BAB I PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Perencanaan ekonomi secara umum dapat diartikan sebagai upaya- upaya yang dilakukan oleh pemerintah untuk mengordinasikan keputusan dalam perekonomian dalam jangka panjang. Perencanaan ekonomi mempengaruhi tingkatan pertumbuhan variabel-variabel ekonomi pokok.
Sebagian besar negara-negara berkembang ternyata dirumuskan dan dilaksanakan sebagai perekonomian campuran. System perekonomian campuran ini merupakan system yang menerapkan fungsi pasar.
United nation department of economic affair membedakan dibagi
menjadi empat tipe perencanaan yaitu tipe pertama, perencanaan yang merujuk pada pengeluaran pemerintah. Tipe kedua, perencanaan yang mengacu pada target produksi yang mengacu pada susunan tenaga kerja, modal dan sumber daya langka lainnya. Tipe ketiga, perencanaan yang mengacu pada target-target perekonomian dan alokasi sumber daya langka.
Tipe keempat, perencanaan dengan intrumens politik pemerintah untuk mendorong perusahaan-perusahaan agar mencapai targer-target yang direncanakan oleh pemerintah (Todaro & Smith, 2013).
Pembangunan ekonomi sering dikonseptualisasikan sebagai keseimbangan perkapita dan terdapat beberapa identifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi. Konsep-konsep utama dalam ekonomi lokal dan literature ekonomi pembangunan lokal. Pertama,
pendekatan regional dalam pembangunan ekonomi daerah. Kedua, relevansi karakteristik dan kelembagaan lokal menyatakan bahwa kondisi yang menguntungkan untuk pembangunan yaitu kombinasi aturan, norma, da hubungan sosial yang spesifik. Ketiga, disparitas pada tingkat geografis lebih relevan yang sering terjadi pada negara berkembang, dimana hanya beberapa lokasi yang dapat memicu pertumbuhan ekonomi. Keempat, kekuatan dan karakteristik regional sangat relevan dalam membentuk pembangunan regional, dimana strategi pembangunan ekonomi dilakukan melalui pengambilan keputusan yang dilakukan oleh otoritas dan lembaga lokal dalam desentralisasi (Ascani et al., 2012).
Pemikiran mendasar mengenai pembangunan dalam negara berkembang adalah kurangnya modal yang mengakibatkan datangnya modal dari hutang luar negeri yang menggunakan dasar dari Harrod – Domar tentang peran capital yang besar dalam pembangunan dan pertumbuhan ekonomi yang akan melahirkan crowding out. Tahap pembangunan yang mengadopsi pemikiran W.W. Rostow, dimana tahapan pembangunan dari masyarakat tradisional, prakondisi tinggal landas, tinggal landas, masyarakat menuju kedewasaan dan masyarakat konsumsi tinggi, terpelanting pada fase masyarakat pra tinggal landas.
Seiring berjalannya populasi di Indonesia memberikan kenaikan terhadap jumlah angkatan keja, hal ini membuat jumlah angkatan kerja menjadi faktor dalam mendorong pertumbuhan ekonomi sehingga dapat memperbesar ukuran pasar dalam negeri. Efisiensi tenaga kerja
mencerminkan pengetahuan masyarakat tentang metode-metode produksi ketika teknologi mengalami kemajuan dan efisiensi tenaga kerja (Mankiw, 2017). Teknologi melipatgandakan dalam efesiensi tenaga kerja sehingga dalam fungsi produksi. Dalam meningkatkan kualitas produksi, modal manusia (Human Capital) memberikan dampak yang lebih besar terhadap jumlah produksi dengan melakukan peningkatan terhadap pendidikan- pendidikan formal, vokasional, dan pelatihan dalam pekerjaan (Todaro &
Smith, 2013).
Pertumbuhan ekonomi merupakan kegiatan dalam perekonomian yang menyebabkan barang dan jasa yang diproduksi masyarakat bertambah dan kesejahteraan meningkat. Pertumbuhan pada suatu daerah dapat mengidentifikasikan potensi dan perkembangan ekonomi di daerah tersebut.
Pertumbuhan ekonomi suatu daerah dapat bernilai positif dan bernilai negative pula. Jika perekonomian pada daerah tersebut mengalami pertumbuhan yang meningkat, maka bernilai positif. Sedangkan jika suatu perekonomian tersebut mengalami penurunan, maka bernilai negative.
Pembangunan daerah merupakan bagian dari pembangunan nasional yang dilaksanakan secara terpadu dengan sasaran utama yaitu menciptakan pertumbuhan ekonomi, pemerataan pembangunan dan pemerataan pendapatan antar daerah. Demi mencapai sasaran pembangunan perekonomian tersebut, maka diperlukan perencanaan pembangunan. Hal ini disebabkan setiap daerah memiliki karakteristik dan potensi dalam meningkatkan perekonomian. Perencanaan pembangunan merupakan
rencana yang dibuat untuk mencapai kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat sehingga hasil dari perencanaan pembangunan sendiri dapat mensejahterakan masyarakat sebagai peningkatan perekonomian secara adil dan merata. Upaya manusia dalam pembangunan yakni dengan mendayagunakan lingkungan hidup dan sumber daya alam untuk meningkatkan taraf hidup. Dengan adanya peningkatan pendapatan perkapita secara terus menerus yang berlangsung dengan jangka panjang Dalam paradigma pertumbuhan ekonomi diperlukan kebijakan yang tepat untuk pertumbuhan ekonomi berkelanjutan secara sosial (Xue, 2012).
Strategi dalam mengakselerasi pertumbuhan ekonomi yaitu dengan memobilisasikan tabungan dalam dan luar negeri untuk menghasilkan investasi Dengan berjalannya, pertumbuhan ekonomi terus mengalami perubahan dari tahun ke tahun seiring dengan pelaksanaan otomi daerah (Todaro & Smith, 2013). Dalam hal ini, pemerintah memiliki peranan penting dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi, salah satunya dalam peningkatan gross domestic produc dalam tingkat regional dengan tujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. gross domestic produc juga menjadi tolak ukur dalam kesejahteraan masyarakat. Menurut (Sukirno, 2018), pertumbuhan ekonomi merupakan perkembangan dalam perekonomian yang dapat menyebabkan barang dan jasa yang diproduksi oleh masyarakat bertambah serta kesejahteraan masyarakat meningkat.
Selain itu, ada beberapa indikator yang meningkatkan kesejahteraan masyarakat, yaitu jumlah tenaga, menurut todaro dan smith, ketersediaan
tenaga kerja memberikan dampak yang besar terhadap perekonomian jika memiliki lapangan pekerjaan yang cukup untuk menyerapnya. Kontribusi terbesar dalam pertumbuhan ekonomi adalah menformalkan pemikiran peranan kemajuan teknologi sebagai suatu faktor endogenous dalam suatu model dan dalam kerangka asumsi imperfect competition. Menurut Lewis, kelebihan pekerja merupakan kesempatan dan bukan masalah, yang artinya bahwa kelebihan pekerja satu sector akan memberikan peningkatan terhadap output tersebut.
Kinerja perekonomian di pulau Jawa menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi dari tahun 2010 sampai 2019 mengalami trend yang fluktuatif. Untuk memberikan gambaran mengenai kondisi pertumbuhan pulau Jawa dapat dilihat pada grafik 1. berikut.
Grafik.1.1. Laju Pertumbuhan Ekonomi Pulau Jawa Tahun 2011 – 2019 (Persen)
Sumber : (BPS, 2019)
- 1,00 2,00 3,00 4,00 5,00 6,00 7,00 8,00
Pertumbuhan Ekonomi
Tahun
DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten
Pada Grafik 1.1 menunjukkan bahwa provinsi yang berada di dalam pulau jawa mengalami pertumbuhan dengan tren yang sedikit fluktuatif.
tahun 2011 pertumbuhan ekonomi tertinggi berada pada provinsi Banten sebesar 7.03 persen. pada tahun 2012, laju pertumbuhan ekonomi tertinggi berada di provinsi Banten dengan 6,83 persen dan mengalami peningkatan sebesar 6,67 persen pada tahun 2013. Pada tahun 2014, laju pertumbuhan ekonomi tertinggi di provinsi DKI Jakarta dengan 5,91 persen.tahun 2015 pertumbuhan ekonomi tertinggi masih berada pada provinsi DKI Jakarta sebesar 5,91 persen. di tahun 2016, laju pertumbuhan ekonomi terbesar berada di provinsi DKI Jakarta sebesar 5,87 persen dan pada tahun 2017 Laju Pertumbuhan DKI Jakarta sebesar 6,20 persen. tahun 2018, laju pertumbuhan ekonomi tertinggi berada pada provinsi DI Yogyakarta sebesar 6,20 persen dan di tahun 2019, laju pertumbuhan ekonomi DI Yogyakarta sebesar 6,59 persen dalam hal ini, kondisi laju pertumbuhan ekonomi sangat bervariasi, dimana terdapat provinsi yang mengalami peningkatan setiap tahunnya.
Namun di sisi lain juga terdapat kondisi, dimana provinsi jawa tengah mengalami pertumbuhan yang fluktuatif, bahkan pertumbuhan ekonomi di provinsi jawa tengah masih belum menyentuh di angka 6 persen. Setiap daerah memiliki tingkat dispersi dalam pertumbuhan tenaga kerja dan penyerarapan tenaga kerja yang juga merupakan salah satu dari faktor – faktor pertumbuhan ekonomi. Pengangguran adalah masalah makroekonomi yang mempengaruhi manusia secara langsung dan
merupakan masalah yang paling berat. Bagi kebanyakan orang, kehilangan pekerjaan berarti penurunan standar kehidupan dan tekanan psikologis. Para ahli ekonom mempelajari dan mengidentifikasi penyebab dari pengangguran dan membantu memperbaiki kebijakan public(Mankiw, 2017).
Kebijakan belanja modal akan berdampak kepada aktivitas ekonomi setiap daerah. Secara umum, belanja modal pemerintah dialokasikan untuk membangun sarana dan prasarana untuk meningkatkan intensitas dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang akan memperbaiki kesehteraan masyarakat(Putri, 2014).Akumulasi modal terjadi jika sebagian pendapatan ditabung dan diinvestasikan maka akan memperbesar pendapatan dan output. Investasi pemerintah dapat dirinci sebagai belanja modal pemerintah daerah. Kenyataannya, realisasi belanja modal memiliki porsi yang lebih sedikit daripada belanja pegawai, padahal belanja modal merupakan bagian dari belanja langsung yang memiliki manfaat terhadap masyarakat.
Kemajuan suatu daerah dapat diukur melalui kemampuan suatu daerah dalam menyediakan barang dan jasa kepada masyarakat, sehingga memungkinkan untuk menaikkan standard hidup. Tolak ukur pertumbuhan ekonomi adalah produk domestik bruto yang tidak bisa lepas dari pengeluaran pemerintah(Pradiatmi & Wibowo, 2017).
Upah cenderung rendah karena dua hal. Pertama, karena kualitas para pekerja kurang terdidik dan kurang bepengalaman sehingga memiiki tingkat produktivitas marjinal yang rendah. Para pekerja sering kali mengambil kompensasi daripada bayaran langsung, salah satu contohnya
seperti magang, dimana magang merupakan pelatihan klasik yang digunakan sebagai pengganti upah (Mankiw, 2017).
Permasalahan yang terdapat dalam penelitian ini adalah pembangunan ekonomi dalam provinsi Jawa Tengah ini belom sepenuh berjalan dengan merata dan hanya terfokus pada beberapa daerah tertentu, sehingga perekonomian dalam per kabupaten dan kota tidak merata.
Berdasarkan latar belakang diatas, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Analisi Faktor – Faktor Penentu Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten dan Kota Provinsi Jawa Tengah”
B. RUMUSAN MASALAH
Dari hasil uraian latar belakang diatas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini ialah bagaimana pengaruh tenaga kerja dan belanja modal terhadap pertumbuhan ekonomi kabupaten dan kota di provinsi Jawa Tengah ?
C. BATASAN MASALAH
Berdasarkan pada latar belakang dan perumusan masalah di atas, batasan masalah yang digunakan dalam penelitian ini yaitu tenaga kerja dan belanja modal dalam kurun waktu 2010 – 2019 kabupaten dan kota di provinsi Jawa Tengah.
D. TUJUAN DAN MANFAAT
1. Berdasarkan uraian pada rumusan masalah, adapun tujuan penelitian yang dicapai yaitu, Menganalisis faktor-faktor penentu yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi di Jawa Tengah.
2. Diharapkan penelitian ini mampu untu memberikan manfaat baik secara akademis maupun praktis. Adapun manfaat penelitian ini sebagai berikut:
a. Secara teoritis maupun praktis, dapat menambah wawasan informasi untuk input penelitian lain dalam pemahaman teori pertumbuhan ekonomi.
b. Sarana dalam pengembangan ilmu pengetahuan khususnya pada kajian ilmu ekonomi
c. Secara praktis, penelitian ini dapat memberikan masukan terhadap pemerintah daerah dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi.