LANDASAN TEORI
1. PENDAHULUAN
Kecelakaan keija sering teijadi pada pelaksanaan proyek konstruksi.
Pelaksanaan penggalian tanah termasuk salah satu pekeijaan yang sangat berbahaya dan seringkali teijadi kecelakaan keija. Kecelakaan keija yang menin:q)a pekeija pada pekeijaan penggalian tanah dapat menimbulkan luka akibat dari tertimpa beban/material/alat atau mengalami resiko kematian akibat teiperangkap di dalam galian. Dengan demikian program keselamatan keija bagi para pekeija galian tanah adalah sangat penting dan merupakan tanggung jawab para pelaku konstruksi. Untuk itu diperlukan snatu pemahaman mengenai pengetahuan pekeijaan penggalian tanah sehingga dapat dibuat suatu perencanaan yang baik sebelum galian dilaksanakan oleh kontraktor. Dengan perencanaan yang didasari oleh pengetahuan tentang pekeijaan penggalian tanah tersebut, maka pada saat tender kontraktor dapat mengantisipasi resiko bahaya kecelakaan, dengan demikian reputasi kontraktor tersebut dapat tetjaga.
Selain perencanaan yang cermat, pelaksanaan di lapangan sangat berpengaruh pada reputasi kontraktor sehingga dibutuhkan seorang manager proyek yang berkompeten.
Pemerintah Indonesia telah mengeluarkan Undang-Undang mengenai Keselamatan dan Kesehatan Keija (K3) secara umum imtuk melindimgi para pekeija dari bahaya-bahaya yang dapat menimpa pekeija. Tetapi dalam peraturan tersebut belum membahas secara khusus mengenai pekeijaan penggalian tanah, sedangkan di Amerika Serikat pelaksanaan penggalian tanah telah diatur secara khusus dalam peraturan OSHA di bagian Sub Part P. OSHA (Occupational Safety and Health Act), sebuah imdang-undang yang disahkan oleh Senat dan Dewan Perwakilan Rakyat Amerika pada tahun 1970. Sebenamya OSHA merupakan standar umum dan luas lingkupnya imtuk melindungi para pekeija terhadap bahaya yang mengancam kesehatan dan keselamatan para pekeija.
Definisi penggalian tanah menumt OSHA adalah segala sesuatu yang digali manusia, cekungan, parit atau selokan {trench), atau penumnan pada suatu permukaan tanah, yang disertai oleh pemindahan tanah.
Pelaksanaan penggalian tanah terbagi atas dua yaitu penggalian terbuka (open excavation) dan penggalian dengan sistim penopang {braced excavation). Pada penggalian terbuka, kedua sisi galian tidak digali secara vertikal dan tidak ditopang atau diberi penahan tetapi dibuat miring sesuai syarat kedalaman dan tipe tanah tersebut. Untuk penggalian dengan sistim penopang {braced), sisi galian bisa dilakukan secara vertikal sesuai dengan syarat dari OSHA hingga kedalaman 20 ft (6.1 m), sedangkan untuk kedalaman lebih dari 20 ft (6.1 m) hams dilakukan perhitungan lebih lanjut oleh seorang perencana.
Sebelum pelaksanaan penggalian tanah, hal-hal yang perlu diperhatikan oleh para kontraktor adalah sebagai berikut:
(1) Pemeriksaan awal dan klarifikasi tanah pada lokasi proyek.
(2) Instalasi peralatan di bawah tanah.
(3) Jalan masuk dan jalan keluar dari galian.
(4) Riambu peringatan untuk peralatan bergerak.
(5) Keadaaan udara yang berbahaya.
(6) Perlindungan terhadap bahaya air di dakm galian.
(7) Perlindungan bagi pekeija terhadap tanah atau batuan lepas.
(8) Perlmdungan bagi pekeija terhadap bahaya tegatuh.
(9) Inspeksi.
2.1. Pemeriksaan Awal dan Klarifikasi Tanah pada Lokasi Penggalian.
Sebelum melaksanakan penggalian tanah, kontraktor hams mengumpulkan data-data yang berkaitan dengan lokasi proyek. Data-data tersebut meliputi kon<fei tanah yang mempengaruhi bangunan di sekitar lokasi, misalnya data klasifikasi tanah dan perhitungan terhadap bangxman yang berdekatan sebelum penggalian tanah hams dilakukan, kemudian menq>erhitungkan semua data-data lainnya seperti keretakan
penggalian tersebut. Penggunaan penopang, perancah atau tiang pondasi mungkin diperlukan untuk menjaga stabilitas bangunan sekitamya dan melindungi para pekeqa di dalam galian. OSHA mengijinkan penggalian tanah di bawah pondasi bangunan hanya pada tanah batuan stabil, atau jika disetujui pengeijaannya oleh seorang perencana.
2.2. Instalasi Peralatan di bawah Tanah.
Lokasi dari peralatan bawah tanah, seperti kabel listrik, saluran pembuangan, kabel telepon, pipa minyak, pipa air, dan pipa gas, hams ditentukan terlebih dahulu sebelum penggalian dilaksanakan. Kontraktor dapat menghubungi pihak-pihak yang bersangkutan dan menanyakan lokasi dari peralatan bawah tanah tersebut, kemudian diberi tanda pada permukaan tanah di atasnya agar instalasi tersebut tidak terkena alat galian. Jika penggalian tanah harus dilaksanakan melewati instalasi bawah tanah tersebut, maka harus didiskusikan terlebih dahulu dengan pihak yang bersangkutan mengenai jalan keluar yang harus dilaksanakan. Bila instalasi tersebut perlu di pindahkan maka harus ditanyakan kepada pihak yang bersangkutan mengenai cara pemindahan instalasi tersebut.
Kerusakan pada instalasi bawah tanah sangat berbahaya pada saat pelaksanaan penggalian tanah karena dapat menyebabkan luka bahkan dapat menyebabkan kematian, misalnya pekeija dapat tersengat listrik bila kabel listrik tersebut terkena penggalian; ledakan dapat teijadi bila pipa gas terkena penggalian; atau dapat teijadi kelongsoran karena pipa air bocor terkena penggalian.
Walaupun instalasi bawah tanah tersebut tidak melewati daerah penggalian, tetapi jika berada di dekat galian, masih dapat terpengaruh oleh adanya galian tersebut terutama untuk instalasi pipa bawah tanah seperti yang ditunjukkan oleh Gambar 2.1 (OSHA, 1970). Biasanya pipa dapat pecah pada saat pelaksanaan galian berlangsung; atau beberapa bulan setelah penimbunan galian selesai dilaksanakan.
Karena sulitnya memprediksi kerusakan pipa yang dapat teijadi maka kontraktor harus melindungi instalasi tersebut dan sebaiknya pipa tersebut berada dalam zona C
(aman). Jika pipa berada dalam zona A, maka kontraktor hams menghubungi pihak yang bersangkutan dan meminta rekomendasi sebelum pelaksanaan penggalian.
2 (D + U2)
n + \J 2
Gambar 2.1. Daerah Resiko IMtuk Pipa Dekat Lubang Galian Tanah Keterangan:
Zona A = Resiko besar (berbahaya).
Zona B = Resiko sedang.
ZonaC = Tanpa resiko (aman).
D = Kedalaman g alian L = Lebar galian.
2.3. Jalan Masuk dan Jalan Keluar dari Galian.
OSHA mengharuskan para kontraktor imtuk menyediakan jalan masuk dan jalan keluar bagi para pekeqa untuk setiap pekeqaan penggalian tanah yang lebih dalam dari 4 ft (1.22 m). Jalan masuk dan keluar itu biasanya disebut ramp, dapat berupa permukaan miring untuk beijalan bagi para pekeija dari suatu titik ke titik yang lain dan terbuat dari tanah atau struktur material lainnya seperti kayu atau besi.
Sedangkan jalan keluar dan jalan masuk untuk kendaraan {structural ramp) terbuat dari kayu atau besi Selain ramp, kontraktor hams melengkapi jalan masuk dan jalan keluar tersebut dengan tangga dan alat keselamatan lainnya dan letaknya tidak boleh lebih dari 25 ft (7.62 m) dari para pekeija dan para pekeija juga hams menggunakan ronqji khusus dengan wama terang agar dapat terlihat oleh para pengemudi kendaraan.
kendaraan terlalu dekat dengan tepi galian, karena hal ini dapat teijadi bila kendaraan terperosok ke dalam galian dan akan menyebabkan dinding galian longsor. Untuk mencegah hal ini teijadi, OSHA mengharuskan kontraktor untuk memasang rambu- rambu peringatan, penghalang atau lanqiu signal untuk membatasi jarak kendaraan terhadap tepi galian. Selain itu, para pekeija tidak boleh berada di bawah peralatan penggalian atau peralatan pengangkutan, atau berada di dekat truk yang sedang diisi karena dapat menyebabkan pekeija tertimpa beban/material. Ten^at yang aman bagi para pekeija adalah berada di dalam kendaraan itu sendiri atau berada di luar jangkauan operasi alat tersebut.
2.5. Keadaan Udara yang Berbahaya.
Keadaan udara yang berbahaya ini dapat dikategorikan menjadi dua yaitu kekurangan oksigen dan udara yang terkontaminasi gas beracun. Kekurangan oksigen adalah kadar oksigen yang ada di dalam udara berada di bawah batas yang aman bagi manusia, sehingga sel-sel yang ada di dalam tubuh dan otak manusia kekurangan oksigen yang dapat menyebabkan manusia mengalanri luka-permanen atau menmggal bila dalam waktu 4 sanpai 6 menit kekurangan oksigen. Sedangkan udara yang terkontaminasi gas beracun dapat diserap oleh sel-sel dalam tubuh melahii pemapasan, penyerapan dari kulit, atau melalui proses patcem ^n makanan.
Efek yang timbul bila menghirup udara yang terkontaminasi adalah menyebabkan orang sakit, mengalanri iritasi, atau kematian. Karena adanya keadaan udara yang berbahaya bagi kesehatan para pekeija, maka perlu diadakan tes terhadap kadar oksigen dan gas yang ada dalam udara sebelum para pekeija imsuk ke dalam galian, sehingga alat deteksi gas beracun dan kadar oksigen harus disediakan pada saat pelaksanaan galian tanah terutama pada galian tanah yang cukup- dalam dari permukaan tanah.
2.6. Penggunaan Pompa Pada Galian Tergenang Air.
Apabila penggalian tanah harus dilakukan pada tanah yang banyak mengandung air, maka OSHA mensyaratkan agar penggalian itu tetap aman.
Penggunaan pompa air untuk mengeluarican air dari dalam galian dan sistem pelindung sangat dibutuhkan pada saat pelaksanaan penggalian tanah. Pelaksanaan penggalian ini harus diawasi oleh orang yang kompeten dan mempunyai wewenang untuk mengambil suatu keputusan yang tepat dalam menghadapi suatu masalah di lapangan, terlebih pada saat pembuangan air dari dalam galian atau setelah turun hujan lebat di lokasi proyek.
2.7. Perlmdungan bagi Pekeija terhadap Bahaya Longsor.
OSHA mengharuskan para pekeija dilindungi dari tanah lepas atau batuan lepas yang dapat menyebabkan pekeija teijatuh ke dalam galian. Untuk mencegah bahaya tersebut, penempatan material, timbunan dan alat berat sedikitnya harus beijarak 2 ft (0.61 m) dari tepi galian atau menggunakan alat perlindungan lainnya seperti pagar.
2.8. Perlindungan bagi Pekeija terhadap Bahaya Teijatuh ke dalam Galian.
Pagar pelindung harus disediakan untuk melindungi para pekeija dari bahaya teijatuh pada saat beijalan di sisi atau melewati galian. Semua lubang harus diberi pagar atau ditutup bila pekeijaan penggalian telah selesai.
2.9. Inspeksi.
Orang yang ditugaskan untuk melakukan pemeriksaan/pengawasan haruslah orang yang mempunyai keahlian yang sesuai dengan pekeijaan yang akan dilakukan (profesional). Pemeriksaan dilakukan setiap hari pada saat sebelum pekeijaan dilakukan meliputi pergantian pekeija, setelah turun hujan, atau setiap kemungkinan bahaya yang akan muncul. Selain pemeriksaan, juga diberikan penjelasan kepada para pekeija sebelum melaksanakan pekeijaannya. Orang tersebut juga harus mengawasi pada saat penggalian tanah dilakukan, daerah sekitar penggalian, dan peralatan pelindung lainnya.
3. KECELAKAAN KERJA PADA PEKERJAAN PENGGALIAN TANAH
Definisi kecelakaan keija menumt OSHA adalah; “ Segala sesuatu yang tidak direncanakan, tidak terkontrol, dan dalam suatu keadaan tertentu merupakan suatu hal yang tidak diinginkan, yang dapat menyebabkan gangguan pada tubuh normal dari seorang pekeija sehingga mengakibatkan suatu luka atau hampir luka.“
3.1. Penyebab Kecelakaan Kerja Pada Pekeijaan Penggalian Tanah
Kecelakaan keija yang teijadi pada pekeijaan galian tanah disebabkan oleh tiga faktor, yaitu;
1. Faktor manusia.
2. Faktor lingkungan.
3. Faktor alat yang digunakan.
3.1.1. Faktor Manusia
Pada faktor manusia ini, teijadinya kecelakaan keija dapat dibedakan pada dua tahap, yaitu tahap perencanaan dan tahap pelaksanaan.
Pada tahap perencanaan, kecelakaan keija dapat disebabkan antara lain:
- Kurangnya komunikasi antara perencana dan pelaksana mengenai situasi dan kondisi lapangan/proyek.
- Kurangnya pengetahuan perencana dan pelaksana mengenai pengaruh deformasi tanah.
- Kurangnya melakukan penelitian tanah pada lokasi proyek.
- Kesalahan pemilihan alat berat yang akan digunakan.
Sedangkan pada tahap pelaksanaan, kecelakaan keija dapat disebabkan antara lain:
- Kurangnya pengetahuan pelaksana mengenai metode keija yang tepat bagi pekeija dalam melaksanakan pekeijaannya.
- Kurangnya ketrampilan para pekeija dalam melaksanakan pekeijaannya, misahya pemasangan tiang penyokong pada sisi galian tanah yang tidak
sesuai dengan syarat yang ditentukan, atau cara pengoperasian alat berat yang digunakan; dan kurangnya pengetahuan pekeija tentang gas beracun.
- Kurangnya pengawasan terhadap para pekeija dan alat yang digunakan.
- Usia dan pengalaman keija dari para pekeija.
- Adanya persoalan pribadi pekeija.
Untuk itu, kontraktor hams memiliki seorang pengawas yang berkompeten di lapangan yang mempunyai kecakapan sesuai dengan pekeijaan yang akan ditangani dan mampu mengidentifikasi masalah-masalah yang ada, serta dapat memperkirakan hambatan-hambatan yang dapat teijadi pada proyek. Selain itu pengawas lapangan tersebut juga memiliki suatu wewenang untuk mengambil keputusan yang tepat dalam mengatasi masalah yang ada.
3.1.2. Faktor Lingkungan
Faktor lingkungan yang dapat menyebabkan kecelakaan keija antara lain:
- Perubahan cuaca, misalnya hujan deras yang dapat menyebabkan teijadinya kelongsoran pada galian.
- Pasang surut air laut yang dapat mempengaruhi naiknya permukaan air tanah.
Adanya kandungan gas beracun di dalam tanah.
- Teijadinya gempa bumi.
- Temperatur udara yang sangat panas yang dapat menyebabkan para pekeija mengalami dehidrasi dan kelelahan.
- Suara bising yang berlebihan sehingga mengganggu pendengaran dan konsentrasi para pekeija.
- Kemiringan {slope) sisi galian yang dibuat tidak sesuai dengan syarat-syarat yang ada sehingga dapat menyebabkan kelongsoran.
3.1.3. Faktor Alat Yang Digunakan
Faktor alat yang dapat menyebabkan teijadinya kecelakaan keija antara lain:
- Penempatan alat berat di tepi suatu galian yang dapat menyebabkan teijadinya kelongsoran.
- Kerusakan mesin pada alat berat y«ig sedang dioperasikan, misalnya lengan pada hackhoe excavator mengalami kerusakan pada saat melakukan pengangkutan material sehingga membahayakan pekeija yang ada di sekitamya.
3.2. Jenis-Jenis Kecelakaan Keija Pada Pekeijaan Penggalian Tanah Jenis-jenis kecelakaan keija pada pekeijaan penggalian tanah adalah:
1. Terperangkap di dalam Galian
Kejadian dimana lekatan partikel-partikel dalam tanah terpisah temtama pada sisi tepi galian yang menyebabkan teijadinya suatu longsoran tanah sehingga pekeija dapat terperangkap di dalam lubang galian atau tertimbun oleh longsoran tanah tersebut (Hinze, 1997).
2. Tertimpa Beban
Kejadian dimana pekeija terlalu dekat dengan peralatan penggalian tanah sehingga menyebabkan bahaya tertimpa material tanah dan batuan atau peralatan yang digunakan pada pelaksanaan penggalian tanah (Hinze, 1997).
3. Jatuh
Kejadian dimana pekeija teijatuh dari kondisi semula, yang dapat dibedakan menjadi jatuh dari ketinggian yang berbeda (dari tempat yang lebih tinggi ke tempat yang lebih rendah) misalnya terperosok dalam suatu galian, dan jatuh dari ketinggian yang sama misalnya tergelincir atau jatuh tersandung (Anton, 1989).
4. Kekurangan Oksigen
Kejadian dimana kadar oksigen yang ada di dalam udara berada di bawah suatu tingkat yang diperhitungkan aman bagi keselamatan manusia (Suprenant &
Basham, 1993).
5. Menghirup Kandungan Gas Beracun di dalam Tanah
Kejadian dimana para pekeija menghiiup udara yang mengandung gas beracun yang berasal dari tanah tersebut sehingga membahayakan kesehatan para pekeija bahkan dapat menyebabkan kematian bagi pekeija yang menghirup gas tersebut (Suprenant & Basham, 1993).
3.3. Sumber Bahaya Pada Pelaksanaan Penggalian Tanah
Pada pelaksanaan penggalian tanah, perhatian terhadap keselamatan keija tidak hanya terfokus pada jenis kecelakaan keqa yang teijadi. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah sumber bahaya yang beresiko menimbulkan luka/cedera.
Sumber-sumber bahaya yang dapat menyebabkan luka/cedera (Hinze, 1997);
- Tangga (ladders) yang digunakan untuk keluar-masuk galian terlepas dari tempatnya.
- Perkakas keija tangan yang digunakan para pekeija, misalnya sekop, cangkul, dll.
- Instalasi peralatan bawah tanah yang ada di sekitar galian, misalnya pipa gas, pipa air, atau kabel listrik.
- Alat berat yang digunakan dalam pelaksanaan penggalian tanah.
4. PROGRAM KESELAMATAN KERJA PADA PEKERJAAN PENGGALIAN TANAH
Keselamatan keija berdasarkan OSHA adalah: “Suatu kondisi keija yang terbebas dari ancaman bahaya yeing mengganggu proses aktivitas dan mengakibatkan teijadinya cedera, penyakit, kerusakan harta benda, serta gangguan lingkungan.“
Program keselamatan keija untuk pelaksanaan penggalian tanah berdasarkan standar dari Amerika yang dikeluarkan oleh OSHA yaitu Construction Standards For Excavation (29 CFR Part 1926.650 - .652, Subpart P) pada tanggal 05-03-1990.
Standar ini menyatakan dengan jelas dan menyertakan tindakan pencegahan yang hams dilakukan pada semua daerah penggalian untuk keselamatan semua pekeija yang berada di dalamnya atau yang berada di dekat lokasi penggalian tanah. Untuk
menjamin keselamatan kega bagi para pekeija pada pelaksanaan pekeijaan penggalian tanah, perlu diperhatikan:
(1) Cara penenq)atan para pekeija.
(2) Pemilihan sistem kemiringan talud (sloping), dan pemilihan sistem pelindung {shoring atau shielding).
(3) Kemungkinan adanya gas beracun.
(4) Cara penempatan rambu-rambu peringatan di sekitar lokasi yang berbahaya.
4.1. Cara Penenpatan Para Pekeija
Cara penen^atan para pekeija yang benar dapat mengurangi resiko kecelakaan yang teijadi seperti tertimbun atau terperangkap di dalam galian dan tertinq)a beban.
Ada beberapa cara yang perlu dilakukan seperti;
- Menghindari penempatan pekeija di dalam galian dengan memakai sistem konputerisasi dan remote control untuk menjalankan alat galian sehingga dapat menghindari bahaya keruntuhan yang dapat mengakibatkan para pekeija tertimbun. Dalam sebuah Journal O f Construction Engineering And Management pada bulan Maret 1996 dan September 1997 dijelaskan mengenai pengoperasian backhoe excavator melalui konq)uter dengan bantuan sistem laser yang dilengkapi dengan alat elektronik penghitxmg sudut lengan excavator dan detektor metal yang ada pada lengan excavator, sehingga penggalian dapat dilaksanakan secara aman tanpa merusak instalasi bawah tanah yang ada dan menghindari penempatan pekeija di dalam galian.
- Memberikan penjelasan kepada para pekeija mengenai lokasi-lokasi yang rawan kecelakaan, misalnya pekeija tidak boleh berada di dekat excavator yang sedang dioperasikan, atau berada di dalam galian pada saat hujan deras.
4.2.Pemilihan Sistem Kemiringan Talud {Sloping) dan Pemilihan Sistem Pelindung, {Shoring atau Shielding)
Penggalian tanah yang kedalamannya kurang dari 5 ft (1.5 m) tidak hams menggunakan sistem pelindung kecuali jika terdapat tanda-tanda bahaya yang dapat menyebabkan kelongsoran. Untuk kedalaman hingga 20 ft (6.1 m) dapat dipakai
sistem pelindung yang sesuai dengan standar dari OSHA. Sedangkan untuk penggalian tanah yang kedalamannya lebih dari 20 ft (6.1 m) diperlukan suatu perhitungan yang cermat dan sistem alat pelindung yang direncanakan oleh seorang perencana. Untuk itu, pengawas lapangan yang berkompeten tidak diperbolehkan memilih kemiringan galian dari standar OSHA untuk digunakan dalam pelaksanaan penggalian tanah walaupun kedalaman galian tersebut 20 Vi ft (6.25 m).
Pemilihan sistem pelindung yang diperlukan dalam pelaksanaan penggalian hingga kedalaman 20 ft dapat ditentukan melalui diagram alir seperti terlihat dalam Gambar 2.2.
Gambar 2.2. Diagram Alir Pemilihan Sistem Pelindmig.
4.2.1. Metode Kemiringan {Sloping)
Kemiringan atau kecondongan dari kedua sisi galian perlu diperhatikan agar tidak teijadi kelongsoran yang dapat mengakibatkan pekeija tertimbun.
Kemiringan dari galian dipengaruhi oleh jenis tanahnya. Klasifikasi tanah menurut OSHA ada tiga tipe, yaitu tipe A, tipe B, dan tipe C, yaitu:
1. TipeA
Tanah kohesif dengan kekuatan tekan 1.5 ton/ft^ (1.57 kg/cm^). Contoh dari tanah kohesif adalah tanah liat, lanau, tanah liat berpasir, tanah lempung, tanah lempung berpasir, tanah lempung berlanau.
2. Tipe B
- Tanah kohesif dengan kekuatan tekan 0.5 ton/ft^ (0.5 kg/cm^) - 1.5 ton/ft^
(1.67 kg/cm^); atau
- Tanah padat berbutir tanpa kohesi, contohnya kerikil, lempung berlanau, lempung berpasir, dan dalam beberapa kasus, tanah liat lempung berlanau dan liat lempung berpasir.
3. Tipe C
- Tanah kohesif dengan kekuatan tekan kurang dari 0.5 ton/ft^ (0.52 kg/cm^); atau
- Tanah berbutir termasuk pasir, kerikil dan pasir berlempung.
Jika tidak ada pekeija yang berada di dalam galian, maka sisi galian tidak perlu diberi suatu kemiringan tertentu. Jika pekeija berada di dalam daerah penggalian dan kontraktor memilih suatu kemiringan tertentu sebagai suatu sistem perlindungan, maka diperlukan kemiringan galian yang tepat dan aman. OSHA merekomendasikan kemiringan untuk tiap tipe tanah seperti yang ditunjukkan dalam Gambar 2.3 mengenai suatu perbandingan antara jarak horisontal dan ketinggiannya (H;V). Untuk tanah tipe A kemiringannya adalah V4H : IV (54°);
untuk tanah tipe B kemiringannya adalah IH : IV (45°); dan untuk tanah tipe C
Gambar 2.3. Kemirmgan dari berbagai macam
• Kemiringan penggalian tanah yang dibuat pada tanah tipe A
1. Semua penggalian sederhana dengan kedalaman kurang dari 20 ft (6 m) diijinkan mempimyaikemiringan %: I.
6 m
Gambar 2.4. Gambar galian sederhana dengan perbandingan kemiringan % : 1.
Perkecualian: untuk penggalian secara sederhana yang terbuka selama 24 jam (jangka waktu pendek) dan kedalamannya kxirang dari 12 ft (3.6 m) diijinkan mempunyaikemiringan 14 : I.
Gambar 2.5. Gambar galian sederhana dengan perbandingan kemiringan 14 : 1.
2. Semua penggalian berbentuk tangga yang mempimyai kedalaman kurang dari 20 ft (6 m) diijinkan men^unyai kemiringan % : 1 dan dimensi maksimiitn dari tangga seperti berikut:
Gambar 2.6. Gambar galian dengan bentuk anak tangga di dasar galian, perbandingan kemiringan
% : 1.
6 m
1500
1.5 m
yxx>^
1.2 1)1
>ow
3/4
IXXXXXX
xxxxxxx
Gambar 2.7. Gambar galian berbentuk tangga dengan perbandingan kemiiingan % : 1.
3. Semua penggalian dengan kedalaman kurang dari 8 ft (2.4 m) dimana tidak mempunyai penyokong untuk sisi vertikal pada bagian bawahnya, diijinkan mempunyai kedalaman vertikal 3 V2 ft (1.05 m).
2.4 m
Gambar 2.8. Gambar galian dengan kemiringan % : 1 yang kedua sisi bagian dasamya vertikal.
Semua penggalian dengan kedalaman antara 8 ft (2.4 m) sampai 12 ft (3.6 m) dimana sisi vertikalnya tidak disokong pada bagian bawahnya diijinkan mempimyai kemiringan 1 : 1 dan maksimum kedalaman sisi vertikal 3 V2 ft (1.05 m).
3.6 m
Gambar 2.9. Gambar galian dengan kemiringan 1 : 1 yang kedua sisi bagian dasamya vertikal.
Semua penggalian dengan kedalaman kurang dari 20 ft (6 m) dimana men5)unyai sisi vertikal pada bagian bawahnya yang diberi penyokong atau peliadimg diijinkan mempunyai kemiringan % : 1. Sistem penyokong hams diperpanjang kurang lebih 18 inch (0.5 m) dari tepi atas sisi vertikal.
Gambax 2.10. Gambar galian dengan kemiringan % : 1 yang bagian dasamya diberi pelindung.
4. Semua kemiringan sederhana, kemiringan gabungan, dan sisi vertikal pada bagian bawah penggalian harus disesuaikan dengan syarat-syarat yang diijiokan dalam Pasal 1926.652(b).
Kemiringan penggalian tanah yang dibuat untuk tipe B
1. Semua penggalian sederhana dengan kedalaman kurang dari 20 ft (6 m) diijinkan mempunyai kemiringan 1: 1.
Gambar 2.11. Crambar galian sedediana dengan kemiringan 1 : 1.
2. Semua penggalian berbentuk tangga pada bagian bawahnya diijinkan menpunyai kemiringan 1 : 1 dan maksimum dimensi tangga sebagai berikut:
kemiiingan 1: 1.
6 m
1.2 m
1.2
Gambar 2.13. Gambar galian beibentuk tangga dengan kemiiingan 1: 1 .
3. Semua penggalian dengan kedalaman kurang dari 20 ft dimana pada bagian bawah mempunyai sisi vertikal hams disokong kurang lebih 18 inch (0.5 m) di tepi atas dari sisi vertikaL Semua penggalian diijinkan mempunyai kemiringan 1 :
1.
6 m
Gambar 2.14. Gambar galian dengan k em iringan 1:1 yang kedua sisi bagian dasamya dibeh peliadung.
4. Semua penggalian lainnya disesuaikan d^gan syarat-syarat yang diijinkan dalam pasal 1926.652(b).
• Kemiringan penggalian tanah untuk tanah tipe C
1. Semua penggalian sederhana dengan kedalaman kurang dari 20 ft (6 m) diijiokan mempunyai kemiringan 1 54 : 1.
Gambar 2.15. Gambar galian sederhana dengan kemiringan I 'A: I.
2. Semua penggalian dengan kedalaman kurang dari 20 ft (6 m) dimana mempunyai sisi vertikal pada bagian bawahnya hams disokong dengan kurang lebih 18 inch (0.5 m) di tepi atas dari sisi vertikal. Semua penggalian diijinkan mempimyai kemiringan 1 Vzil.
6 m
Gambar 2.16. Gambar galian dengan kemiringan 1 V2: 1 yang bagian dasamya dibeii pelindung.
3. Semua penggalian lainnya disesuaikan dengan syarat-syarat yang diijinkan dalam pasal 1926.652(b).
• Kemiringan penggalian yang dibuat imtuk tanah berlapis
1. Semua penggalian tanah dengan kedalaman < 20 ft (6 m) yang terdiri dari tanah yang berlapis hams memenuhi ketentuan sebagai berikut:
Gambar 2.17. Gambar galian ta n a h berlapis (tanah. tipe B diatas ta n a h tipe A ).
Gambar 2.18. Gambar galian tanali berlapis (tanah tipe C diatas tanah tipe A).
Gambar 2.19. Ganjbar galian tanah berlj^is (tanah tipe C diatas tanah tipe B).
Gambar 2.21. Gambar galian tanah. berlapis (tanah tipe A diatas tanah tipe C).
Gambar 2.22. Gambar galian tanah berlapis (tanah tipe B diatas tanah tipe C).
2. Semua kemiringan penggalian yang lainnya hams disesu^kan dengan ketentuan dalampasal 1926.652(b).
4.2.2. Metode Penopang {Shoring)
Shoring atau penopang digunakan untuk melindungi pekeija di dalam galian yang sempit (lebar dasar galian maksimum 4.5 m) dengan sisi galian yang dibuat secara vertikal. Untuk menentukan pemilihan shoring, OSHA telah menyediakan tabel dan desain (Lampiran 4) untuk penopang aluminium hidraulis (Gambar 2.23) dan penopang kayu (Gambar 2.24) sampai dengan kedalaman 20 ft (6 m).
Sebelum menggunakan tabel shoring tersebut, kontraktor harus mengetahui batasan-batasan yang ada dalam tabel pada pemilihan penopang.
Upright
Vertical spacing (c-c) of wales and crossbraces ?
Horizontal spacing i of crossbraces^
Gambar 2.23. Detail Penopang Aluminium Hidraulis Gambar 2.24. Detail Penopang Kayu
4.2.3. Metode Perisai {Shielding)
Perisai galian adalah suatu kotak besi atau aluminium yang ditempatkan di dalam galian untuk melindungi pekeija (Gambar 2.25). Perisai ini dapat dipindahkan sesuai dengan galian yang akan dikeijakan sehingga pekeija di dalam galian dapat terlindungi dari bahaya kelongsoran galian. Penggunaan perisai ini tidak mencegah teijadinya kelongsoran seperti halnya sloping dan shoring, tetapi melindungi pekeija dari bahaya kelongsoran tersebut.
4.3.Kemungkinan Adanya Gas Beracun
Pekeija yang akan melaksanakan penggalian tanah dengan kedalaman lebih dari 4 ft (1.22 m), perlu diperhatikan adanya kemungkinan bahaya gas beracun. Gas-gas beracun yang secara umum dapat membahayakan para pekeija adalah karbon dioksida (CO2), karbon monoksida (CO), hidrogen sulfida (HiS), dan gas metan
(C H4). Untuk itu diperlukan detektor persentase gas beracun yang ada di dalam
udara, yaitu sniffers. Alat ini juga dilengkapi dengan suatu alarm yang akan berbunyi jika kondisi udara mengandung gas beracun yang telah melebihi batas normal.
Tindakan yang sering dilakukan oleh kontraktor jika terdapat gas beracun pada daerah penggalian adalah memindahkan para pekeija dari area penggalian tersebut untuk beberapa jam, atau beberapa hari jika diperlukan untuk memungkinkan adanya suatu sirkulasi udara di daerah tersebut. Namun, kontraktor tidak hams menghentikan suatu pekeijaan penggalian tanah walaupun terdapat bahaya gas beracun tetapi dapat dilakukan pengawasan dan penggunaan perlindungan pemapasan terhadap pekeija yang meneruskan pekeijaannya di area penggalian tersebut.
Metode yang digunakan untuk meningkatkan kadar oksigen atau menghilangkan gas beracun adalah:
1. Menyediakan pergantian udara segar.
2. Menggunakan alat penyedot udara ketika udara mengandung gas beracun mulai meningkat-
3. Mengisolasi para pekeija dari daerah yang terkontaminasi gas beracun.
4. Menggunakan alat perlindungan pemapasan jika teijadi kekurangan oksigen atau adanya gas beracun.
Lokasi dari peralatan (truk, alat penggalian, kompresor, dll) yang menggunakan bahan bakar yang mengandung karbon sangat penting karena peralatan-peralatan tersebut dapat meningkatkan kadar karbon monoksida (CO) dalam udara dan sedapat mungkin diusahakan agar asap dari peralatan tersebut searah dengan arah angin sehingga teijadi pergantian udara.
4.4. Cara Penempatan Rambu-Rambu Peringatan di Sekitar Lokasi yang Berbahaya Penempatan rambu-rambu peringatan hams dapat menarik perhatian dan dilihat dengan jelas oleh semua orang yang berada di sekitar lokasi pekeijaan penggalian.
Ciri-ciri rambu yang digunakan tersebut adalah:
1. Berwama mencolok, misalnya kuning, merah, oranye dan hitam.
2. Berukuran cukup besar.
3. Bercahaya di malam hari dengan pemakaian lampu peringatan.
Rambu-rambu peringatan tersebut harus dipasang pada jarak tertentu dari lokasi yang berbahaya, yaitu:
- Beijarak 2 ft (0.61 m) dari tepi suatu galian untuk menghindari teqadinya kelongsoran.
- Beijarak sama dengan kedalaman yang digali karena semua yang ada di sekitar tepi galian yang beqarak horisontal sama dengan kedalaman yang digali akan terpengamh stabilitasnya.
5. PERBANDEVGAN OSHA DAN PROGRAM K3
Program K3 pada Bab IX dan X, berisi mengenai ketentuan-ketentuan umum dalam pelaksanaan penggalian tanah (Lampiran 5). Akan tetapi ketentuan-ketentuan tersebut tidak dijelaskan secara detail seperti yang dijelasakan di dalam peraturan OSHA.
PROGRAM K3 OSHA
Ketentuan-ketentuan sebelum
melaksanakan penggalian tanah secara umum.
Ketentuan-ketentuan sebelum
melaksanakan penggalian tanah lebih lengkap dengan penjelasan dan standar ukuran.
Ketentuan umum mengenai penyangga
galian
Standar untuk pemilihan sistem kemiringan tanah (sloping), sistem penyangga (shoring), dan sistem shielding.
Ketentuan umum mengenai penempatan alat berat, dan penggunaan rambu di sekitar galian.
Standar ukuran untuk penempatan alat berat, timbiman, dan rambu di sekitar galian.
Tidak ada metode untuk mengatasi keadaan udara yang membahayakan pekerja di dalam galian.
Metode untuk mengatasi keadaan udara yang membahayakan pekeija di dalam galian.