BAB I PENDAHULUAN. Oleh karena itu salah satu prinsip yang digunakan oleh perusahaan adalah prinsip

Loading.... (view fulltext now)

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

1 BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Dinamika perekonomian yang ada di suatu negara akan menciptakan sebuah mekanisme seleksi alam bagi kelangsungan usaha entitas bisnis di negara tersebut. Oleh karena itu salah satu prinsip yang digunakan oleh perusahaan adalah prinsip Going Concern. Menurut Belkaoui (2006: 147), Going Concern (kelangsungan usaha) adalah kemampuan entitas untuk terus menjalankan kegiatan operasionalnya dalam jangka waktu yang panjang untuk mewujudkan proyeknya, tanggungjawab serta aktivitas-aktivitasnya. Going Concern (berkelangsungan usaha) merupakan kondisi di mana suatu badan usaha atau entitas diperkirakan akan berlanjut dalam jangka waktu yang tidak terbatas di masa depan (Ginting dan Tarihoran, 2017).

Ariestiawan dan Rahayu (2015) mengungkapkan bahwa Going Concern suatu entitas merupakan tanggung jawab manajemen sepenuhnya, yang pada akhirnya tanggung jawab tersebut melebar ke auditor. Tanggung jawab auditor tersebur yakni mengungkap kelangsungan usaha suatu entitas melalui laporan audit. American Institute of Certified Public Accountant atau AICPA (1988) mensyaratkan bahwa auditor harus mengemukakan secara eksplisit apakah perusahaan klien akan dapat mempertahankan kelangsungan usahanya sampai setahun kemudian setelah pelaporan (Ariesetiawan dan Rahayu, 2015).

(2)

2

Fenomena yang terjadi saat ini sesuai data per Januari 2016, terdapat beberapa emiten yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) memiliki opini kelangsungan usaha (Going Concern) dengan kata lain terdapat beberapa perusahaan yang kelangsungan usahanya masih dipertanyakan. Perusahaan yang mendapatkan opini Going Concern adalah perusahan yang sedang mengalami penurunan pendapatan atau kinerja yang terus merugi.

Peneliti berfokus pada perusahaan yang masuk pada bidang tambang batu bara, karena terdapat fenomena bahwa terdapat tiga perusahaan yang mendapat opini audit Going Concern sepanjang tahun 2014-2017, adapun perusahaan tersebut adalah Atlas Resources (ARII) tahun 2015-2017; Bayan Resources (BYAN) tahun 2014; Darma Henwa (DEWA) tahun 2014-2017. Perusahaan tersebut mendapatkan opini audit Going Concern disebabkan kondisi keuangan perusahaan yang mengalami kerugian dan ketidakpastian bisnis, sehingga auditor memandang perlu memberikan jaminan bahwa perusahaan akan dapat tetap melangsungkan usahanya di masa mendatang. Lebih lanjut, diketahui bahwa kerugian yang dialami oleh beberapa perusahaan batu bara tersebut disebabkan adanya harga komoditas batu bara yang menurun saat musim penghujan. Jika musim penghujan cukup panjang seperti beberapa waktu terakhir, maka perusahaan berpotensi terus mengalami kerugian, oleh karena itu auditor memberikan opini Going Concern. Menurut Kristiana (2012) opini Going Concern berdampak terhadap perspektif pihak eksternal perusahaan terhadap kemampuan dan keberlangsungan perusahaan tersebut.

(3)

3

Opini Going Concern merupakan asumsi terhadap laporan keuangan suatu perusahaan, semakin baik asumsi atas laporan keuangan perusahaan tersebut maka para investor memiliki kepercayaan untuk berinvestasi (menanamkan modalnya) pada perusahaan tersebut (Kristiana, 2012). Begitu juga sebaliknya, apabila opini Going Concern suatu perusahaan mengalami penurunan, maka berdampak terhadap turunnya reputasi perusahaan tersebut yang dapat mengakibatkan turunnya harga saham, kesulitan dalam mengajukan pinjaman kepada kreditur dan menurunnya kepercayaan investor, kreditur, pelanggan, dan karyawan terhadap manajemen perusahaan (Dewayanto, 2011). Hilangnya kepercayaan publik terhadap citra perusahaan dan manajemen perusahaan tersebut akan memberi imbas yang sangat signifikan terhadap kelangsungan usaha perusahaan dimasa yang akan datang sehingga akan mengancam keberlangsungan operasional perusahaan tersebut di masa yang akan datang (Kartika, 2012).

Beberapa penelitilitian sebelumnya telah mencoba untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang menjadi penyebab perusahaan mendapatkan opini audit Going Concern, diantaranya adalah Ariestiawan dan Rahayu (2015) yang menemukan fakta bahwa profitabilitas dan likuiditas adalah determinan dari opini audit Going Concern. Sari dan Rahayu (2015) mengungkapkan bahwa likuiditas memiliki pengaruh yang signifikan terhadap opini audit Going Concern, namun leverage dan pertumbuhan perusahaan tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap opini audit Going Concern.

Ginting dan Tarihoran (2017) berhasil membuktikan bahwa faktor yang mengakibatkan auditor memberikan opini audit Going Concern kepada

(4)

4

perusahaan adalah opini audit tahun sebelumnya dan pertumbuhan perusahaan, namun tidak ditemukan adanya bukti empiris yang menyatakan bahwa ukuran perusahaan sebagai faktor penyebab diberikannya opini audit Going Concern. Temuan yang berhasil diungkap dalam penelitian Penelitian Alichia (2013) jutru menyatakan bahwa pertumbuhan perusahaan bukan variabel penentu diberikannya opini audit Going Concern. Penelitian Yuliyani dan Erawati (2017) menyebutkan bahwa tidak ditemukan adanya pengaruh dari profitabilitas, likuiditas dan leverage terhadap opini audit Going Concern. Nugroho, Nurrohmah, dan Anasta (2018) adalah adanya pengaruh yang signifikan dari variabel Leverage terhadap opini audit Going Concern. Penelitian Arsianto dan Rahardjo (2013) justru menemukan adanya pengaruh yang signifikan dari variabel ukuran perusahaan (SIZE) terhadap opini audit Going Concern.

Peneliti menemukan beragam hasil yang berbeda antara penelitian satu dan yang lainnya, hal ini menandakan bahwa isu Going Concern merupakan isu yang terus berkembang dan menarik untuk dikaji kembali. Berdasarkan temuan penelitian terdahulu yang telah diuraikan pada paragraf di atas, maka peneliti menemukan fakta bahwa terdapat hasil yang variatif untuk variabel-variabel tertentu seperti leverage, pertumbuhan perusahaan, ukuran perusahaan, serta likuiditas dan profitabilitas.

Wiagustini (2014: 85) menjelaskan bahwa dalam membiayai kegiatan operasionalnya, agar dapat terus beroperasi seperti yang diharapkan, maka salah satu sumber dana yang digunakan oleh perusahaan adalah hutang (Leverage). Rasio leverage adalah mengukur seberapa besar perusahaan dibiayai dengan utang

(5)

5

(Fahmi, 2011: 127). Semakin besar debt ratio suatu perusahaan, maka hutang yang dimiliki suatu perusahaan akan semakin besar, sehingga risiko kegagalan suatu perusahaan dalam membayar kewajiban atau hutangnya semakin tinggi (Svanberg & Ohman, 2014; Moalla, 2017). Hal ini menyebabkan perusahaan lebih berpeluang mendapatkan opini audit Going Concern serta akan menjadi pertimbangan.

Selanjutnya, dalam konteks Going Concern (kelangsungan usaha) untuk jangka waktu yang panjang identik dengan perusahaan yang terus tumbuh dan berkembang. Perusahaan diharapkan akan terus mengalami pertumbuhan seiring operasional yang dilakukan dan bertahan untuk jangka waktu yang panjang. Perusahaan yang mengalami pertumbuhan menunjukkan aktivitas operasional perusahaan berjalan dengan semestinya sehingga perusahaan dapat mempertahankan posisi ekonomi dan kelangsungan usahanya (Siregar dan Rahman, 2012).

Berikutnya, seiring perusahaan yang terus tumbuh dan berkembang menjadi perusahaan yang lebih besar, maka diharapkan berbagai kemudahan didapatkan oleh perusahaan karena ukuran perusahaan yang besar. Mutchler (1985) dalam Alexander (2004) menyatakan bahwa auditor lebih sering mengeluarkan opini audit Going Concern pada perusahaan kecil karena auditor mempercayai bahwa perusahaan besar dapat menyelesaikan kesulitan-kesulitan keuangan yang dihadapinya daripada perusahaan kecil. Perusahaan besar memiliki akses yang lebih mudah dalam mendapatkan dana baik itu berupa pinjaman dari kreditur atau dana investasi dari investor, maupun dari sumber dana eksternal lainnya. Namun

(6)

6

untuk perusahaan kecil, auditor cenderung akan memberikan pernyataan Going Concern. Hal ini disebabkan karena untuk memberikan kepercayaan bahwa perusahaan kecil dapat bertahan hidup di tahun-tahun mendatang.

Kemudian, likuiditas merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban jangka pendek pada saat jatuh tempo dengan menggunakan asset yang tersedia (Syamsuddin, 2011: 41). Semakin rendah rasio likuiditas maka semakin kurang likuid sehingga perusahaan tidak dapat membayar kewajiban kepada kreditor, dan semakin besar kemungkinan perusahaan medapatkan opini modifikasi Going Concern (Ariesetiawan dan Rahayu, 2015).

Kajian atas opini going concern dapat dilakukan dengan melihat kondisi internal perusahaan seperti profitabilitas. Menurut Weston dan Brigham, (2010; 155) profitabilitas adalah kemampuan perusahaan memperoleh laba terkait dengan penjualan, total aktiva, maupun modal sendiri. Profitabilitas berpengaruh signifikan terhadap pemberian opini going concern (Kristiana, 2012). Namun Kartika (2012) profitabilitas tidak dapat menentukan apakah perusahaan mendapatkan opini Going Concern atau tidak. Berdasarkan uraian di atas, maka peneliti tertarik untuk kembali melakukan penelitian tentang determinan opini audit Going Concern.

1.2. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka beberapa masalah yang dapat dirumuskan adalah sebagai berikut:

(7)

7

1. Apakah tingkat hutang (Leverage) berpengaruh terhadap opini audit Going Concern?

2. Apakah pertumbuhan perusahaan (Growth) berpengaruh terhadap opini audit Going Concern?

3. Apakah ukuran perusahaan (SIZE) berpengaruh terhadap opini audit Going Concern?

4. Apakah likuditas berpengaruh terhadap opini audit Going Concern? 5. Apakah profitabilitas berpengaruh terhadap opini audit Going Concern?

1.3. Tujuan Penelitian

Berdasarkan uraian rumusan masalah di atas, maka dapat diketahui beberapa tujuan penelitian sebagai berikut:

1. Untuk menguji pengaruh tingkat hutang (Leverage) terhadap opini audit Going Concern.

2. Untuk menguji pengaruh pertumbuhan perusahaan (Growth) terhadap opini audit Going Concern.

3. Untuk menguji pengaruh ukuran perusahaan (SIZE) terhadap opini audit Going Concern.

4. Untuk menguji pengaruh likuditas terhadap opini audit Going Concern. 5. Untuk menguji pengaruh profitabilitas terhadap opini audit Going

(8)

8 1.4. Manfaat Penelitian

Berdasarkan uraian tujuan penelitian di atas, maka dapat diketahui beberapa manfaat penelitian sebagai berikut:

1. Bagi perusahaan, penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi tentang faktor yang dapat mempengaruhi opini audit Going Concern, sehingga dapat dijadikan sebagai acuan pengambilan keputusan strategis. 2. Bagi mahasiswa, penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai

referensi untuk penelitian selanjutnya.

3. Bagi Investor, penelitian ini dapat menjadi pertimbangan tentang kondisi – kondisi perusahaan yang mendapatkan opini Going Concern, sebagai dasar pengembalian keputusan Investasi.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :