TESIS
Oleh
PEMMI SINAGA 147032127/IKM
PROGRAM STUDI S2 ILMU KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2016
TESIS
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat
untuk Memperoleh Gelar Magister Kesehatan (M.Kes) dalam Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat
Minat Studi Kesehatan Reproduksi pada Fakultas Kesehatan Masyarakat
Universitas Sumatera Utara
Oleh
PEMMI SINAGA 147032127/IKM
PROGRAM STUDI S2 ILMU KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2016
PANITIA PENGUJI TESIS
Ketua : Drs. Amir Purba, M.A, Ph.D
Anggota : 1. Drs. Abdul Jalil Amri Arma, M.Kes 2. Prof.Dr.Ir.Evawany Y Aritonang, M.Si 3. Drs. Eddy Syarial, M.S
DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS PADANG BULAN SELAYANG II KECAMATAN MEDAN SELAYANG TAHUN 2016
TESIS
Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam tesis ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi, dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka.
Medan, Agustus 2016 Penulis,
Pemmi Sinaga 147032127/IKM
dilahirkan, dan upaya untuk mewujudkan hak-hak tersebut melalui pemakaian kontrasepsi (KB).
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konseling petugas kesehatan terhadap pemilihan metode kontrasepsi jangka panjang (MKJP) di Puskesmas Padang Bulan Selayang II Kecamatan Medan Selayang Tahun 2016.
Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan rancangan cross sectional.
Populasi PUS yang akan menjadi akseptor KB. Sampel pada penelitian ini sebanyak 108 PUS yang akan menjadi akseptor KB, yang dipilih dengan sistematic randome sampling. Pengumpulan data diperoleh dengan menggunakan alat bantu kuesioner.
Hasil analisa bivariat menunjukkan ada hubungan yang bermakna antara umur, paritas, pengetahuan, frekuensi, kejelasan informasi dengan p-value (p<0,05).
Sedangkan pendapatan, pembiayaan, dan dukungan PUS tidak ada hubungan yang bermakna dengan pemilihan MKJP dengan p-value (p>0,05). Hasil analisis multivariat didapat nilai koefisien regresi variabel umur dan dukungan 1.3 dan 1.6 sehingga ada pengaruh umur dan dukungan PUS dengan pemilihan MKJP.
Diharapkan agar pemerintah dapat meninjau kembali program yang telah ada untuk meningkatkan kualitas dan frekuensi konseling yang diberikan petugas kesehatan untuk keputusan pemilihan kontrasepsi, karena berdasarkan penelitian di lapangan kejelasan informasi dan pengetahuan PUS mempunyai pengaruh signifikan terhadap pemilihan MKJP.
Kata Kunci : Variabel Dukungan, Frekuensi Konseling, Kejelasan Informasi, Pemilihan MKJP
to decide when to give birth, number of children and spacing of their children were born, and the effort to realize these rights through the use of contraception (birth control).
This study aims to determine the effect of counseling health workers to the election of a long-term contraceptive method (LTM) in Puskesmas Padang Bulan Medan Selayang II District Medan Selayang Year 2016. This study is a quantitative research with cross sectional design. PUS population that will become family planning acceptors. Samples in this study were 108 PUS will be acceptors, selected by sistematic randome sampling. The collection of data obtained using a questionnaire tools.
The results of the bivariate analysis showed no significant relationship between age, parity, knowledge, frequency, clarity of information with a p-value (ps<0.05). Meanwhile, revenue, funding, and support PUS no meaningful relationship with LTM selection with a p-value (p> 0.05). Multivariate analysis obtained regression coefficient on the variable old and support with 1.3 and 1.6 so that there is the influence of old and support pussy with LTM selection.
It is expected that the government and relevant agencies to review the existing programs with a greater emphasis on the importance of good counseling that information given to health care workers and the contraceptive decisions, because based on the research in the field of information and knowledge PUS clarity with significant influence on the selection of LTM.
Keywords: Variable support, The Frequency of Counseling, Clarity of Information, Selection of LTM
melimpahkan rahmadnya sehingga penulis dapat menyelesaikan tesis ini dengan judul “Pengaruh Konseling Petugas Kesehatan terhadap Pemilihan Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) di Puskesmas Padang Bulan Selayang II Kecamatan Medan Selayang Tahun 2016”.
Dalam penulisan tesis ini, penulis mendapat bantuan, dorongan dan bimbingan dari berbagai berbagai pihak. Untuk itu pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih dan penghargaan kepada :
1. Prof. Dr. Runtung Sitepu, S.H, M.Hum selaku Rektor Universitas Sumatera Utara.
2. Prof. Dr. Dra. Ida Yustina, M.Si selaku Dekan dan Ketua Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara yang telah memberikan izin untuk mengikuti Pendidikan di Program Studi Pasca Sarjana Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.
3. Drs. Amir Purba, M.A, Ph.D selaku pembimbing pertama yang penuh kesabaran dalam memberikan bimbingan dan arahan sejak penyusunan proposal hingga selesainya tesis ini.
4. Drs. Abdul Jalil Amri Amra, M.Kes selaku dosen pembimbing kedua yang telah banyak menyediakan waktu, pemikiran, bimbingan dan arahan sejak penyusunan proposal hingga selesainya tesis ini.
dan saran demi kesempurnaan tesis ini.
7. Bapak dan Ibu Dosen FKM Universitas Sumatera Utara yang telah mendidik dan memberikan ilmunya kepada penulis.
8. Orang Tua penulis yang selalu memberikan doa, dukungan dan semangat kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan pendidikan ini, dan juga terima kasih kepada adik-adik saya, yang telah memberikan motivasi dan doanya.
9. Seluruh rekan-rekan satu stambuk di Peminatan Kesehatan Reproduksi Tahun 2014, atas semangat kebersamaan selama menjalani perkuliahan dan bimbingan semoga kita masih menjalin silaturahim di masa mendatang.
10. Terima kasih kepada suami saya Jusuf Arifandi Sitorus yang selalu memberikan doa, dukungan, dan berkorban untuk penulis dalam menempuh pendidikan ini.
Kiranya penelitian ini memberikan manfaat kepada berbagai pihak yang berkepentingan. Penulis menyadari bahwa tesis ini masih memiliki kekurangan dan kelemahan.
Medan, Agustus 2016 Penulis,
Pemmi Sinaga 147032127/IKM
Pertama dari enam bersaudara anak dari Ayahanda Jonni Sinaga dan ibunda Oslin br.
Manurung, yang bertempat tinggal di Lumban Sinaga Desa Sibaruang Kec. Lumban Julu Kab. Tobasa.
Pendidikan formal penulis dimulai pada tahun 1996 di SD Negeri 173656 tamat pada tahun 2001, setelah itu melanjutkan pendidikan SLTP Negeri 2 Lumban Lobu pada tahun 2001 dan tamat pada tahun 2003, kemudian melanjutkan SMU Negeri Pardinggaran pada tahun 2003 dan tamat pada tahun 2005. Kemudian melanjutkan pendidikan ke jenjang Perguruan Tinggi Akbid Pemko Tebing Tinggi
pada tahun 2005 sampai dengan tahun 2008, setelah itu melanjutkan pendidikan kembali ke D-IV Bidan Pendidik Poltekes pada tahun 2011 sampai tahun 2012 dan saat ini sedang menyelesaikan tugas akhir dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Program Study S-2 Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.
Tahun 2009 sampai dengan 2010 penulis bekerja di Klinik Bidan Tanjung Anom, dan pada tahun 2010 sampai dengan tahun 2011 bekerja dI RS Sarimutiara Lubuk Pakam dan pada tahun 2013 sampai dengan 2014 bekerja sebagai Dosen di Akbid Audi Husada Medan sebagai staf pengajar.
ABSTRACT ... ii
KATA PENGANTAR ... iii
RIWAYAT HIDUP ... v
DAFTAR ISI ... vi
DAFTAR TABEL... ix
DAFTAR GAMBAR ... x
DAFTAR LAMPIRAN ... xi
BAB 1. PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Permasalahan ... 7
1.3 Tujuan Penelitian ... 8
1.4 Hipotesis ... 8
1.5 Manfaat Penelitian ... 9
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA ... 10
2.1 Konseling ... 10
2.1.1 Definisi Konseling ... 10
2.1.2 Tujuan Konseling ... 10
2.2 Konseling Kontrasepsi ... 11
2.2.1 Definisi Konseling ... 11
2.2.2 Tujuan Konseling Kontrasepsi ... 11
2.2.3 Tahapan Konseling Kontrasepsi ... 12
2.2.4 Prinsip Konseling ... 13
2.2.5 Peran Konselor dalam Konseling... 15
2.3 Kesehatan ... 16
2.3.1 Definisi Kesehatan ... 16
2.4 Petugas Kesehatan ... 16
2.4.1 Definisi Petugas Kesehatan... 16
2.4.2 Peran Petugas Kesehatan ... 17
2.5 Keluarga Berencana (KB) ... 18
2.5.1 Definisi Keluarga Berencana (KB) ... 18
2.5.2 Jenis-jenis Metode Kontrasepsi ... 19
2.6 Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) ... 23
2.6.1 Definisi Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) 23 2.6.2 Jenis Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) ... 24
2.7 Kerangka Teori ... 32
2.8 Kerangka Konsep ... 33
3.3 Populasi dan Sampel ... 35
3.3.1 Populasi ... 35
3.3.2 Sampel... 35
3.4 Metode Pengumpulan Data ... 36
3.4.1 Data Primer ... 36
3.4.2 Data Sekunder ... 37
3.5 Uji Validitas dan Reliabilitas ... 37
3.5.1 Uji Validitas ... 37
3.5.2 Uji Reliabilitas ... 37
3.6 Variabel dan Definisi Operasional ... 39
3.6.1 Variabel Penelitian ... 39
3.6.2 Definisi Operasional Variabel Penelitian... 40
3.7 Metode Pengukuran ... 41
3.8 Teknik Pengolahan dan Analisis Data ... 43
3.8.1 Pengolahan Data ... 43
3.8.2 Analisis Data ... 44
BAB 4. HASIL PENELITIAN ... 47
4.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian ... 47
4.4.1 Profil Puskesmas Padang Bulan Selayang II Kec. Medan Selayang ... 47
4.4.2 Letak Geografis Puskesmas Padang Bulan Selayang II Kec. Medan Selayang ... 48
4.4.3 Gambaran PUS di Puskesmas Padang Bulan Selayang II Kec. Medan Selayang... 48
4.2 Hasil Analisis Univariat ... 50
4.2.1 Gambaran Karakteristik Responden ... 50
4.2.2 Konseling Petugas Kesehatan ... 51
4.2.3 Pemilihan Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) ... 52
4.3 Hasil Analisis Bivariat ... 52
4.4 Analisis Multivariat ... 55
BAB 5. PEMBAHASAN ... 59
5.1 Hasil Univariat ... 59
5.1.1 Variabel Counfounding Penelitian ... 59
5.1.2 Konseling Petugas Kesehatan ... 59
5.2.2 Hubungan Pendapatan PUS dalam Pemilihan Metode
Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) ... 63
5.2.3 Hubungan Paritas PUS dalam Pemilihan Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) ... 64
5.2.4 Hubungan Biaya PUS dalam Pemilihan Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) ... 66
5.2.5 Hubungan Dukungan PUS dalam Pemilihan Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) ... 67
5.2.6 Hubungan Pengetahuan PUS dalam Pemilihan Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) ... 68
5.2.7 Hubungan Frekuensi Konseling Petugas dalam Pemilihan Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP)... 69
5.2.8 Hubungan Kejelasan Informasi Konseling Petugas dalam Pemilihan Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP)... 70
5.3 Analisis Multivariat ... 71
5.3.1 Pengaruh Umur dan Dukungan dalam Pemilihan Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) ... 71
BAB 6. KESIMPULAN DAN SARAN ... 75
6.1 Kesimpulan ... 75
6.2 Saran ... 76
DAFTAR PUSTAKA ... 77
LAMPIRAN ... 79
3.1 Uji Validitas dan Reliabilitas Kuesioner Pengaruh Konseling Petugas
Kesehatan Terhadap Pemilihan MKJP ... 38
3.2 Aspek Pengukuran Variabel Penelitian ... 41
4.1 Karakteristik Responden dalam Pemilihan Kontrasepsi MKJP ... 50
4.2 Distribusi Konseling Petugas dalam Pemilihan MKJP ... 51
4.3 Distribusi Frekuensi Pemilihan Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) ... 52
4.4 Hubungan Variabel Counfounding dalam Pemilihan Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) ... 53
4.5 Hubungan Konseling Petugas dalam Pemilihan Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) ... 54
4.6 Pemilihan Kandidat Model untuk Tahap Pemodelan Multivariat ... 55
4.7 Hasil Analisis Kolinaritas Antar Variabel Independen ... 56
4.8 Metode Alternatif ... 57
4.9 Hasil Uji Interaksi ... 57
4.10 Hasil Analisis Regresi Logistik ... 58
2.1 Kondom Wanita ... 20
2.2 Kondom Pria ... 20
2.3 KB Pil ... 21
2.4 KB Suntik ... 21
2.5 AKBK ... 21
2.6 IUD / AKDR ... 22
2.7 Tubektomi ... 22
2.8 Vasektomi ... 23
2.9 Kerangka Teori ... 32
2.10 Kerangka Konsep Penelitian ... 33
1. Lembar Persetujuan Menjadi Responden ... 79
2. Kuesioner Penelitian ... 80
3. Master Data Penelitian ... 84
4. Hasil Uji SPSS ... 86
5. Dokumentasi Penelitian ... 118
6. Surat Izin Survei Pendahuluan dari Fakultas Kesehatan Masyarakat USU 122 7. Surat Izin Penelitian dari Fakultas Kesehatan Masyarakat USU... 123
8. Surat Izin Pendahuluan dari Pemerintah Kota Medan Dinas Kesehatan ... 124
9. Surat Izin Penelitian dari Pemerintah Kota Medan Dinas Kesehatan ... 125
10. Surat Selesai Penelitian dari Pemerintah Kota Medan Dinas Kesehatan ... 126
dilahirkan, dan upaya untuk mewujudkan hak-hak tersebut melalui pemakaian kontrasepsi (KB).
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konseling petugas kesehatan terhadap pemilihan metode kontrasepsi jangka panjang (MKJP) di Puskesmas Padang Bulan Selayang II Kecamatan Medan Selayang Tahun 2016.
Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan rancangan cross sectional.
Populasi PUS yang akan menjadi akseptor KB. Sampel pada penelitian ini sebanyak 108 PUS yang akan menjadi akseptor KB, yang dipilih dengan sistematic randome sampling. Pengumpulan data diperoleh dengan menggunakan alat bantu kuesioner.
Hasil analisa bivariat menunjukkan ada hubungan yang bermakna antara umur, paritas, pengetahuan, frekuensi, kejelasan informasi dengan p-value (p<0,05).
Sedangkan pendapatan, pembiayaan, dan dukungan PUS tidak ada hubungan yang bermakna dengan pemilihan MKJP dengan p-value (p>0,05). Hasil analisis multivariat didapat nilai koefisien regresi variabel umur dan dukungan 1.3 dan 1.6 sehingga ada pengaruh umur dan dukungan PUS dengan pemilihan MKJP.
Diharapkan agar pemerintah dapat meninjau kembali program yang telah ada untuk meningkatkan kualitas dan frekuensi konseling yang diberikan petugas kesehatan untuk keputusan pemilihan kontrasepsi, karena berdasarkan penelitian di lapangan kejelasan informasi dan pengetahuan PUS mempunyai pengaruh signifikan terhadap pemilihan MKJP.
Kata Kunci : Variabel Dukungan, Frekuensi Konseling, Kejelasan Informasi, Pemilihan MKJP
to decide when to give birth, number of children and spacing of their children were born, and the effort to realize these rights through the use of contraception (birth control).
This study aims to determine the effect of counseling health workers to the election of a long-term contraceptive method (LTM) in Puskesmas Padang Bulan Medan Selayang II District Medan Selayang Year 2016. This study is a quantitative research with cross sectional design. PUS population that will become family planning acceptors. Samples in this study were 108 PUS will be acceptors, selected by sistematic randome sampling. The collection of data obtained using a questionnaire tools.
The results of the bivariate analysis showed no significant relationship between age, parity, knowledge, frequency, clarity of information with a p-value (ps<0.05). Meanwhile, revenue, funding, and support PUS no meaningful relationship with LTM selection with a p-value (p> 0.05). Multivariate analysis obtained regression coefficient on the variable old and support with 1.3 and 1.6 so that there is the influence of old and support pussy with LTM selection.
It is expected that the government and relevant agencies to review the existing programs with a greater emphasis on the importance of good counseling that information given to health care workers and the contraceptive decisions, because based on the research in the field of information and knowledge PUS clarity with significant influence on the selection of LTM.
Keywords: Variable support, The Frequency of Counseling, Clarity of Information, Selection of LTM
1.1 Latar Belakang
Konferensi kependudukan dan pembangunan atau International Conference on Population and Development (ICPD) 1994 di Kairo disepakati bersama tentang“Program Aksi Pembangunan Kependudukan Kairo Tahun 1994”. ICPD 1994 disebutkan bahwa kebijakan keluarga berancana (KB) secara global dikaitkan dengan hak-hak reproduksi, yang menjadi bagian dari hak asasi manusia yang bersifat universal (Wilopo, 2010). Hak-hak reproduksi yang paling pokok ialah hak setiap individu dan pasangan untuk menentukan kapan akan melahirkan, berapa jumlah anak dan jarak anak yang dilahirkan, dan upaya untuk mewujudkan hak-hak tersebut melalui pemakaian kontrasepsi (KB).
Periode masa subur merupakan masa yang tepat untuk memulai menggunakan kontrasepsi dalam mengatur jarak kehamilan atau membatasi jumlah anak demi kesehatan ibu dan bayinya serta menghindari kehamilan yang tidak diinginkan (BKKBN, 2012).
Pada kenyataannya masih terdapat pasangan usia subur (PUS) yang belum menjadi peserta KB. Pasangan usia subur (PUS) tidak menjadi peserta KB dikarenakan masih kurang berkualitasnya pelayanan KB, keterbatasan alat kontrasepsi, konseling maupun KIE (Komunikasi, Informasi, dan Edukasi) yang belum dilaksanakan dengan baik oleh para petugas kesehatan dan beberapa petugas
kesehatan yang tidak memiliki pengetahuan yang cukup tentang metode-metode kontrasepsi keluarga berncana yang ada (Suratun, 2010).
Pasangan Usia Subur (PUS) tidak segera menggunakan kontrasepsi karena masih merasa bingung dengan penentuan alat kontrasepsi yang akan mereka gunakan.
Kebingunan dari PUS mencerminkan kurangnya pengetahuan yang dimilliki oleh PUS, sehingga konseling perlu diberikan pada masa usia subur. Konseling merupakan media penyampaian informasi yang efektif yang dapat dilakukan oleh para tenaga kesehatan untuk membantu PUS dalam menentukan dan memilih metode kontrasepsi yang akan digunakan oleh PUS (Suratun, 2010).
Pelaksanaan pelayanan program KB senantiasa terintegrasi dengan kegiatan kelangsungan hidup ibu, bayi dan anak serta penanggulangan masalah kesehatan dan kesetaraan gender sebagai salah satu upaya pemecahan hak-hak reproduksi kepada masyarakat. Memperhatikan hal-hal tersebut, maka operasional pelaksanaan program KB perlu dikelola secara serius, professional, dan berkesinambungan sehingga upaya- upaya yang telah direncanakan tersebut dapat memberikan kepuasan bagi semua pihak, baik pihak klien dan petugas kesehatan. Dalam mensosialisasikan metode kontrasepsi yang akan digunakan oleh aseptor KB sangat ditentukan oleh kualitas konseling petugas kesehatan (Manuaba, 2010).
Penelitian yang dilakukan oleh Anyaet al. (2008) yang menyebutkan bahwa penyampaian informasi yang tepat dapat meningkatkan pengetahuan ibu melalui konseling.Nobiliet al. (2007) juga melakukan penelitian di Milan menyebutkan bahwa dengan melakukan konseling yang efektif yang dengan komunikasi dua arah
antara petugas kesehatan dengan aseptor KB dapat meningkatkan pengetahuan keduanya.
Penggunaan kontrasepsi erat kaitannya dengan pengetahuan yang dimiliki oleh petugas kesehatan dan PUS.Pengetahuan petugas kesehatan dan beberapa kali frekuensi konseling PUS tersebut berpengaruh kepada pemilihan metode kontrasepsi yang tepat dan efektif. Hal ini dibuktikan oleh penelitian yang dilakukan oleh Basri (2010) menyebutkan bahwa pemberian konseling yang efektif dengan komunikasi dua arah antra petugas dan PUS dapat meningkatkan pengetahuan PUS serta dapat mempengaruhi PUS untuk memilih alat kontrasepsi dalam waktu jangka panjang.
Saeedet al. (2008) melakukan penelitian di Pakistan dan didapatkan hasil bahwa kelompok yang mendapatkan konseling lebih banyak menggunakan kontrasepsi dibandingkan dengan kelompok yang tidak mendapatkan konseling. Jenis kontrasepsiyang digunakan pada kelompok yang mendaptkan konseling lebih banyak terdiri dari Intra UterineContraception Devices (IUCD), Alat Kontraksepsi Bawah Kulit (AKBK), tubektomi, dan Vasektomi, sedangkan pada kelompoktidak mendapatkan konseling lebih banyak menggunakan kontrasepsi senggama terputus, kondom, Metode Alamiah Laktasi (MAL) serta masih terdapat yang tidak menggunakan kontrasepsi.
Konseling merupakan salah satu cara pendekatan dalam menyampaikan pendidikan kesehatan untuk menolong individu. Konseling adalah merupakan bentuk komunikasi interpersonal yang khusus, yaitu suatu pemberian bantuan yang dilakukan kepada orang lain dalam membuat suatu keputusan atau memecahkan suatu
masalah melalui pemahaman terhadap klien meliputi fakta-fakta, harapan, kebutuhan dan perasaan-perasaan klien (BKKBN, 2011).
Dengan demikian, konseling akan benar-benar menghasilkan keputusan terbaik seperti yang diinginkan oleh klien, bukan sekedar konsultasi yang menghabiskan waktu dan biaya. Demikian benang merah diskusi bertema “sudahkan peserta KB diperlakukan seperti klien yang diselenggarakan team KIE dan team kesehatan reproduksi (Prayitno, 2010).
Berdasarkan hasil penelitian Start (2010) diketahui dari 373 klinik di Indonesia ternyata hanya tiga yang dapat dikategorikan memenuhi standar konseling.
Salah satu indikator yang digunakan untuk mengukur standar itu adalah kecakapan dan frekunsi konselor dalam melayani klien sehingga diperoleh data akurat dan informasi penting dari klien.
Konseling merupakan aspek yang sangat penting dalam pelayanan keluarga berancana. Studi kualitatif yang dilakukan oleh Dehlendorfet al. (2013) menyebutkan banyak pasien berkeinginan agar provider kontrasepsi terlibat aktif selama proses memilih metode kontrasepsi, nilai kedekatan provider selama konseling sangat berarti dalam rangka mengakomodasi pengalaman dan keinginan pasien. Melakukan konseling berarti petugas membantu klien dalam memilih dan memutuskan jenis kontrasepsi yang akan digunakan sesuai dengan pilihannya (Sulistyawati, 2011).
Salah satu indikator utama dari kualitas pelayanan KB adalah pemberian konseling yang berkualitas kepada ibu sebagai calon akseptor KB yang menghasilkan informed choice, hal tersebut hanya dapat diperoleh melalui konseling yang baik,
lengkap dan dapat menggunakan media komunikasi serta pemberian informasi standar. Adapun informasi standar tersebut adalah: informasi tentang kontraindikasi, risiko dan manfaat dari masing-masing alat/cara/metode kontrasepsi, informasi tentang cara menggunakan kontrasepsi dan efek samping yang mungkin timbul serta bagaimana cara mengatasi efek samping tersebut dan informasi tentang apa yang dapat klien harapkan dari pelayanan petugas KB, seperti nasehat, dukungan, ketersediaan dan rujukan ke tempat pelayanan lainnya jika diperlukan. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Widaningsih (2011) yang menyebutkan ada hubungan antara pemberian informasi dengan pemilihan metode atau alat kontrasepsi rasional.
Pada saat ini alat kontrasepsi jangka panjang terutama IUD merupakan salah satu cara kontrasepsi yang paling popular dan diterima oleh program keluarga berencana di setiap negara. Diperkirakan sekitar 60-65 juta wanita di seluruh dunia memakainya, dengan aseptor terbanyak di Cina (Siswosudarmo, 2007). Pada saat ini diperkirakan memakai IUD sebanyak 30% terdapat di Cina, 13% di Eropa, 5% di Amerika, dan sekitar 6,7% di negara-negara berkembang (Augustin, 2011).
Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) tahun 2011, pencapaian peserta baru pengguna kontrasepsi medis operatif pria (MOP), medis operatif waniata (MOW), dan IUD, meningkat tajam yaitu MOP naik 44%, MOW 15% dan pengguna IUD meningkat 53%. Salah satu daerah pencapaian MOP-nya tinggi adalah Kabupaten Situbondo, Jawa Timur.
Pencapaian peserta KB baru yang berhasil didata Badan Koordinasi Keluarga Berencana (BKKBN) perwakilan Provinsi Sumatera Utara (Sumut) belum maksimal.
Secara nasional, Provinsi Sumut berada di posisi ke 13 dalam penilaian pencapaian peserta KB baru, yakni dengan nilai 72,27. Posisi yang dicapai oleh Sumut masih belum maksimal dan belum mencapai angka rata-rata secara nasional (BKKBN, 2011).
Berdasarkan survei awal yang dilakukan peneliti di Puskesmas Padang Bulan Selayang II diperoleh data laporan persentase peserta KB baru sebanyak 57% dari jumlah PUS 75%. Peserta yang menggunakan metode kontrasepsi MKJP 15%, dan yang non MKJP 63,5%. Jenis kontrasepsi yang paling banyak digunakan adalah kontrasepsi non MKJP dan jenis kontrasepsi yang paling sedikit digunakan MKJP.
Jenis kontrasepsi yang paling banyak digunakan oleh peserta KB aktif adalah kontrasepsi jangka pendek dibandingkan dengan kontrasepsi jangka panjang, dengan alasan harganya relative lebih murah, lebih aman, dan lebih mudah penggunaannya.
Sedangkan metode kontrasepsi MKJP dipandang masyarakat sangat ribet dan sangat sulit penggnaanya, selain itu konseling MKJP belum maksimal dilakukan karena untuk mendapatkan konseling tentang kontrasepsi jangka panjang masih sangat jarang dilakukan. Hasil survei yang dilakukan peneliti juga menemukan bahwa konseling KB dilakukan pada saat PUS ingin menggunakan kontrasepsi atau ingin mengganti dengan metode kontrasepsi lain, selain itu konseling KB dilakukan pada ibu nifas minggu ke-4 sebagai calon aseptor KB baru. Puskesmas padang bulan selayang II melakukan kegiatan konseling KB apabila puskesmas mengadakan safari
KB dengan didampingi oleh beberapa mahasiswa bidang kesehatan yang sedang melakukan kegiatan praktek lapangan. Konseling KB sebaiknya dilakukan melalui pendekatan dengan konseling efektif melalui beberapa tahapan, namun puskesmas padang bulan selayang II tidak melakukan konseling dengan tahapan konseling yang efektif. Selain itu, konseling yang ideal dapat dilakukan di ruangan khusus, namun pusksmas padang bulan selayang II melakukan konseling KB hanya di unit pelayanan KB.
Berdasarkan latar belakang diatas, maka perlu dikaji pengaruh konseling petugas kesehatan terhadap pemilihan metode kontrasepsi jangka panjang (MKJP) di Puskesmas Padang Bulan Selayang II Kecamatan Medan Selayang Tahun 2016.
1.2 Permasalahan
Berdasarkan data yang diperoleh dari puskesmas padang bulan selayang II didapat data bahwa laporan peserta KB belum mencapai target yang diinginkan, puskemas padang bulan selayang II memiliki target pencapain akseptor KB MKJP mencapai 90%. Data dari puskesmas selayang II bahwa persentase peserta KB baru sebanyak 57% dari jumlah PUS 75%. Peserta yang menggunakan metode kontrasepsi MKJP 35%, dan yang non MKJP 63,5%. Rendahnya akseptor pengguna KB yang ada di puskesmas selayang II disebabkan belum maksimalnya pelaksanaan KIE (komunikasi, informasi, dan edukasi) yang dilakukan oleh petugas kesehatan kepada PUS atau calon aseptor KB dan kurangnya fasilitas sarana puskesmas yang mendukung untuk pelaksanaan konseling KB.
1.3 Tujuan Penelitian 1.3.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui pengaruh konseling petugas kesehatan terhadap pemilihan metode kontrasepsi jangka panjang (MKJP) di Puskesmas Padang Bulan Selayang II Kecamatan Medan Selayang Tahun 2016.
1.3.2 Tujuan Khusus
1. Untuk mengetahui frekuensi konseling petugas kesehatan terhadap pemilihan metode kontrasepsi jangka panjang (MKJP) di Puskesmas Padang Bulan Selayang II Kecamatan Medan Selayang Tahun 2016.
2. Untuk mengetahuikejelasan informasi petugas kesehatan terhadap pemilihan metode kontrasepsi jangka panjang (MKJP) di Puskesmas Padang Bulan Selayang II Kecamatan Medan Selayang Tahun 2016.
3. Untuk mengetahuipengaruh eksternal (umur, Pendidikan dan pekerjaan PUS) terhadap pemilihan metode kontrasepsi jangka panjang (MKJP) di Puskesmas Padang Bulan Selayang II Kecamatan Medan Selayang Tahun 2016.
1.4 Hipotesis
Hipotesa dalam penelitian ini menggunakan hipotesa alternatif. Hipotesis alternatif yaitu ada pengaruh konseling petugas kesehatan terhadap pemilihan metode kontrasepsi jangka panjang (MKJP) di Puskesmas Padang Bulan Selayang II Kecamatan Medan Selayang Tahun 2016.
1.5 Manfaat Penelitian
1. Sebagai bahan masukan dan informasi bagi petugas kesehatan untuk membantu pasangan usia subur (PUS) dalam mengambil keputusan dalam pemilihan alat kontrasepsi.
2. Sebagai masukan kepada pasangan usia subur (PUS) bahwa konseling kepada petugas kesehatan dapat membantu untuk mengambil keputusan dalam pemilihan alat kontrasepsi.
3. Sebagai bahan masukkan yang berarti bagi Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) untuk mempersiapkan petugas kesehatan yang mampu memberikan konseling kepada pasangan usia subur (PUS) dalam membantu pemilihan alat kontrasepsi.
4. Memberikan informasi dan data untuk peneliti selanjutnya yang ingin melakukanpenelitian sejenis.
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Konseling
2.1.1 Definisi Konseling
Konseling adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan melalui wawancara konseling oleh seseorang ahli (Konselor) kepada individu yang mengalami masalah (Klien) yang bermuara pada teratasinya masalah yang dihadapi klien (Setiyawati, 2010).
Konseling merupakan pertemuan antara konselor dengan kliennya yang memungkinkan terjadinya dialog dan bukannya pemberian terapi atau treatment.
Konseling juga mendorong terjadinya penyelesaian masalah oleh diri klien sendiri (Setiyawati, 2010).
2.1.2 Tujuan Konseling
Konseling bertujuan untuk menghapus atau menghilangkan tingkah laku maladatif (masalah) untuk digantikan dengan tingkah laku baru yaitu tingkah laku adatif yang diinginkan klien (Sugiharto, 2011). Adapun tujuan konseling adalah : 1. Membantu klien agar dapat memperoleh kesadaran pribadi, memahami kenyataan
atau realitas, serta mendapatkan insight secara penuh.
2. Membantu klien menuju pencapaian integritas kepribadiannya.
3. Mengentaskan klien dari kondisinya yang tergantung pada pertimbangan orang lain ke mengatur diri sendiri.
4. Meningkatkan kesadaran individual agar klien dapat berfikir bahwa semua situasi bermasalah (unfisihed bussines).
2.2 Konseling Kontrasepsi 2.2.1 Definisi Konseling
Konseling kontrasepsi adalah komunikasi tatap muka dimana satu pihak membantu pihak lain untuk mengambil keputusan dan melaksanakan keputusan tersebut. Konseling kontrasepsi diharapkan konselor dapat memberi bantuan yang tepat sesuai yang dibutuhkan agar akhirnya pihak lain/calon akseptor dapat membuat keputusan yang mantap mengenai metode kontrasepsi yang akan digunakan (Setiyawati, 2010).
2.2.2 Tujuan Konseling Kontrasepsi
Tujuan konseling kontrasepsi adalah meningkatkan kualitas pelayanan sehingga calon akseptor dapat menentukan sendiri pilihan kontrasepsi yang akan digunakannya. Tujuan konseling kontrasepsi adalah sebagai berikut :
1. Memberikan informasi yang tepat, lengkap serta obyektif mengenai berbagai metode kontrasepsi sehingga klien mengetahui manfaat bagi diri sendiri ataupun keluarganya.
2. Mengidentifikasi dan menampung perasaan-perasaan yang kurang menguntungkan, misalnya keraguan maupun kecemasan yang dialami klien sehubungan dengan pelayanan kontrasepsi, sehingga konselor dapat membantu klien dalam mengatasi permasalahanya.
3. Membantu klien untuk memilih metode kontrasepsi yang terbaik, aman, dan sesuai dengan kondisi serta keinginan klien.
4. Memberikan informasi tentang berbagai alat/obat kontrasepsi dan tempat pelayanan kontrasepsi.
2.2.3 Tahapan Konseling Kontrasepsi 1. Konseling awal
Dilakukan bagi mereka/klien yang sama sekali belum mengetahui tentang alat kontasepsi keluarga berencana (KB). Konseling awal dilakukan bagi calon aseptor yang ibu postpartum dari persalinan pertama kali atau PUS yang pertama kali ingin menggunakan metode kontrasepsi.Konseling awal merupakan pendidikan kesehatan yang dilakukan petugas kesehatan dengan tujuan untuk mengajak aseptor/PUS untuk mengenal metode kontrasepsi.
2. Konseling pemilihan cara
Dilakukan petugas kesehatan bagi mereka (PUS/calon aseptor) yang sudah mengerti tentang metode kontrasepsi namun membutuhkan pertolongan atau bantuan dalam memilih cara/alat/obat metode kontrasepsi dikarenakan masih terbatasnya pengetahuan klien tentang metode yang akan dipilih atau yang akan digunakan.
3. Konseling pemantapan
Dilakukan pada mereka yang sudah memahami dan akan memakai alat kontrasepsi. Tujuan konseling pemantapan agar klien yakin bahwa metode atau alat kontrasepsi yang akan dipilih sesuai dengan kondisi dan kebutuhannya.
Konseling pemantapan dilengkapi dengan pemeriksaan kesehatan akan identitas dan riwayat kesehatan.
4. Konseling keputusan
Dilakukan pada mereka yang sudah memakai alat kontrasepsi. Tujuan adalah untuk mengatasi masalah yang timbul sesudah memakai alat kontrasepsi, misalnya klien yang mengalami efek samping penggunaan kontasepsi. Konseling ini dilakukan pada mereka yang menjadi akseptor tetapi kemudian berubah pendapat karena alasan tertentu penggunaan kontrasepsi.
5. Konseling perawatan/pengobatan
Dilakukan bagi mereka/akseptor yang mengalami kegoncangan emosi atau gangguan kejiwaan akibat masalah keluarganya atau yang berkaitan langsung dengan penggunaan kontasepsi keluarga berencana ataupun efek langsung penggunaan alat kontrasepsi keluarga berencana (KB). Konseling bertujuan membutuhkan pemecahan masalah kontrasepsi dalam bentuk tindakan perawatan/pengobatan.
2.2.4 Prinsip Konseling
Konseling merupakan tahap penting dalam pelayanan kebidanan. Melalui konseling provider membantu klien membuat dan menentukan keputusan pilihannya tentang kesehatan reproduksi dan keluarga berencana. Konseling dapat membuat klien lebih puas. Konseling yang baik juga membantu klien menggunakan keluarga berencana lebih lama dan lebih berhasil. Konseling yang baik tidak perlu waktu yang
lama, tetapi konseling yang baik adalah melatih, menjaga perilaku dan menarik perhatian klien. Ada enam prinsip konseling :
1. Layani masing-masing klien dengan baik
Provider adalah kehormatan, perlihatkan perhatian untuk setiap klien dan ciptakan rasa kepercayaan. Provider menunjukkan klien bahwa dia juga dapat membuka rasa pembicaraan yang sensitif.
2. Berintraksi
Provider mendengarkan, mempelajari dan merespon kliennya. Provider dapat membantu yang terbaik melalui kesiapannya dalam memberikan perhatian dan semangat dalam melakukan intraksi antara konselor dan klien.
3. Tujuan informasi kepada klien
Mendengarkan klien, konselor mempelajari informasi apa yang diperlukan masing-masing klien.
4. Hindari informasi yang berlebihan
Klien memerlukan informasi untuk membantu untuk menentukan pilihan, tetapi tidak semua klien dapat menggunakan semua informasi tentang setiap metode keluarga berencana (KB).Informasi yang berlebihan membuatnya sulit mengingat informasi yang penting tentang metode keluarga berencana (KB).
5. Layani metode yang diinginkan klien
Konselor membantu klien menentukan pilihannnya berdasarkan informasi, dan konselor menghargai pilihan klien. Konselor meneliti kesiapan klien menggunakan suatu metode keluarga berencana (KB), meliputi keuntungan,
kerugian, efek samping penggunaan dan kontraindikasi dalam penggunaannya kontrasepsi keluarga berencana.
6. Bantu klien siap dan mengingat :
Efektifitas kemampuan kontrasepsi keluarga berencana (KB) untuk mencegah
kehamilan yang tergantung kepada penggunaannya (akseptor). Konselor dalam konseling membantu klien mempetimbangkan apa, bagaimana, tentang kontrasepsi yang akan diputuskan.
Kelebihan dan kerugian penggunaan kontrasepsi keluarga berencana yang akan dipilih / diputuskan.
Efek samping dan kompilkasi dari pemilihan kontrasepsi keluarga berencana yang akan dipilih / diputuskan.
Konseling dapat membantu klien untuk melakukan kunjungan ulang untuk
jenis kontrasepsi dengan metode kontrasepsi jangka panjang (MKJP) seperti IUD, AKBK, MOW dan MOP.
2.2.5 Peran Konselor dalam Konseling
Konselor memiliki peranan yang aktif dalam melakukan konseling karena tanpa konselor konseling tidak akan terjadi secara efektif. Konselor memiliki tugas dalam menjalankan tugas sebagai berikut :
1. Membuat klien memiliki pengetahuan yang lengkap dan tepat mengenai berbagai obat/alat metode kontrasepsi, selain itu membuat klien dapat memahami pentingnya menggunakan metode kontrasepsi.
2. Membantu klien benar-benar mempertimbangkan keputusannya untuk memilih dan menggunakan salah satu obat/alat kontrasepsi yang sesuai dengan kondisi dan keinginannya.
3. Memberikan kesiapan psikologis.
4. Memberikan pertimbangan apakah klien sudah memenuhi persyaratan berdasarkan riwayat reproduksi dan riwayat penyakit.
5. Memberikan penjelasan tentang kemungkinan terjadinya komplikasi/efek samping.
6. Mendokumentasikan informed comsent, informed choice, dan persyaratan lain yang dibutuhkan.
7. Menjadwalkan/merujuk klien untuk tindakan lain yang diperlukan lebih lanjut.
2.3 Kesehatan
2.3.1 Definisi Kesehatan
Kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa, sosial dan spiritual sehat yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomi (WHO, 2005).
2.4 Petugas Kesehatan
2.4.1 Definisi Petugas Kesehatan
Petugas kesehatan adalah setiap orang yang mengabdikan diri dalam bidang kesehatan serta memiliki pengetahuan atau keterampilan melalui pendidikan dibidang
kesehatan untuk jenis tertentu memerlukan kewenangan untuk melakukan upaya kesehatan.
Yang termasuk petugas kesehatan adalah tenaga medis yaitu dokter, dan dokter spesialis, tenaga keperawatan yaitu bidan perawat, tenaga kefarmasian yaitu apoteker, tenaga psikiater yaitu psioterafi dan tenaga kejiwaan, dan tenaga penyuluh termasuk tenaga kesehatan masyarakat.
2.4.2 Peran Petugas Kesehatan
Peran adalah suatu yang diharapkan dari seseorang dalam situasi social tertentu agar memenuhi harapan.(Setiadi, 2008). Peran petugas kesehatan adalah suatu kegiatan yang diharapkan dari seorang petugas kesehatan yang memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Adapun bentuk peran petugas kesehatan adalah :
1. Penyuluhan
Penyuluhan tentang kontrasepsi Metode Kontrasepsi Jangka panjang (MKJP) yang dapat diberikan kepada masyarakat secara kelompok ataupun individu yang biasanya bersifat mempengaruhi masyarakat agar mau melaksanakan apa yang disampaikandan diharapkan oleh petugas yang memberi penyuluhan.
2. Konseling KB
Konseling adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan melalui wawancara pada petugas kesehatan kepada individu/klien yang sedang mengalami masalah KB, yang bertujuan agar peserta KB benar-benar memahami manfaat dari alat
kontrasepsi yang digunakan sehingga peserta mengetahui alasan menggunakan dan cara menggunakannya.
3. Ceramah
Kegiatan ceramah ini biasanya dilaksanakan secara kelompok misalnya diperwiritan/pengajian atau di lembaga-lembaga masyarakat seperti karangtaruna.
4. Tanya jawab
Kegiatan ini bisa juga dilakukan pada saat penyuluhan, konseling, danceramah.
Tetapi dapat juga dilaksanakan oleh petugas kesehatan bilapetugas kesehatan tersebut secara khusus melakukan acara tanya jawabdengan satu topik atau judul tanpa harus terlebih dahulu melakukan penyuluhan, konseling, dan ceramah.
5. Pelayanan KB
Pelayanan KB dengan Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) dapat dilakukan di tempat pelayanan kesehatan seperti puskesmas, rumah sakit, dan praktek atau klinik pribadi/swasta. Pelayanan KB dapat dilakukan segera setelah pengambilan keputusan dalam memilih alat kontrasepsi yang akan digunakan.
Pelayanan KB merupakan tindakan pemasangan atau pencabutan alat / metode kontrasepsi yang akan digunakan atau yang telah diputuskan bersama pasangan.
2.5 Keluarga Berencana (KB)
2.5.1 Definisi Keluarga Berencana (KB)
Menutut WHO keluarga berencana (KB) adalah tindakan yang membantu pasangan suami istri untuk menghindari kehamilan yang tidak diinginkan,
mendapatkan kelahiran yang memang sangat diinginkan, mengatur interval diantara kehamilan, mengontrol waktu saat kelahiran dalam hubungan dengan umur suami istri serta menentukan jumlah anak dalam keluarga.
Keluarga Berencana (KB) adalah suatu usaha yang mengatur banyaknya kehamilan sedemikian rupa sehingga berdampak positif bagi ibu, bayi, ayah serta keluarganya yang bersangkutan tidak akan menimbulkan kerugian sebagai akibat langsung dari kehamilan tersebut (Suratun, 2015).
2.5.2 Jenis-jenis Metode Kontrasepsi 1. Metode Kontrasepsi Sederhana
Metode kontrasepsi sederhana adalah metode kontrasepsi yang dapat dikerjakan sendiri oleh pasangan suami istri dengan tidak melakukan sanggama pada masa subur. Metode ini efektif bila dilakukan secara baik dan benar, dengan penggunaan sistem kalendir setiap pasangan dimungkinkan dapat merencanakan setiap kehamilannya (Meilani, 2010).
Metode kontrasepsi sederhana antara lain : 1) Kondom
2) Coitus interuptus
3) KB Alami ( metode kalender, suhu basal dan lendir serviks) 4) Diafragma
5) Kontrasepsi kimiawi/spermicide
Gambar 2.1 Kondom Wanita
Gambar 2.2 Kondom Pria 2. Metode Kontrasepsi Efektif
Metode kontrasepsi efektif adalah metode yang dalam penggunaannya mempunyai efektifitas atau tingkat kelangsungan pemakaian tinggi serta angka kegagalan rendah bila dibandingkan dengan metode kontrasepsi sederhana.
Metode kontrasepsi efektif ini terdiri : 1) Pil KB
2) Suntik KB
3) AKBK 4) AKDR.
Gambar 2.3 KB Pil
Gambar 2.4 KB Suntik
Gambar 2.5 AKBK
Gambar 2.6 IUD / AKDR 3. Metode Kontrasepsi Mantap
Metode kontrasepsi mantap adalah salah satu cara kontrasepsi dengan tindakan pembedahan atau dengan kata lain setiap tindakan pembedahan pada saluran telur wanita atau saluran mani yang mengakibatkan orang atau pasangan yang bersangkutan tidak akan memperoleh keturunan lagi.
Metode kontraspesi mantap terdiri dari : 1) Tubektomi
Gambar 2.7 Tubektomi
2) Vasektomi
Gambar 2.8 Vasektomi
Kontrasepsi merupakan salah satu strategi pemerintah dalam upaya menurunkan angka fertilisasi. Dewasa ini, efektifitas metode kontrasepsi menurun dikarenakan faktor pemakaiannya yang terkadang tidak patuh prosedur. Terdapat pula pembagian metode kontrasepsi berdasarkan lama efektivitasnya, kontrasepsi dibagi menjadi :
1) Metode kontrasepsi jangka panjang (MKJP) yang terdiri dari IUD, Implan, MOP, dan MOU (BKKBN, 2011).
2) Non metode kontrasepsi jangka panjang (Non MKJP) yang terdiri dari kondom, pil, suntik, dan metode-metode lain yang tidak termasuk dalam MKJP.
2.6 Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP)
2.6.1 Definisi Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP)
Metode kontrasepsi jangka panjang (MKJP) merupakan kontrasepsi yang dapat dipakai dalam jangka waktu lama lebih dari 2 tahun, efektif dan efisien untuk
tujuan menjarangkan kelahiran lebih dari 3 tahun atau mengakhiri kehamilan atau sudah tidak ingin tambah anak lagi (BKKBN, 2009). Kontrasepsi yang tergolong dalam MKJP terdapat beberapa jenis. Implan, IUD, MOW, dan MOP merupakan jenis MKJP (Glasier, 2005).
2.6.2 Jenis Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) 1) Implan
Alat kontrasepsi bawah kulit (AKBK) atau Implan adalah alat kontrasepsi yang disusupkan dibawah kulit.Alat kontrapsi implan metode kontrasepsi tidak permanen dan dapat mencegah kehamilan antara 3 sampai 5 tahun (Suratun, 2015).
Adapun jenis kontrasepsi implan adalah :
a. Norplant terdiri dari enam batang silastik lembut berongga dengan panjang 3,4 cm, diameter 2,4 mm, berisi 36 mg levonogestrel dengan lama kerja lima tahun.
b. Jadena dan indoplant, terdiri dua batak silastik lembut berongga dengan panjang 4,3 cm, diameter 2,5 mm,berisi 75 mg levonorgestrel dengan lama kerja tiga tahun.
c. Implanon, terdiri suatu batang silastik lembut berongga dengan panjang kira-kira 4,0 cm, diameter 2 mm, berisi 68 mg 3-keto-desogestrel dengan lama kerja tiga tahun. Keefektivan implanon mendekati 100% dalam mencegah kehamilan, pertama dengan menghambat ovulasi dan kedua dengan mempertebal mucus serviks (Andrews, 2009).
d. Nestorone atau ST-1435, menghambat ovulasi dan tidak terikat dengan sex hormone-binding globulin (SHBG) serta tanpa efek estrogenik dan androgenik,
satu kapsul. Implan-2 setara dengan 1095-1460 pil progestin yang harus diminum setiap hari, kemasan 2 kapsul yang masing-masing berisi 75mg levanogestrel dalam kantong plastic steril, diinsersikan subdermal pakai trokar, hanya diperlukan pendorong untuk menempatkan kedua kapsul pada lapisan subdermal pakai trokar. Hanya diperlukan pendorong untuk menempatkan kedua kapsul pada lapisan subdermal lengan atas klien, masa pakai 3-4 tahun, dengan efektifitas tinggi.
Cara kerja metode kontrasepsi model ini adalah menghambat kemampuan sperma untuk masuk ke tuba falopi, kontrasepsi implan juga mempengaruhi fertilisasi sebelum ovum mencapai kavum uteri, mencegah sperma dan ovum bertemu serta memungkinkan untuk mencegah implantasi telur dalam uterus (Meilani, 2010).Efektifitas metode kontrasepsi ini sangat tinggi, dengan tingkat kegagalan hanya 1-3%.
Sebagai salah satu metode kontrasepsi jangka panjang, pemakai kontrasepsi metode kontrasepsi jenis ini harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut : usia produktif, keadaan nulipara, menginkan kontrasepsi jangka panjang, status menyusui tidak dipermasalahkan.
Keuntungan penggunaannya adalah sebagai berikut :
Daaya guna tinggi
Cepat bekerja 24 jam setelah pemasangan
Perlindungan jangka panjang (sampai 5 tahun untuk jenis norplant)
Pengembalian tingkat kesuburan yang cepat setelah pencabutan.
Tidak memerlukan periksa dalam
Bebas dari pengaruh estrogen
Tidak mengganggu proses senggama
Tidak mempengarugi ASI
Klien hanya perlu kembali ke klinik bila ada keluhan.
Dapat dicabut setiap saat sesuai kebutuhan.
Efek samping yang umum terjadi adalah sebagai berikut :
Kesuburanakan kembali tinggi setelah pencabutan.
Metode ini dapat menyebabkan perubahan pola haid berupa perdarahan
bercakatau spotting, hipermenorea, atau meningkatnya jumlah darah haid serta amenorea.
Peningkatan / penurunan berat badan
Nyeri payudara
Perasaan mual
Pusing / sakit kepala
Perubahan perasaan (mood) atau kegelisahan (nervousness)
Membutuhkan tindak pembedahan minor untuk insersi dan pencabutan.
2) Alat Kontrasepsi dalam Rahim (AKDR)/Intrauterine Device (IUD)
Alat kontrasepsi dalam rahim atau yang dikenal dengan IUD (Intra-Uterine Devices) merupakan kontrasepi non hormonal yang dipasang rahim. IUD atau yang
dikenal pula dengan AKDR atau Alat Kontrasepsi Dalam Rahim. Ada beberapa jenis alat KB yang bekerja dari dalam rahim untuk mencegah pembuahan sel telur oleh sperma. Spiral bisa bertahan dalam rahim dan terus menghambat pembuahan sampai 10 tahun lamanya. Setelah itu harus dikeluarkan dan diganti. Bahan spiral yang paling umum digunakan adalah plastik, atau plastik bercampur tembaga. Spiral mempunyai efek samping haid menjadi lebih lama dan lebih banyak. Pemasangan dan pencabutan memerlukan pelatihan. Spiral tidak menjamin dapat melindungi dari berbagai penyakit yang menular melalui hubungan seksual, termasuk HIV/AIDS, dan tidak dianjurkan digunakan pada wanita yang memiliki penyakit komplikasi radang mulut rahim yang serius (Meilani, 2010).
Cara kerjanya adalah sebagai berikut :
Menghambat kemampuan sperma untuk masuk ke tuba falopii
Mempengaruhi fertilisasi sebelum ovum mencapai kavum uteri
AKDR bekerja terutama mencegah sperma dan ovum bertemu
Memungkinkan untuk mencegah implantasi telur dalam uterus Keuntungan penggunaannya adalah sebagai berikut :
Memilki efektivitas tinggi (6 kegagalan dalam 1000 kehamilan).
AKDR dapat efektif segera setelah pemasangan.
Metode jangka panjang (10 tahun proteksi dari CuT-380A dan tidak perlu diganti).
Sangat efektif karena tidak perlu lagi mengingat-ingat penggunaannya.
Tidak mempengaruhi hubungan seksual
Meningkatkan kenyamanan seksual karena tidak perlu takut untuk hamil.
Tidak ada efek samping hormonal dengan Cu IUD (CuT-380A).
Tidak mempengaruhi kualitas dan volume ASI
Kesuburan segera kembali setelah IUD diangkat
Dapat dipasang segera setelah melahirkan atau sesudah abortus (apabila tidak terjadi infeksi).
Dapat digunakan sampai menopause (1 tahun atau lebih setelah haid terakhir)
Tidak ada interaksi dengan obat-obat
Membantu mencegah kehamilan ektopik
Efek samping yang umum terjadi adalah sebagai berikut :
Perubahan siklus haid (umumnya pada 3 bulan pertama dan berkurang setelah tiga bulan)
Haid lebih lama dan banyak
Perdarahan antar menstruasi
Saat haid lebih sakit Komplikasi lain :
Merasakan sakit dan kejang selama 3 sampai 5 hari setelah pemasangan
Perdarahan berat pada waktu haid
Perforasi dinding uterus
Tidak mencegah IMS termasuk HIV/AIDS
Tidak baik digunakan pada perempuan dengan IMS atau perempuan yang sering berganti pasangan.
Penyakit radang panggul terjadi sesudah perempuan dengan IMS memakai IUD.
3) Kontrasepsi Mantap
Kontrasepsi mantap adalah satu metode kontrasepsi yang dilakukan dengan cara mengikat atau memotong saluran telur (pada perempuan) atau saluran sperma (pada lelaki). Kontap adalah salah satu cara kontrasepsi untuk mengakhiri kelahiran.
Kontrasepsi mantap (Kontap) dikenal ada dua macam, yaitu Kontap Pria atau MOP atau Vasektomi dan Kontap Wanita atau MOW atau Tubektomi.
Kontrasepsi mantap memiliki kefektifitasan yang tinggi dengan angka kegagalan rendah dan kejadian kegagalan disebabkan oleh tehnik operatif yang kurang baik ataupun rekanalisasi spontan, serta efek samping minimal. Keuntungan Kontap dibandingkan kontrasepsi yang lain adalah lebih aman (keluhan lebih sedikit), lebih praktis (hanya memerlukan satu kali tindakan), dan lebih efektif (tingkat kegagalan sangat kecil) serta ekonomis.
a. MOW (Metoda Operasi Wanita)
Tubektomi merupakan tindakan medis berupa tindakan medis berupa penutupan tuba uterine dengan maksud tertentu untuk tidak mendapatkan keturunan dalam jangka waktu panjang sampai seumur hidup.
MOW adalah tindakan penutupan terhadap kedua saluran telur kanan dan kiri, yang menyebabkan sel telur tidak dapat melewati sel telur, dengan demikian sel telur
tidak dapat bertemu dengan sperma laki-laki sehingga tidak terjadi kehamilan.Dengan mengoklusi (mengikat dan memotong atau memasang cincin) tuba falopii maka sperma tidak dapat bertemu dengan ovum.
MOW adalah prosedur bedah sukarela untuk menghentikan fertilitas atau kesuburan seorang wanita. Keutntungan kontrasepsi MOW adalah :
Sangat efektif dan permanen.
Merupakan tindakan yang aman dan sederhana, tidak ada efek samping.
Diperlukan konseling untuk melakukan tindakan bedah MOU.
Sangat efektif (0.5 kehamilan per 100 wanita selama tahun pertama penggunaan).
Tidak mempengaruhi proses menyusui.
Tidak tergantung pada faktor sanggama.
Pembedahan sederhana dengan anestesi local.
Tidak ada perubahan dalam produksi hormon ovarium.
Tidak ada efek samping dalam jangka waktu panjang
Efek samping yang umum terjadi adalah sebagai berikut :
Penggunaan harus dipertimbangkan sifat permanen metode kontrasepsi ini, kecuali denganrekanalisasi, ada rasa tidak nyaman dalam jangka pendek pasca operasi, harus dilakukan oleh dokter yang terlatih.
Risiko dan efek samping pembedahan
Kadang-kadang sedikit merasa nyeri pada saat operasi.
Infeksi mungkin saja terjadi akibat prosedur pembedahan.
b. MOP (Metode Operasi Pria)
Vasektomi adalah cara KB permanen bagi pria yang sudah memutuskan tidak ingin mempunyai anak lagi. Vasektomi adalah operasi yang aman, dan mudah yang memerlukan waktu beberapa menit untuk melakukan pembedahan ringan. Prinsipnya pembedahan dengan menutup saluran bibit laki-laki (vas deferen) dengan melakukan operasi kecil pada kantong zakar sebelah kanan dan kiri.
MOP atau vasektomi adalah prosedur klinik untuk menghentikan kapasitas reproduksi pria dengan melakukan oklusi vasa deferensia sehingga alur tranportasi sperma terhambat dan proses fertilitasi (penyatuan dengan ovum tidak terjadi).
Tindakan oklusi dilakukan terhadap kedua saluran mani sebelah kanan dan sebelah kiri sehingga tidak dapat menyebabkan kehamilan. MOP sangat efektif, tidak ada efek samping jangka panjang, tindak bedah aman dan sederhana, serta dapat digunakan seumur hidup dan tidak mengganggu kehidupan suami isteri.
Keutntungan kontrasepsi MOP adalah :
Tidak akan mengganggu ereksi, potensi seksual dan produksi hormon.
Perlindungan terhadap terjadinya kehamilan sangat tinggi, dapat digunakan seumur hidup.
Tidak mengganggu kehidupan seksual suami istri
Lebih aman, praktis, efektif dan ekonomis.
Tidak ada mortalitas/kematian.
Pasien tidak dirawat RS/Klinik
Tidak ada risiko kesehatan
Sifatnya permanen
Efek samping yang umum terjadi adalah sebagai berikut :
Harus ada tindakan pembedahan
Tidak dilakukan pada suami yang masih ingin memiliki anak
Kadang-kadang terasa nyeri atau terjadi perdarahan setelah operasi
Kadang-kadang timbul infeksi pada kulit skorotum, apabila operasinya tidak sesuai dengan prosedur.
2.7 Kerangka Teori
Menurut Widjaja (1986), komunikasi konseling yang efektif adalah bentuk penyampaian pesan, maka perlu diketahui apakah pesan yang disampaikan telah efektif sampai kepada sasaran konseling yaitu klien. Umpan balik dari komunikator (tenaga kesehatan) ke komunikan (klien) dapat bersifat langsung (Direct Feed-Back) maupun tidak langsung (Indirect Feed-Back).
Gambar 2.9 Kerangka Teori Sumber : Teori Lucie (2005)
Umpan Balik
Pesan
Komunikan
Komunikator
2.8 Kerangka Konsep
Kerangka konseptual adalah kerangka hubungan antarvariabel yang ingin diamati atau diukur melalui penelitian yang akan dilakukan (Notoatmodjo,2003).
Kerangka konsep terdiri dari variabel independent dan variabel dependent. Variabel independent konseling petugas kesehatan dan variabel dependent pemilihan metode kontrasepsi jangka panjang (MKJP).
Variabel Independent Variabel Dependent
Gambar 2.10 Kerangka Konsep Penelitian Konseling petugas kesehatan :
Jumlah frekuensi konseling.
Kejelasan informasi yang diberikan oleh petugas.
Pemilihan KB :
(+) MKJP
Variabel Counponding :
Umur
Pengetahuan
Pendapatan
Paritas
Biaya alat kontrasepsi
Dukungan suami
BAB 3
METODE PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian
Desain penelitian ini menggunakan observasional dengan menggunakan metode pendekatan waktu crosssectional yaitu suatu metode pengambilan data dilakukan pada waktu sesaat atau sekali pengukuran. Metode ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konseling petugas kesehatan terhadap pemilihan metode kontrasepsi jangka panjang (MKJP) di Puskesmas Padang Bulan Selayang II Kecamatan Medan Selayang tahun 2016.
3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian 3.2.1 Lokasi Penelitian
Penelitian dilaksanakan di Puskesmas Selayang II di Kecamatan Medan Selayang, adapun alasan pemilihan lokasi karena dilokasi tersebut ditemukan petugas kesehatan sangat jarang melakukan konseling KB (KIE) tentang pemilihan alat kontrasepsi, penyampain informasi oleh petugas kesehatan kurang jelas sehingga mempengaruhi PUS untuk belum mengambil keputusan tentang metode kontrasepsi yang akan digunakan.
3.2.2 Waktu Penelitian
Penelitian ini akandilakukan di Puskesmas Padang Bulan Selayang II Kecamatan Medan Selayang pada bulan Februari-Juli tahun 2016.
3.3 Populasi dan Sampel 3.3.1 Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pasangan usia subur (PUS) yang akan menjadi aseptor KB yang ada di wilayah kerja Puskesmas Padang Bulan Selayang II Kecamatan Medan Selayang. Populasi penelitian ini akan diambil berdasarkan data dari Puskesmas Padang Bulan Selayang II sebanyak 320 PUS.
3.3.2 Sampel
Sampel adalah sebagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi (Alimul,2009). Besar sampel dalam penelitian ini diperoleh dengan menggunakan rumus :
) 2 / 1 (
Z = deviat baku alpha. utk = 0,05 maka nilai baku normalnya 1,96
) 1 (
Z = deviat baku betha. utk = 0,10 maka nilai baku normalnya 1,282
P0 = proporsi ibu akseptor 0,32 (32 %)(sumber)
Pa = perkiraan proporsi ibu yang menjadi akseptor KB yang diteliti sebesar = 0,50
Pa
P0 = beda proporsi yang bermakna ditetapkan sebesar = 0,10 Jadi perhitungan sampel dalam penelitian ini adalah :
n = 108
Jadi keseluruhan sampel pada penelitian ini diperoleh sebanyak 108 PUS yang akseptor KB baik akseptor KB yang baru ingin menggunakan MKJP dan akseptor lama yang non-MKJP yang akan menjadi akseptor MKJP. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling yaitu pengambilan sampel dengan kriteria, kriteria dalam penelitian ini terdiri dari kriteria inklusi :
1. PUS berada pada rentang usia > 25 tahun 2. PUS dengan paritas minimal primi para
3. PUS tidak memiliki riwayat penyakit berbahaya
Sedangkan kriteria eklusi untuk sampel dalam penelitian ini adalah : 1. PUS berada pada usia < 25 tahun
2. PUS belum memiliki anak
3. PUS menunda untuk memiliki anak pertama 4. PUS mempunyai riwayat penyakit berbahaya
3.4 Metode Pengumpulan Data 3.4.1 Data Primer
Data primer diperoleh dari hasil wawancara dengan menggunakan kuesioner yang dibagikan pada responden dan berisikan daftar pertanyaan serta pilihan jawaban yang telah dipersiapkan.
3.4.2 Data Sekunder
Data sekunder yang diperlukan diperoleh dari Puskesmas Padang Bulan selayang II di Kecamatan Selayang, yaitu data-data mengenai jumlah persentase PUS yang akan menjadi akseptor KB.
3.5 Uji Validitas dan Realibilitas 3.5.1 Uji Validitas
Menurut Hidayat (2011), uji validitas bertujuan untuk mengetahui sejauh mana suatu ukuran atau nilai yang menunjukan tingkat kehandalan atau kesahihan suatu alat ukur. Uji validitas dilakukan dengan cara mengukur korelasi antar variabel dengan melihat nilai corrected item total correlation, dengan ketentuan bila nilai r hitung > nilai r tabel pada df = 28 dan α = 5% (0,361), maka dinyatakan valid dan sebaliknya.
Berdasarkan hasil uji validitas diketahui bahwa ada beberapa pernyataan yang tidak valid untuk setiap variabel. Kemudian dilakukan revisi terhadap pernyataan yang tidak valid dan dilakukan uji validitas kembali. Hasil analisis menunjukkan bahwa masih ada beberapa variabel yang pernyataannya belum valid. Uji validitas dalam penelitian ini hanya dilakukan dua kali, sesuai dengan Hidayat (2011) yang menyatakan bahwa uji validitas dapat dilakukan satu sampai dua kali.
3.5.2 Uji Reliabilitas
Menurut Sarwono (2012), uji reliabilitas dilakukan setelah semua data dinyatakan valid. Dalam penelitian ini tekhnik untuk menghitung indeks reliabilitas
yaitu menggunakan metode Cronbanch’s Alpha yaitu untuk mengetahui reliabilitas dengan membandingkan nilai Alpha > 0,60. Dari hasil uji reliabilitas diketahui bahwa nilai r alpha > nilai r tabel dengan nilai Cronbach Alpha >0,6 sehingga dikatakan instrumen reliabel untuk digunakan sebagai alat pengumpul data.
Uji validitas dan reliabilitas, telah dilakukan di Puskesmas Padang Bulan Medan. Hasil uji validitas dan reliabilitas dapat dilihat pada dibawah ini :
Tabel 3.1 Uji Validitas dan Reliabilitas Kuesioner Pengaruh Konseling Petugas Kesehatan Terhadap Pemilihan MKJP
Variabel
Corrected item- total correlation
(I)
Ket
Corrected item- total correlation
(II)
Cronbach
’s alpha Ket Pengetahuan
PUS
0.637 Realibility
p1 0.416 Valid 0.436 Valid
p2 0.540 Valid 0.541 Valid
p3 0.478 Valid 0.477 Valid
p4 0.450 Valid 0.336 Valid
p5 0.231 Tdk valid 0.337 Valid
p6 0.237 Tdk valid 0.240 Valid
p7 0.371 Valid 0.416 Valid
p8 0.532 Valid 0.540 Valid
p9 0.469 Valid 0.478 Valid
p10 0.334 Valid 0.350 Valid
Frekuensi Konseling
0.639 Realibility
f1 0.430 Valid 0.459 Valid
f2 0.562 Valid 0.584 Valid
f3 0.506 Valid 0.535 Valid
f4 0.384 Valid 0.399 Valid
f5 0.399 Valid 0.450 Valid
f6 0.152 Tdk valid 0.195 Valid
f7 0.430 Valid 0.417 Valid
f8 0.480 Valid 0.470 Valid
f9 0.476 Valid 0.335 Valid
f10 0.479 Valid 0.444 Valid
Tabel 3.1 (Lanjutan)
Variabel
Corrected item- total correlation
(I)
Ket
Corrected item- total correlation
(II)
Cronbach
’s alpha Ket Kejelasan
informasi
0.606 Realibility
k1 0.434 Valid 0.444 Valid
k2 0.460 Valid 0.494 Valid
k3 0.434 Valid 0.467 Valid
k4 0.383 Valid 0.382 Valid
k5 0.376 Valid 0.369 Valid
k6 0.326 Tdk valid 0.370 Valid
k7 0.434 Valid 0.444 Valid
k8 0.460 Valid 0.494 Valid
k9 0.434 Valid 0.467 Valid
k10 0.383 Valid 0.382 Valid
3.6 Variabel dan Definisi Operasional 3.6.1 Variabel Penelitian
Variabel independent (variable bebas), yaitu konseling petugas kesehatan yang dilihat berdasarkan jumlah frekuensi konseling petugas kesehatan dan kejelasan informasi dari petugas kesehatan.
Variabel dependent (variable terikat), yaitu melihat pemilihan ibu akseptor KB yang MKJP dan non MKJP.
Variabel counfounding (variabel luar yang mempengaruhi variabel bebas dan variabel terikat) yaitu variabel counfounding dilihat dari umur, pengetahuan, pendapatan, Paritas, biaya alat kontrasepsi, dan dukungan suami.
3.6.2 Definisi Operasional Variabel Penelitian
1. Konseling Petugas kesehaan adalah proses komunikasi yang dilakukan petugas kesehatan yang dapat mempengaruhi ibu akseptor dalam mengambil keputusan dalam pemilihan metode kontrasepsi.
2. Frekuensi konseling adalah jumlah pertemuan konseling yang dilakukan oleh petugas kesehatan melalui beberapa tahapan yang dimulai dari konseling awal, konseling pemilihan cara, konseling pemantapan, konseling keputusan, dan konseling perawatan/pengobatan.
3. Kejelasan informasi Petugas Kesehatan adalah segala sesuatu informasi yang diberikan petugas kesehatan dalam memberikan penyuluhan tentang metode kontrasepsi jangka panjang.
4. Umur PUS adalah lamanya perjalanan hidup PUS yang dihitung dari sejak lahir sampai PUS mendaptkan informasi tentang KB MKJP dari petugas kesehatan.
5. Pengetahuan PUS adalah segala sesuatu yang diketahui PUS tentang metode kontrasepsi jangka panjang (MKJP).
6. Pendapatan PUS adalah hak yang harus diterima oleh PUS setelah menjalankan kewajibannya dalam suatu pekerjaan sesuai dengan standart upah minimum.
7. Paritas PUS adalah riwayat kelahiran atau jumlah persalinan yang pernah dialami oleh PUS.
8. Biaya alat kontrasepsi adalah pengeluaran dana yang harus dibayar oleh PUS pada saat memilih / menggunakan metode alat kontrasepsi baik metode kontrasepsi jangka panjang atau metode kontrasepsi non jangka panjang.