1 BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Indonesia merupakan Negara yang masih berkembang sehingga pendapatan Negara terbesar adalah insentif dari rakyatnya yaitu dalam bentuk pajak. Seluruh rakyat yang penghasilannya kena pajak maka wajib untuk menghitung, membayar dan melaporkan pajaknya dengan memberlakukan self assessment system. Dimana pemerintah telah mempercayakan rakyatnya selaku wajib pajak untuk menghitung, membayar dan melaporkan pajaknya. Pada (Pemerintah Republik RI, 2007) dengan judul Undang – Undang No. 28 Tahun 2007 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (KUP) berbunyi, pajak adalah kontribusi wajib kepada Negara yang terutang oleh pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan undang – undang, dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan Negara bagi sebesar – besarnya kemakmuran rakyat.
Di Indonesia perusahaan manufaktur merupakan perusahaan yang memiliki jenis sektor yang paling beragam dan perusahaan yang paling banyak. Jenis sektor pada perusahaan manufaktur antara lain; sektor industri dasar dan kimia, aneka industri, dan industri barang konsumsi. Dalam penelitian ini menggunakan perusahaan manufaktur sektor barang konsumsi (consumer goods). Alasannya perusahaan sektor barang konsumsi di Indonesia semakin bertumbuh seiring dengan bertambahnya minat dan kebutuhan konsumen atau masyarakat Indonesia.
Kebutuhan barang konsumsi seperti produk makanan, minuman, farmasi, peralatan rumah tangga dan kosmetik serta barang keperluan rumah tangga ini semakin dibutuhkan seiring dengan pertumbuhan penduduk di Indonesia yang semakin banyak. Menurut data dari (BPS, 2019) industri barang konsumsi sub sektor makanan, minuman dan farmasi pada tahun 2019 mengalami pertumbuhan positif sampai 15,19%. Didukung lagi dengan pernyataan bahwa PT. Indofood CBP Sukses Makmur Tbk memiliki kenaikan laba dari tahun 2020 sebesar 31,12%.
Dengan bertumbuhnya produksi akan menaikkan beban-beban operasional yang
2
mungkin terjadi. Hal tersebut memungkinkan perusahaan barang konsumsi menjadi semakin agresif terhadap pajak dengan memanfaatkan beban –beban operasional sebagai langkah penghindaran pajak.
Biasanya perusahaan yang melakukan tax aggressive dengan cara penghindaran pajak merupakan perusahaan multinasional. Kemudian dengan melakukan income shifting oleh salah satu induk/anak perusahaan kepada perusahaan lainnya yang memiliki tarif pajak yang lebih rendah atau negara yang menerapkan tax haven.
Perusahaan consumer goods multinasional yang ada di Indonesia seperti Unilever, Indofood yang memiliki beberapa produk internasional. Produk-produk tersebut muncul karena dilihat permintaan masyarakat Indonesia yang sudah mengenal produk luar negeri, sehingga perusahaan-perusahaan tersebut memiliki peluang untuk dapat memasukkan produk multinasionalnya.
Kasus yang pertama terjadi pada PT. Bentoel Internasional Investama melakukan tindakan yang mencerminkan agresivitas pajak dengan cara penghindaran pajak. Dari laporan Tax Justice Network pada tahun 2019 perusahaan mengambil utang pada tahun 2013 dan 2015 dari perusahaan relasi yang ada di Belanda yang digunakan untuk restrukturisasi kredit bank, membayar mesin dan peralatan. Sehingga perusahaan wajib membayar utang bunga dimana hal tersebut mengakibatkan penurunan pendapatan serta menurunkan beban pajak yang akan dibayarkan. Semakin banyak kegiatan perusahaan yang menimbulakan beban akan dinilai semakin agresif perusahaan terhadap pajak.
Kasus yang selanjutnya terjadi pada perusahaan internet terbesar yang berada di seluruh dunia yaitu yang terjadi pada perusahaan Google di Indonesia yang dikutip dari website berita online (Kompas, 2016) dimana tidak bersedia membayar pajak karena menurutnya perusahaannya bukan BUT (Badan Usaha Tetap). Sebuah perusahaan yang dikukuhkan sebagai BUT merupakan salah satu syarat perusahaan tersebut dikenakan pajak. Direktur Jenderal Pajak pada November 2020 mengatakan bahwa kerugian pajak yang dialami akibat kegiatan penghindaran pajak mencapai 68,7 triliun rupiah per tahun. Pada laporan Tax Justice Network yang berjudul The State of Tax Justice 2020 pada masa Covid-19 yang dikutip pada
3
(Kontan, 2020) kerugian tersebut sebagian besar berasal dari perusahaan di Indonesia yang memiliki hubungan dengan pihak luar negeri. Global Financial Integrity (GFI) mencatat Illicit Financial Flows yang dikirim ke luar negeri dimana merupakan hasil dari penghindaran pajak serta aktivitas ilegal di Indonesia mencapai US$6,6 triliun sepanjang satu dekade terakhir.
Terdapat beberapa faktor yang bisa mempengaruhi agresivitas pajak salah satunya inventory intensity atau intensitas persediaan. Beban yang akan dikeluarkan seperti biaya produksi, penjualan, penyimpanan dan pemeliharaan. Sehingga semakin banyak persediaan yang perusahaan investasikan akan menimbulkan besarnya biaya yang akan dikeluarkan sehingga juga akan mengurangi laba perusahaan, berkurangnya laba akan mengurangi beban pajak yang akan dibayarkan. Pendapat ini sesuai dengan penelitian (Latifah, Novia Umi, 2018) dalam (Hidayat et al., 2018) yang menyatakan bahwa perusahaan akan memanfaatkan kelonggaran peraturan perpajakan dengan melakukan penghindaran pajak (tax avoidance) jika memiliki intensitas persediaan yang tinggi. Dari hasil penelitian (Hidayat et al., 2018) menghasilkan pernyataan bahwa inventory intensity tidak berpengaruh terhadap agresivitas pajak. Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh (Arizoni, S. S., R. V., 2020) inventory intensity berpengaruh terhadap agresivitas pajak. Didukung dengan objek yang akan digunakan dalam penelitian ini yaitu pada perusahaan manufaktur sektor consumer goods.
Faktor lainnya yang dianggap dapat mempengaruhi agresivitas pajak perusahaan yaitu pada aktivitas investasi. Investasi ini dilakukan oleh perusahaan untuk mendapat keuntungan di masa depan (Mahendra, 2015). Apabila aktiva yang dimiliki perusahaan jumlahnya besar maka biaya yang dikeluarkan untuk biaya modal akan semakin tinggi. Sehingga akan menyebabkan penurunan laba perusahaan. Jika kondisi aktiva perusahaan sebaliknya maka biaya perusahaan tidak akan bertambah. Segala aktivitas perusahaan yang berkaitan dengan beban usaha dan laba akan mempengaruhi beban pajak maka hal tersebut merupakan salah satu bentuk tax planning perusahaan yang juga merupakan tindakan agresivitas pajak.
4
Faktor selanjutnya yaitu manajemen laba. Perusahaan selalu memiliki perbedaan informasi yang terjadi antara pemilik perusahaan dengan pihak manajemen. Sehingga adanya perbedaan ini memberikan peluang pada manajemen laba untuk mengatur kondisi labanya dengan tujuan dapat menurunkan labanya pada laporan keuangan untuk pemegang kepentingan yang dilakukan secara legal maupun ilegal. Sejalan dengan penelitian (Arizoni, S. S., R. V., 2020) yang menyatakan akibat asimetri informasi ini dapat dilakukan manajemen laba untuk mengurangi beban pajaknya. Pada penelitian ini membuktikan bahwa manajemen laba berpengaruh tetapi tidak signifikan terhadap agresivitas pajak (Arizoni, S. S., R. V., 2020). Sedangkan penelitian sebelumnya (Arief et al., 2016) menyatakan bahwa manajemen laba berpengaruh signifikan terhadap agresivitas pajak.
Penelitian ini dilakukan untuk menguji ulang mengenai agresivitas pajak dengan berfokus faktor-faktor seperti Inventory Intensity Ratio, Aktivitas Investasi dan Manajemen Laba.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang tersebut, maka dapat dirumuskan permasalahan dalam penelitian ini adalah;
1. Apakah inventory intensity ratio berpengaruh terhadap agresivitas pajak ? 2. Apakah aktivitas investasi berpengaruh terhadap agresivitas pajak ? 3. Apakah manajemen laba berpengaruh terhadap agresivitas pajak ? C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah tersebut tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Menganalisis dan membuktikan secara empiris pengaruh Inventory Intensity terhadap Agresivitas Pajak pada perusahaan manufaktur sektor consumer goods
2. Menganalisis dan membuktikan secara empiris pengaruh Aktivitas Investasi terhadap Agresivitas Pajak pada perusahaan manufaktur sektor consumer goods
5
3. Menganalisis dan membuktikan secara empiris pengaruh Manajemen Laba terhadap Agresivitas Pajak pada perusahaan manufaktur sektor consumer goods.
D. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat yang diharapkan dari hasil penelitian ini agar dapat memberikan manfaat sebagai berikut:
a. Untuk Keilmuan
Penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi literatur ilmu Akuntansi, khususnya dalam kajian tentang tax aggressive. Secara khusus, penelitian ini memperkenalkan dan menawarkan formula baru untuk mengetahui akibat tax aggressive dengan pengaruhnya pada inventory intensity, aktivitas investasi, dan manajemen laba.
b. Untuk Praktisi
Pada penelitian ini diharapkan dapat menjelaskan bahwa inventory intensity, aktivitas investasi, dan manajemen laba merupakan penyebab dan indikator lain yang dapat menghasilkan tax aggressive oleh karena itu, pemerintah khususnya Dirjen Pajak harus mulai memperhatikan faktor ini dalam mengelola pajak Negara.
Terkait dengan tax aggressive, diharapkan penelitian ini dapat memberikan bukti empiris tentang pengaruh inventory intensity, aktivitas investasi, dan manajemen laba dalam kegiatan perpajakan di Indonesia khususnya pada perusahaan- perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Selain itu, penelitian ini diharapkan dapat memberikan penegasan kepada pengelola pajak tentang urgensi tax aggressive jika dilakukan terus– menerus.