GAMBARAN GRATITUDE ( RASA SYUKUR) PADA MASYARAKAT ACEH
SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi dan Melengkapi Ujian Sarjana Psikologi
Oleh:
SILVANDRIE ABRIYAN LAKSANA 121301034
FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN 2017
SURAT PERNYATAAN
Saya yang bertanda tangan di bawah ini, menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi saya yang berjudul:
“Gambaran Gratitude Masyarakat Aceh”
adalah hasil karya sendiri dan belum pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi manapun.
Adapun bagian-bagian tertentu dalam penulisan skripsi ini yang saya kutip dari hasil karya orang lain telah dituliskan sumbernya secara jelas sesuai dengan norma, kaidah, dan etika penulisan ilmiah.
Apabila dikemudian hari ditemukan adanya kecurangan di dalam skripsi ini, saya bersedia menerima sanksi dari Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara dan sanksi-sanksi lainnya sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku.
Medan, 16 Maret 2017
Silvandrie Abriyan Laksana.
NIM. 121301034
Gambaran Gratitude pada Masyarakat Aceh
Silvandrie Abriyan L. dan Ari Widiyanta ABSTRAK
Gratitude adalah sebuah perasaan bahagia, mengapresiasi suatu hal, rasa terima kasih terhadap hal-hal yang diraih sepanjang hidupnya, hal ini dapat diperoleh dari sesama manusia, Tuhan, energi-energi yang besar diluar dirinya dan alam semesta sehingga mendorong manusia untuk melakukan tindakan-tindakan positif seperti halnya yang dia rasakan. Gratitude bisa dilihat dari tiga aspek, yaitu memiliki rasa apresiasi (sense of appreciation) terhadap orang lain ataupun Tuhan dan kehidupan, perasaan positif terhadap kehidupan yang dimiliki, dan kecenderungan untuk bertindak positif sebagai ekspresi dari perasaan positif dan apresiasi yang dimiliki.Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif deskriptif yang bertujuan untuk menggambarkan rasa syukur pada Masyarakat Aceh. Peneliti mengambil sampel terhadap 105 masyarakat Aceh. Hal ini berdasarkan Perhitungan ini dilakukan berdasarkan rumus perhitungan besaran sampel menurut Rahmady dalam Bungin (2005). Hasil dara penelitian memperoleh bahwa Gratitude pada masyarakat Aceh dominan tinggi.
Kata kunci: gratitude, Aceh
An Overview Gratitude of The People of Aceh Silvandrie Abriyan L. dan Ari Widiyanta
ABSTRACT
Gratitude is a feeling of happiness, appreciate about something, a grateful when achieved somethings in life, it can be obtained from our fellow human beings, God, the energies of the great beyond himself and the universe who that things push people to doing something positive as well he/she felt. Gratitude can be seen from three aspects, for the first that is sense of appreciation of others people or God and life, positive feelings toward life, and for the last, that is a tendency to act positively as an expression of positive feelings and appreciation owned.This research is a descriptive quantitative research that aims to describe the gratitude to the people of Aceh. Researcher took samples of the 105 people of Aceh. It is based on the calculation who based on the formula for calculating the amount of the sample according to Rahmady in Bungin (2005). The results of the study found that most people of Aceh havehigh score of gratitude
Keywords: Gratitude, Aceh
KATA PENGANTAR
Segala puji saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telahmemberikan Rahmat dan berkat-Nya dalam berbagai bentuk, dan kepada kedua orang tua peneliti (Ir. Heri Laksana& Andi Erlita, S.Hut, MM ) yang telah mencurahkan kasih dan sayang, doa dan segala keberkahan dalam doanya sehingga peneliti dapat menyelesaikan Skripsi dengan judul “Gambaran Gratitude pada Masyarakat Aceh”
dengan usaha untuk hasil sebaik mungkin. Tujuan dari penyelesaian Skripsi ini adalah sebagai tugas akhir dan salahsatu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Psikologi di Fakultas PsikologiUniversitas Sumatera Utara. Proses penyelesaian tugas ini bukanlah hal yang mudah, maka dari itu peneliti menghaturkan banyak terima kasih kepada:
1. Bapak Zulkarnain, Ph.D., psikolog selaku dekan Fakultas PsikologiUniversitas Sumatera Utara.
2.Ibu Etti Rahmawati,M.Si selaku dosen pembimbing akademik yang telah membimbing dengan segala cara untuk memunculkan semangat-semangat baru dalam tiap bimbingan dan dalam memberi arahan.
3. Bapak Ari Widyanta, M.Si.,psikolog selaku dosen pembimbing Skripsi yang telah bersedia terus mendampingi dalam proses penyelesaian skripsi dari awal hingga akhiri.
4. Ibu Meutia Nauly, M.Si., psikolog sebagai dosen penguji
5. Bapak Eka Danta Jaya Ginting, S.Psi., MA selaku dosen penguji yang telah menguji dan mendampingi dalam proses perbaikan skripsi
6. Keluarga besar Dosen-dosen dan Pegawai Fakultas Psikologi UniversitasSumatera Utara yang telah ikut memberikan dukungan, arahan, bimbingan danilmu kepada peneliti.
7. Clan Laksana dan Cucu Tuns yang memberi dukungan kepada peneliti
8. Farouq Hasymi Nasution, Denny Wahyudi dan Rizky Nugroho yang memberikan arahan dan memicu semangat peneliti dalam menyelesaikan pendidikan
9. Keluarga besar IPTR ( Ikatan Pemuda Tanah Rencong ) yang telah membantu peneliti dalam mengumpulkan data.
10. Seluruh Masyarakat Aceh dimanapun berada.
11. Seluruh pihak yang telah membantu dan mendukung secara langsung maupun tidak langsung dalam tiap segi proses penyelesaian tugas akhir ini.
Perihal penyusunan tugas akhir ini, tentu saja masih bertemu dengan keterbatasan dalam berbagai sudut pandang, dengan demikian peneliti menerima kritik dan saran membangun demi membuat skripsi ini menjadi lebih baik. Akhir kata, peneliti berharap segala kebaikan dan keberkahan yang dicurahkan oleh Tuhan yang Maha Esa selalu menyertai kita semua.
Medan, Maret 2017
Silvandrie Abriyan Laksana NIM 121301034
DAFTAR ISI
ABSTRAK ... i
KATA PENGANTAR ... ii
DAFTAR ISI ... ... v
DAFTAR TABEL... iv
DAFTAR LAMPIRAN ... xi
BAB I 1. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah ………... ... 4
1.2. Rumusan Masalah ……… ... 15
1.3. Batasan Masalah ……….. ... 16
1.4. Tujuan Penelitian ………. ... 16
1.5. Manfaat Penelitian ………... ... 16
1.6. Sistematika Penulisan ……….. ... 17
BAB II 2. KAJIAN PUSTAKA 2.1. Gratitude...………... ... 18
2.1.1. Defenisi……...………... ... 19
2.1.2. Aspek-aspek...………... ... 20
2.1.3. Faktor-faktor yang mepengaruhi gratitude... 20
2.2. Masyarakat Aceh………... ... 22
2.2.1. Aceh...………... ... 22
2.2.3. Kesejahteraan sosial... ... 24
2.2.4. Pendidikan... ... 25
2.3. Dinamika gambaran teori Gratitude pada Masyarakat Aceh... ... 26
BAB III 3. METODE PENELITIAN 3.1. Metode penelitian kuantitatif deskriptif ... ....27
3.2. Variabel penelitian... ... ....27
3.2.1. Identifikasi Variabel Penelitian ...28
3.3.Definisi Operasional...28
3.4. Pengumpulan data penelitian...30
3.4.1.Blueprint...31
3.4.2. Karakteristik subjek penelitian.. ... ...32
3.4. Jumlah subjek... ... ...32
3.5. Lokasi penelitian... ... ...33
3.6. Pengumpulan Data...33
3.6.1. Sumber Data... 33
3.6.2. Waktu Pengumpulan Data... ... ...33
3.7. Metode Analisa Data ... ...33
BAB IV 4. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1.Gambaran Umum Subjek Penelitian... ... 35
4.1.1. Gambaran berdasarkan Jenis Kelamin ... 35
4.1.2. Gambaran berdasarkan Usia ... ... 35
4.2. Hasil Penelitian ... 36
4.2.1. Hasil Penelitian Utama ... ... 36
4.3. Kategori Gratitude pada Masyarakat Aceh ... 38
4.4. Hasil Penelitian Tambahan berdasarkan Gambaran Subjek ... 39
4.4.1. Gambaran Gratitude berdasarkan Jenis Kelamin ... 39
4.4.2. Gambaran Gratitude berdasarkan Usia ... 39
4.5. Pembahasan ... ... 44
BAB V 5. KESIMPULAN DAN SARAN 5.1. Kesimpulan ... ... 45
5.2. Saran ... ... 42
5.2.1. Saran Metodologis ... ... 45
5.2.2. Saran Praktis ... ... 46
DAFTAR PUSTAKA... ... 75
LAMPIRAN ... ... xi
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah
Provinsi Aceh yang dulunya bernama Nanggroe Aceh Darussalam terletak di wilayah ujung barat laut sumatera dengan ibukota Banda Aceh. Pada tahun 2009, Provinsi Aceh tercatat memiliki 23 kabupaten/kota terdiri dari 276 kecamatan, 755 mukim dan 6.423 gampong/desa (Data Pemerintah Aceh, 2009).
Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk di wilayah Aceh terus tumbuh, pada tahun 2011 tercatat berjumlah 4.597.308, pada 2012 berjumlah 4.693.934, pada 2013 berjumlah 4.791.924, jumlah pada 2014 adalah 4.906.835 dan pada 2015 sejumlah 5.001.953 jiwa yang tersebar di seluruh wilayah Aceh. (Data BPS,2015)
Daerah ini memiliki wilayah yang amat signifikan sebagai pintu gerbang lalu lintas perdagangan nasional maupun internasional yang menghubungkan samudera Hindia dan Pasifik dan dua Asia dan Australia, meskipun demikian dalam kondisi geomorfologis dan klimatologis serta demografis Aceh yang berada di pada jalur pertemuan lempeng Asia dan Australia dan berada di bagian ujung patahan besar Sumatera yang membelah pulau Sumatera dari Aceh sampai Selat Sunda yang dikenal dengan Patahan Semangko, dengan kondisi demografis yang telah dijabarkan diatas mengakibatkan munculnya ancaman bahaya (hazard) di Aceh yang mencakup ancaman geologis, hidrometeorologis, serta sosial dan kesehatan. Hal ini dapat menyebabkan Aceh mengalami bencana
geologis yang cukup panjang. Berdasarkan catatan bencana geologis, tsunami pernah terjadi pada tahun 1797, 1891, 1907 dan tanggal 26 Desember tahun 2004 adalah catatan kejadian ekstrim terakhir yang menimbulkan begitu banyak korban jiwa dan harta. (Data Pemerintah Aceh, 2009).
Aceh dilanda peristiwa-peristiwa yang meninggalkan luka mendalam di hati masyarakatnya, diantaranya peristiwa DI/TII Aceh yang dipimpin oleh Teungku Dauh Bereueh, dilanjutkan dengan munculnya pergerakan GAM dan yang terakhir adalah bencana Tsunami 2004. Darul Islam di Aceh, jika dilihat dari sisi para pelakunya adalah sebuah ekspresi pernyataan sikap yang tegas terhadap pemerintah pusat di jakarta yang tidak kunjung mewujudkan syariat Islam. Pemerintah pusat menganggap Darul Islam adalah sebuah perlawanan terhadap kekuasaan yang sah, sehingga para pengikut gerakan ini dianggap sebagai pemberontak. Darul Islam di berbagai daerah dipimpin oleh tokoh-tokoh yang sama-sama menginginkan sistem syariah dalam bernegara. Pergerakan Darul Islam juga muncul akibat semakin maraknya penanaman ideologi non Islam (Chaidar,2006).
Pasukan Darul Islam Aceh, terus melakukan pertempuran di kota kecil maupun besar. Pada masa itu, hampir seluruh Aceh dikuasai oleh Darul Islam, pergerakan ini didukung oleh rakyat Aceh yang dibuktikan dengan banyaknya rakyat Aceh yang turun untuk berjuang sebagaimujahidin.Masyarakat Aceh dihadapkan pada dua pilahn pada masa itu, menjadi pahlawan atau cuak (pengkhianat), syahid atau menang adalah hal-hal yang ditanam dalam benak pejuang masa itu. Pasukan Darul Islam juga dituduh melakukan pembantaian
besar-besaran, mereka dinyatakan bahwa lebih dari 200 tawanan di wilayah lammeulo dan membunuh 123 anggota PNI, 120 anggota PKI dan 28 anggota Perti setelah kunjungannya ke Aceh (Chaidar,2006).
Upaya demi upaya dilakukan untuk mendamaikan konflik DI/TII dan Pemerintah Indonesia yang bergejolak pada 1953 hingga 1960, Aceh mendapatkan status daerah istimewa yang telah disepakati oleh pemerintah Indonesia. Ali Hasjmy dan Kolonel Sjamaun Gaharu didelegasikan untuk melakukan pendekatan terhadap Daud Beureueh untuk berunding dan memikirkan masa depan Aceh saat itu, namun semenjak kepemimpinan Soeharto dengan gaya kepemimpinan otoriter dan tersentralisasi pada 1966- 1998, hal ini membuat Aceh kehilangan hak untuk menangani rumah tangganya sendiri dalam hal keistimewaan untuk mengendalikan pembangunan politik, ekonomi, bahkan budayanya sendiri sehingga hal tersebut menuai kegagalan (Taqwadin,2015). Akhir dari pergerakan DI/TII Aceh diprakarsai oleh Kolonel M. Yasin dengan diadakannya Musyawarah Kerukunan Rakyat Aceh yang berlangsung pada tanggal 17-21 Desember 1962. Akhir pemberontakan DI/TII Aceh diselesaikan dengan cara damai (Idsejarah.net, 2016)
Peristiwa selanjutnya adalah munculnya pergerakan GAM. Pergerakan GAM pun bukan muncul secara tiba-tiba. Mulainya pergerakan Gerakan Aceh Merdeka dibawah komando Hasan Tiro adalah ketika diproklamasikan kemerdekaan Aceh pada tanggal 4 December 1976, yang mengawali perlawanan terhadap pemerintah Indonesia. Berbeda dengan gerakan DI/TII tahun 1950an yang bertujuan untuk merubah Indonesia menjadi sebuah Negara Islam, GAM
bertujuan untuk memisahkan diri dan merdeka dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (Schulze, 2004). Pemberontakkan ini diawali akibat ketidakadilan yang dirasakan oleh masyarakat Aceh terkait distribusi pendapatan daerah dengan pusat, ketidaksenangan masyarakat Aceh akan implementasi daerah keistimewaan akan syariat Islam yang tidak kunjung terealisasi, serta kesenjangan ekonomi dan kondisi sosial masyarakat yang kian terpuruk menjadi penyebabnya (Schulze, 2004).
Setelah deklarasi Aceh Merdeka, anggota GAM menjadi fokus pemerintah pusat karena dianggap sebagai GPK (Gerakan Pengacau Keamanan).
Hal ini dilakukan sebagai langkah pemerintah untuk membendung pengaruh GAM kepada masyarakat luas (Ghani dalam Taqwadin,2015). Usaha untuk menekan gerakan tersebut, pemerintah pusat melakukan pembersihan dengan cara membunuh dan memenjarakan para petinggi GAM, termasuk seorang pemimpin besar Aceh yaitu Teungku Daud Beureueh juga dipenjara (Prasetyo,2009).
Menurut Nazar dalam Taqwadin (2015), kekayaan alam yang melimpah tidak memberikan efek yang signifikan terhadap pembangunan dan sumber daya manusia di daerah ini dan hanya kurang dari 5% dari hasil kekayaan SDA ini yang kembali ke Aceh. Padahal pembangunan-pembangunan industri seperti PT.
PIM (Pupuk Iskandar Muda), PT. Asean Fertilizer, PT. Kraft Aceh (KKA) dan beberapa perusahaan lainnya di Aceh pada masa itu memberi pendapatan rata- rata 1 triliun rupiah pertahunnya (Wennmann, A. & Krause, J, 2009). Selain itu, tingginya tingkat migrasi di pusat industri Aceh yaitu di wilayah Aceh utara
membawa dampak buruk dalam lingkup sosial di masyarakat Aceh karena masuknya orang-orang dari luar Aceh menutupi peluang masyarakat Aceh untuk bekerja dalam industri tersebut (Prasetyo, 2009)
Selama masa konflik GAM dan pemerintah Indonesia, telah memakan ribuan korban. Korban yang berjatuhan tidak hanya dari anggota GAM, tetapi juga masyarakat sipil. Pembunuhan, penghilangan paksa, pemerkosaan dan aksi kekerasan lainnya yang dilakukan oleh oknum TNI dan GAM dalam mengukir luka mendalam masyarakat Aceh sangat marak pada masa itu (Human Right Watch, 1991). Menurut penjelasan Ross dalam Taqwadin (2003), diperkirakan selama tahun 1990 sampai 1992 jumlah kematian karena konflik di Aceh mencapai 2.000 hingga 10.000 jiwa.
“ Yaa kek gitu laah bang, abang bisa lihat sendiri di youtube tentang keluarga kami yang ditembakin pas kejadian simpang KKA, didepan kami mereka di bantai bang”. (Wawancara Personal, 21 Januari 2017)
“ Waktu masalah GAM, dara bersyukur kali kami gak diapa-apain, disitu mama dara yang paling berani, dia pala-palain anak-anaknya pulang dulu kerumah, dan dia yang datangi kawanan GAM itu untuk ambil lagi haknya dia..”. (Wawancara Personal, 21 Januari 2017)
Usaha dalam mencapai perdamaian pun telah banyak dilakukan, tetapi hasilnya nihil hingga pada akhirnya terjadi bencana tsunami 2004, seperti merubah haluan kondisi perpolitikan di Aceh, bencana yang memakan korban hingga 132.000 jiwa dan 37.000 jiwa lainnya dinyatakan hilang. Konflik antara pemerintah Indonesia pun ikut mereda. Pemerintah Indonesia dan GAM
bertekad untuk menciptakan kondisi damai yang diwujudkan melalui MOU antara pemerintah Indonesia dan GAM di Helsinki (Aspinall,2005).
Cobaan demi cobaan pun datang menerpa Aceh, setelah DI/TII dan pergerakan GAM, Aceh diterpa bencana gempa dan tsunami. Bencana gempa bumi dan tsunami pada 26 desember 2004 telah meninggalkan banyak kerusakan bagi masyarakat Aceh. Mayat-mayat manusia tergeletak begitu saja di jalan-jalan, di trotoar, di lapangan, dan tempat-tempat lain adalah pemandangan yang muncul setelah kejadian tersebut. Bencana tsunami itu memang telah menghancurkan sendi-sendi kehidupan masyarakat Aceh, memisahkan anak dengan orangtuanya, orang tua dengan anaknya, suami dengan istrinya, menghancurkan rumah-rumah mereka dan melenyapkan seluruh harta benda dan lapangan kerja. Sangking dahsyatnya bencana tersebut, membuat pemerintah Indonesia membentuk tim dan melakukan pergerakan militer terbesar setelah perang dunia 2 yang dipimpin oleh Mayjen Bambang Darmono dalam penanggulangan bencana dahsyat tersebut. Pada bencana tsunami 2004 sendiri memiliki kerugian dan kerusakan sebagai berikut, 635.384 orang kehilangan tempat tinggal, 127.720 orang meninggal dan 93.285 orang hilang, 104.500 Usaha Kecil dan Menengah (UKM) lumpuh, 139.195 rumah hancur 73.869, hektare lahan pertanian hancur, 1.927 guru meninggal, 13.828 kapal nelayan hancur, 1.089 sarana ibadah rusak, 2.618 kilometer jalan rusak, 3.415 sekolah rusak, 517 sarana kesehatan rusak, 669 bangunan pemerintah rusak, 119 jembatan rusak, 22 pelabuhan rusak dan 8 bandara atau airstrip rusak (Data Pemerintah Aceh, 2009).
Pergerakan DI/TII Aceh, GAM dan bencana gempa bumi dan tsunami tanggal 26 Desember 2004 telah menempatkan Aceh pada jurang ketertinggalan yang jauh dan Aceh kembali ketitik nol. Akibat konflik berkepanjangan memunculkan dampak-dampak negatif pada masyarakat Aceh di masa itu, beberapa diantaranya adalah perekonomian Aceh menjadi tersendat bahkan merosot tajam, muncul kecemburuan sosial dalam masyarakat yang sudah mendapat bantuan dari pemerintah, lahirnya gerakan separatis baru yang tidak puas dengan pemerintahan, janda-janda dan anak yatim korban konflik dan tsunami menjadi terlantar, semakin banyaknya pengangguran, sehingga Aceh menjadi satu-satunya Provinsi di Indonesia yang terus-menerus mengalami tingkat pertumbuhan yang rendah atau negatif. Bencana alam melengkapi penderitaan dengan banyaknya korban nyawa selain kerusakan infrastruktur fisik, ekonomi dan sosial pada skala masif (Data Pemerintah Aceh, 2009).
Konflik berkepanjangan juga berdampak pada kondisi psikologis korban konflik, pada konflik DI/TII Aceh timbulah kegelisahan dan ketakutan yang besar serta berbagai predikat lainnya yang bernuansa penuh dengan rasa takut yang dialamatkan kepada DI/TII. Dampak konflik selanjutnya adalah dampak konflik pergerakan GAM yang berdampak pada distress, diantara korban-korban tersebut masih merasa was-was, syok, mudah lupa, lemah secara fisik karena masih tidak nyaman dengan ingatan masa lalu dan kejadian masa lalu, takut meninggalkan rumah, takut pergi bekerja, kehilang semangat, takut berbicara dengan orang lain, takut pada pria yang di dekatnya, tidak percaya siapa-siapa, rasa benci, sulit tidur, tidak tahan melihat tentara atau seragam tentara, takut
keramaian,resah, sulit tidur di malam hari, melamun, mengingat hal-hal buruk yang terjadi, gangguan jantung, jantung berdebar kencang, lelah tanpa alasan, sulit berfikir, lamban berfikir, mudah lupa, merasa tak berdaya, mencurigai orang lain, sulit bersosialisasi dan mengisolasi diri (IOM, 2006).
Dampak-dampak psikologis pun bermunculan dari korban-korban tsunami Aceh 2004, seperti hilangnya harapan, semangat hidup, rasa tak berdaya, keenggananuntuk bersosialisasi, kesepian, rasa takut akan pantai, gemetar, panik dan melarikan diri setelah setiap ada gempa atau getaran seperti gempa, menangis sendiri, terlalu banyak fikiran,kesulitan memenuhi kebutuhan akan kenyamanan dalam keluarga, menghadapi masalah-masalah di tempat kerja akibat stres dan trauma, dan takut akan laut dan pantai (IOM, 2006).
Setelah konflik mereda dan bencana alam selesai, Aceh terus mengalami perubahan, diantaranya adalah melemahnya penerapan nilai-nilai budaya dan kesadaran hukum masyarakat mengakibatkan kurangnya kepatuhan terhadap hukum, hal ini tidak saja dalam lingkup masyarakat, tetapi juga melanda di lingkungan aparat penyelengaraanPemerintah Aceh.Sosialisasi peraturan yang dianggap kurang memadai perihal perundang-undangan yang sebelum dan sesudah ditetapkan baik kepada masyarakat dan aparaturpenyelenggaraPemerintahAceh sehingga sering menimbulkan kesalahpahaman antara masyarakat dan aparatur penyelenggara mengakibatkan kepercayaan masyarakat terhadap hukum menjadi hilang.Sejak penandatanganan MoU Helsinki (RI dan GAM) pada tanggal 15 Agustus 2005, tingkat kekerasan di Aceh secara konstan terus menurun hingga tahun 2009. Tingkat kekerasan di
Aceh bahkan lebih rendah daripada daerah-daerah pasca konflk lainnya di Indonesia. Periode setelah penandatangananMoU Helsinki karakteristik kekerasan di Aceh berubah, dimana insiden hampir tidak pernah terjadi, namun bentuk baru dari kekerasan terus meningkat terutama pada akhir paruh kedua 2008 dimana sekitar 100 orang tewas dalam kurun waktu 4 tahun yaitu pada tahun 2005 hingga 2009 yang disebabkan oleh kekerasan yang berhubungan dengan kriminalitas, persoalan pribadi dan sebab-sebab tidak jelas lainnya(Data Pemerintah Aceh, 2009).
Konflik di Aceh datang silih berganti, pergerakkan DI/TII, GAM dan bencana gempa dan tsunami menerpa Aceh, walaupun demikian, masyarakat Aceh tetap bersyukur dengan keadaan tersebut karena salah satu budaya yang diterapkan oleh masyarakat Aceh yaitu bersyukur. Masyarakat Aceh memandang rasa syukur sebagai suatu hal yang sangatlah penting, mengikuti ajaran Islam dan melestarikan adat istiadat yang diajarkan nenek moyang demi meraih pencapaian yang diharapkan, memunculkan rasa penerimaan terhadap keadaan, menjalin silaturahmi dan meningkatkan rasa terima kasih pada lingkungan tempat tinggal dan masyarakat desa adalah hal-hal yang ada dalam pikiran masyarakat Aceh ketika bersyukur. Hal ini bisa dilihat dari berbagai tradisi sebagai bentuk syukur masyarakat Aceh. Bersyukur juga bisa dilihat dalam tiap segi kehidupan masyarakat Aceh yang dalam interaksi sehari-harinya mengungkapkan kalimat-kalimat syukur seperti Alhamdulillah. Masyarakat Aceh seringkali menunjukkan prilaku bersyukurnya saat mendapatkan keuntungan, misalnya mendapatkan rahmat dari Tuhan, lepas dari musibah dan
sebagainya. Tragedi GAM dan tsunami menjadi dua tragedi besar yang bisa kita lihat dampaknya pada kebersyukuran masyarakat Aceh. Tragedi tersebut menyebabkan kehilangan orangtua, keluarga, harta benda dan sebagainya, tetapi masyarakat Aceh tetap menunjukkan rasa syukur baik kepada Tuhan maupun lingkaran sosialnya. Masyarakat Aceh juga merasa bersyukur pada seluruh pihak yang ikut mendukung dan memberi bantuan moril dan materil, tidak lupa juga kepada rahmat kehidupan untuk mengambil hikmah yang diberikan Allah SWT dalam tragedi tersebut.
“ Kami tetap bersyukur masih diberikan kesempatan untuk dapat melihat, mengalami dan merasakan dalam masa konflik dan tsunami.
Kami juga bersyukur masih dilindungi Allah SWT dan merasakan hidup setelah konflik dan tsunami. Saat tsunami, langkah kita terbatas oleh keamanan dan hidup dalam situasi yang was was, sedangkan di masa tsunami dapat melihat langsung akibat yang ditimbulkan”. (Wawancara Personal, 21 Januari 2017)
“ Iya, pada masa itu aku tinggal didekat markas GAM, tapi aku bersyukur walaupun keluarga ada yang tewas akan kejamnya masa itu dengan keluargaku sendiri. Susahnya zaman SD pergi dan pulang sekolah mendengar suara tembakkan. Memang aku masih kecil pada masa itu, tapi merasakan ketika pergi dn pulang sekolah dihadapin dengan suara-suara tembakan, untung ada orang kampung disitu yang siap membantu selamatkan aku. Aku bersyukur sekarang peperangan itu berhenti walaupun sodara aku ada yang menjadi korban. Mungkin kalau perang itu tidak berhenti akan lebih banyak korban.”. (Wawancara Personal, 21 Januari 2017)
“ .... terus yang kejadian tsunami, banyak hikmah yang didapat bang, adek lihat sekeliling adek, banyak orang yang kehilangan sanak sodaranya, miris kali, disisi lain adek bersyukur keluarga adek selamat dan masih utuh, walaupun sempat terpisah-pisah waktu kejadian”.
(Wawancara Personal, 21 Januari 2017)
“ Kalo untuk konflik itu, gimanapun kami tetap harus bersyukur meskipun orang-orang dibantai didepan kami, dengan adanya konflik itu, kami saling menjaga dan membantu untuk masyarakat
sependeritaan, misalnya menyumbang semampunya untuk keluarga korban, karena masa itu gak ada bantuan dari luar, Cuma sesama masyarakat sekitar aja”. (Wawancara Personal, 21 Januari 2017)
“ kami sangat bersyukur dengan konflik tersebut, karena kami bisa melihat pengorbanan orang tua kami yang berani mati demi anak- anaknya dengan menghadapi oknum GAM itu dan Alhamdulillah orangtua kami bisa pulang dengan selamat dan kami bisa belajar banyak hal dari itu”. (Wawancara Personal, 21 Januari 2017)
“Perasaan syukurnya karena Alhamdulillah gak ada keluarga yang menjadi korban, walaupun kami kehilangan tempat tinggal sehingga kami harus mengungsi, tapi untung ada sodara juga, jadi tinggal di tempat sodara sementara”. (Wawancara Personal, 21 Januari 2017)
Masyarakat Aceh merasakan bahwa kurang sempurna dan kurang berkah rasanya jika memulai sesuatu atau mengakhiri sesuatu tanpa bersyukur, misalnya masyarakat Aceh yang hidup dengan perekonomian kurang memadai tetapi tetap merasa bahagia, bersyukur karena masih ada anugrah kehidupan, bersyukur masih bisa makan, bersyukur ketika ditimpa musibah, bersyukur masih memiliki teman-teman dan keluarga, adanya penghargaan terhadap suatu hal yang kecil maupun hal yang merugikan yang dapat menumbuhkan perasaan bersyukur. Bisa dilihat bahwa meskipun dihantam banyak cobaan seperti konflik GAM, Tsunami, gagal panen, musibah kematian, dan musibah-musibah yang diterima dalam kesehariannya, masyarakat Aceh tetaplah bersyukur. Masyarakat Aceh bersyukur dalam berbagai bentuk, salah satu bentuk ungkapan syukur masyarakat Aceh adalah melakukan upacara adat. Masyarakat Aceh bahkan tidak terganggu dengan konflik tersebut ketika bersyukur, bahkan ketika konflik GAM dan TNI pun diakhiri dengan bersyukur dalam bentuk upacara Peusijuek(Indonesiana Tempo, 2015).
“ Kami sekeluarga bersyukur sekali bisa selamat dari konflik dan tsunami itu, sehingga kami sekeluarga membuat syukuran dengan warga sekitar dan keluarga kami.”. (Wawancara Personal, 21 Januari 2017)
Banyak hal yang mempengaruhi rasa syukur pada masyarakat Aceh, diantaranya harapan atas keberkahan yang diberikan oleh Tuhan ketika bersyukur, mendapat kesejukkan hati, merasa penuh cinta, mendapat ikatan sosial yang baik, dan menerima kebaikan-kebaikan lainnya baik dari masyarakat ataupun dari Allah SWT. Hal ini selaras dengan pendapat Emmons (2007), yang melihat bahwa orang-orang yang bersyukur dipengaruhi oleh kesejahteraan secara psikologis karena bersyukur, memperoleh, perasaan cinta dan kasih sayang, perhatian terhadap lingkungan sekitar dengan kata lain yaitu memperhatikan lingkungan sosial dan mendapatkan timbal balik yang positif.
Sangat banyak hal yang patut disyukuri oleh masyarakat Aceh yang diungkapkan dalam berbagai bentuk seperti berbagi makanan, berbagi rezeki dan kebahagiaan seperti makan besar bersama atau sekedar membagi ketan kuning yang ditambahkan inti kelapa kepada para tetangga (Indonesiana Tempo, 2015).
Aceh juga memiliki adat sebagai perwujudan rasa syukur, diantaranya adalah peusijuek, kenduri blang, kenduri laot, meugang dan lain-lain. Ungkapan syukur ini memiliki tujuan yang sama, namun peusijuek, kenduri blang, kenduri laot danmeugang memiliki tatacara dan waktu yang berbeda. Peusijuek (dalam bahasa Indonesia disebut “menepung tawar”) berarti membuat sesuatu menjadi
“sejuk” atau “dingin” yang mengandung makna dengan mengadakan peusijuek diharapkan akan memperoleh berkah, selamat atau akan beradadalam keadaan
yang baik. Kenduri blang berbeda dengan peusijuek, kenduri blang adalah sebuah tradisi petani sebagai bentuk ungkapan syukur kepada Allah SWT.Doa bersama anak yatim dan makan bersama sebagai bentuk syukur terhadap usaha padi yang memberikan hasil terbaik. Wilayah pesisir Aceh juga memiliki tradisi serupa, yaitu kenduri laot. Kenduri Laot dilakukan Setahun sekali ketika pergantian musim angin laut. Kenduri Laot dilakukan sebagai bentuk syukur hasil laut pada musim sebelumnya dan harapan untuk musim berikutnya, wujud syukur ini berbentuk upacara yang mengumpulkan sedekah, baik harta atau tenaga, diwujudkan dengan menyiapkan hidangan bersama, berdoa bersama, dan makan besar mengundang tidak saja semua orang kampung tetapi masyarakat luas (Indonesiana Tempo, 2015).
Dalam kajian psikologi, syukur dikenal dengan istilah gratitude. Kata gratitude diambil dari bahasa latin yaitu gratia, yang berarti kelemah lembutan, kebaikan hati, atau rasa berterima kasih, kedermawanan, pemberian, keindahan dari memberi dan menerima, atau mendapatkan sesuatu dari sesuatu yang tidak diketahui (Pruyer; Emmons & McCullough, 2003).Menurut Sulistyarini (2010), kebersyukuran adalah suatu perasaan bahagia yang muncul ketika seseorang yang sedang membutuhkan sesuatu dan mendapatkannya, atau sudah dalam keadaan berkecukupan, ketika menerima suatu pemberian dari manapun asalnya, sehingga orang tersebut merasa tercukupi atau menjadi mampu untuk meraih sesuatu. Syukur adalah reaksi kognitif dan emosional yang timbul dari memperhatikan dan menghargai terhadap sesuatu yang telah diterima. Sumber manfaat yang diraih berasal dari bantuan langsung, harta, hubungan yang positif,
hal positif di saat tertentu, dan melakukan hal yang lebih baik dibandingkan orang lain (Wood, Maltby, Stewart, & Joseph, 2008). Orang bersyukur juga cenderung lebih peka terhadap lingkungan sosialnya, mereka lebih bermanfaat, mendukung satu sama lain, pemaaf, dan memiliki empati terhadap orang lain (McCullough et al. 2002 ).
Menurut Listidiyandini (2009), rasa syukur adalah perasaan berterima kasih, bahagia, serta apresiasi atas hal-hal yang diperoleh selama hidup, baik dari Tuhan, manusia, makhluk lain, dan alam semesta, yang kemudian mendorong seseorang untuk melakukan hal yang sama seperti yang ia dapatkan.
Menurut Listidiyandini (2009), rasa syukur memiliki beberapa aspek, yaitu memiliki rasa apresiasi (sense of appreciation) terhadap orang lain ataupun Tuhan dan kehidupan, rasa apresiasi yang hangat terhadap seseorang atau sesuatu dan hal dan yang terakhir adalah mengapresiasi kontribusi orang lain terhadap kesejahteraan dirinya, dan memiliki kecenderungan untuk mengapresiasi kesenangan yang sederhana (simple pleasure), Perasaan positif terhadap kehidupan yang dimiliki, kecenderungan untuk bertindak positif sebagai ekspresi dari perasaan positif dan apresiasi yang dimiliki.
Dari uraian di atas, peneliti ingin melihat sebuah fenomena bersyukur yang tetap dilakukan meskipun dalam kondisi konflik sekalipun dan juga mengenai budaya bersyukur pada masyarakat Aceh, oleh karena itu peneliti ingin melihat sudut pandang Psikologi Budaya pada penelitian yang berjudul
“Gambaran Gratitude pada Masyarakat Aceh”
1.2. Rumusan Masalah
Rumusan masalah dari penelitian ini adalah “Bagaimanakah gambaran umum syukur pada masyarakat Aceh ?”
1.3. Batasan Masalah
Peneliti membuat batasan masalah pada penelitian ini agar penelitian ini meninjau hanya pada permasalahan yang ingin diteliti, yaitu Rasa syukur adalah hal-hal yang bersangkutan dengan rasa syukur pada masyarakat Aceh.
1.4. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat gambaran Gratitude pada Masyarakat Aceh.
1.5. Manfaat Penelitian
a. Manfaat Teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memperluas kajian ilmu psikologi dalam Psikologi Budaya dan kajian dalam bidang psikologi sosial.
b. Manfaat Praktis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan untuk beberapa hal, yaitu :
1. Menyumbangkan pemikiran-pemikiran baru sehingga dapat menjadi acuan dalam penelitian-penelitian selanjutnya mengenai gratitude
2. Sebagai bahan masukan bagi pemerintah pusat dalam hal mengkaji kesejahteraan sehingga mengarah kepada bersyukur pada masyarakat Aceh
3. Sebagai institusi yang memiliki wewenang dalam menjalankan roda pemerintahan daerah, diharapkan dalam mengelola dan membuat kebijakan-kebijakan dapat lebih tepat sasaran dalam proses maupun hasilnya.
4. Sebagai saran dan referensi bagi pemerhati sosial dan budayadalam hal bersyukur pada masyarakat Aceh.
1.6. Sistematika Penulisan
BAB I: PENDAHULUAN
Bab ini berisi tentang latar belakang penelitian, rumusan masalah, batasan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan sistematika penulisan.
BAB II: KAJIAN PUSTAKA
Bab ini berisi tentang teori yang digunakan dan diambil dari berbagai sumber yang menjelaskan tentang Aceh, budaya bersyukur, bentuk-bentuk syukur masyarakat Aceh dan Gratitude dalam kajian psikologi.
BAB III: METODE PENELITIAN
Bab ini berisi tentang pendekatan penelitian, teknik yang digunakan dalam penelitian, sampel penelitian, teknik pengumpulan data, dan lokasi dan waktu pengambilan data.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1. Gratitude
Manusia diciptakan dengan segala kesempurnaan dibandingkan dengan makhluk lainnya. Kelebihan yang dimiliki manusia menjadi hal yang semestinya disyukuri dan digunakan untuk diri sendiri dan orang lain, segala kebermanfaatan dapat kita raih jika kita mensyukuri sesuatu. Bersyukur juga sebagai bentuk pengakuan akan hadirnya Tuhan dalam setiap sendi kehidupan manusia. Manusia berusaha dan Tuhan yang merestui, atas segala usaha yang manusia lakukan maka ada hasil-hasil yang diraih, ada yang sesuai harapan dan ada juga yang kurang sesuai harapan, walaupun demikian manusia semestinya bersyukur atas apapun hasil yang diterima (Yuwanto, 2012).Bersyukur akan berdampak positif dalam hal emosional dan interpersonal. Dalam hal bersyukur, orang-orang diarahkan untuk melihat dan merasakan kemalangan sebagai hal yang membawa manusia kearah positif (Mc Millen dalam Krause,2006).
Bersyukur sangat bermanfaat dalam tiap langkah kehidupan dalam menjaga keberkahan dalam pencapaian-pencapaian dalam hidup dan juga dalam hal mempertahankan hal-hal penting dalam hidup seperti relasi, peluang-peluang baru, ilmu pengetahuan dan juga kebahagiaan. Para ahli mendefinisikan gratitude dengan sudut pandangnya masing-masing. Menurut Peterson dan Seligman (2004), bersyukur adalah sebuah perasaan bahagia dan penuh rasa
terima kasih sebagai suatu respon dalam sebuah pemberian, baik itu dari orang lain atau hal-hal yang diperoleh dari alam. Sebuah afek moral yang mendorong tingkah laku yang didorong oleh kepedulian terhadap kesejahteraan orang lain (Emmons & McCullough,2004). Rasa syukur adalah sebuah respon emosional yang khas ketika orang-orang menggapai harapannya (Emmons dan McCullough,2003 ). Orang yang bersyukur mencerminkan pribadi yang menghargai hal-hal baik yang terjadi pada mereka dan juga sebagai wujud terima kasih kepada sesama manusia, alam semesta dan Tuhan yang Maha Esa (Emmons, 2007). Menurut Listidiyandini (2009), rasa syukur adalah perasaan berterima kasih, bahagia, serta apresiasi atas hal-hal yang diperoleh selama hidup, baik dari Tuhan, manusia, makhluk lain, dan alam semesta, yang kemudian mendorong seseorang untuk melakukan hal yang sama seperti yang ia dapatkan.
2.1.2. Aspek Gratitude
Bersyukur secara personal merupakan rasa terima kasih yang ditujukan kepada orang yang telah memberikan suatu kebaikan berupa materi ataupun dalam bentuk lain, sementara bersyukur secara transpersonal merupakan ungkapa rasa terima kasih terhadap Tuhan, kekuatan yang Mahabesar atau kekuatan alam semesta yang menaunginya. Listidiyandini (2009) menyarikan komponen bersyukur menjadi tiga. Ketiga komponen berikut akan digunakan dalam penyusunan alat ukur bersyukur, yaitu:
1.Memiliki rasa apresiasi (sense of appreciation) terhadap orang lain ataupun Tuhan dan kehidupan.
Rasa apresiasi yang hangat terhadap seseorang atau sesuatudan hal.
Mengapresiasi kontribusi orang lain terhadap kesejahteraan dirinya, dan memiliki kecenderungan untuk mengapresiasi kesenangan yang sederhana (simple pleasure).
2. Perasaan positif terhadap kehidupan yang dimiliki
Seseorang yang merasa berkecukupan akan memiliki perasaan positif dalam dirinya. Ia akan merasa berkecukupan terhadap apa yang dimilikinya, puas dengan kehidupan yang dijalani.
3. Kecenderungan untuk bertindak positif sebagai ekspresi dari perasaan positif dan apresiasi yang dimiliki.
Kehendak baik kepada seseorang atau sesuatu hal serta kecenderungan untuk bertindak berdasarkan apresiasi dan itikad baik yang dimilikinya. Hal ini berkaitan dengan karakteristik bersyukur yang menjelaskan bahwa kesadaran akan betapa pentingnya dalam hal mengekspresikan rasa syukur.
2.1.3. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Gratitude
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi orang yang bersyukur, orang yang bersyukur memiliki niat baik atau sering disebut motive moral untuk meraih suatu tujuan yang baik pula, rasa syukur juga mendorong seseorang
untuk memperhatikan orang lain dan menggerakkan seseorang untuk lebih supportive terhadap orang lain. Orang-orang dapat meraih kesejahteraan secara psikologis, memperoleh perasaan cinta dan kasih sayang. Perasaan yang positif dan rasa berterima kasih pun akan diraih oleh orang-orang yang bersyukur.
Orang yang bersyukur akan menerima timbal balik yang positif. Kepekaan terhadap lingkungan sosial, memperhatikan lingkungan sosial dan kepedulian adalah beberapa hal yang akan ditunjukkan oleh orang-orang yang bersyukur.
Masyarakat Aceh bersyukur demi meraih hal-hal positif dalam hidupnya.
Masyarakat Aceh bersyukur karena masyarakat Aceh menerapkan salah satu budaya ajaran nenek moyang yang membudaya yaitu bersyukur. Masyarakat Aceh memandang rasa syukur sebagai suatu hal yang sangatlah penting, mengikuti ajaran Islam dan melestarikan adat istiadat yang diajarkan nenek moyang. Meraih pencapaian yang diharapkan, memunculkan rasa penerimaan terhadap keadaan, menjalin silaturahmi dan meningkatkan rasa terima kasih pada lingkungan tempat tinggal dan masyarakat desa adalah hal-hal yang mempengaruhi masyarakat Aceh untuk bersyukur sehingga masyarakat Aceh memiliki harapan dan niat dan merealisasikannya dalam bentuk membantu orang lain sehingga dapat kembali bangkit dari keterpurukan.
Menurut Kashda, Breen (2009), dijelaskan bahwa laki-laki melihat ekspresi dan dan pengalaman mengenai gratitude sebagai pertanda kerentanan dan kelemahan yang dapat mengancam maskulinitas dan posisi sosialnya. Laki- laki lebih berorientasi untuk menghindari gratitude dan hal ini dapat menjadi mekanisme pertahanan diri dari pengalaman emosi negatif yang dihindari atau
dampak sosial yang tidak diinginkan.Usia berpengaruh terhadap tingkat rasa syukur seseorang, hal ini sejalan dengan hasil penelitian Fadhliyah (2013) yang menjabarkan bahwa semakin tinggi usia seseorang maka semakin tinggi pula rasa syukur dalam dirinya.
2.2. Masyarakat Aceh 2.2.1. Aceh
Provinsi Aceh terletak di ujung Barat Laut Sumatera (2o00’00”- 6o04’30”
Lintang Utara dan 94o58’34”-98o15’03” Bujur Timur) dengan Ibukota Banda Aceh, memiliki luas wilayah 56.758,85 km2 atau 5.675.850 Ha (12,26 persen dari luas pulau Sumatera), wilayah lautan sejauh 12 mil seluas 7.479.802 Ha dengan garis pantai 2.666,27 km2. Secara administratif pada tahun 2009, Provinsi Aceh memiliki 23 kabupaten/kota yang terdiri dari 18 kabupaten dan 5 kota, 276 kecamatan, 755 mukim dan 6.423 gampong (kampung). Provinsi Aceh memiliki posisi sebagai gerbang lalu lintas perdagangan Nasional dan Internasional yang menghubungkan belahan dunia timur dan barat dengan batas wilayah sebagai berikut, sebelah Utara berbatasan dengan Selat Malaka dan Teluk Benggala, sebelah Selatan berbatasan dengan Provinsi Sumatera Utara dan Samudera Hindia, sebelah Barat berbatasan dengan Samudera Hindia dan sebelah Timur berbatasan dengan Selat Malaka dan Provinsi Sumatera Utara.
Jumlah penduduk Aceh pada akhir 2009 adalah 4.363.477 jiwa, dengan total jumlah kepala keluarga atau rumah tangga adalah 1.073.481 kepala keluarga/rumah tangga. Laju pertumbuhan penduduk Aceh selama 5 tahun
(2006-2009) terakhir sebesar 1,66 persen. Jumlah penduduk di wilayah Aceh terus tumbuh, pada tahun 2011 tercatat berjumlah 4.597.308, pada 2012 berjumlah 4.693.934, pada 2013 berjumlah 4.791.924, jumlah pada 2014 adalah 4.906.835 dan pada 2015 sejumlah 5.001.953 jiwa yang tersebar di seluruh wilayah Aceh. Provinsi Aceh memiliki tiga belas suku, yaitu Aceh yang menjadi mayoritas, Tamiang/Temieung (Aceh Timur Bagian Timur atau Tamiang), Alas (Aceh Tenggara), Aneuk Jamee (Aceh Selatan), Naeuk Laot, Simeulue dan Sinabang (Pulau Simeulue), Gayo (Bener Meriah, Aceh Tengah dan Gayo Lues), Pakpak, Lekon, Haloban dan Singkil (Aceh Singkil), Kluet (Aceh Selatan).
Setiap suku memiliki keberagaman budaya, bahasa dan pola pikir masing- masing.
Tata cara masyarakat Aceh dalam hal bersyukur adalah dengan bersedekah makanan salah satunya. Sangat Banyak bentuk tradisi yang berwujud berbagi rezeki dan kebahagiaan seperti makan besar bersama atau sekedar membagi ketan kuning yang ditambahkan inti kelapa kepada para tetangga (Indonesiana Tempo, 2015). Ada beberapa adat bersyukur pada masyarakat Aceh, diantaranya adalah Peusijuek, Kenduri blang, kenduri laot dan meugang. Meskipun memiliki makna yang sama dengan bersyukur, namun peusijuek dan kenduri blang, kenduri laot maupun meugang memiliki tatacara dan waktu yang berbeda. Peusijuek (dalam bahasa Indonesia disebut “menepung tawar”) berarti membuat sesuatu menjadi “sejuk” atau “dingin” yang mengandung makna dengan mengadakan peusijuek diharapkan akan memperoleh berkah, selamat atau akan beradadalam keadaan yang baik. Berbeda
dengan peusijuek, kenduri blang adalah sebuah tradisi petani sebagai ungkapan syukur kepada Allah SWT. Melakukan doa bersama anak yatim dan makan bersama sebagai bentuk syukur terhadap usaha padi yang memberikan hasil terbaik. Jika kenduri blang dilakukan oleh petani, maka di wilayah pesisir adapula tradisi serupa, yaitu kenduri laot. Kenduri Laot dilakukan Setahun sekali ketika pergantian musim angin laut. Kenduri Laot dilakukan sebagai bentuk syukur hasil laut pada musim sebelumnya dan harapan untuk musim berikutnya.
Seperti kebanyakan tradisi syukur lainnya, tradisi ini berbentuk upacara yang mengumpulkan sedekah, baik harta atau tenaga, diwujudkan dengan menyiapkan hidangan bersama, berdoa bersama, dan makan besar mengundang tidak saja semua orang kampung tetapi masyarakat luas (Indonesiana Tempo, 2015).
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1. Metode Penelitian Kuantitatif Deskriptif
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif deskriptif karena penelitian ini bertujuan untuk menjabarkan, menggambarkan dan mendeskripsikan gratitude (bersyukur) pada masyarakat Aceh. Penelitian kuantitatif dengan formatdeskriptif bertujuan menjelaskan dan merangkum berbagai situasi dan keadaan atau berbagai hal yang timbul dalam masyarakat yang menjadi objek penelitian. Menurut Hadi (2000), metode deskriptif bertujuan untuk mendeskripsikan suatu fenomena tanpa bertujuan untuk menarik kesimpulan-kesimpulan yang berlaku. Menurut Hughes, didapati dua tujuan penelitian kuantitatif deskriptif, yaitu mengembangkan teori baru dan belum banyak dikenal dan untuk menemukan dan mendalami faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi suatu variabel untuk penelitian lanjutan terhadap faktor-faktor yang telah dijabarkan sebelumnya.
Data yang dikumpulkan oleh peneliti bersifat menggambarkan dengan tidak mencari pengujian hipotesis ataupun membuat prediksi maupun dampak- dampak yang terjadi. format ini digunakan untuk mendapatkan data yang lebih luas, sehingga format ini dapat digunakan untuk menggeneralisasi suatu fenomena sosial dengan populasi yang lebih besar. Responden dalam format ini
tidak menggunakan persyaratan yang teramat khusus, tetapi melihat secara keseluruhan dari populasi yang telah ditetapkan (Bungin, 2005)
3.2. Variabel Penelitian
3.2.1. Identifikasi Variabel Penelitian
Variabel yang diteliti dalam penelitian ini adalah Gratitude.
3.3. Definisi Operasional
Gratitude adalah sebuah perasaan bahagia, mengapresiasi suatu hal, rasa terima kasih terhadap hal-hal yang diraih sepanjang hidupnya, hal ini dapat diperoleh dari sesama manusia, Tuhan, energi-energi yang besar diluar dirinya dan alam semesta sehingga mendorong manusia untuk melakukan tindakan- tindakan positif seperti halnya yang dia rasakan. Pada penelitian ini, peneliti menggunakan alat ukur yang bernama Indonesian Gratitude Inventory Scale Alat ukur ini dibuat oleh Listiyandini R,A (2009). Dalam tahap membangun alat ukur ini Listidiyandini R,A (2009), menyarikan teori dari komponen-komponen syukur yang dikemukakan oleh Fitzgerald (1998) dan Watkins (2003), ditambah lagi dengan pandangan Peterson dan Seligman (2004) yang menyatakan bahwa ada dua jenis syukur, yaitu bersyukur secara personal dan secara transpersonal.
3.4. Pengumpulan Data Penelitian
Data-data yang dikumpulkan oleh peneliti melalui beberapa tahap. Tahap pertama adalah menentukan subjek penelitian dan selanjutnya peneliti menyebarkan kuesioner yang berisikan beberapa pernyataan yang harus dijawab oleh subjek dan akhirnya data tersebut diolah menggunakan SPSS 17.00dan selanjutnya ditarik kesimpulan. Kuesioner yang digunakan adalah Indonesian GratitudeInventory Scale. Penelitian ini menggunakan skala model skala likert dengan memberi enam pilihan jawaban yaitu: STS (Sangat Tidak Sesuai), TS (Tidak Sesuai), ATS (Agak Tidak Setuju), AS (Agak Setuju), S (Setuju), SS (Sangat Sesuai). Skala ini menggunakan 12 item favorable dan18 item unfavorable. Skala ini memiliki skor masing-masing, berikut penjabarannya dalam blueprint dari skala yang digunakan.
Tabel 1. Skoring Item
Favorable/Positif Item
Unfavorable/Negatif
STS 1 6
TS 2 5
ATS 3 4
AS 4 3
S 5 2
SS 6 1
Tabel 2. Blueprint
Komponen Jenis Indikator Favorabl
e
Unfavorabl e
Rasa apresiasi (sense of appreciation) terhadap orang lain ataupun Tuhan dan kehidupan
Transperson al
Menyadari kesenangan2 sederhana (simple pleasure) yang diperoleh dari Tuhan dan kehidupan.
-
2
Mengakui kebaikan Tuhan untuk kehidupan kita.
11 3
Memandang kehidupan dan Tuhan secara positif.
5,29,12 1
Personal
Menyadari kesenangan sederhana yang diperoleh
dari orang lain. - 6
Mengakui peran orang lain untuk kesejahteraan kita.
7 -
Memandang orang lain secara positif
13, 9 4
Perasaan positif terhadap kehidupan yang dimiliki
Transperson al
Merasa puas dengan hidupnya
(sense of abundance)
Merasa bahagia dengan keadaan dirinya
14, 15 16
Memandang orang lain secara positif
19, 8, 18 20
Personal Merasa bahagia karena keberadaan orang lain
10 -
Kecenderunga n untuk bertindak sebagai ekspresi dari perasaan positif dan apresiasi yang dimilikinya
Transperson al
Melakukan ibadah sebagai wujud syukur pada Tuhan
22 23
Menjalani aktivitas sebaik mungkin sebagai bentuk terima kasih kepada hidup dan Tuhan
24 26, 17, 21
Personal
Membantu orang lain sebagai wujud terima kasih
28, 27 30
Membalas kebaikan orang lain sebagai wujud apresiasi
25 -
3.3.1. Karakteristik Subjek Penelitian
Subjek penelitian dalam penelitian ini harus memenuhi kriteria yang telah ditetapkan, kriterianya sebagai berikut.
1. Masyarakat Aceh yang hidup dalam masa konflik Aceh maupun tsunami
2. Masyarakat Aceh yang berusia 15 sampai 63 tahun
3.4. Jumlah Subjek
Melihat populasi masyarakat Aceh yang berjumlah 5.096.248 jiwa (Data Pemerintah Aceh), maka peneliti melakukan perhitungan jumlah besaran sampel. Perhitungan ini dilakukan berdasarkan rumus perhitungan besaran sampel menurut Rahmady dalam Bungin (2005). Peneliti menemukanjumlah subjek penelitian yang akan digunakan adalah sebanyak 100 orang. Rumus perhitungan sampel yang digunakan adalah
n =
𝑁𝑁𝑁𝑁(𝑑𝑑)2+1
n =
5.096.2485.096.248(0.1)2+1
n =
5.096.24850.963,48
n = 99.99
keterangan :
n : Jumlah sampel yang dicari N : Jumlah populasi
D : Nilai presisi (nilai yang ditentukan peneliti adalah 90% atau α = 0.1) 3.5. Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian dilakukan di berbagai wilayah Aceh dan juga pengambilan data dilakukan di berbagai tempat, salah satunya di kota Medan,
karena selaku provinsi yang paling dekat dengan provinsi Aceh dan masyarakat Aceh di Medan berasal dari berbagai wilayah Aceh dan berbagai etnis Aceh secara keseluruhan.
3.6. PENGUMPULAN DATA 3.6.1. Sumber Data
Sumber data utama dalam penelitian adalah data primer yang diperoleh dari para responden yang mengisi kuesioner yang telah disebarkan.
3.6.2. Waktu Pengumpulan Data
Secara keseluruhan pengumpulan data dilakukan pada 1 hingga 2 maret 2017.
3.7. METODE ANALISA DATA
Metode analisa data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif. Analisis deskriptif bertujuan untuk memberikan gambaran mengenai responden penelitian berdasarkan data yang diperoleh dari subjek yang diteliti dan tanpa maksud menguji hipotesis.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Hasil penelitian dan pembahasan mengenai Gambaran gratitude pada Masyarakat Aceh akan dijelaskan pada bab ini. Pemaparan mengenai penelitian ini dibantu oleh aplikasi Statistical Package for Solution Sciences (selanjutnya disebut SPSS) 17.0 for windows. Dalam bab ini pada awalnya peneliti akan membahas tentang subjek penelitian dan selanjutnya membahas mengenai hasil penelitian secara keseluruhan.
4.1. Gambaran Umum Subjek Penelitian
Populasi penelitian adalah masyarakat Aceh secara keseluruhan dan berikut penjabaran umum tentang subjek yang telah bekerjasama dalam mengisi skala yang telah peneliti persiapkan.
4.1.1. Gambaran berdasarkan Jenis kelamin
Berdasarkan gambaran umum, tabel dibawah menggambarkan persentase dan jumlah subjek laki-laki dan perempuan.
Tabel 3. Gambaran subjek berdasarkan jenis kelamin
Berdasarkan data pada tabel diatas, dijelaskan bahwa jumlah subjek laki-laki adalah 50 orang dengan persentase 47,62%, sedangkan jumlah subjek perempuan berjumlah 55 orang dengan persentase 52,38%.
Usia Frekuensi
(N)
Persentasi 15 – 25 Tahun 89 84,7619%
25 – 35 Tahun 10 9,52381%
> 35 Tahun 6 5,714286%
Total 105 100%
4.1.2
Gambaran berdasarkan Usia
Berikut gambaran umum subjek berdasarkan usia.
Tabel 4. Gambaran subjek berdasarkan usia
Berdasarkan tabel, dapat dilihat bahwa rentang usia subjek antara 15-25 tahun berjumlah 89 orang dengan persentase 84,76%, rentang usia 25-35 tahun berjumlah 10 orang dengan persentase 9,5% dan pada rentang usia diatas 35 tahun berjumlah 6 orang dengan persentase 5,7%.
Jenis Kelamin Frekuensi (N) Persentase
Perempuan 55 52,38%
Laki-Laki 50 47,62%
Total 105 100%
4.2. Hasil Penelitian Utama
Berdasarkan gambaran data yang didapatkan dari subjek, peneliti mengolah jumlah skor dari masing-masing subjek.Hasil tersebut peneliti sajikan dalam bentuk tabel dan akan digambarkan melalui penjelasan berdasarkan tabel tersebut. Peneliti juga menyajikan nilai hipotetik. Nilai hipotetik didapatkan dengan menggunakan rumus berikut.
Tabel selanjutnya akan menjelaskan mengenai hasil penelitian yang telah peneliti lakukan, termasuk nilai hipotetik yang telah didapatkan.
Tabel 6. Gambaran skor Gratitude pada masyarakat Aceh
Variabel Jumlah
Subjek Rentang Nilai Nilai Empirik Nilai Hipotetik Min. Maks. Mean SD Mean SD Gratitude 105 113 179 149.33 13.62 105 11
Pada tabel diatas dijelaskan bahwa rentang nilai maksimum dan minimum pada penelitian ini adalah 66, dan selanjutnya skor maksimum yang didapat dari data adalah sebesar 179 dan nilai minimumnya adalah 113.
Berdasarkan perhitungan data yang telah dilakukan, peneliti menemukan nilai mean empirik adalah sebesar 149 dengan standar deviasi 13,62. Nilai mean hipotetik yang dihasilkan adalah sebesar 105 dengan standar deviasi dengan
µ = 1
2 (𝑖𝑖𝑚𝑚𝑚𝑚𝑚𝑚+ 𝑖𝑖𝑚𝑚𝑖𝑖𝑚𝑚)ΣK σ = 16(𝑖𝑖𝑚𝑚𝑚𝑚𝑚𝑚- 𝑖𝑖𝑚𝑚𝑖𝑖𝑚𝑚)
nilai 11. Bisa dilihat bahwa mean empirik lebih besar daripada mean hipotetik, hal ini berarti level Gratitude responden adalah cenderung tinggi. Selanjutnya melihat SD empirik dan hipotetik, dapat dilihat dalam tabel diatas, nilai SD empirik lebih tinggi daripada SD hipotetik, hal ini berarti skor gratitude memiliki variasi tinggi dengan artian ada responden yang memiliki rasa syukur tinggi dan ada juga yang rendah.
4.3. Kategori Gratitude Masyarakat Aceh
Pengelompokan skor rata-rata subjek dilakukan untuk menentukan kategorisasi skor. Peneliti mengelompokan subjek penelitian dalam tiga kategorisasi, yaitu rendah, sedang dan tinggi. Peneliti melihat skor berdasarkan keseluruhan, jenis kelamin dan usia subjek penelitian. Hasil perhitungandilakukan dengan menggunakan software SPSS 17.0 for windows.Berikut peneliti paparkan hasilnya.
Tabel 6. PengelompokanGratitudesecara keseluruhan Variabel Standard
Error
Kategorisasi Rentang Nilai Frekuensi (N)
Persentase
Gratitude
1,330
Rendah X <94 0 0%
Sedang 94<X ≤116 2 1,9 %
Tinggi X>116 103 98,1 %
Rasa
apresiasi Rendah X < 36,67 0 0%
T a
b e l
d i a
tas menunjukkan kategorisasi dari gratitude. Kategorisasi rendah terdiri dari X <
94, kategorisasi sedang 94 <X <116 dan kategorisasi tinggi adalah X > 116.
Untuk subjek pada kategorisasi sedang sebanyak 2 orang dan pada kategorisasi tinggi sebanyak 103 orang, sementara tidak ada subjek dengan kategori rendah.
Peneliti juga memisahkan skor berdasarkan jenis kelamin, berikut pemaparannya.
Tabel 7. PengelompokanGratitudeberdasarkan jenis kelamin
0,546 Sedang 36,67 < X <47,33 1 0,95%
Tinggi X > 47,33 104 99,05%
Rendah X < 23,67 3 2,85%
Perasaan
positif 0,550 Sedang 23,67 < X <32,33 24 22,85%
Tinggi X > 32,33 78 74,3%
Rendah X < 30,5 0 0%
Ekspresi
bersyukur 0,458 Sedang 30,5 < X < 39,5 2 1,9%
Tinggi X >39,5 103 99,1%
Jenis Kelamin
Kategorisasi Rentang Nilai Frekuensi (N)
Persentase
Laki-laki Rendah X <94 0 0%
Sedang 94≤X ≤116 2 1,9 %
Tinggi X>116 48 98,1 %
100%
Jenis Kelamin
Kategorisa si
Rentang Nilai Frekuensi (N)
Persentase
Perempuan Rendah X <94 0 0%
Sedang 94≤X ≤116 0 0%
Tinggi X>116 55 100 %
Tabel diatas memaparkan hasil berdasarkan jenis kelamin laki-laki dan perempuan, dapat dilihat bahwa subjek laki-laki dengan skor sedang sebanyak 2 orang dan skor tinggi sebanyak 48 orang dengan tidak adanya subjek dengan skor rendah. Sementara wanita memiliki skor tinggi sebanyak 55 orang dengan tidak ada subjek dengan skor rendah maupun sedang.
Tabel 8. PengelompokanGratitudeberdasarkan usia Usia Kategorisasi Rentang Nilai Frekuensi
(N)
Persentase 15-25
tahun
Rendah X <94 0 0%
Sedang 94≤X ≤116 1 1,12 %
Tinggi X>116 88 98,88 %
100%
Usia Kategorisasi Rentang Nilai Frekuensi (N)
Persentase 25-35
tahun
Rendah X <94 0 0%
Sedang 94≤X ≤116 0 0%
Tinggi X>116 100 100 %
100%
Usia Kategorisasi Rentang Nilai Frekuensi (N)
Persentase
35 > Rendah X <94 0 0 %
Sedang 94≤X ≤116 0 0 %
100%
Tinggi X>116 6 100 % 100%
Tabel diatas memaparkan hasil berdasarkan usia subjek, peneliti mengelompokkannya berdasarkan tiga kelompok usia, yaitu 15-25 tahun, 25-35 tahun, dan diatas 35 tahun. Pada rentang usia 15-25 tahun ditemukan bahwa subjek dengan kategori sedang sebanyak 1 orang, tidak ada subjek dengan skor rendah maupun tinggi. Subjek dengan rentang usia 25-35 tahun dengan kategori tinggi sebanyak 100 orang dan tidak ada subjek dengan skor rendah maupun sedang. Subjek dengan usia diatas 35 tahun dengan skor tinggi sebanyak 6 orang, dalam rentang usia ini tidak ada subjek dengan skor rendah maupun sedang.
4.3. Hasil Penelitian Tambahan berdasarkan Gambaran Subjek
4.3.1. Gambaran Gratitude berdasarkan Jenis Kelamin
Berikut merupakan data yang diperoleh dari 50 orang subjek laki-laki dan 55 orang subjek perempuan.
Tabel 8. Gambaran Gratitude berdasarkan Jenis Kelamin
Berdasarkan tabel diatas, bisa dilihat skor mean perempuan lebih tinggi dibandingkan skor laki-laki. Skor mean perempuan adalah 150,67 dengan nilai
Jenis Kelamin Gratitude Laki-laki
(N=50)
Mean 147,90 SD 14,276 Perempuan
(N=55)
Mean 150,67 SD 13,036
standard deviasi sebesar 13,036 sementara skor laki-laki adalah 147,90 dengan nilai standard deviasi sebesar 14,276.
4.3.2. Gambaran Gratitude berdasarkan usia
Tabel 9. Gambaran Gratitude berdasarkan Jenis Kelamin Usia Gratitude
15-25 tahun (N=89)
Mean 148,80 SD 13,296 25-35 tahun
(N=10)
Mean 156,10 SD 11,590 35> tahun
(N=6)
Mean 151,0
SD 7,127
Berdasarkan tabel diatas bisa dilihat skor mean dalam rentang usia 15-25 tahun adalah 148,80 dengan nilai standard deviasi 13,296. Rentang usia 25-35 tahun memiliki mean 156,10 dengan standard deviasi sebesar 11,590. Rentang usia diatas 35 tahun memiliki mean 151,0 dengan nilai standard deviasi sebesar 7,127.
4.4. Pembahasan
Penelitian yang berjudul Gambaran Gratitude pada Masyarakat Aceh ini melibatkan tidak kurang dari 105 subjek penelitian. Peneliti melihat nilai mean empirik dan hipotetik, peneliti menemukan bahwa nilai Bisa dilihat bahwa mean empirik lebih besar daripada mean hipotetik, hal ini berarti level Gratitude responden adalah cenderung tinggi. Peneliti juga melakukan melakukan
pengelompokan data berdasarkan skor rata-rata subjek dalam tiga bagian, yaitu rendah, sedang dan tinggi. Dalam hal ini peneliti menemukan 98,1% subjek yang dikategorikan memiliki skor tinggi, 1,9% dengan skor sedang dan 0%
dengan skor rendah. Berdasarkan skor tersebut maka bisa dilihat bahwa subjek dengan skor tinggi lebih banyak dibandingkan subjek yang memiliki skor sedang ataupun rendah dengan skor rata-rata subjek adalah 149,33 dari rentang skor antara 113 hingga 179. Melihat dari sisi tiga aspek rasa syukur, masyarakat Aceh memiliki skor dominan tinggi pada aspek Ekspresi Bersyukur dengan persentase 99,1 %, pada aspek Rasa Apresiasi memiliki skor rata-rata tinggi pula yaitu dengan persentase 99,05%, dan juga pada aspek Perasaan Positif juga memiliki skor rata-rata tinggi dengan persentase 74,3%. Jika dilihat dari ketiga aspek tersebut, masyarakat Aceh memiliki nilai tertinggi pada aspek Ekspresi Bersyukur. Masyarakat Aceh bersyukur karena mengharapkan keberkahan yang diberikan oleh Tuhan ketika bersyukur, mendapat kesejukkan hati, merasa penuh cinta, mendapat ikatan sosial yang baik, dan menerima kebaikan-kebaikan lainnya baik dari masyarakat ataupun dari Allah SWT.
Pada tabel, peneliti juga menjabarkan mengenai gambaran berdasarkan data demografis. Gambaran demografis tersebut adalah jenis kelamin dan usia.
Peneliti mendapatkan hasil sebagai berikut, laki-laki memiliki mean 147,9 dan sementara perempuan adalah 150,67. Menururut Kashda, Breen (2009), dijelaskan bahwa laki-laki melihat ekspresi dan dan pengalaman mengenai gratitude sebagai pertanda kerentanan dan kelemahan yang dapat mengancam maskulinitas dan posisi sosialnya. Laki-laki lebih berorientasi untuk
menghindari gratitude dan hal ini dapat menjadi mekanisme pertahanan diri dari pengalaman emosi negatif yang dihindari atau dampak sosial yang tidak diinginkan.
Peneliti juga melihat skor antara kategorisasi usia 15 hingga 25, 25 hingga 35, dan diatas 35. Skor mean dalam kategorisasi usia 15 hingga 25 tahun sebanyak 148,80, nilai mean kategorisasi usia 25 hingga 35 sejumlah 156,10, dan nilai mean di atas 35 tahun berjumlah 151,0. Dalam data ini, kita bisa melihat bahwa nilai mean pada rentang usia memiliki nilai dengan skor yang berbeda-beda.Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Fadhliyah (2013) yang menjabarkan bahwa semakin tinggi usia seseorang maka semakin tinggi pula rasa syukur dalam dirinya.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
Pada bab ini akan diuraikan kesimpulan dan saran-saran yang bergubungan dengan hasil dari penelitian yang diperoleh dari penelitian ini.
Bagian pertama dari bab ini akan dijelaskan kesimpulan dari penelitian dan di bagian akhir akan disampaikan saran-saran yang diharapkan berguna bagi penelitian akan datang yang berhubungan dengan penelitian ini.
5.1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis yang diperoleh dalam penelitian ini, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :
1. Berdasarkan hasil keseluruhan perihal gratitude, dapat ditarik kesimpulan bahwa a. gratitude masyarakat Aceh tergolong dalam kategori tinggi.
b. Melihat dari hasil penelitian berdasarkan dimensi-dimensi gratitude,dapatdisimpulkan bahwa dimensi Rasa apresiasi dan Ekspresi bersukur berada dalam kategori tinggi dan dimensi Perasaan positif masuk kedalam kategori sedang.
c. Mean empirik lebih besar daripada mean hipotetik, hal ini berarti level Gratitude responden adalah cenderung tinggi.
d. Nilai SD empirik lebih tinggi daripada SD hipotetik, hal ini berarti skor gratitude memiliki variasi tinggi dengan artian ada responden yang memiliki rasa syukur tinggi dan ada juga yang rendah.
5.2. Saran
Berdasarkan hasil penelitian dan kesimpulan yang telah dipaparkan, maka peneliti mengajukan beberapa saran metodologis dan saran praktis sebagai berikut:
5.2.1. Saran Metodologis
1. Untuk peneliti yang melakukan penelitian selanjutnyamengenai variabel Gratitude diharapkan agar mengambil keberagaman responden yang lebih lagidalam pengambilan sampel khususnya di Aceh, karena di Aceh sendiri memiliki berbagai macam suku dengan berbagai pembahasan dan pemahaman mengenai gratitude
2. Bagi penelitian selanjutnya disarankan untuk menambahkan hasil wawancara yang lebih lagi untuk melakukan penelitian
3. Bagi penelitian selanjutnya diharapkan kepada peneliti untuk melihat dan mengkaji gratitude dalam segi budaya-budaya bersyukur yang tersebar dalam tiap kebudayaan Indonesia.
a. Saran Praktis
1. Kepada masyarakat Aceh agar bisa lebih menjaga budaya bersyukur demi melestarikan ajaran yang sudah turun temurun diajarkan dalam budaya dan Agama.
2. Kepada para Budayawan diharapkan untuk bersama merangkul masyarakat Aceh dalam hal melestarikan rasa syukur dengan berbagai macam cara termasuk melestarikan budaya bersyukur pada masyarakat Aceh.
3. Kepada Pemerintah Aceh bisa menjadikan penelitian ini sebagai masukan dalam hal memperhatikan kesejahteraan masyarakat Aceh, karena kesejahteraan psikologis erat hubungannya dengan gratitude.
DAFTAR PUSTAKA.
Alchaidar, M.U. (2006).Pemberontakan atau pahlawan ?. Dinas KebudayaanPemerintah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam
Aspinall, E. (2005). The Helsinki Agreement: A More Promising Basis for Peace in Aceh? Policy Studies 20, 91-102.
Bono, G., Emmons, R.A., dan McCullough, M.E. (2004). Gratitude in practice and the practice of gratitude, dalam Linley, A.P. dan Joseph, S.(editor), Positive Psychology in Practice (hal 464-477). New Jersey: John Willey dan Sons, Inc.
Bungin, B. (2005). Metodologi Penelitian Kuantitatif, Kencana Prenadamedia Group, Jakarta.
Emmons, R. A,. & McCullogh, M. E. 2003. Counting Blessings Versus Burdens:
An Experimental Investigation of Gratitude and Subjective Well-Being in Daily Life. Journal of Personality and Social Psychology . Vol. 84, No. 2, 377-389
Fitzgerald, P (1998). Gratitude and justice. Ethics, 109, 119-153.
Froh, J. J., Bono, G., & Emmons, R. A. (2010). Being grateful is beyond good manners: Gratitude and motivation to contribute to society among early adolescents. Motivation and Emotion, 34, 144-157.
http://aceh.bps.go.id/linkTableDinamis/view/id/120 http://acehprov.go.id/page/2/daftar-berkas.html
http://atjehpost.co/berita1/read/Tsunami-Tak-Membuat-Psikologis-Orang-Aceh- Terguncang-32768
http://indonesiana.tempo.co/read/39141/2015/04/02/wulungdianpertiwi/kenduri- laot-keluhuran-tradisi-nilai-islami-sampai-menjaga-lestari
http://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpnbaceh/2013/12/19/peusijuek-dalam- masyarakat-aceh/
http://komunikasi.trunojoyo.ac.id/wp-content/uploads/2016/03/Surokim-Tatag- MKP-UNAIR-34-44.pdf
http://www.idsejarah.net/2016/02/pemberontakan-ditii-di-berbagai-daerah.html
http://www.jkma-aceh.org/kenduri-blang-tradisi-yang-harus-diselamatkan/
http://www.radaraceh.com/2016/04/gapong-alue-ie-mirah-gelar-kenduri- blang.html
https://www.hrw.org/reports/pdfs/i/indonesa/indonesi916.pdf
Ibrahimy, M. (1982). Tgk.M. Daud Beureueh peranannya dalam pergolakan di Aceh. Jakarta
Indonesia: Continuing Human Rights Violations in Aceh. Human Rights Watch, 19 Juni 1991.
IOM. Penelitian Kebutuhan Psikososial Masyarakat yang Terkena Dampak Konflik di Kabupaten Pidie, Bireuen dan Aceh Utara.Universitas syiah kuala, Banda Aceh, 2006.
Listiyandini, R. A,. Dkk. 2009. Mengukur Rasa Syukur: Pengembangan Model Awal Skala Bersyukur Versi Indonesia. Fakultas Psikologi, Universitas Indonesia, Depok.
Pemerintah Aceh. (2009). Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) tahun 2005-2025. Banda Aceh:Pemerintah Aceh.
Peterson, C., & Seligman, M.E.P. (2004). Character Strength and Virtues: A Handbook & Classification. New York: Oxford University Press.
Prasetyo, S. A. (2009). Background and Political Situation in Aceh. In S. A. Olle Tornquist, & T. Birks (Ed.), The Role of Democracy fo Peace and Reconstruction. Jakarta: PCD Press Indonesia & ISAI
Schulze, K. E. (2004). The Free Aceh Movement (GAM): Anatomy of Separatist Organization. Washington: East-West Center.
Sulistyarini, I. R. (2010). Pelatihan kebersyukuran untuk meningkatkan proactive coping pada survivor bencana gunung merapi. Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta.
Susanto, D. “Komunikasi Ritual Kanuri Blangsebagai Bentuk KebersamaanMasyarakat Tani Kecamatan Samatiga Kabupaten Aceh Barat Provinsi Aceh”, Vol.12, No.2. Jurnal Komunikasi Pembangunan, Fakultas Ekologi Manusia IPB, Bogor, 2014.
Syahputra, A. W. (2012). Pengaruh peran penyuluh dan kearifan lokal terhadap adopsi inovasi padi sawah di kecamatan montasik kabupaten aceh besar.
Tesis. Pascasarjana Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.