BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Kajian Teori 1. Media pembelajaran a. Pengertian Media Pembelajaran Kata media pembelajaran berasal dari bahasa latin medium

Teks penuh

(1)

9 BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Kajian Teori

1. Media pembelajaran

a. Pengertian Media Pembelajaran

Kata media pembelajaran berasal dari bahasa latin ”medium” yang secara harfiah berarti ”perantara” atau ”pengantar”, perantara atau pengantar. Dalam bahasa Arab, media perantara atau pengantar pesan dari pengirim kepada penerima pesan. Media adalah perantara atau pengantar pesan dari pengirim ke penerima pesan. Menurut Musfiqon (2012) menyatakan bahwa media pembelajaran adalah alat-alat yang digunakan oleh pendidik dalam menyampaikan bahan pembelajaran. Alat bantu ini lebih sering disebut alat peraga, karena berfungsi membantu dan memperagakan sesuatu dalam proses pembelajaran.

Menurut Nurseto (2011:34) media pembelajaran adalah wahana penyalur pesan dan informasi belajar. Media pembelajaran yang dirancang secara baik akan sangat membantu peserta didik untuk mencapai tujuan pembelajaran. Sementara itu, menurut Gagne dan Briggs (dalam Arsyad, 2013:4) mengatakan bahwa media pembelajaran meliputi alat yang secara fisik digunakan untuk menyampaikan isi materi pengajaran, yang terdiri antara lain buku, tape recorder, kaset, video camera, video recorder, film, slide, foto, gambar, grafis, televisi, dan komputer. Dengan kata lain media adalah komponen sumber belajar atau wahana fisik yang mengandung materi instruksional di lingkungan siswa yang dapat merangsang siswa untuk belajar.

Berdasarkan paparan pemikiran ahli dapat dikemukakan bahwa

pengertian media pembelajaran merupakan komponen sumber belajar

atau perantara fisik yang dapat menyampaikan pesan dan informasi

materi pembelajaran kepada siswa sehingga mendorong tercapainya

tujuan pembelajaran.

(2)

10 b. Jenis-jenis Media Pembelajaran

Menurut Haryono (2014:15) berdasarkan rancangannya media pembelajaran yang dapat dimanfaatkan mempunyai dua jenis yaitu media yang sederhana (dapat secara langsung seperti benda-benda yang ada di lingkungannya), dan media yang kompleks atau canggih.

Sedangkan dari bentuknya media dibedakan menjadi empat jenis yaitu media dua dimensi, media tiga dimensi, media pandang diam, dan media pandang bergerak.

Media pembelajaran berfungsi diantaranya adalah untuk menarik minat siswa terhadap materi pembelajaran yang disajikan. Pada kenyataannya, media pembelajaran sering terabaikan dengan berbagai alasan. Hal ini sebenarnya tidak perlu terjadi jika setiap fasilitator telah mempunyai pengetahuan dan keterampilan mengenal media pembelajaran. Menurut Arsyad (2009), terdapat beberapa jenis media pembelajaran yang sering digunakan salah satunya yaitu Media pembelajaran audio visual. Media yang dapat menampilkan gambar dan suara dalam waktu yang bersamaan, seperti film, Compact Disc (CD), TV, video, dan sebagainya. Jadi yang dimaksud dengan media audio visual yaitu penggabungan antara unsur suara dan gambar yang dapat dilihat.

Jadi berdasarkan paparan pemikiran ahli di atas dapat dikemukakan bahwa jenis-jenis media banyak macamnya sesuai dengan kebutuhan, penulis berpendapat bahwa multimedia interaktif sikair benaker “siklus air bencana kekeringan” termasuk jenis media pembelajaran audio visual. Jenis media ini mempunyai kedua jenis media auditif (mendengarkan) dan visual (melihat).

c. Cara pemilihan media pembelajaran

Media pembelajaran yang digunakan dalam proses pembelajaran adalah perantara dari pengirim kepada penerima pesan, oleh karena itu media yang digunakan harus baik sesuai dengan kriteria yang ada.

Menurut Arsyad (2013:74) ada enam kriteria pemilihan media bersumber

dari konsep bahwa media merupakan bagian dari system instruksional

(3)

secara keseluruhan, untuk itu ada beberapa kriteria pemilihan media yaitu:

1) Sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai dari tiga ranah yaitu kognitif, afektif, dan psychomotor. Tujuan ini dapat digambarkan dalam bentuk media yang akan digunakan dan dipertunjukkan kepada siswa. Siswa akan dapat mengalami kontak langsung baik secara fisik maupun hanya melihat secara visual dengan media.

2) Mendukung isi pelajaran yang sifatnya fakta, konsep, atau generalisasi, media harus selaras dengan kebutuhan tugas dan kemampuan mental siswa, agar dapat membantu dalam proses pembelajaran secara efektif.

3) Praktis, luwes, dan bertahan serta mudah diperoleh. Media yang ada merupakan media yang mudah diperoleh, mudah digunakan, dan ekonomis. Oleh karena itu, media yang dikembangkan hendaknya media yang dapat digunakan dimana pun dan kapan pun dengan peralatan yang ada di sekitar, serta mudah dibawa dan dipindahkan kemana-mana.

4) Guru terampil dalam menggunakannya, sebagai upaya mempertinggi mutu dan hasil belajar.

5) Pengelompokan sasaran, kelompok kecil dan perorangan. Media yang digunakan untuk kelompok besar belum tentu sama efektifnya dengan media yang digunakan untuk kelompok kecil atau perorangan. Oleh karena itu dibutuhkan pengelompokan sasaran penggunaan media.

6) Mutu teknis, pengembangan media visual baik gambar maupun fotografer harus memenuhi persyaratan teknis tertentu, misalnya media slide harus jelas. Informasi atau pesan yang ditonjolkan dan ingin disampaikan tidak boleh tersaingi oleh elemen ini yang berupa latar belakang.

Sedangkan yang dijelaskan oleh Sutikno dalam Haryono (2014:66)

penguasaan ilmu pendidikan diantaranya adalah kemampuan atau

penguasaan media pembelajaran. Nana Sudjana dalam Haryono

(4)

(2014:67) mengemukakan bahwa dalam pemilihan dan penggunaan media pembelajaran hendaknya memperhatikan prinsip-prinsip sebagai berikut:

1) Menentukan jenis media dengan tepat

2) Menetapkan atau mempertimbangkan subjek dengan tepat 3) Menyajikan media dengan tepat

4) Menempatkan atau memperlihatkan media pada waktu, tempat, dan situasi yang tepat.

Pemilihan media itu jadi penting karena terkait dengan cara menentukan media pembelajaran yang tepat digunakan oleh siswa.

Pemilihan media tersebut harus di sesuaikan berdasarkan karakteristik kebutuhan siswa, dan juga media ini dapat membantu guru sebagai perantara dalam menyampaikan isi materi atau informasi yang abstrak menuju ke konkrit sehingga siswa dapat memahami materi pembelajaran.

2. Multimedia interaktif sikair benaker “siklus air bencana kekeringan”

a. Pengembangan multimedia intraktif sikair benaker

Multimedia interaktif sikair benaker merupakan pengembangan dari media gambar. Pengembangan ini berdasarkan analisis kebutuhan sesuai dengan kondisi lapangan. Multimedia interaktif sikair benaker merupakan media yang digunakan pada tema 8 lingkungan sahabat kita subtema 2 perubahan lingkungan pembelajaran 2 kelas V sekolah dasar mata pelajaran diantaranya Bahasa Indonesia, IPA, dan IPS.

Multimedia interaktif sikair benaker merupakan jenis multimedia interaktif berupa video animasi audio visual yang berbentuk software.

Menurut Munir (2012:2) multimedia merupakan perpaduan antara

berbagai media yang berupa teks, gambar, grafik, sound, animasi, video,

interaksi, dan lain-lain yang telah dikemas menjadi file digital atau

komputerisasi serta digunakan untuk menyampaikan pesan kepada

publik. Dalam penggunaan multimedia interaktif sikair benaker

digunakan secara klasikal dengan ditampilkan melalui layar proyektor,

namun media ini juga bisa digunakan secara individu apabila setiap

(5)

individu dibekali dengan laptop. Selain itu multimedia interaktif sikair benaker ini juga dilengkapi dengan buku pendamping untuk penggunaan media.

Tampilan multimedia interaktif sikair benaker ini berupa media multimedia interaktif yang di kemas berbentuk CD berisikan video animasi materi pembelajaran, game berkelompok, soal-soal evaluasi dari materi pembelajaran tema 8 subtema 2 pembelajaran 2. Sedangkan buku pendamping digunakan sebagai lembar kerja dalam berkelompok.

b. Karakteristik multimedia intraktif sikair benaker

Setiap media pembelajaran pasti memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Adapun karakteristik multimedia interaktif sikair benaker:

(1) media berupa multimedia interaktif di kemas berbentuk CD, (2) di dalam terdapat muatan materi pembelajaran Bahasa Indonesia, IPA, dan IPS, (3) efektif dan efisien, (4) dapat digunakan dalam pembelajaran secara klasikal dan individual.

3. Fungsi multimedia interaktif sikair benaker “siklus air bencana kekeringan”

Multimedia interaktif sikair benaker berfungsi sebagai perantara guru dan siswa sehingga memudahkan proses belajar mengajar. Hal tersebut sejalan dengan pemikiran Sadiman, dkk (2014:7) media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan minat serta perhatian peserta didik sedemikian rupa sehingga proses belajar terjadi.

Multimedia interaktif sikair benaker memiliki berbagai fungsi untuk

membantu proses pembelajaran yaitu: (1) memudahkan guru untuk menarik

perhatian siswa dalam penyampaian materi pembelajaran, (2) proses

pembelajaran yang masih bersifat abstrak berupa gambar siklus air dan

gambar dampak siklus air diubah ke dalam sifat yang lebih konkret video

animasi siklus air sampai terjadinya peristiwa dampak yang ditimbulkan oleh

siklus air dengan desain yang menarik, (3) pembelajaran akan terasa

menyenangkan dengan adanya permainan-permainan edukasi, (4) siswa akan

lebih terlibat aktif dalam pembelajaran. Hal ini sependapat dengan Sudjana

(6)

dan Rivai (2011) yaitu (1) pembelajaran akan lebih menarik perhatian siswa sehingga dapat menumbuhkan aktivitas belajar, (2) bahan pembelajaran akan lebih jelas maknanya sehingga dapat lebih dipahami oleh siswa, dan memungkinkan siswa menguasai materi pembelajaran dengan lebih naik, (3) metode pembelajaran akan lebih bervariasi, tidak semata – mata komunikasi verbal melalui penuturan kata – kata oleh guru, (4) siswa lebih banyak melakukan kegiatan belajar.

4. Manfaat multimedia interaktif sikair benaker “siklus air bencana kekeringan”

Multimedia interaktif sikair benaker memberikan beberapa manfaat bagi guru dan siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran. Manfaat multimedia interaktif sikair benaker untuk menarik perhatian siswa agar guru dapat menyampaikan informasi materi yang mudah dipahami oleh siswa sehingga pembelajaran lebih bervariasi, efektif dan efisien. Hal ini sependapat dengan Arsyad (2006:2) Manfaat penggunaan media dalam proses pembelajaran antara lain: (1) pembelajaran akan lebih menarik perhatian siswa, (2) bahan ajar akan menjadi lebih jelas maknanya sehingga dapat dipahami siswa, (3) metode mengajar menjadi lebih bervariasi sehingga siswa tidak bosan, (4) siswa lebih banyak melakukan kegiatan belajar seperti mengamati, mendemonstrasikan tidak hanya mendengar guru. Hal yang menarik pada multimedia interaktif sikair benaker yaitu siswa bisa melihat peristiwa siklus air bencana kekeringan yang terlihat nyata dalam bentuk video animasi.

Multimedia interaktif sikair benaker memiliki dua manfaat bagi guru dan bagi siswa yaitu:

a. Manfaat multimedia interaktif sikair benaker bagi guru 1) Membantu menarik perhatian siswa

2) Membantu efisiensi dan guru mudah menyampaikan materi yang abstrak menjadi lebih konkrit.

3) Media yang digunakan jadi bervariasi

4) Menciptakan suasana pembelajaran yang lebih aktif, kreatif dan

menyenangkan

(7)

b. Manfaat multimedia interaktif sikair benaker bagi siswa 1) Melibatkan respon siswa dalam penggunaan media 2) Menstimulus rasa ingin tahu untuk belajar

3) Memotivasi siswa untuk belajar

4) Memudahkan siswa memahami materi pembelajaran yang disajikan secara sistematis

5. Penggunaan multimedia interaktif sikair benaker “siklus air bencana kekeringan”

Dalam penggunaan media pembelajaran terdapat tujuan penggunaan media yaitu mempermudah guru dalam menyampaikan sebuah informasi materi pembelajaran supaya materi mudah dipahami dan di terima oleh siswa.

hal ini sependapat dengan Achsin (1986:17-18) menyatakan bahwa tujuan penggunaan media pengajaran adalah (1) agar proses belajar mengajar yang sedang berlangsung dapat berjalan dengan tepat guna dan berdaya guna, (2) untuk mempermudah bagi guru/pendidik dalam menyampaikan informasi materi kepada anak didik, (3) untuk mempermudah bagi anak didik dalam menyerap atau menerima serta memahami materi yang telah disampaikan oleh guru/pendidik, (4) untuk dapat mendorong keinginan anak didik untuk mengetahui lebih banyak dan mendalam tentang materi atau pesan yang disampaikan oleh guru/pendidik, (5) untuk menghindarkan salah pengertian atau salah paham antara anak didik yang satu dengan yang lain terhadap materi atau pesan yang disampaikan oleh guru/pendidik. Tujuan pengembangan multimedia interaktif sikair benaker yaitu, meningkatkan perhatian dan memotivasi siswa dalam memahami materi pembelajaran yang disajikan.

Langkah-langkah pembelajaran dengan menggunakan multimedia interaktif sikair benaker sebagai berikut:

a. Menjelaskan materi dengan menggunakan multimedia interaktif sikair

benaker.

(8)

1) Siswa membentuk menjadi 4-5 kelompok

2) Siswa diminta untuk memperhatikan video siklus air dan dampaknya bagi kehidupan di bumi terhadap peran ekonomi dalam upaya menyejahterakan kehidupan masyarakat

3) Siswa diminta untuk mendengarkan penjelasan guru tentang materi siklus air dan dampaknya bagi kehidupan di bumi terhadap peran ekonomi dalam upaya menyejahterakan kehidupan masyarakat

4) Kemudian setiap kelompok diajak bermain quis “siapa tepat dia hebat”. Permainan ini berisikan soal yang harus dijawab cepat untuk menambah poin dan berisikan zonk untuk mengurangi poin. Dalam quis terdapat juga permainan yang bisa diguanakan untuk individu yaitu “teka-teki silang (TTS).

5) Setelah permainan selesai setiap siswa diminta mengerjakan soal evaluasi pembelajaran hari ini dan langsung membahas soal-soal tersebut

b. Buku panduan media

1) Di dalam buku panduan media terdapat sebuah CD multimedia interaktif SIKAIR BENAKER

2) Dalam buku panduan media berisikan kata pengantar, pendahuluan terserdiri dari latar belakang, serta KD dan indikator, teori terdiri dari rangkuman materi Bahasa Indonesia, IPA, dan IPS, pemuatan dan penggunaan multimedia interaktif SIKAIR BENAKER.

6. Kelebihan dan kelemahan multimedia interaktif sikair benaker “siklus air bencana kekeringan”

Multimedia interaktif sikair benaker merupakan pengembangan media pengembangan memiliki kelebihan dan kelemahan. Kelebihan multimedia sikair benaker yaitu:

a. Media mempunyai audio dan video animasi yang menarik perhatian siswa b. Siswa dapat melihat peristiwa siklus air dan dampak siklus air terlihat

nyata.

c. Media dapat digunakan untuk pembelajaran tematik

d. Media mudah digunakan oleh guru dan siswa

(9)

e. Media dapat digunakan untuk jangka waktu yang lama

f. Media juga mudah dibagikan dengan sekolah yang membutuhkan media serupa

Pengembangan multimedia interaktif sikair benaker selain memiliki kelebihan, namun juga memiliki kelemahan yaitu:

a. Penggunaan multimedia interaktif sikair benaker terbatas hanya digunakan pada tema 8 lingkungan sahabat kita subtema 2 perubahan lingkungan pembelajaran 2

b. Media hanya digunakan apabila di sekolah memiliki laptop dan proyektor LCD

7. Materi Pembelajaran Tematik Tema 8 Subtema 2

Materi pembelajaran tematik pada tema 8 Lingkungan Sahabat Kita subtema 2 Perubahan Lingkungan pembelajaran 2 kelas V sekolah dasar.

Pada tema dan subtema diatas mencangkup mata pelajaran Bahasa Indonesia, IPA, dan IPS. Berdasarkan silabus, materi ini tercantum dalam KD dan Indikator.

Bahasa Indonesia Kompetensi Dasar:

Bahasa Indonesia

3.8 Menguraikan urutan peristiwa atau tindakan yang terdapa tpada teks nonfiksi

4.8 Menyajikan kembali peristiwa atau tindakan dengan memperhatikan latar cerita yang terdapat pada teks fiksi

Indikator:

3.8.1 Mengidentifikasi urutan peristiwa atau tindakan yang terdapat pada teks nonfiksi mengenai peristiwa bencana kekeringan

3.8.2 Membaca urutan peristiwa atau tindakan yang terdapat pada teks nonfiksi

4.8.1 Menceritakan kembali peristiwa atau tindakan dengan memperhatikan latar cerita yang terdapat pada teks fiksi

4.8.2 Menanggapi urutan peristiwa dan tindakan dengan memperhatikan latar

cerita yang terdapat pada teks nonfiksi mengenai bencana kekeringan

(10)

Materi: Mengidentifikasi teks non fiksi

Teks fiksi merupakan cerita rekaan atau cerita khayalan. Karena karya naratif yang isinya tidak menyarankan pada kebenaran faktual, sesuatu yang benar terjadi Abrams (dalam Nurgiyantoro, Burhan 2018:2). Sedangkan teks nonfiksi merupakan cerita faktual karena harus dapat ditunjukkan data empiriknya, dan kalau ternyata tidak dapat dibuktikan kebenarannya, itu berarti salah. Contoh dari teks fiksi yaitu cerita pendek (cerpen), novel, fabel, mitos atau kumpulan puisi. Sedangkan contoh teks nonfiksi yaitu buku pengayaan, buku keagamaan, buku seni, buku sejarah dan sebagainya. Supaya lebih jelas mengetahui contoh teks nonfiksi, simaklah di bawah ini contoh teks nonfiksi yang berjudul “Siklus air dan bencana kekeringan”

(Sumber: Nurgiyantoro, Burhan. 2018. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press)

IPA

3.8 Menganalisis siklus air dan dampaknya pada peristiwa di bumi serta kelangsungan makhluk hidup

4.8 Membuat karya tentang skema siklus air berdasarkan informasi dari berbagai sumber

Indikator:

3.8.1 Menguraikan siklus air dan dampaknya pada peristiwa di bumi serta kelangsungan makhluk hidup

3.8.2 Membandingkan siklus air dan dampaknya pada peristiwa di bumi serta kelangsungan makhluk hidup

4.8.1 Mendesain karya tentang skema siklus air berdasarkan informasi dari berbagai sumber

4.8.2 menggambar karya tentang skema siklus air berdasarkan informasi dari berbagai sumber

“Siklus Air dan Bencana Kekeringan”

Peristiwa siklus air, merupakan peristiwa sehari-hari yang jarang disadari

oleh manusia. Siklus air menhasilkan air bersih yang sangat dibutuhkan oleh

manusia. Air bersih sangat dibutuhkan dalam keperluan rumah tangga,

keperluan industri, dan juga pertanian.

(11)

Pada saat proses penguapan air, kotoran pada air yang ada di danau, sungai, laut dan genangan-genangan air lainnya tidak ikut menguap. Kotoran pada air akan tertinggal, sehingga uap air yang menguap hanyalah uap air yang bersih. Ketika turun hujan, air yang dihasilkan adalah uap air bersih dan siap digunakan untuk keperluan sehari-hari.

Air hujan yang jatuh, sebagian akan diserap oleh tanah atau yang disebut air tanah. Air tanah adalah air yang mengalir di bawah permukaan tanah. Air tanah biasanya lebih jernih dan bersih dikarenakan sudah tersaring oleh lapisan tanah dan akar tumbuhan. Oleh karena itu manusia membuat sumur dengan cara menggali lubang untuk mendapatkan air tanah.

Air hujan yang tidak terserap oleh tanah, akan terus mengalir menjadi air permukaan. Air tersebut akan mengalir menuju tempat yang lebih rendah seperti sungai, danau, dan laut. Air permukaan merupakan air hujan yang tidak dapat diserap tanah tetapi diserap oleh permukaan tanah, sehingga mengalir di atas permukaan tanah dan kemudian menguap kembali. Air permukaan ini biasanya lebih kotor, karena mengandung lumpur. Air permukaan biasanya membawa berbagai macam material dari proses erosi.

Pada musim kemarau, air hujan yang turun menjadi berkurang. Air hujan yang turun biasanya langsung diserap oleh tanah menjadi air tanah. Apabila air sungai dan danau surut akan menyebabkan berkurangnya penguapan air sebagai pembentuk titik-titik air di awan. Akibat sedikitnya awan membuat berkurangnya curah hujan. Oleh karena itu, sumur-sumur penduduk pun menjadi kering. Di saat inilah biasanya terjadi kelangkaan air bersih. Jika kelangkaan air bersih terjadi dalam waktu yang panjang, bencana kekeringan akan terjadi. Solusi untuk mengatasi masalah tersebut kita diminta untuk menghemat penggunaan air dalam kehidupan sehari-hari.

(Sumber: buku siswa tema 8 lingkungan sahabat kita untuk SD/MI Kelas V. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan)

IPS

3.3 Menganalisis peran ekonomi dalam upaya menyejahterakan kehidupan

masyarakat di bidang sosial dan budaya untuk memperkuat kesatuan dan

persatuan bangsa indonesia serta hubungannya dengan karakteristik

ruang

(12)

4.3 Menyajikan hasil analisis tentang peran ekonomi dalam menyejahterakan kehidupan masyarakat di bidang sosial dan budaya untuk memperkuat kesatuan dan persatuan bangsa

Indikator:

3.3.1 Menguraikan peran ekonomi dalam upaya menyejahterakan kehidupan masyarakat di bidang sosial

3.3.2 Membagi peran ekonomi dalam upaya menyejahterakan kehidupan masyarakat di bidang sosial

4.3.1 Mengerjakan hasil analisis tentang peran ekonomi dalam menyejahterakan kehidupan masyarakat di bidang sosial

4.3.2 Menunjukkan hasil analisis tentang peran ekonomi dalam menyejahterakan kehidupan masyarakat di bidang sosial

Karena air bisa memberikan manfaat apabila air bisa digunakna dengan bertanggung jawab, ketika tidak bisa menjaga kelestarian air akan berdampak negatif seperti kekeringan. Selain itu, juga berdampak pada perekonomian masyarakat. Salah satunya usaha masyarakat yang selalu menggunakan air bersih serta usaha yang dikelola sendiri atau biasa disebut usaha perorangan.

Karena usaha ekonomi ini memiliki modal terbatas dan biasanya dikelola secara sederhana. Contoh usaha ekonomi perorangan sebagai berikut:

Usaha Pertanian, Sebagian besar usaha pertanian dikelola secara perorangan. Lahan yang digarap petani biasanya terbatas, lahan persawahan dan tegalan. Namun, ada juga usaha pertanian yang dilakukan secara besar- besaran. Apabila kekeringan terjadi maka usaha pertanian akan berdampak pada hasil panennya.

Usaha Perdagangan, secara perorangan biasanya berskala kecil dan sedang. Contoh pedagang asongan, pedagang keliling, pedagang kaki lima, warung, toko klontong dan pedagang di pasar, sebagian akan berimbas juga akibat kekeringan.

Usaha Jasa secara umum, banyak jasa yang dikelola secara perorangan.

contohnya usaha salon, potong rambut, bengkel dan pencuci mobil, dan

penjual isi air mineral. Apabila kekeringan terjadi maka mereka akan

mengurangi kapasitas dalam bekerja .

(13)

Industri kecil, Sektor industri yang dikelola perorangan merupakan industri rumahan. Contoh industri minuman buah, pembuatan keramik, dan anyaman juga akan berdampak. Jadi gunakanlah air secara bijak agar tidak semakin banyak dampak yang ditimbulkan .

(Sumber: buku siswa tema 8 lingkungan sahabat kita untuk SD/MI Kelas V. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan)

B. Kajian Penelitian Yang Relevan

Beberapa hasil penelitian yang mendukung dalam penelitian dan pengembangan multimedia interaktif sikair benaker “siklus air bencana kekeringan”, diantaranya penelitian yang berjudul:

1. Pengembangan Media Animasi Materi Siklus Air Pembelajaran IPA Untuk Kelas V SDN Lakarsantri II/473 Surabaya oleh Luthfianah dan Khusnul Khotimah pada tahun 2012. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, media animasi materi siklus air efektif untuk meningkatkan hasil belajar dan layak digunakan untuk kegiatan pembelajaran siklus air mata pelajaran IPA siswa kelas V di SDN Lakarsantri II/473 Surabaya.

2. Pengembangan Media Maket Balekambang Untuk Pembelajaran Tematik Tema 8 Subtema 1 Kelas V Di SDN 2 Pujon Kabupaten Malang oleh Rinal Andreanto pada tahun 2019. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, media maket Balekambang efektif memberikan manfaat terhadap hasil belajar dan sangat layak digunakan dalam pembelajaran dan mendapatkan respon sangat baik dari siswa dan guru wali kelas V SDN 2 Pujon Kidul.

Berikut ini tabel yang menjelaskan persamaan dan perbedaan antara penelitian dan pengembangan yang akan dilakukan, dengan penelitian- penelitian yang relevan:

Tabel 2.1 Persamaan dan Perbedaan dengan Penelitian yang Relevan

No Nama/Tahun Judul penelitian terdahulu

Persamaan Perbedaan

1. Luthfianah, Khusnul Khotimah/2012

Pengembangan Media Animasi Materi Siklus Air Pembelajaran IPA Untuk Kelas V SDN Lakarsantri II/473 Surabaya

 Menerapkan media audiovisual

 Terdapat materi siklus air

 Objek

penelitian siswa kelas V SD

 Materi yang digunakan pada

pembelajaran

KTSP

(14)

No Nama/Tahun Judul penelitian terdahulu

Persamaan Perbedaan

2. Rinal

Andreanto/2019

Pengembangan Media Maket Balekambang Untuk Pembelajaran Tematik Tema 8 Subtema 1 Kelas V Di SDN 2 Pujon Kabupaten Malang

 Terdapat materi siklus air

 Objek

penelitian siswa kelas V SD

 Media yang digunakan berbentuk 3D

(Sumber: Olahan Peneliti)

(15)

C. Kerangka Pikir

Kerangka berpikir penelitian dapat digambarkan melalui bagan sebagai berikut:

Gambar 2.1 Kerangka Pikir

Figur

Tabel 2.1 Persamaan dan Perbedaan dengan Penelitian yang Relevan

Tabel 2.1

Persamaan dan Perbedaan dengan Penelitian yang Relevan p.13
Gambar 2.1 Kerangka Pikir

Gambar 2.1

Kerangka Pikir p.15

Referensi

Memperbarui...