• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

1

Matematika memiliki peranan penting dalam kehidupan sehari-hari, karena banyak memerlukan pemecahan menggunakan kemampuan matematika, seperti mengukur, menghitung, dan menimbang. Lampiran I Permendiknas No. 22 Tahun 2006 mengatakan bahwa mata pelajaran matematika perlu diberikan kepada semua peserta didik mulai dari sekolah dasar untuk membekali peserta didik dengan kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis, dan kreatif, serta kemampuan bekerjasama. Kompetensi diperlukan agar peserta didik dapat memiliki kemampuan memperoleh, mengelola, dan memanfaatkan informasi untuk bertahan hidup pada keadaan yang selalu berubah, tidak pasti, dan kompetitif.

Matematika menurut (Karso: 2007) mengatakan bahwa matematika berasal dari bahasa Yunani yaitu manthein atau manthenein yang artinya mempelajari, namun diduga kata itu erat pula hubungannya dengan kata Sansekerta medah atau widya yang artinya kepandaian, ketahuan, atau inteligensi. Sedangkan matematika menurut Ruseffendi (dalam Heruman, 2014: 1) Matematika adalah bahasa simbol tentang ilmu deduktif yang tidak menerima pembuktian secara deduktif; ilmu tentang keteraturan, dan struktur yang terorganisasi, mulai dari unsur yang tidak dideginisikan ke unsur yang didefinisikan ke aksioma sampai akhirnya ke dalil.

Berdasarkan beberapa pendapat para ahli, dapat disimpulkan bahwa Matematika merupakan bahasa simbol tentang ilmu deduktif , ilmu keteraturan, dan strukutur yang terorganisasi untuk mendapatkan kepandaian, ketahuan, dan intelegensi.

Lampiran Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) Nomor

20 Tahun 2006 tentang Standar Isi disebutkan bahwa pembelajaran matematika

bertujuan supaya siswa memiliki kemampuan diantaranya adalah mampu

(2)

memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model matematika, menyelesaikan model dan menafsirkan hasil yang diperoleh.

Pembelajaran matematika yang berjalan saat ini cenderung ditakuti peserta didik. Banyak peserta didik mengalami kesulitan dalam mengerjakan dan menyelesaikan soal matematika, guru hanya mengajar, menjelaskan, memberi contoh, memberi tugas rumah. Bahkan jarang sekali guru mengajak diskusi peserta didik tentang materi yang disampaikan. Hanya terdapat beberapa peserta didik yang memahami penjelasan guru sedangkan lainnya tidak memahaminya.

Umumnya peserta didik yang tidak memahami penjelasan guru tidak berani bertanya. Untuk itu dibutuhkan strategi yang dapat mengaktifkan peserta didik dalam pembelajaran matematika.

Komponen yang turut mempengaruhi keterlibatan peserta didik serta menciptakan keberhasilan suatu proses pembelajaran salah satunya adalah model pembelajaran. Pemilihan dan penggunaan model yang tepat dapat memunculkan aktivitas dan proses berpikir kritis dari peserta didik yang akan berdampak pada hasil belajar. Namun sebagian besar guru masih menggunakan cara konvensional, dalam arti mengajar menggunakan metode ceramah dan tanya jawab. Meskipun pada kenyatannya sudah banyak model dan metode pembelajaran yang dapat membuat peserta didik lebih aktif dalam mengikuti kegiatan pembelajaran.

Berdasarkan observasi di lapangan dengan mengambil sampel sebanyak dua

Sekolah Dasar Negeri di Gugus Kartini, yaitu melalui wawancara dengan guru

kelas III SD Negeri Mangunsari 04 Kota Salatiga sebagai kelas eksperimen, siswa

yang aktif mengikuti pembelajaran Matematika hanya 10 orang dari jumlah

keseluruhan 25 orang siswa, atau dengan kata lain tingkat keaktifan siswa dalam

mengikuti pembelajaran Matematika sangatlah kurang dari harapan dan

pembelajaran masih terpusat pada guru. Penyebabnya adalah kurangnya perhatian

orang tua terhadap perkembangan anak khususnya dalam mengikuti pembelajaran

di sekolah, sebab mayoritas orang tua bekerja sebagai pedagang kaki lima. Guru

belum menerapkan model pembelajaran inovatif, melainkan hanya menggunakan

metode konvensional dalam arti ceramah, tanya jawab, penugasan. Kurangnya

minat belajar siswa terhadap pelajaran matematika dan dari hasil pengamatan

(3)

yang saya lakukan ternyata selama proses pembelajaran berlangsung hanya secara monoton. Saat proses pembelajaran berlangsung banyaknya siswa yang sibuk bermain dengan teman sebangkunya dan tidak mendengarkan guru yang sedang menjelaskan materi di depan kelas dikarenakan sudah tertanam dalam pikiran siswa bahwa mata pelajaran matematika sulit untuk dipelajari. Hasil belajar siswa dipengarugi oleh kondisi yang telah dijelaskan diatas, tampak pada hasil belajar siswa sekitar 60% dari jumlah siswa sebanyak 25 orang dengan KKM 70.

Observasi dan wawancara lapangan di SD Negeri Mangunsari 07 Kota Salatiga sebagai kelas kontrol memperoleh data bahwa ketuntasan belajar siswa pada mata pelajaran Matematika dengan KKM 70 hanya mencapai 65% dari jumlah siswa sebanyak 24 orang. Guru masih menggunakan metode konvensional yaitu ceramah, tanya jawab, dan penugasan. Banyak siswa yang sibuk bermain dengan teman sebangku dan saling melempar kertas dengan teman sekelas saat guru memaparkan materi di depan kelas. Kebanyakan siswa yang tidak suka dan menganggap sulit mata pelajaran matematika membuat siswa tidak memperhatikan guru saat menjelaskan materi.

Ditinjau dari kondisi riil di lapangan, terjadi kesenjangan antara kondisi ideal dan kondisi riil di SD N Mangunsari 04 dan SD N Mangunsari 07 Kota Salatiga yang menyebabkan timbulnya suatu masalah yaitu ketidaktercapaian ketuntasan hasil belajar siswa. Perlu suatu treatment dalam pembelajaran berupa penerapan model/metode pembelajaran yang variatif. Pemilihan model pembelajaran yang tepat dapat memunculkan aktivitas belajar serta hasil belajar siswa yang lebih baik.

Berbagai model pembelajaran kreatif dapat meningkatkan kemampuan

peserta didik dalam pembelajaran matematika. Salah satu model pembelajaran

yang dapat diterapkan guna meningkatkan hasil belajar peserta didik dalam

pembelajaran adalah dengan menerapkan pembelajaran inquiri. Pembelajaran

inquiri akan memberi kesempatan kepada peserta didik untuk dapat berfikir kritis

dalam memecahkan suatu permasalahan yang diberikan oleh guru. Pembelajaran

inquiri atau pembelajaran penemuan dapat memberikan kesempatan peserta didik

untuk menemukan konsep sendiri melalui percobaan. Muhammad Syafrullah

(4)

(2013) mengatakan bahwa Pembelajaran Inquiri adalah kegiatan pembelajaran yang melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan siswa untuk mencari dan menyelidiki sesuatu (benda, manusia, dan peristiwa) dengan sistematis, kritis, logis, dan analitis sehingga siswa dapat merumuskan sendiri penemuannya dengan rasa percaya diri. Menurut Kunandar (2010: 371) “Pembelajaran inkuiri adalah kegiatan pembelajaran dimana siswa didorong untuk belajar melalui keterlibatan aktif mereka sendiri dengan konsep-konsep dan prinsip-prinsip, dan guru mendorong siswa untuk memiliki pengalaman dan melakukan percobaan yang memungkinkan siswa menemukan untuk diri mereka sendiri”. Sedangkan menurut Menurut Jufri (2013) menyatakan bahwa inquiri adalah suatu proses yang mengembangkan kemampuan-kemampuan ilmiah yang mendasar dan meliputi mengobservasi, mengklasifikasi, menghitung, merumuskan hipotesis, membuat relasi ruang dan waktu, mengukur, menginterpretasi data, merancang eksprimen dan sebagainya.

Kegiatan siswa selama proses belajar mengajar merupakan salah satu indikator adanya keinginan untuk belajar. Kegiatan siswa dalam proses pembelajaran akan menyebabkan interaksi yang tinggi dengan siswa yang lain.

Kegiatan yang timbul akan mengakibatkan pula terbentuknya pengetahuan dan keterampilan yang akan mengarah pada peningkatan prestasi.

Beberapa penelitian terdahulu berhasil membuktikan bahwa model

pembelajaran Inquiri dapat meningkatkan hasil belajar Matematika dibandingkan

metode konvensional atau model pembelajaran lain. Penelitiaan yang dilakukan

oleh Kurniawati. P (2013) tentang Eksperimentasi pembelajaran matematika

melalui metode inquiri terhadap hasil belajar ditinjau dari tingkat kecerdasan

emosional siswa kelas VIII semester genap tahun ajaran 2012/2013 SMP

Muhamadiyah 5 Surakarta dan hasil penelitiannya menyatakan bahwa ada

perbedaan efek antara pembelajaran metode inquiri dengan metode konvensional

terhadap hasil belajar matematika. Hal ini dapat ditunjukkan oleh = 8,468 dan

nilai rata-rata hasil belajar siswa kelas eksperimen sebesar 72, 19 dan kelas

kontrol sebesar 61, 65, maka metode pembelajaran inquiri lebih baik daripada

metode konvensional.

(5)

Cahyadi. F dan Amah. NI (2013) melalui penelitiaan tentang Keefektifan Metode Pembelajaran Inquiri Terhadap Hasil Belajar Dan Motivasi Siswa Pada Pelajaran Matematika Kelas V SD N 02 Tumbal Pemalang dan hasil penelitiannya mengatakan bahwa terdapat metode pembelajaran Inkuiri efektif dapat meningkatkan motivasi siswa. Dapat dilihat pada data kelompok eksperimen yang mempunyai jumlah siswa 25, 68% siswa memiliki kategori baik sekali, dan 32%

siswa memiliki kategori baik. sedangkan kelompok kontrol yang berjumlah 25 siswa, ada 44% siswa yang memiliki kategori baik sekali, dan 56% siswa mencapai kategori baik. Berati bahwa motivasi belajar siswa dengan menggunakan metode Inkuiri lebih baik daripada motivasi belajar siswa yang menggunakan metode Konvensional.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang tidak di sukai siswa karena dianggap sulit. Anggapan tersebut mengakibatkan hasil belajar matematika rendah, di samping itu pula pembelajaran matematika belum optimal yang masih menggunakan metode konvensional. Dari latar belakang tersebut peneliti ingin melakukan penelitiaan mengenai “Pengaruh Model Pembelajaran Inquiri Terhadap Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas III SD Negeri Mangunsari 04 Kota Salatiga Semester 2015/2016‟‟.

1.2 Rumusan masalah

Berdasarkan identifikasi masalah yang telah ditemukan diatas maka masalah yang akan dicari jawabannya dalam penelitiaan ini dapat dirumuskan sebagai berikut „‟Apakah ada pengaruh hasil belajar Matematika siswa kelas III SD Negeri Mangunsari o4 yang positif dan signifikan dalam pembelajaran menggunakan model Inquiri?‟‟

1.3 Tujuan Penelitiaan

Sejalan dengan perumusan masalah, tujuan yang akan dicapai dalam

penelitiaan adalah untuk mengetahui apakah ada pengaruh hasil belajar

Matematika siswa kelas III SD Negeri Mangunsari o4 yang positif dan signifikan

dalam pembelajaran menggunakan model Inquiri.

(6)

1.4 Manfaat Penelitiaan

Dengan melakukan penelitiaan eksperimen ini, penulis berharap dapat memberikan manfaat baik secara langsung maupun tidak langsung bagi dunia pendidikan. Maka dari itu, manfaat-manfaat tersebut dapat diuraikan dalam manfaat teoritis dan manfaat praktis.

1.4.1 Manfaat Teoretis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan dalam pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya yang berhubungan langsung dengan pelajaran Matematika di Sekolah Dasar dengan menggunakan model pembelajaran Inquiri.

1.4.2 Manfaat Praktis

Hasil penelitiaan ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut:

1.4.2.1 Bagi Guru

1 Memberi arahan kepada guru di SD Negeri Mangunsari 04 dan SD N Mangunsari 07 Kota Salatiga dalam penyampaian mata pelajaran Matematika yang lebih kreatif dan inovatif.

2 Dapat meningkatkan kualitas pembelajaran

3 Memberi dorongan kepada guru di SD Negeri Mangunsari 04 dan SD N Mangunsari 07 Kota Salatiga untuk lebih dalam merencanakan, menerapkan dan memilih model pembelajaran agar dapat berjalan lebih efektif dan tidak membuat siswa jenuh dalam kegiatan pembelajaran.

1.4.2.2 Bagi Siswa

1. Dapat meningkatkan keaktifan siswa dalam mengikuti proses pembelajaran sehingga dapat menguasai materi dengan baik.

2. Dapat meningkatkan hasil belajar siswa

3. Dapat melatih siswa untuk bekerja melalui diskusi 1.4.2.3 Bagi Sekolah

1.Model pembelajran Inquiri dapat diterapkan untuk memperbaiki pembelajaran

matematika

(7)

2. Menjadi masukan dalam peningkatan kualitas hasil belajar siswa di setiap

kelas. Sehingga, kualitas pendidikan di SD Negeri Mangunsari 04 dan SD N

Mangunsari 07 Kota Salatiga semakin berkembang dan maju.

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh waktu pemaparan cuaca ( weathering ) terhadap karakteristik komposit HDPE–sampah organik berupa kekuatan bending dan

Hal tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut: (a) nilai rata-rata postes keterampilan komu- nikasi siswa pada kelas yang diterap- kan model pembelajaran berbasis

The students were reportedly enjoy studying in the Monolingual class and support the use of English–only in their English classes for enhancing learning. In spite of their

Sedangkan pada siklus II jumlah siswa yang kurang melakukan aktifitas kurang menunjang selama proses pembelajaran telah menurun yakni sebanyak 2 siswa kurang aktif

Tujuan penelitian ini adalah; (1) Untuk mengetahui motivasi belajar bahasa Arab siswa sebelum menggunakan model CTL , (2) Untuk mengetahui motivasi belajar bahasa

Seringkali apabila tunggakan sewa berlaku ianya dikaitkan dengan masalah kemampuan yang dihadapi penyewa dan juga disebabkan faktor pengurusan yang lemah. Ada pula

Dapat menjadi sumber informasi bagi masalah yang berkaitan dengan pelaksanaan proyek.. Dapat melakukan koordinasi dan usaha-usaha

Kandungan β-glukan pada polisakarida sangat tinggi (>80  berat kering) yang memiliki efek biofarmakologi yang bermanfaat bagi kesehatan (Jantaramanant et al. 2014)