Oleh ; ENDANG SWITRI
Dosen STIT Al Qur‟an Al Ittifaqiah Indralaya Ogan Ilir Sumsel [email protected]
ABSTRAK
Setiap anak yang lahir ke dunia, sangat rentan dengan berbagai masalah. Masalah yang dihadapi anak, terutama anak usia dini, biasanya berkaitan dengan gangguan pada proses perkembangannya. Bila gangguan tersebut tidak segera diatasi maka akan berlanjut pada fase perkembangan berikutnya yaitu fase perkembangan anak sekolah. Pada gilirannya, gangguan tersebut dapat menghambat proses perkembangan anak yang optimal. Dengan demikian, penting bagi para orang tua dan guru untuk memahami permasalahan-permasalahan anak agar dapat meminimalkan kemunculan dan dampak permasalahan tersebut serta mampu memberikan upaya bantuan yang tepat.
Tulisan ini akan menjelaskan permasalahan-permasalahan anak usia dini dan akan mengenalkan kepada kita langkah-langkah dan teknik penanganan masalah-masalah pada anak usia dini.
Kata Kunci; Permasalahan AUD dan Teknik Penanganan
ABSTRACT
Every child born into the world is very vulnerable to various problems. Problems faced by children, especially early childhood, are usually associated with disruption in the process of development. If the disorder is not immediately addressed, it will continue to the next phase of development, namely the development phase of school children. In turn, the disorder can hinder the optimal child development process. Thus, it is important for parents and teachers to understand children's problems in order to minimize the emergence and impact of these problems and be able to provide appropriate relief efforts. This paper will explain the problems of early childhood and will introduce us to the steps and techniques for handling problems in early childhood.
Keywords; AUD Problems and Handling Techniques
A. Pendahuluan
Permasalahan anak-anak adalah sesuatu yang mengganggu kehidupan anak, yang timbul karena ketidakselarasan pada perkembangannya 49 (Anonim, 2006:9). Pada anak- anak prasekolah perilaku yang dapat dipandang sebagai normal untuk usia tertentu juga sulit dibedakan dari perilaku yang bermasalah. Perilaku bermasalah mungkin digunakan untuk mengidentifikasikan membesarnya frekuensi atau intensitas perilaku tertentu sampai pada tingkatan yang mengkhawatirkan (Campbell, dalam Rita Eka Izzaty:2005).
Ada tiga kriteria yang bisa dijadikan acuan untuk melihat apakah perilaku itu normatif atau bermasalah, yaitu kriteria statistik rata-rata, kriteria sosial dan kriteria penyesuaian diri. Menurut (Rita Eka Izzaty:2005) yang dimaksud dengan kriteria statistik adalah perkembangan rata-rata fisik seseorang yang sesuai dengan norma statistik. Kriteria sosial adalah tingkah laku yang dianggap menyimpang dari aturan sosial suatu daerah.
Kemudian yang dimaksud dengan kriteria penyesuaian diri adalah kemampuan individu menyesuaikan diri. Perilaku yang dianggap meresahkan atau mengganggu diri sendiri ataupun orang lain dianggap tidak mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar.
B. Pembahasan
Setiap anak memiliki permasalahan yang berbeda-bada dan sangat kompleks.
Permasalahan tersebut biasanya mengakibatkan perubahan kepribadian anak yang cenderung menjadi lebih agresif, pendiam/pemurung, periang/suka humor dan lain-lain50. a) Jenis-jenis Permasalahan Anak
Berikut ini jenis-jenis permasalahan yang terjadi pada anak TK, yaitu : 1. Penakut
Setiap anak memiliki rasa takut, namun jika berlebihan dan tidak wajar maka perlu diperhatikan. Rasa takut anak TK biasanya terhadap hewan, serangga, gelap, dokter atau dokter gigi, ketinggian, monster, lamunan, sekolah, angin topan, dll. Rasa takut yang berlebihan terlihat dalam gejala-gejala seperti berikut:
a. Gejala psikis, seperti ; gangguan makan, tidur, perut, sulit bernafas, dan sakit kepala.
49 Anonim. Pembelajaran. Artikel Ilmu Pendidikan, (Online), (http://learning-with-me-blogspot.com, diakses 15 Maret 2019
50 http://ra-miftahul-jannah.blogspot.com/2012/01/masalah-pada-anak.html, diakses 15 Maret 2019
b. Gejala emosional, seperti ; rasa takut, sensitif, rendah diri, ketidakberdayaan, bingung, putus asa, marah, sedih, bersalah.
c. Gejala tingkah laku seperti : gangguan tidur, mengisolasi diri, prestasi kurang di sekolah, agresi, mudah tersinggung, menghindari pergi keluar, ketergantungan pada suatu benda, dan terus berada di kamar orang tua.
Penyebab anak memiliki rasa takut :
a. Intelegensi (anak-anak yang tingkat intelegensi tinggi cenderung punya rasa takut yang sama dengan anak yang berusia lebih tua, demikian pula sebaliknya).
b. Jenis kelamin (anak perempuan lebih takut dibanding laki-laki karena lingkungan sosial lebih menerima rasa takut perempuan).
c. Keadaan fisik (anak cenderung takut bila dalam keadaan lelah, lapar atau kurang sehat).
d. Urutan kelahiran (anak sulung cenderung lebih takut karena perlindungan yang berlebihan).
e. Kepribadian anak (anak yang kurang memperoleh rasa aman cenderung lebih penakut).
f. Adanya contoh yang dilihat anak, seperti ; tontonan TV, atau ibu yang takut.
g. Trauma yang dialami anak-anak, seperti ; tabrakan mobil, angina topan, bencana alam, dll.
h. Pola asuh orang tua yang menghidupkan rasa takut anak seperti ; paksaan, hukuman, ejekan, ketidakperdulian, dan pelindungan diluar batas.
Solusi pemecahan masalah yang dapat dilakukan pendidik:
a. Mendengarkan cerita anak b. Lindungi dan hibur anak c. Ajari kenyataan
d. Memberi hadiah
e. Memberi contoh teladan (guru sebagai model)
f. Coping model (adalah salah satu cara seseorang menghadapi rasa takut namun ia harus melewati rasa takut itu. Salah satu cara dengan bicara pada diri sendiri).
g. Mendongeng
h. Melakukan aktivitas penuh tantangan
i. Memanfaatkan imajinasi anak untuk menumbuhkan keberanian j. Menggambar
2. Agresivitas
Agresivitas adalah istilah umum yang dikaitkan dengan adanya perasaan marah atau permusuhan atau tindakan melukai orang lain baik dengan tindakan kekerasan secara fisik, verbal maupun dengan menunjukkan ekspresi wajah dan gerakan tubuh yang mengancam atau merendahkan (Rita Eka Izzaty:2005). Perilaku agresif biasa ditunjukan untuk mencapai tujuan tertentu bisa berupa pembelaan diri atau untuk meraih keunggulan dengan cara membuat lawan tidak berdaya.
Menurut Rita Eka Izzaty (2005:106) perilaku agresif ada yang wajar dan ada yang tidak wajar. Perilaku agresif yang dikategorikan wajar apabila agresivitas tersebut sebagai pelampiasan emosi dan hambatan psikologis yang berlebihan dan tidak sehat 51 . Perilaku agresif yang dikategorikan tidak wajar apabila perilaku tersebut menetap bahkan sampai mengganggu lingkungannya. Gejala anak yang agresif :
a. Sering mendorong, memukul, atau berkelahi.
b. Menyerang dengan menggunakan kaki, tangan, tubuhnya untuk mengganggu permainan yang dilakukan teman-teman.
c. Menyerang dalam bentuk verbal seperti ; mencaci, mengejek, mengolok-olok, berbicara kotor dengan teman.
d. Tingkah laku mengganggu muncul karena ingin menunjukkan kekuatan kelompok. Biasanya melanggar aturan atau norma yang berlaku di sekolah seperti;
berkelahi, merusak alat permainan milik teman, mengganggu anak lain.
Penyebab anak agresif :
a. Pola asuh yang keliru (melakukan kekerasan terhadap anak, otoriter terhadap anak dan terlalu protektif, terlalu memanjakan anak (orang tua selalu mengijinkan atau membenarkan permintaan anak).
b. Reaksi emosi terhadap frustasi (banyaknya larangan yang dibuat guru atau orang tua (kecemasan yang berlebihan), sementara anak melakukan kegiatan yang sesuai dengan kebutuhannya).
51Rita Eka Izzaty, dkk., Perkembangan Peserta Didik, (Yogyakarta:UNY Press, 2008) …..
Solusi pemecahan masalah yang dapat dilakukan pendidik : a. Bermain peran
b. Belajar mengenal perasaan
c. Belajar berteman melalui permainan beregu
d. Beri penguatan jika anak berperilaku tepat dengan temannya e. Perbanyak kegiatan yang menggunakan gerakan motorik
3. Pemalu
Pemalu adalah reaksi emosional yang tidak menyenangkan, yang timbul pada seseorang, akibatnya adanya penilaian negatif terhadap dirinya. Ciri anak pemalu adalah :
a. Kurang berani bicara dengan guru atau orang dewasa b. Tidak mampu menatap mata orang lain ketika berbicara c. Tidak bersedia untuk berdiri di depan kelas
d. Enggan bergabung dengan anak-anak lain e. Lebih senang bermain sendiri
f. Tidak berani tampil dalam permainan g. Membatasi diri dalam pergaulan h. Anak tidak banyak bicara i. Anak kurang terbuka
Penyebab anak pemalu:
a. Keadaan fisik
b. Kesulitan dalam bicara c. Kurang terampil berteman
d. Harapan orang tua yang terlalu tinggi e. Pola asuh yang mencela
Solusi pemecahan masalah yang dapat dilakukan pendidik52 : a. Melibatkan anak pada kegiatan yang menyenangka
b. Belajar bergabung melalui permainan
52 http://marthachristianti.wordpress.com/2008/03/11/permasalahan-anak-di-taman-kanak-kanak/
diakses 15 Maret 2019
c. Mengajar cara mulai berteman
d. Dorong anak berpartisipasi dalam kelompok.
4. Kidal
Kidal seringkali dikategorikan sebagai ketidakmampuan anak dalam menggunakan tangan kanan. Tetapi kidal juga muncul karena kebiasaan anak dalam menggunakan tangna kirinya. Beberapa foktor penyebab kidal pada anak diantaranya karena hemisphere kanan dalam otak lebih unggul daripada kiri bisa juga disebabkab karena pembiasaan yang salah. Namun bisa saja tidak terjadi apabila sejak dini kita arahkan. Pada umumnya anak yang mengalami kidal akan memiliki suatu kelebihan yang tak dimiliki oleh anak lain53.
5. Hiperaktif
Anak yang hiperaktif biasanya mengalami kesukaran dalam memusatkan perhatian pada jangka waktu tertentu, jangka waktu perhatiannya sangat pendek, mudah terganggu perhatiannya, pikirannya tidak tenang, dan tidak bisa mengontrol diri, banyak bicara serta tindakkannya tidak bertujuan, tidak berkonsentrasi terhadap suatu objek tertentu. Hperaktif biasanya muncul pada anak sebelum usia 7 tahun.
Lama gangguan sedikitnya 6 bulan.
6. Ngompol dan buang air besar di sembarang tempat
Ngompol dianggap gangguan jika anak sudah berusia lebih dari 3 tahun.
Biasanya terjadi pada malam hari, tetapi tidak menutup kemungkinan terjadi pada siang hari. Faktor penyebabnya ngompol dan buang air besar di sembarang tempat adalah pengguanan diapers, ketika anak dibiasakan mengguankan diapers dan tidak dibiasakan toilet trainee maka anak akan merasa aman untuk melakukan buang air dimana pun ia berada, namun ketika usia anak bertambah dan mencoba untuk melepas pampers ia akan terbiasa untuk buang air dimana pun ia berada karena pembiasaan penggunaan diapers itu sendiri.
53 https://allohmahabesar88.wordpress.com/2015/02/06/permasalahan-anak-usia-dini/ diakses 15 Maret 2019
Selain permasalahan di atas yang biasa terjadi juga ada permasalahan yang dimiliki anak antara adalah sebagai berikut:
a. Sosio-Emosional
Permasalahanan ini sangat erat hubungannya dengan perkembanganjati diri anak. Diantara masalah-masalah yang ada antara lain:
1) Sukar berhubungan dengan orang lain.
2) Tidak mau ditnggal oleh ibunya atau pengantarnya.
3) Mudah menangis.
4) Sering membangkang jika keinginannya tidak dituruti.
5) Tidak mau bergaul dengan temannya.
b. Motorik
1) Motorik Kasar
Permasalahan yang muncul biasanya adalah:
a) Anak masih labil dalam berjalan, berlari, berjingkat, melempar dan menangkap bola, melompat dengan satu kaki dan dua kaki.
b) Belum sempurnanya koordinasi mengontrol otot-otot besar misalnya jika ditugaslan untuk berjalan tanpa menyentuh orang lain.
2) Motorik Halus
Permasalahan yang sering dihadapi adalah: kurang ada koordinasi antara panca indera dan otot halus, misalnya:
a) sulit menjiplak.
b) Sulit membuat bentuk-bentuk llingkaran, segitiga, segi empat.
c. Penglihatan
1) Pengamatan melalui pengelihatan, merupakan keterampilan untuk mampu melihat persamaan dan perbedaan bentu, benda, warna sebagai dasar untuk pengembangan kognitif.Permasalahan tentang hal tersebut antara lain:
a) Belum dapat mengelompokkan benda berdasarkan warna, ukuran, bentuk.
b) Belum dapat mengamati benda-benda secara jelas, misal pada saat mengamati lingkungan anak belum bisa mengamati benda-benda yang ada.
2) Ingatan melalui pengelihatan merupakan keterampilan untuk mengingat apa yang sudah dilihatnya.Permasalahan tentang hal tersebut antara lain:
a) tidak mampu menyebutkan nama benda tanpa ada bendanya.
b) Tidak mampu menguraikan benda-benda yang dilihat dari beberapa aspek, misalnya bentuk, warna, fungsi dan lain-lain.
c) Tidak mempu menghasilkan kembali gambar-ganbar yang telah diperlihatkan.
d) Tidak mampu mencari bagian-bagian yang hilang dari suatu bentuk gambar dan sebagainya.
e) Tidak mampu melengkapi gambar.
f) Tidak mampu mengurutkan kembali satu seri gambar yang diacak.
d. Pendengaran
Permasalahan tentang hal tersebut antara lain:
1) tidak mampu untuk menirukan berbagai suara tertentu 2) tidak mampu menirukan kalimat-kalimat pendek
3) tidak mampu mendengarkan persamaan-persamaan dalam kata-kata yang bersajak.
4) Tidak mampu memceritakan kembali kejadian.
5) Tidak mampu mengulangi urutan cerita.
6) Tidak mampu menyanyikan lagu sederhana.
e. Berbahasa
Masalah yang timbuk biasanya adalah:
1) Tidak mampu mengutarakan isi hatinya dengan kalimat-kalimatnya.
2) Tidak mampu menyebut dan menunjuk bagian-bagian tubuh.
3) Pengamatan pendengaran.
4) Bicaranya belum jelas.
5) Gagap.
f. Kecerdasan
Merupakan keterampilan untuk mampu menghubung-hubungkan pengetahuannya.Masalahnya antara lain:
1) Tidak ada inisiatif untuk menguraikan ide-ide yang paling sederhana.
2) Tidak bisa menangkap, bernalar, berfikir apa yang diterima oleh pengamatan inderanya.
Anak bermasalah pada Tk usia 4-5 tahun yang memiliki perilaku non normatif (perilaku) dilihat dari tingkat perkembangannya, atau mengalami kesulitan dalam menyesuaikan diri baik pada waktu belajar (konsentrasi) maupun dalam aktivitas bermain di sekolah atau di rumah (sosial). Untuk mengetahui apakah anak bermasalah atau tidak, pendidik (orang tua, guru, orang dewasa disekitar anak) perlu memahami tahapan perkembangan anak dalam segala aspek. Pemahaman tersebut dapat membantu menganalisis dan mengelompokkan anak pada kategori bermasalah atau tidak.
Secara garis besar, masalah yang dihadapi anak dapat digolongkan menjadi tiga, yaitu masalah-masalah yang berkaitan dengan keadaan fisik, psikis, sosial, serta kesulitan belajar.54 Penjelasanya berikut di bawah ini:
1. Fisik
Perkembangan aspek fisik terkait dengan keutuhan dan kemampuan fungsi panca indera anak, kemampuan melakukan gerakan-gerakan sesuai perkembangan usianya.55 Anak yang mengalami hambatan dalam hal-hal tersebut dapat dikatakan mengalami masalah secara fisik.56
Lebih lanjut permasalahan-permasalahan fisik tersebut adalah sebagai berikut.
a) Gangguan fungsi pancaindera;
b) Cacat tubuh;
c) Kegemukan (obesitas);
d) Gangguan gerak peniruan (stereotipik);
e) Kidal;
f) Gangguan Kesehatan (penyakit);
g) Hiperaktif;
h) Neuropati;
i) Ngompol (enuresis);
j) Buang air besar di sembarang tempat (encopresis);
k) Gagap;
l) Gangguan perkembangan bahasa.
54http://www.balita-anda.com/kesehatan-%20umum/285.pdf , (pada tanggal 14 Maret 2019).
55Dewi Rosmala, Berbagai Masalah Anak Taman Kanak-kanak, (Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional, Dirjen Dikti, 2005), hlm. 43.
56Dewi Rosmala, Berbagai Masalah ………., hlm. 45.
2. Psikis
Permasalahan psikis anak terkait dengan kemampuan psikologis yang dimilikinya atau ketidak mampuan mengekspresikan dirinya dalam kondisi yang tidak normal.
Beberapa permasalahan psikis yang seringkali dialami anak adalah sebagai berikut.
a. Gangguan konsentrasi;
b. Inteligensi (baik tinggi maupun rendah);
c. Berbohong;
d. Emosi (perasaan takut, cemas, marah, sedih, dan lain-lain).
3. Sosial
Perkembangan sosial anak berhubungan dengan kemampuan anak dalam berinteraksi dengan teman sebaya, orang dewasa, atau lingkungan pergaulan yang lebih luas. Dengan demikian, permasalahan anak dalam bidang sosial juga berkaitan dengan pergaulan atau hubungan sosial, yang meliputi perilaku-perilaku sebagai berikut.
a. Tingkah laku agresif;
b. Daya suai kurang;
c. Pemalu;
d. Anak manja;
e. Negativisme;
f. Perilaku berkuasa;
g. Perilaku merusak.
4. Kesulitan Belajar
Kesulitan belajar pada anak dapat dimaknai sebagai ketidak mampuan anak dalam mencapai taraf hasil belajar yang sudah ditentukan dalam batas waktu yang telah ditetapkan dalam program kegiatan belajar, sesuai dengan potensi yang dimilikinya.57
Beberapa indikator dan jenis kesulitan belajar yang mungkin dialami anak adalah sebagai berikut.
a. Lower level b. Underachiever c. Slow learner
Diantara permasalahan-permasalahan diatas, permasalahan kesehatan adalah permasalahan yang sangat berpengaruh besar terhadap aspek perkembangan lainnya, ketika
57http://www.balita-anda.com/kesehatan-%20umum/285.pdf, (pada tanggal 14 Maret 2019).
kesehatan anak bermasalah maka perkembangan anak akan tehambat juga. Hal tersebut bisa diminimalisir jika orangtua memperhatikan anaknya dengan sepenuhnya.
b) Faktor Penyebab Permasalahan Anak
Terdapat beberapa faktor penyebab permasalahan pada anak, baik yang bersifat intrinsik (berasal dari diri anak sendiri) maupun ekstrinsik (berasal dari luar diri anak).58 Secara umum, faktor-faktor tersebut adalah:
1. Pembawaan, yakni anak dengan semua keadaan yang ada pada dirinya;
2. Lingkungan keluarga, mencakup pola asuh orang tua, keadaan sosial, dan ekonomi.
3. Lingkungan sekolah, meliputi cara mengajar guru, proses belajar mengajar, alat bantu, dan kurikulum.
4. Masyarakat, mencakup pergaulan, norma, adat istiadat.
c) Cara Mengidentifikasi Permasalahan Anak
Mengidentifikasi permasalahan anak diartikan sebagai upaya menemukan gejala- gejala yang tampak pada penampilan dan perilaku anak dalam memperkirakan penyebab masalah hingga bentuk bantuan yang dapat dilakukan untuk mengatasinya.59
Berbagai cara dapat dilakukan orang tua dan guru untuk mengetahui apakah anak mengalami permasalahan atau tidak. Cara-cara tersebut secara umum dibagi dua, yakni melalui tes dan non tes.
1. Tes
Tes merupakan salah satu alat bantu yang dapat dipergunakan untuk mengidentifikasi permasalahan anak yang bersifat standar atau baku. Bentuk tes ini dapat berupa pertanyaan-pertanyaan atau tugas-tugas yang harus dijawab atau dikerjakan anak serta dibatasi oleh waktu.60 Di antara beragam jenis tes yang banyak dipergunakan, di antaranya adalah:
a. Tes bakat;
b. Inteligensi;
c. Prestasi;
58 http://www.kadnet.info/web/index.php?%20option=com_content&view=article&id=1294:aakhypera ktif-
&catid=42:artikel-minggu-ini&Itemid=90, (pada tanggal 14 Maret 2019).
59Slamet Suyanto, Dasar-dasar Pendidikan Anak Usia Dini, (Yogyakarta: Hikayat, 2005), hlm. 43.
60Jamaris Martini, Perkembangan dan Pengembangan Anak Usia Taman Kanak kanak, (Jakarta: Pustaka Setia, 2007), hlm. 78.
d. Diagnostik.
2. Non-tes
Teknik non tes biasanya dipergunakan untuk mengidentifikasi permasalahan anak dengan cara mengamati penampilan serta perilaku anak dalam aktivitas kesehariannya sehingga cenderung lebih fleksibel bila dibandingkan dengan teknik tes. Di samping itu, dipergunakan pula kumpulan hasil karya dan pekerjaan anak selama periode waktu tertentu.61 Beberapa macam teknik non-tes yang populer, di antaranya adalah:
a. Observasi;
b. Wawancara;
c. Angket;
d. Portofolio;
e. Catatan Anekdot;
f. Daftar Cek;
g. Skala Penilaian;
h. Sosiometri;
i. Tugas Kelompok.
d) Langkah-langkah dan Teknik Penanganan Masalah
Setelah kita memahami cara mengatasi permasalahan di atas maka supaya kita mudah dalam menangani permasalahan-permasalahan pada anak usia dini maka kita juga harus belajar memahami langkah-langkah dan teknik-teknik penanganan masalah- masalah tersebut, berikut akan di bahas langkah-langkah dan teknik penanganan masalah;
1. Langkah-langkah Penanganan masalah
Penanganan masalah anak dapat dilakukan dengan mengikuti langkah-langkah sebagai berikut.62
a. Identifikasi kasus, yakni upaya untuk menandai subjek (anak) yang diperkirakan mengalami masalah.
61 http://www.kadnet.info/web/index.php?%20option=com_content&view=article&id=1294:aakhypera ktif-
&catid=42:artikel-minggu-ini&Itemid=90, (pada tanggal 14 Maret 2019)
62Singgih Gunarsa, Psikologi Anak Bermasalah, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2008), Hlm.55.
b. Identifikasi masalah, yakni upaya mengetahui inti permasalahan yang dihadapi anak.
c. Diagnosis, merupakan langkah untuk mengidentifikasi karakteristik serta faktor penyebab masalah yang dialami anak.
d. Prognosis, merupakan langkah untuk merumuskan alternatif upaya bantuan sesuai dengan karakteristik permasalahan yang dialami. Menentukan jalan apa yang akan dilakukan orang tua untuk mengatasi masalah-masalah yang terjadi pada anaknya.
e. Treatment, merupakan upaya pemberian bantuan itu sendiri. melakukan perawatan atau terapi sesuai masalah anak demi penyembuhannya. Terapi bisa berbentuk medis ataupun non medis, bisanya permasalahan yang menggunakan treatment adalah permasalahan fisik dan psikis yang membutuhkan dokter dan psikiater atau psikolog.
f. Tindak lanjut, dilakukan sebagai bentuk evaluasi terhadap upaya pemberian bantuan yang telah dilakukan serta kemungkinan penggunaan langkah-langkah berikutnya.
2. Teknik Penanganan Masalah
Pada hakikatnya, tidak ada satu pun teknik yang efektif untuk menangani permasalahan anak yang berbeda-beda. Penggunaan suatu teknik akan bergantung kepada karakteristik anak, jenis permasalahan, kemampuan serta keterampilan pemberi bantuan, serta faktor feasibilitasnya.63
Di antara berbagai teknik yang dapat dilakukan orang tua dan guru untuk membantu menangani permasalahan anak adalah sebagai berikut. a. Latihan
Dengan latihan kita dapat mengetahui dan mengevaluasi sejauh mana kemampuan anak,juga dapat mengetahui dimana kelemahan anak. Latihan diberikan kepada anak untuk melatih konsentrasi atau aspek kognitif anak.
b. Permainan
Permainan dan bermain merupakan kebutuhan bagi anak. Melalui permainan anak dapat mengembangkan berbagai aspek. Termasuk aspek social emosional yang dapat membantu pengembangan karakter anak usia dini.
Permainan merupakan sumber media untuk menstimulasi anak.
63Singgih Gunarsa, Psikologi Anak………, hlm. 57.
c. Saran dan nasihat
Dalam menangani masalah anak saran dan nasihat sangat diperlukan untuk mengarahkan anak dan menjelaskan nilai baik buruk kepada anak, ketika kita memberikan nasihat akan mudah diterima ketika anak masih berada pada usia dini.
d. Pengkondisian (conditioning)
Ketika kita akan mengatasi masalah yang sedang dihaadapi anak hendaknya kita harus melihat kondisi dan keadaan yang memungkinkan untuk melakukannya.64
e. Model dan peniruan (modeling and imitation)
Anak adalah peniru ulung, anak hanya melakukan apa yang ia lihat, ia dengar dan ia rasakan maka dari itu kita sebagai orang tua harus menjadi teladan yang baik bagi anak.
f. Konseling
Merupakan proses yang terjadi antara anak dan seorang konselor yang membantu anak-anak untuk sembuh dan kembali rasa percaya dirinya. Selama konseling, seorang anak didorong untuk dapat menyatakan perasaan mereka.
e) Syarat Menangani Permasalahan Anak
Orang tua dan guru merupakan model bagi anak. Untuk dapat membantu menangani permasalahan anak dengan tepat, orang tua dan guru diharapkan memiliki beberapa karakteristik sebagai persyaratannya.65
Beberapa karakteristik di bawah ini setidaknya dapat membantu mempermudah orang tua dan guru dalam menangani permasalahan yang dihadapi anak.
1. Kesabaran;
2. Penuh kasih sayang;
3. Penuh perhatian;
4. Ramah;
5. Toleransi terhadap anak;
6. Empati;
7. Penuh kehangatan;
64Nurihsan, Dasar-dasar Bimbingan Konseling, (Bandung: Mutiara, 2003), hlm. 50.
65Nurihsan, Dasar-dasar ………hlm. 53.
8. Menerima anak apa adanya;
9. Adil;
10. Dapat memahami perasaan anak;
11. Pemaaf terhadap anak;
12. Menghargai anak;
13. Memberi kebebasan terhadap anak;
14. Menciptakan hubungan yang akrab dengan anak.
C. Kesimpulan
Setiap permasalahan tentu memiliki solusi. Demikian pula permasalahan yang dihadapi anak, merupakan suatu cara bagi orang tua dan guru untuk belajar memberikan solusi yang terbaik bagi proses tumbuh kembang anak-anak mereka. Permasalahan- permasalahan anak dapat dicegah jika orang tua maupun Guru (tutor) memberikan tiga kebutuhan dasar anak sejak dini yakni asah (dengan memberikan stimulasi yang dibutuhkan anak sesuai usianya), asih (dengan memberikan kasih sayang, cinta dan perhatian), asuh (mendidik dan menerapkan pola asuh yang tepat kepada anaknya).
Permasalahan anak usia dini harus segera ditangani. Jika tidak ditangani diusia dini hingga tuntas maka akan mempengaruhi perkembangan moral dan pembentukkan karakter kelak ia dewasa.
Langkah-langkah dan Teknik Penanganan Masalah, langkah-langkahnya: Identifikasi kasus, identifikasi masalah, diagnosis, prognosis, treatment, dan tindak lanjut, dilakukan sebagai bentuk evaluasi terhadap upaya pemberian bantuan yang telah dilakukan serta kemungkinan penggunaan langkah-langkah berikutnya. Sedangkan teknik penanganan masalah yaitu: Latihan, permainan, saran dan nasihat, pengkondisian (conditioning), model dan peniruan (modeling and imitation), dan konseling.
Perlu kita ketahui juga tujuan pendidikan anak usia dini adalah pendidikan yang akan membentuk karakter seorang anak agar anak memiliki kepribadian yang utuh kelak, yakni
dengan stimulasi dan memberikan tiga kebutuhan dasar anak. Dengan demikian, penting bagi para orang tua dan guru untuk memahami permasalahan-permasalahan anak agar dapat meminimalkan kemunculan dan dampak permasalahan tersebut serta mampu memberikan upaya bantuan yang tepat.
DAFTAR PUSTAKA
Gunarsa, Singgih. 2008. Psikologi Anak Bermasalah. Jakarta: BPK Gunung Mulia.
Martini,Jamaris. 2007. Perkembangan dan Pengembangan Anak Usia Taman Kanak kanak.
Jakarta: Pustaka Setia.
Nurihsan. 2003. Dasar-dasar Bimbingan Konseling. Bandung: Mutiara.
Rosmala, Dewi. 2005.Berbagai Masalah Anak Taman Kanak-kanak. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional, Dirjen Dikti.
Suyanto, Slamet. 2005. Dasar-dasar Pendidikan Anak Usia Dini. Yogyakarta: Hikayat.
http://www.kadnet.info/web/index.php?%20option=com_content&viw=article&id=1294:anak - hyperaktif-&catid=42:artikel-mingguini&Itemid=90
(pada tanggal 14 Maret 2019).
http://www.balita-anda.com/kesehatan-%20umum/285.pdf (pada tanggal 14 Maret 2019).