekaragaman. Konsep multikuluralisme selain mengandung unsur keberagaman agama dan budaya juga mengandung unsur kesederajatan.
Bentuk konkrit dari bagian multikulturalisme yang menimbulkan berbagai permasalahan yang dihadapi bangsa adalah premanisme, perseteruan politik,
7
kemiskinan, kekerasan, perusakan lingkungan dan lunturnya sifat kemanusiaan untuk menghormati hak orang.
Tawuran dan bentrokan terjadi di mana-mana, antar pendukung kesebelasan sepak bola, tawuran antar mahasiswa, tawuran antar pelajar, dan tawuran antar penonton pagelaran musik. Ini menunjukkan bahwa rasa kebersamaan warga masyarakat sudah hilang, yang ada perbedaan idelogi dan kepentingan, apabila berbeda kepentingan dan ideologi dianggap lawan. Pembunuhan dipandang sebagai ritual keagamaan. Sehingga dilakukan dengan perbuatan terstruktur dengan kekuasaan, modal dan pengetahuan dijadikan alat untuk mendominasi dan menguasai kelompok minoritas orang-orang tidak berdosa dan tidak berpengetahuan.
Tanggung jawab untuk problem solving konflik yang melanda di tengah- tengah masyarakat berada pada pundak kalangan pendidikan dengan memberikan penyadaran kepada masyarakat bahwa konflik bukan hal yang untuk dibudayakan dan diberdayakan. Penyadaran tersebut dengan memberikan tawaran design materi, metode hingga kurikulum yang mampu menyadarkan masyarakat akan pentingnya sikap toleran, menghormati perbedaan yang multikultural karena peran pendidikan adalah sebagai media transformasi sosial, budaya dan multikulturalisme. Wacana mutikulturalisme sangat dibutuhkan untuk menginternalisasi nilai multikultural pada tiap individu dengan harapan dapat menghasilkan pemahaman keberagaman inklusif, toleran dan terbuka.
Dulu keberagaman merupakan kekayaan bangsa yang paling dibanggakan, dibangun atas dasar tujuan dan kepentingan bersama yaitu kemerdekaan
8
Indonesia.1 Multikulturalisme merupakan kekayaan bangsa yang tak ternilai harganya, sebagai potensi yang dikembangkan dan dibina. Sebaliknya apabila keberagaman ini tidak dimanfaatkan dan dibina secara benar akan berkembang menjadi sesuatu yang menakutkan. Oleh karena itu, pendidikan yang berbasis multikulturalisme merupakan suatu keharusan dan apabila tidak dilakukan saat ini akan berubah menjadi malapetaka, pendidikan multikultural adalah “conditio cine quanon”. Konsep Bourdieu multikulturlisme ini pada gilirannya dapat menjadi modal-modal terwujud kesatuan dalam perbedaan (unity in diversity).
Multikulturalisme sebagai dasar kebijakan politik dalam demokratisasi, pendidikan, kebudayaan, lebih jauh seperti disebutkan oleh Azra terkait dengan pencapaian civility (keadaban), democratic civility, humanness.2 Dengan demikian, pendidikan menjadi faktor intrumental dalam konteks Negara Kesatuan Republik Indonesia.3
Pengembangan nilai-nilai multukuturalisme perlu dikembangkan sejak usia dini karena anak merupakan investasi yang sangat penting untuk mempersiapkan sumber daya manusia (SDM) di masa depan. Sejauh ini cara yang efektif untuk memberikan pemahaman adalah melalui pendidikan. Multikultural bisa dibentuk melalui proses pembelajaran, yaitu dengan menggunakan pembelajaran berbasis multikultural. Pembelajaran berbasis multikultural merupakan proses pembelajaran yang lebih mengarah pada upaya menghargai perbedaan di antara
1 Kuswaya Wihardit, Pendidikan Multikultural: Suatu Konsep, Pendekatan dan Solusi, Jurnal Pendidikan, Volume 11 nomer 2, September 2010, 96.
2Irwan Abdullah, Berpihak pada Manusia: ParadigmaNasional Pembangunan Indonesia Baru. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.2010, hal.21
3Edward Said, Orientalisme: Menggugat HegemoniBarat dan Menundukkan Timur Sebagai Subjek. Achmad Fawaid(Penerjemah). Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010, h.9
9
sesama manusia sehingga terwujud ketenangan dan ketentraman dalam tatanan kehidupan masyarakat. Pendidikan multikultural juga didefinisikan sebagai
"pendidikan tentang keragaman kebudayaan dalam merespon perubahan kependudukan (demografis) dan kultural lingkungan masyarakat tertentu atau bahkan dunia secara keseluruhan.4
Pendidikan merupakan salah satu hal yang penting untuk diberikan sejak usia dini. Pendidikan merupakan investasi masa depan yang diyakini dapat memperbaiki kehidupan suatu bangsa. Pendidikan anak usia dini adalah suatu upaya pembinaan sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian stimulus untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani serta rohani, agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan yang lebih lanjut. Pendidikan anak usia dini diselenggarakan dengan tujuan memfasilitasi pertumbuhan dan perkembangan anak secara menyeluruh, karena usia dini merupakan fase yang fundamental dalam mempengaruhi perkembangan anak.
Kasus yang ditemui di lapangan terkait intoleran sesama anak usia dini adalah adanya anak yang saling mengejek mengenai status sosial, perbedaan budaya, perbedaan agama, warna kulit, dan perbedaan dialek. Padahal menurut Undang- undang Nomor 20 tahun 2003, tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 4 mulai butir (1) sampai dengan butir (6) menunjukkan bahwa multikulturalisme menjadi landasan bagi penyelenggaraan pendidikan di Indonesia. Oleh karena itu, menyelenggarakan Pendidikan Multikultural menjadi kewajiban sekolah sesuai
4Choirul Mahmud, Pendidikan Multikultural, cet. 3, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar,2009), hlm. 176.
10
dengan bunyi Pasal 4 butir (1) bahwa: “Pendidikan diselenggarakan secara demokratis dan berkeadilan serta tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai keagamaan, nilai kultural, dan kemajemukan bangsa”.
Dalam Pasal 36 butir (3) berbunyi bahwa kurikulum disusun sesuai dengan jenjang pendidikan dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan memperhatikan peningkatan iman dan takwa; peningkatan akhlak mulia;
peningkatan potensi, kecerdasan, dan minat peserta didik; keragaman potensi daerah dan lingkungan; tuntutan pembangunan daerah dan nasional; tuntutan dunia kerja; perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni; agama;
dinamika perkembangan global; dan persatuan nasional dan nilai-nilai kebangsaan.
Pendidikan seyogyanya mengembangkan kemampuan untuk mengakui dan menerima nilai-nilai yang ada dalam kebhinnekaan baik pribadi, jenis kelamin, masyarakat dan budaya serta mengembangkan kemampuan untuk berkomunikasi, berbagi dan bekerja sama dengan yang lain. Budaya yang dimaksud adalah tradisi nenek moyang yang dijalankan secara turun temurun dan menjadi kebijaksanaan lokal. Secara alami kebijaksanaan lokal muncul untuk mengatasi konflik.
Kebijaksanaan lokal dapat mengkondisikan untuk dapat hidup rukun kembali atau paling tidak, dapat memperkecil kemungkinan terjadi kekerasan. Ini berarti masyarakat telah melakukan institutional development, yaitu memperbaharui institusi-institusi lama yang pernah berfungsi baik. Upaya-upaya menyelesaikan, meredam dan mengantisipasi terjadinya konflik berdasarkan kebijaksanaan lokal ini dilakukan oleh masyarakat khususnya penegak syariat Islam. Tradisi lokal itu
11
telah berfungsi sebagai landasan masyarakat multikultural yang menuju kepada keragaman subkultur, keanekaragaman perspektif, dan keanekaragaman komunal.
Inilah yang disebut kesatuan dalam keragaman (unity in diversity) yang dilambangkan dalam semboyan Bhinneka Tunggal Ika, berbeda-beda tetapi satu tujuan.
Formulasi bentuk keyakinan dan pengamalan kepada Tuhan bisa berbeda- beda namun tetap memperkuat Negara Kesatuan Republik Indonesia. Oleh sebab itulah sebagai warganegara, khususnya penegak syariat Islam memberikan pengakuan dan penghargaan terhadap setiap warga masyarakat untuk beribadah menurut agamanya dan kepercayaannya itu. Hal inilah yang menjadi filosofi dasar bangsa Indonesia. Walaupun pluralitas pada daerah penegak syariat Islam pada umumnya rawan menimbulkan konflik. Namun, dalam praktek kehidupan sehari- hari masyarakat tersebut telah berlangsung hubungan yang dialektis antar pemeluk agama itu dengan budaya lokal, sehingga terciptalah masyarakat yang rukun, damai dan harmoni. Dengan kata lain, faktor integratif berupa supra cultur atau local geniuses daerah di Indonesia dapat dijadikan bahan dasar untuk demokratisasi dan multikulturalisme.
Sebagaimana saat peneliti melakukan observasi di Taman Kanak-Kanak Budidharma guru mengajarkan anak untuk saling toleransi satu sama lain.
Keragaman agama dan suku pada lembaga pendidikan anak menjadi tugas tersendiri bagi guru untuk mengakomodir pendidikan multikultur. Anak belajar menerima perbedaan dengan pelayanan yang sama tanpa pandang bulu di lembaga pendidikan anak daerah penegak syariat Islam. Sehingga diharapkan anak-anak
12
mampu menerima keberagaman yang ada tanpa harus kehilangan jati dirinya sebagai warga negara Indonesia yang sejatinya berkarakter luhur, sehingga diharapkan mampu memperkuat persatuan dengan adanya multikulturalisme serta menghindarkan anak dari sikap diskriminatif. Penerapan pendidikan multikultural menjadikan ketertarikan bagi peneliti sebagai perwujudan baldatun thoyyibatun serta adil makmur dan sentosa. Dengan adanya perbedaan menjadikan kekaguman tersendiri laksana pelangi nampak suatu keindahan karena campuran yang berasal dari gradasi warna yang berbeda menjadikan ketertarikan bagi peneliti untuk merumuskan dengan sebuah judul Implementasi Pembelajaran MultikulturaPada Lembaga Pendidikan Anak Usia Dini Di Negeri Syariat Islam (Studi Di Taman Kanak-Kanak Budidharma Kabupaten Aceh Tengah).
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, dapat dijadikan rumusan masalah sebagai berikut:
1. Bagaimana implementasi pembelajaran multikultural di lembaga pendidikan anak usia dini Di Taman Kanak-Kanak Budidharma Kabupaten Aceh Tengah?
2. Nilai-nilai multikultural apa saja yang diterapkan pada lembaga pendidikan anak usia dini Di Taman Kanak-Kanak Budidharma Kabupaten Aceh Tengah?
3. Bagaimana hasil pembelajaran multikultural di lembaga pendidikan anak usia dini Di Taman Kanak-Kanak Budidharma Kabupaten Aceh Tengah?
13 C. Tujuan Penelitian
Dengan mengacu kepada rumusan masalah di atas, tujuandilakukannya penulisan ini sebagai berikut:
1. Mengetahui implementasi pembelajaran multikultural di lembaga pendidikan anak usia dini Di Taman Kanak-Kanak Budidharma Kabupaten Aceh Tengah
2. Menjelaskan Nilai-nilai multikultural apa saja yang diterapkan pada lembaga pendidikan anak usia dini Di Taman Kanak-Kanak Budidharma Kabupaten Aceh Tengah
3. Mengetahui hasil pembelajaran multikultural di lembaga pendidikan anak usia dini Di Taman Kanak-Kanak Budidharma Kabupaten Aceh Tengah D. Manfaat Penelitian
Dengan mengacu kepada rumusan masalah di atas, manfaatdilakukannya penulisan ini sebagai berikut:
1. Manfaat teoritis
Secara teoritis manfaat dari penulisan ini adalah:
a. Menambah khasanah pengetahuan tentang pendidikan multikultural anak usia dini
b. secara teori dapat dijadikan tambahan pengetahuan terkait pendidikan multikultural anak usia dini
2. Manfaat praktis
Secara praktisi manfaat dari penulisan ini adalah:
14
a. Secara praktis penelitian dapat ini dijadikan acuan bagi pengembangan Perguruan Tinggi keagamaan khususnya STAIN Gajah Putih Takengon dalam memberikan materi pendidikan multukultural anak bagi mahasiswa progam studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini
b. Sebagai gambaran atau wacana untuk menjelaskan keberagaman yang terdapat di Indonesia, khususnya di lingkungan sekitar anak dan membiasakan sikap moral.
c. Sebagai problem solving guru dalam memecahkan dan mengantisipasi konflik keberagaman, yang sering terjadi di sekolah.
E. Kajian Pustaka
Sejauh pengamatan penulis, penulisan tentang multikultural sudah banyak dikaji. Seperti kajian yang dilakukan olehM. Fadlillah yang berjudul
“Model Kurikulum Pendidikan Multikultural di Taman Kanak-Kanak, tujuan yang ingin dicapai pada penelitian ini adalah untuk mengetahui konsep kurikulum pendidikan multikultural di Taman Kanak-Kanak dan untuk mengetahui model kurikulum pendidikan multikultural. Metode penelitian ini adalah penelitian kualitatif deskriptif. Hasil penelitian ini adalah, pertama konsep kurikulum pendidikan multikultural di Taman Kanak-Kanak sebagai bentuk kurikulum berisi materi pendidikan multikultural yang diberikan untuk pembelajaran masa kanak-kanak untuk memperkenalkan dan menanamkan persatuan, keadilan dan toleransi pada anak. Kedua, model dari pengembangan kurikulum pendidikan multikultural dilakukan dengan
15
menggunakan empat pendekatan yaitu pengapdosian aditif, transformatif dan aksi sosial, dari empat model yang diterapkan adalah pendekatan kontribusi dan pendekatan aditif.5
Penelitian lain yang dilakukan oleh Ahmad Sodli yang berjudul Revitalisasi Kearifan Lokal dalam Masyarakat Multikultural di Kecamatan Lingsar, Lombok Barat dan NTB. Penelitian iini membahas tentang revitalisasi tradisi lokal (perang topat) diberdayakan oleh komunitas sebagai cara untuk mengintegrasikan serta pendukungnya. Metode yang dilakukan adalah kualitatif. Hasil penelitian ini adalah banyak langkah perang yaitu pembersihan senjata suci dan barang turun temurun, membuat tetaring, sebuah tenda yang terbuat dari daun kelapa serta daun bambu. Perang topat ini telah terlihat sebagai cara integrasi masyarakat dalam banyak aspek misalnya untuk mengingat cara KH. Abdul Malik, hewan yang digunakan dan asal dari topat. Tradisi ini dijaga karena untuk merekatkan kerukunan di antara orang.6
Selain itu penelitian yang dilakukan olehAmbar Sri Lestari dengan judul Penerapan Pembelajaran Multikultural Berbasis Teknologi dengan Pendekatan Konstruktivistik. Penelitian ini membahas tentangPenerapan Pembelajaran Multikultural Berbasis Teknologi dengan Pendekatan Konstruktivistik. Hasil yang diperoleh adalah pembelajaran Multikultural Berbasis Teknologi dapat dimaknai dengan pemanfaatan dan penggunaan
5M Fadlillah, “Model Pendidikan Multikultural di Taman Kanak-Kanak”, Jurnal Pembangunan Pendidikan: Fondasi dan Aplikasi, Vol.5 Nomor 1, Juni 2017, hal.42.
6Ahmad Sodli, Revitalisasi Kearifan Lokal dalam Masyarakat Multikultural di Kecamatan Lingsar, Lombok Barat, NTB, Jurnal Analisa, Vol. XVII, No.2, Desember, 2010, hal.187.
16
perangkat teknologi dalam desain pengembangan pembelajaran.
Pembelajaran multikultural ini dapat dilakukan berbagai pada mataajar keagamaan, sosial, dan budaya, sciense dengan menggunakan pendekatan konstruktivistik melalui model R2D2, yaitu Reflektif, Recursive Instructional Design and Development, yang dilakukan melalui empat tahapan, diantaranya defini, design, development dan dissemination. Hasil pengembangan pembelajaran ini akan meningkatkan motivasi dan kesadaran diri pada individu belajar terhadap kemajemukan dan keberagaman agama, bahasan, suku, etnis, ras, kemampuan dan menghargai suatu perbedaan pada masyarakat.7
Setidaknya tiga penulisan ilmiah di atas sudah cukup untuk mewakili penulisan ilmiah lainnya sebagai prior research dalam penulisan ini. Dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara penulisan- penulisan tersebut dengan penulisan ini. Adapun perbedaan penulisan antara lain berbicara tentang objek, penulisanM. Fadlillahobjeknya adalah Taman Kanak-Kanak, penulisan Ahmad Sodli objeknya adalah Masyarakat Multikultural di Kecamatan Lingsar, Lombok Barat dan NTB, sedangkan penelitian ini objeknya adalah Taman Kanak-Kanak Budi Dharma.
Persamaan kajian ini terdapat pada pisau analisis yang digunakan, pada penelitian M. Fadlillah,Ahmad Sodli, Ambar Sri Lestari serta penulis adalah menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif. Penelitian semua ini fokus pada multikultural, namun penelitian M. Fadlillah model
7Ambar Sri Lestari, Penerpan Pembelajaran Multukultural Berbasis Teknologi dengan Pendekatan Konstruktivistik, Zawiyah Jurnal Pemikiran Islam, Volume 1 Nomor 1 Desember 2015, hal.59.
17
kurikulum,Ahmad Sodli fokus pada revitalisasi kearifan lokal, penelitian Ambar Sri Lestari fokus pada basis teknologi dengan pendekatan konstruktivistik. Sedangkan penelitian ini berfokus pada multikultural pada negeri syariat Islam.
Tiga riset terdahulu di atas tentunya menjadi cerminan bagi penulis, sehingga kemudian menghadirkan tema penulisan yang berbeda. Dengan mengacu kepada rumusan masalah yang tertuang sebelumnya, penulisan ini mendeskripsikan implementasi pembeljaran multicultural pada lembaga Pendidikan Anak Usia Dini di Negeri Syariat (Studi di Taman Kanak-Kanak Budi Dharma Kabupaten Aceh Tengah)
F. Penjelasan Istilah
Supaya penulisan ini lebih jelas, maka penulis perlu menjelaskan istilah penting dalam penulisan ini, yaitu Pembelajaran Multikultural Pada Lembaga Pendidikan Anak Usia Dini Di Negeri Syariat Islam (Studi Di Taman Kanak- Kanak Budi Dharma Kabupaten Aceh Tengah). Makna pembelajaran adalah terjemahan dari instruction, yang diasumsikan dapat mempermudah siswa mempelajari segala sesuatu melalui berbagai media, seperti bahan-bahan cetak, program televisi, gambar, audio, dan lain sebagainya. Sehingga semua itu mendorong terjadinya perubahan peranan guru dalam mengelolan proses belajar mengajar, dari guru sebagai sumber belajar menjadi guru sebagai fasilitator dalam belajar mengajar8.
8Jamil Suprihatiningrum, Strategi Pembelajaran: Teori dan Aplikasi. (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2013, hlm.76.
18
Multikultural adalah kata lain dari keanekaragaman kultur atau keanekaragaman budaya. Keanekaragaman kultur terjadi dengan adanya berbagai macam makhluk hidup yang telah memahami diri mereka sendiri, keanekaragaman budaya memiliki akar-akar yang sangat kuat.
Sama halnya yang dikemukakan Siti Imzanah dikutip dalam Masngud bahwa “multikultural berasal dari kata multi yaitu banyak dan kultural yaitu budaya, disimpulkan multikultural mengandung makna adanya pengakuan akan martabat manusia yang hidup dalam komunitasnya dengan kebudayaan masing-masing yang unik”.9
9Masngud, dkk. Pendidikan Multikultural (Pemikiran dan Upaya Implementasinya) ,(Yogyakarta: Idea Press, 2010), hlm.5
19 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Pada bab II ini menjelaskan mengenai landasan teori dan kerangka berfikir.
Landasan teori ini menjelaskan tentang pembelajaran multikultural dan pendidikan anak usia dini. Sedangkan kerangka berfikir menjelaskan tentang pembelajaran multikultural pada anak usia dini.
A. Konsep Pembelajaran Multikultural 1 Pengertian pembelajaran
Belajar dan pembelajaran sering kali menimbulkan kebingungan dalam pembedaan kedua istilah tersebut. Banyak tokoh yang memberikan definisi tentang belajar dan pembelajaran. Pembelajaran berasal dari kata belajar yaitu aktivitas untuk memperoleh pengetahuan, meningkatkan keterampilan, memperbaiki perilaku, sikap dan mengukuhkan kepribadian.
Maksud dari pengertian ini lebih menunjukkan pada perubahan individu, baik ilmu pengetahuan, sikap dan kepribadian. Maksudnya yaitu suatu perubahan dalam pelaksanaan tugas yang terjadi sebagai hasil dari pengalaman dan tidak ada sangkut pautnya dengan kematangan rohaniah, kelelahan, motivasi, perubahan dalam situasi stimulus atau faktor samar lainnya yang tidak berhubungan langsung dengan kegiatan belajar.10
Cronbach yang dikutip Yatim mengemukakan bahwa belajar merupakan perubahan perilaku sebagai hasil dari pengalaman yang berasal
10 Yatim Riyanto, Paradigma Baru Pembelajaran: Sebagai Referensi Bagi Pendidik dalam Implementasi Pembelajaran yang Efektif dan Berkualitas, (Jakarta: Kencana: 2012), 5.
20
dari cara mengamati, membaca, meniru, mengintimasi, mencoba sesuatu, mendengar dan mengikuti arah tertentu.11 Pembelajaran merupakan suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsur-unsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan dan prosedur yang saling mempengaruhi mencapai tujuan pembelajaran.12 Rusman mengutip pendapat Surya mengatakan bahwa pembelajaran merupakan proses yang dilakukan individu untuk memperoleh perubahan perilaku yang baru secara keseluruhan, sebagai pengalaman individu dalam interaksi dengan lingkungan.13 Menurut Hamzah, pembelajaran merupakan kegiatan yang mengupayakan membelajarkan siswa secara integrasi dengan memperhitungkan faktor lingkungan belajar, karakteristik anak.14 Lingkungan belajar akan mempengaruhi suasana belajar anak sehingga penekanan ini lebih dipertajam.
Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran adalah kegiatan atau aktivitas untuk mendapatkan pengetahuan yang akan menjadikan perubahan sikap atau perilaku dan pengetahuan tersebut disesuaikan dengan karakteristik anak. Dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran sebaiknya memperhatikan penataan lingkungan bermain dan pengorganisasian15 kegiatan supaya apa yang telah dirumuskan dalam tujuan pembelajaran dapat tercapai. Adapun penataan lingkungan pembelajaran meliputi:
11 Yatim Riyanto, Paradigma…. 5.
12 Isjoni, Model PembelajaranAnakUsia Dini, (Bandung: Alfabeta, 2010), 55.
13 Rusman, Model-Model Pembelajaran... Ibid, hlm.116.
14 Hamzah B. Uno, Model Pembelajaran; Menciptakan Proses Belajar Mengajar yang Kreatif dan Efektif (Jakarta: Bumi Aksara, 2009), hlm. V.
15 Peraturan Menteri Pendidikan..Ibid., hlm. 21.
21
a. Penataan lingkungan bermain. Penataan ini meliputi menciptakan suasana bermain yang aman, nyaman, bersih, sehat dan menarik, penggunaan alat permainan edukatif memenuhi standar keamanan, kesehatan dan sesuai dengan fungsi stimulasi yang telah direncanakan;
b. Memanfaatkan lingkungan pengorganisasian kegiatan. Dalam melaksanakan pengorganisasian kegiatan meliputi kegiatan dilaksanakan dalam ruangan atau kelas dan di luar ruang atau kelas, kegiatan dilaksanakan dalam suasana yang menyenangkan, kegiatan untuk anak usia 0 - <2 tahun, bersifat individual, pengelolaan kegiatan pembelajaran pada usia 2-<4 tahun dalam kelompok besar, kelompok kecil dan individu meliputi inti dan penutup, pengelolaan kegiatan pembelajaran pada usia 4-≤6 tahun dilakukan dalam individu, kelompok kecil dan kelompok besar meliputi tiga kegiatan pokok yaitu pembukaan, inti dan penutup, melibatkan orang tua atau keluarga.
Dalam pelaksanaan pembelajaran di lembaga PAUD, pengalaman belajar disebut sebagai pembelajaran. Pada pendidikan anak usia dini kompetensi keterampilan lebih fokus dalam melatih motorik, bukan menjadikan anak mahir atau ahli. Jadi dapat dikatakan bahwa pembelajaran adalah perubahan dalam pelaksanaan tugas yang terjadi sebagai hasil dari pengalaman yang berasal dari cara mengamati, membaca, meniru, mengintimasi, mencoba sesuatu, mendengar yang tersusun meliputi unsur-
22
unsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan dan prosedur yang saling mempengaruhi mencapai tujuan pembelajaran. Pembelajaran merupakan kebutuhan setiap manusia dalam melangsungkan hidupnya. Pembelajaran bukan hanya terjadi pada suatu lembaga formal namun ketika terjadi interaksi antara satu orang dengan yang lain, dan orang tersebut mendapatkan perubahan, maka secara otomatis telah terjadi suatu kegiatan pembelajaran.
Menurut Montessori yang dikutip oleh Audrey dan Maureen dalam pembelajaran khususnya anak usia dini berperan penting untuk:16
a. Mempersiapkan dirinya sendiri. Persiapan ini untuk mempersiapkan anak dalam mengoptimalkan perkembangannya. Dengan pembelajaran yang sudah terancang maka aspek perkembangan yang akan dioptimalkan kepada anak menjadi terorganisir. Pembelajaran menyeluruh (holistik) terkait perkembangan anak menjadikan anak untuk lebih siap dalam menempuh pendidikan yang lebih atas.
b. Mempersiapkan lingkungan dan menyediakan lingkungan yang merangsang dan menantang dengan tujuan untuk membantu anak.
Pembelajaran memberikan pengalaman yang aman buat anak.
Pengalaman tersebut disesuaikan dengan lingkungan anak dengan memberikan suasana yang nyaman dan aman. Lingkungan ini dilakukan dengan menciptakan situasi belajar.
Penghubung antara anak dan media pembelajaran. Pembelajaran akan lebih bermakna jika terdapat media atau alat. Dalam kelas Montessori
16 Audrey Curtis, Maureen O’Hagan, Care and Education in Early Childhood: A Student’s Guide to Theory and Practice, (London: RoutledgeFalmer, 2005), hlm. 136
23
pengaturan desain tempat pembelajar diatur dalam rak yang cukup rendah sehingga terjangkau oleh anak. Dalam rak itulah materi disuguhkan kepada anak, dan anak bebas memilih apa yang mereka butuhkan. Materi tersebut merupakan peralatan yang membantu mengembangkan indera anak.
2 Faktor Pembelajaran
Dalam proses belajar banyak faktor yang mempengaruhi selama melakukan proses belajar. Faktor yang mempengaruhi hal tersebut adalah faktor internal dan eksternal. Faktor internal merupakan faktor yang berasal dari dalam diri sendiri seperti kurang lengkapnya anggota tubuh atau kondisi tubuh yang kurang sehat, selain dapat pula dipengaruhi oleh psikologis anak seperti kecerdasan, minat, perhatian, bakat, motif. Adapun factor eksternal meliputi lingkungan keluarga (orang tua, suasana rumah dan kondisi ekonomi keluarga), lingkungan sekolah (kurikulum, hubungan social antar guru dengan anak, anak dengan anak, alat pelajaran, pelaksanaan disiplin sekolah, keadaan sekolah) dan bentuk kehidupan atau lingkungan di masyarakat, corak kehidupan tetangga).17
3 Multikultural
Multikultural adalah keberagaman budaya, sementara secara Etimologis, istilah multikulturalisme dibentuk darai kata multi (banyak), kultur (budaya), dan isme (aliran/paham). Adapaun secara hakiki multikulturalisme itu terkandung pengakuan akan martabat manusia yang hidup dalam komunitasnya dan budaya masing-masing yang unik.
17 Tim Pengembangan Ilmu Pendidikan, Ilmu Dan Aplikasi Pendidikan Bagian 3 Pendidikan Disiplin Ilmu, (Jakarta: Imperial Bhakti Utama, 2007), 329
24
Sedangkan, kultur (budaya) itu sendiri tidak terlepas dari empat tema penting yaitu: agama (aliran), ras (etnis), suku dan budaya. Hal ini mengandung arti bahwa pembahasan multikultur mencakup tidak hanya perbedaan budaya saja, melainkan masuk pula di dalamnya kemajemukan agama, ras maupun etnis.18 Multikultural menurut kamus besar seseorang atau suatu masyarakat yang ditandai oleh kebiasaan menggunakan lebih dari satu kebudayaan.
Multikultural berhubungan dengan kebudayaan dan kemungkinan konsepnya dibatasi dengan muatan nilai atau memiliki kepentingan tertentu.
Multikultural pada dasarnya adalah pandangan dunia yang kemudian dapat diterjemahkan dalam berbagai kebijakan kebudayaan yang menekankan penerimaan terhadap realitas keagamaan, pluralitas, dan multikultural yang terdapat dalam kehidupan masyarakat. Multikultural dapat juga dipahami sebagai pandangan dunia yang kemudian diwujudkan dalam kesadaran politik.19 Masyarakat multikultural adalah suatu masyarakat yang terdiri dari beberapa macam komunitas budaya dengan segala kelebihannya, dengan sedikit perbedaan konsepsi mengenai dunia, suatu sistem arti, nilai, bentuk organisasi sosial, sejarah, adat serta kebiasaan. Multikultural mencakup suatu pemahaman, penghargaan serta penilaian atas budaya seseorang, serta suatu penghormatan dan keingintahuan tentang budaya etnis orang lainSebuah ideologi yang mengakui dan mengagungkan perbedaan dalam kesederajatan baik secara individual maupun secara kebudayaan Multikultural mencakup gagasan, cara pandang, kebijakan, penyikapan dan tindakan, oleh masyarakat
18 Choirul Mahpud, Pendidikan Multikultural, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar 2010), hal.
75
19 KBBI, Departemen Pendidikan Nasional Balai Pustaka,Hal. 762
25
suatu negara, yang majemuk dari segi etnis, budaya, agama dan sebagainya, namun mempunyai cita-cita untuk mengembangkan semangat kebangsaan yang sama dan mempunyai kebanggan untuk mempertahankan kemajemukan tersebut.
Dengan demikian paradigma multikultural, memberi pelajaran kepada kita untuk memiliki aspirasi dan respect terhadap budaya dan agama-agama lain. Atas dasar ini maka penerapan multikulturalisme menuntut kesadaran dari masing-masing budaya lokal untuk saling mengakui dan menghormati keanekaragaman identitas budaya yang dibalut semangat kerukunan dan perdamaian. Sementara itu, jika paradigma multikultural ini dibawa keranah pendidikan, yang kemudian memungkinkan istilah pendidikan multikultural bisa dipahamai sebagai pendidikan untuk people of color.20 Artinya, pendidikan yang didalamnya terdapat berbagai macam manusia, atau pendidikan yang ditujukan untuk melihat keragaman manusia, atau lebih dari itu pendidikan yang mencoba melihat dan kemudian menyikapi realitas keragaman yang ada dalam diri manusia baik secara individu atau sebagai mahkluk sosial. Jadi menurut penulis, pendidikan multikultural adalah pendidikan yang terkait dengan keberagaman manusia. Dengan kata lain, segala bentuk pendidikan yang di situ menempatkan keberagaman manusia sebagai inti pendidikan adalah pendidikan multikultural. Lebih dari itu, pendidikan multikultural ini menghendaki terciptanya pribada-pribadi yang sadar akan adanya kemajemukan budaya yang di dalamnya banyak terdapat
20 H.A. Dardi Hasyim Dan Yudi Hartono, Pendidikan Multikultural Di sekolah, (surakarta: UPT penerbitan dan percetakan UNS, 2009) Hal. 28
26
perbedaan-perbedaan, dan tidak berhenti pada sadar saja melainkan juga dapat menghormati keanekaragaman yang ada dalam rangka mewujudkan kerukunan dan kedamaian. Menurut James A. Banks mendefinisikan Pendidikan Multikultural sebagai ide, gerakan pembaharuan pendidikan dan proses pendidikan yang tujuan utamanya adalah untuk mengubah struktur lembaga pendidikan supaya siswa baik pria maupun wanita, siswa berkebutuhan khusus, dan siswa yang merupakan anggota dari kelompok ras, etnis, dan kultur yang bermacam-macam itu akan memiliki kesempatan yang sama untuk mencapai prestasi akademis di sekolah. Jadi paradigma multikultural akan mencakup:
a. Ide dan kesadaran akan nilai penting keragaman budaya.
b. Gerakan pembaharuan pendidikan.
c. Proses pendidikan.
Latar belakang munculnya pendidikan multikultural di indonesia negara bangsa indonesia terdiri atas sejumlah besar kelompok-kelompok etnis, budaya, agama dan lain-lain. Hefner mengilustrasikan Indonesia sebagaimana juga Malaysia dan Singapura memiliki warisan dan tantangan multikulturalisme budaya (cultural multiculturalism) secara lebih mencolok, sehingga dipandang sebagai “lokus klasik” bagi bentukan baru “masyarakat multikultur” (cultural society). Kemultikultural masyarakat Indonesia paling tidak dapat dilihat dari dua cirinya yang unik, yaitu secara horizontal, yang ditandai oleh kenyataan adanya kesatuan-kesatuan sosial berdasarkan perbedaan suku bangsa, agama, adat, serta perbedaan kedaerahan, dan secara
27
vertikal ditandai oleh adanya perbedaan-perbedaan vertikal antara lapisan atas dan lapisan bawah yang cukup tajam. Kondisi tersebut tergambar dalam prinsip bhinneka tunggal ika, yang berarti meskipun Indonesia adalah berbeda-beda, tetapi terintegrasi dalam kesatuan.Namun demikian, pengalaman Indonesia sejak masa awal kemerdekaan, khususnya pada masa demokrasi terpimpin Presiden Soekarno dan masa Orde Baru Presiden Soeharto memperlihatkan kecenderungan kuat pada politik monokulturalisme. Pada dasarnya tujuan pendidikan multikultural selaras dengan tujuan pendidikan pendidikan secara umum, yaitu mencetak peserta didik tidak hanya mampu mengembangkan potensi dirinya dalam penguasaan ilmu pengetahuan, seni dan teknologi. Melainkan sekaligus mampu mengembangkan dan menerapkan nilai-nilai universal dalam kehidupan.
Kemudian, secara spesifik gorski menjelaskan bahwa tujuan dari pendidikan multukultural adalah sebagai berikut:
a. Setiap peserta didik mempunyai kesempatan untuk mengembangkan prestasi anak
b. Peserta didik bagaimana belajar dan berpikir secara kritis
c. Mendorong peserta didik untuk mengambil peran aktif dalam pendidikan, dengan menghadirkan pengalaman-pengalaman anak dalam konteks belajar
d. Mengakomodasi semua gaya belajar
e. Mengembangkan sikap positif terhadapa kelompok-kelompok yang mempunyai latar belakang yang berbeda
28
f. Untuk menjadi warga yang baik disekolah dan dimasyarakat
g. Belajar bagaimana menilai pengetahuan dari perspektif yang berbeda h. Untuk mengembangakan identitas etnis, nasional, global
i. Mengembangkan keterampilan-keterampilan mengambil keputusan dan analisis secara kritis.21
Di samping tujuan-tujuan multikultural yang telah disebut, pada dasarnya paradigma multikultural yang didasarkan pada nilai dasar toleransi,empati,simpati dan solidaritas sosial, maka hasil dari proses pendidikan multikultural diharapkan dapat mendorong terciptanya perdamaian dan upaya mencegah serta menanggulangi konflik etnis, konflik etnis beragama, radikalisme agama, pendidikan multikultural tidak dimaksudkan untuk menciptakan keseragaman cara pandang. Akan tetapai membangun kesadaran diri terhadap keniscayaan pluralitas sebagai sunnah Allah, mengakui kekurangan di samping kelebihan yang dimiliki baik diri sendiri maupun orang lain. Sehingga tumbuh sikap untuk mensinergikan potensi diri dengan potensi orang lain dalam kehidupan yang demokratis dan humanis.sehingga terwujudlah suatu kehidupan yang damai, berkeadilan dan sejahtera. Tujuan Pendidikan Multikultural dapat mencakup tiga aspek belajar (kognitif, afektif, dan tindakan) dan berhubungan baik nilai-nilai intrinsik (ends) maupun nilai instrumental (means) pendidikan Multikultural. Secara detail sebagaimana berikut:
21 Syamsul Ma’arif, Pendidikan Pluralisme di indonesia, (yogyakatra: lugong pustaka, 2005), hal. 95
29
a. Pengembangan Literasi Etnis dan Budaya. Salah satu alasan utama gerakan untuk memasukkan Pendidikan Multikultural dalam program sekolah adalah untuk memperbaiki kelalaian dalam penyusunan kurikulum. Pertama, kita harus memberi informasi pada siswa tentang sejarah dan kontribusi dari kelompok etnis yang secara tradisional diabaikan dalam kurikulum dan materi pembelajaran, kedua, kita harus menempatkan kembali citra kelompok ini secara lebih akurat dan signifikan, menghilangkan bias dan informasi menyimpang yang terdapat dalam kurikulum. Tujuan utama Pendidikan Multikultural adalah mempelajari tentang latar belakang sejarah, bahasa, karakteristik budaya, sumbangan, peristiwa kritis, individu yang berpengaruh, dan kondisi sosial, politik, dan ekonomi dari berbagai kelompok etnis mayoritas dan minoritas.
b. Perkembangan Pribadi. Dasar psikologis Pendidikan Multikultural menekankan pada pengembangan pemahaman diri yang lebih besar, konsep diri yang positif, dan kebanggaan pada identitas pribadinya.
Mengembangkan pemahaman yang lebih baik tentang diri mereka sendiri dan pengalaman budaya dan kelompok etnis yang lain dapat memperbaiki penyimpangan yang menganggap nilai yang ada pada kelompok yang dominan itu lebih unggul.
c. Klarifikasi Nilai dan Sikap. Mengajari generasi muda untuk menghargai dan menerima pluralisme etnis, menyadarkan bahwa perbedaan budaya tidak sama dengan kekurangan atau rendah diri, dan
30
untuk mengakui bahwa keragaman merupakan bagian integral dari kondisi manusia. Pengklarifikasian sikap dan nilai etnis didesain untuk membantu siswa memahami bahwa berbagai konflik nilai itu tidak dapat dielakkan dalam masyarakat pluralistik; dan bahwa konflik tidak harus menghancurkan dan memecah belah.
d. Kompetensi Multikultural. Upaya interaksi lintas kultural seringkali terhalang oleh nilai, harapan dan sikap negatif ; kesalahan budaya (cultural blunders); dan dengan mencoba menentukan aturan etiket sosial (rules of social etiquette) dari satu sistem budaya terhadap system budaya yang lain. Pendidikan Multikultural dapat membantu siswa mempelajari bagaimana memahami perbedaan budaya tanpa membuat pertimbangan nilai yang semena-mena tentang nilai intrinsiknya.
e. Kemampuan Keterampilan Dasar. Tujuan utama Pendidikan Multikultural adalah untuk memfasilitasi pembelajaran untuk melatih kemampuan ketrampilan dasar dari siswa yang berbeda secara etnis.
f. Persamaan dan Keunggulan Pendidikan. Pendidik harus memahami secara keseluruhan bagaimana budaya membentuk gaya belajar, perilaku mengajar, dan keputusan pendidikan. Dengan memberikan pilihan yang lebih tentang bagaimana mereka akan belajar akan membantu memaksimalkan prestasi belajar mereka. Tujuan multikultural untuk mencapai persamaan dan keunggulan pendidikan
31
mencakup kognitif, afektif dan ketrampilan perilaku, di samping prinsip demokrasi.
g. Memperkuat Pribadi Untuk Reformasi Sosial. Tujuan pendidikan multicultural adalah untuk memulai perubahan dari lingkungan sekolah dan meluas pada lingkungan masyarakat.Pada diri siswa sebagai agen perubahan social ditanamkan nilai, sikap, kebiasaan, dan keterampilan agar mereka menjadi agen perubahan yang berkomitmen kuat dalam memberantas perbedaan etnis dan rasial. Tujuan dan pengembangan ketrampilan ini didesain untuk membuat masyarakat lebih benar-benar egaliter dan lebih menerima pluralisme kultural.
Fungsi multikulturalisme ini adalah apa yang dimaksudkan Banks dengan pendekatan aksi sosial dari Pendidikan Multikultural, yang mengajari siswa bagaimana menjadi kritikus sosial (social critics), aktivis politik (political activists), agen perubahan change agents), dan pemimpin yang berkompeten dalam masyarakat dan yang berbeda secara etnis dan pluralistik secara kultural.
h. Memiliki Wawasan Kebangsaan dan Kenegaraan yang Kokoh.
Multikultural perlu menambahkan materi, program dan pembelajaran yang memperkuat rasa kebangsaan dan kenegaraan dengan menghilangkan etnosentrisme, prasangka, diskriminasi dan stereotipe.
i. Memiliki Wawasan Hidup yang Lintas Budaya dan Lintas Bangsa sebagai Warga Dunia. Hal ini berarti individu dituntut memiliki wawasan sebagai warga dunia (world citizen). Namun siswa harus
32
tetap dikenalkan dengan budaya lokal, harus diajak berpikir tentang apa yang ada di sekitar lokalnya. Mahasiswa diajak berpikir secara internasional dengan mengajak mereka untuk tetap peduli d
j. engan situasi yang ada di sekitarnya act locally and globally.Hidup Berdampingan Secara Damai. Dengan melihat perbedaan sebagai sebuah keniscayaan, dengan menjunjung tinggi nilai kemanusian, dengan menghargai persamaan akan tumbuh sikap toleran terhadap kelompok lain dan pada gilirannya dapat hidup berdampingan secara damai.
4 Pendekatan Pendidikan Multikulturalisme
J.A Bank yang dikutip Ma’arif, menyebutkan bahwa ada empat pendekatan yang dapat digunakan dalam pendidikan multikultural yaitu:22
a. Pendekatan kontributif yakni: memperingati hari-hari besar agama dengan di gabungkan dengan hari Nasional kepahlawanan.
Pendekatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan mengenai keragaman kelompok.
b. Pendekatan aditif yakni: penambahan muatan tema-tema dan perpektif kedalam kurikulum tanpa mengubah struktur dasarnya. Pendekatan ini berupaya memasukkan literatur dan budaya dari masing-masing perbedaan yang ada ke dalam kurikulum.
c. Pendekatan transpormatif yakni: penerapan pendekatan ini berimplikasi pada penciptaan kurikulum dengan mengakomodir
22 Komaruddin Hidayat, Merawat Keragaman Budaya, (Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2004), hlm. 94
33
kelompok-kelompok dengan latar budaya yang berbeda. Adapun tujuan pendekatan ini untuk membuka perpektif yang berbeda memberikan komentar dan penjelasan terhadap bahan pelajaran.
d. Pendekatan aksi sosial yakni: merupakan gabungan dari pendekatan traspormatif dengan berbgai aktivitas yang beriorentasi pada perubahan sosial. Pendekatan ini bertujuan memperkaya keterampilan peserta didik dalam melakukan aksi sosial seperti resolusi konflik dan perbedaan budaya.
Adapun beberapa pendekatan yang digunakan dalam pendidikan multikulturalistik yaitu pengajaran tentang kontribusi dari kelompok- kelompok budaya yang berbeda-beda dari kontribusi individu, pendekatan aditif dimana pembelajara multikulturalistik dan unit studi merupakan suplemen atau pelengkap dan pendekatan transformasional diman sifat dasar kurikulum dan pengajaran diubah untuk mencerminkan perspektif.
Pengalaman dari beragam budaya, etnis, ras, dan kelompok sosial dan mengambil keputusan dan pendekatan aksi sosial yang mengajarkan siswa bagaimana cara memperjelas nilai-nilai etnis dan budaya mereka dan untuk terlihat dalam aksi sosial politik untuk kesetaraan yang lebih baik, kebebasan, dan keadilan bagi semua orang. Bank menggambarkan lima dimensi pendidikan multikultural yang dikutip oleh Quinita. Adapun dimensi tersebut sebagai berikut:23
23 Quinita Ogletree, Patricia J. Larke, Implementing Multicultural Practices in Early Childhood Education, National Forum of Multicultural Issues Journal, hal.3-5.
34
a. Content integration. Integrasi konten mempunyai fokus tentang cara guru menggunakan contoh dan informasi dari beragam budaya sebagai sarana dalam mendukung suatu rencana atau konsep. Kurikuum memiliki materi yang beragam, sehingga nilai multikultural diintegrasikan pada tiap materi yang termuat dalam kurikulum. Tujuan pengintegrasian ini untuk menciptakan kesadaran budaya yang berbeda.
b. Knowledge Construction. Dalam membangun pengetahuan, guru membantu anak cara membangun pemahaman. Dalam hal ini, Bank memberi level dalam membangun pengetahuan, pertama pendekatan kontribusi yang berfokus pada unsur budaya. Kedua adalah pendekatan tambahan yang mana tema yang menjadi fokus tujuan diinterasikan dalam kurikulum tanpa mengubah esensi isi kurikulum.
Ketiga, tingkat transformasi yang mana anak mampu memahami isi jika kurikulum dirubah dengan memasukkan ragam perbedaan.
Keempat, pendekatan aksi sosial yang mana mewajibkan bagi anak untuk menerapkan materi sebelumnya sehingga mampu membuat keputusan dalam menyelesaikan masalah sosial.
c. Prejudice Reduction. Merupakan aktivitas yang dapat diimplementasikan guru untuk mengeliminasi pandangan negatif dan stereotif terhadap orang lain. Pihak sekolah mengurangi stereotip dan prasangka sehingga tumbuh sikap demokrasi, nilai dan perilaku
35
dengan memahami anak didik. Contohnya guru mengambil tindakan ketika mendengar atau melihat stereotipe.
d. Equity Pedagogy. Merupakan modifikasi proses pengaaran dengan memasukkan materi dan strategi pembelajaran yang tepat baik itu untuk anak lelaki maupun perempuan dan untuk semua kelompok etnis.
e. Empowering School Culture and Social Structure. Sekolah sebagai struktur budaya karena muncul interaksi antar berbagai pihak.
Dimensi ini untuk memperdayakan budaya anak yang dibawa ke sekolah yang bersasal dari kelompok yang berbeda.
5 Dasar Pendidikan Multikultural
Berdasarkan kondisi masyarakat Indonesia yang multicultural, maka jenis pendidikan yang cocok bagi bangsa Indonesia adalah pendidikan multicultural. Pendidikan Multikultural paling tidak menyangkut tiga hal yaitu (1) ide dan kesadaran akan nilai penting keragamanbudaya, (2) gerakan pembaharuan pendidikan dan (3) proses pendidikan. Berikut ini akan diuraikan dasar yang membentuk perlunya Pendidikan Multikultur:
a. Ide dan kesadaran akan nilai penting keragaman budaya. Setiap siswa memiliki karakteristik yang berbeda seperti usia, agama, gender, kelas sosial, etnis, ras, atau karakteristik budaya tertentu yang melekat pada diri masing-masing. Pendidikan Multikultural berkaitan dengan ide bahwa semua siswa tanpa memandang karakteristik budayanya itu seharusnya memiliki kesempatan yang sama untuk belajar di sekolah.
36
Keragaman budaya yang ada dalam dunia pendidikan di Indonesia akan memunculkan suatu sikap saling menghargai jika seorang individu tersebut mampu menyerap dan mengaplikasikan dengan baik adanya keragaman budaya. Sehingga diperlukan pentingnya kesadaran terhadap keragaman budaya yang ada.Hal tersebut merupakan keniscayaan atau kepastian adanya perbedaan, namun itu harus diterima secara wajar dan bukan untuk membedakan.Artinya perbedaan itu perlu kita terima sebagai suatu kewajaran dan perlu sikap toleransi agar kita bisa hidup berdampingan secara damai tanpa melihat unsur yang berbeda itu untuk membeda-bedakan.
b. Gerakan pembaharuan pendidikan. Gerakan pembahauruan pendidikan yang dimaksud diatas ialah suatu gerakan perubahan yang diusahakan untuk meningkatkan kemampuan dalam rangka pencapaian tujuan tertentu dalam pendidikan. Upaya-upaya gerakan pembaharuan pendidikan sangat diperlukan,hal ini untuk menanggapi dan mencari jalan keluar terhadap suatu masalah-masalah pendidikan yang dihadapi sekarang ini, selain itu untuk memperkembangkan pendekatan yang lebih efektif dan ekonomis. Apabila upaya-upaya ini benar-benar dilakukan sesuai dengan bentuk upaya pendidikan seperti yang diuraikan diatas, tentunya hal ini harus diimbangi dengan kerja sama yang baik antara siswa didik, pendidik dan orang tua. Maka dunia pendidikan akan semakin maju dan berkembang. Adanya karakteristik pada siswa memungkinkan untuk mendapatkan
37
kesempatan belajar yang lebih baik. Beberapa karakteristik institusional dari sekolah secara sistematis menolak siswa dengan karakteristik tertentu untuk mendapatkan kesempatan pendidikan yang sama, walaupun itu dibungkus secara halus dalam bentuk aturan tertentu. Terdapat kesenjangan yang muncul dengan fenomena munculnya sekolah favorit yang didominasi oleh orang kaya.Selain itu, adanya diskriminasi terdapat diskriminasi terhadap masyarakat keturunan Tionghoa yang kesulitan untuk berkecimpung dalam pemerintahan dan pertahanan.Pendidikan Multikultur bukan sekedar merupakan praktek aktual satu bidang studi atau program pendidikan semata, namun mencakup seluruh aspek pendidikan.
c. Proses Pendidikan. Pendidikan multikultural adalah proses menjadi yang harus dipandang secara terus-menerus dan bukan sebagai sesuatu yang langsung bisa tercapai untuk memperbaiki prestasi secara utuh.
Karena tujuan Pendidikan Multikultur tidak akan pernah tercapai secara penuh, kita seharusnya bekerja secara kontinyu meningkatkan persamaan pendidikan untuk semua siswa (educational equality for all students). Menurut Paul Gorski pendidikan multikultural merupakan pendekatan progresif untuk mengubah pendidikan secara holistik dengan mengkritik dan memusatkan perhatian pada kelemahan, kegagalan, dan praktek diskriminatif di dalam pendidikan akhir-akhir ini. Yang menjadi landasan pendidikan multikultural adalah persamaan pendidikan, keadilan social, dan dedikasi. Masyarakat Indonesia terdiri dari masyarakat multikultur
38
yang mencakup berbagai macam perspektif budaya yang berbeda.Jadi sangat relevanlah bagi sekolah di Indonesia untuk menerapkan Pendidikan Multikultural. Pendidikan Multikultural dapat melatih siswa untuk menghormati dan toleransi terhadap semua kebudayaan. Pendidikan Multikultural sebagai kesadaran merupakan suatu pendekatan yang didasarkan pada keyakinan bahwa budaya merupakan salah satu kekuatan yang dapat menjelaskan perilaku manusia.Budaya memiliki peranan yang sangat besar di dalam menentukan arah kerjasama maupun konflik antar sesama manusia.
Huntington meramalkan bahwa pertentangan manusia yang akan datang merupakan pertentangan budaya. Oleh sebab itu kita perlu meneliti kekuatan yang tersimpan di dalam budaya masing-masing kelompok manusia agar dapat dimanfaatkan bagi kebaikan bersama. Pendidikan Multikultural dipersepsikan sebagai suatu jembatanuntuk mencapai kehidupan bersama dari umat manusia di dalam era globalisasi yangpenuh tantangan baru.Pertemuan antarbudaya bisa berpotensi memberi manfaat tetapi sekaligus menimbulkan salah paham.Itulah rasional yang menunjukkan artipentingnya keberadaan Pendidikan Multikultural.
6 Fungsi Pendidikan Multikultural
The National Council for Social Studies mengajukan sejumlah fungsi yang menunjukkan pentingnya keberadaan dari Pendidikan Multikultural Fungsi tersebut adalah :
a. Memberi konsep diri yang jelas.
39
b. Membantu memahami pengalaman kelompok etnis dan budaya ditinjau dari sejarahnya.
c. Membantu memahami bahwa konflik antara ideal dan realitas itu memang ada pada setiap masyarakat.
d. Membantu mengembangkan pembuatan keputusan (decision making), partisipasi sosial dan ketrampilan kewarganegaraan (citizenship skills).
e. Mengenal keberagaman dalam penggunaan bahasa.
Pendidikan Multikultural memberi tekanan bahwa sekolah pada dasarnya berfungsi mendasari perubahan masyarakat dan meniadakan penindasan dan ketidakadilan.Fungsi pendidikan multikultural yang mendasar adalah mempengaruhi perubahan sosial. Jalan di atas dapat dirinci menjadi tiga butir perubahan yaitu perubahan diri, perubahan sekolah dan persekolahan dan perubahan masyarakat. Perubahan diri dimaknai sebagai perubahan dimulai dari diri siswa sendiri itu sendiri yang lebih menghargai orang lain agar dia bisa hidup damai dengan sekelilingnya. Kemudian diwujudkan dalam tata tutur dan tata perlakunya di lingkungan sekolah dan berlanjut hingga di masyarakat.Karena sekolah merupakan agen perubahan, maka diharapkan ada perubahan yang terjadi di masyarakat seiring dengan terjadi perubahan yang terdapat dalam lingkungan persekolahan.
7 Deradikalisasi Multikultural
Menanggulangi radikalisme Islam bukanlah perkara yang mudah.
sebab radikalisme Islam bukan semata-mata gerakan sosial belaka, namun
40
juga merupakan ideologi. Ideologi tidak mungkin dapat dibasmi hanya dengan pendekatan militer/keamanan saja. Masih banyaknya aksi terorisme di bumi Indonesia merupakan bukti konkret betapa penggunaan pendekatan militer/ keamanan saja tidak cukup efektif untuk membasmi terorisme dan radikalisme Islam hingga akar-akarnya24. Oleh karena itu, berbagai pendekatan penanganan terorisme dan radikalisme Islam lainnya harus pula senantiasa diupayakan dan diatasi dengan gerakan deradikalisasi, yaitu suatu usaha untuk mengajak para pelaku radikal dan pendukungnya untuk meninggalkan penggunaan kekerasan, seperti usaha diplomasi publik yang bertujuan untuk “memenangkan hati dan pikiran”.25 Deradikalisasi adalah upaya sistematis untuk membangun kesadaran masyarakat bahwa fanatisme sempit, fundamentalisme, dan radikalisme berpotensi membangkitkan terorisme.26 Deradikalisasi dapat pula dipahami sebagai segala upaya untuk menetralisasi paham-paham radikal melalui pendekatan interdisipliner, seperti agama, psikologi, hukum serta sosiologi, yang ditujukan bagi mereka yang dipengaruhi paham radikal.27 Sebagai rangkaian program yang berkelanjutan, deradikalisasi ini meliputi banyak program yang terdiri dari reorientasi motivasi, re-edukasi, resosialisasi, serta mengupayakan kesejahteraan sosial
24 Ma’rifah, Indriyani. “Rekonstruksi Pendidikan Agama Islam: Sebuah Upaya Membangun Kesadaran Multikultural untuk Mereduksi Terorisme dan Radikalisme Islam,” dalam Conference Proceedings Annual International Conference on Islamic Studies (AICIS) XII IAIN Sunan Ampel Surabaya (5-8 November), 2012, hal. 227.
25 Supardi, “Pendidikan Islam Multikultural dan Deradikalisasi di Kalangan Mahasiswa,”
dalam Jurnal Analisis, (Volume XIII, Nomor 2, Desember), 2013, hal.379.
26 Nasir Abbas, “Berdayakan Potensi Masyarakat dalam Pemberantasan Terorisme”, dalam Komunika, (12/VII Juli 201). 2011, hal.5
27 Endra Wijaya, 2 “Peranan Putusan Pengadilan dalam Program Deradikalisasi Terorisme di Indonesia: Kajian Putusan Nomor 2189/Pid.B/2007/PN.Jkt.Sel”, dalam Yudisial, (Vol. III, nomor 2, Agustus), 2010, hal.110
41
dan kesetaraan dengan masyarakat lain bagi mereka yang terlibat dengan tindak pidana terorisme (para terpidana tindak pidana terorisme). Dalam hal ini digunakan istilah deradicalisation dan disengagement untuk menggambarkan proses di mana individu atau kelompok untuk melepaskan keterlibatan mereka dalam organisasi kekerasan atau kelompok teroris.
Deradikalisasi secara substantif bertujuan untuk merubah tindakan dan ideologi individu atau kelompok. Sedangkan disengagement berkonsentrasi pada memfasilitasi perubahan perilaku, melepaskan ikatan (disengage) dan menolak penggunaan kekerasan. Solusi-solusi untuk mengatasi masalah radikalisme antara lain; pertama, menghormati aspirasi kalangan Islamis radikalis melalui cara-cara yang dialogis dan demokratis; kedua, memperlakukan mereka secara manusiawi dan penuh persaudaraan; ketiga, tidak melawan mereka dengan sikap yang sama-sama ekstrem dan radikal.
Artinya, kalangan radikal ekstrem dan kalangan sekular ekstrem harus ditarik ke posisi moderat agar berbagai kepentingan dapat dikompromikan; keempat, dibutuhkan masyarakat yang memberikan kebebasan berpikir bagi semua kelompok sehingga akan terwujud dialog yang sehat dan saling mengkritik yang konstruktif dan empatik antar aliran-aliran; kelima, menjauhi sikap saling mengkafirkan dan tidak membalas pengkafiran dengan pengkafiran;
keenam, mempelajari agama secara benar sesuai dengan metode-metode yang sudah ditentukan oleh para ulama Islam dan mendalami esensi agama agar menjadi Muslim yang bijaksana; ketujuh, tidak memahami Islam secara parsial dan reduktif. Caranya adalah dengan mempelajari esensi tujuan syariat
42
(maqâshid syarî’ah). Dari cara tersebut mensiratkan bahwa deradikalisasi dapat dilakukan dengan mengenalkan pembelajaran multikultural.
8 Nilai Multikultural
Nilai adalah sifat-sifat (hal-hal) yang berguna atau penting bagi kemanusiaan atau konsep abstrak mengenai masalah dasar yang sangat penting dan berharga dalam kehidupan manusia.28 “Menurut Zakiyah Darajat, nilai adalah perekat keyakinan ataupun perasaan yang diyakini sebagai identitas yang memberikan corak khusus pola pemikiran perasaan, keterikatan maupun perilaku.”29 Nilai dirasakan dalam diri manusia sebagai daya dorong atau prinsip-prinsip yang menjadi pedoman dalam hidup. Konsep ini berkembang dari pola berfikir, pola tingkah laku dan sikap-sikap hidup.
Dengan kata lain, nilai berkembang dari budaya lingkungan. Namun sebenarnya ada perbedaan antara nilai, prinsip atau norma. Cinta kasih, keadilan, persamaan, persaudaraan, perdamaian dan sebagainya adalah norma atau prinsip. Maka dapat berlaku siapa pun secara universal dan absolut.
Norma atau prinsip tersebut baru menjadi nilai apabila diyakini kebenarannya dalam pola pikir dan dilaksanakan dalam pola tingkah laku oleh seseorang secara universal.
Nilai multikultural dalam arti ini, dimaksudkan bukan hanya sekedar keadaaan atau fakta yang bersifat plural, jamak, atau banyak, dan pengakuan bahwa keadaan fakta seperti itu memang ada dalam kenyataan, namun juga
28Richardus Djokopranoto, Filosofi Pendidikan Indonesia, (Jakarta: Obor, 2011), hlm 189.
29Zakiah Daradjat, Usman Said, Su’aibu Thalib, Achmat Badri, Murni Djamal, Syamsuddin Abdullah, Burhanuddin Daya, Alef Theria Wasyim, Fathuddin A. Gani, Harith A.
Salam, Dasar-Dasar Agama Islam (Jakarta: Bulan Bintang, 1980), hlm. 260.
43
diiringi suatu sikap yang mengakui dan sekaligus menghargai, menghormati, memelihara, dan bahkan mengembangakan atau memperkaya keadaan yang besifat plural, jamak atau banyak. Dalam Islam, perbedaan adalah sebuah sunnatullah atau realitas yang harus diakui secara tegas, baik yang menyangkut perbedaan agama, suku, ras, warna kulit, negara, maupun yang lainnya.30 Dalam memahami standar dari nilai-nilai pluralisme, sekurangnya ada tiga prasyarat untuk membangun beragaman, antara lain: Pertama, adanya keterlibatan aktif untuk menjaga perbedaan menjadi suatu yang bernilai positif, bermanfaat dan menghasilkan kesejahteraan serta kebajikan.
Kedua, tidak mengklaim pemilikan tunggal akan kebenaran, maksudnya pengakuan bahwa dalam agama lain pun terdapat unsur kebenaran seperti kebenaran-kebenaran yang bersifat subtansial dan universal. Ketiga, adanya sikap toleransi dan saling menghargai.31
Dalam implementasinya, nilai-nilai multikultural juga dilandasi oleh sikap toleransi. Toleransi sendiri merupakan sikap untuk menghargai dan menghormati keyakinan dan perilaku yang dimiliki oleh orang lain.32 Oleh sebab itu, semangat toleransi merupakan modal yang dapat membangun sebuah bangunan sosial. Kesediaan untuk saling menerima dalam perbedaan Bhinneka Tunggal Ika merupakan sebuah tugas bersama yang harus
30Moh Yamin dan Vivi Aulia, Merentas Pendidikan Toleransi, hlm. 1.
31Nur Khaliq Ridwan, Pluralisme Borjuis: Kritik atas Pluralisme Cak Nur (Yogyakarta:
Galang Press, 2002), hlm. 77.
32Ngainun Naim dan Achmad Sauqi, Pendidikan Multikultural Konsep dan Aplikasi, hlm.
153.